PENGARUH KEPEMILIKAN TERKONSENTRASI, UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE,CAPITAL INTENSITY DAN INVENTORY INTENSITY TERHADAP
AGRESIVITAS PAJAK DI BURSA EFEK INDONESIA
Meita Fahrani1*, Siti Nurlaela2, Yuli Chomsatu3 Akuntansi, Ekonomi, Universitas Islam Batik Surakarta Jl. KH. Agus Salim No. 10 Surakarta 57147 Telp 0271-714751
*Email: meitafahrani @ yahoo .com Abstract
This study aims to examine the effect of concentrated ownership, firm size, Leverage, Capital Intensity and Inventory Intensity to corporate tax aggressiveness. The independent variables used in this study are concentrated ownership, firm size, Leverage, Capital Intensity and Inventory Intensity. While the dependent variable in this research is tax aggressiveness which is measured using proxy effective tax rate (ETR). Data analysis techniques use multiple linear regression with SPSS program. Population in this research is Mining Company which listed in Indonesia stock exchange year 2014-2016. The results of this research indicate contribution of independent variable of concentrated ownership, firm size, laverage, capital intensity, and inventory intensity to dependent variable of tax aggressiveness equal to 14,7% part from others. And the remaining 84.3% is influenced by other variables not included in this model. The concentrated ownership variable, Leverage and Capital Intensity did not significantly influence the aggressiveness of corporate tax, while firm size and inventory intensity variables significantly influence the aggressiveness of corporate tax.
Keywords: Ownership, Leverage, Capital, Inventory and Tax Aggressiveness
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kepemilikan terkonsentrasi, ukuran perusahaan, Leverage, Capital Intensity dan Inventory Intensity terhadap agresivitas pajak perusahaan. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepemilikan terkonsentrasi , ukuran perusahaan, Leverage, Capital Intensity dan Inventory Intensity. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah agresivitas pajak yang diukur menggunakan proksi
effective tax rates (ETR). Teknik analisa data menggunakan regresi linier berganda dengan program SPSS. Populasi dalam penelitian ini adalah Perusahaan Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2016. Hasil penilitian ini menunjukkan sumbangan pengaruh variabel independen kepemilikan terkonsentrasi, ukuran perusahaan, laverage, capital intensity, dan
inventory intensity terhadap variabel dependen agresivitas pajak sebesar 14,7% bagian dari yang lain. Dan sisanya sebesar 84,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model ini. Variabel kepemilikan terkonsentrasi, Leverage dan Capital Intensity tidak berpengaruh secara signifikan terhadap agresifitas pajak perusahaan, sedangkan variabel ukuran perusahaan dan inventory intensity berpengaruh secara signifikan terhadap agresifitas pajak perusahaan.
Kata kunci : Kepemilikan , Leverage, Capital, Inventory dan Agresivitas Pajak
1. PENDAHULUAN
Tak dapat disangkal Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam, terutama
tambang menjadi primadona dalam perekonomian Indoneisa yang berangsur digeser oleh manufaktur. Perolehan devisa sektor pertambangan masih dominan karena pada 2010 ekspor hasil tambang 63% sedang manfaktur hanya 36,6 %. Sebagai perbandiingan, ekspor manufakur Malaysia 68,7%, Thailand 80,3% dan Vietnam 50,3%. Namun dari tahun ketahun penerimaan negara dari sektor tambang kian menurun, maka untuk mendanai pembangunan saat ini lebih diutamakan ke sektor penerimaan pajak [ CITATION Irw15 \l 1057 ].
Pajak merupakan sumber penerimaan negara terbesar dan sumber penerimaan yang sangat wajar terlebih sumber daya alam yang relatif terbatas yang saat ini tidak bisa diandalkan khususnya minyak bumi. Peranan pajak menjadi sangat besar dan semakin diandalkan untuk kepentingan pembangunan dan pengeluaran pemerintah (Nur dkk, 2016). Sedangkan bagi perusahaan pajak adalah beban yang akan mengurangi laba bersih. Namun dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan kepentingan antara wajib pajak dengan pemerintah.
Menurut [ CITATION Cha13 \l 1057 ] Strategi yang dapat ditempuh untuk mengefisiensikan beban pajak scara legal yaitu : (1) Tax saving,
adalah upaya untuk mengefisiensikan beban pajak melalui pemilihan alternatif pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah. (2) Tax Avoidance, adalah upaya mengefisiensikan beban pajak dengan cara mengindari pengenaan pajak dangan mengarahkanya pada transaksi yang bukan obyek pajak. (3) Penundaan / Penggeseran pembayaran pajak adalah pembayaran kewajiban pajak dapat dilakukan tanpa melanggar peraturan perpajakan yang berlaku. (4) Mengoptimalkan kredit Pajak yang diperkenankan. (5) Menghindari pemeriksaan Pajak dengan cara
menghindari lebih bayar. (6) Menghindari Pelanggaran terhadap peraturan perpajakan. Agresivitas pajak adalah tindakan perencanaan pajak yang lebih agresif.
