PERGUMULAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM DENGAN TEOLOGI, PERIPATESTISME, GNOSISME, ILUMANISME, DAN
TRANSDENTALISME
Makalah ini dipresentasekan pada Mata Kuliah Pemikiran Pendidikan Islam
OLEH :
SA’ADAH FITRIANI LUBIS
ZUL PADLAN
PEDI-A-III (REGULER)
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Dja’far Siddik, M.A
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2
Makalah ini masih dalam proses diskusi DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
PENDAHULUAN ... 3
PEMBAHASAN ... 4
A. . Teologi... 4
B. . Peripatetik…... 7
C. . Gnosisme…... 10
D. . Illumanisme ………... 13
E. . Transdentalisme……….………. 15
PENUTUP ...……….. 18
A. . Kesimpulan……….……….….... 18
3
Makalah ini masih dalam proses diskusi PERGUMULAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM DENGAN TEOLOGI, PERIPATESTISME, GNOSISME, ILUMANISME, DAN
TRANSDENTALISME
ABSTRAK .
The grouwth of islamic education was the result continually the produced beneficially for all moslems. In formulating islamic educatoinal thought, we should have undersstood the ideology that explained an interpretation characterisstic and classsification in order we could understand the thought it self. The ideologi which contributed in developing islamic eucation thought was, Theology, Peripatetisme, Gnosisme, Illuminasionisme, Transendentalisme. these all tried to explain the truth that, was taken ftom alquran and hadith ass well as human mind (rational) in creating a product called knowledge. The philosophers could interpret, answer the questions, and also solve the problems by using all these ideologies (Theology, Peripatetisme, Gnosisme, Illuminasionisme, And Transendentalisme) as human being, we should have found the truth that did not stand againsst islamic laws, because the truth in islam could be found through rational it self. Because it could be could be concluded that knowledge in islam could be gained through revelation, senses, and rational.
Keywords : definition, characteristic, classification, theology, Peripatetisme, Gnosisme, Illuminasionisme, And Transendentalisme.
4
Makalah ini masih dalam proses diskusi mengurai kebenaran yang tidak lepas dari pegangan utama yaitu Alquran dan Hadis yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengarahkan akal dalam mencapai kebenaran. Sehingga dengan akal rasional manusia juga bisa mendapatkan pengetahuan. Dengan aliran Teologi, Parepatetisme, Gnosisme, Ilumanisme, dan Transdentalisme para pemikir, bisa menafsirkan, memberikan jawaban bagi permasalahan-permasalahn yang belum bisa dituntaskan. Karena dalam kehidupan manusia harus mencari sebuah kebenaran, yang kebenaran itu tidak bertolak belakang dengan syariat, dan agama mencari kebenaran dengan menggunakan akal. Dapat difahami bahwa ilmu-ilmu dalam islam diperoleh dengan wahyu, panca indra, dan akal rasional.
5
Makalah ini masih dalam proses diskusi BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan Islam yang akan kita kembangkan seharusnya memiliki sebuah paradigma yang kokoh secara spiritual dan unggul secara intelektual, dan dengan penanaman moral yang berlandaskan Alquran. Jangan sampai umat Islam kehilangan kiblat dalam meraih peradaban yang lebih baik, khususnya dalam bidang pendidikan.
Pertumbuhan pendidikan Islam lahir dari ide para pemikir Islam yang berusaha menggali, mendalami dan menyumbangkan pemikirannya dalam dunia Islam. Sehingga dengan karya-karya mereka kita bisa mengkaji ulang, mengkritisi, dan menganalisis sehingga temuan-temuan bisa kita jadikan i’tibar dan sebagai khazanah ilmu.
Dalam mencapai sebuah kebenaran haruslah dengan menggunakan sumber utama dalam ajaran Islam, yaitu Alquran dan Sunnah. Para pemikir berusaha mengurai, mengkaji ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. Selain itu, kebenaran ilmu juga bisa kita peroleh dengan akal rasional selama batasan-batasan syariat tetap jadi tolak ukurnya.
Kebenaran suatu ilmu bisa lahir dari gagasan-gagasan para ilmuan muslim dan mengelompokkannya dalam sebuah pemahaman, aliran, dan keyakian yang bisa diterima oleh akal rasional. Dengan hasil pemikiran para ahli diharapkan kita bisa meraih kembali masa-masa kejayaan pendidikan Islam yang terhitung dengan waktu yang sangat panjang.
