• Tidak ada hasil yang ditemukan

INOVASI DESAIN PRODUK TEKSTIL DARI BAHAN PERCA UNTUK MENINGKATKAN DAYA JUAL PRODUK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INOVASI DESAIN PRODUK TEKSTIL DARI BAHAN PERCA UNTUK MENINGKATKAN DAYA JUAL PRODUK"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PENGANTAR KARYA TUGAS AKHIR

Untuk memperoleh gelar Sarjana Seni pada Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Oleh

MUHAMMAD AL ARIF C0906023

JURUSAN KRIYA SENI TEKSTIL FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

▸ Baca selengkapnya: promosi merupakan cara memperkenalkan produk kepada orang lain, salah satu media yang cocok untuk promosi produk hiasan dari bahan perca kecuali

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

iv

NAMA : MUHAMMAD AL ARIF

NIM : C 0906023

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tugas Akhir berjudul INOVASI

DESAIN PRODUK TEKSTIL DARI BAHAN PERCA UNTUK

MENINGKATKAN DAYA JUAL PRODUK adalah benar-benar karya sendiri, bukan plagiat, dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya dalam pengantar Tugas Akhir ini diberi citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Surakarta, ...2012 Yang Membuat Pernyataan

(5)

commit to user

v

QS.Al Faatihah: 6.

Orang yang tidak tahu, tapi bertindak, akan dibuat tahu saat bertindak.

Mario Teguh.

(6)

commit to user

vi

Tugas akhir ini saya persembahkan kepada:

Bapak dan ibu tercinta,

Keluargaku tercinta

Sahabat dan teman-teman yang aku sayangi

Teman-teman Seni Rupa

Serta adik-adikku Kriya Tekstil

(7)

commit to user

vii

limpahan rahmat, karunia dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul INOVASI DESAIN PRODUK TEKSTIL DARI BAHAN PERCA UNTUK MENINGKATKAN DAYA JUAL PRODUK yang merupakan salah satu syarat kelulusan dalam menempuh studi di Jurusan Kriya Seni / Tekstil, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pengantar karya yang telah disusun ini diharapkan dapat membuka wawasan baru terutama bagi penulis dan semua pihak yang terkait. Penulisan Pengantar Karya ini disusun atas masukan, saran, serta bantuan dari berbagai pihak untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaiakan terima kasih pada: A. Drs. Riyadi Santoso, M.Pd.,P.hD, selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni

Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Dra. Tiwi Bina Affanti, M.Sn., selaku Ketua Jurusan Kriya Seni/ Tekstil Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta dan selaku pembimbing Tugas Akhir, yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran guna memberikan pengarahan, dukungan, dan semangat kepada penulis hingga terselesaikannya Tugas Akhir ini..

(8)

commit to user

viii

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta, terima kasih atas ilmu yang diberikan selama ini.

E. Orang tuaku dan kakakku tercinta yang selalu memberikan do’a, perhatian dan dukungan agar cepat selesai kuliah tepat pada waktunya.

F. Teman-temanku khususnya angkatan 2006, alumni dan adik tingkatku serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan serta bantuannya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

G. Teman IAM Futsal yang telah memberikan tempat dan waktunya ketika penyusunan proposal dan membantu dari awal sampai akhir.

H. Pihak lain yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa Pengantar Karya Tugas Akhir ini sudah sempurna. Namun segala masukan ataupun kritikan penulis jadikan pembelajaran yang membangun. Semoga segala kebaikan dari semua pihak akan mendapat balasan yang nikmat dari Allah SWT dan semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca serta bermanfaat untuk penulis tentunya.

Surakarta, 2012

(9)
(10)

commit to user

x BAB V PENUTUP

(11)

commit to user

Gambar 18. Hasil perca setelah disetrika ... 25

Gambar 19. Pembuatan pola dengan kertas karton ... 26

Gambar 20. Penjiplakan pola pada kain ... 26

Gambar 21. Penjiplakan pola ... 26

Gambar 22. Hasil potongan ... 27

Gambar 23. Penyusunan sebelum dijahit ... 27

Gambar 24. Penyusunan berdasarkan repeat ... 28

Gambar 25. Desain 1 ... 39

Gambar 26. Hasil produk desain 1 ... 40

Gambar 27. Aplikasi produk ... 40

(12)

commit to user

xii

Gambar 30. Aplikasi produk ... 43

Gambar 31. Desain 3 ... 44

Gambar 32. Hasil produk desain 3 ... 45

Gambar 33. Aplikasi produk ... 45

Gambar 34. Desain 4 ... 47

Gambar 35. Hasil produk desain 4 ... 47

Gambar 36. Aplikasi produk ... 48

Gambar 37. Desain 5 ... 49

Gambar 38. Hasil produk desain 5 ... 49

Gambar 39. Aplikasi produk ... 50

Gambar 40. Desain 6 ... 51

Gambar 41. Hasil produk desain 6 ... 51

(13)

commit to user

xiii

Lampiran 2. Jumlah potongan dan ukuran desain 1. Lampiran 3. Langkah penjahitan desain 2.1.

Lampiran 4. Langkah penjahitan desain 2.2.

Lampiran 5. Jumlah potongan dan ukuran desain 2. Lampiran 6. Langkah penjahitan desain 3.1.

Lampiran 7. Langkah penjahitan desain 3.2.

