• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala The ASEAN Intergovernmental Comm

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kendala The ASEAN Intergovernmental Comm"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Kendala The ASEAN Intergovernmental Commission of Human Rights (AICHR) Dalam Mengatasi Pelanggaran HAM Terhadap Etnis Rohingya di

Myanmar

MAHFUD KHOIRUL AMIN 20120510041

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas ISIPOL

Universitas Muhammadyah Yogyakarta [email protected]

Abstrak

Banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi dibelahan dunia, membuat HAM saat ini menjadi salah satu isu global yang yang hangat diperbincangkan oleh banyak pihak di negara-negara belahan dunia. Adapun salah satu pelanggaran HAM yang terjadi di wilayah Asia Tenggara adalah, pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah junta militer terhadap Etnis Rohingya di Myanmar. Dalam hal ini pada saat KTT ASEAN ke 15 dibentuklah AICHR. Yang mana merupakan badan yang menggurusi persoalan dan permasalahan HAM di Asia Tenggara. Adanya badan ini dimaksudkan untuk mempermudah dan mengurangi berbagai macam permasalahan pelanggaran HAM di Asia Tenggara. Berdasarkan konsep Efektifitas Organiasi Internasional diugkapkan bahwa upaya yang dilakukan AICHR dalam menangani permasalahan tersebut kurang efektif. Ketidak efektifitasan tersebut bukanlah tanpa sebab. AICHR dalam melaksanakan tugasnya menyelesaikan masalah pelanggaran HAM di Rohingya, Myanmar menghadapi beberapa kendala yang mana hal ini lah yang menghambat penyelesaian pelanggaran HAM terhadap Etnis Rohingya yang terjadi di Myanmar.

(2)

Pendahuluan

The ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) merupakan badan yang menggurusi persoalan dan permasalahan HAM di Asia Tenggara. Yang mana didirikan pada saat KTT ASEAN ke 15, tanggal 23 October 2009 di Hua Hin, Thailand. Adanya badan ini dimaksudkan untuk mempermudah dan mengurangi berbagai macam permasalahan pelanggaran HAM di Asia Tenggara.

Sebagaimana yang diatur dalam TOR AICHR pasal 1, tujuan AICHR adalah sebagai berikut; (1) memajukan serta melindungi HAM dan kebebasan fundamental dari rakyat ASEAN, (2) menjunjung tinggi hak rakyat ASEAN untuk hidup damai, bermartabat dan makmur, (3) memberikan kontribusi terhadap realisasi tujuan ASEAN, (4) memajukan HAM dalam konteks regional dengan mempertimbangkan kekhususan nasional dan regional, (5) meningkatkan kerjasama regional untuk membantu upaya-upaya nasional dan internasional, (6) menjunjung tinggi standar hak asasi manusia internasional sebagaimana dijabarkan dalam Deklarasi Universal HAM , Program Aksi dan Deklarasi Wina dan instrumen HAM internasional dimana negara anggota ASEAN merupakan negara pihak (Secretariat 2009).

Akan tetapi penegakkan HAM di Asia Tenggara tidaklah mudah. Sebagai mana yang dituliskan dalam ―Buletin Komunitas ASEAN‖ bahwasanya penegakan HAM di Asia Tenggara bukanlah perkara yang mudah, bukan berarti setelah terbentuknya AICHR permasalahan HAM di Asia Tenggara bisa serata merta dapat diatasi dan berkurang. ("Potensi Pasar ASEAN‖ Majalah ASEAN Edisi 4, 4 Maret 2014). Hal ini dapat dilihat dengan terjadinya pelanggaran HAM di negara Myanmar,

yang mana pelanggaran ini dilakukan oleh Pemerintahan Myanmar kepada Etnis Rohingya. Pemerintah Junta Militer Myanmar telah memberikan tuduhan kepada

(3)

Efektifitas Organisasi Internasional

Konsep merupakan abstraksi yang mewakili suatu objek, sifat suatu objek, atau suatu fenomena tertentu. Adapun salah satu fungsi konsep adalah menjadi batu bata bagi bangunan yang disebut teori (Mas‘oed 1990). Efektifitas organisasi merupakan suatu konsep menyeluruh yang menyertakan sejumlah konsep komponen (Ivancevich 2005) Dalam mencapai efektivitas suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh berbagai

faktor yang berbeda-beda tergantung pada sifat dan bidang kegiatan atau usaha suatu organisasi. Sejalan dengan hal tersebut maka Komberly dan Rottman (dalam Gibson et al, 1996: 32) berpendapat bahwa efektivitas organisasi ditentukan oleh lingkungan, teknologi, pilihan strategi, proses dan kultur (Isa Desember, 2009)

