Pedoman Pendidikan
Jurusan Kedokteran
Fakultas Kedokteran
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
Visi
Menjadi Institusi Pendidikan Kedokteran Yang Terkemuka Dan Bertaraf
Internasional
Misi
Merintis Pendidikan , Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat di bidang
Kedokteran terkini serta bermutu
Nilai
1.
Responsif
2.
Efektif dan Efisien
3.
Suportif
4.
Inovatif
PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa atas ijinnya
sehingga Buku Pedoman Akademik T.A.2009/2010 ini bisa terselesaikan.
Pedoman Akademik 2009/2010 untuk Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Dokter
Jurusan Kedokteran (S1) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini diterbitkan berdasarkan Surat
Keputusan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya No. 046/SK/J10.1.17/AK/2009 dalam
rangka memberikan acuan bagi seluruh sivitas akademika yang terlibat dalam penyelenggaraan
Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Tahun Akademik 2009/2010. Perubahan pada Buku Pedoman
Akademik 2009/2010 dimaksudkan untuk menyempurnakan Buku Pedoman Akademik 2007/2008
dan 2008/2009.
Pada Buku Pedoman Akademik ini telah disusun struktur kurikulum untuk seluruh Tahap
Akademik dari Semester I sampai dengan Semester VII, yang terdiri atas 2 semester Tahap Dasar
Kedokteran dan 5 semester Tahap Kompetensi Klinik. Berbeda dengan Pedoman Akademik
tahun-tahun sebelumnya, sejak Tahun Akademik 2009/2010 diberlakukan penapisan pada akhir Semester
II untuk bisa melanjutkan ke Semester diatasnya. Pemberian materi pembelajaran selain dalam
bentuk Blok, juga beberapa matakuliah diberikan dengan model Non-Blok. Disamping itu, juga
diberikan model pembelajaran Problem Based Learning pada setiap akhir Semester III sampai dengan Semester VII untuk melatih mahasiswa melakukan self directed learning.
Dengan mengharapkan ridho Allah SWT, serta komitmen seluruh sivitas akademika, semoga
Kurikulum Berbasis Kompetensi akan terselenggara dengan lebih baik di Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Dekan,
Ttd.
DAFTAR ISI
Halaman
VISI, MISI, NILAI ... i
PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi Bab I KOMPETENSI DAN STANDAR KOMPETENSI DOKTER
1.1 Batasan Kompetensi ……….….
1.2 Jabaran Operasional Kompetensi ………....
1.3 Elemen Kompetensi …..……….…...
1.4 Acuan Standar Kompetensi Dokter ……….……
1.5 Manfaat Standar Kompetensi Dokter ..……….…….
1.6 Standar Kompetensi Dokter ….……….…..
1.6.1 Area Kompetensi .……….……..
1.6.2 Komponen Kompetensi ……….…..
1.6.3 Penjabaran Kompetensi ………...
Bab II KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER (PSPD) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2.1 Sejarah ……….
2.2 Definisi Kurikulum dan Pendekatan Pembelajarannya ………….………….
2.3 Karakteristik KBK PSPD FKUB ……….…….
2.4 Struktur Kurikulum ……….………….
2.4.1 Umum ………..
2.4.2 Tahap Pendidikan Dasar Kedokteran ………….……… 2.4.3 Tahap Pendidikan Kedokteran Klinik ……….……...
2.4.4 Tahap Kepaniteraan Klinik (Clerkship) …….………
2.5 Isi Kurikulum ………..
2.5.1 Struktur Kurikulum ………..………
2.5.2 Sebaran Matakuliah di Setiap Semester ……….. 2.5.3 Tahap Pendidikan Profesi (Clerkship) ……….….
Bab III PERAN, FUNGSI, KOORDINASI, PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 3.1 Peran dan Fungsi dalam Penyelenggaraan Pembelajaran
3.1.1 Pimpinan Fakultas ... 3.1.2 Gugus Jaminan Mutu (GJM) …... 3.1.3 Unit Jaminan Mutu (UJM) ... 3.1.4 Medical Education Unit (MEU) ...
3.1.7 UPT Labskill & Laboratorium Sentral Biomedik ... 3.1.8 Urusan Administrasi Akademik Jurusan ... 3.1.9 Penanggungjawab Matakuliah (PJMK) ... 3.1.10 Kelompok Pengajar ... 3.1.11 Mahasiswa ...
3.2 Prosedur dan Koordinasi Proses Pembelajaran ...
Bab IV PEMBELAJARAN BLOK
4.1 Strategi Pembelajaran ... 4.2 Struktur Materi …... 4.3 Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok... 4.4 RancanganPembelajaran ...
4.5 Implementasi Pembelajaran ………..………..
Bab V PEMBELAJARAN NON-BLOK
5.1 Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) ………..……..
5.2 Metodologi ………..………..
5.3 Tugas Akhir ………..……..
5.4 Program Kerja Nyata Mahasiswa (PKNM) ………..………
Bab VI KETERAMPILAN DAN KETERAMPILAN KLINIK
6.1 Keterampilan dan Keterampilan Klinik ……….
6.2 Keterampilan Klinik (clinical skill) ……….. 6.3 Buku Pedoman Pembelajaran Keterampilan Klinik ……….
Bab VII EVALUASI HASIL PEMBELAJARAN
7.1 Umum ………..
7.2 Tujuan ………..
7.3 Jenis Evaluasi ………..
7.4 Evaluasi Hasil Belajar ………..
7.5 Ujian Penunjang ………..
7.6 Konversi Skor menjadi Nilai Huruf ………..
7.7 Penilaian Kemampuan Akademik ………..
7.8 Evaluasi Pendidikan dan Lama Masa Studi ………
7.9 Transkrip Kompetensi ………..
7.10 Sertifikat Kompetensi ………..
7.11 Yudisium ………..
Bab VIII BIMBINGAN KONSELING, KEPENASIHATAN AKADEMIK, SERTA KEGIATAN EKSTRAKURIKULER
8.1 Bimbingan Konseling ………
8.2 Kepenasehatan Akademik ………
8.3 Kegiatan Ekstrakurikuler ………
Bab IX PENGEMBANGAN
Halaman
Tabel 2.1 Sebaran, Kodifikasi, dan Beban Studi Matakuliah ……… ……….
Tabel 7.1 Konversi Skor ke dalam Nilai Huruf ……….……
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Bagan Struktur Kurikulum ………..
Gambar 3.1 Bagan Pembelajaran KBK PS Pendidikan Dokter –FKUB ………
Gambar 4.1 Bagan Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok ………..
Gambar 4.2 Komponen Pembelajaran Blok ………..
Gambar 4.3 Contoh “Topic & Topic Tree” Sistem Reproduksi ……….
Gambar 6.1 Organisasi Pembelajaran Keterampilan ………..
Bab I
KOMPETENSI DAN STANDAR KOMPETENSI DOKTER
1.1 Batasan Kompetensi
Berdasarkan Pasal 1 Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi, yang dimaksud dengan Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
1.2 Jabaran Operasional Kompetensi
Batasan Kompetensi diatas dijabarkan sebagai berikut:
1.2.1 Kompetensi sebagai “seperangkat tindakan cerdas yang penuh tanggungjawab” menunjukkan bahwa hakikat dasar Kompetensi adalah sebuah kemampuan yang diperoleh dari integrasi 3 domain: a) cerdas, sebagai kemampuan kognitif yang merupakan buah pikir intelektual, b) tindakan, sebagai kemampuan psikomotorik, dan c) bertanggungjawab, merupakan kemampuan afektif sebagai buah perilaku dan sikap.
1.2.2 Dalam konteks profesi dokter, kompetensi ini mengandung makna sebagai integrasi kemampuan berfikir, bertindak, dan berperilaku sebagai seorang dokter. Setiap tindakan profesional seorang dokter harus didasarkan kepada hasil berfikir yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dilakukan sesuai dengan standar prosedur yang ditetapkan, dan disertai dengan sikap dan perilaku sesuai dengan etika, kode etik, dan tanggungjawab seorang dokter.
1.2.3 Penguasaan keilmuan (kognitif), keterampilan bertindak (psikomotorik), sikap dan perilaku profesional (afektif), secara sendiri-sendiri tidak menggambarkan penguasa-an kompetensi, melainkan harus dilakukan secara integratif diantara ketiganya.
