• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penegakan hukum di Indonesia (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penegakan hukum di Indonesia (2)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penegakan hukum di Indonesia masih belum berjalan secara tepat sesuai dengan apa yang ingin diwujudkan didalam pancasili sila ke-lima yaitu “keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia”. Ini di buktikan dengan masih belum jelasnya penyelesain kasus-kasus yang merugikan masyarakat Indonesia seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Seperti penyelesaian kasus korupsi Bank Century dan kasus pajak. Penegakan hukum yang dilaksanakan oleh aparat penegak hukum dirasa belum sesuai dengan apa yang telah diatur oleh Undang-undang. Dalam hal ini mahasiswa sebagai kalangan akademis diharapkan mampu mebenahi penegakan hukum di Indonesia.

Mengingat mahasiswa adalah kalangan akademisi sebagai penerus bangsa yang diharapkan mampu melaksanakan tugasnya untuk menyelesaikan masalah-masalah di dalam pemerintahan serta masyarakat, khususnya dalam masalah-masalah pelaksanaan dan penegakkan supremasi hukum.

Penegakan supremasi hukum memiliki keterkaitan erat dengan pelapisan sosial di masyarakat. Lawrence M. Friedman melihat bahwa adanya pelapisan sosial dalam masysrakat memberi pengaruh pada terbentuknya watak hukum yang diskriminatif, baik pada peraturan-peraturan itu sendiri, maupun melalui praktek penegaknya[1].

Dengan melihat pada realita ini, mahasiswa sebagai kalangan intelek-tual yang mampu melakukan kritik transformasi dan mampu melakukan perubahan yang revolusioner, dituntut ikut ber-peran aktif dalam menumbuhkan kesadaran hukum di republik ini sehingga tercipta keseimbangan dalam sistem hukum.

B. Rumusan Masalah

(2)

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan penulisan

Tujuan yang ingin penulis capai dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui dan mengajak mahasiswa dalam menjalankan tugasnya sebagai penerus bangsa untuk menegakan supremasi hukum di indonesia.

2. Manfaat penulisan a. Penulis

Menambah wawasan penulis berkaitan pola perilaku mahasiswa mengenai tanggungjawab mahasiswa dalam penegakkan supremasi hukum di Indonesia b. Institusi

Menambah khasanah perpustakaan khususnya mengenai peran dan tanggungjawab mahasiswa dalam penegakkan supremasi hukum di Indonesia. c. Pembaca

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Masalah Penegakkan Hukum di Indonesia

Secara konseptual, Satjipto Rahardjo merumuskan pengertian penegakan hukum sebagai suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan[2]. Keinginan-keinginan hukum yang dimaksud adalah pikiran-pikiran badan pembentuk undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum itu. Peraturan-peraturan hukum yang di buat oleh lembaga legislatif pada dasarnya bukannya tidak memihak. Oleh karena suatu undang-undang merupakan hasil perjuangan kekuasaan di dalam masyarakat, aa pendapat pihak yang berkuasa juga menentukan bagaimana isi peraturan hukum yang di buat.

Ada lima faktor yag memberikan kontribusi pengaruh pada proses penegakan hokum menurut Soerjono Soekanto[3] :

1. faktor hukum atau peraturan perundang-undangan, 2. faktor aparat penegak hukumnya,

3. faktor sarana dan fasilitas yang mendukung proses penegakan hukum,

4. faktor masyarakat, yakni lingkungan sosial dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan, berhubungan dengan kesadaran dan kepatuhan hukum yang merefleksi dalam perilaku masyarakat,

5. faktor kebudayaan, yani hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Sementara itu menurut Satjipto Rahardjo[4], membedakan tiga unsur utama yang terlibat dalam proses penegakan hukum :

1. unsur pembuat undang-undang, 2. unsur aparat penegak hukum,

3. unsur lingkungan yang meliputi pribadi warga negara dan sosial.

(4)

dengan format yang mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu melalui produk-produk hukum yang dibuat oleh pemerintah. Produk-produk hukum yang dibuat oleh pemerintah diharapkan dapat menjamin tercapainya penegakan hukum secara menyeluruh dan nyata dalam tatanan masyarakat Indonesia. Produk-produk hukum yang di buat oleh pemerintah tersebut tidak akan berarti apa-apa, apabila tdak mampu menjalankan hukum dan tidak dapat diimpelementasikan. (Bambang, 1992:77).

