• Tidak ada hasil yang ditemukan

Khawarij Dan Murjiah Sekte Islam Masa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Khawarij Dan Murjiah Sekte Islam Masa"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH ILMU KALAM

KHAWARIJ DAN MURJIAH

Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Ilmu Kalam

Dosen pengampu: Nur Hamid,S.Ag, M.Hum Penyusun:

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN JURUSAN SASTRA INGGRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA 2015-2016

Agus Nur Sodiqin 143211038

Reza Dwi Wijayanti 143211040

(2)

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Ilmu Kalam biasa disebut juga dengan bebrapa nama,antara lain: ilmu ushuluddin, ilmu tauhid, fiqh al-akbar, dan teologi islam. Disebut ilmu ushuluddin karena ilmu ini membagas pokok-pokok agama (ushuluddin); disebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas keesaan Allah SWT. Di dalamnya dikaji pula tentang asma’ (nama-nama) dan af’al (perbuatan-perbuatan) Allah yang wajib, mustahil, dan ja’iz, juga sifat yang wajib, mustahil, dan ja’iz, bagi Rasul-Nya. Ilmu tauhid sendiri sebenarnya membahas keesaan Allah SWT. Dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Secara objektif,ilmu kalam sama dengan ilmu tauhid,tetapi argumentasi ilmu kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan logika. Oleh sebab itu,sebagian teolog membedakan antara ilmu kalam dan ilmu tauhid.

II. Rumusan Masalah

(3)

DAFTAR ISI BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah………...2

II. Rumusan Masalah………2

DAFTAR ISI ………...3

BAB II PEMBAHASAN 1. Khawarij A. Pengertian Khawarij……….……….4

B. Khawarij dan Doktrin-doktrin Pokoknya..………5

C. Perkembangan Khawarij……….………..8

2. Murji’ah A. Pengertian Murji’ah……….10

B. Doktrin-Doktrin kelompok Murji’ah………...11

C. Sekte-Sekte kelompok Murji’ah………..12

(4)

BAB II PEMBAHASAN

1. Khawarij

A. Pengertian Khawarij

Secara bahasa kata khawarij berasal dari bahasa Arab, yaitu

kharaja yang mempunyai makna keluar, muncul, timbul, atau memerontak1. Hal ini yang mendasari Syahrastani untuk menyebut

khawarij terhadap orang yang memberontak imam yang sah2.

Berdasarkan pengertian etimologi ini pula, khawarij berarti setiap muslim yang ingin keluar dari kesatuan umat islam3.

Sedangkan menurut istilah khawarij adalah suatu kelompok atau aliran pengikut Ali ibn Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisannya. Mereka tidak sepakat terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam Perang Sifin pada tahun 37H/648M, dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khilafah4.

Kelompok Khawarij pada mulanya memandang Ali merupakan khalifah yang sah yang dibai’at mayoritas umat Islam. Sementara Muawiyah berada di pihak yang salah karena memberontak khalifah yang sah. Lagipula berdasarkan estimasi khawarij, pihak Ali hampir memperoleh kemenangan pada peperangan tersebut, tetapi karena Ali menerma tipu daya licik ajakan damai Muawiyah, kemenangan yang hampir diraih itu raib atau hilang5.

Ali sebenarnya telah mencium kelicikan dibalik ajakan damai kelompok Muawiyah, pada awalnya ia bermaksud untuk menolak permintaan tersebut. Namun, karena desakan sebagian para pengikutnya, terutama ahli qurra’ seperti Al-Asy’ats bin Qais, Mas’ud

1 Abdu Al-Qahir bin Thahir bin Muhammad Al-Bagdadi, Al-Farq bain

Al-Firaq,Al-Azhar,Mesir.1037,hlm, 75.

2 Abi Al-Fath Muhammad Abd Al-Karim bin Abi Baskar Ahmad

Asy-Syahrastani,Al-Milal wa An-Nihal,Dar Al-Fikr,Libanon,Beirut,hlm, 114.

3 Ali Mustafa Al-Ghurabi, tarikh Al-Firaq Al-Islamiyah wannasy’atu ilmi Al-Kalam

Inda Al Muslimin, Maktabah wa mathba’ah Muammad Ali Shabih wa auladuhu,Haidan Al-Azhar,Mesir Cet, II, 1958, hlm 264

4 Harun Nasution, Teologi Islam Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Ul.Press

cet.1.1985, hlm, 11.

(5)

bin Fudaki at-Tamimi, dan Zain bin Husein AthTha’I, dengan sangat terpaksa Ali memerintahkan Al-Asytar (komandan pasukannya) untuk menghentikan peperangan.6

Setelah menerima ajakan damai, Ali bermaksud mengirimkan Abdullah bin Abbas sebagai delegasi juru damai (hakam) nya, tetapi orang-orang Khawarij menolaknya. Mereka beralasan bahwa Abdullah bin Abbas berasal dari kelompok Ali sendiri. Kemudian mereka mengusulkan agar Ali mengirim Abu Musa Al-Asy’ari dengan harapan dapat memutuskan perkara berdasarkan kitab Allah. Keputusan tahkim, yakni Ali diturunkan dari jabatannya sebagai khalifah oleh utusannya, dan mengangkat Muawiyah menjadi khalifah pengganti Ali sangat mengecewakan orang-orang khawarij. Mereka membelot dan mengatakan, “mengapa kalian berhukum kepada manusia. Tidak adakah hokum selain hokum yang ada di sisi Allah.”

Imam Ali menjawab, “itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka mengartikan dengan keliru.” Pada saat itu juga orang-orang khawarij keluar dari pasukan Ali dan langsung menuju Harura. Itulah sebabnya khawarij disebut juga dengan nama Hururiah7.

Kadang-kadang mereka disebut dengan syurah dan Al-Mariwah.

Dengan arahan Abdullah Al-Kiwa, mereka sampai di Harura. Di sana, kelompok Khawarij ini melanjutkan perlawanan kepada Muawiyah dan juga kepada Ali. Mereka mengangkat seorang pemimpin yang bernama Abdullah Ar-Rasyibi.8

B. Khawarij dan Doktrin-Doktrin Pokoknya

Diantara doktrin-dokltrin pokok Khawarij adalah berikut ini:

1. Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam.

2. Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab, dengan demikian setiap muslim berhak menjadi khalifah apabila sudah memnuhi syarat.

6 Amir an-najjar,Al-Khawarij aqidaton wa fkratan wa falsafan terj. Aff

Muhammad dkk, lentera cet.1. bandung,1993, hlm 5

7 Al-ghurabi,op-cit. hlm. 265, bandingkan dengan nasution,loc cit; bandingkan

pula dengan an-najjar,loc cit.

8 Ibrahim madzzkur,f al-falsafah al-islamiyah manhaj wa tathbiquh, juz II, dar

(6)

3. Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syari’at Islam. Ia harus dijatuhkan bahkan harus dibunuh jika melakukan suatu kedzaliman.

4. Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah sah, tetapi setelah tahun ketujuh dari masa kehalifahannya, Utsman r.a dianggap telah menyeleweng.

5. Khalifah Ali adalah sah tetapi setelah terjadi abitrase (tahkim),ia dianggap menyeleweng.

6. Muawiyah dan Amr bin Al-Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir.

7. Pasukan perang Jamal melawan Ali juga kafir.9

8. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut sebagai seorang Muslim sehingga harus dibunuh. Yang sangat anarkis (kacau) lagi, mereka menganggap seorang muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim yang lain yang telah dianggap kafir dengan resiko menanggung beban harus dilenyapkan pula.

9. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi karena hidup dalam dar al-harb (Negara musuh), sedangkan golongan mereka sendiri dianggap berada dalam dar al-islam (Negara islam).

10. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng. 11. Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga dan

orang yang jahat harus masuk neraka). 12. Amar ma’ruf nahi munkar

13. Memalingkan Ayat-ayat Al-Quran yang tampak mutasabihat (samar).

14. Quran adalah makhluk.10

15. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan.

(7)

Melihat pengertian politik secara praktis yakni kemahiran bernegara. Atau kemahiran dalam berupaya menyelidiki manusia dalam memperoleh kekuasaan, atau kemahiran mengenai latar belakang, motivasi dan hasrat mengapa manusia ingin memperoleh kekuasaan. Khawarij dapat dikatakan sebagai sebuah partai politik. Poltik ternyata juga merupakan doktrin sentral khawarij yang timbul akibat reaksi adanya muawiyah yang secara teoritis tidak pantas pemimpin Negara, karena ia seorang tulaqa11. Kebencian ini

bertambah dengan kenyataan bahwa keislaman Muawiyah belum lama.

Mereka menolak untuk dipimpin orang yang dianggap tidak pantas. Jalan pintas yang ditempuhnya adalah membunuhnya, termasuk orang yang mengusahakannya menjadi khalifah. Dikumandangkanlah sikap bergerilya untuk membunuh mereka. Dibuat pulalah doktrin teologi tentang dosa besar sebagaimana tertera pada poin 8 sampai 11. Akibat doktrinya yang menentang pemerintah. Khawarij harus menanggung akibatnya, mereka selalu dikejar-kejar dan ditumpas oleh pemerintah. Kemudian perkembangannya, sebagaimana dituturkan Harun Nasution, kelompok ini sebagian besar sudah musnah. Sisa-sisanya terdapat di Zanzibar, afrika utara, dan Arabia selatan.

Doktrin teologi khawarij yang radikal pada dasarnya merupakan imbas langsung dari doktrin sentralnya, yakni doktrin politik. Radikalitas itu sangat dipengaruhi oleh sisi budaya mereka yang juga radikal serta asal-usul meraka yang berasal dari masyarakat badawi dan pengembara padang pasir tandus. Hal itu menyebabkan watak dan pola pikirnya menjadi keras,berani, tidak bergantung pada orang lain,dan bebas. Namun, mereka fanatic dalam menjalankan agama. Sifat fanatic itu biasanya mendorong seseorang berfikir simplisitis; berpengetahuan sederhana, melihat pesan berdasarkan motivasi pribadi, dan bukan berdasarkan pada data dan konsistensi logis, bersandar lebih banyak pada sumber pesan (wadah) daripada isi pesan, mencari informasi tentang kepercayaan orang lain dari sumber kelompoknya dan bukan dari sumber kepercayaan orang lain, mempertahankan secara kaku system kepercayaannya, dan

11 Tulaqa adalah bekas kaum musyirkin mekah yang dinyatakan bebas pada

(8)

menolak,mengabaikan,dan mendistorsi pesan yang tidak konsisten dengan system kepercayaannya.

Orang-orang yang mempunyai prinsip Khawarij ini sering menggunakan cara kekerasan dalam menyalurkan aspirasinya. Adapun doktrin-doktrin selanjutnya yakni dari poin 11 sampai 15, dapat dikategorikan sebagai doktrin teologis social. Doktrin ini memperlihatkan kesalehan asli kelompok Khawarij sehingga sebagian pengamat menganggap doktrin ini lebih mirip dengan doktrin Mu’tazilah. Meskipun kebenaran adanya doktrin ini dalam wacana kelompok Khawarij patut dikaji lebih mendalam. Dapat dirumuskan bahwa orang-orang yang keras dalam pelaksanaan ajaran agama, sebagaimana dilakukan kelompok Khawarij, cenderng berwatak tekstualitas/skripturalis seingga menjadi fundamentalis. Kesan skriptualitas dan fundamentalis itu tidak nampak pada doktrin-doktrin khawarij pada poin 10 sampai 15. Namun bila doktrin telologis social ini benar-benar merupakan doktrin Khawarij, dapat memprediksikan bahwa kelompok Khawarij pada dasarnya merupakan orang-orang

Sebagaimana telah dikemukakan, Khawarij telah menjadikan imamah-khilafah (politik) sebagai doktrin sentral yang memicu timbulnya doktrin-doktrin teologis lainnya. Radikalitas yang melekat pada watak dan perbuatan kelompok Khawarij menyebabkan mereka sangat rentan pada perpecahan, baik secara internal kaum Khawarij sendiri maupun secara eksternal dengan sesame kelompok Islam lainnya. Para pengamat berbeda pendapat tentang jumlah sekte yang terbentuk akibat perpecahan yang terjadi dalam tubuh Khawarij. Al-Baghdadi mengatakan bahwa sekte ini telah terpecah menjadi 18 subsekte. Adapun, Al-Asfarayani, seperti dikutip Bagdadi, mengatakan bahwa sekte ini telah pecah menjadi 22 subsekte.13

Terlepas dari berapa banyak subsekte pecahan Khawarij, tokoh-tokoh yang disebutkan diatas sepakat bahwa subsekte Khawarij yang besar terdiri dari delkapan macam,yaitu:

(9)

a. Al-Muhakkimah atau telah menjadi kafir. Tampaknya, doktrin teologi ini tetap menjadi primadona dalam pemikiran mereka,sedangkan doktrin-doktrin yang lain hanya pelengkap saja. Sayangnya, pemikiran subsekte ini lebih bersifat praktis daripada teoritis, sehingga kriteria mukmin atau kafirnya seseorang menjadi tidak jelas. Hal ini menyebabkan dalam kondisi tertentu seseorang dapat disebut mukmin dan pada waktu yang bersamaan disebut sebagai kafir.

Tindakan kelompok Khawarij ini merisaukan hati umat Islam saat itu sebab ,dengan cap kafir yang diberikan salah satu subsekte tertentu Khawarij, jiwa seseorang harus melayang, meskipun oleh subsekte lain ia masih dikategorikan mukmin. Bahkan,dikatakan bahwa jiwa seoran Yahudi atau Majusi lebih berharga dibandingkan jiwa seorang mukmin.14 Kendatipun demikian, ada sekte Khawarij

yang agak lunak,yaitu sekte Nadiyat dan Ibadiyah. Keduanya membedakan antara kafir nikmat dan kafir agama. Kafir nikmat hanya melakukan dosa dan tidak berterimakasih kepada Allah. Orang semacam ini tidak perlu dikucilkan dari masyarakat.15

Semua aliran bersifat radikal,pada perkembangan lebih lanjut, dikategorikan sebagai aliran Khawarij, selama di dalamnya terdapat indikasi doktrin yang identic dengan aliran ini. Berkenaan dengan persoalan ini Harun Nasution mengidentifikasi beberapa aliran yang dapat dikategorikan sebagai aliran Khawarij,yaitu sebagai berikut:

a. Mudah mengafirkan orang yang tidak segolongan dengan mereka walaupun orang itu adalah penganut agama Islam.

14 Toshikoko isutzu, the concept of believe in Islamic theology : tiara wacana,

yogya, cet 1. 1994 hlm 15.

(10)

b. Islam yang benar adalah islam yang mereka pahami dan amalkan,sedangkan islam sebagaimana yang difahami dan diamalkan golongan lain tidak benar.

c. Orang-orang islam yang tersesat dan menjadi kafir perlu dibawa kembali ke islam sebenarnya,yaitu islam seperti yang mereka fahami dan amalkan,.

d. Karena pemerintahan dan ulama tidak sefaham dengan mereka adalah sesat, maka mereka meilih iman dari golongan mereka sendiri,yakni iman dalam arti pemuka agama dan pemuka

Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan,penangguhan, dan pengharapan. Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan,yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Oleh karena itu Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa,yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.16

Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murji’ah. Teori pertama mengatakan bahwa gagasan irja atau arja dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat islam ketika terjadi pertikaian politik. Murji’ah baik sebagai kelompok politik maupun teologis,diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculan Syiah dan Khawarij. Kelompok ini merupakan musuh berat kelompok Khawarij.17

Teori lain mengatakan bahwa gagasan irja muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali Bin Abi Thalib, Al Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah,sekitar tahun 695. 20 tahun setelah kematian Muawiyah,pada tahun 680,dunia islam dikoyak pertikaian sipil. Al-mukhtar membawa faham Syi’ah ke Kufah dari

16 Cyril Glasse, The Concise Encyclopedia Of Islam, Staceny

International,London, 1989 hlm 288-9.Departemen Agama RI,Ensiklopedi Islam.1990

17 W.Montgomery Watt,Islamic Philosophy and Theology;And Extended

(11)

tahun 685-687, sebagai respon dari keadaan ini,muncul gagasan irja atau penangguhan,dipergunakan pertama kali tahun 695 dalam surat pendeknya. Dalam surat itu Al-Hasan menunjukkan sikap politiknya dengan mengatakan, “Kita mengakui Abu Bakar dan Umar,tetapi menangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi pada konflik sipil pertama yang melibatkan Utsman,Ali dan Zubayr”. Ia kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok syiah revolusioner yang terlampau mengagungkan Ali dan para pengikutnya,serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui kkhalifahan Muawiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan si pendosa Utsman.18

B. Doktrin-Doktrin kelompok Murji’ah

Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja yang diaplikasikan dalam banyak persoalan politik maupun teologis. Di bidang politik doktrin irja’ diimplementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok,yang selalu di ekspresikan dengan sikap diam. Sikap ini akhirnya berimplikasi begitu jau sehingga membuat Murji’ah selalu diam dalam persoalan politik.

Adapun dibidang teologi doktrin irja dikembangkan Murji’ah ketika menghadapi persoalan-persoalan teologis yang muncul saat itu. Pada perkembangan berikutnya persoalan-persoalan menjadi semakin kompleks sehingga mencakup iman,kufur,dosa besar dan ringan,tauhid, tafsir Al-Quran,pengampunan dosa besar,dll.19

Berkaitan dengan doktrin teologi Murji’ah,W.Montgomery Watt merinci sebagai berikut:

a. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya kelak di Akhirat.

b. Penangguhan Ali menduduki ranking ke empat dalam peringkat Al-Khalifah Ar-Rasyidun.

c. Pemberian harapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat Allah.

d. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.

e. Meletakkan pentingnya iman daripada amal.

18 Gihb and J.H.Krammers,loc.cit.

(12)

f. Iman adalah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja,adapun amal atau perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini seseorang masih dianggap mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardukan dan melakukan dos besar.

g. Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman di hati,setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat ataupun gangguan atas seseorang. Untuk mendapatkan pengampunan,manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.20

C. Sekte-Sekte Murji’ah

Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji’ah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat dikalangan poara pendukung. Dalam hal ini,terdapat problem yang cukup mendasar ketika para pengamat mengklasifikasikan sekte-sekte Murji’ah. Kesulitannya antara lain adalah ada beberapa tokoh aliran pemikiran tertentu yang diklaim oleh seorang pengamat sebagai pengikut Mur’jiah,tetapi tidak diklaim oleh pengamat lain.tokoh yang dimaksud adalah Wasil bin Atha dari Mu’tazilah dan Abu Hanifah dari Ahlu Sunnah.21 Oleh karena itu

As-Syahrastani menyebutkan sekte-sekte Murji’ah sebagai berikut:

a. Murji’ah-Khawarij

1. Al-Jahmiyah pengikut Jahm bin Shufwan

2. Ash-Shalihiyah pengikut Abu Musa Ash-Shalahi 3. Al-Yunushiyah pengikut Yunus As-Samary 4. As-Samriyah pengikut Abu Samr dan Yunus 5. Asy-Syaubaniyah pengikut Abu Syauban

20 W.Montgomery Watt,Early Islam : Collected Articles, Eidenburg, 1990,hlm

181. Nasution,Teologi Islam,op.cit hlm 23-3.

(13)

6. Al-Ghailaniyah pengikut Abu Marwan Al-Ghailani bin Marwan Ad-Dimsaqy

7. Najariyah pengikut Al-Husain bin Muhammad An-Najr

8. Al-Hanafiyah pengikut Abu Haifah An-Nu’am 9. Asy-Syabibiyah pengikut Muhammad bin Syaib 10. Al-Mu’aziyah pengikut Muadz Ath-Thaumi 11. Al-Murisiyah pengikut Basr Al-Musrisy

12. Al-Karamiyah pengikut Muhammad bin Karam As-Sijistany22

Harun Nasution secara garis besar mengklasifikasikan Murji’ah menjadi dua sekte,yaitu golongan moderat dan ekstrem. Murji’ah moderat berpendirian bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin,tidak kafir tidak pula kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sebear dosanya, dan bila diampuni oleh Allah sehingga tidak masuk neraka sama sekali. Iman adalah pengetahuan tentang tuan dan rasul-rasul-Nya serta apa saja yang dating dari-Nya. Iman ini tidak bertambah serta tidak pula berkurang. Penggagas pendirian ini adalah Al-Hasan bin Muhammad bin Ali Bin Abi Thalib,Abu Hanifah, Abu Yusuf,dan beberapa ahli hadits.23

Adapun yang termasuk kelompok ekstrem adalah Al-Jahmiyah, Ash-Shalihiyah, Al-Yunusiyah, Al-Ubaidiyah, dan Al-Hasaniyah. Pandangan tiap tiap kelompok tersebut dapat dijelaskan seperti bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia.

22 Muhammad Imarah, Tayyarat Al-Fikr Al-Islamiy dar Asy-Syuruq,Kairo-Beirut,

1991,hlm 33-4.

(14)

puasa,zakat,haji bukan merupakan ibadah,melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.

c. Yunusiyah dan Ubaidiyah melontarkan penrnyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak keimanan seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini,Muqatil bin Sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat,banyak atau sedikit,tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik. d. Hasaniyah menyebutkan bahwa jika seseorang mengatakan

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Abdu Al-Qahir bin Thahir bin Muhammad Al-Bagdadi, Al-Farq bain Al-Firaq,Al-Azhar,Mesir.

Abi Al-Fath Muhammad Abd Al-Karim bin Abi Baskar Ahmad Asy-Syahrastani, 1958, Al-Milal wa An-Nihal, Dar Al-Fikr,Libanon.

Amir an-najjar, 1993, Al-Khawarij aqidaton wa fikratan wa falsafan terj. Afif Muhammad dkk, lentera cet.1. bandung.

Harun Nasution, 1985, Teologi Islam Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Ul.Press.

Referensi

Dokumen terkait

Ciri mikroskopis: Hifa bersepta, Konidiofor mempunyai panjang + 27 µm, kepala konidiofor berdiameter + 7 µm, mempunyai vesikel berwarna hitam dan konidia berwarna coklat

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut.. 1) Return on asset memiliki pengaruh terhadap manajemen laba riil. Dengan

Informasi yang harus tersedia tidak hanya menyangkut keadaan pada saat perencanaan disusun, tetapi juga informasi masa lalu dan masa kini sudah tersedia dari hasil sensus

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan kepemilikan asing, kepemilikan pemerintah, ukuran perusahaan, ukuran kantor akuntan publik, usia listing, dan

Hal ini yang menjadi latar belakang penulis melakukan penelitian yang penulis sajikan dalam skripsi ini yang berjudul “ Perancangan Sistem Database Dalam Mendukung Kinerja Layanan

Abstrak: Kegiatan pelatihan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) “Permen Susu” di Dusun Ngade, Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur,

[r]

Hasil penelitian menunjukkan faktor- faktor penyebab utama perkawinan usia muda di Desa Lebakwangi Kecamatan Pagedongan Kabupaten Banjarnegara yaitu faktor Adat atau