• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

II - 1 2.1 Pengiriman

Pengiriman atau shipping adalah bagian penting dalam suatu rantai persediaan yang berfungsi untuk menyiapkan dan mengirimkan barang ke customer. Transportasi berhubungan dengan model transportasi apa yang dipakai agar efektif dan efisian, baik dari sisi biaya, kecepatan waktu pengiriman dan ke tepatan waktu. Sistem pengiriman barang merupakan suatu kegiatan mengirim barang dikarenakan adanya penjualan barang dagang. Penjualan terdiri dari transaksi penjualan barang atau jasa, baik secara tunai atau kredit. Penjualan kredit dilaksanakan oleh perusahaan dengan cara mengirim barang sesuai pesanan yang diterima dari pembeli dengan jangka waktu tertentu perusahaan mempunyai tagihan kepada pembeli tersebut (Mulyadi, 2001)

Dalam distrubution channel, dikenal ada tiga komponen utama yaitu intermediary (perantara), agent (agen) dan facilitator (fasilitator). Intermediary adalah pihak-pihak seperti wholesaler (grosir/pedagang besar) dan retailer (pengecer) yang membeli barang, memilikinya dan menjual kembali barang tersebut. Agent adalah pihak-pihak seperti broker (pedagang perantara yang biasanya dibayar dengan imbalan komisi) dan sales agent (agen penjualan) , broker dan sales agent akan mencari pembeli, bertindak di pihak penjual, negosiasi dengan pembeli, tetapi tidak memiliki barang yang diperdagangkan itu.

Facilitator adalah pihak ketiga yang tidak terlibat proses jual-beli barang dan

(2)

tidak memiliki barang yang diperdagangkan, tugas facilitator hanyalah untuk membantu dan kemudian ia dibayar atas bantuan yang diberikannya.

2.2 Manajemen Persediaan 2.2.1 Persediaan

Persediaan merupakan bahan-bahan, bagian yang disediakan, dan bahan- bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu (Rangkuti, 2004).

Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut (Baroto, 2002):

1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan. Keinginan untuk meredam ketidakpastian.

2. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan besar darikenaikan harga di masa mendatang.

Jadi dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah bahan-bahan, bagian yang disediakan, dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu yang disimpan dan dirawat menurut aturan tertentu dalam tempat persediaan agar selalu dalam keadaan siap pakai dan dicatat dalam bentuk buku perusahaan.

2.2.2 Fungsi Persediaan

Inventory pada hakikatnya bertujuan untuk mempertahankan kontinuitas eksistensi suatu perusahaan dengan mencari keuntungan atau laba perusahaan itu.

(3)

Caranya adalah dengan memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan dengan menyediakan barang yang diminta.

Fungsi persediaan menurut Rangkuti (2004) adalah sebagai berikut.

a. Fungsi Batch Stock atau Lot Size Inventory

Penyimpanan persediaan dalam jumlah besar dengan pertimbangan adanya potongan harga pada harga pembelian, efisiensi produksi karena psoses produksi yang lama, dan adanya penghematan di biaya angkutan.

b. Fungsi Decoupling

Merupakan fungsi perusahaan untuk mengadakan persediaan decouple , dengan mengadakan pengelompokan operasional secara terpisah-pisah.

c. Fungsi Antisipasi

Merupakan penyimpanan persediaan bahan yang fungsinya untuk penyelamatan jika sampai terjadi keterlambatan datangnya pesanan bahan dari pemasok atau leveransir. Tujuan utama adalah untuk menjaga proses konversi agar tetap berjalan dengan lancar.

Alasan yang kuat untuk menyediakan inventory adalah untuk hal-hal yang berhubungan dengan skala ekonomi dalam pengadaan dan produksi barang, untuk kebutuhan yang berubah-ubah dari waktu ke waktu, untuk fleksibilitas di dalam fasilitas penjadwalan distribusi barang, untuk spekulasi di dalam harga atau biaya, dan untuk ketidakpastian tentang waktu pesanan perlengkapan dan kebutuhan.

