LAEC UNNES
INTERNALISASI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DAN PENDIDIKAN POLITIK MELALUI TEKNOLOGI “CERIA” PADA ANAK SEKOLAH
DASAR
Diusulkan oleh:
(Ulul Mukmin, 3301411135, 2011)
(Erman Istanto, 3301412006, 2012)
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
LEMBAR ORISINALITAS LAEC UNNES 2013
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Ketua : Uul Mukmin
Asal Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang
NIM : 3301411135
Alamat : Jln. H. Ikhsan Desa Timbangreja RT 06 RW 05
iiiKecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal
Dengan ini menyatakan bahwa esai dengan judul “Internalisasi Pendidikan Anti Korupsi Dan Pendidikan Politik Melalui Teknologi “Ceria” Pada Anak Sekolah Dasar” yang diikutkan dalam lomba LAEC nnes 2013 adalah karya orisinil dan esai tersebut belum pernah masuk final atau memenangkan dalam perlombaan sejenis dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Jika menyalahi aturan, karya kami berhak didiskualifikasi oleh perlombaan tersebut.
Semarang, 5 November 2013 Mengetetahui,
Pembimbing Yang membuat pernyataan
(Andi Suhardiyanto, S.Pd, M.Si.) (Ulul Mukmin)
INTERNALISASI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DAN PENDIDIKAN POLITIK MELALUI TEKNOLOGI “CERIA” PADA ANAK SEKOLAH
DASAR
PENDAHULUAN
Secara yuridis formal Pendidikan Nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memiliki fungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh sebab itu, pembentukan watak warga negara menjadi hal penting dalam dunia pendidikan. Hal ini sebagaimana tujuan yang di emban oleh Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik. Menurut Handoyo (2009: 33) setidaknya terdapat 3 tujuan anti korupsi pertama, pembentukan pengetahuan dan pemahaman mengenai berbagai bentuk korupsi dan aspek-aspeknya; kedua, perubahan sikap dan dan persepsi terhadap korupsi; ketiga, pembentukan keterampilan dan kecakapan baru yang dibutuhkan untuk melawan korupsi. Disisi lain, Sebagaimana pendapat yang pernah dilontarkan oleh Ruslan (2000: 7) menyatakan bahwa pendidikan politik itu merupakan upaya untuk menyiapkan kader bangsa dalam menghadapi persoalan sosial dalam medan kehidupan dalam bentuk atensi dan pertisipasi, menyiapkan mereka untuk mengembangkan tanggung jawab, dan memberi kesempatan yang memungkinkan untuk mereka menunaikan hak dan kewajibannya1. Harapan dan cita-cita besar
begitu jelas bawasannya melalui Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik diharapkan mampu menciptakan Indonesia yang kuat dan bersih dengan karakter unggulnya.
Namun, apabila kita mencermati perjalanan hidup bangsa Indonesia beberapa dekade terakhir ini, begitu nampak bahwa tengah terjadi turbulensi moralitas dalam kehidupan sosial-kultural yang kemudian mengendap dan menyebabkan sebagian besar dari masyarakat cenderung berpikir apatis dan pragmatis terhadap permasalahan bangsa. Sudah barang pasti hal ini disebabkan oleh potret kehidupan politik Indonesia yang cenderung terintervensi oleh “tangan-tangan elit politik” yang semakin jauh dari komitmen dan konsensus reformasi. Hal ini senada dengan pendapat yang dilontarkan oleh Soegeng Koesman dalam buku Membangun Karakter Bangsa: Carut-marut dan Centang Perentang Krisis Multi Dimensi di Era Reformasi, menyatakan bahwa citra politik telah bergeser dari Idealisme menjadi politik kepentingan, politik merebut kekuasaan. Disisi lain Handoyo mengungkapkan faktor politik merupakan salah satu yang menyebabkan terjadinya korupsi, karena banyak peristiwa politik yang dipengaruhi oleh money politic. Lebih lanjut, Terrence Gomez (1994) melontarkan pendapat bahwa money politik merupakan use of money and material benefits in the persuit of political influence2. Dengan merujuk pada serangkain pendapat
diatas, penulis tidak menyangkal bahwa persoalan korupsi yang terjadi di Indonesia di sebabkan oleh faktor politik sebagai penyebab utama yang telah menjadi keniscayaan.
