• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN PERKEBUNAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN PERKEBUNAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

DI BURSA EFEK INDONESIA

OLEH

MUHAMMAD THOHA 100522088

PROGRAM STUDI AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI EKSTENSI MEDAN

PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK

NAMA : MUHAMMAD THOHA

NIM : 100522088

PROGRAM STUDI : S-1 AKUNTANSI EKSTENSI

JUDUL SKRIPSI : PENGARUH LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA

PERUSAHAAN PERKEBUNAN YANG

TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

Tanggal ……….. Ketua Departemen Akuntansi

(Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak., CPA) NIP. 19580222 198203 1 003

Tanggal ……….. Dekan,

(Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S.) NIP. 19580602 198803 1 001

(3)

PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI

NAMA : MUHAMMAD THOHA

NIM : 100522088

PROGRAM STUDI : S-1 AKUNTANSI EKSTENSI

JUDUL SKRIPSI : PENGARUH LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA

PERUSAHAAN PERKEBUNAN YANG

TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

Medan, 24 November 2016 Menyetujui

Pembimbing

Drs. Rustam, M.Si, Ak.

NIP. 19511114 198203 1 002

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI EKSTENSI MEDAN

Telah diuji pada

Tanggal Februari 2017

PANITIA PENGUJI SKRIPSI

Koordinator : Drs. Rustam, M.Si, Ak.

Anggota I : Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak Anggota II : Dra. Mutia Ismail, MM, Ak

(5)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Laba Bersih Dan Arus Kas Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Perkebunan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan atau saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya dengan jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Februari 2017 Yang Membuat Pernyataan,

Muhammad Thoha NIM : 100522088

(6)

ABSTRAK

PENGARUH LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN PERKEBUNAN YANG TERDAFTAR

DI BURSA EFEK INDONESIA

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk membuktikan secara empiris bahwa laba bersih dan arus kas mempengaruhi kebijakan dividen secara simultan maupun parsial pada perusahaan perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data kuantitatif yang bersumber dari data sekunder perusahaan go public sektor perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang digunakan adalah data laporan keuangan tahunan untuk periode 2011 – 2015.

Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa arus kas yang berasal dari aktivitas operasi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap devidend payout ratio yang dibagikan oleh perusahaan, sedangkan laba bersih yang diperoleh perusahaan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap devidend payout ratio perusahaan.

Kata Kunci : Dividen, Arus Kas, Laporan Keuangan

(7)

LISTED PLANTATION IN INDONESIA STOCK EXCHANGE

The purpose of this study was to demonstrate empirically that the net income and cash flows affect dividend policy simultaneously and partially on a plantation company listed on the Indonesia Stock Exchange.

This study uses quantitative data sourced from secondary data publicly traded company listed plantation sector in Indonesia Stock Exchange (BEI). The data used are annual financial statement data for the period 2011-2015.

Based on the results of testing known that the cash flows arising from operating activities has a positive and significant impact on the dividend payout ratio that is distributed by the company, while the company's net income was not significant positive effect on the company's dividend payout ratio.

Keywords: Dividend, Cash Flow, Financial Statements

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT, yang senantiasa memberikan nikmat kesehatan, kesempatan, kemampuan dan kekuatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “Pengaruh Laba Bersih Dan Arus Kas Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Perkebunan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.”

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Untuk dapat menyelesaikan Skripsi ini, tentunya tidak dapat terlepas dari segala hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi. Namun berkat hidayah dari Allah SWT skripsi ini dapat diselesaikan. Terima kasih penulis ucapkan yang teristimewa bagi kedua orang tua penulis Ir. H. Anwar Moch Agus, M.Sc dan Hj. Sukarni yang selalu memberikan wejangan, semangat, doa dan kasih sayang yang tiada pernah putus penulis rasakan.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak selaku Ketua Departemen Akuntansi dan Bapak Drs. Syahrul Rambe, M.M.,. Ak., selaku Ketua dan Sekretaris Departemen Akuntansi Ekstensi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(9)

4. Bapak Drs. Rustam, M.Si, Ak., selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak, selaku Dosen Penguji dan Bapak Dra. Mutia Ismail, MM, Ak., selaku Dosen Pembanding yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis.

6. Teman-teman akuntansi ekstensi dan para teman - teman yang tak dapat disebutkan satu-persatu yang telah memberikan doa dan dukungan tiada henti bagi penulis.

Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan penulis, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan penulisan karya ilmiah kedepan.

Semoga skripsi ini menjadi bahan acuan yang bermanfaat bagi pihak yang membaca.

Medan, Februari 2017 Penulis,

Muhammad Thoha 100522088

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Belakang Penelitian ... 1

1.2. Perumusan Masalah Penelitian ... 4

1.3. Tujuan Penelitan ... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Tinjauan Teoritis ... 6

2.1.1. Pengertian Dividen ... 6

2.1.1.1. Jenis-jenis Dividen ... 7

2.1.1.2. Kebijakan Dividen ... 7

2.1.2. Pengertian Laporan Keuangan ... 14

2.1.2.1. Tujuan Laporan Keuangan ... 16

2.1.2.2. Elemen-elemen Laporan Keuangan ... 17

2.1.3. Laba Bersih ... 20

2.1.4. Arus kas ... 22

2.1.4.1. Pengertian Arus Kas ... 22

2.1.4.2. Laporan Arus Kas ... 23

(11)

2.4. Hipotesis Penelitian ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

3.1. Jenis Penelitian ... 32

3.2. Jenis Data ... 32

3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 33

3.4. Populasi dan Sampel ... 33

3.5. Metode Analisis Data ... 35

3.6. Pengujian Data ... 36

3.6.1. Uji Normalitas Data ... 36

3.6.2. Uji Multikolinearitas... 37

3.6.3. Uji Autokorelasi ... 38

3.6.4. UJi Heteroskedastisitas ... 39

3.7. Pengujian Hipotesis Penelitian ... 40

3.7.1. Analisis Regresi Linear Berganda ... 40

3.7.2. Uji Simultan ... 40

3.7.3. Uji Parsial ... 41

3.7.4. Koefisien Determinasi ... 42

3.8. Batasan Operasional Variabel ... 42

3.9. Jadwal dan Lokasi Penelitian ... 43

(12)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44

4.1. Data Penelitian ... 44

4.2. Analisis Hasil Penelitian ... 45

4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 45

4.2.2. Uji Asumsi Klasik ... 47

4.2.3. Analisis Regresi ... 50

4.3. Pembahasan Hasil Penelitian ... 54

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 56

5.1. Kesimpulan ... 56

5.2. Keterbatasan Penelitian ... 57

5.3. Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 59

(13)

2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 27 3.1 Daftar Populasi dan Sampel Penelitian ... 35 4.1. Sampel Penelitian ... 45 4.2. Statistik Deskriptif Variabel-Variabel Selama Tahun 2011

sampai Tahun 2015 ... 46

(14)

DAFTAR GAMBAR

2.1 Kerangka Konsep ... 30

(15)

1.1 Latar Belakang Masalah

Aktivitas investasi merupakan aktivitas yang dihadapkan pada berbagai macam resiko dan ketidakpastian yang seringkali sulit diprediksikan oleh para investor. Untuk mengurangi kemungkinan resiko dan ketidakpastian yang akan terjadi, investor memerlukan berbagai macam informasi, baik informasi yang diperoleh dari kinerja perusahaan maupun informasi lain yang relevan seperti kondisi ekonomi dan politik dalam suatu negara. Informasi yang diperoleh dari perusahaan lazimnya didasarkan pada kinerja perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan.

