• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. media elektronik (televisi, radio dan smartphone). Menurut Bitner (Rahmat,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. media elektronik (televisi, radio dan smartphone). Menurut Bitner (Rahmat,"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Di Indonesia perkembangan media massa sangatlah cepat digunakan baik kalangan muda maupun kalangan orang dewasa dengan mencari informasi melalui akses media massa seperti media cetak (surat kabar, majalah, tabloid) maupun media elektronik (televisi, radio dan smartphone). Menurut Bitner (Rahmat, 2003:188) dalam buku komunikasi massa bahwa pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass comunication is messsage comunicated through a mass medium toa larg number of people). Berdasarkan dari

definisi tersebut bahwasannya komunikasi massa yang dimaksud Bitter adalah menggunakan media massa. Hadirnya media massa yang sudah berkembang dan menjadi konsumsi sehari-hari, dapat memberikan informasi kepada masyarakat sebagai suatu sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak dengan cepat dan mudah.

Setelah Perubahan di era modern ini, banyak masyarakat yang melakukan suatu kegiatan seperti bergotong royong, saling sapa ataupun saling berkomunikasi, saling bahu-membahu, saling tolong-menolong, dan lain sebagainya karena hadirnya media massa. Seharusnya, dengan hadirnya peran media dapat, digunakan sebagai alat atau media oleh kalangan masyarakat dengan mudah, dan dapat melakukan segala aktivitas yang dilakukannya. Karena hadirnya teknologi ini, media massa memberikan beberapa fungsi seperti menurut Effendy (1993:31) dalam buku komunikasi massa yaitu untuk menyampaikan informasi (to inform), medidik (to educate), menghibur (to entertain) dalam artikulasinya media massa

(2)

2

sebagai alat atau sarana mendidik dan mempengaruhi agar sosio-psikologis pembaca tidak dapat diragukan lagi. Dalam buku fungsi media juga sebagai kontrol sosial ( Social control), dari fungsi mengkontrol sosial tersebut media dapat mengkontrol atau mengawasi massa.

Hadirnya media massa seperti televisi pada tahun 1920-an di dunia, sehingga membuat indonesia mendirikan televisi pada tahun 1989-an oleh stasiun TVRI.

Media televisi telah mekukan pembaruan selama empat tahap pembaharuan dari tanggal 3 Mei 1971 oleh Departemen Penerangan nomer 54/B/KEO/MENPEN/1971 sampai tanggal 24 Juli 1990 pada nomer 111/KEP/MENPEN/1990 yang menghadirkan beberapa stasiun televisi seperti TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar. Berlansung pada pemerintahan Gus Dur mulai berdirinya beberapa televisi baru yaitu Metro-TV, Trans-TV, Lativi, Global-TV, dan TV-7. Salah satu dari beberapa stasiun televisi tersebut, Media TVRI memiliki cabang di Indoneisa yang salah satunya berada diTVRI Jawa Barat yang beralamat di Jalan Cibaduyut Raya No. 269 Bandung dengan jangkauan siaran 35.862 KM dan kekuatan Transmisi 100 sampai dengan 20.000 watt. Pada jangkauan ini, media TVRI Jawa Barat dapat menyiarkan berita-berita dengan baik, Sehingga pada tanggal 11 Maret itu adalah sebagai tanggal didirikannya TVRI Jawa Barat yang berdri pada tahun 1987.

Pada tahun 1948 Gerge Orwel dalam buku yang berjudul 1984 bahwa televisi akan membuat dunia menjadi semacam penjara. Hal tersebut karena televisi akan dikontrol oleh seorang penguasa melalui alat-alat elektronis (Orwell, 2016).

