• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pemberian Air dan Pupuk Hayati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Pemberian Air dan Pupuk Hayati"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

www.iosrjournals.org

Pengaruh Pemberian Air dan Pupuk Hayati Bakteri Pelarut

Fosfat (BPF) Terhadap Ketersediaan P dan Serapan Fosfor

Tanaman Kedelai (

Glycine max (L.) Merr.

)

Nurina Ayuningtyas

1

, Lolita Endang Susilowati

2

, Sukartono

2

1Mahasiswa Magister Program Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering 2Pengajar pada Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Abstrak : Bakteri Pelarut Fosfat berperan sebagai pupuk hayati, melalui kemampuannya melarutkan P anorganik dan mineralisasi P organik menjadi P yang tersedia bagi tanaman melalui 3 mekanisme yaitu: (1) produksi asam-asam organik, (2) pemasaman pH medium yang disebabkan oleh ekskresi H+ oleh bakteri, (3) enzim fosfatase yang dihasilkan bakteri. Penelitian rumah kaca telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian air dan pengaruh konsorsium pupuk hayati bakteri pelarut fosfat pada tanah entisols terhadap ketersediaan fosfat tanah, pertumbuhan dan serapan fosfor oleh tanaman. Percobaan ditata menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial terdiri dari 2 faktor yaitu dosis pemberian air dan pemberian pupuk hayati BPF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara dosis pemberian air dan pemberian konsorium pupuk hayati BPF terhadap P tersedia dan serapan P tanaman. Pemberian konsorsium 4 jenis pupuk hayati BPF mampu meningkatkan P tersedia tanah, serapan P tanaman dan berat kering brangkasan akar berturut turut 39,07%; 79,39 % dan 22,86%. Dosis pemberian air 100% kapasitas lapang memberikan nilai tertinggi pada serapan P tanaman yaitu 4,00 mg/tanaman, berat kering brangkasan akar yaitu 2,47 gram dan berat kering brangkasan tajuk yaitu 19,46 gram.

Kata Kunci : Air, Bakteri Pelarut Fosfat, Konsorsium Bakteri, P tersedia, Serapan P,

I. Latar Belakang

Fosfor merupakan hara essensial kedua bagi tanaman setelah hara nitrogen. Kandungan P-dalam jaringan tanaman mencapai kisaran 0,2 % sampai dengan 0,8 % dari berat kering tanaman (Sharma et al., 2013). Tanaman memperoleh P dari larutan tanah dalam bentuk anion fosfat yang sebagian besar diserap tanaman dalam bentuk ortofosfat primer (H2PO4-) dan ortofosfat sekunder (HPO4-2) dan hanya sebagian kecil yang

diserap dalam bentuk PO4-3. Di dalam tanah ion fosfat sangat reaktif, bereaksi dengan kation Ca2+, Mg2+ (pada

tanah netral dan kapuran), dan Fe3+, Al3+ (pada tanah masam) membentuk endapan mineral kation-fosfat (Than

and Egashira, 2008), sehingga P tidak tersedia bagi tanaman. Terbentuknya endapan senyawa kation-fosfat menyebabkan hanya sebagian kecil P pupuk P dapat diserap oleh tanaman. Hilda dan Fraga (2000) melaporkan bahwa lebih dari 80% dari P yang ditambah ke dalam tanah menjadi P-tidak larut di tanah asam dan tidak tersedia untuk tanaman karena terfiksasi kuat dalam kompleks Al dan Fe-fosfat. Sofyan dkk (2003) melaporkan bahwa efisiensi pupuk fosfat pada tanah sawah sangat rendah, hanya sekitar 10-20%. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak, namun bentuk P yang segera dapat diserap tanaman jumlahnya rendah hanya 0,01–0,2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah, 2007). Oleh karena itu, mempertahankan tingkat konsentrasi P dalam larutan tanah melalui peningkatan pelarutan P-terfiksasi merupakan cara efektif untuk meningkatkan ketersediaan P bagi tanaman.

