32
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian berada di sub DAS Keduang bagian hulu DAS Bengawan Solo yang terletak di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dimulai Januari 2021 sampai dengan April 2021 sesuai pada Tabel 1.
Tabel 1. Rincian Waktu Penelitian
No. Kegiatan 2020 2021
A S O N D J F M A M J J A S O 1. Penentuan judul,
studi literatur dan penyusunan
proposal 2. Seminar
proposal 3. Pengumpulan
data sekunder 4. Pengolahan citra
satelit 5. Uji akurasi peta
penggunaan lahan dan pengambilan
data lapangan 6. Survei kuesioner
dan wawancara
7. Analisis data 8. International
Conference 9. Seminar hasil 10. Sidang tesis 11. Penulisan tesis
B. Bahan dan Alat 1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Landsat 7 ETM akuisisi tanggal 20 Oktober 2009 dan Landsat 8 OLI TIRS akuisisi tanggal 23 Agustus 2020 masing-masing dengan path/row 119/065 dan resolusi 30 m
b. Digital Elevation Model Shuttle Radar Terrain Mission (DEM SRTM) sub DAS Keduang resolusi 30 m
c. Data peta jenis tanah sub DAS Keduang
d. Data Digital Soil Map of the World (DSMW) dari Food and Agriculture Organization (FAO)
e. Data curah hujan di sub DAS Keduang tahun 2009-2020
f. Peta rencana pola ruang RTRW Kabupaten Wonogiri 2020-2040 g. Peta administrasi Kabupaten Wonogiri
h. Peta batas sub DAS Keduang 2. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Buku, alat tulis dan kamera yang digunakan untuk dokumentasi
b. Laptop beserta perangkat lunak yang terdiri atas ArcGIS 10.3, ENVI 5.1 Microsoft Word, dan Excel yang digunakan untuk mengolah data dan membuat laporan penelitian
c. Kuesioner dan panduan wawancara
C. Tata Laksana Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan metode survei. Pendekatan kuantitatif untuk menjelaskan fenomena atau hubungan antar fenomena yang diteliti secara sistematis tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap aliran permukaan dan erosi. Pendekatan kualitatif digunakan untuk analisis tingkat partisipasi masyarakat terhadap konservasi di sub DAS Keduang.
2. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari observasi langsung di lapangan terkait penggunaan lahan yang dipilih secara sengaja berdasarkan aksebilitas di lapangan, sementara tingkat partisipasi masyarakat terhadap konservasi diperoleh dengan kuesioner dan wawancara. Untuk data sekunder diperoleh dari instansi/lembaga terkait.
Rincian data primer dan sekunder dalam penelitian ini seperti yang tersaji pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis dan Sumber Data
No Data Jenis data Sumber data
1. Citra digital Landsat tahun 2009 dan 2020
Sekunder United States Geological Survey (USGS)
2. Data DEM SRTM sub DAS Keduang
Sekunder United States Geological Survey (USGS)
3. Peta jenis tanah sub DAS Keduang
Sekunder Kanwil BPN Provinsi Jawa Tengah
4. Data DSMW Sekunder FAO
5. Data curah hujan di wilayah sub DAS Keduang tahun 2009-2020.
Sekunder BPDAS KLHK, BBWS Bengawan Solo Kementrian PUPR dan BMKG.
6. RTRW Kabupaten Wonogiri 2020-2040
Sekunder Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Wonogiri (Dipser KKP) Kabupaten Wonogiri
7. Peta administrasi Jawa Tengah
Sekunder Badan Informasi Geospasial (BIG)
8. Peta batas sub DAS Keduang
Sekunder Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Solo 9. Data penggunaan
lahan
Primer Observasi lapangan 10. Data partisipasi
masyarakat
Primer Kuesioner dan wawancara
3. Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahapan. Tahapan setiap penelitian ini dijelaskan pada Tabel 3.
Tabel 3. Tahapan Penelitian No Rumusan
Masalah
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
a. Bagaimana perubahan
penggunaan lahan di sub DAS Keduang tahun 2009-2020?
