• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Isi. Pengenalan Cengkeh. Penanganan Pasca Panen Cengkeh. Penggunaan Cengkeh. Daftar Pustaka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Daftar Isi. Pengenalan Cengkeh. Penanganan Pasca Panen Cengkeh. Penggunaan Cengkeh. Daftar Pustaka"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Pasca Panen

Cengkeh

(2)

01 02 03 04

Pengenalan Cengkeh

Daftar Isi

Penanganan Pasca Panen Cengkeh Penggunaan Cengkeh

Daftar Pustaka

(3)

Pengenalan

Cengkeh

(4)

pn

Cengkeh

Cengkeh merupakan salah satu komoditas perkebunan ekspor- impor Indonesia sejak 1970. Dalam periode 2008-2012, areal pertanaman cengkeh di Indonesia terluas pertama di dunia dengan kontribusi 79,80% (Kementan, 2014). Kemudian diikuti oleh Madagaskar dengan luas areal tanam 13%, terluas kedua di dunia.

Hal ini menunjukkan produksi Indonesia memegang peranan penting di pasar dunia.

Di Indonesia, Maluku merupakan daerah penghasil cengkeh terbesar kedua setelah Sulawesi Selatan dengan kontribusi produksi 12,48% dari produksi nasional. Cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia yang awalnya hanya tumbuh di lima pulau kecil di Kepulauan Maluku, yakni Bacan, Makian, Moti, Ternate, dan Tidore (Wibisono, 2014; Mirmanto, 2010).

Tanaman cengkeh termasuk golongan tanaman

industri/perdangangan, sehingga dalam penggunaannya harus

melalui proses pengolahan dan sebagian besar untuk memenuhi

kebutuhan bahan industri, baik industri yang di komsumsi maupun

industri yang hasilnya tidak dikomsumsi. Tanaman ini diambil

hasilnya untuk diperdagangkan dari bunga hingga daunnya.

(5)

pn

Kandungan dan Komposisi

Bunga Cengkeh

Produk utama dari cengkeh adalah bunga cengkeh yang biasa disajikan dalam bentuk kering.

(6)

Penanganan Pasca

Panen

(7)

pn

Tahapan

1

Sortasi kering.

Pada tahap sortasi, cengkeh dipisahkan dari kotoran-kotoran dengan cara ditampi menggunakan tampah. Cengkeh yang sudah bersih dimasukkan ke dalam karung berkapasitas 30-40 kg atau 50- 60 kg, kemudian dijahit zig-zag. Cengkeh yang telah dikemas dalam karung siap untuk dipasarkan atau disimpan untuk beberapa waktu. Penyimpanan dilakukan di gudang yang tidak lembab, mempunyai banyak ventilasi dan berlantai semen. Di atas lantai dibuat para-para dari balok kayu yang kuat setinggi 25-30 cm, kemudian karung cengkehnya disusun di atasnya (Irsan,2017).

Sortasi

Sortasi basah.

Sortasi basah dilakukan segera setelah cengkeh tiba di tempat pengolahan.

Sortasi ini dilakukan dengan memisahkan bunga dari tangkainya dan menempatkannya pada tempat yang berbeda. Bunga dan tangkai cengkeh perlu dipisahkan karena mempunyai harga dan mutu yang berbeda. Tangkai dan bunga yang tercampur akan menurunkan mutu produk.

(8)

2 Perebusan

Perebusan ini selain untuk mempersingkat waktu pengeringan juga bisa memperbaiki warnanya. Cengkeh yang sudah direbus biasanya berwarna coklat mengkilap. Setelah direbus, cengkeh lalu dikeringkan untuk mendapat kadar air 12-14%. Kadar air yang melebihi 14% menyebabkan cengkeh mudah terserang jamur sehingga tidak tahan disimpan. Sebaliknya jika kadar air kurang dari 12%, cengkeh akan mudah hancur sehingga mutunya rendah. Melalui pengeringan ini, berat cengkeh akan turun hingga 29-33% (Irsan,2017).

Cengkeh yang akan dijemur dihamparkan pada alas tikar, anyaman bambu, atau plastik.