Menurut Georgel dalam bukunya yang berjudul 1984 tersebut bahwasannya televisi

(3)

3

membuat dunia bagaikan penjara. Hal tersebut tidak terjadi, melainkan massa mendapatkan banyak hiburan, pendidikan, maupun informasi melalui media televisi. Berdasarkan dari beberapa setasiun televisi yang ada di Indonesia ada beberapa televisi daerah yang memiliki banyak peminat dalam tayangan tersebut yaitu dari televisi Jawa Timur, televisi Sumatra, televisi Jawa Barat, Televisi Jawa Tengah dan televisi yang Lainnya. Berdasarkan dari televisi tersebut salah satunya ada yang menayangkan berbagai macam-macam, atau keunikan-keunikan yang berada di daerah tersebut. Seperti pada tayang televisi Jawa Barat yang berada di TVRI Jawa Barat, terdapat program acara berita di tayangan Kalawarta yang acaranya menyampaikan dengan menggunakan Bahasa Sunda. Hal tersebut menjadikan salah satu keistimewaan dari menjaga ataupun melestarikan budaya mereka melalui Program Acara Kalawarta dengan memberitakan Menggunakan bahasa Sunda dan baju adat khas sunda.

Subjek dari penelitian ini yaitu tayangan kalawarta yang berada di media TVRI Jawa Barat. Media Televisi Jawa Barat merupakan salah satu media televisi yang hingga saat ini bertahan ditengah-tengah maraknya media televisi dalam mencari peminat tayangan pada masyarakat. Di media televisi TVRI Jawa Barat juga menayangkan beberapa tayangan seperti Dunia Anak, Cianjuran, Kandaga, Wayang Golek, Hariring, Kuliner Nusantara, Anak Indonesia yang menyiarkan tayangan tentang kebudayaan. Oleh karena itu, dengan adanya tayangan Kalawarta pada media TVRI Jawa Barat, dapat memberikan sisi positif yaitu selain memberitan informasi juga memberikan education kepada masyarakat untuk melestarikan budaya lokal.

(4)

4

Maka dari itu, adanya media televisi di Indonesia pasti memiliki fungsi bagaimana upaya TVRI Jawa Barat dalam mempertahankan kelestarian budaya sunda dan membangun kesadaraan masyarakat untuk menghadapi persaingan di era modern. Penelitian ini untuk mengetahui media televisi dapat mempertahankan di era modern ini dengan membangun kesadaran dalam melestarikan budaya lokal.

Oleh karena itu untuk mengetahui fungsi media TVRI Jawa Barat dalam melestarikan budaya lokal dapat dilihat dari empat fungsi yaitu informasi, mendidik, menghibur, dan kontrol sosial dalam melestarikan budaya sunda.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian yang dikemukakan di atas, menjadikan fokus penelitian terhadap fungsi media yaitu informasi, mendidik, dan menghibur dalam melestraikan budaya lokal. Untuk hal ini fungsi media dalam melestarikan budaya lokal maka dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan penelitian tersebut sebagai berikut:

1. Bagaimana TVRI Jawa Barat memberikan pendidikan kepada massa melaui program acara kalawarta dalam melestraikan budaya sunda ?

2. Bagimana TVRI Jawa Barat memberikan hiburan kepada massa melalui program acara Kalawarta dalam melestarikan budaya sunda ?

3. Bagaimana TVRI Jawa Barat memberikan infomasi kepada massa melalui program acara Kalawarta dalam melestrakian budaya sunda ?

4. Bagaimana TVRI Jawa Barat mengontrol sosial kepada massa melalui program acara kalawarta dalam melestarikan budaya sunda?

C. Tujuan Penelitian

Adapun maksud dari tujuan penelitian ini, dapat dirumuskan bahwa:

(5)

5

1. Untuk mengetahui pada program acara kalawarta di media TVRI Jawa Barat dalam memberikan pendidikan untuk kelestarikan budaya sunda.

2. Untuk mengetahui pada program acara kalawarta di media TVRI Jawa Barat dalam hiburan untuk melestraikan budaya sunda.

3. Untuk mengetahui pada program acara kalawarta di media TVRI Jawa Barat dalam menginformasi untuk melestarikan budaya sunda.

