PEMBELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF DENGAN MENERAPKAN MODEL CONTEXTUAL TECHING AND LEARNING
(CTL)
Dosen : Drs. Slamet Priyanto, M. Pd
Makalah ini dibuat sebagai tugas akhir mata kuliah Strategi Pembelajaran Disusun oleh :
Ahmad Qodiran 2016006096 Kelas : PTM 2 C
Hp / Wa : 083827065650
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini disusun
guna memenuhi tugas mata kuliah Strategi Pembelajaran. Penulis mencoba memberikan suatu pemahaman yang berguna untuk pembaca. Serta mengembangkan minat untuk mempelajarinya.
Penulis berharap, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi mahasiswa/i
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa khususnya semester 2. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka dari itu penulis mohon maaf apabila
ada kesalahan dan kekurangan dalam pembuatan makalah ini.
Yogyakarta, 8 Juni 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
A. PENDAHULUAN...1
B. KOMPETENSI MATA PELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF...5
C. PEMBELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF...9
D. PEMBELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF DENGAN MODEL CONTEXTUAL TECHING and LEARNING (CTL)...12
1) Konstruktivisme...15
2) Inkuiri...16
3) Bertanya (Questioning)...16
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)...16
5) Pemodelan (Modeling)...17
6) Refleksi (Reflection)...17
7) Penilaian Nyata (Authentic Assessment)...18
E. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF DENGAN MODEL CONTEXTUAL TECHING and LEARNING (CTL)...19
F. KESIMPULAN...22
G. DAFTAR PUSTAKA...23
A. PENDAHULUAN
Pendidikan umumnya berarti daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelect) dan tubuh anak; dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu, supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya (Dewantara, 2013: 14).
Sejalan dengan pengertian pendidikan tersebut diatas, dijelaskan pula dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Sebagaimana yang telah diterangkan menurut UU No. 20 Tahun 2003, Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Peran pendidikan di suatu negara amat sangat begitu penting, karena dengan adanya pendidikan negara akan mencapai kemakmuran dan kedamaiannya.
Berdasarkan definisi pendidikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang berupa tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak dengan tujuan untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh anak, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
serta dapat mengembangkan keahlian dan keterampilannya. Struktur kurikulum pendidikan kejuruan dalam hal ini diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, dalam menyelenggarakan pendidikan di Indonesia terdapat standar nasional yang harus dipenuhi sebagai syarat kelulusan peserta didik dan akreditasi penyelenggaraan pendidikan. Sebagaimana dijelaskan dalam PP No. 13 tahun 2015 bahwa standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional Indonesia diperlukan kualifikasi kemampuan lulusan yang dituangkan dalam standar kompetensi lulusan. Berdasarkan Permendikbud No. 20 tahun 2016 dijelaskan bahwasannya Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam menyelenggarakan pendidikan dibutuhkan pula kurikulum yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sebagaimana disebutkan dalam PP No. 13 tahun 2015 yang dimaksud dengan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
satu mata pelajaran di sekolah menengah kejuruan yang harus ditempuh di kelas X. Kompetensi dasar atau kemampuan yang harus diperoleh siswa setelah menempuh mata pelajaran teknik listrik dasar otomotif yaitu siswa mampu memahami dasar listrik dengan cara mengamati mengenai komponen kelistrikan. Selanjutnya siswa mampu menerapkan hal yang telah dipelajari melalui pembelajaran dalam kehidupannya sehari-hari. Setelah mampu menerapkan kemudian siswa mampu menerangkan hasil belajarnya kepada orang lain, dan yang terakhir siswa mampu menggunakan alat-alat dan komponen-komponen yang berkaitan dengan kelistrikan sesuai dengan tata cara yang telah dipelajari. Selain daripada itu siswa juga diharapkan mampu menunjukan sikap disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan langkah-langkah kerja sesuai dengan standar kerja / SOP.
B. KOMPETENSI MATA PELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF
Kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik setelah ia mengikuti pembelajaran, merupakan kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Sebagaimana dijelaskan dalam PP No. 13 tahun 2015 bahwa Kompetensi adalah seperangkat sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh Peserta Didik setelah mempelajari suatu muatan pembelajaran, menamatkan suatu program, atau menyelesaikan satuan pendidikan tertentu.