(4)

2.2.3 Pengendalian Persediaan

Suatu pengendalian persediaan yang dijalankan oleh suatu perusahaan tentu mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Tujuan pengendalian persediaan secara terinci dapat dinyatakan sebagai berikut (Assauri, 2004):

a. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.

b. Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau berlebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar.

c. Menjaga agar pembelian kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan memperbesar biaya pemesanan.

Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa tujuan dari pengendalian persediaan adalah untuk memperoleh kualitas dan jumlah yang tepat dari bahan- bahan barang yang tersedia pada waktu yang dibutuhkan dengan biaya-biaya yang minimum untuk keuntungan atau kepentingan perusahaan. Dengan kata lain pengendalian persediaan menjamin terdapatnya persediaan pada tingkat yang optimal agar produksi dapat berjalan dengan lancar dan biaya persediaan adalah minimal.

Perencanaan persediaan berhubungan dengan penentuan komposisi inventory, penentuan waktu atau penjadwalan, serta lokasi untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Pengendalian inventory meliputi pengendalian kuantitas dalam batas-batas yang telah direncanakan dan perlindungan fisik inventory.

Untuk itu perlu dilakukan evaluasi apakah sistem inventory perusahaan itu sudah

(5)

sesuai dengan yang diharapkan. Pengelolahan inventory yang baik diperlukan kemahiran dan pengalaman dalam membuat sistem inventory.

2.2.4 Biaya Persediaan

Dalam proses pengadaan persediaan tentu saja membuthkan biaya. Biaya- biaya yang timbul akibat adanya persediaan antara lain (Handoko, 1984):

a. Biaya setup, merupakan biaya yang timbul dalam memproduksi suatu barang yang meliputi biaya persiapan peralatan produksi, biaya penyetelan mesin, dan sebagainya

b. Biaya simpan (holding cost), merupakan biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk menyimpan persediaan. Biaya ini dapat berupa biaya fasilitas penyimpanan, biaya modal, biaya keuangan, biaya asuransi persediaan, biaya pajak persediaan, biaya penanganan persediaan dan sebagainya.

c. Biaya deteriotaring, merupakan biaya yang timbul karena abarang atau produk yang berada pada masa penyimpanan mengalami penurunan nilai yang diakibatkan produk atau barang yang disimpan adalah barang yang mudah rusak.

2.2.5 Sistem Inventory Multi-Echelon

Produsen melakukan pengadaan bahan baku dari pemasok dan mengolahnya menjadi barang jadi, dan menjual barang jadi tersebut kepada distributor, kemudian distributor mendistribusikan barang jadi ke retailers, dan retailers menjual ke pengguna terakhir. Bila item / barang bergerak melalui lebih

(6)

dari satu tahap sebelum mencapai pelanggan akhir membentuk sistem persediaan multi-esselon (Rau, 2003).

2.3 Supply Chain Management (SCM) 2.3.1 Supply Chain (SC)

Supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama- sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau ritel, serta perusahaan-perusahaan pendukung, seperti jasa logistik (Pujawan, 2005). Supply chain adalah suatu jaringan dari organisasi yang saling tergantung dan dihubungkan satu sama lain dan bekerjasama untuk mengendalikan, mengatur dan meningkatkan aliran material dan informasi dari para penyalur ke pemakai akhir (Indrajit dan Djokopranoto 2003).

Supply chain adalah sebuah sistem yang melibatkan proses produksi, pegiriman, penyimpanan, distribusi dan penjualan produk dalam rangka memenuhi permintaan akan produk tersebut. Supply chain didalamnya termasuk seluruh proses dan kegiatan yang terlibat didalam penyampaian produk tersebut sampang ketangan pemakai (konsumen). Semua itu termasuk proses produksi pada manufaktur, sistem transportasi yang menggerakkan produk dari manufaktur sampai ke outlet retailer, gudang tempat penyimpanan produk tersebut, pusat distribusi tempat dimana pengiriman dalam jumlah besar dibagi kedalam jumlah kecil untuk dikirim kembali ke toko-toko dan akhirnya sampai ke retailer yang menjual produk-produk tersebut.

