commit to user 8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Perpustakaan
Perpustakaan sebagai organisasi nirlaba akan ditinggalkan masyarakat jika tak mampu bersaing secara global. Sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, sebuah perpustakaan tidak dipandang lagi sebagai tempat berkumpulnya buku-buku tetapi juga sudah di pahami sebagai suatu sistem yang mengandung unsur tempat koleksi yang tersusun secara teratur dengan cara tertentu. Setiap perpustakaan pada dasarnya mengumpulkan, memelihara, menyimpan, mengatur, dan mendayagunakan bahan pustakanya, untuk kemudian disajikan kepada pemakai atau pengguna yang memerlukannya.
Definisi perpustakaan sendiri sebagai unit organisasi yang bertugas untuk mengumpulkan, memelihara dan mendayagunakan bahan pustaka untuk kepentingan penelitian, mendapatkan informasi untuk proses belajar mengajar, ataupun hanya untuk hiburan semata pada waktu senggang.
Sedangkan pengertian perpustakaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga adalah “Perpustakaan adalah suatu tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dan sebagainya.”
Dilihat dari pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga perpustakaan hanyalah tempat yang dipakai untuk pemeliharaan dan
commit to user 9
penggunaan bahan pustaka buku. Sedangkan menurut Supriyanto dalam Sudjini (2012 : 15) “Perpustakaan adalah sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan bahan terbitan lainnya yang biasanya disimpan dan ditata menurut tata susunan tertentu untuk digunakan bagi kepentingan pembaca atau pemakai, bukan untuk dijual.”
Perpustakaan juga dapat diartikan sebagai tempat yang disediakan oleh lembaga tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi para pengguna jasa. Selain itu, perpustakaan juga merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan belajar. Suwarno (2009:9) mendefinisikan perpustakaan “Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang substansinya merupakan sumber informasi yang setiap saat dapat digunakan oleh pemustaka jasa layanannya.”
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan memiliki spesifikasi tersendiri mengenai fungsi dan perannya. Ini dapat dilihat dari pengertiannya memiliki beberapa poin penting seperti yang terdapat dalam Suwarno (2009:9) berikut ini :
1. Perpustakaan sebagai unit kerja.
2. Perpustakaan sebagai tempat pengumpul, penyimpan, dan pemelihara berbagai koleksi bahan pustaka.
3. Bahan pustaka tersebut dikelola secara sistematis dengan cara tertentu.
4. Bahan pustaka digunakan oleh pemustaka secara kontinu.
5. Perpustakaan sebagai sumber informasi.
commit to user 10
Pada umumnya perpustakaan memilik beragam koleksi seperti buku, majalah, surat kabar, jurnal, kamus, ensiklopedi, peta, kaset, film, compact disc (CD), slide, dan lain-lain.
Perpustakaan Umum Kabupaten Boyolali adalah perpustakaan yang menunjang proses edukasi masayarakat Kabupaten Boyolali ataupun sebagai sarana hiburan untuk mengisi waktu luang.
B. Pengertian Perpustakaan Umum
Ada berbagai jenis perpustakaan di tengah masyarakat. Setiap jenis perpustakaan memiliki sasaran pengguna masing – masing, salah satu jenis perpustakaan tersebut adalah perpustakaan umum. Pengertian perpustakaan umum secara luas adalah tempat atau lokasi yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum.
Perpustakaan umum dapat di artikan juga sebagai lembaga pendidikan bagi masyarakat umum dengan menyediakan berbagai macam informasi ilmu pengetahuan, budaya dan teknologi untuk meningkatkan dan memperoleh pengetahuan bagi masyarakat luas.
Perpustakaan umum berbeda dengan perpustakaan sekolah, kampus, kantor, pribadi atau yang lainnya, meski berkonsep serta pengelolaannya relatif sama. Hanya saja perpustakaan non umum biasanya cenderung untuk lingkungan terbatas dan mempunyai peraturan khusus serta koleksi terbatas yang disesuaikan dengan lingkungannya.
commit to user 11
Perpustakaan umum menyediakan bermacam bahan koleksi bagi semua tingkatan usia mulai dari anak-anak, remaja, dewasa sampai lanjut usia, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, perpustakaan umum mempunyai nilai strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa karena fungsinya melayani semua lapisan masyarakat sebagai sarana pembelajaran. Adapun hal – hal yang menjadi pokok kegiatan di perpustakaan umum adalah :
1. Pengadaan Bahan Pustaka
Pengadaan koleksi bahan pustaka merupakan proses awal dalam mengisi perpustakaan dengan sumber – sumber informasi. Bagi perpustakaan yang baru dibentuk, kegiatan pengadaan ini meliputi pekerjaan penentuan kriteria koleksi perpustakaan dan pembentukan koleksi awal, untuk perpustakaan yang sudah berjalan kegiatan pengadaan untuk menambah dan melengkapi koleksi yang sudah ada.