1.2.4 Dengan kerangka berfikir diatas, maka pembelajaran kompetensi pada dasarnya adalah pembelajaran dengan mengintegrasikan ketiga domain itu sekaligus. Tanpa mengintegrasikan ketiganya, pembelajaran tidak dapat dikatakan sebagai bentuk pembelajaran kompetensi.
1.2.5 “Dianggap mampu oleh masyarakat“ dalam definisi kompetensi mengindikasikan beberapa hal: 1) bahwa lulusan Program Studi Pendidikan Dokter tidak otomatis dipandang kompeten dalam menjalankan tugasnya melainkan telah dibekali dengan
kompetensi untuk mampu memerankan kompetensi itu di masyarakat (“competence performer”), 2) kompetensi berbeda dengan ijazah yang merupakan bentuk pengakuan resmi institusi pendidikan yang menghasilkannya, dan 3) dalam praktek, pengakuan masyarakat atas kompetensi lulusan pendidikan dokter direpresentasikan oleh Konsil Kedokteran Indonesia dengan memberikan lisensi untuk berpraktek di masyarakat.
dilaksanakan apabila yang bersangkutan bertugas di masyarakat di luar profesinya tersebut.
1.3 Elemen Kompetensi
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya didalam kompetensi terkandung beberapa elemen, masing-masing: a) kompetensi sebagai landasan kepribadian, b) kompetensi sebagai penguasaan ilmu dan keterampilan, c) kompetensi sebagai kemampuan berkarya, dan d) kompetensi sebagai sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian, berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai, dan e) kompetensi juga merupakan pemahaman kaidah berkehidupan masyarakat sesuai dengan keahlian dalam berkarya.
1.4 Acuan Standar Kompetensi Dokter
Untuk mengukur kompetensi dokter perlu ditetapkan sejumlah parameter yang menjadi acuan ketercapaiannya. Dalam konteks standar pendidikan dokter secara nasional, Standar Kompetensi Dokter yang ditetapkan Konsil Kedokteran Indonesia merupakan parameter acuan bagi Program Studi Pendidikan Dokter FKUB. Dalam konteks standar pendidikan internasional, Program Studi Pendidikan Dokter FKUB menggunakan standar yang ditetapkan oleh World Federation of Medical Education: WFME Global Standards Basic Medical Education for Quality Improvement (WFME, Copenhagen, 2003).
Dengan dikuasainya standar kompetensi oleh seorang profesi dokter, maka yang bersangkutan akan mampu: a) mengerjakan tugas atau pekerjaan profesinya, b) mengorganisasikan tugasnya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan, c) segera tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula, d) menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah di bidang profesinya, dan e) melaksanakan tugas dengan kondisi berbeda.
1.5 Manfaat Standar Kompetensi Dokter
1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan Kedokteran
Sesuai dengan Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengatakan bahwa kurikulum program studi menjadi wewenang institusi pendidikan kedokteran, maka Standar Kompetensi Dokter merupakan kerangka acuan utama bagi institusi pendidikan kedokteran dalam mengembangkan kurikulumnya masing-masing. Dengan demikian, walaupun kurikulum berbeda, tetapi dokter yang dihasilkan dari berbagai institusi diharapkan memiliki kesetaraan dalam hal penguasaan kompetensi.
1.5.2 Bagi Pengguna
Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan kerangka acuan utama bagi Departemen Kesehatan maupun Dinas Kesehatan Propinsi ataupun Kabupaten dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan, dalam hal ini dokter, agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik. Dengan Standar Kompetensi, Depkes dan Dinas Kesehatan sebagai pihak yang akan memberikan lisensi dapat mengetahui kompetensi apa yang telah dikuasai oleh dokter dan kompetensi apa yang perlu ditambah, sesuai dengan kebutuhan spesifik di tempat kerja. Dengan demikian pihak Depkes dan Dinas Kesehatan dapat menyelenggarakan pembekalan atau pelatihan jangka pendek sebelum memberikan Ijin Praktik.
1.5.3 Bagi Orang Tua Mahasiswa dan Penyandang Dana
1.5.4 Bagi Mahasiswa
Standar Kompetensi Dokter dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengarahkan proses belajarnya, karena mahasiswa mengetahui sejak awal kompetensi yang harus dikuasai di akhir pendidikan. Dengan demikian proses pendidikan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
1.5.5 Bagi Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Akreditasi Nasional
Standar Kompetensi Dokter dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kriteria pada Akreditasi Program Studi Pendidikan Dokter.
1.5.6 Bagi Kolegium Dokter Indonesia
Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan acuan dalam menyelenggarakan program pengembangan profesi secara berkelanjutan.
1.5.7 Bagi Kolegium-Kolegium Spesialis
Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan acuan dalam merumuskan kompetensi dokter spesialis yang merupakan kelanjutan dari pendidikan dokter.
1.5.8 Untuk Program Adaptasi bagi Lulusan Luar Negeri
Standar Kompetensi Dokter dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai kompetensi dokter lulusan luar negeri.
1.6 Standar Kompetensi Dokter
Program Studi Pendidikan Dokter FKUB mengacu pada Standar Kompetensi Dokter yang ditetapkan Konsil Kedokteran Indonesia sebagai berikut :
1.6.1 Area Kompetensi: a. Komunikasi efektif b. Keterampilan klinis
c. Landasan ilmiah ilmu kedokteran d. Pengelolaan masalah kesehatan e. Pengelolaan informasi
f. Mawas diri dan pengembangan diri
g. Etika, moral, medikolegal dan profesionalisme serta keselamatan pasien.
1.6.2 Komponen Kompetensi: 1.6.2.1 Area Komunikasi Efektif
a. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya b. Berkomunikasi dengan sejawat
c. Berkomunikasi dengan masyarakat d. Berkomunikasi dengan profesi lain.
1.6.2.2 Area Keterampilan Klinis
a. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan keluarganya
b. Melakukan prosedur klinik dan laboratorium c. Melakukan prosedur kedaruratan klinis.
1.6.2.3 Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
a. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer
b. Merangkum dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji laboratorium dan prosedur yang sesuai
c. Menentukan efektivitas suatu tindakan.
1.6.2.4 Area Pengelolaan Masalah Kesehatan
a. Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh, bagian dari keluarga dan masyarakat
c. Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
d. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan
e. Mengelola sumber daya manusia serta sarana dan prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan Kedokteran Keluarga.
1.6.2.5 Area Pengelolaan Informasi
a. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta penjagaan, dan pemantauan status kesehatan pasien
c. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi d. Memanfaatkan informasi kesehatan.
1.6.2.6 Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri
a. Menerapkan mawas diri
b. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat c. Mengembangkan pengetahuan baru.
1.6.2.7 Area Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien
a. Memiliki sikap profesional
b. Berperilaku profesional dalam bekerja sama
c. Sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang profesional
d. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia e. Memenuhi aspek medikolegal dalam praktik kedokteran
f. Menerapkan keselamatan pasien dalam praktik kedokteran.
1.6.3Penjabaran Kompetensi
1.6.3.1 Area Komunikasi Efektif Kompetensi Inti:
Mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan non verbal dengan pasien pada semua usia, anggota keluarga, masyarakat, kolega dan profesi lain.
Lulusan Dokter Mampu:
a. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya 1) Bersambung rasa dengan pasien dan keluarganya
Memberikan salam
Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya
Mendengarkan dengan aktif (penuh perhatian dan memberi waktu yang cukup pada pasien untuk menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien)
Menyimpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran, maupun harapannya Memelihara dan menjaga harga diri pasien, hal-hal yang bersifat pribadi, dan kerahasiaan pasien sepanjang waktu
Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya dalam memutuskan suatu terapi dan tindakan.
2) Mengumpulkan Informasi
Mampu menggunakan open-ended maupun closed question dalam menggali informasi (move from open to closed question properly)
Menggunakan penalaran klinik dalam penggalian riwayat penyakit pasien sekarang, riwayat keluarga, atau riwayat kesehatan masa lalu
Melakukan penggalian data secara runtut dan efisien
Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur saat masih mengumpulkan data.
3) Memahami Perspektif Pasien
Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut penyakitnya
Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien, kekhawatirannya, dan harapannya
Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan emosi pasien (marah, takut, malu, sedih, bingung, eforia, maupun pasien dengan hambatan komunikasi misalnya bisu-tuli, gangguan psikis)
Mampu merespon verbal maupun bahasa non-verbal dari pasien secara profesional
Memperhatikan faktor biopsikososiobudaya dan norma-norma setempat untuk menetapkan dan mempertahankan terapi paripurna dan hubungan dokter pasien yang professional
Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh pasien (termasuk bahasa daerah setempat) sesuai dengan umur, tingkat pendidikan
ketika menyampaikan pertanyaan, meringkas informasi, menjelaskan hasil diagnosis, pilihan penanganan serta prognosis.