Observasi lapangan dan dokumentasi
dengan cara
mengunduh citra satelit dari website USGS
Analisis dengan Maximum Likelihood Classification (MLC) dan Overlay (Intersection) menggunakan ArcGIS b. Bagaimana
dampak perubahan penggunaan lahan terhadap aliran permukaan dan erosi di sub DAS Keduang?
Dokumentasi dari lembaga terkait baik secara langsung maupun didapatkan secara daring melalui website
Analisis aliran permukaan dengan persamaan Rasional.
Analisis erosi dengan persamaan USLE di ArcGIS
c. Bagaimana tingkat partisipasi
masyarakat terhadap
konservasi di sub DAS Keduang?
Kuesioner dan Wawancara
Analisis deskriptif kalitatif
d. Bagaimana arahan konservasi lahan di sub DAS Keduang?
Dokumentasi dari lembaga terkait secara langsung
Analisis dengan Overlay (Intersection)
menggunakan ArcGIS
Penjelasan secara lebih rinci pada setiap tahapan penelitian tersebut adalah sebagai berikut.
a. Identifikasi Perubahan Penggunaan Lahan di sub DAS Keduang Tahun 2009-2020.
Identifikasi perubahan penggunaan lahan di sub DAS Keduang diawali dengan klasifikasi penggunaan lahan tahun 2009 dan 2020 dari citra Landsat dengan metode Supervised Maximum Likelihood Classification (MLC). Klasifikasi MLC sangat bergantung pada nilai piksel yang sudah dikategorikan obyeknya dalam training sampel untuk setiap jenis penggunaan lahan. Klasifikasi jenis penggunaan lahan di sub DAS Keduang pada penelitian ini mengacu pada hasil survei peneliti dan SNI 7645:2010 tentang Klasifikasi Penutupan Lahan. Jenis penggunaan lahan diklasifikasikan menjadi 8 yaitu hutan, badan air,
lahan terbangun, semak belukar, sawah basah, sawah kering, kebun campuran dan tegalan. Kemudian hasil klasifikasi dilakukan uji akurasi mengunakan data hasil observasi lapangan dan citra satelit resolusi tinggi untuk mengetahui apakah hasil klasifikasi dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Syarat minimal overall accuracy yang dipersyaratkan oleh USGS adalah >85%.
Menurut Danoedoro (2015) jumlah titik sampel yang direkomendasikan untuk uji akurasi dengan klasifikasi penggunaan lahan dibawah 13 jenis adalah 8n dengan n banyaknya jenis penggunaan lahan. Sampel titik penggunaan lahan untuk uji akurasi didasarkan pada jenis penggunaan lahan dan faktor aksesibilitas di lapangan. Langkah selanjutnya untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan yang terjadi dilakukan analisis overlay (intersection). Alur dalam pembuatan peta penggunaan lahan dan uji akurasi dapat dilihat pada Gambar 10 dibawah ini.
Koreksi Radiometrik dan Atmosferik (FLAASH)
Komposite Band
Klasifikasi Citra (MLC)
Tidak Clip Area
Citra Landsat
Batas sub DAS Keduang
Buku Pedoman (LAPAN, 2015)
Overall Accuracy
>85%
Training Area
Ya
Hasil observasi Penggunaan Lahan
Peta Penggunaan Lahan 2009
Peta Penggunaan Lahan 2020
Overlay (Intersection)
Perubahan Penggunaan Lahan 2009-2020
Gambar 10. Alur Pembuatan Peta Penggunaan Lahan dan Uji Akurasi
Langkah-langkah pembuatan peta penggunaan lahan adalah sebagai berikut.
