• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah pertanggungjawaban perdata bagi .

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah pertanggungjawaban perdata bagi ."

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PERTANGGUNG JAWABAN PERDATA BAGI PERUSAHAAN

PERTAMBANGAN ATAS PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP

BERDASARKAN KETENTUAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

NASIONAL

Disusun oleh:

1. Milah Sarmilah 8111416058 2. Lina Mustafidah 8111416076

FAKULTAS HUKUM

(2)

2017

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Pertanggungjawaban Perdata Bagi Perusahaan Pertambangan Atas Pencemaran Lingkungan Hidup Berdasarkan Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Nasional”.

Makalah ini kami susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang pertanggungjawaban perdata bagi perusahaan pertambangan yang melakukan pencemaran lingkungan hidup, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Untuk memperluas pengetahuan terkait berbagai bentuk pertanggung jawaban dari perusahaan pertambangan yang ada di Indonesia. Kami sebagai penyusun makalah menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, karna itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun sebagai pedoman dimasa mendatang. Maka penulis dengan penuh rasa syukur mempersembahkan makalah ini semoga bermanfaat untuk kita semua.

Semarang, 7 Oktober 2017

(3)

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ...1

Kata Pengantar ...2

Daftar Isi ...3

Daftar Kasus/Putusan...15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...4

B. Rumusan Masalah ...6

C. Metode Penulisan ...7

BAB II PEMBAHASAN A. Tanggung Jawab Perusahaan Terhadap Pencemaran Lingkungan 8 B. Upaya Penyelesaian Sengketa Pencemaran Lingkungan Yang Dilakukan Oleh Perusahaan...12

C. Contoh kasus sengketan pencemaran lingkungan dari perusahaan pertambangan dan penanganannya...15

BAB III KESIMPULAN...17

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Untuk itu lingkungan yang baik dan sehat merupakan suatu hak mutlak yang dikaruniakan bagi umat manusia untuk dinikmati.Karenanya hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat adalah sama bagi semua manusia bahkan mahluk hidup yang ada didunia.

Di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi dan hak konstitusional bagi setiap warga negara Indonesia. Oleh karena itu, negara, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk hidup lain.

Dalam ruang lingkup pertambangan yang menajadi objek utama yaitu tanah dan segala macam sumber daya tambang yang ada didalam tanah. Begitu tingginya nilai tanah dalam UUD 1945 salah satu pasal, yaitu pasal 33 telah jelas dinyatakan bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasi oleh negara dan untuk sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat...”. pengaturan yang mengatur secara khusus mengenai bidang keagrarian merupakan kekayaan alam memiliki fungsi yang sangat luas dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan manusia terlebih dari segi ekonomi.1

Sehubungan dengan hal di atas, perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan upaya manusia untuk brinteraksi dengan lingkungan guna mempertahankan kehidupan mencapai kesejahteraan dan kelestarian lingkungan. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan,

(5)

pengawasan dan penegakan hukum. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilakukan secara terpadu mencakup seluruh didang-bidang lingkungan hidup untuk berkelanjutan fungsi lingkungan hidup. Dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, tidak terlepas untuk dilakukan pembangunan yang sifatnya berkelanjutan untuk mencapai kesejahteraan rakyat.

Pembangunan berkelanjutan pada hakekatnya merupakan pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan pemenuhan hak generasi yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan manusia melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, efisien dan memperhatikan keberlangsungan pemanfaatannya baik untuk generasi masa kini, maupun yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan yang menempatkan lingkungan hidup sebagai bagianintegral dalam dinamika pembangunan nasional semakin mengkristal dalam realitas kehidupan bernegara

Menurut Pasal 1 ayat 3 UU-PPLH menjelaskan bahwa Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Pembangunan berkelanjutan menghendaki adanya pendistribusian hak-hak atas sumber daya alam dan lingkungan hidup secara adil baik bagi generasi saat ini, maupun masa datang. Konsep pembangunan berkelanjutan menghendaki pembangunan yang mengintegrasikan kepentingan ekonomi, sosial dan perlindungan daya dukung lingkungan secara seimbang dan berkeadilan. Proses Pembangunan berkelanjutan bertumpu pada faktor kondisi sumber daya alam, kualitas lingkungan dan kependudukan.Untuk itu upaya pembangunan berwawasan lingkungan perlu memuat ikhtiar pembangunan yang memelihara keutuhan dan fungsi tatanan lingkungan. Dan dalam proses pembanguna berkelanjutan ini, tidak terlepas dari akibat buruk terhadap lingkungan yaitu pencemaran atau perusakan lingkungan.