4) Memberi Penjelasan dan Informasi
Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stres sebelum melakukan pemeriksaan fisik
Memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang mungkin timbul selama pemeriksaan fisik atau tindakannya
Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap, dan jujur tentang tujuan, keperluan, manfaat, risiko prosedur diagnostik dan tindakan medis (terapi, operasi, prognosis, rujukan) sebelum dikerjakan
Menjawab pertanyaan dengan jujur, memberi konsultasi, atau menganjurkan rujukan untuk permasalahan yang sulit.
Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien maupun keluarganya
Memastikan mengkonfirmasikan bahwa informasi dan pilihan-pilihan tindakan telah dipahami oleh pasien
Memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merenungkan kembali serta berkonsultasi sebelum membuat persetujuan
Menyampaikan berita buruk secara profesional dengan menjunjung tinggi etika kedokteran
Memastikan kesinambungan pelayanan yang telah dibuat dan disepakati.
b. Berkomunikasi dengan sejawat
1) Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara lisan, tertulis, atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran
3) Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas, demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran.
c. Berkomunikasi dengan masyarakat
1) Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat 2) Menggali masalah kesehatan menurut persepsi masyarakat
3) Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat memahami kesehatan sebagai kebutuhan
4) Memanfaatkan media dan kegiatan kemasyarakatan secara efektif ketika melakukan promosi kesehatan
5) Melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan secara profesional.
d. Berkomunikasi dengan profesi lain
1) Mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberi waktu cukup kepada profesi lain untuk menyampaikan pendapatnya
2) Memberi informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi yang sebenarnya ke perusahaan jasa asuransi kesehatan untuk pemrosesan klaim
3) Memberikan informasi yang relevan kepada penegak hukum atau sebagai saksi ahli di pengadilan (jika diperlukan)
4) Melakukan negosiasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah kesehatan masyarakat.
1.6.3.2 Area Keterampilan Klinis Kompetensi Inti:
Melakukan prosedur klinis sesuai masalah, kebutuhan pasien dan sesuai kewenangannya.
Lulusan Dokter Mampu:
a. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan keluarganya
Menggali dan merekam dengan jelas keluhan-keluhan yang disampaikan (bila perlu disertai gambar), riwayat penyakit saat ini, medis, keluarga, sosial serta riwayat lain yang relevan.
b. Melakukan prosedur klinik dan laboratorium
1) Memilih prosedur klinis dan laboratorium sesuai dengan masalah pasien
2) Melakukan prosedur klinis dan laboratorium sesuai kebutuhan pasien dan kewenangannya
3) Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara yang seminimal mungkin menimbul-kan rasa sakit dan ketidaknyamanan pada pasien
4) Melakukan pemeriksaan fisik yang sesuai dengan masalah pasien
5) Menemukan tanda-tanda fisik dan membuat rekam medis dengan jelas/ benar 6) Mengidentifikasi, memilih ,menentukan pemeriksaan laboratorium yang sesuai 7) Melakukan pemeriksaan laboratorium dasar
8) Membuat permintaan pemeriksaan laboratorium penunjang
9) Menentukan pemeriksaan penunjang untuk tujuan penapisan penyakit
10) Memilih dan melakukan keterampilan terapeutik, serta tindakan prevensi sesuai dengan kewenangannya.
c. Melakukan prosedur kedaruratan klinis 1) Menentukan keadaan kedaruratan klinis
3) Melakukan prosedur kedaruratan klinis secara benar dan etis, sesuai dengan kewenangannya
4) Mengevaluasi dan melakukan tindak lanjut.
1.6.3.3 Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran Kompetensi Inti:
Mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang penyelesaian masalah kesehatan secara ilmiah menurut ilmu kedokteran kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum.
Lulusan Dokter Mampu:
a. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer
1) Menjelaskan prinsip-prinsip ilmu kedokteran dasar yang berhubungan dengan terjadinya masalah kesehatan, beserta patogenesis dan patofisiologinya
2) Menjelaskan masalah kesehatan baik secara molekular maupun selular melalui pemahaman mekanisme normal dalam tubuh.
3) Menjelaskan faktor-faktor non biologis yang berpengaruh terhadap masalah kesehatan.
4) Mengembangkan strategi untuk menghentikan sumber penyakit, poin-poin patogenesis dan patofisiologis, akibat yang ditimbulkan, serta risiko spesifik secara efektif
5) Menjelaskan tujuan pengobatan secara fisiologis dan molekular15
6) Menjelaskan berbagai pilihan yang mungkin dilakukan dalam penanganan pasien. 7) Menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan penanganan penyakit
baik klinik, epidemiologis, farmakologis, fisiologis, diet, olah raga, atau perubahan perilaku
8) Menjelaskan pertimbangan pemilihan intervensi berdasarkan farmakologi, fisiologi, gizi, ataupun perubahan tingkah laku
9) Menjelaskan indikasi pemberian obat, cara kerja obat, waktu paruh, dosis, serta penerapannya pada keadaan klinik
10) Menjelaskan kemungkinan terjadinya interaksi obat dan efek samping 11) Menjelaskan manfaat terapi diet pada penanganan kasus tertentu 12) Menjelaskan perubahan proses patofisiologi setelah pengobatan.
13) Menjelaskan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dalam mengelola masalah kesehatan.
b. Merangkum dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji labora-torium dan prosedur yang sesuai
1) Menjelaskan (patofisiologi atau terminologi lainnya) data klinik dan laboratorium untuk menentukan diagnosis pasti.
2) Menjelaskan alasan hasil diagnosis dengan mengacu pada evidence- based medicine.
c. Menentukan efektivitas suatu tindakan
1) Menjelaskan bahwa kelainan dipengaruhi oleh tindakan
2) Menjelaskan parameter dan indikator keberhasilan pengobatan. 3) Menjelaskan perlunya evaluasi lanjutan pada penanganan penyakit.
Mengelola masalah kesehatan pada individu, keluarga, ataupun masyarakat secara komprehensif, holistik, berkesinambungan, koordinatif, dan kolaboratif dalam konteks pelayanan kesehatan tingkat primer.
Lulusan Dokter Mampu:
a. Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh, bagian dari keluarga dan masyarakat
1) Menginterpretasi data klinis dan merumuskannya menjadi diagnosis sementara dan diagnosis banding
2) Menjelaskan penyebab, patogenesis, serta patofisiologi suatu penyakit
3) Mengidentifikasi berbagai pilihan cara pengelolaan yang sesuai penyakit pasien 4) Memilih dan menerapkan strategi pengelolaan yang paling tepat berdasarkan
prinsip kendali mutu, kendali biaya, manfaat, dan keadaan pasien serta sesuai pilihan pasien
5) Melakukan konsultasi mengenai pasien bila perlu
6) Merujuk ke sejawat lain sesuai dengan Standar Pelayanan Medis yang berlaku, tanpa atau sesudah terapi awal
7) Mengelola masalah kesehatan secara mandiri dan bertanggung jawab sesuai dengan tingkat kewenangannya
8) Memberi alasan strategi pengelolaan pasien yang dipilih berdasarkan patofisiologi, patogenesis, farmakologi, faktor psikologis, sosial, dan faktor-faktor lain yang sesuai
9) Membuat instruksi tertulis secara jelas, lengkap, tepat, dan dapat dibaca15 10) Menulis resep obat secara rasional (tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat
frekwensi dan cara pemberian, serta sesuai kondisi pasien), jelas, lengkap, dan dapat dibaca
11) Mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan pengobatan, memonitor perkembangan penanganan, memperbaiki dan mengubah terapi dengan tepat 12) Memprediksi, memantau, mengenali kemungkinan adanya interaksi obat dan
efek samping, memperbaiki atau mengubah terapi dengan tepat
13) Menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga secara holistik, komprehensif, koordinatif, kolaboratif, dan berkesinambungan dalam mengelola penyakit dan masalah pasien
14) Mengidentifikasi peran keluarga pasien, pekerjaan, dan lingkungan sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pertimbangan terapi.
b. Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit
1) Mengidentifikasi, memberi alasan, menerapkan dan memantau strategi pencegahan tertier yang tepat berkaitan dengan penyakit pasien, keadaan sakit atau perma-salahannya (pencegahan tertier adalah pencegahan yang digunakan untuk memper-lambat progresi dari penyakitnya dan juga timbulnya komplikasi, misalnya diet pada penderita DM, olah raga dsb.)