2. Pengolahan
Pengolahan atau processing adalah pekerjaan yang diawali sejak koleksi diterima di perpustakaan sampai di tempatkan di rak yang disediakan untuk kemudian siap dipakai oleh pemakai.
3. Layanan
Layanan di sebuah perpustakaan berbeda dengan layanan pada kegiatan kemasyarakatan yang lain, seperti layanan kesehatan, layanan kependudukan dan lain-lain. Perbedaan itu tentu dikaitkan
commit to user 12
dengan tugas dan fungsi masing – masing bidang, meskipun pada dasarnya suatu layanan mempunyai prinsip - prinsip yang sama atau berdekatan.
4. Administrasi Perpustakaan
Sebenarnya administrasi perpustakaan terdapat di setiap kegiatan, baik pada pengadaan bahan pustaka, pengolahan, layanan, dan sekretariat. Namun perlu dibedakan antara kegiatan administrasi pada tugas pokok perpustakaan yang berupa teknis operasional atau yang dilakukan oleh pustakawan, dan pelaksana teknis perpustakaan dan juga administrasi yang dilakukan oleh bagian staf perpustakaan yang disebut kegiatan penunjang.
5. Sosialisasi
Sosialisasi bagi perpustakaan selalu dikaitkan dengan upaya promosi dan publikasi guna menjaring minat dan respon masyarakat, mengembangkan kerja sama, memberikan sesuatu yang berguna, dan mengembangkan upaya mendekatkan dan membangun jembatan antara perpustakaan dan masyarakat pengguna perpustakaan, lebih lanjut lagi sosialisasi perpustakaan adalah dalam rangka membangun citra positif perpustakaan.
C. Pengolahan Bahan Pustaka
Sebelum bahan pustaka siap untuk dijadikan bahan koleksi dan dimanfaatkan oleh pengguna, bahan pustaka tersebut harus melalui beberapa
commit to user 13
tahapan pengolahan terlebih dahulu. Tahapan tersebut maliputi inventarsasi, kalsifikasi, katalogisasi dan hal tersebut dimaksudkan agar bahan pustaka tersebut tersusun secara rapi dan sebagai tanda bahwa bahan pustaka tersebut milik instansi tempat bahan pustaka tersebut dicatat.
Seorang pustakawan mempunyai peran besar dalam kegiatan pengolahan bahan pustaka ini agar penyelenggaraan perpustakaan berjalan dengan baik dan informasi dapat tersalur ke pengguna dengan lancar.
Tujuan dari pengolahan bahan pustaka supaya informasi yang ada dalam perpustakaan tersebut dapat dengan mudah disusun secara sistematis dan dikelola secara tepat. Dengan demikian ketika pengguna ingin menelusur informasi maka pengguna dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang dicari, begitu pula sebaliknya ketika pengguna sudah selesai menggunakan bahan pustaka tersebut para pustakawan dapat dengan mudah mengembalikan bahan pustaka tersebut kembali ke tempatnya sesuai dengan cara yang digunakan di dalam perpustakaan tersebut.
D. Prosedur Pengolahan Koleksi
Perpustakaan adalah salah satu sarana masyarakat yang bermanfaat untuk proses akademik, penelitian, penelusuran informasi ataupun hanya untuk hiburan semata. Dengan demikian perpustakaan adalah sesuatu yang vital bagi proses pengembangan sumber daya manusia dalam kehidupan pendidikan maupun masyarakat.
commit to user 14
Perpustakaan akan berfungsi secara optimal apabila di dukung dengan pelayanan dan pengolahan bahan pustaka yang baik, dengan kata lain jika perpustakaan tersebut dapat memenuhi setiap kebutuhan pengguna dalam hal penelusuran informasi maka para pengguna dapat merasakan secara langsung pengolahan yang dilakukan perpustakaan tersebut sudah benar atau belum.
