Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Disusun oleh:
Evi Nurhayati 1112046300001
Bintang Mikail Subuh 1112046300009
Manajemen Zakat dan Wakaf (ZISWAF)
Program Studi Muamalat
Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kami hanturkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menciptakan manusia dengan akal dan fikiran sehingga dapat membedakan haq dan bathil. Sholawat serta salam tak lupa kami junjung kepada Muhammad SAW, Nabi sejuta umat, yang membawa umatNya dari zaman kebodohan menuju zaman cendekiawan.
Makalah ini kami susun sebagai tugas mata kuliah Fiqh Muamalat Kontemporer (Al-Fiqh Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashirah). Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada keluarga kami yang telah memberikan dukungan materiil dan moril, dosen pembimbing mata kuliah Fiqh Muamalat Kontemporer, Hasanuddin, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Kami akui bahwa tiada gading yang tak retak, masih terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini. Karena itu, berbagai masukan dan kritikan untuk menyempurnakan buku ini sangat diharapkan.
Ciputat, 16 Mar. 14
Daftar Isi
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
Bab I Pendahuluan...1
1. Latar Belakang Masalah...1
2. Rumusan Masalah...1
Bab II Pembahasan...2
1. Pengertian HKI...2
1.1...U ndang-Undang Nomor 19 Tahun 2002...2
1.2...H KI: Haq Ibtikar...3
2. Dasar Hukum HKI...4
3. Konsep HKI...5
4. Model Praktik HKI Konvensional...5
4.1...Se rtifikat Kepemilikan...5
4.2...Co llateral (Agunan) Perbankan...6
4.3...Ja minan Fidusia...7
5. Masalah HKI dalam Syari’ah...8
6. Alternatif Permasalahan...10
7. Kritik Konsep HKI...15
8. Aplikasi dalam Lembaga Keuangan Syari’ah...15
Bab III Penutup...16
1. Kesimpulan...16
2. Saran...17
BAB II
Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
1. Pengertian Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Hak kekayaan Intelektual (HKI) adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Right yakni hak yang timbul dari hasil olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia. Pada Intinya, HKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. Objek yang diatur dalam HKI adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemmpuan intelektual manusia.
Pengertian lainnya mengenai HKI adalah hak eksklusif yang diberikan negara kepada kreator, Inventor atau pendesain atau hasil kreasi atau temuannya yang mempunyai nilai komersil. Baik secara langsung, secara otomatis atau melalui pendaftaran pada instansi terkait sebagai penghargaan, pengakuan hak yang patut diberikan perlindungan hukum.
Secara garis besar, HKI dibagi ke dalam dua bagian, yaitu:
a. Hak Cipta, dan
b. Hak Kekayaan Industri, yang mencakup;
o Paten;
o Desain Industri;
o Merek;
o Desain tata letak sirkuit terpadu, dan
o Rahasia dagang.
1.1. Undang-Undang nomor 19 tahun 2002
2002 tentang hak cipta menyebutkan, “Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”1 Hal ini, sudah jelas
bahwa segala yang diciptakan oleh manusia di Indonesia telah dilindungi oleh pemerintah Indonsia. Termasuk hak cipta dalam berbagai usaha dan merk.
1.2. HKI: Haq Ibtikar
Islam mengajarkan kita untuk melakukan kewajiban. Maka dari itu, adanya hak merupakan sesuatu yang diperbolehkan. Hak kita untuk meminta Rezeki kepada Allah sebagai salah satu hak kita sebagai hambaNya. Dalam Islam, dapat dikenal dengan sebutan Hak Ibtikar. Hak Ibtikar terdiri atas dua kata, haq dan Ibtikar.
Haq secara bahasa dapat diartikan sebagai ‘kepastian’ atau ‘ketetapan’. Secara terminologis, Haq berarti suatu ketentuan yang digunakan oleh syara’ untuk menetapkan suatu kekuasaan atau suatu beban hukum. Sedangkan Ibtikar menurut bahasa, yaitu ‘awal sesuatu’ atau ‘permulaannya’. Ibtikar dalam fiqh Islam dimaksudkan adalah hak cipta/kreasi yang dihasilkan seseorang untuk pertama kali. Didalam dunia ilmu pengetahuan al-ibtikar disebut dengan hak cipta.
