• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI GURU DALAM EFEKTIFITAS MODEL PE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI GURU DALAM EFEKTIFITAS MODEL PE"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI GURU DALAM EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN

( Studi Kasus di MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang Kec. Lempung OKI)

Tugas Proposal ini dibuat untuk memenuhi tugas UAS pada Mata Kuliyah “Metodologi Penelitian”

Disusun oleh : Siti Uswatun Khasanah

NIM: 2015 11 0020

Dosen Pembimbing: Ahmad Rojali, M.Pd

JURUSAN TARBIYAH

PROGAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI ) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AS-SHIDDIQIYAH

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

Nama : Siti uswatu khasanah NIM/NIMKO : 2015 11 0020

Judul : Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran

( Stadi Kasus di MTs. Tri-bhakti At-taqwa Kepahyang Kec. Lempuing OKI)

(3)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan, menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Didalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi atau model pembelajaran, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. Pemilihan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain itu juga harus disesuaikan dengan jenis materi, karakteristik peserta didik, serta situasi atau kondisi dimana proses pembelajaran tersebut akan berlangsung.

Salah satu langkah untuk memiliki strategi ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian. Untuk memenuhi salah satu kompetensi guru dalam sistem instruksional yang modern, maka perlu diuraikan masing-masing teknik penyajian secara mandalam dan terinci. Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru untuk mengajar siswa didalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik. Seorang guru harus mengenal, mempelajari, dan menguasai banyak teknik penyajian, agar dapat menggunakan dengan variasinya, sehingga guru mampu menimbulkan proses belajar mengajar yang berhasil. Seorang guru harus menguasai beberapa macam teknik penyajian dengan baik, sehingga ia mampu memilih teknik yang paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tersebut, tanpa terasa mengubah situasi pengajaran.

(4)

dicapai. Walaupun setiap teknik penyajian mempunyai ciri khas, berbeda yang satu dengan lainnya, namun kita perlu memiliki suatu pola atau standar untuk mempelajari suatu teknik itu dan bisa saling melengkapi (Roestiyah N.K 2012, 3)

Kesulitan dan kegagalan siswa dalam belajar disebabkan oleh siswa itu sendiri, baik pada faktor internal dan eksternal yang berupa fasilitas, kurikulum sumber belajar dan kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswanya, disatu sisi kurangnya kemampuan guru dalam mengaplikasikan suatu strategi atau metode pembelajaran yang tepat sangat berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Peranan guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberikan fasilitas belajar, agar proses belajar lebih memadai. Banyak kita jumpai seorang guru yang hanya mengajar dan tanpa menggunakan strategi mengajar yang baik, tidak mau tahu apakah model pembelajaran yang digunakan sudah efektif atau belum. Dengan masalah tersebut banyak siswa yang tidak bisa menangkap materi dengan baik dan jelas, materi susah dipahami oleh siswa. Dengan hal tersebut maka sangat perlu perencanaan pembelajaran yang benar.

Mengajar sebenarnya merupakan suatu kegiatan atau proses untuk menyusun dan menguji suatu rencana atau program yang memungkinkan timbulnya perbuatan-perbuatan belajar pada diri murid. Suatu kegitan baru dapat dikatakan sebagai tindakan mengajar jika kegiatan itu didasarkan atas suatu rencana yang matang dan teliti. Dengan rencana yang matang dan teliti serta tepat, dapatlah diharapkan tercapainya tujuan yang dikehendaki secara efektif dan efisien.

(5)

pembelajaran dan tingkat keterlibatan peserta didik. Untuk itu, pengajar haruslah berfikir, strategi pembelajaran manakah yang paling efektif dan efisien dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan ? pemilihan strategi pembelajaran yang tepat diarahkan agar peserta didik dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara optimal.

Dengan adanya masalah diatas peneliti merasa tergugah dengan masalah tersebut apa sebenarnya yang membuat peserta didik nyaman dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pelajar , maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran”.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, maka penulis merumuskan beberapa masalah yaitu:

1. Bagaimana pelaksanaan strategi guru di MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang Kec. Lempuing OKI?

2. Apa saja model-model pembelajaran yang terdapat di MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang Kec. Lempuing OKI?

3. Bagaimana hasil dari penelitian strategi guru dalam efektifitas model pembelajaran?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan proposal ini adalah sebagaiberikut: 1. Mendeskripsikan pelaksanaan Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran di

MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang Kec. Lempuing OKI.

2. Mendeskripsikan aspek-aspek Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran di MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang Kec. Lempuing OKI.

D. Batasan Masalah

Agar dalam penelitian ini terlaksana dengan baik dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai, maka dalam penelitian ini hanya dibatasi pada prencanaan dalam menerapkan model dan strategi pembelajaran yang baik. Dilihat dari pendidik, peserta didik, dan sarana prasarana.

E. Kegunaan Penelitian

(6)

1. Menambah wawasan yang lebih luas

2. Mengembangkan dan menambah ilmu pengetahuan bagi peneliti dalam bidang pendidikan

3. Memberikan informasi tentang pelaksanaan strategi dan model perencanaan pembelajaran dalam meningkatkan proses pembelajaran di MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang

F. Sistematika Pembahasan

Agar lebih mudah dipahami dan diketahui secara menyeluruh tentang isi dari proposal ini, maka penulis menyusunnya dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:

BAB I : Merupakan pendahuluan, yang terdiri dari : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika pembahasan

BAB II : Landasan teori, yang meliputi: tinjauan tentang konsep strategi pembelajaran, tinjauan tentag model-model pembelajaran, dan strategi guru dalam efektifitas model pembelajaran

BAB III kerangka metodologis berisi tentang kerangka teknis penelitian yang meliputi: jenis dan desain penelitian, lokasi penelitian, data, sumber data dan narasumber, teknik pengumpulan data, kehadiran peneliti, teknik analisis data, keabsahan data, dan tahapan-tahapan penelitian.

BAB II

(7)

1. Pengertian Strategi Pembelajaran

Terdapat berbagai pendapat tentang strategi pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh para ahli pembelajaran. Untuk memberikan pengertian strategi pembelajaran Hamzah B. uno (2012, 1-2) mengutip tiga

pendapat tokoh sebagai berikut:

a. Kozna (1989) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran.

b. Gerlach dan Ely (1980) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu.

c. Gropper (1990) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerim dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya diahir kegiatan belajar.

2. Komponen Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan sebagai bagian dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan memegang peranan penting. Pada bagian ini guru diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi pelajaran yang akan disampaikan.

Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan dapat meningkatkan motovasi belajar peserta didik.

(8)

a) Jelaskan tujuan pembelajaran khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh semua peserta didik diahir kegiatan pembelajaran. Dengan demikian peserta didik akan menyadari pengetahuan, keterampilan, sekaligus manfaat yang akan diperoleh setelah mempelajari pokok bahasan tersebut. Demikian pula, perlu dipahami oleh guru bahwa dalam menyampikan tujuan hendaknya digunakan kata-kata dan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik. Pada umumya penjelasan dilakukan dengan menggunakan ilustrasi kasus yang sering dialami oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

b) Lakukan apersepsi, bagi kegiatan yang merupakan jembatan antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari. Tunjukkan pada peserta didik tentang eratnya hubungan antara pengetahuan yang telah mereka miliki dengan pengetahuan yang akan dipelajari. Kegiatan ini dapat menimbulkan rasa mampu dan percaya diri sehingga mereka terhindar dari rasa cemas dan takut menemui kesulitan atau kegagalan.

2. Penyampaian Informasi

Penyampian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan yang paling penting dalam proses pembelajaran. Guru yang mampu menyampikan informasi dengan baik, tetapi tidak melakukan kegiatan pendahuluan dengan mulus akan menghadapi kendala dalam kegiatan pembelajaran selanjutnya.

Dalam kegiatan ini, guru juga harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Dengan demikian, informasi yang disampaikan dapat diserap oleh peserta didik dengan baik.

3. Partisipasi Peserta Didik

(9)

berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Dick dan Carey, 1978:108).

Terdapat beberapa hal penting yang berhubungan dengan partisipasi peserta didik, yaitu sebagai berikut:

a) Latihan dan praktik seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang suatu pengetahuan, sikap, atau keterampilan tertentu. Agar materi tersebut benar-benar terinternalisasi (relative mantap dan termantapkan dalam diri mereka) maka kegiatan selanjutnya adalah hendaknya peserta didik diberi kesempatan untuk berlatih atau mempraktikkan pengetahuan, sikap, atau keterampilan tersebut.

b) Umpan Balik

Setelah peserta didik menunjukkan prilaku sebagai hasil belajarnya, maka guru segera memberikan umpan balik (feedback) terhadap hasil belajar tersebut. Melalui umpan balik yang diberikan oleh guru, peserta didik akan mengetahui apakah kegiatan yang telah mereka lakukan benar/salah, tepat/tidak tepat, atau ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Umpan balik dapat berupa penguatan positif dan penguatan negatif. Melalui penguatan positif (baik, bagus, tepat sekali, dn sebagainya), diharapkan perilaku tersebut akan terus dipelihara atau ditunjukkan oleh peserta didik. Sebaliknya, melalui penguatan negatif (kurang tepat, salah, perlu disempurnakan, dan sebagainya), diharapkan perilaku tersebut akan dihilangkan atau peserta didik tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

4. Tes

(10)

materi pelajaran pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta didik melakukan latihan atau praktik.

Dalam bukunya Wina Sanjaya (2008: 188) menyebutkan bahwa pencapaian sasaran atau tujuan yang ditentukan, akan sangat tergantung pada pengemasan bahan dan strategi pembelajaran yang digunakan.

3. Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar

Menurut Mansyur (1991:10), terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan sebagai berikut:

a) Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar

Konsep dasar strategi belajar mengajar meliputi ha-hal: a) menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan prilaku, b) menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar, dan c) norma dan kriteria kegiatan belajar mengajar.

b) Sasaran Kegiatan Belajar Mengajar

Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret sampai yang sangat umum.

c) Belajar Mengajar sebagai Suatu Sistem

(11)

tertentu saja, misalnya metode, bahan dan evaluasi saja, tapi ia harus mempertimbangkan komponen secara keseluruhan.

Berbagai persoalan yang biasa dihadapi guru antara lain adalah: 1) Tujuan-tujuan apa yang mau dicapai,

2) Materi pelajaran apa yang perlu diberikan ,

3) Metode, alat mana yang harus dipakai,

4) Prosedur apa yang akan ditempuh untuk melakukan evaluasi.

Secara khusus dalam prose belajar mengajar guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dengan masyarakat, administrator dan lain-lain. Untuk itu wajar bila guru memahami dengan segenap aspek pribadi anak didik seperti:

12) Sifat-sifat khusus dan kesulitan anak didik

Usaha untuk memahami anak didik ini bisa dilakukan melalui evaluasi. Selain itu guru mempunyai keharusan melaporkan perkembangan hasil belajar para siswa kepada kepala sekolah, orang tua, serta instansi yang terkait.

d) Hakikat Proses Belajar

(12)

menilai proses dan hasil belajar, kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru.

e) Entering Behavior Siswa

Hasil kegiatan belajar mengajar tercermin dalam perubahan prilaku, baik secara material-subtansial, struktural-fungsional, maupun secara bahavioral. Yang dipersoalkan adalah kepastian bahwa tingkat prestasi yang dicapai siswa itu apakah benar merupakan hasil kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan. Untuk kepastiannya seharusnya kita mengetahui tentang karakteristik perilaku peserta didik saat mereka mau masuk sekolah dan mulai dengan kegiatan belajar mengajar dilangsungkan, tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Itulah yang dimaksud dengan Entering Behavior

Siswa.

f) Memilih Sistem Belajar Mengajar

Para ahli teori belajar telah mencoba mengembangkan berbagai cara pendekatan atau sistem pengajaran atau proses belajar mengajar. Berbagai sistem pengajaran antara lain:

1) Enquiry-Discovery Learning, belajar mencari dan menemukan

Dalam sistem belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.

Pendekatan belajar mengajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Kelemahannya adalah memakan waktu yang cukup banyak, dan kalau kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menjurus kepada kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari.

(13)

Dalam sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik, dan lengkap, sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencernanya saja secara tertib dan teratur.

3) Mastery Learning

Dari hasil berbagai studi menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil siswa yang mampu menguasai bahan 90-100 % dari penyajian guru. Sebagian besar siswa bervariasi antara 50-80 %, malah sebagian lagi ada yang lebih kecil lagi penguasaanya terhadap bahan yang disajikan guru. Adanya variasi penguasaan bahan ini mencerminkan adanya variasi kemampuan para siswa.

Menurut calor setiap anak didik akan mampu menguasai bahan kalau diberikan waktu atau kesempatan yang cukup untuk mempelajarinya, sesuai dengan kepastian masing-masing. Dengan demikian taraf atau tingkatan belajar itu pada dasarnya merupakan fungsi dari proporsi waktu yang disediakan untuk belajar atau time allowed for learning, dengan waktu yang diperlukan untuk belajar atau time needed for learning oleh peserta didik.

4) Humanistic Education

Dalam kenyataan tidak bisa disangkal bahwa kemampuan dasar kecerdasan para siswa itu sangat bervariasi secara individual. Oleh karena itu muncul teori belajar yang menitikberatkan upaya untuk membantu siswa agar sanggup mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya. Taraf ahir dari proses belajar mengajar menurut pandangan ini adalah self actualization

seoptimal mungkin dari setiap anak didik.

(14)

Dalam bukunya Wina Sanjaya (2008: 70) menjelaskan bahwa Model desain sistem intruksional yang dikembangkan oleh kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul.

Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut kemp

Kesembilan komponen itu merupakan suatu siklus yang terus menerus direvisi setelah dievaluasi dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioritas, dan berbagai kendala yang muncul.

2. Model Banathy

Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:

a. Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun tujuan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.

(15)

c. Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan mengiventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.

d. Merancang sistem, yakni kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.

e. Mengimplementasikan dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektifitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi.

f. Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.

3. Model Dick and Cery

(16)

penguasaan materi pelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.

4. Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)

Model PPSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan pelaksanaan dan perencanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanaakan program belajar mengajar.

PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:

a. Merumuskan tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni tujuan harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.

b. Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah perumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.

c. Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.

d. Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.

e. Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes, dan melakukan perbaikan.

C. Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran

A. Pertimbangan dalam Pengembangan Strategi Pembelajaran

1. Pertimbangan yang Berhubungan dengan Tujuan yang Ingin di Capai

(17)

yang ingin dicapai maka semakin rumit juga strategi pembelajaran yang harus dirancang, strategi dirancang tiada lain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

2. Pertimbangan yang Berhubungan dengan Bahan atau Materi Pembelajaran

Materi atau pengalaman belajar merupakan pertimbangan kedua yang harus diperhatikan. Materi pelajaran yang sederhana misalnya, materi pelajaran berupa data yang harus dihafal, maka pengalaman belajarpun cukup sederhana pula, barangkali siswa hanya dituntut untuk mendengarkan, mencatat, dan menghafalkannya. Dengan demikian, maka strategi yang dirancangpun sederhana pula. Berbeda manakala materi pelajaran berupa generalisasi, teori atau mungkin keterampilan, maka pengalaman belajarpun harus dirancang sedemikian rupa sehingga materi pelajaran dan pengalaman belajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

3. Pertimbangan dari Sudut Siswa

Siswa adalah subjek yang akan kita belajarkan. Siswa adalah individu yang unik, yang memiliki perbedaan, tidak ada siswa yang sama. Walaupun secara fisik mungkin sama, namun pasti ada hal-hal tertentu yang pasti berbeda, misalnya perbedaan dari sudut minat, bakat, kemampuan bahkan gaya belajar. Dengan demikian, strategi pembelajaran yang kita rancang mestilah sesuai dengan keadaan dan kondisi siswa.

4. Pertimbangan-pertimbangan Lainnya

Bahwa yang dimaksud dengan pertimbangan lainnya adalah pertimbangan ditinjau dari strategi itu sendiri, sebab begitu banyak strategi yang dapat kita pilih untuk membelajarkan siswa (Wina Sanjaya, 2008:297)

(18)

Peran guru sebagai sumber belajar, merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Kita bisa menilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga benar-benar ia berperan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya. Apapun yang ditanyakan siswa sekaitan dengan materi pelajaran yang sedang diajarkannya, ia akan dapat menjawab dengan penuh keyakinan. Sebaliknya, dikatakan guru yang kurang baik manakala ia tidak paham tentang materi yang diajarkannya. Ketidakpahaman tentang materi pelajaran biasanya ditunjukkan oleh perilaku-perilaku tertentu misalnya, teknik penyampaian materi pelajaran yang monoton, ia lebih sering duduk dikursi sambil membaca, suaranya lemah, tidak berani melakukan kontak mata dengan siswa, miskin dengan ilustrasi dan sebagainya. Perilaku guru yang demikian dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan pada diri siswa, sehingga guru akan sulit mengendalikan kelas.

Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru juga harus dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Dibawah ini dikemukakan beberapa petunjuk.

a. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai

(19)

b. Membangkitkan minat siswa

Siswa akan terdorong untuk belajar, manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar siswa diantaranya:

1) Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa. Minat siswa akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa guru perlu menjelaskan materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian, guru perlu menjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan siswa.

2) Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan siswa akan gagal mencapai hasil yang optimal; dan kegagalan itu dapat membunuh minat siswa untuk belajar. Biasanya minat siswa akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar.

3) Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi misalnya diskusi, kerja kelompok, ekperimen, demontrasi dan lain sebagainya.

c. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar

Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik, manakal ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamnya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu guru sekali-kali dapat melakukan hal-hal yang lucu.

d. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa

(20)

memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata, justru ada anak yang merasa tidak senang dengan kata-kata. Pujian sebagai penghargaan bisa dilakukan dengan isyarat misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.

e. Berikan penilaian

Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera, agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektiv sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing (Wina Sanjaya, 2008: 287).

2. Siswa sebagai objek belajar

konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran, menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi pelajaran. Mereka dianggap sebagai organisme yang pasif, yang belum memahami apa yang harus dipahami, sehingga melalui proses pengajaran mereka dituntut memahami segala sesuatu yang diberikan guru. Peran siswa adalah sebagai penerima informasi yang diberikan guru. Sebagai objek belajar, kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan minat dan bakatnya, bahkan untuk belajar sesuai dengan gayanya sangat terbatas. Sebab, dalam proses pembelajaran segalanya diatur dan ditentukan oleh guru.

(21)

dan model pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif, pendekatan kualitatif bersifat deskriptif karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengolahan data yang berupa kata-kata dan gambaran umum yang terjadi dilapangan.

Penelitian yang menggunakan metode deskriptif bertujuan untuk membuat gambaran, atau lukisan hasil pengamatan yang terjadi dilapangan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta yang berhubungan dengan fenomena yang telah diteliti.

Penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori yang dipersiapkan sebelumnya, tapi dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan alami. Data dan informasi lapangan ditarik maknanya dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif, tanpa harus menggunakan angka, sebab lebih mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dalam situasi yang alami (Ahmad Rojali, 2015). Karena jenis datanya hanya berupa gambaran, gejala, dan fenomena yang terjadi, maka jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dan dilihat dari jenis penelitiannya, penelitian ini disebut penelitian lapangan (studi kasus). Tujuan penelitian lapangan adalah mempelajari secara intensif tentang latar belakang bedasarkan keadaan sekarang , interaksi sosial suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat (S. Margono, 2000:9).

(22)

strategi guru dalam efektifitas model pembelajaran di MTs. Ti Bhakti At-taqwa Kepahyang.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang Kec. Lempuing OKI. Dengan pemilihan lokasi ini peneliti ingin mengetahui sejauh mana telah diterapkan strategi guru dalam meningkatkan proses belajar mengajar di MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang selain itu juga lebih mudah dijangkau karena berdekatan dengan peneliti.

C. Data, Sumber Data dan Narasumber

1. Data

Data adalah hasil pencatatan penelitian dari lapangan baik yang berupa fakta ataupun angka (Arikunto, 2002:96). Data dalam penelitian ini berarti informasi atau fakta yang diperoleh melalui pengamatan (obsevasi), hasil wawancara dan dokumen-dokumen yang sesuai dengan tujuan penelitian yang bisa dianalisis dalam rangka memahami strategi guru dalam efektifitas model pembelajaran.

a) Data dari observasi berupa aktifitas, kejadian, peristiwa, objek, dan kondisi atau suasana tertentu.

b) Data dari wawancara dapat berupa catatan hasil percakapan antara peneliti dengan informan.

c) Data dari dokumentasi berupa rekaman, foto, hasil rapat, jurnal kegiatan dan agenda (kesiapan dari pertemuan dan laporan-laporan peristiwa tertentu). 2. Sumber Data

(23)

menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatanlah yang menjadi sumber data (Suharsimi Arikunto, 2014:172).

Dalam penelitian kualitatif data disajikan berupa uraian yang berbentuk deskripsi. Untuk mendapatkan data tersebut peneliti perlu menentukan sumber data dengan baik, karena data tidak akan diperoleh tanpa adanya sumber data.

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002:107). Sumber data dalam penelitian ini adalah:

a) Informan adalah orang yang memberikan informasi. Dengan pengertian ini maka informan dapat dikatakan sama dengan responden, apabila pemberian keterangannya karena dipancing oleh pihak peneliti.

b) Gerak atau proses sesuatu yaitu hasil proses sosial ketika orang tersebut berinteraksi dengan orang lain. Dalam penelitian ini sumber data bisa didapat melalui peristiwa, aktivitas, kinerja, kegiatan belajar mengajar dikelas atau segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan penelitian.

c) Dokumen atau arsip merupakan bahan tertulis atau benda yang berhubungan dengan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu. Dokumen dalam penelitian ini dapat berupa catatn tertulis, arsip foto, rekaman, gambar atau benda yang berkaitan dengan tujuan penelitian.

3. Narasumber

Dalam penelitian kualitatif, pasti narasumber sangat penting sebagai individu yang memiliki informasi. Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama, narasumber bukan sekedar memberikan tanggapan yang diminta peneliti, akan tetapi bisa memilih arah dan selera dalam menyajikan informasi yang ia miliki. Untuk mendapatkan informasi yang komperhensif dan akurat tentang strategi guru dalam efektifitas model pembelajaran, maka pihak yang diwawancarai adalah: guru, waka kurikulum, dan siswa.

D. Tekhnik Pengumpulan Data

(24)

1. Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah mengamati dengan seksama terhadap fenomena yang sedang berlangsung. Dalam menentukan variabel yang diamati dan menyusun instrumen pengamatan, harus diingat: semakin banyak objek yang diamati, pengamatan semakin sulit dan hasilnya tidak teliti.

Pertimbangan memilih observasi sebagai metode pengumpulan data:

a) Jika data penelitian berkenaan dengan suatu proses prilaku atau aktifitas makhluk hidup atau fenomena alam.

b) Jika sampel atau populasinya relatif kecil sehingga dapat dijangkau atau mudah untuk diamati oleh peneliti (Ahmad Rojali, 2015:118)

2. Wawancara ( Interview )

Wawancara dapat berbentuk terstruktur atau tidak terstruktur, yang dilakukan dengan langsung bertatap muka dengan responden/ melalui koresponden/ melalui sistem online.

1. Wawancara tidak terstruktur

Tujuan mencari sebab beberapa isu pendahuluan sehingga peneliti dapat menetapkan variabel-variabel yang akan diteliti secara mendalam.

2. Wawancara terstruktur

Dilakukan jika sudah diketahui informasi yang dibutuhkan pewawancara telah mempunyai daftar pertanyaan yang akan ditanyaan kepada responden, baik secara perorangan, melalui telepon, atau melalui media komputer.

3. Dokumentasi

(25)

yang berkaitan dengan strategi guru dalam efektifitas model pembelajaran untuk meningkatkan proses pembelajaran.

E. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini, peneliti adalah sebagai instrumen. Selain itu, instrumen pendukungnya dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara dan pedoman observasi. Mengenai statusnya, peneliti adalah sebagai pengamat penuh serta subyek atau informan.

Pada saat peneliti datang kelokasi, peneliti langsung menemui kepala sekolah untuk meminta izin dalam melaksanakan penelitian, dan diberi izin untuk melaksankan penelitian tentang Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran. Setelah peneliti diberi izin, peneliti langsung mempersiapkan instrumen penelitian untuk memperoleh data-data yang diinginkan.

Pada hari pertama melaksanakan penelitian, peneliti memulainya dengan melakukan observasi dan dilanjutkan dengan mendokumentasi beberapa dokumen yang dianggap penting yang berkaitan dengan Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran. Pada hari selanjutnya, peneliti melanjutkan wawancara dengan kepala sekolah serta dewan guru dan staf-stafnya yang berkaitan dengan Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran. Dan pada hari terakhir, peneliti menata data hasil penelitian, baik data hasil observasi, dokumentasi, maupun data hasil wawancara.

F. Teknik Analisis Data

(26)

Menurut Miles dan Heberman (1999: 48) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam menganalisis data penelitian yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi hasil.

Redaksi data adalah bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga data dapat disajikan secara sistematis. Selanjutnya, data dianalisis secara kualitatif untuk mendeskripsikan fenomena yang terjadi, yaitu “Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran”. Langkah selanjutnya adalah menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi kesimpulan tersebut. Penarikan kesimpulan adalah hasil analisis yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan membandingkan data dokumen hsil wawncara dengan data-data yang lain. Selanjutnya, verifikasi hasil dilakukan dengan mengecek ulang data menguji keabsahannya dengan teori yang berhubungan dengan data yang ditemukan.

G. Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan merupakan pembuktian bahwa apa yang telah diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dilapangan. Maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik untuk mengetahui validitas data dengan mengadakan:

(27)

memerlukan beberapa dokumen-dokumen resmi maupun tidak resmi untuk memastikan kebenaran kegiatan yang dilakukan oleh lembaga tersebut.

b. Menggunakan bahan referensi, yaitu untuk meningkatkan kepercayaan akan kebenaran data dengan menggunakan hasil rekaman atau bahan dokumentasi. Peneliti memperoleh data mengenai Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran dengan menggunakan rekaman dan dokumentasi.

c. Member Chek, bertujuan agar informasi yang diperoleh dan digunakan dalam penelitian, yang peneliti sesuaikan dengan apa yang dimaksud oleh informan. Setelah peneliti mentranskrip rekaman wawancara atau mencatat hasil pengamatan atau mempelajari dokumen, kemudian mendeskripsikan, dan memakai data secara tertulis, kemudian dikembalikan kepada sumber data untuk diperiksa kebenarannya, ditanggapi, dan jika perlu ada penambahan data baru. Member Chek dilakukan segera setelah ada data yang masuk dari sumber data.

H. Tahap-Tahap Penelitian

Untuk mendapatkan data tentang Strategu Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran di MTs. Tri Bhakti At-taqwa Kepahyang Kec. Lempuing OKI. Peneliti mendatangi langsung objek penelitian dan mengambil data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Lebih jelasnya langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Persiapan

(28)

menyusun rencana penelitian dalam bentuk proposal penelitian tentang Strategi Guru dalam Efektifitas Model Pembelajaran.

b. Pelaksanaan

Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode antara lain: observasi, wawancara(interview), dan dokumentasi.

c. Penyelesaian

Setelah kegiatan penelitian selesai, peneliti mulai menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu analisis data dilakukan dengan menata dan menelaah secara sistematis semua data yang diperoleh. Kemudian dari hasil penelitian tersebut dibahas dengan menggunakan teori-teori yang sudah ada pada bab sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

B.UNO, Hamzah. 2012. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara N.K, Roestiyah. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Renika Cipta

Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Prenadamedia Group

Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Rojali, Ahmad. 2015. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian (Pendidikan Melalui Analisis Kuantitatif dan Kualitatif). Lubuk Seberuk: LP3M STAI As-Shiddiqiyah

(29)

Magono, S.2000. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Referensi

Dokumen terkait

Anak Berkesulitan Belajar , (Cet.. perhitungan dan ketelitian yang akurat, matematika memegang peranan yang penting untuk semua itu. Sebagai ilmu dasar, matematika

kabupaten dan pemerintah kota yang konsisten menempati lima tertinggi IKKnya yakni pemerintah kabupaten Berau dan pemerintah kota Bontang. Sementara pemerintah

Sumber data sekunder yang akan dapat digunakan untuk penguat fakta dalam penelitian adalah dengan media dokumentasi. yang

Evaluation, productivity and competition of Brachiaria decumbens , Centrosema pubescens and Clitoria ternatea as sole dan mixed cropping pattern in peatland..

Saturasi transferin yang tinggi berhubungan degnan  peningkatan konsentrasi transferin diduga sebagai hemokromatosis, yang terkadang terlihat dengan

Saya mengesahkan bahawa satu Jawatankuasa Pemeriksa telah berjumpa pada _______________________ untuk menjalankan peperiksaan akhir bagi DOHIMBANG BONGKIHOI untuk

Oleh itu, kajian ini dijalankan bagi melihat adakah faktor-faktor seperti minat yang mendalam terhadap bahasa Inggeris, penguasaan terhadap bahasa Inggeris dan

LPPM Universitas Jambi Halaman | 2 pulang, pasien pasca stroke masih mengalami gejala sisa, misalnya dengan keadaan : kehilangan motorik (hemiplegi) atau ada juga pasien