Kekurangan air dalam tanah juga dapat menghambat pelarutan pupuk dan juga pelepasan hara baik dalam mekanisme aliran massa maupun difusi larutan hara menuju permukaan akar. Kekeringan tanah dapat memekatkan larutan tanah yang dapat merusakkan jaringan tanaman karena plasmolisis. Perkolasi cepat akan melindi (leach) banyak bahan pupuk yang terlarutkan. Pelindian unsur hara pupuk meningkat dalam tanah bertekstur kasar karena kemampuan menahan air dan hara kecil. Disisi lain ketersediaan air akan mempengaruhi aktivitas mikroorganisme tanah termasuk proses humifikasi dan mineralisasi bahan organik. Oleh karena itu pengelolaan lengas tanah menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan kesuburan tanah. Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan hara, akan tetapi usaha itu tidak akan memberikan hasil yang diharapkan, kalau tidak disertai pengelolaan lengas tanah (Notohadiprawiro, 2006).

Kurang efisiennya penggunaan pupuk P dapat diatasi dengan berbagai cara, antara lain pemanfaatan Mikroorganisme Pelarut Fosfat (MPF) salah satunya adalah Bakteri Pelarut Fosfat (BPF), yang mampu melarutkan P anorganik dan mineralisasi P organik menjadi P yang tersedia bagi tanaman (Rao, 1982; Kpomblekou dan Tabatabai, 1994). Kemampuan pelarutan fosfat oleh BPF berhubungan erat dengan kemampuannya mensekresikan asam organik (Banik dan Dey, 1982; Rao 1994; Goenadi, 1996; Zhang et al,

1997). Bakteri pelarut fosfat berperan dalam proses transformasi P dengan cara: (1) produksi asam-asam organik, (2) pemasaman pH medium yang disebabkan oleh ekskresi H+ oleh bakteri, (3) enzim fosfatase yang

(2)

www.iosrjournals.org

Transformasi P oleh bakteri pelarut P melalui tiga mekanisme tersebut dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dalam tanah. Pelarutan umumnya disebabkan oleh adanya produksi enzim fosfatase dan asam organik seperti asam asetat, asam format, asam laktat, asam oksalat, asam malat dan asam sitrat yang dihasilkan oleh mikroba tersebut. Selain itu aktifitas pelarutan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian air dan potensi konsorsium pupuk hayati BPF dalam mempengaruhi ketersediaan fosfat tanah, pertumbuhan dan serapan fosfor oleh tanaman.

II. Bahan dan Metode

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Mataram, tahap eksplorasi bakteri dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram dan analisis tanah dan jaringan tanaman dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 – Juli 2016.

Rancangan Percobaan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan Faktorial terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pemberian air yang terdiri atas 60% dari kapasitas lapang (L1), 80% dari kapasitas lapang (L2) dan 100% (L3) pada kapasitas lapang. Faktor kedua yaitu pemberian pupuk hayati BPF yang terdiri atas tanpa pemberian BPF (P0), pemberian 2 jenis konsorsium BPF (P1), pemberian 3 jenis konsorsium BPF (P2) dan pemberian 4 jenis konsorsium BPF (P3). Terdapat 12 kombinasi perlakuan yang masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga terdapat 36 unit pot percobaan.

Isolasi bakteri indigenus dari sampel tanah

Isolasi dilakukan dengan metode pengenceran. Pengenceran 10-1 diperoleh dengan cara sepuluh gram tanah dari

daerah rhizosfer tanaman Tithonia divesifolia dimasukkan ke dalam 90 ml aquades steril, kemudian digojok dengan shakker selama 1 jam dengan kecepatan 120 rpm. Selanjutnya diambil 1 ml dari suspensi tanah tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi 9 ml larutan fisiologis, kemudian dikocok hingga homogen. Selanjutnya pengenceran 10-2diperoleh dengan cara diambil 1 ml pada tabung pengenceran 10-1 dipindahkan ke

tabung berikutnya, begitu seterusnya sampai seri pengenceran terakhir pada penelitian ini adalah seri pengenceran pada 10-7(Gambar 3). Sebanyak 0,1 dari seri pengenceran 10-4, 10-5, 10-6,dan 10-7ditumbuhkan pada

media Pikovskaya padat untuk melihat populasi bakteri pelarut fosfat yang tumbuh. Bakteri yang ditumbuhkan adalah bakteri pelarut fosfat dengan indikasi dapat membentuk zona bening (holozone) pada daerah disekililing koloni.