Investor mempunyai tujuan utama dalam menanamkan dananya kedalam perusahaan yaitu untuk mencari pendapatan atau tingkat kembalian investasi (return) baik berupa pendapatan dividen (dividend yield) maupun pendapatan dari selisih harga jual saham terhadap harga belinya (capital gain). Dalam hubungannya dengan pendapatan dividen, para investor umumnya menginginkan pembagian dividen yang relatif stabil, karena dengan stabilitas dividen dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan sehingga mengurangi ketidakpastian investor dalam menanamkan dananya kedalam perusahaan. Di sisi lain, perusahaan yang akan membagikan dividen dihadapkan pada berbagai macam pertimbangan antara lain; perlunya menahan sebagian laba untuk reinvestasi yang mungkin lebih menguntungkan, kebutuhan dana perusahaan, likuiditas perusahaan, sifat pemegang saham, target tertentu yang berhubungan

(16)

2

dengan rasio pembayaran dividen dan faktor lain yang berhubungan dengan kebijakan dividen.

Besarnya dividen yang dibagikan akan dipengaruhi oleh ada tidaknya kesempatan investasi yang menguntungkan. Sejauh terdapat kesempatan investasi yang menguntungkan, maka dana yang diperoleh dari operasi perusahaan akan dipergunakan untuk mengambil investasi tersebut. Kalau terdapat sisa, barulah sisa tersebut dibagikan sebagai dividen.

Apabila perusahaan meningkatkan pembayaran dividen, hal ini mungkin ditafsirkan sebagai harapan manajemen akan membaiknya kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Demikian pula apabila terjadi sebaliknya. Dengan demikian manajemen akan enggan untuk mengurangi pembagian dividen, kalau hal ini ditafsirkan memburuknya kondisi perusahaan di masa yang akan datang (sehingga, akan menurunkan harga saham).

Menurut Atmaja (1994:359) menyatakan bahwa perusahaan membayar dividen tunai dengan kas, maka perusahaan harus memiliki kas tersedia. Posisi likuiditas perusahaan sangat berpengaruh pada kemampuan perusahaan membayar dividen. Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak kebijakan dividen karena dividen bagi perusahaan merupakan kas keluar, maka semakin besar likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.

Menurut Hermi (2004) menyatakan bahwa untuk membayar dividen suatu perusahaan harus menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi alokasi laba untuk dividen atau untuk laba ditahan. Ada faktor utama yang harus

(17)

dipertimbangkan, misalnya ketersediaan kas karena walaupun perusahaan memperoleh laba namun jika uang kas tidak mencukupi maka ada kemungkinan perusahaan memilih menahan laba tersebut untuk diinvestasikan kembali bukan diberikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Pembagian dividen dan pertumbuhan perusahaan ingin mengetahui berapa laba bersih yang diperoleh perusahaan dan dari laba tersebut untuk berapa yang akan dibagikan sebagai dividen.

Beberapa peneliti terhadulu telah melakukan penelitian mengenai pengaruh arus kas, laba dan dividen terhadap harga saham. Namun hasil penelitian tersebut masih belum konsisten antara peneliti yang satu dengan peneliti lainnya.

Hasil penelitian yang dilakukan Irawan (2012) hasil yang diperoleh dari penelitiannya adalah laba bersih berpengaruh positif dan signfikan terhadap kebijakan deviden sedangkan arus kas operasi tidak berpengaruh terhadap kebijakan deviden. Menurut Dhira (2010) hasil yang diperoleh dari penelitiannya adalah bahwa laba bersih, arus kas operasi dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden.

Dalam penclitian ini, penulis memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya, dimana sampel yang digunakan adalah sampel perusahaan perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2011 sampai 2015.

Disinilah letak alasan penulis untuk meneliti lebih lanjut yang mendasar pada perbedaan-perbedaan hasil yang didapat oleh para peneliti tersebut. Oleh karena itu, masalah tersebut direfleksikan kedalam penelitian yang berjudul:

PENGARUH LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN

(18)

4

DIVIDEN PADA PERUSAHAAN PERKEBUNAN YANG TERDAFTAR DI BEI.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di atas, maka perumusan masalah dirumuskan sebagai berikut:

“Apakah laba bersih dan arus kas mempunyai pengaruh, baik secara simultan maupun secara paraial terhadap kebijakan dividen?”

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah diatas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk membuktikan secara empiris bahwa laba bersih dan arus kas mempengaruhi kebijakan dividen secara simultan maupun parsial.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat kepada berbagai pihak, antara lain:

a . Bagi peneliti, yaitu untuk menambah pengalaman dan pengetahuan dalam hal kebijakan dividen dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

b . Bagi investor, yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pengetahuan dan sumber pemikiran yang berguna bagi investor.

(19)

c . Bagi masyarakat ilmiah, yaitu diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna untuk menambah wawasan dan pengetahuan khususnya mengenai kebijakan dividen dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Pengertian Dividen

Dividen merupakan bagian dari laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa (earning available for common stockholders) yang dibagikan kepada para pemegang saham biasa dalam bentuk tunai. Stice at al (2004:902) menyatakan bahwa “dividen adalah pembagian kepada pemegang saham dari suatu perusahaan secara proporsional sesuai dengan jumlah saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik”.

Menurut Skousen, dkk (2006 : 155), dividen adalah pendistribusian secara profesional kepada para pemegang saham, sesuai dengan jumlah lembar yang dimilikinya”.

Sehingga dalam pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dividen adalah bagian keuntungan bersih setelah pajak yang dibagikan kepada pemegang saham. Karena dividen merupakan salah satu potensi keuntungan dari investasi melalui saham, maka pihak manajemen perusahaan perlu memperhatikan kebijakan dividen yang akan diterapkan dalam rangka menarik minat investor untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan dalam bentuk kepemilikan saham.

(21)

2.1.1.1 Jenis-Jenis Dividen

Terdapat beberapa jenis dividen yang dapat dibayarkan kepada para, pemegang sahm, tergantung pada posisi dan kemampuan perusahaan bersangkutan. Berikut ini adalah jenis-jenis dividen menurut Brigham dan Houtston (2004;95):

a. Cash Dividend (Dividen Tunai) Cash dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai. Pada umumnya cash dividend lebih disukai oleh para pemegang saham dan lebih sering dipakai perseroan jika dibandingkan dengan jenis dividen yang lain.

b. Stock Dividend (dividen saham) adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham, bukan dalam bentuk uang tunai. Pembayaran stock dividend juga hares disarankan adanya laba atau surplus yang tersedia, dengan adanya pembayaran dividen saham ini maka jumlah saham yang beredar meningkat, namun pembayaran dividen saham ini tidak akan merubah posisi likuiditas perusahaan karena yang dibayarkan oleh perusahaan bukan merupakan bagian dari arus kas perusahaan.

c. Property dividend (dividen barang) adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk barang (aktiva selain kas). Property dividend yang dibagikan ini haruslah merupakan barang yang dapat dibagi-bagi atau bagian-bagian yang homogeny serta penyerahannya kepada pemegang saham tidak akan mengganggu kontinuitas perusahaan.

d. Scrip Dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk surat

(22)

8

(scrip) janji hutang. Perseroan akan membayar sejumlah tertentu dan pada waku tertentu, sesuai dengan yang tercantum dalam scrip tersebut. Pembayaran dalam bentuk ini akan menyebabkan perseroan mempunyai hutang jangka pendek kepada pemegang scrip.

e. Liquidating dividend adalah dividen yang dibagikan berdasarkan pengurangan modal perusahaan, bukan berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan.

