• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

12

A. Kerangka Teori

1. Tinjauan tentang Cita Hukum Pancasila dan Penjabarannya dalam Sistem Hukum

Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum, yang berarti segala bentuk hukum yang ada di Indonesia harus diukur menurut nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila serta didalam aturan hukum tersebut haruslah mencerminkan kesadaran dan rasa keadilan yang sesuai dengan kepribadian dan falsafah hidup bangsa Indonesia. Pancasila memiliki arti penting terhadap pembentukan hukum, Pancasila sebagai falsafah kehidupan bangsa Indonesia merupakan realitas keontentisitasan hukum Indonesia.

Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sebagai dasar negara, sebagai falsafah bangsa dan negara Indonesia, sebagai ideologi negara serta sebagai rechtsidee atau cita hukum yang diejahwantahkan kedalam keberadaan Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum, sehingga Pancasila juga memilki pengaruh besar dalam menentukan arah tujuan negara. Arah tujuan negara yaitu aturan hukum yang harus ditaati oleh semuanya agar tujuan negara dapat tercapai. Pancasila sebagai cita hukum diharapkan melahirkan nilai dari sila yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri, seperti moral religius, humanistik, nasionalistik, demokrasi serta keadilan sosial. Nilai dalam sila Pancasila tersebut tercermin dalam wujud :

1. Nilai moral religius, nilai ini dimaknai bahwa cita hukum Pancasila melahirkan hukum nasional yang berorientasi pada nilai agama dalam konteks religious nation state, namun bukan negara agama. Nilai moral religius bermakna bahwa setiap rakyat Indonesia berketuhanan menurut agama dan kepercayaan yang dianutnya, menjalankan

commit to user

(2)

13

kewajiban agamanya secara beradab serta saling menghargai dan menghormati karena semua agama di negara Indonesia mendapat tempat dan perlakuan yang sama. Nilai ini harus berwujud dan diintegrasikan dalam hukum nasional agar hukum nasional tidak bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Nilai humanistik, bermakna bahwa cita hukum Pancasila merupakan hukum yang berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan, yaitu bahwa adanya pengakuan semua rakyat Indonesia sama derajatnya. Semua warga negara memiliki kedudukan yang sama didepan hukum tanpa membedakan agama, suka bangsa dan ras.

3. Nilai nasionalistik/persatuan, bermakna bahwa cita hukum Pancasila merupakan hukum yang berdasarkan nasionalisme sehingga menutup kemungkinan adanya disintegrasi bangsa. Pancasila juga menjadi penggerak terwujudnya persatuan Indonesia.

4. Nilai demokrasi, bermakna bahwa cita hukum Pancasila merupakan hukum yang berdasarkan demokrasi kerakyatan, yaitu nilai yang diyakini, dihargai dan dipatuhi oleh bangsa Indonesia. Dalam menciptakan kebijakan aturan hukum haruslah berangkat dari kemauan serta adanya kesepakatan dengan rakyat secara demokratis, bukan hasil kesepakatan dari elit politik ataupun sekelompok orang saja.

5. Nilai keadilan sosial, bermakna bahwa cita hukum Pancasila merupakan hukum yang berdasarkan pada keadilan sosial yang bersifat substansif dan tercerminkan pada setiap kebijakan. Keadilan mencakup di bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik.

Pembangunan hukum yang berorientasi pada nilai keadilan serta kemakmuran akan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Menurut Mahfud MD, kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional dapat dipandang dari tiga aspek, yaitu filosofis, yuridis dan politik. Dari aspek filosofis, Pancasila menjadi pijakan bagi penyelengga dalam bernegara yang dikritalisasikan dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri. commit to user

(3)

14

Aspek yuridis, Pancasila sebagai dasar negara menjadi cita hukum (rechtsidee) yang harus dijadikan dasar dan tujuan dari setiap hukum yang ada di Indonesia. Dan pada aspek politik, Pancasila dijadikan dari setiap rujukan nilai dan fatsun dalam berpolitik dan pengelolaan negara.

Cita hukum yang diinginkan bangsa Indonesia adalah cita hukum Pancasila. Cita hukum pancasila adalah hukum yang merangkum segala nilai, konsep, kepentingan yang secara elektif mengambil unsur-unsur terbaik kesadaran hukum masyarakat Indonesia serta dalam cita hukum Pancasila haruslah memperhatikan dinamika hukum secara global terutama konvensi- konvensi internasional dengan tetap mem-filternya terlebih dahulu.