B. Pengertian Supremasi Hukum

Supremasi hukum dari segi istilah mempunyai arti bahwa suatu negara yakni negara hukum yang di dalamnya hukum diperlakukan sebagai penguasa atau panglima. Penempatan hukum dalam posisi supremasi, mengandung pengertian bahwa hubungan antara penguasa dan warga negara serta hak, kewajiban dan tanggungjawab masing-masing haruslah dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab sebagaimana yang telah dituangkan di dalam aturan hukum, baik di dalam aturan hukum tertulis berupa peraturan perundangan maupun hukum yang tidak tertulis.

Menurut Lawrence M. Friedman ada hambatan dalam mewujudkan supremasi hukum yaitu dari sistem hukum, menururnya bahwa sistem hukum dalam arti luas terdiri dari tiga komponen yaitu komponen substansi hukum (legal substance), komponen struktur hukum (legal structure), dan komponen budaya hukum (legal culture). Substansi hukum (legal substance) adalah aturan-aturan dan norma-norma aktual yang dipergunakan oleh lembaga-lembaga, kenyataan, bentuk perilaku dari para pelaku yang diamati di dalam sistem. Struktur hukum (legal structure) merupakan batang tubuh, kerangka, bentuk abadi dari suatu sistem dengan wujud utamanya adalah lembaga-lembaga pembentuk dan penegak hukum berikut sumber daya manusianya. Budaya hukum (legal culture) merupaan gagasan-gagasan, sikap-sikap, keyakinan-keyakinan,

C. Penegakan Hukum Secara Objektif

(5)

hukum materiel mencakup pula pengertian nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Dalam bahasa yang tersendiri, kadang-kadang orang membedakan antara pengertian penegakan hukum dan penegakan keadilan. Penegakan hukum dapat dikaitkan dengan pengertian ‘law enforcement’ dalam arti sempit, sedangkan penegakan hukum dalam arti luas, dalam arti hukum materiel, diistilahkan dengan penegakan keadilan. Dalam bahasa Inggris juga terkadang dibedakan antara konsepsi

‘court of law’ dalam arti pengadilan hukum dan ‘court of justice’ atau pengadilan keadilan. Bahkan, dengan semangat yang sama pula, Mahkamah Agung di Amerika Serikat disebut dengan istilah ‘Supreme Courtof Justice’.

Istilah-istilah itu dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hukum yang harus ditegakkan itu pada intinya bukanlah norma aturan itu sendiri, melainkan nilai-nilai keadilan yang terkandung di dalamnya. Memang ada doktrin yang membedakan antara tugas hakim dalam proses pembuktian dalam perkara pidana dan perdata.

Dalam perkara perdata dikatakan bahwa hakim cukup menemukan kebenaran formil belaka, sedangkan dalam perkara pidana barulah hakim diwajibkan mencari dan menemukan kebenaran materiel yang menyangkut nilai-nilai keadilan yang harus diwujudkan dalam peradilan pidana.

Namun demikian, hakikat tugas hakim itu sendiri memang seharusnya mencari dan menemukan kebenaran materiel untuk mewujudkan keadilan materiel. Kewajiban demikian berlaku, baik dalam bidang pidana maupun di lapangan hukum perdata.

Pengertian kita tentang penegakan hukum sudah seharusnya berisi penegakan keadilan itu sendiri, sehingga istilah penegakan hukum dan penegakan keadilan merupakan dua sisi dari mata uang yang sama.

(6)

Dalam setiap hubungan hukum terkandung di dalamnya dimensi hak dan kewajiban secara paralel dan bersilang. Karena itu, secara akademis, hak asasi manusia mestinya diimbangi dengan kewajiban asasi manusia. Akan tetapi, dalam perkembangan sejarah, issue hak asasi manusia itu sendiri terkait erat dengan persoalan ketidakadilan yang timbul dalam kaitannya dengan persoalan kekuasaan.

Dalam sejarah, kekuasaan yang diorganisasikan ke dalam dan melalui organ-organ negara, seringkali terbukti melahirkan penindasan dan ketidakadilan. Karena itu, sejarah umat manusia mewariskan gagasan perlindungan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia.

