• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Uni Eropa Hasrat Turki Bergabung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Uni Eropa Hasrat Turki Bergabung"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Kajian Uni Eropa

Gejolak Demokratisasi Turki:

“Hasrat Turki bergabung dalam Uni Eropa”

Fakhri Falahudin Ahmad 20130510311

Untari Narulita MD 20130510316

Putri Johantin A 20130510312

Dina Armelia 20130510285

Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Poltik

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(2)

Turki dikenal sebagai negara Islam yang menganut ideologi politik yang condong ke ideologi Barat semenjak runtuhnya kekaisaran Islam Ottoman yang digantikan dengan Republik Turki pada tahun 1923. Di bawah komando Mustafa Kemal Attaturk, Turki mengadopsi nilai-nilai berwacanakan westernisasi dan modernisasi. Sistem kesultanan dan kekhalifahan dihapuskan dari sistem pemerintahan, agama dipisahkan dari kehidupan pemerintah dalam segala pengambilan kebijakan. Sedangkan fungsi agama dalam kehidupan berpolitik diatur langsung oleh negara dan pembentukan konsepsi mengenai solidaritas serta kepentingan nasional yang berada diatas kepentingan kelompok minoritas1.

Perubahan haluan sistem pemerintahan ini menjadikan arah politik luar negeri berhasrat bahwa Turki dapat sesegera mungkin bergabung dalam kekuatan besar di Eropa dan Amerika Serikat khususnya melalui kerjasama sektor ekonomi.2

Namun gejolak perubahan arah sistem pemerintahan yang modern tidak diimbangi dengan perkembangan demokratisasi politik dalam negeri, di mana masih kurangnya pemaknaan terhadap pelaksanaan HAM (Hak Asasi Manusia) yang merupakan salah satu syarat mendasar untuk dapat diterima sebagai negara anggota Uni Eropa. Masalah HAM yang harus segera diselesaikan oleh pemerintahan Turki adalah masalah Kurdi, Armenia, dan Cyprus terkait pelanggaran HAM, kekerasan dan kurangnya penghormatan kepada kaum minoritas, ini menjadi sorotan utama Uni Eropa agar Turki dapat lebih menegakkan demokrasi di negaranya. Di antara kendala yang menghambat Eropanisasi Turki adalah mengenai masalah perebutan pengaruh antara Yunani dan Turki, kepentingan Turki dalam permasalahan Siprus adalah menjadi basis penyokong terhadap komunitas Turki (Cyprus Turki) yang hidup di Siprus sebagai golongan minoritas. Sedangkan kepentingan Yunani adalah untuk menggulingkan pemerintahan Republik Siprus kemudian mendirikan negara Siprus yang terunifikasi dengan Yunani. Permasalahan Cyprus inilah yang kemudian

1 Zurcher: 1997

2 Dikutip dari jurnal karya Gandha Praditya Putra:“Pegeseran Politik Luar

(3)

menyebabkan proses aksesi Turki menjadi terhambat.3 Di sisi lain Turki telah

mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, dimana pendapatan perkapita meningkat dan kemiskinan berkurang. Perkembangan pesat juga dirasakan dalam sektor ekonomi dan teknologi, hal ini membuat Turki memiliki harapan besar agar menjadi negara anggota Uni Eropa di kemudian hari.

AKAR PERMASALAHAN

 Penerapan demokrasi dan adaptasi norma-norma Eropa yang dilakukan Turki selalu mengalami kesulitan karena pihak yang berkuasa mempertahankan sistem pemerintahan yang birokratis, nasionalis dan cenderung mendukung otoritarianisme. Hal ini berlawanan dengan intergovermentalism liberal dimana pendapat Moravcsik menyatakan bahwa negara memainkan peran dalam dua tingkatan secara bersamaan (two level games), yaitu domestic politics dan international negotiation. Kolaborasi urusan dalam negeri dan bagaimana cara negara melakukan negosiasi dengan internasional untuk mewujudkan kepentingan nasional negara tersebut.

 Demokrasi multi partai yang diterapkan Turki memberikan tempat kepada kelompok religius, provinsi, kaum Kurdi, dan kelompok lain di dalam dunia politik, sosial dan ekonomi. Evolusi politik Turki perlahan menjadikan kelompok politik Kemalis menjadi lemah. Melemahnya kelompok politik Kemalis menyebabkan militer turun tangan mempertahankan warisan Kemal. Hal ini justru menganggu perkembangan demokrasi di Turki.