Satjipto Rahardjo menjelaskan bahwa cita hukum Pancasila sebagai cita hukum yang berakar dari budaya bangsa Indonesia yang khas. Sistem hukum Pancasila adalah sistem hukum yang khas untuk rakyat Indoenesia. Sistem hukum Pancasila mengandung unsur-unsur yang khas dengan budaya Indonesia yang sudah hidup dan dipraktekan dalam tata nilai dan tata budaya di kalangan masyarakat selama berabad-abad. Cita hukum Pancasila tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai satu kesatuan dan utuh dari kelima sila, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pancasila sebagai cita hukum, dapat ditinjau dari tiga pendekatan yaitu : 1. Secara ontologis

Dilihat dari segi realitas, keberadaan Pancasila telah menyejarah dan telah dijalankan bersama sebagai way of life negara Indonesia.

2. Secara epistemologis

Dilihat dari segi konstruksi pemikiran, Pancasila sebagai dasar kehidupan yang terus dinamis.

3. Secara metodologis

commit to user

(4)

15

Pancasila dilihat sebagai konsktruksi baru yang berlandaskan pada pendekatan sosio-legal.

Pendekatan ini berdasarkan pada hukum sebagai norma sekaligus melihat bagaimana norma itu dalam pelaksanaannya dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sub sistem yang lainnya. Cita hukum pancasila harus mampu mewujudkan keadilan serta kesejahteraan rakyat dengan cara ditunjang oleh aparatur penegak hukum yang memahami jiwa dan semangat undang-undang untuk kebahagiaan manusia. Pancasila merupakan core philosophy bagi negara Indonesia sehingga menjadi suatu local genius dan local wisdom bangsa.

Cita hukum Pancasila secara gamblang dapat dilihat dalam pasal 33 UUD NRI 1945 yang menyatakan:

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat.

4. Perekonomian nasional diselenggara-kan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kema-juan dan kesatuan ekonomi nasional.

Kemudian dalam pasal 34 UUD NRI 1945 yang telah diamademen diperjelas lagi sebagai berikut:

1. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

2. Negara mengembangkan sistim jami-nan sosial bagi seluruah rakyat dan memberdayakan masyarakat yang le-mah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

commit to user

(5)

16

3. Negara bertanggungjawab atas penye-diaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Ketentuan dalam pasal 33 dan 35 UUD NRI 1945 sekiranya berkaitan erat dengan pasal 27 ayat 1 dan 2 serta pasal 28a dalam UUD NRI 1945. Pasal 27 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa:

1. Segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

2. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Sedangkan, pasal 28a menyatakan bahwa, “setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”. Dalam ketentuan tersebut cita hukum Pancasila tidak hanya mementingkan kemakmuran segelintir orang saja namun mementingkan kemakmuran banyak orang.

Cita hukum merupakan gagasan, karsa, cipta dan pikiran yang berkenaan dengan hukum atau pandangan tentang makna hukum, yang terdiri dari tiga unsur yaitu : keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Fungsi cita hukum adalah sebagai asas umum, norma kritik (kaidah evaluasi) dan faktor yang memotivasi dalam pembentukan, penemuan dan penerapan dalam hukum serta perilaku hukum. Menurut Rudolf Stammler, cita hukum (rechtsidee) berfungsi sebagai penentu arah agar tercapainya cita-cita masyarakat.

Walaupun cita-cita masyarakat tersebut tidak sepenuhnya tercapai, namun cita hukum memberikan faedah positif sebab mengandung dua sisi, yaitu cita hukum yang dpaat diuji hukum positif yang berlaku serta cita hukum yang dapat diarahkan kedalam hukum positif sebagai usaha mengatur tata kehidupan masyarakat bangsa. Menurutnya, hukum yang adil adalah hukum yang diarahkan oleh cita hukum guna mencapai tujuan atau cita-cita masyarakat. Gustav Radbruch menegaskan bahwa cita hukum tidak hanya berfungsi sebagai tolak ukur yang sifatnya regulatif, yaitu yang menguji apakah suatu hukum positif adil atau tidak, melainkan juga menjadi fungsi dasar yang bersifat konstitutif, yaitu yang menentukan bahwa tanpa adanya commit to user

(6)

17

cita hukum, hukum akan kehilangan maknanya sebagai hukum. Disisi lain, Arief Sidharta menggabungkan fungsi cita hukum kedua tokoh tersebut.

Menurutnya, cita hukum berfungsi sebagai pedoman asas umum (guiding principle), norma kritik (kaidah evaluasi) serta faktor penggerak dalam penyelenggaraan hukum (pembentukan, penerapan, penegakkan dan penemuan) serta perilaku masyarakat.

Pancasila merupakan sumber hukum mateeril yang setidaknya memuat tiga materi yang terkandung didalamnya, yaitu: pertama muatan filosofis, kedua muatan Pancasila sebagai identitas hukum nasional serta yang ketiga muatan materi yang mana Pancasila tidaklah menentukan perintah, larangan ataupun sanksi melainkan Pancasila menentukan asas-asas fundamental bagi pembentukan hukum. Didalam masing-masing sila Pancasila telah menggambarkan nilai fundamental sekaligus menjadi lima asas operasional dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam pengembangan hukum praktis.

