C
[
PENYUSUNAN
RENCANA
DETAIL
TATA
RUANG
(RDTR)
KAWASAN
DENGAN
PERATURAN
ZONASI
KECAMATAN
BENDA
(PR
‐
10)
]
C
6.2.6. Perumusan Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan ... 96
6.2.7. Penyusunan Rencana Kerja ... 97
6.2.8. Survei Lapangan, Pengumpulan Data dan Analisis ... 97
6.2.9. Inventarisasi/Pengumpulan Data‐data Kebijakan Pemerintah Kota Tangerang ... 97
6.2.10. Identifikasi Sistem, Prasarana dan Sarana Transportasi Kota ... 97
6.2.10.1 Identifikasi Ketersediaan dan Kualitas Prasarana dan Sarana Perkotaan ... 98
6.2.10.2 Identifikasi Kondisi dan Pola Tata Air ... 100
6.2.11. Review/Peninjauan Kembali terhadap RRTRW Kecamatan di Wilayah Kota Tangerang ... 106
6.2.20. Analisis Kapasitas Pengembangan Kawasan ... 119
6.2.21. Analisis Kebutuhan Pengembangan Kawasan ... 119
C
6.2.22.7 Perumusan Arahan Pelaksanaan dan Pengendalian Pembangunan ... 131
BAB 7 ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN ... 141 Daftar Gambar Gambar 1 Struktur Organisasi ... 25
Gambar 2 Jumlah Bidang Tanah Bersertifikat ... 71
Gambar 3 Luas Tanah yang dibebaskan Pemkot ... 72
Gambar 4 BAGAN ALIR PENYUSUNAN RENCANA ... 91
Gambar 5 Metode Pendekatan Analisis Sistem Transportasi... 107
Gambar 6 Metode Pendekatan Analisis Jumlah Penduduk ... 117
Gambar 7 Metode Pendekatan Analisis Kebutuhan Prasarana dan Sarana ... 122
Gambar 8 Contoh : Rencana Blok Pemanfaatan Ruang ... 128
C
1.1 Latar Belakang
Penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana diatur dalam Undang‐undang No
26 Tahun 2007 (sebelum undang‐undang No. 24 Tahun 1992) terdiri dari kegiatan
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan
ruang. Perencaaan tata ruang meliputi rencana umum dan rencana rinci tata ruang.
Kota Tangerang telah memiliki RTRW yang ditetapkan dengan Perda No. 23 Tahun
2000 dan 8 dari 13 RDTR kecamatan sudah di Perda kan.
Seiring dengan disusun kembali RTRW Kota Tangerang (saat ini sedang dalam
proses legislasi), dan berlakunya Undang‐undang No. 26 Tahun 2007 yang
mengamanatkan Peraturan Zonasi (Zoning Regulation) sebagai perangkat
pengendalian pemanfaatan ruang, perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap
RDTR Kecamatan yang sudah ada dengan ditambahkan substansi mengenai
peraturan zonasi.
Pada tahun 2010 ini dialokasikan dana untuk penyusunan RDTR Kecamatan dengan
Zoning Regulation untuk 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Benda, Kecamatan Benda,
Kecamatan Karang Tengah, Kecamatan Jatiuwung, dan Kecamatan Cibodas.
1.2 Maksud, Tujuan Sasaran dan Fungsi Penyusunan RDTR
1.2.1 Maksud Pekerjaan
Maksud dari penyusunan RDTR adalah mewujudkan rencana detail tata ruang yang
mendukung terciptanya kawasan strategis maupun kawasan fungsional secara
aman, produktif dan berkelanjutan.
1.2.2 Tujuan Pekerjaan
C
Sebagai arahan bagi masyarakat dalam pengisian pembangunan fisik kawasan,
Sebagai pedoman bagi instansi dalam menyusun zonasi, dan pemberian
perijinan kesesuaian pemanfaatan bangunan dengan peruntukan lahan.
1.2.3 Sasaran Pekerjaan
Sasaran dari perencanaan ini adalah untuk :
Menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan antar lingkungan
permukiman dalam kawasan.
Mewujudkan keterpaduan program pembangunan antar kawasan maupun
dalam kawasan.
Terkendalinya pebangunan kawasan strategis dan fungsi kota, baik yang
dilakukan pemerintah maupun masyarakat/swasta
Mendorong investasi masyarakat di dalam kawasan.
Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah dan
masyarakat/swasta.
1.2.4 Adapun fungsi perencanaan detail adalah;
Menyiapkan perwujudan ruang, dalam rangka pelaksanaan program
pembangunan daerah.
Menajga konsstensi pembangunan dan keserasian perkembangan kawasan
fungsional dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi dan efisien
dalam perencanaan kawasan,
Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan melalui pengendalian
program‐program pembangunan daerah.
1.3 Ruang Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan penyusunan dokumen akademik Rencana Detail Tata Ruang merupakan
penajabran dari RTRW Kota Tangerang.
C
Lingkup wilayah penyusunan RDTR dengan peraturan zonasi adalah wilayah
Kecamatan Benda (PR‐10).
2. Lingkup Substansi
Adapun muatan RDTR kawasan meliputi struktur dan sistematika tujuan dan
sasaran pembangunan kawasan perencanaan, perumusan kebijakan dan
strategi pengembagnan kawasan, identifikasi potensi dan masalah kawasan,
analisis ruang makro dan mikro kawasan perumusan kebutuhan
pengembangan dan penataan ruang kawasan, perumusan rencana detail tata
ruang kawasan, perumusan dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang,
sebagai mana digambarkan dalam uraian berikut;
1) Persiapan penyusunan RDTR
2) Pengumpulan dan pengolahan data;
i. Inventarisasi
ii. Elaborasi
3) Analisa kawasan perencanaan
i. Analisa struktur kawasan perencanaan
ii. Analisa peruntukan blok rencana
iii. Analisa prasarana transportasi
iv. Analisa fasilitas umum
v. Analisa Utilitas umum
vi. Analisa amplop ruang
vii. Analisa kelembagaan dan peran serta masyarakat
4) Perumusan dan ketentuan teknis rencana detail
i. Konsep rencana
ii. Produk rencana detail tata ruang;
1. Rencana struktur ruang kawasan
2. Rencana peruntukan blok
3. Rencanan penataan bangunan dan lingkungan (amplop
ruang)
4. Indikasi program pembangunan
5) Pengendalian rencana detail
C
ii. Komponen pengendalian
1. Zonasi
2. Aturan insentif dan dis insentif
3. Perijinan dalam pemanfaatan ruang
6) Kelembagaan dan peran serta aktif masyarakat
i. Peran kelembagaan
ii. Peran serta masyarakat
1.4 Keluaran Pekerjaan
Keluaran dari kegiatan ini adalah Dokumen (Naskah) Akademik RDTR Kawasan yang
dilengkapi dengna peraturan zonasi, terdiri dari :
1. Tujuan pengembangan kawasan
2. Rencana struktur ruang;
a. Rencana persebaran penduduk
b. Struktur Ruang
c. Rencana Blok
d. Rencana Skala Pelayanan Kegiatan
e. Rencana Sistem Jaringan;
i. Rencana system Jaringan pergerakan
ii. Rencanan system jaringan utilitas
3. Rencana fasilitas umum
4. Rencana peruntukan blok
5. Rencana penataan bangunan dan lingkungan (Amplop Ruang)
a. Tata Kualitas Lingkungan
i. Keseimbangan kawasan dengan lingkungan sekitar
ii. Keseimbangan dengan daya dukung lingkungan
iii. Pelestarian ekologis
b. Tata Bangunan ;
i. Pengauran kavling dalam blok peruntukan
ii. Pengaturan bangunan, yaitu perencanaan pengaturan massa
bangunan dalam blok. Pengaturan ini terdiri atas:
1. Pengelompokan bangunan
2. Ekspresi arsitektur bangunan
iii. Penentapan kepadatan kelompok bangunan dalam kawasan
perencanaan melalui pengaturan besaran berbagai elemen intensitas
pemanfaatan lahan yang ada (seperti KDB, KLB dan KDH) yang
mendukung terciptanya berbagai karakater khas dari berbagai blok
C
iv. Pengaturan ketinggian dan elevasi lantai bangunan, yaitu
perencanaan pengaturan ketinggian dan elevasi bangunan, baik pada
skala bangunan tunggal maupun kelompok bangunan pada lingkungan
yang lebih makro (blok/kawasan). Pengaturan ini terdiri atas:
1. Ketinggian bangunan
2. Komposisi gars langit bangunan
3. Ketinggian lantai bangunan
c. Arahan garis sempadan
i. Sempadan bangunan
ii. Sempadan sungai
6. Indikasi Program pembangunan
a. Program yang dikelola pemerintah
b. Program yang dikerjasamakan
c. Program yang dipihak ketigakan/swasta
d. System pembiayaan
7. Pengendalian Rencana Detail Tata Ruang
a. Aturan zonasi
Aturan zonasi merupakan ketentuan peruntukan ruang di setiap blok dan
sub blok kawasan. Rencana pengembangan blok dan sub blok kawasan
perencanaan akan ditentukan oleh klasifikasi kegiatannya, yang dapat
dipisahkan dalam 3 (tiga) kawasan yaitu :
1) Peruntukan lahan dasar
2) Peruntukan lahan spesifik
3) Peruntukan lahan teknis
Peruntukan lahan dasar merupakan pokok kegiatan permukiman yang
melandasi atura pemanfaatan lahan. Sedangkan peruntuk lahan spesifik
adalah kegiatan yang menunjukkan penggunaan ruang yang diperbolehkan
dalam pemanfaatan lahanya. Aturan teknis yang menunjukkan dimensi
serta pola dari kegiatan spesifik diatur dalam pedoman teknis pemanfaatan
antar ruang,
Selanjutnya pengaturan blok dan sub blok perencanaan dengan
memberlakukan aturan dasar yang meliputi aturan wajib, atura anjuran
utama dan aturan anjura, dalam konsep penataan kawasan serta
mempermudah dalam pengontrolan implementasi atas aturan dasar
tersebut.