 Peran Militer di Turki telah diwarnai dengan kudeta militer pada tahun 1960, 1971, dan 1980. Keterlibatan militer pada ranah politik pemerintahan Turki tidak memiliki pola yang konsisten sekaligus menjadikan kondisi politik Turki yang tidak stabil dapat menghambat upaya Eropanisasi Turki.

3 Di kutip dari

(4)

 Secara historis dan religiusitas Turki memiliki akar yang sangat berbeda dengan negara-negara di daratan Eropa secara keseluruhan. Negara-negara Eropa memiliki sejarah kebudayaan yang sama-sama berakar dari kekaisaran Romawi disertai dengan campur tangan Gereja yang memiliki peran sangat besar dalam pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial dan masyarakat di negara-negara Eropa. Sementara itu, Turki yang berada berdampingan dengan negara-negara di daratan Eropa dengan sejarah Romawi dan Gereja tidak memliki cukup banyak pengalaman historis dan religiusitas yang sama.

 Permasalahan lainnya adalah mengenai penggunaan bahasa. Di negara-negara Eropa mengadopsi tiga rumpun bahasa yaitu rumpun bahasa Germania, rumpun bahasa Romans, dan rumpun bahasa Slavia. Sementara itu Turki memiliki bahasa yang tidak bersumber dari salah satu dari tiga rumpun yang digunakan di daratan Eropa.

 Faktor sentimen-sentimen menjadi suatu hal yang menyudutkan Turki sebagaimana yang ditunjukan oleh negara-negara Eropa lainnya, Turki dianggap tidak termasuk dalam Christian Community. Hal ini diperkuat dengan sejarah yang buruk antara Turki dan beberapa negara anggota Uni Eropa lainnya, seperti Inggris dan Yunani, dimana keduanya dapat saja menggunakan hak veto-nya untuk menolak keanggotaan Turki, sebagaimana yang pernah dilakukan Yunani pada Turki.

 Keraguan Eropa yakni dalam kapasitas dan hasrat Turki untuk mengadaptasi acquis Un Eropa bukan satu-satunya syarat aksesi Turki menjadi anggota Uni Eropa. Turki diminta menyelesaikan masalah yang terkait dengan Republik Turki Siprus Utara. Karakter Islam Turki menjadi tentangan dari berbagai oposisi di Eropa, terutama kelompok Demokrat Kristen Eropa. Selain itu, Eropa memiliki ketakutan tersendiri terhadap Turki seperti mengenai imigrasi atau terorisme Islam.

(5)

REGIONALISME DI UNI EROPA

(6)

KEBIJAKAN PERLUASAN KEANGGOTAAN UNI EROPA

Perluasan keanggoataan atau enlargement4 merupakan kebijakan dalam Uni Eropa. Kebijakan ini memiliki peran penting dalam perkembangan Uni Eropa. Melalui enlargement ini Uni Eropa bertujuan untuk mencapai integrasi yang lebih mendalam. Uni Eropa yang membawa nilai-nilai perdamaian dan kebebasan, demokrasi, keadilan dan hukum, serta toleransi dan solidaritas, kini dengan 27 anggota dengan populasi lebih dari 500 juta orang, menjadi zona ekonomi yang paling besar di dunia. Pasar tunggal yang kini lebih luas seiring meluasnya wilayah Uni Eropa meningkatkan kesejahteraan, kemampuan berkompetisi, dan pengaruh Uni Eropa dibandingkan dengan bentuk aslinya, yakni EEC yang hanya beranggotakan enam negara dengan populasi masyarakatnya yang kurang dari 200 juta orang. Sejak tahun 1973, Uni Eropa telah melakukan enam tahap enlargement yang membawa 21 negara baru masuk menjadi bagian dari Uni Eropa. Berkaitan dengan penambahan anggota sebagai berikut:5

Tahun Negara-Negara

1957 Belgia, Perancis, Jerman, Italia, Luxemburg, Belanda

1973 Inggris, Irlandia, Denmark

1981 Yunani

1986 Spanyol, Portugal

1995 Austria, Swedia, Finlandia

2004 Ceko, Estonia, Siprus, Latvia, Lithuania, Hungaria,

4 Dikutip dari

http://ec.europa.eu/enlargement/the-policy/conditions-for-enlargement/index_en.htm 20 November 2014

