Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
31
Analisis Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Sangrai Kopi Robusta (Coffea canephora) dari Tanaman Hasil
Pemupukan Organik dan Anorganik
Phytochemical Screening Analysis and Antioxidant Activity of Robusta Coffee Roasted Seeds (Coffea canephora) extract from Organic and
Inorganic Fertilized Plants
Farah Aida Qotrun Nada1*), Tintrim Rahayu2**), Ari Hayati3
123Jurusan Biologi FMIPA Universitas Islam Malang, Indonesia
ABSTRAK
Kopi bubuk adalah biji kopi yang telah disangrai digiling atau ditumbuk sehingga mempunyai bentuk halus.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa dalam ekstrak biji sangrai kopi robusta (Coffe canephora) dari tanaman hasil pemupukan organik dan anorganik, dan mengetahui perbedaan senyawa antara hasil pemupukan organik dan anorganik. Karakteristik skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif yang dilakukan terhadap alkaloid, flavonoid, tanin, terpenoid dan saponin dan aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrihidrazil). Hasil uji karakteristik skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak biji sangrai kopi robusta dari hasil pemupukan oganik dan anorganik keduanya sama mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin, sedangkan pada aktifitas uji antioksidan ekstrak biji sangrai kopi robusta menunjukan perbedaan berdasarkan hasil uji statistik analisis regresi linear dengan nilai IC50 kadar antioksidan paling tinggi adalah ekstrak biji sangrai kopi anorganik hanya 14,0629 ppm dibandingkan dengan ekstrak sangrai dari organik dengan nilai 30,6159 ppm.
Kata kunci : Kopi Robusta (Coffea canophera), Skrining Fitokimia, Metode DPPH
ABSTRACT
Ground coffee is coffee beans that have been roasted, ground or ground so that they have a smooth shape. The purpose of this study was to determine the content of compounds in robusta coffee roasted seed extract (Coffea canephora) from plants produced by organic and inorganic fertilization, and to know the difference in compounds between the results of organic and inorganic fertilization. The characteristics of phytochemical screening were carried out qualitatively on alkaloids, flavonoids, tannins, terpenoids and saponins and the antioxidant activity was carried out by the DPPH (1,1-dipenyl-2-picrihidrazil) method. Phytochemical screening characteristic test results show that robusta coffee bean extract extract from the results of organic and inorganic fertilization both contain flavonoids, alkaloids, tannins, and saponins, while the antioxidant test activity of robusta coffee beans extracts shows differences based on the results of statistical tests of linear regression analysis with the IC50 value the highest antioxidant content was inorganic coffee roasted bean extract only 14.0629 ppm compared to the organic roasted extract with a value of 30.6159 ppm
Keywords: Robusta Coffee (Coffea canophora), Phytochemical Screening, DPPH Method
*)
Farah Aida Qotrun Nada, Jurusan Biologi FMIPA UNISMA, Jl. MT. Haryono 193 Malang 65144, Telp.
082330212158 E-mail: [email protected]
**) Ir. Tintrim Rahayu, M.Si, Jurusan Biologi FMIPA UNISMA, Jl. MT. Haryono 193 Malang 65144 Telp.
08123308396 E-mail: [email protected]
Diterima Tanggal 12 Agustus 2020 – Dipublikasikan Tanggal 25 Januari 2021
J. KnownNat Vol.3 No.2 − Januari 2021
Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
32
Pendahuluan
Kopi merupakan salah satu komoditas penting dari Indonesia. Pemeliharaan yang mudah serta produksinya yang tinggi menyebabkan 90% area penanaman kopi Indonesia terdiri dari kopi robusta.
Pada umumnya kopi Kopi umumnya disediakan dalam bentuk biji kopi sangrai. Proses pemanggangan sangat berpengaruh terhadap kualitas kopi, seperti rasa, aroma dan komposisi senyawa bioaktif yang juga berpengaruh terhadap efek antioksidan. Secara umum proses pemanggangan dilakukan pada suhu antara 200 - 240 ° C yang juga menghasilkan biji kopi berwarna coklat dengan aroma yang khas [1].
