• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sholeh Avivi Abdus Salam dan Erfan Rosad

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sholeh Avivi Abdus Salam dan Erfan Rosad"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

EFEK PUPUK ORGANIK DAN INORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN KADAR GULA TIGA VARIETAS JAGUNG MANIS

(Effect of Organics and Inorganic Fertilizer on Production and Sugar Content of Three Varieties Sweet Corn)

Sholeh Avivi1), Abdus Salam2), Erfan Rosadi3)

ABSTRACT

This experiment was aimed (1) to study the effect of inorganic and two organic fertilizers, (2) to investigate the productivity of three sweet corns and its total sugar content after application of those fertilizers. The experiment was arranged by randomized completely block design with two factors and replicated three times. The first factor was kind of fertilizer (P1=inorganic fertilizer, P2=manure, and P3=artificial organic fertilizer). The second factor was varieties of sweet corn (V1=IPB-1, V2=Selection Darmaga-II, and V3=Sugar 74). The result of experiment showed that kind of fertilizer significantly influenced plant height, diameter of stalk, ear number per plant, ear with husk weight, ear without husk weight, length of ear without husk, number of row of ear, and sugar content. While the second factor variety of sweet corn just significantly influenced on plant height and sugar content. Interaction between kind of fertilizer and variety of sweet corn affected significantly on plant height and weight of ear without husk. The best treatment was interaction between V2 and P1. This treatment was better than V3P3 on several parameters. Higher 135.6 cm (120,2%) on plant height, higher 191,9 gr (176,2%) on ear with husk weight, higher 5.9 cm (44,4%) on length of ear without husk, and higher 4.9 brix (75,4%) on sugar content.

Key words: organic fertilizers, sugar content, sweet corn

PENDAHULUAN

Di Indonesia, jagung manis mula–mula dikenal dalam kemasan kaleng impor. Sekitar tahun

1980-an, tanaman jagung manis baru ditanam secara komersial meskipun areal pertanamannya sempit.

Tujuan penanaman jagung manis di Indonesia terutama untuk produksi tongkol segar. Produksi jagung

manis per hektar lebih rendah 44% dibandingkan dengan jagung biasa, tetapi dengan harga jual yang

cukup tinggi, maka total keuntungan yang diperoleh dari pengusahaan jagung manis perhektar dapat

mencapai 335% lebih tinggi dari pengusahaan jagung biasa (Koswara, 2000).

Endosperma pada jagung manis mengandung karbohidrat yang terdiri dari monosakarida

(Fruktosa, Glukosa, Sukrosa), polisakarida dan pati. Dibandingkan dengan jagung biasa kadar gula

pada jagung manis lebih tinggi berkisar 5-6% sedangkan pada jagung biasa hanya berkisar 2-3%

(Salisbury dan Ross 1995). Kadar gula tertinggi pada jagung manis dapat dicapai pada stadia masak

susu (20–24 hari sesudah munculnya bunga jantan).

Menurut Zinselmeier (1999) dan Koswara (2000) adanya kadar gula yang lebih tinggi pada

jagung manis karena adanya gen su-1 (sugary), bt-2 (brittle) ataupun sh-2 (shrunken). Adanya gen ini

dapat menghambat perubahan gula menjadi pati.

1)Staf Pengajar Fakultas Pertanian, Universitas Jember, Jl. Kalimantan, Jember 68121, e-mail: [email protected] 2)

(3)

Akhir-akhir ini permintaan terhadap jagung manis terus meningkat seiring dengan munculnya

swalayan-swalayan yang senantiasa membutuhkan jagung manis dalam jumlah yang besar. Selain

untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri jagung manis (Zea mays saccharata sturt) juga merupakan

salah satu komoditi eksport. Berdasarkan data Biro Pusat statistik eksport jagung manis Indonesia pada

tahun 1989 sebesar 2.154800 kg dan pada tahun 1990 sebesar 3.094417 kg. Adanya permintaan pasar

yang semakin meningkat dan harga yang semakin tinggi ditunjang oleh iklim yang mendukung serta

tenaga kerja yang memadai merupakan peluang untuk mengembangkannya.