6
Makalah ini masih dalam proses diskusi BAB II
PEMBAHASAN
A.Teologi
Teologi banyak memiliki nama, selain disebut teologi, aliran ini disebut pula sebagai ‘ilm kalam,‘Ilm Tauhid. ‘lm Fikih al-Akbar, ‘Ilm Ushul al-Din, ‘Ilm
‘Aqaid,, ‘Ilmi Nazhar wa al-Istidlal, dan ‘Ilm Tauhid wa al-Sifat. Meskipun de b al-kalam al-ilahi’ (golongan yang ahli bicara ketuhanan) dan al-mutakllimun mikian, semua nama itu merujuk kepada salah satu cabang keilmuan Islam yang membahas tentang dasar-dasar keimanan.1
Istilah Teologi memang dikursus mengenai Tuhan, Dalam literatur filsafat Islam, istilah teologi memang diterjemahkan ke dalam bahasa arab menjadi ‘asha al-ilahiyat’ (mereka yang membahas soal-soal ketuhanan).2
1. Pengertian Teologi
Secara etimologi, istilah teologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu theos dan logos. Kata theos bermakna Tuhan, dan kata logos bermakna ilmu dan pengetahuan. Dalam bahasa Indonesia, teologi memiliki makna sebagai pengetahuan ketuhanan. Secara etimologi, istilah teologi memiliki arti pengetahuan mengenai tuhan.3
Secara etimologi, istilah kalam berasal dari bahasa arab, artinya adalah
‘kata, dan perkataan’. Kata ini lebih dimaksud sebagai sebuah ilmu, yaitu ilmu kalam (scholastic theology). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Istilah kalam diartikan sebagai perkataan Allah. Dalam hal ini kalam diartikan sebagai pembahasan tentang masalah teologi (ilmu ketuhanan).4
Secara terminologi, para pemikir Muslim telah memberikan definisi
kalam. Al Farabi (w. 950) misalnya, mendefinisikan kalam sebagai “ilmu yang
memungkinkan seseorang untuk menopang kepercayaan-kepercayaan tertentu dan
1Siddik dan Ja’far, Jejak Langlah Intelektual Muslim (Medan: IAIN Press, 2010), h. 9. 2Syamsuddin Arifin, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Depok: Gema Insani, 2008),
h. 46-47.
7
Makalah ini masih dalam proses diskusi perbuatan-perbuatan yang ditetapkan oleh Sang Pembuat Hukum agama dan untuk menolak opini-opini yang bertentangan dengannya.5. Ibn Khaldun (w 1404) menjelaskan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang melibatkan argumentasi dengan bukti-bukti rasional untuk membela rukun-rukun iman dan menolak para ahli
bid’ah yang menyimpang dari kepercayaan kaum Muslin generasi awal dan ortodoksi Muslim.6 Muhammad Abduh menyatakan bahwa teologi adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah dan sifat-sifatnya, baik yang wajib maupun yang mustahil, juga keberadaan para Rasul untuk menguatkan risalah mereka, dan segala sesuatu yang wajib, yang boleh dan yang tidak boleh disandarkan kepada mereka.7
Dalam agama Kristen teologi tidak hanya berusaha memberikan suatu pertahanan rasional untuk keyakinan, tetapi ia juga berusaha memberikan suatu
‘pintu masuk’ realitas tertinggi bagi kehidupan sprit (jiwa), seperti ditemukan dalam teologi mistik Dionisiyus the Areopagite atau, dalam konteks Protestan dalam Theologika Germanica Martin Luther. Hal yang seperti itu tidak terjadi
dalam Islam, dimana kalam yang secara literal berarti ‘kata’ telah berkembang menjadi “ilmu yang menunjang tanggung jawab kepercayaan-kepercayaan agama yang mapan secara kokoh, memberi bukti dan menghalau keragu-raguan. 8
2. Karakteristik Teologi
Secara metodologi, aliran Kalam menggunakan motode seperti kaum Parepatetik, yaitu metode deduktif silogistik, karena itu metode ini memandang ilmu logika (‘ilm mantiq) sangat penting, sebab metode deduktif silogistik dibahas secara luas dalam ilmu logika, bahkan metode ini menjadi inti pembahasan ilmu logika itu sendiri. Secara etimologi, istilah logika berasal dari bahasa Yunani, logos, yang berarti kata, berbicara, alasan. Dalam bahasa Inggris disebut logik,
5Ibid., h. 10. 6Ibid.
7Ja’far, Gerbang-Gerbang Hikmah Pengantar Filsafat Islam (Banda Aceh: Penerbit
8
Makalah ini masih dalam proses diskusi sedangkan dalam bahasa arab disebut ilm mantiq, yang artinya ilmu berbicara tentang rasional. Kata mantiq berasal dari kata nathaq yang berarti berbicara.9
Dalam konteks ini, para teolog dituntut menguasai, memahami dan mengaplikasikan ilmu logika secara tepat, karena ilmu ini sangat berpengaruh dan membantu seorang teolog meraih dan mewujudkan pengetahuan yang benar, jadi dari segi metodologis, aliran teologi menggunakan akal rasional atau logika agar bisa memperoleh kebenaran yang sebenarnya.
