• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Tempat kerja

Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, terbuka atau tertutup, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, di udara yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Pengertian lain tempat kerja adalah setiap lokasi fisik dimana aktivitas-aktivitas terkait pekerjaan dilaksanakan dalam kendali organisasi (OHSAS 18001 : 2007 Occupational Health and Safety Management System).

2. Proses Produksi

Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan barang atau jasa (Assauri, 1995).

(2)

Proses juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu dilaksanakan. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan danan menambah kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan jasa dengan menggunakan faktor produksi yang ada.

Melihat kedua definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.

3. Limbah

a. Pengertian Limbah

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Limbah adalah bahan atau sisa buangan yang dihasilkan oleh suatu proses produksi baik dari skala rumah tangga maupun industri yang kehadirannya pada suatu tempat tertentu tidak dikehendaki karena tidak memiliki nilai ekonomis.

(3)

b. Macam Limbah 1) Limbah Padat

limbah padat yang lebih dikenal sebagai sampah dengan bentuk fisik berupa padatan. Definisi menurut Undang-undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta tempat- tempat umum. Jenis-jenis limbah padat antara lain : kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, mental, gelas/kaca, organik, kulit telut.

2) Limbah Cair

Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair. Sedangkan menurut Metcalf dan Edy (1990) dalam Adi (2009) limbah cair adalah kombinasi antara cairan dan air yang membawa sisa-sisa dari permukaan, bangunan komersil, perkantoran dan industri-industri yang mengalir bersama dengan air hujan atau air permukaan yang mungkin ada.

(4)

Untuk pengertian limbah secara umum adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya dan biasanya mengandung bahan-bahan yang membahayakan kehidupan maupun kelestarian lingkungan hidup (Ayuwanjani (2008))

3) Limbah Gas

Limbah gas adalah limbah zat (zat buangan) yang berwujud gas (Suharto, 2011). Limbah gas dapat dilihat dalam bentuk asap. Limbah gas selalu bergerak sehingga penyebarannya sangat luas. Contoh limbah gas adalah gas pembuangan kendaraan bermotor. Pembuatan bahan bakar minyak juga menghasilkan gas buangan yang berbahaya bagi lingkungan.

4. Limbah B3

Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/ atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 03 Tahun 2008 tentan Tata Cara Pemberian Simbol dan Label B3).

(5)

a. Identifikasi Limbah B3

Menurut Peraturan Pemerintah Rupublik Indonesia No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) limbah dapat diidentifikasi menurut sumber dan atau uji karakteristik dan uji toksikologi

1) Sumber limbah B3 dibedakan menjadi sebagai berikut : a) Limbah B3 sumber spesifik

Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah B3 sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan.

b) Limbah B3 sumber tidak Spesifik

Limbah B3 sumber tidak spesifik adalah limbah B3 yang pada umumnya berasal bukan dari proses utamanya, tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, pencegahan korosi, pelarutan kerak, pengemasan, dan lain- lain.

c) Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan, dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.

Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan, dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi, karena tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan kembali maka

(6)

suatu produk menjadi limbah B3 yang memerlukan pengelolaan. Hal yang sama juga berlaku untuk sisa kemasan limbah B3 dan bahan-bahan kimia yang kadaluwarsa.

2) Karakteristik limbah

Suatu limbah tergolong sebagai bahan berbahaya dan beracun jika ia memiliki sifat-sifat tertentu, menurut Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 sifat karakteristik limbah B3 adalah :

a) Mudah Meledak

Limbah B3 mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25 derajat celcius, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan/atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapt merusak lingkungan sekitarnya.

b) Mudah Terbakar

Limbah B3 mudah terbakar adalah limbah-limbah yang mempunyai salah satu sifat-sifat : limbah berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24% volume dan/atau pada titik nyala tidak lebih dari 60 derajat celcius akan menyala apabila terjadi kontak dengan api, percikan api atau sumber nyala api lain dengan tekanan udara 760mmHg. Limbah yang bukan cairan, yang pada

(7)

temperatur dan tekanan standar (25 derajat celcius, 760 mmHg) dapat mudah menyebabkan kebakaran melalui gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus-menerus. Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar. Merupakan limbh pengoksidasi.

c) Bersifat Reaktif

Limbah B3 reaktif adalah limbah-limbah yang mempunyai salah satu sifat-sifat : limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan. Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air. Limbah yang apabila bercampur dengan air berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Merupakan limbah sianida, sulfida atau amoniak yang pada kondisi pH antara 2 dan 12,5 dapat menghasilkan gas, uap atau aap beracun dalam jumlah membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Limbah yang dapat mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar (25 derajat celcius, 760 mmHg). Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik perioksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.