2.1.1.2 Kebijakan Dividen

1) Pengertian Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen merupakan keputusan yang diambil perusahaan dan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap harga saham perusahaan dipasar modal, sehingga kebijakan dividen merupakan sebagian dari keputusan investasi. Oleh karena itu, dalam hal ini perusahaan dituntut untuk membagikan dividen sebagai realisasi dari harapan akan hasil yang didambakan oleh seorang investor dalam menginvestasikan dananya untuk membeli saham itu.

Menurut Marton dan Agus Harjito (2007:253), “Kebijakan dividen (dividend policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.”

(23)

Menurut Riyanto (2001 : 265), “Kebijakan dividen adalah bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan didalam perusahqqn, yang berarti pendapatan tersebut hares ditahan didalam perusahaan”.

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen merupakan suatu keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi dimasa yang akan datang.

2) Teori Kebijakan Dividen

Teori kebijakan dividen menjelaskan bagaimana sifat dari dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham. Teori dari kebijakan dividen ini akan mempengaruhi harga saham.

Ada beberapa teori kebijakan dividen yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain adalah teori ketidakrelevanan dividen, teori burung di tangan, dan teori prefrensi pajak, the residual theory of dividend, dan clientele effect (Sartono, 2004: 282).

a. Teori Ketidakrelevanan Dividen (dividend irrelevance Theory) Sejumlah kalangan memperdebatkan bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh terhadap biaya modalnya atau dengan kata lain, kebijakan dividen sebenarnya tidak relevan

(24)

10

untuk dipersoalkan. Pendukung teori ini adalah Miller dan Modigliani (MM). Mereka berpendapat bahwa nilai dari suatu perusahaan tergantung semata-mata pada pendapatan yang dihasilkan aktivanya, bukan pada bagaimana pendapatan tersebut dibagi antara dividen dan laba ditahan. Dalam mendukung argumentasinya, Modigliani – Miller memberikan asumsi-asumsi sebagai berikut:

1. Tidak terdapat pajak pendapatan peseorangan atau perusahaan.

2. Tidak terdapat biaya emisi atas jual beli saham.

3. Leverage keuangan tidak mempunyai pengaruh terhadap biaya modal.

4. Para investor dan manajer tidak mempunyai informasi yang sama tentang prospek (masa depan) perusahaan.

5. Distribusi pendapatan diantara dividen dan laba ditahan tidak mempunyai pengaruh terhadap biaya ekuitas perusahaan

6. Kebijakan penganggaran modal perusahaan terlepas dari kebijakan dividennya.

Namun asumsi-asumsi diatas tidak dapat diterapkan pada pelaksanaan sehari-harinya, karena sudah tentu investor dan perusahaan membayar pajak pendapatan. Perusahaan pasti membayar biaya emisi sahamnya, baik pajak maupun biaya transaksi pasti menyebabkan biaya ekuitas perusahaan dipengearuhi oleh kebijakan dividen. Hal yang paling penting dari

(25)

pendapat Modigliani – Miller ini adalah bahwa pengaruh pembayaran dividen terhadap kemakmuran pemegang saham akan diimbangi dengan jumlah yang sama dengan cara pembelanjaan atau pemenuhan dana yang lain. Bila perusahaan telah memutuskan untuk melakukan investasi, perusahaan haruslah memilih antara membayarkan dividen atau menjual jumlah saham- saham yang baru untuk menutup jumlah dividen yang dibayarkan itu sehingga keputusan investasi dapat dibelanj ai.

b. Teori Burung di Tangan (Bird In The Hand Theory)

Teori ini dikemukakan oleh Mayron Gordon dan Jhon Lontnen yang berpendapat bahwa biaya ekuitas akan mengalami kenaikan jika pembagian dividen dikurangi, karena investor lebih yakin terhadap penerimaan dari dividen dari pada kenaikan nilai modal yang akan dihasilkan dari laba ditahan. Dengan kalimat lain, bahwa investor jauh lebih menghargai uang yang berasal dari dividen dari pada uang dari kenaikan modal atau capital gain.

c. Teori Preferensi Pajak (Tax Preference Theory)

Pencetus teori ini adalah Litzenberg dan Ramaswary. Tarif ini berbeda-beda dengan teori-teori sebelumnya. Menurut mereka, jika tarif pajak capital gain lebih rendah dari pada tarif pajak dividen, maka saham yang dimiliki tingkat pertumbuhannya lebih tinggi akan menjadi lebih menarik. Namun sebaliknya, jika capital gain dikenai pajak yang sama dengan pajak atas dividen, maka

(26)

12

keuntungan atas capita gain lebih baik dibandingkan pajak atas dividen, karena pajak atas capital gain baru dibayar apabila saham telah dijual, sementara pajak atas dividen hares dibayar tiap tahun setelah pembayaran dividen.

d. Teori Reside Dividen.

Teori ini menjelaskan bahwa investor lebih senang apabila, perusahaan menahan keuntungannya untuk diinvestasikan kembali dari pada jika keuntungan itu dibayarkan berupa dividen dimana re-investasi akan menghasilkan lebih banyak dibandingkan saham- saham lain yang resikonya kirakira seimbang.

e. Efect Klient (Clientele Effect)

Clientele effect adalah kecenderungan perusahaan untuk menarik jenis investor yang menyukai kebijakan dividennya. Pada kenyataannya terdapat banyak kelompok investor dengan berbagai kepentingan. Ada investor yang lebih menyukai memperoleh pendapatan saat ini dalam bentuk dividen, dimana investor jenis ini menghendaki pembayaran dividen yang tinggi. Akan tetapi ada pula investor yang lebih menyukai menginvestasikan kembali pendapatan mereka karena kelompok investor ini berbeda dalam tarif pajak yang cukup tinggi.

Dengan adanya dua kelompok investor tersebut, perusahaan dapat menentukan kebijakan dividen yang dianggap terbaik oleh manajemen. Kemudian biarkan investor yang tidak

(27)

menyukai kebijkana dividen dari perusahaan menjual saham mereka atau melakukan pemindahaan investasi ke perusahaan lain.

Tetapi perlu diingat bahwa transaksi ini tidak berlangsung secara efisien karena adanya biaya transaksi dan pembayaran capital gain sebagai akibat penjualan saham. Oleh karena perubahan kebijakan dividen mengakibatkan beberapa investor menjual sahamnya yang mengakibatkan menurunnya harga saham.