Metode deduktif silogistik ini dibahas secara rinci dalam ilmu logika. Metode ini disebut dengan silogisme. Silogisme merupakan suatu bentuk penyimpulan tidak langsung. Metode ini menjadi contoh tentang berfikir deduktif, yaitu suatu usaha rasio untuk mengambil sebuah keputusan khusus berdasarkan keputusan-keputusan umum terdahulu. Dalam silogisme kesimpulan terdahulu harus terdiri dari dua keputusan (kalimat) saja, salah satu keputusan tersebut harus universal, dan diantara dua keputusan itu harus ada suatu unsur yang sama-sama dimiliki oleh kedua keputusan tersebut. Dengan kata lain silogisme terdiri atas tiga komponen, yaitu keputusan pertama yang disebut premis mayor (muqoddimah kubra), keputusan yang kedua disebut premis minor (muqoddimah sughra), dan kesimpulan yang disebut dengan konklusi (natijah). Sedangkan unsur yang sama antara kedua keputusan disebut term penengah (had al-ausath). Premis mayor dan premis minor harus sebuah keputusan yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Dalam logika premis ini harus diperoleh secara induktif maupun deduktif. Cara berfikir induktif adalah suatu usaha mendapatkan suatu pemahaman umum dari pemahaman-pemahaman khusus. Sebaliknya, cara berfikir deduktif adalah usaha mendapatkan sebuah pemahaman khusus dari kesimpulan-kesimpulan umum. Secara sederhana, inilah gambaran umum tentang metode deduktif-silogistik tersebut.10
3. Spesifikiasi Teologi
Berdasarkan paparan diatas yang menjadi spesifikasi aliran teologi adalah bahawa premis-premis akal rasional dimulai dengan baik dan buruk dan
9
Makalah ini masih dalam proses diskusi menjadikan agama sebagai tolak ukurnya. Bahwa teologi beranjak dari ajaran-ajaran syariat Islam (Alquran dan Sunnah) dan kebenarannya juga bisa diterima oleh akal. Misalnya, di dalam Alquran dijelaskan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam, sebagaimana tercantum dalam
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
Berdasarkan ayat di atas kita ketahui bahwa wahyu menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam, dan hal ini bisa diterima oleh akal rasional manusia, karena kita bisa merasakan dan mengalami perubahan-perubahan tersebut.
B. Paripatetisme
1. Pengertian Peripatetisme
Secara etimologi, Istilah “Peripatetik” berasal dari Yunani, peripatos. Kata ini diartikan sebagai berkeliling, berjalan-jalan, tempat berlindung, tempat bersembunyi, tempat berjalan-jalan, dan atau percakapan sambil berjalan-jalan. Istilah ini dikenal sebagai julukan bagi pengikut ajaran Aristoteles. Setelah Aristoteles wafat ajarannya dikembangakan oleh pengikutnya, antara lain Theopharatos, Strato, Andronikos, dan Alexander Aphrodisias. Mereka sebagai komentator pertama ajaran Aristoteles, dan pendukung mazhab Peripatetis.11
Sedikitnya ada dua pandangan tentang asal usul penanaman Peripatetis bagi para pengikut Aristoteles. Pertama. Penggunaan ini mengacu kepada metode mengajar Aristoteles. Aristoteles mengajarkan filsafat kepada muridnya sambil berjalan-jalan. Pandangan ini sebenarnya diadopsi dari Protagoras, namun banyak
10
Makalah ini masih dalam proses diskusi orang mengenal Perepatetik sebagai metode mengajar Aritoteles dan pengikutnya. Kedua, Pandangan ini sama sekali bukan mengacu kepada metode mengajar tetapi tempat belajar Aritoteles. Dalam bahasa Yunani istilah peripatos mengacu kepada suatu tempat (ruangan) di serambi gedung olahraga Athena. Aristoteles mengajar para muridnya di tempat ini sambil berjalan-jalan. Para penerus Aristoteles pun menggunakan ruangan ini sebagai tempat pembelajarn filsafat.
Secara terminologi, para filsuf Peripatetik telah memberikan beragam definisi tentang makna filsafat. Nasr menuliskan sejumlah makna filsafat menurut al-Kindi (801-865), filsuf muslim pertama, mengungkapkan bahwa filsafat adalah
“pengetahuan tentang realitas hal-hal yang mungkin bagi manusia, Karena tujuan puncak seorang filosof dalam pengetahuan teoritis adalah untuk memperoleh kebenaran. Al-Farabi (870-950 M) menulis bahwa filsafat adalah “induk ilmu -ilmu dan mengkaji segala yang adaa Ibnu Sina menulis bahwa filsafat adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi atas segala hal dan pembenaran realitas-realitas teoritis dan praktis berdasarkan pada ukuran kemampuan manusia.12
2. Karakteristik Peripatetisme
Peripatetisme dikenal sebagai aliran yang mensintesiskan antara syari’at
Islam, Aristotelianisme dan Neo Platonisme. Ketiga komponen ini berhasil diharmoniskan oleh para filsuf Peripatetisme. Dengan demikian dapat dipahami bahwa aliran Peripatetisme Islam bukan hanya masya’iyah dalam makna aliran Aristotelian, akan tetapi lebih dominan merupakan suatu kombinasi antara prinsip-prinsip Islam dengan Aristotelian dan Neo Platonik secara bersamaan.