Apabila cengkeh yang akan dijemur jumlahnya banyak maka sebaiknya penjemuran dilakukan dilantai semen yang diatasnya diberi alas plastik, dengan cara penjemuran seperti ini maka bila hujan turun plastik tersebut dapat langsung digulung dan bunga cengkeh ditutupi dengan plastik lainnya. Selama proses pengeringan bunga cengkeh dibolak balik agar keringnya merata, proses pengeringan dianggap selesai apabila warna bunga telah berubah menjadi coklat kemerahan, mengkilap, mudah dipatahkan dengan jari tangan dan kadar air telah mencapai kira-kira 12%, lamanya waktu penjemuran dibawah sinar matahari berlangsung selama 4-6 hari. Pengeringan bunga cengkeh dapat dilakukan juga dengan menggunakan alat pengeringan tipe bak (batch dryer), bunga cengkeh diletakkan diatas bak yang terbuat dari logam yang berlubang udara panas kemudian dialirkan ke bawah bak dengan bantuan kipas, sumber panas diperoleh dengan cara membakar sekam padi, arang atau menggunakan minyak tanah, dengan menggunakan alat buatan ini dibutuhkan waktu pengeringan 2-3 hari (Irsan,2017).

3 Pengeringan/penjemuran

(9)

Kemasan

4

Melindungi hasil terhadap kerusakan Melindungi dari kehilangan air

Melindungi dari pencurian

Mempermudah dalam pengangkutan

Mempermudah penyusunan baik dalam pengangkutan maupun penyimpanan Mempermudah dalam perhitungan

Lebih efisien dalam pengangkutan maupun pemasaran

Memungkinkan penggunaan teknologi pengemasan dengan modifikasi atmosfir Buah yang dikemas tampak bersih dan memenuhi syarat kesehatan

Memberikan pelayanan penjualan yang lebih baik pada konsumen Mengurangi biaya pengangkutan,

Memungkinkan penggunaan cara-cara pengangkutan baru

Tahap akhir dari proses pascapanen cengkeh adalah pengemasan. Adapun tujuan dari pengemasan tersebut adalah:

Keuntungan yang dapat kita peroleh dengan melakukan pengemasan antara lain:

Kemasan langsung, yakni kemasan utama yang langsung berhubungan dengan buah yang dikemas. Bahan pengemas utama ini dapat berupa karung, plastik, kertas atau bahkan daun.

Kemasan tidak langsung, merupakan kemasan kedua yang tidak bersentuhan langsung. Wadah kedua dimaksudkan untuk melindungi bahan dari kerusakan fisik dan mekanis terutama untuk memudahkan pengaturan dalam gudang penyimpanan distribusi dan memudahkan dalam pengaturan alat angkut. Bahan pengemas jenis ini dapat dibuat dari peti kayu, peti plastik, peti karton dan keranjang bambu (Irsan,2017).

Secara umum ada 2 jenis kemasan yang digunakan, yaitu:

(10)

Penggunaan

Cengkeh

(11)

Minyak cengkeh mempunyai efek farmakologi sebagai stimulan, anestetik lokal, karminatif, antiemetik, antiseptik dan antispasmodik (Perry dan Metzger, 1990).

Sejak zaman Dinasti Han 220 – 206 SM cengkeh di samping sebagai rempah juga digunakan sebagai pewangi mulut (Crofton, 1936).

Di Eropa sejak abad 14, campuran ekstrak cengkeh dan kapolaga telah digunakan sebagai obat anti plaque (karang gigi).

Di Portugal bunga cengkeh yang masih hijau diambil cairannya dan dipakai untuk obat jantung di samping sebagai pewangi.

1 Cengkeh dalam

Industri Obat-Obatan

Beberapa dokter menyarankan penggunaan cengkeh untuk meningkatkan pencernaan karena percaya bahwa cengkeh dapat memperkuat kerja perut, hati dan jantung.

Rumphius (1941) menyatakan bahwa pada abad ke-18 di Maluku, cengkeh digunakan untuk menyembuhkan luka.

Pengobatan tradisional di Indonesia menggunakan cengkeh untuk sakit perut dengan cara mengunyah bunga cengkeh tersebut dan untuk sakit mata dengan meneteskan air perendaman bunga cengkeh.

Di samping itu cengkeh digunakan sebagai pembangkit nafsu makan, menyembuhkan kolik atau diberikan pada wanita yang baru melahirkan dalam bentuk ramuan dengan bahan bahan obat lainnya.

Minyak cengkeh dalam bentuk balsam sudah banyak digunakan di Indonesia karena sifatnya sebagai analgesik, balsam yang dihasilkan dapat dipakai untuk mengurangi rasa sakit karena reumatik.

Minyak cengkeh dapat dipakai sebagai bahan aktif atau pembuatan obat kumur karena sifatnya sebagai antibakteri. Senyawa eugenol sebagai hasil isolasi dari minyak cengkeh sudah biasa digunakan untuk obat sakit gigi dan bahan campuran untuk menambal gigi (Nurdjannah, 2004).

Erdiman (2004) melaporkan penggunaan baru yang menarik dari minyak cengkeh yaitu sebagai obat anestesi dalam penangkapan ikan hias dari tempat asalnya maupun selama proses penanganan, pemilihan dan transportasinya sebagai alternatif pengganti larutan cianida.