Untuk meningkatkan hasil jagung biasa maupun jagung manis dapat dicapai dengan beberapa

usaha, antara lain dengan cara pemupukan. Pemupukan pada dasarnya bertujuan untuk memelihara

atau memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan zat hara pada tanah yang langsung atau tidak

langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman (Hattab, 1976). Penggunaan pupuk

yang tepat dosis perlu diteliti karena beberapa alasan, diantaranya: (a) salah satu faktor yang

membatasi produksi tanaman adalah unsur hara, dan (b) pupuk dapat digunakan untuk mencapai

keseimbangan hara bagi keperluan pertumbuhan tanaman, sehingga dapat dicapai produksi yang

maksimal (Setyamidjaja, 1986).

Dalam bercocok tanam, pemeliharaan tanah merupakan satu hal yang perlu diperhatikan.

Karena tanah yang dipakai secara terus menerus untuk menanam tanpa dilakukan pemeliharaan akan

berkurang kesuburannya. Sehubungan dengan hal diatas maka perlu dilakukan pemeliharaan tanah

yang salah satunya dengan mengusahakan agar didalam tanah akan tetap terkandung bahan–bahan

organis. Salah satunya adalah dengan menggunakan pupuk organik. Pupuk organik mempunyai fungsi

penting yaitu untuk menggemburkan lapisan tanah permukaan (top soil), meningkatkan populasi jasad

renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, yang keseluruhannya dapat meningkatkan

kesuburan tanah pula (Sutejo dan Kartasapoetra, 1990).

Klasifikasi pupuk dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu (1) atas dasar pembentukannya yang

terdiri dari pupuk alam/pupuk organik (pupuk kandang, pupuk hijau, kompos dan guano) dan pupuk

buatan (urea, TSP, DAP dan lain–lain), (2) atas dasar kandungan unsur hara terdiri dari pupuk tunggal

dan pupuk majemuk (Hakim, 1986) dan (3) atas dasar reaksi kimia terdiri dari pupuk masam (ZA,

Urea), pupuk netral (kapur, amonium, sendawa campur CaCO3)dan pupuk basa (NaNO3) (Sutejo dan

Kartasapoetra, 1990).

Pupuk yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pupuk kandang dan pupuk lengkap. Pupuk

kandang dapat menambah unsur hara ke dalam tanah, memperbaiki struktur tanah dan mendorong

kehidupan jasad renik tanah (Purnomo, 1991).

Tanah pertanian di Indonesia, khususnya di Jember memiliki tingkat kesuburan yang rendah

apabila akan ditanami jagung baik jagung biasa ataupun jagung manis. Salah satu usaha untuk

meningkatkan kesuburannya, yaitu dengan penambahan pupuk organik agar pertumbuhan dan

(4)

akan menjadi tidak ekonomis karena biaya yang dibutuhkan terlalu mahal, sehingga perlu dicari pupuk

organik yang tepat.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang varietas jagung manis

yang mempunyai hasil paling tinggi dan kadar gula total paling tinggi serta perbedaan antara jenis

pupuk organik dan pupuk inorganik terhadap produktivitas tanaman jagung.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di lahan Laboratorium Dasar–Dasar Agronomi Jurusan Budidaya

Pertanian Fakultas pertanian Universitas Jember. Penelitian dimulai dari tanggal 4 Mei 2003 sampai

dengan tanggal 13 Juli 2003.

Bahan yang digunakan adalah benih jagung manis yang terdiri dari tiga varietas (Varietas

IPB-1(JM IPB-1), Varietas Seleksi Darmaga II (JM SD-II), Varietas Sugar 74, pupuk urea, SP-36,

KCl, Pupuk kandang, dan Pupuk organik cair buatan merk tertentu.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik, Hand Refraktometer,

jangka sorong, meteran.

Percobaan didisain menggunakan Rancangan acak kelompok (RAK) Faktorial dengan

menggunakan 2 (dua) faktor yang diulang sebanyak 3 (tiga) kali. Faktor jenis pupuk (P) yang terdiri

dari 3 taraf yaitu: P1=Pupuk an Organik; P2=Pupuk Kandang; P3=Pupuk Organik Buatan. Sedangkan

Faktor varietas (V) juga terdiri dari 3 taraf yaitu: V1=Varietas IPB-1 (JM IPB -1); V2=Varietas

Seleksi Darmaga II (JM SD- II); V3=Varietas Sugar 74.

Pemupukan dilakukan tiga kali untuk pemupukan an organik dengan dosis 200 kg ha-1 Urea,

100 kg ha-1 SP-36 dan 100 kg ha-1 KCl, yaitu pada saat tanam, setelah berumur tiga minggu dan

sesudah pembungaan. Pemupukan pertama menggunakan 1/3 bagian urea, 1 bagian SP-36 dan 1

bagian KCl. Pemupukan kedua hanya menggunakan 1/3 urea dan dilakukan pada saat jagung berumur

tiga minggu. Pemupukan terakhir pada umur tujuh minggu atau sesudah pembungaan menggunakan

1/3 sisa urea.

