Edy Nugraha 0906527465
Program Studi Indonesia. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia Depok 16424, Indonesia
Email: [email protected]
Abstrak
Skripsi ini membahas status sosial dan kekuasaan narapidana di penjara dalam novel Kisah Para Ratib karya Arswendo Atmowiloto. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan sosiologi sastra. Hasil penelitian ini adalah adanya perbedaan status sosial dan kekuasaan narapidana di dalam penjara. Tingkatan status sosial narapidana di dalam novel hampir serupa dengan struktur sosial narapidana di dalam dunia nyata. Dimensi tingkatan status sosial yang berpengaruh terhadap kekuasaan narapidana di dalam penjara adalah dimensi kekuasaan dan kekayaan. Struktur paling atas dalam dimensi kekuasaan ditempati oleh napi kepala kamar/ yang dituakan/ brengos. Selain itu, struktur paling atas dalam dimensi kekayaan ditempati oleh napi kelas bos besar. Jadi, status sosial narapidana yang berkuasa di dalam penjara adalah kepala kamar/ yang dituakan/ brengos dan napi golongan bos besar.
Kata Kunci: Kekuasaan, narapidana, penjara, dan status sosial
Abstract
This study focuses on the social status and the power of prisoners in the novel Kisah Para Ratib (Story about the Prayers) by Arswendo Atmowiloto. This study uses the analityc-descriptive method and the sosiology of literature approach. Based on the characters, characterizations, and settings, this study shows that there are different statuses and powers among the prisoners in the prison. The social stratification in the novel is almost the same with the one in the prisoners real life. The dimensions of the social status which determine the prisoners power are the power and the economic dimension, in which the highest position in the dimensions is occupied by kepala kamar/ brengos and bos besar. As a result, the social status of the prisoners who have the power in the prison are kepala kamar/ yang dituakan/ brengos and bos besar.
Keywords: Power, prisoners, prison, and social status
Pendahuluan
Sastra merupakan seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra,
dalam tulisannya Ars Poetica, mempunyai fungsi ganda. Fungsi ganda tersebut adalah dulce dan utile, menghibur dan bermanfaat bagi pembacanya.
Jakob Sumardjo dan Saini K.M. (1986: 16) dalam buku Apresiasi Kesusastraan mengatakan karya sastra mengandung berbagai pengetahuan di dalamnya, yang sangat lekat
hubungannya dengan kehidupan. Karya sastra memperjelas, memperdalam, dan memperkaya
penghayatan manusia terhadap kehidupan manusia.
Salah satu tema karya sastra yang berbeda dengan kehidupan manusia pada umumnya
yaitu tema tentang kehidupan penjara. Kehidupan penjara berbeda dengan kehidupan manusia
pada umumnya karena biasanya penjara berada di dalam lingkup masyarakat, namun dihuni
oleh orang-orang yang melakukan tindakan kejahatan pidana.
Tema kehidupan penjara di dalam karya sastra biasanya didapatkan dari sastrawan
yang pernah dipenjara. Pernyataan itu sesuai dengan pernyataan Taufik Abdullah (dalam
Mahayana, 2007: 300) yang menyatakan bahwa “suatu karya sastra atau novel dapat
memperlihatkan suatu struktural dari situasi historis tertentu dari lingkungan penciptanya.”
Sastrawan Indonesia yang pernah dipenjara dan membuat karya sastra terkait
kehidupan penjara antara lain Pramoedya Ananta Toer, S. Anantaguna, dan Arswendo
Atmowiloto. Pramoedya Ananta Toer pernah membuat novel tentang kehidupan penjara yang
berjudul Mereka jang Dilumpuhkan (1950), semacam catatan penjara yang tokoh-tokohnya digambarkan dari tahanan-tahanan penjara Bukit Duri (Mohammad, 2006: 240; Koh Young
Hun, 2006: 148). Selain itu, S. Anantaguna juga menghasilkan karya Puisi-puisi dari Penjara pada tahun 1999.
Dibandingkan dengan kedua sastrawan tersebut, sastrawan Indonesia yang
mempunyai karya-karya yang menyinggung kehidupan penjara adalah Arswendo
Atmowiloto. Arswendo Atmowiloto adalah sastrawan yang menghasilkan banyak tulisan, di
antaranya yang berupa esai, drama, cerita pendek, dan novel. Semasa Arswendo berada di
penjara, yaitu tahun 1990—1994, dia menghasilkan novel seperti Oskep (1994), Abal-abal (1994), Sudesi (1994), Auk (1994), Projo dan Brojo (1994). Selain itu, ada satu novel yang diselesaikan ketika dia sudah bebas, yaitu Kisah Para Ratib (1996). Dia juga menghasilkan kumpulan cerita Menghitung Hari (1994).
Kehidupan di dalam penjara memang berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Clemmer dalam bukunya yang berjudul The Prison Community (dalam Cahyadi, 2008: 10—11) menjelaskan bahwa ada empat ciri khas kehidupan penjara, yaitu sebagai berikut.
a. Bahasa yang khusus (Special Vocabulary)
Di mana terdapat sejumlah kata atau istilah “khusus” yang digunakan
b. Stratifikasi sosial (Social Stratification)
Di mana terdapat perbedaan latar belakang kehidupan narapidana dan jenis kejahatan yang dilakukan yang mengakibatkan munculnya stratifikasi sosial.
c. Kelompok Utama (Primary Group)
Di mana terdapat kelompok utama yang anggotanya hanya terditi dari beberapa orang narapidana saja, terutama narapidana muda yang lebih mengutamakan tindak criminal.
d. Kepemimpinan (Leadership)
Di mana terdapat seorang pemimpin dalam sebuah kelompok utama yang berfungsi sebagai mediator dalam hubungan kelompok lain.
Dari empat ciri kehidupan penjara tersebut, yang menarik adalah adanya stratifikasi
sosial. Dengan adanya stratifikasi sosial, berarti ada pertentangan konsep ideal pembinaan
dalam Pasal 5 UU Pemasyarakatan tahun 1995, yaitu melakukan persamaan perlakuan
narapidana di dalam penjara. Dari pandangan Clemmer tersebut, penulis tertarik untuk
membuktikan apakah di dalam karya sastra yang berkisah seputar penjara, kehidupan napi
ditentukan berdasarkan status sosial dan kekuasaannya. Sebagaimana yang dikatakan Damono
(2009: 1) yang mengatakan sastra adalah gambaran kehidupan, dan kehidupan merupakan
realitas sosial, penulis kemudian mencoba membandingkan hal tersebut dengan kenyataan
yang ada di dalam penjara. Dari beberapa karya sastra yang dihasilkan oleh Arswendo ketika
dia berada di penjara, penulis mengambil satu novel karya Arswendo yang paling
merepresentasikan gambaran kehidupan penjara, yaitu Kisah Para Ratib (selanjutnya disingkat KPR).
Penjelasan-penjelasan di atas memunculkan pertanyaan apakah benar kehidupan
penjara ditentukan oleh status sosial narapidana dan kekuasaannya sebelum dan ketika berada
di penjara? Berdasarkan pertanyaan tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimana gambaran kehidupan penjara dalam novel KPR? Bagaimana tingkatan status sosial
narapidana dan kekuasaannya di dalam novel KPR dengan kehidupan penjara yang nyata?
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa kehidupan di dalam
penjara ditentukan oleh kekuasaan dan status sosial narapidana sebelum di penjara dan
ketika berada di penjara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dan
pendekatan sosiologi sastra.
Damono (2008: 4) dalam buku Sosiologi Sastra: Pengantar Ringkas menjelaskan bahwa klasifikasi masalah sosiologi sastra ada tiga, yaitu sosiologi pengarang, sosiologi karya
sastra, dan hubungan antara pembaca dan pengaruh sosial karya sastra. Damono (2008: 12)
bahwa karya sastra merupakan cermin zamannya. Berarti, pendekatan sosiologi sastra sangat
berkaitan dengan teori mimetik. Karya sastra merupakan cermin langsung dari berbagai segi
struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain (Damono, 2008: 13).
Tugas dari sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayali dan
situasi ciptaan pengarang dengan keadaaan sejarah yang merupakan asal-usulnya. Jadi, untuk
menganalisis status sosial dan kekuasaan narapidana di dalam penjara, kita dapat
menggunakan pendekatan sosiologi sastra.
Pada pembahasan, penulis berfokus pada status sosial dan kekuasaan. Pertama,
penulis menganalisis kehidupan seputar penjara dalam novel melalui analisis tokoh,
penokohan, dan latar. Tokoh dan penokohan dianalisis untuk melihat status sosial dan
kekuasaan para tokoh yang terdapat dalam novel. Analisis latar digunakan untuk
mendapatkan gambaran apakah latar menentukan pengaruh kekuasaan para napi.
Setelah mendapatkan gambaran kehidupan penjara melalui novel, penulis
menganalisis struktur sosial narapidana dan kekuasaannya di dalam penjara berdasarkan
novel KPR dengan pendekatan sosiologi sastra. Penulis membandingkan struktur sosial
narapidana dan kekuasaannya di dalam novel KPR dengan kehidupan nyata di penjara.
Analisis Tokoh, Penokohan, dan Latar dalam KPR
Karmo merupakan tokoh utama di dalam KPR. Karmo adalah napi yang menjadi
fokus cerita. Dia hampir berlakuan dengan semua napi yang ada di dalam penjara. Dia adalah
tokoh bulat karena berubah menjadi pribadi yang cemas dan gelisah ketika memutuskan ingin
kabur dari penjara atau tidak. Perubahan status Karmo di dalam penjara dapat dilihat
perbedaan perlakuan dan kekuasaan narapidana di dalam penjara. Pada mulanya dia adalah
seorang napi kasus pembunuhan. Kemudian, dia menjadi seorang pemuka pos kerja yang
mempunyai anak buah dan dia tidak selalu berada di dalam kamar penjara. Karmo juga
menjadi pengawal napi kelas bos besar, Pak Danu. Status Karmo meningkat menjadi napi
kelas brengos, bahkan mencapai brengos asli. Karmo juga pernah menjadi spion. Status sebagai brengos asli membuat Karmo sangat nyaman karena status ini memiliki kekuasaan yang sangat besar. Kekuasaan yang didapat Karmo adalah dia disegani napi lainnya maupun
petugas penjara, mendapatkan uang dari adik-adikan dan bos besar, mendapatkan materi secara terjamin, dan dapat mempengaruhi petugas penjara.
Melalui analisis tokoh dan penokohan Karmo juga dapat diketahui pula tingkatan
sosial narapidana yang terdapat di dalam penjara. Tingkatan sosial tersebut antara lain kepala
tinggi adalah brengos. Setelah itu, Karmo menjadi abal-abal, yang statusnya berada pada tingkatan paling rendah.
Selain itu, terdapat perbedaan karakteristik antara status narapidana di dalam penjara
yang dilihat dari analisis tokoh sampingan di dalam novel KPR. Akiong, Maresi, dan Pak
Danu, yang tergolong napi bos besar, memiliki kekuasaan dapat menempati blok yang
nyaman, dapat menyuruh dan melobi petugas penjara, memberikan pekerjaan dan makanan
kepada napi lain, membuat proyek baru, dapat mengajukan kasasi, memiliki pengawal, serta
memiliki korve. Napi kasus politik adalah napi yang dipenjara karena korban kekuasaan pemerintah Orde Baru. Di dalam penjara, napi golongan ini disegani karena hukumannya
yang seumur hidup. Mereka menempati kamar blok yang rapi dan bersih. Napi mahasiswa
juga sama seperti napi politik, yang merupakan korban kekuasaan pemerintah karena
melakukan aksi subversif. Namun, mereka tidak mempunyai kekuasaan sehingga cenderung
takut dan tidak berdaya di dalam penjara.
Dari pembagian kelompok napi per kasus dapat dilihat bahwa setiap kasus memiliki
pamor dan karakteristik yang berbeda. Tidak semua napi kasus pemerkosaan pernah
melakukan pemerkosaan. Status napi kasus pemerkosaan berdasarkan kasusnya berada dalam
strata paling bawah. Hal tersebut terlihat ketika mereka baru masuk ke dalam penjara,
biasanya mereka disodomi oleh napi lainnya. Namun, jika seorang napi kasus pemerkosaan
memiliki keterampilan seperti Pak Atan dan Firman, mereka dapat naik statusnya.
Napi penodongan pun di dalam penjara termasuk napi golongan bawah sehingga tidak
disegani oleh napi lainnya. Mereka dapat naik status karena kekuasaan napi bos besar. Napi
kasus perampokan mendapatkan dana sokongan dari teman-temannya yang berada di dalam
penjara. Mereka sosok yang cukup disegani. Napi kasus penipuan tidak disegani karena sikap
mereka yang pandai menipu. Napi kelas pembunuh pun mempunyai pamor menyeramkan di
dalam penjara. Namun, jika sikapnya mengganggu, napi kelas pembunuh tidak disegani oleh
napi lainnya.
Analisis latar tempat pun menyiratkan perbedaan perlakuan antara napi satu dengan
napi lainnya. Blok bernomor kecil dihuni oleh napi yang paling tinggi status sosialnya, yaitu
blok para bos. Sementara itu, blok bernomor paling besar dihuni oleh napi yang status
sosialnya paling rendah, yaitu napi kelas abal-abal. Di antara blok tersebut, klasifikasi blok berdasarkan kasus napi.
Latar tempat yang terdapat di luar blok antara lain ruang besukan, perpustakaan,
memiliki kekuasaan. Napi biasa hanya dapat ke luar blok seperti ke lapangan, masjid, dan
gereja jika ada kegiatan.
Tingkatan Status Sosial Narapidana dan Kekuasaannya di dalam Penjara
Hasil perbandingan tingkatan status sosial dan kekuasaan narapidana di dalam novel
KPR dengan kenyataan di dalam penjara menyiratkan bahwa struktur sosial narapidana di
dalam novel hampir menyerupai dengan struktur pada kenyataan. Berikut ini merupakan hasil
perbandingannya.
Tabel Perbandingan Tingkatan Status Sosial dan Kekuasaan Narapidana di dalam KPR dengan Kenyataan di Penjara
Dimensi Dalam KPR Kekuasaan Di dalam Fakta1 Kekuasaan
Kekuasaan Brengos +Mendapatkan
semua materi +Mendapatkan keleluasaan bergerak +Mendapat uang hasil mengawal napi bos besar
+Dapat mempengaruhi
petugas
Kepala Kamar, Yang Dituakan, Kepala Suku Brengos +Disegani +Menjadi pengawal golongan berduit +Mendapatkan uang dengan cara memeras Kepala Proyek (Pemuka), Korve Proyek/Blok, Tenaga Pendamping +Tidak selalu berada di dalam
blok +Materi tercukupi
+Memiliki anak buah +Menempati kamar yang bagus
+Mendapatkan remisi Kepala Proyek, Kepala Kamar (Pemuka) Korve Proyek/Blok, Tenaga Pendamping +Mendapatkan remisi +Memiliki kamar yang bagus +Kamar tidak dikunci +Materi tercukupi Korve Napi dan Abal-abal +Mendapat uang hasil menjadi korve -Dijauhi napi lainnya Korve Napi dan Abal-abal +Mendapat uang hasil menjadi korve -Dijauhi napi lainnya
Kekayaan Bos Besar +Menempati blok
yang nyaman +Dapat menyuruh
dan melobi petugas penjara
+ Dapat
Anak Atas +Menempati
blok yang nyaman +Dapat memasak makanan sendiri 1
memberikan pekerjaan dan makanan kepada napi lain + Membuat proyek baru + Dapat mengajukan kasasi + Memiliki pengawal, serta memiliki korve +Memiliki korve dan pengawal +Dapat mempengaruhi dan menyuruh petugas
Napi Biasa Anak Tengah
Abal-abal/anak hilang -Diintimidasi oleh napi lain -Menempati blok yang buruk -Memakan nasi cadongan
Anak Bawah -Diintimidasi
oleh napi lain -Menempati blok yang buruk
-Memakan nasi cadongan -Membersihkan WC dan selokan
Kehormatan Napi Politik,
Korupsi, dan Pembunuhan +Dihormati dan disegani karena masa hukuman yang lama
Napi Tipikor dan Bandar Narkoba +Dihormati dan disegani karena uang Napi Perampokan Napi Penggelapan dan Narkoba Napi Pemerkosaan, Penipuan, dan Penodongan
-Tidak disegani Napi pembunuhan,
Penipuan, Pencurian -Tidak disegani Pendidikan dan Keterampilan Mahasiswa, Pendidikan Militer, S1,S2,S2, (Profesi Pengusaha, Mahasiswa, Menteri, Jenderal, Militer, Jago Berkelahi) +Dapat menjadi faktor penunjang dalam mendapatkan status sosial di dalam dimensi kekuasaan Profesi Mantan Direktur, Dokter, Pendidik +Dapat menjadi faktor penunjang dalam mendapatkan status sosial di dalam dimensi kekuasaan SMA (Profesi Buruh, Supir, dan profesi yang memiliki keterampilan) Karyawan Kantor, Artis, dan Buruh
Tabel perbandingan di atas menyiratkan bahwa di dalam novel KPR, penggambaran
tingkatan status sosial narapidana dan kekuasaannya di dalam penjara hampir serupa dengan
kenyataan di dalam penjara. Berbagai perbedaan yang ada menegaskan bahwa karya sastra
adalah sebuah kisah fiksi yang tidak sepenuhnya menggambarkan kejadian yang sebenarnya.
Dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa status sosial yang memiliki kekuasaan
sangat besar di dalam penjara adalah kepala kamar/ napi yang dituakan/ brengos dan napi golongan bos besar atau dalam kenyataannya disebut golongan anak atas. Dari kekuasaan
yang didapatkan kedua status sosial tersebut terdapat relasi sosial dengan status lainnya, yaitu
relasi dengan petugas, napi biasa, dan korve napi.
Faktor penyebab terjadi perbedaan status sosial tersebut salah satunya adalah
perbedaan perlakuan petugas penjara terhadap narapidana. Petugas penjara adalah kekuasaan
resmi di dalam penjara. Padahal, jelas dalam ketentuannya, petugas di dalam penjara bertugas
untuk membina napi sesuai dengan prinsip pembinaan yang ada dalam UU Pemasyarakatan
Tahun 1995, yaitu persamaan perlakuan dan pelayanan. Namun, hal tersebut tidak terlihat
antara relasi petugas dengan napi lainnya. Petugas penjara adalah perwujudan dari konsep
pemasyarakatan yang dilaksanakan negara. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa negara
belum menjalankan UU Pemasyarakatan dengan baik karena masih ada pembedaan perlakuan
dan pelayanan narapidana dari status sosial mereka di dalam penjara yang digambarkan dalam
novel KPR.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa kehidupan narapidana di dalam penjara ditentukan
oleh status sosial dan kekuasaannya sebelum dan ketika berada di dalam penjara. Pernyataan
itu adalah pertentangan dari salah satu prinsip pembinaan di dalam penjara menurut Pasal 5
UU Pemasyarakatan tahun 1995, yaitu persamaan perlakuan dan pelayanan. Pertama, hal
tersebut terlihat dari gambaran di dalam novel KPR melalui analisis tokoh, penokohan, dan
latar.
Tokoh Karmo mengalami naik turun status di dalam penjara. Karmo mendapatkan
kekuasaan ketika menjadi seorang pemuka pos kerja, petugas pos kerja taman, pengawal Pak
Danu, dan brengos. Pada akhirnya, Karmo kehilangan kekuasaan ketika berubah menjadi seorang abal-abal. Tokoh bos besar seperti Pak Danu, Akiong, dan Maresi memiliki kekuasaan karena mereka tergolong napi bos besar. Dari pembagian kelompok napi per kasus
berada di tingkat atas adalah napi politik, napi kasus pembunuhan, serta napi kasus yang
terkait dengan kekayaan. Napi yang disegani setelah golongan tersebut adalah napi kasus
perampokan. Sementara itu, napi kasus pemerkosaan, penodongan, dan penipuan menempati
struktur paling bawah karena tidak disegani.
Berdasarkan perbandingan tingkatan status sosial dan kekuasaan narapidana di dalam
novel KPR dan dalam kehidupan yang nyata, dapat dilihat bahwa narapidana yang
mempunyai kekuasaan sangat besar adalah kepala kamar/yang dituakan/ brengos dan golongan bos besar/ anak atas. Padahal, kekuasaan resmi di dalam penjara adalah petugas.
Petugas justru tunduk dengan napi golongan bos besar dan bersaing dengan brengos dalam mendapatkan uang. Hal tersebut tercermin dalam novel KPR juga yang sama dengan
kehidupan penjara yang nyata.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kisah Para Ratib berupaya menggambarkan kehidupan yang ada di dalam penjara. Dari usaha penggambaran kehidupan
penjara yang di dalamnya terdapat perbedaan status antarnarapidana tersebut dapat dimaknai
bahwa hal tersebut adalah sumber permasalahan di dalam penjara. Penjara sebagai lembaga
pemasyarakatan masih tidak memperlakukan napi secara adil. Hal tersebut berarti, negara
belum menjalankan UU Pemasyarakatan dengan baik. Penjara yang berfungsi menjadi tempat
membina narapidana kehilangan esensi pemasyarakatan jika masih ada napi yang hidup
sangat nyaman di dalam penjara. Padahal, napi biasa tidak mendapatkan kenyamanan
tersebut. Seharusnya, petugas penjara adalah salah satu elemen yang bertugas membina
narapidana agar konsep pembinaan dapat terwujud dengan baik.
Sumber Acuan
Buku Teks, Jurnal, Skripsi, dan Tesis
Atmowiloto, Arswendo. 1996. Kisah Para Ratib. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Cahyadi, Dedy. 2008. Strategi Rutan Kelas 1 Jakarta Pusat dalam Menanggulangi Tindak Kekerasan Antartahanan dan Narapidana. Tesis Universitas Indonesia. Tidak Diterbitkan.
Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sosiologi Sastra: Pengantar Ringkas. Ciputat: Editum.
Kartikawati, Reni. 2012. “Stratifikasi Sosial Warga Binaan Wanita di Rutan Pondok Bambu”
Koh Young Hun. 2006. “Citra Penjajahan Jepang di Indonesia yang Terpantul dalam Beberapa Novel Pramoedya” dalam Jurnal Wacana Vol. 8 No. 2 Oktober 2006 Edisi Multikultural Internasional. Depok: Jurnal Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.
Mahayana, Maman S. 2007. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Mohammad, Goenawan. 2008. “Melupakan: Puisi dan Bangsa, Satu Motif dalam Modernisme
Sastra Indonesia Sesudah 1945 dalam Sastra Indonesia Modern” dalam Buku Sastra Indonesia Modern: Sebuah Kritik Postkolonial Edisi Revisi (ed.) Keith Foulcher dan Tony Day. Jakarta: Yayasan Obor dan KITLV.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ramelan, Rahardi. 2008. Cipinang Desa Tertinggal. Jakarta: Penerbit Republika.
Santoso, Mardi. 2007. Stratifikasi Sosial di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Cipinang. Tesis Universitas Indonesia. Tidak Diterbitkan.
Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Sumardjo, Jakob, K.M., Saini. 1991. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Wahyudi, Ibnu, dkk. 2008. Membaca Sastra. Yogyakarta: Indonesia Tera.