• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN INTERPRETASI HASIL RAPID DIAGN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBEDAAN INTERPRETASI HASIL RAPID DIAGN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

NASKAH PUBLIKASI

PERBEDAAN INTEPRETASI HASIL RAPID DIAGNOSTIC TEST DENGAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS MALARIA

DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN TELUK BINTUNI

PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2013

Disusun Oleh : ASEP SETIABUDI

NPM : 110.C.1008

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

JUDUL : PERBEDAAN INTERPRETASI HASIL RAPID

DIAGNOSTIC TEST DENGAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS MALARIA DI WILAYAH KERJA

DINAS KESEHATAN KABUPATEN TELUK

BINTUNI PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2013

PENYUSUN : ASEP SETIABUDI

NPM : 110.C.1008

Cirebon, 3 September 2013 Menyetujui,

Pembimbing Pendamping,

(Sri Nurcahyati, SKM) Pembimbing Utama,

(3)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA CIREBON Skripsi, Agustus 2013

Asep Setiabudi

Perbedaan Interpretasi Hasil Rapid Diagnostic Test Dengan Pemeriksaan Mikroskopis Malaria

xix + 53 halaman + 6 tabel + 3 gambar + 2 bagan + 17 lampiran

ABSTRAK

Beberapa sampel ditemukan berbeda interpretasi hasil ketika dilakukan uji diagnostik malaria menggunakan tes diagnostik cepat (RDT) dan pemeriksaan mikroskopis malaria. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada perbedaan interpretasi hasil antara tes diagnostik cepat dengan pemeriksaan mikroskopis malaria. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional diagnostic study, diterapkan pada responden dengan gejala malaria. 100 sampel diambil pada bulan Juni-Juli 2013 dari pelayanan kesehatan di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat Tahun 2013. Interpretasi hasil RDT malaria adalah 66 sampel negatif, 7 sampel P. falciparum, 15 sampel non P. falciparum dan 12 sampel infeksi campuran. Interpretasi pemeriksaan mikroskopis malaria adalah 65 sampel negatif, 15 sampel P. falciparum, 17 sampel non P. falciparum dan 3 sampel infeksi campuran. Interpretasi hasil RDT dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis malaria, memiliki sensitifitas 91% dan spesifisitas 97%, hasil tersebut telah melewati batas minimum tingkat kompetensi untuk seorang pembaca mikroskopis tingkat perifer (WHO. 2009), hal ini mengandung pengertian bahwa RDT dapat digunakan sebagai alat uji diagnostik cepat malaria untuk pelayanan kesehatan di tingkat perifer. Uji statistik Chi Square dengan tingkat confidence interval 95%, p = 0,000 (p ≤ 0,05), maka disimpulkan bahwa ada perbedaan interpretasi hasil RDT dengan pemeriksaan mikroskopis malaria. Daftar pustaka : 16 (2005 – 2012)

(4)

PROGRAM STUDY OF PUBLIC HEALTH

MAHARDIKA COLLEGE OF HEALTH SCIENCES Mini Thesis, August 2013

Asep Setiabudi

The difference in interpretation between rapid diagnostic test with microscopic examination of malaria

xix + 53 pages + 6 tabels + 3 pictures + 2 outlines + 17 attachments

ABSTRACT

Some samples were difference in interpretation when examined malaria blood samples using Rapid diagnostic test (RDT) and microscopic examination of malaria. The aim of the study was to see whether there is difference between rapid diagnostic test with microscopic examination of malaria. 100 samples were taken in June to July 2013 from health facilities under supervision Health Department of Teluk Bintuni District, West Papua Province in 2013. Interpretation of RDT of malaria were 66 samples negative, 7 samples with P. falciparum, 15 samples with non P. falciparum and 12 samples with mixed infection. Interpretation of microscopic examination of malaria were 65 samples negatif, 15 samples with P. falciparum, 17 samples with non P. Falciparum and 3 samples with mixed infection. Interpretations RDT compared to microscopic examination of malaria revealed 91% sensitivity and 97% specificity, these interpretations showed that the RDT passed the minimum competency levels for peripheral level microscopists (WHO, 2009), it means that the RDT malaria is reliable to be used as a malaria rapid test in periphery of health services . Statistical test using Chi Square with 95% level of confidence interval, p=0,000 (p≤0,05), It can be concluded that was the difference in interpretation between rapid diagnostic test with microscopic examination of malaria.

References : 16 (2005 – 2012)

(5)

I. LATAR BELAKANG

Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat dalam melakukan uji diagnostik malaria untuk fasilitas kesehatan yang belum ada tenaga laboratorium, menggunakan 2 metode yaitu pertama Rapid Diagnostic Test (RDT) sebagai pemeriksaan cepat dalam uji diagnostik malaria, sehingga bila positif malaria penderita dapat segera diberikan pengobatan malaria, kedua membuat sediaan darah malaria untuk pemeriksaan mikroskopis malaria yang akan dilakukan di laboratorium P2M Malaria sebagai data surveilans malaria. Beberapa sampel yang diuji diagnostik malaria dengan kedua metode tersebut, ditemukan perbedaan interpretasi hasil (DinKes Kab. Teluk Bintuni, 2011).

Berdasarkan uraian di atas, penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut : Apakah ada perbedaan interpretasi hasil Rapid Diagnostic Test dengan pemeriksaan mikroskopis malaria di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Propinsi Papua Barat Tahun 2013 ?

(6)

II. METODE

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional diagnostic study. Metode ini untuk mengetahui perbedaan interpretasi hasil Rapid Diagnostic Test (RDT) dengan pemeriksaan mikroskopis malaria di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Propinsi Papua Barat. Jenis penelitian ini adalah diagnostic study dengan mengunakan pendekatan cross-sectional yaitu “penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi faktor-faktor efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010).

Populasi merupakan keseluruhan dari subjek penelitian dengan meneliti semua yang ada dalam wilayah penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk yang berada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat pada tahun 2013 sebanyak 52.422 responden.

(7)

Penentuan minimal besar sampel dalam penelitian berdasarkan rumus: sedangkan penentuan atau pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling, yaitu mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian (Notoatmodjo, 2010). Adapun kriteria sampel menggunakan kriteria sebagai berikut:

a. Kriteria inklusi (kriteria sampel yang digunakan sebagai responden) dalam penelitian ini, adalah:

1) Responden dengan gejala malaria.

2) Responden belum mengkonsumsi obat malaria.

b. Kriteria Eksklusi (kriteria sampel yang tidak digunakan sebagai responden) dalam penelitian ini, adalah :

(8)

1) Responden tidak menunjukkan gejala klinis malaria. 2) Responden sudah mengkonsumsi obat malaria. Analisis Bivariat :

Analisis univariat digunakan untuk menjelaskan karakteristik masing-masing variabel. Variabel disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi (Notoatmodjo, 2010).

Kemampuan suatu tes untuk memberikan gambaran positif pada orang yang

benar benar sakit (Syahril, 2005).

Keterangan : TP = Total Positive

FN = False Negaive

Spesifisitas:

Kemampuan suatu tes untuk memberikan gambaran negatif bila subyek yang

di tes adalah bebas dari penyakit (Syahril, 2005).

(9)

Analisis Bivariat :

Chi-square digunakan untuk mengetahui gambaran hubungan dua

variable katagori yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas

yaitu uji diagnostik parasit malaria terdiri dari RDT dan pemeriksaan

mikroskopis. Sedangkan variabel terikat yaitu diagnosis malaria. Rumus Chi

Square yang digunakan adalah sebagai berikut :

X2 = E

) E 0

( 2

Keterangan :

X2 = Chi square hitung

0 = Frekuensi observasi (observed)

E = Frekuensi harapan (Expected)

Dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis berdasarkan nilai

α (0,05) dan CI 95%. Jika p value ≤ α (0,05) maka hipotesis penelitian Ho

ditolak, artinya ada perbedaan interpretasi hasil RDT dan pemeriksaan

mikroskopis malaria di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk

(10)

III. HASIL

Tabel 1. Interpretasi Hasil RDT dibandingkan dengan Pemeriksaan Mikroskopis Malaria Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat Tahun 2013

Sensitifitas Spesifisitas

91 % 97 %

Tabel di atas menunjukkan interpretasi hasil RDT CareStart

dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis malaria memiliki sensitifitas

91% dan spesifisitas 97%.

Tabel 2. Perbedaan Interpretasi Hasil RDT Dengan Pemeriksaan Mikroskopis Malaria Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat Tahun 2013

Interpretasi Mikroskopis Malaria

0,05, maka hipotesis penelitian Ho ditolak artinya ada perbedaan interpretasi

hasil RDT dengan pemeriksaan mikroskopis malaria di Wilayah Kerja Dinas

(11)

IV. PEMBAHASAN

Pada penelitian ini interpretasi hasil RDT dibandingkan dengan

pemeriksaan mikroskopis malaria, diperoleh sensitifitas 91% dan spesifisitas

97%. Hasil tersebut telah melewati batas minimum competency levels for

peripheral level microscopists (WHO, 2009), seperti ditunjukkan pada tabel

3, hal ini mengandung pengertian bahwa RDT CareStart dapat digunakan

sebagai alat pemeriksaan cepat malaria untuk pelayanan kesehatan di tingkat

perifer.

Tabel 3. Minimum competency levels for peripheral level microscopists

(WHO, 2009)

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Arum dkk (2005), yaitu

menggunakan alat uji batang celup (dipstick) imunokromatografi

Laboratorium Hepatika, diperoleh hasil bahwa uji imunokromatografi dari

Laboratorium Hepatitis Nusa Tenggara Barat (NTB) mempunyai sensitivitas

100%, spesifisitas 96,99%, nilai prediksi positif 83,2%, nilai prediksi negatif

100% (Arum dkk, 2005).

Hasil analisis statistik dengan uji Chi square untuk perbedaan

interpretasi hasil RDT dengan pemeriksaan mikroskopis malaria di wilayah

kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat tahun

2013, didapatkan p value (0,000) lebih kecil dari nilai α (p 0,05), maka

hipotesis penelitian Ho ditolak, artinya ada perbedaan interpretasi hasil RDT

dan pemeriksaan mikroskopis malaria. Competency : Sensitivity

parasite detection

Specivicity species identification

(12)

Perbedaan interpretasi hasil ini dapat terjadi dikarenakan RDT

memiliki sensitifitas 90 % dalam mendeteksi infeksi P. falciparum jika

jumlah parasit > 100/µℓ darah. Jika jumlah parasit < 100/µℓ darah, maka

sensitivitasnya menurun. Sensitivitas RDT terhadap non Plasmodium

falciparum (pLDH atau p-Aldolase) dilaporkan lebih rendah dibandingkan

dengan P. falciparum (HRP-2). RDT dapat mendeteksi antigen yang

diproduksi oleh gametosit (pLDH) sehingga dapat memberikan hasil positif

pada penderita yang hanya mengandung gametosit. Gametosit tidak bersifat

patogen, dapat berada dalam darah walaupun penderita telah mendapat

pengobatan, hal ini dapat menyebabkan hasil positif palsu (Kemenkes, 2011).

Penyebab lain dari perbedaan interpretasi ini dapat pula disebabkan

karena uji imunokromatografi mampu mengetahui antigenemia dalam bentuk

fragmen yang masih berlangsung beberapa hari setelah parasitemia hilang

akibat terapi yang memadai (Arum dkk, 2005).

V. SIMPULAN DAN SARAN 1. Simpulan

a. Interpretasi hasil pemeriksaan RDT merk CareStart diperoleh 66 sampel

negatif.

b. Interpretasi hasil pemeriksaan mikroskopis malaria diperoleh 65 sampel

negatif.

c. Terdapat perbedaan interpretasi hasil RDT dengan pemeriksaan

(13)

2. Saran

a. Bagi masyarakat

Diharapkan masyarakat yang merasakan gejala malaria dapat segera

datang ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan

diagnostik malaria.

b. Bagi instansi kesehatan

Diharapkan dapat melengkapi fasilitas kesehatan yang tersedia dengan

fasilitas laboratorium dan tenaga laboratorium yang memenuhi tingkat

akreditasi standar WHO sebagai seorang pembaca mikroskopis malaria.

c. Bagi peneliti lain

Diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai

interpretasi hasil metode imunokromatografi (RDT) dan pemeriksaan

mikroskopis

VI. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Jakarta.

Arum I.L., Purwanto A.P., Arfi S., Tetrawindu H., Octora M., Mulyanto,

Surayah K., Amanukarti. 2005. Uji Diagnostik ParasitMalaria Menggunakan Metode Imunokromatografipis. Diakses pada tanggal 1 Pebruari 2013.

(14)

Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni. 2011. Laporan Malaria. Bagian

Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Malaria. Teluk Bintuni.

Kementerian Kesehatan R.I. 2011. Pedoman Teknis Pemeriksaan Parasit Malaria. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan R.I. Jakarta.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi Cetakan

Pertama. Rineka Cipta. Jakarta.

Syahril. 2005. Diagnostic and Screening. Diakses pada tanggal 20 Agustus 2013.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/2027/1/anak-syahril.pdf

World Health Organization (WHO). 2009. Malaria Microscopy Quality

Gambar

Tabel  3.  Minimum competency levels for peripheral level microscopists

Referensi

Dokumen terkait

Rangkaian konverter DC-DC rasio tinggi berbasis pensaklaran kapasitor dan induktor terkopel merupakan rangkaian gabungan yang terdiri dari Integrated Boost- Flyback

Sesuai teori yang telah dijelaskan bahwa dengan parameter awal yang sama yaitu tegangan input, tegangan output, frekuensi switching, daya, faktor ripple arus masukan, faktor

Fokus dari permasalahan ini adalah para siswa kurang motivasi saat pelajaran sosiologi didalam kelas hal ini terlihat dari beberapa kondisi yang telah peneliti

Sejumlah galur dan varietas yang tergolong kedua tipe tersebut dikaji di beberapa lokasi berjenis tanah Alfisol untuk mengiden- tifikasi keragaan dan daya hasilnya di lingkung- an

Seminar “IQ dan EQ dalam Tumbuh Kembang Anak, Mana yang Lebih Penting?” Nuansa Pangan, Gizi, dan Keluarga X, di Bogor, 30 Agustus

Oleh sebab itu, dibuat sebuah sistem pakar berbasis website yang dapat membantu pengguna dalam menentukan program fitness yang sesuai dengan tujuannya.. Sistem pakar

Oleh karena itu dengan melihat besarnya kepentingan monitoring dan evaluasi bagi penjaminan kualitas dan akuntabilitas publik terhadap kegiatan penelitian dan

Keterbukaan sutradara dalam menyampaikan ide-ide pemikiran terhadap pementasan “Loman”, serta memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan pemeran guna mendukung