• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville dengan Kerja Sama China

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Program Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville dengan Kerja Sama China "

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Hubungan Internasional

Terakreditasi A

SK BAN –PT NO: 3095/SK/BAN-PT/Akred/S/VIII/2019

Program Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville dengan Kerja Sama China

Skripsi

Oleh

Poei, Oktaviana Maya Sari 2016330024

Bandung

2019

(2)

Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Hubungan Internasional

Terakreditasi A

SK BAN –PT NO: 3095/SK/BAN-PT/Akred/S/VIII/2019

Program Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville dengan Kerja Sama China

Skripsi

Oleh

Poei, Oktaviana Maya Sari 2016330024

Pembimbing

Dr. Adelbertus Irawan Justiniarto Hartono, Drs., M.A.

Bandung

2019

(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

Nama : Poei, Oktaviana Maya Sari NPM : 2016330024

Judul Skripsi : Program Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville dengan Kerja Sama China

Praktik kerja sama bilateral merupakan hal yang saat ini banyak dilakukan oleh negara-negara di dunia ini. Kamboja sebagai negara berkembang di Asia Tenggara memiliki permasalahan di sektor industri nya yang kurang berkembang. China dengan kebijakan luar negerinya BRI kemudian mengisi permasalah tersebut dengan melakukan investasi di Kamboja dalam bentuk Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville (ZEKS). Oleh karena itu, pertanyaan penelitian yang diambil adalah

“Bagaimana Kerjasama China dan Kamboja dalam Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville?” Tujuan dari Dalam analisis, penulis mengacu pada 4 kerangka pemikiran pokok yaitu: Kerjasama Bilateral, Foreign Direct Investment, Kebijakan Luar Negeri (Ekonomi), dan Zona Ekonomi Khusus. Penelitian ini menemukan bahwa Implementasi Kebijakan Luar Negeri ekonomi China mengambil bentuk Foreign Direct Investment (FDI) di Kamboja dalam bentuk Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville. Selain itu, Kamboja sebagai negara berkembang sangat membuntuhkan peran dari FDI untuk mebangun negaranya.

Terlebih FDI yang dilakukan oleh China ini berbentuk ZEK yang di mana sejalan dengan kebijakan domestik Kamboja yaitu Cambodia’s Industrial Development Policy (IDP) 2015 – 2025 yang berfokus untuk membenahi dan membangun perekonomian kamboja melalui sektor industrialisasi.

Kata Kunci: Kamboja, China, Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville, Belt and Road Initiative, Industrial Development Policy, Foreign Direct Investment

(6)

ii

ABSTRACT

Name : Poei, Oktaviana Maya Sari Student Number : 2016330024

Thesis’s Title : Sihanoukville Special Economic Zone Development Program with China Cooperation

The practice of bilateral cooperation is what is currently practiced by many countries in the world. Cambodia as a developing country in Southeast Asia has problems in its underdeveloped industrial sector. China with its foreign policy BRI then fills the problem by investing in Cambodia in the form of the Sihanoukville Special Economic Zone (SSEZ). Therefore, the research question taken is "How China and Cambodia worked together in the development of the Sihanoukville Special Economic Zone?". The purpose of the analysis, the authors refer to 4 main frameworks of thinking, namely: Bilateral Cooperation, Foreign Direct Investment, Foreign Policy (Economy), and Special Economic Zones. This study found that the Foreign Economic Policy Implementation of China took the form of Foreign Direct Investment (FDI) in Cambodia in the form of the Sihanoukville Special Economic Zone. In addition, Cambodia as a developing country is very demanding the role of FDI to develop its country. Moreover, the FDI conducted by China is in the form of SEZ which is in line with Cambodia's domestic policy namely the Cambodia’s Industrial Development Policy (IDP) 2015-2025 which focuses on improving and developing the Cambodian economy through the industrialization sector.

Keywords: Cambodia, China, Sihanoukville Special Economic Zone, Industrial Development Policy, Foreign Direct Investment

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, peneliti dapat menyelesaikan penelitian akhir dengan judul “Program Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville dengan Kerja Sama China”

Pada penelitian akhir ini, peneliti telah berusaha mendeskripsikan secara detail mengenai Kerjasama Kamboja dengan China dalam Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville (ZEKS). Besar harapan peneliti agar penelitian ini dapat berkontribusi terhadap studi Ilmu Hubungan Internasional, khususnya dalam studi Kerja sama Bilateral. Selain itu, penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk memenuhi persyaratan akademik yang wajib dipenuhi dalam menempuh Program Strata-1 Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan.

Penulis menyadari bahwa penelitian akhir ini masih belum sempurna dan memiliki kekurangan atau kelemahan dalam mengkaji permasalahan secara memadai dan komprehensif. Oleh karena itu, peneliti terbuka akan saran, kritik, ataupun rekomendasi yang berupaya melengkapi penelitian akhir ini. Dengan demikian, penelitian akhir ini mampu menjadi penelitian yang sempurna disebabkan oleh kontribusi dari pihak-pihak terkait.

Bandung, 13 Desember 2019 Peneliti

Poei, Oktaviana Maya Sari

(8)

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR AKRONIM ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 4

1.2.1 Deskripsi Masalah... 4

1.2.2 Pembatasan Masalah ... 6

1.2.3 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 6

1.3.2 Kegunaan Penelitian ... 7

1.4 Kajian Literatur ... 7

1.5 Kerangka Pemikiran ... 12

1.6 Metodelogi Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data ... 23

1.6.1 Metode Penelitian ... 23

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data... 24

1.7 Sistematika Pembahasan ... 24

BAB II KELEMAHAN SEKTOR INDUSTRI DI KAMBOJA ... 27

2.1 Profil Negara Kamboja ... 27

(9)

v

2.2 Sistem Ekonomi Kamboja... 28

2.3 Pertumbuhan Ekonomi Kamboja ... 28

2.4 Komoditas Utama Kamboja ... 31

2.5 Sejarah Industrialisasi Ekonomi Kamboja ... 35

2.6 Kondisisi Sektor Industri di Kamboja ... 41

2.7 Lingkungan Investasi di Kamboja ... 43

2.7.1 Foreign Direct Investment di Kamboja ... 43

2.7.2 Faktor-faktor Pendukung Investasi di Kamboja ... 45

2.8 Daya Tarik China terhadap Kamboja ... 49

BAB III BELT AND ROAD INITIATIVE DAN KAMBOJA ... 50

3.1 Profil Negara China ... 50

3.2 Belt and Road Initiative ... 52

3.3 BRI Sebagai Bentuk Implementasi Kepentingan Nasional China ... 55

3.4 BRI Sebagai Strategi Politik dan Ekonomi China ... 56

3.4.1 Strategi Politik ... 57

3.4.2 Strategi Ekonomi ... 58

3.5 BRI di Kamboja ... 59

BAB IV ZONA EKONOMI KHUSUS SIHANOUKVILLE SEBAGAI IMPLEMENTASI KERJA SAMA INVESTASI CHINA - KAMBOJA ... 62

4.1 Kepentingan Nasional Kamboja ... 62

4.2 Perspektif Politik dan Ekonomi Kamboja terhadap Belt and Road Initiative ... 64

4.2.1 Perspektif Politik... 63

4.2.2 Perspektif Ekonomi... 67

4.3 Cambodia’s Industrial Policy 2015 – 2025 dan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 70

(10)