(6)

pembaharuan lingkungan. Hal ini tidak berarti bahwa perusahaan boleh mengabaikan tanggung jawab kepada stakeholders (pihak-pihak yang berkepentingan terhadap bisnis) lain. Dikutip dari jurnal internasional tentang pertambangan bahwa : Mining opponents in the United States say the 1872 law allows foreign companies to run roughshod over local residents and environmental protections.Another complaint is that local, state and federal government agencies don’t do enough to meaningfully regulate mining by foreign companies on public and private land. Colorado attorney Roger Flynn has spent his career opposing mines on behalf of local residents, Native American tribes, and environmental

groups across the American west. Flynn notes that80 because the 1872 law severely restricts the U.S. government’s “right to say no” to mining on public land, opponents are often relegated to trying to delay the approval process in hopes foreign mining companies will eventually decide that mining is uneconomical.2

Tanggung jawab perusahaan terhadap stakeholders harus seimbang dalam arti tidak menganakemaskan salah satu pihak tertentu. Pencemaran lingkungan oleh perusahaan dapat terjadi pada udara, air dan tanah yang semuanya itu merupakan bagian pokok dimana manusia itu hidup. Oleh karena itu setiap peembangunan berkaitan langsung dengan lingkungan yang merupakan wadah pembangunan yang oleh karena proses pembangunan tersebut

Korporasi atau perusahaan merupakan badan usaha atau badan hukum yang dalam proses produksinya berhubungan langsung dengan lingkungan. Untuk itu kemungkinan besar dalam proses produksinya dapat mengakibatkan pencemaran atau perusakan lingkungan. Oleh karena itu, pencemaran dan

(7)

perusakan lingkungan tersebut tentu sangat merugikan masyarakat yang tinggal disekitarnya.

Pencemaran lingkungan hidup dari perusahaan pertambangan tentu sangatlah merugikan baik dari segi materil maupun immateril. Pencemaran atau perusakan lingkungan tersebut merupakan suatu perbuatan melawan hukum karena perbuatan tersebut merugikan, melanggar undang-undang serta melanggar kepentingan umum. Tentunya setiap perbuatan yang merugikan orang lain tersebut haruslah dipertanggung jawabkan oleh pelaku pencemaran atau perusakan lingkungan. Pertanggung jawaban tersebut dapat diberikan kepada siapa saja yang mengalami dampak akibat pencemaran yang dilakukan oleh perusahaan. Pertanggung jawaban perusahaan berupa pertanggung jawaban perdata, pidana maupun administrasi dan harus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah :

1. BagaimanaTanggung Jawab Perusahaan Terhadap Pencemaran Lingkungan?

2. Bagaiman upaya penyelesaian sengketa pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan ?

3. Contoh kasus sengketan pencemaran lingkungan dari perusahaan pertambangan dan penanganannya?

C. METODE PENULISAN

Penulisan ini bersifat Yuridis Normatif, oleh karena didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu dengan tujuan mempelajari suatu atau beberapa gejala hukum tertentu dan menganalisisnya. Adapun yang menjadi metode-metode dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Pengumpulan Data

(8)

a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat seperti Undang-Undang Dasar atau Norma dasar, Peraturan Perundang-Undangan, Yurisprudensi, Traktat.

