• Tidak ada hasil yang ditemukan

BEBERAPA NASKAH KUNO MATEMATIKA SUMADRYONO rev FNH valid yuli

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BEBERAPA NASKAH KUNO MATEMATIKA SUMADRYONO rev FNH valid yuli"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Bangsa-bangsa yang menetap di Mesopotamia (sekarang daerah Iraq dan sekitarnya) antara lain Sumeria, Assiria, dan Babilonia. Tetapi yang memiliki pengetahuan matematika yang tinggi adalah Babilonia, terutama masa Nebukadnezar. Tidak kurang dari 50.000 naskah-naskah kuno (kebanyakan di batu) yang tersimpan di Yale, Columbia, dan Paris berasal dari jaman Babilonia. Sebanyak 300-an di antaranya tentang matematika, yang meliputi 200 naskah berisi tabel matematika.

Di Universitas Columbia, terdapat katalog hasil olahan naskah-naskah kuno Mesopotamia oleh G. A. Plimpton yang berisi masalah matematika. Katalog itu bernomor 322 sehingga dikenal sebagai Plimpton 322. Naskah tersebut berisi tabel matematika dari jaman antara 1900 SM hingga 1600 SM.

(2)

Selain Plimpton 322, terdapat pula prasasti yang dikenal dengan naskah Yale (200 SM), yang berisi tabel n3 + n2 untuk menyelesaikan persamaan, termasuk persamaan kubik bahkan persamaan simultan yang menuju ke persamaan kuartik. Juga ada prasasti Susa yang menampilkan perbandingan luas dari segibanyak bersisi 3, 4, 5, 6, dan 7. Dari sini pula kita temukan perbandingan segitujuh beraturan dengan lingkaran, yang menunjukkan bilangan 31/8 sebagai hampiran untuk harga π.

Kebanyakan peninggalan naskah matematika Mesir Kuno berupa papirus. Ada banyak papirus matematika, beberapa yang terpenting berkenaan dengan matematika adalah Papirus Ahmes dan Papirus Moskow.

Ahmes adalah nama penulis sebuah papirus Mesir Kuno yang terkenal. Papirus Ahmes yang berasal dari 1650 SM, juga dikenal dengan nama Papirus Rhind. Alexander Rhind memperolehnya di Mesir tahun 1858 dan disimpan Museum Britis tahun 1865. Papirus ini berisi 85 soal matematika.

Kebanyakan pecahan dari naskah Mesir memiliki pembilang satu, sehingga pecahan yang berbentuk resiprokal,

n

(3)

Fractions). Pecahan-pecahan lain dinyatakan sebagai jumlah pecahan-pecahan berpembilang satu. Pada Papirus Ahmes terdapat tabel bilangan berbentuk

n

2, untuk n = 5 hingga 101.

Diperkirakan penguraian diperoleh dengan menggunakan rumus:

2

Soal-soal Papirus Ahmes menunjukkan pengetahuan bangsa Mesir Kuno akan penggunaan “the rule of three” (Aturan Tiga), yaitu penggunaan perbandingan senilai. Dengan notasi kita, a/b= x/c maka x = a/b. c . Soal-soal Papirus Ahmes juga memuat penggunaan “the rule of false position” (metode posisi salah). Suatu soal menyatakan: Terdapat sekumpulan benda. Jumlah setengah bagian, sepertiga bagian, dan seperempat bagiannya sama dengan 26. Berapa banyak kumpulan benda itu? Soal ini diselesaikan penulis dengan metode posisi salah. Sebut saja dulu banyak benda 12. Tetapi ini berakibat jumlah setengah bagian, sepertiga bagian, dan seperempat bagiannya sama dengan 13. Karena 26 = 2

× 13, maka jumlah benda yang benar adalah 2 × 12 yaitu 24. Papirus Ahmes, terutama pada

soal nomor 56, juga menunjukkan perhatian pada dasar-dasar trigonometri serta teori similaritas segitiga.

Pada kebanyakan papirus, perkalian dilakukan dengan cara penjumlahan kelipatan dua. Metode ini dengan bentuk yang lebih baik kini dikenal sebagai Metode Perkalian Petani Rusia. Contohnya untuk perkalian 70 × 13 dikerjakan seperti di bawah ini. Bilangan kolom

pertama dikali dua, bilangan kolom kedua dibagi dua dengan mengabaikan sisa 1.

70 13 /

dilakukan dengan cara melipatduakan seperti itu.

Bangsa Mesir Kuno, juga mengenal masalah persamaan kuadrat, dan penyelesaiannya menggunakan Metode Posisi Salah. Dari soal-soal geometri pada Ahmes (dan Moskow) disimpulkan bahwa bangsa Mesir Kuno telah mengenal rumus-rumus menentukan luas dan volum, walaupun ada rumus yang kurang tepat. Luas lingkaran mereka nyatakan sebagai kuadrat dari

9

8 kali diameter lingkaran.