Pemurnian Bakteri Pelarut Fosfat

Hasil isolasi bakteri pelarut fosfat dimurnikan dengan cara memindahkan masing-masing isolat terisolasi pada media NA menggunakan metodegores (Streak plate methods). Isolat yang tumbuh secara lepas (tidak membentuk koloni) diambil dengan menggunakan jarum ent, kemudiaan jarum ent disentuhkan pada satu titik lokasi bagian tengah media pikovskaya padat. Pengamatan dilakukan selama 7x24 jam, jika isolat tersebut membentuk zona bening pada media pikovskaya padat maka isolat tersebut terindikasi sebagai isolat murni Bakteri Pelarut Fosfat (BPF).

Seleksi Bakteri Pelarut Fosfat potensial dari Hasil Pemurnian.

Bakteri dari hasil isolasi diperoleh 12 isolat untuk dilakukan seleksi. Seleksi dilakukan terhadap bakteri yang berpotensi tinggi dalam melarutkan fosfat dengan ciri: Koloni bakteri tebal, diameter zona bening besar dan memiliki Indeks Pelarutan fosfat > 1,5. Dari tahapan seleksi ini diharapkan diperoleh empat isolat bakteri pelarut fosfat yang berpotensial.

Uji Antagonis Bakteri Terseleksi

Dari keempat bakteri terpilih tersebut dilakukan uji antagonis.Masing-masing dua isolat bakteri pelarut fosfat yang berbedaditumbuhkan secara berdampingan (jarak ± 1 cm)dalam satu petri media pikovskaya padat. Jika diperoleh empat isolat terpilih maka ada enam petri uji antagonis yang masing-masing diulang tiga kali. Masing-masing petri diinkubasi selama 3x24 jam pada kondisi suhu kamar, jika kedua bakteri dalam satu petri secara bersama membentuk zona bening maka bakteri tersebut tidak bersifat antagonis.

Proliferasi Bakteri untuk konsorsium pupuk hayati BPF

Pembiakan pupuk hayati BPF.

Sebanyak 1 ose dari isolat bakteri pelarut fosfat terpilih yang dinyatakan tidak bersifat antagonis ditumbuhkan dalam erlenmeyer 25 ml yang berisi 10 ml media pikovskaya cair. Masing-masing erlenmeyer kemudian diinkubasi selama 2x24 jam pada shakker dengan kecepatan 120 rpm.

Perbanyakan pupuk hayati BPF.

Suspensi bakteri pelarut fosfat pada erlenmeyer 25 ml diambil 10 ml,kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer berukuran 200 ml yang berisi 90 ml pikovskaya cair. Selanjutnya dilakukan inkubasi selama 4x24 jam pada shakker dengan kecepatan 120 rpm.

Perhitungan populasi pupuk hayati BPF.

(3)

www.iosrjournals.org

bakteri telah mencapai ± 108-109cfu/ ml).

Persiapan Media Tanam

Tanah sebagai media tanam adalah Entisol berasal dari desa Nyerot, kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, diambil secara komposit pada kedalaman 0-20 cm, kemudian dikering-anginkan dan disaring dengan ayakan bermata saring 2 mm. Berat tanah pada masing-masing polybag adalah 8 kg/polybag.

