• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III. METODE PENELITIAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

32

BAB III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian berada di sub DAS Keduang bagian hulu DAS Bengawan Solo yang terletak di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dimulai Januari 2021 sampai dengan April 2021 sesuai pada Tabel 1.

Tabel 1. Rincian Waktu Penelitian

No. Kegiatan 2020 2021

A S O N D J F M A M J J A S O 1. Penentuan judul,

studi literatur dan penyusunan

proposal 2. Seminar

proposal 3. Pengumpulan

data sekunder 4. Pengolahan citra

satelit 5. Uji akurasi peta

penggunaan lahan dan pengambilan

data lapangan 6. Survei kuesioner

dan wawancara

7. Analisis data 8. International

Conference 9. Seminar hasil 10. Sidang tesis 11. Penulisan tesis

B. Bahan dan Alat 1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Landsat 7 ETM akuisisi tanggal 20 Oktober 2009 dan Landsat 8 OLI TIRS akuisisi tanggal 23 Agustus 2020 masing-masing dengan path/row 119/065 dan resolusi 30 m

(2)

b. Digital Elevation Model Shuttle Radar Terrain Mission (DEM SRTM) sub DAS Keduang resolusi 30 m

c. Data peta jenis tanah sub DAS Keduang

d. Data Digital Soil Map of the World (DSMW) dari Food and Agriculture Organization (FAO)

e. Data curah hujan di sub DAS Keduang tahun 2009-2020

f. Peta rencana pola ruang RTRW Kabupaten Wonogiri 2020-2040 g. Peta administrasi Kabupaten Wonogiri

h. Peta batas sub DAS Keduang 2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Buku, alat tulis dan kamera yang digunakan untuk dokumentasi

b. Laptop beserta perangkat lunak yang terdiri atas ArcGIS 10.3, ENVI 5.1 Microsoft Word, dan Excel yang digunakan untuk mengolah data dan membuat laporan penelitian

c. Kuesioner dan panduan wawancara

C. Tata Laksana Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan metode survei. Pendekatan kuantitatif untuk menjelaskan fenomena atau hubungan antar fenomena yang diteliti secara sistematis tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap aliran permukaan dan erosi. Pendekatan kualitatif digunakan untuk analisis tingkat partisipasi masyarakat terhadap konservasi di sub DAS Keduang.

2. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari observasi langsung di lapangan terkait penggunaan lahan yang dipilih secara sengaja berdasarkan aksebilitas di lapangan, sementara tingkat partisipasi masyarakat terhadap konservasi diperoleh dengan kuesioner dan wawancara. Untuk data sekunder diperoleh dari instansi/lembaga terkait.

(3)

Rincian data primer dan sekunder dalam penelitian ini seperti yang tersaji pada Tabel 2.

Tabel 2. Jenis dan Sumber Data

No Data Jenis data Sumber data

1. Citra digital Landsat tahun 2009 dan 2020

Sekunder United States Geological Survey (USGS)

2. Data DEM SRTM sub DAS Keduang

Sekunder United States Geological Survey (USGS)

3. Peta jenis tanah sub DAS Keduang

Sekunder Kanwil BPN Provinsi Jawa Tengah

4. Data DSMW Sekunder FAO

5. Data curah hujan di wilayah sub DAS Keduang tahun 2009-2020.

Sekunder BPDAS KLHK, BBWS Bengawan Solo Kementrian PUPR dan BMKG.

6. RTRW Kabupaten Wonogiri 2020-2040

Sekunder Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Wonogiri (Dipser KKP) Kabupaten Wonogiri

7. Peta administrasi Jawa Tengah

Sekunder Badan Informasi Geospasial (BIG)

8. Peta batas sub DAS Keduang

Sekunder Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Solo 9. Data penggunaan

lahan

Primer Observasi lapangan 10. Data partisipasi

masyarakat

Primer Kuesioner dan wawancara

3. Tahapan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahapan. Tahapan setiap penelitian ini dijelaskan pada Tabel 3.

(4)

Tabel 3. Tahapan Penelitian No Rumusan

Masalah

Teknik

Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

a. Bagaimana perubahan

penggunaan lahan di sub DAS Keduang tahun 2009-2020?