3) Jenis Kebijakan Dividers

Ada beberapa bentuk pemberian dividen secara tunai atau cash dividend yang diberikan kepada pemegang saham. Adapun bentuk kebijakan tersebut menurut Sutrisno (2003;305-307), ada empat yaitu:

a. Kebijakan pemberian dividen yang stabil, yaitu dividen akan diberikan secara tetap per lembaruya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba yang diperoleh perusahaan berfluktuasi.

b. Kebijakan dividen yang meningkat, yaitu perusahaan memberikan dividen yang besamya mengikuti besarnya laba yang diperoleh perusahaan.

c. Kebijakan dividen dengan rasio yang konstan, yaitu perusahaan memberikan dividen yang besamya mengikuti besarnya laba yang diperoleh perusahaan.

d. Kebijakan dividen regular yang rendah ditambah ekstra, yaitu perusahaan menentukan jumlah pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudian ditambahkan dengan

(28)

14

ekstra dividen.

2.1.2 Pengertian Laporan Keuangan

Dalam praktiknya laporan keuangan oleh perusahaan tidak dibuat secara serampangan, tetapi harus dibuat dan disusun sesuai dengan aturan atau, standar yang berlaku. Hal ini perlu dilakukan agar laporan keuangan mudah dibaca dan dimengerti. Laporan keuangan yang disajikan perusahaan sangat penting bagi manajemen dan pemilik perusahaan. Disamping itu, banyak pihak yang memerlukan dan berkepentingan terhadap laporan keuangan yang, dibuat perusahaan, seperti pemerintah, kreditor, investor maupun para supplier.

Laporan keuangan yang disajikan tersebut hendaknya dapat memenuhi keperluan yaitu dapat memberi informasi secara kuantitatif, lengkap dan dapat dipercaya. Disamping itu laporan keuangan harus mencerminkan keadaanya secara tepat dan netral sehingga para pengambil keputusan yang mendasarkan diri pada laporan keuangan tidak tersesat.

Laporan keuangan yang biasanya terdiri dari posisi keuangan atau neraca dan laporan laba rugi harus disajikan secara wajar. Neraca dibuat dengan maksud menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan atau organisasi pada suatu saat tertentu sedangkan laporan laba rugi menggambarkan hasil-hasil usaha yang dicapai dalam suatu priode waktu tertentu. Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan, pelaporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang mengkomunikasikan keadaan keuangan dari hasil operasi perusahaan dalam

(29)

priode tertentu kepada pihak yang berkepentingan.

Maksud laporan keuangan yang menunjukkan kondisi perusahaan saat ini adalah merupakan kondisi terkini. Kondisi perusahaan terkini adalah keadaan keuangan perusahaan pada tanggal tertentu (untuk neraca) dan priode tertentu (untuk laba rugi). Dengan adanya laporan keuangan, dapat diketahui posisi perusahaan terkini setelah menganalisis laporan keuangan tersebut.

Menurut Said (2008:1) “laporan keuangan merupakan rangkuman akhir dari suatu aktivitas usaha baik berbentuk usaha perorangan, perdagangan, industri maupun bentuk-bentuk usaha lainnya”.

Menurut IAI (2009:12) mendefenisikan laporan keuangan sebagai berikut: “Laporan keuangan merupakan suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja suatu entitas dan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan.

Menurut IAI (2009:15) tentang penyajian laporan keuangan menyatakan bahwa laporan keuangan lengkap terdiri dari komponen- komponen sebagai berikut:

a. Laporan posisi keuangan pada akhir priode, yaitu laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu.

b. Laporan laba rugi, yaitu laporan yang menunjukkan hasil usaha dan biaya-biaya selama suatu priode akuntansi.

c. Laporan perubahan ekuitas, yaitu laporan yang menunjukkan sebab-

(30)

16

sebab perubahan ekuitas dari jumlah pada awal periode menjadi jumlah ekuitas pada akhir periode.

d. Laporan arus kas, menunjukkan arus kas masuk dan keluar yang dibedakan menjadi arus kas operasi, arus kas investasi dan arus kas pendanaan.

e. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lainnya.

f. Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang berupa data keuangan dan aktivitas dari suatu perusahaan yang bertujuan untuk memberi gambaran mengenai kondisi keuangan, hasil usaha, serta kinerja perusahaan pada saat tertentu.

2.1.2.1 Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna walaupun laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.

(31)

Laporan keuangan juga meununjukkan apa yang telah dilakukan manajemen, atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pengguna yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi yang mencakup keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

Berkaitan dengan tujuannya, maka laporan keuangan disusun atas dasar akrual yang mengharuskan pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat keterjadian (bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada priode yang bersangkutan. Laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual memberikan informasi kepada pengguna tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga kewajiban pembayaran kas dimasa depan sehingga dapat dikatakan bahwa laporan keuangan menyediakan jenis informasi transaksi masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.

2.1.2.2 Elemen-Elemen Laporan Keuangan

Salah satu aspek penting dalam pengembangan struktur teori adalah penentuan elemen-elemen laporan keuangan. Ada 10 elemen utama laporan keuangan (Efraim Ferdinan Giri: 1993) yaitu :

(32)

18

1. Aktiva adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan, yang diperoleh atau dikendalikan oleh sebuah entitas sebagai hasil transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian masa lalu.

2. Kewajiban (liability) yakni merupakan pengorbanan ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan, yang timbul dari kewajiban berjalan sebuah entitas tertentu. Dapat juga diartikan sebagai kewajiban yang ditimbulkan oleh transaksi atau kejadian masa lalu untuk mentransfer aktiva atau menyediakan jasa kepada entitasentitas lain di masa depan.

3. Ekuitas (equity) adalah kepentingan residu dalam aktiva sebuah entitas, setelah dikurangi dengan kewajibannya. Dalam sebuah entitas bisnis, ekuitas merupakan kepentingan kepemilikan.

4. Investasi oleh pemilik (investment by owners) merupakan kenaikan aktiva bersih sebuah perusahaan yang ditimbulkan oleh transfer sesuatu yang bernilai dari entitas lain kepada perusahaan tersebut untuk mendapatkan atau menaikkan kepentingan kepemilikan (atau ekuitas) di dalamnya. Aktiva adalah bentuk yang paling umum diterima sebagai investasi oleh pemilik, tetapi investasi ini bisa juga meliputi jasa atau kepuasan atau konversi kewajiban perusahaan.

5. Distribusi kepada pemilik (distribution to owners) adalah penurunan aktiva bersih sebuah perusahaan yang diakibatkan oleh pemindahan aktiva, penyediaan jasa, atau penciptaan kewajiban oleh perasahaan kepada pemilik. Distribusi kepada pemilik akan

(33)

menunmkan kepentingan kepemilikan (ekuitas) dalam perusahaan.

6. Laba komprehensif (comprehensive income) adalah perubahan ekuitas (aktiva bersih) sebuah entitas selama suatu periode yang diakibatkan oleh transaksi dan kejadian lain yang bukan bersumber dari pemilik. Hal ini termasuk semua perubahan ekuitas selama suatu periode kecuali perbahan yang diakibatkan oleh investasi dari pemilik dan distribusi kepada pemilik.

7. Pendapatan (revenue) merupakan arus masuk atau peningkatan lainnya atas aktiva sebuah entitas atau pelunasan kewajiban (atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode dari pengiriman atau produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas-aktivitas lain yang merupakan operasi utama atau operasi sentral perusahaan.

