• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MENGAPA HAKIM DALAM MEMUTUSKAN PERKARA NOMOR 0091/ Pdt.P/ 2013/ PA.Kdl. TIDAK MENJADIKAN PUTUSAN MAHKAMAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV MENGAPA HAKIM DALAM MEMUTUSKAN PERKARA NOMOR 0091/ Pdt.P/ 2013/ PA.Kdl. TIDAK MENJADIKAN PUTUSAN MAHKAMAH"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

67

KONSTITUSI SEBAGAI DASAR HUKUM PUTUSAN

Pengadilan Agama Kendal telah memeriksa dan memberi penetapan atas perkara permohonan asal usul anak yang diajukan oleh pemohon yang bernama Sutarno bin Mahfud (pemohon 1) dan Sutini binti Supa’at (Pemohon II), pemohon bertindak atas namanya sendiri dan telah mengajukan permohonan asal usul anak dengan suratnya tertanggal 09 April 2013 yang terdaftar dikepanitraan Pengadilan Agama Kendal dengan register Nomor 0091/Pdt.P/2013/ PA.Kdl. Dan permohonan tersebut ditolah Majlis Hakim Pengadilan Agama Kendal.

Dalam permohonan asal usul anak Nomor 0091/Pdt.P/2013/PA.Kdl. tersebut di tolak oleh Majlis Hakim Pengadilan Agama Kendal, dengan di tolaknya permohoanan tersebut berarti hakim Pengadilan Agama Kendal telah mengabaikan Judicial Review Pasal 43 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu bahwa “anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”.Karena dalam permohonan ini Hakim Pengadilan Agama Kendal telah menemukan fakta bahwa pemohon selain pernikahan yang dilakukan

(2)

tidak dicatat di Kantor Urusan Agama seperti yang tertera dalam Undang-Undang Perkawinan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, juga pada saat pernikahan, istri masih ada ikatan dengan orang lain. Hal ini sebagaimana dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 24 bahwa barang siapa karena perkawinan masih terikat dirinya dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar masih adanya perkawinan dapat mengajukan pembatalan perkawinan yang baru, dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undang-undang ini.

Pengabaian Judicial Review Pasal 43 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini sudah dapat di benarkan karena salah satu prosedur hakim dalam menyelesaikan perkara adalah menemukan hukum, sebagaimana yang telah dijelaskan di Bab II, dalam menemukan hukum Hakim Pengadilan Agama Kendal dengan menggunakan interpretasi/penafsiran penyempitan hukum, yaitu apabila peraturan yang dijadikan sebagai dasar ruang lingkupnya terlalu umum atau luas, maka perlu dipersempit untuk diterapkan terhadap suatu peristiwa tertentu. Dalam penyempitan hukum dibentuklah pengecualian-pengecualian atau penyimpangan-penyimpangan baru dari peraturan-peraturan yang bersifat umum. Maka dalam permohoanan asal usul anak Nomor 0091/ Pdt.P/ 2013/ PA.Kdl. telah ditemukan empat penemuan hukumnya bahwa yang pertama para pemohon tidak dapat membuktikan dalil-dalil permohonannya, yaitu antara dalil posita permohonan, keterangan para saksi terdapat kontradiksi

(3)

dan tidak saling berkesesuaian, yang kedua dengan adanya penemuan fakta bahwa pemohon II yaitu pihak istri ketika menikah berstatus janda yang masih terikat dengan suami terdahulu maka kemungkinan disini hakim berpendapat bahwa anak tersebut akibat dari hubungan zina, yang ketiga dalam permohonannya pemohon tersebut tidak menyebutkan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 sebagai salah satu alat dasar pengajuan permohonan asal usul anak Nomor 0091/Pdt.P/2013/PA.Kdl, yang mana putusan Mahkamah Konstitusi tersebut merupakan sebuah putusan permohonan uji materi (Judicial Review) yang diajukan Machica terkait dengan Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 43.

Dalam perkara permohonan penetapan asal usul anak ini adalah penetapan dalam bentuk murni yang di dalamnya benar-benar tidak ada perlawanan dari pihak lain, hanya terdapat pemohon yang bertujuan untuk menetapkan suatu keadaan atau status tertentu bagi pemohon, asas yang melekat pada penetapan ini adalah kebenaran sepihak yaitu hanya dalam diri pemohon sehingga kekuatan mengikatnya hanya pada diri pemohon tidak ada kekuatan Eksekutorial.1

Suatu putusan pengadilan dimaksud untuk menyelesaikan suatu persoalan atau sengketa dan menetapkan hak atau hukumnya.2 Apa yang dimuat dalam bagian pertimbangan tidak lain adalah alasan-alasan hakim

1

Sulaiman Lubis, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: Kencana 2006), hlm. 23.