Cita hukum Pancasila dapat dimaknai sebagai sistem hukum yang bersumber dari hukum yang telah dianut dan dijalankan oleh bangsa Indonesia. Cita hukum Pancasila harus menjangkau seluruh kepentingan hukum rakyat Indonesia sejauh batas-batas nasional negara Indonesia. Cita hukum Pancasila juga harus memberikan asas keselarasan yaitu asas yang mengkehendaki terselenggaranya harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam menyelesaikan suatu permasalahan, selain didasarkan pada pertimbangan kebenaran dan kaidah hukum yang berlaku, juga harus dapat diakomodasikan pada proses kemasyarakatan sebagai keseluruhan yang utuh dengan mempertimbangkan juga pandangan hidup dalam masyarakat.

Pancasila yang berkedudukan sebagai norma dasar negara merupakan norma tertinggi dalam sistem norma hukum Indonesia dan sebagai norma dasar yang merupakan sumber dari segala sumber bagi norma-norma yang ada dibawahnya. Berdasarkan ketentuan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 menyatakan bahwa sistem hukum nasional adalah sistem

commit to user

(7)

18

hukum yang mendukung dan bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

“pembangunan hukum diarahkan pada makin terwujudnya sistem hukum nasional yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945 yang mencakup pembangunan ateri hukum, aparatur hukum serta sarana dan prasarana hukum dalam rangka pembangunan negara hukum untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram.

Pembangunan hukum dilaksanakan melalui pembaharuan hukum dengan tetap memperhatikan kemajemukan tatanan hukum yang berlaky yang mencakup upaya untuk meningkatkan kesadaran hukum, kepastian hukum, perlindungan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran..”

Adanya sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 diharapkan menggantikan sistem hukum dari masa Hindia Belanda. Sistem hukum Indonesia berdasarkan kedekatan sejarahnya menganut sistem hukum Eropa Kontinental (Civil Law) yang menitikberatkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku (hukum positif).

2. Tinjauan tentang Perlindungan Hukum Bagi Pekerja 1) Tenaga kerja

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa :

“Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”.

Pengertian tenaga kerja disini mencakup tenaga kerja/buruh yang terkait dengan suatu hubungan kerja dan tenaga kerja yang belum bekerja. Sedangkan pengertian pekerja/buruh itu sendiri merupakan setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lainnya (Hardijan Rusli, 2003 : 11-12).

Istilah buruh sangat populer dalam dunia perburuhan atau ketenagakerjaan, karena istilah tersebut sudah dipergunakan sejak commit to user

(8)

19

zaman penjajahan Belanda. Sebelum adanya Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan untuk menyebutkan tenaga kerja menggunakan istilah buruh, hal tersebut dipertegas dengan pengertian tenaga kerja [ada zaman Belanda yaitu :

“Buruh adalah pekerja kasar seperti kuli, tukang, mandor yang melakukan pekerjaan kasar. Orang-orang melakukan pekerjaan ini disebut “Blue Collar”. Sedangkan yang melakukan pekerjaan di kantor pemerintahan maupun swasta disebut sebagai karyawan atau pegawai “White Collar”.

Dalam perkembangannya di Indonesia, istilah buruh diganti dengan istilah pekerja. Sebab istilah buruh kurang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang mana selalu ditekan dan berada dalam bawah pihak lain yaitu majikan dan juga buruh sudah tidak sejalan dengan perkembangan yang ada karena dirasa terlalu mernedahkan harkat dan martabat manusia.

Dalam pasal 1 angka 3 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memberikan pengertian pekerja/buruh adalah sebagai berikut :

“Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”.

Hal tersebut memberikan pengertian yang lebih luas karena mencakup semua orang yang bekerja pada siapa saja baik perorangan, persekutuan, badan hukum maupun badan lainnya yang menerima upah atau imbalan lain dalam bentuk apapun.

Secara garis besar penduduk pada suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Sedangkan menurut DR. Payaman tenaga kerja adalah penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Secara praksis, tenaga kerja dan bukan tenaga kerja menurutnya hanya dibedakan oleh batasan umur.\ commit to user

(9)

20

Ada beberapa klasifikasi tenaga kerja yang sudah tersusun berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan yaitu sebagai berikut :

1) Berdasarkan penduduknya a. Tenaga kerja

Tenaga kerja merupakan seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja jika tidak ada permintaan kerja. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja merupakan mereka yang dikelompokkan sebagai tenaga kerja yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 64 tahun.

b. Bukan tenaga kerja

Bukan tenaga kerja adalah mereka yang dianggap tidak mampu dan tidak mau bekerja, meskipun ada permintaan bekerja. Menurut Undang-undang Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003, mereka adalah penduduk di luar usia, yaitu mereka yang berusia di bawah 15 tahun dan berusia di atas 64 tahun. Contoh kelompok ini adalah para pensiunan, para lansia (lanjut usia) dan anak-anak.

