• Tidak ada hasil yang ditemukan

META ANALISIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA SEKOLAH DASAR. 0Skripsi0

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "META ANALISIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA SEKOLAH DASAR. 0Skripsi0"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

META ANALISIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA PEMBELAJARAN

MATEMATIKA SISWA SEKOLAH DASAR

0Skripsi0

Diajukan0kepada0Fakultas0Ilmu0Tarbiyah0dan0Keguruan0untuk0 Memenuhi Salah0Satu0Syarat0Mencapai0Gelar0Sarjana0Pendidikan

Oleh : Tri Anzani Ashari NIM 11150183000079

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2020

(2)
(3)

i

(4)

ii

(5)

iii

(6)

iv ABSTRAK

Tri Anzani Ashari, 11150183000079. Meta-Analisis Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Pada Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. Skirpsi, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah,Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk0mengetahui besar pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran Matematika secara keseluruhan dan berdasarkan variabel terikat pada beberapa jurnal ilmiah di jenjang pendidikan dasar pada jenjang pendidikan dasar. Metode yang digunakan adalah meta-analisis yaitu review naratif dekriptif atau review sistematik dengan menganalisis hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan secara nasional yang berkaitan dengan pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran Matematika siswa sekolah dasar. Sampel dalam penelitian ini berupa teknik random sampling dengan jumlah tiga belas artikel jurnal yang telah dipublikasikan secara nasional di Indonesia dengan rentang tahun 2014-2020 pada jenjang pendidikan dasar yang membahas penulisan eksperimen mengenai pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Matematika siswa sekolah dasar. Instrumen yang digunakan yaitu berupa lembar pemberian kode (coding data) yang merangkum data dan informasi jurnal. Berdasarkan analisis nilai pengaruh secara keseluruhan didapatkan nilai rata-rata besar pengaruh sebesar 0,416 yang berarti dalam kategori efek besar.

Temuan analisis juga menunjukkan bahwa model pembelajaran problem based learning memberikan pengaruh pada pembelajaran Matematika jenjang pendidikan dasar. Hal ini menunjukkan kesimpulan bahwa model pembelajaran problem based learning lebih efektif digunakan dalam pembelajaran Matematika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional dalam studi ini.

Kata Kunci: meta-analisis, problem based learning, effect size, hasil belajar matematika.

(7)

v

ABSTRACT

Tri Anzani Ashari, 11150183000079. Meta-Analysis of the Influence of Problem Based Learning Learning Models on Basic School Mathematics Learning. Essay, Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education Study Program, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta.

This study aims to determine the influence of the Problem Based Learning (PBL) learning model on the overall mathematics learning in several scientific journals at the basic education level "at the basic education level. The method used is meta-analysis, namely a descriptive narrative review or systematic review by analyzing the results. The results of research that have been published nationally relating to the influence of the Problem Based Learning (PBL) learning model on elementary school students' mathematics learning The sample in this study is a random sampling technique with a total of thirteen journal articles that have been published nationally in Indonesia with a span of years. 2014-2020 at the basic education level which discusses the writing of experiments on the effect of the Problem Based Learning (PBL) learning model in elementary school students' Mathematics learning. The instrument used is a coding data sheet that summarizes the data. and journal information. Based on the analysis of the overall effect value, the average value of the influence is 0.416, which means that it is in the large effect category. The findings of the analysis also show that the problem-based learning model has an influence on Mathematics learning in basic education. This shows the conclusion that the-pl problem based learning model is more effective in learning mathematics compared to the conventional learning model in this study.

Keywords: meta-analysis, problem based learning, effect size, mathematics learning outcomes.

(8)

vi

KATA0PENGANTAR

0Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan lancar. Penulisan skripsi ini diajukan0sebagai0salah0satu0syarat0untuk mencapai0gelar0sarjana0pendidikan dengan judul Meta Analisis Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Pada Pembelajaran Matematika Siswa Sekolah Dasar.

Penulis menyadari dalam penelitian ini tidak terlepas0dari0bantuan semua pihak yang0tanpa0lelah0memberikan0dorongan0baik0moril0maupun0materil.

Pada0kesempatan kali ini0penulis0ingin0mengucapkan0terima0kasih0yang sebanyak-banyaknya0kepada0bapak/ibu/saudara/i:0

1. Dr. 0Sururin, 0M.Ag, 0Dekan0Fakultas0Ilmu0Tarbiyah0dan0Keguruan UIN0Syarif0 Hidayatullah0Jakarta0beserta0jajaran.

2. Asep0Ediana0Latip,0M.Pd, 0Ketua0Jurusan/Program0StudiKPendidikan Guru Madrasah0Ibtidaiyah0Fakultas0Ilmu0Tarbiyah0dan0Keguruan0UIN Syarif0Hidayatullah0Jakarta0yang0telah0memberikan0motivasi0dan arahan0kepada0penulis.

3. Rohmat0Widiyanto, 0M.Pd.,Sekretaris0Jurusan/Program Studi Pendidikan Guru0Madrasah0Ibtidaiyah0Fakultas0Ilmu0Tarbiyah0dan0Keguruan UIN0Syarif0Hidayatullah0Jakarta0yang0telah0memberikan0motivasi0dan arahan0kepada0penulis.

4. Takkidin, 0M.Pd, Dosen pembimbing0akademik0yang0telah0memberikan motivasi, 0arahan0dan0semangat0kepada0penulis.

5. Dr. Fauzan, MA, Dosen0pembimbing0I0skripsi0yang0telah0meluangkan waktu, pikiran0dan0tenaga0untuk0memberikan0bimbingan, kritik0dan saran0yang0sangat0bermanfaat0kepada0penulis0selama0menyelesaikan skripsi0ini. Semoga0kebaikan0Bapak0dibalas0dengan0keberkahan0oleh Allah0SWT.

6. Fatkhul Arifin, M.Pd, Dosen0pembimbing0II0skripsi0yang0telah meluangkan0waktu, pikiran0dan0tenaga0untuk0memberikan0bimbingan, kritik0dan0saran yang sangat bermanfaat kepada penulis0selama

(9)

vii

menyelesaikan skripsi ini. Semoga0kebaikan0Bapak0dibalas0dengan keberkahan0oleh0Allah0SWT.

7. Seluruh0dosen0dan0staff0Program0Studi0Pendidikan0 Guru0bMadrasah Ibtidaiyah0Fakultas0Ilmu0Tarbiyah0dan0Keguruan0UIN0Syarif0Hidayat ullah0Jakarta0yang0telah0memberikan0bimbingan, ilmu0dan0motivasi selama0perkuliahan0kepada0penulis.

8. Keluarga0tercinta, Bapak0Supriyono, Mamah0Kadarwiati0dan0Bude Suprihatin0yang0tiada0hentinya memberikan kasih0sayang, selalu mendoakan, selalu menjadi motivasi dan inspirasi serta memberikan banyak dukungan0baik0moril0maupun0materil0kepada0penulis.

