• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Proyek Palapa Ring terhadap Penur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dampak Proyek Palapa Ring terhadap Penur"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Dampak Proyek Palapa Ringterhadap Penurunan Kadar Kesenjangan Digitaldi Indonesia Probo Darono Yakti

Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga

Abstract

As a country consists of more than 17.000 islands, Indonesia is a huge market of information and communication technology (ICT) industry. On the other hands, this comparative advantage as a consumer of ICT creates a digital divide, in a term of informational society. A divided phenomenon that could grew by the society as one society monopolize the source of information on and the other society received lack of information. This phenomenon in Indonesia mostly a response to the economical gap that technically means, “how peoples accessed and bought ICT devices” as a globalization’s irony. " Western Indonesia " and "eastern Indonesia" has long become a common term in dividing the country in the category of community economy. Consequently, there is unbalance reception and dissemination of information between the two regions. Conversely community east region became victims of the gap formed by the monopoly of information by the western region of Indonesia. Therefore, the Government through the Ministry of Communication and Information (Kemenkominfo) develop the Palapa Ring project, which will be built submarine cable network and also on land as the equitable distribution of infrastructure for information exchange. So the impact on the digital divide in Indonesia can be significantly reduced. Then we get that the Palapa Ring project initiated by the government have a positive impact on society, including facilitated access to data and information that is fast, cheap, and easy.

Keywords: digital divide, Palapa Ring, Kemenkominfo, information, technology, fiber optic

Abstrak

(2)

Kata kunci:kesenjangan digital, Palapa Ring, Kemenkominfo, informasi, teknologi, serat optik

Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar dunia yang juga pengguna aktif internet, tercatat sebagai enam terbesar di dunia dengan angka tahun 2016 mencapai 102,6 juta pengguna (Kemenkoninfo 2014). Artinya dan yang seharusnya dirasakan sebagai pasar telekomunikasi yang besar tentu di dalam negara sudah ada infrastruktur yang memadai untuk mendukung penggunaan internet, di samping edukasi masyarakat untuk penggunaannya yang bijak. Penggunaan internet di Indonesia sejauh ini dipandang untuk hal-hal yang positif. Misalnya menggerakkan pasar telekomunikasi dunia yang berasal dari produk-produk ternama seperti Apple, Asus, Samsung, Sony, dll. Indonesia menjadi konsumen dari smartphone (ponsel cerdas) terbanyak di dunia. Sebagai catatan pelengkap misalnya, Indonesia mengalami tingkat penetrasi terhadap pasar ponsel cerdas sebesar 23% yang menjadikan mengubah cara masyarakat dalam mengakses internet (Nielsen 2013). Penggunaan ponsel cerdas ini juga menjadikan alat tersebut sebagai peranti utama untuk mengakses internet. Aplikasi yang sering digunakan masyarakat yang berkaitan dengan kepentingan untuk berkomunikasi adalah aplikasi perambah web, obrolan, surat elektronik, dan peta. Belum lagi yang menggunakan internet sebagai salah satu cara untuk mendapatkan hiburan (CNN Indonesia 2015).

Lebih lanjut Indonesia adalah konsumen besar peranti lunak dan keras teknologi, sebagaimana ketika melihat beredarnya beragam jenis ponsel cerdas dan juga disertai peningkatan penggunaan internet yang meningkat akan terus membuka pasar semakin lebar. Sebagai responsnya, masyarakat akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang variatif termasuk jenis perangkat, fitur yang tersedia, dan keunggulan sebuah produk daripada produk yang lainnya. Penggunaan ponsel cerdas di Indonesia dapat dinilai pula dari segi fungsional, yang mana selain internet kemudian kebutuhan mendasar lainnya seperti telepon dan pesan singkat menjadi opsional bagi keberadaan kebutuhan internet dan dengan beragam aplikasi saat ini dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut maka terjadi migrasi besar pada teknologi terbaru. Misalnya aplikasi seperti Blackberry Messenger, Line, dan WhatsApp. Terbukti dengan peningkatan penggunaan salah satu dari ketiga platform utama yang digunakan dalam berkomunikasi masyarakat Indonesia, Line. Managing Director Line Indonesia mengklaim bahwa terjadi peningkatan pengguna sebesar 200 persen. Dengan asumsi bahwa 90 juta adalah pengguna layanan chatting, dan 80 juta di antaranya adalah pengguna aktif bulanan (Kompas.com 2016).

(3)

mencapai 3.9 Mbps dan 21.2 Mbps. Di sisi lain penggunaan internet pada kota-kota di Indonesia kurang tersebar merata dengan asumsi bahwa hanya ‘kota-kota itu saja’ yang dapat menggunakan akses internet melebihi rata-rata Indonesia daripada yang pelosok seperti misalnya membandingkan koneksi internet di kota Jayapura dengan koneksi internet di kota Surabaya. Selain itu infrastruktur yang kurang memadai menyebabkan permasalahan lain seperti kabel bawah air yang putus, yang tidak mungkin dialami di kota-kota besar yang ada di Pulau Jawa yang menjadi 65% dari populasi pengguna internet di Indonesia (Liputan6.com 2016). Sebagai perbandingan, Jayapura dan Sorong mengalami gangguan akses internet pada 21 April 2015 akibat kabel serat optik yang menghubungkan Jayapura dan Biak. Telkom kemudian menangani masalah ini dengan mengarahkan sementara satelit untuk mentransmisikan sinyal dan paket data (Kompas.com 2015; Tribunnews.com 2015).

Gambar 1: Demografi Pengguna Internet di Indonesia pada 2014.

Sumber: http://images.cnnindonesia.com/visual/2015/03/27/47125b45-aeb5-46d1-9824-bece00722871.jpg?w=960&q=75 (Diakses pada 26 Desember 2016).

(4)

Sumber: https://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1383158/big/083088800_1477296304-apjii.jpg (Diakses pada 26 Desember 2016).

Peristiwa yang terjadi di Indonesia terkait dengan penggunaan internet akhir-akhir ini dapat dijelaskan menggunakan fenomena digital divide. Digital divide atau kesenjangan digital adalah kesenjangan sosial yang terbentuk di antara masyarakat yang berkaitan dengan akses, penggunaan, dan dampak dari TIK. Permasalahan ini dapat bermula ketika adanya individu, rumah tangga, bisnis, area geografis, dan karakter sosio-ekonomi masyarakat yang berbeda-beda. Kesenjangan terbentuk atas terjadinya perbedaan pendapatan per kapita, konsumsi energi, disparitas modal manusia, perbedaan regional, dan keterbukaan pada perdagangan bebas sebagaimana yang diungkapkan oleh Chinn & Fairlie (2004, 19-20). Wolff & MacKinnon (2002) menambahkan disparitas informasi Secara umum, karakteristik tadi menjadi salah satu penentu bagaimana negara dengan negara dibandingkan secara satu persatu. Yang menjadi persoalan adalah ketika sebuah negara di dalamnya memiliki kesenjangan pula di dalam persoalan TIK ini. Di lingkup yang lebih sempit, Sparks (2013, 28) berhasil menjelaskan bahwa kesenjangan digital bermuara dengan perbedaan penggunaan teknologi berupa komputer personal dan juga akses internet yang terbatas. Sparks (2013, 30) melanjutkan bahwa seputar urusan kesenjangan digital adalah semata-mata yang berhubungan dengan akses fisik pada komputer dan jasa telekomunikasi sebagaimana isu ini akan terus menjadi perbincangan di era kontemporer. Hal ini kemudian dapat membantu melengkapi pertanyaan besar mengapa dalam sebuah negara terdiri atas karakteristik masyarakat yang berbeda-beda dari segi penggunaan informasinya. Dalam memahami argumen Sparks, tidak bisa dibantah bahwa masyarakat informasi adalah sebagai pengguna atau konsumen dari teknologi informasi yang tersedia. Digital divide kemudian secara politik menjadi faktor penting karena menjadi tolok ukur baru dalam melihat kesenjangan sosial pada masyarakat (Zillien dan Hargittai 2009).

(5)
(6)

Tabel 1: Indeks Kesiapan e-Government milik beberapa negara Asia (PBB 2005).

Menurut Internasional Telecommunication Union atau Uni Telekomunikasi Internasional (ITU 2007), ada dua parameter dalam mengukur seberapa jauh negara mengalami kesenjangan digital. Yakni konektivitas dan jangkauan. Konektivitas dilihat dari seberapa besar negara mampu menyediakan sarana dan prasarana komunikasi dengan harga yang dapat dijangkau seluruh warga masyarakatnya. Hal ini dapat dilihat dari harga bulanan dan juga PNB per kapita yang menunjukkan seberapa besar daya beli masyarakat dalam menunjang kebutuhannya dalam berkomunikasi (ITU 2007, 25-9). Sedangkan jangkauan bisa ditinjau dari bagaimana masyarakat menggunakan fasilitas tersebut secara bijak dengan akses terhadap pendidikan dan juga koneksi yang sudah mengusung teknologi broadband. Selain dua faktor di atas, ada dua faktor lain yang tak kalah penting yakni reformasi sektoral yang terdiri atas: (1) liberalisasi pasar dan pengenalan terhadap kompetisi, misalnya dengan melakukan lisensi terhadap operator seluler baru; (2) keterlibatan sektor privat, yakni dengan privatisasi operator seluler atau mendirikan baru pasar teknologi; (3) regulasi sektor telekomunikasi dan informasi yang efektif, melalui pembentukan badan independen dan operator yang telah dilakukan lisensi (ITU 2007, 30-1).

Tabel 2: Suplai bandwith Internasional memengaruhi harga grosir dan cakupan nasional sebagai variabel interoperabilitas dan interkonektivitas. (Chomprang 2015, 10).

(7)

Keterangan: Komisi broadband menggunakan takaran di bawah 5% dari GDP per kapita (PPP).

Mengacu pada faktor-faktor di atas, Indonesia telah mengalami kelima faktor yang disebut oleh Puspitasari & Ishii (2015, 472-4) sebagai kesenjangan digital berlipat. Sebagai determinannya, faktor pertama kemudian memicu faktor lainnya bak domino. Suatu keniscayaan ketika sumber daya manusia ditinjau lagi dalam wadah berupa kemampuan ekonomi, yang tidak selalu setiap negara berkembang dan

emerging markets seperti Indonesia mampu menjangkau hal tersebut. Titik perbedaannya kemudian Puspitasari & Ishii (2015, 473) secara detail menjelaskan keterkaitan dengan penggunaan internet dan juga kepemilikan rumah tangga terhadap peranti dan dawai khusus untuk mengakses internet antara lain komputer personal, laptop, smartphone, dan komputer tablet. Dalam pemakaian internet, akses terhadap Facebook, Twitter, serta urusan bisnis dan juga hiburan menjadi variabel interoperabilitas tentang bagaimana sebuah teknologi komputer dan internet digunakan dalam mengakses situs spesifik yang menunjukkan tentang kegunaannya. Tabel 2 di atas juga menunjukkan kekurangan yang masih diderita Indonesia dari segi koneksi dan pengaruhnya terhadap penekanan harga barang. Dengan posisi 4 dari bawah juga menandai bahwa koneksi internet Indonesia masih jauh dari kata memadai dalam jangkauan baik yang bersifat fixed

atau melalui kabel dan wireless Kebanyakan dari internet diakses melalui perangkat seluler daripada melalui komputer personal mengingat kepraktisannya dalam dibawa ke mana pun. Dalam hal ini Indonesia sama dengan Jepang, yakni dalam penggunaan telepon genggam (Puspitasari & Ishii 2015, 474). Perangkat seperti telepon seluler merupakan kelanjutan dari telepon yang dibahas oleh Chinn & Fairlie (2004, 2).

(8)

Disparitas teknologi di Indonesia terlihat salah satunya melalui Network Readiness Index yang dibuat oleh World Economic Forum (2016). Indonesia pada indeks tersebut berada di peringkat ke-73. Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain misalnya, tetangga terdekat Malaysia berada pada urutan ke-31, sedangkan Thailand berada di posisi 62 dari keseluruhan tabel. Hal ini menunjukkan masih kurangnya sarana dan prasarana penunjang teknologi informasi di Indonesia. Peringkat ini diambil dari performa negara-negara dunia tentang kebijakan dan peraturan, pengambilan teknologi, dan dampak terhadap teknologi (Sparks, 2013:28). Hal ini merupakan keniscayaan yang terbentuk atas dasar ekonomi, dan dibuktikan bahwa negara yang menempati urutan pertama seperti Singapura dalam catatan penulis merupakan negara yang memiliki kriteria dan fitur ekonomi yang tidak dimiliki negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Setiap individu di dalam masyarakat informasi merupakan warga dan pengguna, serta bekerja dalam suatu tatanan yang terbentuk sebagai konstruksi sosial (Sparks 2013, 29).

Berdasarkan pemahaman penulis, kesenjangan digital juga dapat terbentuk antara generasi pengguna teknologi informasi. Sebelumnya ada 3 generasi, yakni: (1) Generasi X; (2) Generasi Y; dan (3) Generasi Z. Ketiganya dirunut berdasarkan teknologi yang tercipta dan digunakan bersamaan dengan masa generasi tersebut dilahirkan. Generasi X, lahir pada 1966 hingga 1976 yang disebut lost generation yang mana pada dasarnya memiliki pemikiran skeptis, dan bahkan cenderung kolot. Dalam urusan teknologi, Generasi X akan mengalami gagap teknologi mengingat perkembangan kehidupan sosial dan juga teknologi pada masa itu berkembang dengan sangat lamban. Namun, generasi X yang kemudian melahirkan generasi-generasi selanjutnya seperti Y & Z. Ketika mengalami pendewasaan dari tahun 1988 hingga 1994, generasi X masih memiliki pendirian yang teguh atas sikap kehati-hatian dan pragmatis (WJ Schroer t.t). Generasi selanjutnya adalah Generasi Y yang disebut echo boomer atau milenium. Dengan kehadiran mereka sebagai peralihan antara Generasi X dan Generasi Z, generasi ini telah mengenal beragam teknologi baru yang dikenal melalui internet, radio, televisi kabel, dan majalah elektronik. Secara gaya hidup lebih fleksibel dengan menghindari gaya pemasaran tradisional dan segera mengenal metode yang kontemporer. Generasi Y yang dimaksud adalah yang lahir pada tahun 1977 sampai dengan 2006 (WJ Schroer t.t). Sedangkan generasi Z, yang lahir pada kisaran 1995 sampai dengan 2020 merupakan generasi yang supel akan kehadiran teknologi sebagai salah satu elemen dalam kehidupan. Generasi ini adalah yang paling menerima kehadiran dari teknologi komputer yang kemudian memiliki dampak signifikan pada kehidupan manusia. Bahkan generasi ini dengan mudahnya mampu mengajari dua generasi sebelumnya, yakni X dan Y pada penguasaan teknologi (WJ Schroer t.t).

(9)

kebanyakan adalah 18-25 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa angka generasi Z memenuhi separuh dari populasi Indonesia yang menggunakan internet. Sisanya generasi Y 33,8 persen dan Z sebanyak 17 persen. Sehingga yang perlu dicermati adalah usia generasi X, Y, Z antara CNN Indonesia (2015) berbeda dengan data yang digunakan WJ Schroer (t.t). Hal ini bergantung pada penetrasi TIK pada Indonesia yang tentunya jauh lebih lambat daripada negara produsen teknologi seperti Amerika Serikat.

Disparitas yang terjadi di Indonesia lebih detail dijelaskan oleh Presiden Jokowi (2016), yang menegaskan bahwa kesenjangan ekonomi di Indonesia adalah yang berkaitan dengan pola hidup digital yang saat ini masih bisa dinikmati oleh warga kota besar. Budaya instan, yang mana bisa dijangkau melalui hadirnya internet memungkinkan setiap orang untuk memesan produk barang, makanan, dan juga jasa secara cepat dan tanpa ada halangan waktu dan tempat yang berarti. Sedangkan jika diarahkan ke konteks hasil pertanian, perkebunan dan peternakan di desa, misalnya, Indonesia masih tertinggal jauh untuk menutup celah adanya kesenjangan tersebut (PresidenRI.go.id 2016). Pemerintah dalam hal ini sebagai stakeholder kunci dalam persoalan kesenjangan digital di negara bertindak melalui Kemenkominfo. Sasaran utama yang menjadi fokus dari program yang hendak dirumuskan ini adalah masyarakat kecil dan pinggiran dan juga UMKM yang sedang mengembangkan startup bisnisnya. Sejalan dengan itu infrastruktur raksasa teknologi harus dibangun untuk menunjang kebutuhan besar yang diperlukan untuk kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari yang menopang lebih dari 237 juta penduduk. Hal ini hanya dapat dituntaskan dengan pembangunan megaproyek infrastruktur kabel serat optik yang disebut sebagai Palapa Ring.

Sebagai negara di ASEAN yang menyumbang GDP terbesar dan tantangan alamiah berupa jumlah penduduk yang paling padat di kawasan Asia Tenggara, akan menjadi kontradiktif ketika Indonesia belum mampu mewujudkan infrastruktur yang dapat mengurangi kesenjangan digital. Untuk itu pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi menggagas pengembangan proyek Palapa Ring yang berakar dari proyek sebelumnya yakni Nusantara 12 yang digagas dari tahun 1990 (CNN Indonesia 2016). Rudiantara sendiri mengibaratkan bahwa Palapa Ring adalah bentuk Tol Informasi, sebagaimana proyek lain yang digagas pemerintah yakni Tol Laut yang menghubungkan arus logistik barang dan jasa (OkezoneTechno 2016). Proyek ini akan menghubungkan 514 kabupaten/kota dalam broadband yang difasilitasi kabel serat optik. Target yang akan dicapai adalah menyamakan kecepatan internet pada kawasan barat dengan kawasan timur yang saat ini masih terjadi kesenjangan kecepatan antar keduanya pada tahun 2019. Kecepatan di Jakarta 7 megabit per detik, sementara di area timur hanya 300 kilobit per detik atau 20 kali lipat lebih lelet, serta harganya yang 1,65 kali lebih mahal (CNN Indonesia 2016; OkezoneTechno 2016). Tujuan lain yang akan dicapai, menurut Rudiantara (dalam CNN Indonesia 2016c) adalah: (1) Cakupan internet, nantinya akan menghilangkan kesenjangan antara timur dengan barat atau daerah Jawa dengan di luar Jawa; dan (2) Daya beli masyarakat relatif meningkat. Karena sebagai penyedia broadband dan nanti aplikasinya akan bermunculan variasinya.

(10)

Januari 2014 pernah mengatakan: "Tweeps Budiman, memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?...:D *MauTauBanget*" (Kompas.com 2014). Proyek ini juga menjawab keraguan pemerintahan sebelumnya bahwa dengan APBN yang terbatas pemerintah tidak mampu memfasilitasi pembangunan koneksi broadband yang menelan triliunan rupiah. Konsorsium antara pemerintah dan swasta dibentuk untuk mendanai penuh proyek yang akan memperlancar arus informasi dan menyeimbangkan kesenjangan digital yang terbentuk antara kawasan Indonesia di bagian barat dengan Indonesia timur. Hal ini juga disertai dengan kecenderungan pemerintah saat ini yang memberikan kabar secara transparan pada masyarakat terkait dengan progres perkembangan Palapa Ring yang selalu terbarukan dengan cakupan media.

Selain itu proyek Palapa Ring juga menjadi kontradiksi dari proyek pemerintah di era SBY terkait dengan BP3TI Kemenkominfo yang bermasalah. Ada 9 proyek yang kemudian mengandung dugaan tindak pidana korupsi, antara lain: (1) Proyek NIX (Nusantara Internet Exchange); (2) Proyek PLIK (Penyedia Layanan Internet Kecamatan); (3) Proyek MPLIK (Mobil Penyedia Layanan Internet Kecamatan); (4) Proyek SIMMLIK (Sistem Informasi Monitoring dan Manajemen Layanan Internet Kecamatan); (5) Proyek Penyediaan Jasa Akses Telekomunikasi Dan Informatika Perdesaan (Up grading Desa Pintar); (6) Proyek Penyediaan International Internet Exchange (IIX); (7) Proyek Penyediaan Jasa Akses Telekomunikasi dan Informatika Di Daerah Perbatasan dan Pulau Terluar (TELINFO-TUNTAS) (Inilahcom 2016). Dengan suksesnya pembangunan jaringan serat optik bawah laut dalam tiga paket berupa barat, tengah dan timur ini maka infrastruktur untuk menunjang aktivitas perekonomian masyarakat Indonesia dapat segera dibuat dan ditunjang melalui Palapa Ring. Dengan demikian kesenjangan digital dapat dijembatani.

(11)

Sumber: https://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1383158/big/083088800_1477296304-apjii.jpg (Diakses pada 26 Desember 2016).

(12)

menegaskan bahwa dengan beralihnya proyek ini ke tangan pemerintah maka ada jaminan jaringan telekomunikasi itu dinikmati semua kalangan hingga pinggiran (Kompas.com 2016).

Palapa Ring terdiri atas tiga segmen utama pembangunan, yang meliputi: (1) Palapa Ring Barat, (2) Palapa Ring Tengah, dan (3) Palapa Ring Timur. Palapa Ring Paket Barat yang dimulai pembangunannya pada September 2016 meliputi wilayah Sumatera, Jawa Barat, dan Pontianak yang kemudian digaris bawahi karena menghubungkan Riau dan Kepulauan Riau sampai Pulau Natuna sepanjang 2.000 kilometer. Pada 29 Februari 2016, perjanjian Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan Konsorsium PT Moratelematika Indonesia dan PT Ketrosden Triasmitra sebagai pemenang tender paket barat yang membentuk PT Palapa Ring Barat untuk proyek Palapa Ring Paket Barat. Secara rinci, proyek ini dikerjakan dengan komposisi PT Moratelematika Indonesia sebesar 90 persen dan PT Ketrosden Triasmitra 10 persen. Total pengeluaran pemerintah untuk paket barat senilai Rp 1,28 triliun Yang mana Rp875 miliarnya merupakan pinjaman dari Bank Mandiri (Tempo.co, 2016a; CNN Indonesia 2016b).

Sedangkan dengan nilai proyek yang sama, yakni 1,28 triliun Palapa Ring Tengah didanai oleh Kementerian Keuangan sebesar Rp975 miliar dan dimulai pembangunannya pada bulan November 2016 (Kompas.com, 2016). Palapa Ring Paket Tengah menggelar kabel serat optik sepanjang 2.647 kilometer yang menjangkau Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara sampai dengan Kepulauan Sangihe-Talaud (CNN Indonesia, 2016b; Tempo.co, 2016b). Proyek ini dipegang oleh Konsorsium Pandawa Lima yang dipimpin LT LEN Telekomunikasi Indonesia sebesar 51 persen saham di badan usaha pelaksana, dan anggota lain adalah PT Teknologi Riset Global Investama (TRG) yang mengusai 34 persen, PT Sufia Technologies 5 persen, PT Bina Nusantara Perkasa (BNP) 5 persen, dan PT Multi Kontrol Nusantara sebesar 5 persen (CNN Indonesia, 2016a). Sedangkan PT LEN Telekomunikasi Indonesia menunjuk PT Indonesia Infrastruktur Finance (IIF) sebagai pihak yang mengatur dan mencarikan pendanaan sindikasi (mandated lead arranger) untuk pembangunan proyek Paket Tengah. Dari sekitar Rp1 triliun total dana yang dibutuhkan untuk merampungkan proyek Paket Tengah, 80 persennya (Rp790 miliar) akan dicarikan oleh IIF (CNN Indonesia 2016a).

(13)

progres yang telah dijalankan oleh kedua pihak sehingga harus menepati kontrak perjanjian yang telah dibuat oleh Konsorsium Pemerintah dengan swasta di bawah Menkominfo Rudiantara. Peta lengkap yang diberikan Kemenkominfo berupa persebaran kabel serat optik dan jangkauannya dapat disimak pada Gambar 4 di bawah ini.

Gambar 4: Peta Proyek Palapa Ring dengan Panjang Jaringan Total Mencapai 6926 km dari Sabang sampai Merauke.

Sumber: https://beritabangka.com/wp-content/uploads/2016/06/Peta-baru-Palapa-ring-rev-12.jpg (Diakses pada 30 Desember 2016).

Untuk menjembatani kesenjangan digital, Peters (2002) mengatakan bahwa ada variabel-variabel yang harus dipenuhi pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut. Yang pertama adalah infrastruktur TIK yang terdiri atas kebijakan yang berdampak mendasar pada perkembangan hajat hidup masyarakat. Yang kedua adalah kepercayaan yang nantinya akan didapatkan oleh pihak bisnis, pemerintah, dan konsumen melalui TIK dan transaksi daring yang menjunjung tinggi nilai-nilai intelektual, keamanan, dan privasi. Yang ketiga adalah Capacity Building, yakni kebijakan untuk kapasitas niscaya untuk penggunaan TIK melalui pendidikan formal. Yang keempat adalah kebijakan perpajakan dan dagang termasuk perpotongan negara. Yang kelima adalah kebijakan yang berpihak pada lapangan pekerjaan dan juga buruh. Yang keenam adalah difusi teknologi, yakni distribusi jasa informasi elektronik seperti e-government, telemedicine, e-learning, dan e-commerce. Dan yang terakhir adalah peran utama otoritas pemerintah sebagai penyelenggara demokrasi, transparansi, independensi peradilan dan peraturan pemerintah (Peters 2002).

(14)

ranah e-commerce. Dan tentunya infrastruktur yang memadai akan didukung ketersediaan perangkat melalui penetrasi pasar perangkat telekomunikasi yang telah disebutkan pada awal tulisan ini. Dan yang terakhir, menjadi evaluasi dan pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mengedukasi masyarakat dalam mewujudkan internet yang ramah pada anak dan kontennya dapat dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari mempromosikan penggunaan TIK untuk tujuan yang lebih produktif. Pemblokiran situs dan penyaringan konten menjadi pilihan utama, di samping mengedukasi masyarakat untuk berdisiplin dalam menggunakan internet. Hal ini juga erat kaitannya dengan variabel interoperabilitas dan interkonektivitas, yang merupakan ada dua aspek utama yang disebutkan oleh Chomprang (2015, 16). Yakni dengan hadirnya Palapa Ring ini tentu akan memperkuat dari aspek infrastruktur atau prasarana sebagai pendukung interkonektivitas sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa proyek Palapa Ring ini masih berjalan. Sedangkan interoperabilitas didukung melalui kompatibilitas antar perangkat atau sarana (Chomprang 2015, 18). Dari aspek sarana, masyarakat telah selangkah lebih maju dengan bervariasinya produk-produk teknologi di Indonesia. Penetrasi pasar yang besar akan produk-produk seperti komputer pribadi, laptop, ponsel pintar, dan alat lainnya merupakan tanda bahwa hampir di setiap daerah sudah dapat dijangkau.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kesenjangan digital di Indonesia dapat terselesaikan dengan adanya proyek Palapa Ring. Proyek yang diselesaikan pada 2019 ini berdampak pada pembentukan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat ekonomi digital sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Chomprang (2015, 16) dalam presentasinya. Hal ini menjadikan masyarakat Indonesia menjadi semakin kompetitif di era globalisasi, keterbukaan informasi, sekaligus perdagangan bebas ini. Dengan dicanangkannya proyek ini, maka pemerintah dapat menekan angka kesenjangan digital secara merata melalui Palapa Ring Barat, Tengah, dan Timur. Hal ini dibuktikan dengan data yang menyebutkan bahwa kemudian efektivitas penggunaan internet berdampak pada pasar dan kegiatan ekonomi masyarakat dari kawasan metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, Palembang, Makassar, dan lain-lainnya hingga ke pinggiran seperti Kupang, Wamena, Motaain, Entikong, Tarakan, dan Natuna. Dari variabel yang diberikan WJ Schroer (t.t) berupa generasi X-Y-Z, Indonesia dalam porsi yang seimbang antara generasi Z:X+Y. Hal ini menjadikan Indonesia semakin khas dengan semakin menutupnya kesenjangan antara generasi Z yang dilahirkan dan generasi X+Y yang masih hidup. Dengan asumsi bahwa generasi Z yang saat ini berumur 18-25 tahun mampu secara proaktif mengajarkan pada generasi yang lebih tua untuk beradaptasi dengan keunggulan teknologi di era kontemporer.

(15)

pengguna dari internet. Namun belum sepadan dengan cakupan pasar yang seharusnya mendapatkan cakupan jauh lebih luas lagi (2006, 18). Di akhir, Menkominfo Rudiantara memberikan kesimpulan bahwa target yang akan dicapai setelah disparitas antara kawasan barat dan timur dapat ditekan adalah selisih harga dengan perbandingan 1:1,1. Sehingga 10% adalah selisih harga yang masuk akal setelah melihat perkembangan pesat kecepatan dan jangkauan internet di balik pembangunan Palapa Ring ini (DetikInet 2015; Merdeka.com 2015). Sehingga tarif yang semulanya rata-rata perbandingannya 65% lebih mahal di kawasan Timur dibandingkan Barat dapat sirna berkat proyek Palapa Ring.

Opini penulis mengatakan bahwa Kesenjangan Digital di Asia Tenggara dapat diimbangi dengan proyek Palapa Ring Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari segi akses masyarakat pada internet dan ketersediaan TIK sebagai penunjang ekonomi masyarakat. Program negara tetangga Singapura dan Malaysia yang mampu memberikan akses internet cepat hingga level pedesaan seharusnya semakin menumbuhkan rasa kompetisi Indonesia terhadap dua negara tersebut untuk membuat program yang jauh lebih merata dan menyeluruh melalui proyek jaringan kabel serat optik ini. Seyogianya juga seharusnya menjadi dorongan kuat bagi Indonesia untuk selangkah terdepan dalam menumbuhkan industri IT untuk melengkapi variabel interoperabilitas yang disokong dengan hadirnya sarana komunikasi dalam negeri. Tentu disertai dengan inisiatif pemerintah untuk berpihak pada usaha mikro, kecil, dan menengah untuk selalu mengembangkan usaha melalui beragam aplikasi daring untuk mempermudah transaksi sebagaimana daya kompetitif masyarakat semakin meningkat di tengah-tengah hadirnya pelbagai free trade area pada Masyarakat Ekonomi ASEAN. Maka ke depannya masyarakat Indonesia mampu secara mandiri untuk mengembangkan ekonomi digital, dengan menginisiasi bisnis start-up yang berbasis kewirausahaan dan TIK yang didukung melalui platform Palapa Ring. Persaingan negara semakin terbuka, tidak hanya antar negara namun juga melibatkan individu di dalam negara.

(16)

Daftar Pustaka:

Chinn, Menzie D. & Robert W. Fairlie. 2004. The Determinants of The Global Digital Divide: A Cross-Country Analysis of Computer And Internet Penetration. Center Discussion Paper No. 881 Yale University.

Chomprang, Duangthip. 2015. Unleashing the Potential of the Internet for ASEAN Economies. Presentasi dalam GSMA-ITU Digital Society. Bangkok, 25 Juni 2015. Internet Society Asia‐Pacific. [PDF]. CNN Indonesia. 27 Maret 2015. “Demografi Pengguna Internet Indonesia” dalam Infografis. [Online].

Tersedia dalam: https://kominfo.go.id/content/detail/4286/pengguna-internet-indonesia-nomor-enam-dunia/0/sorotan_media [Diakses pada 30 Desember 2016].

CNN Indonesia. 25 Juli 2016. “Palapa Ring Barat Dapat Kredit Rp875 Miliar dari Bank Mandiri”, dalam

Berita Telekomunikasi. [Online]. Tersedia dalam:

http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160725163236-213-146914/palapa-ring-barat-dapat-kredit-rp875-miliar-dari-bank-mandiri/ [Diakses pada 26 Desember 2016].

CNN Indonesia. 29 September 2016. “Proyek Palapa Ring Mulai Beroperasi Awal 2019”, dalam Berita

Telekomunikasi. [Online]. Tersedia dalam:

http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160928113318-213-161739/proyek-palapa-ring-mulai-beroperasi-awal-2019/ [Diakses pada 30 Desember 2016].

CNN Indonesia. 29 September 2016. “Menkominfo: 2019, Palapa Ring Bisa Beroperasi”, dalam Berita

Telekomunikasi. [Online]. Tersedia dalam:

http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160229145846-213-114290/menkominfo-2019-palapa-ring-bisa-beroperasi/ [Diakses pada 30 Desember 2016].

DetikInet. 18 September 2015. “Palapa Ring Bisa Bikin Tarif Internet Turun Drastis”, dalam

Telecommunication. [Online]. Tersedia dalam: http://inet.detik.com/telecommunication/d-3022522/palapa-ring-bisa-bikin-tarif-internet-turun-drastis [Diakses pada 1 Januari 2017].

Dewan, S., Ganley, D., and Kraemer, K.L. 2005. "Across the Digital Divide: A Cross-Country Multi-Technology Analysis of the Determinants of It Penetration," Journal of the Association for Information Systems (6:12), pp 409-432.

Inilahcom. 29 April 2016. “Rudi Akui Ada Proyek Bermasalah di Kementeriannya”, dalam Nasional. [Online]. Tersedia dalam: http://nasional.inilah.com/read/detail/2291973/rudi-akui-ada-proyek-bermasalah-di-kementeriannya [Diakses pada 30 Desember 2016].

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). 2014. “Pengguna Internet Indonesia Nomor Enam Dunia”, dalam Sorotan Media. [Online]. Tersedia dalam:

https://kominfo.go.id/content/detail/4286/pengguna-internet-indonesia-nomor-enam-dunia/0/sorotan_media [Diakses pada 26 Desember 2016].

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). 2014. “Satu Indonesia Lewat Palapa Ring”,

(17)

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/8084/satu-indonesia-lewat-palapa-ring/0/rilis_media_gpr [Diakses pada 30 Desember 2016].

Kompas.com. 20 April, 2015. “Kabel Bawah Laut Putus, Koneksi Internet di Papua Terganggu”, dalam

Regional. [Online]. Tersedia dalam:

http://regional.kompas.com/read/2015/04/21/00154881/Kabel.Bawah.Laut.Putus.Koneksi.Internet.di. Papua.Terganggu [Diakses pada 26 Desember 2016].

Kompas.com. 29 Agustus 2016. “Dapat Pendanaan Rp 975 Miliar, Palapa Ring Tengah Mulai Digarap

November 2016”, dalam Tekno. [Online]. Tersedia dalam:

http://tekno.kompas.com/read/2016/08/29/18190817/dapat.pendanaan.rp.975.miliar.palapa.ring.tenga h.mulai.digarap.november.2016 [Diakses pada 6 Desember 2016].

Kompas.com. 30 Agustus 2016. “Ini Alasan Pemerintah Bangun Palapa Ring”, dalam Tekno. [Online].

Tersedia dalam:

http://tekno.kompas.com/read/2016/08/30/11410017/Ini.Alasan.Pemerintah.Bangun.Palapa.Ring [Diakses pada 23 Desember 2016].

Kompas.com. 3 September, 2016. “Di Indonesia, Jumlah Pengguna Line Pepet Facebook” dalam Business.

[Online]. Tersedia dalam:

http://tekno.kompas.com/read/2016/09/03/09490637/di.indonesia.jumlah.pengguna.line.pepet.facebo ok [Diakses pada 6 Desember 2016].

Kompas.com. 30 Januari 2014. “Menkominfo: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?”, dalam

Internet. [Online]. Tersedia dalam:

http://tekno.kompas.com/read/2014/01/30/1512510/Menkominfo.Kalau.Internetnya.Cepat.Mau.Dipa kai.buat.Apa [Diakses pada 30 Desember 2016].

Liputan6.com. 24 Oktober 2016. Apa yang Dilakukan Orang Indonesia Saat Akses Internet?”, dalam

Internet. [Online]. Tersedia dalam: http://tekno.liputan6.com/read/2634034/apa-yang-dilakukan-orang-indonesia-saat-akses-internet [Diakses pada 26 Desember 2016].

Merdeka.com. 18 September 2015. “Ini dampak jika Palapa Ring selesai dibangun”, dalam Teknologi. [Online]. Tersedia dalam: https://www.merdeka.com/teknologi/ini-dampak-jika-palapa-ring-selesai-dibangun.html [Diakses pada 1 Januari 2017].

OkezoneTechno. 29 September 2016. “Palapa Ring Timur Siap Sapa Internet 'Lelet' di Papua”, dalam Telco. [Online]. Tersedia dalam: http://techno.okezone.com/read/2016/09/29/54/1502299/palapa-ring-timur-siap-sapa-internet-lelet-di-papua [Diakses pada 30 Desember 2016].

PresidenRI.go.id. 30 September, 2016. Pemerintah Berkomitmen Hapus Kesenjangan Digital di Indonesia [Online]. Tersedia dalam: http://presidenri.go.id/kabar-presiden/kegiatan-kepresidenan/pemerintah-berkomitmen-hapus-kesenjangan-digital-di-indonesia.html [Diakses pada 23 Desember 2016]. Puspitasari, Lia & Kenichi Ishii. 2015. Digital divides and mobile Internet in Indonesia: Impact of

(18)

Rahman, Arief & Mohammed Quaddus. 2012. Qualitative Investigation of Digital Divide in Indonesia: Toward a Comprehensive Framework. Curtin Graduate School of Business.

Sparks, Colin, 2013. “What is Digital Divide and Why is it Important?,” Journal of the European Institute for Communication and Culture, 20 (2): 27-46.

Sharma, Ravi & Intan Azura Mokhtar. 2006. Bridging the Digital Divide in Asia: Challenges and Solutions. International Journal of Technology, Knowledge and Society, Volume 1, Number 3, 2005/2006. Tempo.co. 8 Agustus 2016. “Palapa Ring Barat Ditargetkan Mulai Dibangun September”, dalam Bisnis.

[Online]. Tersedia dalam: https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/08/08/090794065/palapa-ring-barat-ditargetkan-mulai-dibangun-september [Diakses pada 23 Desember 2016].

Tempo.co. 22 November 2016. “Di Morotai, Pembangunan Palapa Ring Paket Tengah Dimulai”, dalam

Bisnis. [Online]. Tersedia dalam: https://m.tempo.co/read/news/2016/11/22/090822317/di-morotai-pembangunan-palapa-ring-paket-tengah-dimulai [Diakses pada 1 Januari 2017].

Tribunnews.com. 4 Mei, 2015. “Koneksi Internet di Jayapura dan Beberapa Kabupaten Normal Kembali”,

dalam Indonesia Timur. [Online]. Tersedia dalam:

http://www.tribunnews.com/regional/2015/05/04/koneksi-internet-di-jayapura-dan-beberapa-kabupaten-normal-kembali [Diakses pada 23 Desember 2016].

Peters, T. (ed.). 2002. Spanning the Digital Divide – understanding and tackling the issues, a report by bridges.org, [Online]. Tersedia dalam: http://www.bridges.org [Diakses pada 1 Januari 2017].

Quibra, M., Ahmed, S.N., Tschang, T., and Reyes-Macasaquit, M.-L. 2003. "Digital Divide: Determinants and Policies with Special Reference to Asia," Journal of Asian Economics (13), pp 811-825.

UN. 2005. "Global E-Government Readiness Report 2005: From E-Government to E-Inclusion," United Nations, New York.

WJ Schroer. t.t. “Generations X,Y, Z and the Others” dalam Archives. [Online]. Tersedia dalam: http://socialmarketing.org/archives/generations-xy-z-and-the-others/ [Diakses pada 31 Desember 2016].

Wolff, Laurence & Soledad MacKinnon. 2002. “What is The Digital Divide?”, dalam Frontline.

TechKnowLogia, July - September 2002. Knowledge Enterprise, Inc. h. 7-9.

World Economic Forum. 2016. Networked Readiness Index, dalam Global Information Technology Report 2016. [Online]. Tersedia dalam: http://reports.weforum.org/global-information-technology-report-2016/networked-readiness-index/ [Diakses pada 23 Desember 2016].

Gambar

Gambar 1: Demografi Pengguna Internet di Indonesia pada 2014.
Tabel 2: Suplai bandwith Internasional memengaruhi harga grosir dan cakupan nasional sebagai variabel interoperabilitas dan
Tabel 3 juga mendukung adanya tabel 2, yang menyatakan bahwa Indonesia masih berada pada
Gambar 4: Peta Proyek Palapa Ring dengan Panjang Jaringan Total Mencapai 6926 km dari Sabang sampai Merauke.

Referensi

Dokumen terkait

R  epresentasi perempuan dalam Film Cinderella Story antara lain Perempuang dianggap lemah, dimana Cinderella digambarkan sebagai perempuan yang lemah, ketika mendapatkan

Persiapan bagi Presbiter yang akan melayani pada Ibadah Hari Minggu, tanggal 17 Desember 2017 dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 12 Desember 2017 pukul 20.00

Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi Rokhmah yang menunjukkan mayoritas ODHA memiliki sikap yang positif terhadap HIV/AIDS dan

Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan itu meliputi seluruh aspek

PENGUATAN NILAI Dengan diterakanna nilai AN=KA enilaian dilakukan dengan adil maka 'asil e5aluasi akan 5alid* meningkatkan objekti5itas sesuai dengan nilai dasar organisasi.

Di bidang pencegahan agar seseorang tidak jatuh dalam keadaan stres, cemas, dan atau depresi maka sebaiknya kekebalan yang bersangkutan perlu ditingkatkan agar mampu

Kesulitan dalam pelaksanaan praktikum yaitu saat mencari embrio dengan ukuran yang sangat kecil dan hampir tidak bisa dilihat kalau kita tidak mengamatinya secara teliti,

Penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan yang dilakukan pada BMT Mentari Kota Gajahdan merupakan penelitian deskriftif kualitatif yang bertujuan untuk