• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIWAYAT HIDUP PENULIS Nama Ayah Ibu : Wilda Dwi Aryuni : Drs. Abdul Rahman : Juniati S.Ag Tempat, Tanggal Lahir : Sudu, 17 Juni 2000 Agama Alamat : Is

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RIWAYAT HIDUP PENULIS Nama Ayah Ibu : Wilda Dwi Aryuni : Drs. Abdul Rahman : Juniati S.Ag Tempat, Tanggal Lahir : Sudu, 17 Juni 2000 Agama Alamat : Is"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama : Wilda Dwi Aryuni Ayah : Drs. Abdul Rahman Ibu : Juniati S.Ag

Tempat, Tanggal Lahir : Sudu, 17 Juni 2000 Agama : Islam

Alamat : Kampung baru, Jln. Poros Enrekang-Toraja Nomor Telepon/HP : 081343886512

Email : [email protected]

RIWAYAT PENDIDIKAN

 SD 10 Redak (2006-2010)

 SD Negeri 39 Cakke (2006-2012)

 SMP Ummul Mukminin (2012-2013)

 SMP Al-Iman Sidrap (2013-2015)

 SMA Al-Iman Sidrap (2015-2018)

 Universitas Muhammadiyah Makassar (2018-2022)

(7)

vii

FACULTY MEDICINE AND HEALTH SCIENCES MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF MAKASSAR Scientific Paper, 23 February 2022 Wilda Dwi Aryuni1, dr. Asdar Tajuddin2, Sp. B

1Students of Faculty of Medicine and Health Sciences at Muhammadiyah University of Makassar batch of 2018/E-mail :

[email protected]

2Adviser

“THE RELATIONSHIP OF ANXIETY LEVEL WITH HEALTH PROTOCOL IMPLEMENTATION BEHAVIOR IN PRE-CLINIC STUDENTS OF THE FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF MAKASSAR DURING THE COVID-19 PANDEMIC”

ABSTRACT

Background: The current Covid-19 pandemic can cause several disorders including mental disorders, one of which is anxiety or anxiety. This impact is certainly felt by students, especially health students who are currently students of knowledge and also one of the front line. Health students as individuals and the lives they lead have a high health risk impact. The reason is that students are required to be fast and responsive to adapt to new situations by implementing health protocols to break the Covid-19 pandemic.

Objective: This study aims to determine the effect of anxiety levels on the health protocol behavior of pre-clinical students of the Faculty of Medicine and Health Sciences at Muhammadiyah University of Makassar during the Covid-19 pandemic.

Methods: This research is an observational study with a cross sectional design where the variables are obtained at the same time. Sampling using simple random sampling technique.

Result: Data analyzed by the Chi-Square test found that 30.5% of respondents had mild anxiety levels and did not comply with health protocols, while 26.2% of respondents were not anxious and remained obedient to health protocols. Statistical test results showed a p-value = 0.001.

Conclusion: There is an influence between the level of anxiety and the behavior of implementing health protocols for pre-clinic students of Faculty of Medicine and Health Sciences at Muhammadiyah University of Makassar during the Covid-19 pandemic.

Keywords: Anxiety, Health Protocol, Medical Student.

(8)

viii

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Skripsi, 23 Februari 2022 Wilda Dwi Aryuni1, dr. Asdar Tajuddin, Sp. B2

1 Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2018 / Email :

[email protected]

2Pembimbing

“HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN PERILAKU PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN PADA MAHASISWA PRE- KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR DI MASA PANDEMI COVID-19”

ABSTRAK

Latar Belakang: Masa pandemi Covid-19 saat ini dapat menyebabkan beberapa gangguan termasuk gangguan mental, salah satunya adalah rasa cemas atau kecemasan. Dampak ini tentunya dirasakan juga oleh mahasiswa khususnya mahasiswa kesehatan yang saat ini sebagai penuntut ilmu dan juga salah satu dari garda terdepan. Mahasiswa kesehatan sebagai diri pribadi dengan kehidupan yang mereka jalani memiliki dampak resiko kesehatan yang tinggi. Penyebabnya karena mahasiswa dituntut untuk cepat dan tanggap untuk menyesuaikan dengan situasi baru dengan menerapkan protokol kesehatan untuk memutus pandemi Covid-19.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kecemasan dengan perilaku protokol kesehatan mahasiswa pre-klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar pada masa pandemi Covid-19.

Metode Penelitian: Penelitan ini bersifat observasional dengan rancangan cross sectional yang dimana variabel-variabelnya didapatkan pada waktu yang sama.

Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling.

Hasil: Data dianalisis dengan uji Chi-Square didapatkan bahwa 30,5% responden memiliki tingkat kecemasan ringan dan tidak patuh protokol kesehatan, sedangkan 26,2% responden tidak cemas dan tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Hasil uji statistik menunjukkan p-value = 0,001.

Kesimpulan: Terdapat pengaruh antara tingkat kecemasan dengan perilaku penerapan protokol kesehatan mahasiswa pre-klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar di masa pandemi Covid-19.

Kata Kunci: Kecemasan, Protokol Kesehatan, Mahasiswa Kedokteran

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah Swt., yang memberikan nikmat sehat dan kuat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu.

Sholawat serta salam tetap kami panjatkan kepada Nabiullah Muhammad Saw., yang telah mengantarkan hidayah berupa cahaya kebenaran, yakni agama islam.

Semoga salam juga tercurahkan kepada keluarga, sahabat, tabiin dan tabiat.

Alhamdulillah berkat rahmat dan pertolongan-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi yang berjudul “Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Perilaku Protokol Kesehatan Mahasiswa Pre-klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan pada Masa Pandemi Covid-19” dimana penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua penulis, yaitu bapak Abdul Rahman dan ibu Juniati, kepada kedua saudara kandung penulis Ahmad Ardillah dan Fais Rahman, yang senantiasa selalu memberikan bantuan, dukungan dan selalu berdoa untuk penulis selama ini, kepada teman terbaik saya Ahmad Dirham yang selalu menyemangati, dan membantu untuk menyelesaikan penelitian ini.

Dalam penulisan skripsi ini juga tak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperoleh ilmu pengetahuan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar, Ibunda Prof.

Dr. dr. Suryani As’ad, M.Sc, Sp.GK(K) yang telah memberikan sarana dan prasarana sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini dengan baik.

(10)

x

3. Ibunda Juliani Ibrahim selaku Pembina organisasi Medical Ar-Razi Research Community Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar sekaligus koordinator blok penelitian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberi pengetahuan tentang penelitian dan senantiasa memberi masukkan kepada penulis.

4. dr. Asdar Tajuddin, Sp.B selaku pembimbing penelitian saya yang telah mengoreksi serta memberi bimbingan dalam proses menyusun proposal hingga selesai dengan baik.

5. dr. Hairul Anwar, Sp. PK., M.Kes selaku penasehat akademik yang telah memberi masukan serta semangat dalam menjalani perkuliahan serta menyusun proposal.

6. Semua dosen serta staff yang ada di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar.

7. Teman-teman bimbingan skripsi, Kholifah dan Raihan yang senantiasa memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi penelitian ini

8. Sahabat-sahabat seperjuangan, Kiky, Ainun, Ayuliana, Eki, Irma, Ainanum, Hikma, Tasya, dan Fatika yang senantiasa membantu, menemani, dan menyemangati.