Gagasan perlindungan dan penghormatan hak asasi manusia ini bahkan diadopsikan ke dalam pemikiran mengenai pembatasan kekuasaan yang kemudian dikenal dengan aliran konstitusionalisme. Aliran konstitusionalime inilah yang memberi warna modern terhadap ide-ide demokrasi dan nomokrasi (negara hukum) dalam sejarah, sehingga perlindungan konstitusional terhadap hak asasi manusia dianggap sebagai ciri utama yang perlu ada dalam setiap negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) ataupun negara demokrasi yang berdasar atas hukum (constitutional democracy).

Dengan perkataan lain, issue hak asasi manusia itu sebenarnya terkait erat dengan persoalan penegakan hukum dan keadilan itu sendiri. Karena itu, sebenarnya, tidaklah terlalu tepat untuk mengembangkan istilah penegakan hak asasi manusia secara tersendiri.

Secara konsepsional, maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk meniptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup (Soekanto, 1979).

Pokok penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut.

Faktor-faktor tersebut adalah, sebagai berikut:

(7)

2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Kelima faktor tersebut saling berkaitan dengan eratnya, oleh karena merupakan esensi dari penegakan hukum, juga merupakan tolak ukur daripada efektivitas penegakan hukum.

Dengan demikian, maka kelima faktor tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan mengetengahkan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan masyarakat Indonesia.

1. Undang-undang

Undang-undang dalam arti material adalah peraturan tertulis yang berlaku umum dan dibuat oleh Penguasa Pusat maupun Daerah yang sah (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1979).

Mengenai berlakunya undang-undang tersebut, terdapat beberapa asas yang tujuannya adalah agar undang-undang tersebut mempunyai dampak yang positif. Asas-asas tersebut antara lain (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1979):

1) Undang-undang tidak berlaku surut.

2) Undang-undang yng dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi, mempunyai kedudukan yang lebih tinggi pula.

3) Undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang bersifat umum, apabila pembuatnya sama.

4) Undang-undang yang berlaku belakangan, membatalkan undang-undang yan berlaku terdahulu.

5) Undang-undang tidak dapat diganggu guat.

(8)

2. Penegak Hukum

Penegak hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat, yang hendaknya mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu sesuai dengan aspirasi masyarakat.

Mereka harus dapat berkomunikasi dan mendapat pengertian dari golongan sasaran, disamping mampu menjalankan atau membawakan peranan yang dapat diterima oleh mereka.

Ada beberapa halangan yang mungkin dijumpai pada penerapan peranan yang seharusnya dari golngan sasaran atau penegak hukum, Halangan-halangan tersebut, adalah:

a. Keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan pihak lain dengan siapa dia berinteraksi.

b. Tingkat aspirasi yang relatif belum tinggi.

c. Kegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan, sehingga sulit sekali untuk membuat proyeksi.

d. Belum ada kemampuan untuk menunda pemuasan suatu kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan material.

e. Kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan konservatisme.

Halangan-halangan tersebut dapat diatasi dengan membiasakan diri dengan sikap-sikap, sebagai berikut:

1) Sikap yang terbuka terhadap pengalaman maupun penemuan baru.

2) Senantiasa siap untuk menerima perubahan setelah menilai kekurangan yang ada pada saat itu.

3) Peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya.

4) Senantiasa mempunyai informasi yang selengkap mungkin mengenai pendiriannya.

(9)

6) Menyadari akan potensi yang ada dalam dirinya.

7) Berpegang pada suatu perencanaan dan tidak pasrah pada nasib.

8) Percaya pada kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia.

9) Menyadari dan menghormati hak, kewajiban, maupun kehormatan diri sendiri dan ihak lain.

10) Berpegang teguh pada keputusan-keputusan yang diambil atas dasar penalaran dan perhitingan yang mantap.

3. Faktor Sarana atau Fasilitas

Tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu, maka tidak mungkin penegakan hukum akan berjalan dengan lancar. Sarana atau fasilitas tersebut antara lain, mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan trampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup, dan seterusnya.

Sarana atau fasilitas mempunyai peran yang sangat penting dalam penegakan hukum. Tanpa adanya sarana atau fasilitas tersebut, tidak akan mungkin penegak hukum menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peranan yang aktual. Khususnya untuk sarana atau fasilitas tesebut, sebaiknya dianut jalan pikiran, sebagai berikut (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1983): 1) Yang tidak ada-diadakan yang baru betul.

2) Yang rusak atau salah-diperbaiki atau dibetulkan. 3) Yang kurang-ditambah.

4) Yang macet-dilancarkan.