Persiapan benih dan Penanaman

Pemberian pupuk organik kedalam tanah diberikan dengan dosis setara 5 ton/ha atau setara dengan 20 gr/polybag dan pemberian inokulan BPF sebagai pupuk hayati diberikan dengan takaran 20 ml/polybag dengan densitas 108-109cfu/ml, masing-masing diberikan pada saat tanam. Sedangkan untuk pemberian pupuk anorganik

berupa 50 kg urea/ha atau setara dengan 0,20 gr urea/polybag, dan 100 kgNPK Phonska/ha atau setara dengan 0,40 gr NPK/polybag. Pupuk urea dan NPK diberikan pada saat umur 14 HST. Penyiraman dilakukan pada pagi/sore hari dengan penyiraman setiap hari dengan volume pemberian air berdasarkan perlakuan.. Benih kedelai yang digunakan adalah benih varietas Anjasmoro. Benih ditanam dengan cara di tugal sebanyak 3 benih di setiap lubang pada polybag dan dilakukan penjarangan setelah tanaman berumur 1 minggu dengan meninggalkan 2 tanaman yang tumbuh sehat. Setelah tanaman kedelai mencapai masa akhir vegetatig (6 minggu setelah tanam), tanaman diambil untuk mengetahui bobot kering akar dan tanaman bagian atas. Tanah di dalam pot kemudian dikering anginkan, diaduk merata untuk analisis P tersedia (metode Olsen).

Analisis Data

Data hasil pengamatan pada penelitian ini dianalisis dengan analisis ragan unvariate pada taraf 5% (P ≤ 0,05), apabila terjadi interaksi yang nyata maka dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Buncan (DMRT) pada taraf 5%.

III. Hasil

P Tersedia Tanah Residu

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa terjadi interaksi yang nyata antara lengas tanah dan konsorsium bakteri terhadap ketersediaan P residu dalam tanah (P=0,048) pada 6 MST (Tabel 3). Pengaruh dosis ketersediaan air tidak berbeda nyata terhadap ketersediaan P residu di dalam tanah. Tetapi pada pengaruh pemberian konsorsium pupuk hayati BPF menunjukkan pengaruh yang sangat nyata terhadap ketersediaan P residue dalam tanah.

Tabel-1: Analisis Ragam dosis pemberian air dan konsorsium BPF terhadap P tersedia residu dalam tanah

Source Type III Sum

of Squares df Mean Square F Sig.

Dosis Pemberian Air ,559 2 ,279 ,964 ,396

Konsorsium Bakteri 6,936 3 2,312 7,979 ,001

Dosis Pemberian Air * Konsorsium Bakteri 4,415 6 ,736 2,540 ,048 Keterangan : Significan P≤0,05

Pemberian konsorsium pupuk hayati BPF dengan dosis konsorsium 2 jenis pupuk hayati BPF (P1), konsorsium dosis 3 jenis pupuk hayati BPF (P2), dan konsorsium dosis 4 jenis pupuk hayati BPF (P3) berturut-turut meningkatkan P tersedia residu tanah 5,15 %, 21,68%, dan 39,07% dibandingkan tanpa pemberian konsorsium pupuk hayati BPF.

Tabel-2: Pengaruh interaksi antara dosis pemberian air dan konsorsium BPF terhadap P-tersedia residu dalam tanah

(4)

www.iosrjournals.org

Gambar-1: Pengaruh dosis pemberian air dan jumlah Konsorsium Pupuk Hayati BPF yang berbeda terhadap P-tersedia residu dalam tanah

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00

Perlakuan

P

Te

rs

ed

ia

r

es

id

u

(p

pm

)

Serapan P

Terjadi interaksi yang nyata (P=0,015) antara dosis pemberian air dan pemberian konsorsium pupuk hayati BPF terhadap serapan P tanaman kedelai pada umur 6 MST (Tabel 5). Pemberian konsorsium pupuk hayati BPF dengan dosis 2 jenis pupuk hayati BPF (P1), dosis 3 jenis pupuk hayati BPF (P2), dan dosis 4 jenis pupuk hayati BPF (P3) berturut-turut meningkatkan serapan P tanaman 35,16%, 58,01% dan 79,39% dibandingkan tanpa pemberian konsorsium pupuk hayati BPF. Pada dosis pemberian air 100% kapasitas lapang memberikan nilai Serapan P tanaman tertinggi, yaitu sebesar 4,00 mg/tanaman.