Sebelum bahan pustaka ditempatkan di rak-rak maka bahan pustaka tersebut terlebih dahulu melalui tahapan pengolahan. Pengolahan bahan pustaka adalah kegiatan dimana bahan pustaka sebelum siap dipinjamkan ke pengguna akan terlebih dahulu di olah menurut sistem yang ada di perpustakaan tersebut. Hal ini dilakukan untuk memperlacar ataupun memudahkan bahan pustaka untuk digunakan oleh pengguna. Kegiatan pengolahan bahan pustaka ini meliputi pemberian cap atau stempel, inventarisasi, klasifikasi, pemberian barcode, entri data buku, pembuatan T- slip, katalogisasi, pemberian pelengkap (Sumardji, 1978:11)
1. Pemberian cap/stempel
Pemberian cap/stempel dan lainnya merupakan tanda bahwa buku tersebut milik perpustakaan, stempel ini diberikan pada halam judul dan diusahakan tak mengenai tulisan. Pengertian pemberian cap/stempel adalah pekerjaan memberi tanda atau ciri dengan cap atau stempel perpustakaan pada buku untuk menyatakan bahwa buku tersebut adalah milik perpustakaan.(Sumardji, 1978:11)
commit to user 15
Setiap buku yang dijadikan koleksi di perpustakaan harus diberi cap atau stempel pada bagian-bagian yang dianggap penting. Untuk itu perpustakaan harus punya cap atau stempel khusus untuk perpustakaan yang bersangkutan. Menurut Sumardji (1978:16) ada beberapa cap yang digunakan oleh perpustakaan untuk manandai koleksi miliknya :
a. Cap Inventarsis adalah cap atau stempel yang terdiri atas kolom- kolom isian dan tanggal buku didaftar didalam buku inventarisasi.
b. Cap Perpustakaan adalah cap atau stempel yang terdiri dari nama perpustakaan yang bersangkutan.
Stempel inventaris biasanya berisi tanggal pencatatan buku pada buku inventaris dan nomor induk inventaris. Tapi sebelum diberi cap sebaiknya terlebih dahulu supaya diperiksa apakah buku yang diterima betul-betul dijadikan koleksi perpustakaan. Kemudian kalau sudah ditentukan buku lantas diberi cap perpustakaan pada bagian-bagian yang dianggap penting, seperti :
1) Halaman judul 2) Halaman setiap bab 3) Halaman indeks 4) Halaman bibliografi
5) Cover depan atau belakang buku 6) Dan lain-lain
commit to user 16
Khusus pemberian cap inventaris hanya diberikan pada halaman dibalik halaman judul ditempat yang kososng. Kolom-kolom inventaris di isi setelah buku didaftar di dalam buku inventaris, dengan :
1) Nomor inventaris yang sudah dicatat di buku inventaris 2) Tanggal pada waktu buku didaftar dalam buku inventaris
Untuk pemberian cap perpustakaan biasanya diberikan di halaman judul buku, hala ini dimaksudkan agar para peminjam buku mengetahui bahwa buku tersebut milik dari perpustakaan yang namanya tercantum di cap perpustakaan tersebut dengan kata lain cap perpustakaan juga merupakan sebagai tanda milik.
2. Inventarisasi
Semua koleksi yang diterima perpustakaan hendaknya dicatat dan sebaiknya tiap jenis pustaka memiliki buku inventaris tersendiri oleh karena itu, perlu adanya buku inventaris untuk buku, majalah, makalah seminar, penelitian dan lain-lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Inventaris adalah “Daftar yang memuat semua barang milik kantor, sekolah, perusahaan dan lain sebagainya yang dipakai dalam melaksanakan tugas.”
Pelaksanaan inventaris buku dilakukan mulai dari penerimaan terdahulu sampai dengan penerimaan kemudian. Pemberian nomor urut inventaris ada dua macam, yaitu memberi nomor urut dari tahun ke tahun, dan nomor urut baru setiap tahunnya. (Sumardji, 1978:32)
commit to user 17
Biasanya inventaris berisi tanggal pencatatan bahan pustaka pada buku inventaris dan juga kode-kode tertentu, misalnya :
- 276/SMP/99H H = Menunjukan kode hadiah.