2) Mengidentifikasi, memberikan alasan, menerapkan dan memantau strategi pencegahan sekunder yang tepat berkaitan dengan pasien dan keluarganya (pencegahan sekunder adalah kegiatan penapisan untuk mengidentifikasi faktor risiko dari penyakit laten untuk memperlambat atau mencegah timbulnya penyakit, contoh pap smear, mantoux test).
3) Mengidentifikasi, memberikan alasan, menerapkan dan memantau kegiatan
4) Mengidentifikasi peran keluarga pasien, pekerjaan, dan lingkungan sosial sebagai faktor risiko terjadinya penyakit dan sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pencegahan penyakit.
5) Menunjukkan pemahaman bahwa upaya pencegahan penyakit sangat bergantung pada kerja sama tim dan kolaborasi dengan professional di bidang lain.
c. Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
1) Mengidentifikasi kebutuhan perubahan perilaku dan modifikasi gaya hidup untuk promosi kesehatan pada berbagai kelompok umur, jenis kelamin, etnis, dan budaya
2) Merencanakan dan melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat
3) Bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan program “Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS)”.
d. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan
1) Memotivasi masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat
2) Menentukan insidensi dan prevalensi penyakit di masyarakat serta mengenali keterkaitan yang kompleks antara faktor psikologis, kultur, sosial, ekonomi, kebijakan, dan faktor lingkungan yang berpengaruh pada suatu masalah kesehatan
3) Melibatkan masyarakat dalam mengembangkan solusi yang tepat bagi masalah kesehatan masyarakat
4) Bekerja sama dengan profesi dan sektor lain dalam menyelesaikan masalah kesehatan dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan pemerintah, termasuk antisipasi terhadap timbulnya penyakit-penyakit baru
5) Menggerakkan masyarakat untuk berperan serta dalam intervensi kesehatan 6) Merencanakan dan mengimplementasikan intervensi kesehatan masyarakat, serta
menganalisis hasilnya
7) Melatih kader kesehatan dalam pendidikan kesehatan 8) Mengevaluasi efektivitas pendidikan kesehatan
9) Bekerja sama dengan masyarakat dalam menilai ketersediaan, pengadaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat.
e. Mengelola sumber daya manusia dan sarana – prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga
1) Menjalankan fungsi managerial (berperan sebagai pemimpin, pemberi informasi, dan pengambil keputusan)
2) Menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga
3) Mengelola sumber daya manusia
4) Mengelola fasilitas, sarana dan prasarana.
1.6.3.5 Area Pengelolaan Informasi 1) Kompetensi Inti:
Mengakses, mengelola, menilai secara kritis kesahihan dan kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah, atau mengambil keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di tingkat primer.
a. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta penjagaan, dan pemantauan status kesehatan pasien
1) Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet) dengan baik 2) Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menila relevansi dan
validitasnya
3) Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah 4) Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data
relevan menjadi arsip pribadi
5) Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi informasi ilmiah secara sistematik
6) Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan menyimpan arsip.
b. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi
Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penggunaannya, dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk
berkembang dan keterbatasannya.
c. Memanfaatkan informasi kesehatan
1) Memasukkan dan menemukan kembali informasi dan database dalam praktik kedokteran secara efisien
2) Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran dengan menganalisis arsipnya
3) Membuat dan menggunakan rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
1.6.3.6 Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri
Kompetensi Inti:
a.
Melakukan praktik kedokteran dengan penuh kesadaran atas kemampuan dan keterbatasannyab.
Mengatasi masalah emosional, personal, kesehatan, dan kesejahteraan yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinyac.
Belajar sepanjang hayatd.
Merencanakan, menerapkan dan memantau perkembangan profesi secaraberkesinambungan. Lulusan Dokter Mampu a. Menerapkan mawas diri
1) Menyadari kemampuan dan keterbatasan diri berkaitan dengan praktik kedokterannya dan berkonsultasi bila diperlukan
2) Mengenali dan mengatasi masalah emosional, personal dan masalah yang berkaitan dengan kesehatannya yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya
3) Menyesuaikan diri dengan tekanan yang dialami selama pendidikan dan praktik kedokteran
4) Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkungan profesi dan pribadi 5) Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya atas kritik yang
membangun dari pasien, sejawat, instruktur, dan penyelia
8) Mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan yang baru.
9) Berperan aktif dalam Program Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan (PPPKB) dan pengalaman belajar lainnya
10) Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedokteran berbasis bukti ( Evidence-Based Medicine)
11) Mengambil keputusan apakah akan memanfaatkan informasi atau evidence
untuk penanganan pasien dan justifikasi alasan keputusan yang diambil
12) Menanggapi secara kritis literatur kedokteran dan relevansinya terhadap pasiennya
13) Menyadari kinerja professionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya.
b. Mengembangkan pengetahuan baru
1) Mengidentifikasi kesenjangan dari ilmu pengetahuan yang sudah ada dan mengembangkannya menjadi pertanyaan penelitian yang tepat
2) Merencanakan, merancang, dan mengimplementasikan penelitian untuk menemu-kan jawaban dari pertanyaan penelitian.
3) Menuliskan hasil penelitian sesuai dengan kaidah artikel ilmiah 4) Membuat presentasi ilmiah dari hasil penelitiannya.
1.6.3.7 Area Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien
Kompetensi Inti
a. Berperilaku professional dalam praktik kedokteran serta mendukung kebijakan kesehatan
b. Bermoral dan beretika serta memahami isu-isu etik maupun aspek medikolegal dalam praktik kedokteran
c. Menerapkan program keselamatan pasien.
Lulusan Dokter Mampu a. Memiliki Sikap profesional
1) Menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Dokter Indonesia
2) Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien
3) Menunjukkan kepercayaan dan saling menghormati dalam hubungan dokter pasien
4) Menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh
5) Mempertimbangkan masalah pembiayaan dan hambatan lain dalam memberikan pelayanan kesehatan serta dampaknya
6) Mempertimbangkan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai standar profesi 7) Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit
8) Menganalisis secara sistematik dan mempertahankan pilihan etik dalam pengobatan setiap individu pasien.
b. Berperilaku profesional dalam bekerja sama
1) Menghormati setiap orang tanpa membedakan status sosial
2) Menunjukkan pengakuan bahwa tiap individu mempunyai kontribusi dan peran yang berharga, tanpa memandang status sosial
3) Berperan serta dalam kegiatan yang memerlukan kerja sama dengan para petugas kesehatan lainnya
4) Mengenali dan berusaha menjadi penengah ketika terjadi konflik
5) Memberikan tanggapan secara konstruktif terhadap masukan dari orang lain 6) Mempertimbangkan aspek etis dan moral dalam hubungan dengan petugas
7) Mengenali dan bertindak sewajarnya saat kolega melakukan suatu tindakan yang tidak profesional.
c. Berperan sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang profesional 1) Berperan dalam pengelolaan masalah pasien dan menerapkan nilai-nilai
profesionalisme
2) Bekerja dalam berbagai tim pelayanan kesehatan secara efektif 3) Menghargai peran dan pendapat berbagai profesi kesehatan
4) Berperan sebagai manager baik dalam praktik pribadi maupun dalam sistem pelayanan kesehatan
5) Menyadari profesi medis yang mempunyai peran di masyarakat dan dapat melakukan suatu perubahan
6) Mampu mengatasi perilaku yang tidak profesional dari anggota tim pelayanan kesehatan lain.
d. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia
1) Menghargai perbedaan karakter individu, gaya hidup, dan budaya dari pasien dan sejawat
2) Memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia, gender, orientasi seksual, etnis, kecacatan dan status sosial ekonomi.
e. Aspek Medikolegal dalam praktik kedokteran
Memahami dan menerima tanggung jawab hukum berkaitan dengan : 1) Hak asasi manusia
2) Resep obat
3) Penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual 4) Kode Etik Kedokteran Indonesia
5) Pembuatan surat keterangan sehat, sakit atau surat kematian 6) Proses di pengadilan
7) Memahami UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
8) Memahami peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai badan yang mengatur praktik kedokteran
9) Menentukan, menyatakan dan menganalisis segi etika dalam kebijakan kesehatan.
f. Aspek keselamatan pasien dalam praktik kedokteran Menerapkan standar keselamatan pasien :
1) Hak pasien
2) Mendidik pasien dan keluarga
3) Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4) Penggunaan metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5) Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien 6) Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7) Komunikasi yang merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.