9. Sahabat terbaik thunder, Hajar, Ila, Nisa, Adilah, dan Risna yang terus mendoakan dan memberi semangat.

10. Serta seluruh teman sejawat angkatan 2018 Filoquinon yang selalu mendukung dan memberikan saran dan semangat.

11. Last but not least, I wanna thank me, I wanna thank me for believing in me, I wanna thank me for doing all this hard work, I wanna thank me for having no days off, I wanna thank me for, for never quitting

Dengan ini segala kerendahan hati penulis akan senang dalam menerima kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Namun penulis berharap

(11)

xi

semoga tetap dapat memberikan manfaat pada pembaca, masyarakat dan penulis lain.

Makassar, Februari 2022 Penulis

(12)

xii

DAFTAR ISI

PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PANITIA SIDANG UJIAN ... iii

PERNYATAAN TIDAK PLAGIASI ... iv

PERNYATAAN PENGESAHAN UNTUK MENGIKUTI UJIAN SKRIPSI PENELITIAN ... v

RIWAYAT HIDUP PENULIS ... vi

ABSTRACT...vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI...xii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR TABEL ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

A. Pandemi Covid-19 ... 6

1. Sejarah Pandemi ... 6

2. Covid-19 ... 7

B. Konsep Kecemasan ... 10

1. Pengertian Kecemasan ... 10

2. Tingkat Kecemasan ... 11

3. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan ... 12

4. Gejala Gejala Kecemasan ... 14

5. Pengukuran Tingkat Kecemasan ... 15

C. Protokol Kesehatan ... 16

1. Defenisi Protokol Kesehatan ... 16

2. Prinsip Umum Tentang Protokol Kesehatan ... 16

3. Contoh dan Fungsi Penerapan Protokol Kesehatan ... 18

(13)

xiii

D. Tinjauan Keislaman... 23

1. Wabah Covid dalam Pandangan Islam ... 23

2. Pencegahan Covid-19 dalam Islam ... 26

E. Kerangka Teori ... 28

BAB III KERANGKA KONSEP ... 29

A. Konsep Pemikiran Variabel Penelitian ... 29

B. Konsep Pemikiran ... 29

C. Defenisi Operasional ... 30

D. Hipotesis ... 31

BAB IV METODE PENELITIAN ... 32

A. Objek Penelitian ... 32

B. Metode Penelitian... 32

C. Teknik Pengambilan Sampel ... 32

1. Populasi ... 32

2. Sampel... 32

D. Rumus dan Besar Sampel ... 33

E. Alur Penelitian ... 35

F. Teknik Pengumpulan Data ... 35

G. Teknik Analisa Data ... 36

H. Etika Penelitian ... 37

BAB V HASIL PENELITIAN ... 38

A. Gambaran Umum Populasi/Sampel ... 38

B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 38

C. Analisis ... 39

1. Analisis Univariat ... 39

2. Analisis Bivariat ... 41

BAB VI PEMBAHASAN ... 43

A. Pembahasan ... 43

BAB VII PENUTUP (KESIMPULAN DAN SARAN) ... 48

A. Kesimpulan ... 48

B. Saran ... 49

C. Keterbatasan penelitian ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 51

LAMPIRAN... 57

(14)

xiv A. Lampiran 1 (Hamilton Rating Scale For Anxiety)... 57 B. Lampiran 2 (Kuisioner Penerapan Protokol Kesehatan) ... 61 C. Lampiran 3 (Hasil Uji Statistik) ... 64

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Kerangka Teori ... 28 Gambar III.1 Konsep Pemikiran ... 29 Gambar VI.1 Alur Penelitian ... 35

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel V.1 Distribusi berdasarkan karakteristik demografi. ... 39 Tabel V.2 Distribusi Tingkat kecemasan berdasarkan variabel yang diteliti. ... 40 Tabel V.3 Distribusi berdasarkan variabel penerapan protokol kesehatan ... 40 Tabel V.4 Pengaruh tingkat kecemasan dengan perilaku protokol kesehatan mahasiswa pre-klinik FKIK Unismuh Makassar di masa pandemi covid-1 ... 41

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Awal tahun 2020 hingga saat ini, seluruh negara mengalami pandemi Covid-19 yang masih belum dapat diselesaikan. Menurut WHO, data hingga per 04 september 2021 di seluruh dunia terdapat lebih dari 218 juta penderita yang terkonfirmasi positif Covid-19, dan 4,5 juta lebih orang meninggal (1). Data di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat 4.129.020 kasus, yang mana Sulawesi Selatan menduduki peringkat sepuluh besar dengan jumlah sebanyak 105.204 kasus positif (2).

Pandemi Covid-19 ini membuat banyak perubahan pada berbagai tatanan dan lapisan di masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial, kesehatan fisik maupun mental. Penelitian Huang, et al menyatakan bahwa gangguan mental yang sering terjadi pada masa pandemi Covid-19 ini adalah tingkat stress, ketakutan, stress, depresi, panik, kesedihan, frustasi, marah serta penyangkalan/denial (3). Penelitian sebelumnya yang menggunakan responden dari berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa 7,6%

masyarakat mengalami kecemasan rendah, 28,1% mengalami kecemasan sedang, dan 64,3% kecemasan tinggi (4). Gangguan mental ini juga terjadi di kalangan mahasiswa, termasuk mahasiswa kesehatan. Mahasiswa kesehatan sebagai garda terdepan dalam fasilitas pelayanan kesehatan kedepannya, turut berpartisipasi aktif dalam mengikuti trend issue masalah kesehatan yang sedang terjadi. Mahasiswa kesehatan sebagai diri pribadi

(18)

2

dengan kehidupan yang mereka jalani memiliki dampak resiko kesehatan yang tinggi, Penyebabnya karena mahasiswa dituntut untuk cepat dan tanggap untuk menyesuaikan dengan situasi baru untuk memutus pandemi Covid-19.

Selain penyakit Covid-19 ini, mahasiswa juga dihadapkan pada situasi belajar baru dimana sebagian besar bahkan seluruh mahasiwa menggunakan metode daring. Salah satu pemicu adanya kecemasan pada sebagian mahasiswa adalah adanya kebijakan dari pemerintah tentang perkuliahan tanpa tatap muka, terutama pada mahasiswa di Sulawesi Selatan, dimana Sulawesi Selatan merupakan 10 daerah tertinggi kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Penelitian sebelumnya yang dilakukan kepada mahasiswa menunjukkan hasil bahwa sebanyak 47,3% mengalami kecemasan sedang dan berhubungan dengan prestasi mahasiswa yang bersangkutan (6). Belajar secara daring dapat meningkatkan depresi dan gangguan kecemasan pada mahasiswa, dimana terdapat korelasi yang positif antara kepuasan mahasiswa dengan kejadian depresi, kecemasan, dan stress(3). Tingkat kecemasan seringkali berhubungan dengan tindakan yang dilakukan oleh seseorang, apalagi Covid-19 ini menular melalui percikan batuk/bersin/saat berbicara atau melalui permukaan benda yang terkena tetesan kecil dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi (4).

Kecemasan kesehatan adalah fenomena multifaset, yang terdiri dari emosi tertekan, gairah fisiologis dan sensasi tubuh yang terkait, pikiran dan gambaran bahaya dan penghindaran dan perilaku defensif lainnya.

(19)

3

Fenomena tersebut terkadang dialami oleh banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan kesehatan adalah masalah penting, dan keduanya meningkat dan menurun dapat mengakibatkan masalah (GjG, 2004).

Mengingat kecemasan kesehatan sebagai spektrum yang luas, kecemasan kesehatan individu dapat diklasifikasikan sebagai tinggi atau rendah.

Beberapa individu dengan kecemasan kesehatan yang tinggi selama pandemi dapat menyebabkan crowding dalam sistem kesehatan dengan sering datang ke dokter dan rumah sakit. Orang lain dengan kecemasan tinggi mungkin enggan mencari bantuan medis karena khawatir rumah sakit adalah sumber penularan. Sebaliknya, individu dengan kecemasan kesehatan yang rendah mungkin enggan untuk mematuhi peringatan tentang mengendalikan pandemi, dan mungkin berperilaku sangat santai.(5).