(8)

d) Beracun

Limbah B3 beracun adalah limbah yang menyebabkan adanya infeksi, berasal dari bagian tubuh manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut.

e) Menyebabkan Insfeksi

Limbah B3 yang dapat menyebabkan insfeksi dalah limbah yang menyebabkan adanya insfeksi yang berasal dari bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena insfeksi, limbah dari laboraturium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. Limbah ini berbahaya dan mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera yang ditularkan pada pekerja, pembersihan jalan dan masyarakat disekitar lokasi pembuangan limbah.

f) Bersifat Korosif

Limbah B3 yang bersifat korosif dalah limbah yang mempunyai salah satu sifat : menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit, menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja (SAE 10200) dengan laju korosi lebih besar dari 6,35

(9)

mm/tahun dengan temperatur pengujian 55 derajat celcius mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk limbah bersifat asam dan sama atau lebih besar dari 12,5 yamh bersifat basa.

g) Karsinogenik

Limbah B3 Karsinogenik adalah sifat bahan penyebab sel kanker, yakni terjadinya deferensiasi sel dalm tubuh manusia sehingga menyebabkan kerusakan jaringan tubuh.

h) Mutagenik

Limbah B3 mutagenik adalah sifat bahan yang menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah sel-sel genetik dalam tubuh.

3) Uji Toksikologi

Cara menentukan limbah yang bersifat akut atau limbah yang bersifat kronik adalah :

a) Sifat akut limbah uji hayati untuk mengukur hubungan dosis respon antara limbah dengan kematian hewan uji, untuk mendapatkan nilai LD50 (Lethal Dose Fifty).

Apabila nilai LD50 > 50 mm/Kg berat badan (Lampiran III PP 85/99) maka dilakukan evaluasi sifat kronis.

b) Sifat kronis limbah dengan mencocokan Toksik, mutagenik, Karsinogenik dengan zat pencemar limbah yang ada dalam limbah tersebut dengan Lampiran III PP 85/99.

(10)

4) Pengelolaan Limbah B3

a) Definisi pengelolaan limbah

Menurut Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun (B3), pengolahan limbah adalah kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, dan atau membuang B3.

b) Tujuan Pengelolaan Limbah B3

Pengolahan limbah bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan hidup yang sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali

c) Prosedur pengolahan limbah (1) Reduksi

Reduksi adalah suatu kegiatan pada penghasil limbah B3 untuk mengurangi jumlah dan/atau mengurangi sifat bahaya dan/atau racun dari limbah B3 sebelum dihasilkan dari suatu usaha dan/atau kegiatan(Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014)

(2) Pengemasan

(11)

Pengemaan B3 adalah kegiatan pengemasan, mengisi atau memasukkan B3 kedalam suatau wadah dan atau kemasan, menutup dan atau menyegelnya ( PP No. 74 Tahun 2001).

Persyaratan pengemasan :

(a) Kemasan limbah B3 harus dalam kondisi baik, tidak rusak, san bebas dari pengkaratan serta kebocoran.

(b) Bentuk ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemas dengan mempertimbangkan segi keamanan dan kemudahan dalam penangannya.

(c) Kemasan dapat terbuat dari bak kontainer atau tangki berbentuk silinder vertikal maupun horizontal atau drum yang terbuat dari bahan logam, drum yang terbua dari bahan plastik atau bahan logam dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpan

(d) Limbah B3 yang tidak sesuai karakteristiknya tidak boleh disimpan secara bersama-sama dalam satu kemasan.

(e) Untuk mencegah risiko timbulnya bahaya selama penyimpanan, jumlah pengisian limbah dalam

(12)

kemaan harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya pengembangan volume limbah, pembentukan gas atau tejadinya kenaikan tekanan.

(f) Jika kemasan limbah B3 sudah dalam kondisi yang tidak layak (misalnya terjadi pengkaratan atau terjadi kerusakan permanen) atau jika mulai bocor, limbah B3 tersebut harus dipindahkan kedalam kemasan lain yang memenuhi syarat sebagai kemasan bagi limbah B3.

(g) Terdapat kemasan yang telah berisi limbah harus diberi penandaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan disimpan dengan memenuhi ketentuan tentang tatacara dan persyaratan bagi penyimpanan dan pengumpulan limbah B3.

(3) Label dan Simbol Limbah B3

Syarat label dan simbol limbah B3 :

(a) Simbol yang dipasang pada kemasan limbah B3 harus sesuai dengan karakteristik limbah yang dikemas.