5 Di kutip dari jurnal karya Eka Sari Handayani “Kegagalan Turki Menjadi

(7)

Malta, Polandia, Slovakia, Slovenia 2007 Romania, Bulgaria

Keanggotaaan uni Eropa terbuka bagi setiap Negara yang menjadi anggota dengan dua persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu pertama, Negara yang bersangkutan harus berada di benua Eropa dan kedua, Negara tersebut menerapkan prinsip-prinsip demokrasi, penegakan hukum, penghormatan HAM dan menjalanakan segala peraturan perundangan Uni Eropa (acquis communautaires). Setiap negara Eropa yang menghormati prinsip-prinsip kebebasan, demokrasi, menghormati hak asasi manusia dan kebebasan dasar, dan aturan hukum dapat mengajukan permohonan untuk menjadi anggota, sesuai dengan artikel 2 dan 49 dari The Treaty on European Union. Setelah mengajukan diri untuk menjadi kandidat anggota baru Uni Eropa, negara tersebut akan melalui suatu proses yang panjang dan ketat. Aplikasi permohonan untuk bergabung dengan Uni Eropa diserahkan kepada European Council, kemudian The European Commission akan memberikan pendapat resmi mengenai negara tersebut. Setelah mendapat pendapat dari The European Commission, European Council akan memutuskan apakah negara tersebut diterima menjadi negara kandidat anggota Uni Eropa atau tidak. Setelah disetujui, barulah negosiasi resmi antara negara kandidat dengan seluruh negara anggota Uni Eropa dapat dimulai. Proses ini tentu saja tidak berjalan begitu saja. Untuk menjadi negara kandidat anggota baru Uni Eropa, suatu negara harus memenuhi kriteria yang disebut sebagai Copenhagen Criteria yang disahkan oleh European Council pada tahun 1993 di Copenhaggen, Denmark. Secara garis besar, Copenhagen Criteria mengatur kewajiban negara calon anggota untuk memenuhi:6

1. Stalibitas institusi melalui pengaplikasian sistem pemerintahan demokratis;

6 Di kutip dari jurnal karya Eka Sari Handayani “Kegagalan Turki Menjadi

(8)

2. Pengaplikasian konsep the rule of law. Yang berarti tidak ada individu yang kebal hukum. Semua orang memiliki kedudukan yang setara di hadapan hukum, dapat diatur oleh dan atau dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku;

3. Menjunjung tinggi nilai-nilai penegakan Hak Asasi Manusia (HAM);

4. Menjamin perlindungan dan kesamaan hak bagi kaum minoritas;

5. Memiliki ekonomi yang terbuka serta pasar yang kompetitif. Terkait dengan tingginya tekanan oleh pasar dari dalam dan luar Uni Eropa;

6. Mendapat persetujuan dari negara anggota lain, terkait dengan prediksi bahwa calon negara anggota dapat menyesuaikan diri dengan institusi Uni Eropa serta mampu terintegrasi secara penuh baik dalam bidang ekonomi maupun politik.

Bila negara calon anggota dapat memenuhi kriteria di atas, maka ia dapat diterima sebagai anggota baru. Tujuan dibentuknya Copenhagen Criteria adalah untuk mengurangi kemungkinan permainan kepentingan dalam penerimaan calon anggota baru. Sebab kepentingan politik dapat mengganggu proses governance dalam Uni Eropa.7 Sebagai suatu organisasi supranasional

wajar saja apabila mekanisme Eropanisasi suatu negara masuk menjadi anggota Uni Eropa begitu ketat dan terstruktur dengan sistematis dan masif, karena apabila terjadi suatu kepentingan tersendiri dari salah satu negara anggota dampak yang ditimbulkan akan mejalar ke negara anggota lainnya bahkan seluruh Uni Eropa.

