7
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Skizofrenia
1. Definisi
Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat di bidang psikiatri, menyebabkan hendaya berat, tidak mampu mengenali realitas sehingga tidak mampu menjalankan kehidupan sehari-hari seperti orang normal, dengan perjalanan kronis ditandai dengan kekambuhan yang terjadi secara berulang (Ascher, et al., 2011).
Skizofrenia umumnya ditandai oleh gejala positif, seperti halusinasi dan waham, gejala negative seperti hilangnya motivasi dan kemiskinan pembicaraan, defisit kognitif, seperti masalah dalam perhatian, memori dan pemecahan masalah, serta kesulitan psikososial seperti kurangnya hubungan sosial, tidak bekerja, tingginya penyalahgunaan zat, peningkatan risiko tidak memiliki tempat tinggal dan menegangnya hubungan dalam keluarga (Saddock, et al., 2009).
Skizofrenia adalah istilah untuk menandakan adanya perpecahan (schism) antara pikiran, emosi, dan perilaku pada seseorang. Gejala fundamental spesifik untuk skizofrenia,
termasuk suatu gangguan pikiran yang ditandai dengan gangguan asosiasi, khususnya kelonggaran asosiasi. Gejala fundamental lainnya adalah gangguan afektif, autism dan ambivalensi (Kaplan dkk, 2010)
Dalam kriteria DSM-IV dijelaskan gejala karakteristik untuk skizofrenia harus meliputi dua atau lebih gejala yaitu: (1) waham, (2) halusinasi, (3) bicara terdisorganisasi, (4) perilaku terdisorganisasi atau katatonik jelas, dan (5) gejala negatif seperti pendataan afektif, alogia, atau avolition. Skizofrenia juga ditandai dengan adanya disfungsi sosial seperti: menurunnya pekerjaan, hubungan interpersonal ataupun intrapersonal.
Dapat disimpulkan bahwa skizofrenia merupakan gangguan psikososial yang ditandai dengan adanya deficit kognitif, pemecahan masalah, cara komunikasi dan interaksi dengan keluarga teman maupun orang lain.
2. Etiologi
Menurut Hawari (2006), mekanisme terjadinya skizofrenia dapat dibedakan menjadi organobiologik, psikodinamik, psikoreligius dan psikososial.
a. Organobiologik
Gangguan jiwa tidak terjadi dengan sendirinya, ada banyak faktor yang berperan serta bagi munculnya gejala-
gejala skizofrenia diantaranya faktor genetik (turunan/pembawa sifat), virus, system kekebalan tubuh dan mal nutrisi. Psikodinamika. Secara umum dan sederhana kejadian seseorang menderita skizofrenia dapat diuraikan yaitu seseorang yang sudah mempunyai bakat, kepribadian rentan, tekanan mental (stress psikososial) yang menimbulkan reaksi frustasi yang pada gilirannya akan jatuh sakit
b. Psikoreligius
Faktor kehidupan keagamaan orang tua, pengalaman agama yang fanatik, konflik yng timbul antara orang tua dan anak di dalam pendidikan agama dirumah, dan semua itu menjadi faktor penyebab timbulnya gejala skizofrenia.
c. Psikososial
Salah satu penyebab skizofrenia yaitu adanya stress psikososial yang terdiri dari masalah perkawinan, masalah orang tua, hubungan interpersonal (antar pribadi), pekerjaan, lingkungan hidup, keuangan, hukum perkembangan, penyakit fisik atau cidera dan faktor keluarga.
3. Gambaran klinis
Skizofrenia adalah penyakit kronis dengan gejala heterogen.
Skizofrenia dapat digolongkan pada tiga dimensi, yakni gejala
positif, gejala negatif, dan disorganisasi. Gejala positif meliputi, halusinasi, waham, gaduh gelisah, dan perilaku aneh serta bermusuhan. Gejala negative meliputi afek tumpul atau datar, menarik diri, berkurangnya motivasi, miskin kontak emosional, pasif, apatis, dan sulit berpikir abstrak. Gejala-gejala disorganisasi meliputi disorganisasi pembicaraan, disorganisasi perilaku, serta gangguan pemusatan perhatian, dan pengolahan informasi. Gejala- gejala ini juga dikaitkan dengan hendaya sosial dan pekerjaan pada pasien skizofrenia.
Meskipun gejala klinis skizofrenia beraneka ragam, berikut adalah gejala skizofrenia yang dapat ditemukan:
a. Gangguan pikiran
Biasanya ditemukan sebagai abnormalitas dalam bahasa, digresi berkelanjutan pada bicara, serta keterbatasan isi bicara dan ekspresi.
b. Delusi
Merupakan keyakinan yang salah berdasarkan pengetahuan yang tidak benar terhadap kenyataan yang tidak sesuai dengan latar belakang sosial dan kultural pasien.
c. Halusinasi
Persepsi sensoris dengan ketiadaan stimulus eksternal.