Menerapkan 7 (tujuh) langkah keselamatan pasien : 1) Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien 2) Memimpin dan mendukung staf
5) Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien
6) Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien 7) Mencegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien.
Bab II
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2.1 Sejarah
Sejak tahun 1982, pendidikan dokter di Indonesia mengacu pada “Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia” atau KIPDI I yang menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu.
Sesuai dengan percepatan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan, telah disepakati bahwa KIPDI akan diperbarui setiap 10 tahun. Pada tahun 1994, KIPDI II diterbitkan dan masih menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu sehingga gambaran dokter yang akan dihasilkan belum terinci secara eksplisit.
Standar Kompetesensi Dokter disusun untuk memperbarui KIPDI II tahun 1994 yang sudah saatnya diganti. Format Standar Kompetensi Dokter berbeda dengan KIPDI sebelumnya, karena menyesuaikan dengan perkembangan peraturan terkini yang tercantum pada SK Mendiknas No.045/U/2002, Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Jauh sebelum ditetapkannya, sejak SK Mendiknas No.045/U/2002, melalui Tim Penataan Kurikulum yang dibentuk berdasarkan SK Dekan FKUB No. 86//ST/J.191.10/KP/1999, FKUB telah berupaya mengembangkan kurikulum mengacu pada The Five Star Doctor (WHO-SEARO, 1995 ). Hasil kerja tim ini menjadi bahan Rapat Kerja Tahun 2000 yang menghasilkan Profil Lulusan dan Kompetensi lulusan yang saat itu diputuskan mencacu pada Kompetensi Lulusan berdasarkan
The Australian Medical Council. Untuk tindak lanjutnya, melalui SK Dekan FKUB No. 036/SK/J10.1.1.17/KP/2002 dibentuk Komite Kurikulum. Produk Komite ini berupa Struktur Kurikulum KBK yang pertama kali dibahas dan disetujui dalam Rapat Kerja Tahun 2004. Pada saat itu, banyak rumusan Kompetensi Lulusan Pendidikan Dokter digagaskan. Selain dari The Australian Medical Council, muncul pula Konsep Kompetensi Dokter dari Proyek Health Worker Service World Bank / DitjenDikTi dan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). Acuan akhir adalah rumusan Kompetensi berdasarkan SK Mendiknas No 045/U/2002 pada pasal 2, sedang Standar Kompetensi mengacu pada rumusan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).
Untuk mempersiapkan pembelajaran KBK, Dekan FKUB membentuk Tim Persiapan Pelaksanaan PBL dengan Surat Tugas No. 901/ST/J10.1.17/KP/2004. Tim ini mengadakan beberapa kali uji coba penyelenggaraan PBL, Training of Trainers untuk calon fasilitator PBL, pelatihan penyusunan modul untuk mempersiapkan bahan ajar, sekaligus sosialisasi PBL/KBK bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga administrasi. Pada tahun itu pula dibuka labskill sebagai prasarana dan sarana pembelajaran keterampilan klinis.
Menjelang diawalinya implementasi KBK pada tahun ajaran 2007-2008, Dekan membentuk Kelompok Kerja Substansi Kurikulum melalui SK No. 035/SK/J10.1.17/KP/2007 yang kemudian
dikembangkan menjadi Medical Education Unit berdasarkan SK Dekan FKUB No.
dikembangkan setiap tahunnya sampai kini. Untuk lebih mengefektifkan kinerja serta sinergi dengan Jurusan Kedokteran dalam melaksanakan proses pembelajaran di Program Studi Pendidikan Dokter, pada tahun 2009 Medical Education Unit mengalami pengembangan personil dengan fungsi seperti sebelumnya, dan unit ini yang menyusun Pedoman Akademik ini.
2.2 Definisi Kurikulum dan Pendekatan Pembelajarannya
Kurikulum, menurut David Pratt (1990) adalah: “An organized set of formal teaching and learning intentions“. Mengacu kepada definisi tersebut, hakekat sebuah kurikulum adalah sebuah dokumen tertulis tentang struktur pembelajaran yang memiliki manajerial yang jelas dan terencana (organized), mengikat (formal) dosen maupun mahasiswa dalam sebuah proses belajar mengajar yang mempunyai tujuan yang jelas (teaching-learning intentions). Sebagai sebuah struktur, maka kurikulum harus terdiri dari: rumusan tujuan, materi ajar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan beserta distribusinya secara tepat ke dalam semester, distribusinya kedalam matakuliah, dan distribusinya dalam beban belajar, proses belajar mengajar dengan model pembelajaran yang sesuai, evaluasi proses (yang dapat diamati) dan hasil belajar yang terstandarisasi (dapat diukur), untuk menghasilkan pengukuran (scoring) dan penilaian (grading) serta pengambilan keputusan yang adil, objektif, dan jujur.
Dalam konteks kurikulum konvensional, ketercapaian tujuan kurikulum dinyatakan dengan kelulusan atas seluruh matakuliah disiplin ilmu (discipline-based).
Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), ketercapaian tujuan kurikulum dinyatakan dengan telah dikuasainya kompetensi yang ditetapkan yang diukur berdasarkan Standar Kompetensi yang digunakan, yaitu Standar Nasional yang mengacu Standar Kompetensi Dokter dari Konsil Kedokteran Indonesia, dan Standar Internasional yang mengacu pada WFME Global Standandarts of Basic Medical Education for Quality Improvement .
Kurikulum, menurut KepMenDikNas 045/U/2002 pasal 3 dan 5, terdiri dari Kurikulum Inti sebagai penciri kompetensi utama yang ditetapkan secara nasional, dan Kurikulum Pendukung yang berisi kompetensi pendukung atau kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetesi utama suatu program studi yang ditetapkan oleh program studi itu sendiri.
2.3 Karakteristik KBK PSPD FKUB
2.3.1 KBK Program Studi Pendidikan Dokter FKUB (PSPD FKUB), dirancang melalui sejarah yang cukup panjang dengan pendalaman pada karakteristik dan kapasitas berkembang yang ada (lihat Sejarah). Oleh karena itu, selain karakteristik KBK pada umumnya, KBK PSPD FKUB mengamanatkan pula keinginan stakeholders terutama para senior untuk selain membekali kompetensi bagi lulusannya, juga membekali penguasaan disiplin ilmu kedokteran, agar selain mampu bekerja di sektor kesehatan masyarakat, lulusan juga berpeluang me-ngembangkan diri sebagai ilmuwan atau melanjutkan diri sebagai pengembang Ilmu Kedokteran (medical scientist). Dalam konteks operasional, hal ini memberikan tugas kepada Laboratorium di lingkungan PSPD FKUB untuk selain wadah membelajarkan kompetensi, juga menjadi pusat pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terkait disiplin ilmu masing-masing.
2.3.2 Penekanan pada pembelajaran disiplin ilmu ini akan memperkuat pencapaian area kompetensi
“Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran” dalam implementasi tugas profesi.
2.3.4 Bagi PSPD FKUB, masyarakat pengguna (stakeholders) bukan hanya masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan dan atau kedokteran dari lulusannya. Masyarakat pengguna lainnya, dimana lulusan juga dapat berkiprah, adalah komunitas ilmiah baik Lembaga Riset dan Pengembangan, juga pendidikan jenjang akademik S2-S3. Implementasi Kebijakan ini dalam KBK PSPD FKUB dinyatakan dengan pembelajaran Metodologi Riset, penelitian untuk menyusun Tugas Akhir (TA) yang bersifat wajib, dan pembelajaran disiplin ilmu yang disebut sebagai Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) secara sinergis pada setiap Blok KBK dengan pembelajaran kompetensi yang disebut sebagai Matakuliah Kompetensi (MKK).
2.3.5 Evaluasi keberlanjutan studi dilaksanakan pada akhir Semester II dan Semester VII, agar mahasiswa yang memang memiliki potensi akademik yang baik dapat melanjutkan pendidikannya ke semester-semester berikutnya. Kebijakan ini bertujuan untuk menjamin kualitas lulusan Uji Kompetensi Dokter tetap terjaga, selain menjamin kualitas PSPD FKUB sendiri sebagai institusi pendidikan dokter yang unggul dan berkualitas.