(7)

2.3.2 Definisi Supply Chain Management (SCM)

Supply Chain Management merupakan serangkaian pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan antara supplier, perusahaan manufaktur, gudang, dan tempat penyimpanan lainnya secara efisien, sehingga produk tersebut dapat diproduksi dan didistribusikan dengan jumlah yang tepat, pada lokasi yang tepat, dan pada waktu yang tepat, dengan tujuan untuk meminimasi biaya dan memuaskan kebutuhan konsumen (Levi, 2000).

Supply Chain Management adalah pendekatan untuk integrasi yang efisien antara supplier, manufacturer, werehouses dan retailer dalam mengelola aliran barang, informasi dan uang sehingga produk dapat diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah yang tepat, lokasi yang tepat dan saat yang tepat, untuk mengurangi biaya dan memenuhi tingkat kepuasan pelanggan. (Levi, 2000).

Supply Chain Management adalah strategi dan hubungan jangka panjang yang terkoordinasi diantara seluruh jaringan logistik perusahaan dalam hal pengembangan, produksi, pembelian maupun inovasi. Setiap perusahaan tersebut secara aktif berkompetisi pada bidangnya masing-masing untuk mendistribusikan produknya dengan waktu sesingkat mungkin sehingga berpengaruh pada jaringan supply chain secara keseluruhan.

Supply Chain Management tidak hanya sekedar memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga telah berkembang menuju kepada nilai-nilai konsumen, mulai dari memahami apa yang dibutuhkan dan kemudian menciptakan dan mendistribusikan produk berdasarkan kebutuhan kosumen.

Supply Chain Management juga tidak hanya berorientasi pada urusan internal

(8)

sebuah perusahaan, melainkan juga urusan eksternal yang menyangkut hubungan dengan perusahaan-perusahaan partner.

2.3.3 Tantangan Mengelola Supply Chain

Supply Chain melibatkan lebih dari satu pihak di dalam maupun di luar sebuah perusahaan serta menangani cakupan kegiatan yang sangat luas. Dengan berbagai ketidakpastian yang ada di sepanjang supply chain serta semakin tingginya persaingan di pasar, supply chain management membutuhkan pendekatan dan model pengelolaan yang tangguh untuk bisa tetap bertahan dalam dunia bisnis. Hal tersebut ditambah lagi dengan berbagai dengan berbagai aturan atau tuntutan dari pemerintah ataupun masyarakat untuk menjaga aspek lingkungan dalam kegiatan supply chain. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam mengelola supply chain yaitu (Pujawan, 2005):

a. Kompleksitas struktur supply chain

Suatu supply chain umumnya sangat kompleks karena melibatkan banyak pihak di dalam maupun di luar perusahaan yang sering kali memiliki kepentingan yang berbeda-beda, bahkan sering kali bertentangan (conflicting) antara satu dengan yang lainnya. Di dalam perusahaan sendiripun (antara divisi satu dengan yang lainnya) perbedaan kepentingan tersebut sering muncul.

b. Ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan sumber utama kesulitan pengelolaan suatu supply chain. Ketidakpastian menimbulkan ketidakpercayaan diri terhadap rencana yang sudah dibuat, sebagai akibatnya perusahaan sering menciptakan

(9)

pengaman disepanjang supply chain. Pengaman tersebut bisa berupa persediaan (safety stock), waktu (safety time), atau kapasitas produksi ataupun transportasi. Berdasarkan sumbernya, ada tiga klasifikasi utama ketidak pastian pada supply chain. Pertama adalah ketidakpastian permintaan.