Lampiran 8. Jumlah potongan dan ukuran desain 3. Lampiran 9. Langkah penjahitan desain 4.

Lampiran 10. Jumlah potongan dan ukuran desain 4. Lampiran 11. Langkah penjahitan desain 5.1.

Lampiran 12. Langkah penjahitan desain 5.2.

Lampiran 13. Jumlah potongan dan ukuran desain 5. Lampiran 14. Langkah penjahitan desain 6.1.

Lampiran 15. Langkah penjahitan desain 6.2.

Lampiran 16. Jumlah potongan dan ukuran desain 6. Lampiran 17. Bahan perca.

Lampiran 18. Perca setelah disetrika. Lampiran 19. Proses pemotongan pola. Lampiran 20. Potongan perca sesuai pola. Lampiran 21. Penyusunan sebelum dijahit. Lampiran 22. Penyusunan sesuai pola dan motif. Lampiran 23. Proses penjahitan.

(14)

commit to user

xiv

Muhammad Al Arif C0906023. 2012. Inovasi Desain Produk Tekstil dari Bahan Perca untuk Meningkatkan Daya Jual Produk. Tugas Akhir: Jurusan Kriya Seni/ Tekstil Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Permasalahan yang dibahas yaitu: bagaimana inovasi desain produk tekstil dengan bahan perca agar daya jual produk lebih meningkat.

Strategi yang digunakan untuk mewujudkan proses penciptaan ini adalah dengan

melakukan survey dan observasi ke pengrajin dan pasar, pengumpulan data dan gambar,

selanjutnya dengan melakukan uji coba untuk menghindari kesalahan.

(15)

commit to user PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perca adalah salah satu limbah yang dihasilkan oleh konveksi ataupun pabrik garmen, apabila tidak dimanfaatkan limbah ini akan menjadi sampah. Berkembangnya industri garmen dan konveksi mengakibatkan limbah perca dan menjadi masalah yang perlu untuk diselesaikan. Untuk mengatasi masalah tersebut maka sangat dibutuhkan tangan-tangan terampil untuk memanfaatkan dan mendaur ulang perca sebagai solusi untuk mengurangi penumpukan sampah dari limbah perca, misalnya dengan memanfaatkan perca sebagai bahan untuk produk yang dibutuhkan masyarakat.

(16)

commit to user

kualitas yang sesuai dengan pasaran. Dari segi estetik, pengrajin menggunakan bahan dan warna yang ada, pengrajin menyusun sesuai dengan pola dan bahan perca sehingga terciptalah produk bed cover. Kelemahan dalam penyusunan warna dan motif saat ini menjadikan permasalahan, karena pengrajin terbiasa dengan pengolahan pola dan ukuran bahan yang sama. Hal inilah yang membuat produk dari bed cover belum mempunyai nilai keindahan atau estetis yang tinggi, karena produk yang dihasilkan masih monoton sehingga perlu untuk dikembangkan, dan membuka peluang untuk lebih meningkatkan daya tarik konsumen terhadap produk bed cover dari bahan perca.

(17)

commit to user

Gambar 2. Produk selimut perca. Sumber. Tetoti Collection

(18)

commit to user

Gambar 4. Produk tas laptop dari perca Sumber. Tetoti collection

(19)

commit to user

Gambar 6. Produk bed cover dari perca Sumber. Batik Tjahaja Baroe

(20)

commit to user

Gambar 8. Produk Bed Cover perca Sumber. Tiara collection

(21)

commit to user pemberdayaan nasional (www.republika.com).

Dari uraian di atas timbul permasalahan dalam pengolahan perca yaitu, masih banyaknya perca yang belum dimanfaatkan, produk yang dihasilkan masih sebatas pengolahan secara teknik dari perca dan kurang memperhatikan penyusunan motif sehingga terlihat monoton dan perlu untuk meningkatkan daya tarik konsumen terhadap produk dari perca. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan ide kreatif dalam pengolahan perca, hal itu bisa dilakukan dengan adanya penyegaran/pembaruan desain dan penciptaan dalam pengolahan produk tekstil dari bahan perca. Pengembangan desain yang diambil adalah pengolahan perca dengan memanfaatkan potongan yang berbeda ukuran dan disambung dengan teknik patchwork untuk diolah menjadi produk dengan motif dari sambungan tersebut, karena pengolahan perca saat ini masih menyambung dengan bentuk potongan yang sama dan terlihat monoton. Pengembangan ini bertujuan untuk memaksimalkan pengolahan perca, sehingga dari limbah kita bisa memanfaatkan sebagai bahan untuk produk yang mempunyai kualitas dan mempunyai daya tarik terhadap masyarakat.