vi

4.3.1 Cambodia’s Industrial Development Policy 2015 – 2025 ... 70

4.3.2 Zona Ekonomi Khusus sebagai salah satu prioritas dari IDP ... 71

4.4 Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 72

4.4.1 Profil Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 72

4.4.2 Fasilitas Pendukung dan Kebijakan yang Berlaku di Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 75

4.4.3 Pendirian Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 76

4.4.4 Konsep Dasar Zona Ekonomi Khusus di Kamboja ... 79

4.4.5 Dua Tahap Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 81

4.4.6 Dominasi Investasi China di Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville .. 83

4.4.7 Foto-foto Kondisi di Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 87

BAB V KESIMPULAN ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 96

(11)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Gambaran Kebijakan Luar Negeri terkait Bidang Politik

dan Ekonomi ... 16

Gambar 2.1 Peta Negara Kamboja ... 27

Gambar 2.2 Data Pertumbuhan GDP Kamboja (2007-2018) ... 29

Gambar 2.3 Total Ekspor Kamboja (April 2016 – Desember 2018) ... 34

Gambar 2.4 Foreign Direct Investment (FDI) China di Kamboja ... 44

Gambar 3.1 Peta Wilayah China ... 51

Gambar 3.2 Peta Jalur Belt and Road Initiative ... 54

Gambar 3.3 Peta Proyek Belt and Road Initiative (BRI) di Kamboja ... 61

Gambar 4.1 Denah Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 74

Gambar 4.2 Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville ... 83

Gambar 4.3 Grafik angka investasi di berbagai ZEK di Kamboja ... 83

Gambar 4.4 Pekerka di Hodo’s Factory ... 88

Gambar 4.5 Salah Satu Perusahaan yang Beroperasi di ZEKS ... 88

Gambar 4.6 Hasil Produksi ... 89

Gambar 4.7 Model Skala Kawasan ZEKS ... 89

Gambar 4.8 Jalan Raya di Depan Kawasan ZEKS ... 90

(12)

viii

DAFTAR AKRONIM

ACFTA ASEAN – China Free Trade Agreement

ADB Asian Development Bank

AS Amerika Serikat

ASEAN Association of Southeast Asian Nations

BRI Belt and Road Initiative

CCCPC Central Committee of the Communist Party of China

CCHR Cambodian Center for Human Rights

CDC Council for Development of Cambodia

CNRP Cambodia National Rescue Party

CPC Communist Party of China

CSEZB Cambodian Special Economic Zone Board

CSIS Center for Strategic and International Studies

DBCC Development Budget Coordination Committee

EBA Everything But Arms

ECI Economic Complexity Index

FDI Foreign Direct Investment

FPA Foreign Policy Analysis

(13)

ix

FTA Free Trade Agreement

IDP Industrial Development Policy

LSM Lembaga Swadaya Masyarakat

MOFCOM Ministry of Commerce

MoU Memorandum of Understanding

MPWT Ministry of Public Works and Transport

OBOR One Belt One Road

OECD Organisation for Economic Co-operation and Developmet

OETCA Overseas Economic and Trade Cooperation Area

PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa

PDB Produk Domestik Bruto

PLTA Pembangkit Listrik Tenaga Air

PM Perdana Menteri

PMN Perusahaan Multi-Nasional

RRT Republik Rakyat Tiongkok

SEZ Special Economic Zone

SFIEC Shenzhen Foundation for International Exchange and Cooperation

SSEZ Sihanoukville Special Economic Zone

(14)

x

UE Uni Eropa

UNIDO United Nations Industrial Development Organization

USD United States Dollar

WTO World Trade Organization

ZEK Zona Ekonomi Khusus

ZEKPP Zona Eknonomi Khusus Phnom Penh

ZEKS Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville

(15)

1 BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Setiap negara di dunia ini pasti menjalin hubungan bilateral dengan negara lain. Hubungan ini dilakukan kerena setiap negara pasti memerlukan bantuan negara lain untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingannya. Salah satunya adalah China sebagai salah satu negara dengan kekuatan ekonomi yang besar, China memiliki dampak dan pengaruh di kawasan Asia. Pada tahun 2018, menurut data yang diperoleh dari The World Bank melansir Produk Domestik Bruto (PDB) China mencapai angka US$ 13.608 triliun.1 Pertumbuhan ekonomi China yang cepat ini tentunya didukung oleh banyak faktor salah satunya adalah Belt and Road Initiative (BRI). Banyak keuntungan yang didapatkan oleh China melalui BRI yang selanjutnya juga akan dibahas dalam penelitian ini. Salah satu wujud proyek BRI adalah Sihanoukville Special Economic Zone (SSEZ) yang berada di Kamboja.

Dalam penelitian ini penyebutan SSEZ akan menggunakan istilah Bahasa Indonesia yaitu Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville atau yang disingkat menjadi ZEKS.

Salah satu kawasan yang menjadi sasaran para investor China dalam mendirikan ZEK adalah kawasan Asia Tenggara. China sangat menjaga baik hubungan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Hal ini menjadi penting karena kondisi kawasan yang aman serta damai berperan besar bagi perkembangan China dalam segala hal. Kamboja menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang

1 “China: GDP”, The World Bank, https://data.worldbank.org/country/china , diakses pada 3 November 2019.

(16)

2

memiliki kedekatan dengan China. Kamboja memiliki letak geografis yang sangat strategis. Banyak investor asing asal China yang tertarik untuk melakukan investasinya di Kamboja. Menurut data semenjak tahun 1994 hingga 2016 total nilai investasi China terhadap Kamboja mencapai angka US$ 14,7 miliar. Bentuk investasi China ke Kamboja terbagi ke dalam 5 (lima) sektor yakni sektor pertanian dan agroindustri, sektor industri, infrastruktur fisik, jasa, dan pariwisata.2 Kedekatan China dan Kamboja dapat dilihat dari banyaknya kerja sama dan bantuan yang diberikan China kepada Kamboja. Menurut data pada tahun 2019 hingga 2021 mendatang China memberikan bantuan kepada Kamboja sebesar US

$ 600 juta.3 Bantuan yang diberikan berupa pembangunan infrastruktur, perjanjian dagang, bantuan militer, dan lain sebagainya. Salah satu faktor yang mendorong Kamboja menjalin hubungan yang dekat dengan China adalah karena saat ini Kamboja sedang menerima sanksi dari Uni Eropa. UE telah memberikan pemberitahuan bahwa mereka akan meluncurkan proses penarikan Kamboja dari pengaturan Everything But Arms (EBA), yang memberikan akses penuh bebas tarif ke pasar Eropa untuk semua ekspor, kecuali senjata dan persenjataan.4 Selain itu BRI bekerja seirama dengan Industrial Development Policy (IDP) 2015 – 2025.