- 278/SMA/00B B = Beli - 390/MA/00Tu Tu = Tukar - 420/MTs/11Ti Ti = Titipan
Untuk penjelasan tentang kode titipan diatas tidak semua perpustakaan menggunakan hanya perpustakaan tertentu saja yang menggunakan kode seperti itu. Maksud dari titipan itu berarti jika ada sebuah instansi yang menitipkan suatu arsip atau koleksinya di perpustakaan, maka perpustakaan memberikan kode titipan karena suatu saat nanti koleksi tersebut bisa diambil lagi oleh instansi atau lembaga yang menitipkan arsip atau koleksinya tersebut.
Sedangkan nomor inventaris sendiri dimaksudkan agar sebuah bahan pustaka tersebut tercatat didalam buku milik perpustakaan, dan agar suatu bahan pustaka tersebut mencerminkan identitasnya entah itu dari hadiah, membeli, tukar menukar dengan lembaga lain ataupun hanya titipan.
3. Klasifikasi
Untuk memudahkan penemuan kembali, semua bahan pustaka yang diterima perpustakaan dikelompokkan berdasarkan pokok masalah atau subyek. Pengertian klasifikasi menurut Kamus Besar Bahasa
commit to user 18
Indonesia adalah “Penyusunan bersistem dikelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan.”
Seorang pustakawan akan mengklasifikasi bahan pustaka untuk menetukan kelompok buku tersebut. Menurut Sutarno (2006:180) mengklasifikasi adalah “Kegiatan menganalisis bahan pustaka dan menentukan notasi yang mewakili subyek bahan pustaka dengan menggunakan sistem klasifikasi tertentu.”
Sistem klasifikasi akan sangat membantu, baik bagi petugas dalam menyusun koleksi maupun bagi pemakai, agar dapat dengan mudah mencari dan menemukan apa yang mereka perlukan, sehingga akan menghemat waktu dan tenaga.
Pada sisi lain manfaat klasifikasi akan membantu tersusunnya koleksi yang lebih rapi dan teratur sehingga tercipta suatu kesan bahwa perpustakaan yang berangkutan selalu dipelihara susunan bahan pustaka dan kebersihannya.
Menurut Sutarno (2006) klasifikasi dibagi menjadi dua, yaitu a. Klasifikasi sederhana
Klasifikasi yang notasinya ditentukan 5 angka, biasanya untuk perpustakaan yang relatif kecil atau terbatas jumlah koleksinya.
b. Klasifikasi kompleks
Klasifikasi yang notasinya mewakili isi bahan pustaka secara spesifik dan setepat mungkin.
commit to user 19
Pengunjung perpustakaan yang ingin meminjam atau membaca buku/sumber informasi lainnya dapat menggunakan nomor klasfikasinya untuk mencari, tapi belum semua dapat memahami dan menggunakan sistem klasifikasi yang digunakan di perpustakaan. Untuk itu petugas perpusatakaan harus berusaha untuk memberikan bimbingan dalam menggunakan sarana temu kembali informasi tersebut.
Pada prinsipnya klasifikasi atau pemeberian kode notasi harus diusahakan agar dapat membantu pengguna, bukan sebaliknya malah mempersulit pengguna, karena notasinya sulit dimengerti.
4. Sistem Klasifikasi
Sistem klasifikasi adalah cara yang dilakukan suatu perpustakaan untuk dapat menentukan nomor kelas buku. Sistem klasifikasi yang biasa digunakan di perpustakaan ada bemacam-macam, antara lain Dewey Decimal Classfication (DDC), Universal Decimal Classification (UDC),
serta Library of Congres Classification (LCC). Untuk bahan pustaka Islam menggunakan pedoman klasifikasi Islam dengan kode 2X0. Berikut adalah beberapa sistem klasifikasi yang sering digunakan :
1) Klasifikasi persepuluhan Dewey (DDC)
Sistem klasifikasi ini ditemukan oleh orang Amerika bernama Kossuth Melville Dewey pada tahun 1873 dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1876 yang terdiri dari 52 halaman. Pada sistem ini, ilmu pengetahuan dibagi menjadi 10 kelompok yang dinyatakan dengan notasi
commit to user 20
atau tanda yang berupa angka desimal, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang menuju spesifikasi, maka angka atau notasi tersebut dapat dibagi lagi menjadi lebih kecil atau spesifik.