Berkaitan dengan bagian pertama, efektifitas organisasi dapat dilihat dari perilaku organisasi ketika berinteraksi dengan lingkungan, baik internal maupun ekternal (Hutapea 2008) Lingkungan internal dikenal sebagai iklim organisasi. Yang meliputi macam-macam atribut lingkungan yang mempunyai hubungan dengan segi-segi dan efektifitas khususnya atribut lingkungan yang mempunyai hubungan dengan segi-segi tertentu dari efektifitas khususnya atribut diukur pada tingkat individual. Lingkungan internal lebih condong kepada individu yang berada dalam struktural organisasi tersebut, adapaun yang di maksudkan individu dalam AICHR adalah perwakilan tiap negara dalam organisasi ini. Memang pada dasarnya setiap negara anggota memiliki perwakilan di ASEAN atau pun AICHR. Begitu juga dengan Myanmar, H.E.U Kyaw Tint Swe selaku perwakilan dari Myanmar untuk AICHR dan sekaligus Ketua AICHR dan perwakilan-perwakilan negara yang lain belum dapat bergerak secara

efisien dalam menyelesaikan permasalahan di Myanmar. Hal ini dikarenakan mandat dan wewenang AICHR yang masih sangat terbatas.

(4)

kebijakan pemerintah Myanmar merupakan lingkungan ekternal yang dimaksudkan. Adapun kebijakan pemerintah yang cenderung tertutup terhadap negera maupun organisasi internasional yang berkaitan mengenai pelanggaran HAM di Rohingya menjadi kendala bagi AICHR dalam menyelesaikan permasalahn tersebut.

Dalam faktor teknologi, efektifitas organisasi sebagian besar merupakan hasil bagaimana organisasi tersebut dapat sukses memadukan teknologi dengan struktur

yang tepat. Keselarasan antara struktur dan teknologi yang digunakan sangat mendukung terhadap pencapaian tujuan organisasi. Teknologi dapat memiliki berbagai bentuk, termasuk variasi-variasi dalam proses mekanisme yang digunakan dalam produksi, variasi dalam pengetahuan teknis yang dipakai untuk menunjang kegiatan menuju sasaran. Memang pada dasarnya AICHR memiliki teknologi yang memadai, terutama dalam hal informasi. Akan tetapi tertutupnya pemerintah Myanmar terhadap negara lain maupun organisasi internasional seperti AICHR itu sendiri yang menjadi kendala bagi AICHR dalam menangani permaslahan tersebut, yang mana kendala ini mengahalangi kemampuan AICHR dalam berinteraksi secara langsung.

Pilahan strategi yang dimaksudkan adalah bagaimana suatu organisasi memilih dan menentukan strategi dalam menyelesaikan atau melakukan sebuah program. Adapun dalam kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Rohingya, dalam langkahnya AICHR strategi yang dilakukan oleh AICHR belum tepat dan cenderung pasif yaitu hanya sebatas dalam pengadaan workshop dan pertemuan-pertemuan tidak dapat terjun langsung guna menyelesaikan permasalahan tersebut, hal juga dikendalai oleh

mandat yang dimiliki oleh AICHR itu sendiri yang masih sangat terbatas pada promosi dan perlindungan HAM, dan bukan sebagai lembaga pembuat keputusan

(decision making body).

(5)

yang diinginkan. Adapun proses yang dilalui AICHR dalam menyelesaikan permasalahan HAM di Rohingnya tidaklah berjalan mulus. Hal ini dikarenakan banyaknya kendala dan hambatan-hambatan bagi AICHR dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Selanjutnya, yang dimaksudkan kultur adalah budaya massyarakat yang dihadapi AICHR, dalam hal ini lebih kepada pola pemerintah Myanmar yang condong tertutup

dalam menanggapi beberapa kasus (termasuk pelanggaran HAM di Rohingnya), yang mana hal ini lah yang menjadi hambatan bagi AICHR dan menyebabkan kurangnya efektifitas AICHR dalam menangani masalah pelanggaran HAM di Rohingya, Myanmar.

Pelanggaran HAM Terhadap Etnis Rohingya, Myanmar

HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki setiap orang semata-mata karena dia adalah manusia. HAM didasarkan pada prinsip bahwa setiap orang dilahirkan setara dalam harkat dan hak-haknya. Semua HAM sama pentingnya dan mereka tidak dapat dicabut dalam keadaan apapun (Hak Asasi Manusia (HAM) n.d.).

Adapun pelanggaran HAM di negara Myanmar dilakukan oleh Pemerintahan Myanmar kepada Etnis Rohingya. Pemerintah Junta Militer Myanmar telah memberikan tuduhan kepada Etnis Rohingya, sehingga terjadi beberapa tindakan diluar prikemanusiyaan.

Etnis Rohingya adalah warga muslim minoritas yang sebagian besar menetap di negara bagian Arakan, Myanmar, dekat perbatasan Bangladesh sejak abad 15 SM. Pada 1785, daerah Arakan ditaklukan oleh warga Burma beragama Budha dari

wilayah selatan Myanmar dan mengeksekusi seluruh pria muslim Rohingya dan mengusir etnis ini dari tanah Arakan. Sekitar 35 ribu warga Arakan terpaksa

(6)

pemerintah kolonial Inggris mengambil alih Arakan dan menganjurkan para petani dari Bengali untuk pindah ke daerah Arakan yang saat itu belum berpenduduk padat. Para petani itu terdiri dari etnis keturunan Rohingya yang berasal dari Arakan dan warga Bengali asli. Proses imigrasi petani Bengali ke Arakan yang terjadi secara tiba-tiba memunculkan reaksi keras dari mayoritas warga Budha Rakhine yang tinggal di Arakan saat itu, seakan menabur benih perselisihan antar etnis yang hingga kini

masih berlangsung.

Ketika Perang Dunia II berlangsung, Arakan lepas dari kekuasaan Inggris dan dijajah Jepang yang kala itu melakukan ekspansi ke Asia Tenggara. Di tengah penarikan pasukan Inggris dari Arakan, pasukan Muslim Rohingya maupun warga Myanmar penganut agama Buddha berupaya memanfaatkan kesempatan dengan membantai satu sama lain. Kondisi Arakan yang penuh pertumpahan darah membuat banyak warga Rohingya meminta perlindungan kepada Inggris, dan menawarkan diri untuk menjadi mata-mata Sekutu. Ketika pemerintah Jepang mengetahui hal ini, mereka menyiksa, memerkosaan dan membunuh warga Rohingya di Arakan. Puluhan ribu warga Rohingya di Arakan kembali melarikan diri ke Bengali (Utami, Mengenal Etnis Rohingya Lebih Dekat n.d.).

Krisis di Rohingya dipicu oleh insiden pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Ma Thida Htwe (27 tahun), seorang gadis Buddhis Arakan, yang dilakukan oleh beberapa oknum muslim Rohingya pada Mei 2012. Insiden tersebut kemudian memicu gejala kebencian terhadap muslim Rohingya di seluruh daerah Arakan. Beberapa hari setelah insiden itu, masyarakat Buddhis Arakan membalas dengan

memukuli dan membunuh 10 orang etnis Rohingya, dalam satu insiden pencegatan dan pembunuhan penumpang bus antar-kota, hingga tewas di Taunggup.

(7)

aparat keamanan Myanmar, melakukan berbagai tindakan kekerasan secara sistematis terhadap muslim Rohingya meliputi pemukulan, pemenggalan, pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran tempat tinggal, pengusiran dan isolasi bantuan ekonomi. Berbagai tindakan kekerasan ini digunakan sebagai cara untuk mengusir etnis Rohingya keluar dari Myanmar (Wibisono n.d.).

Menjadi suatu kabar yang sangat mengagetkan bahwasanya warga Rohingya

etnis Bengali tidak diakui oleh pemerintah junta militer sebagai warga negara sehingga mereka sering mengalami tindak diskriminasi. Kebijakan junta militer yang bersikap represif dan anarkis terhadap etnis Rohingya mulai terlihat secara nyata sejak operasi Naga Min tahun 1978. Ne Win melancarkan Operasi Raja Naga yaitu operasi militer dalam skala besar di Arakan, operasi ini ditujukan untuk membasmi kelompok Mujahidin yang dituduh melakukan upaya separatis di wilayah utara Arakan. Warga Rohingya banyak yang mengalami penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang, dan pembunuhan massal. Bahkan dalam sebulan terakhir, tercatat 650 orang etnis Rohingya tewas, 1.200 warga hilang, dan sekitar 80 ribu lainnya kehilangan tempat tinggal (Mangku, KASUS PELANGGARAN HAM ETNIS ROHINGYA : DALAM PERSPEKTIF ASEAN 2 Agustus 2013).

Mereka dituduh berafiliasi dengan para pemberontak Mujahidin yang ingin mendirikan negara Islam di daerah Mayu, Rakhine utara berbatasan dengan Bangladesh. Banyak warga Rohingya terutama etnis Bengali yang melarikan diri ke Bangladesh dan Negara lain untuk berlindung dari operasi militer tersebut. Sejak peristiwa itulah, warga Rohingya dianggap sebagai imigran gelap. Mereka tidak

memiliki kartu tanda penduduk di Myanmar dan hidup sengsara sampai saat ini (Revolusi n.d.).

(8)

rumah dan masjid. Selain itu, Heri menyebutkan adanya tim khusus yang disebut Rohingya Elimination Group (REG). REG merupakan sebuah kelompok yang dibuat untuk menghilangkan etnis Muslim di Myanmar yang terkenal dengan 969. Kelompok ini sengaja dibentuk untuk menyisihkan etnis Muslim dan juga melakukan provokasi terhadap warga dengan distribusi buku atau video yang menghina Islam dan Muslim (Bahri n.d.).

Peran AICHR di Asia Tenggara

Di Asia Tenggara, penegakan dan perlindungan HAM telah dilakukan dan diupayakan oleh The ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR). Yang mana AICHR disini berperan sebagai organisasi yang bergerak dalam isu HAM dibawah naungan ASEAN. Adapun peran AICHR dalam uapaya perlindungan Hak Asasi Manusia di Asia Tenggara, antara lain :

Pertama AICHR sebagai Instrumen. Sesuai dengan salah satu peran organisasi internasional menurut Clive Archer, dimana AICHR memegang peran sebagai instrument (Lastania n.d.). AICHR memenuhi peran tersebut dengan menjadi alat yang dipakai oleh negara-negara anggota ASEAN untuk dapat melaksanakan kepentingannya dalam hal ini tentu saja penegakan HAM, yakni dengan pengimplementasian ketentuan HAM secara preventif guna menghindari coercion dan mengadakan konvensi-konvensi tentang HAM.

Konvensi-konvensi tentang HAM yang dijalankan negara-negara HAM pada intinya tidak bersifat memaksa apalagi bersifat ―coercive‖. Menurut Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo KTT ke-13 ASEAN tahn 2009 yang menyinggung

masalah HAM merupakan upaya lanjut untuk integrasi kawasan pada level yang lebih tinggi, tanpa harus memaksakan kehendak pada negara-negara anggotanya.

(9)

mereka yang mengalami tindakan pelanggaran HAM yang di adakan di Vientiane, Laos. Pertemuan ini juga membahas pembuatan draft kebijakan tersebut. Pertemuan ini di buka oleh Thongsing Thammavong, Perdana Menteri Laos.

Berdasar pada fakta inilah terdapat mekanisme penerapan HAM secara holistik yang berperan sebagai momentum pembelajaran (education moment), sekaligus menjadi pembeda antara penerapan mekanisme HAM di ASEAN dengan

negara atau wilayah lainnya. Salah satu bentuk penerapan HAM secara holistic adalah dengan peratifikasian intrtumen HAM ASEAN yakni Deklarasi HAM ASEAN oleh seluruh negara anggota ASEAN.

Bentuk lain dari penerapan HAM secara holistik ialah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat ASEAN tentang hak asasi manusia. Hal ini di wujudkan dalam sebuah seminar yang diadakan oleh AICHR yang bertajuk ―AICHR Youth Debate of Human Rights‖ dimana di dalam seminar tersebut AICHR berkunjung ke beberapa universitas di kesepuluh negara anggota ASEAN untuk memberikan pemahaman pada HAM guna meningkatkan kesadaran anak muda ASEAN terhadap isu HAM (Saputri, PERAN ASEAN Intergovernental Commission Of Human Rights (AICHR) DALAM MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI KAWASAN NEGARA ANGGOTA ASEAN 1 Februari 2014).

Kedua AICHR Sebagai forum komunikasi negara-negara ASEAN dalam perlindungan dan mengatasi permasalahan HAM. Berdasarkan pada pengalaman-pengalaman yang telah ada, peneganan HAM seringkali dipandang sebagai ‗pisau bermata dua. Di satu sisi penegakan HAM dapat mencelakai sebuah kepemimpinan,

namun di sisi lain HAM dapat mendukung kemajuan suatu bangsa karena secara prinsipil faham ini menekankan pada supremasi sipil. Jika dikaitkan dengan

konstelasi politik regional maka sebenarnya keberadaan AICHR dapat dianggap sebagai laboratorium politik nilai dalam konteks ASEAN.

(10)

negara seperti Myanmar yang lemah akan penegakan HAM. Selain itu, AICHR juga mendapatkan informasi dari negara-negara anggota ASEAN tentang pemajuan dan perlindungan HAM di negaranya dan menyerahkan laporan tahunan kegiatan atau laporan lain apabila diperlukan, pada Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN.

Dalam menyampaikan informasi terkait isu HAM serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghormati HAM, AICHR wajib memberikan informasi secara

berkala kepada rakyat tentang pekerjaan dan kegiatannya melalui materi informasi publik yang dihasilkan oleh AICHR. AICHR menyampaikan informasi diberbagai kesempatan seperti mengadakan seminar dan juga workshop sebagai salah satu perannya sebagai perantara untuk mempromosikan isu HAM yang terjadi di kawasan negara anggota ASEAN.

ketiga, dalam perannya sebagai arena AICHR sebagai insitusi penaung hak asasi manusia di kawasan ASEAN dengan tanggung jawab menyeluruh terhadap pemajuan dan perlindungan HAM di ASEAN dan dimanfaatkan oleh negara-negara anggota sebagai forum untuk mendiskusikan masalah-masalah yang terkait dengan isu HAM yang ada di negaranya. AICHR mengadakan rapat pertama di Sekretariat ASEAN di Jakarta guna melakukan diskusi ekstensif dan dengan badan-badan ASEAN yang relevan untuk membahas tentang operasi AICHR yang lebih efektif sebagai lembaga HAM yang menyeluruh di kawasan ASEAN. Pertemuan membahas antara lain, perumusan peraturan prosedur yang akan meletakkan pedoman operasional untuk pelaksanaan pekerjaan AICHR di semua aspek. Pertemuan tersebut juga membahas pengembangan Rencana Kerja Lima Tahun untuk menyediakan langkah-langkah

yang komprehensif dengan program dan kegiatan yang akan dilakukan oleh AICHR dalam lima tahun ke depan.

(11)

Ibu‖. Dan pada tahun 2013, AICHR memiliki rencana kerja selanjutnya untuk melakukan pertemuan regional tentang : ―Pembangunan Millenium Tujuan ke-5 dalam Konteks Komunitas ASEAN‖.

Upaya AICHR Dalam Menanggulangi Pelanggaran HAM di Rohingya

Dalam pemaparannya Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Surin Pitsuwan,

mengingatkan bahwa isu Rohingya dapat mengganggu stabilitas kawasan jika komunitas internasional, termasuk ASEAN, gagal untuk merespon krisisi tersebut secara tepat dan efektif. Surin Pitsuwan juga mengakui bahwa ASEAN tidak dapat menekan pemerintah Myanmar untuk memberikan kewarganegaraan kepada etnis Rohingya. Khususnya dalam kasus yang terjadi di Myanmar, prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara anggota ASEAN yang tercantum dalam piagam ASEAN membatasi ruang ASEAN untuk bertindak melakukan penegakan dan perlindungan hak asasi manusia dalam skala regional. ASEAN tidak mampu untuk melakukan penegakan hukum terhadap pemerintah Myanmar karena tidak memiliki legitimasi hukum dalam skala regional yang memiliki kewenangan di atas hukum nasional negara anggotanya (Suncoko n.d.).

The ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) sejak kelahirannya beberapa tahun yang lalu, didasarkan pada fungsi dan mandatnya, AICHR telah mencapai hasil-hasil antara lain; mengadopsi panduan operasi AICHR, membentuk Tim Penyusun Deklarasi HAM ASEAN dimana deklarasi tersebut akan menjadi sebuah roadmap untuk pembangunan HAM regional, mengadopsi TOR Tim

Penyusun Deklarasi HAM ASEAN, mengadopsi Aturan Prosedur untuk Dana AICHR, mengadopsi TOR studi tematik mengenai CSR dan HAM di ASEAN,

(12)

Fundamental Rights Agency, Council of Europe, Commissioner of Human Rights of CoE, European Human Rights Court 2011 (Djamin n.d.).

Adapaun dalam upayanya menyelesaikan pelanggaran HAM di Rohingya Myanmar, AICHR juga telah melakukan beberapa hal, antara lain; Pertama yaitu mengadapakn beberapa pertemuan. Adapaun pertemuan pertamanya di Yangon, Myanmar diadakan pada tanggal 8-11 Februari 2014, yang mana pertemuan ini

membangun atas keberhasilan dan prestasi tahun 2013. Serta membahas peran AICHR untuk lebih berkontribusi terhadap perkembangan ASEAN post-2015 visi masyarakat serta untuk review dari dengan ketentuan dari referensi (TOR). Dalam hubungan ini, AICHR telah menjadwalkan serangkaian konsultasi untuk menilai dan mengumpulkan masukan dari pemangku kepentingan untuk membantu merumuskan rekomendasi AICHR untuk pertimbangan dari Menteri luar negeri ASEAN. Yang mana rumusan ini diharapkan dapat menjadi rujukan negara ASEAN dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM.

Yang kedua mengadakan pertemuan ke 16 nya pada tanggal 3-4 Oktober 2014 yang dipimpin langsung oleh H.E. U Kyaw Tint Swe, perwakilan dari Myanmar untuk AICHR dan Ketua AICHR. Yang mana peretemuan ini membahas laporan mereka untuk menteri luarnegeri ASEAN dan mengadopsi sejumlah inisiatif pada promosi HAM diwilayah ASEAN, terutama Myanmar dan juga dalam isu perlindungan anak.

AICHR juga telah mengadakan beberapa workshop di Myanmar. Workshop ini dihadiri oleh sekitar 80 peserta terdiri dari praktisi CSR dan hak asasi manusia, dan

stakeholder lainnya regional dari pemerintah, bisnis dan masyarakat sipil dan wakil-wakil AICHR. Workshop ini memberikan kesempatan berharga untuk para peserta

(13)

menyentuh pada peluang untuk masa depan pengembangan kegiatan CSR dan hak asasi manusia dalam wilayah ASEAN, terutama Myanmar.

Adapaun bentuk lain dari upaya penerapan HAM secara holistic yang dilakukan oleh AICHR di Myanmar ialah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat ASEAN tentang hak asasi manusia. Hal ini di wujudkan dalam sebuah seminar yang diadakan oleh AICHR yang bertajuk ―AICHR Youth Debate of Human Rights‖ dimana di dalam seminar tersebut AICHR berkunjung ke beberapa universitas di Myanmar dan negara-negara ASEAN lainnya untuk memberikan pemahaman pada HAM guna meningkatkan kesadaran anak muda ASEAN, terutama di Myanmar terhadap isu HAM.

Kendala-kendala Yang Dihadapi Oleh AICHR

Suatu organisasi yang berhasil dapat diukur dengan melihat pada sejauh mana organisasi tersebut dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan (Nog 2005). Ditengah beberapa kemajuan yang dihasil oleh AICHR belakangan ini, terdapat beberapa kelemahan, kendala dan sekaligus juga tantangan bagi AICHR. AICHR sendiri telah menjadi sorotan dan mendapatkan kritikan yang cukup tajam dari kalangan kelompok masyarakat sipil, terutama dalam mengatasi pelanggaran HAM yang terdapat di Rohingya, Myanmar. Diantara ke kendala dan kelemahan-kelemahan tersebut, antara lain;

Pertama, tertutupnya Myanmar terhadap negara-negara lain termasuk AICHR, terkait masalah pelanggaran HAM yang terjadi di Rohingya membuat AICHR mengalami kendala dan kesulitan dalam menanganinya. Hal ini juga dipengaruhi oleh

(14)

Kedua, AICHR sebagai lembaga antar pemerintah, dalam bekerjanya lebih sebagai lembaga negosiasi politik ketimbang Lembaga HAM. Hal ini lah yang menyebabkan AICHR lebih terfokus pada negoisasi dibandingkan terjun langsung dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Ketiga, yaitu adanya independensi yang lemah yang dimiliki AICHR, baik dari segi keanggotaan, tanggung jawab/akuntabilitas anggota pada pemerintah yang

menunjuk, dari segi pendanaan. Serta mekanisme proteksi yang lemah: tidak ada wewenang menerima pengaduan individual, wewenang untuk investigasi, wewenang untuk country visit , dan tidak ada pembahasan country situation. Komisi, juga tidak dapat menjatuhkan sanksi atas pelanggaran HAM yang terjadi di suatu negara dan pembahasan masalah HAM hanya dapat dilakukan dalam tingkat dialog.

Keempat, dikarenakan mandat dan wewenang AICHR masih sangat terbatas pada promosi dan perlindungan HAM. Sehingga AICHR tidak memiliki mandat investigatif dan koersif yang membuat Pelanggaran HAM di kawasan Asean tidak dapat dimasuki AICHR. Sehingga AICHR tidak dapat melakukan tindakan yang lebih dan terjun langsung dalam menangani permasalahan HAM di Rohingya, Myanmar.

Kurangnya tindak lanjut serta implementasai nyata dari kesepakatan yang telah dicapai menyebabkan kurang maksimalnya hasil yang dicapai dalam kerjasama antar negara-anggota ASEAN selama ini. Khusus untuk pelaksanaan kerjasama Komisi HAM ASEAN, semua bentuk pesetujuan yang dicapai semestinya dapat dimaksimalkan pelaksanaannya. Dalam kaitan itu, perlu diberikan prioritas dan

momentum yang tepat dari masing-masing pemerintah negara ASEAN untuk mensosialisasikan dan mempromosikan nilai penting isu penegakan HAM di kawasan

Asia Tenggara sesuai dengan kerangka kerjasama ASEAN di bidang HAM.

(15)

menjadi terhambat dikarenakan oleh ketidak sempurnaan tersebut. Hal ini yang kemudian menjadi tantangan bagi AICHR untuk mengembangkan cakupan kerja AICHR sehingga aspek pemantauan nantinya bisa menjadi bagian integral dalam cakupan kerja AICHR (Saputri, PERAN ASEAN Intergovernental Commission Of Human Rights (AICHR) DALAM MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI KAWASAN NEGARA ANGGOTA ASEAN 1 Februari 2014).

Kesimpulan

Jalan panjang konflik dan pelanggaran HAM yang terjadi di Rohingya, Myanmar masih terus berlanjut hingga saat ini. Konflik yang dipicu oleh insiden pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Ma Thida Htwe (27 tahun) ini, telah menelan banyak korban. Kelompok Buddhis Arakan, didukung oleh pendeta Buddha lokal dan aparat keamanan Myanmar, melakukan berbagai tindakan kekerasan secara sistematis terhadap muslim Rohingya meliputi pemukulan, pemenggalan, pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran tempat tinggal, pengusiran dan isolasi bantuan ekonomi. Berbagai tindakan kekerasan ini digunakan sebagai cara untuk mengusir etnis Rohingya keluar dari Myanmar.

Kebijakan junta militer yang bersikap represif dan anarkis terhadap etnis Rohingya mulai terlihat secara nyata sejak operasi Naga Min tahun 1978. Ne Win melancarkan Operasi Raja Naga yaitu operasi militer dalam skala besar di Arakan, operasi ini ditujukan untuk membasmi kelompok Mujahidin yang dituduh melakukan upaya separatis di wilayah utara Arakan. Warga Rohingya banyak yang mengalami penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang, dan pembunuhan massal. Bahkan

dalam sebulan terakhir, tercatat 650 orang etnis Rohingya tewas, 1.200 warga hilang, dan sekitar 80 ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.

(16)

berbagai macam upaya terutama dalam menanggulangi permasalahan HAM di Myanmar. Karena pada dasarnya AICHR merupakan institusi penaung (overarching) HAM di ASEAN dengan tanggung jawab secara umum adalah untuk pemajuan dan perlindungan HAM di wilayah ASEN. Adanya badan ini dimaksudkan untuk mempermudah dan mengurangi berbagai macam permasalahan pelanggaran HAM di Asia Tenggara.

Selain itu juga ASEAN sebagai organisasi regional memiliki tanggung jawab untuk menangani kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Myanmar. Adapun upaya-upaya yang dilakukan The ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR), dalam menanggulangi permasalahan HAM di Myanmar, antara lain :

Akan tetapi dalam melakukan tugasnya dalam menyelesaikan permasalan HAM di Asia tenggara, terutama Rohingya, Myanmar. AICHR belum berhasil menyelesaikan permasalahan pelanggaran HAM tersebut. Hal ini dibuktikan dari semakin banyak dan bertambahnya korban dalam kasus tersebut. Diawali dari pembunuhan salah satu warga Budha di Rohingya, kemudian pembantaian 10 warga muslim. Pada tahun 2013 tercatat 650 orang etnis Rohingya tewas, 1.200 warga hilang. Hingga pada tahun 2015 tercatat sudah 25.000 keluar membawa pengungsi dari Rohingya, serta Sekitar 140 ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi. Hingga saat ini telah banyak pengungsi Rohingya yang terdampar dibeberapa negara di Asia Tenggara.

Adapun ketidak efektifan AICHR dalam menangani permasalahan pelanggaran

HAM dan konflik yang terjadi di Rohingya Myanmar dikarenakan dalam upayanya AICHR menghadapi beberapa kendala, antara lain :

(17)

terdapatnya perbedaan perkembangan demokrasi dan HAM yang tajam diantara negara anggota ASEAN. Political diversity di dalam ASEAN sendiri tetap menjadi persoalan ketika hendak mencapai kesepakatan dalam persoalan HAM.

Kedua, AICHR sebagai lembaga antar pemerintah, dalam bekerjanya lebih sebagai lembaga negosiasi politik ketimbang Lembaga HAM. Hal ini lah yang menyebabkan AICHR lebih terfokus pada negoisasi dibandingkan terjun langsung

dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Ketiga, yaitu adanya independensi yang lemah yang dimiliki AICHR, baik dari segi keanggotaan, tanggung jawab/akuntabilitas anggota pada pemerintah yang menunjuk, dari segi pendanaan. Serta mekanisme proteksi yang lemah: tidak ada wewenang menerima pengaduan individual, wewenang untuk investigasi, wewenang untuk country visit , dan tidak ada pembahasan country situation. Komisi, juga tidak dapat menjatuhkan sanksi atas pelanggaran HAM yang terjadi di suatu negara dan pembahasan masalah HAM hanya dapat dilakukan dalam tingkat dialog.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

"Potensi Pasar ASEAN” Majalah ASEAN Edisi 4,. Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, 4 Maret 2014.

Coplin, William D. Introduction of international politics, Terjemahan: Drs Marsedes Marbun. Bandung: Sinar Baru, 1992.

Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI. “ Potensi Pasar ASEAN” Majalah ASEAN Edisi 4, . 4 Maret 2014.

Hutapea, Parulian. KOMPETENSI PLUS, Teori, Desain, Kasus, dan Penerapan Untuk HR, dan Organisasi yang Dinamis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Ivancevich, John. Perilaku dan Managemen Organisasi. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.

Jackson, Robert. "Pengantar Studi Hubungan Internasional." 2009. Yogyakarta: Pustaka Belajar, n.d.

Mangku, Dewa Gede Sudika. "― KASUS PELANGGARAN HAM ETNIS

ROHINGYA : DALAM PERSPEKTIF ASEAN―, ." Media Komunikasi FIS, Volume 12, , 2 Agustus 2013.

Mas‘oed, Mohtar. ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES, 1990.

(19)

Secretariat, ASEAN. ASEAN INTERGOVERNMENTAL COMMISSION ON HUMAN RIGHTS (Terms of Reference). Jakarta.: ASEAN Secretariat, 2009.

Karya Ilmiyah

Isa, Rusli. "EFEKTIVITAS ORGANISASI KECAMATAN DALAM PELAYANAN PUBLIK SETELAH MENJADI PERANGKAT DAERAH." INOVASI, Volume 6, Nomor 4, Desember, 2009.

Saputri, Ananda Ruriksa. " PERAN ASEAN Intergovernental Commission Of Human Rights (AICHR) DALAM MENEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA DI KAWASAN NEGARA ANGGOTA ASEAN." ejournal.hi.fisip-unmul.org, 2 Oktober 2015.

Mangku, Dewa Gede Sudika. "KASUS PELANGGARAN HAM ETNIS

ROHINGYA : DALAM PERSPEKTIF ASEAN." Media Komunikasi FIS, Volume 12, 2 Agustus 2013.

Media Massa

Bahri, Saiful. Pemerintah Myanmar Dalang Kerusuhan di Rohingya. n.d.

http://www.dakwatuna.com/2013/05/03/32564/pemerintah-myanmar-dalang-kerusuhan-di-rohingya/#axzz3YjcZxSbe (accessed Oktober 1, 2015).

(20)

Hak Asasi Manusia (HAM). n.d.

https://equitas.org/wp-content/uploads/2011/12/modul-2-hal-1-38.pdf (accessed November 22 , 2015).

Silaen, Victor. Kendala ASEAN dalam Masalah Rohingya. n.d.

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/kendala-asean-dalam-masalah-rohingya (accessed Oktober 10 , 2015).

Utami, Ranny. Mengenal Etnis Rohingya Lebih Dekat. n.d.

http://www.cnnindonesia.com/internasional/20140925171827-113-4396/mengenal-etnis-rohingya-lebih-dekat (accessed Agustus 20 , 2015 ).

—. Mengenal Etnis Rohingya Lebih Dekat. n.d.

http://www.cnnindonesia.com/internasional/20140925171827-113-4396/mengenal-etnis-rohingya-lebih-dekat (accessed Agustus 20, 2015).

—. Mengenal Etnis Rohingya Lebih Dekat. n.d.

http://www.cnnindonesia.com/internasional/20140925171827-113-4396/mengenal-etnis-rohingya-lebih-dekat (accessed Agustus 20 , 2015 ).

Wibisono, Adhe Nuansa. ASEAN, Rohingnya dan Krisis Kemanusiaan di Myanmar. n.d.

http://www.anwibisono.com/2013/08/asean-rohingnya-dan-krisis-kemanusiaan.html (accessed Agustus 30 , 2015 ).

Revolusi, Alfi. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KONFLIK ETNIS RAKHINE DAN ROHINGYA DI MYANMAR TAHUN 2012. n.d.

http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/1977 (accessed Oktober 1, 2015).

(21)

Referensi

Dokumen terkait