4. Untuk mengetahui pada program acara kalawarta di media TVRI Jawa Barat dalam mengontrol sosial untuk melestarikan budaya sunda.

D. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, kegunaan penelitian ditinjau dari dua aspek diantaranya yaitu:

1. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai rujukan pengembangan pengetahuan khususnya dan bidang ilmu Jurnalistik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menggambarkan secara detail bagaimana peran media dalam melestarikan budaya sunda. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat menjadikan referensi bagi masyarakat bagi mahasiswa ilmu komunikasi jurnalistik yang ingin melakukan penelitian sama yaitu melestarikan budaya sunda.

2. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang bagaimana peran dalam melestarikan budaya sunda dalam menghadapi zaman yang modern ini. Penelitian ini berharap dapat menambah infromasi yang berguna bagi

(6)

6

masyarakat. Selain itu dapat diharapkan untuk mengembangkan penelitian lanjutan tentang masalah yang sama.

E. Landasan Pemikiran

Pada penelitian ini, landasan pemikiran teori yang digunakan dari beberapa teori dan pendekatan untuk menguat hasil penelitian dalam mencari fungsi media dalam melestarikan budaya lokal. Adapun teori yang diambil yaitu menggunakan teori modernisasi yang dimana berawal dari konsep media pembangunan yang menjelaskan bahwa menurut Denis McQuail (1991) pada buku (Rethinking Development Comunication : The Asia Mass Comunication, 1987) memiliki 1) Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional. 2) Kebebasan media dibatasi sesuai dengan prioritas ekonomi dan pembangunan masyarakat. 3) Media perlu memperioritaskan isi pada kebudayaan dan bahasa nasional. 4) Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya, yang erat kaitannya secara geografis, kebudayaan atau politik.

5) Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas menumpulkan informasi dan penyebarluasnya. 6) Bagi kepentingan tujuan pembangunan, negara memiliki hak untuk ikut campur tangan atau membatasi, pengoprasian berita, sarana penyensoran, subsidi, dan pengendalian langsung terhadap media. Hal ini lazim dilakukan terhadap negara yang sedang berkembang. Dari penjelasan diatas bahwasannya pada teori media pembangunan ini media sangat berperan aktif dalam pembangunan di masyarakat dalam menyebarluaskan beberapa informasi kepada khalayak. Selain itu juga media

(7)

7

pembangunan memiliki turunan yaitu teori moderenisasi yang dimana teori modernisasi ini lahir pada tahu 1950-an di Amerika Serikat yang merupakan respon kaum intelektual terhadap perang dunia, yang menganut evolusi yang dianggap sebagai jalan optimis menuju perubahan. Teori ini lahir disaat suasana ketika dunia masuk pada “perang dingin” yaitu antara negara-negara komunis yang dibawah pimpinan negara Sosialis Uni Soviet Rusia (USSR). Perang ini merupakan idiologi dari teori antara kapitalisme dan sosialisme. Gerakan sosialisme Rusia mulai mengembangkan pengaruhnya tidak hanya di Eropa Timur, melainkan di negara- negara yang baru merdeka. Sehinggga terjadinya perang dingin tersebut terjadi, dan teori modernisasi terlibat dalam peperangan idiologi.

Dengan begitu, modernisasi adalah suaru proses transformasi dari suatu arah perubahan kearah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Selain itu modernisasi sebagai proses perubahan dari cara- cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju dimana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut Wilbert E. Moore (33) bahwa modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam teknologi serta organisasi sosial, kearah pola ekonomi dan politisi yang menjadi ciri-ciri negara barat yang stabil. Kemudian modernisasi memiliki konsep modernisasi yang telah disepakati oleh teoritis modernisasi pada tahun 1950-an dan tahun 1960-an dalam tiga cara, yaitu: historis, relatif, dan analisis. Pada definisi historis, modernisasi sama dengan Westernisasi atau Amerikanisasi. Modernisasi dilihat sebagai gerakan menuju cita-cita masyarakat yang dijadikan model.