Untuk mewujudkan kompetensi tersebut diatas, terdapat capaian yang harus dikuasai sebagaimana tertera dalam Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 tentang kerangka kualifikasi nasional Indonesia bahwa kualifikasi adalah penguasaan capaian pembelajaran yang menyatakan kedudukannya dalam KKNI. Sedangkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) menurut Peraturan Presiden tersebut adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyaratkan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor.
Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Sesuai dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang SKL bahwa Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SKL-SP SMK) dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni: Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK bertujuan: Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Adapun Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) SMK sesuai dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 adalah sebagai berikut:
1. Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2. Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya.
3. Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya.
5. Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup globa.
6. Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
7. Menunjukan kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan.
8. Menunjukan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
9. Menunjukan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
10. Menunjukan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks. 11. Menunjukan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial
12. Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab
13. Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
14. Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya. 15. Mengapresiasi karya seni dan budaya.
16. Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
17. Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan
18. Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun.
19. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
20. Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain. 21. Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis
dan estetis.
22. Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Standar Kompetensi mata pelajaran teknik listrik dasar otomotif merupakan kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah menempuh mata pelajaran tersebut. Kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik yaitu siswa mampu memahami dasar listrik dengan cara mengamati mengenai komponen kelistrikan. Selanjutnya siswa mampu menerapkan hal yang telah dipelajari melalui pembelajaran dalam kehidupannya sehari-hari. Setelah mampu menerapkan kemudian siswa mampu menerangkan hasil belajarnya kepada orang lain, dan yang terakhir siswa mampu menggunakan alat-alat dan komponen-komponen yang berkaitan dengan kelistrikan sesuai dengan tata cara yang telah dipelajari. Selain daripada itu siswa juga diharapkan mampu menunjukan sikap disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan langkah-langkah kerja sesuai dengan standar kerja / SOP.
C. PEMBELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF
Agar peserta didik memiliki kompetensi seperti diuraikan diatas, maka guru harus merencanakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Dalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan, harus sesuai dengan pelajaran yang akan diajarkan.
Teknik listrik dasar otomotif merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah menengah kejuruan khususnya jurusan teknik kendaraan ringan yang ditempuh di kelas X. Pembelajaran teknik listrik dasar otomotif bisa dilakukan dengan cara teori terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan praktik.
komponen yang utama yang digunakan untuk menghidupkan kendaraan pada saat kendaraan mulai distarter. Sumber listrik pada kendaraan adalah alternator kemudian dilanjutkan untuk mengisi batrai (accu) lalu disebarkan ke setiap komponen yang memerlukan aliran listrik.
Banyak pengertian yang mengemukakan mengenai pengertian pembelajaran yang satu sama lain memiliki kesamaan disamping ada pula perbedaan sesuai dengan sudut pandangnya. Menurut Majid (2013: 5) pembelajaran adalah suatu konsep dari dua dimensi kegiatan (belajar dan mengajar) yang harus direncanakan dan diaktualisasikan, serta diarahkan pada pencapaian tujuan atau penguasaan sejumlah kompetensi dan indikatornya sebagai gambaran hasil belajar. Kemudian dijelaskan pula oleh Rusman (2016: 1) pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Sejalan dengan UU SPN No. 20 tahun 2003 Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dari beberapa pengertian pembelajaran tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwasannya pembelajaran merupakan suatu konsep kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dengan interaksi pendidik dan peserta didik serta mempunyai suatu tujuan sebagai gambaran hasil belajar dan menjadikan lingkungan belajar sebagai sumber belajarnya.
merupakan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran teknik listrik dasar otomotif yaitu agar siswa mampu mencapai kompetensi yang telah ditentukan sehingga siswa mampu memahami materi tentang listrik dasar dan mampu menerapkan pada kehidupannya sehari-hari. Dalam berlangsungnya suatu pembelajaran di SMK, harus sesuai dengan proses pembelajaran agar dapat tercapainya tujuan yang telah ditentukan.
Sebagaimana dijelaskan dalam Permendiknas No. 41 tahun 2007 tentang standar proses. Standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian dijelaskan pula dalam Permendikbud No. 22 tahun 2016 bahwa Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan.
Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
D. PEMBELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF DENGAN MODEL CONTEXTUAL TECHING and LEARNING (CTL)
Pembelajaran teknik listrik dasar otomotif merupakan mata pelajaran yang dilakukan tidak hanya menggunakan teori, melainkan harus lebih dominan ke praktik. Hal ini bertujuan agar siswa secara langsung melihat dan mampu mempraktikannya, kemudian dapat mengaplikasikan pada kehidupan sehari-harinya.
Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan stategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari menurut (Elaine B. Johnson dalam Suyadi, 2013: 81).
Abdul (2013: 228) berpendapat bahwa, strategi pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotifasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari suatu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya.
dan menemukan sendiri materi pelajaran tersebut (Elaine B. Johnson dalam Suyadi 2013: 82). Siswa tidak hanya menerima dan mendengarkan materi teknik lisrik dasar otomotif dari guru, melainkan menemukan sendiri materi yang harus dipelajari berdasarkan pengalaman yang dimiliki tentang kelistrikan dasar.
Kedua, CTL mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara
materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata. Artinya, peserta didik dituntut
dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan
nyata. Hal ini penting ditekankan, karena dengan mengorelasikan antara materi pelajaran
dengan kehidupan nyata, peserta didik akan merekam keterkaitan tersebut sehingga
tertanam erat dalam memori peserta didik. Dalam pembelajaran teknik listrik dasar
otomotif siswa diharapkan mengetahui bahwasannya pelajaran teknik listrik dasar otomotif yang ia pelajari di sekolah ada hubungannya dalam kehidupannya sehari-hari.
Ketiga, CTL mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Artinya CTL bukan hanya mengharapkan peserta didik dapat memahami yang
dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, materi pelajaran yang diperoleh
melalui CTL di dalam kelas bukan untuk dihafal, melainkan dipahami, dipraktikkan dan
dibiasakan. Dengan kata lain, CTL menyeting kelas menjadi miniatur lingkungan
mini, dimana di dalamnya terjadi dialog antara teori dan praktik, atau identitas dan realitas. Setelah memelajari tentang teknik listrik dasar otomotif siswa diharapkan sigap ketika menemukan masalah yang berkaitan dengan kelistrikan. Selain itu siswa juga
mempunyai inspirasi untuk membuat atau merubah komponen-komponen kelistrikan
untuk perbaikan dan melakukan uji coba.
Sehubungan dengan hal tersebut, menurut (Hamruni dalam Suyadi 2013: 82),
terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan
1. Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). Artinya, sesuatu yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh peserta didik adalah pengetahuan yang utuh dan memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran yang kontekstual adalah pembelajaran yang dapat menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru tersebut diperoleh secara deduktif. Artinya, pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan secara detail.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge). Artinya, pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, tetapi untuk dipahami, dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari, dipraktikkan dan dibiasakan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman (applying knowledge). Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tampak ada perubahan pada perilaku peserta didik.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik (feedback) untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
caranya sendiri sehingga kemampuan untuk mengingat mata pelajaran pun akan lebih baik. Setelah melakukan dan memahami pembelajaran siswa akan mampu mengaplikasikan pada kehidupannya sehari-hari yang berkaitan dengan mata pelajaran tersebut.
Wina (2006: 264-269) mengemukakan bahwa CTL sebagai suatu strategi memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses strategi CTL. Seringkali asas ini disebut juga komponen-komponen CTL. Selanjutnya ketujuh asas ini secara garis besar dijelaskan sebagai berikut:
1) Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi dari dalam diri seseorang. melalui CTL pada dasarnya mendorong agar sisiwa bisa mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Maka penerapan asas konstruktivisme dalam CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.
2) Inkuiri
kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian, siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Jika masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai rumusan masalah yang diajukan.
3) Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
hasil sharing dengan orang lain, antar teman, dan antar kelompok. Yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Inilah hakikat dari masyarakat belajar, masyarakat yang saling membagi.
5) Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan mempergunakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan mesin las oksi asetilin, dengan demikian guru dapat dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam CTL, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.