Aliran Filsafat yang dikenal baik sebagai masysya’i atau filsafat Perepatetik adalah sintesis ajaran-ajaran wahyu Islam, Aristotelianisme dan Neoplatonisme, baik Atenian maupun Alexandrian, ditemukan pada abad III/IX
dalam iklim intelektual yang kaya di Bagdad oleh Abu Ya’kib al-Kindi (w. 260/873). Ia juga termasuk filosof yang banyak karyanya, dan telah menyusun lebih dari dua ratus penjelasan secara rinci, dalam kaitannya dengan sains dan filsafat, mulai sebuah kecendrungan yang mencirikan kelompok muslim bijaksana
11
Makalah ini masih dalam proses diskusi yakni filosof-saintis yang bukan hanya filosof-filosof. Perhatian utamanya adalah menemukan kebenaran dimanapun ia ada. Dalam sebuah pernyataan yang terkenal dan sering diulang berapa abad, yang mencirikan semua filsafat Islam ia hanya menyatakan. Kita tidak akan pernah malu mengakui kebenaran dan mengambilnya dari sumber manapun ia datang bagi kita, sekalipun ia dibawa generasi baru dan orang asing. Bagi mereka yang mencari kebenaran tidak ada nilai yang lebih tinggi dari pada kebenaran itu sendiri. Kebenaran tidak akan pernah merendahkan atau merendahkan dirinya yang mencapai, tapi baginya penghormatan dan penghargaan.
Inilah konsep universal tentang kebenaran yang selalu mencirikan filsafat Islam, sebuah kebenaran, bagaimanapun, tidaklah dibatasi keterbatasan-keterbatasan penalaran.13
Aliran Peripatetik (Hikmah al-masya’iyah) disebut juga hikmah al-basyhtiyah . Penamaan ini ini dilatari oleh argument bahwa aliran ini bertumpu kepada silogisme (qiyas), argumentasi (istidlal) dan demonstrasi rasional (burhanul aqli). Jadi, secara epistemologis , aliran Parepatetik ini menggunakan metode deduktif silogistik. Jelas sekali bahwa, seperti kaum teolog, aliran ini sangat bertumpu kepada ilmu logika (‘ilm mantiq). Karena ilmu itu membahas metode deduktip-silogistik tersebut.
Parepatetik Islam atau filsafat masysya’i mencapai puncaknya dengan Ibnu Sina, yang barang kali terbesar dan secara pasti mempengaruhi sebagian besar filosof-filosof Islam, dalam suatu pengertian sebagai bapak, khususnya filsafat abad pertengahan secara luas dimana filsafat itu memberikan perhatian secara mendasar tentang wujud. Dalan karya-karya Peripatetik yang dibanggakan seperti al-syifa’. Ibnu Sina membuat sintesis final tentang Islam dengan filsafat Aritotelianisme dan Neoplatonisme, yang menjadi sebuah dimensi intelektual yang permanen dalam dunia Islam dan bertahan sebagai ajaran filsafat yang hidup sampai hari ini.14
3. Spesifikasi Parepatetik
12
Makalah ini masih dalam proses diskusi Aliran Peripatetik ini hampir mirip dengan aliran Teologi, persamaannya sama-sama menggunakan metode deduktif-silogistik, hanya saja teologi beranjak dari wahyu setelah itu memerankan akal sebagai alat mencari kebenaran. Namun, Parepatetik ini mendasari premisnya dengan akal. Dalam sebuah silogisme terdiri dari tiga komponen, yaitu premis mayor (muqoddimah kubra), premis minor (moqoddimah sugra) dan adanya konklusi (natijah) Misalnya:
Premis mayor :
Manusia itu adalah hewan (al-insanu hayawanun). Premis minor: Gnosisme (mistisme Islam), yaitu tashawuf dan irfan. Kedua istilah ini memiliki beberapa perbedaan, seperti dijelaskan berikut ini.
Dalam konteks term tasawuf, ada delapan pendapat tentang asal-usul istilah tasawuf (sufi):15
a. Pendapat bahwa tasawuf berasal dari kata suf. Pendapat ini sangat paling popular, kata ini mengandung arti kain wol. Kata ini diambil karena simbol kesederhanaan dan kemiskinan. Karenanya, kata ini menjadi asal kata tasawuf, karena sufi menempuh hidup sederhana, dan mereka tidak ubah seperti orang miskin, namum memiliki hati suci dan mulia.
b. Pendapat bahwa istilah ini berasal dari kata ahlal suffah yaitu orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi Muhammad saw. Dari Makkah ke Madinah. Karena kehilangan harta, mereka tinggal di mesjid dan tidur memakai bangku batu dengan memakai pelana (suffah) sebagai bantal.
c. Pendapat bahwa istilah ini berasal dari kata saf yaitu orang yang shalat di saf pertama. Karena itu, mereka diberikan Allah kemuliaan dan pahala.
