PEDOMAN PELAKSANAAN PENATAAN USAHA BUDIDAYA
BABI RAMAH LINGKUNGAN
TAHUN 2012
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ternak babi dan atau produk olahannya cukup potensial sebagai komoditas ekspor nasional. Pasar komoditas ini masih terbuka lebar ke berbagai negara seperti Singapura dan Hongkong. Salah satu keunggulan ternak babi dibanding ayam adalah volume impornya dapat dikatakan nol, sedangkan impor ayam pada tahun 2000 mencapai 14.017,4 ton. Meskipun ekspor ternak babi berada di urutan kedua setelah ternak ayam, namun ternak babi belum menjadi komoditas unggulan pemerintah. Fokus perhatian pemerintah hingga saat ini masih dominan pada ternak ruminansia besar.
Berdasarkan statistik peternakan tahun 2010, populasi ternak babi tertinggi terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 1,637,351ekor, Bali (930,465 ekor), Sumatera Utara (734,222 ekor), Sulawesi Selatan (549,083 ekor), Kalimantan Barat (484,299 ekor), Papua (546,696 ekor), Kalimantan Barat (484,299 ekor), Sulawesi Utara (332 ,942 ekor), Bangka Belitung (268,220 ekor), Sulawesi Tengah (215,973 ekor), Kepri (185,663 ekor).
Berdasarkan hasil survey tahun 2005, bahwa rata-rata kepemilikan peternak rakyat di provinsi Bali 29,3 ekor, sedangkan di Sumatera Utara 20,5 ekor, Jawa Barat 20,65 ekor. Skala usaha ternak yang agak besar terdapat di Kalimantan Barat 139,45 ekor. Dengan kata lain, rata-rata kepemilikan ternak masih rendah, sehingga kurang efisien.
Umumnya usaha ternak babi adalah pembibitan dan penggemukan peternakan rakyat dengan sumber bibit berasal dari sekitarnya atau sekitar 61,25% sedangkan 25% dari peternakan sendiri. Dalam hal performance babi di Indonesia masih sangat memprihatinkan dengan tingginya kematian induk, Jawa Barat 25,49%, Bali 19,6%, Kalbar 14,33% dan Sumut 10,40%.
Kesulitan pembuangan hasil samping berupa limbah kotoran ternak, urine dan permasalahan lingkungan sekitar usaha. Limbah organik yang dihasilkan di lahan peternakan seperti kotoran ternak sisa pakan lebih banyak menimbulkan masalah seperti penyakit ternak dan lingkungan dari pada keuntungan yang ditimbulkannya. Usaha yang paling banyak dilakukan oleh peternak adalah bagaimana membuang atau menjual secepatnya tentunya dengan harga murah, kotoran ternak yang menumpuk ke daerah-daerah pertanian untuk pupuk organik. Permasalahan lingkungan tersebut sebagian besar disebabkan oleh limbah organik yang tidak terurai dengan baik, sehingga menimbulkan masalah-masalah lingkungan seperti bau, gas beracun, hama penyakit dan lain-lain.
Berdasarkan pertimbangan diatas, maka dalam rangka pengembangan usaha budidaya ternak babi yang ramah lingkungan dan dilakukan secara komersial sekaligus untuk memenuhi permintaan pasar, baik di dalam negeri maupun untuk tujuan pasar ekspor dipandang perlu dilakukan pengembangan kawasan peternakan babi yang ramah lingkungan.
Oleh karena itu, dalam rangka mendukung program penataan budidaya ternak babi ramah lingkungan maka pada tahun 2012 perlu dilaksanakan penataan usaha budidaya babi ramah lingkungan melalui fasilitasi dana bantuan sosial dekonsentrasi dan tugas pembantuan (TP).