Agresivitas pajak merupakan suatu hal yang umum terjadi di kalangan perusahaan besar di seluruh dunia meskipun sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Tindakan agresivitas pajak yang dilakukan melalui strategi perencanaan pajak pada umumnya berusaha untuk menghindari sanksi akibat dari penerapan pajak yang melanggar peraturan dan perundang-undangan perpajakan di Indonesia, tetapi perencanaan pajak merupakan penerapan kegiatan-kegiatan perusahaan terhadap peraturan dan perundang-undangan perpajakan yang berlaku untuk mengecilkan beban pajak perusahaan (Sumarsan: 2013: 115). Agresivitas pajak atau perencanaan pajak adalah suatu skema transaksi yang ditujukan untuk meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan kelemahan – kelemahan ketentuan perpajakan suatu negara sehingga ahli pajak menyatakan legal karena tidak melanggar peraturan perpajakan.
PSAK 64 adalah untuk menetapkan pelaporan keuangan atas eksplorasi dan evaluasi pada pertambangan sumber daya mineral, PSAK 64 secara khusus mensyaratkan: (a) pengembangan terbatas atas praktik akuntansi yang ada untuk pengeluaran eksplorasi dan evaluasi; (b) entitas yang mengakui aset eksplorasi dan evaluasi untuk menilai apakah aset tersebut mengalami penurunan nilai sesuai dengan PSAK 64 dan mengukur setiap penurunan nilai sesuai dengan PSAK 48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset; (c) pengungkapan yang mengidentifikasi dan menjelaskan jumlah dalam laporan keuangan yang timbul dari eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral serta membantu pengguna laporan keuangan untuk memahami jumlah, waktu, dan kepastian atas arus kas masa depan dari setiap asset eksplorasi dan evaluasi yang diakui. PSAK 29 : Akuntansi minyak dan gas bumi dan PSAK 33: Akuntansi Pertambangan Umum (untuk pengaturan yang terkait dengan aktivitas eksplorasi dan aktivitas pengembangan dan konstruksi).
Apakah pelaporan laporan keuangan perusahaan sesuai PSAK 64 yang disahkan tahun 2014 tentang pertambangan dalam hal ini penulis menggunakan variabel kepemilikan terkonsentrasi, ukuran perusahaan, leverage, capital intensity dan inventory intensity berpengaruh pada tindakan agresivitas pajak perusahan?
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepemilikan terkonsentrasi, ukuran perusahaan, Leverage, Capital Intensity dan Inventory Intensitity terhadap agresivitas pajak perusahan.
2. LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori
Pengertian pajak menurut Prof. Dr.Soemitro, S.H yang dikutip dari buku Hukum Pajak [ CITATION Dra14 \l 1057 ] menyatakan : pajak adalah iuran kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontrapretasi). Yang langsung dapat ditunjukan dan digunakan untuk memabayar pengeluaran umum.
Agresivitas pajak adalah tindakan yang tidak hanya dari ketidak patuhan wajib pajak terhadap peraturan perpajakan, namun juga berasal dari aktivitas penghematan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku (Rusydi dan Martani 2014). Sedangkan Hanlon dan Heitzman (2010) mendefinisikan agresivitas pajak adalah strategi penghindaran pajak untuk mengurangi atau menghilangkan beban pajak perusahaan dengan menggunakan ketentuan yang diperbolehkan maupun memanfaatkan kelemahan hukum dalam peraturan perpajakan atau melanggar ketentuan dengan menggunakan celah yang ada namun masih di dalam grey area.
melalui rantai kepemilikan. Karena terdapat bentuk kepemilikan tidak langsung, maka rangkaian kepemilikan harus ditelusuri sampai dengan pemilik ultimat dapat diidentifikasi.
Ukuran perusahaan adalah suatu skala, dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain. Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi menjadi 3 kategori yang didasarkan kepada total asset perusahaan yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium firm), dan perusahaan kecil (small firm). Ukuran perusahaan dalam penelitian ini dilihat berdasarkan dari besarnya total asset yang dimiliki perusahaan. Aset menunjukkan aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan. Peningkatan asset yang diikuti peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Dengan meningkatnya kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan, dimungkinkan pihak kreditor tertarik menanamkan dananya ke perusahaan (Weston dan Brigham, 1994, dalam Jaelani dan Idrus, 2001)
Leverage dapat didefinisikan sebagai penggunaan aktiva atau dana dimana untuk penggunaan tersebut, perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap (Riyanto, 1995) dalam [ CITATION Mar13 \l 1057 ].
Capital intensity ratio atau rasio intensitas modal adalah aktivitas investasi yang dilakukan perusahaan yang dikaitkan dengan investasi dalam bentuk aset tetap (intensitas modal) dan persediaan (intensitas persediaan). Rasio intensitas modal dapat menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan
aktivanya untuk menghasilkan penjualan [ CITATION Dan14 \l 1057 ].