13
Makalah ini masih dalam proses diskusi d. Pendapat bahwa kata ini berasal dari sufi yaitu suci, kata ini dianggap
sebagai asal-usul kata tasawuf, karena para sufi memiliki dan telah mensucikan diri mereka setelah menempuh latihan ruhani sekian lama. e. Pendapat bahwa istilah ini berasah dari bahas Yunani, yaitu kata sophos
bermakna hikmah atau kebijaksanaan. Kata ini diakui sebagai asal-usul kata tasawuf, Karena para sufi telah mencapai kebijaksanaan setelah mereka melakukan pensucian diri (tazkiyaj al-nafs).
f. Pendapat bahwa istilah taswauf berasal dari kata shafa, yang artinya bersih. Kata ini diyakini sebagai asal-usul kata tasawuf, Karena para sufi memiliki jiwa dan hati yang suci.
g. Pendapat bahwa istilah tasawuf berasal dari kata shaufanah. Kata ini diartikan sebagai buah-buahan kecil yang berbulu lebat. Para sufi memakai pakaian yang berbulu lebat, seperti buah tersebut. Karena itulah kata tasawuf berasal dara kata saufanah.
h. Pendapar bahwa kata tasawuf berasal dari seorang sufi yaitu Abu Hasyim al-Sufi. Abu Hasyim dianggap sebagai orang pertama kali menggunakan kata sufi, dan ia menggunakan kata ini sebagai mana nama belakang.
Dari uraian di atas pendapat pertama lebih popular dibandingkan pendapat lainnya. Sebab, para sufi baik secara lahiriah maupun batiniah mencerminkan filosofi wol. Secara lahiriyah mereka memakai pakaian yang terbuat dari wol. Sedangkan secara batiniah mereka memiliki sikap hidup sederhana.
Dalam kehidupan tasawuf hubungan manusia dengan Tuhan mempunyai peranan yang penting karena Tuhan telah menciptakan manusia, dan Karena itu, timbullah rasa terima kasih dan cinta disanubari manusia. Karena rasa terimakasih inilah manusia mau mendekati tuhan, dan tuhan akan mencintai manusia. Tasawuf juga merupakan suatu usaha untuk mencapai pembebasan diri lewat tauhid.16
Secara terminologi, sejumlah sufi telah memberikan definisi tasawuf. Al-Kalabazi menyebut sejumlah definisi tasawuf menurut para sufi. Al-Junaidi mengatakan bahwa tasawuf adalah, memurnikan hati dari berhubungan dengan
16Fadlil Munawar Mansur, “Tasawuf dan Sastra Tasawuf dalam kehidupan pesantren,”
14
Makalah ini masih dalam proses diskusi makhluk lain, meninggalkan sifat-sifat alamiah, menekan sifat-sifat manusiawi, menghindari godaan jasmani, mengambil berbagai sifat ruh, mengingatkan diri kepada ilmu-ilmu hakikat, sungguh-sungguh beriman kepada tuhan dan mengikuti syariat Nabi Muhammad saw. Sahl Abd Allah al-Tustari menyebut sufi (ahli tasawuf) adalah orang yang bersih dari ketidakmurnian dan selalu merenung, memutuskan hubungan dengan manusia lain demi mendekatkan diri kepada Allah.17
Dalam konteks makna irfan, bahwa kata ‘irfan berasal dari kata kerja
lampau ‘arafa, yang bermakna mengetahui. Irfan diartikan juga sebagai
pengetahuan dan ma’rifat. Ibnu Sina mengatakn bahwa‘irfan adalah memisahkan
diri dari semua kesibukan kepada selain Allah swt. Sampai menjadi fana’ dan
meleburkan diri bersama Ilahi, sehingga bisa berprilaku sesuai akhlak Ilahi dan mencapai hakikat tunggal, hingga mencapai kesempurnaan.18
2. Karakteristik Gnosis
Tasawuuf atau sufisme sebagaimana halnya dengan mistisme di luar agaman Islam, mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan tuhan sehingga didasari benar bahwa seseorang berasa di hadirat tuhan. Inti dari aliran mistisme, disadari bahwa diri manusia akan menjalin komunikas
serta dialog dengan cara ‘uzlah (menyendiri) menghadap tuhan. Hal ini merupakan suatu cara agar bisa ittihad bersatu dengan tuhan.19
Secara umum, kaum sufi hanya bertumpu kepada metode penyucian jiwa (taskiyah al-nafs) semata, mereka melakukan perjalanan rohani guna mendekatkan diri kepada Allah swt. Sehingga mereka bisa mengetahui bahkan sampai kepada hakikat. Dengan kata lain metode ini menggunakan metode intuitif (eksferensial). Aliran ini menolak penggunaan argumentasi rasional, sembari meyakini bahwa kaki kaum rasional sebagai terbuat dari kayu rapu. Bagi aliran ini, pengetahuan sebagai hasil penyingkapan intuisi lebih unggul dari pada pengetahuan sebagai hasil olah akal, sehingga pengetahuan para sufi sebagai hasil
17Siddik dan Ja’far, Jejak Langkah, h. 60 18Ibid., h. 6 .