Untuk pemupukan dengan menggunakan pupuk organik buatan merk tertentu dilakukan

dengan cara disemprot sebanyak dua kali dalam seminggu dengan dosis 1 L ha-1 (sesuai dosis anjuran

dalam label). Sedang untuk penggunaan pupuk kandang dilakukan dengan dosis 10000 kg ha-1

dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah (pupuk kandang diasumsikan mengandung unsur N

sebanyak 1%) .

Karakter yang diamati dalam penelitian ini adalah: (1) Tinggi tanaman (cm), diukur dari

pangkal batang sampai ujung tanaman. (2) Jumlah tongkol pertanaman (buah) (3) Berat tongkol

dengan klobot (gr). (4) Diameter tongkol tanpa klobot (cm), diukur pada tengah tongkol tanpa klobot.

(5) Panjang tongkol tanpa klobot (cm), diukur mulai pangkal sampai ujung tongkol tanpa klobot. (6)

(5)

dari biji jagung yang berasal dari tongkol sampel. Cairan tersebut di tuangkan pada lensa hand

refraktometer. Kemudian dilihat dengan cara mengarahkan hand refraktometer pada tempat terang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bagian awal dari pembahasan akan didiskusikan beberapa parameter produksi yang dianggap

penting yaitu tinggi tanaman, jumlah tongkol pertanaman, berat tongkol dengan klobot, diameter

tongkol tanpa klobot, dan panjang tongkol tanpa klobot. Secara khusus pada bagian akhir diskusi akan

difokuskan pada kadar gula total biji jagung, sebab pada jagung manis parameter ini merupakan

parameter yang sangat penting.

Berdasar hasil percobaan, disajikan nilai rata–rata dari masing–masing karakter pengamatan

berdasar faktor varietas dan faktor pemupukan maupun interaksi dari kedua faktor tersebut yang

tercantum dalam Tabel 1. Berdasarkan Tabel tersebut perlakuan terbaik adalah V2P1. Jika

dibandingkan dengan perlakuan V3P3 perlakuan V2P1 menghasilkan nilai yang jauh lebih besar pada

beberapa parameter yaitu tinggi tanaman lebih tinggi hingga 135.6 cm (120,2%), berat tongkol dengan

klobot lebih berat 191,9 gr (176,2%), panjang tongkol tanpa klobot lebih panjang 5.9 cm (44,4%), dan

kadar gula lebih tinggi 4.9 brix (75,4%).

Tinggi Tanaman. Hasil dari analisa karakter tinggi tanaman didapatkan sebagai berikut.

Interaksi dari V2P1 menunjukkan hasil tertinggi untuk karakter tinggi tanaman, disusul V1P1 (Gambar

1).

Gambar 1. Nilai rata–rata tinggi tanaman akibat perlakuan varietas dan pemupukan. V1: Var. IPB-1, V2 : Var SD-II, V3: Var. Sugar 74; P1: Pupuk anorganik, P2: Pupuk Kandang; P3: Pupuk organik buatan

Menurut Tohari (1992) tinggi tanaman diatur secara genetik untuk membentuk satuan struktur

(buku dan ruas) dalam urutan yang teratur untuk memberikan bentuk dan keadaan yang khas untuk

masing – masing tanaman, sehingga akan menghasilkan tinggi tanaman yang berbeda.

Perlakuan P1 adalah pemupukan anorganik. Pupuk anorganik berpengaruh sangat nyata pada

parameter tinggi tanaman. Hal yang sama diperoleh Buckman dan Braddy (1982) yang menyatakan

V1P1 V1P2 V1P3 V2P1 V2P2 V2P3 V3P1 V3P2 V3P3

(6)

bahwa tanaman sangat memerlukan unsur hara makro buatan relatif besar. Unsur hara makro tersebut

diantaranya yang penting adalah Nitrogen, Phospor dan Kalium. Pertumbuhan tanaman dapat

dihambat jika kekurangan unsur ini. Nitrogen, Phospor dan Kalium biasanya diberikan kepada tanah

sebagai pupuk alam dan sebagai pupuk buatan. Pada pupuk inorganik kandungan ketiga unsur ini

paling tinggi dibandingkan 2 jenis pupuk lain yang digunakan dalam percobaan ini.

