• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

A. PENGELOLAAN PEMBELAJARAN 1. Pengertian Pengelolaan Pembelajaran

Pengelolaan itu berakar dari kata “kelola” dan istilah lainnya yaitu

“menejemen” yang artinya yaitu ketatalaksanaan. Tata pimpinan. Menurut Bahri dan Zain (1996) bahwa pengelolaan itu adalah pengadministrasian, pengatuaran atau penataan suatu kegiatan. (Fauzi, 2013: 47)

Pengelolaan diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu.

Berbeda halnya dengan definisi pengelolaan menurut para ahli yang ditinjau dari prinsip pengelolaan pembelajaran yaitu sebagai berikut:

a. Menurut Wardoyo pengelolaan adalah suatu rangkai kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya

b. Menurut Saylor pengelolaan merupakan aktualisasi kurikulum yang menentukan aktifitas dan kreatifitas serta kearifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang diprogramkan secara efektif dan efisien juga menyenangkan.

c. Menurut Depdikbud pengelolaan merupakan proses mengatur agar seluruh potensi secara optimal dalam mendukung tercapainya tujuan yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengerahan (aktuanting), pengawasan (controlling).

Kegiatan pengelolaan pembelajaran merupakan gagasan-gagasan pokok tentang kegiatan pembelajaran yang akan dijadikan sebagai pedoman untuk tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan serta memuat gagasan-gagasan pedagogis dan andragogis untuk mengelola pembelajaran agar berjalan secara efektif dan efisien.

(Darwyn Syah, 2007: 288)

(2)

Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa pengelolaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang demi tercapainya suatu tujuan melalui tahap perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.

Pembelajaran berasal dari kata “belajar” yang artinya ialah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencari suatu informasi atu lebih. Jadi pembelajaran ialah proses kegiatan mencari informasi (dalam mencari ilmu). Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun. (Ahmad Fauzi, 2013: 48)

Secara sederhana, istilah pembelajaran (instruction) bermakna sebagai “ upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan. “ Pembelajaran dapat pula dipandang sebagai kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dengan demikian, pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan terencana yang mengondisikan/merangsang seseorang agar bisa belajar dengan baik agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. (A. Zayadi dan Majid, 2005: 8)

Menurut Dimyati dan Mudjino yang dikutip oleh Sobri mengartikan pembelajaran sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian lain, pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa. Pembelajaran menurut degeng adalah upaya untuk membelajarkan pembelajar.

Pembelajaran yaitu segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar terjadi proses belajar pada diri siswa. (Sutikno, 2008: 33)

Beberapa kajian dikemukakan bahwa instruction atau pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun

(3)

sedemikian rupa untuk mendukung dan mempengaruhi terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Dalam pembelajaran, situasi atau kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh guru. (Aunurrahman, 2010: 34)

Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mendapat ilmu pengetahuan yang baru.

Berdasarkan dua pengertian diatas, maka pengelolaan pembelajaran adalah pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatan menurut Weber diklasifikasikan keadaan dua pengertian yaitu berdasarkan pendekatan otoriter dan pendekatan permisif. Adapun pendekatan otoriter adalah kegiatan guru untuk mengontrol tinggkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat. Sedangkan pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan untuk sisiwa melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan yang mereka inginkan.

Pengelolaan pembelajaran merupakan proses untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran dibutuhkan proses panjang yang dimulai dengan perencanaan, pengorganisasian dan penilaian. Perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, waktu dan personel yang diperlukan.

Sedang pengorganisasian merupakan pembagian tugas kepada personel yang terlibat dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran, pengorganisasian, pengarahan dan pemantauan. Evaluasi sebagai proses dilaksanakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan yang telah dicanangkan, faktor pendukung dan penghambatnya. (Ahmad Fauzi 2013:48-49)

2. Tujuan Pengelolaan Pembelajaran

Tujuan manajemen peserta didik adalah mengatur kegiatan- kegiatan peserta didik agar kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran, sehingga dapat berjalan dengan lancar, tertib dan teratur

(4)

serta dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan yang ditetapkan. (Baharuddin dan Makin, 2010: 68)

Adapun tujuan dari pengelolaan pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik.

b. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik

c. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.

Dengan terpenuhinya 3 hal tersebut di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai cita-cita mereka dengan proses belajar yang memungkinkan tumbuhnya minat dan bakat untuk kebahagian dan kesejahteraan hidupnya kelak. (Saifuddin, 2014: 57)

Penulis berpendapat bahwa tujuan pengelolaan pembelajaran adalah upaya agar sistem pembelajaran dalam suatu lembaga menjadi terarah dan sistematis untuk tercapainya tujuan pendidikan.

Kegiatan pengelolaan belajar siswa di kelas dimaksudkan untuk mewujudkan dan menghasilkan tujuan institusional dari program visi dan misi sekolah, dengan harapan mengharapkan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter, kecakapan dan keterampilan yang kuat untuk digunakan dalam mengadakan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan. (Asep Kurniawan, 2011: 26)

3. Prinsip Pengelolaan Pembelajaran

Belajar merupakan aktifitas yang dilakukan oleh siswa dalam rangka membangun makna atau pemahaman. Karenanya dalam pembelajaran guru perlu memberikan motivasi kepada siswa untuk menggunakan potensi dan otoritas yang dimilikinya untuk membangun suatu gagasan. Pencapaian keberhasilan belajar tidak hanya menjadi tanggung jawab siswa, tetapi guru ikut bertanggung jawab dalam

(5)

menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi siswa untuk melakukan kegiatan belajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran guru harus memperhatikan prinsip kegiatan pembelajaran, sebagai berikut:

a. Berpusat Pada Siswa

Guru harus mengorganisasikan kegiatan pembelajaran, kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, media dan sumber belajar dan cara penilaian yang disesuaikan dengan karakteristik individual siswa. Karena kegiatan pembelajaran yang dikembangkan oleh guru harus mendorong siswa agar dapat mengembangkan potensi, bakat serta minat yang dimilikinya secara optimal dan maksimal.

b. Pembalikan Makna Belajar

Konsep tradisional belajar hanya diartikan penerimaan informasi oleh peserta didik dari sumber belajar (guru). Akibatnya pembelajaran sering diartikan tansfer of knowledge. Dalam kurikulum berbasis kompetensi makna belajar merupakan proses aktivitas dan kegiatan siswa dalam membangun pengetahuan dan pemahaman terhadap informasi atau pengalaman. Guru berperan untuk membimbing siswa dalam belajar dan menempatkan diri sebagai fasilitator. (Darwyn Syah dkk, 2007: 288-290)

c. Belajar dengan melakukan

Pada hakikatnya dalam kegiatan belajar siswa melakukan aktivitas-aktivitas. Aktivitas siswa dalam belajar akan sangat ideal bila melakukan dalam kegiatan nyata yang melibatkan dirinya, terutama untuk mencari dan menemukan serta mempraktekkannya sendiri.