UPAYA TURKI MENJADI ANGGOTA UNI EROPA

(9)

eksternal Uni Eropa. Tahun 2004 Uni Eropa mengadopsi Pedoman Pembela Hak Asasi Manusia. Delegasi Uni Eropa dan Turki bersama-sama dengan misi diplomatik Uni Eropa di Turki telah mengadopsi Strategi Lokal Uni Eropa untuk Mendukung dan membela Pembela Hak Asasi Manusia di Turki. Uni Eropa menyediaan dukungan yang efektif kepada para pembela HAM serta pemantauan situasi pembela HAM di Turki. Dalam rangka strategi ini, pertemuan rutin berlangsung setiap tahun dengan misi Uni Eropa dan pembela HAM dan LSM, masalah HAM yang harus segera diselesaikan oleh Turki adalah masalah Kurdi, Armenia, dan Cyprus adalah masalah yang di hadapi pemerintah Turki terkait pelanggaran HAM, kekerasan dan kurangnya penghormatan kepada kaum minoritas, ini menjadi sorotan utama Uni Eropa agar Turki dapat lebih menegakkan demokrasi di negara tersebut, dan berikut hasil penelitian terkait upaya pemerintah Turki dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Pemerintahan memiliki tugas menata kembali sektor perekonomian, mengurangi hutang negara dan menerapkan perekonomian yang lebih berorientasi ekspor. Keberhasilan Erdogan dapat dilihat ketika Turki harus mengatasi krisis keuangannya sendiri. Kemampuan kompetisi perekonomian Turki yang kini tidak hanya mengandalkan pada sektorsektor tekstil dan produk garmen atau buah-buahan seperti dulu, kini mulai memasuki bidang industri otomotif, kimia dan mesin, besi dan baja. Turki telah membuktikan kemampuannya dalam kompetisi perekonomian. Uni eropa lalu melihat perkembangan ekonomi Turki yang begitu pesat dan dalam beberapa pertemuan membuat laporan yang berisi sebagai berikut:

“Turki telah membuat kemajuan besar dengan mengurangi ketidakseimbangan makroekonomi. Turki juga mampu mengatasi tekanan kompetitif dan kekuatan pasar Uni Eropa. Sejak pertengahan tahun 2004, Pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) meningkat dari 5,8% di tahun 2003 menjadi 8,9% pada 2004, dibantu oleh pertumbuhan konsumsi swasta yang kuat, yang didorong oleh suku bunga yang lebih rendah, peningkatan kredit konsumsi dan lonjakan investasi sektor mesin dan peralatan.”8

8 Dikutip dari

(10)

KENDALA TURKI BERGABUNG BERSAMA UNI EROPA

Kondisi politik dan ekonomi Turki memang selalu menjadi alasan kuat Uni Eropa untuk selalu menolak keanggotaan Turki. Ekonomi Turki yang jauh berbeda dengan negara-negara Uni Eropa lainnya dikhawatirkan akan menjadi suatu masalah bagi Uni Eropa dan menjadi beban bagi Uni Eropa di masa yang akan datang. Jika Turki diterima sebagai negara anggota Uni maka Turki berhak mendapatkan bantuan perekonomian dari negara-negara Uni Eropa melalui Regional Polcicy-nya. Selain itu, kondisi demokrasi Turki juga menjadi sorotan Uni Eropa, Turki dianggap belum mampu untuk menegakan demokratisasi di negaranya, hal ini ditandai dengan masih banyaknya pelanggaran HAM yang sering terjadi di negara tersebut. Kekuatan militer yang sangat dominan terhadap sipil di Turki dan metode militerisme yang kerap digunakan untuk menangani berbagai masalah yang terjadi di negara tersebut menjadi tolak ukur lemahnya demokrasi di Turki.9 Di sisi lain, Turki memiliki beberapa ancaman antara lain,

Turki memiliki populasi sebesar 74 Juta jiwa, hal ini akan membahayakan dan memberi ancaman bagi negara Uni Eropa yang memiliki populasi besar seperti Jerman dengan 80 Juta jiwa. Karena dalam Uni Eropa setiap hasil poling di tentukan berdasarkan jumlah populasi penduduk. Sehingga jika Turki bergabung dengan Uni Eropa akan menjadi halangan bagi negara besar dengan populasi yang kalah banyak dari Turki sebut saja Perancis sebesar (61 Juta penduduk) terancam.10 Salah satu syarat yang ditujukan Uni Eropa kepada Turki adalah

mengakui Republik Cyprus yang dikuasai Yunani. Konflik antara Turki, Yunani dan Cyprus jelas menjadi penghalang masuknya Turki kedalam Uni Eropa, Turki masih memiliki masalah politis dengan Uni Eropa yakni terkait dengan kasus Cyprus.11 Dari hambatan atau kendala yang telah tersirat di atas perlu kita sadari

bahwa Uni Eropa merasa khawatir yang berlebihan ketika Turki menjadi bagian anggota negara di Uni Eropa alasannya tidak lain adalah karena faktor agama,