2.3.6 Dengan dasar-dasar diatas serta penerapan otonomi pendidikan khususnya otonomi akademik, maka selain karakteristik KBK pada umumnya, PSPD FKUB mengembangkan KBK-nya dengan karakteristik berikut:
a. Masa Studi adalah 5 tahun, terdiri dari Pendidikan Tahap Akademik 7 semester dan Pendidikan Tahap Profesi Dokter Clerkship 3 semester.
b. Curriculum content sepanjang 7 semester disusun sesuai dengan prinsip pembelajaran KBK. Pada semester awal, pembelajaran keilmuan dibelajarkan lebih banyak dan semakin berkurang pada semester-semester diatasnya. Sebaliknya, penguasaan keterampilan klinik (clinical skill) menjadi lebih banyak menjelang pendidikan tahap clerkship dilaksanakan. c.Pendidikan Tahap Akademik akan menghasilkan lulusan dengan gelar Sarjana Kedokteran
(SKed.). Sebagai Sarjana, selain dapat melanjutkan mengikuti Pendidikan Tahap Profesi Dokter, lulusan dapat melanjutkan diri mengikuti pendidikan akademik S2 dan selanjutnya.
d. Pembelajaran pada dua semester awal dari Tahap Pendidikan Akademik dimaksudkan untuk pencapaian dasar 7 Area Kompetensi KKI terutama “Area Komunikasi Efektif” dan
“Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran”. Tahap ini berujung pada evaluasi keberlanjutan studi
ke semester-semester barikutnya.
e. Pembelajaran pada lima semester berikutnya merupakan pembelajaran ilmu-ilmu klinik berbasis pada Sistem (System-based Clinical Science). Pada setiap Sistem dibelajarkan: Struktur dan Fungsi Normal serta Perubahan Patologis Sistem tersebut, Penyakit yang menyangkut Sistem, Prinsip Terapi, Dampak Penyakit pada Individu, Keluarga, dan Masyarakat, serta Kedaruratan Medik (sebagai konsekuensi menjadi Unggulan PSPD FKUB). Acuan dalam penyusunan materi ini adalah United States Medical Licensing Examination
(USMLE) tahun 2008. Tahap ini diakhiri dengan evaluasi untuk memperoleh gelar SKed.
f.Pendidikan Tahap Akademik ditambah Pendidikan Tahap Profesi Clerkship akan menghasilkan lulusan dengan sebutan Dokter (tanpa lisensi atau doctor without license) yaitu dokter yang belum memiliki hak untuk berpraktik dan dengan sendirinya belum memperoleh ijin untuk berpraktik (SIP).
h. Menyadari bahwa penyusunan modul dengan tema disease atau clinical skill tertentu tidak dapat mengakomodasi seluruh materi disiplin ilmu, maka materi MKDI yang tidak terlibat dalam modul dapat dibelajarkan tersendiri sepanjang pembelajaran setiap Blok berlangsung, pada Semester III sampai dengan Semester VII.
i.Materi MKDI yang relevan dengan modul dan keterampilan klinik (clinical skill) tertentu, diintegrasikan ke dalam dan menjadi komponen pendukung modul dan keterampilan klinik tersebut. Setiap modul diberi nama yang menggambarkan isi modul terintegrasi.
j.Oleh karena itu sebuah Blok akan mengandung komponen penguasaan kompetensi dan komponen penguasaan disiplin ilmu sekaligus.
k. Untuk meningkatkan mutu lulusan khususnya dalam area “Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran” dan “Area Mawas Diri serta Pengembangan Diri”, PSPD FKUB membelajarkan Metodologi Riset dan memberikan Tugas Akhir kepada mahasiswanya. Pembelajaran materi ini menunjukkan berkorelasi positif dengan ketercapaian prestasi bergengsi dalam berbagai lomba karya ilmiah nasional yang diadakan Dikti dan institusi lain. Materi ini mendorong pula ketercapaian paradigma learning how to learn sebagai bekal pencapaian area
kompetensi “Belajar Sepanjang Hayat”.
l.PSPD FKUB menerapkan pula PBL-hybrid pada setiap semester kurikulumnya untuk
memperkuat pencapaian kompetensi “Belajar Sepanjang Hayat” dan memelihara
konsistensi pendekatan pembelajaran dengan pendekatan SPICES (Student Centered, Problem-based, Intergrated, Community Oriented, Early Exposure to Clinic, and Systematic
) pada setiap Blok KBK.
m.Diujung Semester VII, sebelum tahap Clerkship, diberikan matakuliah kompetensi tentang keamanan pasien sesuai dengan The WHO Patient Safety Curriculum Guides for Medical Schools yang bertujuan memberikan kompetensi dalam penanganan/manajemen terhadap kesalahan terapi atau timbulnya reaksi samping (adverse reactions) dan secara umum untuk lebih meningkatkan komunikasi efektif, penggunanaan evidence-based medicine,
serta berpraktik dengan aman dan etis.
n. Dengan melalui pembelajaran-pembelajaran diatas, maka lulusan PSPD FKUB akan memperoleh: 1) Transkrip Kompetensi, 2) Sertifikat Penguasaan Kompetensi, dan 3) Transkrip Akademik untuk digunakan memasuki pasar kerja dan atau komunitas ilmiah lainnya.
2.4 Struktur Kurikulum
Rekapitulasi hal-hal karakteristik KBK PSPD FKUB diatas diatur dalam Struktur Kurikulum berikut.
2.4.1 Umum
a. Pendidikan Dokter di Program Studi Pendidikan Dokter FKUB ditempuh dalam 5 tahun. Pendidikan ini dibagi menjadi 2 tahap pendidikan berturutan, masing-masing Tahap Pendidikan Akademik berlangsung 7 semester dan Tahap Pendidikan Profesi 3 semester. Tahap Pendidikan Akademik meliputi Tahap Pendidikan Dasar Kedokteran selama 2 semester yakni Semester I dan II, serta Tahap Pendidikan Kompetensi Klinik selama 5 semester. Tahap Pendidikan Profesi terdiri dari Tahap Clerkship.
b. Implementasi Pendidikan dikaitkan dengan kekhususan Kurikulum Berbasis Kompetensi baik kekhususan dalam penetapan beban studi maupun dalam proses belajar mengajarnya yang berbeda bermakna terhadap pembelajaran konvensional.
Blok karena kompetensi yang diperoleh dalam Blok itu tidak akan dibelajarkan lagi dalam Blok lain melainkan langsung diaplikasikan dalam praktik klinik.
d. Setiap Blok terdiri dari 4 komponen: 1) Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) yang terkait dengan tema Blok, 2) Praktikum MKDI (kalau ada), 3) Modul terintegrasi (integrasi MKDI terkait tema Blok), dan 4) Skill (pembelajaran keterampilan klinik terkait tema Blok). Pada Semester I dan II, modul dan keterampilan klinik tidak selalu berkaitan.
e. Setiap Blok disebut sebagai Matakuliah Kompetensi (MKK).
f. Diluar struktur Blok, pada semester tertentu terdapat PBL- hybrid, Metodologi, Tugas Akhir, dan Program Kerja Nyata Mahasiswa (PKNM).
2.4.2 Tahap Pendidikan Dasar Kedokteran
a. Pendidikan pada tahap ini bertujuan menghasilkan penguasaan Kompetensi Dasar
Kedokteran, khususnya dalam pencapaian kompetensi “Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran”
melalui Humaniora, Ilmu Dasar Kedokteran yang terintegrasi, Dasar Komunikasi Efektif dan
History Taking, Dasar Kedaruratan Medik, Pemeriksaan Fisik Diagnostik Umum, dan Tanda-Tanda Vital, yang semuanya akan menjadi dasar bagi penguasaan keilmuan kedokteran klinik dan keterampilan klinik pada tahap-tahap selanjutnya.
b. Tahap ini sekaligus merupakan tahap penapisan bagi mereka yang dapat atau tidak dapat melanjutkan pendidikan KBK di Program Studi Pendidikan Dokter Jurusan Kedokteran FKUB.