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti literatur-literatur rancangan Undang-Undang, hasil-hasil penelitian, hasil-hasil karya tulis, serta makalah-makalah

2. Metode Pengolahan Dan Analisis Data

(9)

BAB II PEMBAHASAN

A. Tanggung Jawab Perusahaan Terhadap Pencemaran Lingkungan

Suatu perusahaan yang menjalankan usahanya di lingkungan

Dalam hal terjadi pencemaran lingkungan oleh perusahaan, perusahaan harus mampu bertanggug jawab, oleh karena itu secara garis besar penulis mengklasifikasikan prinsip tanggung jawab suatu perusahaan terhadap pencemaran lingungan yaitu mengenai prinsip tanggung jawab sosial perusahaan, prinsip tanggung jawab hukum, dan politik tanggung jawab administrasi (politik) Secara keseluruhan tanggung jawab tersebut secara lebih jelas akan dijelaskan melalui tanggung jawab-tanggung jawab

Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau kegiatannya menggunakan menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan (principle strict liability). Dan dalam prinsip tanggung jawab social dikenal juga prinsip tanggung gugat oleh perusahaan akibat pencemaran lingkungan.

Untuk menentukan suatu perbuatan perlu diterapakan strict liability, perlu diperhatikan hal-hal berikut :

a. Perlunya ditaati suatu peraturan mengenai kesejahteraan masyarakat b. Pembuktian kesalahan ( mensrea) sangat sulit

(10)

c. Tinggginya kadar bahaya sosial akan membenarkan penginterprestasian (setreat liability). 4

Melihat keseluruhan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam UUPPLH, penulis mengkualifikasikan mengenai pertanggungjawaban perusahaan umumnya yaitu pertanggungjwaban perdata, pertanggungjawaban pidana dan pertanggungjawaban administrasi. Tapi yang dibahas dalam makalah ini adalah pertanggungjawaban perdata bagi perusahaan pertambangan.

a. Tanggung Jawab Perdata.

Menurut Pasal Pasal 1 ayat (5) PERMEN No 13 tahun 2011 tentang Ganti Rugi Terhadap Pencemaran Dan/atau Kerusakan Lingkungan, Ganti kerugian adalah biaya yang harus ditanggung oleh penanggung jawab kegiatan dan/atau usaha akibat terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan. Korban pencemaran lingkungan mempunyai hak “ atas lingkungan hidup yang baik dan sehat” sebagai mana telah dirumuskan dalam pasal 65 ayat 1 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009. Atas dasar tersebut maka korban pencemaran dapat menuntut pihak pencemar atas ganti rugi5

Menurut Pasal 87 ayat (1) Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup(UUPPLH):

“Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup wajib membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu.”

Di dalam hukum perdata megatur tentang ganti rugi akibat perbuatan melawan hukum. Yang dimaksud dengan perbuatan melanggar hukum adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh salah satu pihak atau lebih telah merugikan pihak lain. Perbuatan melanggar hukum yang dilakukan salah satu pihak atau lebih baik itu dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja sudah barang tentu akan merugikan pihak lain yang haknya telah dilanggar (Pasal 1365 BW).

Yang dimaksud dengan perbuatan melanggar hukum menurut Pasal 1365 KUH Perdata, adalah “tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan yang karena kesalahannya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”. perbuatan melawan

(11)

hukum merupakan suatu perbuatan yang melanggar Undang-undang, kesusilaan, kepentingan umum, dan kepatutan.

Untuk itu setiap orang atau badan usaha yang melakukan perbuatan melawan hukum (pencemaran lingkungan) harus bertangung jawab atas kerugian yang dialami oleh masyarakat ataupun pemerintah serta pihak lainya. Pertanggung jawaban tersebut berupa pertanggungjawaban perdata, pidana dan adminisrasi. Untuk itu mengenai pemberian ganti rugi atau kompensasi yaitu berkaitan dengan tanggungjawab keperdataan dengan dasar suatu perbuatan melawan hukum.

Selanjutnya dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 tahun 12 Tentang Ganti Rugi Terhadap Pencemaran Dan/atau Kerusakan Lingkungan menjelaskan hal-hal mengenai ganti rugi adalah sebagai berikut:

Pasal 3

Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau masyarakat dan/atau lingkungan hidup atau negara wajib:

a. melakukan tindakan tertentu; dan/atau b. membayar ganti kerugian.