Inventory intensity atau bisa disebut juga dengan intensitas persediaan merupakan salah satu komponen penyusun komposisi aktiva yang diukur dengan membandingkan antara total persediaan dengan total aset yang dimiliki perusahaan.
2.2 Pengembangan Hipotesis a. Kepemilikan Terkonsentras
Hipotesis penelitan [ CITATION Had14 \l 1057 ] serta penelitian yang dilakukan pula oleh (Murniati, 2012) menunjukan bahwa struktur kepemilikan berpengaruh signifikan terhadap agresivitas pajak Sehingga dalam penelitian ini dapat dihipotesiskan sebagai berikut, H1: Kepemilikan terkonsentrasi berpengaruh pada agresivitas pajak. b. Ukuran perusahaan
Hipotesis penelitan [ CITATION Irv15 \l 1057 ] dengan hasil penelitian bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat agresivitas pajak. Penelitian serupa dilakukan oleh (Rusydi, 2013) dengan hipotesis ukuran peusahaan berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Sehingga dalam penelitian ini dapat dihipotesiskan sebagai berikut, H2 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap agresivitas pajak.
c. Leverage
Hipotesis penelitian (Tiaras & Wijaya, 2015) menyampaikan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh pada agresivitas pajak serta hipotesis [ CITATION Kri12 \l 1057 ] juga menyatakan bahwa pengaruh yang kuat antara leverage perusahaan terhadap tingkat agresivitas pajak perusahaan, dimana semakin tinggi
leverage maka semakin tinggi
Variabel Independen
(X) Variabel Dependen
(Y)
Kepemilikan Terkonsentrasi(X1)
Agresivitas Pajak (Y) Ukuran Perusahaan (X2)
Leverage (X3)
Capital Intensity (X4)
Inventory intensity (X5)
Sehingga dalam penelitian ini dapat dihipotesiskan sebagai berikut, H3 :
Leverage berpengaruh terhadap praktik agresivitas pajak.
d. Capital intensity
Hipotesis penelitan [ CITATION Let16 \l 1057 ] mengungkapkan hasil penelitian bahwa variabel capital
intensity berpengaruh terhadap
agresivitas pajak perusahaan. Sedangkan penelitian [ CITATION Ida15 \l 1057 ] hipotesis penelitian mengatakan bahwa Capital insensity
berpengaruh dapa agresivitas pajak. Sehingga dalam penelitian ini dapat dihipotesiskan sebagai berikut, H4 :
Capital intensity berpengaruh terhadap agresivitas pajak.
e. Inventory intensity
Hipotesis penelitan [ CITATION Ida15 \l 1057 ] menunjukan bahwa
Inventory intensity (intensitas
persediaan) berpengaruh positif dan signifikan pada tingkat agresivitas pajak. Sehingga dalam penelitian ini dapat dihipotesiskan sebagai berikut, H5 : Inventory intensity berpengaruh terhadap agresivitas pajak.
3. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif yang
dikuantifikasikan yang diolah dengan metode statistika.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2014-2016. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
purposive sampling yaitu tehnik pengambilan sampel dengan pertimbangan/kriteria. Dengan memperhatikan kriteria yang ada maka diperoleh sampel penelitian sebanyak 30 perusahaan. Data keuangan diperoleh melalui laporan keuangan dan laporan tahunan dari perusahaan sampel selama 2014-2016, sehingga dilakukan 90 observasi.
3.3 Variabel Penelitian Kerngka Pemikiran
Variabel Indpenden
Kepemilikan Terkonsentrasi (X1) Pemegang saham insider (KINS) adalah pemegang saham yang dimiliki oleh manajer dan pemegang saham utama atau mayoritas tidak kurang dari lima persen (Yunos 2011)
Ukuran Perusahaan (Size ) (X2)
Variabel ukuran perusahaan diukur dengan logaritma natural (Ln) dari total asset. Hal ini dikarenakan besarnya total asset masing-masing perusahaan berbeda bahkan mempunyai selisih yang besar, sehingga didapat menyebabkan nilai yang ekstrim. Untuk menghindari adanya data yang tidak normal tersebut maka data total asset perlu di Ln kan. Penggunaan total aktiva sebagai alat ukuran perusahaan didasarkan pada penelitian Tiaras dan Wijaya (2015), Husodo (2017) dan Hartadinata (2013).Variabel ukuran perusahaan dapat dinyatakan dengan rumus:
Size = Ln (Total Aset)
Leverage (X3)
perusahaan, dalam penelitian Suyanto dan Supramono (2012) pengukuran Leverage dengan rumus :
Capital Insensity (X4)
Capital Intensity (Intensitas Aset Tetap) menunjukkan proporsi aset tetap di dalam perusahaan dibandingkan dengan total aset yang dimiliki. Intensitas Aset Tetap diperoleh dengan membandingkan total aset tetap dan total asset dalam penelitian Darmadi (2013) Intensitas Aset Tetap dirumuskan dengan rumus :
Inventory Insensity (X5)
Inventory Intensity (Intensitas persediaan) merupakan cerminan dari seberapa besar perusahaan berinvestasi terhadap persediaan yang ada dalam perusahaan. Rasio intensitas persediaan dapat dihitungan dengan cara nilai persediaan yang ada dalam perusahaan dibandingkan dengan total aset perusahaan (Darmadi 2013). Melalui penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa intensitas persediaan dapat diukur dengan cara.
Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Agresivitas pajak (Y). Adapun ukuran yang digunakan dalam pengukuran agresivitas pajak menggunakan Effective Take Rate (ETR ) hal ini mengacu pada penelitian (Lanis dan Richardson 2011) . Effective Take Rate adalah efektivitas pembayaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan, yang digunakan untuk merefleksikan perbedaan antara perhitungan laba buku dengan laba fiskal. Tarif pajak ETR dihitung dengan cara membagi total beban pajak perusahaan dengan laba sebelum pajak penghasilan, jika dirumuskan adalah sebagai berikut :
3.4 Teknik Analisis
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan, uji asumsi klasik, uji model regresi dan uji hipotesis.
Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan uji hipotesis, dilakukan uji normalitas data. Model Regresi yang baik adalah data terdistribusi normal atau mendekati normal, untuk mendeteksi normalitas dapat dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov.
Uji Multikolinearitas ini bertujuan untuk menguji apakah suatu model regresi terdapat korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi autokorelasi. Metode pengujian menggunakan uji Durbin-Watson (DW test). Jika nilai
Tolerance Value ≥ 0,10 dengan nilai VIF ≤ 10 maka dinyatakan tidak terjadi multikolinieritas.
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahaan penganggu pada periode t dengan kesalahan pengangu pada periode t-1 / sebelumnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke satu pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedastisitas (Priyatno, 2009). Pengujian heteroskedastisitas dengan melihat grafik Plot.
Uji Model
berganda dapat diketahui dengan persamaan berikut ini:
Y = a + X1 = Kepemilikan Terkonsentrasi X2 = Ukuran Perusahaan variabel independen yang dimasukan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Uji koefisien determinasi, R menunjukkan korelasi antar dua variabel atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai R antara 0-1, jika nilai mendekati 1 maka hubungan semakin erat dan sebaliknya jika mendekati 0 maka hubungan semakin lemah. Sedangkan Adjusted R square merupakan koefisien determinasi yang diubah dalam bentuk persen dan menunjukkan sumbangan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai Adjusted R square yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu atau 100% berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang menguji normalitas residuals adalah
uji kolmogorov-Smirnov. Hasil
pengujian ini menunjukkan besarnya nilai kolmogorov-Smirnov adalah 0.793 dan nilai Asymptotic Significance sebesar 0.555. Karena signifikansi lebih besar dari 0.05 (0.555>0.05) maka menunjukkan data terdistribusi secara normal. Jadi dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi pada model memenuhi asumsi normalitas.
Tabel.1 Hasil Uji Normalitas
Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat dari besarnya Tolerance Value dan
Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai
Metode pengujian autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson (DW test). Berdasarkan tabel 4.16 uji autokorelasi menunjukkan Durbin Watson
sebesar 2.217. Nilai DW yang berada pada daerah dU < dW< 4- dU dapat disimpulkan model regresi terbebas dari problem autokorelasi dan layak digunakan. Untuk nilai dL dan dU dapat dilihat dari DW Tabel pada signifikansi 0,05 (Ghozali 2011) dengan n= 90 dan k=5. Hasil Pengujian dalam penelitian ini, nilai Durbin Watson harus berada diantara 1.776 (dU) dan 2.224 (4-dU), sehingga dapat disimpulkan model regresi terbebas dari problem autokorelasi. Dan layak digunakan.
Tabel 3 Hasil Uji Autokorelasi
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Berdasarkan gambar 1 uji heteroskedastisitas memperlihatkan grafik-grafik
scatterplot dari variabel dependen yaitu Agresivitas Pajak. Grafik scatterplot tersebut menunjukkan bahwa titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, hal ini berarti model penelitian ini tidak terdapat
heterokedastisitas.