Merujuk pada data terkahir yang dilansir oleh Indonesian Corruption Watch menunjukan bahwa perkembangan pemeberantasan korupsi di Indonesia belum dapat menemukan hasil yang maksimal, karena Indonesia masih termasuk dalam jajaran negara yang dipersepsikan terkorup, dengan skor IPK 3 dari 10. Indonesia menempati peringkat ke-100 dari 183 negara, dimana skor tersebut sejajar dengan Argentina, Djibouti, Gabon, Madgaskar, Malawi, Meksiko, Suriname, dan Tanzania3. Menyingkap lebih dalam mengenai hal ini, korupsi bisa
dikatakan telah menjadi suatu keniscayaan dari berbagai faktor kebrutalan “bandit-bandit terpelajar” di Indonesia, lebih dalam dari itu korupsi merupakan tindakan immoral yang memiliki daya rusak yang luar biasa dalam tatanan
2 Cermati, Handoyo, Eko, Pendidikan Anti Korupsi (Semarang: Fakultas Ilmu Sosial Unnes Press,
2010), hal 53
kehidupan sosial bermasyarakat. Dalam prespektif ekonomi politik, korupsi merupakan kejahatan yang secara langsung menggerogoti sendi-sendi bangunan ekonomi dan politik suatu bangsa (Sudjana 2008:89). Sedangkan Eko Handoyo dalam buku Pendidikan Anti Korupsi melontarkan pandangan bahwa eksistensi korupsi di Indonesia bertalian dengan system dan kultur yang tidak memberikan ruang gerak yang cukup bagi upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi. Penulis sendiri beranggapan bahwa rasa-rasanya korupsi telah menjadi penyakit yang menggurita di tingkat lembaga negara.
Berangkat dari pernyataan diatas, menunjukan bahwa diperlukan pembangunan sumber daya manusia secara komprehensif-integral yang harus dilakukan oleh semua pihak, dan salah satunya ialah melalui pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu indikator utama pembangunan kualitas sumber daya manusia. Dari pandangan tersebut, berbagai tantangan dan ancaman korupsi setidak-tidaknya mampu di reduksi bahkan dibumi hanguskan dengan upaya pendidikan yaitu diantaranya ialah melalui internalisasi atau penghayatan Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik sejak dini. Secara kontektual, manifestasi dari tawaran solutif tersebut ialah mampu diupayakan sebagai langkah inovatif dan preventif untuk membangun generasi unggul dengan karakter anti korupsi yang kuat. Sebagaimana menurut Ali Mustadi menyatakan bahwa pendidikan tak cukup hanya untuk membuat anak pandai, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai-nilai luhur atau karakter bangsa, oleh karena itu, penanaman nilai-nilai luhur atau karakter harus dilakukan atau dimulai sejak dini4.
Mengingat Lebih lanjut Menurut Piaget usia anak sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya5. Sehingga dalam jangka panjang
sebagaimana pendapat yang dilontarkan oleh Muhammad Takdir Ilahi dalam buku Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa: Paradigma Pembangunan dan
4 Coba baca dan cermati Mustadi, Ali, Pendidikan Karakter Berwawasan Sosiokultural
(Sociocultural Based Character Education) di Sekolah Dasar, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/7%20Artikel-Pendidikan%20Karakter
%20Berwawasan%20Sosio-kultural-Terbit%20Majalah%20Dinamika%20Pendidikan-2011.pdf, diunduh pada tanggal 4 November 2013
5 Afandi, Rizki, Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, Jurnal
Kemandirian bangsa pendidikan menjadi tonggak determinasi dalam menopang kemajuan suatu bangsa, terlebih-lebih generasi yang ada di dalamnya.
Bertolak dari berbagai pemikiran dan problematika di atas, penulis memiliki tawaran solutif dalam mewujudkan Indonesia anti korupsi yaitu melalui internalisasi (penghayatan) Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik pada siswa sekolah dasar melalui teknologi Ceria (Cerdas-Inovatif-Arif)6. Teknologi
Ceria (Cerdas-Inovatif-Arif) merupakan gambaran teknologi yang mampu diterapkan dalam internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik guna mencapai tujuan praktis terwujudnya Indonesia Anti Korupsi. Oleh sebab itu, Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik harus segera digiatkan yang mana hal ini merupakan ekualitas kita bersama karena korupsi dan penyimpangan politik dengan kejahatan sistematisnya hanya mampu diatasi dan dibumi hanguskan melalui dedication of life para generasi yang berdaya juang tinggi dengan karakter dan idealismenya keunggulannya.