Misal pabrik mengalami ketidakpastian dari distributor. Semakin ke hulu ketidakpastian permintaan biasanya semakin meningkat. Peningkatan ketidakpastian atau variasi permintaan dari hilir ke hulu pada suatu supply chain dinamakan bullwhip effect. Ketidakpastian kedua berasal dari arah supplier, yang dapat berupa ketidakpastian pada lead time pengiriman, harga bahan baku atau komponen, ketidakpastian kualitas, serta kuantitas material yang dikirim. Sedangkan ketidakpastian ketiga adalah ketidakpastian internal yang bisa diakibatkan oleh kerusakan mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, ketidakpastian tenaga kerja, serta ketidakpastian waktu maupun kualitas produksi. Besarnya ketidakpastian yang dihadapi tiap-tiap supply chain berbeda.

(10)

2.3.4 Proses Supply Chain Management

Supply chain dari sebuah perusahaan mencakup fasilitas-fasilitas dimana bahan mentah, produk setengah jadi, dan produk jadi diperoleh, diubah, disimpan dan dijual. Fasilitas-fasilitas ini terhubung oleh mata rantai transportasi sepanjang arus produk dan material.

Gambar 2.1 Proses dari supply chain dan 3 macam aliran yang dikelola Gambar 2.1 Proses Supply Chain Management

Sumber : I Nyoman Pujawan (2005)

Pada gambar diatas, terlihat bahwa supply chain management adalah koordinasi dari material, informasi dan arus keuangan diantara perusahaan yang berpartisipasi.

 Arus material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen

melalui rantai, sama baiknya dengan arus balik dari retur produk, layanan, daur ulang dan pembuangan.

 Arus informasi meliputi ramalan permintaan, tranmisi pesanan dan laporan status pesanan.

Keuangan : term pembayaran

Material : bahan baku, komponen, produk jadi Informasi : kapasitas, status pengiriman

Keuangan : term pembayaran

Material : bahan baku, komponen, produk jadi Informasi : kapasitas, status pengiriman

Supplier Tier 2

Supplier Tier 1

Manufactu rer

Distributo r

Retail Outlets

(11)

 Arus keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat-syarat kredit, jadwal

pembayaran, dan penetapan kepemilikan dan pengiriman.

Salah satu faktor kunci untuk mengoptimalkan supply chain adalah dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat di antara jaringan atau mata rantai tersebut, dan pergerakan barang yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada para pelanggan .(Indrajit dan Djokopranoto, 2009)

Dengan tercapainya koordinasi dari rantai supply perusahaan, maka tiap chanel dari rantai supply perusahaan tidak akan mengalami kekurangan barang juga tidak sampai kelebihan barang terlalu banyak.

Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2003) dalam supply chain ada beberapa pemain utama yang nerupakan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kepentingan di dalam arus barang, para pemain utama ituadalah :

1. Supplier 2. Manufacturer 3. Distributor 4. Retail outlets 5. Customer

Proses mata rantai yang terjadi antar pemain utama itu antara lain sebagai berikut :

1. Chain 1 : Supplier

Jaringan bermula dari sini, yang merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, dimana mata rantai penyaluran barang akan dimulai, Bahan pertama

(12)

ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong,bahan dagangan, subassemble, suku cadang, dan sebagainya. Sumber pertama ini dinamakan suppliers. Dalam arti yang murni, ini termasuk juga suppliers suppliers atau sub suppliers. Jumlah suppliers bisa banyak atau sedikit, tetapi suppliers biasanya berjumlah banyak sekali. Inilah mata rantai yang pertama.

2. Chain 1 – 2 : Supplier – Manufacturer

Rantai pertama dihubungkan dengan rantai kedua, yaitu manufacturer atau plants atau assembler atau fabricator Hubungan dengan mata rantai pertama ini sudah membuat potensi untuk melakukan penghematan. Misalnya, inventories bahan baku, bahan setengah jadi, dan bahan jadi yang ada di pihak suppliers, manufacturer, dan tempat transit merupakan target untuk penghematan ini. Tidak jarang penghematan sebesar 40%-60%, bahkan lebih dapat diperoleh dari inventory carring cost di mata rantai ini. Dengan menggunakan konsep supplier partnering misalnya, penghematan dapat diperoleh.