8. Beban (expense) adalah arus keluar atau penggunaan lainnya atas aktiva sebuah entitas atau terjadinya kewajiban (atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode dari pengiriman atau produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas lain yang merupakan operasi utama atau operasi sentral perusahaan.

9. Keuntungan (gain) adalah kenaikan ekuitas (aktiva bersih) sebuah perusahaan yang ditimbulkan oleh transaksi peripheral atau insidentil dan dari semua transaksi serta kejadian lainnya dan situasi yang mempengaruhi perusahaan selama suatu periode kecuali yang berasal dari pendapatan atau investasi oleh pemilik.

10. Kerugian (loss) merupakan ekuitas (aktiva bersih) sebuah

(34)

20

perusahaan yang ditimbulkan oleh transaksi peripheral atau insidentil dan dari semua transaksi serta kejadian lainnya dan sitimsi yang mempengaruhi perusahaan selama suatu periode kecuali yang berasal dari beban atau distribusi kepada pemilik.

2.1.3 Laba Bersih

Menurut PSAK Nomor 1 informasi laba diperlukan untuk menilai perubahan potensi sumberdaya ekonomis yang mungkin dapat dikendalikan di masa depan menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada, dan untuk perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya (IAI, 2007). Bagi pemilik saham dan atau investor, laba berarti peningkatan nilai ekonomis (wealth) yang akan diterima, melalui pembagian dividen. Laba juga digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja manajemen perusahaan selama periode tertentu yang pada umumnya menjadi perhatian pihak-pihak tertentu terutama dalam menaksir kinerja atas pertanggungjawaban manajemen dalam pengelolaan sumberdaya yang dipercayakan kepada mereka, serta dapat dipergunakan untuk memperkirakan prospeknya di masa depan.

Pada lingkungan pasar modal, laporan keuangan yang dipublikasikan merupakan sumber informasi sangat penting yang dibutuhkan oleh sebagian besar pemakai laporan dan atau pelaku pasar serta pihak-pihak yang berkepentingan dengan emiten untuk mendukung pengambilan keputusan.

Dari beberapa informasi yang diperoleh di laporan keuangan, biasanya laba

(35)

menjadi pusat perhatian pihak pengguna. Laba yang dipublikasikan dapat memberi respon yang bervariasi, yang menunjukkan adanya reaksi pasar terhadap informasi laba (Cho dan Jung 1991).

Laporan laba bersih (Net Income Met Earning statement) menjadi bahan kajian yang sangat penting untuk menganalisis kinerja perusahaan yang terdaftar dalam bursa saham. Analisis fundamental menggunakan laba bersih untuk memperkirakan apakah sebuah saham perusahaan layak dibeli. Asumsi yang digunakan kemudian adalah bahwa data akuntansi tersebut menggambarkan nilaifundametal perusahaan dan arah perubahannya, maka seharusnya informasi akuntansi tersebut berdampak terhadap saham perusahaan (Beaver dkk. 1997).

Pertumbuhan dan penurunan laba bersih secara empiric cukup erat kaitannya dengan pergerakan harga saham perusahaan. Jika ekspektasi terhadap pertumbuhan laba bersih perusahaan di masa mendatang mendominasi sentimen bursa maka seringkali menjadi penyebab, kenaikan harga saham di bursa. Namun jika aktual laba bersih lebih rendah dari ekspektasi seringkali menyebabkan penurunan harga saham. Sebaliknya jika ekspektasi para investor di bursa didominasi oleh penurunan laba, bersih perusahaan maka umumnya diikuti oleh penurunan harga saham. Namun jika hal tersebut tidak terjadi maka akan diikuti oleh kenaikan harga saham (Peavy 1983 dalam Manurung 2002).

Bernard (1994) dalam, penelitian yang dilakukan terhadap perusahaan yang terdaftar di bursa di Amerika Serikat dan selanjutnya

(36)

22

penelitian King dan Langli (1998) di beberapa negara Eropa secara konsisten menunjukkan bahwa laba bersih memiliki pengaruh yang siginifikan terhadap pergerakan harga saham. Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Graham dan King (2000) dengan menggunakan panel data dan cross section regression dengan jangka waktu penelitian dari tahun 1980-1990 menemukan hal yang konsisten dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

Menurut pandangan teori agensi (Jensen dan Meckling 1976 dalam Ross dkk 2007), laba sangat rentan dengan intervensi manajemen. Laba bukan sesuatu yang unik, karena tergantung pada prinsisp dan asumsi akuntansi yang digunakan. Manajemen dalam perspektif oportunistik memilih kebijakan akuntansi untuk mengoptimalkan kepentingannya. Sedangkan dalam perspektif efficient contracting, manajemen akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat mengoptimalkan nilai perusahaannya.

2.1.4 Arus Kas

2.1.4.1 Pengertian Arus Kas

Arus kas (cash flow) adalah suatu laporan keuangan yang berisikan pengaruh kas dari kegiatan operasi, kegiatan transaksi investasi dan kegiatan transaksi pembiayaan/pendanaan serta kenaikan atau penurunan bersih dalam kas suatu perusahaan selama satu periode.

Menurut PSAK No.2 (2002 :5) Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Laporan arus kas merupakan revisi dari mans uang kas diperoleh perusahaan dan bagaimana mereka

(37)

membelanjakannya. Laporan arus kas merupakan ringkasan dari penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan selama periode tertentu (biasanya satu tahun buku).

2.1.4.2 Laporan Arus Kas

Menurut Soemarsono (2005:33) “Laporan arus kas adalah laporan yang mengikhtisarkan sumber arus kas yang tersedia untuk melakukan kegiatan perusahaan serta penggunaannya selama satu priode tertentu”.

Menurut Kasmir (2009:29) “Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang berpengaruh langsung atau tidak langsung”.

Laporan arus kas merupakan laporan keuangan yang berisi informasi aliran kas masuk dan aliran kas keluar dari suatu perusahaan selama periode tertentu. Informasi ini penyajiannya diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menyebabkan terjadinya arus kas masuk dan kas keluar tersebut. Kegiatan perusahaan umumnya terdiri dari tiga jenis yaitu, kegiatan operasional, kegiatan investasi serta kegiatan keuangan.

Kegiatan operasional untuk perusahaan dagang terdiri dari membeli barang dagangan, menjual barang dagangan tersebut serta kegiatan lain yang terkait dengan pembelian dan penjualan barang. Untuk perusahaan jasa, kegiatan operasional antara lain adalah menjual jasa kepada pelanggannya. Misalkan menjual jasa aeronautika dan non aaeronautika. Kegiatan ini akan mengakibatkan ter adinya uang masuk

(38)

24

untuk pendapatan dan aliran uang keluar untuk biaya. Baik pendapatan dan biaya yang terjadi telah dilaporkan dalam laporan laba rugi, namun besarnya pendapatan tersebut belum tentu sama dengan uang yang diterima karena perusahaan umumnya menggunakan dasar akrual untuk mengakui pendapatan. Demikian halnya dengan biaya, biaya yang dilaporkan laba rugi belum tentu sama dengan arus keluar untuk biaya tersebut.