Pemilihan biji kopi robusta yang telah di sangrai dikarenakan mayoritas sebagian besar pecinta kopi di Indonesia mengkonsumsi minuman kopi dari serbuk biji kopi yang telah disangrai.
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari hewan (pupuk) dan tumbuhan hijau (kompos), pupuk merupakan jenis pupuk organik terbaik [2]. Pupuk anorganik, di sisi lain, adalah pupuk yang diproduksi di pabrik dari bahan anorganik dan dibentuk oleh proses kimia anorganik yang bernutrisi tinggi [3].
Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengujian kandungan dari biji sangrai kopi robusta menggunakan metode uji skrining fitokimia yang dilakukan terhadap alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin, polifenol, dan tanin. Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH ditentukan secara kuantitatif dengan analisis regresi linier hasil. Pengukuran absorbansi. Hal ini dapat dibuat perbandingan dan penyempurnaan dengan studi sebelumnya.
Material dan Metode
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah biji sangrai kopi robusta (Coffea canephora) metanol, kloroform, H2So4 pekat, HCl pekat, CH3COOH anhidrat, Larutan FeCl 31%, 1,1-difenil-2- pikrilhidrasil (DPPH), pereaksi Meyer, pereaksi Dragendrof, pereaksi Bouchardat dan Akuades.
Sedangkan alat yang digunakan pada penelitian ini adalah beacker gelas, gelas ukur, gelas arloji, pipet tetes, labu ukur, label, kain saring, mangkok besar, alat penumbuk, neraca analitik, rotary evapator, spektrofotometri UV – Vis.
Metode
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Eksprerimental Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan dalam penelitian ini yaitu ekstrak biji sangrai kopi robusta yang dilakukan uji kualitatif skrining fitokimia dan uji kuantitatif antioksidan dengan 5 perlakuan dan 4 kali pengulangan. Untuk menentukan perlakuan dan ulangan dalam penelitian ini menggunakan rumus Federer yaitu t (n-1) > 15.
Cara Kerja
Pengambilan Sampel : Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah biji kopi robusta (Coffea canephora) yang sudah disangrai dari hasil pemupukan organik dan anorganik, mengenai kebenaran data organik dan anorganik kami mendapat informasi secara langsung (wawancara) kepada pemilik / petani kopi tersebut. Sampel ini diambil dari Dusun Amadanom Selatan Desa Amadanom Kecamatan Dampit Kabupaten Malang.
Preparasi Sampel dan Ekstraksi : Biji kopi sangrai organik dan anorganik masing masing 350 gram di haluskan dengan mengunakan alat penumbuk Untuk mendapatkan ukuran yang seragam, simpan bubuk biji kopi sangrai yang dihasilkan + 250 gram dalam wadah yang bersih dan tertutup rapat.
Ditimbang sebanyak 200 gram serbuk biji kopi. Dimasukkan kedalam wadah besar. Direndam dengan 100 metanol selama 24 jam. Ekstrak kemudian dipisahkan dari ampasnya dengan kain saring. Ekstrak cair yang diperoleh kemudian dipekatkan pada rotary evaporator pada suhu 400 ° C. Simpan ekstrak
J. KnownNat Vol.3 No.2 − Januari 2021
Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
33
pekat yang dihasilkan dalam botol plastik bersih dan tutup rapat. Ini kemudian digunakan untuk analisis lebih lanjut.
Uji Flavonoid: Diambil 1 gram ekstrak, ditambahkan 2 ml metanol panas, lalu ditambahkan 0,01 gram bubuk Mg dan 3-5 tetes asam klorida pekat. Adanya flavonoid ditandai dalam warna jingga, merah bata, merah muda dan merah tua dalam waktu +3 menit. Menurut referensi [4] flavonoid ditandai dengan perubahan warna jingga, warna merah bata, merah tua atau merah muda.
Uji Alkaloid: Ekstrak diambil 1 gram, ditambahkan 0,2 ml larutan HCL 2M dan aquades 2 ml, kemudian dipanaskan selama 2 menit, campuran didinginkan dan disaring. Filtrat yang dihasilkan dianalisis dengan reagen Meyer, Dragendrof, dan Bouchardat. Adanya alkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan putih dengan pereaksi Meyer, endapan jingga dengan pereaksi Dragendrof, dan endapan berwarna coklat dengan pereaksi Bouchardat. Menurut [4] hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan berwarna merah kecokelatan pada reagen Dragendorff dan pembentukan cokelat pada pereaksi Wagner.