V ar ia b el
Stan dar
Tolera nce
Stand ar
VI F
Keterangan
Kepemilikan Terkonsentra si
Ukuran Perusahaan
Laverage
Capital Intensity
Inventory Intensity
0.10
0.10
0.10
0.10
0.10 .940
.890
.894
.826
.946 10
10
10
10
10
1.0
1.1 24
1.1 19
1.2 11
1.0 58
Bebas Multikoline
aritas Bebas Multikoline
aritas Bebas Multikoline
aritas Bebas Multikoline
aritas Bebas Multikoline
aritas
Nila i DW
dL dU 4- dU 4- dL Keterangan
2.21 7
1.5 42
1.77 6
Gambar 1 Hasil Uji Heteroskedastisitas
4.2 Uji Model
Hasil Uji Model Regresi
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menguji pengaruh beberapa variabel bebas terhadap satu variabel terikat. Pada tabel 4.4 dapat dilihat hasil uji persamaan regresi. Tabel 4. Hasil Uji Regresi Linear Berganda
Dari model analisis regresi ini diperoleh model regresi sebagai berikut: Y = a + b1X1+b2X2+b3X3+b4X4+b5X5 + e
Y =0.678 + 0.002 X1-0.022 X2- 0.048 X3
-0.009X4+1.123X5+ e
Dari persamaan regresi tersebut dapat diinterprestasikan sebagai berikut :
Konstanta sebesar 0,678 bernilai positif, menunjukkan pengaruh positif variabel independen. Bila variabel independen naik atau berpengaruh dalam satu satuan, maka variabel dependen akan naik atau terpenuhi.
Koefisien regresi variabel X1 (kepemilikan terkonsetrasi) bernilai positif yaitu sebesar 0.002. Artinya jika konsentrasi kepemilikan mengalami kenaikan satu satuan, maka agresivitas pajak akan mengalami kenaikan sebesar 0.002 atau 2%. Begitu pula pada saat kepemilikan terkonsentrasi turun, maka agresivitas pajak perusahaan juga akan mengalami penurunan.
Koefisien regresi variabel X2 (ukuran peusahaan) bernilai negatif yaitu sebesar 0.022. Artinya jika ukuran peusahaan mengalami penurunan satu satuan, maka
agresivitas pajak akan mengalami kenaikan sebesar 0.022 atau 2,2%. Begitu pula sebaliknya pada saat ukuran peusahaan naik, maka agresivitas pajak juga akan mengalami penurunan.
Koefisien regresi variabel X3 (Leverage)
bernilai negatif yaitu sebesar 0.048. Artinya jika Leverage mengalami penurunan satu satuan, maka agresivitas pajak akan mengalami kenaikan sebesar 0.048 atau 4,8%. Begitu pula sebaliknya pada saat Leverage naik, maka agresivitas pajak akan mengalami penurunan.
Koefisien regresi variabel X4 (Capital Intensity) bernilai negatif yaitu sebesar 0.009. Artinya jika Capital Intensity mengalami penurunan satu satuan, maka agresivitas pajak akan mengalami kenaikan sebesar 0.009 atau 0,9%. Begitu pula pada saat Capital Intensity naik, maka Agresivitas Pajak juga akan mengalami penurunan.
Koefisien regresi variabel X5 (Inventory
intensity) bernilai positif yaitu sebesar 1.123. Artinya jika Inventory intensity
mengalami kenaikan satu satuan, maka agresivitas pajak akan mengalami peningkatan sebesar 1.123 atau 112.3%. Begitu pula pada saat Inventory intensity, maka agresivitas pajak juga akan mengalami penurunan.
Hasil Uji F (Uji Simultan)
Pengujian secara simultan atau uji F, berdasarkan pada tabel 4.5 menunjukkan nilai F hitung sebesar 4.059 dinyatakan dengan tanda positif maka arah hubungannya adalah positif. Hasil F tabel pada tingkat signifikansi 0,05 dengan df 1 (jumlah variabel-1) = 5, dan df 2 (n-k-1) atau 90-5-1= 84 (n adalah jumlah data dan k adalah jumlah variabel independen), sehingga didapat F tabel sebesar 2.324 (Priyatno 2009). Hasil Uji statistik F dapat diketahui bahwa nilai F hitung > F tabel ( 4.059>2.324). Hal ini menunjukkan bahwa secara simultan atau bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Artinya variabel independen yang terdiri dari variabel kepemilikan terkonsentrasi (X1), ukuran perusahaan (X2), laverage (X3), capital intensity
(X4), dan inventory iintensity (X5) secara
Variabel Koefisien Regresi
(Constant) 0,678
Kepemilikan
Terkonsentrasi 0,002 Ukuran Perusahaan -0,022
Laverage -0,048
bersama-sama berpengaruh terhadap Agresivitas Pajak (Y).