Dengan demikian, DDC dapat terdiri dari kelas utama, devisi, seksi, dan subseksi yang dirinci secara detail. Ini adalah sepuluh kelas utama dari DDC :
000- Karya Umum 100 - Filsafat 200 - Agama 300 - Ilmu Sosial 400 - Bahasa
500 - Ilmu Pengetahuan Murni 600 - Ilmu Pengetahuan Terapan 700 - Seni, Olahraga
800 - Kesusastraan 900 - Sejarah, Geografi 2) Klasifikasi Islam
Pada sistem klasisfikasi Dewey tersebut, pustaka Islam hanya diberi notasi 297. Padahal, ilmu-ilmu Islam sangat banyak, sehingga perlu adanya sistem klasifikasi tersendiri. Memang dalam sejarah Islam ini terdapat beberapa versi. Dalam sistem tersebut koleksi tentang Islam diberi notasi 2X0. Dan berikut adalah notasi tersebut :
commit to user 21 2X0 – Islam
2X1 – Al Quran dan ilmu terkait 2X2 – Hadis dan ilmu terkait 2X3 – Aqaid dan ilmu Kalam 2X4 – Fiqih
2X5 – Akhlak dan Tasawuf 2X6 – Sosial dan Budaya
2X7 – Filsafat dan Perkembangan 2X8 – Aliran dan Sekte
2X9 – Sejarah Islam dan Biografi
Notasi tersebut menunjukan subyek yang masih umum atau belum rinci. Kemudian sesuai dengan perkembangan ilmu-ilmu Islam, maka notasi-notasi itu dibagi lagi menjadi subyek yang lebih kecil lagi.
3) Library of Congress Classification (LCC)
Sistem klasifikasi LCC tidak membagi bidang-bidang secara ilmiah seperti DDC, meliankan hanya bersifat mengkelompokan dengan menggunakan simbol-simbol yang merupakan kombinasi huruf latin dan angka Arab, misalnya :
A – Karya Umum B – Filsafat BL - Agama C – Sejarah
D – Sejarah dan Topografi
commit to user 22 E – Amerika
K – Hukum L – Pendidikan
P – Bahasa dan Kesusastraan S – Pertanian
T – Teknologi
Z – Bibliografi dan Perpustakaan
Sistem klasifikasi ini hanya digunakan oleh perpustakaan kongres di Amerika.
5. Pembuatan T-Slip (temporary slip)
Kegiatan ini adalah kegiatan membuat konsep catatan keterangan- keterangan mengenai buku untuk keperluan pembuatan kartu katalognya.
Sebelum digunakan untuk pembuatan kartu katalog, biasanya T-slip diselipkan pada buku yang bersangkutan karena sebenarnya fungsi T-slip hanya konsep saja untuk keperluan pembuatan kartu katalog, dengan kata lain T-Slip adalah rangka awal katalog. Bila sudah dipergunakan untuk keperluan tersebut T-slip bisa disingkirkan atau dibuang. Susunan penulisannya dapat berbentuk seperti catatan biasa, akan tetapi juga dapat berbentuk seperti kartu katalog yang sudah jadi.
6. Katalogisasi
Di perpustakaan kartu katalog sangatlah penting, hal ini dikarenakan kartu katalog digunakan sebagai alat untuk membantu pemustaka melakukan temu kembali bahan pustaka. Dalam pengertian
commit to user 23
yang sederhana katalog adalah daftar informasi pustaka atau dokumen yang ada diperpustakaan atau toko buku maupun penerbit tertentu. (Abdul Rahman Saleh, 2009 : 55)
Sedangkan prosesnya atau katalogisasi menurut ahli “Katalogisasi adalah kegiatan membuat deskripsi data bibliografi suatu bahan pustaka menurut standar atau peraturan tertentu.” (Sutarno, 2006:182)
Semua bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan harus ada katalognya. Pembuatan katalog ini memudahkan pengecekan dan penemuan kembali suatu bahan pustaka dan biasanya dibuat dari kertas berukuran 12,5 x 7,5 cm. Daftar katalog ini dapat dibuat dalam bentuk kartu, katalog berkas, katalog tercetak ataupun katalog digital atau katalog online.
Menurut Lasa (2002:35) data bibliografis yang harus dicantumkan dalam pembuatan kartu katalog adalah :
a. Judul, judul paralel, sub judul, dan lain-lain.
b. Pengarang (orang ataupun lembaga)
c. Impresium, yang terdiri dari nama kota penerbit, nama penerbit, tahun terbit.
d. Kolasi, terdiri dari data fisik buku, seperti halaman, ilustrasi, dan tinggi buku.
