Asrama Daerah Sebagai Ruang Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa
Perantau di Yogyakarta
Dosen Pengampu:
Prof. Nunung Prajarto, M.A., Ph.D
Oleh:
Erwin Rasyid 407931
PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
Asrama Daerah Sebagai Ruang Komunikasi Antarbudaya
Mahasiswa Perantau di Yogyakarta
Oleh: Erwin Rasyid1
1Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan,
Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada
Komunikasi antarbudaya adalah keniscayaan bagi Indonesia sebagai negara multi-etnis.
Berdasarkan data sensus penduduk yang diadakan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun
2010, terdapat 633 kelompok suku besar yang ada di Indonesia.1 Suku Jawa memiliki
proporsi terbesar dengan jumlah presentasi sebesar 40,05 persen dari jumlah penduduk
Indonesia. Kemudian disusul oleh suku Sunda diposis kedua 15,50 persen. Kemudian
suku-suku lainnya memiliki proporsi di bawah lima persen dari total jumlah penduduk Indonesia.
Dari data yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam
proses interaksi sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia, peluang untuk terjadinya proses
komunikasi antarbudaya sangat besar. Karena masing-masing dari suku-suku yang ada di
Indonesia memiliki kepercayaan terhadap suatu sistem nilai yang berbeda-beda. Misalnya
dari pola komunikasi baik yang bersifat verbal maupun nonverbal.
Pemaknaan terhadap proses komunikasi antarbudaya mungkin tidak hanya terbatas
pada interaksi yang terjadi antar individu maupun kelompok yang memiliki latar belakang
kesukuan yang berbeda. Namun, proses terjadinya komunikasi antarbudaya bisa saja
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Misalnya adanya perbedaan kebiasaan, agama, usia,
latar belakang pendidikan hingga yang mengarah pada perbedaan gender dan jenis kelamin.
Seperti yang diungkapkan oleh Devito bahwa komunikasi antarbudaya mengacu pada
komunikasi antara orang-orang dari kultur yang berbeda antara orang-orang yang memiliki
kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku yang berbeda2.
1 https://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/127
Maka tentu akan menarik untuk mencermati setiap fenomena interaksi sosial yang
terjadi di masyarakat khususnya dalam perspektif komunikasi antarbudaya. Misalnya,
studi kasus mengenai bagaimana proses interaksi penghuni asrama mahasiswa yang
berbasis kedaerahan dengan masyarakat sekitar. Dalam hal ini situasi tersebut merujuk
kepada fenomena yang terjadi di Yogyakarta.
Sejak dulu Yogyakarta telah dikenal sebagai salah satu kota pendidikan yang ada di
Indonesia. Mahasiswa dengan berbagai macam latar belakang suku, etnis dan budaya ada
di Yogyakarta. Tahun 2013 tercatat sekitar 310.860 mahasiswa dari 33 provinsi di
Indonesia belajar di Yogyakarta. Dari jumlah itu, 244.739 orang atau 78,7 persen adalah
mahasiswa perantauan dari luar daerah. Sampai saat ini, tercatat ada sekitar 500 asrama
pelajar dan mahasiswa dari seluruh provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia yang hadir
di Yogyakarta. Asrama itu tersebar di tiga daerah, yaitu Kota Yogyakarta, Sleman, dan
Bantul.3
Potensi terjadinya relasi antarbudaya di Yogyakarta sangat besar seiring dengan
banyaknya jumlah mahasiswa pendatang yang menuntut ilmu di kota ini. Disisi lain, hal
tersebut juga sangat rentan dalam menimbulkan konflik antar etnis dikalangan mahasiswa.
Merujuk kepada beberapa peristiwa konflik yang pernah terjadi, berikut ini adalah tabel
yang menunjukkan beberapa kasus perselisihan antar etnis yang terjadi di Yogyakarta :
Tabel 1. Data konflik mahasiswa antar etnis di Yogyakata
No .