IDP merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kamboja untuk

2 Chheang Vannarith, China Investments It Has Made in Cambodia, Khmer Times, 28 Juli 2017, https://www.khmertimeskh.com/5075376/china-investments-made-cambodia/ , diakses pada 22 Februari 2019.

3 “China Pledges Nearly US $600 Million in Aid to Cambodia Over Three Years: PM Hun Sen,”

Radio Free Asia, 22 Januari 2019, https://www.rfa.org/english/news/cambodia/aid- 01222019164457.html ,diakses pada 9 Februari 2019.

4 Michael O’Kane, “EU Imposes Trade Sanctions on Cambodia and Notifies Myanmar of Potential Similar Action,” EU Sanctions: Law, Practice, and Guidance, 8 Oktober 2018, https://www.europeansanctions.com/2018/10/eu-imposes-trade-sanctions-on-cambodia-notifies- myanmar-of-potential-similar-action/, diakses pada 9 Februari 2019.

(17)

3

menjabarkan langkah-langkah utama untuk memperkuat dan mendiversifikasi sektor industri di Kamboja dan meningkatkan dan mendiversifikasi ekspor dengan meningkatkan konektivitas dalam transportasi dan logistik dan meningkatkan pasar tenaga kerja dan keterampilan.

Namun, dalam perkembangannya banyak pihak yang berpendapat bahwa keberadaan ZEKS hanya menguntungkan satu pihak saja yakni China. Dalam proses pembangunannya ZEKS menimbulkan beberapa dampak negatif seperti rusaknya lingkungan, meningkatnya angka kejahatan yang melibatkan warga negara China dan masih banyak lagi. Maka dari itu, banyak masyarakat lokal Sihanoukville yang merasa kecewa akan keberadaan ZEKS itu sendiri. Pemerintah Kamboja tidak dapat mengelak terkait hal ini. Namun disisi lain Pemerintah Kamboja sangat membutuhkan bantuan dari China untuk melakukan investasi di negaranya. Hal ini karena sebagai negara berkembang Kamboja sangan membutuhkan peran dari Foreign Direct Investment (FDI) untuk membangun negaranya. Terlebih pembangunan ZEK merupakan hal yang sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kamboja untuk membangun kawasan industri di negaranya.

ZEK sendiri merupakan salah satu dari strategi ekonomi gobal yang saat ini banyak dilakukan oleh negara-negara di dunia. ZEK diyakini dapat mempermudah dan memperlancar kegiatan perdagangan serta memberikan banyak keuntungan dalam perekonomian suatu negara. Terlebih saat ini Kamboja sedang menjalani sanksi ekonomi dari UE. Maka, bekerja sama dengan China terlihat sebagai pilihan yang tepat.

(18)

4

Penelitian ini menempatkan fokus penelitian pada pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville dengan dukungan kerja sama China.

1.2 Identifikasi Masalah 1.2.1 Deskripsi Masalah

Terdapat banyak perubahan yang dapat dilihat di Kamboja. Khususnya terkait dengan pembangunan infrastuktur. Pada tahun 2018 Ministry of Public Works and Transport (MPWT) Kamboja mengumumkan bahwa pekerjaan telah diselesaikan pada 2.000 kilometer jalan baru, tujuh jembatan utama dan terminal kontainer yang melayani Pelabuhan Otonomi Phnom Penh. Semua inisiatif ini sebagian besar didukung oleh Pemerintah China, dengan dana yang disiapkan untuk mewujudkan BRI.5 Selain proyek pembangunan jalan, pada tahun 2018 China juga sudah memutuskan untuk melakukan investasi pada pembangunan bandar udara internasional baru di Kamboja. Tidak hanya bandar udara saja, China juga siap melakukan proyek pembangunan jalan bebas hambatan sepanjang 190 kilometer yang menghubungkan Phnom Penh dengan pesisir barat daya provinsi Sihanouk.6

Dalam pelaksanaanya, China tentu saja memiliki beberapa hambatan dan masalah di Kamboja. Salah satu contohnya adalah pada awal Oktober 2018, Cambodian Center for Human Rights (CCHR) mengeluarkan laporan yang berisi

5 China’s Investment in Cambodian Infrastructure Totals US$ 2 Billion, HKTDC, 24 Agustus 2018, https://hkmb.hktdc.com/en/1X0AEUQS/inside-china/China%E2%80%99s-Investment-in-

Cambodian-Infrastructure-Totals-US2-Billion , diakses pada 23 Februari 2019.

6 Mao Pengfei, China Key Partner for Cambodia in Infrastructure Development: Cambodian Officials, Khmer Times, 9 Januari 2018, https://www.khmertimeskh.com/50100872/china-key- partner-cambodia-infrastructure-development-cambodian-officials/ , diakses pada 23 Februari 2019.

(19)

5

tentang pelanggaran hak asasi manusia dan kondisi kerja para pekerja di ZEKS.

Laporan itu mengatakan bahwa telah ada pembatasan hak dan kebebasan serta diskriminasi terhadap serikat pekerja.7 Hambatan lainnya dalam proses pelaksanaan kerja sama bilateral antar kedua negara ini adalah adanya stigma negatif dari penduduk lokal Sihanoukville terhadap kegiatan investasi China di wilayahnya.

Stigma negative tersebut terkait dengan hal kualitas dan transparansi, terutama dibandingkan dengan proyek investasi yang didanai oleh donor lain dan mitra pembangunan. Manfaat trickle-down minimal untuk dan efek buruk pada orang- orang di lapangan sering menjadi contohnya. Beberapa LSM dan kelompok masyarakat sipil kerap mengemukakan keprihatinan tentang masalah mulai dari pemukiman kembali dan kompensasi hingga kerusakan lingkungan hingga perampasan tanah.8

Hambatan lain yang dialami oleh China di Kamboja adalah terkait pembangunan di Sihanoukville. Awalnya niat China dalam melakukan pembangunan infrastruktur di Sihanoukville adalah untuk mendatangkan turis asing asal China untuk dapat berkunjung ke daerah tersebut. Hal ini diharapkan dapat menambah pendapatan penduduk lokal dan mendatangkan devisa bagi Kamboja sendiri. Namun, fakta yang terjadi di lapangan setelah pembangunan banyak dilakukan di Sihanoukville adalah memang benar banyak turis asing asal China

7 Independent Union Does Not Exist to Protect Rights and Working Conditions of Workers in Sihanoukville Special Economic Zones, CCIM, 19 November 2018,

https://ccimcambodia.org/?p=1289 , diakses pada 12 November 2019.

8 Sok Kha, The Belt and Road in Cambodia: Successes and Challenges, The Diplomat, 30 April 2019, https://thediplomat.com/2019/04/the-belt-and-road-in-cambodia-successes-and-challenges/ , diakses pada 12 November 2019.