Uji Tanin: Ekstrak diambil sebanyak 1 gram dan dilarutkan dalam 4 ml air panas, didinginkan dan saring. Untuk filtrat yang dihasilkan ditambahkan 1-3 tetes larutan FeCl 31%. Adanya tanin ditunjukkan dengan warna coklat tua tua atau hitam kebiruan. Menurut [5], keberadaan tanin dalam ekstrak ditandai dengan terbentuknya warna hijau kehitaman, coklat kehitaman, atau biru kehitaman oleh pereaksi FeCl3.
Uji Terpenoid: Setelah melarutkan 1 gram ekstrak dalam 1 ml kloroform dan 1 ml asetat anhidrida, ditambahkan melalui dinding tabung reaksi 0,4 ml larutan H2So4 pekat. adanya terpenoid ditunjukkan dengan warna hijau kebiruan pada steroid, orange, jingga kecoklatan, atau ungu pada triterpenoid.
Menurut [5], adanya terpenoid dan steroid menyebabkan perubahan warna hijau tua atau hijau kebiruan akibat penambahan asetat anhidrida dan terbentuknya cincin coklat pada batas larutan bila ditambahkan H2SO4 pekat. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh terbentuknya pereaksi alkaloid yang mengoksidasi senyawa terpenoid dan steroid yang terkandung dalam ekstrak.
Uji Saponin: Diambil sebanyak 1 gram ekstrak dilarutkan dalam 4 ml air panas kemudian didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dikocok kuat kuat selama 15 – 20 detik. Adanya saponin ditandai dengan munculya busa permanen dengan penambahan asam klorida. Menurut [5]
Adanya saponin dalam ekstrak ditunjukkan dengan terbentuknya gelembung setelah ekstrak dikocok dilarutkan dalam air panas. Busa yang dihasilkan terbentuk dari reaksi antara gugus hidrofobik dan udara. Senyawa saponin memiliki gugus hidrofobik yang dapat mengikat air dan dapat mengikat udara.
Antioksidan : Dilarutkan ekstrak sebanyak 1 gram dalam 25 ml metanol hingga diperoleh larutan uji dengan konsentrasi 25 ppm. Setiap larutan uji diencerkan dengan metanol menghasilkan larutan uji dengan konsentrasi 1, 3, 5, 10, dan 20 ppm. Larutan uji dengan berbagai konsentrasi direaksikan dengan 0,1 mm larutan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dalam perbandingan 1: 3, dihomogenisasi dan diinkubasi selama 30 menit. Campuran larutan absorbansi diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada gelombang 517 nm.Pengukuran aktivitas antioksidan ditunjukkan dengan persen inhibisi, rumus :
% Inhibisi = × 100%
Abskontrol = Larutan DPPH + Metanol; Abssampel = Larutan DPPH + Sampel
Hasil dan Diskusi
Ekstraksi Biji Sangrai Kopi Robusta (Coffea canephora) Dari Tanaman Hasil Pemupukan Organik Dan Anorganik : Pada biji sangrai kopi hasil pemupukan organik setelah dipekatkan mendapatkan 14,4 gram dengan nilai randemen 0,0587 gram/100, sedangkan pada biji sangrai kopi
J. KnownNat Vol.3 No.2 − Januari 2021
Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
34
hasil pemupukan anorganik setelah dipekatkan mendapatkan 30,7 gram dengan nilai randemen 0,1253 gram/100. Ekstrak pekat yang diperoleh dari kedua sampel berwarna cokelat kehitaman dengan tekstur yang lebih kental. Dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Gambar a yang menunjukkan hasil dari ekstraksi serbuk kopi hasil pemupukan organic, dan pada Gambar b menumjukkan hasil dari ekstraksi serbuk kopi hasil pemupukan anorganik.