1) Koreksi radiometrik dan atmosferik citra Landsat menggunakan metode FLAASH (Fast Line of sight Atmospheric Analysis of Spectral Hypercubes). Dilakukan untuk memperbaiki nilai piksel sesuai dengan nilai pantulan sebenarnya dengan mempertimbangkan faktor gangguan atmosfer sebagai sumber kesalahan
2) Composite band citra Landsat
3) Memotong citra sesuai Area of Interest (AoI)
4) Membuat training sampel setiap penggunaan lahan. Interpretasi piel menjadi penggunaan lahan dibantu dengan hasil observasi lapangan 5) Klasifikasi citra dengan metode MLC mengikuti prosedur
“Pedoman pengolahan data satelit multispektral secara digital supervised untuk klasifikasi” yang dikeluarkan oleh LAPAN tahun 2015
6) Uji akurasi dengan confusion matrix
7) Penentuan overall accuracy (OA) dengan confusion matrix.
Confusion matrix sudah banyak digunakan dalam banyak penelitian untuk uji akurasi peta penggunana lahan hasil klasifikasi citra satelit (Congalton, 1991; Foody, 2008; Sarkar, 2018).
𝑂𝐴 = (𝛴𝑖=1 𝑋𝑖𝑖
𝑁 )𝑥100% ... (6) Keterangan :
N = Banyaknya piksel dalam sampel
Xii = Nilai diagonal matrik baris ke-i dan kolom ke-i
8) Penentuan perubahan penggunaan lahan 2009-2020 dengan overlay (intersection)
b. Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Aliran Permukaan dan Erosi di sub DAS Keduang
1) Aliran Permukaan
Pada penelitian ini analisis aliran permukaan menggunakan metode rasional yang dikembangkan oleh United State Soil Consevation Service (USSCS). Alur perhitungan aliran permukan dengan metode rasional disajikan pada Gambar 11. Persamaan metode rasional sebagai berikut (Thompson, 2006).
𝑄 = 0,287 𝐶 𝑥 𝐼 𝑥 𝐴 ... (7) Keterangan :
0,287 = Konstanta kedalam satuan metrik Q = Debit aliran permukaan (m3/s) C = Koefisien aliran permukaan I = Intensitas hujan (mm/jam) A = Luas wilayah DAS (km2)
Koefisien Aliran Permukaan
Intensitas Curah Hujan
Luas Area Peta Penggunaan
Lahan
Data Hujan Harian Maximum
Masukan Nilai C sebagai atribut
Metode
Monobe Tc: Kirpich
Aliran Permukaan
Metode Polygon Thiessen Data Hujan Harian
Maximum Wilayah
Gambar 11. Alur Perhitungan Aliran Permukaan (a). Koefisien Aliran Permukaan (C)
Nilai koefisien aliran permukaan didasarkan pada peta penggunaan lahan hasil klasifikasi dari citra Landsat. Besarnya nilai koefisien aliran permukaan dapat diketahui dengan persamaan berikut ini.
𝐶 = ∑∑𝑖𝑛=1𝐶𝑖𝐴𝑖
𝑖 𝐴𝑖
𝑛=1 ... (8) Keterangan :
C = Koefisien aliran permukaan
Ci = Koefisien aliran permukaan tiap penggunaan lahan Ai = Luas tiap penggunaan lahan (km2 atau ha)
Nilai Ci merupakan nilai koefisien aliran permukaan pada masing-masing jenis penggunaan lahan dengan luas wilayah Ai.
Luas wilayah Ai diketahui dengan menggunakan software ArcGIS. Nilai Ci untuk setiap jenis penggunaan lahan di Sub DAS Keduang mengacu pada penelitian Hastono et al., (2012) seperti tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4. Nilai C Setiap Jenis Penggunaan Lahan Jenis Penggunaan Lahan Nilai C
Hutan 0,1
Semak belukar 0,3
Lahan terbangun 0,4 Sawah basah (irigrasi) 0,21 Sawah kering (tadah hujan) 0,21
Kebun campuran 0,15
Tegalan 0,3
(b). Intensitas Hujan (I)
Intensitas hujan (I) adalah tinggi curah hujan dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam satuan mm/jam. Untuk mengetahui intensitas curah hujan terlebih dahulu dihitung hujan harian maksimum wilayah (R24). Perhitungan dilakukan dengan cara interpolasi hujan harian maksimum setiap stasiun hujan menggunakan metode poligon Thiessen sesuai yang ditunjukkan pada persamaan dibawah ini.