Data-data ini dimasukan dalam kartu katalog tadi, ataupun juga dapat dimasukan dalam komputer. Menurut Sutarno (2006 : 183) kegiatan katalogisasi dapat dibagi menjadi 3 bagian :
commit to user 24
a. Kegiatan katalogisasi sederhana : kegiatan katalogisasi yang mencantumkan infromasi data bibliografi tingkat 1 berdasarkan Anglo American Cataloging Rules (AACR II), yaitu ; judul asli,
pengarang, edisi, penerbit, tempat terbit, dan nomor seperti International Standard Book Number (ISBN).
b. Kegiatan katalogisasi kompleks : kegiatan katalogisasi yang mencantumkan informasi data bibliografis tingkat 1 ditambahan antara lain judul paralel, judul seri, judul terjemahan, pengarang tambahan.
c. Kegiatan katalogisasi salinan : kegiatan menyalin data bibliografi bahan pustaka dari sumber bibliografi lain dengan atau tanpa menambah informasi yang diperlukan.
Didalam perpustakaan sendiri ada beberapa jenis kartu katalog yang digunakan utnuk mengkatalog suatu bahan pustaka, antara lain :
a. Katalog Pengarang : katalog yang disusun berdasarkan abjad nama pengarang, baik itu pengarang perorangan, karya bersama, karya badan korporasi, ataupun karya yang ditajukkan pada judul seragam.
b. Katalog Judul : katalog yang disusun berdasarkan abjad judul dari semua bahan perpustakaan yang dimiliki.
c. Katalog Subjek : dalam penyusunannya dapat dibedakan atas 2 jenis :
commit to user 25
1) Katalog subjek yang disusun berdasarkan abjad judul untuk subjek yang dinyatakan dalam bentuk istilah (verbal)
2) Katalog subjek yang disusun berdasarkan urutan nomor klasifikasi (subjek dalam bentuk nonverbal) sesuai dengan pedoman bagan klasifikasi yang digunakan.
d. Katalog Berkas : katalog ini disusun berdasarkan urutan nomor klasifikasi, yang digunakan sebagai sarana untuk stock opname.
e. Katalog Induk : katalog ini mendaftar buku-buku yang ada di beberapa perpustakaan yang bergabung untuk melakukan kerjasama, seperti layanan dan lain sebagainya.
7. Pemberian Perlengkapan
Pekerjaaan memberi perlengkapan pada buku yang terutama juga untuk digunkanan sebagai alat pelengkap dalam tugas perpustakaan melayani peminjaman dan pengembalian buku. Adapun perlengkapan tersebut antara lain :
a. Label call number buku : label ini berisi nomor klasifikasi buku tersebut, 3 huruf pertama pengarang, dan 1 huruf pertama dari judul buku tersebut, label ini biasanya ditempel pada punggung buku jarak dari bawah kurang lebih 2,5 cm.
commit to user 26
b. Kartu buku : kartu ini berukuran ¼ folio dari kertas putih. Kartu ini berisi nomor inventaris, nama pengarang, judul buku, call number, nomor anggota, tanggal pinjam. Kartu ini diletakan dibagian belakang buku. Apabila buku ini dipinjam maka data peminjam ditulis dalam kartu tersebut, lalu kartu tersebut disimpan dalam kotak urut nomor pustaka.
c. Kantong buku : kartu ini dibuat dari kertas hvs dan ditujukan untuk lembar tanggal kembali. Kantong ini ditempel di sampul belakang bagian dalam dari buku yang bersangkutan.
d. Slip tanggal kembali : lembar ini dibuat dari kertas hvs atau buram yang berukuran ¼ folio atau 10,5 x17 cm, berisi catatan tentang nomor atau nama anggota dan tanggal wajib mengembalikan pinjaman. Lembar ini ditempel di sampul akhir buku, lembar ini berguna sebagai pengingat peminjaman akan tanggal wajib mengembalikan buku tersebut.
e. Lembar peringatan : lembar ini sebesar kartu buku yang berisi uraian permintaan perhatian secara singkat kepada peminjam agar buku yang dipinjam tak dihilangkan, dirusak, dipinjamkan pada orang lain yang beresiko hilang. Lembar ini ditempel di sampul depan bagian dalam.