Hal ini memungkinkan mahasiswa menjadi khawatir dan mempengaruhi perilaku mereka dalam menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membawa hand sanitizer, dan menghindari keramaian/kerumunan orang.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian hubungan antara tingkat kecemasan dan perilaku protokol kesehatan mahasiswa pre-klinik fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan universitas muhammadiyah makassar pada masa pandemi Covid-19, sehingga diharapkan dengan penelitian ini dapat mengetahui apakah ada pengaruh antara tingkat kecemasan perilaku protokol kesehatan sehingga dapat

(20)

4

melakukan langkah preventif untuk membuat mahasiswa khususnya mahasiswa fakultas kedokteran universitas muhammadiyah makassar memiliki tingkat kecemasan yang rendah dan tetap mematuhi protokol kesehatan dengan baik.

B. Rumusan Masalah

Apakah ada pengaruh antara tingkat kecemasan dengan perilaku protokol kesehatan mahasiswa pre-klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar pada masa Pandemi Covid-19.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kecemasan dengan perilaku protokol kesehatan mahasiswa pre- klinik fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar pada masa pandemic Covid-19

2. Tujuan Khusus

a) Untuk mengetahui tingkat kecemasan mahasiswa pre-klinik fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar pada masa pandemic Covid-19.

b) Untuk mengetahui perilaku protokol kesehatan mahasiswa pre- klinik fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar pada masa pandemic Covid-19.

(21)

5

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai perilaku protokol kesehatan dan tingkat kecemasan dan dapat mengimplementasikan ilmu yang didapatkan.

2. Bagi Universitas

Sebagai bahan referensi untuk mengatur mekanisme pembelajaran khususnya yang terkait dengan pengembangan konsep yang dapat mempengatuhi tingkat kecemasan dan perilaku protokol kesehatan pada mahasiswa

(22)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pandemi Covid-19

1. Sejarah Pandemi

Dalam ilmu epidemiologi ada tiga istilah yang dikenal yaitu pandemi, epidemi, dan endemi. Epidemi dapat diartikan sebagai penyebaran penyakit dengan jumlah banyak yang terjadi secara cepat. Sedangkan endemi adalah penyakit dalam jumlah besar dalam suatu wilayah. Dan pandemi diartikan sebagai sebuah penyakit yang menyebar secara global dan menyebabkan kematian dalam jumlah besar (37).

Pada abad ke-20 pandemi telah terjadi beberapa kali dan seluruh pandemi tersebut diakibatkan oleh virus yang telah dikelompokkan yang disebut sebagai Novel Influenza. Novel Influenza terdiri dari tiga tipe yaitu A, B, dan C. Tipe A Novel Inflenza merupakan tipe yang mengakibatkan ketiga pandemi pada abad ke-20. Tipe A memiliki 2 epitop yaitu HA (Hemagglutinin) dan NA (Neuraminidase). Dan dikenal 16 subtipe HA (H1- H16) dan 9 subtipe NA (N1- N9) (37).

Pandemi pertama pada abad ke-20 adalah Spanish fluyang terjadi pada tahun 1918. Pandemi lainnya terjadi 40 tahun setelahnya yaitu pada 1957 terjadi Asian fluyang diakibatkan oleh virus H2N2. Asian flutelah mengakibatkan kematian yang diperkirakan 1 sampai 4 juta orang. Dan 11 tahun kemudian terjadi pandemi berikutnya yaitu Hongkong flu. Ini disebabkan virus H3N2 dan telah mengakibatkan kematian sekitar 1-4 juta

(23)

7

orang(37). Spanish flupada tahun 1918 ini disebut sebagai ibu dari semua pandemi. Virus yang terjadi pada 1918-1919 ini telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia pada saat itu yang diestimasikan 500 juta orang. Dan mengakibatkan kematian yang diprediksi 50-100 juta orang. Spanish fludiprediksi berkembang di Asia dan menyebar ke seluruh dunia. Spanish fludisebut sebagai ibu dari semua pandemi diakibatkan karena seluruh kasus influenza yang terjadi di dunia kecuali infeksi manusia dari virus avian seperti H5N1 dan H7N7 disebabkan oleh keturunan dari virus H1N1 (38).

Sejarah singkat mengenai pandemi yang telah terjadi, dan pada tahun 2020 dunia kembali menghadapi pandemi yaitu COVID-19.

2. Covid-19

COVID-19 adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang pertama kali diidentifikasi di tengah wabah penyakit pernapasan di Wuhan, Hubei, China. Covid-19 pertama kali dilaporkan ke WHO pada 31 Desember 2019.

Pada 12 Maret 2020 WHO menyatakan Covid-19 ini menjadi sebuah pandemi(39). Pada 4 Mei 2020 dikonfirmasi kasus positif Covid-19 di seluruh dunia mencapai 3.407.747 orang, dengan kasus kematian mencapi 238.198 orang. 215 negara telah melaporkan kasus terkonfirmasi Covid-19.

Di Indonesia kasus positif Covid-19 mencapai 11.587 dengan kematian 864 orang, sedangkan orang yang sembuh mencapai 1.954 orang. Dengan kasus Covid-19 didominasi pada rentang umur 30-49 tahun dan kasus paling sedikit berada pada rentang umur 0-9 tahun. Walaupun kasus pada umur 30-

(24)

8

49 tahun tinggi, tingkat kesembuhan pada rentang umur tersebut juga paling tinggi dari rentang umur lainnya. Kasus kematian tertinggi berada pada rentang umur 50-69 tahun, dengan persentasenya mencapai 59,2%. Dan laki laki adalah kelompok yang paling banyak terkonfirmasi Covid-19 dan juga kasus meninggal dunia. Walaupun demikian, tingkat penyembuhan laki laki juga lebih tinggi dari perempuan (40). SARS-CoV-2 menyebar melalui droplet, kontak, dan ada potensial melalui fecal oral. Replikasi dari virus ini diduga berada di epitel mukosa saluran pernapasan atas (rongga hidung dan faring), dengan multiplikasi lebih lanjut pada saluran pernapasan bawah dan mukosa gastrointestinal (41).

Gejala yang paling sering dilaporkan adalah demam, batuk, mialgia atau kelelahan, pneumonia, dan dispnea, sedangkan gejala yang jarang adalah sakit kepala, diare, hemoptisis, pilek, dan batuk berdahak. Pasien dengan gejala ringan dilaporkan sembuh dalam 1 minggu sementara kasus yang parah dilaporkan mengalami gagal napas progresif karena kerusakan alveolar akibat virus, yang mungkin menyababkan kematian. Untuk pasien dengan dugaan infeksi, disarankan melakukan RT-PCR untuk mendeteksi asam nukleat dari SARS-CoV-2 positif pada dahak, apusan tenggorokan, dan sampel dari saluran pernapasan bawah (42). Pengujian asam nukleat adalah teknik utama untuk diagnosis laboratorium. Metode lain yang digunakan adalah pengujian antigen antibodi atau uji serologis, pengujiannya lebih cepat walaupun tidak seakuran PCR. Seperti halnya virus lainnya, pengembangan metode deteksi dimulai dengan identifikasi

(25)

9

genom virus terlebih dahulu (43). Untuk saat ini tidak ada vaksinatau obat anti-virus khusus yang digunakan pada pasien Covid-19. Manajemen perawatan pasien saat ini berfokus pada penyediaan perawatan suportif, seperti oksigenasi, ventilasi, dan pengelolaan cairan(44). Pada saat ini WHO telah mengeluarkan pemberitahuan mengenai tindakan pencegahan dari Covid-19. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun ataupun alkohol dapat mencegah dari infeksi virus. Selain itu, tindakan yang dapat dilakukan adalah menjaga jarak sekitar 1-3 meter dari orang lain untuk dapat menghindari droplet atau paparan virus dari orang lain. Menjauhi keramaian atau tetap di rumah juga merupakan tindakan pencegahan karena dapat menjaga jarak dari orang lain. Jika memang harus keluar, tetap menggunakan masker agar dapat terhindar dari droplet. Dan jangan sembarangan dalam menyentuh mulut, hidung, dan mata karena permukaan tangan berpotensi telah tekontaminasi virus, sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu(31).