B. Tujuan
Tujuan penataan usaha budidaya babi ramah lingkungan adalah agar peternak dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi dan upaya untuk mengendalikan pencemaran lingkungan karena bau. Adapun tujuan kegiatan penataan usaha budidaya babi ramah lingkungan adalah sebagai berikut :
(1) Memperkuat modal usaha peternakan babi yang ramah lingkungan.
(2) Meningkatkan penataan budidaya ternak babi yang ramah lingkungan.
(3) Meningkatkan populasi dan produksi usaha peternakan babi.
(4) Meningkatkan kemandirian dan kerjasama kelompok
Untuk mencapai tujuan tersebut, pada tahun 2012 akan dialokasikan sejumlah dana untuk penguatan modal usaha bagi kelompok peternak babi yang dialokasikan pada provinsi/kabupaten melalui dana dekonsentrasi atau tugas pembantuan (TP).
C. Sasaran
(1) Peternak yang berkelompok dalam satu kawasan.
(2) Peternak yang sudah mempunyai kandang kelompok.
(3) Peternak yang individual yang mempunyai populasi ternak lebih dari 2 ekor.
D. Indikator Keberhasilan
1) Pola pemeliharaan budidaya ternak menjadi lebih baik,
2) Mengurangi polusi udara akibat bau kotoran/limbah ternak,
3) Mendukung kelestarian usaha pertanian,
4) Meningkatkan penyediaan pupuk organik asal ternak, sehingga ketergantungan terhadap pupuk anorganik (kimia) akan berkurang,
5) Meningkatnya pengetahuan anggota kelompok tentang manajemen pengelolaan usaha kelompok dan penerapan teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan.
E. Pengertian
1. Penguatan Modal Usaha adalah stimulasi dana untuk mengatasi kendala keterbatasan modal usaha kelompok agar mampu mengakses modal dari lembaga permodalan mandiri. Dana tersebut merupakan dana yang disalurkan langsung ke rekening kelompok dan dikelola secara terorganisir dengan mekanisme, cara, dan bentuk ikatan tertentu.
2. Budidaya Babi Ramah Lingkungan
3. Penataan
Suatu kegiatan yang mengatur tentang sistem pemeliharaan ternak (lokasi usaha, sistem perkandangan dan pengaturan pengelolaan limbah ternak).
4. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) adalah lembaga formal maupun informal yang memberikan pelayanan keuangan kepada masyarakat berupa tabungan dan kredit dengan tujuan untuk mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga.
5. Kelompok Sasaran adalah kelompok yang telah ada dan menjalankan usaha agribisnis dan/atau ketahan pangan dengan prioritas pada kelompok yang memiliki kendala modal karena terbatasnya akses terhadap sumber permodalan antara lain kelompok tani, gabungan kelompok tani, koperasi yang bergerak di bidang pertanian dan lembaga keuangan mikro (LKM) di Pedesaan;
6. Petani Sasaran sebagai penerima dana bantuan sosial adalah anggota kelompok sasaran yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota setempat atau Kepala Dinas lingkup Pertanian atau pejabat yang ditunjuk atas usul tim teknis kabupaten/kota, dengan tembusan antara lain disamapaikan kepada KPPN setempat.
II. PELAKSANAAN
A. Pelaksanaan Kegiatan Tahun Anggaran 2012
Dalam upaya penataan usaha budidaya babi yang ramah lingkungan, pemerintah pusat (Direktorat Jenderal Peternakan) pada tahun anggaran 2012 memfasilitasi dana bantuan sosial dekonsentrasi (dekon) dan tugas pembantuan (TP) yang dialokasikan di Provinsi/ Kabupaten tertentu.
1. Persyaratan Lokasi
Lokasi pengembangan usaha budidaya ternak babi ini, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
(1) Merupakan lokasi yang sesuai diperuntukan pada kegiatan penataan budidaya ternak babi yang ramah lingkungan, baik pada lokasi lama maupun lokasi pemekaran.