9. Ketiga0kakak tersayang Kak Era Firda Fajriah, Mas0Muhammad0Riza0Isnanto dan Kak Nurul Hiqmah yang0selalu menjadi motivasi untuk segera menyelesaikan skripsi ini kepada penulis.

10. Sahabat seperjuangan selama perkuliahan di kampus tercinta yang selalu menyemangati dan memotivasi satu sama lain.

11. Teman-teman0PGMI angkatan02015, khususnya0kelas0B0yang0telah berjuang0bersama0sejak0awal hingga akhir dan0saling memotivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

12. Terimakasih kepada semua0pihak yang0telah membantu0dalam penyusunan0skripsi0ini, yang0tidak0dapat0penulis0sebutkan0satu0persatu namanya.

Demikianlah0pengantar0dari0penulis, 0saran0dan0masukan0yang konstruktif dari pembaca0sangat0penulis0harapkan0demi0kesempurnaan0laporan0ini. Akhirnya kepada0Allah0SWT0penulis0bermohon, semoga0segala0bantuan0dari0berbagai pihak0yang0tersebut0diatas dibalas oleh-Nya dengan pahala yang0berlipat ganda.

Aamin0Yaa0Robbal0’Aalamiin.

Jakarta, 17 Desember 2020

Tri Anzani Ashari NIM. 11150183000079

(10)

viii

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 5

C.Pembatasan Masalah ... 6

D.Perumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 7

F. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A.Deskripsi Teoritis ... 8

1. Model PembelajaranoProblem Based Learning (PBL) ... 8

2. Hakikat Matematika ... 16

3. Meta-Analisis ... 18

B.Hasil Penelitian Relavan ... 23

C.Kerangka Berpikir ... 25

D.Hipotesis Penelitian ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 27

A.Tempat dan Waktu Penelitian... 27

B.Metode Penelitian ... 27

C.Populasi dan Sampel ... 28

D.Instrumen ... 28

E. Tahapan Penelitian ... 29

F. Pengumpulan Data ... 29

G.Teknik Analisis Data ... 30

(11)

ix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 33

A.Deskripsi Data ... 33

B.Pembahasan ... 45

C.Keterbatasan ... 60

BAB V PENUTUP ... 63

A.Kesimpulan ... 63

B.Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA ... 65 LAMPIRAN

(12)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tahapan-tahapan Pembelajaran PBL ... 14

Tabel 2.2 Tahapan Meta-Analisis ... 22

Tabel 4.1 Review atau Ringkasan Artikel Jurnal ... 33

Tabel 4.2 Effect Size Berdasarkan Kategori ... 44

Tabel 4.3 Data Hasil Pengelompokkan Effect Size Berdasarkan Variabel Terikat ... 45

(13)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.3 Kerangka Berpikir ... 25

(14)

xii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lembar Data Pengkodean Artikel/Jurnal Lampiran 2 Uji Referensi

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar0Belakang

Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting untuk pembangunan suatu bangsa. Pendidikan senantiasa menjadi hal utama yang harus diperhatikan untuk memajukan suatu generasi demi generasi yang sejalan dengan kemajuan masyarakatnya. Sangat wajar jika kemajuan suatu bangsa bisa dilihat dari seberapa besar perhatian bangsa tersebut terhadap pendidikan. “Pendidikan0adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dan0kepribadian0individu0melalui proses atau kegiatan tertentu (pengajaran, bimbingan, atau latihan) serta interaksi antara individu dengan lingkungannya”.1 Berbagai upaya dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan pendidikan. Dengan adanya pendidikan seseorang akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan dengan ilmu pengetahuan tersebut seseorang dapat mengembangkan kemampuan dan kepribadian yang dimilikinya. Berdasarkan Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik secara psikologis peserta didik.2

Matematika adalah salah satu komponen dari serangkaian mata pelajaran yang mempunyai peranan penting bagi pendidikan. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Menurut Ali Hamzah matematika adalah ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan pada hasil

1 Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 39

2 Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

(16)

2

observasi (induktif) tetapi diterima generalisasi yang didasarkan kepada pembuktian secara deduktif”.3

Menurut H.W. Fowler dalam Sundayana mengenai0hakikat matematika yaitu “Mathematics is the0abstract science of space and number”. Matematika adalah ilmu0abstrak mengenai ruang dan bilangan. Pendapat tersebut juga dikuatkan oleh Marshall Walker

“Mathematics maybe defined as the study of abstract structures and their interrelations,” matematika juga dapat didefinisikan sebagai studi tentang struktur-struktur abstrak0dengan berbagai hubungannya.4 Matematika merupakan mata pelajaran yang diajarkan mulai sejak Sekolah Dasar (SD) sampai dengan jenjang Perguruan Tinggi (PT).

Matematika termasuk ke dalam ilmu eksak atau ilmu pasti, yang hasilnya tidak dapat berubah. Matematika memiliki objek yang bersifat abstrak, hal ini membutuhkan benda konkret untuk menyampaikan materi yang diajarkan, agar materi tersebut dipahami oleh siswa.

Pada umumnya di sekolah dasar menunjukkan bahwa pembelajaran matematika diberikan secara klasikal melalui ceramah tanpa melihat kemungkinan penerapan model lain sesuai dengan materi yang akan diajarkan sehingga mengakibatkan peserta didik kurang aktif dalam mengikuti pelajaran yang disampaikan guru, peserta didik juga tidak tertarik mengikuti pelajaran, dan tidak adanya kesadaran akan pentingnya pelajaran matematika.5

Sehingga mengakibatkan peserta didik tidak memahami pelajaran dan akhirnya bergantung pada guru dan teman-teman mereka. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran kurang memberikan makna bagi siswa.

3 M. Ali Hamzah dan Muhlisrarini, Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 48.

4 Rostina Sundayana, Media dan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 3.

5 Ardiawan, Budiono Y, Subanti. S, Efektifitas Model Kooperatif Tipe NTH dengan PMR dan model Kooperatif Tipe GI dengan PMR terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kreativitasas Siswa. Jurnal Pasca UNS: Surakarta. (Jakarta, 2013), h. 2.

(http://jurnal.pasca.uns.ac.id)

(17)

3

Sehingga materi yang dipelajari tidak bertahan lama dalam ingatan siswa serta hanya berupa hapalan tanpa ada pemahaman dan pengaplikasian.

Prestasi siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah hal ini dibuktikan dengan adanya hasil penelitian PISA(Programme for International Student Assessment) tahun 2015, Indonesia mengalami peningkatan posisi yaitu 6 peringkat ke atas bila dibandingkan posisi peringkat kedua dari bawah pada tahun 2012 dari 72 negara. Dalam kompetensi matematika meningkat dari 375 poin pada tahun 2012 menjadi 386 pada tahun 2015. Berdasarkan hasil tersebut Indonesia menunjukan kenaikan pencapaian pendidikan yang signifikan yaitu 22,1 poin, meskipun masih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata OECD (organization for economic cooperation and development).6 Dalam kompetensi matematika Indonesia menempati peringkat yang rendah diantara beberapa negara, sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa di Indonesia masih rendah.

Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa adalah model Problem Based Learning. Kemendikbud tahun 2013 menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Melalui pembelajaran Problem Based Learning, siswa belajar dihadapkan pada permasalahan yang didasarkan pada pengalaman nyata. Pada model ini guru berfungsi sebagai fasilitator serta mediator bagi siswa.7 Pembelajaran Problem Based Learning dilakukan mulai dari guru memberi masalah yang berkaitan dengan dunia nyata, peserta didik kemudian secara aktif mengidentifikasi masalah dengan pengetahuan mereka, mengaitkan materi dengan masalah, dan pada akhirnya membuat kesimpulan serta solusi dari masalah yang telahb diberikan. Proses pembelajaran dengan Problem

6 Kemendikbud, Peringkat dan Capaian PISA Indonesia Mengalami Peningkatan, 2016, (http: www.kemendikbud.go.id), diakses tanggal 06 Januari 2019.

7 Ahmad, S. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2013).

(18)

4

Based Learning dapat membuat peserta aktif selama proses pembelajaran.

Menurut Tan, PBL memiliki ciri-ciri pembelajaran yang dimulai dari pemberian masalah, biasanya masalah memiliki konteks dengan dunia nyata, pelajar secara berkelompok aktif merumuskan masalah dan mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan mereka, dan melaporkan solusi dari masalah.

Sementara pendidik lebih banyak memfasilitasi.8 Adapun langkah-langkah pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai berikut: orientasi peserta didik pada masalah, organisasi peserta didik untuk belajar, membimbing pengalaman kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.9

Toharudin, berpendapat bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah suatu pembelajaran atau pelatihan yang memiliki karakteristik penggunaan masalah sebagai konteks individu atau seseorang dalam mempelajari keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan. 10 Pembelajaran berbasis masalah yang berkorespondensi dengan tujuan belajar hadir dalam dua level, yaitu: siswa harus memecahkan suatu masalah spesifik dan memahami materi yang terkait dan siswa harus mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan menjadi murid mandiri.11 Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian suatu masalah nyata. Pembelajaran berbasis masalah sangat berkaitan dengan realitas kehidupan nyata peserta didik sehingga peserta didik belajar tidak hanya pada wilayah pengetahuan, tetapi juga mengalami dan merasakan.12 Berdasarkan dari uraian diatas, dapat

8 Oon-Seng Tan, Problem Based Learning Innovation Using Problem to Power Learning in the 21st Century, (Singapore: Gale Cengange Learning, 2003), p. 30-31.

9 Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 243.

10 Uus Toharudin, Sri Hendrawati dan Andrian Rustaman, Membangun Literasi Sains Peserta Didik, (Bndung: Humaniora, 2011), h. 99.

11 Paul Eggen dan Don Kauchak, Strategi dan Model Pembelajaran Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berpikir, (Jakarta Barat: PT Indeks, 2012), h. 310.

12 Erwin Widiasworo, Strategi Pembelajaran Edutainment Berbasis Karakter, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2018), h. 149

(19)

5

diketahui bahwa pengetahuan seseorang dapat diserap dengan baik jika menggunakan model pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan, maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk0mengetahui besar pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran Matematika secara keseluruhan dan berdasarkan variabel terikat pada beberapa jurnal ilmiah di jenjang pendidikan dasar.

Teknik meta-analisis adalah metode statistik untuk menggabungkan hasil kuantitatif dari beberapa penelitian untuk menghasilkan rangkuman secara keseluruhan atas pengetahuan empiris pada topik tertentu. Hal ini digunakan untuk menganalisis kecenderungan sentral dan variasi dalam hasil studi, dan untuk0mengoreksi kesalahan dan bias dalam penelitian.13 Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan beberapa sampel berupa penelitian terdahulu dengan0topik sejenis untuk memperolah informasi dan dapat dianalisis besar0pengaruh pada studi terdahulu.

Terdapat beberapa penelitian meta-analisis, seperti yang telah dilakukan oleh Melek Damirel dan Miray Dagyar (2016) di Turki mengenai studi meta-analisis terhadap 47 studi tentang efek pembelajaran berdasarkan masalah pada sikap menunjukkan hasil positif dalam hal peningkatan sikap, namun besar pengaruh yang diperoleh dalam kategori rendah dengan harga 0.44 pada ketentuan Hedges dari jenjang Taman Kanak-Kanak sampai jenjang Perguruan Tinggi.14 Indri Anugraheni memaparkan hasil meta-analisis model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis di Sekolah Dasar terhadap 23 artikel penelitian bahwa model tersebut mampu meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik mulai dari yang terendah 2.87% sampai yang tertinggi 33.56% dengan

13 Julia H. Littel, Jaquwline Corcoran, dan Vijayan Pillai, Systematic Review and Meta- Analysis, (United State of America: Oxford University Press, 2008), p.12.

14 Melek Demirel dan Miray Dagyar, Effect of Prblem-Based Learning on Attitude: a Meta-Analysis study, Eurasia Journal of Mathematics Science and Technology Eduation, 2016, pp.

2123.

(20)

6

rata-rata 12.73%.15 Sedangkan pada studi lain, Kadir mengungkapkan tentang meta-analisis pada efektivitas penerapan pendekatan problem based learning dalam pembelajaran sains dan matematika bahwa memiliki pengaruh yang besar dengan harga besar pengaruh 1.079.16

Beberapa penelitian meta-analisis yang telah dilakukan tersebut secara keseluruhan belum fokus pada pembelajaran Matematikia, belum ada penelitian meta-analisis terbaru mengenai penggunaan model pembelajaran Problem Based Lerning (PBL) dengan fokus pelajaran Matematika tingkat Sekolah Dasar di Indonesia. Maka berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan tersebut, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian tentang

“Meta Analisis Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada Pembelajaran Matematika Siswa SD” pada bidang Matematika dengan sampel artikel penelitian ilmiah tingkat nasional.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan0latar0belakang0yang telah diuraikan di atas, maka identifikasi masalah dalam0penelitian0ini, sebagai berikut:

1. Capaian prestasi matematika peserta didik Indonesia tahun 2015 pada hasil laporan studi internasional PISA yaitu negara Indonesia mengalami sebesar 221 poin, walaupun demikian Indonesia termasuk negara yang pendidikannya masih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata OECD (Organization for Economic Coorperation dan Development).

2. Belum0adanya penelitian meta-analisis terkait model pembelajaran Problem0Based Learning (PBL) pada pembelajaran Matematika di jenjang0pendidikan0dasar.

15 Indri Anugraheni, Meta Analaisis Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis di Sekolah Dasar, A Journal of Language, Literature, Culture, and Education POLYGLOT, Vol.14, No.1, 2018, h.15.

16 Kadir, “Prosiding seminar nasional evaluasi pendidikan Meta-Analisis Efektivitas Penerapan Pendekatan Problem Solving dalam Pembelajaran Sains dan Matematika”, Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, 2014, h. 126.

(21)

7

3. Banyaknya0penelitian tentang model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran Matematika yang belum dirangkum0menjadi0temuan penelitian untuk diimplementasikan di jenjang0pendidikan dasar.