9 Di kutip dari jurnal karya Eka Sari Handayani “Kegagalan Turki Menjadi

Anggota Tetap Uni Eropa”

10 Dikutip dari

(11)

sosial, budaya dan jumlah penduduk. Uni Eropa pun mengemukakan jauh lebih konkrit yakni dengan permasalahan di dalam pemerintahan Turki seperti permasalahan penegakkan HAM yang belum sempurna ditambah denga aturan hukum dianggap masih memberatkan wartawan, penulis, penerbit, politikus dan akademisi. Perlindungan kaum non-muslim yang dianggap kaum minoritas seperti kelompok Alevi, perempuan dan kaum Kurdi.

Dewan Komisi Uni Eropa mengkhawatirkan bahwa pemerimaan Turki sebagai anggota Uni Eropa aka menimbulkan perpecahan internal didalam oganisasi. Di tahun 2007 sebagaimana disampaikan oleh Presiden Komisi Uni EropaJose Manuel Baroso mengatakan bahwa Turki belum siap untuk bergabung kedalam Uni Eropa, “Tomorrow nor after the day tomorrow. ”Namun peluang Turki untuk masuk ke Uni Eropa masih sangat terbuka.”

PROSPEK TURKI BERGABUNG DALAM UNI EROPA DI MASA MENDATANG

(12)

banyak faktor, termasuk kemampuan menjanjikan ekonomi dan kedekatan geografis ke benua Eropa, sementara menjembatani Uni Eropa dan Timur Tengah. Eropa membutuhkan Turki karena tidak hanya berpengaruh terhadap perkembangan politik, ekonomi dan sosial budaya di benua Eropa, tetapi juga telah dipengaruhi oleh mereka. Untuk Turki, itu sangat penting bergabung dengan Uni Eropa sebagai keanggotaannya akan memungkinkan negara Turki untuk lebih menegaskan dirinya sebagai kekuatan regional yang bertanggung jawab. Keanggotaan Uni Eropa dianggap oleh Turki sebagai jalur untuk modernisasi negara dan masyarakat.12 Untuk opini publik Eropa, aset terbaik Turki adalah

untuk menunjukkan komitmen jelas untuk transformasi demokratis dan nilai-nilai Eropa. Kemajuan Turki dalam melaksanakan program reformasi mengesankan ditetapkan dalam perundingan aksesi akan memiliki dampak terbesar pada pendapat Eropa. Dalam upaya yang terus menerus di bangun oleh Turki dalam memenuhi persyaratan keanggotaan Uni Eropa, Turki masih memiliki hasrat untuk bergabung menjadi negara anggota Uni Eropa. Faktor yang menyokong tidak lain adalah adanya national interest yang ingin dicapai Turki sebagai negara yang telah berpindah haluan pada sistem pemerintahannya. Pengakuan dari beberapa oposisi negara anggota Uni Eropa diharapkan oleh Turki bisa mencair dengan membukakan pintu selebar-lebarnya untuk Turki mampu bergabung di Uni Eropa dimasa mendatang.

KESIMPULAN

Kegigihan Turki dalam upaya bergabung menjadi negara anggota di Uni Eropa sudah sepantasnya di berikan apresiasi oleh Uni Eropa. Dari awal Turki telah mempersiapkan segala syarat dari Uni Eropa seperti merubah haluan ideologi politik yang condong ke ideologi Barat semenjak runtuhnya kekaisaran Islam Ottoman yang digantikan dengan Republik Turki pada tahun 1923. Kemudian sistem pemerintahan mulai dibangun menjadi demokrasi walaupun belum sepenuhnya demokrasi itu di jalankan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintahan Turki. Hal itulah yang menjadi alasan Uni Eropa belum bisa

(13)

http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/656/jbptunikompp-gdl-membukakan pintu untuk Turki masuk menjadi negara anggotanya. Akan tetapi tidaklah menutup kemungkinan dimasa mendatang Uni Eropa bersikap mencair dan menerima Turki dengan permasalahan yang belum dapat di selesaikan. Peran Uni Eropa manakala suatu negara anggota mengalami kesulitan dalam penegakkan demokrasi seharusnya menjadi contoh yang baik untuk bisa memberikan jalan keluar dari permasalahan tersebut. Kita mengetahui bahwasanya Uni Eropa merupakan salah satu organisasi internasional yang bersifat integritas dan supranasional. Sorotan duniapun tak akan lepas ketika ada permasalah di Uni Eropa, dikarenakan UE merupakan organisasi internasional yang memiliki pengaruh kuat dalam gejolak dunia internasional. Akan tetapi, hambatan-hambatan yang diberikan Uni Eropa kepada Turki seolah-olah hanya untuk mengulur waktu dan berbasa-basi. Peran negara oposisi di Uni Eropa menjadi faktor dari Uni Eropa untuk tidak gegabah dalam Eropanisasi negara lain di kawasan Eropa. UE dalam pelaksanaan toleransi antarnegara pun cenderung dianggap masih perlu di perbaiki, melihat bahwa Yunani sebagai negara anggota UE sejak tahun 1981. Masih mengalami beberapa permasalahan dalam negeri, mengingat bahwa krisis di UE tidak lain adalah dampak krisis negara Yunani yang tidak mampu mengontrol pengeluaran dalam negeri yang menyebabkan awal resesi di Eropa. Tidak bermaksud membanding-bandingkan dengan negara lain, namun kita bisa menyadarinya sendiri. Turki memiliki tingkat yang sama dengan Yunani atas permasalahan yang dialami kedua negara tersebut. Yang menjadi faktor pertanyaan mendasar bagaimana sikap Uni Eropa dalam memperluas keanggotaan Uni Eropa. Atas dasar kriteria copenhagen atau ada faktor selain itu, apakah mungkin faktor agama, sosial, budaya sebenarnya menjadi fokus utama Uni Eropa dan negara oposisi. Hal ini membuktikan bahwa Uni Eropa masih tebang-pilih dalam penentuan keanggotaan Uni Eropa. Selain itu, diperkuat dengan ketakutan Uni Eropa dengan isu Islamophobia, yang memiliki pengaruh terhadap jalanan sistem pemerintahan Uni Eropa.

REFERENSI

(14)

McLaren, L. (2007). Explaining opposition to Turkish membership of the EU. European Union Politics, 8, 251-278.

Park, Bill. (2012). Modern Turkey: People, State and Foreign Policy in a Globalized World. 4. Turkey’s Europeanization: A journey without an arrival?.

Zurcher, Erik J. (2003). Sejarah Modern Turki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/656/jbptunikompp-gdl-adhiwardan-32756-12-unikom_a-v.pdf di akses pada 20 November 2014

http://ec.europa.eu/enlargement/the-policy/conditions-for

enlargement/index_en.htm di akses pada 20 November 2014

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat simpulkan bahwa pemerolehan kompetensi ekologis merupakan upaya dalam membangun karakter peserta didik agar mampu menjadi

Yang dimaksud dengan operasi ekonomis pembangkit thermal ialah proses pembagian atau penjadwalan beban total dari suatu sistem kepada masing-masing pusat

Perubahan peradaban biasanya dikaitkan dengan perubahan-perubahan elemen atau aspek yang lebih bersifat fisik, seperti transportasi, persenjataan, jenis-jenis bibit unggul yang

erbeda dengan orang yang hanya cerdas secara akademik semata me- reka belum tentu memahami kalimat sederhana tersebut. am yang leb · pen· gdariitu emuaial ebelum berup

(1999), indeks mitotik yang lebih dari 3 sel per lapang pandang, merupakan suatu indikator bahwa tumor tersebut adalah tumor yang ganas. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa

Adapun solusi yang digunakan oleh peneliti dalam memperbaiki kendala yang ada pada pembelajaran Kooperatif tipe TSTS yaitumemberikan penjelasan lagi tentang

 Adalah bagian dari sistem manajemen yang meliputi stuktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi

[r]