Gambar 2. Pengaruh interaksi perlakuan varietas dan pemupukan terhadap rata – rata jumlah tongkol per tanaman. V1: Var. IPB-1, V2 : Var SD-II, V3: Var. Sugar 74; P1: Pupuk anorganik, P2: Pupuk Kandang; P3: Pupuk organik buatan

Jumlah Tongkol Pertanaman. Pada Gambar 2. dapat kita lihat bahwa interaksi V3P1

mempunyai jumlah rata–rata tongkol tertinggi pertanaman, disusul oleh interaksi V1P1.

Karakter pengamatan jumlah tongkol pertanaman merupakan karakter yang sangat penting

menentukan varietas yang mempunyai produksi yang paling tinggi. Sifat ini sangat ditentukan oleh

faktor genetik dari tanaman dan lingkungan yang mempengaruhi proses pembentukan organ

reproduksi pada tanaman (Mahmud, 1998)

Gambar 3. Pengaruh interaksi perlakuan varietas dan pemupukan terhadap rata–rata berat tongkol dengan klobot; V1: Var. IPB-1, V2 : Var SD-II, V3: Var. Sugar 74; P1: Pupuk anorganik, P2: Pupuk Kandang; P3: Pupuk organik buatan

0.0

V1P1 V1P2 V1P3 V2P1 V2P2 V2P3 V3P1 V3P2 V3P3

Interaksi Perlakuan

V1P1 V1P2 V1P3 V2P1 V2P2 V2P3 V3P1 V3P2 V3P3

(7)

Berat Tongkol dengan Klobot. Hasil pengamatan parameter berat tongkol dengan klobot

disajikan pada Gambar 3. Perlakuan V3P1 merupakan interaksi perlakuan yang menunjukkan hasil

tertinggi. Berat tongkol dipengaruhi oleh beberapa morfologi tongkol yang meliputi diameter tongkol,

panjang tongkol dan jumlah baris biji pertongkol. Kalau ditinjau dari faktor pemupukan, perlakuan P1

(pupuk inorganik) menunjukkan hasil yang paling baik (Gambar 4).

Gambar 4. Perbandingan perlakuan pemupukan terhadap hasil jagung manis dengan klobot dan tanpa klobot. P1: Pupuk anorganik, P2: Pupuk Kandang , P3: Pupuk organik buatan.

Diameter Tongkol Tanpa Klobot. Untuk karakter pengamatan diameter tongkol tanpa

klobot didapatkan hasil bahwa varietas V3 menunjukkan hasil tertinggi (Tabel 1). Tetapi secara

analisa sidik ragam didapatkan bahwa ketiga varietas menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara kuantitas nilai masing-masing varietas berbeda,

pengaruh dari faktor varietas tersebut tidak cukup signifikan.

Panjang Tongkol Tanpa Klobot. Pada karakter panjang tongkol didapatkan bahwa untuk

varietas V1 didapatkan hasil yang paling tinggi (Tabel 1). Perbedaan panjang tongkol ini

kemungkinan disebabkan oleh penimbunan hasil fotosintesa dalam jumlah cukup besar pada saat

pemanenan pada varietas IPB-1 daripada varietas lainnya. Varietas Sugar 74 dan Darmaga-II

kemungkinan belum mengalami penimbunan hasil fotosintesa yang maksimal pada saat dilakukan

pemanenan sehingga menghasilkan panjang tongkol yang lebih rendah.

Kadar Gula Total. Hasil pengamatan kadar gula total disajikan pada Tabel 1. Kalau

diperhatikan pada faktor tunggal pemupukan, kadar gula tertinggi terjadi pada perlakuan pemupukan

an organik. Hal ini menunjukkan bahwa pemupukan dengan pupuk an organik seperti pada parameter

produksi masih merupakan cara terbaik untuk meningkatkan kadar gula total jagung manis.

Sedangkan varietas jagung manis dengan kadar gula tertinggi adalah varietas Seleksi Darmaga II

dengan kadar brix gula 11,16.