(20)

6

yang datang ke daerah tersebut namun mereka banyak datang dan berkunjung pada tempat hiburan yang dimiliki oleh pihak swasta asal China

1.2.2 Pembatasan Masalah

Penelitian ini dibatasi berdasar kerangka waktu. Penelitian ini dibatasi dari tahun 2008 hingga 2019. Tahun 2008 merupakan tahun dimulainya pembangunan di ZEKS. Sedangkan tahun 2019 merupakan tahun selsainya pembangunan tahap pertama. Penelitian ini hanya meneliti apa yang terjadi dalam proses pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville. Selain itu penelitian ini hanya berfokus meneliti Zona Ekonomi Khusus di Provinsi Sihanoukville. Penelitian ini menempatkan fokus utamanya pada Kamboja.

1.2.3 Perumusan Masalah

Perumusan Masalah dari penelitian ini adalah: “Bagaimana Kerja Sama China dan Kamboja dalam Pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville?”

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini akan berusaha memberikan penjelasan mengenai bagaimana China dan Kamboja menjalin kerja sama untuk mewujudkan pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville.

(21)

7

1.3.2 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sudut pandang bagi orang lain yang sedang mempelajari tentang strategi yang dilakukan oleh Kamboja dalam pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville yakni dengan cara melakukan kerja sama dengan China. Penelitian ini juga dapat menjadi titik awal untuk penelitian lebih lanjut terhadap bagaimana kepentingan yang dimiliki oleh masing- masing negara sehingga memutuskan untuk bekerja sama.

1.4 Kajian Literatur

Dalam membuat penelitian ini, penulis telah melakukan pengkajian pada beberapa literature yang memiliki pembahasan yang serupa. Hal ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan yang lebih mendalam dan komprehensif terkait topik yang dibahas dalam tulisan ini.

Jurnal yang pertama berjudul How China influence Cambodia from the past to the present for the case of politics, diplomacy, military and economic relations perspective. Jurnal ini ditulis oleh Bora Ly.9 Jurnal ini membahas mengenai kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh China dalam pemeberian bantuan dan investasi di Kamboja. Kepentingan ini dilihat melalui 4 pandangan yang ada yaitu pandangan militer, pandangan ekonomi, serta pandangan tantangan dan prospeksi.

Melalui sudut pandang ekonomi dapat dilihat bahwa hubungan ekonomi antara China dan Kamboja sudah terjalin sejak tahun 1955 dan hubungan ini terus

9 Bora Ly, How China influence Cambodia from the past to the present for the case of politics, diplomacy, military and economic relations perspective, Munich Personal RePEc Archive (2018).

(22)

8

berlanjut hingga sekarang. Masuknya investor asing di Kamboja dimulai pada tahun 1991 yang menyebabkan kondisi perekonomian kamboja mengalami prtumbuhan sejak saat itu. Hubungan dagang antar kedua negara berisi tentang pintu terbuka untuk perjalanan dan pengaturan umum, dan kedekatan dan kecakapan China dipandang sebagai suatu pilihan karir bagi karyawan kreatif. Sedangkan dalam segi pandang militer, China telah memberikan banyak bantuan militer kepada Kamboja, misalnya dalam bentuk bantuan pasukan militer, kendaraan, fasilitas kesehatan, sekolah, kendaraan darurat dan juga memberikan personil militer, polisi untuk berjaga-jaga, dan penambangan sejak akhir 1990-an. Pelatihan pendahuluan dikirim untuk memberi 100 petugas kepolisian Kamboja dan China pada 21 Agustus 1997, kursus pelatihan dua minggu dalam penyelidikan dan keamanan fisik sistem (Marks, 2000). Selamat datang di Tiongkok pada tahun 1999 oleh Menteri Pertahanan Tiongkok Chi Haotian, Menteri Pertahanan Tea Banh dan Sisowath Sirirath bertemu dengan Hu Jintao, Wakil Presiden RRC dan ketua unit Tentara Pembebasan Rakyat Fu Quanyou dan dianggap otoritas senior kebijakan luar negeri China yang kuat dan dinamis. Pandangan yang terkahir adalah pandangan tantangan dan prospeksi,

Jurnal yang kedua berjudul China's Strategic Interests in Cambodia:

Influence and Resources.10 Jurnal ini ditulis oleh Sophal Ear dan Sigfrido Bugos pada tahun 2010. Jurnal ini membahas mengenai pentingnya Kamboja bagi China sebagai sttrategi untuk menahan pengaruh hegemon Amerika Serikat. Di dalam

10 Sophal Ear, China's Strategic Interests in Cambodia: Influence and Resources, Asian Survey, Vol. 50, No. 3 (May/June 2010), pp. 615-639.

(23)

9

jurnal ini juga dikatakan bahwa hubungan khusus yang dimiliki oleh China dan Kamboja membawa keuntungan jangka pendek maupun jangka panjang bagi Kamboja. Kenuntungan jangka pendek bagi Kamboja adalah negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi dan juga kamboja dapat membangun fasilitas-fasilitas infratruktur baik primer maupun sekunder. Sedangkan keuntungan jangka panjang adalah Kamboja dianggap sebagai sekutu dari China di kawasan Asia Tenggara.

Hal lain yang dibahas dalam jurnal ini adalah mengenai keamanan dan pengawasan, swasembada energi, proyek infrastruktur, hegemoni keuangan, pendekatan strategis, dan mengamankan sumber daya. Dalam segi keamanan dan pengawasan, Ketertarikan China pada Kamboja dapat dengan mudah dihubungkan untuk masalah keamanan dan pengawasannya di Laut Cina Selatan dengan Vietnam, Taiwan, dan Filipina, serta melindungi klaim Beijing terhadap Kepulauan Spratly yang disengketakan dan sumber dayanya (terutama minyak dan gas alam). Selain itu, China juga memiliki kepentingan pada bidang swasembada energi. Pada bidang ini, Keuntungan China adalah faktanya bahwa sekali bendungan PLTA ada di Mekong atas dan bawah Cekungan, mengendalikan aliran air dan produksi energi dapat dengan mudah menjadi alat politik untuk memajukan rencana energi dan sumber daya jangka panjang China. Keuntungan China adalah faktanya bahwa sekali bendungan PLTA ada di Mekong atas dan bawah Cekungan, mengendalikan aliran air dan produksi energi dapat dengan mudah menjadi alat politik untuk memajukan rencana energi dan sumber daya jangka panjang China. Kepentingan selanjutnya ada pada bidang pembangunan inrastruktur. Salah satu proyek terbesar China di Kamboja adalah pembangunan beberapa dam hydroelectric di Sungai

(24)