Kemudian definisi relatif, modernisasi berati upaya yang bertujuan untuk

(8)

8

menyamai standar yang dianggap modern baik oleh masyarakat banyak maupun oleh penguasa. Kemudian definisi analisis secara khusus lebih kepada definisi sebelumnya yakni melukiskan dimensi masyarakat modern dengan maksud untuk ditanamkan dalam masyarakat tradisional atau masyarakat pra modern.

F. Kerangka Konseptual

Adapun kerangka konseptual yang akan dipaparkan pada penelitian ini yaitu : 1. Fungsi

Fungsi merupakan kegiatan pokok yang dilakukan dalam suatu organisasi atau lembaga. Adapun menurut J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zaid dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, mengemukakan fungsi adalah jabatan atau kedudukan.

(1996, hal. 412). Berdasarkan pendapat di atas bahwasannya, fungsi yaitu menandakan suatu jabatan dalam sebuah organisasi yang menggambarkan akan tugas dan fungsinya.

Adapun fungsi media atau pada jurnalisme menurut Effendy (1993) yaitu: 1.

fungsi memberi informasi (to inform). Pada fungsi media dalam memberikan informasi ini, fungsi ini menjadikan masyarakat sebagai kebutuhan. Selain media massa memberikan Informasi kepada masyarakat berkembang, melainkan juga dibutuhkan di negara-negara maju sebagai upaya mempertahankan keunggulan serta memperkokoh pengaruh dan hegemoni di era persaingan global yang kian tajam ini. 2. Fungsi mendidik (to education). Pada fungsi media dalam mendidik ini, fungsi media menyampaikannya secara edukatif atau mendidik. Degan memberikan informasi yang mendidik ini khalayak mampu meningkatkan kecerdasan dan pekerti masyarakatnya. Bahkan beberapa media secara khusus

(9)

9

memang memanfaatkan sebagai sarana pembelajaran dan pendidikan. Pada dunia komunikasi dikenal sebagai istilah instructional media. 3. Fungsi memberi hiburan (to entertain). Pada fungsi ini selain memberikan informasi, media juga

memberikan hiburan kepada khalayak namun mendidik sehingga dapat mengembangkan kebudayaan. 4. Fungsi melaksanakan kontrol sosial (social control). Pada fungsi ini digunakan untuk mengontrol sosial atau sebagai

pengawasan masyarakat yang berada di negara-negara demokrasi. Adapun dalam melaksanakan fungsi kontrol yaitu disebut sebagai kekuatan keemapat (the fourth estate). Hal ini diambil dari tiga pilar kekuasaan yaitu Eksekutif (pemerintahan),

Legislatif (Parlemen), dan Yudikatif (Peradilan). Tanpa hal itu sangat tidak mungkin pers mampu melaksanakan fungsinya dengan benar, karena pers dianggap sebagai penegak nilai-nilai demokrasi. Kebebasan pers dalam jurnalisme masa kini tidak hanya menyangkut tentang kebebasan mendapatkan informasi, dengan begitu telah disusun UU No.14 Tahun 2008 tentang dan UU No.11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi Elektronik yang sama-sama dikeluarkan pada bulan April 2008 tentang kebebasan Memperoleh Informasi Publik.

2. Media

Media berasal dari kata “medium” yang berasal dari bahasa latin “Medius”

berarti sesuatu yang ditengah atau alat. Pengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) dan penerima pesan, sehingga media adalah suatu alat atau sarana atau perangkat. (Latuheru, 1988:9). Cangara, (2006:119) Dalam buku pengantar komunikasi, media adalah sarana atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikastor kepada khalayak.

(10)

10

Menurut Association of Education And Communication Technology (AECT) bahwa media merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi. Kemudian dalam Kamus Standar Bahasa Indonesia (Drs. Nur Azman, hal. 265) media adalah alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Media juga diartikan sebagai alat atau sarana dalam berkomunikasi, dan juga bisa disebut dengan perantara atau penghubung.