A. Aturan Wajib.
Merupakan aturan yang disusun atas peraturan peruntukan ruang,
C
mengikat sesuai dengan fungsi dan peran ruang yang ditaati/diikuti.
Aturan wajib meliputi :
i. Peruntukan ruang
ii. Intensitas ruang
iii. Kepadatan penduduk
iv. Pemecahan blok dan sub blok
v. Kebutuhan saranan daprasraana kawasan
vi. Kualitas lingkungan
B. Aturan Anjuran
Merupakan aturan yang disusun untuk melengkapi aturan wajib yang
telah disepakati bersama pemegang hak atas tanah, dan pihak regulasi
sehingga dapat ditaatin atau diikuti. Aturan ini meliputi:
i. Kualitas lingkungan
ii. Arahan bentuk, dimensi, gubahan dan perletakan dari suatu
bangunan atau komposisi bangunan
iii. Sirkulasi kendaraan
iv. Sirkulasi pejalan kaki
v. Pedestrian dan pedagang kaki lima
vi. Ruang terbuka hijau dengna fasilitas dan tidak berfasilitas
vii. Ulitilas bangunan dan lingkungan
viii. Wajah arsitektur
C. Aturan Khusus
Aturan khusus diberlakukan sebagai aturan tambahan pada kawasan
yang memerlukan penanganan khusus. Contoh aturan kawasan khusus
meliputi :
i. Aturan untuk kawasan keselamatan operasi penerbangan
(KKOP)
ii. Aturan untuk kawasan cagar budaya
iii. Aturan untuk akwasan rawan bencana
D. Kode Zonasi
Ketentuan penamaan kode zonasi adalah sebagai berikut: setiap zonasi
diberi kode yang mencerminkan fungsi zonasi yang dimaksud
i. R (perumahan)
Zpna perumahan adalah peruntukan tanah yang terdiri dari
kelompok rumah tinggal yang mewadahi perikehidupan dan
penghidupan masyarakat yang dilengkapi dengan fasilitasnya
ii. K perdagangan dan Jasa
Zona perdagangan dan jasa adalah peruntuka tanah yang
merupakan bagian dari kawasan budidaya difungsikan untuk
C
produksi dan distribusi, tempat bekerja, tempat berusaha,
tempat hiburan dan rekreasi.
iii. SU Sarana Umum
Zona sarana umum adalah kelopok kegiatan yang berupa
sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan,
sarana social, sarana olah raga dan rekreasi, srana pelayanan
umum, sarana perbelanjaan/niaga, dan sarana transportasi
dengan skala palayanan yang ditetapkan dalan rencana kota.
iv. IG Industri dan PErgudangan
Zona industry dan pergudangan adalah peruntukan tanah yang
difungsikan untuk pengembagnan kegiatan yang berhubungan
dengna proses produksi dan tempat penyimpanan bahan
mentah dan barang hasil produksi.
v. RT Ruang Terbuka Hajau
Zona ruang terbuka hijau adalah pengembangan ruang terbuka
yang mempunyai makna historis, estetika, median ruang,
kesimbangan ekologis, sebagai fungsi penghubung aktivitas‐
aktivitas kota yang berbeda dan tempat bersosialisasi yang
potensial dikembangkan. Salah satu pengembangan ruang
terbuka yang sangat penting di daerah perkotaan adalah
pengembangan ruang terbuka hijau untuk meningkatkan mutu
lingkungan hidup, sarana pengaman lingkungan perkotaan,
menciptakan keserasian lingkungan alam dan lingkungan
binaan. Keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan ini
difungsikan sebagai perlindungan ekosistem, menciptakan K3,
rekreasi, pengaman lingkungan hidup, penelitian dan
pendidikan, perlindungan plasma nutfah, memperbaiki iklim
mikro dna pengatur tata air.
vi. KS Khusus
Zona fungsi khusus adalah peruntukan tanah yang difungsikan
untuk menampung kegiatan yang sifatnya khusus.
E. Nomor Blok
Untuk memberikan kemudahan referensi (georeferensi), maka blok
peruntukan perlu diberi nomor blok. Untuk memudahkan penomoran
dan mengintegrasikannya dengan daerah administrasi, maka nomor
blok peruntukan dapat didasarkan pada kode pos (berdasarkan
kelurahan) atau kode batas wilayah administrasi yang telah ada diikuti
dengan 2 atau 3 digit nomor blok. Nomor blok dapat ditambahkan
huruf bila blok tersebut dipecah menjadi beberapa sub blok.
Nomor blok = [kode pos/batas wilayah administrasi] – [2 atau 3 digit
C
Contoh nomor blok berdasarkan wilayah administrasi:
Blok 07.01.001, …Blok 07.01.001a…., dst
F. Aturan Kegiatan dan Penggunaan Lahan
Aturan kegiatan dan penggunaan lahan pada suatu zonasi penggunaan
lahan dinyatakan dengna klasifikasi sebagai berikut:
‐ “I” = pemanfaatan diijikan (P, Permitted)
Karena sifatnya sesuai dengan peruntuk tanah yang direncanakan.
Hal ini berarti tidak aka nada peninjauan atau pembahasan atau
tindakan lain dari pemerintah terhadap pemanfaatan tersebut.
‐ “T” = pemanfaatan diijikan secara terbatas (R, restricted)
Pembatasan dilakukan melalui penentuan standar pembangunan
mnimum, pemabtasan pengoperasian, atau peraturan tambahan
lainnya yang berlaku di wilayah kabupaten/yang bersangkutan.
‐ “B” = Pemanfaatan memerlukan ijin penggunaan bersyarat (C,
Conditional)
Ijin ini sehubungan dengna usaha menanggulangi dampak
pembangunan di sekitarnya (menginternalisasi dampak); dapat
berupa AMDAL, RKL, RPL
‐ “‐“ = Pemanfaatan yang tidak diijinkan (Not permitted)
Karena sifatnya tidak sesuai dengna peruntukan lahan yang
direncakan dan dapat menimbulkan dampak yang cukup besar bagi
lingkungan disekitarnya.
G. Penyusunan Peta Zonasi
Peta zonasi adala peta yang berisi kode zonasi diatas blok dan sub blok
yang telah dideliniasikan sebelumnya dengan skala 1:5000 dan atau
yang setara dengan RDTRK. Pertimbangan penetapan kode zonasi
diatas peta batas blok/sub blok yang dibuat berdasarkan ketentuan
dapat didasarkan pada:
Kesamaan karakter blok peruntukan, berdasarkan pilihan:
mempertahankan dominasi penggunaan lahan yang ada
(eksisting)
Menetapkan fungsi baru sesuai dengan arahan fungsi pada
RTRW
Menetapkan karakter khusus kawasan yang diinginakn
Menetapkan tipologi lingkungan/kawasan yang diinginkan;
Menetapkan jenis pemanfaatan ruang/lahan tertentu;
Menetapkan batas ukuran tapak/persil maksimum/minimum;
Menetapkan batas intensitas bangunan/bangun bangunan
masimum/minimum
C
Menetapkan batas kepadatan penduduk/bangunan yang
diinginkan
Menetapkan penggunaan dan batas intensitas sesuai dengan
daya dukung prasarana (misalnya jalan) yang tersedia;
Kesesuaian dengan ketentuan khusus yang sudah ada (KKOP,
pelabuhan, terminal, dll)
Karakteristik lingkungan (batasan fisik) dan administrasi
Bila suatu blok perntukan akan ditetapkan menjadi beberapa kode
zonasi, maka blok peruntukan tersebut dapat menjadi beberapa
sub blok peruntukan. Pembagian sub blok peruntukan dapat
dilakukan berdasarkan pertimbangan:
Kesamaan (homogenitas) karakteristik pemanfaatan
ruang/lahan
Batasan fisik seperti jalan, gang, sungai, brandgang atau batas
persil
Orientasi persil
Orientasi bangunan
Lapis bangunan
c. Perijinan
8. Kelembagaan dan Peran Masyarakat
a. Kelembagaan
b. Peran serta masyaraat
i. Bentuk dan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan penataan
ruang
ii. Bentuk dan peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan
ruang
iii. Tata cara peran serta masyarakat dalam pelaksanaan peraturan zonasi
1.5 Metode
Penyusunan naskah akademis peraturan zonasi, kawasan menggunakan metode
C
A. Identifikasi isu permasalahan dan potensi pengembagnan wilayah
perencanaan.
B. Kajian terhadap rencana dan program pemda kota tangeerang yang sedangn
dan akan dilakukan pada wilayah perencaaan
C. Pengumpulan dan pengolahan data
Dan dan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan penyusunan rencana
detail haruslah terukur baik kualitas, kuantitas ataupun dimensi masing‐
masing obejk/komponen pembentuk ruang, diantaranya sebagai berikut:
1. Fisik dasar kawasan, meliputi informasi dan data : topografi, hidrologi,
geologi, klimatologi, oceanografi dan tata guna lahan
2. Kependudukan, meliputi jumlah dan persebaran penduduk menurut
ukuran keluarga, uum, agama, pendidikan, dan mata pencaharian
3. Perekonomian ; meliputi data investasi, perdagangan, jasa, industry,
pertanian, pariwisata, pendapatan daerah dan lain‐lain;
4. Penggunaan lahan, menurut luas dan persebaran kegiatan yang
diantaranya meliputi: permukiman, perdagangan dan jasa, industry,
pariwisata, pertanian dan lain‐lain
5. Tata bangunan dan lingkungan;
Tata bangunan meliputi: intensitas bangunan (KDB, KLB, KDH), bentuk
bangunan, arsitektur bangunan, pemanfaatan bangunan, banguan khusus,
wajah lingkungan, daya tarik lingkungan (node, landmark, dll), garis
sempadan (bangunan, sungai danau/situ, SUTT)
6. Prasaranan dan utilitas umum
a. Jaringan transportasi
‐ Jaringan ; jalan raya, rel kereta api dan jalur penerbangan (KKOP)
‐ Fasilitas (terminal, kargo, stasiun dan bandara)
‐ Kelengkapan jalan; halte, parker, dan jemnatan penyeberangan;
‐ Pola pergerakan (angkuran penumpang dan barang)
b. Air minum (system jaringan, bangunan pengolah, hidran); mencakup
kondisi jairngan terpasang menurut pengguna, lokasi bangunan dan
hidran, kondisi air tanah dan sungai, debit terpasang, dll;
c. Sewerage;air limbah rumah tangga
d. Sanitasi (system jaringan, bak control, bangunan pengolah); jaringan
terpasang, prasarana penunjang dan kapasitas;
e. Drainase; system jaringan makro dna mikro dan kolam penampung
f. Jaringan listrik; system jaringan (SUTT, SUTM, SUTR), gardu (induk,
distribusi, tiang/beton), sambungan rumah (domestic, non domestic)
g. Jaringan komunikasi; jaringan, rumah telepon, stasiun stomat,
jaringan terpasang (rumah tangga, non rumah tangga, umum)
h. Gas;system jaringan, pabrik, jaringan terpasang, (rumah tangga, non
C
i. Pengolahan sampah; system penanganan (skala individual, skala
lingkungan, skala daerah), sitem pengadaan (masyarakat, pemerintah
daerah, swasta).
7. Identifikasi daerah rawan bencana, meliputi lokasi, sumber bencana,
besaran dampak, kondisi lingkungan disik, kegiatan bangunan yang ada,
fasilitas dan jalur kendali yang telah ada.
Data dan informasi diisusun dan disajikan dalam bentuk peta, diagram,
table statistic, termasuk gambar visual kondisi lingkungan kwasan yang
menunjang perecanaan detail tata ruang. Identifikasi tersebut harus pula
tampak secara jelas dalam peta dilengkapi dengan wilayah administrasi
hingga ke batas wilayah kelurahan, baik diterapkan dalam peta dengan
skala 1:5000 maupun visualisasi digital (kamera, handicam).
A. Elaborasi Data
Lingkup pekerjaan elaborasi meliputi:
1. Elaborasi penduduk
2. Elaborasi kebutuhan sektoral
Elaborasi penduduk harus memperhitungkan kemampuan kemampuan lokasi
perencanaan menampung penduduk dalam kawasan perencanaan yang
bersangkutan, dan terdistribusi menurut blok‐blok perencanaan. Berdasarkan
alokasi penduduk tersebut dapat dielaborasi kebutuhan kebutuhan sektoral
dengan menggunakan standard yang berlaku. Selanjutkan dari hasil elaborasi
penduduk dan kebutuhan sketorak maka secara hipotesis sudah dapat
dirumuskan serangkaian permasalahan dan friksi yang akan terjadi dalam
lokasi perencanaan sehubungan dengan penerapan konsep Rencana Detail
Tata Ruang.
E. Analisa kawasan perencanaan
1. Analisa struktur ruang
a. Analisa penduduk
b. Analisa fungsi ruang
c. Analisa system jaringan pergerakan
2. Analisa peruntukan blok
a. Pembagian blok
b. Peruntukan lahan
c. Kawasan mitigasi bencana
3. Analisa fasilitas umum
4. Analisa prasarana transportasi
5. Analsa utilitas umum terdiri dari air minum, drainase, air limbah, persampahan,
kelistrikan, telekomunikasi dan gas,
C
a. Intensitas pemanfaatan ruang
Intensitas pemanfaatan ruang adalah besaran pembangunan yang
diperbolehkan berdasarkan batasan Koefisien Lantai Bangunan (KDB),
koefisien Lantai Bangunan (KLB), Koefisien Dasar Hijau (KDH), Koefisien
Tapak Basement (KTB), koefisien Wilayah Terbangun (KWT) atau kepada
bangunan dan penduduk.
b. Tata massa bangunan
Tata masa bangunan adalah bentuk, besaran, peletakan dan tampilan
bangunan pada suatu persil/tapak yang dikuasai. Pengaturan tata massa
bangunan mencakup antara lain:
1. Pertimbangan garis semapdan bangunan (GSB) dan jarak bebas
bangunan
2. Pertimbangan garis sempadan sungai (GSS) dan jarak bebas
bangunan
3. Pertimbangan garis sempadan danau/situ
4. Pertimabgan tinggi bangunan
5. Pertimbangan selubung bangunan
6. Pertimbangan tampilan bangunan
7. Analisa kelembagaan dan Peran Serta Masyarakat
Analisis kelembagaan dan peran serta masyarakat, dengan menkaji struktur
kelembangaaan yang ada, fungsi dan peran lemabaga, mekanisme peran serta
masyarakat, termasuk media serta jaringan untuk keterlibatan masyarakat
dalam proses perencanaan, pemanfaatan, dan pengendaliaan serta
pengawasan.
F. Perumusan konsep rencana
G. Perumusan konsep pengaturan zonasi
1.6 Pelaksanaan Pekerjaan
Pelaksanaan pekerjaan penyusunan RDTR Kecamatan dengna peraturan zonasi
dikerjasamakan dengna pihak kedua (penyedia jasa konsultansi). Tahapan
pelaksanaan pekerjaan yang harus dilakukan oleh konsultan adalah sebagai berikut
:
a. Penyusunan dan pembahasan Laporan pendahuluan (1 bulan) yang lebih
menekankan pada pembahasan review terhdap RDTR kecamatan yang sudah
ada serta konsep Zoning Regulation secara umum dan penentuan kawasan
strategis yang akan dibuatkan Zoning Regulationnya secara detail.
C
berisikan ringkasan kondisi obyektif dan isu strategis (potensi dan
permasalahan)
d. Penyusunan dan pembahasan draft laporan akhir (2 bulan) yang memuat
konsepsi rencana dengan peraturan zonasi sebagaimana diatur dalam butir
keluaran (4) diatas.
e. Diskusi terbuka dengna semua pemangku kepentingan melalui kegiatan FGD di
kecamatan untuk menyampaikan scenario, strategi, konsep pengembangan
ruang dan rencana sekaligus mendapatkan masukan.
f. Penyusunan dan ekspose laporan akhir (1 bulan) dengan peraturan zonasi
g. Format rencana detail tata ruang mempertimbangkan factor ekonomis dan
kebutuhan pembangunan daerah, untuk itu pengaturan skala perencanaan
adalah :
1. Produk RDTR mempunyai skala perencanaan 1:5000
2. Sedangkan kegiatan yang memerlukan pendetailan yang lebih rinci,
kegiatan analisis dibuat dalam peta kerja 1 : 5000
3. Format peta analisis sekurang‐kurangnya skala 1:5000, untuk
lingkungan yang lebih detail dibuat dalam skala 1:5000.
1.7 Kebutuhan Tenaga Ahli
Pekerjaan penyusunan dokumen akademik RDTR Kecamatan dilakukan oleh tim
konsultan yang terdiri dari seorang tim leader dan tenaga ahli sebagai berikut ;
1. Ahli Perencana Kota/Planologi, Pendidikan S2 Perencana Kota, Pengalaman
minimal 5‐8 tahun, dengan tugas bertanggungjawab atas pelaksanaan
pekerjaan mulai dari awal pekerjaan sampai dengan selesai.
Mengkoordinasikan hasil pekerjaan setiap tenaga ahli dan menuangkannya
dalam setiap buku laporan (Laporan Pendahuluan, Laporan Fakta Analisa, Draft
Laporan Akhir dan Laporan Akhir).
2. Ahli arsitektur, S1 Teknik Arsitektur Perkotaan, pengalaman minimal 5 tahun.
3. Ahli Transportasi, S1 Teknik Sipil Transportasi, pengalaman minimal 5 tahun.
4. Ahli geodesi, S1 teknik Geodesi, pengalaman minimal 5 tahun.
5. Ahli Lingkungan, S1 teknik Lingkungan, pengalaman 5 tahun
6. Ahli Ekonomi Perkotaan, S1 Ekonomi Studi Pembangunan, pengalaman minimal
C
1.8 Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan pekerjaan penyusunan dokumen akademik RDTR dengan peraturan
zonasi adalah 7 bulan sesuai pelaksanaan pekerjaan dalam butir 6 terhitung sejak
ditandatanganinya kontrak.
1.9 Laporan Hasil Pekerjaan
Laporan hasil pekerjaan yang harus diserahkan oleh konsultan kepada PPTK yang
ditunjuk oleh kepala dinas tata kota tangerang terdiri dari :
a. Laproan Pendahuluan
Sebanyak 10 eksemplar berwarna ukuran A4 dengan ukuran A3. Sebagai bahan
pembahsasn harus disediakan 15 eksemplar copy laporan pendahuluan.
b. Laporan Fakta dan Analisa, sebanyak 10 Eksemplar berwarna A3 sebagai bahan
pembahasan harus disediakan 15 eksemplar copy laporan fakta dan analisa
c. Draft Laporan Akhir, sebanyak 10 eksemplar berwarna A3. Sebagai bahan
pemabahasan harus disediakan 15 eksemplar copy draft laporan akhir
d. Laporan Akhir, sebanyak 20 eksemplar berwarna ukuran A3
e. Ringkasan Eksekutif, sebanyak 20 eksemplar berwarna ukuran A4 dengan peta
ukuran A3
f. Album Peta RDTR Kecamatan dengan zoning regulation sebanyak 5 eksemplar
berwarna dengna skala 1:5000
C
2.1 Latar Belakang
PT. CIGHISTARA NUANGSA adalah perusahaan nasional yang bergerak dibidang
jasa konsultasi engineering dan manajemen. Berperan serta mendukung
program pembangunan ditingkat pusat maupun daerah. Perusahanaan ini
didirikan pada tahun 1990, dengan dilandasi oleh idealisme para profesional
muda yang menyadari bahwa tantangan pembangunan nasional yang memang
berat dan kompleks hanya bisa dihadapi dengan sikap profesional pula, dengan
memadukan secara optimal unsur‐unsur waktu, dana dan sumber daya lainnya.
PT. CIGHISTARA NUANGSA memberikan jasa konsultasi di bidang engineering
dan manajemen, didukung tenaga ahli yang berpengalaman pada bidangnya.
Komitmen kami dalam memberikan jasa adalah hasil yang efektif dari aspek
teknis, biaya dan lingkungan.
Dalam rangka ini, penggalangan kerjasama baik dengan Instansi Pemerintah
maupun swasta atau bahkan dengan pihak asing perlu dilakukan dengan
semangat saling menguntungkan.
Kami menyadari akan keterbatasan‐keterbatasan yang ada, namun hal tersebut
bukan merupakan hambatan untuk terus berkembang. Kami yakin, dengan
pengalaman dan profesionalisme perusahaan yang didukung oleh tenaga ahli
yang berkualitas akan memberikan hasil akhir optimal bagi pekerjaan yang
C
PT. CIGHISTARA NUANGSA memberikan layanan dengan jangkauan yang luas
antara lain:
Bidang Pekerjaan Arsitektural
Arsitektur Bangunan Telekomunikasi, Gedung, dan lain‐lain
Arsitektur Interior
Arsitektur Lansekap
Bidang Pekerjaan Sipil
Prasarana Transportasi:
- Jalan, Jembatan, Simpang Susun dan Terowongan
- Pelabuhan dan Prasarana Angkutan SDP
Bidang Pekerjaan Tata Lingkungan
Teknik Lingkungan
‐ Air Minum
‐ Penyehatan Lingkungan Permukiman
‐ Persampahan
Pengembangan Kota dan Wilayah
‐ Penataan Perkotaan
‐ Pengembangan Wilayah
C
2.3 Struktur Organisasi Perusahaan
Gambar 1 Struktur Organisasi
DI REKTUR
KEPALA DI VI SI KEPALA BAGI AN
SEKRETARI S
PERENCANA
ADMI NI STRASI KEUANGAN PERSONALI A
& MARKETI NG
TENAGA AHLI
C
2.4 Pengalaman Perusahaan
PT. CIGHISTARA NUANGSA di dalam bidang Perencanaan, khususnya Bidang Tata
Lingkungan, telah memiliki pengalaman yang banyak. Namun demikian berikut ini
disampaikan pengalaman perusahaan tujuh (7) tahun terakhir yang terkait langsung
dengan pekerjaan di bidang Penataan Ruang.
1. Pekerjaan Rencana Pengelolaan KESR IMT‐GT Utara dan Selatan, dengan
wilayah perencanaan mencakup Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Aceh,
Sumatera Barat, Bengkulu dan Jambi. Pemberi Pekerjaan dari Departemen
Pekerjaan Umum, Kawasan tertinggal dan Perbatasan, Tahun 2003.
2. Pekerjaan Penyusunan Data Base dan Penyediaan Peta Rona Lingkungan
Kawasan Pertambangan, dengan wilayah perencanaan mencakup Kalimantan
Timur. Pemberi Pekerjaan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan
Timur, tahun 2004.
3. Pekerjaan Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang di DAS Bahorok, wilayah
perencanaan mencakup wilayah DAS Bahorok, provinsi sumatera utara.
Adapun pemberi pekerjaan dari Proyek Pembinaan Penataan Ruang Daerah,
Dirjen Penataan Ruang Departem Kimpraswil, pada tahun 2004.
4. Pekerjaan Penyusunan Review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi
Riau 2003‐2013, dengan wilayah cakupan Provinsi Riau. Adapun pemberi kerja
dari Bapeda Provinsi Riau pada tahun 2004.
5. Pekerjaan Penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar Provinsi NAD, dengan
cakupan wilayah perencanaan yaitu provinsi NAD. Adapun pemberi kerja dari
Bangpro Pembinaan Prasarana dan Sarana Permukiman Departemen
Kimpraswil, pada tahun 2004.
6. Pekerjaan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Koridor Jalan Lintas
Tengah Sumatera, dengan cakupan wilayah perencaan adalah Lintas Tengah
Sumatera. Adapun pemberi pekerjaan adalah Satuan Kerja Pembinaan
Penataan Ruang Kawasan Telah Berkembang, Direktorat Jenderal Penataan
C
dengan cakupan wilayah perencanaan meliputi Provinsi Sumatera Selatan dan
kabupaten Bangka Barat. Adapun pemberi pekerjaan adalah Proyek Pembinaan
Penataan Ruang Daerah, Dirjen Penataan Ruang Dept. Kimpraswil, pada tahun
2005.
8. Pekerjaan Bantek Penyusunan Penataan Ruang dan Revitalisasi dan Kawasan
(PRK) Teluk Kuantan, dengan cakupan wilayah perencanaan kabupaten
Kuantan Sengigi, provinsi Riau, tahun 2005.
9. Pekerjaan Penyusunan RDTR Kecamatan Pinang Kota Tangerang, dengan
wilayah cakupan perencanaan kota tangerang. Pemberi pekerjaan dari Dinas
Tata kota Tangerang, pada tahun 2005.
10. Pekerjaan Penyusunan RTR KPE LONG APARI ‐ LONG PAHANGAI Prov.
Kalimantan Timur, cakupan wilayah rencana meliputi provinsi Kalimantan
timur. Pemberi kerja Satker Pembinaan Penataan Ruang Kawasan Sedang
Berkembang Kegiatan Pembinaan Penataan Ruang Kawasan Sedang
Berkembang. Pada tahun 2006.
11. Pekerjaan Penyusunan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang
Terbuka Hijau Di Wilayah Pesisir, dari Ditjend Pesisir dan Pulau‐pulau kecil.
Pada tahun 2007.
12. Pekerjaan Penataan Koridor Pesisir Banda Aceh – Meulaboh, provinsi
nanggroe aceh Darussalam. Dari Bappeda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Pada tahun 2007.
13. Pekerjaan Penyusunan Review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi
Sulawesi Tengah, dengan wilayah perencanaan mencakup provinsi Sulawesi
Tengah, Pemberi tugas dari bappeda provinsi Sulawesi tengah pada tahun
2007.
14. Pekerjaan Penyusunan Tata Ruang dan Rencana Teknis Kawasan Andalan
Terpadu Tolitoli, dengan wilayah perencanaan mencakup Kandal Terpadu
Tolitoli. Pemberi pekerjaan dari Pimpro Perencanaan Program Pengembangan
C
15. Pekerjaan Bantek Pelaksanaan Penataan Ruang Kota Yogyakarta, cakupan
wilayah rencana yakni Yogyakarta. Pemberi pekerjaan dari Pekerjaan Umum
Tata Ruang Wil II, pada tahun 2008.
16. Pekerjaan Penyusunan Recana Tata Ruang Kota (RTRK) Kabupaten Puncak.
Pemberi pekerjaan dari Pemerintah Kabupaten Puncak Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah dan Statistik (BAPPEDAS), pada tahun 2009.
17. Pekerjaan Penyusunan Studi Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu
(P3KT) Kota Siak, wilayah perencaan di Kabupaten Siak. Pemberi pekerjaan
dari Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya, pada tahun 2009.
18. Pekerjaan Penyusunan Tata Ruang Strategis Provinsi Lampung, dengan wilayah
rencana provinsi lampung. Pemberi kerja dari Bapeda Lampung pada tahun
2009.
Semua pengalaman diatas telah dilaksanakan dalam kurun waktu dari tahun 2002
hingga tahun 2009 (7 Tahun).
2.5 Peralatan Perusahaan
PT. CIGHISTARA NUANGSA mempunyai beberapa peralatan yang menunjang dalam
pelaksanaan kegiatan perusahaan, daftar peralatan yang dimiliki seperti terlihat pada
C
TANGGAPAN
TERHADAP
KERANGKA
ACUAN
KERJA
(KAK)
3.1. Pemahaman Terhadap Latar Belakang
Pada paragraph pertama (1), konsultan memahami bahwa UU penataan ruang
yang telah di sahkan pada tahun 2007 telah menjadi payung hukum bidang
penataan ruang, dan PP yang berada dibawahnya yakni peraturan pemerintah
No 26 Tahun 2008 yang disahkan pada bulan maret 2008 menjadi acuan
pembangunan sector dan daerah dimana Peraturan Pemerintah ini menjadi
matra spasialnya dalam setiap rencana pembangunan. Selain itu konsultan juga
memahami, bahwa RTRWN menjadi keharusan bagi pemerintah daerah untuk
menjabarkan RTRWN tersebut dalam penyusunan rencana sektoral di daerah
dan penyusunan peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi, Kabupaten dan Kota. Di Kota Tangerang sendiri saat ini telah ada 8
RDTR dari 13 Kecamatan dan sudah diperdakan. Sedangkan RTRW Kota sendiri
dalam tahap legislasi.
Pada paragraph kedua (2), konsultan memahami bahwa sesuai amanat UU
penataan ruang dengan adanya zoning regulation, maka pemerintah kota
tangerang melakukan kegiatan penyusunan RDTR dengan tambahan zoning
regulationnya..
Pada paragraph ketiga (3), konsultan memahami bahwa pada tahun anggaran
2010 anggaran yang tersedia di khususkan untuk 5 kecamatan yang telah
C
3.2. Pemahaman Maksud, Tujuan, Sasaran dan Fungsi Penyusunan RDTR
Konsultan sesungguhnya memahami, bahwa maksud dari pekerjaan ini adalah
mewujudkan rencana detail tata ruang yang mendukung terciptanya kawasan
strategis maupun kawasan fungsional secara aman, produktif dan berkelanjutan.
Sedangkan tujuan dari pekerjaan ini, konsultan juga memahami bahwa terdapat
dua (2) tujuan yang hendak di capai yakni ;
1. Sebagai arahan bagi masyarakat dalam pengisian pembangunan fisik kawasan,
2. Sebagai pedoman bagi instansi dalam menyusun zonasi, dan pemberian
perijinan kesesuaian pemanfaatan bangunan dengan peruntukan lahan.
Sedangkan sasaran dari pekerjaan ini, konsultan juga memahami bahwa sasaran
yang hendak di capai yakni ;
Menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan antar lingkungan
permukiman dalam kawasan.
Mewujudkan keterpaduan program pembangunan antar kawasan maupun
dalam kawasan.
Terkendalinya pebangunan kawasan strategis dan fungsi kota, baik yang
dilakukan pemerintah maupun masyarakat/swasta
Mendorong investasi masyarakat di dalam kawasan.
Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah dan
masyarakat/swasta
3.3. Pemahaman Terhadap Sasaran Pekerjaan
Konsultan memahami bahwa terdapat tujuh (7) sasaran untuk mencapai tujuan
diatas. Sasaran adalah serangkaian proses dan tahapan yang harus dilalui
sehingga dapat mencapai garis akhir yakni tujuan dari pekerjaan ini.
1) Melakukan identifikasi konsep‐konsep monitoring pemanfaatan ruang.
2) Melakukan identifikasi indicator‐indikator dalam melakukan monitoring
implementasi RTRWN (PP. No. 26 Tahun 2008)
3) Melakukan identifikasi kinerja sektor dalam pemanfaatan ruang yang
C
4) Melakukan identifikasi kinerja pemerintah daerah dalam pemanfaatan
ruang yang sesuai dengan RTRWN
5) Menghasilkan rumusan metodologi/sistem yang tepat (ideal) untuk
pemantauan pemanfaatan ruang.
6) Menghasilkan rumusan rencana aksi (Action Plan) dalam rangka
pemantauan dan evaluasi implementasi RTRWN (PP No. 26 Tahun
2008).
Adapun fungsi dari perencaan ini, konsultan memahami terdapat beberapa
hal penting yakni ;
Menyiapkan perwujudan ruang, dalam rangka pelaksanaan program
pembangunan daerah.
Menajga konsstensi pembangunan dan keserasian perkembangan kawasan
fungsional dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi dan efisien
dalam perencanaan kawasan,
Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan melalui pengendalian
program‐program pembangunan daerah
3.4. Pemahaman Terhadap Ruang Lingkup Pekerjaan
Konsultan memahami bahwa pekerjaan penyusunan dokumen akademik Rencana
Detail Tata Ruang merupakan penjabaran dari RTRW Kota Tangerang. Dimana ;
1. Lingkup Wilayah
Lingkup wilayah penyusunan RDTR dengan peraturan zonasi adalah wilayah
Kecamatan Benda (PR‐10).
2. Lingkup Substansi
Adapun muatan RDTR kawasan meliputi
a. struktur dan sistematika tujuan dan sasaran pembangunan kawasan
perencanaan,
b. perumusan kebijakan dan strategi pengembagnan kawasan,
C
d. analisis ruang makro dan mikro kawasan perumusan kebutuhan
pengembangan dan penataan ruang kawasan,
e. perumusan rencana detail tata ruang kawasan, perumusan dan ketentuan
pengendalian pemanfaatan ruang, sebagai mana digambarkan dalam
uraian berikut;
1) Persiapan penyusunan RDTR
2) Pengumpulan dan pengolahan data;
3) Analisa kawasan perencanaan
4) Perumusan dan ketentuan teknis rencana detail
5) Pengendalian rencana detail
6) Kelembagaan dan peran serta aktif masyarakat
3.5. Pemahaman Terhadap Keluaran Pekerjaan
Konsultan Memahami bahwa keluaran dari kegiatan ini adalah Dokumen (Naskah)
Akademik RDTR Kawasan yang dilengkapi dengna peraturan zonasi, terdiri dari :
1. Tujuan pengembangan kawasan
2. Rencana struktur ruang;
3. Rencana fasilitas umum
4. Rencana peruntukan blok
5. Rencana penataan bangunan dan lingkungan (Amplop Ruang)
6. Indikasi Program pembangunan
7. Pengendalian Rencana Detail Tata Ruang
8. Kelembagaan dan Peran Masyarakat
3.6. Pemahaman Terhadap Metode
Penyusunan naskah akademis peraturan zonasi, kawasan menggunakan metode
pendekatan antara lain:
A. Identifikasi isu permasalahan dan potensi pengembagnan wilayah
perencanaan.
B. Kajian terhadap rencana dan program pemda kota tangeerang yang sedangn
dan akan dilakukan pada wilayah perencaaan
C. Pengumpulan dan pengolahan data
Dan dan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan penyusunan rencana
detail haruslah terukur baik kualitas, kuantitas ataupun dimensi masing‐
C
E. Analisa kawasan perencanaan
F. Analisa struktur ruang
G. Analisa peruntukan blok
H. Analisa fasilitas umum
I. Analisa prasarana transportasi
J. Analsa utilitas umum terdiri dari air minum, drainase, air limbah,
persampahan, kelistrikan, telekomunikasi dan gas,
K. Analisa Amplop ruang
L. Analisa kelembagaan dan Peran Serta Masyarakat
M. Perumusan konsep rencana
N. Perumusan konsep pengaturan zonasi
3.7. Pemahaman Terhadap Pelaksanaan Pekerjaan
Konsultan memahami bawah Pelaksanaan pekerjaan penyusunan RDTR Kecamatan
dengan peraturan zonasi dikerjasamakan dengan pihak kedua (penyedia jasa
konsultansi). Dimana Tahapan pelaksanaan pekerjaan yang harus dilakukan oleh
konsultan adalah sebagai berikut :
a. Penyusunan dan pembahasan Laporan pendahuluan;
b. Pengumpulan data dan survey lapangan;
c. Penyusunan dan pembahasan draft laporan fakta; dan
d. Penyusunan dan pembahasan draft laporan akhir;
e. Diskusi terbuka/FGD;
f. Penyusunan dan ekspose laporan akhir;
g. Format rencana detail tata ruang mempertimbangkan factor ekonomis dan
kebutuhan pembangunan daerah, untuk itu pengaturan skala perencanaan
adalah :
1. Produk RDTR mempunyai skala perencanaan 1:5000
2. Sedangkan kegiatan yang memerlukan pendetailan yang lebih rinci,
kegiatan analisis dibuat dalam peta kerja 1 : 5000
3. Format peta analisis sekurang‐kurangnya skala 1:5000, untuk
lingkungan yang lebih detail dibuat dalam skala 1:5000.
3.8. Pemahaman Terhadap Kebutuhan Tenaga Ahli
Pekerjaan penyusunan dokumen akademik RDTR Kecamatan dilakukan oleh tim
C
1. Ahli Perencana Kota/Planologi, Pendidikan S2 Perencana Kota;
2. Ahli Arsitektur, S1 Teknik Arsitektur Perkotaan;
3. Ahli Transportasi, S1 Teknik Sipil Transportasi;
4. Ahli geodesi, S1 Teknik Geodesi;
5. Ahli Lingkungan, S1 Teknik Lingkungan;
6. Ahli Ekonomi Perkotaan, S1 Ekonomi Studi Pembangunan;
7. Ahli Sosial Budaya, S1 Sosial;
3.9. Pemahaman terhadap Waktu Pelaksanaan
Konsultan memahami bahwa qaktu pelaksanaan pekerjaan penyusunan dokumen
akademik RDTR dengan peraturan zonasi adalah 7 bulan sesuai pelaksanaan pekerjaan
dalam butir 6 terhitung sejak ditandatanganinya kontrak.
3.10. Pemahaman Terhadap Laporan Hasil Pekerjaan
Bahwa konsultan memahami, laporan hasil pekerjaan yang harus diserahkan oleh
konsultan kepada PPTK yang ditunjuk oleh kepala dinas tata kota tangerang terdiri dari :
1) Laproan Pendahuluan;
2) Laporan Fakta dan Analisa;
3) Draft Laporan Akhir;
4) Laporan Akhir;
5) Ringkasan Eksekutif;
6) Album Peta RDTR Kecamatan dengan zoning regulation;
7) CD Data Laporan dan peta.
C
Konsultan juga ingin memberikan tanggapan (tanggapan = kritik, komentar) terhadap
kerangka acuan kerja yang telah diberikan. Beberapa hal yang konsultan ingin tanggapi
adalah sebagai berikut :
3.11. Tanggapan Terhadap Latar Belakang
Secara umum, dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
(BAPP) telah dijelaskan secara rinci mengenai pekerjaan PENYUSUNAN RENCANA
DETAIL TATA RUANG (RDTR) KAWASAN DENGAN PERATURAN ZONASI KECAMATAN
BENDA (PR‐10). Selanjutnya, Konsultan telah mempelajari, menelaah dan memahami
materi dan uraian yang disampaikan dalam KAK beserta BAPP. Dari pemahaman tersebut
maka Konsultan dapat menyusun metodologi pendekatan dan strategi pelaksanaan
pekerjaan serta merancang seluruh proses pekerjaan ini agar dapat mencapai tujuan dan
sasaran serta hasil yang telah ditetapkan.
Agar dicapai suatu hasil yang optimal dalam pekerjaan ini, Konsultan merasa perlu untuk
memberikan tanggapan atas beberapa bagian dalam KAK.
Dalam Bab 3, juga telah dinyatakan bahwa Konsultan sangat memahami KAK yang
diberikan, namun untuk melengkapi substansi yang terdapat dalam KAK yang diberikan
maka Konsultan merasa perlu memberikan tanggapan, baik berupa masukan, komentar
maupun usulan atau saran yang secara rinci akan diuraikan berikut ini.
3.12. Tanggapan terhadap Tujuan dan Ruang Lingkup
Terkait dengan metodologi pekerjaan, dalam KAK disebutkan tentang penerapan
pendekatan partisipatif dalam perencanaan. Secara lengkap disebutkan:
Diskusi/pendekatan partisipatif, yaitu dengan menyelenggarakan Lokakarya yang
dihadiri oleh para stakeholders terkait, antara lain meliputi: Pemerintah Kota Tangerang,
Pemerintah Kota (Kecamatan dan Kelurahan) dan masyarakat dari masing‐masing
Kecamatan di seluruh Wilayah Kota Tangerang. Pelaksanaannya dilakukan dua kali,
C
Konsultan mengusulkan pelaksanaan pendekatan partisipatif dilakukan pada saat
pengumpulan data dan setelah perumusan rencana sehingga para stakeholder dapat
menyaksikan dan memastikan seberapa jauh aspirasi mereka tertampung dalam
rencana tata ruang.
Dalam tahapan kegiatan pekerjaan, tidak ditemukan informasi tentang jadwal
penyerahan laporan sehingga Konsultan akan mengusulkan jadwal pelaporan seperti
yang tercantum pada Usulan Teknis Bab 12.
Laporan Antara dalam KAK berisi seluruh hasil pekerjaan tahap pengumpulan data, yang
antara lain meliputi: hasil pengamatan lapangan, kajian literatur tentang ketentuan
perundangan, produk‐produk tata ruang dan standar‐standar teknis yang berlaku serta
hasil review terhadap RRTRW Kecamatan yang sudah ada (hasil pelaksanaan public
hearing).
Konsultan mengusulkan agar dalam Laporan Fakta dan Analisa juga sudah memuat juga
hasil analisis, yaitu rumusan potensi dan masalah sehingga ada kesamaan antara
muatan draft Laporan Akhir dengan Laporan Akhir. Dengan demikian, tahapan pekerjaan
juga akan menjadi lebih sederhana, yaitu : (1) persiapan, (2) survei, pengumpulan data
dan analisis, (3) perumusan rencana. Tahap Persiapan diakhiri dengan penyerahan
Laporan Antara, tahap survei diakhiri dengan penyerahan Laporan Antara, dan tahap
perumusan rencana diakhiri dengan Laporan Akhir yang merupakan hasil
penyempurnaan dari Draft Laporan Akhir.
3.13. Tanggapan terhadap Lingkup dan Keluaran Pekerjaan
Status hukum rencana rinci (rencana detail) pada tingkat kabupaten / kota adalah
peraturan daerah (Perda, Pasal 24 ayat 1 UU No. 26/2007). Mengingat Kecamatan
Benda Kota Tangerang bukan kota otonom maka ketentuan Pasal 24 UU tersebut tidak
dapat diberlakukan. Dengan demikian, status hukum rencana rinci sebagai peraturan
gubernur bagi Kota Tangerang masih dapat diterima.
Dokumen RRTR Wilayah Kecamatan (RDTR Kawasan Perkotaan) yang disusun ini akan
menjadi Lampiran Peraturan Gubernur yang merupakan operasional pelaksanaan
C
pelaku pembangunan di kawasan tersebut dapat memperoleh gambaran yang jelas
tentang apa yang seharusnya dan apa yang tidak boleh diakukan dalam
keikutsertaannya mengembangkan kawasan. Dari sisi Pemerintah Kota Tangerang,
dokumen ini akan menjadi ketentuan yang mengikat dalam mengarahkan dan
mengendalikan pembangunan di wilayahnya.
3.14. Tanggapan terhadap Susunan Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung
Dengan banyaknya tenaga ahli dan tenaga pendukung yang terlibat dalam pelaksanaan
pekerjaan ini maka tenaga ahli seperti Ahli Geodesi (GIS) yang jumlahnya 21 orang
selayaknya dari awal sudah ada pembagian tugas di antara mereka, yaitu 1 orang tenaga
ahli menangani dua kecamatan. Begitu juga dengan operator komputer yang jumlahnya
juga 21 orang, sejak awal sudah harus diarahkan penugasan dan tanggung jawabnya
yaitu 1 orang dua kecamatan. Dengan pembagian tugas seperti ini, maka satu orang
tenaga ahli geodesi berkolaborasi dengan satu orang operator komputer.
Tim dengan personel yang jumlahnya sangat besar seperti ini sangat memerlukan
kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang kuat dari Team Leader. Di samping itu,
seorang Team Leader yang memimpin pekerjaan juga harus memiliki kompetensi yang
tinggi, bukan hanya memenuhi syarat‐syarat formal sebagai lulusan S‐2.
C
WILAYAH
PERENCANAAN
4.1. Wilayah Administrasi Kecamatan Benda
Wilayah Kecamatan Benda memiliki luas wilayah sekitar 2.967,60 Ha dan penggunaan
lahan terbesar diperuntukan bagi Bandara Soekarno‐Hatta seluas 1.968,67 Ha (66 %).
Secara administratif, Kecamatan Periuk berbatasan dengan :
Sebelah Barat : Kecamatan Neglasari.
Sebelah Timur : Kecamatan Kalideres, Kodya Jakarta Barat
Sebelah Utara : Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang
Sebelah Selatan : Kecamatan Batuceper.
Kecamatan Benda terdiri dari 5 Kelurahan yaitu : Kelurahan Benda, Kelurahan
Jurumudi, Kelurahan Jurumudi Baru, Kelurahan Belendung, Kelurahan Pajang.
4.2. Kondisi Fisik dan Hidrologi
Kondisi Topografi pada sebagian besar dari wilayah Kecamatan Benda memiliki
kemiringan 0 ‐ 5 %. Dengan kondisi fisik seperti ini maka memungkinkan digunakan
untuk kegiatan perkotaan dengan pengembangan terbatas dan pertanian.
Potensi sumber daya tanah yang masih kosong terdapat di beberapa wilayah yang
terdapat di Kelurahan Belendung, Jurumudi dan Benda.
Potensi hidrologi ditinjau dari aspek ketersediaan air permukaan. Untuk air
permukaan ini ditunjang oleh adanya saluran irigasi dari Sungai Cisadane dan masih
terdapat rawa‐rawa sehingga dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pertanian.
Pada sebagian wilayah Kecamatan Benda telah terjadi intrusi air laut ke dalam air
tanah. Air tanah ini hanya digunakan untuk mencuci dan mandi, sedangkan air bersih
sebagian warga membeli atau didapat dari hidran umum yang terdapat
C
Jumlah penduduk di Kecamatan Benda berdasarkan proyeksi secara linear pada tahun
2010 diperkirakan sebanyak 43.295 jiwa dan pada tahun 2014 diperkirakan sebesar
44.813 jiwa. Dengan melihat jumlah penduduk berdasarkan perhitungan daya
tampung penduduk, maka pada tahun 2010 dan 2014 masih dapat memenuhi daya
tampung penduduk.
C
Pengembangan rencana struktur ruang Kecamatan Benda dimasa mendatang dapat
dikelompokan menjadi :
a) Kegiatan Utama
Bandara Udara Internasional Soekarno‐Hatta
Kawasan Bandara Soekarno‐Hatta saat ini menjadi kegiatan yang paling dominan
dalam penggunaan lahan di Kecamatan Benda (Blok F) Rencana pengembangan dan
perluasan bandara akan berada pada blok D.
Permukiman
Kegiatan Permukiman teratur tersebar pada blok B (sub blok B3), C(sub blok C1), dan
E (sub blok E1). Sedangkan permukiman tidak teratur yang asli tersebar pada wilayah
blok A (sebagian blok A2), blok B (sebagian blok B1), blok C(sebagian blok C3 dan C4),
dan blok E (sub blok E2, sebagian E1)
Pergudangan dan Industri Non Polutan
Kegiatan pergudangan di Kecamatan Benda umumnya berada pada koridor jalan
utama dan pada kawasan‐kawasan tertentu (kawasan utara Benda dan kawasan
Jurumudi Baru), kegiatan pergudangan tersebar pada Blok A (sub blok A1), blok B
C
b) Kegiatan Penunjang
Perdagangan dan Jasa
Kegiatan perdagangan dan jasa berkembang dengan pesat pada sepanjang koridor
jalan‐jalan utama, seperti Jln. Husein Sastranegara dan Jln. Halim Perdanakusuma.
Kegiatan perdagangan dan jasa yang berkembang terdiri atas ruko, toko, minimarket,
warung, kios, bank, bengkel, wartel, salon, klinik, hotel dll. Pada masa akan datang
direncanakan membangun kegiatan perdagangan dan jasa dalam satu kawasan bisnis
(buisness centre) di sekitar Rawa Bokor.
Fasilitas Umum dan Sosial
Kebutuhan akan fasilitas umum dan sosial sebagai penunjang kegiatan selama ini
telah tersebar pada tiap‐tiap lingkungan di wilayah Kecamatan Benda. Fasilitas‐
fasilitas tersebut banyak melibatkan kemampuan masyarakat lingkungan untuk
menyediakannya.
Ruang Terbuka Hijau
Kegiatan untuk membentuk Ruang Terbuka Hijau direkomendasikan pada kawasan
kebisingan tingkat 3 (berdasarkan rencana pengembangan), yang difungsikan sebagai
buffer zone dan pada kawasan sempadan (saluran irigasi dan sungai) serta pada
kawasan sekitar jalan tol. Pada sekitar jalan tol Prof. Sudyatmo diarahkan agar tidak
terjadi banjir yang melimpas ke badan jalan yang dapat menghambat akses menuju
dan dari bandara Soekarno‐Hatta.
B. Rencana Struktur Pelayanan
Jangkauan pelayanan di Kecamatan Benda didasarkan pada pusat‐pusat pelayanan
yang ada. Struktur pelayanan di Kecamatan Benda merupakan sub‐sub pusat
pelayanan lingkungan yang melayani tingkat kelurahan. Sub pusat kota yang
C
kecamatan sebagai jangkauan pelayanan. Sub pusat lingkungan yang berlokasi di Jln.
Raya Husen Sastranegara tepatnya di wilayah Rawa Bokor, akan melayani pusat‐pusat
lingkungan di Kecamatan Benda.
Agar struktur pelayanan Kota Tangerang tetap dapat dicapai (pusat dan sub pusat)
maka perlu dihindarkan pembebanan fungsi lain yang terlalu kuat skalanya untuk
bandara sehingga terjadi disorientasi sistem pelayanan kota. Hal ini diperkirakan akan
berdampak terhadap penurunan fungsi bandara di masa depan yang diakibatkan oleh
overload function services.
C. Rencana Peruntukan Lahan
Rencana peruntukan lahan di Kecamatan Benda adalah :
a) Kawasan Perumahan dengan Pengendalian Ketat dan Fasilitas Penunjang Bandara
Kecamatan Benda yang diarahkan sebagai wilayah pengembangan dengan
pengendalian ketat, mempunyai kendala terhadap pengembangan kegiatan
perumahan berskala besar, terutama didaerah yang memiliki keterkaitan dengan
kegiatan bandara seperti kawasan kebisingan dan kawasan keselamatan operasi
penerbangan. Dengan adanya keterbatasan tersebut maka di daerah kawasan bahaya
kecelakaan dan kebisingan tingkat 2 dan 3 tidak diijinkan pembangunan perumahan
baru. Pada kawasan ini kegiatan perumahan hanya yang saat ini sudah terbangun
(eksisting).
Rencana penggunaan lahan untuk perumahan teratur terdiri dari 5 pengembang di
kecamatan Benda, antara lain :
Pengembangan perumahan teratur hanya diijinkan untuk pengembang yang sudah
C
untuk permukiman atau perumahan tidak teratur diarahkan pada kawasan‐kawasan
kosong atau ruang terbuka yang saat ini cenderung berada pada kawasan
pemukiman, seperti pada kawasan blok B (sub blok B1), blok C (sub blok C4) dan blok
E (sub blok E2).
Rencana arahan penggunaan lahan yang merupakan fasilitas penunjang bandara
antara lain perhotelan, kantor maskapai penerbangan atau kantor cabangnya, kantor
jasa yang terkait dengan kegiatan bandara, restoran atau rumah makan. Dalam
kegiatannya fasilitas penunjang bandara ini harus tetap beracuan pada ketinggian
dan aturan lainnya yang terkait batasan Kawasan Keselamatan Operasional
Penerbangan (KKOP) pada kawasan kebisingan.
b) Kawasan Pergudangan dan Industri Non Polutan
Arahan penggunaan lahan untuk kegiatan pergudangan yang berkaitan dengan
bandara tersebar pada kawasan wilayah Blok A (sub blok A1 seluas 7,14 Ha). Jenis
kegiatan yang diperbolehkan pada kawasan ini antara lain jenis kegiatan kargo dan
kegiatan yang hanya berkaitan dengan pengepakan (packing) dan pendistribusian.
Penggunaan lahan untuk pergudangan dan industri non polutan diarahkan pada
wilayah Blok B (sub blok B1 seluas 112,81 Ha dan sub blok B3 seluas 6,45 Ha) dan blok
C (sub blok C2 seluas 27,69 Ha dan sub blok C3 seluas 25,62 Ha). Kegiatan di kawasan
ini harus memperhatikan penggunaan bahan‐bahan yang akan menimbulkan polusi
dalam bentuk cair dan udara.
c) Kawasan Perdagangan dan Jasa
Kegiatan perdagangan ini direncanakan akan terpadu dengan kegiatan lainnya
menjadi sebuah pusat bisnis (central bussiness district). Kegiatan ini akan
dikonsentrasikan pada wilayah yang berbatasan langsung dengan rencana
pengembangan Airport City Bandara Soekarno‐Hatta. Arahan penggunaan lahan
untuk kegiatan perdagangan dan jasa ini akan ditempatkan pada kawasan blok A (sub
C
Selain itu, kegiatan perdagangan dan jasa juga akan dikembangkan untuk melayani
wilayah‐wilayah di dalam Kecamatan Benda. Untuk jenis kegiatan ini akan terdiri dari
pasar tradisional, toko dan jenis‐jenis jasa seperti wartel dan lainnya. Kegiatan
perdagangan dan jasa dalam skala ini diarahkan pada sepanjang koridor Jln. Halim
Perdanakusuma dan Jln. Husen Sastranegara.
Dalam mengantisipasi perkembangan kegiatan bandara, terkait dengan
pertumbuhan perkembangan pergerakan pesawat dan penumpang, dibutuhkan
perluasan kearah utara, timur dan selatan. Perluasan yang akan terkait dengan
Tabel 2 Arahan Penggunaan Lahan
Blok Luas (Ha)
Eksisting Masalah Rekomendasi
A 112,0
9
Pertanian
Gudang
Permukiman
Berada pada area
kebisingan dan
keselamatan
penerbangan
(kawasan bahaya
kecelakaan)
Pengembangan
sarana komersial
Ruang terbuka
hijau
Perumahan dengan
pengendalian ketat
B 169,8 Pertanian
Permukiman
Pergudangan
Perkembangan
kegiatan
pergudangan yang
harus segera
Perumahan dengan
pengendalian ketat
C
Penunjang Bandara
C 196,0
5
Pertanian
Permukiman
Pergudangan
Rawan banjir Perumahan
Permukiman
Pergudangan
Akan terkena
perluasan Bandara
Rencana perluasan
bandara Soekarno‐
Hatta
E 172,8
3
Pertanian
Permukiman
Perumahan dengan
pengendalian ketat
F 1805 Bandara Udara
Soekarno‐Hatta
Prediksi jumlah
pnp 100 jt
penumpang per
tahun sehingga
perlu adanya
perluasan bandara
Perluasan Bandara
ke sisi utara, timur
dan selatan
4.5. Lokasi Kampung Kumuh
Berdasarkan Buku Laporan Akhir Penyusunan Pola dan Strategi Penataan Kampung
Kumuh Kota Tangerang yang disusun pada tahun 2000, lokasi sebaran kampung
kumuh di Kecamatan Benda tersebar di beberapa lokasi Kelurahan yaitu Kelurahan
Benda (Kp. Rawa Kompeni), Kelurahan Jurumudi (Kp. Bulak Kambing), Kelurahan
tahun 2014 sekitar 64,42 liter/detik. Kebutuhan ini meliputi kegiatan sosial ekonomi