𝑅24= ∑𝑖𝑥=1∑ 𝑅𝑥𝐴𝑥
𝑖 𝐴𝑥
𝑥=1 ... (9) Keterangan:
R24 = Hujan wilayah (mm) Rx = Hujan pada stasiun x (mm)
Ax = Luas yang diwakili oleh stasiun x (km2 atau ha)
Intensitas hujan kemudian ditentukan menggunakan metode Mononobe (Madhatillah dan Har, 2020) dengan persamaan berikut ini.
𝐼 = 𝑅24
24 (24
𝑇𝑐)
2⁄3
... (10) Keterangan :
I = Intensitas hujan selama time of concentration (mm/jam)
R = Hujan harian maksimum dalam 1 tahun (mm) Tc = Time of concentration (jam)
Nilai time of concentration (Tc) dapat ditentukan dengan persamaan Kirpich sebagai berikut.
𝑇𝑐 = 0.01947 𝐿0.77𝑆−0.385 ... (11) Keterangan :
Tc = Time of concentration (jam) L = Panjang sungai utama (m)
S = Kemiringan DAS (m). Didapatkan dari perhitungan beda ketinggian titik terjauh sungai utama dan outlet dibagi panjang sungai utama
(c). Luas Wilayah DAS (A)
Penentuan luas wilayah DAS (A) menggunakan peta sub DAS Keduang dengan bantuan ArcGIS. Luas wilayah dinyatakan dalam satuan km2.
2) Prediksi Erosi
Prediksi erosi pada penelitian ini menggunakan metode USLE yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith pada tahun 1978 dengan alur seperti pada Gambar 12. Berikut merupakan persamaan USLE untuk menghitung erosi (A) (Belasri dan Lakhouili, 2016).
𝐴 = 𝑅 𝑥 𝐾 𝑥 𝐿𝑆 𝑥 𝐶𝑃 ... (12) Keterangan :
A = Jumlah rata-rata tanah yang hilang setiap tahun (ton/ha/th) R = Faktor erosivitas curah hujan (MJ.mm/th)
K = Faktor erodibilitas tanah (ton/MJ.mm) LS = Faktor panjang dan kemiringan lereng CP = Faktor pengelolaan tanaman dan konservasi
Perhitungan prediksi erosi memanfaatkan software ArcGIS.
Perhitungan prediksi erosi dilakukan setelah semua faktor R, K, LS, CP selesai dihitung. Prediksi erosi USLE dihitung dengan overlay, kemudian menggunakan tools calculator pada attribute table yang berada pada ArcGIS.
Curah Hujan
Tahunan DEM SRTM Peta Penggunaan
Lahan
Hitung R (Bols)
Faktor (LS) Faktor (CP) Hujan Wilayah
(Poligon Thiessen)
Faktor (K)
Erosi (A)
Masukan nilai CP sebagai atribut
Faktor (R)
DSMW
Hitung K (Williams)
Klasifikasi Kelerengan (RLKT Dephut
1986)
Masukan nilai LS sebagai atribut Masukan nilai
sebagai atribut
Tingkat Bahaya Erosi (TBE)
Gambar 12. Alur Prediksi Erosi Metode USLE
Langkah-langkah secara lebih rinci prediksi erosi metode USLE adalah sebagai berikut.
(a). Faktor Erosivitas Curah Hujan (R)
Faktor erosivitas curah hujan (R) adalah kemampuan untuk menimbulkan erosi. Faktor (R) dihitung menggunakan data curah hujan tahunan. Perhitungan faktor (R) mengggunakan persamaan Bols (Teh, 2011), berikut adalah persamaan untuk menentukan nilai erosivitas curah hujan (R).