Pengertian Haq Ibtikar masih jarang ditemukan pada ulama-ulama klasik. Namun, banyak dijumpai pada ulama-ulama fiqih kontemporer. Fathi ad-Duraini, guru besar fiqh di Universitas Damaskus, Syria, menyatakan bahwa ibtikar adalah, gambaran pemikiran yang dihasilkan seorang ilmuan melalui kemampuan pemikiran dan analisisnya dan hasilnya merupakan penemuan atau kreasi pertama, yang belum dikemukakan ilmuan sebelumnya. Pada dasarnya, Haq Ibtikar merupakan perwujudan dari ide/gagasan berupa seni, bahasa dan harta benda yang dapat berguna bagi khalayak kebanyakan dan dilindungi oleh hukum syari’ah sebagai hak seseorang yang menciptakannya.
1 Id.wikisource.org tentang hak cipta dan undang-undangnya (UU no. 19 tahun
2. Dasar Hukum HKI
Imam asy- Syafi’i mengatakan bahwa yang dikatakan harta itu adalah yang boleh dimanfaatkan oleh manusia, baik berupa benda maupun bersifat manfaat dari suatu benda. Pemikiran seseorang yang telah dituangkan dalam buku, ciptaan atau kreasi seorang ilmuwan atau seniman, menurut mereka, juga bernilai bermanfaat yang dapat nilai dengan harta, dapat diperjual belikan, dan orang yang sewenang-wenang terhadap haq ibtikar dan kreasi orang lain boleh dituntut di muka pengadilan. Oleh sebab itu, dalam ijtihad para ulama Syafi’iyah, Malikiyah, Hanabilah dan sebagai ulama Hanafiyah, memutuskan bahwa haq ibtikar dan kreasi ilmuwan atau seniman termasuk ke dalam pengertian harta (mal)yang bermanfaat, setelah hasil pemikiran itu dituangkan ke dalam buku atau media lainnya.
Pada saat ini, Indonesia telah memiliki perangkat peraturan perundang-undangan di bidang hak kekayaan intelektual yang cukup memadai dan tidak bertentangan dengan ketentuan sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Persetujuan TRIPS (Agreement Related Aspect of Intellectual Property Right). Peraturan perundang-undangan dimaksud mencakup:2
Undang-undang No. 12 Tahun 1997 tentang Perubahan Undang- undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 7 tahun 1987 (UU Hak Cipta); dalam waktu dekat, Undang-undang ini akan direvisi untuk mengakomodasikan perkembangan mutakhir di bidang hak cipta;
Undang-undang No. 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman;
Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang; Undang-undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri;
Undang-undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu;
Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten (UU Paten); dan Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.
3. Konsep HKI
Secara garis besar, Konsep dari Hak Kekayaan Intelektual meliputi;
a. Hak Cipta, hak khusus untuk mengumumkan, memperbanyak serta memberi izin dengan tidak mengurangi pembatasan Undang-Undang; b. Hak Ekonomis, menikmati hasil karya sendiri tanpa gangguan dari pihak
lain;
c. Hak Kekayaan Industri, Hak Khusus yang menghasilkan dan melaksanakan sendiri serta memberi persetujuan dalam menggunakan varitas tanaman/industri;
d. Hak paten, hak khusus dalam penemuan dibidang teknologi dalam melaksanakan sendiri atau memberi persetujuan menggunakan;
e. Hak merek, hak khusus yang digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa yang memiliki daya pembeda, dan
f. Hak desain Industri, hak khusus atas hasil kreasinya untuk melaksanakan sendiri atau memberi persetujuan kepada orang lain dalam hal desain. 4. Model Praktik HKI Konvensional
HKI pada zaman Globalisasi sekarang sudah banyak berkembang. Tidak hanya dalam bidang Ilmu pengetahuan dan pendidikan saja. HKI sudah menjurus kepada sektor perbankan dan keuangan. Sebuah perusahaan dapat menjadikan HKI sebagai sertifikat kepemilikan, jaminan collateral untuk mendapatkan kredit perbankan dan sebagai objek jaminan fidusia yang terdaftar pada perbankan.