2) Berdasarkan batas kerja a. Angkatan kerja

Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang berusia 15 tahun sampai 64 tahun yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan.

b. Bukan angkatan kerja

Bukan angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun ke atas yang kegiatannya hanya bersekolah, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Contoh kelompok ini adalah: anak sekolah dan mahasiswa, para ibu rumah tangga dan orang cacat, dan para pengangguran sukarela.

3) Berdasarkan kualitasnya commit to user

(10)

21 a. Tenaga kerja terdidik

Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian atau kemahiran dalam bidang tertentu dengan cara sekolah atau pendidikan formal dan nonformal. Contohnya:

pengacara, dokter, guru, dan lain-lain.

b. Tenaga kerja terlatih/terampil

Tenaga kerja terlatih/terampil adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dengan melalui pengalaman kerja. Tenaga kerja terampil ini dibutuhkan latihan secara berulang-ulang sehingga mampu menguasai pekerjaan tersebut. Contohnya: apoteker, ahli bedah, mekanik, dan lain-lain.

c. Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih/terampil Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja kasar yang hanya mengandalkan tenaga saja. Contoh: kuli, buruh angkut, pembantu rumah tangga, dan sebagainya.

2) Perlindungan hukum bagi pekerja

Dilihat dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan tidak diterangkan secara jelas mengenai pengertian perlindungan hukum bagi pekerja, namun dilihat dari tujuan Undang- Undang itu sendiri yang tercantum dalam pasal 4 huruf (c) dimana bahwa tujuan dari pembangunan ketenagakerjaan adalah memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan.

Maka, perlindungan hukum bagi pekerja dapat diartikan sebagai suatu usaha pemenuhan kebutuhan dan keperluan pekerja baik bersifat jasmani maupun rohani, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja secara langsung atau tidak secara langsung dapat meningkatkan produktifitas dalam lingkungan kerja yang aman dan sehat.

Menurut Imam Soepomo pengertian perlindungan hukum bagi pekerja adalah penjagaan agar pekerja dapat melakukan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan. Dimana perlindungan hukum tersebut meliputi perlindungan terhadap waktu kerja, perlindungan sistem pengupahan, commit to user

(11)

22

istirahat, dan cuti. Sementara Imam Soepomo mengklasifikasikan perlindungan tenaga kerja menjadi tiga jenis perlindungan, yaitu :

a. Perlindungan secara ekonomis

Terkadang disebut juga sebagai jaminan sosial yaitu perlindungan terhadap pekerja/buruh terkait dengan pengahasilan. Perlindungan ini meliputi usaha-usaha yang dilakukan untuk memberikan penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidup dan keluarga si pekerja, termasuk perlindungan pekerja bila bekerja diluar kehendaknya.

Sehubung dengan perlindungan terkait penghasilan, maka yang menjadi masalahnya adalah mengenai imbalan kerja (upah/gaji) yang harus didapatkan pekerja. Oleh karena itu, dalam rangka memberikan perlindungan secara ekonomis, maka kebutuhan terhadap aturan dengan pengupahan menjadi mutlak adanya.

Hubungan yang terjadi antara status atasan (pengusaha) dan bawahan (pekerja) menempatkan para pengusaha menetapkan upah berdasarkan keinginannya dengan mengabaikan pemenuhan hak-hak pekerja untuk hidup secara berkelayakan.

Dengan hal ini berarti pemerintah memiliki kepentingan untuk menyelaraskan bentuk upah yang layak bagi pekerja.

b. Perlindungan sosial/kesehatan kerja

Perlindungan keselamatan dan kesehatan terhadap tenaga kerja dimuat dalam pasal 86 ayat 1 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan bahwa setiap pekerja/butuh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan serta perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.