Pasal 4

Kewajiban melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi:

a. pencegahan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup;

b. penanggulangan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; dan/atau

c. pemulihan fungsi lingkungan hidup. Pasal 5

(1) Kerugian lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b meliputi:

a. kerugian karena tidak dilaksanakannya kewajiban pengolahan air limbah, emisi, dan/atau pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun;

b. kerugian untuk pengganti biaya penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta pemulihan lingkungan hidup;

(12)

d. kerugian akibat hilangnya keanekaragaman hayati dan menurunnya fungsi huruf d merupakan kerugian yang bersifat tetap.

(4) Kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan kerugian yang bersifat tidak tetap.

Menurut N.H.T. Siahaan dalam bukunya Pokok-Pokok Hukum Perikatan bukunya Hukum Lingkungan dan Ekologi mengatakan sejak 1919 (HR 31-1-1919, Pembangunan mengatakan : asas RJ 31-1-1919, 161; Lindenbaum/ Cohen) yang pertanggungjawaban secara kesalahan diartikan dengan perbuatan melanggar (fault) didasarkan pada adagium bahwa hukum adalah berbuat atau tidak berbuat tidak ada pertanggungjawaban apabila yang (1) melanggar hak orang lain; atau tidak terdapat unsur kesalahan (No Liability Without Fault). unsur persetujuan atau kata sepakat dan Pertanggungjawaban demikian, tidak ada causa yang diperbolehkan menurut ilmu hukum disebut dengan sebagaimana yang terdapat alam Tortious Liability” atau “Liability Based kontrak. On Fault” (N.H.T. Siahaan : 2004 : 307). Adapun unsur-unsur pasal 1365 tahun 1919 telah ditafsirkan dengan KUHPerdata tentang perbuatan seluas-luasnya yang dikenal dengan melanggar hukum (Onrechtsmatige, daad) adalah :

a. adanya perbuatan yang harus bersifat melawan hukum b. adanya kesalahan pada diri pembuat atau pelaku

c. adanya kerugian bagi korban dan dengan kewajiban hukum si pelaku

d. adanya hubungan kausalitas antara perbuatan yang bersifat dengan kesusilaan (geode zeden) melawan hukum dengan kerugian.

(13)

kewajiban hukum untuk berbuat, kewajiban mana timbul dari hukum yang berlaku, sebab ada pula kewajiban yang timbul dari suatu kontrak.6

Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan (perusahaan/badan hukum) yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan dianggap sebagai Perbuatan Melawan Hukum. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tersebut memiliki tanggung jawab untuk mengganti kerugian yang ditimbulkan, sejauh terbukti telah melakukan perbuatan pencemaran dan/atau perusakan. Pembuktian tersebut baik itu nyata adanya hubungan kausal antara kesalahan dengan kerugian (liability based on faults) maupun tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan (liability without faults/strict liability) (Pasal 88 UUPPLH).

Bagi pihak yang merasa dirugikan terhadap pencemaran akibat usaha industri, dapat mengadukan atau menyampaikan informasi secara lisan maupun tulisan kepada instansi yang bertanggung jawab, mengenai dugaan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan/atau pasca pelaksanaan sebagaimana yang telah diatur secara rinci dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pengaduan dan Penanganan Pengaduan Akibat Dugaan Pencemaran dan/atau Perusakan Lingklungan Hidup.

Untuk pemberian ganti rugi dapat dilakukan setelah adanya putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.Pemberian ganti rugi dapat dimintakan melalui pengajuan gugatan (dalam Petitum) ke pengadilan.Putusan hakim memuliki kekuatan mengikat, kekuatan pembuktian, kekuatan eksekutorial.Untuk itu putusan hakim memiliki kekuatan eksekutorial dimana putusan tersebut dapat dijalankan apabila telah memiliki kekuatan hukum tetap.kekuatan eksekutorial yaitu kekuatan untuk dilaksanakan apa-apa yang ditetapkan dalam putusan itu secara paksa oleh alat-alat Negara terhadap pelaku usaha atau perusahaan yang tealah melakukan pencemaran lingkungan.