3. Chain 1 – 2 - 3 : Suppliers – Manufacturer – Distribution

Barang sudah jadi yang dihasilkan oleh manufacturer sudah harus mulai disalurkan kepada pelanggan. Walaupun tersedia banyak cara untuk menyalurkan barang ke pelanggan, yang umum adalah melalui distributor dan biasanya ditempuh oleh sebagian besar supply chain. Barang dari pabrik melalui gudangnya disalurkan ke gudang distributor atau wholesaler atau pedagang besar dalam jumlah besar, dan pada waktunya nanti pedagang besar menyalurkan dalam jumlah yang lebih kecil kepada retailer atau pengecer.

(13)

4. Chain 1 – 2 – 3 – 4 : Suppliers – Manufacturer – Distribution – Retail Outlets Pedagang besar biasanya mempunyai gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan lagi kepihak pengecer. Sekali lagi disini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah inventories dan biaya gudang, dengan cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari gudang manufacturer maupun ke toko pengecer (retail oulets).

5. Chain 1 – 2 – 3 – 4 – 5 : Suppliers – Manufacturer – Distribution – Retail Outlets – Customers

Dari rak-raknya, para pengecer atau retailers ini menawarkan barangnya langsung kepada para pelanggan atau pembeli atau pengguna barang tersebut.

Yang termasuk outlets adalah toko, warung, toko serba ada, pasar swalayan, toko koperasi, mal. club stores, dan sebagainya. Walaupun secara fisik dapat dikatakan bahwa ini merupakan mata rantai yang terakhir, sebenarnya masih ada satu mata rantai lagi, yaitu dari pembeli (yang mendatangi retail outlets) ke real customers atau real user, karena pembeli belum tentu pengguna sesungguhnya. Mata rantai supply baru benar-benar berhenti setelah barang yang bersangkutan tiba di pemakai langsung barang atau jasa tersebut.

2.3.5 Integrasi Sistem Supply Chain

Keuntungan strategis yang dapat dicapai melalui suatu hubungan secara kooperatif timbal balik jangka panjang antara echelon dalam supply chain tersebut. Pada waktu masa lalu, kebanyakan penelitian tentang model inventori mempertimbangkan hanya dari sudut pandang masing-masing echelon. Di dalam

(14)

linkungan supply chain management koordinasi dari semua echelon menjadi kunci utama untuk mencapai keefisienan dan keefektifan suatu lingkungan supply chain management untuk mencapai optimasi global.

Semakin berkembangnya jaman banyak peneliti yang meneliti tentang gabungan dari semua echelon dalam supply chain management atau adanyakerjasama yang saling menguntungkan antar echelon dari supplier sampai dengan buyer. Hal ini dapat menunjukkan bahwa pendekatan yang terintegrasi mengakibatkan suatu pengurangan biaya yang relatif tinggi dibandingkan dengan suatu keputusan sendiri oleh pembeli saja atau penjual saja. Pendekatan mereka mengasumsikan pengiriman berlanjut.

Gambar 2.2 The integrated supply chain system (Rau dkk ,2003) 2.4 Persediaan Dalam Supply Chain Management

Persediaan berkaitan dengan modal, penggunaan ruang penyimpanan, kebutuhan pemeliharaan, kerusakan produk, produk yang disimpan suatu waktu menjadi tidak terpakai, pengeluaran untuk pajak, kebutuhan asuransi,terjadi pencurian, dan terkadang barang tersebut hilang .