C. Pembatasan Masalah

Agar masalah dalam0penelitian ini tidak terlalu luas ruang lingkupnya, maka diperlukan pembatasan masalah. Pembatasan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut:

1. Subjek penelitian berupa jurnal nasional terakreditasi dan dipublikasikan dalam rentang tahun 2014- 2020.

2. Penelitian dilakukan pada artikel penelitian yang telah dipublikasi secara nasional di Indonesia.

3. Penelitian hanya terfokus pada artikel penelitian tentang model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran Matematika dengan jenis metode penelitian eksperimen.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Seberapa besar pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Matematika di sekolah dasar secara keseluruhan?

2. Seberapa besar0pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berdasarkan variabel terikat?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan0rumusan masalah yang telah diuraikan, tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk0mengetahui besar pengaruh0penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Matematika secara keseluruhan pada jenjang pendidikan dasar.

(22)

8

2. Untuk0mengetahui besar pengaruh0penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berdasarkan variabel terikat.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian meta-analisis ini diharapkan0dapat memberikan ilmu pengetahuan dan gambaran tentang rata-rata pengaruh model pembelajran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Matematika, dan dapat menginspirasi guru atau0pembaca untuk membentuk keefektifan, kreatifitas dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pembelajaran Matematika di kelas atau lembaga pendidikan lainnya sehingga dapat memotivasi peserta didik untuk meningkatkan hasil belajarnya

2. Manfaat Praktis

Hasil dari penelitian meta-analisis ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi peneliti lanjut untuk0mengkaji pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar peserta didik untuk rentang0waktu masa yang akan datang mengenai keefektifan model pembelajaran0tersebut.

(23)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis

1. Model PembelajaranoProblem0Based0Learning0(PBL)

a. Pengertian0Model0Pembelajaran0Problem0Based0Learning0(PBL) Model0pembelajaran0merupakan0rencana0ataupun0pola0yang dipakai untuk0merancang0mekanisme0suatu0pengajaran0meliputi sumber belajar, subjek0pembelajar,0lingkungan0belajar0dan0kurikulum. Kemendikbud0tahun 20130menyatakan0bahwa0pembelajaran0berbasis0masalah0(Problem Based Learning)0merupakan0sebuah0pendekatan0pembelajaran yang menyajikan masalah0kontekstual0sehingga0merangsang peserta0didik untuk belajar.

Melalui pembelajaran Problem Based Learning, siswa belajar dihadapkan pada permasalahan yang didasarkan pada pengalaman nyata. Pada model ini guru berfungsi sebagai fasilitator serta mediator bagi siswa. Pembelajaran Problem Based Learning dilakukan mulai dari guru memberi masalah yang berkaitan dengan dunia nyata, peserta didik kemudian secara aktif mengidentifikasi masalah dengan pengetahuan mereka, mengaitkan materi dengan masalah, dan pada akhirnya membuat kesimpulan serta solusi dari masalah yang telah diberikan. Proses pembelajaran dengan Problem Based Learning dapat membuat peserta aktif selama proses pembelajaran.17

Menurut M. Taufiq Amir“PBL adalah metode pendidikan yang mendorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerja sama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata”.18 Simulasi masalah digunakan untuk mengatifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan

17 Ayu Ratna Sari dan Agustina Tyas Asri Hardini, “Meta Analisis Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Matematika”, Jurnal Ilmiah Pendidikan Profesi Guru, Vol. 3, 2020, h. 2.

18 M. Taufiq Amir, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pembelajar di Era Pengetahuan, (Jakarta: Kencana, 2016), h.21.

(24)

9

secara tepat sumber-sumber pembelajaran. Metode ini dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil, banyak kerja sama dan interaksi, mendiskusikan hal-hal yang tidak atau kurang dipahami serta berbagai peran untuk melaksanakan tugas dan saling melaporkan.

Pengajaran berbasis masalah yaitu suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru.19 Pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme dan mengakomodasikan keterlibatan peserta didik dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan masalah yang kontekstual.20 Problem Based Learning (PBL) sering disebut dengan pembelajaran berbasis masalah merupakan proses pembelajaran yang menghadapkan peserta didik pada suatu masalah nyata yang memacunya untuk meneliti, menguraikan, dan mencari penyelesaian. Pembelajaran berbasis masalah sangat berkaitan dengan realitas kehidupan nyata peserta didik sehingga peserta didik belajar tidak hanya pada wilayah pengetahuan, tetapi juga mengalami dan merasakan.21 Masalah dalam PBL menggunakan masalah nyata (autentik) yang tidak terstruktur (ill-structured) dan bersifat terbuka sebagai konteks bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta sekaligus membangun pengetahuan baru.22

Arends mengemukakan bahwa Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning) merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berfikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan

19 Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif Kontekstual: Konsep Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum 2013, (Jakarta: Prenamedia Group, 2014), cet.1, h. 63.

20 Warsono dan Hariyanto, Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen, (Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, 2016), cet. 4, h. 147.

21 Erwin Widiasworo, Strategi Pembelajaran Edutainment Berbasis Karakter, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2018), h. 149.

22Muhammad Fathurrohman, Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), h. 112.

(25)

10

percaya diri. Kemudian menurut Abidin (dalam Oktafouran dan Intansari, 2016) Model pembelajaran Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah) adalah model pembelajaran yang ditujukan untuk mengembangkan motivasi belajar siswa, mendorong siswa untuk mampu berpikir tingkat tinggi, mendorong siswa mengoptimalkan kemampuan metakognisinya, dan menjadi pembelajaran mejadi bermakna sehingga mendorong siswa memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan mampu belajar secara mandiri.23 Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa Problem Based Learning atau Pembelajaran Berbasis Masalah ini dapat diartikan sebagai cara sistematis untuk melakukan suatu investigasi atau penelitian terhadap masalah dan menentukan solusi untuk kemudian diterapkan. Kemudian, digunakan untuk mendeskripsikan metode belajar yang mengembangkan wawasan baru dan proses berpikir melalui belajar aktif dengan cara melakukan penelitian.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa definisi model pembelajaran berbasis masalah yaitu suatu rancangan pembelajaran dengan memfokuskan pada penyelesaian masalah agar tujuan pembelajaran dapat terlaksana dengan berpusat pada peserta didik (student centered) yang mengalami dan merasakan langsung dengan kehidupan nyata serta pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang lebih menekankan pada proses pemecahan masalah yang diawali dengan penemuan masalah serta proses menganalisis demi pemerolehan hasil sebagai bagian dari penemuan solusi.

b. Karakteristik Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara alamiah. Maka dari itu kita perlu mengetahui karakteristik pembelajaran pada Problem Based Learning (PBL), di mana model pembelajaran ini ideal dengan pembelajaran berorientasi pada peserta

23 Hanifah Rahmadani dan Arrofa Acesta, “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Pemahaman Konsep Siswa”, Jurnal Sekolah Dasar, Vol. 2, 2017, h. 3-4

(26)

11

didik (learner oriented) yang menjadi subjek pembelajaran. Terdapat lima strategi dalam penggunaan model pembelajaran berbasis masalah, yaitu:

sebagai kajian, sebagai penjajakan pemahaman, sebagai contoh, tak terpisahkan dari proses dan sebagai stimulus aktivitas autentik.24

Berdasarkan hal tersebut, terdapat tiga ciri utama pendekatan pembelajaran berbasis masalah:

1) Aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasinya terdapat sejumlah kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. Dalam pembelajaran berbasis masalah tidak mengharapkan siswa hanya sekadar mendengarkan, melihat, mencatat, dan menghafal materi pelajaran, tetapi siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari, dan mengolah data serta menyimpulkan.

2) Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah.

3) Pemecahan masalah diakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Proses berpikir ilmiah dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah berdasarkan pada data dan fakta yang jelas.25

Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Proses pembelajaran bukan model banking atau transfer of knowledge semata, melainkan merupakan pemberian stimulan kepada peserta didik supaya mampu berpikir kritis dan menjadi problem solver. Peserta didik adalah subyek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan.26

Pada hakikatnya model pembelajaran Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang berbasiskan pada masalah di dalam pembelajaran. Dengan pengertian bahwa pembelajaran tersebut dimulai

24Erwin Widiasworo, op. cit., h.152.

25Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, op.cit., h.65.

26 Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum, (Jakarta:

Kemendikbud).

(27)

12

berdasarkan atas masalah yang dipecahkan. Di dalam Problem Based Learning guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar berpikir dan memecahkan masalah learner centered mereka sendiri. Problem Based Learning , sebagai salah satu bentuk pembelajaran yang memandang bahwa tanggung jawab harus dikenali dan dipegang.

Problem Based Learning menuntut peserta didik untuk bisa mendapatkan berbagai sumber pembelajaran lebih mandiri, memiliki pola pikir yang kritis dan kreatif terhadap sebuah masalah. Menurut Tan berikut karakteristik yang tercakup dalam Problem Based Learning sebagai berikut:27

1. Masalah digunakan sebagai awal pembelajaran,

2. Biasanya masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata yang disajikan secara mengambang (illstructured)

3. Sangat mengutamakan belajar mandiri (self directed learning).

4. Memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi , tidak dari satu sumber saja. Pencarian, evaluasi serta penggunaan pengetahuan ini menjadi kunci penting. Pembelajaran kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif. Peserta didik bekerja dalam kelompok, berinteraksi, saling mengajarkan (peer teaching), dan melakukan presentasi.

c. Tahapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Guru atau pengajar akan dapat melakasanakan proses Pembelajaran Berbasis Masalah jika seluruh perangkat pembelajaran (masalah, formulir pelengkap, dan lain –lain) sudah siap. Siswa juga harus sudah memahami prosesnya, dan telah membentuk kelompok–kelompok kecil.

Persiapan dalam penggunaan metode pembelajaran Problem Based Learning guru perlu mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:28

27 Putu Diantari, I Wyn Wiarta dan I Gusti Agung Oka Negara, “Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbasis Hypnoteaching Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD”, Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, Vol. 2, 2014, h. 3.

28 M. Taufiq Amir, Op. Cit, h.24-25

(28)

13

1) Materi

Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ini guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran.

2) Membentuk kelompok

Guru membentuk kelompok dimana kelompok ini terdiri dari lima atau enam siswa yang heterogen.

3) Penentuan skor dasar awal

Skor dasar awal dapat diambil dari skor rata-rata siswa pada kuis sebelumnya. Apabila sebelumnya belum pernah diadakan kuis, skor dasar awal dapat diambil dari nilai final siswa dari tahun yang lalu.

4) Langkah-langkah pendekatan Problem Based Learning M. Taufiq Amin, yaitu:

a) Mengklasifikasi istilah dan konsep yang belum jelas b) Merumuskan masalah

c) Menganalisis masalah

d) Menata gagasan anda dan secara sistematis mengenalisisnya e) Memformulasi tujuan pembelajaran

f) Mencari informasi tambahan dari sumber yang lain (di luar diskusi kelompok)

g) Mensintesa (menghubungkan) dan menguji informasi baru dan membuat laporan

Tahapan-tahapan dalam pembelajaran PBL secara umum adalah sebagai berikut:29

Tabel. 2.1 Tahapan-tahapan Pembelajaran PBL

Fase atau Tahap Perilaku Guru

Fase 1

Mengorientasikan siswa pada masalah

Guru menginformasikan tujuan-

tujuan pembelajaran,

mendiskripsikan kebutuhan-

29 Noly Shofiyah dan Fitri Eka Wulandari, Model Problem Based Learning (PBL) dalam Melatih Scientific Reasoning Siswa, Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, Vol. 3 No. 1, 2018, h.35

(29)

14

kebutuhan logistik penting, dan memotivasi agar terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah yang mereka pilih sendiri.

Fase 2

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa menentukan dan mengatur tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan masalah itu.

Fase 3

Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok

Guru mendorong siswa

mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, mencari penjelasan dan solusi.

Fase 4

Mengembangkan dan menyajikan

hasil karya serta

mendemonstrasikannya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya siswa yang sesuai seperti laporan.

Fase 5

Menganalisis dan mengevalusi proses pemecahan masalah.

Guru membantu siswa melakukan refleksi atau penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan.

Tahapan-tahapan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dilaksanakan secara sistematis dan terencana diharapkan mampu mengembangkan potensi kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah dan sekaligus mampu menguasai konsep pengetahuan yang sesuai dengan kompetensi dasar tertentu serta mampu menemukan solusi yang diperlukan dalam integrasi kehidupan nyata (real world).

d. Peran Guru dalam Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Guru harus menggunakan proses pembelajaran yang akan menggerakkan siswa menuju kemandirian, kehidupan yang lebih luas, dan belajar sepanjang hayat. Lingkungan belajar yang dibangun guru harus

(30)

15

mendorong cara berfikir eflektif, evaluasi kritis, dan cara berfikir yang berdayaguna. Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah berbeda dengan peran guru di dalam kelas. Guru dalam pembelajaran berbasis masalah terus berfikir tentang beberapa hal, yaitu:30

1) Bagaimana dapat merancang dan menggunakan permasalahan yang ada di dunia nyata, sehingga siswa dapat menguasai hasil belajar?;

2) Bagaimana bisa menjadi pelatih siswa dalam proses pemecahan masalah, pengarahan diri, dan belajar dengan teman sebaya?;

3) Bagaimana siswa memandang diri mereka sendiri sebagai pemecah masalah yang aktif?.