Kegiatan investasi merupakan kegiatan membeli atau menjual kembali investasi pada surat berharga jangka panjang dan aktiva tetap. Jika perusahaan membeli investasi/aktiva tetap akan mengakibatkan arus keluar dan jika menjual investas/aktiva tetap akan mengakibatkan adanya arus kas masuk ke perusahaan.

Kegiatan keuangan atau ada yang menyebutnya kegiatan pendanaan, adalah kegiatan menarik uang dari kreditor jangka panjang dan dari pemilik serta pengembalian uang kepada mereka.

2.1.4.3 Komponen Laporan Arus Kas

Menurut PSAK No.2 (2002:9) Laporan arus kas hares melaporkan arus kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

a. Aktivitas Operasi

Aktivitas operasi menimburkan pendapatan dan beban dari operasi utama suatu perusahaan. Karena itu aktivitas operasi

(39)

mempengaruhi laporan laba rugi, yang dilaporkan dengan dasar akrual.

Sedangkan laporan arus kas melaporkan dampaknya terhadap kas. Arus masuk kas terbesar dari opersi berasal dari pengumpulan kas dari langganan. Arus masuk kas yang kurang penting adalah penerimaan bungs atas pinjaman dan dividen atas investasi saham. Arus keluar kas operasi meliputi pembayaran terhadap pemasok dan karyawan, serta pembayaran bungs dan pajak.

b. Aktivitas lnvestasi

Aktivitas investasi meningkatkan dan menurunkan aktiva jangka panjang yang digunakan perusahaan untuk melakukan kegiatannya.

Pembelian atau penjualan aktiva tetap seperti tanah, gedung, atau peralatan merupakan kegiatan investasi, atau dapat pula berupa pembelian atau penjualan investasi dalam saham atau obligasi dari perusahaan lain.

Pada laporan arus kas kegiatan investasi mencakup lebih dari sekedar pembelian dan penjualan aktiva yang digolongkan sebagai investasi di neraca. Pemberian pinjaman juga merupakan suatu kegiatan investasi karena pinjaman menciptakan piutang kepada peminjam.

Pelunasan pinjaman tersebut juga dilaporkan sebagai kegiatan investasi pada laporan arus kas.

c. Aktivitas Pendanaan

Aktivitas pendanaan meliputi kegiatan untuk memperoleh kas dari investor dan kreditor yang diperlukan untuk menjalankan dan

(40)

26

melanjutkan kegiatan perusahaan. Kegiatan pendanaan mencakup pengeluaran saham, peminjaman uang dengan mengeluarkan wesel bayar dan pinjaman obligasi, penjualan saham perbendaharaan, dan pembayaran terhadap pemegang saham seperti dividen dan pembelian saham perbendaharaan. Pembayaran terhadap kreditor hanyalah mencakup pembayaran pokok pinjaman.

2.2 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh pihak lain yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan yang berkaitan dengan masalah penelitian, antara lain:

1. Penelitian Dhira dkk (2010) dengan judul penelitian pengaruh laba bersih Pengaruh laba bersih arus kas operasi dan ukuran perusahan terhadap kebijakan deviden pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan hasil penelitian secara parsial dan simultan semua variabel bebas yaitu laba bersih, arus kas operasi, dan ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikatnya dividend yield.

2. Penelitian Agustina (2008) dengan judul penelitian Pengaruh laba bersih dan arus kas operasi terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang go public dan hasil penelitian tersebut adalah Secara parsial laba bersih tidak mempunyai pengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang go public. Secara parsial arus kas operasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan deviden

(41)

pada perusahaan manufaktur yang go public.

3. Penelitian Irawan dkk (2012) dengan judul penelitian Pengaruh laba bersih dan arus kas operasi terhadap kebijakan deviden pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2010 dengan hasil penelitian Secara parsial variabel laba bersih berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sedangkan arus kas operasi tidak berpengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. Penelitian Dwi (2013) dengan judul penelitian Pengaruh laba bersih, arus kas operasi dan Investment Opportunity Set Terhadap kebijakan deviden perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonsia periode 2009-2012 dengan hasil penelitian Laba bersih tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, Arus kas operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.

Tabel 2.2

Tinjauan Penelitian Terdahulu Nama

Peneliti

Tahun Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian

Dhira, Wulandari, Wahyuni

2010 Pengaruh laba bersih arus kas operasi dan ukuran perusahan

Variabel Independen : Laba bersih, Arus Kas Operasi, dan Ukuran Perusahaan

Secara parsial dan simultan semua variabel bebas yaitu laba bersih, arus kas operasi, dan ukuran perusahaan berpengaruh secara

(42)

28

Nama Peneliti

Tahun Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian

terhadap

kebijakan deviden pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Variabel Dependen : Kebijakan deviden

signifikan terhadap variabel terikatnya dividend yield.

Agustina Indah

2008 Pengaruh laba bersih dan arus kas operasi terhadap

kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang go public

Variabel Independen : Laba bersih, arus kas operasi

Variabel Dependen : Kebijakan deviden

Secara parsial laba bersih tidak mempunyai pengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang go public. Secara parsial arus kas operasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang go public.

Irawan Dafid, Nurdhiana

2012 Pengaruh laba bersih dan arus kas operasi terhadap

kebijakan deviden pada perusahaan

Variabel Independen : Laba bersih, arus kas operasi

Variabel Dependen : Kebijakan deviden

Secara parsial variabel laba bersih berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sedangkan arus kas operasi tidak

(43)

Nama Peneliti

Tahun Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian

yang terdaftar di

Bursa Efek

Indonesia periode 2009-2010

berpengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Dwi Cahyo Agung

2013 Pengaruh laba bersih, arus kas operasi dan Investment

Opportunity Set Terhadap

kebijakan deviden perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonsia periode 2009- 2012

Variabel Independen : Laba bersih, arus kas dan Investment Opportunity Set

Variabel Dependen : Kebijakan deviden

Laba bersih tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, Arus kas operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, Investment Opportunity Set (IOS) yang diproksi dengan Market to Book Value of Equity (MBVE) tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, Investment Opportunity Set (IOS) yang diproksi dengan Earning to Price Ratio (EPR) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.

(44)

30

2.3. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan sintetis atau ekstrapolasi dari tinjauan teori dan penelitian terdahulu yang mencerminkan keterkaitan antar variabel yang diteliti dan merupakan tuntutan untuk memcahkan masalah penelitian. Kerangka konseptual penelitian ini dapat berbentuk alur, model matematik yang dilengkapi dengan penjelasan kualitatif.

Pada laba bersih di jelaskan pengaruh secara simultan terhadap kebijakan dividen, dan pada arus kas juga dijelaskan pengaruh secara simultan terhadap kebijakan dividen. Sedangkan pada hubungan parsial, pada variabel laba bersih dijelaskan pengaruh secara paraial terhadap dividen, dan variabel arus kas juga dijelaskan pengaruh secara parsial. Di bawah ini disajikan kerangka konseptual dari penelitian tersebut.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Laba Bersih

(X1)

Arus Kas (X2)

Kebijakan Dividen (Y)

(Y)

(45)

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teoritis dan tinjauan penelitian terdahulu yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Laba bersih dan arus kas secara parsial mempunyai pengaruh terhadap dividen.

b. Laba bersih dan arus kas secara simultan mempunyai pengaruh terhadapdividen.