Tabel 5Hasil Uji Simultan (Uji F)
4.3 Hasil Uji Hipotesis Hasil Uji t (Uji Parsial)
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah secara parsial variabel Kepemilikan terkonsentrasi (X1), Ukuran Perusahaan (X2),laverage
(X3), Capital Intensity (X4),
Inventory Intensity (X5) berpengaruh atau tidak terhadap Agresivitas Pajak (Y). Pengujian menggunakan tingkat signifikansi 0,05 dan 2 sisi. T tabel dapat dilihat pada tabel statistik pada signifikansi 0.05/2 = 0.025 dengan derajat kebebasan df = n-k-1 atau 90-5-1 = 84. Sementara itu, hasil yang diperoleh untuk t tabel sebesar 1.989. Berikut adalah hasil pengujian
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Pada uji koefisien determinasi R menunjukkan korelasi antar dua variabel atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai R antara 0-1, jika nilai mendekati 1 maka hubungan semakin erat dan sebaliknya jika mendekati 0 maka hubungan semakin lemah. Sedangkan Adjusted R square merupakan koefisien determinasi yang diubah dalam bentuk persen dan menunjukkan sumbangan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Hasil pengujian koefisien determinasi ditunjukkan pada tabel 4.24 diperoleh nilai R sebesar 0.441. Hal ini berarti korelasi antar
variabel yaitu kepemilikan terkonsentrasi, ukuran perusahaan, laverage, capital intensity, dan
inventory intensity terhadap variabel dependen agresivitas pajak terjadi hubungan yang agak erat, karena nila R sebesar 0,441 agak mendekati 1. Sedangkan untuk nilai Adjusted R square sebesar 0,147 atau 14,7% dan sisanya 84,3%. Hal ini berarti, sumbangan pengaruh variabel independen kepemilikan terkonsentrasi, ukuran perusahaan,
laverage, capital intensity, dan inventory intensity
terhadap variabel dependen agresivitas pajak sebesar 14,7%. Dan sisanya sebesar 84,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model ini.
4.4 Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data di atas, maka pembuktian hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Hasil pengujian pengaruh kepemilikan terkonsentrasi (X1) nilai t hitung sebesar 0,009. Nilai t hitung < t tabel ( 0,009<1.989) dan signifikansi > 0.05 (0.993>0.05), sehingga Ho diterima atau H1 ditolak, yaitu variabel kepemilikan terkonsentrasi (X1) tidak berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Dengan demikian maka kepemilikan terkonsentrasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap aresivitas pajak. Hal ini berarti Perbedaan besar kecilnya konsetntrasi kepemilikan tidak menentukan agresivitas pajak terhadap manajemen perusahaan. Kepemilikan saham dikatakan terkonsentrasi jika sebagian besar saham dimiliki oleh sebagian kecil individu atau kelompok, sehingga pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang relatif dominan dibandingkan dengan lainnya, para pemegang saham cenderung mempercayakan pada manajerial untuk mengelola perusahaan agar profit perusahaan maksimal, intenal perusahaan
10
F Hitung F Tabel Sig. Standar Keterangan
4.059 2.324 0.002 0.05 Berpengaruh
Model R Adjusted R
pasti lebih mengetahui kinerja perusahaan dari pada pemegang saham sehingga tindakan agresivitas pajak yang dilakukan oleh manajerial perusahaan sepenuhnya dilakukan oleh internal perusahaan. Para pemegang saham mayoritas tidak mempengaruhi tindakan internal perusahan dalam agresivitas pajak selama profit yang didapat para pemegang saham akan terus meningkat. Para pemegang saham yang mempercayakan menanam modal pada perusahaan pasti percaya bahwa manajerial dapat mengelola dan menjalankan perusahaan seperti yang diharapkan investor.
2. Pengaruh Ukuran perusahaan terhadap Agresifitas Pajak
Hasil pengujian pengaruh ukuran perusahaan (X2) nilai t hitung sebesar . Nilai t hitung > t tabel (-3.153>-1.993) dan signifikansi < 0.05 (0.009<0.05), sehingga Ho diterima atau H2 ditolak , yaitu variabel ukuran perusahaan (X2) sehingga ukuran perusahaan berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini dilihat berdasarkan dari besarnya total asset yang dimiliki perusahaan. Aset menunjukkan aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan. Peningkatan asset yang diikuti peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Dengan meningkatnya kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Sehingga semakin besar ukuran perusahaan akan semakin meningkatkan agresivitas pajak perusahaan.
3. Pengaruh Leverage terhadap Agresivitas Pajak
Hasil pengujian pengaruh laverage (X3) nilai t hitung sebesar -0.365. Nilai -t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel (-1.989≤-0,365≤1.989) dan signifikansi > 0.05 (0.716>0.05), sehingga Ho diterima atau Hipotesis 3 ditolak, yaitu variabel laverage
(X3) tidak berpengaruh terhadap agresivitas pajak.
Hal ini dikarenakan, dengan tingkat rasio
leverage yang besar, perusahaan akan
memanfaatkan beban bunga untuk mengurangi laba kena pajak yang akan berimplikasi menurunkan beban pajak. Hal ini diduga menjadi penyebab leverage
tidak berpengaruh terhadap manajemen pajak. Leverage merupakan alat untuk mengukur seberapa besar perusahaan bergantung pada kreditur dalam membiayai aset perusahaan. Perusahaan yang mempunyai tingkat leverage tinggi berarti sangat bergantung pada pinjaman luar untuk membiayai asetnya. Sedangkan perusahaan yang mempunyai tingkat leverage rendah, berarti perusahaan tersebut lebih banyak membiayai asetnya dengan modal sendiri. Leverage dihitung dari total hutang jangka panjang dibagi dengan total aset yang tujuannya adalah menggambarkan struktur modal perusahaan dan menangkap keputusan pembiayaan perusahaan. Dalam hal ini dapat dirujuk bahwa beban bunga dapat dikurangkan untuk tujuan pemungutan pajak, sementara dividen tidak. Oleh karena itu leverage tidak berpengaruh dalam agresivitas pajak yang dilakukan perusahaan.