Halusinasi auditorik terutama suara dan sensasi fisik bizar merupakan halusinasi yang sering ditemukan.
d. Afek abnormal
Penurunan intensitas dan variasi emosional sebagai respon yang tidak serasi terhadap komunikasi.
e. Gangguan kepribadian motor
Adopsi posisi bizar dalam waktu yang lama, pengulangan, posisi yang tidak berubah, intens dan aktivitas yang tidak terorganisir atau penurunan pergerakan spontan dengan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar (WHO, 2003).
4. Prognosis
Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan. Onset setelah umur 40 tahun jarang terjadi. Prognosis untuk skizofrenia pada umumnya kurang begitu menggembirakan. Sekitar 25% pasien dapat pulih dari episode awal dan fungsinya dapat kembali pada tingkat premorbid (sebelum munculnya gangguan tersebut). Sekitar 25% tidak akan pernah pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk.
Sedangkan 50% berada diantaranya, ditandai dengan kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi dengan efektif kecuali untuk waktu yang singkat (Mahoney, 1994 dalam Arif, 2006).
5. Prevalensi
Menurut WHO (2001) saat ini didunia terdapat lebih dari 450 juta jiwa hidup dengan gangguan jiwa, dalam penelitian Lewis (2001) angka prevalensi gangguan jiwa skizofrenia di dunia berkisar 4 per mil, kemudian meningkat menjadi 5,3 per mil (Eric,2006). Sedangkan di Indonesia pada tahun 2007 prevalensi skizofrenia di Indonesia adalah 2 per mil kemudian menurut WHO prevalensi skizofrenia di Indonesia tahun 2013 meningkat menjadi 2,6 per mil pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Diantara penderita skizofrenia di seluruh dunia sekitar 20-50% telah melakukan percobaan bunuh diri dan 10% diantaranya meninggal karena bunuh diri. Angka kematian penderita skizofrenia ini 8 kali lebih tinggi daripada angka kematian penduduk pada umumnya (Hawari,2012:5). Dalam Riskesdas tahun 2013 prevalensi gangguan jiwa berat di Jawa Tengah mencapai angka 2,3 per mil.
Angka tersebut menempatkan provinsi Jawa Tengah dalam urutan ke-3 provinsi dengan jumlah gangguan jiwa terbesar setelah provinsi Aceh pada tahun 2013.
6. Klasifikasi
Menurut Maslim (2003), skizofrenia diklasifikasikan menjadi Sembilan tipe yaitu skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, skizofrenia katatonik, skizofrenia tak terinci, depresi pasca skizofrenia, skizofrenia residual, skizofrenia simpleks, skizofrenia lainnya dan skizofrenia yang tidak terdefinisi (YTT).
Beberapa tipe skizofrenia yang diidentifikasi berdasarkan variable klinik menurut kriteria ICD-10 antara lain sebagai berikut : a. Skizofrenia paranoid
Ciri utamanya adalah adanya waham kejar dan halusinasi auditori namun fungsi kognitif dan afek masih baik b. Skizofrenia hebefrenik
Ciri utamanya adalah pembicaraan yang kacau, tingkah laku kacau dan afek yang datar atau inappropriate.
c. Skizofrenia katatonik
Ciri utamanya adalah gangguan pada psikomotor yang dapat meliputi motoric immobility, aktivitas motoric berlebihan, negativism yang ekstrim serta gerakan yang tidak dikendalikan
d. Skizofrenia tak terinci
Gejala tidak memenuhi kriteria skizofrenia paranoid, hebefrenik maupun katatonik
e. Depresi pasca skizofrenia f. Skizofrenia residual
Paling tidak pernah mengalami satu episode skizofrenia sebelumnya dan saat ini gejala tidak menonjol
g. Skizofrenia simpleks h. Skizofrenia lainnya
i. Skizofrenia yang tak tergolongkan.
B. Grooming pada Aktivitas Perawatan Rambut
1. Definisi
Grooming merupakan penampilan diri seseorang yang
terjaga dan selalu rapi secara keseluruhan, dimulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Atau tindakan dimana seseorang akan bersih atau rapih tubuh mereka dalam memperhatikan beberapa cara berjalan, berpakaian yaitu bertindak sebagai undangan seperti itu, menunjukkan orang lain bahwa kita itu bersih dan rapih (Hendarto,dan Tulusharyono, 2002). Menurut Wursanto, 2006 grooming atau penampilan diri yaitu suatu penampilan seseorang yang dapat menggambarkan dan mencerminkan kepribadian seseorang, penampilan diri juga akan memberikan suatu kesan bagi orang lain.