(b) Simbol yang dipasang pada pada kemasan limbah B3 harus mempunyai ukuran minimum adalah 10 cm x 10 cm atau lebih besar.

(13)

(c) Simbol yang dipasang pada kemasan limbah B3 harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap goresan atau bahan kimia yang mungkin mengenainya dan harus melekat kuat pada permukaan kemasan.

(d) Simbol yang dipasang pada kemasan limbah B3 harus dipasang pada sisi-sisi kemasan yang tidak terhalang oleh kemasan lain dan mudah terlihat.

(e) Simbol yang dipasang pada kemasan limbah B3 tidak boleh terlepas, atau dilepas dan diganti dengan simbol lain sebelum kemasan dikosongkan dan dibersihkan dari sisa-sisa limbah B3.

(f) Simbol yang dipasang pada kemasan limbah B3 yang kemasannya telah dibersihkan dan akan dipergunakan kembali untuk pengemasan limbah B3 harus diberi label “KOSONG”

(g) Label harus dipasang pada kemasan limbah B3 yang berfungsi untuk memberikan informasi dasar mengenai kualitatif dan kuantitaf dari suatu limbah B3 yang dikemas.

(4) Penyimpanan Limbah

Limbah B3 harus disimpan secara tepat, bilamana ingin dicegah kemungkinan bahaya-bahayanya.

(14)

Fasilitas dan prosedur penyimpanan harus menampung keselamatan dari seluruh kemungkinan bahayanya.

Penyimpanan limbah B3 harus dilakukan jika limbah B3 tersebut belum dapat diolah dengan segera. Kegiatan penyimpanan limbah dimaksudkan untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan sehingga potensi bahaya terhadap manusia dan lingkungan dapat dihindarkan. Untuk meningkatkan pengamanan, maka sebelum dilakukan penyimpanan limbah B3 harus terlebih dahulu dikemas. Mengingat keragaman karakteristik limbah B3, maka dalam pengemasan perlu pula diatur tata cara yang tepat sehingga limbah dapat disimpan dengan aman (Keputusan Bapedal No KEP- 01/BAPEDAL/09/1995)

Penyimpanan limbah B3 adalah kegiatan penyimpanan limbah B3 yang dilakukan oleh penghasil, pengumpul, pemanfaatan, pengolaha dan/atau penimbun limbah B3 dengan maksud penyimpanan sementara. Bangunan penyimpan sementara limbah B3 juga menjadi bagian yang penting dalam pengelolaan limbah B3. Bangunan tempat penyimpan sementara limbah B3 harus :

(15)

(a) Memiliki rancangan bangunan dan luas ruang penyimpan yang sesuai dengan jenis, karakteristik, dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/ akan disimpan,

(b) Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung,

(c) Dibuat tanpa plafon dan memilik sistem ventilasi udara yang menandai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas didalam ruang penyimpanan, serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya kedalam ruang penyimpanan.

(d) Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional penggudangan atau inspeksi rutin. Jika menggunakan lampu, maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter diatas kemasan dengan saklar (stop kontak) harus terpasang disisi luar bangunan

(e) Dilengkapi dengan penyalur petir

(f) Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penanda (simbol) sesuai dengan tatacara yang berlaku.

(16)

(g) Lantai bangunan penyimpan harus kedap air, tidak bergelombang, kuat dan tidak retak. Lantai bagian dalam dibuat melandai turun kearah bak penampung dengan kemiringan maksimum 1% pada bagian luar bangunan, kemiringan lantai diatur sedemikian rupa seingga air hujan dapat mengalir kearah menjauhi bangunan penyimpanan.

Pengaturan tatacara penyimpanan dan lamanya penyimpanan yang diatur diantaranya adalah sebagai berikut:

a) Menyediakan tempat khusus limbah B3, yang terpisah dari tempat penyimpanan bahan dan limbah lainnya. Desain dan rancang bangun tempat penyimpanan diatur. Tempat penyimpanan limbah B3 harus mendapat persetujuan dari pihak terkait.

b) Menyimpan semua limbah B3 sesuai dengan jenis dan karakteristik dan ditempatkan pada tempat yang sudah ditentukan.

c) Menghindari tumpahan dan ceceran dari limbah B3, khususnya yang bersifat mudah terbakar atau meledak. Prosedur house keeping yang baik harus dilaksanakan.