2 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Di Indonesia (Yogyaakarta: Liberty

(4)

sebagai pertanggung jawaban kepada masyarakat mengapa ia sampai mengambil putusan tersebut sehingga dasar pertimbangan hukum mempunyai nilai objektif. Dasar pertimbangan hukum atau dasar pertimbangan putusan yang diambil oleh Pengadilan Agama sangatlah penting sekali fungsinya bagi Peradilan Agama. Dasar hukum ini haruslah jelas ketika memutuskan suatu perkara dan mempunyai kekuatan hukum yang tetap serta tidak dirugikan lagi, sehingga putusan tersebut dapat ditaati oleh para pihak yang terkait. Demikian pula Hakim dalam memutus perkara asal usul anak, selain berdasar pada hukum positif juga mengacu pada hukum islam, akan tetapi dalam porsinya berbeda-beda, ada yang sangat mengutumakan hukum positif ada juga yang mengatakan seimbang.

Pada perkara permohonan asal usul anak Nomor 0091/ Pdt.P/ 2013/ PA.Kdl. alasan utama yang diajukan pemohon adalah bahwa pemohon kesulitan dalam mengurus akta kelahiran untuk anaknya karena lahir dari perkawinan yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama yang kemudian pemohon mengajukan permohonan asal usul anak ke Pengadilan Agama Kendal.3 Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Jo. Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang wewenang Peradilan Agama adalah memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara tertentu antara orang-orang yang beragama islam dibidang Perkawinan yaitu hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan undang-undang mengenai perkawinanan yang

(5)

berlaku dan dilakukan menurut syari’ah: Izin beristri lebih dari seorang, izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21 Tahun dalam hal orang tua wali atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan pendapat, dispensasi Nikah, pencegahan Perkawinan, penolakan perkawinan oleh pegawai pencatat Nikah, pembatalan Perkawinan, gugatan kelalaian atas kewajiban suami dan istri, perceraian karena Talak, gugatan karena perceraian, penyelesaian harta bersama, penguasaan Anak, ibu dapat memikul biaya pemeliharaaan dan pendidikan anak bilamana bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak memenuhinya, penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada bekas istri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri, putusan tentang sah tidaknya seorang anak, putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua, pencabutan kekuasaan wali, penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut, penunjukan seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup umur 18 Tahun yang ditinggal kedua orang tuanya, pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada di bawah kekuasannya, penetapan asal-usul seorang anak dan penetapan pengakuan anak berdasarkan hukum islam, putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan campuran, pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum Undang-undang Nomor1 Tahun 1974tentang perkawinan dengan dijadikan menurut peraturan yang lain.

(6)

Secara yuridis status anak dapat berubah-berubah, perubahan ini dimungkinkan karena tidak setiap anak lahir dalam hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah melakukan perkawinan yang sah. Disamping itu perubahan status anak juga didasarkan kepada sikap orang tuanya yang telah melahirkan terutama terhadap anak luar nikahnya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa Dengan pengakuan anak yang dilakukan terhadap seorang anak luar nikah timbullah hubungan perdata.

Dalam perkara Nomor 0091/Pdt.P/2013/PA.Kdl. dengan ditemukannya bahwa ketika menikah pihak istri berstatus janda yang masih terikat perkawinan suami terdahulu maka di sini hakim berpendapat bahwa anak tersebut dimungkinkan akibat dari hubungan zina, maka hakim Pengadilan Agama kendal tidak menjadikan Judicial Review Pasal 43 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam memutus perkara Nomor 0091/Pdt.P/2013/PA.Kdl. yang mana anak tersebut dapat memiliki hubungan dengan ayah biologisnya.

Menurut peneliti terlepas dari Judicial Review Pasal 43 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, menolak permohoan asal usul anak tersebut, tidak kalah penting jika diamati dalam penetapan perkara Nomor 0091/ Pdt.P/ 2013/ PA.Kdl tersebut adanya pengakuan dari ayah dan ibunya bahwa anak tersebut benar-benar anak kandungnya, seharusnya dengan pengakuan itu bisa menjadi dasar

(7)

pertimbangan hakim dalam memutus perkara permohoanan Nomor 0091/ Pdt.P/ 2013/ PA.Kdl, yang mana hubungan hukum antara anak luar nikah dan ibu baru ada apabila ibu itu mengakui anak itu sebagai anaknya. Begitu juga dengan ayahnya, hubungan perdata baru ada jika si ayah memberikan pengakuan. Ini berarti seakan akan hubungan darah baru ada dengan ayahnya setelah anak luar nikah diakui olehnya.4 Hal ini juga selaras dengan adanya syarat-syarat pengakuan yang mana bahwa:5

a. Anak yang diakui itu tidak diketahui keturunannya, sehingga dengan demikian ada kemungkinan penetapan bahwa ia adalah anak dari bapak yang mengakui itu. Sebaliknya jika anak yang diakui itu telah diketahui keturunannya maka, pengakuan bapak tadi tidak diterima.

b. Ditinjau dari segi umur, anak yang diakui itu pantas sebagai anak dari bapak yang mengakui dengan demikian pengakuannya dapat diterima karena tidak bertentangan dengan kenyataan. Sebaliknya jika tinjauan dari segi umur tidak memungkinkan misalnya, anak yang diakui lebih tua atau sebaya dengan yang mengakuinya, maka pengakuan dari bapak tersebut tidak dapat diterima, karena tidak masuk akal bahwa dia adalah anaknya.