Kesehatan rambut sangat penting diperhatikan karena jika rambut tidak diperlakukan secara baik dan tidak melakukan perawatan
/secara rutin maka dapat mengalami masalah rambut seperti, rambut kering, pecah-pecah sedangkan rambut yang kotor dan lepek menandakan seseorang kurang memperhatikan penampilan dan cenderung malas memperhatikan kebersihan dirinya.
Menyisir rambut merupakan salah satu aktivitas grooming. Wantah (2007) mengemukakan bahwa menyisir
rambut adalah mempertahankan rambut agar tetap kelihatan bersih dan rapi.
Dapat disimpulkan bahwa pengertian dari grooming dalam aktivitas perawatan rambut yaitu suatu penampilan seseorang yang menggambarkan kepribadiannya dalam hal ini yaitu perawatan rambut. Pada perawatan rambut ini tidak hanya menyisir rambut saja melainkan juga keramas.
2. Etiologi
Menurut Keliat, 2012 yang menyatakan bahwa pada pasien gangguann jiwa akan akan mengalami perubahan proses pikir yang menyebabkan kemunduran dalam menjalani kehidupan sehari-hari., hal ini ditandai dengan hilangnya
motivasi dan tanggung jawab. Selain itu, pasien cenderung apatis, menghindari kegiatan dan mengalami gangguan dalam penampilanKurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi akibat adanya proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri menurun.
Kurang perawatan diri tampak dari ketidak mampuan merawat kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias secara mandiri, dan toileting (Damaiyanti, 2008).
Pinuji (2009:132) menyatakan bahwa mencuci rambut sehari- hari harus dilakukan dengan benar karena merupakan langkah awal dalam melakukan perawatan rambut, hal yang perlu diperhatikan dalam melaukan perawatan rambut sehari- hari adalah jenis shampo yang tepat dan frekuensi melaukannya serta diiringi dengan pemakaian conditioner. Sementara itu, selain melakukan keramas dalam perawatan sehari-hari, perawatan rambut secara kering (dry treatment) juga harus dilakukan seperti yang dijelaskan Prihatin (2010) bahwa perawatan kulit kepala dan rambut secara kering (dry treatment) adalah perawatan rambut yang bertujuan untuk
memelihara agar kulit kepala dan rambut senantiasa dalam keadaan bersih dan sehat.
Menurut Ideawati (2001:125) menjelaskan bahwa
perawatan rambut berkala dilakukan dengan tujuan untuk memelihara kulit kepala dan rambut agar senantiasa dalam dalam keadaan bersih dan sehat, perawatan berkala dan teratur dapat mencegah kerontokan rambut, merangsang peredaran darah, menormalisasikan cara kerja kelenjar-kelenjar dan syaraf kulit kepala serta melepaskan ketegangan kulit kepala.
3. Tujuan perawatan rambut
Ambarawati & Sunarsih (2011), tujuan dilakukannya perawatan rambut adalah agar rambut tetap bersih, rapid an terpelihara, membantu memberikan stimulasi sirkulasi darah pada kulit kepala, mengkaji atau memonitor masalah-masalah pada rambut dan kulit kepala, memberikan perasaan nyaman, mencegah terjadinya sarang kutu/kotoran lain dan menambah percaya diri.
C. Percaya Diri
Menurut Iswidarmanjaya dan Agung, 2002 mengemukakan bahwa kepercayaan diri sebagai suatu perasaan yang berisi kekuatan, kemampuan, dan ketrampilan untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu yang dilandasi keyakinan untuk sukses.
Menurut Luxori, 2005 bahwa kepercayaan diri merupakan kontrol internal, perasaan akan adanya sumber kekuatan dalam diri,
sadar akan kemampuan-kemampuan dan bertanggung jawab terhadap keputusan- keputusan yang telah ditetapkannya.
Kepercayaan diri merupakan keyakinan dan harapan dan terbentuk tida instan, tetapi ada proses tertentu didalam pribadinya sehingga terjadilah
pembentukan rasa percaya diri. Terbentuknya rasa percaya diri yang kuat terjadi melalui proses sebagai berikut :
1. Terbentuknya kepribadian yang baik sesuai dengan proses perkembangan yang melahirkan kelebihan-kelebihan tertentu.
2. Pemahaman seseorang terhadap kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan melahirkan keyakinan kuat untuk bisa berbuat segala sesuatu dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihannya.
3. Pehamanan dan reaksi positif seseorang terhadap kelemahan- kelemahan yang dimilikinya agar tidak menimbulkan rasa rendah diri atau rasa sulit menyesuaikan diri.