(17)

d) Mencatat setiap terjadi perpindahan limbah B3, yang masuk dan keluar tempat penyimpanan sesuai jenis dan jumlahnya kedalam lembar neraca limbah B3.

e) Limbah yang disimpan tidak boleh melebihi jangka waktu 90 hari, bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg per hari, penghasil limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yang dihasilkan lebih dari 90 hari sebelum diserahkan kepada pemanfaatan atau pengolahan atau penimbunan limbah B3, dengan persetujuan instansi yang bertanggung jawab sehingga limbah yang disimpan wajib diupayakan, yaitu : langsung diangkut oleh perusahaan pengumpul yang berizin ke tempat pengolahan. Dilakukan upaya Recycle, Reuse, dan Reduce (3R) untuk keperluan sendiri, sesuai sifat karakteristik limbah tersebut, dengan mengacu pada peraturan yang berlaku. Dimanfaatkan oleh pihak lain (yang berizin) sebagai bahan baku dan pendukung kegiatan industri tertentu.

f) Pemasangan label dan simbol limbah B3 harus sesuai dengan jenis dan sifat limbah B3

(18)

g) Menyediakan peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang sesuai, termasuk pemadam kebakaran

h) Tidak diperkenankan menerima atau menyimpan limbah B3 dari pihak lain.

(5) Pengumpulan limbah

Pengumpulan limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpulan dengan tujuan untuk mengumpulkan limbah B3 sebelum dikirim ke tempat pengelolaan dan/atau pemanfaatan dan/atau penimbunan limbah B3 (Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah bahan Berbahaya dan Beracun). Pengumpulan limbah B3 adalah kegiatan pengumpulan limbah B3 dari penghasil limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara sebelum diserahkan kepada pemanfaatan, pengolahan, dan atau penimbunan limbah B3. Penyerahan limbah B3 oleh penghasil/ pengumpul, pemanfaat, pengolah kepadat pengangkut wajib disertai dokumen limbah.

Pengangkutan dilakukan dengan alat khusus.

Pengangkutan limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpulan limbah B3 sebelum dikirim ke tempat pengolahan limbah B3, pemanfaatan

(19)

limbah B3, dan/atau penimbunan limbah B3. (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun).

(6) Pengangkutan limbah B3

Pengangkutan limbah B3 adalah kegiatan pemindahan limbah B3 dari suatu lokasi pengelolaan ke lokasi pengelolaan lainnya. Semua kegiatan pengangkutan limbah B3 harus memiliki tujuan akhir pengelolaan dan tidak boleh dilakukan antar kegiatan yang memiliki fungsi yang sama. Diantara semua kegiatan pengelolaan limbah B3, pengangkutan limbah B3 merupakan satu-satunya kegiatan yang izin operasionalnya tidak diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melainkan oleh departemen perhubungan. Peran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam kegiatan pengangkutan limbah B3 adalah memberikan rekomendasi kepada perusahaan yang melakukan jasa pengangkutan limbah B3, yang tanpa rekomendasi ini izin operasional dari Departemen Perhubungan tidak akan diberikan. Pada dasarnya kegiatan pengangkutan limbah B3 adalah kegiatan penyimpanan limbah B3 dalam bentuk jalan. Oleh sebab itu, semua kaidah

(20)

penyimpanan limbah B3 harus pula diterapkan dalam pengangkutan limbah B3, antara lain :

(a) Pemilihan alat angkut yang sesuai dengan limbah B3 yang akan diangkut.

(b) Pelekatan simbol B3 pada badan kendaraan pengangkut sebagai bentuk komunikasi bahaya atas limbah B3 yang diangkut.

(c) Penerapan aturan segregasi dalam pemuatan limbah B3 ke dalam alat angkut.

(d) Penerapan inspeksi kondisi limbah B3 yang diangkut oleh pengemudi.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) jenis kendaraan yang digunakan untuk mengangkut limbah B3 harus disesuaikan dengan kategori limbah B3nya. Untuk limbah B3 dikategorikan 1 harus diangkut menggunakan kendaraan tertutup sedangkan limbah B3 kategori 2 boleh diangkut menggunakan kendaraan terbuka.

(7) Rekapitulasi Limbah B3

Menurut Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 tentang pengelolaan B3 pasal 11 bahwa penghasil

(21)

limbah B3 wajib membuat dan menyimpn catatan, tentang :

1) Jenis, karakteristik, jumlah dan waktu dihasilkan limbah B3

2) Jenis, karakteristik, jumlah dan waktu penyerahan limbah B3

3) Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanankan pengiriman kepada pengumpul atau pemanfaat atau pengolah atau penimbun limbah B3.

(8) Reporting Limbah

Penyerahan limbah B3 kepada pemanfaat untuk diekspor, serta kepada pengolahan atau penimbunan limbah B3 tidak mengurangi tanggung jawab penghasil limbah B3 untuk mengolah limbah B3 yang dihasilkan.

Sehingga penghasil tetap bertanggung jawab dengan limbah B3 yang dihasilkan (Peraturan Pemerintah No.

85 Tahun 1999 tentang pengelolaan B3 pasal 9).

Penghasil limbah wajib menyampaikan catatan B3 sekurang-kurangnya sekali dalam 6 bulan kepada instansi yang terkait dan bupati atau walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Catatan limbah B3 dipergunakan untuk inventaris jumlah limbah yang dihasilkan dan sebagai bahan evaluasi

(22)

dalam rangka penetapan kebijakan dalam pengolalaan limbah B3 (Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan B3 pasal 11)

Pengumpul limbah B3 wajib menyampaikan catatan limbah B3 sekurang-kurangnya sekali dalam 6 bulan kepada instansi yang terkait Bupati atau Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan (Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan B3 pasal 13). Penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatn, pengolahan dan atau penimbunan limbah B3 wajib memiliki izin operasi dari kepala instansi yang bertanggung jawab. Pengangkutan limbah B3 wajib memiliki izin pengangkutan dari Menteri Perhubungan setelah mendapat rekomendasi dari Kepala Instansi yang bertanggung jawab (PP No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun) Penyerahan limbah B3 oleh penghasil atau pengumpul dan atau pemanfaat dan atau pengolah kepada pengangkut wajib disertai dengan dokumen limbah B3. Setiap pengangkut limbah B3 oleh pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 kepada pengumpul dan atau pemanfaat dan atau penimbung limbah B3 yang ditunjuk oleh penghasil

(23)

limbah B3 (PP No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun).

5. Sistem Tanggap Darurat dalam Pengelolaan Limbah B3

Sistem tanggap darurat adalah sistem pengendalian keadaan darurat yang meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanggulangan kecelakaan serta pemulihan kualitas lingkungan hidup akibat kejadian kecelakaan Pengelolaan limbah B3 (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bajan Berbahaya dan Beracun). Sistem tanggap darurat dalam pengelolaan limbah B3 terdiri atas :

a Penyusunan program kedaruratan pengelolaan limbah B3 b Pelatihan dan gladi kedaruratan pengelolaan limbah B3, dan c Penanggulangan kedaruratan pengelolaan limbah B3.

(24)

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Tempat Kerja

Proses Produksi

Limbah

Limbah B3

Pengelolaan Limbah B3

Penetapan Limbah B3

Sistem tanggap Darurat B3 Pengelolaan

Limbah B3

Dikelola dengan baik sesuai Peraturan yang berlaku

Produk sisa

Produk Jadi

Tidak Mencemari Lingkungan

Berpotensi terjadi Pencemaran Lingkungan Tidak Dikelola dengan baik

sesuai Peraturan yang berlaku

Referensi

Dokumen terkait

6.7.3 Penyimpanan Bahan Beracun.. Bahan kimia pembersih harus disimpan di tempat yang khusus dan terpisah dari bahan lainnya. Demikian pula dengan bahan kimia

Rancang Bangun Sistem…, Daniel Andries Susanthio, Universitas Multimedia Nusantara Tabel 2. Pada tabel 2.1 merupakan penjelasan notasi-notasi yang terdapat pada class

Supply Chain Management merupakan serangkaian pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan antara supplier, perusahaan manufaktur, gudang, dan tempat penyimpanan lainnya

Berikut ini adalah peneletian – penelitian tugas akhir yang penulis ambil sebagai tolak ukur dan referensi untuk rancang bangun sistem pelumasan otomatis pada mesin tunnel

Sumarno, MM (2016) dalam penelitiannya yang berujudul “Rancang bangun edugame matematika untuk SD berbasis android dengan metode linear congruent method (LCM)” peneliti

Pada jurnal terakhir yang telah dilakukan oleh Renaldi, Tri Sagirani, dan Agus Dwi Churniawan dengan judul Rancang Bangun Aplikasi E-Poin Untuk Pencatatan Data Pelanggaran

a. Peralatan teknis bangunan terdiri dari: a. Transportasi mekanis/ lift/ elevator b.. 2) Hotel harus menyediakan restoran. 3) Hotel harus menyediakan satu bar yang terpisah atau

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Julian Chandra W pada tahun 2017 dengan judul ‘RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI AKADEMIK (STUDI KASUS : SMPIT NURUL ISLAM