2.4.3 Tahap Pendidikan Kompetensi Klinik
a. Pendidikan pada tahap ini bertujuan mencapai seluruh area kompetensi dokter melalui pembelajaran Blok-Blok Kompetensi Klinik (clinical sciences) berbasis Sistim. Pada tahap ini terdapat 14 blok meliputi 11 sistim dan 3 Disiplin Ilmu Kedokteran Klinik yang tidak termasuk dalam Sistim, yaitu: 1) Sistim Muskuloskeletal, 2) Sistim Hematologi dan Jaringan Limforetikuler, 3) Sistim Kulit dan Jaringan Ikat, 4) Sistim Saraf dan Jiwa, 5) Sistim Mata dan THT, 6) Sistim Kardiovaskuler, 7) Sistim Respirasi, 8) Sistim Gastro-Entero-Hepatologi, 9) Sistim Reproduksi, 10) Sistim Ginjal dan Saluran Kemih, 11) Sistim Endokrin dan Metabolik, 12) Anestesi, 13) Penyakit Tropik & Infeksi, 14) Kedokteran Forensik, Etika dan Kode Etik Kedokteran, serta Keamanan Pasien,.
b. Pada semeter diluar pembelajaran Blok, terdapat PBL-hybrid, Metodologi, Tugas Akhir dan PKMN.
c. Pada setiap Blok, beberapa matakuliah dasar kedokteran dan kedokteran klinik terintegrasi baik horisontal maupun vertikal ke dalam Blok yang relevan.
d. Keterampilan klinik terkait dengan Blok/MKK tersebut juga diintegrasikan. Keterampilan klinik
dibelajarkan dalam “sistim Labskill”. Yang dimaksud “sistim Labskill” adalah sistim pembelajaran keterampilan klinik yang dilaksanakan baik di Labskill, di lab sentral Biomedik, dan di Laboratorium atau di Bagian/Departemen yang dipandang perlu. Pembelajaran Keterampilan klinik dikoordinasikan oleh Tim Skill dibawah Jurusan Kedokteran.
e. Setelah menyelesaikan tahap pendidikan ini, diperoleh gelar Sarjana Kedokteran (SKed.) dan berhak mengikuti Wisuda Sarjana.
f. Tahap pendidikan ini merupakan tahap penapisan untuk mengikuti tahap pendidikan selanjutnya. Gelar Sarjana Kedokteran yang diperoleh merupakan prasyarat otomatis untuk melanjutkan pendidikan ke tahap clerkship atau untuk mendaftarkan diri mengikuti Program Pascasarjana S2.
2.4.4 Tahap Kepaniteraan Klinik (Clerkship)
b. Pada tahap ini lulusan Sarjana Kedokteran mengikuti pembelajaran klinik dalam bentuk kepaniteraan klinik di Jejaring Lahan Pendidikan dibawah supervisi dan mengikuti dosen yang kompeten.
c. Yang dimaksud Jejaring Lahan Pendidikan adalah sarana/prasarana pembelajaran klinik terpadu dan dalam konteks pengelolaan pembelajaran dibawah koordinasi Jurusan Kedokteran. Jejaring dapat meliputi: Rumahsakit Utama Pendidikan, Rumahsakit afiliasi/satelit, dan Pusat Kesehatan Masyarakat yang dimanfaatkan bagi pendidikan klinik PSPD FKUB.
d. Pembelajaran dilaksanakan oleh dosen tetap, dosen jejaring lahan pendidikan baik sebagai dosen luar biasa maupun sebagai dosen kontrak. Legitimasi dalam pembelajaran dicapai dengan Surat Tugas Dekan.
e. Rotasi pembelajaran clerkship didelegasikan kepada Koordinator Clerkship /Pembelajaran Klinik dibawah Jurusan.
f. Setelah menyelesaikan tahap ini dengan baik, mahasiswa/Sarjana Kedokteran berhak mendapatkan sebutan Dokter, akan tetapi tanpa lisensi sebagai pengakuan untuk diperbolehkan melakukan praktik dokter.
2.5 Isi Kurikulum 2.5.1 Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum berbasis kompetensi Program Studi Pendidikan Dokter dapat dilihat pada Gambar 2.1 pada halaman berikut.
S
III
Sistem Muskuloskeletal (8) Bedah, Onkologi, Radiologi Dasar (2)
Gambar 2.1 Bagan Struktur Kurikulum
2.5.2 Sebaran Matakuliah di Setiap Semester
Sebaran matakuliah berdasarkan tahap pendidikan dan semester dengan beban studi serta kode matakuliah adalah seperti pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Sebaran, Kodifikasi dan Beban Studi Matakuliah
Tahap
Bioetika & Hukum Kedokteran BHK 2
Metodologi 1, berisi:
Metode Ilmiah & Perkembangan Ilmu, Keterampilan Belajar
Met1 2
Ilmu Kesehatan Masyarakat &
Dasar Infeksi Mikroba DK1.4 2
Imunologi DK1.5 2
Siklus Hidup & Nutrisi DK1.7 4
Basic Communication & History Taking
Kompetensi Klinik Hematologi & Limforetikuler
Kompetensi Klinik Respirasi KKRes 5
Kompetensi Klinik Anestesi-1 KKAn2 1
Metodologi 3, berisi:
Dasar penulisan proposal penelitian: Pengembangan permasalahan & hipotesis, Disain penelitian (eksperimental & observasi), Pengolahan data, Statistik aplikatif
Problem Based Learning 2 PBL2 1
VI 1
Kompetensi Klinik Gastroenterohepatologi
KKGEH 7
Kompetensi Klinik Reproduksi KKRep 4
2
Kompetensi Klinik Ginjal dan Saluran Kemih
KKGSK 4
Pelaksanaan Tugas Akhir Met4 4
Problem Based Learning 4 PBL4 1
VII 1
Kompetensi Klinik Endokrin dan Metabolik
KKEM 6
Kompetensi Spesifik, berisi: Kedokteran Tropik
KSKT 2
2
Kompetensi Penunjang, berisi: Keselamatan Pasien Kedokteran Forensik Bahasa Inggris
KPKP KPKF H4
3 3 2
Program Kerja Nyata
Mahasiswa
PKNM 3
Problem Based Learning 5 PBL5 1
2.5.3 Tahap Pendidikan Profesi (Clerkship)
Ketentuan menyangkut pendidikan, pembelajaran, rotasi, dan asesmen proses, serta hasil belajar
Bab III
PERAN, FUNGSI, KOORDINASI
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Manajemen internal yang efektif, produktif, dan efisien merupakan salah satu indikator kualitas sebuah institusi pendidikan. Manifestasi dari manajemen internal yang seperti itu akan tercipta apabila terdapat deskripsi jelas tentang peran, fungsi, dan tugas masing-masing unsur penyelenggaraan pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Unsur yang dimaksud meliputi: Pimpinan Fakultas, Gugus Penjaminan Mutu (GJM), Unit Penjaminan Mutu (UJM), Jurusan, Medical Education Unit (MEU), Laboratorium, Penanggung-jawab Matakuliah dan Kelompok Pengajar, Staf Administrasi Akademik, Penasehat Akademik, Unit Bimbingan dan Konseling, serta Mahasiswa.
3.1 Peran dan Fungsi dalam Penyelenggaraan Pembelajaran 3.1.1 Pimpinan Fakultas
a. Pimpinan Fakultas terdiri dari Dekan, Pembantu Dekan I Urusan Akademik, Pembantu Dekan II Urusan Personalia dan Keuangan, Pembantu Dekan III Urusan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
b. Pimpinan Fakultas dalam Pedoman Akademik ini berfungsi sebagai Pimpinan Struktural Fakultas dalam implementasi kurikulum.
c. Pimpinan Fakultas bertugas:
1) Menyelenggarakan tugas dan fungsi fakultas dalam memelihara penyelenggaraan pendidikan oleh jurusan, khususnya dalam impementasi kurikulum
2) Merumuskan jabaran produk normatif Senat Fakultas menyangkut penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Kompetensi ke dalam program operasional
3) Merumuskan Kebijakan Operasional Fakultas terkait dengan penyelenggaraan dan pengembangan Kurikulum.
3.1.2 Gugus Jaminan Mutu (GJM)
a. Gugus Jaminan Mutu Fakultas (GJM) adalah unit penunjang Fakultas, dibawah dan bertanggungjawab kepada Dekan dalam hal pengendalian standar dan penjaminan mutu Institusi Fakultas.
b. Dalam melaksanakan tugasnya, mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan dari Pusat Jaminan Mutu (PJM) Universitas.
3.1.3 Unit Jaminan Mutu (UJM)
a. Unit Jaminan Mutu (UJM) adalah unit penunjang fakultas di bawah dan bertanggungjawab kepada Dekan dalam hal pengendalian standar dan penjaminan mutu Jurusan.
