• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI MENGAJAR GURU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI MENGAJAR GURU"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

142

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI MENGAJAR GURU DENGAN

HASIL BELAJAR BAHASA JEPANG SISWA KELAS XII IPS (3 KELAS) DAN XII IPA (1 KELAS) DI SMA CENDERAWASIH 1

JAKARTA SELATAN TAHUN AJARAN 2011/2012

Meningkatkan sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang harus dilaksanakan untuk terciptanya peningkatan mutu pendidikan nasional. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan dampaknya merambah pada aspek pendidikan. Lembaga pendidikan diharapkan dapat menjadi pusat kreativitas dalam mengantisipasi masa depan dan memberikan sumbangan pada kemajuan intelektual dan sosial, serta mampu menghasilkan perancang perubahan, pendorong perubahan, yang berjiwa inovatif dan kewirausahawan. Disadari kualitas pembelajaran tidak terlepas dari kualitas guru, atau dengan kata lain kualitas edukatif yang dimiliki guru berkaitan dengan kualitas interaksi yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Guru dikatakan berkualitas jika guru mempunyai bekal pengetahuan yang komprehensif, karena itu guru perlu selalu meningkatkan kompetensinya (Purwadi, 1992: 80). Guru yang baik dan bijaksana adalah baik dan bijaksana ditinjau dari siswa dan bukan dari sudut itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik analisis korelasional yaitu mencari hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Metode survey digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang gejala pada saat penelitian dilakukan. Metode survey adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi atau politik dari suatu kelompok (Nadzir, 1983: 63). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar guru dengan hasil belajar bahasa Jepang baik pada siswa SMA Cendrawasih 1 Jakarta Selatan tahun ajaran 2011/2012. Kompetensi mengajar guru member sumbangan 17% terhadap hasil belajar siswa. Semakin tinggi kompetensi belajarnya maka semakin tinggi hasil belajar bahasa Jepang yang didapatkan. Dan sebaliknya, semakin rendah kompetensi belajarnya maka semakin rendah pula hasil belajar bahasa Jepang yang didapatkan.

(2)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

143

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Meningkatkan sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang harus

dilaksanakan untuk terciptanya peningkatan mutu pendidikan nasional. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan dampaknya merambah pada aspek pendidikan. Lembaga pendidikan diharapkan dapat menjadi pusat kreativitas dalam mengantisipasi masa depan dan memberikan sumbangan pada kemajuan intelektual dan sosial, serta mampu menghasilkan perancang perubahan, pendorong perubahan, yang berjiwa inovatif dan kewirausahawan (Rifai, 1996: 199).

Untuk itu lembaga pendidikan dituntut agar dapat menempatkan dirinya sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain peran lembaga pendidikan formal apakah itu pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi mempunyai peranan yang sangat penting.

Pendidikan formal memiliki pengaruh yang kuat terhadap individu dalam melaksanakan tugas sehari-hari yang dimiliki sebelumnya. Dengan pendidikan formal, terjadilah proses belajar mengenai hal-hal baru (Semiawan, 1998: 32). Hal ini merupakan persoalan bagi guru dalam segala geraknya dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, kompetensi guru ditantang untuk selalu dibenahi agar turut

menyertai perubahan pendidikan dalam dinamika zaman. Sehingga, kompetensi guru sebagai tenaga profesional, yang diharapkan dapat mengantarkan anak didik yang menjadi pribadi yang paripurna. Kompetensi sebagai suatu tugas yang memadai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang (Djamarah, 1991: 33).

(3)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

144

Dengan kata lain, peningkatan mutu pendidikan akan tercapai jika didukung oleh guru yang berkualitas. Guru yang berkualitas menurut Suryadi adalah guru yang memiliki: (a) Kemampuan profesional, (b) upaya profesional dan (c) waktu yang

dicurahkan untuk kegiatan profesionalnya (Suryadi, 1992: 2).

Dalam proses belajar mengajar guru merupakan tenaga profesional yang sangat bertanggung jawab, sehingga tidak heran jika terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan, maka guru menjadi fokus kritik baik oleh para ahli maupun masyarakat. Dalam kaitannya dengan uraian tersebut, Usman menyatakan bahwa peranan guru sangat berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa, dan pencapaian tujuan pembelajaran (Usman, 1992: 10). Hal ini pulalah mengapa jabatan atau profesi guru memerlukan kemampuan khusus, pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang tanpa memiliki keahlian sebagai guru. Untuk menjadi seorang guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru profesional selain harus menguasai materi, juga dapat melakukan penyampaian yang tepat agar tercipta keberlangsungan proses belajar mengajar yang tepat pula untuk peserta didik.