Dengan cara ini, siswa tidak akan mudah melupakan apa yang telah diperolehnya.

d. Mengembangkan Kemampuan Sosial, Kognitif dan Emosional

Kegiatan pembelajaran yang dikembangkan guru harus mendorong terjadinya proses sosialisasi pada diri siswa masing- masing, dimana siswa belajar saling menghormati dan menghargai

(6)

terhadap perbedaan-perbedaan (pendapat, sikap, kemampuan dan prestasi). Pembelajaran juga dikembangkan agar siswa mampu bekerjasama serta mampu mengembangkan empati sehingga siswa terdorong untuk saling membangun pengertian yang diselaraskan dengan pengetahuan dan tindakannya.

e. Mengembangkan Keingintahuan, Imajinasi, Fitrah Bertuhan

Siswa terlahir dengan rasa ingin tahu, imajinasi dan fitrah Bertuhan. Ras ingin tahu dan imajinasi yang dimiliki siswa merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif.

Sedangkan fitrah berTuhan merupakan cikal bakal manusia untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan.

f. Mengembangkan Keterampilan Pemecahan Masalah

Di dalam kehidupan sehari-hari setiap orang dihadapkan kepada berbagai permasalahan yang harus dipecahkan. Karenanya diperlukan keterampilan dalam memecahkan masalah. Untuk terampil memecahkan masalah seseorang harus belajar melalui pendidikan dan pengajaran. Salah satu tolak ukur keberhasilan belajar siswa banyak ditentukan oleh kemampuannya dan kecerdasannya dalam memecahkan masalah. Karena itu, dalam proses pembelajaran perlu diciptakan situasi yang menantang kepada siswa untuk mencari dan menentukan masalah, serta melakukan pemecahan dan mengambil kesimpulan. (Darwyn Syah dkk, 2007: 290-292)

g. Mengembangkan Kreatifitas Siswa

Kreativitas merupakan kemampuan mengkombinasikan atau menyempurnakan sesuatu berdasarkan data, informasi atau unsur- unsur yang sudah ada. Pembelajaran yang menuntut siswa berpikir kreatif, yaitu kemampuan berdasarkan data dan informasi yang tersedia. Ciri-ciri pembelajaran yang mendorong kreativitas seseorang sebagai berikut: timbul dorongan rasa ingin tahu yang besar, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh

(7)

orang lain, ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, dapat menghargai diri sendiri maupun orang lain dan sebagainya.

h. Mengembangkan Kemampuan Menggunakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia dalam menjalankan kehidupannya. Dalam kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberikan kesempatan dan peluang kepada siswa memperoleh informasi dan sumber belajar dan media pembelajaran yang menggunakan teknologi. Siswa juga diarahkan untuk mengenal dan mampu menggunakan teknologi.

i. Menumbuhkan Kesadaran sebagai Warga Negara yang Baik

Siswa perlu memperoleh wawasan dan kesadaran berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran perlu memberikan wawasan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, patriotisme dan semangat cinta tanah air yang dapat membekali siswa agar menjadi warga masyarakat dan negara yang bertanggung jawab serta memiliki semangat nasionalisme dan kebangsaan.

j. Belajar Sepanjang Hayat

Menurut ajaran Islam, menuntut ilmu diwajibkan bagi setiap muslim mulaai dari buaian sampai liang lahat. Belajar sepanjang hayat diperlukan, karena dunia pada dasarnya terus mengalami perkembangan dan penyempurnaan terutama dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menuntut manusia untuk belajar dan terus belajar agar dapat mengerti dan memahami serta menguasainya.

k. Perpaduan Kemandirian dan Kerjasama

Siswa perlu diberi pengertian dan pemahaman untuk belajar berkompetisi secara sehat, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. Sikap ini perlu dikembangkan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran dengan cara pemberian tugas-tugas individu untuk menumbuhkan kemandirian dan semangat berkompetisi maupun tugas

(8)

kelompok untuk menumbuhkan kerjasama dan solidaritas. (Darwyn Syah dkk, 2007: 292-295)

4. Tahap Pengelolaan Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, kedudukan guru sudah tak dapat lagi dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau sekolah, tetapi dianggap sebagai manager of learning (pengelola belajar) yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu para siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh menyeluruh.

Dalam mengelola pembelajaran, pendidik lebih dituntut untuk berfungsi dalam melaksanakan empat macam tugas berikut ini:

a. Merencanakan. Baik untuk jangka panjang (satu semester) maupun jangka pendek (satu pertemuan). Perencanaan ini memerlukan suatu pemikiran yang matang. Keberhasilan mengajar sangat tergantung pada kemampuan pendidik dalam merencanakan yang mencakup antara lain: menentukan tujuan belajar siswa, cara siswa mencapai tujuan tersebut dan sasaran apa yang diperlukan untuk itu.

b. Mengatur. Yang dilakukan pada waktu implementasi. Tugas ini adalah mengenai apa yang mencakup rencana dan pengetahuan tentang bentuk dan macam kegiatan yang harus dilaksanakan dan bagaimana semua komponen dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

c. Mengarahkan, karena memang salah satu tugas pendidik adalah memberikan motivasi, mengarahkan, dan memberikan inspirasi kepada siswa untuk belajar. Memang benar bahwa tanpa pengarahan masih dapat juga terjadi proses belajar, tetapi dengan adanya pengarahan yang baik dari pihak pendidik maka proses belajar diharapkan akan dapat berjalan lebih lancar.

d. Mengevaluasi, untuk mengetahui apakah perencanaan, pengaturan, dan pengarahan dapat berjalan dengan baik atau masih perlu diperbaiki.