Observasi lapangan dan dokumentasi

dengan cara

mengunduh citra satelit dari website USGS

Analisis dengan Maximum Likelihood Classification (MLC) dan Overlay (Intersection) menggunakan ArcGIS b. Bagaimana

dampak perubahan penggunaan lahan terhadap aliran permukaan dan erosi di sub DAS Keduang?

Dokumentasi dari lembaga terkait baik secara langsung maupun didapatkan secara daring melalui website

Analisis aliran permukaan dengan persamaan Rasional.

Analisis erosi dengan persamaan USLE di ArcGIS

c. Bagaimana tingkat partisipasi

masyarakat terhadap

konservasi di sub DAS Keduang?

Kuesioner dan Wawancara

Analisis deskriptif kalitatif

d. Bagaimana arahan konservasi lahan di sub DAS Keduang?

Dokumentasi dari lembaga terkait secara langsung

Analisis dengan Overlay (Intersection)

menggunakan ArcGIS

Penjelasan secara lebih rinci pada setiap tahapan penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

a. Identifikasi Perubahan Penggunaan Lahan di sub DAS Keduang Tahun 2009-2020.

Identifikasi perubahan penggunaan lahan di sub DAS Keduang diawali dengan klasifikasi penggunaan lahan tahun 2009 dan 2020 dari citra Landsat dengan metode Supervised Maximum Likelihood Classification (MLC). Klasifikasi MLC sangat bergantung pada nilai piksel yang sudah dikategorikan obyeknya dalam training sampel untuk setiap jenis penggunaan lahan. Klasifikasi jenis penggunaan lahan di sub DAS Keduang pada penelitian ini mengacu pada hasil survei peneliti dan SNI 7645:2010 tentang Klasifikasi Penutupan Lahan. Jenis penggunaan lahan diklasifikasikan menjadi 8 yaitu hutan, badan air,

(5)

lahan terbangun, semak belukar, sawah basah, sawah kering, kebun campuran dan tegalan. Kemudian hasil klasifikasi dilakukan uji akurasi mengunakan data hasil observasi lapangan dan citra satelit resolusi tinggi untuk mengetahui apakah hasil klasifikasi dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Syarat minimal overall accuracy yang dipersyaratkan oleh USGS adalah >85%.

Menurut Danoedoro (2015) jumlah titik sampel yang direkomendasikan untuk uji akurasi dengan klasifikasi penggunaan lahan dibawah 13 jenis adalah 8n dengan n banyaknya jenis penggunaan lahan. Sampel titik penggunaan lahan untuk uji akurasi didasarkan pada jenis penggunaan lahan dan faktor aksesibilitas di lapangan. Langkah selanjutnya untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan yang terjadi dilakukan analisis overlay (intersection). Alur dalam pembuatan peta penggunaan lahan dan uji akurasi dapat dilihat pada Gambar 10 dibawah ini.

(6)

Koreksi Radiometrik dan Atmosferik (FLAASH)

Komposite Band

Klasifikasi Citra (MLC)

Tidak Clip Area

Citra Landsat

Batas sub DAS Keduang

Buku Pedoman (LAPAN, 2015)

Overall Accuracy

>85%

Training Area

Ya

Hasil observasi Penggunaan Lahan

Peta Penggunaan Lahan 2009

Peta Penggunaan Lahan 2020

Overlay (Intersection)

Perubahan Penggunaan Lahan 2009-2020

Gambar 10. Alur Pembuatan Peta Penggunaan Lahan dan Uji Akurasi

Langkah-langkah pembuatan peta penggunaan lahan adalah sebagai berikut.

1) Koreksi radiometrik dan atmosferik citra Landsat menggunakan metode FLAASH (Fast Line of sight Atmospheric Analysis of Spectral Hypercubes). Dilakukan untuk memperbaiki nilai piksel sesuai dengan nilai pantulan sebenarnya dengan mempertimbangkan faktor gangguan atmosfer sebagai sumber kesalahan

2) Composite band citra Landsat

3) Memotong citra sesuai Area of Interest (AoI)

(7)

4) Membuat training sampel setiap penggunaan lahan. Interpretasi piel menjadi penggunaan lahan dibantu dengan hasil observasi lapangan 5) Klasifikasi citra dengan metode MLC mengikuti prosedur

“Pedoman pengolahan data satelit multispektral secara digital supervised untuk klasifikasi” yang dikeluarkan oleh LAPAN tahun 2015

6) Uji akurasi dengan confusion matrix

7) Penentuan overall accuracy (OA) dengan confusion matrix.