(4)

Bangsa Vedic memasuki India sekitar 1500 SM dari daerah yang kini dikenal sebagai Iran. Nama Vedic diambil dari nama kumpulan catatan suci mereka yang dikenal sebagai Vedas yang berasal dari tahun 15 hingga 5 tahun SM. Naskah Sulvasutra merupakan salah satu lampiran Vedas. Sulvasutra ditulis oleh seorang ahli tulis pada jamannya, tetapi kita tak dapat mengetahui siapa penulisnya bahkan kapan penulisnya itu hidup. Kebanyakan naskah-naskah lain menggunakan nama yang sama, yaitu Baudhayana Sulvasutra yang ditulis sekitar 800 SM, Apastamba Sulvasutra yang ditulis sekiar 600 SM, Manava Sulvasutra (750 SM), dan Katyayana Sulvasutra (200 SM). Soal-soal dalam Sulvasutra ada yang tepat dan ada yang hanya pendekatan, tetapi sayang tidak ada bukti yang mereka berikan.

Pada Baudhayana terdapat kasus khusus Teorema Pythagoas: Tali yang dihubungkan sepanjang diagonal sebuah bujursangkar menghasilkan bujursangkar yang luasnya dua kali bujursangkar semula. Sementara dalam Katyayana terdapat ilustrasi yang lebih umum yaitu pada persegipanjang.

Di dalam Sulvasutra banyak digunakan Tripel Pythagoras, seperti: (5, 12, 13), (12, 16, 20), (8, 15, 17), (15, 20, 25), (12, 35, 37), (15, 36, 39), (5/2, 6, 13/2), dan (15/2, 10, 25/2). Di

(5)

Masalah konstruksi lain adalah membuat bujursangkar yang luasnya sama dengan persegipanjang yang diberikan. Berikut ini versi dari Baudhayana. Diberikan persegipanjang ABCD. Tentukan L sehingga AL = AB. Lalu buat bujursangkar ABML. Kemudian tentukan X dan Y yang membagi dua LMCD. Selanjutnya, pindahkan XYCD ke posisi MBQN. Lengkapi bujursangkar AQPX. Masih ada yang perlu dikerjakan, yaitu rotasikan PQ dengan pusat Q hingga memotong di titik R. Nah, buatlah bujursangkar dengan panjang BR, yaitu QEFG. Bujursangkar inilah yang dicari.

Semua Sulvasutra memuat metode membujursangkarkan lingkaran (menentukan bujursangkar yang luasnya sama dengan lingkaran yang diberikan). Tetapi metode Sulvasutra

hanya pendekatan saja, di mana ia membentuk bujursangkar dengan panjang sisi 13/15 kali

diameter lingkaran yang diberikan. Ini memberikan pendekatan π sebesar 3,004444 yang jauh

dari nilai sebenarnya, bahkan lebih tepat pendekatan yang diberikan orang Babilonia. Sebenarnya terdapat berbagai pendekatan nilai π dalam Sulvasutra bahkan dalam tulisan

yang sama. Penulisnya berpikir tentang konstruksi pendekatan, bukan pada penentuan nilai π

yang tepat, sehingga kita mendapatkan berbagai pendekatan nilai π yang berbeda-beda.

Contohnya, dalam Baudhayana Sulvasutra menggunakan nilai 676/225, juga ada 900/289 dan 1156

/361. Sedang pada sulvastra yang lain, terdapat nilai pendekatan 2,99; 3,00; 3,004; 3,029;

3,047; 3,088; 3,1141; 3,16049; dan 3,2022. Dalam Manava sulvasutra terdapat pendekatan

25

/8 = 3,125.

Apastamba maupun Katyayana menyuguhkan pendekatan akar 2, berikut ini:

Tambahkan satuan panjang dengan sepertiganya dan seperempat dari sepertiga tsb lalu dikurangi sepertiga puluh empat dari seperempat tsb. Bila ditulis: 2 = 1 + 1/3 + 1/(3 × 4) – 1/(3

× 4 × 34) = 577/408 = 1,414215686 (untuk 9 tempat desimal). Nilai ini tepat hingga 5 tempat

desimal.

(6)

Dalam sulvasutra, terdapat pula cara membuat lingkaran yang mendekati luas sebuah bujursangkar. Pandang bujursangkar ANCD. Titik O perpotongan diagonal-diagonal bujursangkar. OE sejajar AD dan OE = OD. Buat titik Q di PE sehingga PQ = 1/3 PE. Maka

OQ adalah jari-jari lingkaran yang diminta.