Untuk itu, pendidik harus mempunyai patokan mengenai penampilan

(9)

para siswa yang dianggap telah memadai, baik selama maupun setelah ia mendidik mereka. (Sutikno, 2008: 34-35)

Pengelolaan Belajar ada 4 fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan seorang guru yaitu:

a. Merencanakan. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk menyusun tujuan belajar

b. Mengorganisasikan. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar dengan cara yang paling efektif, efisien dan ekonomis.

c. Memimpin. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk memotivasikan, mendorong dan menstimulasikan murid-muridnya, sehingga mereka akan siap untuk mewujudkan tujuan belajar.

d. Mengawasi. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan dan memimpin di atas telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Jika tujuan belum dapat diwujudkan, maka guru harus menilai dan mengatur kembali situasinya dan bukan mengubah tujuannya. (Ivor K.

Davis, 1991: 35-36)

Tahapan pengelolaan kegiatan pembelajaran dalam diklat dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Perencanaan

Perencanaan yang dimaksud disini meliputi:

1) Menetapkan apa yang mau dilakukan, kapan dan bagaimana cara melakukannya;

2) Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil yang maksimal melalui proses penentuan target;

3) Mengembangkan alternatif-alternatif;

4) Mengumpulkan dan menganalisis informasi;

5) Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan.

b. Pengorganisasian

Pengorganisasian yang dimaksud disini meliputi:

1) Menyediakan fasilitas, perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk melaksanakan rencana-rencana melalui proses penetapan kerja;

(10)

2) Pengelompokan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur;

3) Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi;

4) Memutuskan dan menetapkan metode dan prosedur;

5) Memilih, mengadakan pelatihan dan pendidikan tenaga kerja serta mencari sumber-sumber lain yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.

c. Pengarahan

Pengarahan yang dimaksud disini meliputi:

1) Menyusun kerangka waktu dan biaya secara terperinci;

2) Memprakarsai dan menampilkan kepemimpinan dalam melaksanakan rencana dan pengambilan keputusan;

3) Mengeluarkan instruksi-instruksi yang spesifik;

4) Membimbing, memotivasi dan melakukan supervisi.

d. Pengawasan

Pengawasan yang dimaksud disini meliputi:

1) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang mengacu pada rencana;

2) Melaporkan penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan tindakan koreksi, menyusun standar-standar dan saran-saran;

3) Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan.

B. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan dalam wacana keislaman lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, riyadhah, irsyad, dan tadris. Masing-masing istilah tersebut memiliki keunikan makna tersediri. Namun, kesemuanya memiliki makna yang sama. Secara etimologi pengertian pendidikan Islam adalah sebagai berikut :

a. Tarbiyah diambil dari fi’il madhi-nya (rabbayani) maka ia memiliki arti memproduksi, mengasuh, menanggung, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan, memelihara, membesarkan dan menjinakkan.

b. Ta’lim merupakan kata benda buatan (mashdar) yang berasal dari akar kata “’allama. Sebagian para ahli menerjemahkan istilah tarbiyah dengan pendidikan, sedangkan Ta’lim diterjemahkan dengan pengajaran. Pengajaran (Ta’lim) lebih mengarah pada aspek kognitif.

(11)

c. Ta’dib lazimnya diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika. Ta’dib yang seakar dengan adab memiliki arti pendidikan peradaban atau kebudayaan.

d. Riyadhah secara bahasa diartikan dengan pengajaran dan pelatihan.

Menurut al-Bastani, Riyadhah dalam konteks pendidikan berarti mendidik jiwa anak dengan akhlak yang mulia. (Mujib dan Mudzakkir, 2006: 10-21)

Di bawah ini merupakan pengertian pendidikan Islam menurut pendapat para ahli

a. Drs. Ahmad D. Marimba: Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. (Ahmad Marimba, 1964: 23)

b. Menurut Ahmad Tafsir: Pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. (Ahmad Tafsir, 1994: 32) c. Menurut Prof. H.M. Arifin: Pendidikan Islam adalah suatu sistem

kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi. (H. M. Arifin, 2011: 8)

d. Menurut Dr. Zakiah Darajat: Pendidikan Islam adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim sesuai ajaran Islam. (Zakiah Darajat, 2012: 27)

Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qu’an dan Al-

(12)

Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Disertai dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa (Kurikulum PAI).

Tayar Yusuf (1986: 35) mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia muslim, bertakwa kepada Allah Swt, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian yang memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam kehidupannya. (Abdul Majid, 2012: 11-12)

Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa para ahli didik Islam berbeda pendapat mengenai rumusan pendidikan Islam. Ada yang menitikberatkan pada segi pembentukan akhlak anak, ada pula yang menuntut pendidikan teori dan praktek. Namun, dalam perbedaan tersebut terdapat persamaan yang dapat penulis simpulkan bahwa Pendidikan Islam merupakan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik dengan tujuan memperbaiki akhlak agar peserta didik memiliki kepribadian muslim.

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Karena itu tujuan pendidikan Islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam. (Nur Uhbiyati, 1998: )

Fungsi tujuan itu ada 4 macam, yaitu:

a. Mengakhiri usaha b. Mengarahkan usaha

c. Tujuan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, baik merupakan tujuan-tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama.

d. Memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.

(13)

Sebelum kepribadian Muslim terbentuk, pendidikan Islam akan mencapai dahulu beberapa tujuan sementara dan tujuan akhir. Tujuan sementara yaitu sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat Islam yang melaksakan pendidikan Islam. Tujuan sementara di sini yaitu, tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani-rohani dan sebagainya.

Adapun tujuan akhir pendidikan Islam yaitu terwujudnya kepribadian muslim yang mencerminkan ajaran Islam. (Ahmad Marimba, 1964: 46)

Tujuan pendidikan Islam yaitu untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera.

Tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam. Tujuan tersebut ditetapkan berdasarkan atas pengertian bahwa “pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. (H. M. Arifin, 1996: 40-41)

Menurut Imam Ghazali yang dikutip oleh Fathiyah Hasan Sulaiman tujuan umum pendidikan Islam tercermin dalam dua segi, yaitu:

(1) insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.; (2) insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.

Ibnu Khaldun merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam terbagi atas dua macam, yaitu: (1) tujuan yang berorientasi ukhrawi, yaitu membentuk seorang hamba agar melakukan kewajiban kepada Allah; (2) tujuan yang berorientasi duniawi, yaitu membentuk manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kebutuhan dan tantangan kehidupan, agar hidupnya lebih layak dan bermanfaat bagi orang lain. (Mujib dan Mudzakkir, 2006: 80-81)

(14)

Tujuan pendidikan Islam yang kaitannya dengan pendidikan di sekolah H. M Arifin mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam dibagi dalam beberapa tujuan yaitu:

a. Tujuan intruksional Khusus (TIK), diarahkan pada setiap bidang studi yang harus dikuasai dan diamalkan oleh anak didik

b. Tujuan intruksional umum (TIU), diarahkan pada penguasaan atau pengalaman suatu bidang studi secara umum atau garis besarnya sebagai suatu kebetulan.

c. Tujuan kulikuler, yang ditetapkan untuk dicapai melalui garis-garis besar program pengajaran di tiap institusi pendidikan.

d. Tujuan institusional, adalah tujuan yang harus dicapai melalui program pendidikan di tiap sekolah atau lembaga pendidikan tertentu secara bulat seperti tujuan institusional SLTP/SLTA

e. Tujuan umum atau tujuan nasional, adalah cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai melalui kependidikan dengan berbagai cara atau sistem, baik sistem formal (sekolah), sistem nonformal (nonklasikal dan nonkurikuler), maupun sistem informal (yang tidak terkait oleh formalitas program, waktu, ruang, dan materi)

Adapun tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi cita-cita ajaran Islam itu sendiri, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan akhirat. Rumusan-rumusan tujuan akhir pendidikan Islam telah disusun oleh para ulama dan ahli pendidikan.

Berdasarkan Kurikulum PAI 2002 Pendidikan Agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

(15)

Tujuan pendidikan agama Islam di atas merupakan turunan dari tujuan pendidikan nasional, suatu rumusan dalam UUSPN (UU No. 20 tahun 2003), berbunyi: “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Abdul Majid, 2012: 16-17)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam yaitu untuk menanamkan rasa ketaqwaan kepada Allah SWT dan membentuk kepribadian muslim sesuai ajaran Islam demi tercapainya kebahagian di dunia dan akhirat. Adapun tujuan pendidikan Islam yang sesuai dengan tujuan pendidikan di sekolah memiliki beberapa tujuan yang telah ditetapkan di sekolah yang merujuk pada tujuan pendidikan nasional.

3. Manfaat Pendidikan Islam

Manfaat pendidikan Islam adalah menyediakan segala fasilitas yang dapat memungkinkan tugas-tugas pendidikan Islam tercapai dan berjalan dengan lancar.

a. Fungsi pendidikan adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan tersebut dapat berjalan lancar.

Penyediaan fasilitas ini mengandung arti dan tujuan bersifat struktural dan institusional. (Muzzayyin Arifin, 2010: 34)

b. Fungsi pendidikan Islam sebagai pengembangan potensi. Fungsi ini merupakan realisasi dari pengertian tarbiyah al-insya’ (menumbuhkan atau mengaktualisasikan potensi)

c. Fungsi pendidikan Islam sebagai pewarisan budaya. Tugas ini sebagai realisasi dari pengertian tarbiyah at-tabligh (menyampaikan atau transformasi kebudayaan)

d. Fungsi pendidikan sebagai interaksi antara potensi dan budaya.

Interkasi antara potensi dan budaya harus mendapatkan tempat dalam proses pendidikan, dan jangan sampai salah satunya ada yang

(16)

diabaikan. Tanpa interaksi tersebut, harmonisasi kehidupan akan terhambat. (Bukhari Umar, 2011: 69-82)

Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/madrasah berfungsi sebagai berikut:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah Swt. yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.

b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat menguubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.

d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan- kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.

e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia yang seutuhnya.

f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, sistem dan fungsionalnya.

g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain. (Abdul Majid, 2012:15-16)

C. Pengelolaan Pembelajaran Bagi Anak Disabilitas Tunagrahita 1. Pengertian Anak Tunagrahita

Dalam buku karangan Kemis dan Ati Rosnawati (2013: 9) menuliskan bahwa secara etimologi kata tuna yang berarti merugi, dan kata grahita berarti pikiran.

(17)

Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Dalam kepustakaan bahasa asing digunakan istilah-istilah mental retardation, mentally retarded, mental defiency, mental defective, dan lain-lain.

Istilah tersebut sesungguhnya memiliki arti yang sama yang menjelaskan kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan ditanda oleh keterbatasan intelejensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Anak tunagrahita atau dikenal juga dengan istilah terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya mengakibatkan dirinya sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara klaksikal, oleh karena itu, anak terbelakang mental membutuhkan layanan pendidikan secara khusus yakni disesuaikan dengan kemampuan anak tersebut. (Sutjihati Somatri, 2012: 103)

Penderita dengan hendaya perkembangan atau tungrahita mempunyai tingkat kecerdasan sangat rendah. Mereka sulit berperilaku sesuai dengan norma atau ketentuan yang berlaku di masyarakat. Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki masalah dalam belajar yang disebabkan adanya hambatan perkembangan intelejensi, mental, emosi, sosial dan fisik. (Bandi Delphie, 2009: 127)

Istilah anak berkelainan mental subnormal dalam beberapa referensi disebut pula dengan terbelakang mental, lemah ingatan, febleminded, mental subnormal, tunagrahita. Semua makna dari istilah yang akan digunakan dalam kajian berikut ini adalah mental di bawah normal. Di antara istilah tersebut, istilah yang akan digunakan dalam kajian berikut ini adalah mental subnormal dan tunagrahita. Keduanya digunakan secara bergantian maupun bersama-sama.

Menurut Bratanata seseorang dikatagorikan berkelainan mental subnormal atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (di bawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.

(18)

Edgar Doll berpendapat seseorang dikatakan tunagrahita jika: (1) secara sosial tidak cakap (2) secara mental di bawal normal, (3) kecerdasannya terhambat sejak lahir atau pada usia muda, dan (4) kematangannya terhambat.

Berbeda halnya dengan The American Association on Mental Deficiency (AAMD) berpendapat seseorang dikatagorikan tunagrahita apabila kecerdasannya secara umum di bawah rata-rata dan mengalami kesulitan penyesuaian sosial dalam setiap fase perkembangannya. (Efendi, 2008: 88-89).

2. Klasifikasi Anak Tunagrahita

Seorang pedagog dalam mendefinisikan anak tunagrahita didasarkan pada program pendidikan yang disajikan pada anak. Dari penilaian tersebut dapat dikelompokkan menjadi anak tunagrahita mampu didik, anak tunagrahita mampu latih, dan anak tunagrahita mampu rawat.

Penjalasan dari ketiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut:

a. Tunagrahita Ringan

Tunagrahita ringan disebut juga mampu didik (debil) IQ sekitar 40-69 adalah anak tunagrahita yang tidak mampu mengikuti pada program sekolah biasa, tetapi masih memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan walaupun hasilnya tidak maksimal.

Kemampuan yang dapat dikembangkan pada anak tunagrahita mampu didik antara lain: (1) membaca, menulis, mengeja, dan berhitung; (2) menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain; (3) keterampilan yang sederhana untuk kepentingan kerja di kemudian hari. Kesimpulannya, anak tunagrahita mampu didik bererti anak tunagrahita yang dapat dididik secara minimal dalam bidang-bidang akademis, sosial dan pekerjaan.

b. Tunagrahita Sedang

Tunagrahita sedang disebut juga mampu latih (imbecil) IQ sekitar 30- 40 adalah anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan sedemikian rendahnya sehingga tidak mungkin untuk mengikuti program yang diperuntukkan bagi anak tunagrahita mampu didik. Oleh karena itu, beberapa kemampuan anak tunagrahita mampu latih yang perlu

(19)

diperdayakan, yaitu (1) belajar mengurus diri sendiri, misalnya makan, pakaian, tidur, atau mandi sendiri, (2) belajar menyesuaikan di lingkungan rumah atau sekitarnya, (3) mempelajari kegunaan ekonomi di rumah, di bengkel rumah (sheltered workshop), atau lembaga khusus. Kesimpulannya anak tunagrahita mampu latih berarti anak tunagrahita hanya dapat dilatih untuk mengurus diri sendiri melalui aktivitas kehidupan sehari-hari (activity daily living), serta melakukan fungsi sosial kemasyarakatan menurut kemampuan.

c. Tunagrahita Berat

Kelompok anak tunagrahita sering disebut mampu rawat (idiot) IQ sekitar 0-29 adalah anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan sangat rendah sehingga ia tidak mampu mengurus diri sendiri atau sosialisasi.

Untuk mengurus kebutuhan diri sendiri sangat membutuhkan orang lain. Dengan kata lain, anak tunagrahita yang membutuhkan perawatan sepenuhnya sepanjang hidupnya, karena ia tidak mampu terus hidup tanpa bantuan orang lain. (Efendi, 2006: 90-91)

Berbeda halnya dengan Yusuf yang dikutip oleh Bandi Delpie dalam bukunya yang berjudul Psikologi Perkembangan (ABK). Membaginya kedalam empat tingkat intelejensi anak diantanya ialah sebagai berikut:

a. Idiot (IQ sekitar 0-29) adalah kelompok individu terbelakang yang paling rendah. Anak idiot tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucapkan beberapa kata. Seringkali umurnya pendek karena selain intelejensiny rendah juga badannya tidak tahan dengan penyakit.

b. Imbecile (IQ sekitar 30-40) ia dapat berbahasa dan dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasan yang ketat.

Kecerdasannya sama dengan anak berusia 3-7 tahun.

c. Moron/debil (IQ sekitar 40-69) adalah kelompok pada tingkat tertentu yang masih dapat membaca, menulis, menghitung perhitungan sederhana, dan dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu.

d. Kelompok bodoh (dull, bordeline, atau slow leaner) IQ sekitar 70-79 adalah kelompok yang berada di atas kelompok terbelakang dan di bawah kelompok normal. Anak-anak ini akan diberikan tugas dan dapat mengerjakannya dengan baik layaknya anak normal. Namun, secara bersusah payah dengan beberapa hambatan, anak tersebut dapat bersekolah di sekolah menengah

(20)

pertama, tetapi sukar sekali untuk menyelesaikan kelas-kelas terakhir di sekolah lanjutan menengah pertama. (Bandi Delphie, 2009: 130-131)

3. Karakteristik Anak Tunagrahita a. Keterbatasaan Inteligensi

Inteligensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan menyesuaikan diri dengan masalah- masalah dan situasi-situasi kehidupan baru, belajar dan pengalaman masa lalu, berpikir abstrak, kreatif, dapat menilai secara kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan-kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak tunagrahita memiliki kekurangan dalam semua hal tersebut. Kapasitas belajar anak tunagrahita terutama yang bersifat abstrak seperti belajar dan berhitung, manulis dan membaca juga terbatas.

b. Keterbatasan Sosial

Di samping memiliki keterbatasan intelegensi, anak tunagrahita juga memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu mereka memerlukan bantuan. Anak tunagrahita cenderung berteman dengan anak yang lebih muda usianya, ketergantungan terhadap orang tua sangat besar, tidak mampu memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana, sehingga mereka harus dibimbing dan diawasi. Mereka juga mudah dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

c. Keterbatasan Fungsi-Fungsi Mental Lainnya

Anak tunagrahita memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan reaksi pada situasi yang baru dikenalnya. Mereka memperlihatkan reaksi terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin dan secara konsisten dialaminya dari hari ke hari. Anak tunagrahita tidak dapat menghadapi sesuatu kegiatan atau tugas dalam jangka waktu yang lama.

(21)

Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa. Mereka bukannya mengalami kerusakan artikulasi, akan tetapi pusat pengolahan (perbendaharaan kata) yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Karena alasan itu mereka membutuhkan kata- kata konkret yang sering didengernya. Selain itu perbedaan dan persamaan harus ditunjukkan secara berulang-ulang. Latihan-latihan sederhana seperti mengajarkan konsep besar dan kecil, keras dan lemah, pertama, kedua, dan terakhir, perlu menggunakan pendekatan yang konkret.

Selain itu, anak tunagrahita kurang mampu untuk mempertimbangkan sesuatu, membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan membedakan yang benar dan yang salah. Ini semua karena kemampuannya terbatas sehingga anak tunagrahita tidak dapat membayangkan terlebih dahulu konsekuensi dari suatu perbuatan.

(Sutjihati Somantri, 2012: 105-106)

4. Prinsip Pembelajaran Bagi Anak Tunagrahita

Mendidik anak yang berkelainan fisik, mental, maupun karakteristik sosialnya, tidak sama seperti mendidik anak normal, sebab memerlukan suatu pendekatan yang khusus juga memerlukan strategi yang khusus. Pengembangan prinsip-prinsip pendekatan secara khusus, yang dapat dijadikan dasar dalam upaya mendidik anak berkelainan, khususnya untuk anak tunagrahita diantaranya yaitu:

a. Prinsip kasih sayang. Prinsip kasih sayang pada dasarnya adalah menerima mereka sebagaimana adanya, dan mengupayakan agar mereka dapat menjalani hidup dan kehidupan dengan wajar, seperti layaknya anak normal lainnya. Oleh karena itu, upaya perlu dilakukan untuk mereka: (a) tidak bersikap memanjakan, (b) tidak bersikap acuh tak acuh terhadap kebutuhannya, dan (c) memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan anak.

(22)

b. Prinsip layanan individual. Pelayanan individual dalam rangka mendidik anak berkelainan perlu mendapatkan porsi yang lebih besar, sebab setiap anak berkelainan perlu mendapatkan porsi yang lebih besar, sebab setiap anak berkelainan dalam jenis dan derajat yang sama seringkali memiliki keunikan masalah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, upaya yang perlu dilakukan untuk mereka selama pendidikannya: (a) jumlah siswa yang dilayani guru tidak lebih dari4-6 orang dalam setiap kelasnya, (b) pengaturan kurikulum dan jadwal pelajaran dapat bersifat fleksibel, (c) penataan kelas harus dirancang sedemikian rupa sehingga guru dapat menjangkau semua siswanya dengan mudah, dan (d) modifikasi alat bantu pengajaran.

c. Prinsip kesiapan. Untuk menerima suatu pelajaran tertentu diperlukan kesiapan. Khususnya kesiapan kesiapan anak untuk mendapatkan pelajaran yang diajarkan, terutama pengetahuan prasyarat, baik prasyarat pengetahuan, mental dan fisik yang diperlukan untuk menunjang pelajaran berikutnya. Contoh, anak tunagrahita sebelum diajarkan pelajaran menjahit perlu terlebih dahulu diajarkan bagaimana memasukkan jarum. Contoh lain anak berkelainan secra umum mempunyai kecenderungan cepat bosan dan cepat lelah apabila menerima pelajaran. Oleh karena itu, guru dalam kondisi ini tidak perlu memberi pelajaran baru, melainkan mereka diberikan kegiatan yang menyenangkan dan rileks, setelah segar kembali guru baru dapat melanjutkan memberikan pelajaran.

d. Prinsip keperagaan. Kelancaran pembelajaran pada anak yang berkelainan sangat didukung oleh penggunaan alat peraga sebagai medianya. Selain mempermudah guru dalam mengajar, fungsi lain dari penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran pada anak berkelainan, yakni mempermudah pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan guru. Alat peraga yang digunakan untuk media sebaiknya diupayakan menggunakan benda atau situasi aslinya, namun

(23)

apabila hal itu sulit dilakukan, dapat menggunakan benda tiruan atau minimal gambarnya.

e. Prinsip motivasi. Prinsip motivasi itu lebih menitikberatkan pada cara mengajar dan pemberian evaluasi yang disesuaikan dengan kondisi anak berkelainan. Contoh bagi anak tunagrahita untuk menerangkan makanan empat sehat lima sempurna, barangkali akan lebih menarik jika diperagakan bahan aslinya kemudian diberikan kepada anak untuk makan, dari pada hanya berupa gambar-gambar saja.

f. Prinsip belajar dan bekerja kelompok. Arah penekanan prinsip belajar dan bekerja kelompok sebagai salah satu dasar mendidik anak berkelainan, agar mereka sebagai anggota masyarakat dapat bergaul dengan masyarakat lingkungannya, tanpa harus merasa rendah diri atau minder dengan orang normal.

g. Prinsip keterampilan. Pendidikan keterampilan yang diberikan kepada anak berkelainan, selain berfungsi selektif, edukatif, rekreatif dan terapi, juga dapat dijadikan sebagai bekal dalam kehidupannya kelak.

Selektif berarti untuk mengalahkan minat, bakat, keterampilan dan perasaan anak berkelainan untuk berpikir logis, berperasaan halus dan kemampuan untuk bekerja. Rekreatif berarti unsur kegiatan yang diperagakan sangat menyenangkan bagi anak berkelainan. Terapi berarti aktivitas keterampilan yang diberikan dapat menjadi salah satu sarana habilitasi akibat kelainan atau ketunaan yang disandangnya.

h. Prinsip penanaman dan penyempurnaan sikap. Secara fisik dan psikis sikap anak berkelainan memang kurang baik sehingga perlu diupayakan agar mereka mempunyai sikap yang baik serts tidak selalu menjadi perhatian orang lain. (Moh. Efendi, 2006: 24-26)

5. Pembelajaran Bagi Anak Tunagrahita

Penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak cacat di Indonesia mempunyai landasan hukum yang kuat sejak tahun 1945. Disamping dasar hukum, terdapat pula dasar pedagogis, psikologis dan sosiologis.

(24)

a. Dasar paedagogis. Dengan memberikan pelayanan pendidikan yang sistematis dan terarah, anak-anak cacat dapat diharapkan menjadi warga negara atau masyarakat yang terampil, mandiri serta bertanggung jawab terhadap kehidupan dan penghidupannya, serta tidak terlalu menggantungkan diri pada orang lain.

b. Dasar Psikologis. Dengan pendidikan yang baik pada mereka dapat dikembangkan kepercayaan pada diri sendiri dan harga dirinya.

Dengan latihan serta pendidikan yang baik, dapat mengatasi kelainannya sehingga kecacatannya tidak dirasakan sebagai beban.

c. Dasar sosiologis. Meskipun cacat, dia akan mampu berkomunikasi dengan lingkungannya, bahkan dapat ikut serta secara aktif dalam masyarakat. Dengan demikian dia memiliki status sebagai warga masyarakat.

Pengembangan PLB bertitik tolak dari pengertian bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, kemampuan dan ketidak mampuan dan bukan seyogyanya memusatkan kepada ketidakmampuannya saja, tetapi justru (sisa) kemampuannya. Meskipun menjadi kenyataan bahwa seseorang dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda-beda. Ketidak mampuan seseorang hendaknya jangan dipandang sebagai sesuatu yang sangat berbeda. Seyogyanya seseorang yang membutuhkan pengajaran luar biasa, dipandang secara utuh dan menyeluruh dalam menilai ketidakmampuan maupun kemampuannya.

(Frieda Mangunsong dkk, 1998: 114)

Pendidikan bagi anak terbelakang mental memerlukan suatu keahlian khusus. Terutama bagi guru-guru yang mengelola proses belajar mengajar. Penyesuaian metode dan program pengajaran tersebut, meliputi:

a. Pelajaran harus bersifat konkrit.

b. Metode mengajar dengan pendekatan individual

c. Review (ulangan) hendaknya dilakukan secara kontinu.

d. Jangan terlalu menuntut syarat-syarat akademik yang tinggi.

e. Kata-kata yang digunakan sederhana dan cepat dipahami.

(25)

f. Jangan memperlihatkan sikap yang menakut-nakuti anak.

Isi pengajaran supaya menarik minat anak.

Adapun strategi penyusunan kurikulum pendidikan bagi anak tunagrahita adalah sebagai berikut:

a. Bagi Anak tungrahita Ringan

1) Pada dasarnya isi kurikulumnya (kuantitatif), sama dengan anak- anak normal. Kecuali kualitatifnya sedikit lebih rendah dari pada anak-anak normal

2) Dapat ditambah dengan berbagai latihan keterampilan b. Bagi Anak tungrahita Menengah

1) Isi kurikulum baik kuantitas maupun kualitasna lebih rendah dari pada anak-anak normal

2) Bobot latihan keterampilan disarankan lebih banyak c. Bagi Anak tungrahita Berat

1) Orientasi isi pengajaran pada lingkungan di dekatnya.

2) Penekanan pada latihan keterampilan, seperti:

a) Latihan gerakan-gerakan tertentu b) Latihan mengenal warna

c) Latihan mengenal bunyi d) Latihan mengurus diri sendiri

e) Latihan membuat mainan dan sebagainya.

3) Tarapi terintegrasi karena umumnya anak tunagrahita berat mengalami ‘multiple disability’ sehingga perlu pelayanan berbagai macam profesional seperti speech therapist, ahli fisioterapi, dan occupational therapist. (Frieda Mangunsong dkk, 1998: 121-123) Proses pembelajaran di Sekolah Luar Biasa yang berlangsung saat ini cenderung bersifat klasikal dan berorientasi kepada kurikulum. Bukan didasarkan pada masalah, kemampuan dan kebutuhan siswa. (Kemis dan Ani Rosnawaati, 2013: 44)

(26)

Dalam hal ini tugas guru sangat penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan visi dan misi pembelajaran berdasarkan KBK, dapat ditentukan tujuan pembelajaran, antara lain sebagai berikut.

a. Agar dapat menghasilkan individu yang mampu melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain melalui kemampuan dirinya dalam menggunakan persepsi, pendengaran, penglihatan, taktil, kinestetik, fine motor, dan gross motor.

b. Agar dapat menghasilkan individu yang mempunyai kematangan diri dan kematangan sosial. Misalnya, dapat berinisiatif, dapat memanfaatkan waktu luangnya, cukup atensi atau menaruh perhatian terhadap lingkungannya, serta bersifat tekun.

c. Menghasilkan individu yang mampu bertanggung jawab secara pribadi dan sosial. Misalnya, dapat berhubungan dengan orang lain, dapat berperan serta, dan dapat melakukan suatu peran tertentu di lingkungan kehidupannya.

d. Agar dapat menghasilkan individu yang mempunyai kematangan untuk melakukan penyesuaian diri dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Misalnya, mampu berkomunikasi dengan orang lain melalui kematangan berbahasa. (Bandi Delphie, 2012: 50)

Pengembangan tujuan pembelajaran prosesnya dapat dilakukan melalui penyelarasan antara materi yang ada dalam kurikulum dengan temuan hasil asesmen. Tetapi posisi hasil asesmen lebih dominan dengan kurikulum karena hasil asesmen merupakan pencerminan kondisi dan kemampuan yang perlihatkan oleh setiap anak.

Oleh karena itu, agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran ada beberapa upaya yang harus dilakukan oleh guru dalam memberikan penguatan terhadap bentuk-bentuk tingkah laku siswa yang dinilai positif atau terhadap jawaban yang dikemukakan dengan benar. Cara memberikan penguatan ini dapat berbentuk kata-kata pujian, gerak anggota tubuh yang menyatakan setuju, senyuman atau bentuk gerakan lain yang dapat menyenangkan siswa. (Kemis dan Ani Rosnawaati, 2013: 86-87)

(27)

Upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar peserta didik anak tunagrahita diantaranya dapat dilakukan melalui memperbaiki proses pembelajaran. Dalam perbaikan proses pembelajaran ini peranan guru sangat penting, yaitu menetapkan metode pembelajaran, fokus perhatian guru adalah upaya membbelajarkan siswa. Sesungguhnya mengajar hendaknya dilakukan dengan metode pembelajaran atau cara yang efektif agar diperoleh hasil yang lebih baik. Oleh karena itu diperlukan kemampuan mengajar yang baik pula dengan menguasai metode pembelajaran selain diperlukan pula sikap mental untuk mau memperbaiki atau meningkatkan kemampuan mengajar.

Guru seharusnya mampu menentukan metode pembelajaran yang dipandang dapat membelajarkan siswa melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan hasil belajar pun diharapkan lebih ditingkatkan. Metode pembelajaran dapat ditentukan oleh guru dengan memperhatikan tujuan dan materi pembelajaran. Pertimbangan pokok dalam menentukan metode pembelajaran terletak pada keefektifan proses pembelajaran. Tentu saja orientasi guru adalah kepada siswa belajar. Jadi metode pembelajaran yang digunakan pada dasarnya hanya berfungsi sebagai bimbingan agar siswa belajar. (Kemis dan Ani Rosnawaati, 2013: 82-83)

Metode pembelajaran hanya dilakukan di dalam kelas tapi juga di luar kelas, tergantung dimana terjadinya proses pembelajaran itu sendiri.