Dari beberapa pengertian tersebut bahwa media merupakan alat, tempat untuk menyebarluasakan suatu informasi kepada khalayak secara efektif dan serentak yang dapat membuat khalayak cepat terpengaruh melalui pesan yang disampaikan.

Media memiliki cabang yaitu media cetak (terdiri dari koran, majalah, poster, spanduk, dan lai-lain), kemudian media elektronik (terdiri dari televisi, radio, telephone), dan kemudian ada media online yang masing-masing sama-sama memberikan pesan kepada khalayak secara cepat dan tepat.

3. Televisi

Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar yang dapat dilihat oleh banyak orang. Kata televisi berawal dari kata teladan vision yang berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Di Indonesia, televisi disebut sebagai dengan TV, tivi, atau tipi. Televisi yang ditangkan kepada khalayak, memiliki beberapa tayangan yaitu dari tayangan hiburan, tayangan informasi, dan tayangan pendidikan.

Kemudian menurut Peter Herford televisi merupakan suatu media yang dapat menayangkan berbagai program tayangan hiburan seperti film, musik, Talk Show

(11)

11

dan sebagainya, dan pada program tayangan berita yang merupakan suatu tayangan yang dapat mengidentifikasikan khalayak pada suatu tayangan televisi karena berbentuk wajib pada setiap televisi.

Adapun tayangan televisi yang disampaikan kapada khalayak terdapat dua program yaitu program entertaiment dan informasi yang dapat disebut berita (news). Pada program informasi ini, televisi memberikan yang berkaitan dengan nilai aktualitas dan faktualitas yang menekankan pada kaidah jurnalistik. Adapun pada program hiburan yaitu televisi memberikan yang berorientasi yang dapat memberikan hiburan kepada penonton yangdimana jika ada unsur pemberitaan akan dimasukkan unsur kejurnalistiknya.

Adapun program acara televisi yaitu: program acara pemberitaan pada setiap tayangan televisi, kemudian terdapat program acara olahraga, kemudian terdapat program hiburan seperti talk show, reality show, dan sinetron, kemudian terdapat pula acara musik, kemudian terdapat program acara anak-anak, kemudian program acara keagamaan, dan kemudian program acara pendidikan.

4. Budaya

Budaya menururt Mclver yaitu ekspresi jiwa yang terwujud dalam cara-cara hidup dan berfikir, pergaulan hidup seni kesusasteraan, agama, rekreasi, dan hiburan, dan yang memenuhi kebutuhan hidup manusia (dikutip dalam Soekanto, 2002:304).

Kemudian menurut Cliffort Geerzt dalam tradisi antropologi (Martin dan Nakayama, 1997:47) bahwa budaya diartikan sebagai nilai yang memiliki karakteristik tersebiri dan bisa dilihat dari simbol-simbol. Dari simbol tersebut

(12)

12

bermakna sebagai sebuah sistem dari konsep ekspresi komunikasi antar manusia.

Dengan begitu budaya memiliki nilai, kebiasaan, atau kepercayaan yang akan terus berkembang.

Pada dasarnya budaya yaitu merupakan nilai-nilai yang muncul dari proses interaksi antar-individu. Hal ini diakui baik secara langsung maupun tidak langsung bahkan sudah menjadi kebiasaan dan di wariskan kepada generasi selanjutnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:169), budaya diartikan sebagai 1) pikiran, akal budi 2) adat istiadat, 3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang atau maju, dan 4) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar berubah.

Dengan begitu, adanya budaya yang telah ada dari dulu hingga sekarang yang kemudian diwariskan kepada masyarakat, menjadikannya sebagai suatu keharusan pada suatu kebuadaayan yang harus dilestarikan. Dengan begitu kebudayaan merupakan konfigurasi atau suatu pembentukkan tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku tersebut menjadikannya suatu dukungan dan diteruskan oleh anggota masyarakat sendiri.