4.1. Sertifikat Kepemilikan
Sebuah perusahaan pasti memiliki kekhasan masing-masing dalam menjalankan bisnisnya. Sehingga tidak dapat diingat secara pasti berapa banyak perusahaan yang menciptakan satu barang dengan bahan yang sama. Satu botol soda memiliki banyak macam dan aneka perusahaan yang terlibat didalamnya, padahal dengan barang dan konsep yang sama. Untuk menghindari hal tersebut, diperlukan perlindungan terhadap merek sebuah produk yang dikeluarkan suatu perusahaan dimata hukum dan negara.
merajalela. Karena berbentuk sertifikat, Perusahan dapat menjual, menjual sebagian dan digunakan sebagai jaminan hutang kepada perbankan. Syarat-syarat memiliki sertifikat HKI ini, yaitu:
a. Perusahaan mendaftarkan diri sebagai badan usaha baik komersial dan non-komersial kepada kementerian hukum setempat, di Indonesia sendiri, HKI dibawah Kementerian Hukum Ditjen HAKI. Atau dapat menyewa jasa pelayanan hukum setempat untuk mendapatkan sertifikat tersebut; b. Perusahaan melengkapi biaya administrasi kepada Kementerian Hukum
setempat;
c. Perusahaan wajib memberikan berkas-berkas mengenai perusahaan atau badan usaha yang sedang menjalankan;
d. Setelah memberikan berkas-berkas mengenai perusahan atau badan usaha yang dimaksud, kementerian setempat melakukan proses sesuai dengan hak kekayaan yang ingin dibuat;
e. Kementerian setempat melakukan pemeriksaan administrasi, pemeriksaan subtansif dan pengumuman mendapatkan sertifikat yang dikeluarkan selama waktu yang ditentukan, jika di Indonesia memakan waktu 6 s/d 24 bulan.
4.2. Collateral (agunan) Perbankan
Secara umum, konsep HKI berjalan pesat di negara-negara barat, khususnya Eropa yang sudah terjamin pasti kepastian hukum HKI-nya. Pentingnya Hak Kekayaan Intelektual dapat dijadikan jaminan kepemilikan dimana suatu perusahaan membutuhkan banyak modal untuk meneruskan dunia usaha dengan mengadakan perjanjian jaminan sertifikat HKI.
Menurut Deborah Scavei Ruff, et. Al (1999), penggunaan merek dagang sebagai jaminan atas pembiayaan yang aman telah menjadi pilihan yang menarik bagi peminjam.3 Merek dagang sebagai jaminan dapat diakui dan bahkan menjadi
hal yang diminati. Mengingat kredit yang lebih rendah, dan menghasilkan pembiayaan peminjaman yang rendah pula, bahkan jaminan merek dagang seringkali dapat melindiungi pembiayaan terhadap peminjam tanpa mengubah struktur modalnya.
3 Sri Mulyani, Pengembangan Hak Kekayaan Intelektual sebagai Collateral
Hak Kekayaan Intelektual merupakan Intangiable Assets yang diatur dalam PSAK nomor 19 tahun 2000 yang menyatakan, ”Aset tidak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif.”4 Hal ini juga termasuk Ilmu Pengetahuan, Teknologi, gagasan baru,
lisensi, HKI, market place dan merek dagang.
Jadi, HKI sudah diakui sebagai Intangiable asset (aset tidak berwujud) yang harus dijaga dalam laporan keuangan suatu perusahaan untuk mengetahui nilai aset suatu perusahaan itu sendiri. Ditambah dengan nilai HKI yang dimiliki. Disamping itu, dengan pemanfaat dan pengelolaan iIntellctual capital yang baik dalam suatu perusahaan, dapat meningkatkan market yang luas dan mempermudah akses dalam melakukan kredit perbankan.
4.3. Jaminan Fidusia
Fidusia, menurut asal katanya berasal dari kata “fides” yang berarti kepercayaan. Sesuai dengan arti kata ini, maka hubungan (hukum) antara debitor (pemberi fidusia) dan kreditor (penerima fidusia) merupakan hubungan hukum yang berdasarkan kepercayaan. Pemberi fidusia percaya bahwa penerima fidusia mau mengembalikan hak milik barang yang telah diserahkan, setelah utangnya dilunasi. Sebaliknya penerima fidusia percaya bahwa pemberi fidusia tidak akan menyalahgunakan barang jaminan yang berada dalam kekuasaannya
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa didalam hak cipta terdapat hak moral dan hak ekonomi. Jika dikaitkan hak kebendaan yang bersifat memberikan jaminan maka hak ekonomi pada suatu ciptaan dapat juga memberikan keyakinan kepada bank bahwa debitur akan melunasi hutang-hutangnya, menjamin agar debitur berperan serta dalam transaksi untuk membiayai usahanya, serta memberikan dorongan untuk memenuhi janjinya kepada bank sesuai dengan fungsi jaminan. Hal tersebut disebabkan karena
pencipta (debitur) pun menyadari nilai ekonomis yang terdapat dalam suatu ciptaan yang dijadikan jaminan.
Jaminan kebendaan itu sendiri dapat digolongkan menjadi beberapa macam seperti gadai, hak tanggungan, fidusia, dan hipotik. Masing-masing jaminan memiliki objek jaminan yang berbeda yang diatur oleh KUH Perdata maupun peraturan perundang-undangan tersendiri. Mengacu pada objek hak tanggungan dan hipotik jelas dapat dikatakan bahwa hak cipta tidak memenuhi syarat dari kedua jenis jaminan tersebut. Ciri-ciri yang diperlukan untuk mengikatkan suatu benda menggunakan gadai sebagian besar telah dipenuhi oleh hak cipta seperti benda bergerak dan benda berwujud atau tidak berwujud. Namun, proses pelepasan gadai tidak dimungkinkan untuk diterapkan pada hak cipta karena pelepasan penggunaan gadai adalah dengan cara menitipkan benda yang dijadikan objek gadai kepada kreditur. Hal ini bertentangan dengan sifat hak cipta yang tidak dapat dititipkan kepemilikannya.
Jaminan Fidusia sangat dianjurkan bagi perusahaan yang ingin melakukan jaminan atas hutang suatu perusahaan. Karena berdasarkan Pasal 1 angka 2 UUJF syarat objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang berwujud atau benda bergerak yang berwujud maupun tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia. Lebih lanjut berdasarkan Pasal 1 angka 1 UUJF proses pengalihan benda yang dijadikan objek jaminan fidusia dilakukan atas dasar kepercayaan dimana benda tersebut tetap berada dalam penguasaan debitur.
5. Masalah HKI dalam Syari’ah
Syaikh Ali al-Khafif dalam kitabnya al-Milkiyyah berkata, "Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa unsur harta tidak lain hanyalah sifat sesuatu berdasarkan pada kegiatan orang-orang yang memfungsikannya sebagai harta kekayaan dan sebagai alat untuk transaksi mereka. Hal ini hanya berlangsung dengan adanya kebutuhan orang-orang terhadap sesuatu tersebut, sehingga mereka pun menjadi suka dengannya dan ia bisa dikuasai, dimonopoli dan dilindungi dari orang lain. Kondisi ini tidak mengharuskan sesuatu itu berbentuk materi yang bisa disimpan sampai waktu diperlukan, namun cukup dengan adanya kemudahan untuk mendapatkannya ketika diperlukan, tanpa adanya kesulitan. Semua ini dapat terealisasi pada manfaat. Sehingga jika hal ini terwujud pada sesuatu, maka ia dihitung sebagai harta kekayaan berdasarkan kebiasaan dan transaksi orang-orang."5
Layaknya harta, permasalahan HKI juga kompleks. Permasalahan tersebut antara lain;
a. Pemberian HKI yang terdaftar di setiap badan usaha
Banyak pengusaha Mikro, kecil dan menengah tidak memiliki cukup modal untuk mengembangkan usahanya menjadi usaha yang maju. Sehingga, Usaha Mikro, kecil dan menengah tidak bisa melebarkan namanya untuk membuat HKI tersebut. In other Hand, ketidaksempurnaan dalam proses pencatatan laporan keuangan dari usaha mereka juga menjadi kendala.
b. Maraknya Pembajakan
Industri besar yang sudah mengantongi izin juga dapat menjadi kendala dalam pengaturan HKI itu sendiri. Yaitu, pembajakan. Hak paten yang dibuat oleh perusahaan besar biasanya dapat menguntungkan banyak pihak. Termasuk pembajak yang mengakui barang bajakannya sebagai barang asli. Kita dapat mendengar masyarakat membeli barang KW di pasaran. Entah rekondisi ataupun barang bekas yang menyerupai barang asli dengan hak paten suatu perusahaan tersebut. Masyarakat percaya dan yakin bahwa barang tersebut adalah asli. Karena dengan mendengar merknya saja yang terkenal.
6. Alternatif Permasalahan6
Syariat Islam memerintahkan agar bersikap amanah dalam menyandarkan suatu perkataan atau perbuatan kepada para pelakunya. Sehingga Islam mengharamkan seseorang mengklaim suatu perkataan, usaha dan karya orang lain sebagai miliknya atau sebagai milik orang lain yang bukan pemilik aslinya dengan maksud menghilangkan hak-hak pemiliknya. Islam menjadikan tindakan ini sebagai kebohongan yang pelakunya berhak mendapatkan hukuman. Di sisi lain, Islam juga menghormati hak penguasaan lebih dahulu terhadap sesuatu, dan menjadikan orang yang menguasainya lebih awal lebih berhak dari orang lain. Diriwayatkan dari Asmar bin Mudharris r.a., ia berkata, "Saya mendatangi Rasulullah saw. dan berbaiat kepada beliau. Lalu beliau bersabda,
ههلل ولههفل ممللسسمه هليسللإل ههقسبلسسيل مسلل امل ىللإل قلبلسل نسمل
"Barang siapa menguasai sesuatu sebelum muslim yang lain, maka sesuatu tersebut menjadi miliknya." (HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishâbah).
Di samping itu, usaha dan harta yang dikeluarkan para pemilik merek dagang untuk mendapatkannya, menjadikan pemalsuan orang lain terhadapnya sebagai suatu kezaliman, karena dia telah memakan harta orang lain dan menyia-nyiakan usahanya dengan cara yang tidak benar dan merugikan. Allah SWT berfirman;
نلوكهتل نسأل الللإل للطلابللسابل مسكهنليسبل مسكهللاولمسأل اولهكهأستل الل اونهملآ نليذللللا اهليلهأل ايل
مسكهنسمل ضضارلتل نسعل ةةرلاجلتل
"Hai orang-orang yang beriman janganah kamu saling memakan harta
6 Situs Lembaga Fawa Mesir / ةيرصملا ءاتفلا راد,
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan suka sama suka di antara kamu." (An-Nisâ`: 29).
Allah juga berfirman;
اولهكهأستللل ملاكللحهلسا ىللإل اهلبل اولهدستهول للطلابللسابل مسكهنليسبل مسكهللاولمسأل اولهكهأستل اللول
نلومهللعستل مستهنسألول ملثسإللسابل سلانلللا للاولمسأل نسمل اقةيرلفل
"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 188).
Mengomentari ayat ini, al-Qurthubi dalam tafsirnya berkata, "Ayat ini ditujukan kepada seluruh umat Muhammad saw.. Dengan demikian, maksud ayat ini adalah janganlah seseorang di antara kalian memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar. Termasuk di dalamnya kegiatan perjudian, menipu, merampas, menolak kewajiban menunaikan hak orang, mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak direlakan oleh pemiliknya, atau dibolehkan oleh pemiliknya tapi diharamkan oleh syariat, seperti upah perbuatan mesum dan perdukunan, juga biaya pembelian atau penjualan minuman keras, babi dan lain sebagainya."
Penggunaan merek dagang tertentu oleh orang lain tanpa seizin pemiliknya merupakan tindakan pengelabuan bahwa orang itu telah mendapatkan hak untuk menggunakannya. Hal itu juga merupakan klaim dusta bahwa dia telah memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Diriwayatkan dari Asma` binti Abu Bakar r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda,
"Orang yang mengaku-ngaku memiliki sesuatu padahal ia tidak memilikinya bagaikan orang yang memakai dua pakaian dusta." (Muttafaq alaih).
Tindakan itu juga merupakan penipuan terhadap masyarakat. Rasulullah saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.,
انللمل سليسللفل انلشللغل نسمل
"Barang siapa yang menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami." (HR. Muslim).
Dengan demikian, hak cipta, merek dagang dan sejenisnya merupakan kepunyaan para pemiliknya, sehingga berlaku padanya semua hak yang berkaitan dengan kepemilikan pribadi seseorang terhadap sesuatu. Seperti hak menggunakannya dengan cara apapun yang dibolehkan, hak meminta imbalan harta terhadapnya jika tidak ada unsur penipuan dan pemalsuan, hak melarang orang lain menggunakannya tanpa seizinnya, hak melarang orang lain melakukan tindakan yang dapat merusak barang itu atau merusak manfaatnya, juga hak melarang orang lain memalsukannya dan memilikinya dengan cara-cara tidak benar.
Hal inilah yang menjadi keputusan berbagai lembaga-lembaga fikih Islam, seperti Lembaga Fikih Islam yang berada di bawah naungan Organisasi Konfensi Islam (OKI). Dalam keputusannya yang bernomor 43 (5/5) yang ditetapkan pada muktamar ke-5 di Kuwait tanggal 1-6 Jumadil Ula 1409, lembaga ini merumuskan hal-hal berikut:
b. Para pemilik nama, alamat dan merek dagang tersebut boleh memperjualbelikan atau memindahkan kepemilikannya kepada orang lain dengan imbalan materi, dengan syarat tidak terdapat unsur ketidakpastian, penipuan dan pemalsuan di dalamnya. Hal itu mengingat benda-benda tersebut telah menjadi hak kekayaan materi.
c. Hak cipta karya tulis dan kreasi atau inovasi dilindungi oleh syariat. Para pemiliknya mempunyai kewenangan terhadapnya dan tidak boleh dilanggar.
Dengan demikian, pemalsuan terhadap hak kekayaan intelektual dan merek dagang dengan cara apapun yang membuat masyarakat mengira bahwa itu merupakan merek asli, merupakan tindakan yang diharamkan dalam syariat Islam. Tindakan tersebut termasuk perbuatan dusta, pemalsuan dan penipuan. Di samping itu, tindakan tersebut merugikan masyarakat dan termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar. Sehingga, diharamkan juga bagi seseorang untuk membuka toko yang memperdagangkan barang-barang bermerek palsu yang dapat menyebabkan para konsumen tertipu. Para pegawai dan pekerja yang ikut andil dalam pemalsuan dan penipuan terhadap masyarakat juga telah melakukan perbuatan haram. Hal ini didasarkan pada firman Allah;
نلاولدسعهلساول ملثسإللسا ىللعل اونهولاعلتل اللول ىولقستلللاول رللبللسا ىللعل اونهولاعلتلول
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Al-Mâidah: 2).
:
,
ههرهصهنسنل اذلهل ،هلللللا للوسهرل ايل اولهاقل امةولهظسمل وسأل امةللاظل كلاخلأل رسصهنسا
:
هليسدليل قلوسفل ذهخهأستل للاقل ؟امةللاظل ههرهصهنسنل فليسكلفل ،امةولهظسمل
"Tolonglah saudaramu baik ia berbuat zalim ataupun dizalimi." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, saya akan menolongnya jika ia terzalimi. Tapi, jika ia yang berbuat zalim, bagaimana saya menolongnya?". Beliau menjawab; "Kamu menghalanginya dari perbuatan zalim itu, maka itulah cara menolongnya." (HR. Bukhari).
Adapun sangsi yang diberlakukan atas mereka, maka pada dasarnya ia masuk dalam masalah ganti rugi nilai kerugian yang ditimbulkan karena tindakan pemalsuan tersebut. Penentuan nilai kerugian ini diserahkan kepada keputusan hakim berdasarkan hasil perhitungan para pakar. Selain itu, pemerintah juga dapat memberlakukan ta'zir (hukuman yang ditetapkan oleh hakim) yang dapat membuat jera para pemalsu tersebut agar tidak melakukan tindakan yang merugikan kepentingan pribadi dan kepentingan umum itu.
Sertifikat HKI dalam suatu perusahaan sangat diperlukan demi menjaga penyelewengan dalam suatu perusahaan itu sendiri. Di samping itu, pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat mikro kreatif dalam menyusun harta mereka yang tak berwujud tersebut. Sama seperti pajak, pengurusan HKI dalam kepemilikan digabung menjadi satu dan menjadi syarat dalam pendirian suatu badan usaha. Baik mikro, maupun perusahaan.
7. Kritik Konsep HKI
seizin negara. Penambahan Hak Syari’ah dalam badan usaha dapat dijadikan suatu preferen yang baik. Agar tidak ada penyelewengan serta usaha haram yang masuk ke dalam proyek HKI ini. Serta, menghindari dari pembajakan yang berkembang biak pada saat ini.
8. Aplikasi dalam Lembaga Keuangan Syari’ah
Sampai saat ini, sertifikat HKI sebagai jaminan Fidusia dan Collaretal belum beredar. Baik yang dilakukan oleh bank konvensional maupun yang dilakukan oleh bank syari’ah. Bank syari’ah mempunyai satu akad yang dapat dijadikan solusi dalam pelaksanaan HKI ini yaitu;
a. Mudharabah Muqayyadah. Nasabah sebagai mudharib memberikan proposal usaha serta surat permintaan pembuatan sertifikat HKI sebagai jenis usaha yang akan dijalani, sehingga memudahkan Shahibul Mal dalam menginvestasikan dananya untuk melakukan usaha dengan mudharib. Shahibul mal bertanggung jawab akan sertifikat HKI dan dana usaha. Nisbah dari hasil usaha serta hasil penjualan merk dibagi dua.
b. Rahn. Rahin memberikan sertifikat HKI sebagai jaminan (marhun) kepada murtahin. Rahin harus membayar jaminan sebagai kewajibannya dengan syarat dan ketentuan yang sudah dilakukan di awal akad. Jika rahin tidak dapat membayar kewajibannya, maka Murtahin berhak untuk melelang sertifikat HKI tersebut sebagai pengganti uang jaminan.
Bab III
Penutup
HKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. Objek yang diatur dalam HKI adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemmpuan intelektual manusia.
Para ulama Syafi’iyah, Hanabilah, Malikiyah dan Hanafiyah memutuskan sama dalam penetapan haq ibtikar sebagai harta yang bermanfaat. Dasar hukum HKI di Indonesia terdapat pada Undang-Undang nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta dan Undang-undang lainnya yang sudah terdaftar pada TRIPS (Aggrement Related Aspect in Intellectual Property Right).
Secara garis besar, konsep HKI meliputi Hak Cipta, Hak Ekonomis, Hak Kekayaan Industri, Hak Paten, Hak Merk dan Hak Desain Industri.
Pada lembaga konvensional, HKI dapat dijadikan sertifikat HKI, Agunan perbankan dan jaminan fidusia untuk perusahaan. Namun, belum ada perkembangan selanjutnya mengenai HKI ini.
Yang menjadi Problem dalam HKI ini adalah kurangnya modal bagi usaha mikro dalam mematenkan HKI serta pembajakan yang berkembang biak seiring dengan perkembangan teknologi. Solusi yang menjadi alternatif adalah sertifikat HKI harus dilakukan secara kompeten dan berkelanjutan.
Belum ada kritik yang mendalam tentang pembuatan HKI ini. Namun jika ingin ditambahkan, konsep syari’ah merupakan konsep terpenting.
Belum ada praktik yang jelas, baik dalam perbankan konvensional dan perbankan syari’ah. Namun jika ingin dikritisisasi, penulis menyarankan untuk menggunakan akad Mudharabah Muqayyadah dan Rahn sebagai akad sertifikat HKI ini.
2. Saran
Daftar Pustaka
Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian
Kurlilah, Anisy. Kajian Muamalah. caknenang.blogspot.com/2011/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_02.html. Selasa, 04 Maret 2014 pukul 21:41
Mulyani, Sri. Pengembangan Hak Kekayaan Intelektual sebagai Collateral (Agunan) untuk mendapatkan Kredit Perbankan di Indonesia.
http://fh.unsoed.ac.id. Selasa, 4 Maret 2014 pukul 18:13
Wikisource Bahasa Indonesia. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002. id.wikisource.org. Kamis, 6 Maret 2014 pukul 09:32
Ikatan Akuntan Indonesia. www.iaiglobal.or.id . Minggu, 9 Maret 2014 pukul 21:41
Situs Lembaga Fawa Mesir / ةيراجتلا تاملعلاو ،ةيركفلا ةيكلملا قوقح .ةيرصملا ءاتفلا راد ةيلص لا. http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=426. Diterjemahkan oleh Ponpes Salafy Darul Falah, http://kapasan-
darulfalah.blogspot.com/2013/06/hak-kekayaan-intelektual-dan-merek.html, Senin, 3 Maret 2014 pukul 21.05
Simanjuntak, Edwin R, Hak Cipta sebagai Objek jaminan Fidusia ditinjau dari Undang-Undang Tentang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta dan Peraturan Perundang-Undangan Tentang Perbankan. fh.unpad.ac.id. Selasa, 4 Maret 2014 pukul 21:57