Permasalahan Jenis Konflik Tahun
1. Konflik antara mahasiswa asal Sulawesi Selatan dengan Ambon yang berujung kepada pembakaran asrama
Kekerasan non
verbal 2008
2. Kasus penikaman mahasiswa UMY asal sumatra oleh pemuda di Jembatan Sayidan
Kekerasan non verbal
2012
3. Pembunuhan anggota Grup 2 Kopassus
Kandang Menjanga Sersan Kepala Heru Santoso Kekerasan nonverbal 2013
di Hugo’s Cafe yang mengakibatkan sebagian mahasiswa perantau asal NTT harus mengungsi ke luar Yogyakarta
4. Kasus Florence Sihombing (mahasiswa UGM) di media sosial path
(Sumber : Rangkuman pemberitaan dari beberapa media pada tahun 2008 – 2015)
Uraian data di atas menunjukkan bahwa konflik mahasiswa antar etnis di Yogyakarta
sangat tinggi. Banyaknya pengelompokkan tempat tinggal oleh masing-masing daerah
juga sempat mencemaskan Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X. Karena
hal tersebut rentan menimbulkan konflik antar etnis yang melibatkan mahasiswa dari
beberapa asrama daerah yang ada di Yogyakarta. Ada banyak faktor yang
melatarbelakangi terjadinya konflik tersebut, salah satu diantaranya adalah proses
komunikasi antarbudaya yang tidak terjalin dengan baik di antara mahasiswa antar etnis di
Yogyakarta.
Sejatinya, untuk menghindari potensi konflik tersebut, diperlukan sikap saling
menghargai antar kebudayaan masing-masing. Budi Sayoga4 mengungkapkan bahwa,
sikap saling mengapresiasi antar sistem budaya subkultur yang satu dengan yang lainnya
adalah modal utama untuk terjadinya situasi yang harmonis dan kondusif dalam tata
pergaulan masyarakat. Dalam hal ini, peran asrama berbasis kedaerahaan memiliki peran
penting dalam mengkaderisasi warganya agar dapat menjalin interkasi antarbudaya yang
efektif baik itu dengan sesama mahasiswa pendatang maupun dengan masyarakat sekitar.
Oleh karena itulah, dalam esai ini kemudian akan dipaparkan mengenai bagaimana
seharusnya asrama daerah dapat berperan sebagai ruang kaderisasi mahasiswa untuk dapat
menjalin interaksi antarbudaya baik itu sesama mahasiswa pendatang maupun dengan
masyarakat sekitar. Sehingga riak-riak konflik antaretnis di Yogyakarta dapat dihindari dan
diminimalisir.
Mewujudkan Inklusifitas Asrama Daerah
Dari data yang telah dipaparkan sebelumnya, jumlah asrama mahasiswa yang
berbasis kedaerahan di Yogyakarta sangat banyak. Hampir semua provinsi di Indonesia
memiliki asrama mahasiswa di Yogyakarta. Asrama-asrama tersebut tersebar ke berbagai
wilayah dan hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar. Potensi untuk terjadinya
konflik antar etnis juga sangat besar, namun hal tersebut dapat dihindari apabila terjalin
hubungan yang harmonis antara asrama daerah dengan masyarakat sekitar.
Selama ini, stigma negatif biasanya selalu disematkan kepada beberapa asrama
daerah yang dianggap cenderung eksklusif dan menutup diri dengan masyarakat.
Kecenderungan tersebut juga menimbulkan pandangan bahwa mahasiswa yang hidup
berkelompok dalam satu asrama enggan untuk berbaur dan bersosialisasi dengan
masyarakat sekitar. Akibatnya, relasi antara asrama dan masyarakat tidak terjalin dengan
baik.
Pijakan awal multikulturalisme seharusnya dapat dimulai dari asrama daerah dengan
membuka ruang interaksi dengan masyarakat sekitar. Sehingga mahasiswa yang hidup
berkelompok dalam satu asrama dapat lebih terbuka dalam bersosialisasi dengan
masyarakat. Karena sikap untuk saling memahami antar sistem kebudayaan dapat terjalin
apabila dua entitas dalam hal ini asrama daerah dan masyarakat dapat terlibat langsung
dalam proses interaksi tersebut.
Mewujudkan asrama yang inklusif dengan membuka akses komunikasi juga dapat
menimbulkan terjadinya proses akulturasi budaya antara mahasiswa dengan masyarakat
sekitar. Seperti yang dikemukakan oleh Deddy Mulyana5, bahwa:
“Proses komunikasi mendasari proses akulturasi seorang imigran. Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan. Sebagaimana orang-orang pribumi memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi, seorang imigran pun memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi. Seorang imigran akan mengatur dirinya untuk mengetahui dan diketahui dalam berhubungan dengan orang lain, dan itu dilakukannya lewat komunikasi”
Anggapan eksklusif yang seringkali disematkan kepada asrama daerah dapat
berubah apabila mereka dapat lebih terbuka dan dinamis dalam bersosialisasi dengan
masyarakat. Hal tersebut dapat terjadi apabila asrama daerah dapat meningkatkan
perannya sebagai ruang interkasi antarbudaya dengan mewujudkan asrama yang inklusif
dan terbuka terhadap dinamika yang terjadi di masyakarat.
Asrama daerah tidak hanya berfungsi sebagai ruang interaksi antar sesama penghuni
asrama, namun juga berfungsi sebagai ruang komunikasi dengan non-penghuni asrama
yaitu masyarakat sekitar maupun dengan kelompok mahasiswa atau asrama daerah yang
berasal dari latarbelakang etnis yang berbeda. Asrama daerah murapakan wadah yang
dapat dimanfaatkan sebagai medium komunikasi antarbudaya.
Jika merujuk pada fungsi asrama daerah yang disebutkan di atas, maka peran asrama
daerah sebagai ruang komunikasi antarbudaya tentu sangat penting. Mengingat asrama
daerah merupakan representasi suatu entitas kebudayaan daerah tertentu. Eksistensi
asrama derah sangat dibutuhkan dalam menjalin relasi harmonis antara mahasiswa
pendatang dengan masyarakat pribumi (suku Jawa).
Selama ini, asrama daerah tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal bagi
mahasiswa. Namun biasanya asrama daerah juga digunakan sebagai tempat untuk
beberapa aktifitas lainnya, seperti kegiatan organisasi kedaerahaan, ruang diskusi hingga
tempat pementasan budaya. Asrama daerah juga ikut berperan aktif dalam berbagai
pertemuan warga dan berbagai macam aktifitas lainnya. Berbagai macam kegiatan tersebut
menjadi salah satu medium interaksi antara asrama daerah dengan masyarakat sekitar.
Asrama Daerah sebagai Ruang Komunikasi Antarbudaya
Meminjam pendapat dari Larry Samovar dkk6, bahwa:
“Cara terbaik untuk mempelajari budaya yang baru adalah dengan berperan aktif dalam budaya tersebut. Hadirilah kegiatan sosial, religius dan budaya. Jika mungkin cobalah berinteraksi dengan anggota budaya tuan rumah tersebut. Dalam beberapa kesempatan, anggota dari budaya tuan rumah akan menyambut kesempatan untuk mempelajari budaya anda ketika anda membagikan budaya mereka dengan anda”
Peran asrama daerah sangat dibutuhkan untuk menjembatani mahasiswa pendatang
agar dapat bersosialisasi dengan masyarakat. Ada banyak hal yang dapat dilakukan dengan
hadirnya asrama daerah ditengah-tengah dinamika komunikasi antarbudaya mahasiswa di
Yogyakarta. Yaitu sebagai medium untuk pencegahan terhadap potensi timbulnya konflik.
Dalam perpektif komunikasi antarbudaya, terdapat banyak teori yang membahas
mengenai strategi pengelolaan konflik. Salah satu dari teori tersebut adalah Face
Negotiation Theory. Teori yang dirumuskan oleh Stella Ting Toomey ini menggambarkan
budaya sebagai wajah (face) dan bagaimana perbedaan budaya dapat membantu untuk
mengelola konflik. Dasar dari teori ini membahas mengenai bagaimana perbedaan antara
budaya kolektif dan budaya individualis.
Ting Toomey juga merumuskan mengenai lima respon yang dapat digunakan dalam
menghadapi situasi konflik antarbudaya. Lima respon tersebut diantaranya Avoiding,
Obliging, Compromising, Dominating dan Integrating. Masing-masing dari respon
tersebut bisa membantu dalam strategi pengelolaan konflik yang sedang dihadapi. Dalam
hal ini, respon tersebut dapat pula diterapkan dalam strategi pengelolaan konflik yang
terjadi antara asrama daerah dengan masyarakat sekitar.
6 Dalam Samovar, Larry. A., Richard E. Porter dan Edwin R. McDaniel. Komunikasi Lintas Budaya Edisi 7.
Jika melihat pola kehidupan mahasiswa pendatang di Yogyakarta, dapat
diidentifikasi menjadi dua macam gaya. Yaitu mahasiswa yang tinggal di luar asrama atau
kost-kost’an dan mahasiswa yang tinggal di asrama daerah. Banyak yang menganggap
bahwa mahasiswa yang hidup secara berkelompok di asrama daerah merupakan individu
yang secara budaya menganut paham kolektivisme. Sementara mahasiswa yang tinggal di
luar asrama daerah merupakan mahasiswa yang individualis meskipun asal budaya mereka
merupakan budaya kolektif.
Perbedaan antara budaya kolektif dan individualis dapat dilihat melalui bagaimana
suatu sistem nilai dianut oleh individu maupun kelompok. Andersen dkk7 kemudian
menjelaskan mengenai bagaimana perbedaan antara sifat kolektif dan individualis
tersebut.
“Budaya kolektivitas menekankan komunitas, kolaborasi, minat, harmoni, tradisi, fasilitas umum, mempertahankan harga diri. Budaya individualistis menekankan hak dan kewajiban pribadi, privasi, menyatakan pendapat pribadi, kebebasan, inovasi dan ekspressi diri”
Merujuk pada pernyataan Andersen dkk di atas, maka dapat dikatakan bahwa wajah
dari asrama daerah adalah budaya yang bersifat kolektif. Karena mahasiswa yang tinggal
di asrama daerah merupakan mahasiswa yang berhasil dari asal yang sama dan hidup
secara berkelompok dalam satu tempat. Maka strategi dalam pengelolaan konflik yang
dapat diterapkan oleh asrama daerah juga akan mengacu kepada bagaimana suatu sistem
budaya kolektif merespon suatu konflik.
Fenomena yang menarik yang dapat dilihat dari keberadaan asrama daerah adalah,
mereka juga dianggap sebagai perwujudan dari representasi suatu daerah. Bahkan, secara
kelembagaan, asrama daerah berafiliasi langsung dengan pemerintah daerah asal mereka.
Sehingga secara fungsi asrama juga diharapkan sebagai sarana untuk mahasiswa dapat
memperkenalkan budaya asal mereka kepada masyarakat.
Asrama daerah sebagai ruang komunikasi antarbudaya dapat dijadikan sebagai
medium untuk mendidik mahasiswa menjadi manusia antarbudaya. Manusia antarbudaya
menurut Gudykunst dan Kim8 adalah orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam
proses antarbudaya yang kognisi, afeksi dan perilakunya tidak terbatas, tetapi terus
berkembang melewati parameter-parameter psikologis suatu budaya. Tiga aspek
psikologis tersebut terbentuk dari adanya pengalaman atau fase adaptasi budaya yang telah
dilalui oleh mahasiswa.
Kesimpulan
Angka perseteruan dan konfrontasi mahasiswa antar etnis di Yogyakarta memang
masih tinggi, namun hal tersebut dapat terselesaikan jika ada upaya penyelesaian melalui
dialog dan komunikasi antara kedua belah pihak yang bertikai. Karena dialog merupakan
cara yang paling etis untuk menjadikan entitas lain sebagai pihak yang berharga. Sehingga
akulturasi budaya dapat dibangun di antara kalangan mahasiswa Yogyakarta.
Sikap untuk dapat saling mengapresiasi antar satu sama lain menjadi modal utama
dalam mengeratkan komunikasi antar budaya di antara kalangan mahasiswa pendatang di
Yogyakarta. Kesenjangan komunikasi yang terjadi dapat diminimalisir sehingga konflik
mahasiswa antar etnis di Yogyakarta juga dapat dihindari. Dengan adanya sikap tenggang
rasa antar sistem budaya subkultural maka akan terjadi toleransi antar budaya yang
ujungnya adalah terciptanya sikap dan perilaku budaya antar suku/ etnis yang menjunjung
azas persatuan dan keberagaman (unitiy on diversity) dan kerjasama dalam perbedaan.
Jika semangat tenggang rasa dapat diwujudkan oleh kalangan mahasiswa di
Yogyakarta, maka cita-cita akan timbulnya masyarakat yang integratif dan kondusif
bukanlah suatu keniscayaan. Selain itu, pengembangan pola adaptasi dan model
komunikasi antar budaya yang adaptif dan toleran di kalangan mahasiswa juga dapat
meningkatkan relasi antar budaya di Yogyakarta. Optimalisasi peran kelembagaan seperti
asrama daerah dalam membangun kosntruksi komunikasi antar budaya dikalangan
mahasiswa harus dikonsolidasikan dengan baik. Tegaknya nilai kebangsaan dan
kebhinnekaan dalam kehidupan bermasyarakat bukan saja menjadi tanggung jawab
pemerintah namun merupakan tanggung jawab semua pihak termasuk seluruh komponen
Daftar Pustaka
Buku :
Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia : Kuliah Dasar, Edisi Kelima. Jakarta: Professional Books.
Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat. 2014. Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budya. Bandung: Rosdakarya.
Samovar, Larry. A., Richard E. Porter dan Edwin R. McDaniel. Komunikasi Lintas Budaya Edisi 7. Jakarta: Salemba Humatika.
Jurnal :
Sayoga Budi, 2011 “Merajut Komunikasi Antarbudaya di Indonesia” dalam Jurnal Komunikator Hal.159-178 Edisi November 2011 Vol.3 No.2 2011.
Website :
https://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/127