B. Upaya Penyelesaian Sengketa Pencemaran Lingkungan Yang Dilakukan Oleh Perusahaan.

(14)

Permasalahan lingkungan hidup berkembang dengan cepat ditandai dengan kegiatan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup yang sangat terkait erat dengan perkembangan kemajuan teknologi yang menjadi kunci utama dari kesuksesan kegiatan pembangunan nasional multi aspek. Akses kemajuan tenologi memberi dampak, tidak hanya positif tetapi juga dampak negatif, khususnya bagi pelestarian lingkungan hidup.

Dengan terjadinya pencemaran lingkungan tersebut, tentunya menimbulkan dampak buruk bagi kelangsungan kehidupan manusia atau masyarakan sekitarnya. Biasanya pencemaran lingkungan terjadi akibat proses produksi suatu perusahaan. Oleh karena itu tentunya setiap masyarakat yang mengalami dampak akibat pencemaran lingkungan itu mengajukan suatu keberatan bahkan tuntutan kepada suatu perusahaan itu dengan dampak negatif itu yang membuat ketidak nyamanan pada keadaan lingkungan sekitar.

Sengketa pencemaran lingkungan merupakan suatu sengketa yang terjadi akibat dari suatu proses produksi dari suatu perusahaan. Biasanya sengketa terjadi apabila salah satu pihak mengajukan keberatan ataupun tuntutan kepada suatu perusahaan agar kiranya bertanggungjawab atas pencemaran yang dilakukannya itu. Indonesia merupakan suatu Negara hukum yang prosedur segala sesuatunya diatur dalam suatu peraturan-peraturan tertentu, termasuk peraturan mengenai mekanisme, serta upaya penyelesaian sengketa pencemaran lingkungan baik yang dilakukan perorangan baik suatu korporasi atau perusahaan.

Menurut Pasal 1 angka (25) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menjelaskan bahwa “Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang timbul dari kegiatan yang berpotensi dan/atau telah berdampak pada lingkungan hidup.”

(15)

pengadilan dilakukan melalui arbitrase dan musyawarah yaitu negosiasi, mediasi, dan konsiliasi sesuai pilihan hukum berupa kesepakatan dan bersifat pacta sunt servanda bagi para pihak.

Upaya penyelesaian sengketa erat sekali hubungannya dengan suatu penegakakn hukum (hukum lingkungan).Penegakan hukum mempunyai makna, bagaimana hukum itu harus dilaksanakan, sehingga dalam penegakan hukum tersebut harus diperhatikan unsur-unsur kepastian hukum, kemanfaatan hukum, dan keadilan. Dalam proses penyelesaian perkara di pengadilan, mengakibatkan kerugian dan penderitaan. Tujuan penyelesaian sengketa lingkungan melalui peradilan umum (perdata) hanyalah untuk memperoleh ganti rugi atas pencemaran ataupun perusakan lingkungan.

Dalam sistim hukum perdata pembuktian dibebankan kepada pihak yang menderita (yang dirugikan), pembuktian kesalahan darisuatu perbuatan menjadi semakain pelik dan akibatnya, tidak jarang membuat korban sudah jatuh ditimpa tangga dengan pengertian bahwa korban untuk dapat membuktikan hal itu sangat sulit karena ia tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang hal itu, sehingga banyak tanggung jawab perdata atau tanggung gugat perdata tidak diatur secara khusus dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985, namun tanggung jawab perdata kini telah diatur dalam Pasal 80 Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 1365 KUH Perdata dan pasal 20 Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, tentang ketentuan pokok lingkungan hidup jo pasal 34 sampai dengan pasal 35 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.7

Mekanisme penyelesaian sengketa pencemaran lingkungan melalui peradilan umum (perdata) yaitu Mengajugakan Gugatan Ke Pengadilan.Surat gugatan pada dasarnya berisi dan berpedoman pada Pasal 8 No. 3 BRv : apa

7 Ridwan rangkuti, “Pertanggungjawaban Korporasi Terhadap Tindak Pidana Lingkungan Hidup Menurut Undang–

(16)

yang dituntut kepada tergugat, dasar-dasar tuntutan dan bahwa tuntutan tersebut harus jelas (terang) dan tertentu :

- POSITA ialah : Dasar gugatan/de middelen van de eis (Fundamentum petendi).