(8)

Proses sintesis gula pada tanaman dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dalam dan faktor

lingkungan sekitar. Faktor dalam berupa genotipe yang digunakan, sedangkan faktor luar meliputi

suhu, ketersediaan cahaya, air dan lain sebagainya. Sintesis gula pada siang hari berlangsung lebih

maksimal dibandingkan dengan sintesis gula pada malam hari (Geigenberger and Stitt, 2000). Selain

cahaya suhu juga merupakan faktor yang mempengaruhi sintesis gula. Proses sintesis gula optimum

terjadi pada suhu 25o C. Peningkatan suhu sampai 300C dapat menurunkan gula yang dihasilkan

(Geigenberger and Stitt, 1998).

Proses pengisian biji pada jagung dimulai setelah terjadinya penyerbukan dan terus berlangsung

sampai berat biji maksimum pada masak fisiologis. Selama proses pengisian biji peranan daun sebagai

penyuplai fotosintat mempunyai peranan penting. Semakin banyak jumlah daun pada tanaman jagung

proses fotosintesis semakin maksimal (Mahmud, 1998; Hayati dan Mawardi, 2000).

Fenotipe tanaman dipengaruhi oleh gen atau kombinasi beberapa gen yang bekerja untuk

menentukan karakter tanaman dan apabila berinteraksi dengan lingkungannya akan menimbulkan

keragaman (Sri Hartatik, 1986), hal tersebut sesuai dengan hasil sidik ragam dan analisa lanjutan

Duncan 5% percobaan diatas. Disini gen diwakili oleh masing-masing varietas sedang lingkungan

diwakili oleh penambahan berbagai macam jenis pupuk.

Pada uji Duncan 5% nampak bahwa hampir seluruh karakter pengamatan menunjukkan bahwa

perlakuan dengan menggunakan pupuk an organik masih menunjukkan hasil yang lebih tinggi

daripada perlakuan dengan menggunakan pemupukan organik (Tabel 1).

Buckman and Brady (1982) mengatakan bahwa pupuk an organik saja belum menjamin hasil

yang maksimal. Karena pupuk anorganik tidak mampu memperbaiki struktur tanah, oleh karena itu

perlu penggunaan pupuk organik seperti pupuk kandang. Sutejo (1987) juga mendukung pernyataan

diatas dengan pernyataannya bahwa selain karena pupuk alam keadaan dan jumlahnya kurang dapat

memenuhi kebutuhan, juga karena pupuk buatan sangat praktis dalam pemakaian, artinya pemakaian

dapat disesuaikan dengan perhitungan hasil penyelidikan akan defisiensi unsur hara yang tersedia

dalam kandungan tanah.

Rinsema (1983) menyatakan bahwa banyaknya pupuk organik yang tersedia sebetulnya masih

belum cukup untuk mendapatkan hasil yang maksimum. Kombinasi antara pupuk organik dan

anorganik sering menghasilkan hasil produksi yang lebih baik.

KESIMPULAN

Interaksi terbaik adalah kombinasi perlakuan V2P1. Hal ini berarti varietas yang terbaik adalah

(9)

hampir semua parameter pengamatan, baik pada parameter produksi maupun parameter kadar gula

total.

UCAPAN TERIMAKASIH

Kepada Ir. Sugeng Winarso, MSi. diucapkan terimakasih atas saran yang sangat berharga untuk

perbaikan naskah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Buckman, O.H. And N. C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara. Jakarta.

Geigenberger, P and M. Stitt. 1998. High Synthesis is Atributable to inhibition of ADP-Glucose Pyrophosphorilase by Decreased Levels of Glycerate-3 Phosphate in Growing Potato Tuber Temperature Pertubation of Starch. Plant Physiology. Vol 117.

Hakim, N. 1986. Dasar - Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hartatik, S. 1986. Ilmu Pemuliaan Tanaman I. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember. Jember.

Hattab, S. 1976. Pengaruh Pemupukan Terhadap Palatability Hijauan. Warta Pertanian. Volume VI no 39. Departemen Pertanian. Jakarta.

Hayati, E. dan Mawardi. 2000. Keragaman Genetik dan Hubungannya dengan Hasil pada Tanaman Jagung. AGRISTA vol 4 no 3.

Hebert, Y., E.Guingo and O. Loudet. 2001. The Response of Root/Shoot Partitioning and Root Morphologi to light Reduction in Maize Genotype. Crop Science. March-April 2001. Vol. 41.

Koswara ,J. 2000. Sweet Corn and Baby Corn. Penebar swadaya.Jakarta.