(15)

Mengelola aliran material/produk dengan tepat adalah salah satu tujuan utama dari supply chain. Aliran yang tepat berarti tidak terlalu terlambat dan tidak terlalu dini, jumlahnya sesuai dengan kebutuhan, dan terkirim ke tempat yang memang membutuhkan. Kekurangan atau kelebihan pasokan produk sama-sama berdampak negatif bagi supply chain. Kesalahan yang terjadi dalam memproduksi produk yang terlalu banyak atau terlalu sedikit (volume error) atau memproduksi jenis produk yang salah (mix error) menimbulkan masalah persediaan (Pujawan, 2005)

2.5 Model Deterioration Inventory 2.5.1 Model Perishable Product

Perishable product dapat diartikan sebagai benda atau bahan baku yang dapat berkurang nilai dan kualitasnya dengan cepat. Umumnya perishable product membutuhkan lead time yang pendek untuk menjamin kualitasnya.

Model persediaan produk yang tidak tahan lama merupakan model persediaan dimana perhitungan persediaannya tidak hanya berkurang karena permintaan saja tetapi juga karena kerusakan. Model yang digunakan ini mengacu pada model economic order quantity (EOQ) dimana kondisi dari sistemnya memiliki permintaan yang konstan dan produk mengalami kerusakan secara eksponensial. Beberapa bentuk kerusakan produk tersebut antara lain direct spoilage (membusuk), physical depletion (habis secara fisik) untuk cairan yang mudah menguap, atau deterioration (kemunduran) untuk komponen elektronik (Ghar,1963).

(16)

2.5.2 Model Integrasi Sistem Supply Chain

Berikut adalah grafik Inventory level on supply chain:

Gambar 2.3 Inventory level on supply chain

(17)

Persamaan model persediaan produk jadi pada pembeli untuk deterioration inventory adalah sebagai berikut (Rau dkk ,2003):

[ ] (2.1)

( ) ( ) (2.2)

[ ]

* ( ) + (2.3)

Persamaan tingkat persediaan bahan baku pada gudang produsen adalah sebagai berikut: (Rau dkk, 2003)

( )

(

) (2.4)

[ ] (2.5)

[ ] (2.6)

( ) [

] [

]

[

( ) ] [

( ) ]

(2.7)

Persamaan tingkat persediaan produk jadi pada produsen adalah sebagai berikut (Rau dkk, 2003):

(18)

[ ] (2.8)

( ( ( ) ) )

( ( ( ) ) ) (2.9)

Persamaan tingkat persediaan pada supplier adalah sebagai berikut (Rau dkk, 2003):

( ) (2.10)

(2.11)

( ) ( ( ) ) (2.12)

( ) ( ( ) ) (2.13)

( )

[ ( ) ( )

( ]

[ ( ) ( )] (2.14) Integrasi total biaya dari pembeli, produsen dan supplier persamaannya sebagai berikut (Rau dkk, 2003):

TC = TCB +TCPW + TCP +TCS (2.15)

Keterangan:

A : Biaya pesan produk jadi perpesanan untuk pembeli AA : Jumlah inventory produk jadi produsen pada T

D : Tingkat permintaan mingguan produk jadi pada pembeli FB : Biaya penerimaan produk jadi per penerimaan untuk pembeli

(19)

FP : Biaya pengiriman produk jadi per pengiriman untuk produsen FPW : Biaya penerimaan bahan baku per penerimaan untuk produsen FS : Biaya pengiriman bahan baku per pengiriman untuk supplier HB : Biaya simpan produk jadi per unit per waktu untuk pembeli HP : Biaya simpan produk jadi per unit per waktu untuk produsen HS : Biaya simpan bahan baku per unit perwaktu untuk supplier HPW : Biaya simpan bahan baku per unit waktu untuk gudang produsen IB (t) : Inventory level produk jadi pada waktu t untuk pembeli