Kesehatan kerja merupakan setiap usaha dan upaya maupun aturan yang bertujuan untuk melindungi tenaga kerja dari tindakan-tindakan maupun kondisi yang dapat mengganggu commit to user

(12)

23

kesehatan fisik, psikis dan melanggar norma kesusilaan dalam suatu hubungan kerja. Kesehatan kerja dimaksudkan sebagai perlindungan pekerja dalam bentuk jaminan kesehatan kerja dan kebebasan berserikat serta perlindungan hak untuk berorganisasi. Perlindungan sosial ini berkaitan dengan sosial kemasyarakatan yaitu aturan yang dimaksudkan untuk adanya pembatasan terhadap kekuasaan pengusaha dalam memperlakukan pekerja/butuh yang semaunya/sesuai keinginannya tanpa memperhatikan norma-norma yang berlaku, dengan tidak memandang pekerja/buruh sebagai makhluk Tuhan yang memilki hak asasi. Kesehatan kerja pekerja juga dimaksudkan untuk melindungi pekerja/buruh dari kejadian yang merugikan kesehatan dan kesusilaannya dalam/pada saat melakukan pekerjaannya dan bagi pekerja yang tidak sedang melakukan hubungan kerja kemudian mendapatkan kerugian kesehatan maka tidak mendapatkan perlindungan sosial (kesehatan kerja) tersebut. Adanya peraturan yang telah dibuat mengenai keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk :

1. Melindungi pekerja dari risiko kecelakaan kerja 2. Meningkatkan derejat kesehatan para pekerja

3. Agar pekerja/buruh dan sekitarnya terjamin keselamatannya, dan

4. Menjaga agar sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan berdaga guna.

c. Perlindungan teknis/keselamatan kerja

Keselamatan kerja adalah segala aturan dan upaya yang bertujuan untuk menyediakan perlindungan teknis bagi pekerja dari risiko kerja terkait dengan penggunaan alat/mesin, material (bahan berbahaya/beracun), jenis kerja, lokasi, waktu, dan kondisi tempat kerja selama masa kerja berlangsung, commit to user

(13)

24

termasuk ketersediaan sarana dan prasarana sebagai langkah antisipasi jika terjadi kecelakaan kerja.

Tujuan utama dari adanya perlindungan teknis ini adalag terwujudnya keselamatan sepanjang hubungan kerja, yang selanjutnya akan menciptakan perasaan aman dan nyaman bagi para pekerja untuk melaksanakan kerjaannya secara maksimal, tanpa perlu merasa takut maupun khawatir akan terjadinya kecelakaan. Dan apabila terlanjur terjadi, maka penanganannya dapat segera dilakukan.

Berbeda degan perlindungan kerja yang lainnya yang hanya ditunjukkan untuk kepentingan pekerja/buruh saja, perlindungan teknis/keselamatan kerja ini tidak hanya memberikan perlindungan kepada pekerja/buruh saja, tetapi juga kepada pengusaha dan pemerintah.

1. Bagi pekerja/buruh, adanya perlindungan teknis ini akan menimbulkan suasana kerja yang tentram sehingga dalam melaksanakan pekerjaannya dapat optimal tanpa khawatir sewaktu-waktu akan terjadi kecelakaan kerja.

2. Bagi pengusaha, adanya pengaturan keselamatan kerja (perlindungan teknis) didalam perusahaannya akan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan kerja.

3. Bagi pemerintah (dan masyarakat sekitar), dengan adanya dan ditaati peraturan keselamatan kerja tersebut, maka apa yang direncanakan pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat akan tercapai dengan meningkatnya produksi perusahaan baik secara kualitas maupun kuantitas.

Pada prinsipnya perlindungan hukum tidak membedakan dari segi ras, agama atau jenis kelamin sebagaimana yang tercantum dalam penjelasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 pada pasal 27 ayat 2 menyebutkan bahwa tiap-tiap warga Negara berhak atas commit to user

(14)

25

pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sehingga tujuan perlindungan hukum tenaga kerja adalah untuk menjamin berlangsungnya sistem hubungan kerja secara harmonis tanpa disertai adanya tekanan dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah.

Jaminan hak konstitusional warga negara dalam UUD 1945 setelah amandemen dapat ditemukan dalam bab sendiri yaitu pada Bab X A tentang Hak Asasi Manusia. Dalam hal perlindungan hak-hak dasar pekerja diatur dalam pasal 28 D ayat 2 yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja” dan pada pasal 28 H ayat 3 menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.”

Ketentuan dalam UUD 1945 tersebut merupakan peraturan yang sangat jelas dan besar manfaatnya bagi perlindungan hak-hak pekerja/butuh, dimana pekerja/buruh diberikan jaminan kehidupan yang seharusnya didapatkan dalam melaksanakan pekerjaannya tanpa khawatir adanya gangguang yang dapat mengancam hak-hak mereka.

Perlindungan hak-hak pekerja selain diatur dalam UUD 1945 juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam pasal 38 yang menyatakan bahwa:

“(1) setiap warga negara sesuai dengan bakat, kecakapan dan kemampuan, berhak atas pekerjaan yang layak.

(2) setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang disukai dan berhak pula atas syarat-syarat ketenagakerjaan yanga adil.

(3) setiap orang baik pria maupun wanita yang melakukan pekerjaan yang sama, sebanding, setara atau serupa berhak atas upah serta syarat-syarat perjanjian kerja sama.