Mahmud, T. 1998. Modifikasi Genetik Masa Pengisian Biji Pada Jagung: Keragaman Genotipe dan Hubungannya dengan Hasil dan Komponen Hasil. Agrista Vol. 2

Purnomo, E. 1991. Mengenal Lebih Jauh Tentang Pupuk Kandang Dan Pemanfaatannya. Informasi Pertanian no 2. Departemen Pertanian. Jakarta.

Rinsema. 1983. Pupuk dan Pemupukan. Bharata Karya Aksara. Jakarta.

Salisbury, F.B dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid II. ITB. Bandung.

Setyamidjaja, D. 1986. Pupuk dan Pemupukan. CV. Simplex Jakarta.

Sutejo, M.M. dan A.G. Kartasapoetra. 1990. Pupuk dan Cara Pemupukan. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Tohari. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

(10)

Tabel 1. Rata-rata Nilai Pengamatan Beberapa Parameter Penting

Perlakuan Tinggi Tanaman

(cm)

Jml tongkol pertanaman

(bh)

Berat tongkol dengan klobot

(gr)

Diameter tongkol tanpa klobot (cm)

Panjang tongkol tanpa klobot (gr)

Kadar gula

(brix)

V1 187.9 b 1.2 ab 143.3 5.5 15.6 9.5 ab

V2 175.7 b 1.0 a 149.9 5.8 14.4 11.2 b

V3 146.6 a 1.3 b 176.3 6.2 15.5 7.9 a

P1 210.4 b 1.5 b 271.2 b 6.6 18.8 b 11.2 b

P2 150.4 a 1.0 a 111.0 a 5.4 13.7 a 9.4 a

P3 140.3 a 1.0 a 87.3 a 5.6 13.1 a 7.9 a

V1P1 218.2 c 1.6 b 255.4 c 6.7 19.4 d 12.0 b

V1P2 167.2 b 1.0 a 92.4 a 5.2 14.0 ab 9.4 ab

V1P3 178.3 b 1.0 a 81.9 a 4.8 13.5 ab 6.9 a

V2P1 248.4 d 1.1 a 300.8 c 6.8 19.2 d 11.4 b

V2P2 121.9 a 1.0 a 78.1 a 5.4 11.6 a 11.7 b

V2P3 156.8 b 1.0 a 70.9 a 5.1 12.4 ab 10.4 b

V3P1 164.7 b 1.8 b 254.5 c 6.2 17.8 cd 10.3 b

V3P2 162.2 b 1.1 a 162.6 b 5.8 15.4 bc 7.1 a

V3P3 112.8 a 1.0 a 108.9 ab 5.8 13.3 ab 6.5 a

(11)

Gambar

Gambar 1. Nilai rata–rata tinggi tanaman akibat perlakuan varietas dan pemupukan.  V1: Var
Gambar 2. Pengaruh interaksi perlakuan varietas dan pemupukan terhadap rata – rata jumlah tongkol per tanaman
Gambar 4. Perbandingan perlakuan pemupukan terhadap hasil jagung manis dengan klobot dan tanpa klobot
Tabel 1. Rata-rata Nilai Pengamatan Beberapa Parameter Penting

Referensi

Dokumen terkait

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG MANIS (Zea mays sacharata Sturt.) PADA BERBAGAI KOMBINASI PUPUK ORGANIK DAN

Pupuk organik padat granul (POPG) yang dikombinasikan dengan ½ dosis pupuk NPK memberikan pengaruh yang lebih baik dalam meningkatkan hasil jagung manis karena

1479 Nurcahya, dkk, Pengaruh Macam Pupuk Organik… Tabel 2 Rata-rata Diameter Batang Jagung Manis akibat Perlakuan Macam Pupuk Organik dan Waktu Aplikasi pada Berbagai Umur

Pengaruh Pemberian Pupuk Urea dan Pupuk Kandang Ayam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays Saccharata Sturt) Varietas Gendis.. Pengaruh Varietas

Kombinasi konsentrasi pupuk organik cair dengan dosis pupuk N, P, K berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis kultivar Talenta, meliputi tinggi

Hasil penelituan menunjukkan bahwa tumpang sari 3 varietas jagung manis dan pemberian pupuk organik dan anorganik pada pertumbuhan dan produksi kacang hijau memberikan

Sidik ragam Pengaruh macam dan dosisi pupuk organik padat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis pada tinggi tanaman 4 MST. Pengaruh macam dan dosisi pupuk

Respon tanaman jagung manis terhadap dosis dan jenis pupuk organik secara interaksi memberikan pengaruh yang signifikan, dimana salah satu jenis pupuk organik yang