PEMBAHASAN
Internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik
Berbagai rentetan kasus tidakan politik yang menyimpang dengan corruption culture yang sudah mengakar kini tengah menjakiti bangsa Indonesia sehingga penting kaitannya dalam merubah paradigma lebih kepada keinginan (will) kita ingin tetap bertahan dan diam atau melawan. Upaya yang diperlukan sekarang ialah membuat suatu gebrakan-gebrakan penting yang berbentuk direct of change dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang salah satunya yakni melalui internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik. Sebelum beranjak lebih jauh, kita harus menentukan scope dan sequence internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik terlebih dahulu dalam upaya memperjelas tujuan dan fokus pembahasan. Aristoteles jauh-jauh hari pernah
6 Ceria (Cerdas-Inovatif-Arif) merupakan gagasan teknologi yang diusung oleh Fakultas Ilmu
berkata bahwa manusia merupakan zoon politikon (makhluk sosial atau makhluk politik)7. Kemudian, disusul pandangan Merriam Budihardjo (2008) menyatakan
bahwa politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik. Merujuk dua pandangan diatas penulis menguraikan bahwa politik merupakan suatu keniscayaan yang akan dihadapi oleh setiap manusia tanpa terkecuali guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Sebagaimana diungkapkan dimuka sebagai faktor utama penyebab korupsi di Indonesia faktor politik, maka diperlukan pemahaman mendalam (deep understanding) mengenai Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik dari setiap elemen masyarakat sejak dini.
Uraian singkat di atas menunjukan bahwa penting kaitannya Pemahaman mengenai apa sajakah yang perlu diinternalisasikan melalui Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik. Sebab tanpa hal itu penanaman nilai-nilai anti korupsi dan nilai-nilai etika politik yang bersih akan menjadi hal yang diidamkan semata, yang sudah barang pasti nilai-nilai terebut harus kita realisasikan dalam tataran praksis kehidupan. Pertama, sebagaimana diungkapkan dalam Dalam Diktat Pendidikan Generasi Muda dan Kepramukaan yang dikeluarkan oleh jurusan Politik dan Kewarganegaraan disebutkan bahwa Inti dari Pendidikan Politik adalah pemahaman politik dan aspek-aspek politis dari setiap permasalahan. Lebih lanjut, menurut Cecep Darmawan8 (2011) pendidikan politik
adalah sebuah upaya pembangunan karakter bangsa (nation character) yang akan dipersiapkan untuk masa depan. Sehingga lewat internalisasi (penghayatan) Pendidikan Politik diharapkan mampu menciptakan kader-kader bangsa yang memahami aspek-aspek politis dari setiap permasalahan.
Kedua, Hal ini inheren dengan focus Interest dari Pendidikan Anti Korupsi yakni, fokus awal dari Pendidikan Anti Korupsi adalah siswa menghayati dan memahami nilai moral, dan membentuk prilaku hingga nilai-nilai tersebut terbentuk secara internal melalui pembiasaan (Handoyo, 2009:9). Selanjutnya korupsi dilihat dalam konteks pendidikan adalah tindakan untuk mengendalikan
7 Budihardjo, Mirriam, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal
28
atau mengurangi korupsi, merupakan keseluruhan upaya untuk mendorong generasi-generasi mendatang mengembangkan sikap menolak secara tegas setiap bentuk tindak korupsi (Buchori, Muchtar, 2007)9. Uraian dalam bagian ini
menunjukan bahwa dengan internalisasi (pengahayatan) Pendidikan Anti Korupsi memiliki tekad untuk membekali individu untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi secara kuat dan tegas.
Teknologi “Ceria” (Cerdas-Inovatif-Arif) Upaya Efektif dan Preventif Mewujudkan Indonesia Anti Korupsi
Teknologi Ceria merupakan integrasi dari tiga komponen indikator praktis yakni cerdas, inovatif, dan arif10 sebagai upaya solutif yang ditawarkan penulis
guna melakukan internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik pada anak sekolah dasar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia teknologi merupakan metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis. Dewasa ini teknologi berkembang begitu pesat sehingga Cepi Riyana pernah melontarkan pendapatnya bahwa proses dan produk teknologi yang dihasilkan, tidak semuanya dapat dimanfaatkan dan secara relevan dapat dimanfaatkan untuk pendidikan terutama untuk proses dan hasil pembelajaran11. Selanjutnya Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) memilliki tiga fungsi utama yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu (1) teknologi berfungsi sebagai alat (tools); (2) Teknologi berfungsi sebagai ilmu pengetahuan (science); (3) Teknologi berfungsi sebagai bahan dan alat bantu untuk pembelajaran (literacy)12. Mengacu dari tiga fungsi
tersebut maka penulis berasumsi bahwa melalui teknologi “Ceria”, akan terciptanya sebuah teknologi yang cerdas, inovatif, dan arif dalam upaya
9 Wiriani, Nadhila, Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini (Essay Bebas) ,--- http://madib.blog.unair.ac.id/jatidiri-and-characters/pentingnya-pendidikan-anti-korupsi-sejak-dini/, diunduh pada tanggal 4 November 2013
10 Teknologi Ceria (Cerdas-Inovatif-Arif) sebagaimana disetir dari gagasan teknologi yang
diusung oleh Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang dalam mendukung Universitas Negeri Semarang sebagai Universitas Konservasi,
11 Lihat, dan cermati Riyana, Cepi, Peranan Teknologi dalam Pembelajaran ,---http://chepy.files.wordpress.com/2006/08/peran-teknologi pdf, . diunduh pada tanggal 5 November 2013
internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik. Kemudian, ketiga indikator teknologi tersebut dapat jabarkan sebagai berikut:
1. Cerdas, dalam hal ini teknologi dimaknai sebagai ilmu pengetahuan yang mampu menggali potensi kecerdasan yang meliputi cerdas spiritual, emosional & sosial, intelektual dan kinetik. Sebagai contoh dalam konteks permasalahan yang dibahas ialah internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik melalui pemanfaatan media Short Massage Service (SMS) sebagai sistem tutor cerdas (intelligent tutoring system) dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Sebagaimana pendapat Varik, dkk13
sistem tutor cerdas (intelligent tutoring system) sendiri merupakan sebuah program software yang menyediakan instruksi-instruksi untuk seorang pelajar dengan cara membimbing seperti seorang guru.
2. Inovatif, secara sederhana menurut Dinn Wahyudin dan Rudi Susiliana14
inovasi dimaknai sebagai pembaruan atau perubahan dengan ditandai oleh adanya hal baru. Bertitik tolak pandangan diatas, teknologi pembelajaran dengan berbagai terobosannya diekspektasikan mampu memberikan inovasi baru dalam memintasi berbagai masalah-masalah pendidikan yang bersifat mendesak. Sebagai contoh kontekstualnya ialah dengan memanfaatkan game dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi, baik itu bersifat statis maupun dinamis seperti: monopoli anti korupsi dan ular tangga anti korupsi.
3. Arif, dalam konteks ini penggunaan teknologi dalam kependidikan perlulah bersikap bijaksana dan mengusung local wisdom sebagaimana menurut Ilahi15 (2012) local wisdom tidak hanya bertujuan untuk
mempertahankan nilai-nilai budaya lokal, tetapi juga sebagai upaya mengapresiasi nilai-nilai budaya yang selama ini sudah menjadi kebanggaan bangi bangsa Indonesia. Dalam konteks pembahasan penulis
13 Baca dan cermati, Variq, dkk, Sistem Tutor Cerdas Menggunakan Metode Bayesian
Network,---http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12758-Paper.pdf , diunduh pada tanggal 5 November 2013
14 Wahyudi, Dinn, dan Rudi Susiliana, Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran ,---
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196209061986011-AHMAD_MULYADIPRANA/PDF/Inovasi_Pendidikan_Pembelajaran.pdf , diunduh pada tanggal 5 November 2013
15 Ilahi, Muhammad Takdir, Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa: Paradigma
memberikan contoh penanaman nilai-nilai anti korupsi melalui cerita-cerita rakyat yang terintegrasi dalam film animasi modern atau digital.
Uraian singkat diatas menjelaskan bahwa internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik melalui teknologi Ceria ini mampu mengekspolrasi segala kemampuan peserta didik. Penulis sendiri berpandangan bahwa terlebih apabila teknologi ini diterapkan pada anak sekolah dasar dengan segala karakteristiknya akan terjadi keefektifan yang signifikan. Selain itu internalisasi Pendidikan Anti Korupsi dan Pendidikan Politik melalui teknologi Ceria (Cerdas-Inovatif-Arif) diekspektasikan mampu menjadikan teknologi yang dimaksud berfungsi secara maksimal baik sebagai alat (tools), pengetahuan (science), dan alat bantu pembelajaran (literacy).
Di luar takrifan diatas, teknologi apapun yang dilakukan dan diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar, pendidik harus mengerti bahwa peranan guru ialah sangat penting dalam kaitannya pembentukan karakter peserta didik. Setidaknya ada lima peran guru (starting point) yang harus dipenuhi menurut Wiyani (2012) yakni 1) keteladanan; 2) inspirator; 3) Motivator; 4) Dinamisator; 5) Evaluator, guna menunjang teknologi yang telah ditawarkan diatas.
SIMPULAN
tersebutlah maka upaya anti korupsi dan kecerdasan politik perlu dibangun. Dalam tulisan ini penulis mengangkat internalisasi Pendidikan Anti korupsi dan Pendidikan Politik pada anak sekolah dasar dengan metode ceria yang merupakan pengejawantahan dari kata cerdas, inovatif, dan arif. Cerdas dicontohkan dengan metode short message service berupa pesan-pesan tentang anti korupsi dan integritas, Inovatif salah satunya bertumpu pada contoh aplikasi game anti korupsi dan arif menekankan pada local wisdom yang berupa cerita rakyat yang dikombinasikan dengan tranformasi modern. Melalui ketiga teknologi tersebut maka ada internalisasi nilai-nilai karakter anti korupsi dan kecerdasan politik sehingga bangunan karakter bangsa dapat terwujud sejak dini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Darmawan, Cecep. Urgensi Pendidikan Politik Pasca Era Reformasi. [Internet]. [Diakses pada tanggal 3 November 2013]. Dari: URL
http://jarangsubang.blogspot.com/2011/10/urgensi-pendidikan-politik-pasca-era.html
2. Handoyo, Eko. 2009. Pendidikan Anti Korupsi. Semarang: Fakultas Ilmu Sosial Unnes Press
3. Koesman, Soegeng. 2009. Membangun Karakter Bangsa: Carut-marut & Centang-perentang Krisis Multi Dimensi di Era Reformasi. Yogyakarta: Lokus
4. Widadi, Apung. Masih Terkorup Juga. [internet]. [Diakses pada tanggal 3 November 2013]. Dari: URL http://www.antikorupsi.org/id/content/masih-terkorup-juga.html/
5. Mustadi, Ali. Pendidikan Karakter Berwawasan Sosiokultural (Sociocultural Based Character Education) di Sekolah Dasar, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). [Internet]. [Diakses pada tanggal 4 November 2013]. Dari: URL
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/7%20Artikel-Pendidikan%20Karakter %20Berwawasan%20Sosio-kultural-Terbit%20Majalah%20Dinamika %20Pendidikan-2011.pdf
6. Ilahi, Muhammad Takdir. 2012. Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa: Paradigma Pem-bangunan dan Kemandirian Bangsa. Jogjakarta: Ar Ruzz Media
7. Afandi, Rizki. 2011. Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Jurnal Pedagogia. Volume 1 No.1. Hal 94
9. Tim Jurusan Politik dan Kewarganegaraan. 2008. Pendidikan Generasi Muda dan Pramuka. Semarang: Jurusan Politik dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes
10. Wiriani, Nadhila. Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini (Essay Bebas). [Internet]. [Diakses pada tanggal 4 November 2013]. Dari URL:
http://madib.blog.unair.ac.id/jatidiri-and-characters/pentingnya-pendidikan-anti-korupsi-sejak-dini/
11. Riyana, Cepi. Peranan Teknologi dalam Pembelajaran. [Internet]. [Diakses
pada tanggal 5 November 2013]. Dari: URL
http://chepy.files.wordpress.com/2006/08/peran-teknologi pdf.
12. Variq, dkk. Sistem Tutor Cerdas Menggunakan Metode Bayesian Network. [Internet]. [Diakses pada tanggal 5 November 2013]. Dari: URL
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12758-Paper.pdf
13. Wahyudi, Dinn, dan Rudi Susiliana. Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran. [Internet]. [Diakses pada tanggal 5 November 2013]. Dari: URL
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196209061986
011-AHMAD_MULYADIPRANA/PDF/Inovasi_Pendidikan_Pembelajaran.pdf ,
14. Wiyani, Novan Ardy. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi di Sekolah. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani
LAMPIRAN
BIODATA PENULIS 1. Ketua Tim
Nama Lengkap : Ulul Mukmin
Tempat dan Tanggal Lahir : Tegal, 6 Juni 1991
Fakultas/ Jurusan : FIS/ Politik dan Kewarganegaraan
Universitas : Universitas Negeri Semarang
Alamat : Jln. H. Ikhsan Desa Timbangreja RT 06 RW 05 Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal
No. Telepon/ Handphone : 087731551225
2. Anggota
Nama Lengkap : Erman Istanto
NIM : 3301412006
Tempat dan Tanggal Lahir : Cilacap, 23 November 1993
Fakultas/ Jurusan : FIS/ Politik dan Kewarganegaraan
Universitas : Universitas Negeri Semarang
Alamat : Sidamulya, RT 04/05, Wanareja, Cilacap
No. Telepon/ Handphone : 087736856655
Prestasi :
1. Juara II Lomba Esai Tingkat Umum STIKIP PGRI Jombang 2013