10

Mekong. Pembangunan dam ini memiliki manfaat dan membawa keuntungan trsendiri bagi China. Hal ini disebabkan karena China memiliki keuntungan strategis dalam manajemen sumber daya air dari Sungai Mekong. Sebagai contoh, diperkirakan bahwa selama musim hujan, 20% perairan Mekong berasal dari China, sedangkan pada musim kemarau kontribusinya melompat ke 70%. Selain membangun bendungan pembangkit listrik tenaga air di sepanjang Mekong, banyak proyek lain dipertimbangkan untuk mengatasi permasalahan distribusi logistik China dan perkembangan ekonomi China di masa depan. Berikutnya adalah hegeoni keuangan. Adanya hegemoni keuangan ini memiliki kaitan dengan pembangunan infratruktur di Kamboja. Hal ini bisa terjadi karena proyek pembangunan ini akan dilakukan atas krjasama kedua negara serta dibiayai oleh lembaga keuangan China dan Pemerintah China sendiri. Selanjutnya adalah pendekatan strategis. Menurut, pendekatan strategis China menggunakan soft power terhadap kamboja. Berdasarkan jurnal ini terdapat 2 pendekatan soft power

yang dilakukan oleh China. Pertama kerja sama multilateral dalam badan-badan kelembagaan dan yang kedua bilateral perjanjian kerja sama. Kerja sama multilateral sangat kuat dalam empat tahun terakhir. Pada tahun 2006, pinjaman gabungan ke Kamboja dari donor mencapai $ 601 juta, di mana China berkontribusi lebih dari sepersepuluh melalui tidak langsung, jaringan informal. Pada 2007, China untuk pertama kalinya secara resmi menjanjikan bantuan $ 92 juta, peningkatan 15% dari tahun sebelumnya, sebagai bagian dari Mitra Pembangunan total $ 689 juta. Pada tahun 2008, donor internasional menjanjikan sekitar $ 952 juta, dengan China memimpin $ 257 juta, diikuti oleh Uni Eropa ($ 214 juta) dan Jepang ($ 113

(25)

11

juta). Kepentingan China yang terakhir adalah mengamankan sumbr daya alam.

Keberadaan China di Kamboja adalah untuk mendapatkan sumber daya alam seperti kayu, gas, minyak, air, karet, tanah pertanian subur, dan mineral (emas, perak, dan bijih besi).

Jurnal yang ketiga berjudul Cambodia’s Strategic Relationship with China and the United States: Implications for Cambodia’s Development Aid. Jurnal ini ditulis oleh Veasna Avar. Jurnal ini mengatakan bahwa meskipun bantuan Tiongkok tidak secara langsung berdampak pada urusan dalam negeri Kamboja, dan tidak berupaya mempromosikan demokrasi seperti yang dilakukan oleh A.S., kepentingan nasional China di Kamboja sangat luas. " hubungan yang lebih erat dengan China Kamboja terutama dimotivasi oleh kepentingan pribadi ekonomi yang keras kepala dan pengejaran tujuan strategis yang lebih luas di kawasan Asia Tenggara.11

Kekurangan dari ketiga jurnal dalam kajian literatur tersebut adalah hanya menjelaskan kepentingan yang dimiliki oleh China terhadap Kamboja. Selain itu, jurnal-jurnal yang terdapat dalam kajian litratur hanya membahas mengenai upaya- upaya China dalam memenuhi kepnetingan nasional di bidang lain tetapi tidak membahas mengenai adanya respon negative dari masyarakat Kamboja sendiri terkait dengan bagaimana proyek pembangunan infrsturktur di Kamboja dianggap merugikan masyarakat domestik. Oleh karena adanya kekurangan dalam penelitian ketiga jurnal tersebut, penulis akan berfokus untuk melakukan penelitian terhadap

11 Veasna Avar, “Cambodia’s Strategic Relationship with China and the United States: Implications for Cambodia’s Development Aid,” Jurnal European Academic Research, Vol. IV, No. 2 (2016):

hlm. 17-22.

(26)

12

bagaimana Kamboja dan China saling memiliki keterbatasan sehingga dengan melakukan kerja sama kedua negara dapat mengatasi keterbatasan yang ada.

1.5 Kerangka Pemikiran

Dalam memahami bagaimana kerja sama yang terjalin antara Kamboja dengan China dalam pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville, penulis menggunakan beberapa teori dan konsep dalam hubungan internasional seperti Teori Kerja sama Bilateral, Teori Kebijakan Luar Negeri (Ekonomi), Foreign Direct Investment (FDI), dan Konsep Zona Ekonomi Khusus.

Kerja Sama Bilateral

Teori Kerja Sama bilateral ini diambil dari buku Gains from bilateral cooperation: a tentative research agenda karangan Björn Hassler. Menurut Hassler, negara dianggap sebagai aktor utama dalam kerja sama bilateral.12 Teori ini menganggap bahwa keuntungan yang didapat dari kerja sama bilateral tidak hanya terbatas pada keuntungan yang didapat dari kerja sama antar dua negara saja, tetapi juga dapat berasal dari kolaborasi atau kerja sama antara sejumlah aktor lain yang juga terlibat seperti halnya perusahaan multinasional. Salah satu prasyarat dalam terjalinnya kerja sama bilateral adalah konsep demi kebaikan bersama atau collective good.13 Pandangan demi kebaikan bersama menjadi cikal bakal atau awal mula negara untuk memutuska melakukan kerja sama. Kedua belah pihak harus memiliki pandangan ini. Hal ini karena pandangan demi kebaikan bersama

12 Hassler, Björn, “Gains from bilateral cooperation: a tentative research agenda”, Södertörn University, Avdelning Naturvetenskap, 2003.

13 Ibid.

(27)

13

merupakan salah satu hal yang menarik aktor untuk melakukan kerja sama. Dalam kerja sama bilateral, tidak hanya keuntungan saja yang dipertimbangkan oleh negara. Hal lain yang juga dipertimbangkan oleh negara adalah insentif untuk perilaku strategis. Dalam proses pelaksanaan kerja sama, keuntungan dan biaya dari kerja sama didistribusikan dengan cara yang berbeda-beda, hal inilah yang sangat mempengaruhi pilihan para aktor dalam memilih strategi secara optimal ke depannya. Dengan demikian, setiap kerja sama memiliki caranya sendiri-sendiri dan tidak dapat disamakan satu dengan yang lainnya. Maka dapat dikatakan bahwa perilaku strategis atau tindakan negara dapat ditentukan oleh seberapa banyak potensi keuntungan yang bisa didapatkan oleh sebuah negara dari sebuah kerja sama dalam hubungan antar negara. Aspek lain yang juga mempengaruhi sebuah kerja sama bilateral adalah ketergantungan. Ketergantungan yang dimiliki oleh kedua negara ini lah yang menjadikan sebuah kerja sama bilateral dapat terus berjalan. Teori ini juga menyebutkan untuk menganalisis tindakan negara dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan nagara lain, alangkah lebih baik bila kita melihat atau menganalisis kondisi dan situasi domestik negara tersebut dahulu.

Setelah kita memahami kondisi domestik baru kemudian kita bisa menganalisis interaksi negara tersebut dengan negara lain dalam dunia internasional. Hal ini karena insight dari kondisi domestik dapat menjadi input bagi kita dalam memahami kerja sama bilateral anat negara. Teori ini juga melihat adanya peran dari negara kuat atau hegemon dalam memfasilitasi kerja sama bilateral.