(12)

Cengkeh dalam Industri Makanan dan Minuman

2

Cengkeh utuh untuk pembuatan pikel atau asinan sayuran

Cengkeh bubuk lebih tahan terhadap panas selama proses pengolahan (contohnya pemanggangan) dibandingkan cengkeh utuh

Oleoresin merupakan produk hasil ekstraksi dari bunga cengkeh yang lebih disukai dari pada produk cengkeh lainnya, karena selain mengandung minyak atsiri sebagai komponen yang menguap, juga bahan bahan lain yang tidak menguap seperti resin, sehingga mempunyai aroma dan rasa seperti asalnya yaitu bunga cengkeh.

Oleoresin sangat jarang terkontaminasi oleh bakteri.

Bumbu kare (curry powder), Saus

Bahan penyedap masakan

Teh celup bunga cengkeh dan daun cengkeh Makanan yang dipanggang (baked foods)

Cengkeh digunakan untuk keperluan sehari-hari di rumah tangga sebagai penambah rasa dan aroma khususnya untuk memasak, dan juga dalam industri makanan dan minuman. Penggunaan cengkeh biasanya relatif sedikit jumlahnya.

Keuntungan dari penggunaan cengkeh menurut Nurdjannah (2004):

Contoh Produk makanan atau minuman :

(13)

Cengkeh dalam Industri Rokok

3

Indonesia merupakan negara produsen dan konsumen cengkeh terbesar di dunia karena sebagian besar cengkeh yang diproduksi adalah untuk bahan baku pabrik rokok. Setiap pabrik memiliki kriteria mutu yang berbeda dan dirahasiakan. Namun demikian, diduga kadar minyak atsiri, kadar eugenol dan daya penyerapan air merupakan peubah dan penentu preferensi pabrik dalam penentuan mutu di samping sifat fisikanya seperti warna, kadar air, kadar kotoran dan sebagainya. Selain eugenol, keseimbangan antara eugenol, eogenol asetat dan β – caryophyllen juga sangat mempengaruhi mutu rokok. Faktor di atas dipengaruhi oleh banyak faktor yang menyangkut tanaman, lingkungan (tanah dan iklim) serta berbagai perlakuan prapanen dan pascapanen. Bagian cengkeh yang biasa dipakai sebagai campuran dalam rokok kretek adalah bunga cengkeh, namun demikian tangkai cengkeh banyak pula dipakai dalam rokok kretek yang diproduksi oleh perusahaan perusahaan rokok yang kecil.

Fungsi cengkeh dalam rokok kretek disamping memberikan aroma khas cengkeh, rasa panas dan sifat mengkretek juga memberikan rasa menggigit, langu dan pahit. Menurut Farrer (2003), jumlah nikotin dan CO yang terhisap dari rokok kretek sama jumlahnya dengan jumlah nikotin yang terhisap dari rokok putih walaupun kadar tembakau dari rokok kretek lebih kecil. Hal ini menurut penelitian disebabkan karena perokok rokok kretek cenderung lebih sering dan lebih lama menghisap rokoknya. Karena itu rokok kretek sama berbahayanya dengan rokok putih.

(14)

Daftar Pustaka

Erdman, M.V., 2004. Clove Oil : an “eco friendly “ alternative to cyanide use in the live reef fish industry

Farrer, S., 2003. Alternative Cigarettes May Deliver More Nicotin Than Conventional Cigarettes. Research Findings 18 (2).

Irsan, M. H. M. 2017. Tingkat Pengetahuan Petani Dalam Menangani Pasca Panen Cengkeh di Kelurahan Lembang Gantarangkeke Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Universitas Muhammadiyah Makassar. Skripsi.

Mirmanto, Edi. 2010. Komposisi Flora dan Struktur Hutan Alami di Pulau Ternate, Maluku Utara. Jurnal Biologi Indonesia. 6 (3): 341-351.

Nurdjannah, N. 2004. Diversifikasi Penggunaan Cengkeh. Perspektif, 3(2): 61-70.

Rumphius, G. R, 1941. Herbarium Amboinense, Joannes Burmannus ed.

Amsterdam. 2. p 13.

Wibisono, N. 2014. Kretek dan Budaya Nusantara. Wacana Jurnal Transformasi Sosial 16 (34): 145-161

(15)
(16)

Referensi

Dokumen terkait

& Dewi, 2014, Perbedaan Efektifitas Minyak Atsiri Bunga Kenanga (Cananga Odorata) Sebagai Repelan Terhadap Gigitan Nyamuk Aedes aegypti Dengan Konsentrasi 5%, 15%, Dan 25%,