5) Yang mundur atau merosot-dimajukan atau ditingkatkan.

4. Faktor Masyarakat

(10)

Masyarakat Indonesia mempunyai kecendrungan yang besar untuk mengartikan hukum dan bahkan mengidentifikasikannya dengan petugas (dalam hal ini penegak hukum sebagai pribadi). Salah satu akibatnya adalah, bahwabaik buruknya hukum senantiasa dikaitkan dengan pola prilaku penegak hukum tersebut.

5. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan(system) hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (sehingga dianuti) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari). Pasanagn nilai yang berperan dalam hukum, adalah sebagai berikut ( Purbacaraka & Soerjono soekantu):

1) Nilai ketertiban dan nilai ketentraman.

2) Nilai jasmani/kebendaan dan nilai rohani/keakhlakan.

3) Nilai kelanggengan/konservatisme dan nilai kebaruan/inovatisme.

Masalah penegakan hukum (rule of law) di Indonesia merupakan masalah yang kompleks dan multifaktor. Penegakan hukum tentunya bermuara pada tercapainya tujuan-tujuan hukum yang meliputi keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Meskipun ketiga variabel tersebut sering kali saling bertabrakan. Keadilan merupakan hal yang sangat abstrak, hal tersebut disebabkan karena setiap individu memiliki perspektif yang berbeda mengenai keadilan. Terkadang yang kita anggap adil belum tentu adil bagi orang lain, Begitu pula dengan kemanfaatan. Sementara kepastian hukum cenderung lebih statis, variabel ini cenderung kaku karena dibatasi oleh ketentuan yang sudah dilegalisasi secara permanen.

(11)

penemuan hukum pada proses peradilan dikenal adanya yurisprudensi sebagai upaya menguatkan posisi kepastian hukum.

D. Tanggungjawab Mahasiswa Dalam Upaya Penegakan Supremasi Hukum di Indonesia

Mahasiswa merupakan kalangan akademisi yang memberikan harapan kepada masyarakat agar dapat membawa pemerintah dengan baik. Karena dimata masyarakat keadaan pemerintahan sekarang dinggap carut marut seperti penyelesain kasus yang berbelit-belit tanpa ada penyelesain yang jelas.

Dalam kondisi pelaksanaan hukum di Indonesia yang carut marut seperti sekarang, peran dan tanggungjawab sebagai upaya perwujudan tegaknya supremasi, dapat dilakukan dengan :

1. Secara santun tanpa mengurangi esensi dan agenda yang diperjuangkan. 2. Semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi, harus tetap tertanam

dalam jiwa setiap mahasiswa.

Sikap kritis harus tetap ada dalam diri mahasiswa, sebagai agen pengendali untuk mencegah berbagai penyelewengan yang terjadi terhadap perubahan yang telah mereka perjuangkan. Dengan jiwa semangat dan idealismenya diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan apa yang ingin diwujudkan masyarakat secara menyeluruh yaitu dengan cara melakukan perubahan-perubahan atas keadaan yang dianggap tidak adil. Karena sesungguhnya mahasiswa merupakan kalangan akademisi yang harus mengimplementasikan perbutannya demi kemajuan bangsa serta mewakili aspirasi masyarakat.

(12)

memberikan sorotan maupun kritikan-kritikan tajam terkait dengan upaya pemerintah dalam menerapkan sistem hukum di Indonesia.

(13)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian mengenai peran dan tanggungjawab mahasiswa dalam upaya menegakkan supremasi hukum di Indonesia, dapat penulis tarik beberapa kesimpulan, yaitu :

1. Bahwa dalam perwujudan penegakan hukum terdapat beberapa hambatan-hambatan terutama hambatan-hambatan dari system hokum ini sendiri. Diharapkan mahasiswa mampu untuk mengatasi dan memperbaiki dengan menyalurkan aspirasinya dalam pemecahan masalah hambatan tersebut.

2. Mahasiswa sebagai kalangan akademisi harus mengimplementasikan perbutannya untuk memajukan negara ini dan mewakili aspirasi masyarakat karena pada dasarnya ahasiswa menjunjung tinggi kepentingan masyarakat. 3. Dengan rasa tanggungjawab yang dimilikinya berkaitan dengan penurunan

kekuatan hukum, maka gerakan mahasiswa merupakan dasar daripaa upaya untuk kembali menciptakan supremasi hukum di Indonesia.