6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Dalam proses CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
Dalam CTL, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebap itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti hasil tes, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata. Penilaian nyata (authentich assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, dan apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
Ditinjau dari pembahasan mengenai metode contextual teching and learning (CTL) diatas dapat dipahami bahwa metode tersebut mampu digunakan dalam pembelajaran teknik listrik dasar otomotif. Karena dalam metode tersebut terdapat beberapa langkah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik akan lebih aktif dan lebih cepat dalam memahami mata pelajaran. Manfaat daripada itu, peserta didik juga akan mampu mengeplikasikan mata pelajaran yang telah ia pelajari dalam kehidupan sehari-harinya, terkhusus dalam bidang yang berkaitan dengan kelisrikan.
E. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF DENGAN MODEL CONTEXTUAL TECHING and LEARNING (CTL)
mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan
cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkontruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan barunya
b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik.
c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
d. Ciptakan masyaraka belajar (belajar dalam kelompok)
e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
f. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
g. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
Dengan demikian metode CTL tidak bergantung pada keadaan, pelajaran maupun tempat belajar siswa, karena sebgaimana keterangan diatas CTL mampu diterapkan pada bidang apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Dalam pembelajaran teknik listrik dasar otomotif, siswa dapat melakukan pembelajaran di kelas maupun di bengkel dengan syarat tersediannya materi tentang pelajaran tersebut.
Langkah-langkah CTL dalam pembelajaran teknik listrik dasar otomotif adalah sebagai berikut:
menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri mata pelajaran yang sedang dipelajarinya.
2. Menerapkan kegiatan inkuiri (menemukan) dalam pembelajaran teknik listrik dasar otomotif sehingga siswa aktif dan mampu menemukan materi yang sekiranya perlu ia pelajari.
3. Mengembangkan rasa penasaran siswa sehingga dalam pembelajaran teknik listrik dasar otomotif seakan-akan siswa ingin bertanya-tanya tentang materi yang dipelajarinya.
4. Dalam pembelajaran teknik listrik dasar otomotif, perlu diadakan belajar kelompok dengan tujuan agar siswa mampu bekerja sama antara satu dengan yang lainnya, dan mampu memecahkan suatu masalah mengenai peajaran yang sedang dipelajarinya.
5. Pembelajaran teknik listrik dasar otomotif perlu menghadirkan alat atau peraga agar siswa mampu mengetahui sesuatu yang real atau asli yang berkaitan dengan apa yang dipelajarinya.
6. Setelah melakukan pembelajaran teknik listrik dasar otomotif, siswa diberi kesempatan untuk merefleksikan dari semua hal yang telah dipelajarinya, dengan cara mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri.
F. KESIMPULAN
Berdasarkan materi yang telah dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia berujuan untuk mengembangkan kemampuan masyarakatnya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.. Setiap mata pelajaran dalam pendidikan Indonesia mempunyai kompentensi atau kemampuan yang harus didapat setelah seorang murid mengikuti pembelajaran. Untuk mencapai kompetensi tersebut ada beberapa hal yang perlu ditempuh oleh setiap guru, guna mendapatkan hasil belajar yang sesuai.
G. DAFTAR PUSTAKA
Dewantara, Hadjar. 2013. Pendidikan. Yogyakarta : UST-press
Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Rusman. 2016. Model-model Pembelajaran Mengembangkan
Profesionalisme guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran Mengembangkan
Profesionalisme guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Samho, Bartolomeus. 2013. Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
Yogyakarta : Kanisius Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Kencana
H. LAMPIRAN
SILABUS MATA PELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF
(DASAR BIDANG KEAHLIAN TEKNOLOGI DAN REKAYASA)
Satuan Pendidikan : SMK / MAK
Kelas : X
Kompetensi Inti
KI-1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI-2. Menghayati dan Mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI-3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah.
Kompetensi Dasar MateriPokok Pembelajaran Penilaian hidup dan sumber daya alam sebagai anugrah Tuhan yang maha Esa harus dijaga keletarian dan kelangsungan
hidupnya.
1.2. Pengembang an dan penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar harus selaras dan tidak merusak dan mencemari
lingkungan, alam dan manusia
2.1 Menunjukkan sikap cermat dan teliti dalam mengidentifikasi peralatan listrik dan elektronika
2.2 Menunjukkan sikap cermat dan teliti dalam memahami dan membaca alat ukur listrik dan
elektronika sesuai SOP
2.3 Menunjukkan sikap disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan langkah-langkah kerja sesuai standar kerja / SOP
Kompetensi Dasar MateriPokok Pembelajaran Penilaian