Setiap orang perlu memastikan tidak ada orang yang memiliki gangguan pernapasan di dekatnya. Apabila sedang batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung menggunakan lengan ataupun tisu agar orang lain dapat terlindungi. Jika ada gejala ringan seperti batuk, sakit kepala, atau demam ringan lakukan karantina mandiri dan tetap di rumah sampai sembuh. Jika memang harus keluar gunakan masker dan hindari kontak dengan orang lain. Jika memiliki gejala seperti demam, batuk dan sulit bernapas, segera hubungi pihak rumah sakit atau gugus tugas percepatan penanganan Covid-

(26)

10

19, untuk mendapat tindakan lebih lanjut. Dan terakhir tetap mengikuti perkembangan informasi dari media terpercaya(31).

B. Konsep Kecemasan

1. Pengertian Kecemasan

Istilah kecemasan dalam Bahasa Inggris yaitu anxiety yang berasal dari Bahasa Latin angustus yang memiliki arti kaku, danango, anci yang berarti mencekik Steven Schwartz mengemukakan kecemasan berasal dari kata Latin anxius ,yang berarti penyempitan atau pencekikan. Kecemasan mirip dengan rasa takut tapi dengan fokus kurang spesifik, sedangkan ketakutan biasanya respon terhadap beberapa ancaman langsung, sedangkan kecemasan ditandai oleh kekhawatiran tentang bahaya tidak terduga yang terletak di masa depan. Kecemasan dapat ditandai keadaan emosional yang negative dengan adanya firasat dan somatik ketegangan, contohnya seperti hati berdetak kencang, kesulitan bernapas, berkeringat(7). Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya, Kecemasan dimana seseorang mengalami perasaan gelisah atau cemas dan aktivitas sistem saraf outonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik(8). Proses penyesuaian diri dalam lingkungan perguruan tinggi adalah proses yang akan dan harus dilakukan oleh seluruh mahasiswa baru di perguruan tinggi. Dalam proses penyesuaian maka dapat dijumpai masalah-masalah psikologis pada mahasiswa yang dapat bersumber dari dua hal yaitu akademik maupun non-

(27)

11

akademik. Pada tahun pertama menempu proses perkuliahan merupakan periode transisi kritis, dimana pada masa tersebut merupakan waktu bagi mahasiswa untuk meletakkan dasar atau pondasi yang selanjutnya dapat menjadi pengaruh dalam keberhasilan akademiknya. Selain masalah akademik, adapula masalah yang dapat dialami dalam proses penyesuaian yaitu masalah dengan lingkungan sosial yang ada di perguruan tinggi.

Contohnya seperti tinggal terpisah dari keluarga, pengaturan keuangan, masalah yang bersumber dari tempat tinggal yang baru, latar belakang sosial-budaya yang berbeda, masalah dengan lawan jenis, masalah dan penyesuaian dengan teman pergaulan yang baru, serta masalah dalam organisasi dan juga kegiatan kemahasiswaan(9).

2. Tingkat Kecemasan

Kecemasan (Anxiety) memiliki tingkatan, Gail W. Stuart mengemukakan tingkat ansietas, diantaranya

a. Ansietas ringan. Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari, ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya dalam fase ini dapat menjadi motivasi untuk belajar dan memiliki pertumbuhan juga kreativitas.

b. Ansietas sedang. Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain.Ansietas ini mempersempit lapang persepsi individu. Individu akan mengalami tidak perhatian yang selektif tetapi dapat berfokus pada sesuatu yang lebih banyak apabila diarahkan untuk melakukanya.

(28)

12

c. Ansietas berat. Sangat mengurangi lapang persepsi individu. Seseorang cenderung akan berfokus pada sesuatu yang spesifik dan juga rincu serta tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan dan membutuhkan banyak arahan dalam berfokus ke hal lain.

d. Tingkat panik. Berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror.

Halyang rinci terpecah dari proporsinya karenamengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatuwalaupun dengan arahan. Dalam tingkatan panic dapat menyebabkan disorganisasi kepribadian dan dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain, memberikan persepsi yang menyimpang, dan juga kehilangan pemikiran yang rasional(7). 3. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

a. Faktor Predisposisi

Menurut Stuart dan Laraia terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan ansietas, di antaranya sebagai berikut.

1) Faktor Biologis

Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine.

Reseptor ini membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA berperan utama dalam mekanisme biologis yang berkaitan dengan ansietas sama halnya dengan endorfin. Ansietas dapat disertai

(29)

13

dengan terjadinya gangguan fisik dan menyebabkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor menjadi menurun.

2) Faktor Psikologi

a) Pandangan Psikoanalitik

Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara antara dua elemen kepribadian dan superego. Kepribadian dapat mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma-norma budaya yang dimiliki.

b) Pandangan Interpersonal

Ansietas dapat timbul dengan perasaan takut terhadap tidak adanya suatu penerimaan dan juga penolakan interpersonal terhadap sesuatu. Ansietas ini dapat berhubungan dengan perkembangan trauma, contohnya perpisahan dan kehilangan, yang dapat menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang mengalami harga diri yang rendah terutama akan dengan mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.

c) Pandangan Perilaku

Kecemasan merupakan produk dari rasa frustasi yang berarti sesuatu yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai atau mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku melihat ini sebagai motivasi belajar yang didasarkan pada keinginan internal untuk menghindari rasa sakit. Orang yang

(30)

14

terbiasa dengan kehidupan awal akan dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan dan akan semakin cemas di kehidupan selanjutnya.

3) Sosial Budaya

Kecemasan merupakan hal yang lumrah dalam keluarga. Ada beberapa tumpang tindih antara gangguan kecemasan dan depresi.

Terjadinya kecemasan dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan pendidikan.

b. Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi dibedakan sebagai berikut :

1) Ancaman terhadap integritas diri seseorang dapat menimbulkan perubahan pada fungsi fisiologis di masa depan atau berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari

2) Ancaman terhadap sistem diri dapat mengancam identitas seseorang, harga diri dan juga mengenai fungsi sosial(10).

4. Gejala Gejala Kecemasan

Gejala kecemasan ditandai dalam beberapa aspek, yaitu:

a. Reaksi fisiologis: jantung berdebar-debar, tekanan darah meningkat, napas cepat, napas pendek, dada sesak dan tersedak, refleks menjadi meningkat, syok meningkat, mata berkedip, insomnia, gelisah, wajah tegang, kehilangan nafsu makan, menolak jika diberikan makanan, ketidaknyamanan perut, mual, diare, keringat lokal (telapak tangan), wajah pucat, seluruh tubuh berkeringat.

