Tugas ujian Sistem Sosial Budaya dan Hukum Masyarakat Pantai
MAKALAH
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PANTAI DALAM PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA ABALONE
DOSEN PENGAMPU:
PROF. DR. MUDJAHIRIN THOHIR, M. A.
`
DISNAWATI 26010111400043
PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA KELAUTAN MAGISTER MANAJEMEN SUMBERDAYA PANTAI
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Abalone (Haliotis asinina) merupakan salah satu komoditas perikanan laut yang bernilai ekonomis dan memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Abalone merupakan moluska laut yang termasuk dalam kelas Gastropoda, genus Haliotis. Abalone tersebar di perairan Indonesia timur seperti Lombok, Surnbawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sejauh ini masyarakat nelayan memanfaatkan abalone dengan cara menangkap di alam kemudian di jual pada pengumpul dengan harga yang rendah dibanding dengan harga abalone di pasar nasional maupun internasional. Berdasarkan hasil survei di daerah Tapulaga, kawasan pesisir Sulawesi Tenggara pada tahun 2008, harga abalone segar 1 kg langsung dari nelayan tangkap Rp. 50.000/kg dengan jumlah abalone tergantung ukuran. Untuk ukuran induk bisa 3-4 ekor/kg nya sedangkan ukuran 3-4cm bisa 5 ekor/kg nya.
Abalone adalah makanan lezat yang bernilai ekonomis tinggi dan sangat digemari seperti di Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Kanada. Di rumah makan seafood, abalone adalah santapan kelas tinggi, untuk masakan abalone Mexico harganya Rp 1.375.000/porsi. Harga satu kaleng abalone Mexico yang berisi satu abalone dan sepotong tambahannya Rp 900.000, yang berasal dari Australia Rp 550.000 per kaleng, dari New Zealand Rp 450.000. Abalone kering di salah satu toko di Jakarta dijual antara Rp 8.000-19.000 per gram. Manfaat lain abalone adalah cangkangnya yang mempunyai kilap mutiara, beberapa spesies dari luar di antaranya ada yang berwarna-warni (fluorescence) dan dipergunakan sebagai bahan perhiasan, inti mutiara (mother of pearl), dan lain-lain (Dharma, 2009).
punah dan habitat daerah karang tempat hidupnya mengalami kerusakan yang akan berdampak negatif juga terhadap lingkungan dan organisme lain sekitarnya. Selain itu akan berdampak pada keberlanjutan nelayan penangkap abalone.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan suatu usaha pengembangan abalone tanpa mengandalkan tangkapan abalone di alam, salah satunya adalah kegiatan budidaya dengan pemberdayaan masyarakat pesisir. Dengan memberdayakan masyarakat pesisir berarti menciptakan peluang bagi masyarakat pesisir untuk menentukan kebutuhannya, merencanakan dan melaksanakan kegiatannya, yang akhirnya menciptakan kemandirian permanen dalam kehidupan masyarakat itu sendiri sehingga dapat meningkatkatkan taraf hidupnya.
I.2. Tujuan
II. PEMBAHASAN
Sejauh ini nelayan mengekploitasi abalone dengan cara melakukan penangkapan abalone di alam. Kegiatan ini akan berdampak negatif jika dilakukan terus-menerus karena akan menyebabkan overeksploitasi dan mengancam keberlajutan usaha penangkapan nelayan. Untuk itu diperlukan suatu pemecahan masalah yaitu dengan pemberdayaan masyarakat pesisir untuk pengembangan abalone baik itu dalam kegiatan budidaya ataupun pengolahan.
Pemberdayaan masyarakat pesisir sangat perlu dilakukan untuk peningkatan perekonomian dan peningkatan taraf hidup nelayan pada khususnya. Menurut Somodiningrat (1999) mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk memandirikan masyarakat lewat perwujudan potensi yang mereka miliki.
Menurut Syarief (2001) bahwa pemberdayaan mayarakat pesisir sangat perlu dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu:
1. Sistem kelembagaan. Dengan adanya sistem kelembagaan dalam masyarakat nelayan maka aspirasi dan tuntutan nelayan kecil dapat tersalur dengan baik. Selain itu kelembagaan ini juga dapat menjadi suatu forum untuk menjamin terjadinya perguliran dana produktif diantara kelompok lainnya.