(4) setiap orang baik pria maupun wanita dalam melakukan pekerjaan yang sepadan dengan martabat kemanusiaannya berhak commit to user

(15)

26

atas upah yang adil sesuai dnegan prestasinya dan dapat menjamin kelangsungan kehidupan keluarga.”

Dalam pasal 39 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia diakui dan diatur pula mengenai hak ikut serta dalam Serikat Buruh. Pasal tersebut menyatakan bahwa “setiap orang berhak untuk mendirikan serikat pekerja dan tidak boleh dihambat untuk menjadi anggotanya demi melindungi dan memperjuangkan kepentingan serta dnegan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

3. Tinjauan tentang Perlindungan Pekerja Dalam Ketentuan Internasional

Ketentuan hukum yang mengatur masalah perlindungan hak-hak pekerja sangat banyak jumlahnya baik ketentuan hukum internasional maupun nasional. Berikut beberapa ketentuan internasioan dalam melindungi pekerja, antara lain:

1. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia

Selanjutnya disebut DUHAM yang telah diterima Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948. DUHAM berisi pokok-pokok hak asasi dan kebebasan fundamental manusia sehingga merupakan tercapainya titik kulminasi konseptualisasi HAM sebagai wacana universal atau dapat dikatakan sebagai standar acuan pencapaian bersama bagi semua rakyat dan bangsa. (Majda El Muhtaj, 2008:14)

Dokumen tersebut merupakan kesepakatan bersama sebagai Magna Charta International dalam hak-hak asasi manusia. Ada dua bagian yang termaktub dalam DUHAM, yaitu bagian pertama adalah persetujuan berkaitan dengan hak asasi dan kebebasan fundamental mengenai hak-hak sipil dan politik serta bagian keduanya adalah persetujuan mengenai hak asasi dan kebebasan fundamental hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Terdapat prinsip-prinsip dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia yaitu:

commit to user

(16)

27

1. Pengakuan terhadap martabat dasar dan hak-hak yang sama dan sejajar sebagai dasar dari kemerdekaan, keadilan dan perdamaian dunia

2. Membangun hubungan yang baik antar bangsa 3. Perlindungan HAM dengan rule of law

4. Adanya persamaan laki-laki dan perempuan

5. Kerjasama antara negara dengan PBB untuk mencapai pengakuan universal terhadap HAM dan kebebasan dasar.

Perlindungan terhadap hak-hak pekerja sendiri diatur dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dalam pasal 23 dan 24 yang menyatakan bahwa:

Pasal 23:

“(1) setiap orang berhak atas pekerjaan, berhak dengan bebas memilih pekerjaan, berhak atas syarat-syarat perburuhan yang adil dan menguntungan serta berhak atas perlindungan dari pengangguran

(2) setiap orang tanpa diskriminasi, berhak atas pengupahan yang sama untuk pekerjaan yang sama.

(3) setiap orang yang bekerja berhak atas pengupahan yang adil dan menguntungkan, yang memberikan jaminan kehidupan yang bermartabat baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya, dan jika perli ditambah dengan perlindungan sosial lainnya.

(4) setiap orang berhak mendirikan dan memasuki serikat-serikat pekerja untuk melindungi kepentingannya.”

Pasal 24:

“setiap orang berhak atas istirahat dan liburan, termasuk pembatasan-pembatasan jam kerja yang layak dan hari liburan berkala, dengan tetap menerima upah.”

2. Konvenan Internasional tentang Hak Ekosob (ICESCR)

DUHAM sendiri bukanlah sebuah instrumen yuridis yang memiliki kekuatan mengikat, maka dari itu pokok-pokok hak asasi manusia dan commit to user

(17)

28

kebebasan fundamental dituangkan kedalam instrumen-instrumen yang mengikat secara hukum. Pada tahun 1948 komisi hak asasi manusia PBB meminta kepada majelis umum PBB untuk menyusun rancangan konvenan tentang HAM dan rancangan tindakan pelaksanaannya.

Kemudian, pada tahun 1949 majelis umum PBB menerima resolusi yang menyatakan bahwa kebebasan sipil dan politik serta kebebasan ekonomi, sosial dan budaya salng berkaitan dan bergantungan. Dan pada tahun 1951 Komisi HAM menyusun rancangan pasal-pasal tentang hak ekonomi, sosial dan budaya serta pasal-pasal mengenai pelaksanaan dalam bidang tersebut.

Pada tanggal 3 Januari 1976 Konvensi Internasional mengenai Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mulai berlaku. Konvenan Internasional tersebut berlaku tanpa memperhatikan apakah dalam suatau negara sudah mengadopsi secara khusus dokumen-dokumen tersebut, hak-hak yang termaktub dalam dokumen tersebut telah tercapai status sebagai hukum kebiasan internasional. International Convenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) merupakan konvenan yang bertujuan untuk melindungi hak asasi manusia khususnya hak ekonomi, sosial dan budaya serta menjamin adanya kesetaraan antarindividu. Negara yang meratifikasi konvenan ini berarti setiap negara tersebut memiliki tanggung jawab untuk menerapkan setiap kewajiban yang terkandung didalamnya dan menjamin pelaksanaan tanggung jawab tersebut dalam hukum nasionalnya.

Prinsip-prinsip umum dalam konvenan ini adalah hak untuk menentukan nasib diri sendiri (right of self determination). Hal tersebut tertuang dalam pasal 1 konvenan yang menyatakan bahwa semua orang mempunyai hak untuk menentukan nasib diri sendiri yang dengan hak tersebut mereka bebas menentukan status politiknya dan bebas mengembangkan keadaan ekonomi, sosial dan budayanya. Oleh karena itu, setiap negara peserta harus mendorong terlaksananya hak menentukan nasib diri sendiri dan menghargai hak tersebut. commit to user

(18)

29

Dalam Konvenan ini, terkandung materi yang menjelaskan cakupan dari hak ekonomi, sosial dan budaya, yaitu:

1. Persamaan hak antara pria dan wanita. Bahwa negara peserta menjamin persamaan hak antara pria dan wanita dalam menikmati hak ekonomi, sosial dan budayanya. (Pasal 3)

2. Hak atas pekerjaan. Bahwa negara peserta megakui dan menjamin hak untuk bekerja termasuk hak setiap orang untuk mendapatkan kesempatan memperoleh penghasilan dengan pekerjaan yang ia pilih dan terima dengan bebas. (Pasal 6)

3. Hak mendapatkan kondisi pekerjaan yang layak. Negara peserta mengakui dan menjamin penghasilan yang layak dan adil tanpa perlakuan diskriminatif, khususnya antara pria dan wanita dengan penghasilan yang setara dengan pekerjaannya (equal pay for equal work). Negara peserta juga mejamin keamanan dan keselamatan kerja serta mengatur batas ham kerja, istirahat, libur dan libur nasional. (Pasal 7)

4. Hak membentuk dan bergabung dalam badan usaha. Negara peserta menjamin hak setiap orang untuk membentuk badan usaha sesuai dengan pilihannya untuk mendukung dan melindungi kepentingan ekonomi dan sosialnya. Ketentuan ini juga mengatur hak untuk berdemonstrasi sepanjang dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku dinegara tersebut. (Pasal 8) 5. Hak mendapatkan standar hidup yang layak. Negara peserta

mengakui dan menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan standar hidup yang layak baik bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarganya, termasuk kelayakan pangan, sandang dan papan, dan kelanjutan perkembangan hidupnya. (Pasal 11)

6. Hak mendapatkan standar terbaik untuk kesehatan jasmani dan mental. Negara peserta mengakui dan menjamin hak setiap orang untuk menikmati standar terbaik untuk kesehatan jasmani dan mental. Guna menjamin pelaksanaan ini, negara harus commit to user

(19)

30

mengambil langkah-langkah yaitu mengatur pengurangan angka kematian bayi, meningkatkan kebersihan lingkungan, mencegah dan mengendalikan virus epidemik, endemik dn lainnya serta menjamin pelayanan medis. (Pasal 12)

7. Hak memperoleh pendidikan. Negara peserta mengakui dan menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan pendidikan.

Negara-negara peserta bersepakat bahwa pendidikan harus dapat membuat semua orang berpartisipasi dalam masyarakat, mendorong toleransi dan persahabatan antar bangsa, ras, etnis dan antar umat beragama untuk menciptakan perdamaian. Guna menjamin pelaksanaanya, pendidikan primer harus diwajibkan dan bebas biaya, pendidikan sekunder dan pendidikan yang lebih tinggi harus mudah dijangkau oleh semua orang. (Pasal 13 dan 14)

8. Hak untuk hidup berbudaya dan menikmati keuntungan keilmuan. Negara peserta mengakui hak setiap orang untuk turut serta dalam kehiduoan berbudaya, menikmati keuntungan keilmuan dan penerapannya, dan menikmati perlindungan moral dan materi atas hasul dari suatu keilmuan, sastra atau produk seni yang diciptakannya. (Pasal 15)