(31)

15

b. Reaksi perilaku : kegelisahan, ketegangan tubuh, tremor, gugup, inkoordinasi, kecenderungan cedera, sering melakukan penarikan diri atas sesuatu dan menghindar, hiperventilasi, serta memilih untuk melarikan diri dari apa yang terjadi.

c. Reaksi kognitif : fokus dalam suatu hal akan menjadi menurun, sering kelupaan, salah penilaian atau persepsi, kreativitas menjadi menurun, produktivitas menurun, merasa kebingungan, selalu bersikap waspada, kehilangan objektivitas, takut akan kecelakaan dan kematian

d. Respon emosional : mudah untuk teralihkan, mudah tersinggung, gugup, takut berlebihan, tidak sabaran.(11).

5. Pengukuran Tingkat Kecemasan

Untuk mengetahui derajat kecemasan ringan, sedang, berat, dan sangat berat seseorang, dapat digunakan alat ukur bernama Hamilton Anxiety Scale (HRS-A). HRSA adalah skala kecemasan yang praktis dan sederhana.

Mudah diimplementasikan, distandarisasi dan diterima secara internasional.

Evaluasi menggunakan HRS-A mencakup 14 kelompok gejala, yang masing-masing memiliki gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala akan diberikan penilaian antara 0-4, artinya adalah nilai 0:

tidak ada gejala, 1: gejala ringan, 2: gejala sedang, 3: gejala berat, 4: gejala berat sekali. Masing-masing dalam nilai angka (skor) dari 14 kelompok kemudian akan dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut akan diketahui derajat kecemasan yang dimiliki oleh seseorang yaitu apabila kurang dari 14 artinya tidak ada kecemasan, skor 14-20 artinya memiliki

(32)

16

kecemasan yang ringan, skor 21-27 memiliki kecemasan yang sedang, skor 28-41 memiliki kecemasan yang berat, dan apabila skornya 42-52 maka kecemasan berat sekali(panik)(8).

C. Protokol Kesehatan

1. Defenisi Protokol Kesehatan

Protokol kesehatan adalah aturan dan ketentuan yang perlu diikuti oleh segala pihak agar dapat beraktivitas secara aman pada saat pandemi Covid- 19 ini. Protokol kesehatan dibentuk dengan tujuan agar masyarakat tetap dapat beraktivitas secara aman dan tidak membahayakan keamanan atau kesehatan orangAlain. Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 disusun untuk meningkatkan peran dan kewaspadaan dalam mengantisipasi penularan Covid-19 di tempat dan fasilitas umum. Protokol kesehatan ini dapat dikembangkan oleh masing-masing pihak terkait sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya(45).

2. Prinsip Umum Tentang Protokol Kesehatan

Masyarakat memiliki peran penting dalam memutus mata rantai penularan Covid-19 agar tidak menimbulkan sumber penularan baru/cluster pada tempat-tempat dimana terjadinya pergerakan orang, interaksi antar manusia dan berkumpulnya banyak orang. Masyarakat harus dapat beraktivitas kembali dalam situasi pandemi Covid-19 dengan beradaptasi pada kebiasaan baru yang lebih sehat, lebih bersih, dan lebih taat, yang dilaksanakan oleh seluruh komponen yang ada di masyarakat serta

(33)

17

memberdayakan semua sumber daya yang ada. Peran masyarakat untuk dapat memutus mata rantai penularan Covid-19 (risiko tertular dan menularkan)harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Protokol kesehatan secara umum harus memuat (18). Perlindungan Kesehatan Individu : Penularan Covid-19 terjadi melalui droplet yang dapat menginfeksi manusia dengan masuknya droplet yang mengandung virus SARSCoV-2 ke dalam tubuh melalui hidung, mulut, dan mata. Prinsip pencegahan penularan Covid-19 pada individu dilakukan dengan menghindari masuknya virus melalui ketiga pintu masuk tersebut dengan beberapa tindakan, seperti:

a. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi hidung dan mulut hingga dagu, jika harus keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya (yang mungkin dapat menularkan Covid-19). Apabila menggunakan masker kain, sebaiknya gunakan masker kain 3 lapis.

b. Membersihkan tangan secara teratur dengan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol/handsanitizer. Selalu menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak bersih (yang mungkin terkontaminasi droplet yang mengandung virus).

c. Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari terkena droplet dari orang yang bicara, batuk, atau bersin, serta menghindari kerumunan, keramaian, dan berdesakan. Jika tidak

(34)

18

memungkinkan melakukan jaga jarak maka dapat dilakukan berbagai rekayasa administrasi dapat berupa pembatasan jumlah orang, pengaturan jadwal, dan sebagainya. Sedangkan rekayasa teknis antara lain dapat berupa pembuatan partisi, pengaturan jalur masuk dan keluar, dan lain sebagainya.

d. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mengkonsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari dan istirahat yang cukup (minimal 7 jam), serta menghindari faktor risiko penyakit. Orang yang memiliki komorbiditas/penyakit penyerta/kondisi rentan seperti diabetes, hipertensi, gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, kondisi immunocompromised/penyakit autoimun, kehamilan, lanjut usia, anak-anak, dan lain lain, harus lebih berhati-hati dalam beraktifitas di tempat dan fasilitas umum.

3. Contoh dan Fungsi Penerapan Protokol Kesehatan

Belum ditemukannya antiviral spesifik sebagai vaksin merupakan alasan terbesar penerapan protokol kesehatan semasa pandemik (12). Protokol kesehatan tersebut berfungsi sebagai pencegah penyebaran infeksi Corona virus kepada masyarakat luas. Beberapa contoh protokol kesehatan yang telah diterbitkan pemerintah Indonesia selama masa pandemi Corona virus yaitu:

a) Menggunakan masker.

b) Menutup mulut ketika batuk dan bersin dikeramaian.

(35)

19

c) Istirahat dengan cukup apabila suhu badan 38° C atau lebih serta batuk dan pilek.

d) Larangan menggunakan transportasi umum bagi masyarakat yang sedang sakit.

e) Jika terdapat masyarakat yang memenuhi keriteria suspek maka akan dirujuk ke rumah sakit Covid atau melakukan isolasi(13).

a. Fungsi Masker Pelindung Wajah

Masker pelindung wajah merupakan salah satu bentuk self protection selama masa pandemi Corona virus. Pernyataan tersebut juga telah diperkuat oleh World Health Organization (WHO) melalui panduan sementara yang diumumkan pada tanggal 06 April 2020 mengenai anjuran mengenaikan masker(14). Masker pelindung wajah sangat penting digunakan karena tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tapi juga sebagai pencegah penyebaran infeksi Corona virus(15). Melalui penggunaan masker pelindung wajah, proses penyebaran Corona virus juga dapat dikendalikan (16).

Masker pelindung wajah terdiri atas beberapa jenis yaitu; masker medis dan masker respirator. Masker medis merupakan masker sekali pakai yang waktu pakainya maksimal ±4 jam dan tidak dapat digunakan kembali ketika basah (Lepelletier et al., 2020). Masker medis memiliki tingkat penetrasi partikel 44%, sehingga mampu melindungi diri dari virus dan tidak beresiko memunculkan penyakit lain (Szarpak et al., 2020). Masker respiratori merupakan salah satu media penyaring dalam

(36)

20

bentuk topeng. Masker respiratori berfungsi sebagai salah satu alat pelindung petugas kesehatan yang terpapar virus (17).

Pada masa pandemi ini jumah masker medis maupun masker respirator sangatlah terbatas. Menanggapi hal tersebut, masyarakat mulai menggunakan masker kain sebagai bentuk self protection.