Hasil Analisis Skrining Fitokimia Ekstrak Biji Sangrai Kopi Robusta (Coffea canephora) Dari Tanaman Hasil Pemupukan Organik Dan Anorganik : Hasil uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa biji sangrai kopi robusta mengandung golongan senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, terpenoid, dan saponin. hal ini sesuai dengan penelitian [6] tentang preminary phytochemical menyatakan bahwa komponen kimia pada kopi robusta adalah alkaloid, tanin, saponin, flavonoid dan terpenoid. Dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Skrining Fitokimia No Identifikasi
Senyawa
Pereaksi
Parameter Jenis Kopi Hasil
1. Flavonoid Jingga, Merah Bata,
Merah Muda, Merah Tua
Organik Positif Anorganik Positif
2 Alkaloid Meyer
Endapan putih Organik Positif Anorganik Positif Dragendrof
Endapan Jingga Organik Positif Anorganik Positif Bouchardat
Endapan Cokelat
Organik Positif Anorganik
Positif
3. Tanin
Cokelat Kehitaman, Biru Kehitaman
Organik Positif Anorganik Positif
4 Terpenoid Steroid
Hijau Kebiruan
Organik Negatif Anorganik Negatif Triterpenoid
Orange, Jingga Kecoklatan
Organik Positif Anorganik Positif 5 Saponin
Busa Permanen
Organik Positif Anorganik Positif
a b
J. KnownNat Vol.3 No.2 − Januari 2021
Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
35
Flavonoid: Analisis senyawa flavonoid pada ekstrak biji sangrai kopi robusta menunjukkan hasil yang positif karena terjadinya perubahan warna menjadi merah tua setelah ditambahkan Mg (Magnesium) dan tetesan HCL. Hasil ini menunjukkan adanya senyawa flavonoid pada sampel yang diuji. Menurut [7] Perubahan warna terjadi resuksi oleh asam klorida dan magnesium. Adanya flavonoid ditandai perubahan warna Jingga, Merah Bata, Merah Muda, Merah Tua.
Alkaloid: Analisis senyawa alkaloid pada ekstrak biji sangrai kopi robusta menunjukkan hasil yang positif. Pengujian ini dilakukan dengan pereaksi Meyer dengan timbulnya endapan putih, pereaksi Dragendroff timbulnya endapan warna jingga kecokelatan, dan pereaksi Bouchardat adanya endapan cokelat. Apabila terbentuk endapan menunjukkan adanya alkaloid, dengan pereaksi mayer memberikan endapan berwarna putih, peraksi wagner endapan berwarna coklat dan peraksi dragendroff endapan berwarna merah jingga [8] dan timbulnya endapan karena adanya pergantian ligan nitrogen pada alkaloid yang memiliki pasangan elektron bebas yang digunakan untuk menggantikan ion ido dalam pereaksi [7].
Tanin: Analisis senyawa tanin pada ektrak biji sangrai kopi robusta menunjukkan warna biru kehitaman yang dilakukan dengan penambahan FeCl3 31%. Hasil ini membuktikan bahwa ektrak sangrai biji kopi robusta positif mengandung senyawa tanin. Adanya tanin dalam ekstrak ditandai dengan terbentuknya warna hijau kehitaman, cokelat kehitaman atau biru kehitaman dengan pereaksi FeCl3. Warna hijau kehitaman, cokelat kehitaman, dan biru kehitaman yang ditunjukkan termasuk senyawa kompleks dari Fe-tanin yang terbentuk reaksi antara tanin dari ekstrak dengan ion Fe3+ dari pereaksi FeCl3 [5], hal tersebut menunjukkan bahwa sifat tanin dapat mengendapkan protein [7].
Terpenoid: Analisis senyawa terpenoid pada ekstrak biji sangrai kopi robusta termasuk terpenoid triterpenoid karena warna yang di dapatkan dari perlakuan klorofom dan asetat anhidrat serta penambahan H2SO4 adalah warna jingga kecokelatan, bukan hijau kebiruan atau steroid. Hasil uji ini menunjukkan bahwa ekstrak biji sangrai kopi robusta positif mengandung terpenoid triterpenoid.