4. Pengaruh Capital insensity terhadap Agresifitas Pajak
meningkatkan operasional perusahaan dan meningkatkan laba bersih lebih tinggi dibandingkan beban depresiasi yang dibebankan pada aset tetap. Tidak adanya pengaruh dari Intensitas Aset Tetap pada tingkat Agresivitas Wajib Pajak Badan diakibatkan oleh perusahaan dengan tingkat Intensitas Aset Tetap yang tinggi memang menggunakan aset tetap tersebut untuk kepentingan perusahaan. Perusahaan bukan sengaja menyimpan proporsi aset yang besar untuk menghindari pajak melainkan perusahaan memang menggunakan aset tetap tersebut untuk tujuan operasional perusahaan. Sehingga proporsi aset tetap yang tinggi tidak akan memengaruhi tingkat agresivitas yang akan dilakukan perusahaan.
5. Pengaruh Inventory Intensity terhadap Agresivitas Pajak
Hasil pengujian pengaruh variabel
inventory intensity (X5) sebesar 3.219. Nilai t hitung > t tabel (3,219>1.989) dan signifikansi <0.05 ( 0.002<0.05), sehingga Ho ditolak atau Hipotesis 5 diterima yaitu variabel inventory intensity (X5) berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Intensitas Persediaan berpengaruh positif pada tingkat agresivitas pajak perusahaan. Artinya intensitas persediaan yang tinggi akan meningkatkan laba bersih perusahaan karena biaya-biaya yang terkandung dalam persediaan mampu diefisienkan. Perusahaan akan meningkatkan persediaan akhir guna mengurangi intensitas persediaan dan meningkatkan biaya-biaya yang terkandung di dalam perusahaan untuk mengurangi laba bersih dan berkurangnya beban pajak. Pengaruh positif antara Intensitas Persediaan dan Agresivitas Wajib Pajak Badan terjadi karena semakin tingginya perputaran persediaan maka akan semakin efisien perusahaan dalam mengelola persediaan. Semakin baik perusahaan mengelola persediaan maka akan semakin efisien perusahaan dalam mengelola biaya-biaya yang ditimbulkan akibat tingginya persediaan. Biaya-biaya yang dimaksud
adalah biaya bahan, biaya upah, atau biaya tenaga kerja, biaya penyimpanan dan biaya administrasi dan umum serta biaya penjualan. Perusahaan dengan tingkat Intensitas Persediaan yang tinggi akan semakin agresif terhadap pajak karena perusahaan akan mengalokasikan laba periode berjalan ke periode mendatang sehingga beban pajak yang dibayarkan akan semakin berkurang. Hasil yang sama ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh (Adisamartha dan Noviari 2015) dimana intensitas persediaan berpengaruh positif pada tingkat penghindaran pajak..
5. KESIMPULAN
Hasil Pengujian secara parsial menunjukkan variabel kepemilikan terkonsentrasi (X1), Leverage (X3), Capital intensity (X4) tidak berpengaruh terhadap agresivitas pajak perusahaan (Y), hal ini dikarenakan kepemilikan terkonsentrasi pemegagang saham terbesar cenderung percaya kepada internal perusahaan untuk menjalannya perusahaan sebaik mungkin untuk memperoleh profit maksimal bagi perusahaan, sedangka tingkat Leverage yang besar pada perusahaan akan memanfatkan beban bunga untuk mengurangi laba kena pajak yang akan berimplikasi menurunkan beban pajak dan Capital intensity tidak berpengaruh pada agresivitas pajak artinya perusahaan dengan tingkat aset tetap tinggi tidak mampu memanfaatkan beban depresiasi untuk mengurangi laba bersih. Sedangkan pada variabel ukuran perusahaan (X2) dan
Inventory intensity (X5) menunjukan hasil berpengaruh terhadap agresifitas pajak, ukuran perusahaan dalam penelitian ini dilihat berdasarkan dari besarnya total asset yang dimiliki perusahaan termasuk didalamnya intensitas persediaan ( Inventory intensity )
Dengan meningkatnya kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Sehingga semakin besar ukuran perusahaan dan bberdampak pula pada meningkatnya Inventory Intensity akan semakin meningkatkan agresivitas pajak perusahaa.