Tabel-3: Analisis Ragam dosis pemberian air dan konsorsium BPF terhadap serapan P tanaman.

Source Type III Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Dosis Pemberian Air 4,441 2 2,220 21,900 ,000

Konsorsium_Bakteri 13,862 3 4,621 45,577 ,000

Dosis Pemberian Air * Konsorsium_Bakteri 2,041 6 ,340 3,355 ,015 Keterangan : Significan P≤0,05

Tabel-4: Pengaruh interaksi antara dosis pemberian air dan konsorsium BPF terhadap serapan P tanaman

(5)

www.iosrjournals.org

Gambar 2. Pengaruh dosis pemberian air dan jumlah konsorsium BPF yang berbeda terhadap serapan P tanaman

L1P0 L1P1 L1P2 L1P3 L2P0 L2P1 L2P2 L2P3 L3P0 L3P1 L3P2 L3P3 0.00

0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50

Perlakuan

Se

rp

an

P

(m

g/

ta

na

m

an

)

Berat Kering Brangkasan Akar

Dosis pemberian air dengan konsorsium pupuk hayati BPF meningkatkan bobot kering brangkasan akar pada 6 MST, namun interaksinya tidak nyata (P=0,807) (Tabel 7). Pemberian konsorsium pupuk hayati BPF (P1-P3) mampu meningkatkan bobot kering brangkasan akar berturut-turut 9,09%, 16,54%, dan 22,86% dibandingkan akar tanaman tanpa diberi pupuk hayati BPF(P0) (Tabel 8). Pada dosis pemberian air 100% kapasitas lapang memberikan nilai berat kering brangkasan akar tertinggi, yaitu sebesar 2,47 gram.

Tabel-5: Analisis Ragam dosis pemberian air dan konsorsium BPF terhadap berat kering brangkasan akar.

Source Type III Sum of

Squares

df Mean Square F Sig.

Dosis Pemberian Air ,907 2 ,454 3,247 ,056

Konsorsium Bakteri 2,771 3 ,924 6,613 ,002

Dosis Pemberian Air * Konsorsium Bakteri ,414 6 ,069 ,493 ,807 Keterangan : Significan P≤0,05

Tabel-6: Pengaruh dosis pemberian air dan konsorsium BPF terhadap berat kering brangkasan akar

Dosis Pemberian Air (ml) Konsorsium Bakteri

Rata-rata Tanpa BPF

(P0) 2 BPF(P1) 3 BPF(P2) 4 BPF(P3)

gram

---60% dari Kapasitas Lapang (L1) 1,70 1,81 2,00 2,19 1,93 a

80% dari Kapasitas Lapang (L2) 1,70 2,06 2,24 2,37 2,09 ab

100% dari Kapasitas Lapang (L3) 2,33 2,38 2,43 2,47 2,40 b

Rata-rata 1,91 a 2,08 b 2,22 b 2,34 b

(6)

www.iosrjournals.org

Gambar 3. Pengaruh dosis pemberian air dan pemberian jumlah konsorsium BPF yang berbeda terhadap berat kering brangkasan akar

L1P0 L1P1 L1P2 L1P3 L2P0 L2P1 L2P2 L2P3 L3P0 L3P1 L3P2 L3P3 0.00

Interaksi antara dosis pemberian air dan jumlah pemberian konsorsium pupuk hayati BPF berpengaruh tidak nyata (P=0,950) terhadap berat kering brangkasan tajuk (Tabel 9). Sedangkan pengaruh dosis pemberian air dan konsorsium pupuk hayati BPF masing-masing berpengaruh sangat nyata terhadap berat kering brangkasan tajuk. Nilai berat kering brangkasan tajuk pada dosis pemberian air pada 60% kapasitas lapang (L1), 80% kapasitas lapang (L2) dan 100% kapasitas lapang (L3) masing-masing menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (Tabel. 10) berturut turut adalah 13,04 gram; 16,07 gram dan 19,46 gram. Sedangkan pemberian 4 jenis konsorsium pupuk hayati BPF (P3) mampu meningkatkan bobot kering brangkasan tajuk sebesar 24,47% dibandingkan tajuk tanaman tanpa diberi pupuk hayati BPF (P0).