15
Makalah ini masih dalam proses diskusi dari penyingkapan yang dicapai mereka lebih unggul dari pengetahuan filsuf sebagai hasil dari silogisme akal.20
3. Spesifikasii Gnosis
Dalam mencapai kebenaran, aliran Gnosime menggunakan metode tazkiyah al-Nafs, dan dalam pelaksanannya mereka mereka menggunakan metode intuitif. Dalam perjalannannya mencari kebenaran tidak bisa menggunakan rasional karena harus melewati beberapa tahapan, mulai dari mengosongkan hati, mengisinya dengan nilai Islam serta menjaganya agar hati tetap tertuju kepada penciptanya.
Dalam ajaran sufi, tazkiya al-nafs dilaksanakan dengan tahapan-tahapannya, yaitu tahapan membersihkan jiwa, yang hal ini dinamakan sebagai usaha untuk menyingkap tabir penghalang antara manusia dengan tuhannya, tahapan tersebut terdiri dari takhalli, tahalli, dan tajalli.21 Sehingga jelas bahwa tujuan akhir dari motode tazkiya al-nafs adalah mendekatkan diri kepada Allah.
D. Illuminasionisme
1. Pengertian illuminasionisme (Hikmah Isyraqiyah)
Illuminasionisme ini dikenal sebagai sebuah aliran dalam filsafat di kalangan para filosof, orang-orang di negara barat menyebutkan istilah illuminasionisme ini sebagai the philosofhy of illumination, the wisdom of isyraq, dan theosophie Orientale. Dan dikalangan orang-orang arab illuminasionisme ini disebut sebagai istilah hikmah al-isyraq. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu hikmah dan isyraq.22
Kata hikmah memiliki kemiripan arti dengan kata falsafah. Kata falsafah lebih dahulu muncul di kalangan para filosof muslim, dan pastilah kata falsafah banyak dipakai oleh kalangan para filosof muslim pada masanya, setelah itu selain kata falsafah, maka muncullah kata hikmah yang juga digunakan oleh kalangan para filosof muslim.23
20Siddik dan Ja’far, Jejak langkah, h. 62.
21Asmaran AS, Pengantar Studi Tasawwuf (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2002), h. 67. 22Siddik dan Ja’far, Jejak langkah, h. 88.
16
Makalah ini masih dalam proses diskusi Secara bahasa, kata hikmah diartikan dengan “kebijaksanaan” dan jika dibawa ke dalam bahasa indonesia, hikmah diartikan sebagai kebijaksanaan dari Allah swt. Secara terminologis seperti yang dikatakan di dalam buku jejak
langkah intelektual Islam yang ditulis oleh Dja’far siddik bahwa hikmah tidaklah hanya berupa hasil dari kerja akal semata, namun meminjam definisi dari
Toshihiko Izutsu “produk orisinil aktifitas akal analitis yang keras dan didukung oleh tangkapan intuitif yang penting tentang realitas” oleh karena itu hikmah tidak hanya dimaknai sebagai hasil kerja akal manusia saja, namun dimaknai sebagai hasil kerja yang menjadi perpaduan antara kerja akal dan intuisi manusia dalam memahami realitas.
Sedangkan kata al-isyraq diartikan sebagai iluminasi, dan istilah ini diartikan sebagai cahaya pertama pagi hari, yang mana cahaya di pagi hari seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa cahaya tersebut muncul dari arah timur, dalam hal ini kata isyraq diambil dari bahasa arab yaitu syarq yang arti nya timur, kemudian dikaitkan dengan pengistilahan kata isyraq dalam pembahasan ini. Dengan demikian, istilah hikmah al-isyraq dapat diartikan sebagai kebijaksanaan cahaya.24
2. Karakteristik Illuminasionisme (hikmah isyraqiyah)
Illuminasionisme adalah sebuah pengetahuan yang bersifat cahaya yang datangnya dari Tuhan dan hadir secara sepontan, tentunya melalui proses, ada 4 tahap yang harus dilalui oleh para filosof seperti yang tertera berikut:25
a. Seorang filsuf harus melakukan sejumlah persiapan awal. Ia harus meninggalkan kenikmatan dunia agar ia bisa dengan mudah menerima pengalaman.
b. Seorang filsuf akan memasuki tahap iluminasi, yakni ketika ia mencapai visi melihat cahaya ilahi. Cahaya ilahi ini akan memasuki wujudnya, dari cahaya ini, ia akan memperoleh ilmu hakiki, sebuah ilmu dasar bagi ilmu-ilmu sejati.