Ipi (t) : Inventory level pada waktu t untuk produsen

IPW (t) : Inventory level bahan baku pada waktu t untuk gudang produsen IS (t) : Inventory level bahan baku pada waktu t untuk supplier

n : Jumlah pengiriman produk jadi dari produsen ke pembeli per siklus pesanan T

nP : Jumlah pengiriman produk jadi dari produsen ke pembeli selama T1 PB : Biaya deterioration unit produk jadi untuk pembeli

P : Tingkat produksi produk jadi pada produsen PP : Biaya deterioration unit produk jadi pada produsen PPW : Biaya deterioration unit bahan baku untuk produsen PS : Biaya deterioration unit bahan baku untuk supplier

qB : Ukuran lot produk jadi per pengiriman dari produser ke pembeli QB : Jumlah total pesanan produk jadi untuk pembeli per siklus T qP : Jumlah produk jadi yang diproduksi pada waktu t

qPW : Jumlah bahan baku dari supplier ke gudang produsen per pengiriman

(20)

qnPW : Jumlah pengiriman terakhir bahan baku dari supplier ke gudang produsen Qs : Jumlah pesanan total bahan baku untuk supplier per siklus T

QPW : Jumlah bahan baku dari luar supplier ke supplier per pengiriman QnPW : Jumlah bahan baku dari luar supplier ke supplier pengiriman terakhir S : Biaya pesan bahan baku per pesanan untuk supplier

SP : Biaya setup per setup untuk produsen t : Waktu perencanaan

t3 : Waktu produk dari titik np ke titik akhir produksi T1 : Waktu produksi produsen (T1 = npt + t3)

T2 : Waktu siklus supplier (T2 = (np + 1)t) TCB : Total biaya untuk pembeli

TCP : Total biaya untuk produsen

TCPW : Total biaya untuk gudang produsen TCS : Total biaya untuk supplier

θB : Deterioration rate produk jadi pada pembeli θP : Deterioration rate produk jadi pada produsen θPW : Deterioration rate bahan baku pada produsen θS : Deterioration rate bahan baku pada supplier 2.6 Simulasi

2.6.1 Definisi Simulasi

Menurut Kakiay (2003), mengemukakan bahwa simulasi adalah sebagai suatu sistem yang digunakan untuk memecahkan suatu sistem yang digunakan untuk memecahkan atau menguraikan persoalan-persoalan dalam kehidupan nyata

(21)

yang penuh dengan ketidakpastian dengan tidak atau menggunakan model tertentu dan lebih ditekankan pada pemakaian komputer untuk mendapatkan solusinya.

Menurut Law dan Kelton (1991), simulasi adalah sekumpulan metode dan aplikasi untuk menirukan atau mempresentasikan perilaku dari suatu sistem nyata, yang biasanya dilakukan pada komputer dengan menggunakan perangkat lunak tertentu.

Menurut Khosnevis (1994), simulasi merupakan proses aplikasi membangun model dari sistem nyata atau usulan sistem, melakukan eksperimen dengan model tersebut untuk menjelaskan perilaku sistem, mempelajari kinerja sistem atau untuk membangun sistem baru sesuai dengan kinerja yang diinginkan 2.6.2 Kelebihan dan Kekurangan Model Simulasi

Menurut Suryani (2006), simulasi mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan tersebut antara lain:

a. Tidak semua sistem dapat direpresentasikan dalam model matematis, simulasi merupakan alternatif yang tepat.

b. Dapat bereksperimen tanpa adanya resiko pada sistem nyata. Dengan simulasi memungkinkan untuk melakukan percobaan terhadap sistem tanpa harus menanggung resiko terhadap sistem yang berjalan.

c. Simulasi dapat mengestimasi kinerja sistem pada kondisi tertentu dan memberikan alternatif desain terbaik sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.

d. Simulasi memungkinkan untuk melakukan studi jangka panjang dalam waktu relatif singkat.

(22)

e. Dapat menggunakan input data bervariasi.

Menurut Suryani (2006), simulasi memiliki kekurangan antara lain:

a. Kualitas dan analisis model tergantung pada si pembuat model

b. Hanya mengestimasi karakteristik sistem berdasarkan masukan tertentu.