2. Pendampingan. Kegiatan pendampingan di lapangan dilakukan setelah penyuluhan. Masyarakat belum dapat berjalan sendiri disebabkan karena kekurangtauan dan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang rendah. Peran pendamping sangat penting terutama mendapingi masyarakat menjalankan aktivitas usahanya.
Mengubah pola pikir dan kegiatan masyarakat dari penangkapan menjadi supaya dapat hidup lebih baik dan bermartabat. Penyuluhan menganut falsafah eclectic yakni perpaduan berbagai falsafah seperti idealisme, realisme, pragmatisme, progressivisme, dan eksistensialisme (Amanah, 2006). Penyuluhan dapat memberi kontribusi pada peningkatan kemampuan nelayan. Melalui penyuluhan, akan terjadi perbaikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap nelayan. Bisnis mereka akan berkembang, demikian pula lingkungan hidup dan sosial budaya masyarakat setempat.
Agar penyuluhan dapat berlangsung dengan baik diperlukan pendidikan dan komunikasi untuk berbagi informasi. Penyuluhan dapat dilakukan oleh fasilitator atau seorang penyuluh. Dalam hal ini, kegiatan penyuluhan untuk pengembangan budidaya dan pengolahan abalone pada masyarakat pesisir dilakukan oleh orang yang memiliki pendidikan dan pengetahuan dalam bidang abalone seperti dinas perikanan dan kelautan, pihak akademisi, dan lainnya yang ahli di bidang pengemabangan abalone.
Kegiatan pemberdayaan masyarakat pantai dalam pengembangan abalone dapat dilakukan dengan budidaya dan pengolahan abalone kering serta pemanfaatan limbah cangkang abalone menjadi pernak-pernik. Dampak sosial ekonomi yang dapat timbul dari pengembangan ini antara lain:
1. Menjadi sumber pendapatan alternative bagi Nelayan penagkap abalone untuk melakukan budidaya abalone, karena populasi abalon untuk ditangkap sudah sangat kurang,
2. Menjadi lapangan kerja baru bagi nelayan karena anak dan istri dapat membantu selama proses budidaya dilakukan.
4. Meningkatkan taraf hidup dan penghasilan masyarakat nelayan karena mereka tidak lagi menggantungkan hidupnya pada ketersediaan abalone di alam tetapi dari hasil budidaya dan pengolahan abalone.
Pada tahapan penyuluhan, masyarakat nelayan dijelaskan tentang teknik budidaya atau pembesaran abalone yang dapat dilakukan menggunakan bak/kolam, karamba tancap maupun karamba apung. Dijelaskan pula pemilihan lokasi budidaya, padat penebaran, makanan, cara pemeliharaan, panen. Untuk ibu-ibu nelayan diberikan penjelasan tentang pengolahan abalone kering dan pembuatan pernak-pernik dari bahan limbah cangkang abalone. Setelah penyuluhan maka dilakukanlah kegiatan pelatihan dan pendampingan lapangan, sampai pada pengawasan.
Program pemberdayaan masyarakat pesisir dan pantai ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi di wilayah pesisir dan pantai berlandaskan budaya dan sosial masyarakat. Di samping itu, program ini diharapkan mampu mewujudkan penanggulangan kemiskinan khususnya untuk masyarakat nelayan yang dikenal sebagai masyarakat miskin.
III. KESIMPULAN
Abalone merupakan salah satu komoditas perikanan laut yang bernilai ekonomis dan memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Masyarakat nelayan memanfaatkan sumberdaya ini dengan penangkapan secara berlebihan dan merusak habitat organisme ini di alam, sehingga mengancam populasi abalone di alam dan jumlah penangkapan yang semakin sedikit. Untuk mengatasi ini maka dikembangkanlah program pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan abalone baik dalam kegiatan budidaya maupun pengolahan.
DAFTAR PUSTAKA
Amanah, S. 2006. Penyuluhan perikanan. Jurnal penyuluhan Vol 2:62-69.
Dharma, B. 2009. Moluska Unggulan Indonesia Sebagai Sumber Pangan. Makalah pada Seminar Nasional “Moluska: Peluang Bisnis dan Konservasi”: 43-64.
Somodiningrat, G. 1999. Pemberdayaan Masyarakat JPS. Jakarta: PT. Gramedian Pustaka Utama.