(2) Mempunyai potensi untuk dikembangkan, dilihat dari aspek sosial dan budaya masyarakatnya. Disarankan untuk melakukan
(3) Kemudahan dalam pemberian pelayanan pendampingan teknis, informasi dan pasar yang menunjang.
2. Kriteria Umum dan Kriteria Teknis Calon Kelompok Sasaran
Kriteria Calon kelompok sasaran/penerima dana bantuan sosial adalah kelompok yang menjalankan usaha agribisnis peternakan, dipilih dengan memenuhi kritera sebagai berikut :
(1) Kelompok yang sudah berpengalaman dan mempunyai keterampilan dan kemampuan budidaya ternak.
(2) Kelompok mampu dan dapat mengembangkan usaha budidaya ternak babi ramah lingkungan.
(3) Memiliki kendala modal karena terbatasnya akses kepada sumber permodalan.
(4) Kelompok berada pada kawasan sentra produksi ternak, tersedia sumberdaya pakan, kemudahan mengakses pasar, dan sumber informasi yang diperlukan.
(5) Setiap kelompok memiliki kandang secara koloni.
(6) Pemanfaatan dana bantuan sosial adalah untuk Penguatan Modal Usaha dan pengembangan SDM kelompok, serta pengadaan barang/modal untuk kelompok seperti pengadaan ternak, pembuatan bak penampungan kotoran secara bertingkat dan saluran pembuangan kotoran/air kencing, pengadaan obat-obatan/vaksin, pelatihan penerapan teknologi pengolahan limbah kotoran dan air kencing, dan kebutuhan administrasi kelompok yang diperlukan/dibutuhkan oleh kelompok tersebut.
Berdasarkan Pedum Bantuan Sosial disebutkan bahwa kriteria (umum dan teknis) calon kelompok sasaran/penerima bantuan dapat diatur lebih rinci dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) yang disusun oleh Provinsi berdasarkan kondisi wilayah dan dapat diatur secara lebih spesifik dalam Petunjuk Teknis (Juknis) oleh Kabupaten/Kota sesuai kondisi petani dan sosial budaya setempat. Disamping itu juga masing-masing kabupaten/kota juga dapat menyusun kriteria teknis calon kelompok sasaran
3. Tata Cara Seleksi Calon Kelompok Sasaran
peternak. Proses seleksi calon kelompok dilakukan secara bertahap dan seyogyanya telah dipersiapkan sebelumnya oleh pemerintah daerah/Dinas Peternakan/Dinas yang melaksanakan fungsi peternakan. Salah satu kunci keberhasilan pemberdayaan masyarakat pertanian, termasuk pengembangaan modal terletak pada ketepatan dan kebenaran dalam menentukan kelompok sasaran.
Sebelum dilakukan seleksi calon kelompok terlebih dahulu dilakukan inventarisasi/pendataan (long list) terhadap para petani yang telah ada di daerah tersebut yang meliputi : nama dan alamat kelompok peternak beserta jumlah anggota, lokasi dan jumlah polulasi ternak yang dimiliki, lama beternak dan lain-lain yang masih terkait.
Seleksi calon kelompok sasaran setidaknya dilakukan dalam dua tahap. Seleksi Tahap-1 (short list), dimana aspek penilaian pada tahap ini adalah mengenai kelengkapan persyaratan adminstari kelompok sesuai kriteria yang ditentukan di dalam Pedum, Juklak dan Juknis. Seleksi Tahap II, Tim Teknis Kabupaten/Kota melakukan penilaian terhadap usulan/proposal/rencana usaha dari kelompok. Proposal/rencana usaha memuat : diskripsi usaha kelompok, sumberdaya dan sarana yang telah dimiliki kelompok, potensi yang dapat dikembangkan serta besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha kelompok.
Setelah dilakukan seleksi tahap I dan II, Tim teknis menyelenggarakan musyawarah dengan stakeholder terkait. Hasil musyawarah dituangkan dalam Berita Acara yang memuat Daftar kelompok sasaran calon penerima bantuan sosial.