B. FOKUS PERMASALAHAN

(22)

commit to user C. STUDI PUSTAKA

1. Unsur – Unsur Estetis Kriya Tekstil.

Unsur adalah elemen atau bagian – bagian yang dapat dilihat secara visual yang disusun/diorganisir menjadi suatu karya seni ataupun desain yang serasi dan harmonis. Unsur – unsur dalam suatu karya seni dan desain secara visual dapat berupa garis, bidang, bentuk, tekstur dan warna. Komposisi atau perpaduan dari unsur – unsur desain kriya tekstil dapat disusun berdasarkan pada prinsip – prinsip atau kaidah – kaidah desain seperti: kesatuan, irama, keseimbangan, aksentuasi, sehingga terwujud suatu karya yang serasi, indah dan menarik.

a. Garis

Garis merupakan kumpulan dari titik, dan garis merupakan unsur desain yang terbentuk dari adanya goresan yang nyata sehingga garis merupakan unsur yang paling utama.

b. Bentuk

Bentuk adalah suatu permukaan yang dibatasi oleh garis dan mempunya kesan dua dimensi, yaitu dimensi yang memiliki panjang dan lebar, dan bentuk tiga dimensi yaitu dimensi yang memiliki panjang, lebar, dan volume.

c. Arah

Arah merupakan unsur rupa dan desain yang menghubungkan bentuk dengan ruang. Macam – macam arah yaitu vertikal, horisontal, diagonal dan miring.

d. Warna

(23)

commit to user dan dinikmati adalah warnanya.

e. Tekstur

Tekstur dapat diartikan sebagai tampang visual permukaan dari suatu benda, karena permukaan setiap benda memiliki sifatnya yang khas, misalnya polos atau bercorak, licin atau kasar, kusam, lunak atau keras (Karmila dan Marlina, 2010 : 14 – 19).

Setelah semua unsur – unsur tersebut terpenuhi langkah selanjutnya adalah metode yang digunakan untuk menyusun bahan antara lain:

a. Irama atau ritme

Irama atau ritme berasal dari kata rhythm (Inggris) yang artinya irama, di mana dalam hal ini diartikan sama dengan keselarasan karena sesuatu yang berirama mesti harus laras atau selaras. Sesuatu dikatakan berirama jika terdapat keselarasan.

b. Kesatuan

Kesatuan (unity) merupakan salah satu prinsip dasar tata rupa. Karya seni atau desain harus menyatu, Nampak seperti menjadi satu (kempel, gumolong, golong gilig, Jw.), satu sama lain unsure yang disusun tidak dapat dipisah-pisah, semua menjadi satu unit (unity).

c. Dominasi

Dominasi adalah istilah yang digunakan untuk menterjemahkan kata kerja “domination”(Inggris) yang artinya penjajah (E. Pino, kamus Indonesia-Inggris,

(24)

commit to user

yang menguasai. Dominasi bisa disebut juga keunggulan, keistimewaan, keunikan, keganjilan, atau kelainan dan setiap karya seni harus memiliki dominasi agar menarik.

d. Keseimbangan

Keseimbangan atau balans dari kata balance (Inggris) merupakan salah satu prinsip dasar tata rupa. Karya seni atau desain harus memiliki keseimbangan, agar enak dilihat, tenang, tidak berat sebelah, tidak menggelisahkan.

e. Proporsi

Proporsi atau perbandingan merupakan salah satu prinsip dasar tatarupa untuk memperoleh keserasian.

f. Kesederhanaan

Kesederhanaan (simplicity)menjadi tuntutan pada semua seni ataupun desain. Kesederhanaan artinya tidak lebih dan tidak kurang, jika di tambah terasa menjadi ruwet dan jika dikurangi terasa ada yang hilang. Sederhana bukan berarti harus sedikit tetapi yang tepat adalah “pas” artinya tidak lebih dan tidak kurang.

g. Kejelasan

Jelas artinya mudah dipahami, mudah dimengeerti, tidak memiliki dua atau banyak art. Prinsip kejelasan (clarity) sesungguhnya lebih tepat untuk tujuan tata desain, karena adalah seni terap yang ditujukan untuk kepentingan orang lain, di mana desain harus dapat dimengerti orang lain.

(25)

commit to user

Menurut kamus besar bahasa indonesia (Balai Pustaka 19890), kriya adalah pekerjaan atau kerajinan tangan. Di dalam Encyclopedia of World Art, diuraikan sebagai berikut: The World handicraft refers to useful or decorative objects made by hand or with tools by a work man who direct over the product

during all stages of production. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sesuatu dapat dimasukkan dalam kategori kriya apabila memiliki syarat: 1. Dikerjakan dengan tangan ataupun menggunakan bantuan alat tertentu, 2. Secara visual memiliki aspek dekoratif atau memiliki nilai keindahan, dan 3. Memiliki fungsi pakai/kegunaan tertentu.

(26)

commit to user 3. Konsep Dasar Kriya Tekstil

Kreatifitas dalam membuat produk kriya tekstil yang unik, indah dan menarik, dan nilai tersebut dapat diterima oleh setiap orang dapat terwujud apabila dalam proses pembuatan produk kriya tersebut memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan seni, yaitu:

a. Kreatif

Sifat kreatif adalah salah satu ciri yang membedakan seni dengan kegiatan yang lainnya. Seni dengan sifat kreatifnya merupakan rangkaian kegiatan manusia yang selalu menghasilkan sesuatu yang baru atau memiliki nilai kebaruan yang belum pernah dipikirkan orang lain.

b. Kesatuan (unity)

Suatu benda yang memiliki nilai estetis, dapat diwujudkan melalui penyusunan berbsgsi unsur seni dan desain yang terpadu dalam bentuk karya yang indah, serasi, dan sempurna.

c. Kerumitan (complexity)

(27)

commit to user

Suatu benda yang dikatakan memiliki nilai estetis bukanlah suatu benda yang kosong, melainkan memiliki kualitas atau makna tertentu dalam setiap penampilannya. Nilai itu bisa bersifat konkrit, yaitu nilai yang dapat dilihat secara visual, ataupun nilai abstrak yaitu maknaan nilai yang terkandung dalam suatu karya seni dan sangat tergantung dari penikmat seni itu sendiri dalam memaknainya.

e. Keabadian

Seni mempunyai sifa abadi, karena suatu karya seni yang sudah diterima oleh penikmat seni yang diciptakan seseorang bisa tetap langgeng walau penciptanya sudah tiada. Suatu karya seni yang tercipta dari seorang seniman, akan tetap bertahan terhadap pergeseran waktu dan hidup terus sepanjang masa selama penikmat seni masih mengapresiasi karya seni tersebut.

f. Semesta

(28)

commit to user 4. Desain Tekstil

Desain merupakan salah satu langkah awal dalam mewujudkan suatu karya seni, dan desain merupakan rancangan yang akan memudahkan dala pencapaian tujuan atau penciptaan karya seni. Dengan demikian desain dapat diartikan sebagai suatu rancangan gambar yang dapat diwujudkan dalam bentuk karya nyata dengan tujuan tertentu yaitu berupa susunan dari garis, bentuk, warna, dan tekstur. Secara garis besar desain tekstil harus memperhatikan hal-hal berikut:

a. Desain Struktur.

Desain struktur merupakan upaya pemberian rupa dan warna pada saat atau bersamaan proses pertenunan atau jalinan. Seperti kain anyaman satin, tenun Lurik, tenun Songket, tenun Ikat, kain jala para nelayan, tas simpul dari suku pedalaman Asmat, makrame, kain renda dan sebagainya. Penciptaan pada metode ini dilakukan dengan jalan mengolah susunan benang dan faktor-faktor kontruksi tenun, sehingga akan mendapat bentuk, sifat, pola, tekstur dan warna tekstil sesuai rancangan.

b. Desain Permukaan.

(29)

commit to user

5. Patchwork

Patchwork adalah seni ketrampilan cara menggabungkan

potongan-potongan kain menurut pola yang diinginkan dengan cara dijahit tangan atau mesin. Kemudian disempurnakan dengan cara dijahit tindas (quilting). Yaitu lembaran potongan-potongan kain digabungkan dengan lembaran kain yang memiliki lebar dan panjang yang sama dan sisipi dakron di tengahnya kemudian dijahit tindas mengikuti pola potongan kain tersebut (Stephanie Tjahjadi 2010:5).

Sebelum melakukan proses pembuatan patchwork yang harus diperhatikan adalah (Stephanie Tjahjadi 2010:5):

a. Pemilihan warna yang sesuai.

b. Penggunaan bahan katun 100% atau dengan campuran polyester dan tidak luntur.

c. Hindari kain yang berbulu.

d. Pembuatan pola dengan kertas karton atau plastik yang agak tebal. e. Menjiplak pola di atas kain .

(30)

commit to user

Gambar 9 : Patchwork

Sumber . Buku Patchwork and Quilting

6. Karakteristik Bahan Tekstil

a. Bahan Katun

a) Katun berasal dari biji polong kapas

b) Sifat bahan kuat, menyerap basah, menarik panas bahan, kusut, susut/mengerut.

c) Konstruksi bahan berubah – ubah dengan bermacam berat dan tekstur. d) Penyempurnaan warna bahan relatif mudah dan daya gabungnya bagus. e) Jatuhnya bahan tidak bagus.

f) Tekstur bahan gemersik dan kaku (Goet Puspo 2005:76). 7. Ukuran Matras

Ukuran standar yang beredar di pasaran adalah; 100 x 200 cm, 120 x 200 cm, 160 x 200 cm (Queen size), 180 x 200 ( King size ) dan 200 x 200.( Majalah Rumahku edisi Saturday, 19 March 2011).

(31)

commit to user METODE PENCIPTAAN

A. ANALISA PERMASALAHAN

Permasalahan yang diangkat dalam penciptaan tugas akhir ini adalah “Inovasi Desain Produk Tekstil dari Bahan Perca untuk Meningkatkan Daya Jual

Produk”. Sebelum menginjak permasalahan pokok tentang pengembangan perca ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh pengolahan perca saat ini. Adapun permasalahan yang dihadapi dalam pengolahan perca yaitu; perlunya pengembangan ide desain dalam pengolahan perca dan cara untuk merealisasikan produk dari bahan perca. Untuk memecahkan masalah tersebut maka dibutuhkan analisa terhadap permasalahan yang ada.

(32)

commit to user

karena penyusunan potongan perca umumnya menggunakan ukuran dan bentuk yang sama, sehingga memudahkan dalam proses pengerjaan. Kelemahan dari proses ini adalah produk yang dihasilkan masih monoton, yaitu penyusunan bidang yang digunakan masih mempunyai bentuk yang sama dan disambung untuk menjadi produk tekstil.

Permasalahan yang selanjutnya adalah menganalisa teknik yang digunakan oleh pengrajin untuk membuat produk dari perca, analisa ini meliputi proses dari awal sampai akhir pembuatan yang digunakan sebagai pedoman teknik yang digunakan untuk merealisasikan produk. Permasalahan teknik ini bersangkutan dengan estetika yang ada pada penciptaan desain produk dari bahan perca, karena teknik yang digunakan adalah patchwork maka desain yang digunakan harus sesuai dengan teknik yang digarap supaya desain mampu untuk direalisasikan menjadi karya. Penciptaan desain tidak bisa lepas dari teknik yang akan digunakan untuk menggarap, karena teknik penyambungan ini mempunyai kerumitan untuk menyambung potongan yang berbeda bentuk dan ukuran, sehingga membutuhkan strategi untuk mengatasi permasalahan ini.

B. STRATEGI PEMECAHAN MASALAH

Berdasarkan hasil analisa permasalahan di atas maka dibutuhkan strategi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan, langkah yang diambil untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah:

(33)

commit to user

2. Langkah selanjutnya yang diambil untuk menentukan bahan yaitu dengan melakukan pengumpulan kain perca dari berbagai konveksi yang ada di solo, bahan-bahan yang digunakan merupakan perca dari sisa potongan jahitan yang kemudian dikelompokkan berdasarkan bahan dasar serat, motif, warna dan ukuran. Setelah bahan dan teknik langkah selanjutnya adalah dengan melakukan percobaan, percobaan ini dilakukan untuk mengantisipasi kesalahan dalam proses pembuatan karya.

3. Survey pasar dilakukan untuk mengetahui selera masyarakat dan untuk mengetahui produk perca seperti apa yang saat ini ada di pasaran, karena sesbelum memulai proses perancangan maka yang harus dilakukan adalah mengetahui selera masyarakat. Survey ini dilakukan di PGS, BTC, Pasar Klewer, Pasar Ngarsopuro dan pengrajin yang ada di sekitar Solo khususnya daerah Laweyan.

(34)

commit to user

C. HASIL PENGUMPULAN DATA

Perca adalah potongan-potongan kain yang dihasilkan dari sisa produksi, perca mempunyai ukuran, bahan, dan motif atau warna yang bermacam-macam.

Teknik patchwork mempunyai kriteria yang sesuai dengan pengolahan perca karena teknik ini mempunyai prinsip menyambung kain dan perca mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Dengan menjahit dan menggabungkan potongan-potongan kain maka akan terbentuk lembaran kain yang baru sesuai dengan desain yang beraneka ragam. Keunggulan dari teknik patchwork adalah bahan dari perca bisa diolah secara maksimal karena teknik ini mempunyai prinsip menyambung dan tidak membatasi ukuran kain. Selain itu penyusunan warna dan motif dengan memperhatikan prinsip desain akan menghasilkan karya yang eksklusif, karena perca mempunyai keterbatasan warna dan motif sesuai bahan yang tersedia. Teknik patchwork mempunyai kelemahan dalam teknik penjahitan, karena struktur perca berbeda-beda sehinga mempunyai karakteristik yang berbeda dalam penyambungan dan menyulitkan dalam proses penjahitan (Mila Karmila dkk, 2010 : 38 – 39).

(35)

commit to user

mampu meningkatkan daya jual maka diperlukan pengamatn terhadap selera masyarakat akan produk-produk yang dihasilkan dari bahan perca. Berdasarkan hasil survey dan wawancara yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa masyarakat lebih memilih produk perca yang mempunyai fungsi sebagai pelengkap rumah tangga dibandingkan dengan aksesoris, misalnya bed cover, penutup galon, selimut dan bantal untuk kursi. Kriteria produk yang dipilih umumnya yang dibuat dari 100% perca karena produk ini mempunyai keunggulan yaitu eksklusif dan terbatas. Berikut ini adalah dokumentasitasi dari berbagai data gambar yang di ambil dari berbagai sumber:

(36)

commit to user

Gambar 11: Pemanfaatan untuk pelengkap. Sumber. Batik Perca dan Lawasan Laweyan

(37)

commit to user

Gambar 13. Selimut perca. Sumber. Batik Tjahaja Baroe

(38)

commit to user

Gambar 15. Bed Cover Perca Sumber. Batik Tjahaja Baroe

D. UJI COBA

Ujicoba atau eksperimen dilakukan untuk mengurangi kesalahan selain itu digunakan sebagai teknik yang dipilih untuk penggarapan perca sesuai dengan tema. Berikut ini adalah hasil uji coba teknik sambung perca atau patchwork yang dilakukan dengan pengrajin perca di solo:

1. Pengumpulan perca berdasarkan warna dan bahan

(39)

commit to user Gambar 17. Potongan perca

Sumber. Dokumentasi Arif

3. Menyetrika kain yang sudah dikelompokkan berdasarkan bahan dan warna.

(40)

commit to user 4. Pembuatan pola dengan kertas.

Gambar 19. Hasil pembuatan pola dengan kertas karton. Sumber. Dokumentasi Arif

5. Penjiplakan pola di atas kain.

Gambar 20. Penjiplakan pola

Sumber. Dokumentasi Arif

(41)

commit to user Gambar 22. Hasil potongan.

Sumber. Dokumentasi Arif

7. Penyusunan berdasarkan warna.

(42)

commit to user 8. Penggabungan awal potongan perca sesuai desain.

Gambar 24. Penyusunan berdasarkan repeat Sumber. Dokumentasi Arif

E. GAGASAN AWAL DAN ALTERNATIFNYA

Gagasan awal pada penciptaan karya tugas akhir ini mengambil pokok bahasan pengembangan inovasi desain dan produk tekstil dari perca untuk meningkatkan daya jual produk, dengan pertimbangan unsur-unsur desain dan berbagai acuan data yang digunakan untuk mengembangkan produk dengan teknik patchwork. Pertimbangan aspek bahan, aspek teknik, aspek estetik dan aspek fungsi ini menjadi nilai penting pada penciptaan tekstil dengan teknik patchwork. Pengembangan desain perca dengan teknik patchwork ditujukan untuk meningkatkan dan memaksimalkan pengolahan perca menjadi produk yang fungsional yaitu produk pelengkap rumah tangga. Produk yang dibuat adalah pelengkap peralatan tidur yaitu bed cover.

(43)

commit to user

dihasilkan diolah kembali menjadi sebuah bed cover yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Potongan yang digunakan dalam pengolahan ini adalah geometris, karena dengan potongan geometris memudahkan untuk penyambungan dan penyusunan. Penyusunan bidang dipilih dengan mengolah bidang yang berbeda misalnya dengan mencampurkan bentuk segitiga dengan segi empat yang ditata dengan komposisi berdasarkan bentuknya untuk menjadikan motif baru. Penyambungan perca dilakukan dengan memberikan sisa sambungan kurang lebih 0,5cm pada jahitan sambungan dan ukuran minimal 10cm pada setiap potongan perca.

(44)

commit to user BAB III

PROSES PENCIPTAAN

A. BAGAN PEMECAHAN MASALAH

Inovasi Desain Produk Tekstil dari Bahan Perca untuk Meningkatkan Daya Jual Produk.

Analisa Pengolahan Perca

Kelebihan pengolahan perca

Identifikasi Permasalahan

a. Permasalahan desain dan teknik pengolahan perca

Strategi Pemecahan Masalah

Survey proses dan teknik pengolahan perca

(45)

commit to user

untuk melengkapi kebutuhan. Pemilihan bed cover sebagai produk karena bed cover yang diolah untuk saat ini masih mempunyai kekurangan dalam kreasi desain, selain itu bed cover merupakan produk yang mampu untuk menyerap perca yang lebih banyak dibandingkan dengan produk lainya misalkan aksesoris. Produk bed cover merupakan salah satu produk yang peminatnya adalah masyarakat kelas menengah ke atas dengan demikian peluang untuk meningkatkan daya jual perca sangat terbuka yaitu dengan pengolahan desain yang lebih variatif dengan memperhatikan aspek-aspek desain agar tercipta produk bed cover dengan desain yang lebih beraneka ragam.

Konsep penciptaan yang ditawarkan adalah pengolahan perca yang digunakan sebagai sebagai pembuatan bed cover, tema yang diambil yaitu pengolahan bidang geometris yang berbeda bentuk dan ukuran disambung dengan menggunakan teknik patchwork. Pemilihan potongan geometris yang berbeda bentuk dan ukuran karena selama ini produk yang dihasilkan oleh pengrajin masih menggunakan teknik menyambung dengan bentuk dan ukuran yang sama yang disusun berdasarkan warna dan meghasilkan produk yang masih monoton untuk motifnya. Untuk itulah pengolahan geometris yang berbeda bentuk diambil sebagai teknik yang bertujuan untuk meningkatkan nilai estetis dan ketertarikan masyarakat terhadap produk dari bahan perca.

(46)

commit to user

sedemikian rupa untuk dijadikan motif mozaik. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, mozaik adalah seni dekorasi bidang dengan kepingan berwarna yang disusun untuk menjadi bentuk baru. (Depdiknas 2001:756).

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan untuk memvisualisasikan karya antaralain :

1. Estetis

(47)

commit to user

bahan ini dilakukan agar tercipta keselarasan bahan dengan fungsinya. Bahan yang digunakan harus mempunyai karakteristik yang sama, pemilihan bahan menggunakan kain katun yang mudah ditekuk. Kesamaan bahan juga berpengaruh pada proses pembuatannya karena dengan bahan yang sama maka akan mempermudah proses penyambungan dan produk yang dihasilkan bisa lebih baik dari percampuran bahan.

(48)

commit to user

sehingga menimbulkan permukaan yang tidak rata, dan tidak rapi pada patchwork. Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut adalah dengan cara menyeimbangkan berat kain melalui pemberian lapisan (viseline) pada bagian kain yang ringan. Kain katun merupakan kain yang dapat menghasilkan teknik patchwork yang baik, karena memiliki daya lipat yang baik, teksturnya tidak licin, dan sifatnya yang sedikit kaku, sehingga akan memudahkan dalam proses pengerjaannya.

b. Benang Jahit

Benang jahit berfungsi untuk menjahit potongan kain perca yang satu dengan yang lainnya. Warna benang hendaknya disesuaikan dengan warna kain pokok. Jenis benang yang dapat digunakan adalah benang katun.

c. Peralatan Jahit 3. Proses

Teknik yang digunakan dalam visualisasi karya adalah dengan menggunakan teknik patchwork, patchwork adalah seni dan kreasi dalam menggabungkan potongan – potongan perca satu dengan yang lainnya dan memiliki motif atau warna yang berbeda – beda sehingga menjadi suatu bentuk tertentu. Teknik ini dipilih karena patchwork merupakan teknik yang sesuai dengan karakter perca yang berupa potongan kain dan disambung untuk menjadi lembaran kain baru yang digunakan sebagai bahan pembuatan bed cover.

(49)

commit to user

Langkah-langkah dalam pengerjaan teknik patchwork terdiri dari tiga tahap, yaitu:

a. Membuat Pola

Memilih dan menentukan motif patchwork, kemudian membuat polanya dari desain motif tersebut pada kertas milimeter blok, kemudian digunting pola dengan menggunakan gunting kertas.

b. Menjiplak Pola pada Kain

Menjiplak pola pada kain dengan bantuan pensil lalu melebihkan 1cm dari tepi pola pada setiap sisinya untuk kampuh.

c. Memotong Kain

Pemotongan kain menggunakan alat pemotong kain dan gunting, karena ukuran perca yang berbeda-beda maka dibutuhkan gunting dan alat pemotong kain. Untuk perca yang berukuran besar dipotong secara bersamaan dengan pemotong kain untuk perca yang berukuran kecil digunting sesuai dengan ukuran dan jiplakan.

d. Menyambung Kain

Menyambung kain dilakukan dengan menggunakan mesin jahit lurus. Penyambungan dengan mesin digunakan pada penyambungan kain sesuai dengan pola yang ditentukan.

(50)

commit to user

maka akan menghasilkan sambungan yang mempunyai motif lebih menarik karena tekstur yang dihasilkan dari sambungan itu bermacam-macam sehingga produk lebih beraneka ragam dan lebih menarik daripada produk yang sudah ada. Kelemahan yang dihadapi yaitu membutuhkan teknik dan kerumitan yang lebih karena kain yang disambung mempunyai bentuk yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan kejelian dalam proses penyambungan.

4. Fungsi

Penciptaan pada pengembangan nilai estetis perca ditujukan untuk mengolah perca dengan teknik patchwork menjadi bed cover yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Bed cover berfungsi sebagai penutup sekaligus pelapis kasur. Isi untuk bed cover dan kain penutupnya dijahit permanen dan lebih tebal untuk melapis ranjang. Lebar bed cover 30cm – 40cm lebih panjang karena katun mudah untuk dijahit sehingga jahitan yang dihasilkan dari sambungan bisa rapat dan tidak tertembus oleh debu.

C. KRITERIA PENCIPTAAN

(51)

commit to user

nilai estetis yang baru dan menarik, sehingga perca mampu dimanfaatkan secara maksimal. Produk yang dihasilkan adalah bed cover dari sambungan perca dan mempunyai bentuk potongan bidang geometris dan digunakan sebagai bed cover.

D. PEMECAHAN DESAIN

(52)

commit to user

(53)

commit to user VISUALISASI

A. URAIAN DESKRIPTIF

Hasil akhir dalam pengembangan nilai estetis pada produk perca adalah terwujudnya produk bed cover yang terbuat dari bahan perca dengan menggunakan teknik patchwork yaitu menyambung potongan perca untuk dijadikan bed cover. Konsep penciptaan yang diambil yaitu pengolahan bidang geometris yang berbeda bentuk yang disusun menjadi motif geometris sehingga menghasilkan nilai estetis yang menarik.

B. HASIL DESAIN

(54)

commit to user

Gambar 26. Hasil Produk desain 1 Sumber: Dokumentasi Arif

(55)

commit to user

Desain ini mempunyai ukuran 160cm x 200cm dengan menggunakan perca katun, untuk penggunaan warna menyesuaikan dengan ketersediaan perca yaitu merah, coklat tua, coklat muda, hijau, hitam dan biru.

Pengolahan motif geometris menggunakan 3 bidang yang berbeda bentuk dan ukuran yaitu: bidang segitiga dan segi panjang yang disusun menjadi sebuah bangun persegi panjang yang disusun seolah-olah menjadi tumpukan balok. Motif terinspirasi dari tumpukan anak tangga yang mempunyai efek tiga dimensi seperti tumupukan balok, motif ini diaplikasikan ke desain bed cover yang menggunakan teknik patchwork dan menyambung potongan perca geometris disusun menjadi kubus dan ditumpuk menyerupai anak tangga.

(56)

commit to user Gambar 28: Desain 2

(57)

commit to user Gambar 30. Aplikasi Produk

Sumber. Dokumentasi Arif

2. Bed cover 2

Desain ini mempunyai ukuran 160cm x 200cm menggunakan bahan dari perca dengan pengolahan warna yang tersedia dari perca yaitu: coklat muda dikombinasikan dengan biru muda, merah dikombinasikan dengan warna putih dan hitam.

Pengolahan motif geometris menggunakan 2 bidang yang berbeda bentuk dan ukurannya, bentuk yang diolah yaitu: segitiga disambung dengan belah ketupat. Pengolahan motif sesuai dengan urutan yang ada dalam urutan penyambungan dan membentuk motif kubus yang disusun dengan efek seperti tumpukan kubus.

(58)

commit to user

disusun menjadi kubus. Untuk menampilkan efek tiga dimensi menggunakan quilting dengan menindas setiap potongan belah ketupat yang disusun sesuai dengan motif kubus.

Motif ini terinspirasi dari tumpukan kado ulang tahun, yaitu hiasan pita diaplikasikan dengan desain yang divisualisasikan dengan warna hitam dan putih sebagai penghias pada tumpukan kubus.

(59)

commit to user

Gambar 32. Hasil produk desain 3 Sumber. Dokumentasi Arif

(60)

commit to user

3. Bed cover 3

Pengolahan desain yang ke 3 mempunyai ukuran 160cm x 200cm menggunakan 4 warna dari perca yang dipotong secara geometris dan menggunakan 2 bidang yang berbeda dan disusun untuk secara acak.

Bentuk yang dioalah yaitu: persegi panjang dan segitiga dan disusun secara miring sesuai dengan urutan penyambungan dan menghasilkan motif yang menarik. Pemilihan motif menggunakan tumpukan kubus yang terinspirasi oleh kotak perhiasan yang disusn menjadi dua tumpukan. Untuk background menggunakan susunan potongan segitiga.

(61)

commit to user Gambar 34: Desain 4

(62)

commit to user Gambar 36. Aplikasi Produk

Sumber. Dokumentasi Arif

4. Bed cover 4

Pengolahan desain ini mempunyai ukuran lebar 260cm x panjang 200cm menggunakan bahan perca yang terdiri dari 4 warna yang disusun sesuai dengan potongan geometris. Potongan- potongan tersebut mempunyai bentuk yang berbeda-beda yaitu segi tiga dan persegi panjang dan disambung sesuai dengan langkah penyabungan yang digunakan sebagai acuan untuk memudahkan proses produksi.

(63)

commit to user

potongan perca untuk disesuaikan dengan desain. Pemilihan bahan menggunakan perca katun dan lapisan menggunakan kain prima yang dijahit langsung tanpa menggunakan lapisan dakron.

Gambar 37: Desain 5

(64)

commit to user Gambar 39. Aplikasi Produk

Sumber. Dokumentasi Arif

5. Bed cover 5

Pengolahan bed cover yang selanjutnya mempunyai ukuran panjang 200cmx lebar 260cm dengan menggunakan bahan perca yang dipotong secara geometris dan disusun menjadi motif geometris yang menarik. Penyusunan ini terdiri dari 2 bidang yang berbeda bentuk dan ukuran yang berbeda-beda, warna yang disusun secara acak terdiri dari empat warna yaitu; merah, biru tua, coklat tua dan coklat tua.

Motif yang digunakan adalah kubus yang terinspirasi oleh dadu yang diputar, pengembangan dari angka dadu diaplikasikan menggunakan kain berwarna biru untuk mengganti jumlah titik pada dadu.

(65)

commit to user yaitu pemunculan motif tiga dimensi.

Gambar 40. Desain 6

(66)

commit to user Gambar 42. Aplikasi Produk

Sumber. Dokumentasi Arif

6. Bed cover 6

Pengolahan perca pada bed cover yang selanjutnya mempunyai ukuran panjang 200cm x lebar 160cm dengan menggunakan bahan dari perca yang dipotong segitiga dengan berbeda ukuran dan warna. Penyusunan warna dan bentuk berdasarkan langkah penyambungan sehingga motif geometris sesuai dengan tema.

Pemilihan motif yaitu menggunakan satu kubus yang menyerupai kardus dan diberi hiasan bintang, motif ini terinspirasi dari kotak kardus yang digunakan sebagai pembungkus mainan anak-anak.

(67)

commit to user

(68)

commit to user BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan faktor permasalahan yang dibahas dalam penciptaan tugas akhir ini penulis mencoba memanfaatkan salah satu produk yang dibuat dari perca dan dimanfaatkan secara maksimal dengan menambahkan inovasi desain. Produk yang dihasilkan yaitu bed cover dengan menggunakan teknik patchwork dan

quilting sebagai finishing produk. Pengembangan ini ditujukan untuk

menambahkan nilai jual dari produk perca dan diharapkan dengan adanya pengembangan desain maka produk menjadi lebih menarik terhadap konsumen dan masyarakat. Pemilihan produk bed cover karena produk ini membutuhkan bahan perca yang banyak sehingga produk mampu menyerap limbah perca secara maksimal dan dengan inovasi desain menjadikan nilai jual yang maksimal.

(69)

commit to user

Gambar

Gambar 1. Produk tas perca.  Sumber. Rumah batik perca Laweyan
Gambar 2. Produk selimut perca.
Gambar 5. Produk jaket perca. Sumber. Batik Lawasan dan perca Laweyan
Gambar 7. Produk Bed cover Sumber. Bapak Amien Laweyan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tugas Akhir dengan judul, " OPTIMALISASI DESAIN TURBIN PLTA PICO-HYDRO UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI DAYA DENGAN BANTUAN SOFTWARE CFD DAN KONSEP

Tujuan diadakannya pelatihan inovasi desain gerabah ini adalah untuk memberdayakan pengerajin gerabah dengan menafaatkan mata pencaharian mereka dengan memberikan

Temuan penelitian serupa yang menunjukkan bahwa infographic memiliki pengaruh pada peserta didik dengan berbeda gaya berpikir dan menyajikan argumen yang kuat (Williams,

Pada desain percobaan I ini bahan non wowen yang dihasilkan adalah dengan taburan serat kelapa yang berbentuk serat pendek maupun serbuk gabusnya yang halus ataupun kasar

Dimensi total alat diperkecil disesuaikan dengan produk yang dikemas dan desain lebih sederhana mempunyai pengaruh positif kuat antara satu sama lain artinya apabila

Gambar 4.Kursi lipat produksi PT.X (produk a), dan kursi lipat desain yang diusulkan (b) Ukuran hasil pelipatan kursi lipat B lebih jecil dari pada kursi A, dengan demikin,

Dengan demikian sangat diperlukan perbaikan desain kapal perikanan pada tahap plerimiary design untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar baik pada galangan kapal tradisional atau

Dengan akses yang mudah dan cepat, masyarakat Desa Poleng dapat memanfaatkan sumberdaya digital ini sebagai alat untuk mencari solusi, meningkatkan keahlian, dan memperoleh informasi