4. Maslah-masalah dalam mewujudkan penegakan hukum diakukan oleh aparat penegak hukum itu sendiri, baik pembuat undang-undang ataupun alat penegak hukum.

B. Saran

Penulis berharap semoga makalah ini dapat menjadi salah satu bahan untuk dapat menambah pengetahuan dalam hal ini sistem hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Arif Budiman, 1996. Teori Negara-negara Kekuasaan dan Ideologi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Satjipto Rahardjo. 1983. Masalah Penegakan Hukum. Bandung: Sinar Baru

Marpaung, Uden, 1999. Menggapai Tertib Hukum Indonesia. Jakarta : PT. Sinar Grafika.

Muchsin, 1999. Nilai-nilai Hukum dan Implementasinya Dalam Pembangunan Hukum Di Indonesia, Surabaya : Pengukuhan Guru Besar.

Satjipto Rahardjo, 1991. Ilmu Hukum, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

Surbakti, Natangsa, 2010. Filsafat Hukum. Surakarta: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta

1. Satjipto Rahardjo. 1996. Ilmu Hukum. Bandung: Alumni. Hal. 164

2. Satjipto Rahardjo. 1983. Masalah Penegakan Hukum. Bandung: Sinar Baru. Hal. 24

3. Soerjono Soekanto. 1983. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta: Rajawali. Hal: 4,5

4. Satjipto Rahardjo. 1983. Masalah Penegakan Hukum. Bandung: Sinar Baru. Hal. 23,24

5. Lawrence M. Friedman. 1997. Law and Society An Introduction. New Jersey: Prentice Hall Inc. Hal. 6-7

(15)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah... 1

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 3

A. Masalah Penegakkan Hukum di Indonesia... 3

B. Pengertian Supremasi Hukum... 4

C. Penegakan Hukum Secara Objektif... 4

D. Tanggungjawab Mahasiswa Dalam Upaya Penegakan Supremasi Hukum di Indonesia... 11

BAB III PENUTUP... 13

A. Masalah Penegakkan Hukum di Indonesia... 13

B. Pengertian Supremasi Hukum... 13

(16)

DISUSUN

OLEH :

NAMA : SAFRIADI

NIM : 1204010037

UNIT : A.5

M.K. : SISTEM HUKUM INDONESIA

DOSPEN : MUNTASAR, SH., MH

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK (FISIP)

UNIVERSITAS ALMUSLIM

KABUPATEN BIREUEN

(17)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul “Peran Legal Culture dalam Penegakan Hukum” dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.

Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan mengenai upaya mengatasi masalah pendidikan di Indonesia. Penulis menyadari pembuatan makalah ini masih sangat sederhana dan jauh dari sempurna, untuk itu segala kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan tangan terbuka, demi keberhasilan makalah selanjutnya.

Makalah ini dapat terealisasi berkat bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis sangat berterima kasih kepada :

1. Allah SWT, yang memberikan kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan tugas ini.

2. Dosen pembimbing mata kuliah ini yang telah memberikan pengarahan serta bimbingan kepada penulis menyangkut masalah pembuatan makalah ini.

3. Semua pihak yang telah ikut serta membantu kami hingga terselesaikannya makalah ini.

Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya. Demikian atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih.

Matangglumpangdua, Januari 2015

Referensi

Dokumen terkait

Untuk itu isolat bakteri SF01 yang memiliki aktivitas selulolitik yang berasal dari limbah ampas tebu diidentifikasi berdasarkan analisis homologi gen penyandi 16S rRNA..

 Bertanggung jawab mengembangkan hidup sesuai iman akan Allah Tritunggal Produk, Praktik (Penilaian Praktik) 3 x 45’ 3.10 Memahami Allah Tritunggal sebagai

[r]

adalah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertianini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang dimanfaatkan

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah sistem penyimpanan obat program TB yang meliputi syarat gudang, tata ruang gudang, sarana penunjang gudang,

Unit ini menggambarkan kegiatan melakukan pengelasan dengan proses pengelasan busur berperisai yang meliputi persiapan material, menentukan mesin las dan barang-barang

[82] J. We estimated that agroforestry system would provide habitat that is more dynamic than other artificial habitat, such as conventional agriculture or

Pengobatan kencing nanah atau penyakit gonorrhea untuk kasus yang berat biasanya menimbulkan masalah disuria, frekuensi buang air kecil yang tinggi, uretritis,