Terbentuknya cincin kecoklatan atau ungu di batas larutan, menunjukkan adanya triterpenoid, sedangkan cincinnya berwarna biru kehijauan menunjukkan adanya steroid [10]. Hasil positif terpenoid dan steroid ditunjukkan dengan adanya warna merah, jingga kecoklatan, ungu atau biru, hijau [11]. Perubahan warna tersebut dibentuk oleh oksidasi gugus senyawa terpenoid atau steroid melalui pembentukan ikatan rangkap terkonjugasi.
Saponin: Analisis senyawa saponin pada ekstrak biji sangrai kopi robusta yang dilakukan dengan mengocok kuat sampel yang dicampurkan dengan akuades selama 10 - 15 detik hingga terbentuk buih stabil atau busa permanen dengan penambahan HCl 2 N. Saponin pada umumnya berada dalam bentuk glikosida sehingga mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air [12]. Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menghasilkan gelembung pada konsentrasi rendah saat dikocok dalam air. Gelembung-gelembung yang muncul disebabkan oleh kombinasi penyusunnya dari rantai sapogenin non-polar dan struktur rantai samping polar yang larut dalam air [13].
Gelembung yang dihasilkan disebabkan oleh senyawa yang sebagian larut dalam air (hidrofilik) [12]
dan saponin yang larut dalam surfaktan non-polar (hidrofobik) yang mengurangi tegangan permukaan.
Hasil Uji Antioksidan Ekstrak Biji Sangrai Kopi Robusta (Coffea canephora) Dari Tanaman Hasil Pemupukan Organik Dan Anorganik : Hasil aktivitas antioksidan ekstrak biji sangrai kopi robusta diketahui bahwa ekstrak biji sangrai robusta hasil pemupukan organik yang memiliki antioksidan tinggi dibandingkan dengan ekstrak biji sangrai robusta hasil pemupukan anorganik.
Perbedaan aktifitas antioksidan dari masing - masing ekstrak biji sangrai kopi robusta tersebut dapat secara langsung ataupun tidak secara langsung dipengaruhui oleh zat aktif metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tumbuhan[12].
Analisis kuantitatif aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak yang diperoleh berbanding terbalik dengan absorbansi, semakin besar konsentrasi larutan uji maka nilai absorbansinya semakin kecil. Hal ini disebabkan karena semakin besar konsentrasi larutan uji maka semakin banyak proton yang dapat disumbangkan kepada 1,1-difenil-2-pikrilhidrasil (DPPH) atau
J. KnownNat Vol.3 No.2 − Januari 2021
Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
36
semakin banyak radikal bebas dari DPPH yang dapat dinetralkan. Penetralan yang dilakukan terhadap radikal bebas menyebabkan ikatan rangkap diazo pada DPPH akan berkurang sehingga terjadi penurunan nilai absorbansi [13]. Jumlah radikal bebas yang dihambat oleh larutan ekstrak dinyatakan dalam persen inhibisi, Semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin tinggi konsentrasi ekstrak, dan semakin tinggi konsentrasi larutan uji, semakin tinggi derajat pelepasan larutan.
Pengukuran absorbansi ekstrak dengan DPPH menggunakan spektrofotometer UV-Vis menggunakan panjang gelombang maksimum DPPH yang berada pada panjang gelombang 517 nm.
Hasil antioksidan terhadap ekstrak biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik yang dijelaskan pada Tabel 2. dan Gambar 2.
Tabel 2. Hasil Uji Antioksidan Biji Kopi Hasil Pemupukan Organik Konsentrasi
Sampel (ppm) Absorbansi Kontrol % Inhibisi
1 0,4852 0,7517 36,1136
3 0,4630 0,7517 38,4063
5 0,4491 0,7517 40,2554
10 0,4373 0,7517 41,8252
20 0,4086 0,7517 45,6432
Gambar 2. Grafik absorbansi sampel biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik
Gambar 3. Grafik %inhibisi sampel biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organic
Pada uji antioksidan biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi sampel maka nilai absorbansinya rendah, hal ini ditunjukkan pada konsentrasi 20 ppm yang mendapat hasil nilai absorbansi 0,4630. Sedangkan semakin tinggi konsentrasi sampel maka persen inhibisinya juga semakin tinggi, pada persen inhibisi nilai yang paling tinggi terdapat pada konsentrasi 20 ppm yang mendapat hasil 54,6432%. Hasil pengukuran absorbansi dapat dilihat pada Gambar 2 dan %inhibisi pada Gambar 3. Nilai IC50 dari ekstrak biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik ditentukan melalui regresi linier (X,Y) terhadap kurva
0,35 0,4 0,45 0,5
1 3 5 10 20
Absorbansi
Konsentrasi Sampel (ppm)
0 10 20 30 40 50
1 3 5 10 20
Inhibisi %
Konsentrasi Sampel (ppm)
J. KnownNat Vol.3 No.2 − Januari 2021
Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
37
baku biji kopi organik yaitu hubungan antara konsentrasi dan persen inhibisi, dari hasil perhitungan pada ektrak biji sangrai kopi robusta organik diperoleh nilai IC50 sebesar 30,6159 ppm.