Melalui panduan interm 05 Juni 2020, World Health Organization (WHO) juga telah menghimbau penggunaan masker medis maupun non-medis bagi masyarakat umum (18). Keriteria masker kain sendiri menurut dr. Reisa Broto agar dapat mencegah penyebaran infeksi Corona virus adalah sebagai berikut; a) Masker terdiri atas 3 lapis; b) Kain pertama adalah kain katun, kain ke-dua adalah kain yang bisa mendukung viltrasi optimal (katun atau polyester) dan kain ke-tiga adalah lapisan hidrofobik atau anti air (polypropylene)(19).

b. Mencuci Tangan

Menjaga kebersihan diri selama masa pandemi Corona virus seperti mencuci tangan merupkan salah satu langkah yang perlu dilakukan masyarakat. World Health Organization (WHO) juga telah menjelaskan bahwa menjaga kebersihan tangan telah mampu menyelamatkan nyawa manusia dari infeksi Corona virus(20). Meski demikian, mencuci tangan tidak bisa dilakukan dengan sembarangan oleh masyarakat. Mencuci tangan dengan benar dalam waktu 20 detik atau lebih menggunakan air mengalir dan sabun cair merupakan cara efektif yang dianjurkan dan sangat perlu masyarakat terapkan(21). Melalui tindakan mencuci tangan

(37)

21

siklus transmisi dan resiko penyebaran Corona virus antara 6% dan 44% dapat dikurangi(22).

c. Menggunakan Hansanitizier

Menggunakan hand sanitizer merupakan cara lain untuk menjaga kebersihan tangan selain mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Hal tersebut dikarenakan Hand sanitizer mampu mencegah terjadinya infeksi mikroba pada manusia(23). Pada hand sanitizer atau antiseptic yang mengandung sebanyak 62%-95% alkohol mampu melakukan denaturasi protein mikroba dan mampu menonaktifkan virus(24). Melihat hal tersebut, maka proses penyebaran dan infeksi Corona virus pada masyarakat tentu dapat diminimalisir. Meski penggunaan hand sanitizer atau antiseptic dianjurkan selama masa pandemi Corona virus, namun pemakaian hand sanitizer secara terus- menerus sangat tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan iritasi dan luka bakar pada kulit(25). Sehingga penggunaan hand sanitizer lebih baik dilakukan saat berada di luar rumh atau saat tidak ada fasilitas mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

d. Social Distancing

Social distancing merupakan salah satu kebijakan yang kini diterapkan masyarakat dunia selama masa pandemi Corona virus.

Selama menjalankan kebijakan Social distancing pemerintah Indonesia telah menerapkan beberapa kegiatan seperti: a) Belajar dan bekerja dari

(38)

22

rumah; b) Tinggal di rumah; c) Melarang kegiatan dikermaian dan; d) Membatasi jam operasional di tempat umum(26).

Tujuan dari kegiatan Social distancing atau physical distancing adalah meminimalisir interaksi antar masyarakat yang kemungkinan terdapat beberapa warga terinfeksi namun tidak melakukan self isolation(27). Selain itu kegiatan social distancing juga memiliki dampak signifikan dalam meminimalisir tingkat kejahatan akibat adanya krisis ekonomi selama masa pandemi Corona virus (28). Menurut Wold Health Organization (WHO) proses social distancing dapat dilakuan dengan menjaga jarak sejauh 1 meter atau 3 kaki dengan orang lain (29).

e. Menutup Mulut Saat Batuk Dan Bersin

Penyebaran Corona virus di dunia ini telah berlangsung dengan cepat dengan jutaan jumlah pasien terinfeksi. Salah satu proses penyebarannya dapat melalui inhasi kontak secara langsung dengan tetesan droplet pasien terinfeksi (30). Masalah yang kini muncul adalah adanya pasien terinfeksi yang tidak menunjukkan gejala sehingga proses penyebaran Corona virus sulit diidentifikasi(31).

Menindaklanjuti hal tersebut maka World Health Organization (WHO) menerapkan etika batuk dan bersin sebagai berikut: a) Menutup hidung dan mulut; b) Segera membuang tissue yang telah dipakai untuk menutup mulut ketika batuk atau bersin; c) Membersihkan tangan (32).

Etika tersebut perlu diterapkan oleh masyarakat sebagai bentuk self protection agar terhindar dari infeksi Corona virus.

(39)

23

D. Tinjauan Keislaman

1. Wabah Covid dalam Pandangan Islam

Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona.

Penyakit ini tergolong baru, pertama kali ditemukan di Wuhan, Hubei, China tahun 2019. Sebagian besar orang yang terinfeksi virus Covid-19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga berat, dan tidak sedikit juga pasien yang sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Lansia maupun mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis (PPOK), dan kanker merupakan kelompok resiko tinggi dan sangat dimungkinkan mengalami gejala yang berat hingga berakhir dengan kematian.(33)

Penyebaran virus ini semakin masif hingga pada akhirnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemi global. Hingga saat ini, peneliti masih terus berusaha menemukan obat yang paling baik untuk menyembukan penyakit ini, disamping terus dilakukannya penelitian untuk menemukan vaksin terhadap virus Covid-19 (virus SARS-cov tipe 2). (33)

Allah berfirman dalam QS. At-Taghabun ayat 11

ن ِم ْؤُي نَم َو ِ االلَّ ِنْذِإِب الَِّإ ٍةَبي ِصُّم نِم َباَصَأ اَم ِب

ُهَبْلَق ِدْهَي ِ اللَّا ِِّلُكِب ُ االلَّ َو

ميِلَع ٍءْي َش

Terjemahannya :

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah

(40)

24

niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11) Perlu di ingat bahwa segala sesuatu terjadi atas kuasa Allah dan sudah menjadi takdir-Nya. Termasuk wabah covid-19 yang terjadi saat ini.

Dalam ayat diatas terdapat penyemangat untuk orang-orang yang beriman agar mereka lebih bersabar dalam menghadapi ujian di dunia ini (termasuk wabah covid-19) bahwasanya tidak ada satu ujian pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin dan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, namun bagaimana seharusnya sikap orang yang beriman terhadap ujian ini? barang siapa beriman kepada Allah dan dia menerima takdir Allah dan bersabar maka Allah subhanahu wa ta’ala akan berikan hidayah kepadanya, dan ini adalah sikap orang yang beriman. Tatkala seseorang mendapatkan ujian maka Allah maha mengetahui tentang musibah tersebut, mengetahui sikap orang tersebut terhadap musibah yang dia alami, dan juga Allah mengetahui isi hati seorang hamba yang terkena musibah apakah dia sabar atau tidak, jika dia bersabar maka ada balasannya, dan jika tidak bersabar juga ada balasannya. Syaikh As-Sa’di berkata ketika menjelaskan ayat ini: “Ini adalah balasan terbaik bagi orang yang sabar yaitu hatinya diberikan hidayah, sehingga ketika hatinya diberi hidayah Allah subhanahu wa ta’ala akan berikan dia kebahagiaan dan dia akan menghadapi ujian hidup dengan ketenangan, namun sebaliknya ketika seseorang mendapatkan musibah lalu dia marah itu adalah adzab yang disegerakan sebelum adzab akhirat”

(41)

25

Kondisi seseorang yang tidak menerima ketika terkena musibah sesungguhnya merupakan penderitaan yang luar biasa, yang kemudian menyebabkan dia marah dan mengamuk termasuk merasa cemas atau hatinya tidak tenang dan terus dalam kondisi seperti itu. Adapun orang yang beriman maka tidak bersikap demikian, dia bersabar ketika mendapatkan ujian sehingga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada hatinya dan dia pun kokoh dan merasakan ketenangan dalam menghadapi segala ujian dan Allah swt pun akan membalas atas hatinya yang sabar tersebut.

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu‘alaih wa

sallam bersabda:

ُعَفْنَي ْنَأ ىَلَع ْتَعَمَتْجا ِوَل َةامُلأا انَأ ْمَلْعا َو ِب الَِّإ َك ْوُعَفْنَي ْمَل ٍءْيَشِب َك ْو

ُهَبَتَك ْدَق ٍءْيَش

َشِب َك ْو ُّرُضَي ْنَأ ىَلَع اوُعَمَتْجا ِنِإ َو ، َكَل ُالله ٍءْي

ْدَق ٍءْيَشِب الَِّإ َك ْو ُّرُضَي ْم َل ُالله ُهَبَت َك

ُفُحُّصلا ِتافَج َو ُمَلاْقَلأا ِتَعِف ُر ، َكْيَلَع

Artinya:

“Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

(42)

26

Dengan kata lain, semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin Allah swt dan tentunya ada hikmah dan kebaikan yang dapat kita pelajari dan mengambil ilmunya meski dari kejadian buruk atau musibah sekalipun.

Dengan munculnya penyakit baru sekaligus menyebabkan wabah di seluruh dunia yaitu Covid-19 ini, daripada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin, daripada menyalahkan keadaan, sikap yang harus kita hadirkan diantaranya adalah menguatkan ketakwaan, keimanan, ibadah, dan amal saleh yang dilakukan dengan sebaik-baiknya. (33)

2. Pencegahan Covid-19 dalam Islam

Dalam Islam, seorang muslim dilarang berobat dengan sesuatu yang haram.(34)

Dari Abu Darda’, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ِِّلُكِل َلَعَج َو َءا َوادلا َو َءاادلا َل َزْنَأ َ االلَّ انِإ ا ْو َواَدَتَ َلَّ َو ا ْو َواَدَتَف ءا َوَد ٍءا َد

ٍما َرَحِب

Artinya:

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram”. (HR. Abu Dawud)

: Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman

ِخْلا َمْحَل َو َمادل ا َو َةَتْيَمْلا ُمُکْيَلَع َم ارَح اَمانِا ۤاَم َو ِرْي ِزْن

ۚ ِ هاللَّ ِرْيَغِل ٖهِب الِهُا ارُطْضا ِنَم َف

َهاللَّ انِا ۗ ِهْيَلَع َمْثِا ۤ َلاَف ٍد اَع َلَّ او ٍغ اَب َرْيَغ مْي ِح ار ر ْوُفَغ

Terjemahannya:

"Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula)

(43)

27

melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 173)

Pada tahun 2016, MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa tentang imunisasi. MUI menjelaskan bahwa vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Namun, MUI juga membolehkan penggunaan vaksin haram dengan beberapa ketentuan, yaitu digunakan pada kondisi al-dlarurat (keterpaksaan) atau al-hajat (keterdesakan), belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, serta adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.(34)

Terkait vaksin Covid-19, berdasarkan fatwa MUI Nomor 02 Tahun 2021 Tentang Produk Vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Sciences Co. Ltd.

China dan Pt. Bio Farma (Persero), dengan pertimbangannya menyatakan

hukumnya suci dan halal serta boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten.(35)

Kemudian fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2021 Tentang Hukum Penggunaan Vaksin Covid-19 Produk AstraZeneca, dengan pertimbangannya menyatakan bahwa vaksin Covid-19 produk AstraZeneca hukumnya haram karena dalam tahapan proses produksinya memanfaatkan tripsin yang berasal dari babi. Namun MUI juga menyatakan bahwa penggunaan vaksin Covid-19 produk AstraZeneca pada saat ini dibolehkan (mubah) karena beberapa ketentuan, diantaranya yaitu ada kondisi

(44)

28

kebutuhan yang mendesak (hajah syar’iyyah) yang menduduki kondisi darurat syar’iy (dlarurah syar’iyyah).(36)

Muhammadiyah juga menyepakati untuk mendukung pelaksanaan vaksinasi sebagai bagian dari upaya penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, setelah semua kaidah keamanan, keefektifan, dan kehalalan vaksin terpenuhi sesuai standar BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia), sebagaimana pernyataan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.(37)

E. Kerangka Teori

Gambar II.1 Kerangka Teori

COVID-19 Kecemasan

Reaksi Perilaku

Reaksi Perilaku Reaksi

Fisiologis

Faktor Psikologi

Faktor Psikologi Faktor Biologis

Faktor Biologis

Respon Emosional

Perilaku Protokol Kesehatan

Perilaku Protokol Kesehatan

(45)

29

BAB III

KERANGKA KONSEP

Setelah berbagai aspek telah disajikan dalam pembahasan yang terdapat dalam tinjauan pustaka, kemudian akan dirangkum sebagai dasar dalam membuat kerangka konsep. Maka penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

A. Konsep Pemikiran Variabel Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh tingkat kecemasan dengan perilaku protokol kesehatan mahasiswa pre-klinik fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah

Makassar pada masa pandemi Covid-19.. Variabel yang diteliti yaitu Kecemasan dan Perilaku protokol kesehatan. Variabel dipilih berdasarkan faktor yang dianggap berpengaruh terhadap sampel penelitian yaitu mahasiswa Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

B. Konsep Pemikiran

Gambar III.1 Konsep Pemikiran Keterangan :

: Variabel independen : Variabel dependen Kecemasan

Kecemasan

Perilaku Penerapan protokol kesehatan

Perilaku Penerapan protokol kesehatan

(46)

30

C. Defenisi Operasional 1) Kecemasan

(a) Definisi : Adanya perasaan gelisah dan kekhawatiran yang dirasakan oleh seseorang akan sesuatu yang akan terjadi kedepannya (b) Alat ukur : Kuisioner Hamilton Rating Scale for Anxiety

(c)

Cara ukur : Responden mengisi kuisioner sesuai dengan instruksi yang diberikan

(d)

Hasil ukuran : Skor < 14 : tidak ada kecemasan Skor 14-20 : kecemasan ringan

Skor 21-27 : kecemasan sedang Skor 28-41 : kecemasan berat Skor 42-56 : kecemasan berat sekali (e) Skala ukur : Ordinal

2) Perilaku penerapan protokol kesehatan

a) Defenisi : Aturan dan ketentuan yang perlu diikuti oleh segala pihak agar dapat beraktivitas secara aman pada saat pandemi Covid-19 ini.

b) Alat ukur : Memberikan angket dengan cara membagi kuesioner

c)

Cara ukur : Responden mengisi kuisioner sesuai dengan instruksi yang diberikan

d) Hasil ukur : Patuh Tidak Patuh

(47)

31

e) Skala ukur : Ordinal

D. Hipotesis

1)

Hipotesis Null (H0)

Tidak terdapat hubungan antara kecemasan dan perilaku protokol kesehatan pada mahasiwa pre-klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Univesitas Muhammadiyah Makassar pada masa pandemi Covid-19.

2)

Hipotesis Alternatif (Ha)

Terdapat hubungan antara kecemasan dan perilaku protokol kesehatan pada mahasiwa pre-klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Univesitas Muhammadiyah Makassar pada masa pandemi Covid-19.

(48)

32

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Objek Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di rumah masing-masing responden, yang dilaksanakan mulai bulan September sampai bulan Desember 2020.

Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar angkatan 2018, 2019 dan 2020.

B. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional.

C. Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian adalah Mahasiswa/I preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2018, 2019 dan 2020.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik simple random sampling. Adapun kriteria inklusi dan ekslusi, yaitu :

a. Kriteria Inklusi

1) Mahasiswa/i preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Muhamammdiyah Makassar angkatan 2018, 2019 dan 2020 yang bersedia menjadi responden

(49)

33

2) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar yang bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent.