Proses pembelajaran menuntut guru untuk mengembangkan dan merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi. Guru profesional selalu melandaskan pekerjaannya pada landasan konsep dan teori yang jelas.

(Kemis dan Ani Rosnawaati, 2013: 84)

Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran pada anak tunagrahita adalah:

a. Metode ceramah, sebagai cara penyampaian pelajaran melalui penuturan, dan bisa disederhanakan pada anak tunagrahita dengan

(28)

kalimat yang sederhana sesuai dengan kemampuan anak dalam menerima informasi tersebut.

b. Metode simulasi, metode ini sangat disukai oleh anak tungrahita sebab mereka senang menirukan, gunanya adalah untuk memberikan pemahaman suatu konsep dan bagaimana cara pemecahannya. Metode ini dapat dilakukan oleh anak maupun guru untuk memecahkan masalah, misalnya simulasi cara memakai baju, sepatu dll.

c. Metode tanya jawab, adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Dengan metode ini dapat dikembangkan keterampilan mengamati, menginterpretasi, mengklasifikasikan, membuat kesimpulan, menerapkan dan mengkomunikasikan. Kelebihan metode ini lebih mengaktifkan peserta didik, anak akan lebih cepat mengerti, mengetahui perbedaan antara satu anak dengan yang lainnya, dan pertanyaan dapat memusatkan perhatian anak.

d. Metode demonstrasi, adalah untuk memperlihatkan suatu proses cara kerja suatu benda, misalnya bagaimana cara kerja suatu benda, bagaimana cara menghidupkan TV, radio, kompor, bel listrik, penggunaan gunting dan sebagainya. Disini yang lebih aktif adalah guru dan anak agar lebih aktif dibimbing untuk mengikuti apa yang didemonstarikan oleh guru.

e. Metode karyawisata, dengan cara peserta didik dibawa langsung ke lapangan pada obyek yang terdapat di luar kelas atau lingkungan kehidupan nyata, agar mereka dapat mengamati atau mengalami secara langsung. Kelebihan metode ini dapat merangsang kreativitas anak.

f. Metode latihan, atau metode training, yaitu untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga menjadi sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu metode ini dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan. Kelebihan metode ini, dapat memperoleh kecakapan

(29)

motoris, seperti menulis, melafalkan huruf dan sebagainya. (Kemis dan Ani Rosnawaati, 2013: 95-96)

Dari beberapa metode di atas jika dikaitakan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, hampir semua metode dapat diterapkan. Hanya saja, guru harus memilih metode yang sesuai dengan pokok bahasan atau materi yang akan disampaikan. Contoh materi wudhu, guru dapat menerapkan metode demonstrasi dengan cara mengajak peserta didik untuk pergi ke musolah dan praktek wudhu dengan dibimbing oleh guru itu sendiri.

Penilaian dalam pembelajaran untuk anak tunagrahita yaitu untuk mengukur sampai dimana proses pembelajaran, dan sampai dimana peserta didik dalam menguasai indikator pembelajaran. Penilaian atau evaluasi juga sebagai bentuk asesmen dalam menentukan metode atau materi selanjutnya yang akan diberikan pada anak. Jadi evaluasi selain sebagai pengukur penguasaan anak terhadap hasil asesmen sekaligus sebagai asesmen untuk menentukan tindakan guru selanjutnya.

Evaluasi juga alat untuk mencapai tujuan pembelajaran jangka pendek dan jangka panjang. Evaluasi hendaknya untuk mengukur peserta didik yaitu dalam melihat perubahan perilaku pada diri siswa itu sendiri sebelum dan sesudah diberikan perlakuan, dan bukan membandingkan keberhasilan tingkat pencapaian tujuan belajar yang dicapai dengan siswa lain yang ada di kelas itu.

Metode evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, apakah melalui tes secara tertulis, lisan atau bersifat perbuatan yang ditampilkan dan dicatat melalui observasi guru. Evaluasi keberhasilan ini harus dilakukan dari dua sisi yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses dilakukan dan terjadi selama proses pembelajaran berlangsung, sementara evaluasi hasil dilakukaan setelah pemberian materi tuntas diselesaikan. Evaluasi proses penting dalam kaitannya melakukan berbagai perubahan dalam strategi pembelajaran, sementara evaluasi hasil penting

(30)

untuk melihat tingkat pencapaian keberhasilan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. (Kemis dan Ani Rosnawaati, 2013: 103-104)

Referensi

Dokumen terkait

KEMAMPUAN LINUX YANG HANDAL, SEPERTI SISTEM MANAGEMENT MEMORY, TINGKAT SECURITY YANG TINGGI, SISTEM FILING YANG RAPI, DAN KEMUDAHAN PENGGUNAANNYA DITAMBAH DENGAN HARGANYA

Penyebab tidak terealisasinya pekerjaan dalam hal keterlibatan kerja, disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan wawasan staff atau karyawan mengenai regulasi atau

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PERANAN DINAS KEHUTANAN DAN

Jadi dengan kata lain walaupun produk pakaian jadi, baik itu baju atau celana yang di desain dan diproduksi untuk bisa dipakai oleh jenis kelamin pria dan wanita,

Hasil penelitian menunjukan lebih dari separuh contoh kelas akselerasi (88,5%), kelas SBI (73,3%), dan kelas reguler (63,3%) memiliki motivasi intrinsik dalam kategori sedang dan

Dalam penelitian menggunakan desain Pre Eksperimen , untuk mencari perbedaan yang bermakna efektifitas pemberian kompres hangat dan kompres dingin dalam membantu menurunkan

Hasil perhitungan dalam penelitian ini mengenai pengaruh suku bunga konvensional terhadap penghimpunan dana mudharabah, menunjukkan bahwa signifikansi t sebesar

C. 2  x 10  ­6  N  Jawaban : A  Penyelesaian :  F = 2 x 10  ­6  N  30.