2.6.3 Simulasi Monte Carlo

Menurut Kakiay (2004), simulasi Monte Carlo dikenal juga dengan istilah Sampling Simulation atau Monte Carlo Sampling Technique. Sampling ini menggambarkan kemungkinan penggunaan data sampel dalam metode Monte Carlo dan juga sudah dapat diketahui atau diperkirakan distribusinya. Simulasi ini menggunakan data yang sudah ada (historical data) yang sebenarnya dipakai pada simulasi untuk tujuan lain. Dengan kata lain apabila menghendaki model simulasi yang mengikutsertakan inventory atau sampling dengan distribusi probabilitas yang dapat diketahui dan ditentukan, maka secara simulasi monte carlo ini dapat digunakan.

Ide dasar dari simulasi Monte Carlo ini adalah menggenerate atau menghasilkan suatu nilai untuk membentuk suatu model dari variabelnya dan dipelajari. Ada banyak sekali variabel-variabel didalam sistem nyata ini yang merupakan probabilitas secara alami dan yang mungkin ingin kita simulasikan.

Berikut adalah beberapa comtoh dari variabel-variabel tersebut:

a. Persediaan permintaan harian dan mingguan

b. Waktu menunggu untuk pemesanan persediaan sampai tiba ke kita c. Waktu diantara breakdown mesin

d. Waktu antar kedatangan di fasilitas pelayanan

(23)

e. Waktu pelayanan

f. Waktu untuk menyelesaikan suatu proyek g. Jumlah karyawan yang tidak hadir setiap harinya

Dasar dari simulasi Monte Carlo adalah percobaan dari peluang (probabilitas) elemen melalui penarikan contoh acak (inventory sampling).

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk melakukan simulasi Monte Carlo:

a. Membuat suatu distribusi probabilitas dari variabel pentingnya.

b. Kemudian menyusun distribusi probabilitas kumulatifnya dari setiap variabel yang berasal dari langkah a

c. Membuat suatu interval angka acak dari setiap variabelnya.

d. Menggenerate angka acak.

e. Dan terakhir lakukan simulasi secara berkala untuk percobaannya.

(24)

.

Gambar

Gambar 2.1 Proses dari supply chain dan 3 macam aliran yang dikelola  Gambar 2.1 Proses Supply Chain Management
Gambar 2.2 The integrated supply chain system (Rau dkk ,2003)  2.4  Persediaan Dalam Supply Chain Management
Gambar 2.3 Inventory level on supply chain

Referensi

Dokumen terkait

Supply chain Management diartikan sebagai rangkaian pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan pemasok, produsen, gudang dan toko secara efektif agar

Supply chain management (manajemen rantai pasokan) adalah seperangkat pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan pemasok, produsen , gudang , dan toko secara efisien ,

Supply Chain Management merupakan suatu pengontrolan kegiatan yang dalam hal ini untuk memperoleh barang mentah, yang di mana barang metah ini akan diproses menjadi

Kinerja gudang adalah suatu serangkaian kemampuan hasil dari pekerjaan yang dilakukan dalam fungsi gudang yang meliputi proses penerimaan, checking, controlling,

Menurut English (1999, p469) Data mart adalah sebuah subset data perusahaan beserta perangkat lunak untuk mengambil data dari sebuah gudang data atau tempat penyimpanan

Menurut Willem Siahaya, pengertian supply chain management adalah pengintegrasian sumber bisnis yang kompeten dalam penyaluran barang, mencaku perncanaan dan pengelolaan

Lebih lanjut Porter (2011) dalam bukunya yang berjudul Operation Management menjelaskan bahwa gudang atau warehouse memiliki fungsi jelas yaitu sebagai

Sedangkan supply chain management merupakan sebuah perencanaan , desain, dan pengendalian terhadap aliran informasi dan materi yang terdapat pada supply chain