DAFTAR PUSTAKA
Adisamartha, dkk (2015) “Pengaruh Likuiditas , Leverage, Intensitas Persediaan, Intensitas Aset Tetap Pada tingkat Agresivitas Wajib Pajak Badan.” E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.13.3, 973-1000. Agoes, dkk (2014) Akuntansi Pajak. Jakarta:
Salemba empat, 2014.
Arikunto, Suharsimi (2013) “ Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.” Jakarta: Rineka Cipta.
Fahriani, Melinda (2016) “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Tindakan Pajak Agresive pada Perusahan Manufaktur.”
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 7.
Ghozali, Imam (2011)Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19.
Semarang: Badan Pnerbit Universitas Diponegoro.
Hadi, Junilla, dan Yenni Mangoting (2014) “Pengaruh Struktur Kepemilikan dan Karakteristik Dewan terhadap Agresivitas Pajak.” TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL 4, NO 2 .
Hanlon, Heitzman (2010) “A Review of Tax Research.” Journal of Accounting and Economics, : 127-128.
Hartadinata, Okta S (2013) “Pengaruh Kepemilikan manajerial , Kebijakan hutang , dan Ukuran perusahaan pada perusahaan agresivitas pajak terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2008-2010.” Jurnal Ekonomi dan Bisnis Tahun XXIII, No. 3. Haruman, Tendi (2008) “Pengaruh Struktur
Kepemilikan terhadap Keputusan
Pendanaan.” National Conference on Management Research ISBN: 979-442-242-8.
http://www.idx.co.id. Diakses tanggal 22 Maret 2017
Jumingan (2005) Analisis Laporan Keuangan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Kartika, dkk (2015). “Analisa Kepemilikan Terkonsnetrasi Dan Asimetri Informasi.”
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 6 No3, 341-511.
Lanis, Richardson (2011). “Corporate social responsibility and tax aggressiveness:An empirical analysis.” J. Account. Public Policy.
Mahanani, Hendra, Nurlaela (2017).“Pengaruh Karakteristik Perusahaan, Sales Growth dan CSR terhadap Tax Avoidance.” Seminar Nasional IENACO - 2017 ISSN: 2337 – 4349.
Melawati, Nurlaela, S., & Wahyuningsih, E. M. (2016). Pengaruh Goodd Corporate Governance, Corporate Social Responsibility dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Perusahaan. Jurnal Akuntansi Seminar Nasional IENACO ISSN:2337-4349, 846.
Nur, Nurlaela (2016). “Faktor Faktor yang Mempengahuhi Kemauan Membayar Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan pekerjaan Bebas .” Seminar Nasional
IENACO 2016 ISSN: 2337-4349.
Nurlaela, Mursito dkk (2017). “Effect Of Understanding, Knowledge Andtax Amnestytopay Tax Compliance Withindividualparliament Regional in Indonesia .” Account and Financial Management Journal ISSN: 2456-3374.
Nurlaela, Siti (2014)Hukum Pajak. Surakarta: Uniba Press.
Pohan, Chairil Anwar (2013). Manajemen Perpajakan . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Priyatno, Duwi (2009) Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta: CV Andi Offset. Rusydi, M. Khoiru (2013) “Pengaruh Ukuran
Perusahaan terhadap Aggresive Tax Avoidance Di Indonesia.” Jurnal Akuntansi Multiparadigma,: 165-329.
Sari, dkk (2016) “Pengaruh Konservatisme Akuntansi, Kualitas Audit, Ukuran Perusahaan Terhadap Penghindaran Pajak.”
Syariah Paper Accounting FEB UMS ISSN: 2460-0784.
Siregar, Baldric (2007) “Pengaruh Pemisahan Hakk aliran Kas dan Hak kontrol terhadap Dividen.” Simposium Nasional Akuntansi X. Sugiyono (2010) Statistika untuk Penelitian.
Bandung: Alfabeta.
Sumarsan, Thomas (2013)Perpajakan Indonesia Edisi 3 . Jakarta: PT Indeks Permata Puri Media.
Suyanto, Supramono (2012). “Likuiditas, Laverage, Komisaris Independen, dan Manajemen Laba terhadap Agresivitas Pajak Perusahaan.” Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol.16, No.2 ,: 167–177.
Tiaras, Wijaya (2015). “Pengaruh Likuiditas, Laverage, Manajemen Laba, Komisaris Independen dan ukuran perusahaan terhadap Agresivitas Pajak.” Jurnal Akuntansi/Volume XIX, No. 03: 380-397.
Utthavi, Wayan Hesadijaya (2015 ). “Kepemilikan Terkonsentrasi dan Tax Avoidance.” Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan Vol 11. No 3 ISSN: 0216-9843.
Wisanggeni, Irwan (2015) Pajak di Beragam Sektor Usahan. Jakarta: PT Indeks.
Yoehana, Maretta (2013) “Analisis Pengaruh Corporate Social Responsibity terhadap Agresivitas Pajak (Studi Empiris pada Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2010-2011).” Skripsi.