Tabel-7: Analisis Ragam dosis pemberian air dan konsorsium BPF terhadap berat kering brangkasan tajuk. Source Type III Sum of

Squares

df Mean Square F Sig.

Dosis Pemberian Air 247,861 2 123,930 85,637 ,000

Konsorsium Bakteri 18,152 3 6,051 4,181 ,016

Dosis Pemberian Air * Konsorsium Bakteri 2,253 6 ,376 ,259 ,950 Keterangan : Significan P≤0,05

Tabel-8: Pengaruh dosis pemberian air dan konsorsium BPF terhadap berat kering brangkasan tajuk

Dosis Pemberian Air (ml)

60% dari Kapasitas Lapang (L1) 12,26 13,05 13,15 13,69 13,04 a

80% dari Kapasitas Lapang (L2) 15,00 15,46 16,65 17,56 16,17 b

100% dari Kapasitas Lapang (L3) 18,49 19,40 19,62 20,34 19,46 c

Rata-rata 15,25 a 15,97 ab 16,47 ab 17,19 b

(7)

www.iosrjournals.org

Gambar 4. Pengaruh dosis pemberian air dan pemberian jumlah konsorsium BPF yang berbeda terhadap berat kering brangkasan tajuk

L1P0 L1P1 L1P2 L1P3 L2P0 L2P1 L2P2 L2P3 L3P0 L3P1 L3P2 L3P3 0.00

5.00 10.00 15.00 20.00 25.00

IV. Pembahasan

Terjadi peningkatan ketersediaan P pada tanah sebelum dan sesudah adanya diberikan konsorsium pupuk hayati BPF. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian konsorsium BPF mampu meningkatkan ketersediaan P dalam tanah sehingga memungkinkan penyerapan P yang tinggi oleh tanaman. BPF mampu mensekresikan asam-asam organik yang dapat membentuk senyawa kompleks yang sukar larut. Terbentuknya senyawa kompleks ini akan menyebabkan fiksasi P menurun sehingga meningkatkan P tersedia (Whitelaw, 2000). Hal ini disebabkan karena asam‐asam organik terutama asam humat dan asam fulvat hasil dari dekomposisi akan membentuk senyawa komplek (khelat) dengan Al, Fe dan Ca sehingga membantu melepaskan fosfat (P). Selain itu, menurut Susilowati dkk, 2015 mendapatkan pupuk hayati yang efektif dalam meningkatkan ketersedian P dalam tanah maka perlu dibuat konsorsium bakteri pelarut fosfat yang teridiri atas dua atau lebih kelompok spesies BPF-indigenos terseleksi. Konsorsium bakteri pelarut fosfat adalah sekumpulan spesies bakteri yang bekerjasama dalam suatu kelompok sehingga mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dalam melarutkan fosfat dibanding dengan bakteri tunggalnya.Hasil penelitian terdahulu membuktikan bahwa campuran kultur (Bacillus, Streptomyces, Pseudomonas.) lebih efektif dalam memineralisasi P-organik dibandingkan dengan inokulasi masing-masing bakteri (Molla et al., 1984).

Pemberian jumlah konsorsium pupuk hayati BPF (P) pada dosis pemberian air yang berbeda (L) berpengaruh sangat nyata terhadap serapan P tanaman. Serapan P terendah terdapat pada perlakuan tanpa pemberian konsorsium BPF dan mengalami peningkatan seiring dengan penambahan jumlah konsorsium pupuk hayati BPF pada ketiga dosis pemberian air yang berbeda. Peningkatan ketersediaan P menyebabkan beda konsentrasi dalam tanah meningkat sehingga laju difusi ke akar semakin tinggi (Indrayana,1994). Nurhayati (2009) juga menyatakan bahwa besar kecilnya serapan P tanaman tergantung dari ketersediaan P dalam larutan tanah karena unsur hara banyak diserap melalui akar.