17
Makalah ini masih dalam proses diskusi c. Filsuf tersebut telah memperoleh pengetahuan tak terbatas. Lalu ia
mengkonstruksi ilmu tersebut dengan menggunakan filsafat diskursif. d. Filsuf mulai menuliskan hasil konstruksi atas pengalaman secara diskursif
atau dalam kata lain filsafat iluminasi diturunkan dalam bentuk tulisan.
Dalam hal ini dapat kita pahami bahawa illuminasionisme adalah sebuah proses penggabungan antara proses kerja otak dan cahaya yang didapatkan dari Tuhan, sebagai pencapaian dalam hakikat sesuatu.
3. Spesifikasi Illuminasionisme (Hikmah Isyraqiyah)
Suhrawardi sebagai tokoh aliran Illuminasionisme menegaskan bahwa
sejak semula telah ada suatu “olahan abadi” (al-hamirat al-azaliyah), yang tiada satupun melainkan kebijakan abadi atau shopia prennis Ia disamarkan dalam
subtansi manusia yang siap “diolah” dan diaktualisasikam melalui latihan
intelektual dan pensucian hati. Aliran ini menggabungkan antara platonisme dengan metrik Islam. Dan pencapaian pengetahuan adalah melalui Tuhan dan kitab sucinya, Hikmah tidak diharapakn hanya seorang yang memiliki pengetahuan rasional, tetapi jadi orang suci, karena ditranformasikan oleh pengetahuannya.
Falsafat isyraqy bahwa manusia dipimpin oleh suatu pengetahuan yang
merupakan cahayanya sendiri, sebagaimana nabi bersabda “al’ilmu nurun” ilmu itu cahaya. Dan hikmah al-isyraq tidak bisa diajarkan kepada setiap orang, untuk hal tersebut jiwa manusia harus dilatih dengan latihan-latihan yang bersifat filosofis secara keras dan jiwanyya harus disucikan melalui usaha batin untuk menundukkan ular naga batin berupa nafsu ruhani.26
E. Transendentalisme
1. Pengertian transendentalisme (Hikmah Muta’aliyah)
Adapun transdentalisme ini adalah sebuah aliran Filsafat yang dibawa oleh
seorang filosof Syi’ah yang bernama Shadr al-Din al-Syirazi 1640 masehi pada abad ketujuh belas, yang juga dikenal dengan nama Mulla Shadra. Mulla Shadra
18
Makalah ini masih dalam proses diskusi adalah seorang filosof yang telah berhasil mensintesiskan ketiga aliran filsafat yang telah menjadi sebuah pembahasan yang didiskusikan seperti Peripatetik,
Iluminasi dan ‘Irfani.
Di dalam aliran Al-Hikmah al-Muta’aliyah ini tidak hanya membahas tentang yang menampilkan sintesa pemikiran saja, akan tetapi mengangkat sebuah hasil pemikiran itu dengan bukti-bukti yang terdapat dari Alquran maupun Hadis.
Hikmah diidentik dengan kata falsafah yang mempunyai arti kebijaksanaan, dan dalam hal ini Alquran menjustifikasikan filsafat sebagai sinonim dari kata hikmah yang mana kata hikmah ini tercantum dalam Alquran sebanyak 20 kali.27
Sedangkan kata Muta’liyah memiliki sejumlah pengertian, sesuai dengan pendapat Hasan Bakti di dalam buku Jejak Intelektual Islam yang ditulis oleh Dja’far siddik antara lain:
a. Apabila diambil dari kata ta’la, maka Muta’aliyah mempunyai arti kata
“yang tinggi” dalam hal ini Muta’aliyah diartikan sebagai sistem filsafat yang melampaui filsafat-filsafat sebelumnya.
b. Apabila ditinjau dari segi tujuannya maka Muta’aliyah bisa diartikan sebagai proses mengenal Allah sebagai Muta’aliyah, dan dalam konteks
ini dapat diartikan sebagai “yang tertinggi” yang tersempurna dan yang
berada dalam jangkauan alam.