Guru dalam pembelajaran berbasis masalah juga memusatkan perhatiannya pada:31

1) Memfasilitasi proses pembelajaran berbasis masalah; merubah cara berfikir, mengembangkan keterampilan inkuiri, menggunakan pembelajaran kooperatif;

2) Melatih siswa tentang strategi pemecahan masalah; pemberian alasan yang mendalam, metakognisi, berfikir kritis, dan berfikir secara sistem; dan 3) Menjadi perantara proses penguasaan informasi; meneliti lingkungan

informasi, mengakses sumber informasi yang beragam, dan mengadakan koneksi.

e. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran Problem Based Learning pun tak luput dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Untuk itu secara umum dapat dikemukakan bahwa kekuatan dalam penerapan pengajaran berbasis masalah antara lain yaitu: peserta didik akan terbiasa menghadapi masalah (problem posing) yang ada dalam kehidupan sehari-hari (real world); memupuk

30 Rusman, Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah, Jurnal Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Vol. 1 No. 2, 2014, h. 215-216

31 Ibid,. h. 216

(31)

16

solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan teman kelompok dan kelas; semakin mengakrabkan guru dengan siswa; dan ada kemungkinan suatu masalah harus diselesaikan melalui eksperimen hal ini juga akan membiasakan siswa dalam menerapkan metode eksperimen.

Pembelajaran PBL dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuannya. Berikut merupakan kelebihan PBL, yaitu:

1) Memotivasi siswa untuk menemukan pengetahuan baru;

2) Membantu siswa untuk lebih memahami isi pelajaran;

3) Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran;

4) Transfer ilmu pengetahuan dilakukan dengan mengaitkan permasalahan dalam kehidupan nyata;

5) Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang didapat pada kehidupan nyata tidak hanya saat pembelajaran itu berakhir

6) Siswa menjadi tertarik untuk belajar secara terus menerus.32

Pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan kecakapan internal dan sosial peserta didik. Sebagaimna yang dituturkan oleh Amir, manfaat pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lainnya yaitu:

1) Meningkatkan kecakapan siswa dalam pemahaman materi ajar;

2) Meningkatkan fokus pada pengetahuan yang relevan;

3) Mendorong siswa untuk berpikir;

4) Membangun kerja tim, kepemimpinan, dan keterampilan sosial;

5) Membangun kecakapan belajar (life-long learning skills);

6) Memotivasi siswa.33

32Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2016), h. 220-221.

33M. Taufiq Amir, Loc. Cit, h.24-25.

(32)

17

Sementara itu kelemahan dari penerapan Problem Based Learning (PBL) antara lain:

1) Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan siswa kepada pemecahan masalah;

2) Seringkali memerlukan biaya dan waktu yang panjang;

3) Aktivitas siswa yang dilaksanakan di luar sekolah sulit dipantau guru.34 Kelebihan dan kelemahan model Problem Based Learning yang telah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa perlunya pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi di mana jenis konsep materi maupun waktu yang diperlukan serta biaya perlu diperhatikan oleh guru, karena tidak semua pembelajaran mampu menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk mencapai tujuan dari pembelajaran.

2. Hakikat Matematika a. Pengertian Matematika

Pembelajaran matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang melaksanakan kegiatan belajar matematika, dan proses tersebut berpusat pada guru yang mengajarkan matematika dengan melibatkan partisipasi aktif peserta didik di dalamnya.35 Definisi lain menyebutkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir dan dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika.36

34Warsono dan Hariyanto, op. cit., h.151.

35M. Ali Hamzah dan Muhlisrarini, Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h.65

36 Zubaidah Amir dan Risnawati, Psikologi Pembelajaran Matematika, (Yogyakarta:

Aswaja Pressindo, 2016), h. 8.

(33)

18

b. Tujuan Pembelajaran Matematika

Adapun tujuan pembelajaran matematika dalam lingkup satuan SD/MI antara lain:37

1) Melatih cara berpikir dan bernalar menarik kesimpulan,

2) Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi intuisi, penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen orisinil, rasa ingin tahu membuat prediksi dan dugaan serta coba- coba.

3) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah,

4) Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan, antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta dan diagram dalam menjelaskan sebuah gagasan.38

Terdapat pula tujuan pembelajaran matematika secara khusus di sekolah dasar yang diuraikan oleh Depdiknas. Tujuan khusus tersebut antara lain:

a) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma.

b) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

c) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami maslaah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

d) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk menjelaskan keadaan atau masalah.

37 Ibid., h. 74

38 Ibid., h. 75

(34)

19

e) Memiliki sikap menghargai penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari.39

Berdasarkan uraian diatas, didapatkan kesimpulan bahwa makna pembelajaran matematika dalam penelitian ini adalah proses yang sengaja dirancang oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan pemahaman yang baik terhadap materi matematika serta menciptakan suasana lingkungan belajar dengan efektif.

3. Meta-Analisis

a. Pengertian Meta-Analisis

Meta-analisis merupakan suatu teknik statistika untuk menggambarkan hasil dua atau lebih penelitian sejenis sehingga diperoleh paduan data secara kuantitatif. Saat ini meta-analisis paling banyak digunakan untuk uji klinis.

Hal ini dapat dimengerti, karena uji klinis desainnya lebih baku dan memberikan bukti hubungan kausal yang kuat. Namun, meta-analisis juga dapat dilakukan terhadap berbagai studi observasional untuk menghasilkan kesimpulan dari penggabungan hasil penelitian.40

Saat ini meta-analisis paling banyak digunakan untuk uji klinis. Hal ini dapat dimengerti, karena uji klinis desainnya lebih baku dan memberikan bukti hubungan kausal yang paling kuat. Namun, meta-analisis juga dapat dilakukan terhadap berbagai studi observasional untuk menghasilkan kesimpulan dari penggabungan hasil penelitian tersebut. 41 Meta-analisis merupakan analisis integratif hasil penelitian dengan fokus atau tema yang sama. Metode meta-analisis mengubah data kualitatif ke kuantitatif dan kemudian menggunakan analisis statistik untuk mendapatkan esensi informasi

39 Ahmad Susanto, op.cit., h. 190

40Rievan Dana Nindrea, Pengantar Langkah-Langkah Praktis Studi Meta Analisis, (Yogyakarta: Gosyen Publishing, 2016), cet.1, h. 9.

41Rievan Dana Nindrea, op. cit., h.9

(35)

20

dari sejumlah data penelitian sebelumnya. 42 Peneliti akan mengambil beberapa penelitian yang memiliki satu topik atau tema yang sama dalam penelitian ini. Metode ini digunakan untuk meringkas, merangkum dan memperoleh intisari hasil temuan dari sejumlah penelitian. Meta-analisis dapat bersifat kuantitatif dan merupakan suatu analisis statistik untuk memperoleh serangkaian informasi yang berasal dari sejumlah data dari penelitian- penelitian sebelumnya.43

Dari beberapa definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa meta- analisis merupakan metode penelitian berbasis kuantitatif dengan cara mengakumulasi data dari penelitian terdahulu dengan kriteria tertentu atau bisa disebut dengan analisis di atas analisis.

b. Model-Model Statistik Meta-Analisis

Pengolahan data dengan analisis statistik merupakan salah satu kunci dari meta-analisis, oleh karena itu meta-analisis mempunyai beberapa model statistik untuk mendapatkan hasil dan interprestasi penelitiannya. Terdapat dua kategori model-model statistik dalam meta-analisis, yaitu model statistik yang hanya mencakup studi efek dan model statistik yang mencakup studi efek yang disertai tambahan informasi dan analisis.44

Metode statistik yang hanya mencakup studi efek dibedakan menjadi dua macam, yaitu fixed effect model dan random effect model. memberikan gambaran Fixed effect model bobot rata-rata dari berbagai studi yang masuk ke dalam studi meta-analisis yang dilakukan. Secara statistik, perhitunganya mengasumsikan bahwa studi atau penelitian yang masuk dalam studi meta- analisis dilakukan pada populasi yang sama dan menilai variabel yang sama pula. Fixed effect model menggunakan studi atau penelitian dalam skala besar,

42Kadir, Meta-analysis of the Effect of Learning Intervention Toward Mathematical Thinking on Research and Publication of Students, Tarbiya: Journal of Education in Muslim Society, 2017, pp. 165.