G. Langkah-langkah penelitian

1. Paradigma dan Pendekatan Peneitian

Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan paradigma kualitatif yang dapat memperlihatkan bagaimana televisi TVRI Jawa Barat dalam mempertahankan dengan menayangkan keseluruhan alat, adat, dan informasi-informasi kebudayaan yang sudah merupakan suatu cara hidup yang telah digunakan secara luas, sehingga manusia berada di dalam keadaan yang lebih

(13)

13

baik untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam penyesuaiannya dengan alam sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya (Malinowski, 1983: 65).

Kemudian selain menggunakan paradigma naturalistik, pada penelitian ini menggunakan pendekatan perubahan sosial. Menurut Gillin dan Gillin dalam buku sosiologi skematika, teori dan terapan yaitu mengatakan bahwa perubahan- perubahan sosial adalah satu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya defusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat tersebut. Kaitannya dengan penelitian ini adalah paradigma ini menekankan pada perubahan masyarakat, pada perubahan masyarakat yang berawal tidak menggunakan teknologi dan menjadikan teknologi tersebut suatu hal yang dibutuhkan.

Pendekatan perubahan sosial ini memiliki faktor-faktor penyebab perubahan sosial, Menurut Koentjaraningrat yaitu kesadaran dari orang perorang akan kekurangan dalam kebudayaan, kualitas dari ahli-ahli dalam suatu kebudayaan dan perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat. Adapun faktornya yaitu yang pertama, penimbunan akulasi kebudayaan, hal ini karena adanya penemuan baru dari anggota masyarakat pada umumnya. Faktor yang kedua yaitu, pertambahan penduduk. Pada bertambahnya penduduk pada suatu daerah dapat mengakibatkan perubahan pada struktur masyarakat, terutama mengnai lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Kemudian yang ketiga yaitu, pertentangan (conflict). Menurut Roucet dan Waren masyarakat yang heterogen biasanya ditandai kurang dekat dengan hubungan antar orang satu dengan orang atau

(14)

14

sekelompok yang lainnya, dengan begitu indivisu cenderung mencari jalannya sendiri-sendiri.

Dari penjelasan di atas melalui paradigma kualitatif pada perubahan sosial ini, diharapkan dapat menggambarkan kondisi masyarakat pada perubahan yang dikarenakan teknologi sebagai salah satu bentuk fungsi media dalam melestarikan budaya lokal. Hal ini dapat dilakukan melalui pengumpulan, wawancara pada pihak TVRI Jawa Barat guna memperoleh informasi secara detail.

2. Metode Penelitian

Pada metode penelitian ini menggunakan metode studi kasus mendefinisikan menurut Maxfield (1930: 117-122) yaitu tentang status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatufase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas.

Dengan pendekatan kualitatif yang menjelaskan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Dengan begitu, pada penelitian ini menggunakan teori modernisasi dengan pendekatan perubahan sosial pada metodelogi kualitatif.

Menurut Denni (dikutip Guba & Lincoln, 1987) studi kasus yaitu studi yang menguji secara lengkap dan intesif segi-segi, isu-isu, dan mungkin peristiwa tentang latar geografik secara berulang-ulang. Kasus tidak hanya terbatas pada orang atau organisasi, tetapi juga batas sistem, program, tanggung jawab, koleksi, atau populasi (dari Guba & Linco, 1987). Kemudian Guba & Lincoln membagi bentuk tulisan yang dilebelkan pada studi kasus, guna mempermudah pemahaman seperti kasus: Individual, perwakilan atau organisasi, masyarakat, budaya, gerakan,

(15)

15

peristiwa, event, kejadian, incidents, metodologis, program, proyek, dan lain-lain.

(Dr. Tjipto Subadi, 2006)

Dengan menggunakan metode penelitian ini diharapkan dapat menggali informasi secara mendalam melalui proses wawancara, pengumpulan data dan observasi sebagai bentuk referensi dalam penelitain fungsi media dalam melestarikan budaya sunda.