Dalam buku lain berjudul Factors Influencing Cooperation and Conflict in the International System karangan Maurice A. East dan Phillip M. Gregg dijelaskan

(28)

14

mengenai faktor-faktor apa saja yang mendorong negara untuk menjalin kerja sama dengan negara lain. Dalam proses pelaksanannya, terdapat 3 faktor yang mempengaruhi jalannya hubungan bilateral, ketiga faktor tersebut adalah:

Memelihara kepentingan nasional, Memelihara perdamaian, dan Meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Pertama adalah kondisi domestik negara itu seendiri.

Kondisi domestik yang dimaksud adalah kondisi nyata atau internal yang terjadi di dalam negara tersebut. kondisi domestik dianggap sebagai salah satu faktor yang mendorong negara untuk akhirnya menjalin hubungan dengan negara lain.

Beberapa poin yang mempengaruhi faktor domestik adalah pembangunan ekonomi, konflik domestik, dan orientasi politik pemerintah negara tersebut.14 pembangunan ekonomi menjadi prioritas negara dalam proses pembangunan negara tersebut.

sehingga penting bagi negara untuk menjamin pembangunan ekonomi dapat terus berjalan. Namun, tidak semua negara sanggup untuk memenuhi pembangunan ekonomi tersebut secara mandiri atau sendiri. Sehingga salah satu cara yang dapat dilakukan oleh negara adalah dengan menjalin kerja sama dengan negara lain. Poin kedua adalah stabilitas politik domestik. Ketiga adalah orientasi politik pemerintah negara tersebut. orientasi politik negara biasanya berpengaruh pada negara mana yang akan diajak untuk kerja sama. Selain kondisi domestik, faktor eksternal seperti kondisi internasional juga menjadi faktor pendorong bagi negara untuk menjalin kerja sama dengan negara lain. Kerja sama bilateral merupakan salah satu aspek penting dalam sistem internasional. kerja sama merupakan salah satu bentuk

14 Maurice A. East and Phillip M. Gregg , “Factors Influencing Cooperation and Conflict in the International System”, International Studies Quarterly; Vol. 11, No. 3 (Sep., 1967), pp. 251.

(29)

15

dari kebijakan luar negeri suatu negara. Dan kebijakan luar negeri suatu negara biasanya dipengaruhi oleh kondisi ekternal seperti halnya kondisi internasional.

Menurut teori ini negara bangsa adalah unit analisis utama dalam kerja sama bilateral. Selain itu, terdapat variabel yang harus dipertanggungjawabkan variable tersebut adalah tindakan atau perilaku negara dalam sistem nasional. Variabel lain yang juga digunakan untuk menjelaskan perilaku internasional dikategorikan oleh penggunaan dikotomi sederhana namun inklusif yang membedakan antara negara kondisi internal dan lingkungan internasionalnya. Variabel independen mempengaruhi variabel dependen melalui variabel intervening: proses pengambilan keputusan. Faktor-faktor lain yang juga dapat mepengaruhi naik dan turunnya suatu kerja sama adalah tingkat pembangunan ekonomi, ketergantungan pada perdagangan laur negeri, stabilitas politik domestic, jenis struktur pemerintahan negara tersebut, pendistribusian sumber daya ekonomi, pasrtisipasi dalam dunia internasional, status internasional, keterlibatan dalam blok politik, dan yang terakhir adalah letak geografis atau wilayah.

Kebijakan Luar Negeri (Ekonomi)

Penulis juga menggunakan teori ekonomi sebagai kebijakan luar negeri untuk menjelaskan kebijakan BRI yang dimiliki oleh China. Kebijakan luar negeri merupakan salah satu perangkat bagi negara dalam upaya membangun negara melalui perspektif internasional. Teori ini memiliki asumsi bahwa setiap proyek ekonomi politik yang dilakukan oleh suatu negara merupakan upaya negara untuk mengembangkan negaranya. Asumsi lain dari teori ini adalah adanya kebutuhan kehadiran dari negara maju untuk membantu negara berkembang dalam upaya

(30)

16

mengatasi kesenjangan dengan negara maju.15 Sektor ekonomi dalam kebijakan luar negeri memiliki hubungan langsung dengan sebuah proyek pembangunan nyata, terutama proyek-proyek yang bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi.16

Gambar 1.1: Gambaran Kebijakan Luar Negeri terkait Bidang Politik dan Ekonomi

Sumber: Alexandre P. Spohr, Foreign Policy’s Role in Promoting Development: the Brazilian and Turkish Case.17

Spohr dan Silva menjelaskan bahwa terdapat dua aspek dalam kebijakan luar negeri yaitu aspek politik dan ekonomi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan aspek ekonomi nya saja. Aspek ekonomi dalam kebijakan luar negeri terbagi lagi ke dalam tiga bagian yaitu Trade Promotion; Investment Policy; dan Economic, Financial and Commercial Negotiations. Kebijakan investasi suatu negara meliputi dua posisi yaitu: FDI, yang biasanya merupakan upaya awal bagi negara yang ingin melakukan yang diversifikasi produksi, dan memperluas investasi nasional di luar negeri.18 FDI dianggap dapat menguntungkan kedua belah

15 Alexandre P. Spohr, Foreign Policy’s Role in Promoting Development: the Brazilian and Turkish Case, Contexto Internacional: Rio de Janeiro (2017). Hal.159.

16 Ibid, Hal. 160.

17 Ibid, Hal. 160.

18 Ibid, Hal. 160.

(31)

17

pihak yaitu bagi investor dan penerima. Selain itu, kegiatan FDI biasa disertai dengan adanya transfer modal dan transfer teknologi, yang sangat penting untuk pengembangan. Di sisi investasi, adanya ekspansi bagi perusahaan untuk memperluas usahanya ke negara lain membuka peluang baru bagi pebisnis nasional untuk berinvestasi di luar negeri.19

Menurut Valerie M. Hudson dalam bukunya yang berjudul Foreign Policy Analysis: Classic and Contemporary Theory disebutkan bahwa terdapat banyak faktor-faktor negara-bangsa yang dapat mempengaruhi arah kebijakan luar negeri dari negara tersebut. Faktor-faktor yang sering mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara adalah: sumber daya alam, geografi, karakteristik populasi, luas wilayah, dan lain sebagainya.20 Dalam menulis penelitian ini penulis mengambil salah satu faktor yang dijelaskan dalam buku ini yaitu kemampuan ekonomi. Dalam buku ini disebutkan bahwa terdapat beberapa aktor aktor lain selain negara-bangsa, yaitu perusahaan multinasional dan badan antar pemerintah seperti WTO. Bahkan unit-unit subnasional, seperti negara bagian dan provinsi dalam batas negara- bangsa, dapat menjadi pelaku ekonomi global yang mengesankan.21 Satu aspek yang terdapat di ekonomi adalah ketergantungan; yaitu, kebutuhan non-resiprokal untuk input ekonomi pihak lain. Ketergantungan ekonomi dapat dengan mudah terlihat dalam ekonomi negara-negara tertentu yang kurang berkembang. Ekonomi dependen biasanya ditandai oleh ketergantungan pada ekspor satu atau serangkaian

19 Ibid, Hal. 161.

20 Valerie M. Hudson, Foreign Policy Analysis: Classic and Contemporary Theory Second Edition, Rowman and Littlefield: United Kingdom (2014). Hal 170.

21 Ibid.

(32)

18

komoditas (dibandingkan dengan barang-barang manufaktur).22 Menurut Valerie, studi tentang hubungan kemampuan ekonomi dan analisis kebijakan luar negeri telah meningkatkan perhatian saat kita bergerak ke dunia yang lebih multipolar.

Bagaimana negara dapat menggunakan instrumen ekonomi seperti bantuan, pinjaman, investasi, manipulasi mata uang, penahanan hutang, embargo dan sanksi, dan sebagainya, tergantung, tentu saja, pada kemampuan ekonomi negara.23

Foreign Direct Investment (FDI)

Foreign Direct Investment (FDI) adalah sebuah kegiatan atau proses yang dilakukan oleh sebuah perusahaan multi nasional (PMN) yang berasal dari suatu negara (home country) dengan tujuan memperoleh suatu asset di negara lain (host country) dengan tujuan untuk mengontrol proses produksi, distribusi, dan kegiatan lainnya di anak perusahaan yang terletak di host country. Terdapat tiga tipe dan jenis FDI. Ketiga jenis FDI tersebut adalah horizontal FDI, vertical FDI, dan conglomerate FDI.24 Horizontal FDI menjelaskan tentang bagaimana tujuan dari pelaksanaan FDI itu sendiri adalah melakukan ekspansi perusahaan atau usaha secara horizontal. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar perusahaan tersebut dapat memproduksi produk dengan kualitas yang sama di negara asal dan negara tujuan.

Sedangkan vertical FDI menjelaskan tentang alasan mengapa perusahaan pada akhirnya memutuskan untuk melakukan FDI. Tujuan dari perusahaan menurut vertical FDI adalah perusahaan melakukan FDI agar dapat memperoleh sumber

22 Ibid, hal 171.

23 Ibid, hal 172.

24 Imad Moosa, “Foreign Direct Investment Theory, Evidence and Practice”, (Melbourne:

Palgrave: 2002).

(33)

19

daya yang lebih murah di negara tujuan daripada di negara asal. Sumber daya yang dimaksud adalah bahan mentah, tenaga kerja, dan masih banyak lagi. Selain itu tujuan lain adalah agar perusahaan dapat lebih dekat dengan pelanggan di negara lain. Terakhir adalah conglomerate FDI, jenis FDI yang terakhir ini menggabungkan kedua jenis FDI yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu horizontal dan vertical FDI. Dalam setiap pelaksanaan FDI tentunya melibatkan banyak aspek didalamnya. Salah satunya adalah dalam setiap proses berlangsungnya FDI pasti terdapat perpindahan atau transaksi modal finansial, teknologi, dan juga transfer keahlian seperti pemasaran, manajemen, akuntasi, dan masih banyak lagi. Selain itu, proses pelaksanaan FDI tentunya juga membawa cost dan benefits bagi semua aktor yang terlibat. Aktor yang dimaksud adalah negara asal, negara tujuan, dan PMN. Bagi negara tujuan, dampak yang langsung dapat dirasakan dari adanya pelaksanaan FDI ada pada segi ekonomi, politik, maupun sosial. Dampak bagi sektor ekonomi meliputi ekonomi mikro dan uga makro seperti contohnya neraca pembayaran, struktur pasar, output, dan lain-lain. Sedangkan dalam segi politik, FDI memiliki pengaruh terhadap anggapan bahwa kegiatan FDI yang dilakukan oleh PMN dapat mempengaruhi kedaulatan suatu negara.

Kedaulatan suatu negara yang dimaksud adalah maraknya kegiatan FDI dan banyaknya jumlah perusahaan multinasional yang berinvestasi dapat membahayakan atau mengganggu kebebasan nasional suatu negara. Terakhir adalah dampak sosial yang dapat ditimbulkan dari adanya kegiatan FDI adalah konflik sosial yang timbul karena adanya perbedaan ekonomi, sosial, dan budaya antara pihak yang yang melakukan investasi yaitu PMN dan negara tujuan

(34)

20

khususnya masyarakat negara tersebut. FDI dianggap sebagai sebuah sesuatu yang penting terutama bagi negara-negara berkembang. Hal ini karena dengan adanya FDI dapat membawa keuntungan untuk negara tujuan atau host country seperti adanya pertukaran teknologi, sumber daya, keahlian, modal, dan lain-lain. Namun perlu juga dicatat bahwa keuntungan yang bisa didapat dari adanya FDI bisa benar- benar diperoleh jika dalam proses pelaksanaan FDI tidak ada hal-hal yang mengganggu seperti korupsi, proteksi, praktek monopoli, dan lain sebagainya.25 Zona Ekonomi Khusus

Foreign Direct Investment (FDI) dapat memiliki dampak positif pada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi bagi negara penerima/tujuan (host country). Selain manfaat langsung dari suntikan modal baru ke dalam ekonomi, FDI juga bisa menjadi sumber teknologi dan pengetahuan yang bisa mendorong daya saing perusahaan lokal dan mendukung integrasi mereka ke dalam rantai nilai global. Di antara berbagai macam investasi kebijakan tarik-menarik, zona ekonomi khusus (ZEK) saat ini memainkan peran penting dalam menarik investor asing, yang dapat mengambil manfaat dari beragam fiskal dan peraturan pengecualian dan fasilitasi dalam batas ZEK.26 Zona ekonomi khusus (juga disebut sebagai zona bebas) mewakili yang ditunjuk wilayah geografis dalam suatu ekonomi, di mana aktivitas bisnis dapat berbeda aturan dari yang berlaku di seluruh ekonomi. Aturan- aturan itu bisa berkaitan dengan kondisi investasi, perdagangan, bea cukai dan pajak, dan lain-lain. Zona dapat memiliki berbagai bentuk kepemilikan. Di zona

25 Ibid, hal 270.

26 OECD, “Tracking Special Economic Zones in the Western Balkans: Objectives, Features and Key Challenges”, Global Relations South East Europe, 2017.

(35)

21

yang dimiliki dan dioperasikan publik, pemerintah berperan sebagai pengembang, operator dan pengatur zona, sedangkan di zona milik pribadi, perusahaan mengembangkan, mengelola dan mengoperasikan zona di bawah pengawasan peraturan pemerintah. Dukungan pemerintah ini dapat berupa pengembangan zona awal, yang mana Pemerintah kemudian menyewakan atau mengontrakkan kepada operator swasta untuk mengelola ketentuan infrastruktur di dalam dan di luar lokasi (seperti utilitas atau jalan penghubung). ZEK telah berkembang sebagai bagian dari strategi investasi yang lebih luas yang bertujuan untuk meningkatkan investasi manufaktur di ekonomi yang diperangi, yang telah berjuang keras untuknya dekade untuk membalikkan deindustrialisasi pasca-transisi dan membuat dasar untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Tujuan utama zona adalah untuk menarik investasi, terutama FDI yang berorientasi ekspor, dan menciptakan lapangan kerja, dengan menyediakan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal untuk investor zona.