Selain itu juga guru dituntut untuk selalu memperhatikan keberhasilan anak didiknya serta mengevaluasi seluruh pengajaran yang diberikan untuk selalu memantau hasil belajar siswa. Hal ini pun bisa mendorong peningkatan kinerja guru

yang kompeten dan menunjang prestasi belajar siswa. Semakin banyak SMA yang menjadikan pelajaran bahasa Jepang muatan lokal, akan semakin banyak juga tenaga pengajar yang dibutuhkan untuk mengajar. Sejak diberlakukan kurikulum SMA pada tahun 2006, mata pelajaran bahasa Jepang dapat diajarkan di program pilihan dan mulok, dan sejumlah guru di Jabodetabek terus meningkat (Kurihara, 2008: 4).

Dalam kaitannya dengan hasil belajar bahasa Jepang, kompetensi harus lebih ditingkatkan dikarenakan dalam pengajaran bahasa Jepang harus memberikan latihan dan keterampilan berbahasa yang meliputi: (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, (4) dan keterampilan menulis (Tarigan,1989: 1).

(4)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

145

untuk kembali pelajaran yang ia laukan. Misalnya dengan merenungkan kembali jawaban pertanyaan berikut ini. (1) Apakah kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang baru saja ia lakukan itu mengakibatkan para pembelajar memahami materi ajar? (2)

Apakah KBM yang dilakukan itu menarik atau membosankan bagi pembelajar? Hasil renungan ini bermanfaat untuk memperbaiki KBM yang akan kita lakukan pada tahap berikutnya. Di dalam pendapat tersebut erat kaitannya terhadap kompetensi para guru sebagai pengajar, dimana selalu harus melakukan evaluasi apa yang sudah diajarkan kepada peserta ajar.

Berdasarkan studi eksplorasi yang penulis lakukan merangkap sebagai pembimbing PPL Mahasiswa semester VII UHAMKA bekerjasama dengan Guru pamong Bahasa Jepang Ibu Satiza, S.S di SMU Cenderawasih 1 Jakarta diperoleh data sementara bahwa daya serap siswa yang berjumlah 150 orang untuk mata pelajaran Bahasa Jepang Kelas XII IPS (3 kelas) dan IPA (1 kelas) di SMU Cenderawasih khususnya mata pelajaran Menulis Bahasa Jepang masih kurang optimal dibandingkan dengan mata pelajaran Berbicara Bahasa Jepang .

Perlu penulis informasikan bahwa pelajaran Bahasa Jepang di SMU Cenderawasih 1 Jakarta Selatan sudah terbentuk sejak tahun 2005 hingga sekarang sebagai mata pelajaran Muatan Lokal yang harus ditempuh oleh para siswa dari awal masuk kelas X , kelas XI hingga kelas XII.

(5)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

146

KAJIAN PUSTAKA

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan yang baru secara keseluruhan (Surya, 1982: 47). Dengan kata lain belajar

bentuk pertumbuhan dan perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara tingkah laku berkat pengalaman atau latihan.

Belajar menurut Bakri adalah suatu aktifitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari (Bakri,1994: 47). Sejalan dengan itu, Sadirman mengemukakan suatu rumusan bahwa belajar sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga dan psikologic menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Sadirman, 2000: 33).

Belajar juga dikatakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, merupakan proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu, proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui pengalaman (Sudjana, 1989: 28).

Sejalan dengan Hirgard dan Marquis dalam Rasyad, belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan, pembelajaran dan sebagainya, sehingga terjadi perubahan dalam diri. Baik belajar itu dilakukan dalam laboratorium di bawah bimbingan guru atau usaha sendiri dan lingkungan alami

dimana proses belajar itu terjadi. Perubahan itu dapat terjadi karena faktor-faktor yang berasal dari latihan (Rasyad, 2003: 29).

Beberapa definisi belajar pada akhirnya terdapat kesamaan makna bahwa belajar adalah suatu proses perubahan prilaku atau kepribadian yang diakibatkan oleh praktek atau pengalaman tertentu yang pada umumnya belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Pertama, adanya suatu proses usaha, artinya belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh individu dan diikuti dengan berbagai usaha untuk mencapai tujuan.

(6)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

147

Ketiga, adanya perubahan tingkah laku, yang dimaksudkan disini adalah perubahan tingkah laku yang baru sebagai sesuatu yang dipelajari (Winkel, 1999: 178-179).