3. Jenis Data dan Sumber Data a. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan data kualitatif yang didapatkan dari referensi-referesi dan hasil wawancara pada media TVRI Jawa Barat. Data tersebut didapatkan dari buku-buku, jurnal, dan dari sumber internet berupa artikel, dokumen, teori, monografi ataubacaan-bacaan yangrelevan yang menjelaskan uraian atau pemaparan yang berkaitan dengan fungsi media TVRI Jawa Barat dalam melestarikan budaya sunda melalui program acara kalawarta.

b. Sumber Data

Sumber data yaitu data yang diperoleh berupa orang, dokumen-dokumen, buku, gambar dan sebagainya pada suatu objek tempat dalam penelitian tersebut (Kusnawan, 2011:129). Adapun sumber data yang akan digunakan yaitu kepada produser, wartawan, reporter, presenter.

Pada sumber data ini yaitu Sumber data primer sebagai suatu informasi yang diperoleh mengenai suatu data yang berkaitan dengan perumusan masalah dan juga tujuan penelitian yang telah disusun (Saidah, 2015:153). Data primer yang di

(16)

16

peroleh yaitu dengan wawancara produser berita TVRI Jawa Barat, reproter, wartawan, presenter yang bekerja di TVRI Jawa Barat .

Selanjutnya data sekunder yang diperoleh untuk data tambahan dalam meneliti yaitu didapatkan dari buku-buku, artikel, jurnal, dokumen, skripsi, arsip dan hasil wawancara yang menyangkut pada penelitian.

4. Penentuan Informan atau Unit Penelitian

Informan dalam penelitian ini adalah di pemilik TVRI Jawa Barat, ketua pemberitaan kalawarta, tim redaksi pemberitaan kalawarta, wartawan TVRI Jawa Barat dibagian kalawarta, tim kreatif pada pemberitaan kalawarta. Adapun kriteria informan dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Memiliki pengetahuan tentang kejurnalistikan

b. Memiliki pengalaman dalam mencari, mengelola, dan menyajikan pemberitaan c. Berprofesi pada dalam pengalaman kerja minimal dua tahun

d. Bekerja di media TVRI Jawa barat 5. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data yang relevan dengan kajian penelitian yaitu sebagai berikut:

a. Wawancara

Wawancara yaitu suatu proses tanya jawab yang melibatkan dua orang atau lebih dengan tujuan bertukar informasi yang dilakukan bertatap wajah secara langsung atau face to face (Saidah, 2015: 154). Dilakukan wawancara ini dengan cara tanya jawab kepada narasumber untuk mendapatkan data yang sesuai pada kajian penelitian dan bersedia memberikan informasi tersebut.

(17)

17

Wawancara ditujukan kepada informan yaitu pemilik TVRI Jawa Barat, ketua program acara pemberitaan kalawarta, tim kreatif program acara kalawarta, tim produksi pada cara kalawarta, dan wartawan dibidang kalawarta. Tujuan dilakukannya wawancara ini untuk menggali data secara mendalam terkait padakajian penelitian yaitu fungsi media dalam melestarikan budaya sunda.

b. Observasi

Observasi yakni mengamati suatu hal dengan tujuan untuk melihat suatu kondisi yang akan diteliti (Saidah, 2015:154). Observasi yang dilakukan peneliti yaitu untuk mengetahui bagaimana program kerja TVRI Jawa Barat dalam memberikan tayanagan kalawarta kepada masyarakat selama tiga bulan atau dalam beberapa waktu sesuai kondisi para narasumber. Salain mengetahui melalui observasi juga dengan mencari dokumen-dokumen, foto dan yang lainnya sebagai menambah data-data atau referensi dalam penelitian.

Observasi ini juga dilakukan secara kondisional sebagaimana informan menyanggupinya. Tujuan dari observasi ini untuk melengkapi data-data temuan awal sebagai bentuk konfirmasi pada saat melakukan wawancara dengan informan.