Akibatnya, melintasi Balkan Barat, zona jaringan umumnya terletak di lokasi investasi strategis dekat kota-kota besar, koridor transportasi dan perbatasan nasional. Mereka juga cenderung berlokasi dekat industry pusat dari periode pra- transisi, di mana mereka dapat memiliki akses ke tenaga kerja yang cukup besar dengan keterampilan teknis yang diperlukan. Lokasi zona bervariasi tergantung pada tujuan pembuatannya. Zona dimaksudkan untuk menarik investasi dan menumbuhkan aktivitas industri pada khususnya wilayah geografis cenderung terletak di dekat koridor transportasi utama (termasuk pelabuhan dan bandara), kota besar, dekat universitas atau sekolah kejuruan yang relevan, atau di lokasi aktivitas industri lama atau yang sudah ada. Namun, jika peran utama zona adalah untuk

(36)

22

menumbuhkan kegiatan ekonomi di daerah-daerah ekonomi terbelakang, maka mungkin saja terletak di daerah yang lebih terpencil dan kurang terhubung dengan baik. Dalam kasus tersebut, zona akan menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah yang lebih luas yang umumnya disertai dengan investasi dalam infrastruktur tambahan, pembentukan pendidikan dan pelatihan yang relevan program dan sebagainya.

Zona Ekonomi Khusus (ZEK) sekarang ini menjadi semakin popular atau banyak dilakukan oleh negara-negara sebagai alat atau instrumen untuk mempromosikan sebuah pembangunan ekonomi.27 Selama dua dekade terakhir, khususnya, ZEK telah berkembang pesat dalam kemunculan dan transisi ekonomi global. Negara-negara yang mempromosikan ZEK berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi baik di dalam maupun di luar ZEK. Di dalam zona, tujuan dari ZEK sendiri adalah untuk menarik investasi yang akan mengarah pada perusahaan dan pembukaan lapangan pekerjaan baru, dan juga untuk memfasilitasi transfer keahlian dan teknologi. Sedangkan di luar zona, negara melakukan proyek ZEK dengan tujuan untuk menghasilkan sinergi, jaringan atau koneksi, dan juga transfer ilmu pengetahuan. Hal ini semua pada akhirnya bertujuan untuk mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. ZEK memiliki pengaruh untuk membawa FDI, membawa kegiatan bisnis baru ke daerah dan mengembangkan ekonomi, dan juga meningkatkan kegiatan ekspor; dan tentunya perusahaan yang mengelola ZEK pasti memiliki kinerja yang lebih baik daripada

27 Competitive Industries and Innovation Program, “Special Economic Zones An Operational Review of Their Impacts”, (Washington, The World Bank Group: 2017).

(37)

23

perusahan-perusahan lainnya. Namun, dalam hal meningkatkan lapangan kerja dan mencapai dampak luar biasa di wilayah yang lebih besar, Dampak positif yang dapat ditimbulkan dari keberadaan ZEK jelas terkait dengan konteks di mana tempat atau lokasi pelaksanaan ZEK itu sendiri yaitu, untuk kapasitas perusahaan berbasis non-ZEK dan kebijakan pendukung. Biasanya, keberhasilan suatu zona dan dampaknya bergantung pada faktor keduanya di dalam dan di luar zona: (1) program ZEK dan karakteristiknya; (2) struktur dan tata letak zona; dan (3) regional dan negara konteks. Dalam zona tersebut, program ZEK dan karakteristiknya umumnya mencakup kombinasi paket insentif fiskal dan nonfiskal, sejumlah persyaratan investasi dan kepemilikan, dan serangkaian faktor yang terkait ke pengaturan organisasi zona. Faktor-faktor terakhir ini termasuk tingkat independensi regulator dan tanggal pendirian dari zona tersebut.

1.6 Metodelogi Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 1.6.1 Metode Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, di mana penanya sering membuat klaim pengetahuan berdasarkan studi pustaka, kajian literatur, dan melalui dunia maya. Menurut John Creswell, metode penelitian kualitatif adalah metode yang menggunakan analisis data yang dikumpulkan terlebih dahulu dalam rupa bacaan atau teks, maupun gambar.28 Peneliti akan melakukan pengumpulan data melalui studi pustaka, dokumen, atau publikasi pemerintah, dan buku. Semua sumber ini akan dirangkum dan digunakan untuk

28 John. W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approachs Third Edition, Sage Publications: California (2009) Hal. 174.

(38)

24

membantu penulis untuk kemudian merumuskan jawaban terhadap pertanyaan penelitian.

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang dipakai oleh penulis meruapakan teknik pengumpulan data sekunder. Teknik ini dilakukan melalui studi dokumentasi atau studi literatur yang dilakukan dengan melakukan pencarian dan penemuan bukti-bukti yang tidak langsung ditujukan pada subjek penelitian, namun melalui dokumen. Data-data yang dikumpulkan merupakan data sekunder melalui analisis dokumen dari buku, jurnal, internet, dan laporan karena adanya keterbatasan biaya dan waktu dalam penelitian ini.29

1.7 Sistematika Pembahasan

Penelitian ini akan terdiri dari lima bab, termasuk pendahuluan. 4 bab yang tersisa adalah:

Bab 2 akan menjelaskan mengenai bagaimana kondisi sektor industri si Kamboja yang kurang berkembang.

Bab 3 akan mengeksplorasi mengenai strategi ekonomi yang digunakan oleh China yaitu dalam sebuah kebijakan bernama Belt and Road Initiative.

Bab 4 akan memberikan analisis tentang pembangunan di Zona Ekonomi Khusus di Provinsi Sihanoukville Kamboja.

29 Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara, 2008. Hal 69.

(39)

25

Bab 5 akhirnya akan memberikan komentar konklusif dan jawaban akhir dari pertanyaan penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Word of Mouth, Daya Tarik Iklan, Persepsi Harga dan Kualitas Produk secara simultan atau bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap minat beli motor

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan Tesis dengan judul “ Analisis

Dan diikutinya dengan peningkatan dividen saham sehingga akan menyebabkan permintaan terhadap saham akan meningkat, sehingga membuat investor tertarik untuk

dan tidak saling berkesesuaian, yang kedua dengan adanya penemuan fakta bahwa pemohon II yaitu pihak istri ketika menikah berstatus janda yang masih terikat dengan

Namun bila salah satu anggota kelompok tidak mampu melaksanakan kewajibannya untuk membayar, maka pada saat itu berlaku sistem tanggung renteng atau tanggung

Analisis bivariat antara konsumsi air putih dengan status gizi subjek menggunakan uji kore- lasi Spearman, menunjukkan bahwa subjek yang mengonsumsi air putih dalam jumlah

Melihat spillover sebagai sebuah masalah adalah penting dilakukan karena kelebihan kapasitas siaran dari negara lain ke Indonesia dikhawatirkan mengandung propaganda

Dipilih jika anda sangat tidak setuju dengan pernyataan yang ada dalam angket/pernyataan yang ada dalam angket sangat tidak di setjui oleh anda... NO Peryataan