Perubahan tingkah laku yang dihasilkan oleh proses belajar mempunyai ciri perwujudan yang khas yang bersifat intensional, positif-aktif, dan perubahan yang bersifat fungsional (Winkel, 1999: 106-108). Perubahan yang bersifat intensional adalah perubahan yang disebabkan karena proses belajar itu sengaja dilakukan sehingga siswa belajar menyadari akan adanya perubahan yang dialami atau paling tidak dia akan merasakan perubahan tersebut. Sedangkan perubahan yang bersifat positif-aktif adalah perubahan yang baik, bermanfaat dan sesuai dengan harapan yang diperoleh melalui suatu usaha yang dilakukan siswa. Sedangkan perubahan yang bersifat efektif-fungsional adalah perubahan yang berpengaruh, bermakna dan bermanfaat bagi siswa yang relatif menetap sehingga apabila dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan (Winkel, 1999: 253).

Soedijarto mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan pendidikan yang ditetapkan (Soedijarto, 1993: 43). Menurut Rogers, hasil belajar adalah suatu puncak proses belajar, hasil belajar tersebut terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajara dan

dampak pengiring (Rogers, 1994: 15).

Skiner seperti dikutip oleh Sudjana, menyatakan bahwa hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1) Keterampilan dan kebiasaan (skills and habits), hal ini berkaitan dengan kuantitas latihan yang dilakukan seseorang dalam belajar untuk mendapatkan kemahiran dan kemantapan memecahkan masalah.

2) Kompetensi penyesuaian sosial (social competence), yaitu kemampuan seseorang untuk menangkap peristiwa-peristiwa yang terjadi pada lingkungan sosial.

3) Berfikir abstrak (abstrack thinking), yaitu kemampuan seseorang mengasimilasi dan mengakomodasi konsep-konsep informasi kemudian membuat sintesa dari informasi-informasi tersebut (Sudjana, 1990:34).

(7)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

148

Negara yang pernah ditaklukannya seperti Korea dan Republik Cina. Ia juga dapat didengarkan di Amerika Serikat (California dan Hawaii) dan Brasil akibat emigrasi orang Jepang ke sana. Namun keturunan mereka yang disebut Nisei (generasi kedua),

tidak lagi fasih dalam bahasa tersebut. Bahasa Jepang terbagi kepada dua bentuk yaitu Hyoujungo (petuturan standar), dan Kyoutsugo (petuturan umum), Hyoujungo adalah bentuk yang diajarkan di sekolah dan digunakan di televisi dan segala perhubungan resmi. (ww.wikipediabahasajepang, 22/10/11).

Kompetensi berasal dari bahasa Inggris, yaitu “competence”, yang berarti kecakapan, kemampuan. Menurut Zein, kompetensi adalah kewenangan atau hak untuk menentukan atau memutuskan sesuatu (Zein, 1996: 709).

Dengan demikian tidaklah berbeda dengan kompetensi yang dikemukakan oleh Houston dalam Bakri, mengatakan bahwa “competence ordinary is is define as

adquence for a task “or as” possessions of quins knowledge, skills and abilities”

yang dapat diartikan bahwa kompetensi sebagai suatu tugas yang memakai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan dan kemampan yang dituntut oleh jabatan seseorang (Bakri, 1994: 33).

Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesinya. Guru sebagai tenaga pendidik atau pengajar merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan atau keberhasilan siswa. Menurut

Manning dan Khaterina guru yang baik adalah guru yang tidak hanya paham dan terampil dalam penyampaian materi, tetapi harus mampu menangani atau mengelola proses belajar siswa (Manning dan Bucher, 2000: Vol. 77 No. 1)

Proses belajar mengajar merupakan proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atau dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif yang mencapai tujuan tertentu. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antar guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa pengajaran melainkan penanaman sikap dan nilai diri pada diri arah yang sedang belajar (Usman, 1995: 4).

(8)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

149

pelajaran. Selain itu hendaknya guru mampu merencanakan program pengajaran dan secara tidak langsung mampu melaksanakannya dalam bentuk pengolahan kegiatan belajar di kelas.

Pencapaian optimal kinerja guru bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur, dan isi kurikulumnya. Tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang bertugas mengarahkan dan membimbing. Sahertian mengemukakan bahwa, persiapan untuk membentuk guru yang berkompetensi harus mampu mengembangkan ketiga aspek kompetensi pada dirinya, yaitu (1) kompetensi pribadi; (2) kompetensi professional; (3) kompetensi kemasyarakatan.