43Boisandi dan Handy Darmawan, “Meta Analisis Pengaruh Penerapan Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme pada Materi Fisika di Kalimantan Barat”, Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, Vol.06, 2017, h. 180.

44Rievan Dana Nindrea, op. cit., h.13

(36)

21

misalnya dengan jumlah sampel yang besar cenderung memberikan bobot rata-rata hasil meta-analisis. Oleh karena itu, jika dalam suatu meta-analisis sebagian besar studi yang masuk dalam analisis adalah studi yang berskala besar, maka studi dengan skala kecil sangat kecil dampaknya terhadap hasil dan interprestasi akhir dari meta-analisis yang dilakukan.45

Random effect model dilihat karena adanya keanekaragaman pada penelitian. Random effect model menunjukkan bobot rata-rata dari dampak studi meta-analisis yang dilakukan atau effect size pada sebuah kelompok penelitian tanpa melihat bobot masing-masing studi. Secara teoritis statistik, random effect model diperoleh dari dua tahap yaitu dengan melakukan inversi dari varian bobot studi yang ada, kemudian menghilangkan masing-masing bobot yang telah dibalikkan.46

Model statistik dengan perhitungan dan informasi tambahan adalah dengan menilai quality effect model. Quality effect model adalah perhitungan statistik untuk melakukan penyesuaian terhadap keanekaragaman antar studi yang dilakukan pegolahan pada meta-analisis dengan mempertimbangkan varian dan kualitas studistudi tersebut. Bukti-bukti empiris atau fakta secara metodologis dapat digunakan dalam perhitungannya, bukan hanya berpatokan kepada hasil angka-angka pada perhitungan statistic semata. Adanya bias varian dihitung berdasrakan kualitas data dalam melakukan perhitungan.47 c. Tahapan Meta-Analisis

Meta-analisis dapat dikatakan sebagai suatu penelitian tersendiri.

Subjek dalam meta-analisis adalah hasil penelitian yang akan disertakan dalam meta analisis. Proses sistematika review meliputi beberapa tahapan yang selaras dengan penelitian primer. Terdiri dari perumusan masalah,

45 Rievan Dana Nindrea, loc. cit., h.13

46Ibid., h.14

47 Ibid., h.15

(37)

22

pengumpulan data sampling, analisis data, interpretasi, dan presentasi hasil.

Berikut merupakan proses tahapan meta-analisis sebagai berikut:48 Tabel. 2.2 Tahapan Meta-Analisis

Tahapan Sistematika Review

Penjelasan

Memformulasikan Topik (Topic Formulation)

Pertanyaan terpusat, hipotesis, objektif

Desain Studi Secara Keseluruhan (Overall Study Desain)

Pengembangan protokol; spesifikasikan masalah/kondisi, populasi, seting, intervensi dan hasil yang menarik; spesifikasi studi dengan kriteria inklusif dan ekslusif

Pengambilan Sampel (Sampling)

Mengembangkan rencana pengambilan sampel;

sampling unit penelitian; pertimbangan universal dari semua studi yang relevan; memperoleh studi.

Pengumpulan Data (Data Collection)

Data beasal (diekstraksi) dari penelitian ke form standarisasi

Analisis Data (Data Analysis) Mendeskripsikan data (cek kualitas, sampel, dan karakteristik intervensi penelitian; menghitung effect size); menghitung effect size dan menilai heterogenitas (meta-analisis); mengakumulasikan meta-analisis, analiss sub grup dan moderat, analisis sensitivitas, analisis publikasi dan bias sampel; meta-regresi; deskripsi hasil dalam bentuk naratif, tabel, dan grafik; interpretasi dan diskusi; implikasi kebijakan, praktek dan penelitian lebih lanjut.

Dilihat dari prosesnya, meta-analisis merupakan suatu studi observasional retrospektif, dalam arti peneliti membuat rekapitulasi fakta

48 Julia H. Littel, Jaquwline Corcoran, dan Vijayan Pillai, Systematic Review and MetaAnalysis, (United State of America: Oxford University Press, 2008), p. 20-21.

(38)

23

tanpa melakukan manipulasi eksperimental. Proses perencanaan penelitian meta-analisis dimulai dengan 1) perumusan masalah, 2) pengumpulan dan penilaian data, 3) analisis dan penafsiran data dan, 4) laporan penelitian.49 Perumusan masalah adalah langkah awal dari setiap jenis penelitian. Secara garis besar, dalam perumusan masalah peneliti harus menentukan penelitian yang akan digunakan. Penelitian yang akan digunakan harus memiliki prosedur perlakukan, kontrol dan percobaan serta memiliki ukuran hasil penelitian yang sama.50 Selanjutnya adalah pengumpulan data. Data meta- analisis yang dikumpulkan terdiri dari kumpulan isi penelitian dan indeks ekstraksi kuantitatif dari karakteristik penelitian dan besarnya efek. 51 Selanjutnya data dikumpulkan dan disusun dalam bentuk lembar pengkodean.

Lembar pengkodean disusun untuk memberikan informasi mengenai penelitian terkait, serta memudahkan peneliti untuk menganalisis penelitiaanya.52

B. Hasil Penelitian Relavan

Beberapa penelitian terrdahulu mengenai meta-analisis yaitu:

Indri Anugraheni memaparkan hasil meta-analisis model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis di Sekolah Dasar terhadap 23 artikel penelitian bahwa model tersebut mampu meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik mulai dari yang terendah 2.87% sampai yang tertinggi 33.56% dengan rata-rata 12.73%.53

Melek Demirel (2016) dengan judul “effects of problem-based learning on attitude: a metaanalysis study”. Temuan penelitian mengenai meta-analisis pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap sikap

49 Boisandi dan Handy Darmawan, “Meta Analisis Pengaruh Penerapan Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme pada Materi Fisika di Kalimantan Barat”, Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, Vol.06, 2017, h. 180.

50 Ibid., h. 13

51 Ibid., h. 13

52 Op. Cit, h.13

53 Indri Anugraheni, Meta Analaisis Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis di Sekolah Dasar, A Journal of Language, Literature, Culture, and Education POLYGLOT, Vol.14, No.1, 2018, h.15.