Meningkatnya berat kering brangkasan akar tanaman sebesar 16,16% dibandingkan akar tanaman tanpa diberi konsorsium pupuk hayati BPF. Hal ini dikarenakan ketersediaan P dalam tanah yang tinggi akibat dari pemberian pupuk hayati BPF merangsang pertumbuhan akar tanaman. Selain itu pada dosis pemberian air 100% kapasitas lapang merupakan bobot kering akar tertinggi. Persentase kadar air tanah tertinggi memberikan respons terbesar dan semakin menurun dengan rendahnya persentase kadar air tanah, sesuai dengan pendapat Gardner et al. (1985) bahwa selama perkembangan vegetatif kekurangan air dapat mengurangi laju pelebaran daun dan perpanjangan batang. Semakin menurun kadar air tanah maka semakin menurun pertumbuhan tanaman.Menurut Nurhayati (2009) kandungan air tanah yang dikehendaki untuk pertumbuhan kedelai adalah pada keadaan kapasitas lapang (100% air tersedia).

(8)

www.iosrjournals.org

350 mm selama pertumbuhannya (Kung, 1971; Doorenbos dan Kassam, 1979). Hal ini semakin terlihat bahwa jenis tanah Entisols lebih mampu mempertahankan pertumbuhan tanaman walaupun sudah dalam keadaan tercekam.

V. Kesimpulan

1. Terdapat interaksi yang nyata antara dosis pemberian air dan pemberian konsorium pupuk hayati BPF terhadap P tersedia dan serapan P tanaman.

2. Pemberian konsorsium pupuk hayati BPF dapat

3. meningkatkan P tersedia, serapan P, berat kering brangkasan akar dan berat kering brangkasan tanaman dibandingkan tanpa pemberian konsorsium pupuk hayati BPF.

4. Pada dosis pemberian air 100% kapasitas lapang memberikan nilai serapan P tanaman, berat kering brangkasan akar, berat kering brangkasan tajuk tertinggi.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kami kepada Pemerintah Indonesia selaku penyedia Beasiswa Pendidikan Indonesia yang telah mendanai penelitian ini melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Terima kasih juga kami sampaikan kepada staf di Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia

Daftar Pustaka

[1] Alexander, M. 1977. Introduction to Soil Microbiology. 2nd ed. John Wiley and Sons. New York.

[2] Banik, S. and B.K. Dey, 1982. Available Phosphat Content of An Alluvial Soil As Influenced By Inoculation of Some Isolated Phosphate Solubilizing Microorganism. Plant and Soil.

[3] De Freites, J.R., M.R. Banerjee, J.J Germida. 1997. Phosphate-solubilizing rhizobacteria enhance the growth and yield but not phosphorus uptake of canola (Brassica napus L). Biol. Fertil. Soil. 24:358-364.

[4] Doorenbos, J. & A.H. Kassam. 1979. Yield Response to Water. Irrigation and Drainage Paper No.33 Roma. FAO. 144 p [5] Gardner,F.B., R.B. Pearce & R.L. Mitchell. 1985. Physiology of Crop Plants, Iowa State University Press, AMES.327 p.

[6] Gaur, A.C. 1986. Phosphor Microorganisms and Various Transfomations dalam: FAO (Ed.). Efficient Fertilizer Use in Acid Upland Soils of The Humid Tropics. Bulletin FAO Fertilizer and Plant Nutrition 10:106-111.

[7] Handayanto,E. Dan K.Hairiyah.2007. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Pustaka Adipura. Yogyakarta

[8] Hilda, R. and R. Fraga. 2000. Phosphate Solubilizing Bacteria and Their Role in plant Growth Promotion. Biotech. Adv. 17: 319-339. [9] Illmer, P.A., F. Schinner. 1992. Solubilization of inorganic phosphate by microorganism isolated from forest soils. Soil Biol. Biochem.

24 (4) : 389-395

[10] Indrayana, H.K. 1994. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.

[11] Islami, T. dan W.H. Utomo. 1995. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. IKIP Semarang Press. [12] Kung, P. 1971. Irrigation Agronomy in Monsoon Asia. FAO – AGPC Misc. New York.