3) Mahasiswa yang menyelesaikan kuesioner b. Kriteria Ekskulusi

1) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar yang tidak mengisi kuesioner dengan lengkap

2) Mahasiswa yang menyelesaikan kuesioner, tetapi lewat dari batas waktu pengumpulan

3) Mahasiswa yang menyelesaikan kuesioner, tetapi tidak mengembalikan.

D. Rumus dan Besar Sampel

n1 = n2 = (Zα√2PQ + Zβ √P1Q1+ P2Q2 (P1− P2) )

2

𝑍𝛼 : Deviat baku alfa 𝑍𝛽 : Deviat baku beta

𝑃2 : Proporsi pada kelompok yang sudah diketahui nilainya 𝑄2 : 1 - P2

𝑃1 : Proporsi pada kelompok yang lainya merupakan judgement peneliti

𝑄1 : 1 – P1

𝑃1− 𝑃2 : Selisih proporsi minimal yang dianggap bermakna 𝑃 :Proporsi total = (P1 + P2)/2

𝑄 : 1 – P

(50)

34

Maka,

n1 = n2 = (Zα√2PQ + Zβ √P1Q1+ P2Q2 (P1− P2) )

2

n1 = n2 = (1,960√2x0,6x0,4 + 1,645√0,7x0,3 + 0,5x0,5

(0,7 − 0,5) )

2

n1 = n2 = (1,960√0,48 + 1,645√0,46

(0,2) )

2

n1 = n2 = (1,960x0,692 + 1,645x0,678

(0,2) )

2

n1 = n2 = (1,356 + 1,115

(0,2) )

2

n1 = n2 = (2,471 (0,2))

2

n1 = n2 = (12,355)2 n1 = n2 = 152,646

 153 sample

Dengan rincian mahasiswa 2018 sebanyak 90/341 x 153 = 40 mahasiswa, mahasiswa 2019 sebanyak 132/341 x 153 = 60 mahasiswa, dan mahasiswa 2020 sebanyak 119/341 x 153 = 53 mahasiswa.

(51)

35

E. Alur Penelitian

Informed consent

Pengumpulan data responden

Pengolahan dan analisis data responden

Hasil

Gambar IV.1 Alur Penelitian

F. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang dikumpulkan oleh penelitinya sendiri secara langsung dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner yang akan digunakan yaitu kuesioner dari penelitian sebelumnya sehingga tidak memerlukan uji validitas dan reabilitas ulang. Namun, jika tidak ditemukan maka akan dibuat kuesioner baru dan akan diuji validitas dan reabilitasnya. Kemudian kemungkinan akan dibuat dalam bentuk google form agar dapat mempermudah proses penyebaran

Informed consent

Informed consent

Pengisian kuisioner oleh responden

Pengisian kuisioner oleh responden Pengumpulan data responden

Pengumpulan data responden Pengolahan dan analisis data responden

Pengolahan dan analisis data responden Hasil

Hasil

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unismuh yang ditetapkan menjadi sampel

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unismuh yang ditetapkan menjadi sampel

(52)

36

kuesioner tersebut. Selanjutnya peneliti menganalisis hasil kuesioner yang telah dibagikan kepada seluruh responden yang mereka isi sesuai dengan apa yang dialaminya. Kemudian peneliti mendeskripsikan kondisi subjek atau responden penelitian berdasarkan hasil analisis dari kuesioner tersebut.

G. Teknik Analisa Data

Proses pengolahan data untuk memberikan hasil informasi yang benar melalui 4 tahapan, yaitu :

1. Editing, yaitu untuk mengecek nama, kelengkapan identitas, dan data responden serta untuk memastikan semua jawaban sudah terisi sesuai petunjuk.

2. Coding, yaitu untuk memberi kode ataupun angka tertentu pada kuesioner agar mempermudah saat mengadakan tabulasi dan analisa data.

3. Processing, yaitu proses memasukkan data dari kuesioner kedalam komputer dengan menggunakan program statistic.

4. Cleaning, yaitu untuk mengecek kembali data yang telah dimasukkan agar dapat diketahui apakah ada kesalahan atau tidak.

Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis dengan bantuan program Statistic Package for Social Science (SPSS) for Windows. Data yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah data kategori yang berskala ordinal.

Selanjutnya, data dilakukan uji Chi-Square untuk mencari hubungan dari dua variabel data.

(53)

37

H. Etika Penelitian

1. Menyerahkan surat pengantar yang ditujukan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar sebagai permohonan izin untuk melakukan penelitian.

2. Lembar persetujuan diberikan kepada subjek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian. Apabila responden bersedia untuk diteliti maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut. Namun, jika responden menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-haknya.

3. Responden tidak akan dikenakan biaya apapun.

4. Kerahasiaan informasi akan dijamin oleh peneliti. Hanya kelompok tertentu saja kelompok data yang akan disajikan dan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

(54)

38

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Populasi/Sampel

Telah dilakukan penelitian tentang Pengaruh Tingkat Kecemasan dengan Perilaku Protokol Kesehatan Mahasiswa Pre-Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar pada Masa Pandemi Covid-19.

Pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan pada Januari – Februari 2022 pada mahasiswa angkatan 2018, 2019 dan angkatan 2020 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar. Data diperoleh dari pengisian kuesioner yang disebarkan melalui Google Form terkait tingkat kecemasan dan perilaku protokol kesehatan yang dirasakan subyek.

Data yang telah terkumpul selanjutnya disusun dalam suatu tabel induk (master tabel) dengam menggunakan program Microsoft Excel. Dari tabel

induk tersebutlah kemudian data dipindahkan dan diolah menggunakan program SPSS di perangkat computer kemudian disajikan dalam bentuk tabel frekuensi maupun tabel silang (Cross tabel).

B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner yang telah dibuat dalam bentuk Google Form kemudian disebarkan melalu sebuah aplikasi room chat kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2018, 2019, dan angkatan 2020.

(55)

39

C. Analisis

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar. Beberapa variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah Pengaruh Tingkat Kecemasan dengan Perilaku Protokol Kesehatan Mahasiswa Pre-Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar pada Masa Pandemi Covid-19. Pengambilan data dilakukan dengan metode simple random sampling hingga didapatkan sampel minimal sebanyak 153 orang.

Adapun hasil penelitian disajikan dalam tabel yang disertai penjelasan sebagai berikut:

1. Analisis Univariat

a. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi

Tabel V.1 Distribusi berdasarkan karakteristik demografi.

Sumber : Data Primer 2022

Berdasarkan tabel 5.1 responden angkatan 2018 yang didapat yaitu 40 (23,3%) responden, responden angkatan 2019 yang didapat

Variabel Subgrup Jumlah

N Persentase (%)

Angkatan 2018 40 23.3

Total :

2019 2020

71 61 172

41.3 35.5 100.0

Referensi

Dokumen terkait

Kredibilitas dan transparansi Pengadilan Negeri Pematang Siantar merupakan faktor penting untuk mengembalikan kepercayaan pencari keadilan kepada Pengadilan Negeri

Jika suatu senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air tetapi dapat larut dalam larutan 10% NaOH, maka dapat dikatakan bahwa senyawa tersebut lebih asam daripada air dan

Jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2014, jumlah pekerja yang mengalami peningkatan pada Februari 2015 yaitu Sektor Perdagangan naik sebesar 290 ribu orang (7,78

Sehingga dapat dikatakan bahwa konsep diri merupakan gambaran seseorang tentang diri sendiri, baik yang bersifat fisik, sosial maupun psikologis yang diperoleh

[r]

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.... Institutional

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim menjelaskan, bahwa total pendapatan (income) industri asuransi jiwa di kuartal ketiga 2016 meningkat tinggi sebesar 78,1%, menjadi Rp 158,65 triliun