Berdasarkan dari kedua pemaknaan di atas maka Hikmah Muta’aliyah dapat diartikan sebagai metode filsafat Islam yang berupaya mengenal Allah sebagai yang “trancendent”, dengan menggunakan metode yang dikelompokkan kepada metode diskursif, intuitif, dan syari’ah.28
2. Karakteristik transendentalisme (Hikmah Muta’aliyah)
Hikmah Mutaaliyat terlihat jelas dalam kata-kata Mulla Shadra sendiri “
pengetahuan Hikmah Muta’aliyah haruslah didasarkan pada argumentasi rasional dan pandangan rohani serta sesuai dengan syariat”, adalah mustahil hukum
19
Makalah ini masih dalam proses diskusi hukum syariat yang benar berbenturan dengan pengetahuan yang terbukti (pengetahuan intuitif), dan jelaslah aliran filsafat yang selaras dengan Alquran dan sunnah. Dan jelas bahwa Hikmah Muta’aliyah memiliki tiga prinsip yakni argumentasi, demonstratif, dan pembuktian intuitif. Baik Alquran, Hadis-hadis Nabi Muhammad saw.29 Dari prinsip-prinsip tersebut bisa dilihat sumber-sumber
ajaran Hikmah Muta’aliyah bersumber pada syari’at Islam, Kalam, Peripatetik, Illuminasi, dan Gnosis.
3. Spesifikasi Transendentalisme (Hikmah Muta’aliyah)
Ajaran-ajaran dari berbagai tradisi tersebut mengilhami doktrin-doktrin aliran Hikmah Muta’aliyah. Kendati demikian doktrin-doktrin berbagai aliran tidak begitu saja diadopsi, tanpa melewati kritik konstruktif. Kenyataan pada doktrin Hikmah Muta’aliyah melahirkan dua asumsi penting, pertama Doktrin
hikmah Muta’aliyah bisa difahami secara baik dan benar apabila doktrin-doktrin semua aliran pembentuk doktrin Hikmah Muta’aliyah ini telah difahami terlebih
dahulu secara sempurna. Kedua, Epitemologi Hikmah Muta’aliyah akan bisa
diketahui, dipahami, dan diterapkan secara benar apabila semua epitemologi
berbagai aliran filsafat pra Hikmah Muta’aliyah telah difahami dan dikuasai
secara baik dan benar.
20
Makalah ini masih dalam proses diskusi BAB III
KESIMPULAN
Spesifikasi aliran teologi adalah bahawa premis-premis akal rasional dimulai dengan baik dan buruk dan menjadikan agama sebagai tolak ukurnya. Bahwa teologi beranjak dari ajaran-ajaran syariat Islam (Alquran dan Sunnah) dan kebenarannya juga bisa diterima oleh akal.
Aliran Peripatetisme dikenal sebagai aliran yang mensintesiskan antara
syari’at Islam, Aristotelianisme dan Neo Platonisme. Ketiga komponen ini
berhasil diharmoniskan oleh para filsuf Peripatetisme. Dengan demikian Peripatetisme Islam bukan hanya masya’iyah dalam makna Aristotelian, tetapi lebih merupakan kombinasi antara prinsip-prinsip Islam dengan Aristotelian dan Neo Platonik sekaligus.
Kaum sufi hanya bertumpu kepada metode penyucian jiwa (taskiyah al-nafs) semata, mereka melakukan perjalanan rohani guna mendekatkan diri kepada Allah swt. Sehingga mereka bisa mengetahui bahkan sampai kepada hakikat. Dengan kata lain metode ini menggunakan metode intuitif (eksferensial). Aliran ini menolak penggunaan argumentasi rasional, sembari meyakini bahwa kaki kaum rasional sebagai terbuat dari kayu rapu. Bagi aliran ini, pengetahuan sebagai hasil penyingkapan intuisi lebih unggul dari pada pengetahuan sebagai hasil olah akal.
Illuminasionisme adalah sebuah proses penggabungan antara proses kerja otak dan cahaya yang didapatkan dari Tuhan, sebagai pencapaian dalam hakikat sesuatu. Aliran ini menggabungkan antara platonisme dengan metrik Islam. Dan pencapaian pengetahuan adalah melalui Tuhan dan kitab sucinya, Hikmah tidak diharapakn hanya seorang yang memiliki pengetahuan rasional, tetapi jadi orang suci, karena ditranformasikan oleh pengetahuannya.
Pengetahuan Hikmah Muta’aliyah haruslah didasarkan pada argumentasi rasional dan pandangan rohani serta sesuai dengan syariat”, adalah mustahil
21
Makalah ini masih dalam proses diskusi
22
Makalah ini masih dalam proses diskusi DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Syamsuddin. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Depok: Gema Insani,
2008.
AS, Asmaran. Pengantar Studi Tasawwuf. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2002.
Nasution, Harun. Falsafat Mistisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1995.
Ja’far. Gerbang-Gerbang Hikmah Pengantar Filsafat Islam. Banda Aceh:
Penerbit Pena, 2011.
Mansur, Fadlil Munawar. “Tasawuf dan Sastra Tasawuf dalam kehidupan
pesantren”. Jurnal Humaniora. Vol. II NO. 10. Januari-Februari 1999.
Nasr, Seyyed Hossein. Intelektual Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
Siddik, Dja’far dan Ja’fa. Jejak Langlah Intelektual Muslim. Medan: IAIN Press,