Jiuzhang suanshu (atau Chu Chang Suansu Shu), , juga dikenal dengan terjemahan “Nine Chapter On the Mathematical Art” merupakan buku yang terkenal dan bertahan lama (sekitar 1500 tahun) dalam sejarah matematika Cina. Tak diketahui dengan pasti kapan dan oleh siap buku ini dibuat, tetapi kuat dugaan dibuat pada masa Dinasti Han (abad pertama masehi). Selain itu, ada buku Suan shushu (180 SM), dan Zhoubi suanshu (antara 100 SM hingga 100 M) tetapi yang terkenal dan banyak dikomentari adalah Jiuzhang suanshu.

Banyak pengembangan yang muncul sebagai komentar terhadap buku ini. Termasuk yang pertama adalah komentar dari Xu Yue (kira-kira 160-227 M) namun telah hilang. Komentar yang terkenal dan penting adalah dari Liu Hui (220-280) pada tahun 263. Komentar penting berikutnya oleh Li Chunfeng sekitar tahun 640 ketika mengepalai tim untuk mengumpulkan 10 buku matematika klasik Cina.

Buku ini memuat 246 soal yang dibagi ke dalam 9 bab. Untuk tiap soal terdapat kunci penyelesaiannya, tanpa disertai metode penyelesaian. Soal-soal matematika itu berkaitan dengan kehidupan praktis sehari-hari.

(7)

Berikut ini deskripsi singkat mengenai isi setiap bab dari Jiuzhang suanshu.

•Soal 32 berisi pendekatan

nilai π yang akurat

• Juga ada penggunaan barisan

aritmetika dan barisan geometri

Bab IV(Shao guang) Bab V(Shang gong) Bab VI (Jun shu)

•Berisi 24 soal

•Soal menemukan panjang

sisi bila diketahui luas atau volum (soal 1 hingga 11)

• Kalkulasi tentang barang, pajak,

perjalanan, tenaga kerja, dan berbagai masalah lain

Bab VII (Ying bu zu) Bab VIII (Fang cheng) Bab IX ('Gongu')

•Berisi 20 soal

•Penggunaan metode

posisi salah (method of false position) untuk

• Mendiskusikan Teorema Gougu

(yaitu teorema Pythagoras) dan sifat-sifat segitiga siku-siku • Soal 1 hingga 13 diselesaikan

menggunakan Teorema Pythagoras • Dua soal menggunakan Tripel

Pythagoras dan soal-soal yang lainnya berkaitan dengan penggunaan segitiga-segitiga sebangun

• Terdapat soal mengenai persamaan

(8)

Daftar Pustaka dan Bahan Bacaan

Anglin, W. S. 1994. Mathematics: A Concise History and Philosophy. New York: Springer-Verlag.

Boyer, Carl B. 1968. A History of Mathematics. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Cooke, R. 1997. The History of Mathematics. A Brief Cource. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Dali S. Naga. 1980. Berhitung, Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Gramedia

Eves, Howard. 1964. An Introduction to The History of Mathematics. New York: Holt, Rinehart, & Winston, Inc.

O`Connor, J. J. & Robertson, E. F. 1999. kumpulan esai dalam andrew.ac.uk/history/HistTopic/ & dalam

http://www-history.mcs.st-andrews.ac.uk/history/Mathematics/

Referensi

Dokumen terkait

(a) Ada berapa banyak ruas garis yang panjangnya lebih besar atau sama dengan 10 satuan dengan salah satu titik ujungnya di C dan titik ujung yang lain di titik sudut persegi

lain. Siswa tidak berani maju ke depan kelas karena tidak paham materi. Siswa tidak segera mengerjakan soal latihan yang diberikan guru.. Banyak siswa yang menunggu jawaban dari

28 Apakah di proyek Anda terdapat kerja sama dengan pihak pengumpul sampah yang handal dalam menangani limbah konstruksi. 29 Apakah limbah konstruksi diberikan kepada orang

Kalkulus adalah salah satu cabang dari matematika yang sangat penting  dan  banyak  diterapkan  secara  luas  pada  cabang‐cabang  ilmu  pengetahuan  yang 

(1) Memiliki banyak perbedaan sosial yang dapat memperkuat satu sama lain (2) Terdapat dominasi kelompok sosial tertentu terhadap kelompok lainnya (3) Sulit mencapai

Kini, Pulo banyak mengalami perubahan, antara lain semakin pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan luas wilayah, sedangkan perubahan dari luar salah satunya

Devotes 5 21-11- 2020 Audyregina haii kamu ga sendiri kok banyak orang lain yang ngalamin hal yg sama dan berada diposisi kamu,salah satunya aku hehe.ada berbagai cara kok yg bisa

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,