c. Bapak yang mengakui anak tersebut tidak mengatakan bahwa anak itu terjadi hubungan zina.

d. Anak yang diakui itu membenarkan tidak membantah pengakuan laki-laki yang mengakui itu. Hal ini perlu diperhatikan kalau anak itu sudah pantas untuk membenarkan atau sudah mumayyiz . Karena, pengakuan seseorang

4

J. Satrio, Hukum Waris,(Bandung: Alumni 1992), hlm. 153.

5 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT. Khtiar Baru Van Hoe

(8)

tentang anak itu harus diterima oleh anak itu sendiri kalau ia sudah mengerti dan sanggup menyatakan persetujuan terhadap pengakuan itu yang dianggap sudah benar. Kalau sang anak belum mumayyiz atau belum mengerti, maka hubungan nasab ditetapkan cukup dengan pengakuan bapaknya saja.

Putusan hakim dapat dikatakan sebagai sebuah penyelesaian bagi semua pihak yang terkait. Suatu perkara dengan penyelesaian yang baik akan berakhir dengan tidak ada masalah dan seyogyanya mencakup beberapa unsur, yaitu:6

a. Secara yuridis, yaitu apabila telah diputus oleh majlis nhakim dengan putusan yang mempunyai dasar hukum, dapat memberi kepastian hukum dan perlindungan hukum.

b. Secara sosiologis, yaitu apabila putusan hakim itu telah memenuhi rasa keadilan, dapat memulihkan hubungan sosial antara pihak yang bersengketa dan dapat memberi kemanfaatan.

c. Secara psikologis, yaitu apabila putusan hakim dapat memberi rasa aman dan tentram, memberi rasa damai dan memberi rasa puas.

d. Secara praktis, yaitu apabila putusan hakim itu telah menyelesaikan semua aspek perkara, dapat dilaksanakan dan tidak menimbulkan sengketa baru antara pihak-pihak.

Menurut peneliti dalam perkara Nomor 0091/ Pdt.P/ 2013/ PA.Kdl., peneliti melihat dari sudut pandang anak maka penolakan permohonan asal usul anak tersebut belum memenuhi rasa keadilan secara yuridis, sosial dan

6 A. Mukti Arto, Mencari Keadilan (Kritik Solusi Terhadap Praktik Peradilan Perdata Di

(9)

psikologis. Keadilan yuridis artinya status anak tersebut dianggap sebagai anak tidak sah. Konsekuensinya, anak hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dengan keluarga ibunya , si anak tersebut tidak mempunyai hubungan hukum terhadap ayahnya (pasal 42 dan pasal 43 Undang-Undang Perkawinan, pasal 100 KHI). Selain itu ketidak jelasan status anak tersebut di muka hukum, mengakibatkan hubungan ayah dan anak tidak kuat, sehingga bisa saja suatu waktu ayahnya menyangkal bahwa anak tersebut adalah bukan anak kandungnya. Hal ini merugikan bagi anak karena tidak menerima hanya atas biaya kehidupan , pendidikan, nafkah dan warisan dari ayahnya. Ketidak adilan dari sudut sosial dan psikologis artinya, secara sosial anak tersebut akan diklaim sebagai anak di luar nikah, hal ini jelas akan mengganggu proses sosialisasi anak tersebut dalam lingkungannya. Sehingga akhirnya akan menjadi beban bagi anak terhadap tumbuh kembangnya secara psikologis, dimana secara psikis anak juga belum siap dan mengerti dengan apa yang terjadi atas akibat perkawinan orang tuanya yang di bawah tanggan.

Suatu penyelesaian perkara yang ideal memang seharusnya mencakup semua unsur yang ada, namun demikian apabila melihat dari sudut pandang semua pihak hal tersebut menurut peneliti jarang ditentukan, karena sifat manusia yang tidak pernah merasa cukup akan suatu hal.

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan hasil penelitian – penelitian terdahulu mengenai faktor – faktor yang berpengaruh terhadap underpricing yang diukur dengan Initial Return (IR) perusahaan mendorong

Dalam usaha untuk dapat mengukur tingkat kemampuan karyawan dalam mencapai sesuatu hasil yang lebih baik dan ketentuan yang berlaku (kesuksesan kerja). Tingkat

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Apakah kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik,

Apapun dilakukan demi mendukung Persib Bandung padahal ia hanya mempunyai uang pas untuk membeli tiket saja, lalu ada yang naik di atas kereta sampai-sampai ada

Pada kelompok kontrol (K) yang hanya diberi makanan dan minuman standar, kelompok perlakuan (P1) diberi makanan standar dan paparan asap kendaraan bermotor selama 8 jam/hari selama

Menindaklanjuti solusi permasalahan sampah di desa Kenongo adalah mendorong kesadaran masyarakat akan bahaya sampah plastik bagi kesehatan dan pentingnya

1. Menyediakan informasi tentang obat – obatan kepada tenaga kesehatan lainnya, tujuan yang ingin dicapai mencakup mengidentifikasikan hasil pengobatan dan tujuan

Berdasarkan uraian di atas, tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan bentuk pemakaian kata sapaan berdasarkan keturunan matrilinial