Mengasah Potensi Kreativitas Guru PAUD dalam Menciptakan Lagu, Puisi, dan Cerita bagi
Anak Usia Dini (Sebuah Penuturan Deskriptif dari Pengalaman Guru PAUD GagasCeria)
Dewi Caturwulandari
GagasCeria Innovative Education [email protected]
ABSTRAK/ABSTRACT
Kata Kunci/Keywords: Kreativitas, guru, lagu, puisi, cerita, pengembangan diri guru,, PAUD
Pada dasarnya, anak-anak memerlukan stimulasi perkembangan melalui kegiatan menarik, antara lain dengan teknik puisi, cerita, dan lagu. Melalui teknik tersebut diharapkan seluruh aspek perkembangan anak akan dapat terstimulasi secara optimal.
Saat ini, ketersediaan media lagu, puisi, dan buku anak yang beredar di Indonesia semakin minim. Lagu anak berkualitas yang beredar di pasaran semakin berkurang. Begitu juga dengan puisi dan buku cerita anak-anak. Saat ini, buku yang beredar lebih banyak fokus pada buku aktivitas. Oleh karena itu, tidak jarang guru PAUD kesulitan mencari lagu, buku, apalagi puisi yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Dalam situasi seperti ini, kreativitas guru sangat dibutuhkan. Guru dituntut untuk mampu menciptakan sendiri lagu, puisi, dan cerita anak yang dapat menunjang stimulasi perkembangan anak. Oleh karena itu, pada makalah ini, penulis akan mengungkapkan secara deskriptif mengenai pengalaman penulis dalam melakukan pengembangan diri terutama pengembangan kreativitas penulis dalam menciptakan lagu, menulis puisi, dan membuat cerita anak.
Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis menemukan bahwa untuk mengasah potensi kreativitas dalam menulis lagu, puisi, dan cerita anak, seorang guru harus memiliki cukup referensi, motivasi, kepercayaan diri, dan latihan terus menerus. Selain itu, hal lainnya adalah menguji cobakan tips-tips praktis yang diberikan oleh para ahli. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah guru dalam proses pembuatan lagu, puisi, dan cerita anak.
PENDAHULUAN/INTRODUCTION A. Latar Belakang Masalah
Setiap anak, berhak tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak membutuhkan berbagai stimulasi perkembangan melalui berbagai kegiatan yang menarik, imajinatif, dan kreatif. Hal itu dikarenakan dunia anak adalah dunia penuh imajinasi dan kreativitas. Rasa ingin tahu anak juga berkembang dari daya imajinasi mereka yang kuat. Imajinasi dan kreativitas mereka berkembang melalui kecintaan mereka terhadap lagu, puisi, dan cerita. Mereka mengetahui dan belajar mengenai banyak hal melalui lagu, puisi, dan cerita.
Saat ini, ketersediaan media lagu, puisi, dan buku anak yang beredar di Indonesia semakin minim. Lagu anak berkualitas yang beredar di pasaran semakin berkurang. Begitu juga dengan puisi dan buku cerita anak-anak. Saat ini, buku yang beredar lebih banyak fokus pada buku aktivitas. Oleh karena itu, tidak jarang guru PAUD kesulitan mencari lagu, buku, apalagi puisi yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Dalam situasi seperti ini, kreativitas guru sangat dibutuhkan. Guru dituntut untuk mampu menciptakan sendiri lagu, puisi, dan cerita anak yang dapat menunjang stimulasi kemampuan berbahasa pada anak. Namun, apakah penulisan lagu, puisi, dan cerita anak berhubungan dengan bakat seseorang? Bagaimana caranya membuat penulisan lagu, puisi, dan cerita anak menjadi lebih mudah dilakukan oleh para guru? Apa saja yang diperlukan oleh seorang guru agar dapat membuat lagu, puisi, dan cerita anak yang baik?
B. Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan:
1. Menemukan fakta bahwa penulisan lagu, puisi, dan cerita anak dapat dilakukan oleh semua orang tanpa memerlukan bakat/khusus.
C. Perumusan Masalah
1. Faktor apa saja yang harus diperhatikan saat menulis sebuah lagu, puisi, atau cerita anak? 2. Bagaimana cara meningkatkan keterampilan dalam menulis lagu, puisi, dan cerita anak?
TEORI & METODOLOGI/THEORY & METHODOLOGY A. Musik dan Lagu Anak
Anak-anak dan musik sesungguhnya tidak dapat dipisahkan. Sejak dalam kandungan, janin telah mendengarkan musik dalam rahim ibunya. Melalui suara-suara sederhana, janin mulai belajar mendengarr ‘nada’. Nada ini berasal dari suara perut ibu, suara vokal ibu, ayah, dan juga suara-suara lain yang berada di sekitar ibunya. (Djohan, Efendi: 34:2009)
Lagu adalah salah satu bentuk dari musik yang jika digabungkan akan tercipta sebuah karya seni yang indah. Musik atau lagu dapat digunakan sebagai sarana dalam sebuah proses pembelajaran yang efektif untuk anak-anak karena dengan bernyanyi, anak-anak akan merasa senang, bahagia, gembira, dan terdorong untuk giat belajar. Lagu atau nyanyian dapat digunakan sebagai media penyampaian pesan yang menyenangkan bagi anak. Lagu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembelajaran pada anak. Anak-anak bermain dengan lagu, bahkan mereka belajar dengan lagu.
Fathur Rasyid (2010) menjelaskan bahwa nyanyian memiliki fungsi:
1. Bahasa emosi: Dengan bernyanyi seorang anak dapat mengungkapkan perasaannya, rasa senang, sedih, lucu., kagum, dan sebagainya.
2. Bahasa nada: nyanyian dapat dikomunikasikan sebagai bahasa ekspresi. 3. Bahasa gerak: dapat dilihat dari ketukan, panjang, dan pendeknya nada.
Bernyanyi pada anak memberikan banyak manfaat. Fathur Rasyid (2010) dalam bukunya “Cerdaskan Anakmu dengan Musik” mengatakan bahwa manfaat menyanyi, di antaranya:
1. Mendengar dan menikmati nyanyian
2. Mengalami rasa senang ketika bernyanyi bersama 3. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan suasana hati 4. Belajar mengendalikan suara
5. Mengeksplorasi rasa dalam diri 6. Kemampuan memeragakan 7. Kemampuan berkreativitas
8. Memperkenalkan pemahaman sisi kemanusiaan 9. Kepekaan rasa
10. Konsentrasi yang terarah 11. Menanamkan kreativitas
12. Menambah perbendaharaan kata 13. Dapat menyehatkan
14. Bisa mengontrol perkembangan
B. Puisi Anak
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dab disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa, yakni struktur fisik dan struktur bathinnya. (Waluyo. 1995:28, dalam dheekape.blogspot.co.id, diunduh pada 16 Oktober 2015)
Ada berbagai macam bentuk puisi. Namun, puisi anaklah yang cocok dengan anak usia dini. Menurut Norton dalam dheekape.blogspot.co.id (diunduh 16 Oktober 2015) menyebutkan bahwa puisi anak mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Puisi anak adalah puisi yang berisi kegembiraan
3. Harus berupaya memperbaiki ketajaman imajinasi vidual dan kata yang dipergunakan mengembangkan imajinasi, dan melihat sertamendengar kata-kata dalam cara baru.
4. Menyajikan cerita sederhana dan memperkenalkan tindakan sehari-hari. 5. Ditulis berdasarkan pengalaman anak.
6. Berbentuk informasi sederhana yang membuat anak dapat menafsir dan menangkap sesuatu dari puisi tersebut.
7. Tema puisi harus menyenangkan anak-anak, menyatakan sesuatu kepada anak, menggelitik egonya, mengingat kebahagiaan, menyentuh kejenakaan, dan membangkitkan semangat pribadi anak-anak. 8. Dapat dibaca anak-anak dan mudah dimengerti
C. Cerita Anak
Sugihastuti (1999) dalam Modul Mengenal Cerita Anak menyimpulkan bahwa cerita anak adalah karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya yang merupakan rekaan belaka, bersifat imajinatif dan fiktif.
Cerita anak bukanlah cerita yang ditulis oleh anak-anak, melainkan cerita karangan orang dewasa yang dikonsumsi oleh anak. Kondisi ini menyebabkan munculnya jarak intelektualitas yang terselip dalam proses penciptaannya sehingga pengarang harus berusaha memperhitungkan tingkat intelektualitas dan daya imajinasi anak-anak sebagai pembaca. Pengarang juga harus memikirkan selesar anak-anak. Cerita anak harus berada tidak jauh dari daya pikir dan daya kreasi imajinasi pembacanya, yaitu anak-anak.
Bahasa anak mengalami perkembangan tersendiri, sehingga pengarang cerita harus membuat cerita dalam semangat bahasa anak-anak. Tanpa pengetahuan yang memadai akan rasa bahasa anak saat menulis cerita, pengarang akan gagal.
Sarumpaet (1999) masih dalam Modul Mengenal Cerita Anak, menyebutkan tiga ciri-ciri cerita anak, yaitu: 1. Unsur pantangan yang berkaitan dengan tema dan amanat cerita.
2. Unsur langsung dalam cerita anak, artinya cara penyajian cerita cenderung beralur datar, tidak menyajikan cerita bertele-tele, ataupun berbelit-belit.
3. Fungsi terapan dalam cerita anak, maksudnya cerita digunakan sebagai sarana pendidikan oleh orang dewasa.
TEMUAN & PEMBAHASAN/FINDING & DISCUSSION
Penulis adalah seorang guru PAUD yang sudah mengajar di GagasCeria Preschool selama hampir 11 tahun. Selama mengajar, penulis menemukan banyak hal menarik seputar pendidikan anak usia dini dan bagaimana menstimulasi perkembangan mereka melalui berbagai kegiatan yang menarik.
Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, anak-anak sangat tertarik pada kegiatan yang berhubungan dengan lagu, puisi, dan cerita terutama jika didukung oleh musik, gerakan, kata-kata indah, dan ilustrasi yang menarik. Kegiatan-kegiatan tersebut mampu membangun semangat pada anak untuk belajar mengenai banyak hal.
Banyak sekali manfaat yang diperoleh anak saat mereka bernyanyi, membaca puisi, atau mendengarkan sebuah cerita. Kemampuan berpikir, sosial emosi, Bahasa, dan fisik mereka akan terstimulasi melalui kegiatan-kegiatan tersebut.
Oleh karena itu, penulis merasa termotivasi untuk terus melakukan pengembangan dalam mengemas lagu, puisi, dan cerita menjadi semakin menarik. Namun, semakin minimnya resources tentang lagu, puisi, dan cerita anak, membuat penulis kadang kesulitan mencari lagu, puisi, dan cerita yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak.
Namun, ternyata pada kenyataannya membuat sebuah lagu, puisi, atau cerita tidak semudah yang
dibayangkan. Butuh proses yang panjang hingga akhirnya penulis yakin bahwa penulis dapat menulis lagu, puisi, dan cerita anak yang berkualitas.
A. Langkah Awal
Membaca dan mengumpulkan berbagai referensi lagu, puisi, dan cerita anak adalah langkah awal penulis dalam upaya mengembangkan kemampuan penulis. Referensi-referensi tersebut diperoleh penulis melalui berbagai sumber, baik itu internet, kaset/CD lagu anak, buku-buku cerita anak, buku kumpulan puisi anak, diskusi, dan sebagainya.
Penulis kemudian menyadur lagu yang sudah ada dan mengubah syairnya menjadi sesuai dengan kebutuhan anak dan dirasakan akan lebih mudah diiikuti oleh anak. Namun, hal tersebut membuat penulis berpikir bahwa anak akan bingung dengan lagu yang sebenarnya (mana lagu asli mana lagu saduran), penulis berpikir bahwa jika terus menerus melakukan hal tersebut tanpa izin dari penciptanya maka akan dianggap sebagai plagiat, dan kreativitas penulis tidak akan pernah berkembang.
Setelah itu, penulis juga mencoba mengembangkan kemampuan menulis melalui workshop, komunitas penulis, talk show, dan uji coba tips praktis menulis yang diberikan oleh para pakar.
Saat penulis membaca referensi-referensi serta mengikuti pelatihan, penulis menganggap bahwa
menciptakan sebuah karya tulis (lagu, puisi, atau cerita) itu hal yang cukup sulit dan membutuhkan sebuah bakat khusus.
Meskipun penulis memiliki latar belakang pendidikan di Bahasa dan Sastra Indonesia, namun penulis belum pernah mencoba untuk menulis sebuah karya tulis yang diperuntukan untuk anak-anak. Ini merupakan hal baru yang harus dicoba karena sangat berhubungan erat dengan kebutuhan profesi penulis sebagai guru PAUD.
Penulis pun mulai mecoba membuat lagu sederhana tentang pertemanan yang hanya terdiri dari empat baris syair lagu, membuat puisi sederhana tentang ciri binatang, dan cerita sederhana tentang karakter seorang anak.
Saat awal mencoba menulis, penulis menemukan hambatan, di antaranya adalah: 1. Menentukan tema untuk lagu, puisi, dan cerita
2. Pemilihan kata yang tepat untuk anak-anak
3. Panjang bait lagu, baris puisi, atau paragraf dalam cerita
4. Menentukan nada untuk lagu, rima untuk puisi, dan dialog/alur cerita
5. Memvisualisasikan syair lagu, puisi, dan cerita dalam bentuk gambar dan gerakan
Hambatan yang lain, adalah kepercayaan diri penulis yang sedikit menurun saat penulis merasa kesulitan dan memperoleh kritik tajam mengenai hasil karya tulis penulis.
Namun, dukungan dari rekan seprofesi, kepercayaan dari pimpinan sekolah, dan kolaborasi dengan berbagai pihak mampu mendongkrak kembali motivasi penulis dalam mengasah kemampuan menulis lagu, puisi, dan cerita.
Dukungan yang diberikan berupa:
1. Kesempatan mengikuti lomba gerak dan lagu PAUD. Saat itu, penulis dipercaya menjadi pencipta lagu beserta gerakannya.
2. Kesempatan mengikuti pelatihan menulis cerita, workshop menulis lagu, lomba karya tulis, dan sebagainya.
3. Bersinergi dengan tim membuat sebuah buku cerita bergambar yang diselingi oleh aktivitas untuk kepentingan intern.
Penulis tidak menyia-nyiakan dukungan dan kesempatan yang diberikan pada penulis untuk semakin berkembang. Penulis pun terus berusaha berlatih untuk selalu memberikan hasil yang terbaik dan berani menerima saran dan kritik. Saran dan kritik itulah yang dapat membuat kemampuan penulis berkembang.
B. Uji Coba Teknik Praktis Menulis
Menguji coba teknik praktis menulis yang diperoleh penulis saat mengikuti workshop adalah langkah selanjutnya yang dilakukan oleh penulis. Ada beberapa teknik menulis lagu dan cerita yang penulis peroleh saat mengikuti workshop yang diadakan oleh Rumah Pensil Eka Wardhana, misalnya:
1. Mendengarkan musik instrumental dengan berbagai genre lalu menuliskan perasaan yang dirasakan. 2. Menonton potongan sebuah film lalu menuliskan lanjutan cerita dengan versi sendiri.
3. Mengisi balon komik dengan kata-kata sendiri.
4. Ramuan Nenek Sihir, yaitu membuat beberapa kata yang kemudian disusun menjadi sebuah paragraf.
Tips lainnya yang penulis uji cobakan adalah tips menulis lagu anak yang penulis peroleh saat mengikuti kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Gerak dan Lagu PAUD yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal PAUD di Gorontalo, pada tahun 2006. Tips praktis tersebut adalah:
1. Membuat nada lagu sederhana yang tidak lebih dari satu oktaf. 2. Membuat syair lagu dengan kata sederhana dan kalimat pendek. 3. Baris lagu tidak lebih dari 4 baris dan bagian refrain juga 4 baris. 4. Lakukan pengulangan nada agar mudah diingat.
Saat menguji cobakan tips-tips berikut, ada satu tips praktis yang menjadi titik balik bagi penulis untuk yakin bahwa menulis itu dapat dilakukan tanpa perlu bakat khusus. Tips praktis yang dimaksud adalah Ramuan Nenek Sihir.
Teknik Ramuan Nenek Sihir ini, mengajarkan para penulis pemula untuk dapat membuat alur atau kisah sederhana yang dapat dijadikan lagu, puisi, atau cerita. Mengapa?
Teknik ini mengajarkan beberapa langkah mudah menulis meski mungkin terasa aneh/absurd, yaitu: 1. Menuliskan 2 tokoh, kata kerja, kata sifat, kata benda, tempat kejadian, waktu kejadian, dan
sebagainya secara bebas meski dirasa tidak saling berhubungan. Misalnya Tokoh 1: Aku
Tokoh 2: Teman Tempat: Sekolah Waktu: Pagi Kata benda: Bola Kata sifat: Senang Kata kerja: Bermain
2. Menyusun kata-kata terpilih sebagai acuan untuk membuat satu paragraf pendek. Isi paragraf bisa ditambahkan dengan kata lain sebagai penghubung, misalnya:
Pagi hari, aku pergi sekolah. Aku bertemu dengan teman-teman. Kami senang bermain bola bersama
3. Menyusun kata-kata terpilih menjadi syair untuk lagu atau puisi, misalnya:
Aku punya teman banyak sekali Ada perempuan dan ada laki-laki
Aku punya teman banyak sekali Aku senang bermain dengan teman-teman
Lalalalalalala
Senangnya bermain bersama teman-teman ( lagu diciptakan oleh Dewi Caturwulandari)
Bermain bola dengan riang Membuat hati menjadi senang (puisi diciptakan oleh Dewi Caturwulandari)
Melalui teknik ini, penulis memperoleh kemudahan dalam membuat sebuah syair lagu, puisi, atau alur cerita. Namun, tidak cukup sebatas itu, penulis harus mengembangkan teknik ini menjadi teknik yang menghasilkan sesuatu yang lebih.
Pengembangan yang dilakukan penulis di antaranya:
1. Menyelipkan kosakata baru atau abstrak yang masih dapat dipahami anak. 2. Menyelipkan karakter positif.
3. Membuat syair yang lebih panjang, untuk mengetahui pemahaman anak terhadap sebuah syair lagu, puisi, atau cerita yang panjang.
4. Menambahkan gerakan untuk lagu dan puisi serta ilustrasi untuk gambar
5. Berkolaborasi dengan pihak lain yang dapat meningkatkan kualitas karya yang penulis buat.
Hal tersebut dilakukan secara bertahap dan diuji cobakan terlebih dahulu pada kelompok kecil anak di dalam kelas. Jika dirasakan berhasil dipahami oleh anak, barulah penulis menguji cobakannya pada kelompok belajar yang lebih besar.
Berikut adalah contoh lagu, puisi, dan cerita hasil pengembangan dari teknik di atas.
Lagu
Negeriku Indah Ciptaan: Dewi Caturwulandari
Arr: Destanto Putrandito Penyanyi: Ditha Ira Purwanita
Negeriku indah, tak banyak sampah Kujaga setiap hari. Negeriku asri Negeriku indah, banyak tanaman Kusiram semua, tak pernah kutebang Reff: Ayo kawan semua, jagalah negeri kita
Negeri kita indah, kita bahagia Ayo kawan semua, jagalah negeri kita
Negeri kita indah, kita bahagia
Puisi
Jika Aku Marah Cipt: Dewi Caturwulandari
Jika aku marah, ku masuk ruangan Ku duduk dengan tenang
Tarik nafas panjang Bilang aku marah, bilang aku kesal
Tak perlu pukul teman Karna ku sayang teman
Cerita
SEKOLAH AJAIB WAWA Penulis: Dewi Caturwulandari
Wawa seekor kucing ajaib. Wawa selalu bangun pagi-pagi. Wawa harus pergi sekolah.
Wawa pergi sekolah diantar ibu. Wawa menggendong sendiri tas sekolahnya. Wawa sekolah sambil tersenyum. Wawa tiba di sekolah. Sekolah Wawa ajaib. Sekolahnya bisa berubah bentuk.
Kadang, sekolah Wawa menjadi kereta api. Wawa dan teman-teman belajar berbaris. Wawa mengantri tiket sebelum masuk ke dalamnya. Di dalam kereta api, Wawa belajar sambil berjalan-jalan melihat pemandangan. Kadang sekolah Wawa menjadi peternakan. Wawa belajar memelihara ayam. Wawa juga senang menghitung telur di
dalam kandang.
Dan…hari ini sekolah Wawa berubah menjadi rumah. Wawa senang sekali. Dia senang karena hari ini Wawa bisa melihat atap, pintu, jendela yang sama persis dengan rumahnya. Dia juga bisa bermain di kamar tidur, mandi, makan,
dan bermain seperti berada di rumahnya sendiri.
Wawa senang sekolah. Sekolah ajaib Wawa selalu membuat hari-hari Wawa juga ajaib. Wawa tidak sabar untuk kembali sekolah besok.
Berubah jadi apa sekolahnya besok? Wawa pun pulang ke rumah sambil tersenyum.
Pengembangan terhadap pelaksanaan tips-tips praktis di atas, tidak serta merta terjadi begitu saja. Penulis konsisten membuat karya dan melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap karya yang sudah penulis buat. Penulis sering membahasakan perilaku anak melalui lagu atau puisi serta membahas suatu kejadian melalui sebuah cerita.
Konsistensi pembuatan karya ini, memberikan dampak positif pada penulis, yaitu:
1. Kreativitas dalam mengungkapkan ide gagasan ke dalam tulisan dan saat mengajar semakin meningkat.
2. Rasa Bahasa semakin terasah. 3. Kepercayaan diri meningkat.
Namun, saat proses pembuatan karya, bukan tidak mungkin itu terjadi secara spontan dan tidak
terdokumentasikan. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi kemungkinan karya tidak terdokumentasikan, maka penulis mulai konsisten langsung mendokumentasikan karya yang sudah dibuat. Selain itu, untuk menghindari hasil karya yang apa adanya, penulis selalu meminta pendapat orang lain baik itu teman satu tim atau ahli yang sudah penulis kenal.
Pendapat, saran, dan kritik yang diberikan kepada penulis, dijadikan sebagai bahan untuk refleksi dan evaluasi. Setelah karya diperbaiki, penulis pun akan meminta kembali orang tersebut mereview karya yang sudah penulis buat. Setelah hasil final diperoleh, barulah penulis menyampaikan atau mengajarkannya kepada anak.
Setiap kali penulis mengenalkan lagu atau puisi baru pada anak, penulis akan melakukan beberapa kali pengulangan hingga anak hafal dan dapat menghayati isi syairnya. Pengulangan dilakukan dalam berbagai kesempatan, misalnya dinyanyikan saat anak sedang circle time, berkegiatan tenang, dan sebagainya. Hal ini bertujuan selain menstimulasi perkembangan anak juga akan menambah rasa percaya diri penulis untuk membuat karya lain yang lebih baik.
KESIMPULAN & SARAN/CONCLUSION & SUGGESTION
Berdasarkan pemaparan tentang pengalaman penulis dalam membuat lagu, puisi, dan cerita anak untuk menstimulasi perkembangan anak usia dini, maka penulis berkesimpulan bahwa tidak perlu bakat khusus untuk dapat membuat lagu, puisi, dan cerita yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Semua orang dapat membuat lagu, puisi, dan cerita anaknya sendiri.
Namun demikian, ada hal-hal yang harus diperhatikan agar guru dapat membuat lagu, puisi, dan cerita anak sendiri dengan mudah, yaitu:
1. Memperbanyak referensi lagu, puisi, dan cerita anak 2. Memiliki motivasi dan rasa percaya diri yang kuat 3. Menguji coba tips-tips praktis yang diberikan para ahli
4. Konsiten berlatih untuk mengembangkan kemampuan menulis berdasarkan tips-tips praktis yang ada 5. Menjadikan saran dan kritik sebagai bahan untuk perbaikan
6. Berkolaborasi dengan pihak lain untuk membuat karya yang lebih baik dan berkualitas 7. Mendokumentasikan setiap lagu, puisi, dan cerita yang sduah dibuat
DAFTAR PUSTAKA/BIBLIOGRAPHY atau/or REFERENSI/REFERENCES
Asfandiyar, Andi Yudha. 2009. Cara Pintar Mendongeng. Bandung: Mizan.
Bird, Carmel. 2001. Menulis dengan emosi: Panduan Empatik Mengarang Fiksi. Bandung: Penerbut Kaifa.
Damani, Ryvavie. 2012. Agar Tunas Itu Tumbuh Berkembang. Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia.
Diah_kape. 2011. Kemampuan Berbahasa Indonesia (Puisi Anak, Pantun, Syair, Talibun. Jawa Tengah: www.dheekape.blogspot.co.id.
Djohan, Effendi. 2009. Psikologi Musik. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik.
Graham, Melani dan Stanton Procter. 2003. Longman: Songs and Chants. Hongkong: Longman Asia ELT. Hernowo. 2006. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Membuat Buku. Bandung: Mizan.
Mulyasa, E. 2011. Menjadi Guru Profesional, menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan. Bandung: Rosdakarya.
Pranoto, Naning. 2009. Penulisan Kreatif untuk Anak: Kiat Dahsyat bagi Orangtua dan Guru memandu Anak Menulis. Solo: Tiga Serangkai.
Rasyid, Fathur. 2010. Cerdaskan Anakmu dengan Musik. Yogyakarta: Diva Pass. Staf.uny.ac.id. Modul Mengenal Cerita Anak. 2014
RIWAYAT HIDUP/CURRICULUM VITAE Nama/Complete Name : Dewi Caturwulandari Institusi/Institution : GagasCeria Preschool Pendidikan/Education :
Sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia Universitas Padjadjaran Bandung
Minat Penelitian/Research Interests : Pendidikan Anak Usia Dini Kreativitas