(39)

24

menunjukan hasil yang positif dalam hal peningkatan sikap siswa terhadap program dibandingkan dengan pengajaran tradisional, tetapi nilai rata-rata efect size yang dihasilkan rendah yaitu pada angka 0.44.54

Kadir (2017) dengan judul “meta-analysis of the effect of learning intervention toward mathematical thinking on research and publication of student”, temuan penelitian tersebut mengungkapkan bahwa dari 200 sampel tesis penelitian mahasiswa pada unit analisis memiliki rata-rata efect size dengan hasil 0.155 intervensi pembelajaran terhadap kemampuan berpikir matematik sesuai dengan kriteria effect size (n2) bahwa efek tersebut dalam klasifikasi efek besar.55

Yenti Tumangkeng pada tahun 2018 tentang meta analisis pengaruh media pembelajaran terhadap hasil belajar matematika siswa. Penelitian tersebut mengitung effect size dari tiga puluh satu penelitian skripsi mahasiswa pendidikan matematika. Dari penelitian tersebut didapatkan rata-rata sebesar 0.95. hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa sebesar 43.82%.56

54 Melek Demirel, Effect of Prblem-Based Learning on Attitude: a Meta-Analysis study, Eurasia Journal of Mathematics Science and Technology Eduation, 2016, pp. 2123.

55 Kadir, Meta-analysis of the Effect of Learning Intervention Toward Mathematical Thinking on Research and Publication of Students, Tarbiya: Journal of Education in Muslim Society, 2017,pp. 169

56 Yenti Wintaria Tumangkeng, “Meta-Analisis Pengaruh Media Pembelajaran tehadap Hasil Belajar Matematika Siswa”, Jurnal FKIP UNTAN, 2018.

(40)

25

C. Kerangka Berpikir

Gambar 2.3 Diagram Kerangka Berpikir

Studi meta-analisis dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang didapat pada model Problem Based Learning (PBL) terhadap pembelajaran Matematika dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan dilakukannya studi meta-analisis diperlukan adanya effect size yang dihasilkan untuk melihat bagaimana hasil dari pembelajaran Problem Based Learning secara keseluruhan dapat berdampak baik atau sebaliknya. Kemudian diinterpretasikan berdasarkan Perbedaan Rata-rata Standar Proporsi Varian yang Dijelaskan

Perhitungan Effect Size

INTERPRETASI

Variabel Terikat Data Penelitian model

pembelajaran PBL dengan jumlah banyak

Belum diketahui efektivitas model pembelajaran PBL

Dilakukan Studi Meta Analisis

Pemecahan Masalah Hasil Belajar Berpikir Kritis

(41)

26

variabel terikat yang terdiri dari hasil belajar, pemecahan masalah dan berpikir kritis. Kerangka berpikir digambarkan pada Gambar 2.1.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir, hipotesis penelitiannya adalah penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki pengaruh yang besar terhadap pembelajaran Matematika secara keseluruhan pada jenjang pendidikan dasar.

(42)

27 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang beralamatkan di Jl. Raya Bojongsari No.55, Sawangan, Depok. Pelaksanaan penelitian mulai dari bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2020.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah meta-analisis yaitu review naratif deskriptif atau review sistematik dengan menganalisis hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan secara nasional yang berkaitan dengan pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran Matematika siswa sekolah dasar. Penelitian deskriptif merupakan penelitian untuk memberi uraian mengenai fenomena atau gejala sosial yang diteliti dengan mendeskripsikan tentang nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) berdasarkan indikator-indikator dari variabel yang diteliti guna untuk eksplorasi dan klarifikasi dengan mendeskripikan sejumlah variabel yang berkenaan ini tidak sampai mempersoalkan asosiatif dan komparatif antara variabel-variabel penelitian yang ada. Meta analisis adalah suatu Teknik statistika untuk menggambarkan hasil dua atau lebih penelitian sejenis sehingga diperoleh paduan data secara kuantitatif.57 Penelitian meta analisis disebut juga disebut penelitian meta atau meta research. Penelitian ini menggunakan pustaka, buku ataupun jurnal sebagai sumber datanya.58

57 Rusman, Model-model pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta : Rajawali Pers, 2011), h. 221

58 Syamsul Hadi, Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Akuntasi dan Keuangan, (Yogyakarta: Ekonsia, 2006), cet.1, h. 24

(43)

28

C. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah umum yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.59 Populasi dalam penelitian ini adalah artikel publikasi ilmiah berupa jurnal pendidikan berskala nasional di Indonesia tentang model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) tahun 2014-2020.

Sedangkan sampel adalah sebagian populasi yang diteliti.60 Sampel juga merupakan sebagian dari populasi yang diambil secara representatif atau mewakili populasi yang bersangkutan atau bagian kecil yang diamati.61 Penelitian terhadap sampel biasanya disebut studi sampling. 62 Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini berupa teknik random sampling dengan jumlah tiga belas artikel jurnal yang telah dipublikasikan secara nasional di Indonesia rentang tahun 2014-2020 pada jenjang pendidikan dasar.

D. Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembaran pemberian kode (coding data). Variabel-variabel yang digunakan untuk pemberian kode dalam menjaring informasi mengenai besar pengaruh (effect size) pada penelitian meta-analisis sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kadir, yaitu (1) data artikel yang terdiri dari nama peneliti, judul penelitian, nama jurnal dan tahun publikasi; (2) karakteristik sampel berupa tempat penelitian, subjek penelitian dan sampel penelitian; (3) variabel, desain dan instrument berupa variabel independen dan dependen, desain penelitian dan

59 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2017), Cet. 26, h. 89.

60 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), Cet. 15, h. 174.

61 Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial, (Ciputat: Referensi, 2013), Cet. 5, h. 70.

62 Ibid, h.70.

Gambar

Gambar 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................
Gambar 2.3 Diagram Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Dari penjelasan di atas bahwa analisis pemidanaan bagi pelaku pembakaran hutan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan

Penelitian ini menggunakan uji regresi linier sederhana dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara new media terhadap motivasi berdonasi melalui Rumah

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran kepada Peneliti dalam menyusun skripsi dengan judul Pengaruh Kreativitas Belajar Dan

Alat- alat yang di gunakan dalam penelit i an ini meliput i : Geogr aphycal Position System (GPS), abney level , met eran, kompas, bor tanah, r ing sample , kantong plast i

Bila terjadi error pada transmisi, suatu negative acknowledgment (nak) dipakai untuk mengindikasikan bahwa suatu sistem tidak siap menerima, atau data yang

Dengan Persamaan (3) dibuat kurva antara  .cos  terhadap sin  Dari perpotongan kurva linier pada sumbu vertikal diperoleh ukuran kristalit bahan dan dapat dihitung

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Upaya dan faktor pendukung serta penghambat keberhasilan guru Pendidikan Agama Islam Dalam Rangka Meningkatkan Pengamalan

Bergerak dari beberapa latar belakang diatas Himpunan Mahasiswa Magister Akuntansi (HIMMA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan