Nama : Yason Resyiworo Hyangputra Asal : STT Jakarta
Teologi Mesianik dan Reformasi Sosial :
Koperasi Sebagai Sistem Ekonomi Umat dalam Menanti Penggenapan Kerajaan Allah
Selama ini konsep mesianik dianggap tunggal dan penekanannya cenderung pada dimensi spiritual dan personal semata. Sementara itu, konsep mesianik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, sebetulnya beragam dan tidak tunggal dan banyak diantara konsep-konsep tersebut yang justru menekankan baik dimensi personal dan spiritual maupun dimensi material dan sosial yang mengangkat tema perubahan sosial yang dibawa oleh sang mesias dan sebuah semangat yaitu keberpihakan kepada orang miskin (terutama dalam Injil Lukas). Makalah ini akan memusatkan perhatian pada konsep mesianik dalam Perjanjian Lama dan dalam Injil Lukas.
Kemiskinan adalah salah satu tema yang menjadi sasaran pembaruan oleh konsep mesianik tersebut. Tema kemiskinan tidak hanya terbatas dalam Alkitab pada masanya dan di Timur Tengah tetapi tetap relevan hingga saat ini di Indonesia. Sang Mesias menjadi corong suara kenabian terhadap keadaan buruk pada masanya (cth: kemiskinan) agar terjadi perubahan menuju keadaan ideal yang perlu diwujudkan (kesejahteraan bersama). Saya melihat konsep mesias pada masa sekarang ini, tidak bisa lagi hanya dimaknai sebagai seseorang/person tetapi sebagai sebuah sistem yang membawa perubahan sosial dan dalam konteks ini sistem ekonomi. Saya melihat perlunya sebuah sistem ekonomi yang menjadi sebuah sistem yang membawa perubahan atau reformasi sosial dalam bidang ekonomi di Indonesia. Sistem ekonomi tersebut adalah sistem ekonomi koperasi yang mempertemukan dan menjembatani antara orang kaya dengan orang miskin, dalam semangat solidaritas untuk kesejahteraan bersama.
Kata Kunci : Mesias, Mesianik, Ekonomi, Koperasi, Kemiskinan, Kesejahteraan, Yesus
Konsep Mesianik dalam Perjanjian Lama
Menurut J.D.G Dunn, dalam tulisannya “Messianic Ideas and their influence on Jesus of History” yang terdapat dalam buku J.H. Charlesworth (ed.), The Messiah, sebagaimana dikutip Riyadi, beberapa gagasan mesianik yang bisa disebut antara lain gagasan mesianik rajawi, gagasan mesianik imami, gagasan mesianik kenabian. Mereka yang memegang gagasan mesianik rajawi, mengharapkan figur seorang raja dari keluarga Daud. Dasar kokoh bagi pengharapan akan seorang Mesias rajawi ini adalah janji Allah kepada Daud sehingga Mesias rajawi itu disebut anak Daud atau anak Allah (2 Sam. 7:12-14), tunas rajawi (Yer. 23:5; 33:15), pangeran Daud (Yeh. 34:24; 37:25) dan teks-teks lainnya di Perjanjian Lama yang dihubungkan dengan figur Mesias rajawi (2 Raj. 7, Mzm. 2, 110, Yes. 9:1-6). Pada zaman Yesus, kebanyakan orang Yahudi (tidak semua) menantikan kedatangan figur Mesias rajawi yang datang dari keluarga Daud yang akan memerintah atas mereka untuk selama-lamanya (membebaskan mereka dari tirani penjajahan romawi). Gagasan ini bukan tanpa kritik sebab periode Bait Allah Kedua bukan lagi periode monarki raja-raja tetapi pemimpin masyarakat Yahudi adalah Imam Agung di Bait Allah yang dibantu oleh para imam dan ahli taurat (Riyadi 2011, 34-35). Gagasan ini paling tidak menunjukkan bahwa ada dimensi sosial dan material, semangat untuk lepas dari penindasan penjajah romawi.
Selain figur Mesias rajawi, juga terdapat pengharapan akan seorang Mesias Imami, Gagasan ini tidak asing dalam tradisi Israel karena dalam Perjanjian Lama, juga dikatakan bahwa para imam diurapi untuk melaksanakan fungsi imaminya (Im. 4:3,5,16). Mesias imami ini kadang ditempatkan di atas Mesias rajawi atau juga disatukan dengannya. Dalam pemberontakan Yahudi yang kedua, imam Eleazar bersatu dengan Bar Kokhba dan
peraturan Melkisedek (Riyadi 2011, 40). Lagi-lagi gagasan ini juga menunjukkan kepada kita bahwa dalam Perjanjian Lama terdapat dimensi material dan sosial dari konsep mesianik.
Selain Mesias raja dan Mesias imam, ada kelompok tertentu juga yang menantikan datangnya Mesias nabi. Beberapa teks Perjanjian Lama juga menyebut seorang nabi yang juga diurapi Allah (1 Raj. 19:16; Yes. 61:1-2; Yoel 3:1). Gambaran akan figur nabi muncul terutama dari kalangan rakyat kebanyakan dan nabi-nabi ini menyampaikan warta tentang pengadilan atau juga pembebasan oleh Allah. Ada begitu banyak figur yang dikaitkan dengan Mesias nabi a.l. Elia (Mal. 4:5), Musa (Ul. 18:15-18) dan lainnya (Riyadi 2011, 36). Menjadi catatan tersendiri, bahwa Perjanjian Baru, nampaknya banyak menampilkan sisi-sisi kenabian yang dijalankan oleh Yesus dalam hidup dan perutusan-Nya. Sebelum
memulai karya publik-Nya, Yesus mengacu perutusan-Nya kepada teks Yesaya 61:1-2, yang muncul dalam ucapan bahagia (Mat. 5:3; Luk. 6:20) dan dalam jawaban Yesus kepada para utusan Yohanes Pembaptis (Mat. 11:5; Luk. 7:22). Yes. 61 sendiri berbicara tentang utusan Tuhan yang diurapi oleh-Nya untuk membawa kabar baik kepada yang sengsara,
memberitakan pembebasan kepada tawanan, memberitakan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah atau dengan kata lain tugas dan perutusan seorang nabi Allah. Yesus sendiri ketika ditolak oleh orang-orang Nazaret mengatakan bahwa “seorang nabi
dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri…” (Mrk. 6:4; Yoh. 4:44). Yesus sendiri menyadari bahwa nasib seorang nabi dalam sejarah Israel adalah penderitaan hingga kematian sebagai konsekuensi warta pembebasan yang dibawa oleh-Nya dari Allah (Riyadi 2011, 44). Gagasan ini juga menunjukkan kepada kita, bahwa nabi bersuara
(menyuarakan suara Allah) ketika melihat struktur sosial (ada dimensi sosial dan material) yang tidak adil pada masanya.
Telah kita lihat keragaman konsep mesianik dalam Perjanjian Lama, yang
sejarah manusia. Hal yang menarik dilihat bahwa dalam konsep-konsep tersebut terdapat penekanan dimensi material dan sosial (tanpa mengabaikan dimensi spiritual dan personal bahwa Allah bertindak dalam sejarah manusia melalui sang Mesias). Hal itu bermuara dalam satu semangat yaitu Allah yang berpihak kepada orang miskin (sebagai simbol dari penindasan manusia oleh manusia lainnya).
Perlu dicatat bahwa kata חח ישששממ (Māšîa )ḥ yang digunakan dalam Perjanjian Lama adalah “yang terurapi”, bukan sosok yang diharapkan kedatangannya di masa depan, yang kedatangannya akan menandai dimulainya sebuah zaman keselamatan. Mesias dalam Perjanjian Lama senyatanya telah diurapi dengan minyak untuk sebuah fungsi tertentu, entah sebagai raja atau imam (atau nabi). Hampir semua kata חח ישששממ (Māšîa )ḥ yang digunakan dalam Perjanjian Lama diterapkan pada seorang raja yang menunjukkan
kedekatan antara Allah dan raja Israel yang dipilih dan diangkat-Nya. Raja-raja (atau imam, atau nabi) itu adalah orang yang saat itu (bukan di masa depan!) diurapi oleh Allah. Setelah pembuangan Babilonia, barulah orang-orang Israel mengharapkan tumbuhnya dinasti Daud yang dibarui. Dalam pengharapan ini, gelar חח ישששממ (Māšîa )ḥ semakin menjadi sebuah istilah teknis untuk menyebut seorang yang diutus Allah untuk memperbarui kemerdekaan dan keadilan Israel (Riyadi 2011, 106). Dengan demikian menjadi jelas dimensi sosial, duniawi dan kemendesakan dari Mesias itu sendiri dalam Perjanjian Lama.
Konsep Mesianik dalam Injil Lukas
berbeda dengan kristologi dalam surat-surat Paulus, maka saya memutuskan untuk membatasi pembahasan kristologi hanya dalam Injil Lukas yang memang jelas menunjukkan keberpihakan kepada orang miskin.
Gelar Kristus adalah satu dari gelar-gelar yang paling populer yang dimiliki oleh Yesus dalam Perjanjian Baru. Dalam keseluruhan Perjanjian Baru, gelar ini digunakan 531 kali. Gelar ini digunakan oleh keempat penulis Injil dengan nuansa dan tekanan yang berbeda sesuai dengan paham kristologi masing-masing penginjil dan juga dipengaruhi oleh situasi jemaat yang mereka hadapi (Riyadi 2011, 105). Dalam dunia Yunani, Χριστός, pada awalnya tidak memiliki nuansa religius apa-apa. Χριστός adalah sebuah partikel pasif yang dibentuk dari kata kerja χρίειν yang berarti mengurapi. Kata Χριστός bisa berarti diurapi atau juga dia yang terurapi. Pengurapan biasanya dilakukan dengan minyak. Kata Χριστός kemudian digunakan dalam Septuaginta (LXX) untuk menerjemahkan kata Ibrani חח ישששממ (Māšîa )ḥ yang juga berarti diurapi (Riyadi 2011, 106).
Fitzmyer, sebagaimana dikutip Riyadi, menegaskan bahwa penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul juga menggunakan gelar Kristus untuk menyebut Yesus. Meskipun bukan gelar yang paling sering digunakan tetapi gelar ini harus dimengerti sebagai yang paling penting dalam tulisan-tulisan Lukas. Ketika Lukas mulai menulis Injil dan Kisah Para Rasul, gelar Kristus sudah menjadi gelar par-exellence bagi Yesus dari Nazaret, bahkan sudah menjadi nama diri bagi-Nya. Dalam terang salib dan kebangkitan Yesus, nama “Kristus” itu yang awalnya sebuah gelar, berhenti berfungsi sebagai gelar, dan menjadi nama diri bagi Yesus (Riyadi 2011, 124).
Refleksi Kristologis yang secara khusus dikembangkan Lukas adalah identitas Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat. Ia adalah Kristus Tuhan (Luk. 2:10). Gagasan Kristologis Perjanjian Lama tentu saja memberi bahan refleksi bagi penulis Lukas tentang pemahaman akan Yesus sebagai penyelamat. Mesias memang diutus Allah untuk membarui kehidupan umat-Nya, untuk membawa mereka ke dalam keselamatan. Mesias itu membawa
keselamatan bagi bangsa Israel, keselamatan dari musuh dan dari bahaya yang mengancam mereka. Oleh Lukas, gelar Kristus juga digunakan untuk menyatakan Yesus sebagai Tuhan yang akan datang kembali membawa umat ke dalam kesatuan di dalam Kerajaan Allah di antara mereka. Dengan bergesernya gagasan kristologi praktis menjadi kristologi
Keselamatan itu tidak hanya keselamatan di dunia ini, tetapi juga keselamatan yang tidak akan berkesudahan (Riyadi 2011, 129).
Berkaitan dengan dimensi eskatologis, Lukas membagi sejarah penyelamatan Allah atas tiga masa, yaitu masa sebelum Yesus (masa hukum Taurat dan nabi-nabi), masa Yesus (sebagai pusat sejarah penyelamatan Allah) dan masa sesudah Yesus (masa Gereja dan Roh Kudus). Masa sebelum Yesus adalah masa Perjanjian Lama, di mana hukum Taurat
diberikan dan para nabi bernubuat. Sedangkan masa Yesus adalah masa di mana Kerajaan Allah mulai diberlakukan (Luk. 4:13). Pada masa ini pemerintahan Allah (mulai) dialami oleh orang-orang miskin, orang lemah, orang sakit, orang yang dirasuki setan, dan ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan masa Gereja dan Roh Kudus adalah masa pekabaran Injil (Kis. 1:8) dan juga penantian akan kedatangan Kristus kembali, masa penantian Kerajaan Allah digenapi secara sempurna oleh kedatangan Kristus kembali (Hakh 2010, 297).
Eskatologi Lukas adalah eskatologi telah-belum (already-not yet) dalam pengertian bahwa Mesias membawa pemerintahan Allah secara bertahap dan orang-orang percaya hidup di antara dua kedatangan Tuhan (yang sudah datang dan akan datang kembali), dengan ketentuan agar mereka melakukan kehendak Allah dalam masa penantian tersebut (keberpihakan kepada orang miskin, dll). Umat harus setia sampai harapan pembenaran, keadilan, dan perdamaian dari Allah digenapi (Bock & Kostenberger 2011, 404-405).
Berkaitan dengan keselamatan yang dibawa oleh Mesias, menurut Scheffler,
sebagaimana dikutip Bosch, orang dapat mengatakan bahwa bagi Lukas, keselamatan yang dibawa Mesias, sesungguhnya mempunyai enam dimensi : ekonomi, sosial, politik, fisik, psikologis, dan rohani. Pertobatan pribadi bukanlah tujuan akhir. Menurut Malherbe, sebagaimana dikutip Bosch, pertobatan tidak hanya berkaitan dengan tindakan keyakinan dan komitmen seseorang; ia memindahkan seorang percaya ke dalam paguyuban orang percaya dan menuntut suatu perubahan yang sungguh-sungguh, bahkan radikal, dalam kehidupan seorang percaya, yang membawa serta tanggung jawab moral yang
dikutip Bosch) dan memberikan paradigma yang revolusioner mengenai hubungan yang baru antara orang kaya dan orang miskin (Bosch 2015, 183).
Telah umum diketahui bahwa Lukas mempunyai perhatian yang khusus terhadap kaum miskin dan kelompok marjinal lainnya. Bahkan sejak Nyanyian Pujian Maria (Luk. 1:53) kita melihat bahwa “Allah melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa”. Perhatian Lukas kepada kaum miskin juga nampak dalam ucapan berbahagia kepada orang-orang miskin yang paralel dengan kecaman-kecaman terhadap orang kaya (Luk. 6:20, 24), perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk. 12: 16-21), kisah tentang orang kaya dan Lazarus (Luk. 16:19-31), dan perilaku yang patut diteladani dari Zakheus, kepala pemungut cukai di Yerikho (Luk. 19:1-10). Istilah ptokhos (orang miskin), muncul sepuluh kali dalam Lukas
dibandingkan lima kali dalam Markus dan Matius. Namun, Lukas telah menghilangkan acuan kepada orang miskin yang selalu ada di antara kita (Mrk. 14:7, Mat. 26:11, Yoh. 12:8), barangkali karena ucapan itu pada zamannya telah ditafsirkan bahwa, karena orang-orang miskin selalu ada di antara kita, kita tidak perlu melakukan apa-apa lagi tentang keadaan mereka. Kemiskinan terutama sekali adalah sebuah kategori sosial di dalam Lukas. Sebaliknya, istilah plousios (orang kaya), adalah istilah untuk mereka yang serakah, yang menghisap orang miskin, yang begitu sibuk mencari uang hingga mereka bahkan tidak punya waktu untuk menerima undangan untuk menghadiri perjamuan (Luk. 14:18), yang tidak memperhatikan Lazarus di gerbang mereka (Luk. 16:20), yang berperilaku hedonistis dan karena itu terhimpit oleh kekayaannya sendiri (Luk. 8:14) (Bosch 2015, 153-155).
Melalui Injil Lukas, Mesias seringkali menyuarakan perubahan sosial terkait relasi antara yang kaya dan yang miskin. Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat-ayat diatas yang terdapat dalam Lukas, penulis Lukas menunjukkan bahwa Mesias, memihak kepada orang miskin yang mengalami ketidakadilan, terutama dalam hal ekonomi. Umat, yang menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus, harus hidup dalam masa penantian dan mengisinya dengan melaksanakan perintahNya, antara lain keberpihakan kepada orang miskin.
ini). Konsep-konsep tersebut justru menunjukkan ada sebuah semangat yang sama yaitu perubahan yang dibawa oleh Mesias dan hal itu menekankan keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan oleh umatNya.
Koperasi sebagai sistem yang menjembatani jurang antara orang kaya dan orang miskin – sebuah sistem mesianik
Semangat konsep mesianik Perjanjian Lama yang menekankan dimensi sosial dan material serta kemendesakannya, dan juga konsep mesianik Injil Lukas dengan semangat keberpihakannya kepada orang miskin, menjadi inspirasi saya untuk mencoba membuat konsep sistem ekonomi koperasi. Kemiskinan merupakan masalah mendesak di Indonesia, sebagai negara dunia ketiga, yang menjadi calon negara Industri maju baru. Semangat individualisme, industrialisasi dan kapitalisme (dengan segala kelebihan dan
kekurangannya) membuat mereka yang mampu bersaing, yang kaya, yang punya akses terhadap kapital, bisa melesat jauh, meninggalkan mereka yang tidak punya akses terhadap kapital, yang tertindas, yang miskin. Ini membuat yang miskin semakin miskin sementara yang kaya menjadi semakin kaya. Hal tersebut tentu tidak sejalan dengan konsep mesianik menurut Perjanjian Lama maupun menurut Injil Lukas.
Sebagai tubuh Kristus, corpus Christi, baik secara organisasional maupun individual, tentu kita dituntut untuk memiliki kepekaan dalam melihat situasi ini. Sebagai umat Allah yang telah diselamatkan, sambil menanti kedatangan Kristus kembali, maka perlu ada suatu upaya agar kondisi ini diperbaiki (direformasi), sehingga secara mesianik Kerajaan Allah dinyatakan, melalui kesejahteraan bersama dalam upaya keberpihakan kepada orang miskin. Penggenapan Kerajaan Allah adalah situasi di mana kedaulatan Allah ditegakkan dan itu berarti dalam segi ekonomi adalah kesejahteraan bersama. Umat percaya, yang hidup dalam masa penantian akan penggenapannya, mengisinya dengan usaha yang mencerminkan keberpihakan kepada kaum miskin. Ini bukan usaha utopia semata, sebagaimana anggapan bahwa kemiskinan akan tetap ada, tetapi justru kesejahteraan bersama itu akan digenapi pada kedatangan Kristus kembali, sehingga dalam penantian akan penggenapan itu perlu adanya usaha manusia dan bukan suatu usaha yang bersifat utopia.
materi tidak perlu dikejar dan keselamatan itu personal sehingga orang menjurus kepada individualisme, bersaing masing-masing tanpa memperdulikan orang lain. Kecenderungan ini semakin membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Mereka yang miskin, dengan penekanan pada konsep mesianik yang spiritual dan personal, menjadi cenderung eskapis, melarikan diri pada kehidupan selanjutnya dan tidak mau berbuat banyak untuk memperjuangkan nasib mereka agar lepas dari kemiskinan. Sementara hal sebaliknya kita lihat dalam konsep mesianik material dan sosial dalam PL maupun dalam Lukas, bahwa keberpihakan kepada orang miskin harus diperjuangkan dan materi (dalam hal ini bidang ekonomi) menjadi pintu masuk untuk menyejahterakan umat bersama-sama dan menyeluruh.
Dengan dasar teologis konsep mesianik PL maupun Lukas, serta konteks kemiskinan di Indonesia, maka saya melihat gereja, sebagai tubuh Kristus dalam melaksanakan karya-Nya di Indonesia perlu dan mendesak untuk melihat koperasi sebagai sebuah solusi (katakanlah dalam aspek diakonia). Saya menyadari betul, bahwa ada kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan tersendiri dalam berbagai macam sistem ekonomi, baik itu kapitalisme (dengan segala kebaikan dan keburukannya) maupun sosialisme (dengan segala kebaikan dan keburukannya). Oleh karena itu, dalam makalah ini saya menghindari sikap menyerang kapitalisme maupun sosialisme secara membabi buta dan lebih memilih melihat keduanya secara teologis. Secara teologis kelemahan kedua sistem tersebut, meminjam pandangan Solagratia S. Lumy, keduanya tidak melihat peran faktor teologis. Keduanya menolak campur tangan atau intervensi faktor teologis sementara dalam sistem ekonomi Pancasila, justru faktor teologis itu mendapat peranan dengan adanya sila
pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kelima : keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan diatur juga dalam UUD 1945 Pasal 33 yang mengandung unsur-unsur esensial yaitu usaha bersama, asas kekeluargaan dan untuk rakyat banyak (Lumy 2000, 63-64). Solagratia S. Lumy sendiri membangun sebuah konsep Desa Koperasi/Desa Pancasila sebagaimana tercantum dalam bukunya yang berjudul deskripsi gagasan Desa Pancasila, Desa Koperasi, sebagai benih sistem ekonomi Pancasila: manifesto iman universal radiasi Pancasila.
bahwa nafas atau semangat UUD tersebut adalah Koperasi yang mengedepankan asas kekeluargaan. Asas kekeluargaan ini tentu jangan direduksi menjadi sebuah paham nepotisme, sebab bukan itu yang dimaksud. Kekuatan koperasi terletak pada sifat
persekutuannya yang berdasarkan tolong menolong serta tanggung jawab bersama. Bukan mengadakan permusuhan kepada pihak luar tapi mendidik orang agar sadar akan harga dirinya dan menanamkan rasa percaya diri, tidak lagi inferior dan eskapis, tidak lagi melarikan diri pada semboyan dan mengelakkan diri dari perjuangan ekonomi yang nyata (Hatta 1987, 3-7).
Menurut Bung Hatta, bagi kooperasi (ia sengaja memakai kooperasi dan bukan koperasi karena menekankan usaha bersama, kerjasama, kesukarelaan, dalam bentuk solidaritas) yang sangat diperlukan adalah rasa solidaritas, rasa setia kawan, rasa cinta kepada masyarakat. Kita tinggal menghidupkan rasa sosial (tenggang rasa, gotong royong dan musyawarah) yang telah ada pada masyarakat (suatu kooperasi sosial) yang perlu diwujudkan juga dalam kooperasi ekonomi (Hatta 1985, 222).
Alasan Bung Hatta mencetuskan koperasi adalah karena pada masanya ia melihat bahwa ekonomi yang atas dipegang oleh orang kulit putih sementara yang menengah dipegang oleh orang Cina, sehingga yang dipegang oleh orang Indonesia ialah yang kecil. Semua yang kecil itu tidak bisa menjadi kuat kalau berdiri sendiri-sendiri. Ia memulai dengan koperasi konsumsi tapi gagal karena orang Cina banting harga sehingga koperasi ini kalah bersaing karena tidak ada kesatuan juga di dalam praktiknya oleh
anggota-anggotanya sehingga kemudian ia beralih kepada koperasi simpan pinjam (Hatta1978, 95). Tentu yang kita lihat disini bukanlah permusuhan Hatta kepada orang Cina tetapi aspek sejarah yang membuat Hatta harus melihat keberpihakannya kepada orang miskin.
Dalam sistem ekonomi koperasi, tujuannya adalah memperbaiki nasib orang-orang yang lemah ekonominya dengan jalan kerja sama. Kerja sama adalah dasar koperasi
ekonomi, sebab itu solidaritas mesti ada pada koperasi (Hatta 1987, 158). Ini menurut saya sejalan dengan konsep mesianik dalam Injil Lukas dan juga Perjanjian Lama, yang
menekankan keberpihakan kepada orang miskin dan melihat dimensi sosial dan material dalam konsep mesianik yaitu seorang mesias yang juga membebaskan umatnya dari ketertindasan termasuk dalam bidang ekonomi.
jangan berpikir bahwa yang miskin itu akan senantiasa menikmati pertolongan itu begitu saja tetapi ia sendiri dengan bantuan koperasi memberdayakan dirinya karena ia sendiri mempunyai harga diri agar bisa sejahtera. Pada giliran lain, ia sendiri memilik tanggung jawab setelah sukses nanti agar menolong orang lain juga yang masih berada pada keadaan miskin.
Telah kita lihat bersama dasar-dasar teologis dari koperasi yang menurut saya sejalan dengan konsep mesianik PL maupun Injil Lukas. Saya melihat pada masa sekarang ini, gagasan mesianik tidak lagi bisa diandalkan kepada person atau individu, sebab biasanya ganti pejabat, pemimpin maka ganti kebijakan. Saya melihat sistem ekonomi koperasi perlu digalakkan kembali sebagai sebuah sistem mesianik dalam bidang ekonomi, yang tanpa kekhawatiran ganti pemimpin maka ganti kebijakan.
Perlu kita kemukakan juga salah satu kelemahan koperasi, yang menurut saya masih bisa diperbaiki dalam hal implementasinya nanti di lapangan. Sejauh saya mencermati koperasi, maka kelemahannya adalah seringkali koperasi simpan pinjam (salah satu bentuk koperasi) menyalurkan pinjamannya untuk kredit konsumsi. Hal ini tidak sejalan dengan semangat mula-mula berdirinya koperasi yaitu solidaritas untuk kesejahteraan bersama dengan semangat bahwa pinjaman disalurkan sebagai modal kerja, produksi dan bukan konsumsi.
Implikasi Ministerial
Tujuan Program :
- Memberikan pinjaman modal kerja bagi kalangan bawah anggota jemaat GKI Camar agar mereka bisa bekerja dan melakukan usaha/bisnis mereka, sesuai panggilan mereka.
- Mengajarkan kepada jemaat kalangan menengah dan atas, anggota jemaat GKI Camar agar mereka bisa menabung dan tidak boros dengan menyimpan uang mereka yang nantinya simpanan mereka juga disalurkan untuk anggota jemaat kalangan bawah GKI Camar dengan tujuan diakonia transformatif.
- Jemaat Kalangan menengah dan atas bertemu dan berelasi (memberi bantuan dana pelatihan, solusi semangat dan motivasi kepada kalangan bawah (agar berdaya guna, bekerja keras dan cerdas, memiliki kreativitas, memiliki harga diri dan berdaya juang) dalam menjalankan bisnisnya layaknya sahabat) dengan jemaat kalangan bawah, saling menopang dan aktif bersama menjalankan koperasi sebagai wujud relasi yang baru antara orang kaya dan miskin.
Road Map :
Menurut saya paling tidak ada 5 langkah untuk mendirikan Koperasi Simpan Pinjam GKI (Gerakan Karya Indonesia) Camar. Langkah tersebut adalah:
- Mengkonsultasikan dengan Majelis Jemaat GKI Camar (Penatua, dan Pendeta) mengenai ide ini, dasar dan landasan teologi yang menjadi acuan diadakan program ini, terutama berkoordinasi dengan bagian diakonia gereja.
- Melakukan penerangan dan penyuluhan kepada jemaat agar memperoleh pengertian dan kejelasan mengenai maksud dan tujuan mendirikan koperasi, termasuk struktur organisasi manajemen (siapa saja yang mengelola, anggota, dan tim audit internal) serta kegiatan usaha koperasi (Website Republik2016).
- Mengikuti prosedur pendirian Koperasi Simpan Pinjam, membuat akta pendirian, agar bisa berbadan hukum, sesuai dengan Undang-undang yang berlaku di negara ini.
- Setelah semua dokumen dan surat-surat pendirian lengkap, barulah koperasi ini bisa berjalan dan melakukan operasional. Dalam operasionalnya yang terpenting adalah rasa saling percaya, dan peminjam harus disurvei mengenai kesanggupannya membayar dan kredibilitasnya.
Cara mengevaluasi program itu:
Program ini bisa dievaluasi secara berkala baik semesteran atau tahunan. Akan tetapi saya menyarankan agar evaluasi program ini dilakukan pada semesteran sehingga kalau memang ada sesuatu yang salah bisa diperbaiki lebih cepat, dan tidak harus tunggu setahun. Cara mengevaluasi program ini bisa dengan diadakan audit internal atau
pemeriksaan internal oleh tim audit internal kepada manajemen koperasi mengenai
pelaksanaan SOP peminjaman dan penyimpanan uang di koperasi ini. Manajemen koperasi juga diharuskan membuat laporan terselenggaranya koperasi setiap tahunan, semesteran (kalau perlu bulanan). Pengelolaan dan evaluasi program ini dengan menggunakan PABU (Prinsip Akuntansi Berlaku Umum) dan sistem operasional manajemen koperasi
sebagaimana pada umumnya.
Perlu diingat bahwa koperasi gereja ini adalah sebuah model percontohan, sehingga setelah koperasi ini berjalan dan terbilang berhasil maka keanggotaannya perlu diperluas kepada masyarakat sekitar sehingga dengan demikian aspek publik dari diakonia gereja bisa terwujud. Untuk mencapai aspek publik tersebut tentu tidak bisa langsung dilakukan ketika koperasi ini pertama kali dibuka dengan berbagai macam alasan, sehingga upaya terbaik adalah dilakukan dulu dalam konsep terbatas pada warga gereja baru kemudian setelah berjalan dan dinilai berhasil maka keanggotaan diperluas pada warga masyarakat. Perluasan keanggotaan ini pun tentu bertahap, dan diperlukan sistem trial and error yang bisa mengevaluasi dan memperbaiki upaya perluasan keanggotaan koperasi kepada masyarakat sekitar.
Kesimpulan
mesianik Perjanjian Lama seperti mesianik rajawi, imami dan nabi, yang telah kita bahas menekankan kemendesakan dan juga harapan bahwa keselamatan itu tidak hanya nanti pada kehidupan mendatang, tetapi sekarang pada kehidupan di dunia ini. Selain itu, dalam konsep mesianik Injil Lukas, kita juga menemukan bahwa Lukas sangat menekankan keberpihakan kepada orang miskin sebagai konsekuensi dan sikap hidup umat percaya yang menantikan kedatangan Kristus kembali dalam konteks penggenapan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu telah datang sehingga kedaulatan Allah (keberpihakan kepada orang miskin) harus dinyatakan sambil tetap berharap akan kepastian penggenapan hal-hal yang belum, sehingga tuduhan utopia bisa dijawab bahwa usaha keberpihakan kepada orang miskin bukanlah harapan utopia semata sebab pasti akan disempurnakan oleh Allah.
Berdasarkan konsep mesianik Perjanjian Lama dan Injil Lukas tersebut maka koperasi adalah sebuah sistem mesianik yang justru perlu diupayakan gereja sebab menekankan campur tangan Allah sekaligus upaya manusia untuk mengusahakan kesejahteraan bersama. Koperasi yang memberdayakan kaum miskin bukanlah
memberikan bantuan karitatif semata, juga bukan hanya pada batas reformatif tapi justru transformatif sebab pada hakekatnya koperasi menyadarkan umat agar tidak lupa
mengusahakan kesejahteraan bersama dan keberpihakan kepada orang miskin sesuai konsep mesianik Perjanjian Lama maupun Injil Lukas.
Daftar Acuan
Riyadi, St. Eko. 2011. Yesus Kristus Tuhan Kita : mengenal Yesus Kristus dalam warta Perjanjian Baru. Yogyakarta : Kanisius.
Bock, Darrell L & Kostenberger, Andreas J. 2011. A theology of Luke and Acts : biblical theology of the new testament. Grand Rapids Michigan.
Bosch, David J. 2015. Transformasi misi Kristen : sejarah teologi misi yang mengubah dan berubah. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Hakh, Samuel B. 2010. Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar, dan Pokok-Pokok Teologisnya. Bandung: Bina Media Informasi.
Hatta, Mohammad. 1978. Bung Hatta menjawab. Jakarta : Gunung Agung.
_____________________. 1985. Mohammad Hatta : kumpulan pidato III. Jakarta : Inti Idayu. _____________________. 1987. Membangun koperasi dan koperasi membangun. Jakarta : Inti
Idayu.
Lumy, Solagratia S. 2000. Di bawah nurani rakyat : gagasan mengentaskan kaum papa. Yayasan Desa Koperasi Paripurna.
_______________. 1994. Deskripsi gagasan Desa Pancasila (Desa Koperasi – 3345) sebagai benih sistem ekonomi Pancasila. Yayasan Kampus Diakonia Modern.