Confusion matrix sudah banyak digunakan dalam banyak penelitian untuk uji akurasi peta penggunana lahan hasil klasifikasi citra satelit (Congalton, 1991; Foody, 2008; Sarkar, 2018).

𝑂𝐴 = (𝛴𝑖=1 𝑋𝑖𝑖

𝑁 )𝑥100% ... (6) Keterangan :

N = Banyaknya piksel dalam sampel

Xii = Nilai diagonal matrik baris ke-i dan kolom ke-i

8) Penentuan perubahan penggunaan lahan 2009-2020 dengan overlay (intersection)

b. Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Aliran Permukaan dan Erosi di sub DAS Keduang

1) Aliran Permukaan

Pada penelitian ini analisis aliran permukaan menggunakan metode rasional yang dikembangkan oleh United State Soil Consevation Service (USSCS). Alur perhitungan aliran permukan dengan metode rasional disajikan pada Gambar 11. Persamaan metode rasional sebagai berikut (Thompson, 2006).

𝑄 = 0,287 𝐶 𝑥 𝐼 𝑥 𝐴 ... (7) Keterangan :

0,287 = Konstanta kedalam satuan metrik Q = Debit aliran permukaan (m3/s) C = Koefisien aliran permukaan I = Intensitas hujan (mm/jam) A = Luas wilayah DAS (km2)

(8)

Koefisien Aliran Permukaan

Intensitas Curah Hujan

Luas Area Peta Penggunaan

Lahan

Data Hujan Harian Maximum

Masukan Nilai C sebagai atribut

Metode

Monobe Tc: Kirpich

Aliran Permukaan

Metode Polygon Thiessen Data Hujan Harian

Maximum Wilayah

Gambar 11. Alur Perhitungan Aliran Permukaan (a). Koefisien Aliran Permukaan (C)

Nilai koefisien aliran permukaan didasarkan pada peta penggunaan lahan hasil klasifikasi dari citra Landsat. Besarnya nilai koefisien aliran permukaan dapat diketahui dengan persamaan berikut ini.

𝐶 = 𝑖𝑛=1𝐶𝑖𝐴𝑖

𝑖 𝐴𝑖

𝑛=1 ... (8) Keterangan :

C = Koefisien aliran permukaan

Ci = Koefisien aliran permukaan tiap penggunaan lahan Ai = Luas tiap penggunaan lahan (km2 atau ha)

Nilai Ci merupakan nilai koefisien aliran permukaan pada masing-masing jenis penggunaan lahan dengan luas wilayah Ai.

Luas wilayah Ai diketahui dengan menggunakan software ArcGIS. Nilai Ci untuk setiap jenis penggunaan lahan di Sub DAS Keduang mengacu pada penelitian Hastono et al., (2012) seperti tersaji pada Tabel 4.

(9)

Tabel 4. Nilai C Setiap Jenis Penggunaan Lahan Jenis Penggunaan Lahan Nilai C

Hutan 0,1

Semak belukar 0,3

Lahan terbangun 0,4 Sawah basah (irigrasi) 0,21 Sawah kering (tadah hujan) 0,21

Kebun campuran 0,15

Tegalan 0,3

(b). Intensitas Hujan (I)

Intensitas hujan (I) adalah tinggi curah hujan dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam satuan mm/jam. Untuk mengetahui intensitas curah hujan terlebih dahulu dihitung hujan harian maksimum wilayah (R24). Perhitungan dilakukan dengan cara interpolasi hujan harian maksimum setiap stasiun hujan menggunakan metode poligon Thiessen sesuai yang ditunjukkan pada persamaan dibawah ini.

𝑅24= 𝑖𝑥=1 𝑅𝑥𝐴𝑥

𝑖 𝐴𝑥

𝑥=1 ... (9) Keterangan:

R24 = Hujan wilayah (mm) Rx = Hujan pada stasiun x (mm)

Ax = Luas yang diwakili oleh stasiun x (km2 atau ha)

Intensitas hujan kemudian ditentukan menggunakan metode Mononobe (Madhatillah dan Har, 2020) dengan persamaan berikut ini.

𝐼 = 𝑅24

24 (24

𝑇𝑐)

23

... (10) Keterangan :

I = Intensitas hujan selama time of concentration (mm/jam)

R = Hujan harian maksimum dalam 1 tahun (mm) Tc = Time of concentration (jam)

(10)

Nilai time of concentration (Tc) dapat ditentukan dengan persamaan Kirpich sebagai berikut.

𝑇𝑐 = 0.01947 𝐿0.77𝑆−0.385 ... (11) Keterangan :

Tc = Time of concentration (jam) L = Panjang sungai utama (m)

S = Kemiringan DAS (m). Didapatkan dari perhitungan beda ketinggian titik terjauh sungai utama dan outlet dibagi panjang sungai utama

(c). Luas Wilayah DAS (A)

Penentuan luas wilayah DAS (A) menggunakan peta sub DAS Keduang dengan bantuan ArcGIS. Luas wilayah dinyatakan dalam satuan km2.

2) Prediksi Erosi

Prediksi erosi pada penelitian ini menggunakan metode USLE yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith pada tahun 1978 dengan alur seperti pada Gambar 12. Berikut merupakan persamaan USLE untuk menghitung erosi (A) (Belasri dan Lakhouili, 2016).

𝐴 = 𝑅 𝑥 𝐾 𝑥 𝐿𝑆 𝑥 𝐶𝑃 ... (12) Keterangan :

A = Jumlah rata-rata tanah yang hilang setiap tahun (ton/ha/th) R = Faktor erosivitas curah hujan (MJ.mm/th)

K = Faktor erodibilitas tanah (ton/MJ.mm) LS = Faktor panjang dan kemiringan lereng CP = Faktor pengelolaan tanaman dan konservasi

Perhitungan prediksi erosi memanfaatkan software ArcGIS.

Perhitungan prediksi erosi dilakukan setelah semua faktor R, K, LS, CP selesai dihitung. Prediksi erosi USLE dihitung dengan overlay, kemudian menggunakan tools calculator pada attribute table yang berada pada ArcGIS.

(11)

Curah Hujan

Tahunan DEM SRTM Peta Penggunaan

Lahan

Hitung R (Bols)

Faktor (LS) Faktor (CP) Hujan Wilayah

(Poligon Thiessen)

Faktor (K)

Erosi (A)

Masukan nilai CP sebagai atribut

Faktor (R)

DSMW

Hitung K (Williams)

Klasifikasi Kelerengan (RLKT Dephut

1986)

Masukan nilai LS sebagai atribut Masukan nilai

sebagai atribut

Tingkat Bahaya Erosi (TBE)

Gambar 12. Alur Prediksi Erosi Metode USLE

Langkah-langkah secara lebih rinci prediksi erosi metode USLE adalah sebagai berikut.

(a). Faktor Erosivitas Curah Hujan (R)

Faktor erosivitas curah hujan (R) adalah kemampuan untuk menimbulkan erosi. Faktor (R) dihitung menggunakan data curah hujan tahunan. Perhitungan faktor (R) mengggunakan persamaan Bols (Teh, 2011), berikut adalah persamaan untuk menentukan nilai erosivitas curah hujan (R).

𝑅 = 2,5 𝑃2

100 (0,073 𝑃+0,73) ... (13)

Keterangan :

R = Erosivitas tahunan (MJ.mm/tahun) P = curah hujan tahunan (mm/tahun)

Penentuan erosivitas dilakukan dengan cara menghitung rata-rata hujan tahunan (P) pada setiap lokasi stasiun hujan kemudian menghitung nilai erosivitas setiap lokasi stasiun hujan dengan persamaan Bols. Untuk mengetahui sebaran faktor erosivitas curah hujan secara spasial pada daerah penelitian

(12)

maka dilakukan interpolasi nilai R setiap stasiun pengukuran curah hujan dengan metode poligon Thiessen.

(b). Faktor Erodibilitas Tanah (K)

Erodibilitas tanah (K) menyatakan kepekaan suatu tanah terhadap erosi. Semakin kecil nilai (K) berarti tanah tersebut relatif tahan terhadap erosi. Sebaliknya semakin besar nilai (K) berarti tanah lebih rentan terhadap erosi. Nilai erodibilitas tanah (K) pada penelitian ini dihitung menggunakan data DSMW yang dikeluarkan oleh FAO dengan persamaan yang dikembangkan oleh Williams (Wawer et al., 2005).

𝐾 = 𝑓𝑐𝑠𝑎𝑛𝑑 𝑥 𝑓𝑐𝑙−𝑠𝑖 𝑥 𝑓𝑜𝑟𝑔𝑐 𝑥 𝑓ℎ𝑖𝑠𝑎𝑛𝑑 ... (14) dengan,

𝑓𝑐𝑠𝑎𝑛𝑑 = (0.2 + 0.3 𝑒𝑥𝑝 [−0.256. 𝑚𝑠 (1 −𝑚𝑠𝑖𝑙𝑡 100)]) 𝑓𝑐𝑙−𝑠𝑖= ( 𝑚𝑠𝑖𝑙𝑡

𝑚𝑐+ 𝑚𝑠𝑖𝑙𝑡

)

0.3

𝑓𝑜𝑟𝑔𝑐= (1 − 0.25 𝑜𝑟𝑔𝐶

𝑜𝑟𝑔𝐶 + 𝑒𝑥𝑝[3.72 − 2.95 𝑜𝑟𝑔𝐶])

𝑓ℎ𝑖𝑠𝑎𝑛𝑑 = (1 − 0.7 (1 − 𝑚𝑠

100) (1 − 𝑚𝑠

100) + 𝑒𝑥𝑝 [−5.51 + 22.9 (1 − 𝑚𝑠 100)])

Keterangan :

ms = Kandungan fraksi pasir (%) msilt = Kandungan fraksi silt (%) mc = Kandungan fraksi liat (%),

orgC = Kandungan karbon organik (%).

(c). Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)

Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) ditentukan menggunakan data DEM SRTM dari USGS. Data DEM SRTM diklasifikasikan menjadi 5 kelas lereng dengan mengikuti pedoman Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan tahun 1986. Kemudian nilai LS mengacu pada penelitian Nugraheni et al., (2013);

(13)

Simanjuntak et al., (2017) seperti pada Tabel 5 dimasukan sebagai atribut dengan ArcGIS.

Tabel 5. Penilaian Kelas Lereng dan Faktor LS Kelas Lereng Kemiringan Lereng (%) Nilai LS

I 0-8 0,40

II 8-15 1,40

III 15-25 3,10

IV 25-40 6,80

V > 40 9,50

(d). Faktor Pengelolaan Tanaman dan Konservasi (CP)

Pengelolaan tanaman dan praktek konservasi (CP) pada penelitian ini didasarkan pada penggunaan lahan hasil klasifikasi citra Landsat. Nilai faktor pengelolaan tanaman dan praktek konservasi (CP) dalam penelitian ini digabungkan menjadi satu yakni berdasarkan jenis penggunaan lahan.

Tabel 6. Nilai CP Setiap Jenis Penggunaan Lahan No Jenis Penggunaan Lahan Nilai CP

1. Hutan 0,001

2. Semak belukar 0,05

3. Sawah irigasi (basah) 0,03 4. Sawah tadah hujan (kering) 0,03

5. Kebun campuran 0,12

6. Lahan terbangun 0,7

7. Tegalan 0,28

8. Badan air 0

Dalam penelitian ini, faktor CP mengacu pada (JICA, 2007;

Taslim et al., 2019a, 2019b) seperti yang disajikan pada Tabel 6. Nilai CP kemudian dimasukkan sebagai atribut pada peta penggunaan lahan menggunakan software ArcGIS.

(e). Tingkat Bahaya Erosi (TBE)

TBE adalah perkiraan jumlah tanah yang hilang maksimum yang akan terjadi pada suatu lahan, bila pengelolaan tanaman dan

(14)

tindakan konservasi tanah tidak mengalami perubahan. Setelah memperoleh perhitungan erosi menggunakan metode USLE, selanjutnya dilakukan klasifikasikan secara spasial kedalam TBE untuk melihat sebaran erosi. Klasifikasi nilai TBE mengacu Permenhut RI No. P.32/Menhut-II/2009; Taslim et al., (2019b) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 7.

Tabel 7. Kategori TBE Kelas

TBE

Kehilangan tanah (ton/ha/th)

Klasifikasi

1 0-15 Sangat Ringan

2 15-60 Ringan

3 60-180 Sedang

4 180-480 Berat

5 > 480 Sangat Berat

c. Partisipasi Masyarakat Terhadap Konservasi

Partisipasi masyarakat terkait konservasi digali dengan metode kuesioner dan wawancara. Pada metode tersebut harus ditentukan populasi dan sampel responden. Populasi merupakan wilayah yang terdiri dari objek maupun subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada di wilayah sub DAS Keduang.

Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi sehingga jumlah sampel yang diambil harus dapat mewakili populasi (Sugiyono, 2016).

Pengambilan sampel responden menggunakan teknik purposive sampling dengan menetapkan ciri khusus sehingga dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini.

Kriteria responden adalah masyarakat dengan usia ≥30 tahun dan waktu tinggal ≥10 tahun. Kriteria tersebut ditetapkan dengan harapan responden memahami kondisi wilayah tersebut. Jumlah sampel dalam penelitian ini ditetapkan minimal 30 responden. Menurut Sugiyono (2016) jumlah sampel minimal 30 sudah dikatakan layak. Selanjutnya

(15)

dilakukan analisis deskriptif tingkat partisipasi masyarakat terhadap konservasi.

d. Arahan Konservasi Lahan

Arahan konservasi lahan mengacu pada teknik konservasi dan rehabilitasi. Sebelumnya dilakukan terlebih dahulu analisis kesesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW. RTRW merupakan landasan hukum yang mengatur pola ruang sehingga harus dilihat posisi kesesuaian penggunaan lahan exsisting terhadap RTRW. Analisis dilakukan dengan overlay (intersetion) peta penggunaan lahan sub DAS Keduang existing tahun 2020 dengan peta RTRW Kabupaten Wonogiri 2020-2040.

Hasil analisis akan menghasilkan tiga jenis kesesuaian yaitu sesuai, tidak sesuai dan belum sesuai. Kondisi sesuai adalah penggunaan lahan yang ada sudah sesuai dengan apa yang direncanakan pada RTRW dan harus dipertahankan agar tidak berubah. Kondisi tidak sesuai berarti penggunanaan lahan tidak sesuai dengan RTRW dan tidak memungkinkan untuk diubah lagi berdasarkan pertimbangan penggunaan lahan yang irreversible (sulit/tidak dapat diubah) baik terkait biaya maupun upaya yang dibutuhkan. Kondisi belum sesuai adalah penggunaan lahan belum sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, tetapi kemungkinan besar masih bisa diubah dan disesuaikan dengan RTRW.

Arahan konservasi lahan difokuskan dengan cara konservasi vegetatif dan mekanik dengan mempertimbangkan tingkat partisipasi dan keinginan masyarakat.

Gambar

Tabel 1. Rincian Waktu Penelitian
Gambar 10. Alur Pembuatan Peta Penggunaan Lahan dan Uji Akurasi
Gambar 11. Alur Perhitungan Aliran Permukaan (a).  Koefisien Aliran Permukaan (C)
Tabel 4. Nilai C Setiap Jenis Penggunaan Lahan  Jenis Penggunaan Lahan  Nilai C
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan agama anak balita di keluarga BS belum terlaksana sepenuhnya, karena kurangnya contoh teladan dari kedua orang tua dan keluarganya (kakek dan

Pada pendidikan tinggi kita kenal dengan istilah kuliah kerja nyata (KKN), di mana dalam kegiatan tersebut seorang maha siswa dituntut untuk mengabdikan dirinya kepada

Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun bertangkai

Selanjuttnya pada tahun 1993, Marc Andreessen melakukan sebuah inovasi perangkat lunak browser dengan merilis Mosaic, kemudian Netscape, ini adalah browser populer

Tahun 2011 ini menjadi sangat penting untuk ke depannya, Outlook ini berisi bagaimana prospek kebijakan KIA di masa mendatang yang memang tidak akan selesai akan dibahas dalam

Perkembangan teknologi komputer pada saat ini berjalan sangat cepat, hampir semua bidang memanfaatkan komputer begitu juga dalam dunia medis dengan menggunakan

Pembuatan proyek akhir Otomatisasi Sistem Pengolahan Air Laut Menjadi Air Tawar dengan Prinsip Reverse Osmosis Berbasis Mikrokontroler, selain sebagai.. persyaratan

Capaian kinerja organisasi memaparkan pencapaian atas indikator kinerja utama dan hal-hal berkaitan dengan capaian tersebut yaitu dilakukan dengan cara membandingkan antara