- PETITUM ialah : Hal-hal apa saja yang dituntut/ onderwerp (voorwerp) van de eis (pokok tuntutan).

Setelah surat gugatan diterima, hakim memanggil kedua belah pihak yang bersengketa untuk hadir dalam sidang pengadilan, setelah penggugat membacakan gugatannya, hakim memberikan kesempatan kepada tergugat untuk membacakan jawaban gugatannya. Pada umumnya atas adanya gugatan penggugat maka pada permulaan beracara menjawab dan jawaban dapat berupa Pengakuan Seluruh atau sebagian dalil-dalil gugatan, Referte :Tidak membantah atau membenarkan gugatan, jadi terserah kepada hakim , menyerahkan saja pada putusan hakim, Menyangkal/bantahan (verweer) , Eksepsi, Ten principale. Replik dan Duplik :

Namun pengajuan gugatan perdata sebagai sarana penegakan hukum oleh penguasa atau pemerintah terbatas pada situasi bilamana penegak hukum administrasi tidak memadai, sehingga pada kenyataannya pendayagunaan gugatan perdata sebagai sarana penegakan hukum lingkungan oleh badan pemerintah dibelanda yang bersumber dari BW sangat jarang terjadi.8 Dari berbagai pengaduan dan gugatan kasusu-kasus pencemaran maupun kerusakan lingkungan ditemukan berbagai penyebab terhambatnya penyelesaian sengketa lingkungan sebagai berikut :

1. Tidak terdapatnya kelembagaan khusus terutama di tingkat pemerintah daerah yang memiliki mandat untuk menerima dan menindak lanjuti pengaduan masyarakat terhadap kasus-kasus lingkungan.

2. Tidak adanya prosedur-prosedur serta mekanisme pengaduan, penelitian dan penuntutan ganti kerugian dalam kasus pencemaran dan perusakan lingkungan.

3. Tidak adanya wadah penyedia jasa pelayanan sengketa diluar pengadilan melalui mediasi, konsolidasi atau arbitrase.

(17)

4. Keterbatasan akses masyarakat korban maupun kelompok kepentingan organisasi lingkungan kelembaga pengadilan.9

C. Contoh kasus sengketan pencemaran lingkungan dari perusahaan pertambangan dan penanganannya

Pencemaran Teluk Buyat

Pencemaran dan Dampak akibat kegiatan penambangan PT. NMR terjadi mulai tahun 1996–1997 dengan 2000-5000 kubik ton limbah setiap hari di buang oleh PT. NMR ke perairan di Teluk buyatyang di mulai sejak Maret 1996. Menurut PT. NMR, buangan limbah tersebut, terbungkus lapisan termoklin pada kedalaman 82 meter. Nelayan setempat sangat memprotes buangan limbah tersebut. Apalagi diakhir Juli 1996, nelayan mendapati puluhan bangkai ikan mati mengapung dan terdampar di pantai. Kematian misterius ikan-ikan ini berlangsung sampai Oktober 1996. Kasus ini terulang pada bulan juli 1997. Kematian ikan-ikan yang mati misterius ini, oleh beberapa nelayan dan aktivis LSM di bawa ke laboratorium Universitas Sam Ratulangi Manado dan Laboratorium Balai Kesehatan Manado, tetapi kedua laboratorium tersebut menolak untuk meneliti penyebab kematian ikan-ikan tersebut. Hal yang sama PT. NMR berjanji untuk membawa contoh ikan mati tersebut ke Bogor dan Australia untuk diteliti tetapi dalam kenyataannya penyebab kematian dan terapungnya ratusan ikan tersebut belum pernah di sampaikan pada masyarakat. Padahal PT. NMR sendiri, mulai melakukan analisis dalam daging dan hati beberapa jenis ikan di Teluk buyatsejak 1 November 1995. Ini rutin tercatat setiap bulannya. Kemudian pada tanggal 19 juni 2004, Yayasan Suara Nurani (YSN) dengan dr. Jane Pangemanan, Msi bersama-sama dengan 8 mahasiswa Pasca Sarjana Kedokteran jurusan Kesehatan Masyarakat melalui Program Perempuan, melaksanakan kegiatan program pengobatan gratis untuk warga korban tambang khususnya di Buyat pante (Lakban) Ratatotok Timur Kab. Minahasa Selatan, dan dari hasil pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa 93 orang yang diteliti menunjukkan keluhan atau penyakit yang diderita seperti sakit kepala, batuk, beringus, demam, gangguan daya ingat, sakit perut, sakit