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih dengan bentuk hubungan kausal yang merupakan hubungan sebab akibat antara variabel independen dengan dependen.

3.2 Jenis Data

Jenis data penelitian ini menggunakan data kuantitatif yang bersumber dari data sekunder perusahaan go public sektor perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang digunakan adalah data laporan keuangan tahunan untuk periode 2011 – 2015.

Adapun teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian yaitu dengan purposive sampling

1. Perusahaan perkebunan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2011.

2. Laporan keuangan perusahaan go public telah diaudit oleh akuntan publik besar yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

3. Perusahaan membavar dividen selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 2011 sampai tahun 2015.

(47)

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui metode dokumentasi. Data dikumpulkan dari berbagai sumber data yang relevan dengan penelitian, yaitu melalui buku, jurnal, skripsi dan data-data internet.

3.4 Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008 : 80). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 yang terdiri atas 7 perusahaan.

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut, sebagimana dikemukan oleh Sugiyono (2007 : 62).

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan suatu kriteria tertentu dengan pertimbangan (Jogiyanto, 2004 : 79).

Jumlah populasi dalam dalam penelitian ini sebanyak 13 perusahaan dengan periode penelitian selama 4 tahun, Peneliti mengambil 7 perusahaan sebagai sampel dengan beberapa kriteria yang telah ditetapkan sehingga jumlah seluruh amatan (observasi) adalah sebanyak 28. Teknik pengumpulan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive

(48)

34

sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan suatu ktiteria tertentu.

Adapun yang menjadi kriteria perusahaan dalam penentuan sampel dalam penelitian ini adalah :

1. Perusahaan Perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2011 - 2015.

2. Perusahaan yang melaporkan secara publik laporan keuangannya dalam tahun fiskal yang berakhir 31 Desember selama tahun 2011 - 2015.

3. Laporan Keuangan perusahaan priode 2011 - 2015 tersedia dibursa atau media cetak.

4. Perusahaan yang membayar dividen dari tahun 2011 sampai 2015.

Berikut ini merupakan hasil pengolahan data jumlah perusahaan yang dapat dijadikan sebagai sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

(49)

Tabel 3.4

Daftar Populasi dan Sampel Penelitian

No. Nama Perusahaan Kriteria

Sampel 1 2 3 4

1 PT. PP London Sumatera Tbk √ √ √ √ 1

2 PT. Salim Ivomas Pratama Tbk √ √ - -

3 PT. Astra Agro Lestari Tbk √ √ √ √ 2

4 PT. Sampoerna Agro Tbk √ √ √ √ 3

5 PT, Provident Agro Tbk √ √ - -

6 PT. Sinar Mas Agro Resource Tbk √ √ √ √ 4

7 PT. BW Plantation Tbk √ √ - -

8 PT. Gozco Plantation Tbk √ √ √ √ 5

9 PT. Bakrie Sumatera Plantations Tbk √ √ √ √ 6

10 PT. Jaya Agra Wattie Tbk √ √ - -

11 PT. Tunas Baru Lampung Tbk √ √ √ √ 7

Sumber: Hasil olahan peneliti

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik dengan menggunakan software SPSS 18. Tahap awal yang dilakukan sebelum melakukan pengujian hipotesis yaitu asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik yang dilakukan terdiri dari uji normalitas, uji multikilinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Untuk pengujian hipotesis, dilakukan analisis uji f dan uji t.

(50)

36

3.6 Pengujian Data

Sebelum dilakukan uji hipotesis, maka perlu dilakukan uji asumsi klasik, yaitu meliputi:

3.6.1 Uji Normatitas Data

Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji ini berguna untuk tahap awal dalam metode pemilihan analisis data. Jika data normal, maka digunakan statistik parametrik, dan jika data tidak normal, maka digunakan statistik nonparametrik atau lakukan treatment agar data normal. Menurut Ghozali (2005:110), “cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak ada dua, yaitu analisis grafik dan analisis statistik. Normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dan grafik dengan melihat histogram dari residualnya”. Dasar pengambilan keputusannya adalah :

1. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola berdistribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan data berdistribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Dalam penelitian ini Peneliti menggunakan uji Kolmogorov Smirnov (K-S) untuk menguji normalitas data. Uji K-S dibuat dengan

(51)

membuat hipotesis :

Ho : data residual berdistribusi normal, Ha : data residual tidak berdistribusi normal

Bila signifikansi > 0,05 dengan α = 5% berarti distribusi data normal dan Ho diterima, sebaliknya bila nilai signifikan < 0,05 berarti

distribusi data tidak normal dan Ha diterima. Data yang tidak terdistribusi secara tidak normal dapat ditransformasi agar menjadi normal. Jika data tidak normal ada beberapa cara mengubah model regresi menjadi normal menurut Jogiyanto (2004:172), yaitu :

1. Dengan melakukan transformasi data ke bentuk lain, yaitu:

Logaritma Natural, akar kuadrat, Logaritma lo,

2. Lakukan trimming, yaitu mengubah observasi yang bersifat outlier, 3. Lakukan winsorizing, yaitu mengubah nilai-nilai data outlier

menjadi nili-nilai minimum atau maksimum yang diizinkan supaya distribusinya menjadi normal.

3.6.2 Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi mempunyai korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.

Multikolinearitas adalah situasi adanya korelasi variabel – variabel independen antara yang satu dengan yang lainnya. Jika terjadi korelasi sempurna diantara sesama variabel bebas, maka konsekuensinya adalah:

1. Koefisien – koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir,

(52)

38

2. Nilai standar error setiap koefisien regresi menjadi tak terhingga.

Ada tidaknya multikolonieritas dapat dideteksi dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VLF), serta dengan menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1 maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolenearitas.

3.6.3 Uji Autokorelasi

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data time series. Pada data cross-section, masalah autokorelasi relatif tidak terjadi. Uji yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi adalah menggunakan uji Durbin Watson dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Bila nilai DW (Durbin-Watson) terletak antara batas atas (DU) dan 4-DU, maka koefisien autokorelasi sama dengan nol artinya tidak terjadi autokorelasi.

2. Bila nilai DW<DL (batas bawah) maka koefisien autokorelasi lebih

(53)

besar dari nol artinya ada autokorelasi positif.

3. Bila nilai DW>4-DL, maka koefisien autokorelasi lebih kecil dari nol artinya ada autokorelasi negatif.

4. Biki nilai DW terletak antara DU dengan DL atau DW terletak diantara 4-DU dan 4-DL, maka hasilnya tidak dapat diputuskan ada autokorelasi atau tidak.

3.6.4 Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Menurut Nugroho (2005:62) cara memprediksi ada tidaknya heterokedastisitas pada suatu model dapat diihat dari pola gambar Scatterplot model tersebut. Analisis pada gambar Scatterplot yang menyatakan model regresi linear berganda tidak terdapat heteroskedastisitas jika :

1. Titik-titik data menyebar diatas dan dibawah atau disekitar angka 0.

2. Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja.

3. Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali.

4. Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.