4. Pengalaman didalam menjalani berbagai aspek kehidupan dengan menggunakan segala kelebihan yang ada pada dirinya.
Menurut Angelis, 2003, dalam mengembangkan percaya diri terdapat tiga aspek yaitu 1) tingkah laku, yang memiliki tiga indikator, melakukan sesuatu secara maksimal, mendapat bantuan dari orang lain, dan mampu menghadapi segala kendala, 2) emosi,
terdiri dari empat indikator, memahami perasaan sendiri, mengungkapkan perasaan sendiri, memperoleh kasih saying, dan perhatian disaat mengalami kesulitan, memahami manfaat apa yang dapat disumbangkan kepada orang lain, dan
3) spiritual, terdiri dari tiga indikator, memahami bahwa alam semesta adalah sebuah misteri, meyakini takdir Tuhan, dan mengagungkan Tuhan.
Dapat disimpulakan bahwa pengertian dari percaya diri yaitu rasa percaya terhadap kemampuan yang dimiliki diri sendiri serta pahamterhadap kelemahan dan kelebihan diri sendiri melalui proses belajar.
D. Kerangka Acuan
1. Definisi
Kerangka acuan kognitif perilaku merupakan menekankan perubahan pikiran yang dipercayai untuk menghasilkan perilaku spesifik atau mengemabngkan pengetahuan dasar untuk memecahkan permasalahan. Kerangka acuan kognitif perilaku dapat diterapkan pada pasien yang mempunyai level kognitif 5 dan 6 menurut Allen. Level 5 yaitu aksi eksplorasi yang berarti proses belajar dengan trial dan error problem solving, dapat melihat hasil tetapi antisipasi masih kurang, ADL dapat dilaukan dengan baik dan empati berkembang.
Sedangkan untuk level 6 yaitu aksi terprogram yang berarti disabilitas tidak ada, berfikir hipotetik, perilaku terorganisir dan instruksi verbal dan tertulis dimengerti.
Kerangka acuan kognitif perilau tidak hanya digunakan untuk psikososial tetapi, bisa digunakan untuk kasus anak, dewas dan lansia. Tidak hanya digunakan pada konteks dan setting psikososial tetapi juga pada intervensi yang bertujuan memperluas pengetahuan klien, memperkuat aplikasi pengetahuan dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Intervensi perlu melibatkan strategi verbal dan non-verbal. Tujuan intervensi adalah merubah pikiran seseorang yang akan merubah perilaku dan akhirnya meningkatkan fungsional keseharian dan self ofefficacy. (Dobson,K.S.
& Dozois,D.J.A. 2010) 2. Strategi
Strategi yang digunakan dalam kerangka acuan kognitif perilaku yaitu listening for must, pekerjaan rumah atau tugas, pengembangan pengetahuan lewat membaca, individu belajar haknya, penggunaan media film dan visual, model dan permainan peran, modeling and physical guidance, problem solving (Bruce & Borg, 1987).
Berikut penjelasan tentang strategi kerangka acuan kognitif perilaku:
a. Listening for must (mendengarkan apa yang harus dikerjakan) Tidak semua difokuskan pada “MUSTS” ataupun kepercayaannya akan tetapi mendengarkan pesan “MUSTS”.
Terapis mengidentifikasi apa yang harus dikerjakan dirumah atau ditempat kerja. Kemudian membantu klien melihat bagaimana
„MUSTS‟ tersebut mempunyai kontribusi terhadap perasaan klien.
b. Pekerjaan rumah atau tugas
Penggunaan strategi ini lebih sering digunakan daripada memberikan latihan verbal. Biasanya dapat diselesaikan dalam waktu relative singkat.
c. Pengembangan pengetahuan lewat membaca
Penggunaan strategi ini dapat berupa psikoedukasional, artikel pendek dan brosur.
d. Individu belajar haknya.
Strategi ini mengembangkan asertif dan identifikasi hak pribadi serta dengan model simbolik, peran lain dan instruksional.
Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghormati hak-hak serta perasaan pihak lain.
e. Penggunaan media film dan visual
Strategi ini menggunakan penayangan interaksi sosial dan perilaku untuk mensikapi tugas yang efektif, kemudian terapis menjelaskan, diskusi setelah melihat video , permainan peran sesuai dengan scenario yang dilihat sebagai model.
f. Model dan permainan peran
Dengan menggunakan role play atau permainan peran yang terdiri atas rehersal, modeling, coaching. Terapis berpartisipasi aktif kemudian klien mengulang baik secara verbal dan non verbal.
Kemudian terapis dank lien memberikan feedback.
g. Modeling and physical guidance
Strategi ini dengan menggunakan model kemudian klien mempraktikkan sampai dia sukses baru meningkatkan tahapan berikutnya dengan menggunakan bimbingan fisik.
h. Problem solving
Pada strategi ini klien mampu mengidentifikasi masalah, merasa memiliki masalah yaitu sadar perbedaan antara apa yang terjadi dengan apa yang seharusnya dengan mengukur perbedaan, merasa butuh dan punya akses sumber-sumber baik internal maupun eksternal.