Observasi ini sebagai penguat dalam penelitian yang diambil pada kajian fungsi media dalam melestarikan budaya sunda dilapangan.

c. Studi keperpustakaan

Dalam penelitian ini, studi keperpustakaan mendapatkannya dari observasi, dokumentasi, wawancara, dokumen-kokumen, jurnal, artikel dan data-data yang lainnya. Hal ini sebagai bentuk pelengkap penelitian dalam mencari tambahan referensi.

(18)

18 6. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini menggunakan teknis analisis data studi kasus, menurut Stake (Creswell, 1998:63) mengungkapkan empat bentuk analisis data beserta interpretasinya dalam penelitian studi kasus, yaitu: pengumpulan katagori, interpetasi langsung, peneliti membentuk pola dan mencari kesepadanan antara dua atau lebih, katagori hal ini dapat digunakan melalui table yang menunjukkan hubungan antara dua katagori yaitu mengembangkan generalisasi naturalistik melalui analistik data. Hal tersebut penjelasannya yaitu: (1) pengumpulan katagori dengan mencari suatu kumpulan dari contoh-contoh data serta berharap menemukan makna yang relevan dengan isu yang sesuai dengan yang diteliti, (2) interpretasi langsung, yaitu dengan memberikan kesan, pendapat, atau pandangan yang dapat diambil oleh peneliti (3) membentuk pola dan mencari kesepadanan antara dua atau lebih katagori. Yaitu dengan menyatukan permasalahan yang terjadi dengan menghasilkan satu kesamaan (4) mengembangkan generalisasi naturalistik melalui analisis data. Yaitu mengembangkan dengan senatural apa yang diteliti melalui analisis data.

Adapun kasus tersebut yaitu 1. Melalui pengumpulan katagori acara-acara yang terkait dengan pelestrarian budaya lokal, dimana data-data yang sudah dikatagorikan tersebut berdasarkan pelestarian budaya lokal. 2. Dari kasus-kasus pada program acara kalawarta tersebut dapat mencari kesan, pendapat atau pandangan berdasarkan pelestarian budaya lokal. 3. Mencari beberapa katagori dalam tayangan kalawarta dalam melestarikan buaya lokal. 4. Menjelaskan dari kasus-kasus tersebut dengan senatural mungkin namun tidak terlepas dari pelestarian budaya lokal.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam praktek peradilan pidana keterangan saksi tidak lagi diberikan secara langsung (fisik) harus dipersidangan untuk memberikan kesaksiannya. Selain hal diatas, saat ini

Reksa Dana Bahana Dana Prima mulai efektif pada tanggal 1 Agustus 1996 dengan selaku manajer investasi dari Reksa Dana tersebut adalah PT.. Bahana TCW

Apa yang terjadi pada papan ini, declarer menang ]A, cabut dua kali trump kemudian main {A ruff club ke dummy dengan heart club ruff dilanjutkan main spade berharap lawan

Persoalan Kalam Allah termasuk masalah terbesar. Polemik mengenainya berkepanjangan antara golongan Ahlus Sunnah wal Jama'ah di satu pihak dengan sejumlah golongan

Sebagaimana dalam “Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2007”, bahwa sekolah/madrasah

Sewa mesin fotokopi dan sewa angkutan darat ini merupakan sewa yang dikenakan pajak penghasilan pasal 23, karena merupakan pajak penghasilan yang dipotong atas penghasilan

Ada tiga sasaran penatalaksanaan tetanus, yakni: (1) membuang sumber tetanospasmin; (2) menetralisasi toksin yang tidak terikat; (3) perawatan penunjang (suportif ) sampai

Apabila instansi lain menyetujui Kerangka Kerja Teknis dan Rancangan Prakiraan Anggaran Biaya, maka dapat ditindaklajuti dengan penandatanganan kesepakatan atau perjanjian