(54)

40

3.7 Pengujian Hipotesisi Penelitian

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan analisis regresi berganda, uji signifikansi t-test serta uji signifikansi f-test. Menurut Rochaety, (2007: 107) “...dengan uji hipotesis kita memusatkan perhatian pada peluang kita membuat keputusan yang salah. Hipotesis diterima atau ditolak berdasarkan informasi yang terkandung dalam sampel tetapi menggambarkan keadaan populasi”.

3.7.1 Analisis Regresi Linear Berganda

Pada penelitian ini penulis menggunakan analisi regresi linear berganda karena tahap ini dijelaskan hubungan antara variabel dependen dan beberapa variabel independen, dengan rumus:

Y = a + b1X1 + b2X2 + e Dimana: Y = Dividen

A = Konstanta X1 = Laba Bersih X2 = Arus Kas

b1,b2 = Koefisien regresi untuk masing-masing variabel independen.

3.7.2 Uji Simultan (Uji F)

Uji hipotesis dengan uji F yaitu mencari Fhitung dan membandingkan dengan Ftabel, apakah variabel independen secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan atau tidak dengan variabel dependen. Rumusan hipotesis dalam pengujian ini adalah sebagai

(55)

berikut:

H04 = Ukuran perushaan, tingkat profitabilitas dan hutang tidak mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dividen.

Ha4 = Ukuran perusahaan, tingkat profitabilitas dan hutang mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dividen.

Kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis adalah:

a . Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak (ada pengaruh yang signifikan).

Jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima (tidak ada pengaruh) b . Berdasarkan dasar signifikansi, kriterianya adalah:

Jika signifikan > 0,05 maka Ho diterima.

Jika signifikan < 0,05 maka HO ditolak.

3.7.3 Uji Parsial (Uji T)

Uji hipotesis dengan uji t yaitu dengan mencari thitung dan membandingkan ttabel, apakah variabel independen secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan atau tidak dengan variabel independen.

Rumus hipotesis dalam pengujian ini adalah sebagai berikut:

Hol = Laba bersih tidak mempunyai pengaruh terhadap dividen.

Hal = Laba bersih mempunyai pengaruh terhadap dividen.

Ho2 = Arus kas tidak mempunyai pengaruh terhadap dividen.

Ha2 = Arus kas mempunyai pengaruh terhadap dividen.

Kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis adalah:

(56)

42

a. Jika thitung > ttabel, maka Ho ditolak (ada pengaruh yang signifikan). Jika thitung < ttabel, maka Ho diterima (tidak ada pengaruh).

b. Berdasarkan dasar signifikansi, kriterianya adalah:

Jika signifikansi > 0,05 maka Ho diterima.

Jika signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak.

3.7.4 Koefisien Determinasi

Koefisien detemiinasi (R2) berguna untuk mengukur seberapa besar peranan variabel independen secara simultan mempengaruhi perubahan yang terjadi pada variabel dependen.

3.8 Batasan Oprasional Variabel

Batasan operasional variabel dalam penelitian ini terdiri atas hal-hal berikut ini:

a. Variabel Independen (X) didalam penelitian ini adalah:

1) Laba Bersih (X1)

Dalam penelitian ini data laba bersih yang digunakan dari nilai yang tampak dalam laporan laba rugi perusahaan sampel pada periode pengamatan pada tahun 2011 – 2015.

Skala data yang digunakan adalah rasio.

2) Arus Kas (X2)

Dalam penelitian ini data arus kas yang digunakan dari nilai yang tampak dalam laporan arus kas yang memiliki perusahaan sampel

(57)

pada periode pengamatan pada tahun 2008-2011 dimana nilai yang diambil adalah nilai kenaikan atau penurunan bersih dari arus kas.

Skala data yang digunakan adalah rasio.

b. Variabel Dependen (Y) Dividen (Y)

Dividend pay out ratio dapat diukur sebagai dividen yang dibayarkan dibagi dengan laba yang tersedia untuk pemegang saham umum. Dividen pay out ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dividen per Lembar Saham DPR= ---

Laba per Lembar Saham Skala data yang digunakan adalah rasio

3.9 Jadwal dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui media internet dengan menggunakan sites www.idx.co.id serta buku-buku refrensi mulai dari bulan Januari 2016 sampai dengan April 2016.

(58)

44

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik yang menggunakan persamaan regresi berganda. Analisis data dimulai dengan mengolah data dengan menggunakan Microsoft excel, selanjutnya dilakukan pengujian asumsi klasik dan pengujian menggunakan regresi berganda. Pengujian asumsi klasik dan regresi berganda digunakan dengan menggunakan software SPSS. Prosedur dimulai dengan memasukkan variabel-variabel penelitian ke program SPSS tersebut dan menghasilkan output-output sesuai metode analisis data yang telah ditentukan. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan didapat 10 perusahaan yang memenuhi kriteria dan dijadikan sampel dalam penelitian ini dan diamati selama periode 2011- 2015

(59)

Tabel 4.1 Sampel Penelitian

No. Nama Perusahaan Kriteria

Sampel 1 2 3 4

1 PT. PP London Sumatera Tbk √ √ √ √ 1

2 PT. Salim Ivomas Pratama Tbk √ √ - -

3 PT. Astra Agro Lestari Tbk √ √ √ √ 2

4 PT. Sampoerna Agro Tbk √ √ √ √ 3

5 PT, Provident Agro Tbk √ √ - -

6 PT. Sinar Mas Agro Resource Tbk √ √ √ √ 4

7 PT. BW Plantation Tbk √ √ - -

8 PT. Gozco Plantation Tbk √ √ √ √ 5

9 PT. Bakrie Sumatera Plantations Tbk √ √ √ √ 6

10 PT. Jaya Agra Wattie Tbk √ √ - -

11 PT. Tunas Baru Lampung Tbk √ √ √ √ 7

Sumber: Hasil olahan peneliti

4.2 Analisis Hasil Penelitian

1. Analisis Statistik Deskriptif

Informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari www.bei.co.id berupa data keuangan sampel perusahaan manufaktur dari 2011 sampai 2015 yang dijabarkan dalam bentuk statistik.

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Konseptual Laba Bersih (X1) Arus Kas (X2)   Kebijakan  Dividen (Y) (Y)
Tabel 4.1  Sampel Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang diberi judul “ Pengaruh Laba Bersih Dan Arus Kas Operasi Terhadap

Kebijakan dividen adalah keputusan perusahaan mengenai pembagian laba yang diperoleh kepada para pemegang saham sebagai dividen atau ditahan dalam bentuk laba atau retained

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali pengaruh Laba Bersih, Arus Kas Operasi dan Pertumbuhan Penjualan terhadap Kebijakan Dividen pada perusahaan

Laba bersih dan arus kas operasi memiliki pengaruh terhadap dividen kas karna jika keuntungan yang diperoleh besar maka kemampuan perusahaan untuk membayar dividen juga

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara laba bersih dan arus kas operasi terhadap kebijakan dividen pada perusahaan yang terdaftar di Bursa

Kebijakan dividen bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau

Pengaruh Laba Bersih Dan Arus Kas Operasi Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2010.. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya

Apakah Arus Kas Operasi, Arus Kas Bebas, Likuiditas, dan Kebijakan Hutang secara bersama-sama akan berpengaruh signifikan terhadap Kebijakan Pembagian Dividen pada Perusahaan LQ 45 yang