4. Penetapan Kelompok Sasaran
Berdasarkan berita acara hasil musyawarah kabupaten/kota, Tim Teknis mengusulkan calon kelompok sasaran untuk ditetapkan sebagai calon penerima Bantuan Sosial dengan SK Bupati/Walikota atau Kepala Dinas/Kantor lingkup pertanian kabupaten/kota. Hasil seleksi dan penetapan kelompok diumumkan/disosialisasikan kepada masyarakat luas oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota melalui media massa/cetak atau media komunikasi lainnya.
III. MEKANISME PENCAIRAN, PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN DANA BANTUAN SOSIAL
A. Pengajuan dan Penyaluran Dana Bantuan Sosial
Proses pengajuan dan penyaluran dana bantuan sosial dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Rencana Usaha Kelompok (RUK) disusun oleh kelompok dan disahkan/ditandatangani oleh ketua kelompok serta dua anggota kelompok.
2. Petani/kelompok tani membuka rekening tabungan pada kantor cabang/unit BRI/Bank Pos atau bank lain terdekat dan memberitahukan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di kabupaten/kota.
3. Ketua kelompok tani mengusulkan RUK kepada PPK Kabupaten/Kota estela diverifikasi oleh Penyuluh Pertanian dan disetujui oleh Ketua Tim Teknis.
4. PPK meneliti RUK dari masing-masing kelompok yang akan dibiayai, selanjutnya mengajukan ke Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Kabupaten/ Kota, kemudian KPA mengajukan Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) dengan lampiran sebagai berikut :
a. Surat Keputusan Bupati/Walikota atau Kepala Dinas/Badan lingkup Pertanian atau pejabat yang ditunjuk tentang penetapan kelompok sasaran.
b. Rekapitulasi RUK dengan mencantumkan :
1) Nama Kelompok
2) Nama Ketua Kelompok
3) Nomor Rekening Bank a.n. kelompok tani
4) Nama cabang/unit BRI/Bank Pos atau bank lain terdekat
5) Jumlah dana dan susunan keanggotaan kelompok.
c. Kuitansi yang ditandatangani oleh ketua kelompok tani, diketahui/ disetujui oleh PPK Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
d. Surat Perjanjian kerjasama antara Pejabat Pembuat Komitmen dengan kelompok sasaran tentang pemanfaatan dana penguatan modal kelompok.
5. Atas dasar SPP-LS, Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran (P4) menguji dan menerbitkan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS), selanjutnya KPA menyampaikan SPM-LS ke KPPN setempat.
B. Pokok-Pokok Pengelolaan/Pemanfaatan Dana Bantuan Sosial
Dana tugas pembantuan (TP) dan dekonsentrasi yang dialokasikan ke Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi fungsi peternakan di Provinsi maupun Kabupaten/Kota pemanfaatannya 100% untuk kegiatan penataan usaha budidaya babi ramah lingkungan seperti:
1. Pengadaan ternak minimal 50% dari total anggaran;
2. Sarana dan prasarana (maksimal 48%) yang terdiri dari pengelolaan limbah, pakan, perbaikan kandang, obat-obatan dan laiin-lain sesuai kebutuhan kelompok;
3. Administrasi dan pelaporan (maksimal 2%).
Sedangkan untuk kegiatan pendukung pelaksanaan yang bersifat operasional seperti sosialisasi, identifikasi dan seleksi lokasi serta pembinaan dan monitoring dapat difasilitasi melalui dana APBD.
Dana yang dikelola oleh kelompok tani disalurkan melalui mekanisme LS digunakan untuk : memperkuat modal, maupun untuk usaha produktif bidang peternakan, pendampingam, pengembangan sumber daya manusia, kegiatan produksi dan operasionalisasi usaha kelompok.
Prinsip-Prinsip dasar dalam pengelolaan dan pemanfaatan dana bansos sebagai berikut :
1. Dana bansos merupakan stimulan dalam mendukung usaha kelompok, sedangkan motor penggerak utama pengembangan usaha kelompok adalah kemauan dan kemampuan kelompok itu sendiri.
2. Dana bansos wajib digunakan untuk usaha produktif yang diarahkan untuk menumbuhkan dan memperbesar skala usaha, efisiensi dan jaringan usaha, serta memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal.
3. Pemanfaatan dana kelompok untuk modal usaha direncanakan bersama secara transparan oleh kelompok dan difasilitasi oleh pendamping. Pemanfaatan dana kelompok untuk pengadaan sarana produksi (saprodi) dilaksanakan sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku. Pengadaan tersebut dilakukan secara transparan dengan jenis dan jumlah saprodi diputuskan berdasarkan musyawarah anggota kelompok. Penyaluran saprodi kepada anggota dilegitimasi dengan berita acara serah terima barang. Pengurus kelompok membukukan seluruh aktivitas penarikan dana, pembelanjaan dan penyerahan lepada anggota kelompok.
Berita Acara Hasil Rapat Kelompok. Namun dalam pengalokasian dana bansos tersebut harus mengikuti arahan pilihan-pilihan jenis kegiatan yang dapat disesuaikan dengan prioritas masing-masing kelompok sasaran, antara lain :
1. Digunakan untuk membiayai pembelian ternak, penyediaan sarana/prasarana, infrastruktur dan fasilitas sesuai kebutuhan kelompok seperti rehabilitasi kandang, alat pembuatan instalasi pengolahan limbah kotoran ternak, pembuatan saluran pembuangan kotoran dan urine ke dalam bak penampungan secara bertingkat, penanaman pohon seperti kenanga, kamboja untuk menyerap bau, pembuatan biodigester dll. Khusus untuk sarana pendukung, dapat dijadikan asset kelompok yang tidak harus digulirkan dan pengadaannya disesuaikan dengan kebutuhan kelompok.
2. Digunakan untuk pengadaan/rehabilitasi atau optimalisasi pemanfaatan alat dan mesin pra-produksi, produksi dan pengolahan hasil .
3. Digunakan untuk pengadaan sarana produksi bibit(ternak babi), pakan, obat-obatan dan pengadaan sarana biosekuriti) sesuai kebutuhan. Penggunaan dana untuk penyediaan saprodi untuk komoditas peternakan tidak dibatasi besarnya dana, namun tetap mengacu pada kebutuhan kelompok yang bersangkutan.
4. Digunakan untuk pengembangan kelembagaan antara lain memperluas jaringan pemasaran, pengembangan usaha penunjang agribisnis, jaringan kerja dengan mitra usaha, dan pengembangan simpan pinjam pola LKM.
Digunakan dalam rangka peningkatan dan pengembangan kemampuan melalui pelatihan seperti pelatihan aplikasi teknologi pengolahan limbah ternak (kompos) bagi pengurus/anggota kelompok. Untuk memperoleh hasil yang optimal agar dalam pelaksanaan pelatihan dikoordinasikan dengan Badan Diklat Pertanian setempat.
Pemanfaatan dana tugas pembantuan ternak babi tahun 2012 dianjurkan untuk Provinsi dan Kabupaten lebih difokuskan kepada kegiatan penataan budidaya ternak babi ramah lingkungan dalam bentuk pelaksanaan pilot
project sedangkan untuk memfasilitasi kegiatan pendukung diharapkan
pihak kabupaten dapat memanfaatkan dana pendampingan dari dana APBD setempat.
diusahakan dan tingkat perkembangan usaha kelompok di dalam juknis yang disusun oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota.
C. Pola Pengembangan dan Sistem Perguliran
Pada prinsipnya, dana bansos diberikan dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan usaha peternakan. Dana yang disalurkan kepada kelompok tani bersifat stimulan, sehingga perlu dikembangkan untuk usaha produktif hingga kelompok yang bersangkutan dapat mandiri. Meskipun dana yang disalurkan kepada kelompok merupakan bantuan sosial yang perlu dikembangkan untuk usaha produktif kelompok sehingga usaha kelompok yang bersangkutan mandiri. Dengan demikian anggota kelompok yang menerima dana bantuan sosial tidak memperolehnya secara cuma-cuma, namun mereka harus memupuk/mengembangkan usaha sesuai dengan kondisi masing-masing kelompok dan anggota kelompok sasaran diharapkan memberikan kontribusi dalam penyediaan modal usaha yang besarnya ditetapkan atas kesepakatan seluruh anggota kelompok. Diharapkan agar penyediaan saprodi seperti bibit/ternak, pakan, obat-obatan, dan lain-lain, sebagian dananya dibiayai sendiri oleh petani/kelompok tani. Sedangkan sarana yang diperlukan untuk pengembangan usaha, akan tetapi tidak dapat disediakan oleh kelompok, dapat dibiayai dari dana bantuan sosial.
Bilamana, kelompok tani tidak menggunakan dana bantuan sosial sesuai dengan ketentuan yang berlaku, atau tidak menunjukkan kemauan/kemampuan untuk menumbuhkan usaha produktif sesuai dengan yang diharapkan, maka pihak satker dapat menarik dana tersebut, sesuai dengan klausul Surat Perjanjian Kerjasama antara PPK dengan kelompok tani, untuk selanjutnya diberikan kepada kelompok tani lain yang lebih potensial.
IV. PEMBINAAN DAN PENGENDALIAN
A. Pembinaan
Pembinaan pengembangan penataan budidaya ternak babi pada prinsipnya ditujukan untuk penerapan pola usaha budidaya ternak babi yang berwawasan lingkungan.
dengan instansi terkait lainnya. Untuk itu diperlukan dukungan dana pembinaan lanjutan yang bersumber dari APBD
1. Struktur Organisasi
Tanggung jawab teknis pelaksanaan kegiatan ini berada pada dinas/kantor lingkup pertanian kabupaten/kota. Tanggung jawab koordinasi pembinaan program berada pada Dinas/Badan lingkup pertanian Provinsi atas nama Gubernur. Tanggung jawab program dan kegiatan adalah Ditjen/Badan Lingkup Kementerian Pertanian. Eselon I ini memfasilitasi program dan kegiatan kepada provinsi dan kabupaten/kota. Kegiatan koordinasi pembinaan lintas kabupaten/kota difasilitasi oleh Provinsi, sedangkan kegiatan koordinasi dan pelaksaanaan teknis operasional difasilitasi oleh kabupaten/kota. Untuk kelancaran pelaksanaan program pembangunan pertanian di tingkat Provinsi dibentuk Tim Pembina Provinsi dan pada tingkat Kabupaten/Kota dibentuk Tim Teknis Kabupaten/Kota.
2. Penanggung Jawab Program
Eselon I lngkup Kementerian Pertanian memfasilitasi koordinasi persiapan pemantauan dan evaluasi kegiatan-kegiatan, dengan melaksanakan tugas meliputi menyusun pedoman teknis untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan; menggalang kemitraan dengan provinsi dan kabupaten/kota dalam pelaksanaan advokasi dan pemantauan/pengendalian dan evaluasi serta menyusun laporan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat sebagai ujung tombak dari pelaksanaan program dan anggaran.
3. Tim Pembina Provinsi
Tim pembina Provinsi terdiri dari unsur dinas/badan lingkup pertanian, instansi terkait, UPT lingkup pertanian seperti BPTP, perguruan tinggi, asosiasi profesi serta organisasi petani dan lain-lain sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran.
Tugas Tim Pembina Provinsi adalah :
1. Menyusun Petunjuk pelaksanaan (Juklak) dengan mengacu kepada Pedoman Umum (Pedum) Pengelolaan Dana Bantuan Sosial dan Pedoman Umum yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan Kepada Petani sesuai kondisi setempat;
3. Melakukan koordinasi dengan Tim Teknis Kabupaten/Kota dalam pemantauan dan pengendalian, serta membantu mengatasi permasalah di lapangan;
4. Menyusun laporan hasil pemantauan dan pengendalian serta menyampaikan laporan ke tingkat pusat;
4. Tim Teknis Kabupaten/Kota
Tim Teknis Kabupaten/Kota beranggotakan dinas teknis lingkup pertanian, instansi terkait, lembaga penyuluh pertanian kabupaten/kota, perguruan tinggi. Organisasi petani/petani ahli/asosiasi petani lainnya sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran.
Tugas Tim Teknis Kabupaten/Kota adalah
1. Menyusun Petunjuk Teknis (Juknis) dengan mengacu Pedum dan Juklak disesuaikan dengan kondisi sosial budaya setempat dan usaha yang dikembangkan;
2. Melakukan sosialisasi dan seleksi calon kelompok sasaran 3. Melakukan pembinaan, pemantauan dan pengendalian 4. Membuat laporan hasil pemantauan dan pengendalian
B. Perencanaan Operasional
Kegiatan operasional dituangkan ke dalam Juklak yang disusun oleh Tim Pembina Provinsi dan Juknis yang disusun oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota mengacu kepada Pedum Pengelolaan Dana Bantuan Sosial kepada Petani dan Pedum Teknis dari Ditjen/Badan lingkup Kementerian Pertanian. Juklak dan Juknis disusun untuk mengatur hal-hal yang belum jelas dan belum diatur dalam Pedum. Untuk itu Juklak dan Juknis adar disusun secara fleksibel dengan memperhatikan aspirasi dan kondisi masing-masing wilayah.
C. Sosialisasi
Sosialisasi dilakukan dalam rangka penyamaan persepsi, membangun komitmen, tranparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program pembangunan pertanian. Kegiatan sosialisasi ini juga sekaligus unutk menampung aspirasi masyarakat melalui konsultasi publik sehingga pemanfaatan dana bantuan sosial dapat lebih terarah dan bermanfaat masyarakat pertanian.
berjenjang mulai dari tingkat Pusat (oleh Direktorat Jenderal Peternakan), Tingkat Provinsi (oleh Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi fungsi peternakan provinsi) dan tingkat kabupaten (oleh Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi fungsi peternakan kabupaten). Pemahaman terhadap kegiatan pengembangan usaha budidaya ternak babi yang berwawasan lingkungan perlu ditingkatkan baik terhadap masyarakat atau para peternak babi maupun terhadap pihak terkait lainnya yang secara tidak langsung ikut berperan dalam menentukan keberhasilan program pengembangan usaha budidaya ternak babi yang berwawasan lingkungan
D. Pendampingan Usaha
Untuk mendukung kegiatan pengembangan usaha budidaya ternak babi yang berwawasan lingkungan maka diperlukan adanya pendampingan, sehingga usaha budidaya ternak babi yang berwawasan lingkungan yang dilakukan masyarakat dapat sesuai dengan aturan budidaya yang baik (GFP). Kegiatan pendampingan tersebut dilaksanakan oleh Dinas Peternakan atau dinas teknis yang membidangi fungsi peternakan masing-masing daerah. Pendampingan yang dilakukan adalah meliputi melakukan sosialisasi secara terus menerus tentang kegiatan penataan budidaya ternak babi ramah lingkungan, terutama bagaimana mekanisme pengelolaan dana dan pergulirannya, memfasilitasi pelatihan teknologi pengolahan limbah menjadi pupuk padat dan cair/biogas serta pelatihan manajemen teknis lain yang dibutuhkan, memfasilitasi pengadaan sarana penunjang kegiatan (bibit, pakan, bak penampungan kotoran bertingkat, obat-obatan dll), memberikan bimbingan teknis dan manajemen yang diperlukan, membantu akses kepada pasar, informasi dan permodalan lain, memfasilitasi pertemuan (secara partisipatif) antara kelompok penerima dengan calon kelompok perguliran.
E. Pengendalian
Pengendalian melalui jalur struktural dilakukan oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota, serta Tim Pembina Provinsi dan Pusat. Proses pengendalian di setiap wilayah direncanakan dan diatur oleh masing-masing instansi.
Dalam penyelenggaraan pengendalian tersebut, ada 6 (enam) tahapan yang perlu mendapat perhatian, yaitu :
1. Tahap sosialisasi yang dilakukan oleh Tim Pengarah/Pembina di Pusat/ Provinsi dan Tim Teknis Kabupaten/Kota.
3. Tahap penyaluran dana bantuan sosial ke rekening kelompok.
4. Tahap pencairan dana bantuan sosial yang dilakukan oleh kelompok.
5. Tahap kebenaran serta ketepatan pemanfaatan dana bantuan sosial yang dilakukan oleh kelompok, dan
6. Tahap pengembangan usaha produktif yang dilakukan oleh kelompok.
V. MONITORING DAN EVALUASI
Ukuran keberhasilan terhadap implementasi kegiatan perlu dilakukan sebagai umpan balik dan akuntabilitas publik. Adapun beberapa ukuran penentu keberhasilan yang dapat dipergunakan adalah sebagai berikut :
1. Ada perkembangan jumlah kelompok ternak babi yang melaksanakan program penataan budidaya babi ramah lingkungan.
2. Ada perkembangan jumlah kepemilikan ternak.
3. Ada perkembangan usaha-usaha lain, baik on-farm maupun off-farm, seperti usaha jasa, usaha pupuk kandang atau biogas.
4. Ada kegiatan kerjasama dengan stakeholder lainnya seperti dalam pengadaan hasil samping tanaman.
5. Ada perkembangan dalam permodalan kelompok, baik internal (dari usaha yang dilakukan oleh kelompok itu sendiri), maupun dari sumber eksternal (perbankan, kemitraan, dsb)
6. Kelompok mampu melakukan analisa, merencanakan dan memonitor sendiri semua kegiatan-kegiatan yang dilakukannya, sehingga tidak ada lagi pendampingan secara rutin dari Pemerintah (kelompok yang mandiri).
7. Ada perkembangan peningkatan pendapatan anggota kelompok.
VI. PENGAWASAN DAN PELAPORAN
A. Pengawasan
Pengawasan dilakukan melalui jalur struktural, dapat dilakukan oleh Tim Teknis Kabupaten, Tim Pembina di Provinsi dan di Pusat. Disarankan agar dapat dilakukan :
1. Dinas Kabupaten/Kota melakukan pendampingan sekaligus pengawasan kegiatan kelompok di lokasinya masing-masing, baik kegiatan dalam rangka penguatan modal usaha kelompok, maupun budidaya ternak.
3. Direktorat Jenderal Peternakan, bersama-sama Dinas Provinsi, Kabupaten/Kota melakukan pengawasan, monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan secara menyeluruh.
B. Pelaporan
Pelaporan sangat diperlukan untuk mengetahui kemajuan kegiatan kelompok di lapangan, terutama perkembangan kegiatan penguatan modal usaha dan kegiatan teknis peternakan. Untuk itu perlu diatur sistem pelaporan sebagai berikut :
1. Kelompok ternak wajib melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan setiap triwulan kepada Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi fungsi-fungsi peternakan dengan tembusan ke Dinas Peternakan Propinsi, selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.
2. Tim Pendamping melakukan rekapitulasi seluruh laporan perkembangan yang diterima dari kelompok di Kabupaten/Kota dan selanjutnya disampaikan kepada Direktur Budidaya Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya.
VII. PENUTUP