(18)

maag, sesak napas, gatal-gatal dan lain-lain. Diagnosa yang disimpulkan oleh dr Jane Pangemanan, adalah warga Buyat Pantai menderita keracunan logam berat. Keracunan yang di derita warga desa Buyat Pantai ini, ternyata sudah dibuktikan oleh penelitian seorang Dosen Fakultas Perikanan Ir. Markus Lasut MSc, dimana pada bulan Februari 2004, dari hasil penelitian terhadap 25 orang (dengan mengambil rambut warga) terbukti bahwa, 25 orang tersebut sudah ada kontaminasi merkuri dalam tubuh mereka. Polemik tentang Penyakit akibat limbah NMR ini berkembang menjadi tajam, karena pihak Pemerintah dan Dinas Kesehatan terang-terangan membela PT. NMR dengan mengatakan tidak ada pencemaran.

(19)
(20)

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 84 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, mengkalisikasikan tanggung jawab perusahaan terhadap pencemaran lingkungan yaitu tanggung jawab keperdataan (ganti rugi), tanggung jawab administrasi (pencabutan izin usaha, pembekuan izin lingkungan, teguran tertulis, dan paksaan pemerintah) serta pertanggung jawaban kepidanaan (penutupan kegiatan usaha, perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; perbaikan akibat tindak pidana; pewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/ataupenempatan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 3 (tiga) tahun.) serta secara umum yaitu pidana penjara dan denda bagi pelaku usaha ataupun terhadap atasan yang memberikan perintah

(21)

DAFTAR PUSTAKA BUKU :

1. Hamzah, Andi, 2005, Penegakan Hukum Lingkungan, Jakarta, Sinar Grafika.

2. Supriadi, 2005, Hukum Lingkungan di Indonesia Sebuah Pengantar, Jakarta, Sinar Grafika.

3. Muhdjat, Hadin, 2015, Hukum Lingkungan Sebuah Pengantar Untuk Konteks Indonesia, Banjarmasin, Genta Publishing.

4. Rahmadi, Takdir, 2015, Hukum Lingkungan di Indonesia, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.

JURNAL :

1. Rangkuti, Ridwan, 2014, Pertanggungjawaban Korporasi Terhadap Tindak Pidana Lingkungan Hidup Menurut Undang–Undang Nomor 23 Tahun 1997, Jurnal Justitia , Vol. 1 No. 03.

2. Patrianto, Bangun, 2005, Tinjauan Yuridis Pertanggung jawaban Pidana Pencemar Lingkungan Hidup, jurnal prespektif , Vol. 10, No. 3.

3. Suhadi, Wahanisa, Rofi, 2011, Tinjauan Yuridis Normatif Sebagai Peraturan Tentang Alih Fungsi Tanah Pertanian di Indonesia, Jurnal Pandecta, Vol.6, No.1.

Referensi

Dokumen terkait

Konsep pengembangan tanggung jawab pelaku usaha terhadap kerugian akibat perbuatan melawan hukum dalam pelaksanaan perjanjian e-Logistics sebagai upaya pengembangan logistik

Ganti kerugian dan pemulihan lingkungan dilakukan dengan cara yaitu setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa

(1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup,

Tanggung jawab hukum produsen sebagai pelaku usaha terhadap konsumen akibat perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian bagi konsumen menurut Undang-Undang Nomor

Tanggung Jawab MutlakSetiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan

(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan

Konsepsi perbuatan melawan hukum di Indonesia didasarkan pada Pasal 1365 KUHPerdata yang berbunyi Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan

Surat gugatan Penggugat telah memuat petitum gugatan, yang mana pada pokoknya surat gugatan Penggugat adalah berkaitan dengan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat karena