Dalam ICESCR ini, negara harus juga menjamin adannya perlindungan hak-hak dasar bagi pekerja. Hak atas pekerjaan ada dua ranah yaitu: pertama, akses terhadap kesempatan kerja meliputi kesamaan kesempatan termasuk non diskriminasi, latihan dan pendidikan serta yang kedua adalah hak untuk tidak disingkirkan dari pekerjaan secara semena-mena meliputi perlindungan dari pemecatan yang semena- mena. Hal tersebut lebih jelasnya diatur dalam pasal 6 dan 7 pada konvenan ICESCR. Lalu, dalam pasal 8 ICESCR diatur jelas menjamin hak untuk membentuk dan bergabung dengan serikat huruh serta dalam pasal 9 negara peserta harus mengakui hak setiap orang atas jaminan sosial termasuk asuransi sosial. Bagi pekerja/buruh, jaminan sosial yang commit to user

(20)

31

dimaksud adalah pelayanan kesehatan, jaminan bagi orang cacat, jaminan hari tua, jaminan kecelakaan kerja, jaminan pengangguran, jaminan bagi yang selamat dari kecelakaan, jaminan keluarga serta jaminan melahirkan.

Adanya Konvenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR) ini Indonesia meratifikasinya dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Konvenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR).

commit to user

(21)

32

B. Kerangka Pemikiran Premis Mayor :

1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang

Ketenagakerjaan

3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja

4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas

5. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 Tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja, Waktu Istirahat dan Pemutusan Hubungan Kerja

6. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 Tentang Pengupahan

7. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2021 Tentang Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

8. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kebutuhan Hidup Layak (KHL)

Premis Minor :

1. Mana yang lebih baik memberikan perlindungan pemenuhan hak pekerja diantara Undang-Undang Cipta Kerja dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan

2. Kesesuaian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja dalam perlindungan pemenuhan hak pekerja

berdasarkan Pancasila.

Kesimpulan :

1. Mana yang lebih berfungsi diantara Undang-Undang Cipta Kerja dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan dalam memberikan perlindungan pemenuhan hak pekerja.

2. Sudah sesuai belum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja dalam perlindungan pemenuhan hak pekerja berdasarkan Pancasila.

commit to user

(22)

33 Keterangan :

Hukum seharusnya sudah selayaknya memberikan perlindungan kepada tenaga kerja, karena adanya sebuah ketidakseimbangan kekuatan antara pemberi kerja dengan tenaga kerja. Perlindungan hukum sangat penting peranannya mengingat bahwa sangat bersar adanya kemungkinan para pemberi kerja melakukan hal yang sewenang-wenang kepada pekerja. Dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dalam pasal 27 ayat 2 menyatakan bahwa

“tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan pemghidupan yang layak bagi kemanusiaan.”

Selain itu, dalam pasal 28D ayat 1-3 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 juga menyatakan bahwa

“(1) setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. (2) setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. (3) setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.”

Konstitusi sendiri secara jelas mengatur bahwa setiap orang berhak untuk bekerja, mendapatkan perlindungan, mendapatkan imbalan serta mendapatkan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. Dengan demikian, seharusnya undang-undang sebagai pelaksana Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 harus menjamin hak-hak tersebut, begitu pula seharusnya dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Sudah seharusnya Undang-Undang ini memberikan perlindungan yang lebih baik daripada peraturan perundang-undangan sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menuliskannya dalam penelitian hukum (skripsi) mengenai mana yang berfungsi lebih baik dalam memberikan perlindungan pemenuhan hak terhadap pekerja antara kedua peraturan perundang-undangan tersebut dan juga terkait apakah dalam commit to user

(23)

34

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja sudah sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Keseimbangan nafsu dan hati nurani bukan hanya berguna pada awal usaha atau ketika akan memulai atau mengusahkan sesuatu, tetapi seharusnya juga digunakan pada akhir

Namun terdapat lokasi yang tidak terlalu parah yaitu di Taman Wisata Alam (TWA) Alur Paneh keru­ sakan relatif kecil karena ekosistem mangrove berada dibelakan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memotivasi petani dalam melakukan usahatani semangka di Desa Sumber Sari Kecamatan Kota Bangun

Mulai saat ini partisipasi negara- negara untuk mengikuti S I semakin banyak, ada 44 negara termasuk Indonesia, sehingga diperkirakan S I akan diterima secara

Selain itu kita juga dapat mengubah elemen – elemen matriks dari suatu operator dalam suatu basis menjadi elemen –elemen matriks dari suatu operator yang sama

• Limfa adalah transudate dari darah yang mengandung protein yang sama dengan plasma, tetapi lebih sedikit.. • Limfa terutama

KRI ini menghasilkan keputusan yaitu menerapkan kongres sebagai badan tetap dan akan mengadakan kongres umum secara berkala serta mengusahakan terwujudnya Indonesia

Berdasarkan keputusan yang diperolehi daripada pembangunan dan pengujian topologi, saiz kekisi 0.380m dan jarak ke akses paling hampir digunakan dalam analisa