𝑅 = 2,5 𝑃2
100 (0,073 𝑃+0,73) ... (13)
Keterangan :
R = Erosivitas tahunan (MJ.mm/tahun) P = curah hujan tahunan (mm/tahun)
Penentuan erosivitas dilakukan dengan cara menghitung rata-rata hujan tahunan (P) pada setiap lokasi stasiun hujan kemudian menghitung nilai erosivitas setiap lokasi stasiun hujan dengan persamaan Bols. Untuk mengetahui sebaran faktor erosivitas curah hujan secara spasial pada daerah penelitian
maka dilakukan interpolasi nilai R setiap stasiun pengukuran curah hujan dengan metode poligon Thiessen.
(b). Faktor Erodibilitas Tanah (K)
Erodibilitas tanah (K) menyatakan kepekaan suatu tanah terhadap erosi. Semakin kecil nilai (K) berarti tanah tersebut relatif tahan terhadap erosi. Sebaliknya semakin besar nilai (K) berarti tanah lebih rentan terhadap erosi. Nilai erodibilitas tanah (K) pada penelitian ini dihitung menggunakan data DSMW yang dikeluarkan oleh FAO dengan persamaan yang dikembangkan oleh Williams (Wawer et al., 2005).
𝐾 = 𝑓𝑐𝑠𝑎𝑛𝑑 𝑥 𝑓𝑐𝑙−𝑠𝑖 𝑥 𝑓𝑜𝑟𝑔𝑐 𝑥 𝑓ℎ𝑖𝑠𝑎𝑛𝑑 ... (14) dengan,
𝑓𝑐𝑠𝑎𝑛𝑑 = (0.2 + 0.3 𝑒𝑥𝑝 [−0.256. 𝑚𝑠 (1 −𝑚𝑠𝑖𝑙𝑡 100)]) 𝑓𝑐𝑙−𝑠𝑖= ( 𝑚𝑠𝑖𝑙𝑡
𝑚𝑐+ 𝑚𝑠𝑖𝑙𝑡
)
0.3
𝑓𝑜𝑟𝑔𝑐= (1 − 0.25 𝑜𝑟𝑔𝐶
𝑜𝑟𝑔𝐶 + 𝑒𝑥𝑝[3.72 − 2.95 𝑜𝑟𝑔𝐶])
𝑓ℎ𝑖𝑠𝑎𝑛𝑑 = (1 − 0.7 (1 − 𝑚𝑠
100) (1 − 𝑚𝑠
100) + 𝑒𝑥𝑝 [−5.51 + 22.9 (1 − 𝑚𝑠 100)])
Keterangan :
ms = Kandungan fraksi pasir (%) msilt = Kandungan fraksi silt (%) mc = Kandungan fraksi liat (%),
orgC = Kandungan karbon organik (%).
(c). Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)
Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) ditentukan menggunakan data DEM SRTM dari USGS. Data DEM SRTM diklasifikasikan menjadi 5 kelas lereng dengan mengikuti pedoman Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan tahun 1986. Kemudian nilai LS mengacu pada penelitian Nugraheni et al., (2013);
Simanjuntak et al., (2017) seperti pada Tabel 5 dimasukan sebagai atribut dengan ArcGIS.
Tabel 5. Penilaian Kelas Lereng dan Faktor LS Kelas Lereng Kemiringan Lereng (%) Nilai LS
I 0-8 0,40
II 8-15 1,40
III 15-25 3,10
IV 25-40 6,80
V > 40 9,50
(d). Faktor Pengelolaan Tanaman dan Konservasi (CP)
Pengelolaan tanaman dan praktek konservasi (CP) pada penelitian ini didasarkan pada penggunaan lahan hasil klasifikasi citra Landsat. Nilai faktor pengelolaan tanaman dan praktek konservasi (CP) dalam penelitian ini digabungkan menjadi satu yakni berdasarkan jenis penggunaan lahan.
Tabel 6. Nilai CP Setiap Jenis Penggunaan Lahan No Jenis Penggunaan Lahan Nilai CP
1. Hutan 0,001
2. Semak belukar 0,05
3. Sawah irigasi (basah) 0,03 4. Sawah tadah hujan (kering) 0,03
5. Kebun campuran 0,12
6. Lahan terbangun 0,7
7. Tegalan 0,28
8. Badan air 0
Dalam penelitian ini, faktor CP mengacu pada (JICA, 2007;
Taslim et al., 2019a, 2019b) seperti yang disajikan pada Tabel 6. Nilai CP kemudian dimasukkan sebagai atribut pada peta penggunaan lahan menggunakan software ArcGIS.
(e). Tingkat Bahaya Erosi (TBE)
TBE adalah perkiraan jumlah tanah yang hilang maksimum yang akan terjadi pada suatu lahan, bila pengelolaan tanaman dan
tindakan konservasi tanah tidak mengalami perubahan. Setelah memperoleh perhitungan erosi menggunakan metode USLE, selanjutnya dilakukan klasifikasikan secara spasial kedalam TBE untuk melihat sebaran erosi. Klasifikasi nilai TBE mengacu Permenhut RI No. P.32/Menhut-II/2009; Taslim et al., (2019b) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 7.
Tabel 7. Kategori TBE Kelas
TBE
Kehilangan tanah (ton/ha/th)
Klasifikasi
1 0-15 Sangat Ringan
2 15-60 Ringan
3 60-180 Sedang
4 180-480 Berat
5 > 480 Sangat Berat
c. Partisipasi Masyarakat Terhadap Konservasi
Partisipasi masyarakat terkait konservasi digali dengan metode kuesioner dan wawancara. Pada metode tersebut harus ditentukan populasi dan sampel responden. Populasi merupakan wilayah yang terdiri dari objek maupun subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada di wilayah sub DAS Keduang.
Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi sehingga jumlah sampel yang diambil harus dapat mewakili populasi (Sugiyono, 2016).
Pengambilan sampel responden menggunakan teknik purposive sampling dengan menetapkan ciri khusus sehingga dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini.
Kriteria responden adalah masyarakat dengan usia ≥30 tahun dan waktu tinggal ≥10 tahun. Kriteria tersebut ditetapkan dengan harapan responden memahami kondisi wilayah tersebut. Jumlah sampel dalam penelitian ini ditetapkan minimal 30 responden. Menurut Sugiyono (2016) jumlah sampel minimal 30 sudah dikatakan layak. Selanjutnya
dilakukan analisis deskriptif tingkat partisipasi masyarakat terhadap konservasi.
d. Arahan Konservasi Lahan
Arahan konservasi lahan mengacu pada teknik konservasi dan rehabilitasi. Sebelumnya dilakukan terlebih dahulu analisis kesesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW. RTRW merupakan landasan hukum yang mengatur pola ruang sehingga harus dilihat posisi kesesuaian penggunaan lahan exsisting terhadap RTRW. Analisis dilakukan dengan overlay (intersetion) peta penggunaan lahan sub DAS Keduang existing tahun 2020 dengan peta RTRW Kabupaten Wonogiri 2020-2040.
Hasil analisis akan menghasilkan tiga jenis kesesuaian yaitu sesuai, tidak sesuai dan belum sesuai. Kondisi sesuai adalah penggunaan lahan yang ada sudah sesuai dengan apa yang direncanakan pada RTRW dan harus dipertahankan agar tidak berubah. Kondisi tidak sesuai berarti penggunanaan lahan tidak sesuai dengan RTRW dan tidak memungkinkan untuk diubah lagi berdasarkan pertimbangan penggunaan lahan yang irreversible (sulit/tidak dapat diubah) baik terkait biaya maupun upaya yang dibutuhkan. Kondisi belum sesuai adalah penggunaan lahan belum sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, tetapi kemungkinan besar masih bisa diubah dan disesuaikan dengan RTRW.
Arahan konservasi lahan difokuskan dengan cara konservasi vegetatif dan mekanik dengan mempertimbangkan tingkat partisipasi dan keinginan masyarakat.