1) Menyusun Standar Penjaminan Mutu Jurusan dalam melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Program Studi Pendidikan Dokter 2) Menyusun dan melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) Monitoring dan
Evaluasi terhadap Jurusan dalam penyelenggaraan KBK Program Studi Pendidikan Dokter
3) Bersama Medical Education Unit melakukan monitoring dan evaluasi penyelengga-raan kurikulum dan proses belajar mengajar oleh Jurusan.
3.1.4 Medical Education Unit (MEU)
Medical Education Unit berfungsi sebagai unit penunjang fakultas dibawah dan bertanggungjawab kepada Dekan dalam perencanaan, pengkajian, dan pengembangan,
monitoring dan evaluasi internal terhadap kurikulum, proses belajar mengajar, keterampilan instruksional dosen, dan infrastruktur Akademik Fakultas.
3.1.5 Jurusan
a. Jurusan dalam Pedoman Akademik ini adalah Jurusan Kedokteran yang
merupakan salah satu Jurusan diantara 3 jurusan yang ada di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya atas nama Rektor Universitas Brawijaya.
b. Personalia Jurusan terdiri dari seorang Ketua dan seorang Sekretaris yang dipilih dan ditetapkan berdasarkan Keputusan Rektor No. 233/SK/2007 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Ketua/Sekretaris Jurusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
c. Struktur dan Kedudukan Jurusan sesuai dengan Struktur Jurusan menurut Struktur dan Kedudukan Organisasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
d. Jurusan berfungsi sebagai unit struktural dalam organisasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang bertanggungjawab kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sebagai unit penyelenggara pendidikan dokter.
e. Jurusan dalam Pedoman Akademik ini membawahi Program Studi Pendidikan Dokter dan Kelompok Pengajar terkait dengan Program Studi tersebut.
f. Dalam menyelenggarakan pendidikan dokter, Jurusan bertugas:
1) Mengoperasionalkan Visi, Misi, dan Grand Strategy fakultas sesuai dengan fungsi dan kedudukannya dibidang akademik, khususnya dalam penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Fakultas
2) Menetapkan Silabus dan Isi Pengajaran
3) Menetapkan area, komponen, dan kompetensi bahan ajar tiap Matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi
4) Menjaga agar seluruh area kompetensi tersebar secara proporsional dalam seluruh matakuliah dan keterampilan yang dibelajarkan
5) Menetapkan laboratorium yang akan menjadi host sebagai tempat utama pembelajaran kompetensi terkait
6) Mengkoordinasikan Penanggungjawab Matakuliah Kompetensi (PJMK)
7) Mengkoordinasikan pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi hasil belajar Program Studi Pendidikan Dokter.
g. Dalam melaksanakan tugasnya, Jurusan dibantu oleh:
1) Koordinator Pendidikan Dasar Kedokteran, untuk Semester I, II
h. Dalam penyelenggaraan pendidikan dokter berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jurusan berkoordinasidengan:
1) Pimpinan Fakultas, dalam hal implementasi kebijakan akademik Fakultas, dan penyelenggaraan ketetapan Fakultas terkait dengan tugas dan fungsi Jurusan.
2) Jurusan lain dilingkungan fakultas dalam hal resource sharing penggunaan sumberdaya manusia, sarana, prasarana, dan unit-unit penyelenggara pendidikan serta administrasi akademik fakultas.
3) Unit Jaminan Mutu dalam hal koordinasi pemantauan penjaminan mutu kurikulum dan pelaksanaan proses belajar mengajar.
4) Medical Education Unit dalam hal koordinasi tentang:
Perencanaan, Pengkajian, dan Pengembangan Konsep Kurikulum dan Evaluasi Kurikulum
Perencanaan, Pengkajian, dan Pengembangan Konsep Proses Belajar Mengajar dan Evaluasi Hasil Belajar
Perencanaan, Pengkajian, serta Pengembangan Konsep Keterampilan Instruksional Dosen dan Konsep Pengembangan Infrastruktur Jurusan.
5) Laboratorium dalam hal:
Penempatan dosen laboratorium dalam kelompok pengajar pengampu matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi
Penetapan bahan ajar matakuliah laboratorium dalam matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pemanfaatan sarana dan prasarana akademik yang dimiliki laboratorium dalam pembelajaran terintegrasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
Monitoring dan Evaluasi Proses dan Hasil pelaksanaan pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi.
6) Penanggungjawab Matakuliah Kompetensi (PJMK), dalam hal:
Mengkooordinasikan penyusunan jadwal, materi pembelajaran, tutor/fasilitator dan pengampu materi pembelajaran, serta pelaksanaan ujian dan penilaian matakuliah kompetensi.
7) Sub bagian Administrasi Akademik Fakultas dalam hal:
Mengkoordinasikan unit administrasi khusus jurusan dalam jajaran tata usaha, khususnya di bagian adminsitrasi akademik fakultas untuk tata laksana administrasi pengajaran dan pelaksanaan pembelajaran di Jurusan
Mengusulkan kebutuhan, pemanfaatan, pemeliharaan, dan
pengembangan sarana dan prasarana tata usaha dan bagian administrasi akademik fakultas yang diperlukan bagi perencanaan dan penyelenggaraan pembelajaran. 8) Dosen Penasehat Akademik, melalui otoritas Pembantu Dekan I dalam hal:
pembimbingan rencana studi, cara belajar, dan pemantauan proses dan hasil belajar mahasiswa.
9) Unit Bimbingan Konseling, melalui otoritas Pembantu Dekan III dalam hal bimbingan non-akademik yang diperlukan mahasiswa.
10) Mahasiswa melalui perwakilannya, dalam hal: perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi proses belajar mengajar.
3.1.6 Laboratorium
b. Dalam Pedoman Akademik ini, Laboratorium bertugas:
1) Memfasilitasi Jurusan dalam penggunaan sarana dan prasarana belajar baik sebagai host maupun sebagai wadah penunjang pembelajaran KBK
2) Memfasilitasi permintaan Jurusan dalam menunjuk dosen laboratorium yang menjadi host MKK untuk menjadi Penanggungjawab Matakuliah dan atau anggota kelompok pengajar matakuliah KBK
3) Memfasilitasi Jurusan dengan mengkontribusikan bahan ajar (course content) matakuliah-nya yang relevan dengan kompetensi tertentu.
c. Dalam hal memfasilitasi Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) diatas, Laboratorium seyogyanya:
1) Memperhatikan dan berkoordinasi dengan Jurusan untuk menjaga pemerataan pendistribusian dosen laboratorium dalam kegiatan Jurusan agar seluruh dosen laboratoriumnya berfungsi maksimal dalam memenuhi standar EWMP masing-masing dosen
2) Memperhatikan dan berkoordinasi dengan Jurusan untuk menjaga agar program pengajaran Laboratorium (kuliah dan praktikum) tersebar dalam program pengajaran Jurusan secara proporsional agar tujuan instruksional masing-masing matakuliah laboratorium tetap dapat dicapai secara maksimal
3) Memperhatikan dan berkoordinasi dengan Jurusan untuk menjaga agar isi matakuliah (course content) laboratorium dapat terdistribusikan secara proporsional ke dalam silabus Jurusan
4) Memelihara dan mengembangkan mutu isi matakuliah yang relevan dengan kompetensi yang akan dicapai lulusan
5) Tetap mengembangkan potensi akademik, keterampilan instruksional, penelitian dan pengembangan ilmu dosen dilingkungannya dalam menunjang pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi.
d. Laboratorium dipimpin oleh seorang Kepala Laboratorium yang bertanggungjawab kepada Dekan dalam perancangan dan pelaksanaan tugas Laboratorium, yaitu:
1) Menjaga terdistribusinya pembelajaran ilmu di Laboratorium dalam MKK dan MKDI untuk mencapai kompetensi dokter yang ditetapkan
2) Melaksanakan pengembangan ilmu di Laboratorium melalui penelitian & pengabdian kepada masyarakat
3) Mengatur pengembangan staf dalam bidang akademik dan profesional
e. Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Laboratorium dibantu oleh satu atau lebih Penanggungjawab Pembelajaran (PJP) untuk mengkoordinasikan pembelajaran dengan setiap Program Studi yang menggunakan Laboratorium terkait dalam proses belajar mengajarnya.
f. Dalam hal pembelajaran Matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi, PJP bertanggung-jawab terhadap evaluasi hasil belajar MKDI dan atas sepengetahuan Kepala Laboratorium menyerahkan nilai ujian MKDI kepada PJMK.