Kompetensi pribadi adalah sikap pribadi guru bagi bangsa dan negaranya. Sedangkan kompetensi professional adalah kemampuan dalam penguasaan akademik (mata pelajaran), yang diajarkan dan terpadu dengan kemampuan mengajarnya sehingga guru memiliki wibawa akademik. Sedangkan kompetensi kemasyarakatan adalah kompetensi seorang guru dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat tempat ia bekerja baik secara personal maupun informasi (Sahertian, 1985: 68).

Dalam kaitannya dalam pengajar bahasa Jepang, tentu hal ini menjadi salah satu dasar utama untuk menjadi seorang pengajar bahasa Jepang dalam proses belajar mengajar sehingga kompetensi sebagai pengajar bahasa Jepang dapat terlihat.

METODOLOGI PENELIAN

Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik analisis korelasional yaitu mencari hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Metode survey digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang gejala pada saat penelitian dilakukan. Metode survey adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi atau politik dari suatu kelompok (Nadzir, 1983: 63).

(9)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

150

Dengan metode penelitian survey diharapkan penulis dapat memperoleh keterangan-keterangan secara faktual dari gejala-gejala yang ada secara nyata di tempat penelitian, baik yang berhubungan dengan kompetensi belajar mahasiswa,

maupun dengan hasil belajar bahasa Jepang mahasiswa.

Untuk teknik analisis korelasi digunakan untuk mengukur hubungan antara pasangan skor variabel kompetensi belajar mahasiswa (X), dan skor variabel hasil belajar bahasa Jepang mahasiswa (Y).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data Kompetensi Mengajar Guru (Variabel X)

Data tentang kompetensi mengajar guru yang dikumpulkan melalui lembar penilaian yang didapatkan dari angket tentang kompetensi mengajar guru bahasa Jepang. Skor maksimal adalah 176 dan skor minimal adalah 86, reratanya 141, median 142 dan modus 142.

Selanjutnya skor empirik kompetensi mengajar guru disajikan pada tabel distribusi frekuensi, pada tabel berikut ini.

Daftar Distribusi Frekuensi Kompetensi Mengajar Guru

No Kelas Interval Frekuensi

1 81 - 99 1

2 100 - 113 0

3 114 - 127 4

4 128 - 141 33

5 142 - 155 31

6 158 - 169 14

7 170 - 183 1

n = 84

Pada table di atas, dikemukakan bahwa dari jumlah responden sebanyak 84 orang, frekuensi tertinggi yaitu 33 responden berada pada interval skor 128 sampai

(10)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

151

Untuk lebih memudahkan distribusi frekuensi di atas secara visual ditampilkan dalam bentuk diagram batang berikut ini

Diagram Batang Kompetensi Mengajar Guru

Data Hasil Belajar Bahasa Jepang Siswa (Variabel Y)

Data tentang hasil belajar bahasa Jepang siswa yang dikumpulkan melalui lembar penilaian yang didapatkan dari test hasil belajar bahasa Jepang siswa. Skor maksimal adalah 27 dan skor minimal adalah 2, reratanya 10.9, median 11 dan

modus 5, 7, dan 14.

Selanjutnya skor empirik kompetensi mengajar guru disajikan pada tabel distribusi frekuensi, pada tabel berikut ini.

Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Bahasa Jepang Siswa

No Kelas Interval Frekuensi

1 2 - 5 15

2 6 - 9 23

3 10 - 13 19

4 14 - 17 20

5 18 - 21 4

6 22 - 25 1

7 26 - 29 2

(11)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

152

Pada table di atas, dikemukakan bahwa dari jumlah responden sebanyak 84 orang, frekuensi tertinggi yaitu 23 responden berada pada interval skor 6 sampai dengan 19. Sedangkan frekuensi terendah yaitu 1 responden berada pada interval

skor 22 sampai dengan 25.

Untuk lebih memudahkan distribusi frekuensi di atas secara visual ditampilkan dalam bentuk diagram batang berikut ini

Diagram Batang Hasil Belajar Bahasa Jepang Siswa

KESIMPULAN

Dari perhitungan korelasi Product Moment dihasilkan r sebesar 0.1305 dan

berdasarkan perhitungan uji signifikasi koefisien korelasi terhadap table uji t (lampiran: table C) pada P 0.95 dan dk (n-2) = 82 didapat th sebesar 0.277 dan nilai t-tabel = 0.286. Karena th (0.277) < tt (0.286) maka H0 DITOLAK. Dengan ditolaknya H0 dan diterimanya Hi dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara kompetensi mengajar guru dengan hasil belajar bahasa Jepang siswa SMA Cendrawasih 1 Jakarta.

(12)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

153

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar guru dengan hasil belajar bahasa Jepang baik pada siswa SMA Cendrawasih 1 Jakarta Selatan tahun ajaran 2010/2011. Semakin tinggi kompetensi

belajarnya maka semakin tinggi hasil belajar bahasa Jepang yang didapatkan. Dan sebaliknya, semakin rendah kompetensi belajarnya maka semakin rendah pula hasil belajar bahasa Jepang yang didapatkan.

SARAN

Guru bahasa Jepang agar senantiasa meningkatkan kompetensi yang mencakup peningkatan intelektualitas pada mata pelajaran bahasa Jepang, pengelolaan kelas, menguasai berbagai macam metode pengajaran agar tidak monoton dan siswa tidak jenuh, disiplin administrasi seperti menyiapkan bahan ajar dan rencana pembelajaran (RPP). Hal tersebut bertujuan agar materi yang disampaikan lebih terarah dan tujuan pembelajaran tercapai. Selain itu guru diharapkan selalu mengevaluasi hasil belajar dengan data-data ujian tertulis maupun lisan.

Siswa selalu melatih kemampuannya dalam berbahasa Jepang dan memberikan perhatian lebih meskipun mata pelajaran bahasa Jepang hanya merupakan mata pelajaran muatan lokal. Karena hal ini dapat menjadi salah satu

modal ketika siswa sudah menyelesaikan pendidikan di SMA dan terjun ke dalam dunia kerja.

Demi pengembangan potensi yang dimiliki guru bahasa Jepang, ada baiknya pihak sekolah dalam hal ini wakil kepala sekolah dan wakil bidang kurukulum, untuk selalu memberikan peluang pada guru tersebut untuk mengembangkan pengetahuannya pada jenjang pendidikan berikutnya, seperti: mengikutsertakan dalam penataran-penataran atau seminar-seminar yang berkaitan dengan pengembangan profesi, serta penyediaan alat atau bahan mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

(13)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

154

Badudu, Zein. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar

Harapan.

Bakri, Syaiful. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Dahidi, Ahmad. 2008. Seminar Pendidikan Bahasa Jepang. Vol. 77 No. 1. Bandung.

Danasasmita, Wawan. 2002. Beberapa Masalah dalam Pembelajaran Bahasa Jepang dalam Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang di Indonesia Edisi Agustus No. 1. tahun 2002. Bandung: Program Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI.

Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rasyad, Aminudin. 2003. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: UHAMKA Press.

Restoeningroem, 2007. Peningkatan Pragmatik dalam Berbahasa Jepang melalui Metode Roleplay di SMKN 13 Jakarta. UHAMKA

Restoeningroem, dkk, 2008. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Huruf Jepang (iragana) menggunakan multimedia di SMA 63 Jakarta. UHAMKA

Rogers. 1994. Belajar dan Pembelajaran Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kerja Kependidikan. Jakarta: Dirjen Dikmenti.

Rombepajung, J. P. 1988. Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Asing. Jakarta: Depdikbud.

Sardiman, AM. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Semiawan, Cony R. 1999. Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayat Seoptimal Mungkin. Jakarta: Grasindo.

Sudjana, Nana. 1998. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Algesindo.

Sudjianto. Pendidikan Bahasa Jepang dan Pemahaman Sosial Kulturnya dalam Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang di Indonesia. Bandung: PPBJ FPBS UPI

(14)

Prosiding Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora 2011

155

Tarigan, Djago & Henry Guntur Tarigan. 1990. Teknik Pengajaran Keterampilan

Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Usman, Uzer. 1995. Menjadi Guru Professional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Gambar

tabel  = 0.286. Karena th (0.277) < tt (0.286) maka H0 DITOLAK. Dengan ditolaknya

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data, ada hubungan positif yang erat dan signifikan antara persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru geografi dengan prestasi

Berdasarkan pengujian hipotesis dapat disimpulkan: (1) terdapat hubungan yang berarti antara kompetensi pedagogik dengan kinerja mengajar guru sebesar r y1,234 = 0,417

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa tentang kompetensi mengajar guru Mata Pelajaran Produktif Bidang Keahlian Teknik Bangunan di SMK Negeri

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi mengajar guru, mengetahui hasil belajar fiqih siswa di kelas V, dan mengetahui korelasi dari kompetensi

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan: (1) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan antara Pengalaman Mengajar, Kompetensi Guru dan Motivasi

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran yang bervariatif dapat meningkatkan kompetensi mengajar guru di SDN 113 Pekanbaru tahun

Dapat tercermin dari indikator yaitu: Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan dalam Musfah (2011:52) kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian

Dapat tercermin dari indikator yaitu: Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan dalam Musfah (2011:52) kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian