• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Sosial dan Kekuasaan Narapidana d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Status Sosial dan Kekuasaan Narapidana d"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Edy Nugraha 0906527465

Program Studi Indonesia. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia Depok 16424, Indonesia

Email: [email protected]

Abstrak

Skripsi ini membahas status sosial dan kekuasaan narapidana di penjara dalam novel Kisah Para Ratib karya Arswendo Atmowiloto. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan sosiologi sastra. Hasil penelitian ini adalah adanya perbedaan status sosial dan kekuasaan narapidana di dalam penjara. Tingkatan status sosial narapidana di dalam novel hampir serupa dengan struktur sosial narapidana di dalam dunia nyata. Dimensi tingkatan status sosial yang berpengaruh terhadap kekuasaan narapidana di dalam penjara adalah dimensi kekuasaan dan kekayaan. Struktur paling atas dalam dimensi kekuasaan ditempati oleh napi kepala kamar/ yang dituakan/ brengos. Selain itu, struktur paling atas dalam dimensi kekayaan ditempati oleh napi kelas bos besar. Jadi, status sosial narapidana yang berkuasa di dalam penjara adalah kepala kamar/ yang dituakan/ brengos dan napi golongan bos besar.

Kata Kunci: Kekuasaan, narapidana, penjara, dan status sosial

Abstract

This study focuses on the social status and the power of prisoners in the novel Kisah Para Ratib (Story about the Prayers) by Arswendo Atmowiloto. This study uses the analityc-descriptive method and the sosiology of literature approach. Based on the characters, characterizations, and settings, this study shows that there are different statuses and powers among the prisoners in the prison. The social stratification in the novel is almost the same with the one in the prisoners real life. The dimensions of the social status which determine the prisoners power are the power and the economic dimension, in which the highest position in the dimensions is occupied by kepala kamar/ brengos and bos besar. As a result, the social status of the prisoners who have the power in the prison are kepala kamar/ yang dituakan/ brengos and bos besar.

Keywords: Power, prisoners, prison, and social status

Pendahuluan

Sastra merupakan seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra,

(2)

dalam tulisannya Ars Poetica, mempunyai fungsi ganda. Fungsi ganda tersebut adalah dulce dan utile, menghibur dan bermanfaat bagi pembacanya.

Jakob Sumardjo dan Saini K.M. (1986: 16) dalam buku Apresiasi Kesusastraan mengatakan karya sastra mengandung berbagai pengetahuan di dalamnya, yang sangat lekat

hubungannya dengan kehidupan. Karya sastra memperjelas, memperdalam, dan memperkaya

penghayatan manusia terhadap kehidupan manusia.

Salah satu tema karya sastra yang berbeda dengan kehidupan manusia pada umumnya

yaitu tema tentang kehidupan penjara. Kehidupan penjara berbeda dengan kehidupan manusia

pada umumnya karena biasanya penjara berada di dalam lingkup masyarakat, namun dihuni

oleh orang-orang yang melakukan tindakan kejahatan pidana.

Tema kehidupan penjara di dalam karya sastra biasanya didapatkan dari sastrawan

yang pernah dipenjara. Pernyataan itu sesuai dengan pernyataan Taufik Abdullah (dalam

Mahayana, 2007: 300) yang menyatakan bahwa “suatu karya sastra atau novel dapat

memperlihatkan suatu struktural dari situasi historis tertentu dari lingkungan penciptanya.”

Sastrawan Indonesia yang pernah dipenjara dan membuat karya sastra terkait

kehidupan penjara antara lain Pramoedya Ananta Toer, S. Anantaguna, dan Arswendo

Atmowiloto. Pramoedya Ananta Toer pernah membuat novel tentang kehidupan penjara yang

berjudul Mereka jang Dilumpuhkan (1950), semacam catatan penjara yang tokoh-tokohnya digambarkan dari tahanan-tahanan penjara Bukit Duri (Mohammad, 2006: 240; Koh Young

Hun, 2006: 148). Selain itu, S. Anantaguna juga menghasilkan karya Puisi-puisi dari Penjara pada tahun 1999.

Dibandingkan dengan kedua sastrawan tersebut, sastrawan Indonesia yang

mempunyai karya-karya yang menyinggung kehidupan penjara adalah Arswendo

Atmowiloto. Arswendo Atmowiloto adalah sastrawan yang menghasilkan banyak tulisan, di

antaranya yang berupa esai, drama, cerita pendek, dan novel. Semasa Arswendo berada di

penjara, yaitu tahun 1990—1994, dia menghasilkan novel seperti Oskep (1994), Abal-abal (1994), Sudesi (1994), Auk (1994), Projo dan Brojo (1994). Selain itu, ada satu novel yang diselesaikan ketika dia sudah bebas, yaitu Kisah Para Ratib (1996). Dia juga menghasilkan kumpulan cerita Menghitung Hari (1994).

Kehidupan di dalam penjara memang berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Clemmer dalam bukunya yang berjudul The Prison Community (dalam Cahyadi, 2008: 10—11) menjelaskan bahwa ada empat ciri khas kehidupan penjara, yaitu sebagai berikut.

a. Bahasa yang khusus (Special Vocabulary)

Di mana terdapat sejumlah kata atau istilah “khusus” yang digunakan

(3)

b. Stratifikasi sosial (Social Stratification)

Di mana terdapat perbedaan latar belakang kehidupan narapidana dan jenis kejahatan yang dilakukan yang mengakibatkan munculnya stratifikasi sosial.

c. Kelompok Utama (Primary Group)

Di mana terdapat kelompok utama yang anggotanya hanya terditi dari beberapa orang narapidana saja, terutama narapidana muda yang lebih mengutamakan tindak criminal.

d. Kepemimpinan (Leadership)

Di mana terdapat seorang pemimpin dalam sebuah kelompok utama yang berfungsi sebagai mediator dalam hubungan kelompok lain.

Dari empat ciri kehidupan penjara tersebut, yang menarik adalah adanya stratifikasi

sosial. Dengan adanya stratifikasi sosial, berarti ada pertentangan konsep ideal pembinaan

dalam Pasal 5 UU Pemasyarakatan tahun 1995, yaitu melakukan persamaan perlakuan

narapidana di dalam penjara. Dari pandangan Clemmer tersebut, penulis tertarik untuk

membuktikan apakah di dalam karya sastra yang berkisah seputar penjara, kehidupan napi

ditentukan berdasarkan status sosial dan kekuasaannya. Sebagaimana yang dikatakan Damono

(2009: 1) yang mengatakan sastra adalah gambaran kehidupan, dan kehidupan merupakan

realitas sosial, penulis kemudian mencoba membandingkan hal tersebut dengan kenyataan

yang ada di dalam penjara. Dari beberapa karya sastra yang dihasilkan oleh Arswendo ketika

dia berada di penjara, penulis mengambil satu novel karya Arswendo yang paling

merepresentasikan gambaran kehidupan penjara, yaitu Kisah Para Ratib (selanjutnya disingkat KPR).

Penjelasan-penjelasan di atas memunculkan pertanyaan apakah benar kehidupan

penjara ditentukan oleh status sosial narapidana dan kekuasaannya sebelum dan ketika berada

di penjara? Berdasarkan pertanyaan tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

bagaimana gambaran kehidupan penjara dalam novel KPR? Bagaimana tingkatan status sosial

narapidana dan kekuasaannya di dalam novel KPR dengan kehidupan penjara yang nyata?

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa kehidupan di dalam

penjara ditentukan oleh kekuasaan dan status sosial narapidana sebelum di penjara dan

ketika berada di penjara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dan

pendekatan sosiologi sastra.

Damono (2008: 4) dalam buku Sosiologi Sastra: Pengantar Ringkas menjelaskan bahwa klasifikasi masalah sosiologi sastra ada tiga, yaitu sosiologi pengarang, sosiologi karya

sastra, dan hubungan antara pembaca dan pengaruh sosial karya sastra. Damono (2008: 12)

(4)

bahwa karya sastra merupakan cermin zamannya. Berarti, pendekatan sosiologi sastra sangat

berkaitan dengan teori mimetik. Karya sastra merupakan cermin langsung dari berbagai segi

struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain (Damono, 2008: 13).

Tugas dari sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayali dan

situasi ciptaan pengarang dengan keadaaan sejarah yang merupakan asal-usulnya. Jadi, untuk

menganalisis status sosial dan kekuasaan narapidana di dalam penjara, kita dapat

menggunakan pendekatan sosiologi sastra.

Pada pembahasan, penulis berfokus pada status sosial dan kekuasaan. Pertama,

penulis menganalisis kehidupan seputar penjara dalam novel melalui analisis tokoh,

penokohan, dan latar. Tokoh dan penokohan dianalisis untuk melihat status sosial dan

kekuasaan para tokoh yang terdapat dalam novel. Analisis latar digunakan untuk

mendapatkan gambaran apakah latar menentukan pengaruh kekuasaan para napi.

Setelah mendapatkan gambaran kehidupan penjara melalui novel, penulis

menganalisis struktur sosial narapidana dan kekuasaannya di dalam penjara berdasarkan

novel KPR dengan pendekatan sosiologi sastra. Penulis membandingkan struktur sosial

narapidana dan kekuasaannya di dalam novel KPR dengan kehidupan nyata di penjara.

Analisis Tokoh, Penokohan, dan Latar dalam KPR

Karmo merupakan tokoh utama di dalam KPR. Karmo adalah napi yang menjadi

fokus cerita. Dia hampir berlakuan dengan semua napi yang ada di dalam penjara. Dia adalah

tokoh bulat karena berubah menjadi pribadi yang cemas dan gelisah ketika memutuskan ingin

kabur dari penjara atau tidak. Perubahan status Karmo di dalam penjara dapat dilihat

perbedaan perlakuan dan kekuasaan narapidana di dalam penjara. Pada mulanya dia adalah

seorang napi kasus pembunuhan. Kemudian, dia menjadi seorang pemuka pos kerja yang

mempunyai anak buah dan dia tidak selalu berada di dalam kamar penjara. Karmo juga

menjadi pengawal napi kelas bos besar, Pak Danu. Status Karmo meningkat menjadi napi

kelas brengos, bahkan mencapai brengos asli. Karmo juga pernah menjadi spion. Status sebagai brengos asli membuat Karmo sangat nyaman karena status ini memiliki kekuasaan yang sangat besar. Kekuasaan yang didapat Karmo adalah dia disegani napi lainnya maupun

petugas penjara, mendapatkan uang dari adik-adikan dan bos besar, mendapatkan materi secara terjamin, dan dapat mempengaruhi petugas penjara.

Melalui analisis tokoh dan penokohan Karmo juga dapat diketahui pula tingkatan

sosial narapidana yang terdapat di dalam penjara. Tingkatan sosial tersebut antara lain kepala

(5)

tinggi adalah brengos. Setelah itu, Karmo menjadi abal-abal, yang statusnya berada pada tingkatan paling rendah.

Selain itu, terdapat perbedaan karakteristik antara status narapidana di dalam penjara

yang dilihat dari analisis tokoh sampingan di dalam novel KPR. Akiong, Maresi, dan Pak

Danu, yang tergolong napi bos besar, memiliki kekuasaan dapat menempati blok yang

nyaman, dapat menyuruh dan melobi petugas penjara, memberikan pekerjaan dan makanan

kepada napi lain, membuat proyek baru, dapat mengajukan kasasi, memiliki pengawal, serta

memiliki korve. Napi kasus politik adalah napi yang dipenjara karena korban kekuasaan pemerintah Orde Baru. Di dalam penjara, napi golongan ini disegani karena hukumannya

yang seumur hidup. Mereka menempati kamar blok yang rapi dan bersih. Napi mahasiswa

juga sama seperti napi politik, yang merupakan korban kekuasaan pemerintah karena

melakukan aksi subversif. Namun, mereka tidak mempunyai kekuasaan sehingga cenderung

takut dan tidak berdaya di dalam penjara.

Dari pembagian kelompok napi per kasus dapat dilihat bahwa setiap kasus memiliki

pamor dan karakteristik yang berbeda. Tidak semua napi kasus pemerkosaan pernah

melakukan pemerkosaan. Status napi kasus pemerkosaan berdasarkan kasusnya berada dalam

strata paling bawah. Hal tersebut terlihat ketika mereka baru masuk ke dalam penjara,

biasanya mereka disodomi oleh napi lainnya. Namun, jika seorang napi kasus pemerkosaan

memiliki keterampilan seperti Pak Atan dan Firman, mereka dapat naik statusnya.

Napi penodongan pun di dalam penjara termasuk napi golongan bawah sehingga tidak

disegani oleh napi lainnya. Mereka dapat naik status karena kekuasaan napi bos besar. Napi

kasus perampokan mendapatkan dana sokongan dari teman-temannya yang berada di dalam

penjara. Mereka sosok yang cukup disegani. Napi kasus penipuan tidak disegani karena sikap

mereka yang pandai menipu. Napi kelas pembunuh pun mempunyai pamor menyeramkan di

dalam penjara. Namun, jika sikapnya mengganggu, napi kelas pembunuh tidak disegani oleh

napi lainnya.

Analisis latar tempat pun menyiratkan perbedaan perlakuan antara napi satu dengan

napi lainnya. Blok bernomor kecil dihuni oleh napi yang paling tinggi status sosialnya, yaitu

blok para bos. Sementara itu, blok bernomor paling besar dihuni oleh napi yang status

sosialnya paling rendah, yaitu napi kelas abal-abal. Di antara blok tersebut, klasifikasi blok berdasarkan kasus napi.

Latar tempat yang terdapat di luar blok antara lain ruang besukan, perpustakaan,

(6)

memiliki kekuasaan. Napi biasa hanya dapat ke luar blok seperti ke lapangan, masjid, dan

gereja jika ada kegiatan.

Tingkatan Status Sosial Narapidana dan Kekuasaannya di dalam Penjara

Hasil perbandingan tingkatan status sosial dan kekuasaan narapidana di dalam novel

KPR dengan kenyataan di dalam penjara menyiratkan bahwa struktur sosial narapidana di

dalam novel hampir menyerupai dengan struktur pada kenyataan. Berikut ini merupakan hasil

perbandingannya.

Tabel Perbandingan Tingkatan Status Sosial dan Kekuasaan Narapidana di dalam KPR dengan Kenyataan di Penjara

Dimensi Dalam KPR Kekuasaan Di dalam Fakta1 Kekuasaan

Kekuasaan Brengos +Mendapatkan

semua materi +Mendapatkan keleluasaan bergerak +Mendapat uang hasil mengawal napi bos besar

+Dapat mempengaruhi

petugas

Kepala Kamar, Yang Dituakan, Kepala Suku Brengos +Disegani +Menjadi pengawal golongan berduit +Mendapatkan uang dengan cara memeras Kepala Proyek (Pemuka), Korve Proyek/Blok, Tenaga Pendamping +Tidak selalu berada di dalam

blok +Materi tercukupi

+Memiliki anak buah +Menempati kamar yang bagus

+Mendapatkan remisi Kepala Proyek, Kepala Kamar (Pemuka) Korve Proyek/Blok, Tenaga Pendamping +Mendapatkan remisi +Memiliki kamar yang bagus +Kamar tidak dikunci +Materi tercukupi Korve Napi dan Abal-abal +Mendapat uang hasil menjadi korve -Dijauhi napi lainnya Korve Napi dan Abal-abal +Mendapat uang hasil menjadi korve -Dijauhi napi lainnya

Kekayaan Bos Besar +Menempati blok

yang nyaman +Dapat menyuruh

dan melobi petugas penjara

+ Dapat

Anak Atas +Menempati

blok yang nyaman +Dapat memasak makanan sendiri 1

(7)

memberikan pekerjaan dan makanan kepada napi lain + Membuat proyek baru + Dapat mengajukan kasasi + Memiliki pengawal, serta memiliki korve +Memiliki korve dan pengawal +Dapat mempengaruhi dan menyuruh petugas

Napi Biasa Anak Tengah

Abal-abal/anak hilang -Diintimidasi oleh napi lain -Menempati blok yang buruk -Memakan nasi cadongan

Anak Bawah -Diintimidasi

oleh napi lain -Menempati blok yang buruk

-Memakan nasi cadongan -Membersihkan WC dan selokan

Kehormatan Napi Politik,

Korupsi, dan Pembunuhan +Dihormati dan disegani karena masa hukuman yang lama

Napi Tipikor dan Bandar Narkoba +Dihormati dan disegani karena uang Napi Perampokan Napi Penggelapan dan Narkoba Napi Pemerkosaan, Penipuan, dan Penodongan

-Tidak disegani Napi pembunuhan,

Penipuan, Pencurian -Tidak disegani Pendidikan dan Keterampilan Mahasiswa, Pendidikan Militer, S1,S2,S2, (Profesi Pengusaha, Mahasiswa, Menteri, Jenderal, Militer, Jago Berkelahi) +Dapat menjadi faktor penunjang dalam mendapatkan status sosial di dalam dimensi kekuasaan Profesi Mantan Direktur, Dokter, Pendidik +Dapat menjadi faktor penunjang dalam mendapatkan status sosial di dalam dimensi kekuasaan SMA (Profesi Buruh, Supir, dan profesi yang memiliki keterampilan) Karyawan Kantor, Artis, dan Buruh

(8)

Tabel perbandingan di atas menyiratkan bahwa di dalam novel KPR, penggambaran

tingkatan status sosial narapidana dan kekuasaannya di dalam penjara hampir serupa dengan

kenyataan di dalam penjara. Berbagai perbedaan yang ada menegaskan bahwa karya sastra

adalah sebuah kisah fiksi yang tidak sepenuhnya menggambarkan kejadian yang sebenarnya.

Dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa status sosial yang memiliki kekuasaan

sangat besar di dalam penjara adalah kepala kamar/ napi yang dituakan/ brengos dan napi golongan bos besar atau dalam kenyataannya disebut golongan anak atas. Dari kekuasaan

yang didapatkan kedua status sosial tersebut terdapat relasi sosial dengan status lainnya, yaitu

relasi dengan petugas, napi biasa, dan korve napi.

Faktor penyebab terjadi perbedaan status sosial tersebut salah satunya adalah

perbedaan perlakuan petugas penjara terhadap narapidana. Petugas penjara adalah kekuasaan

resmi di dalam penjara. Padahal, jelas dalam ketentuannya, petugas di dalam penjara bertugas

untuk membina napi sesuai dengan prinsip pembinaan yang ada dalam UU Pemasyarakatan

Tahun 1995, yaitu persamaan perlakuan dan pelayanan. Namun, hal tersebut tidak terlihat

antara relasi petugas dengan napi lainnya. Petugas penjara adalah perwujudan dari konsep

pemasyarakatan yang dilaksanakan negara. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa negara

belum menjalankan UU Pemasyarakatan dengan baik karena masih ada pembedaan perlakuan

dan pelayanan narapidana dari status sosial mereka di dalam penjara yang digambarkan dalam

novel KPR.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa kehidupan narapidana di dalam penjara ditentukan

oleh status sosial dan kekuasaannya sebelum dan ketika berada di dalam penjara. Pernyataan

itu adalah pertentangan dari salah satu prinsip pembinaan di dalam penjara menurut Pasal 5

UU Pemasyarakatan tahun 1995, yaitu persamaan perlakuan dan pelayanan. Pertama, hal

tersebut terlihat dari gambaran di dalam novel KPR melalui analisis tokoh, penokohan, dan

latar.

Tokoh Karmo mengalami naik turun status di dalam penjara. Karmo mendapatkan

kekuasaan ketika menjadi seorang pemuka pos kerja, petugas pos kerja taman, pengawal Pak

Danu, dan brengos. Pada akhirnya, Karmo kehilangan kekuasaan ketika berubah menjadi seorang abal-abal. Tokoh bos besar seperti Pak Danu, Akiong, dan Maresi memiliki kekuasaan karena mereka tergolong napi bos besar. Dari pembagian kelompok napi per kasus

(9)

berada di tingkat atas adalah napi politik, napi kasus pembunuhan, serta napi kasus yang

terkait dengan kekayaan. Napi yang disegani setelah golongan tersebut adalah napi kasus

perampokan. Sementara itu, napi kasus pemerkosaan, penodongan, dan penipuan menempati

struktur paling bawah karena tidak disegani.

Berdasarkan perbandingan tingkatan status sosial dan kekuasaan narapidana di dalam

novel KPR dan dalam kehidupan yang nyata, dapat dilihat bahwa narapidana yang

mempunyai kekuasaan sangat besar adalah kepala kamar/yang dituakan/ brengos dan golongan bos besar/ anak atas. Padahal, kekuasaan resmi di dalam penjara adalah petugas.

Petugas justru tunduk dengan napi golongan bos besar dan bersaing dengan brengos dalam mendapatkan uang. Hal tersebut tercermin dalam novel KPR juga yang sama dengan

kehidupan penjara yang nyata.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kisah Para Ratib berupaya menggambarkan kehidupan yang ada di dalam penjara. Dari usaha penggambaran kehidupan

penjara yang di dalamnya terdapat perbedaan status antarnarapidana tersebut dapat dimaknai

bahwa hal tersebut adalah sumber permasalahan di dalam penjara. Penjara sebagai lembaga

pemasyarakatan masih tidak memperlakukan napi secara adil. Hal tersebut berarti, negara

belum menjalankan UU Pemasyarakatan dengan baik. Penjara yang berfungsi menjadi tempat

membina narapidana kehilangan esensi pemasyarakatan jika masih ada napi yang hidup

sangat nyaman di dalam penjara. Padahal, napi biasa tidak mendapatkan kenyamanan

tersebut. Seharusnya, petugas penjara adalah salah satu elemen yang bertugas membina

narapidana agar konsep pembinaan dapat terwujud dengan baik.

Sumber Acuan

Buku Teks, Jurnal, Skripsi, dan Tesis

Atmowiloto, Arswendo. 1996. Kisah Para Ratib. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Cahyadi, Dedy. 2008. Strategi Rutan Kelas 1 Jakarta Pusat dalam Menanggulangi Tindak Kekerasan Antartahanan dan Narapidana. Tesis Universitas Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sosiologi Sastra: Pengantar Ringkas. Ciputat: Editum.

Kartikawati, Reni. 2012. “Stratifikasi Sosial Warga Binaan Wanita di Rutan Pondok Bambu”

(10)

Koh Young Hun. 2006. “Citra Penjajahan Jepang di Indonesia yang Terpantul dalam Beberapa Novel Pramoedya” dalam Jurnal Wacana Vol. 8 No. 2 Oktober 2006 Edisi Multikultural Internasional. Depok: Jurnal Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Mahayana, Maman S. 2007. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Mohammad, Goenawan. 2008. “Melupakan: Puisi dan Bangsa, Satu Motif dalam Modernisme

Sastra Indonesia Sesudah 1945 dalam Sastra Indonesia Modern dalam Buku Sastra Indonesia Modern: Sebuah Kritik Postkolonial Edisi Revisi (ed.) Keith Foulcher dan Tony Day. Jakarta: Yayasan Obor dan KITLV.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ramelan, Rahardi. 2008. Cipinang Desa Tertinggal. Jakarta: Penerbit Republika.

Santoso, Mardi. 2007. Stratifikasi Sosial di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Cipinang. Tesis Universitas Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Sumardjo, Jakob, K.M., Saini. 1991. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wahyudi, Ibnu, dkk. 2008. Membaca Sastra. Yogyakarta: Indonesia Tera.

Undang-undang

Gambar

Tabel Perbandingan Tingkatan Status Sosial dan Kekuasaan Narapidana di dalam KPR dengan Kenyataan di Penjara

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 2 tahun 2017 tentang Jasa konstruksi, Wajib Pajak yang menjalankan usaha jasa konstruksi dikenakan Pajak Penghasilan (PPh)

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang ada beberapa kendala yang menjadi faktor penghambat dalam penerapan E-Government

Pagilaranberada pada klasifikasi warna biru dengan nilai fungsi kawasan < Rp 200.000.000.000,- Kawasan agrowisata pagilaranmemiliki nilai fungsi kawasan sebesar

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Adityo (2012) dalam penelitian yang menganalisis hubungan antara CSR, beta, Firm Size, dan Book to market terhadap Return

Manajer Investasi dapat menghitung sendiri Nilai Pasar Wajar dari Efek tersebut dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab berdasarkan metode yang menggunakan asas

Berdasarkan uraian di atas, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model

Pada penelitian ini bisa diambil kesimpulannya yaitu mengenai pengaruh capital intensity terhadap tax aggressiveness dengan profitabilitas sebagai moderasi perusahaan

Sintesis Protein adalah pembentukan protein pada binatang dan tumbuhan, yang memerlukan DNA, mRNA, tRNA, asam amino, ribosom, dan macam-macam enzim.. Semua