[13] Molla, M. A. Z., A. A. Chowdhury, A. Islam and S. Hoque. 1984. Microbial Mineralization of Organic Phosphate in Soil. Plant Soil 78: 393-399.

[14] Nurhayati, 2009. Pengaruh Cekaman Air pada Dua Jenis Tanah Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai ( Glycine Max (L.) Merril). J. Floratek 4: 55 - 64

[15] Rao, N.S.S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Edisi ke 2. Jakarta: Universitas Indonesia.

[16] Rosadi, R.A.B. dan I.G. Darmaputra. 1998. Pengaruh Irigasi Defisit pada fase Vegetatif Terhadap Pertumbuhan, Produksi dan Kebutuhan Air Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merr). J. Tanah Tropika 6: 75 – 82.

[17] Salisbury, F.B. & C.W. Ross. 1985. Plant Physiology. Third Edition. Wadsworth Publishing Company Inc., Belmont, California. 540 p.

[18] Sharma,S.B., R. Z. Sayyed,, M. H. Trivedi and T. A Gobi. 2013. Phosphate Solubilizing Microbes: Sustainable Approach for Managing Phosphorus Deficiency in Agricultural Soils. SpringerPlus 2013, 2:587. http://www.springerplus.com/content/2/1/587 [19] Sofyan. A. Nurjaya dan A Kasno. 2003. Status Hara Tanah Sawah untuk Rekomendasi Pemupukan. Hlm 83 – 114. Pusat

Pemeliharaan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

[20] Subba Rao, N.S. 1982a. Biofertilizer in Agriculture. Oxford and IBH Publishing Co. New Delhi. Bombai. 186 pp.

[21] Susilowati, L.E. 2005. Inokulasi PBF Indigenos pada Tanaman Kedelai var. Willis di Entisol. Lap Penelitian. Fak Pertanian Unram

[22] Than A A and K Egashira. 2008. Evaluation of Phosphorous Status of Some Upland Soils in Myanmar. J Fac. Agr., Kyushu Univ. 53(1): 193-200.

Gambar

Gambar 2. Pengaruh dosis pemberian air dan jumlah konsorsium BPF yang berbeda terhadap serapan P tanaman
Gambar 3. Pengaruh dosis pemberian air dan pemberian jumlah konsorsium BPF yang berbeda terhadap beratkering brangkasan akar
Gambar 4. Pengaruh dosis pemberian air dan pemberian jumlah konsorsium BPF yang berbeda terhadap beratkering brangkasan tajuk

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi pupuk hayati penambat N dan pemacu pertumbuhan tanaman seperti Azotobacter, Bacillus cereus, atau mikroba pelarut fosfat seperti Bacillus megantherium yang

Ia sendiri mendefinisikan pupuk hayati sebagai preparasi yang mengandung sel-sel dari strain-strain efektif mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat atau selulolitik yang

Ia sendiri mendefinisikan pupuk hayati sebagai preparasi yang mengandung sel-sel dari strain-strain efektif mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat atau selulolitik yang digunakan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh pemberian pupuk hayati Mikoriza dan Pettobio yang merupakan konsrsium penambat nitrogen dan pelarut fosfat pada

Kegunaan dari penelitian ini adalah diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan informasi tentang pemberian berbagai dosis pupuk NPK dan pupuk hayati konsorsium terhadap

Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N 2 dan pemacu tumbuh tanaman, mikroba pelarut fosfat, dan perombak bahan organik merupakan salah satu pendekatan untuk

Hasil penelitian menunjukkan terjadi interaksi antara pupuk fosfat dan pupuk hayati pada Laju Asimilasi Bersih dan Laju Tumbuh Tanaman, namun secara mandiri dosis pupuk

Pengaruh pupuk NPK bergantung pada jenis pupuk hayati yang digunakan, dosis pupuk NPK 75 g/m2 dan pupuk hayati Grikulan plus menghasilkan produksi yang lebih tinggi yaitu bobot umbi