Pengukuran absorbansi ekstrak dengan DPPH menggunakan spektrofotometer UV-Vis menggunakan panjang gelombang maksimum DPPH yang berada pada panjang gelombang 517 nm.
Hasil antioksidan terhadap ekstrak biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik yang dijelaskan pada Tabel 3. dan Gambar 3.
Tabel 3. Hasil Uji Antioksidan Biji Kopi Hasil Pemupukan Anorganik Konsentrasi
Sampel (ppm)
Absorbansi Kontrol % Inhibisi
1 0,4652 0,7517 38,1136
3 0,4479 0,7517 40,4151
5 0,4153 0,7517 44,7519
10 0,3725 0,7517 50,4457
20 0,3562 0,7517 52,6141
Gambar 4. Grafik absorbansi sampel biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik
Gambar 5. Grafik %inhibisi sampel biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik
Pada uji antioksidan biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi sampel maka nilai absorbansinya rendah, hal ini ditunjukkan pada konsentrasi 20 ppm yang mendapat hasil nilai absorbansi 0,4652. Sedangkan semakin tinggi konsentrasi sampel maka persen inhibisinya juga semakin tinggi, pada persen inhibisi nilai yang paling tinggi terdapat pada konsentrasi 20 ppm yang mendapat hasil 52,6141%. Hasil pengukuran absorbansi dapat dilihat pada Gambar 4 dan %inhibisi pada Gambar 5. Nilai IC50 dari ekstrak biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik juga ditentukan melalui regresi linier (X,Y) terhadap kurva baku biji kopi anorganik yaitu hubungan antara konsentrasi dan persen inhibisi, dari hasil perhitungan pada ektrak biji sangrai kopi robusta anorganik diperoleh nilai IC50 sebesar 14,0629 ppm.
Aktivitas Antioksidan Berdasarkan Nilai IC50 : Data antioksidan DPPH (% inhibisi) ekstrak biji kopi Robusta sangrai hasil pemupukan organik dan anorganik dianalisis dan dihitung nilai IC50nya.
Semakin kecil nilai IC50, semakin kuat efek antioksidannya. Penelitian ini menggunakan persamaan regresi linier untuk menghitung dan menganalisis nilai IC50. Data % hambatan dan konsentrasi larutan
0 0,2 0,4 0,6
1 3 5 10 20
Absorbansi
Konsentrasi Sampel (ppm)
0 20 40 60
1 3 5 10 20
Inhibisi %
Konsentrasi Sampel (ppm)
J. KnownNat Vol.3 No.2 − Januari 2021
Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
38
digunakan untuk mencari nilai IC50 dengan persamaan regresi linear y = a+bx, dimana y adalah % hambat (senilai 50) dan x adalah nilai IC50. Dibawah ini adalah tabel aktivitas antioksidan berdasarkan nilai IC50 [15].
Tabel 4. Aktivitas antioksidan berdasarkan nilai IC50
Nilai IC50 Aktivitas Antioksidan
< 50 ppm Sangat kuat
50 ppm – 100 ppm Kuat
100 ppm – 150 ppm Sedang
150 ppm – 200 ppm Lemah
Data Tabel diatas menunjukkan bahwa nilai IC50 biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik dan anorganik memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Pada biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik memperoleh nilai IC50 30,6159 ppm dan biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik memperoleh IC50 14,0629 ppm yaitu keduanya termasuk dalam kisaran ( < 50 ppm ). Nilai IC50 menunjukkan bahwa nilai penghambatan radikal bebas pada ekstrak biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik lebih tinggi dibandingkan dengan biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik.
Kesimpulan
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa uji skrining fitokimia ekstrak biji sangrai kopi robusta dari hasil pemupukan organik dan anorganik keduanya mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, terpenoid, tanin, dan saponin. Sedangkan pada uji antioksidan ekstrak biji sangrai kopi robusta dari hasil pemupukan organik dan anorganik keduanya sama sama memiliki antioksidan, pada penelitian ini biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik memperoleh nilai IC50 30,6159 ppm dan biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik memperoleh IC50 14,0629 ppm yaitu keduanya termasuk dalam kisaran (< 50 ppm). Nilai IC50 menunjukkan bahwa nilai penghambatan radikal bebas pada ekstrak biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan anorganik lebih tinggi dibandingkan dengan biji sangrai kopi robusta hasil pemupukan organik.
Daftar Pustaka
[1] Martini, E. 2013. Pedoman Budidaya dan Pemeliharaan Tanaman Kopi di Kebun Campur. World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Program. Bogor.
[2] Rismunandar. 2003. Pengetahuan Dasar Tentang Perabukan. Sinar Baru. Bandung.
[3] Sutanto, R. 2012. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif Berkelanjutan. Kanisius.
Jakarta.
[4] Septiani. M , dan Agnese. 2019. Skrining Fitokimia Dan Uji Antioksidan Ekstrak Biji Kopi Sangrai Jenis Arabika (Coffea arabica) Asal Wamena dan Moanemani, Papua. JURNAL BIOLOGI PAPUA Vol 11. No2:103–109.
[5] Tiwari, P., Kumar, B., Kaur, M., Kaur, G. & Kaur, H. 2011. Phytochemical screening and extraction: A review. Internatioanl Pharmaceutica Sciencia 1(1):98-106.
[6] Hanani, E. 2015. Analisis Fitokimia. ECG. Jakarta.
[7] Chairgulprasert, V. & K. Kittiya. (2017). Preminary phytochemichal screening and antioxidant of robusta coffee blossom. Thammasat International Journal of Science and Technology. 22(1) : 18.
J. KnownNat Vol.3 No.2 − Januari 2021
Sains Alami Analisis Skrining Fitokimia dan Uji Antioksidan
39
[8] Zikrah. A, Sestry. M. dan Tenti S. O. 2019. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Bubuk Kopi Olahan Tradisional Sungai Penuh - Kerinci dan Teh Kayu Aro Menggunakan Metode DPPH (1,1-Difenil-2-Pikrihidrazil). Jurnal Farmasi Higea Vol. 11, No. 2, 2019
[9] Siadi, K. 2012. Ekstrak Bungkil Biji Jarak Pagar (Jatropa curcas) Sebagai Biopestisida Yang Efektif Dengan Penambahan Larutan NaCl. Jurnal MIPA 35(2), 77-83.
[10] Evi, I. W. Esti, P. Trisni, F. N. dan Novi, F. U. 2018. Uji Karakteristik Fitokimia Dan Aktivitas Antioksidan Biji Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre) Dari Bogor, Bandung Dan Garut Dengan Metode Dpph (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl). Fitofarmaka Jurnal Ilmiah Farmasi. Vol. 8, No.1: 59-66
[11] Kristianiningsih, A. N, N. S. Aminah, M. Tanjung, dan B. Kurniadi. 2002. Buku Ajar Fitokimia. Laboratorium Kimia Organik FMIPA Jurusan Kimia Universitas Surabaya.
Surabaya.
[12] Marlina, S.D. 2015. Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatrogafi Lapis Tipis Kompnen Kimia Buah Labu Siam (Sechium edule Jacq. Swartz) Dalam Ektrak Etanol. Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.
[13] Molyneux, P. 2004. The use of the stable free radical diphenylpicrylhydrazil (DPPH) for estimating antioxidant activity. Songklanarin J. Sci. Technol. 26(2): 211-219.