• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Manajemen Lembaga Keuangan Mikro Sy

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pola Manajemen Lembaga Keuangan Mikro Sy"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Manajemen Lembaga Keuangan Mikro Syariah

Oleh: Kelompok 6

Irna Yunida 141002040

Nurul Dwi Ariftin 141002060 Ade Agni Rahmatulloh 141002096

Rima Primayanti 141002142

Pipit Puji N Fazri 141002156

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM

(2)

Makalah ini telah diterima pada hari... tanggal... Oleh

Dosen Mata Kuliah Manajemen Lembaga Keuangan Mikro Syariah

(3)
(4)

memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan karunia sehat kepada penulis, sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini;

2. Kepada orang tua dan keluarga tercinta yang senantuasa medo’akan dan mendukung serta memberikan perhatian penuh, baik secara moril maupun materil yang mungkin tidak bisa terbalas;

3. Bapak Agus Ahmad Nasrulloh, M.Esy selaku dosen pengampu mata kuliah Manajemen Lembaga Keuangan Mikro Syariah;

4. Rekan-rekan yang telah memotivasi penulis untuk menyelesaikan penyusunan makalah ini;

5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu per satu.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Siliwangi. Dalam makalah ini, penulis menyadari penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari dosen mata kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.

Tasikmalaya, Oktober 2016

Penulis

(5)

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang Masalah...1

B. Rumusan Masalah...2

C. Tujuan Penulisan...2

D. Manfaat Penulisan...2

BAB II PEMBAHASAN...3

A. Pengertian Pola Manajemen...3

B. Lembaga Keuangan Mikro Syariah dan Bentuknya...4

1. Bank Perkreditan Rakyat Syariah...4

2. Baitul Maal wa Tamwil...6

3. Koperasi...7

C. Pola Manajemen Bank Perkreditan Rakyat Syariah...9

1. Perencanaan...9

2. Perencanaan Organisasi...11

3. Pengawasan...15

4. Program Audit Internal...15

D. Pola Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil...16

1. Perencanaan...16

(6)

1. Perencanaan...26

2. Pengorganisasian dan Struktur Organisasi...27

3. Pengarahan...32

4. Pengawasan...32

BAB III SIMPULAN DAN SARAN...35

A. Simpulan...35

B. Saran...35

(7)

Lembaga bisnis Islami atau sesuai dengan syariah merupakan salah satu instrument yang digunakan untuk mengatur aturan-aturan ekonomi Islam. Sebagai bagian dari sistem ekonomi, lembaga tersebut merupakan bagian dari keseluruhan sistem sosial. Oleh karenanya, keberadaannya harus dipandang dalam konteks keseluruhan keberadaan masyarakat (manusia), serta nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

Pada dasarnya pengelolaan lembaga keuangan mikro syariah yang profesional adalah didasari oleh kemampuan pengurus atau manajemen dalam menjalankan dan memutuskan kebijakan lembaga. Untuk itu manajemen merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi suatu organisasi.

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa tujuan manajemen adalah mencapai tujuan organisasi dengan memanfaatkan sumber daya secara efektif dan efisien, serta dilakukan melalui tangan orang lain. Peencapaiana tujuan melalui tangan orang lain itu dilakukan oleh manajemen dengan cara melakukan fungsi-fungsi manajemen. Fungsi manajemen tersebut diantaranya yaitu fungsi pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Dengan demikian keberhasilan suatu manajemen akan tergantung terhadap pelaksanaan masing-masing fungsi tersebut. Sehingga diperlukan suatu pola manajemen yang akan mengatur berjalannya kegiatan organisasi atau lembaga sehingga bisa mencapai tujuannya.

Karena latar belakang inilah akhirnya penulis berkeinginan untuk mengambil tema dalam makalah yang akan penulis susun, dengan judul

Pola Manajemen Lembaga Keuangan Mikro Syariah. B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai :

(8)

1. Apa yang dimaksud dengan pola manajemen?

2. Apa itu lembaga keuangan mikro syariah dan apa saja bentuknya? 3. Bagaimana pola manajemen bank perkreditan rakyat syariah? 4. Bagaimana pola manajemen baitul maal wa tamwil?

5. Bagaimana pola manajemen koperasi? C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pola manajemen;

2. Untuk mengetahui apa itu lembaga keuangan mikro syariah dan apa saja bentuknya;

3. Untuk mengetahui bagaimana pola manajemen bank perkreditan rakyat syariah;

4. Untuk mengetahui bagaimana pola manajemen baitul maal wa tamwil; 5. Untuk mengetahui bagaimana pola manajemen koperasi;

D. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat bagi penulis dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai pola manajemen lembaga keuangan mikro syariah;

(9)

Pola adalah bentuk atau model (atau, lebih abstrak, suatu set peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat atau untuk menghasilkan sesuatu (bagian). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonnesia (KBBII), pola adalah gambar yang dipakai sebagai model, sistem, dan cara kerja untuk menghasilkan bentuk (struktur) yang tetap.

Manajemen menurut R W Griffin adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, daan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien.

Management is the function of the executive leadership anywhere (Davis : 1951). Sedangkan menurut Mary Parker Follet (1868-1933) management is the art of getting things done trough people. One can also think of management functionally as the action of measuring a quantity on a regular basic and adjustings some intial plan; or as the actions taken to reach one’s intended goal. This applies even in situations where planning doesn’t take place.

Dari berbagai pengertian manajemen diatas penulis dapat berkesimpulan bahwa yang dimaksud dengan manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengaturan sumber daya, pengkomunikasian, kepemimpinan, pemotivasian, dan pengendalian tugas-tugas serta penggunaan sumber-sumber untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Jadi, manajemen pola adalah model cara kerja untuk menghasilkan bentuk yang sama dalam proses manajemen. Proses manajemen disini mencakup proses planning, organization, actuating, dan controling. Manajemen pola dibutuhkan dalam suatu organisasi agar organisasi tersebut bisa mencapai tujuannya secara efektif dan efisien dengan cara kerja yang sama yakni perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan.

(10)

B. Lembaga Keuangan Mikro Syariah dan Bentuknya

Lembaga keuangan mikro adalah lembaga keuangan yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha yang tidak sema-mata mencari keuntungan.

Lembaga keuangan mikro syariah adalah lembaga keuangan mikro yang menggunakan prinsip-prinsip syariah.

Adapun bentuk dari lembaga keuangan mikro syariah ini diantaranya yaitu:

1. Bank Perkreditan Rakyat Syariah

Menurut undang-undang (UU) Perbankan No. 7 tahun 1992, BPR adalah lembaga keuangan yang menerima simpanan uang hanya dalam bentuk deposito berjangka tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dalam bentuk itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Pada UU Perbankan No. 10 tahun 1998, disebutkan bahwa BPR adalah lemabaga keuangan bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah.

Sedangkan BPRS adalah lembaga keuangan yang sistem transaksinya menggunakan cara konvensional namun berdasarkan prinsip syariah. Pengaturan pelaksanaan BPR yang menggunakan prinsip syariah tertuang pada surat Direksi Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR/tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah tanggal 12 Mei 1999. Dalam hal ini pada teknisnya BPR syariah beroperasi layaknya BPR konvensional namun menggunakan prinsip syariah.

(11)

1) Meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat islam, terutama masyarakat golongan ekonomi lemah yang pada umumnya di daerah pedesaan.

2) Menambah lapangan kerja terutama di tingkat kecamatan sehingga dapat mengurangi arus urbanisasi.

3) Membina semangat ukhuwah islamiyyah melalui kegiatan ekonomi dalam rangka meningkatkan pendapatan per kapita menuju kualitas hidup yang memadai.

b. Untuk mencapai tujuan operasional BPR Syariah tersebut diperlukan strategi operasional sebagai berikut:

1) BPR Syariah tidak bersifat menunggu terhadapa datangnya permintaan fasilitas melainkan bersifat aktif dengan melakukan sosialisasi/penelitian kepada usaha-usaha berskala kecil yang perlu dibantu tambahan modal, sehingga memiliki prospek bisnis yang baik.

2) BPR Syariah memiliki jenis usaha yang waktu perputaran uangnya jangka pendek dengan mengutamakan usaha skala menengah dan kecil.

3) BPR Syariah mengkaji pangsa pasar, tingkat kejenuhan serta tingkat kompetitifnya produk yang akan diberi pembiayaan.

c. Mekanisme operasional BPRS tunduk pada peraturan BI nomor 6/17/PBI/2004, dalam aturan ini usaha-usaha yang dilakukan BPRS adalah:

1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk:

a) Tabungan berdasarkan prinsip wadi’ah dan mudharabah;

(12)

c) Bentuk lain yang menggunakan prinsip wadi’ah dan mudharabah.

2) Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk: a) Transaksi jual-beli dengan prinsip mudharabah,

isthisna, dan salam;

b) Transaksi sewa-menyewa dilandaskan dengan prinsip ijarah;

c) Pembiayaan bagi hasil dengan prinsip mudharabah dan musyarakah;

d) Pembiayaan yang dilakukan dengan prinsip qard. 3) Melakukan transaksi yang tidak melanggar

undang-undang perbankan dan prinsip syariah. 2. Baitul Maal wa Tamwil

Baitul Maal Wattamwil (BMT) terdiri dari dua istilah, yaitu Baitul Maal dan Baitul Tamwil. Baitul Maal lebih mengarahkan pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit, seperti: zakat, infaq, dan shodaqah. Sedangkan Baitul Tamwil sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial. Usaha-usaha tersebut menjadikan bagian yang tidak terpisahkan dari BMT sebagai lembaga pendukung kegiatan ekonomi masyarakat kecil dengan berdasarkan Syari’ah.

a. Prinsip dasar Baitul Maal wa Tamwil, adalalah:

1) Ahsan (mutu hasil terbaik), thayyiban (terindah), ahsanu ’amala (memuaskan semua pihak), dan sesuai dengan nilai-nilai salaam: keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan;

2) Barokah, artinya berdaya guna, berhasil guna, adanya penguatan jaringan, transparan (keterbukaan), dan bertangggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat;

(13)

4) Demokratis, partisipatif, dan inklusif;

5) Keadilan social dan kesetaraan jender, non-diskriminatif;

6) Ramah lingkungan;

7) Peka dan bijak terhadap pengetahuan dan budaya lokal, serta keanekaragaman budaya;

8) Keberlanjutan, memberdayakan masyarat dengan meningkatkan kemampuan diri dan lembaga masyarakat lokal.

b. Selain itu, peran BMT di masyarakat, adalah:

1) Motor penggerak ekonomi dan social masyarakat banyak;

2) Ujung tombak pelaksanaan system ekonomi syariah;

3) Penghubung antara kaum aghnia (kaya) dan kaum dhu’afa (miskin);

4) Sarana pendidikan informal untuk mewujudkan prinsip hidup yang barakah, ahsanu‘amaia dan salaam melalui spiritual communication dengan dzikir qalbiyah ilahiah.

c. Fungsi baitul maal wa tamwil yaitu:

1) Meningkatkan kualitas SDM anggota, pengurus, dan pengelola menjadi lebih professional, salaam, dan amanah sehingga semakin utuh dan tangguh dalam berjuang dan berusaha menghadapi tantangan global;

2) Mengorganisir dan memobilisasi dana sehingga dana yang dimiliki oleh masyarakat dapat termanfaatkan secara optimal di dalam dan luar organisasi untuk kepentingan rakyat banyak;

3) Mengembangkan kesempatan kerja;

4) Mengukuhkan dan meningkatkan kualitas usaha dan pasar produk-produk anggota;

(14)

3. Koperasi

Pengertian umum koperasi syariah adalah badan usaha koperasi yang menjalankan usahanya dengan prinsip-prinsip syariah. Apabila koperasi memiliki unit usaha produktif simpan pinjam, maka seluruh produk dan operasionalnya harus dilaksanakan dengan baik. Tujuan koperasi syariah, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya dan kesejahteraan masyarakat dan ikut serta dalam membangun perekonomian Indonesia berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

a. Landasan koperasi syariah :

1) Koperasi syariah berlandaskan syariah islam yaitu al-quran dan assunnah dengan saling tolong menolong (ta’awun) dan saling menguatkan (takaful)

2) Koperasi syariah berlandaskan pancasila dan undang-undang dasar 1945

3) Koperasi syariah berasaskan kekeluargaan

b. Adapun prinsip-prinsip yang digunakan dalam koperasi syariah adalah:

1) Kekayaan adalah amanah Allah swt yang tidak dapat dimiliki oleh siapapun secara mutlak.

2) Manusia diberi kebebasan bermu’amalah selama bersama dengan ketentuan syariah.

3) Manusia merupakan khalifah Allah dan pemakmur di muka bumi.

4) Menjunjung tinggi keadian serta menolak setiap bentuk ribawi dan pemusatan sumber dana ekonomi pada segelintir orang atau sekelompok orang saja.

c. Berikut ini adalah usaha-usaha koperasi syariah:

(15)

menguntungkan dengan sistem bagi hasil dan tanpa riba, judi atau pun ketidakjelasan (ghoro).

2) Untuk menjalankan fungsi perannya, koperasi syariah menjalankan usaha sebagaimana tersebut dalam sertifikasi usaha koperasi.

3) Usaha-usaha yang diselenggarakan koperasi syariah harus sesuai dengan fatwa dan ketentuan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.

4) Usaha-usaha yang diselenggarakan koperasi syariah harus tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

C. Pola Manajemen Bank Perkreditan Rakyat Syariah 1. Perencanaan

Suatu perencanaan yang baik dilakukan melalui berbagai proses kegiatan yang meliputi forecasting, objective, policies.

a. Forecasting

Forecasting adalah suatu peramalan usaha yang sistematis, yang paling mungkin memperoleh sesuatu di masa yang akan datang, dengan dasar penaksiran dan menggunakan perhitungan yang rasional atas fakta yang ada. Fungsi perkiraan adalah untuk memberi informasi sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

(16)

membiasakan diri untuk tidak mengambil tindakan yang gegabah dalam segala hal.

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh manajemen bank adalah melakukan peramalan usaha dengan melihat kondisi internal dan eksternal dalam rangka perumusan kebijakan dasar. Kondisi internal meliputi potensi dan fasilitas yang tersedia, distribusi aktiva, posisi dana-dana, pendapatan dan biaya. Sedangkan kondisi eksternal meliputi menelaahan situasi moneter, lokal dan internasional, peraturan-peraturan, situasi dan kondisi perda-gangan, nasional dan internasional.

b. Objective

Objective atau tujuan adalah nilai yang akan dicapai atau diinginkan oleh seseorang atau Badan Usaha. Untuk mencapai tujuan itu dia bersedia memberi pengorbanan atau usaha yang wajar agar nilai-nilai itu terjangkau. Tujuan suatu organisasi harus dirumuskan dengan jelas, realistis dan dapat diketahui oleh semua orang yang terlibat dalam organisasi, agar mereka dapat berpartisipasi dengan penuh kesadaraan.

(17)

Sebagaimana Allah berfirman: ”Maka dikarenakan karunia dari Allah engkau bersikap lemah lembut kepada mereka. Kalau engkau bersikap kasar dan berhati keras maka mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu maafkanlah mereka dan mintalah ampunan untuk mereka. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam setiap urusan kalian. Maka jika kamu sudah bertekad (mengambil keputusan) bulat, maka berserah dirilah kepada Allah, Sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang bertawakkkal”. (QS 3 : 159).

c. Policies

Policies dapat berarti rencana kegiatan (plan of action) atau juga dapat diartikan sebagai suatu pedoman pokok (guiding principles) yang diadakan oleh suatu badan usaha untuk menentukan kegiatan yang berulang-ulang. Keputusan mengenai suatu policies ditentukan oleh top manajemen atau chief excecutive officer atau Board of Directors dari suatu Badan Usaha.

Para manajer bertanggung jawab (accountable) untuk menafsirkan, menjelaskan dan menjamin pelaksanaan policies tersebut.Suatu policies haruslah merupakan suatu pernyataan positif (positive declaration) dan merupakan perintah yang harus dipatuhi (imperative) oleh seluruh jajaran di dalam organisasi secara vertikal ke bawah.

2. Perencanaan Organisasi

(18)

tanggung jawab (accountability) untuk hasil akhirnya dapat diukur dengan mudah.

Namun demikian pengelompokan fungsi-fungsi itu harus ditetapkan secara hati-hati, karena pengelompokan yang terlalu ketat juga mengandung kelemahan, misalnya kebutuhan tenaga manajerial yang berlebihan, masalah komunikasi internal dan sebagainya. Disamping itu organisasi bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, yang selalu dan selamanya tepat dan benar, karena akan selalu dipengaruhi oleh tempat, waktu, tujuan, manusia serta teknologi pendukungnya. Oleh karenanya organisasi haruslah fleksible, agar selalu dapat menyesuaikan diri dengan variable-variable tersebut.

Struktur organisasi tergantung pada besar-kecilnya bank (bank size), keragaman layanan yang ditawarkan, keahlian personilnya dan peraturan-peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Tidak ada acuan baku bagi penyusunan struktur organisasi bagi bank dalam segala situasi kebutuhan operasinya. Bank mengorganisasikan fungsi-fungsinya untuk melayani nasabahnya atau menempatkan karyawan yang ada atau karyawan baru sesuai dengan bakat dan kemampuannyanya. Struktur organisasi setiap bank berikut tanggung jawab dan wewenang para pejabatnya bervariasi satu sama lain. Oleh karena itu struktur organisasi mencerminkan pandangan manajemen tentang cara yang paling efektive untuk mengoperasikan bank.

Beberapa pendekatan yang lazim dalam menetapkan organisasi bank adalah sebagai berikut:

a. Pendekatan Fungsioanal

Pendekatan tradisional dalam menyusun organisasi bank adalah melalui pengintergrasian fungsi-fungsi. Biasanya fungsi-fungsi itu ditetapkan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang tergambar dalam neraca, seperti pembiayaan, investasi, kas, penerimaan dana-dana.

(19)

fungsi operasi dan (3) fungsi investasi. Sejalan dengan perkembangannya fungsi-sungsi tersebut dapat dibagi-bagi lagi dalam beberapa kegiatan. Dalam perbankan syariah, fungsi pembiayaan dapat dibagi dalam pembiayaan piutang (debt financing) berdasarkan prinsip jual-beli (murabahah, salam atau istishna), atau sewa-beli (ijarah), pembiayaan modal (equity financing) berdasarkan prinsip mudharabah (trustee financing) atau musyarakah (jount venture profit sharing).

Fungsi operasi dapat dibagi dalam tellers, pembukaan rekening (opening new account), penerimaan simpanan (deposit), pemrosesan simpanan (deposit) dan layanan yang berkaitan dengan simpanan (deposit related services) seperti pemindah – bukuan, pengiriman uang (money transfer), inkaso (collections), pembayaran tagihan (bill paying) dan lain, komputer service dan akuntansi, personalia dan sundries.

b. Pendekatan Pasar

Perbankan telah mengembangkan berbagai produk yang merupakan kombinasi dari beberapa kegiatan dasar dalam satu paket, untuk memperooleh keuntungan dan pendapatan fee. Produk dasar dari bank meliputi:

1) Produk-produk pembiayaan (financing);

2) Produk-produk operasional yaitu produk dana dan pemindahan dana (deposit related services) serta layanan lain (non deposit functions) seperti safekeeping dan data

processing;

(20)

mengkaitkan usaha penawaran paket jasa-jasa yang dipakai oleh tipe nasabah tertentu ke dalam struktur organisasi bank yang dingggap merupakan cara terbaik untuk penyampaian peket-paket layanan perbankan.

c. Fungsi Staf

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, prinsip musyawarah sangat dianjurkan dalam organisasi yang berdasarkan prinsip syariah. Oleh karena itu di dalam proses perumusan kebijakan, pengambilan keputusan perlu dilakukan secara musyawarah. Untuk keperluan tersebut, disamping organisasi lini seperti digambarkan diatas dapat dibentuk wadah yang menjalankan fungsi staf.

Biasanya dalam organiasi bank juga terdapat beberapa komite, seperti komite anggaran (budget committee), komite kebijakan pembiayaan (committee of financing policy), komite pemutus pembiayaan (financing committee), komite aset & liabilitas atau

Assets & liability committee (ALCO), komite personalia (personnel committee) dan lain-lain. Komite-komite tersebut biasanya beranggotakan para officer senior dari berbagai bidang dipimpin oleh direksi. Apabila keputusan telah diambil, maka adalah menjadi tugas dan tanggung jawab pejabat lini untuk melaksanakan keputusan-keputusan itu sebagaimana mestinya.

d. Struktur Personalia

Struktur organisasi bank melibatkan berbagai tingkat wewenang dan tanggung jawab. Bank perkreditan rakyat harus mempunyai pengurus (board of directors) dan manajemen. Bank juga membentuk beberapa komite yang terdiri dari para anggota direksi dan para personil yang terkait dalam tingkat manajemen.

(21)

Anggota (RAT) pada Koperasi. Untuk melaksanakan kekuasaan organisasi, RUPS atau RAT membentuk Dewan Komisaris dan Direksi (pada PT) atau Dewan Pengawas dan Dewan Pengurus (pada koperasi). Disamping pada Bank Syariah, wajib pula dibentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Bank adalah badan usaha yang sangat diatur keberadaan dan aktivitasnya oleh hukum dan peraturan perundang-undangan (highly regulated). Sebelum diputuskan oleh RUPS atau RAT para calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Bank Indonesia selaku bank sentral setelah melalui proses penelitian integritas dan kompetensi (fit and propre test). Sedang para calon anggota DPS harus terdiri dari para pakar di bidang syariah muamalah yang ditunjuk oleh Dewan Syariah Nasional (DSN).

3. Pengawasan

Dari pengertian di atas maka menurut prosesnya, pengawasan meliputi kegiatan- kegiatan sebagai berikut:

a. Menentukan standar sebagai ukuran pengawasan. Pengukuran dan pengamatan terhadap jalannya operasi berdasarkan rencana yang telah ditetapkan;

b. Penafsiran dan perbandingan hasil yang dicapai dengan standar yang diminta;

c. Melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan;

d. Perbandingan hasil akhir (outout) dengan masukan (input) yang digunakan.

Laporan-laporan yang dihasilkan dari proses pengawasan itu harus disusun dalam suatu format yang sistematis, agar dapat dengan segera dan mudah digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan secara cepat dan tepat.

(22)

informasi dengan cepat dan akurat serta memberikan fleksibilitas dalam cara penyajiannya. Melalui laporan ini para manajer dapat memperoleh informasi atau data yang tidak termuat dalam laporan reguler, yang dibutuhkan untuk menghadapi keadaan tertentu.

4. Program Audit Internal

Unsur dasar dari program audit internal adalah meliputi verifikasi aktiva dan pasiva, memastikan keseksamaan ayat-ayat penghasilan dan biaya, memastikan kebenaran pelaksanaan prosedur bank yang telah ditetapkan dan memberikan saran-saran perbaikan cara-cara pelaksanaan operasional.

Program audit internal ini harus terus berlanjut, artinya harus dilakukan secara terus-menerus. Pada dasarnya audit internal melakukan dua pola pemeriksaan yaitu pemeriksaan pasif melalui pemantauan laporan-laporan yang ada dan pemeriksaan aktif melalui penyelenggaraan kegiatan audit di tempat (on the spot) bagian-bagian tertentu dari bank tersebut.

Tanggung jawab internal audit adalah besar, untuk memberikan keyakinan kepada para nasabah, tentang kebijakan proteksi kepentingan mereka. Program audit internal yang ketat merupakan salah satu alat utama untuk memberikan keyakinan ini.

D. Pola Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil

(23)

maal = harta) menerima titipan dana Zakat, Infaq dan Shadaqah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Selanjutnya, berikut ini akan dijelaskan mengenai pola dari manajemen BMT:

1. Perencanaan

Untuk membangun lembaga keuangan mikro berbasis syariah khususnya BMT maka para pendiri atau pengurus BMT terlebih dahulu harus melakukan perencanaan. Pada tahap ini akan membahas mengenai seluruh rencana yang akan dilakukan baik jangka panjang maupun jangka pendek, baik keuangan maupun non keuangan. Adapun syarat dan langkah-langkah dari pendirian BMT ini adalah sebagai berikut:

a. Perlu ada pemrakarsa, motivator yang telah mengetahui tentang BMT. Pengetahuan tentang BMT ini perlu lebih diperdalam lagi dengan lebih meneliti dan mendalam isi buku ini, atau mengikuti latihan motivator yang dilakukan PINBUK. Pemrakarsa mencoba memperluas jaringan para sahabat dengan menjelaskan tentang BMT dan peranannya dalam mengangkat harkat dan martabat saudara-saudara kita semua, rakyat seluruhnya. Jika dukungan sudah cukup ada, maka perlu berkonsultasi dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat yang berpengaruh baik yang formal maupun yang informal. b. Di antara pemrakarsa membentuk Panitia Penyiapan Pendirian BMT (P3B) di lokasi itu; jamah masjid, pesantren, desa miskin, kelurahan, kecamatan, atau lainnya. Jika dalam satu kecamatan terdapat beberapa P3B, maka P3B Kecamatan menjadi koordinator P3B-P3B yang ada itu.

c. P3B mencari modal awal atau modal perangsang sebesar Rp.25 juta atau s.d. Rp.50 juta agar BMT memulai operasi dengan syarat modal itu. Modal awal ini dapat berasal dari perorangan, lembaga, yayasan, BAZIS, Pemda atau sumber lainnya.

(24)

minimal Rp. 25 juta. Masing-masing perlu membuat komitmen (janji) nya tentang perannya.

e. Jika calon pemodal-pemodal pendiri telah ada maka dipilih Pengurus yang ramping (3 orang maksimal 5 orang) yang akan mewakili Pendiri dalam mengarahkan kebijakan BMT. Pengurus mewakili para pemilik modal BMT.

f. P3B atau Pengurus jika telah ada mencari dan memilih calon pengelola BMT.

g. Mempersiapkan legalitas hukum untuk usaha sebagai: 1) KSM/LKM dengan mengirim surat ke PINBUK.

2) Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Syariah atau Koperasi Serba Usaha (KSU) Unit Syariah dengan menghubungi Kepala Kantor/Dinas/Badan Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil di Ibukota Kabupaten/Kota Saudara, menyatakan maksud mendirikan koperasi, meminta formulir-formulir yang diperlukan, dan membicarakan rencana rapat anggota pembentukan koperasi dimaksud. Jangan segan dan ragu-ragu untuk datang menghadap Kepala Kantor Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil, atau staf yang bertanggungjawab untuk itu, tugas mereka adalah untuk melayani kepentingan-kepentingan seperti ini. Begitulah pesannya Menteri Koperasi dan para Dirjen dan Sekjennya sewaktu Pengurus PINBUK menghadap beliau-beliau.

h. Melatih calon pengelola dan sebaiknya juga diikuti oleh setidaknya satu orang pengurus dengan menghubungi Kantor Perwakilan PINBUK terdekat, Konfirmasi ke PINBUK di alamat buku ini atau Orsat atau Orwil ICMI terdekat, jika PINBUK belum ada.

i. Melaksanakan persiapan-persiapan sarana kantor dan form/berkas administrasi yang diperlukan.

(25)

2. Pengorganisasian

a. Rapat Umum Anggota (RUA)

Rapat umum anggota mempunyai kewenangan/kekuasaan tertinggi di dalam BMT. RUA memiliki tugas sebagai berikut :

1) RUA bertugas menetapkan AD dan ART BMT termasuk bila ada perubahan.

2) Kebijaksanaan umum di bidang organisasi, manajemen dan usaha BMT.

3) Mengangkat Pengurus dan dewan syaria’ah BMT setiap periode. Juga dapat memberhentikan pengurus bila melanggar ketentuan-ketentuan BMT.

4) Menetapkan Rencana Kerja , anggaran pendapatan dan belanja BMT serta pengesahan laporan keuangan.

5) Melakukan pembagian Sisa Hasil Uasaha.

6) Penggabungan, peleburan dan pembubaran BMT.

b. Dewan Pengawas Syaria’ah

Dewan Pengawas Syaria’ah berwenang melakukan pengawasan penerapan konsep syariah dalam operasional BMT dan memberikan nasehat dalam bidang syaria’ah. Adapun tugas dari Dewan ini adalah:

1) Membuat pedoman syariah dari setiap produk pengerahan dana maupun produk pembiayaan BMT.

7) Mengawasi penerapan konsep syariah dalam seluruh kegiatan operasional BMT.

8) Melakukan pembinaan/konsultasi dalam bidang syari’ah bagi pengurus, pengelola dan atau anggota BMT.

9) Bersama dengan dewan pengawas syari’ah BPRS dan ulama/intelektual yang lain mengadakan pengkajian terhadap kemungkinan perkembangan produk-produk BMT.

c. Pengurus

(26)

a) Melakukan segala perbuatan hukum untuk dan atas nama BMT.

b) Mewakili BMT di hadapan dan di luar Pengadilan.

c) Memutuskan menerima dan pengelolaan anggota baru serta pemberhentian anggota sesuai dengan ketentuan dalam anggaran dasar.

d) Melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan dan kemanfaatan BMT sesuai dengan tanggungjawabnya dan dan keputusan musyawarah anggota.

2) Adapun tugas dari pengurus adalah : a) Memimpin organisasi dan usaha BMT.

b) Membuat rencana kerja dan rencana anggaran pendapatan dan belanja BMT.

c) Menyelenggarakan rapat anggota pengurus.

d) Mengajukan laporan keuangan dan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas pada rapat umum anggota.

e) Menyelenggarakan pembukuan keuangan dan inventaris serta adminsitrasi anggota.

d. Pembina manajemen

Pembina manajemen mempunyai wewenang melakukan pembinaan dan pengawasan serta konsultasi dalam bidang manajemen BMT.

1) Adapun tugasnya adalah :

a) Memberikan rekomendasi pelaksanaan sistim bila diperlukan.

b) Memberikan evaluasi pelaksanaan sistem.

c) Pembinaan dan pengembangan sistem

e. Manajer BMT

(27)

yang telah di gariskan oleh dewan pengawas syari’ah. Adapun tugasnya adalah :

1) Membuat rencana pemasaran, pembiayaan, operasional dan keuangan secara periodik.

2) Membuat kebijakan khusus sesuai dengan kebijakan umum yang digariskan oleh dewan pengurs syaria’ah.

3) Memimpin dan mengarahkan kegiatan yang dilakukan oleh staffnya.

Membuat laporan pembiayaan baru, perkembangan pembiayaan, dana, rugi laba secara periodik kepada dewan pengawas syariah.

f. Ketua Baitul Maal

Ketua baitul Maal mendampingi dan mewakili manajer dalam tugas-tugasnya yang berkaitan dengan pelaksanaan operasional baitul maal. Adapun tugasnya adalah :

1) Membantu manajer dalam penyusunan rencana pemasaran dan operasional serta keuangan.

2) Memimpin dan menarahkan kegiatan yang dilakukan oleh staffnya.

3) Membuat laporan periodik kepada menejer berupa:

a) Laporan penyuluhan dan konsultasi;

b) Laporan perkembangan penerimaan ZIS;

c) Laporan Keuangan.

g. Ketua Baitul Tamwil

(28)

1) Membantu manajer dalam penyusunan rencana pemasaran dan operasional serta keuangan.

2) Memimpin dan mengarahkan kegiatan yang dilakukan oleh staffnya.

3) Membuat laporan periodik kepada menejer berupa :

a) Laporan pembiayaan baru;

b) Laporan perkembangan pebiayaan

c) Laporan dana

d) Laporan Keuangan

h. Marketing/Pembiayaan

Bagian pembiayaan memiliki wewenang melaksanakan kegiatan pemasaran dan pelayanan baik kepada calon penabung maupun kepada calon peminjam serta melakukan pembinaan agar tidak terjadi kemacetan pengembalian pijaman. Adapun tuganya :

1) Mencari dana dari anggota dan para pemilik sertifikat saham sebanyak-banyaknya.

2) Menyusun rencana pembiayaan.

3) Menerima permohonan pembiayaan.

4) Melaukan analisa pembiayaan.

5) Mengajukan persetujuan pembiayaan kepada ketua baitul tamwil.

6) Melakukan administrasi pembiayaan.

7) Melakukan pembinaan anggota.

8) Memuat laporan perkembangan pembiayaan.

i. Kasir/Pelayanan anggota

(29)

1) Menerima uang dan membayar sesuai perintah ketua/direktur.

2) Melayani dan membayar pengambilan tabungan.

3) Membuat buku kas harian.

4) Setiap kahir jam keja, menghitung uang yang ada dan minta pemeriksaan dari menejer.

5) Memberikan penjelasan kepada calon anggota dan anggota.

6) Menangani pembukuan kartu tabungan.

7) Mengurs semua dokumen dan pekerjaan yang harus di komunikasikan dengan anggota.

j. Pembukuan

Bagian pembukuan memiliki wewenang menanggani administrasi keuangan dan menghitung bagi hasil serta menyusun laporan keuangan. Adapun uraian tugasnya adalah :

1) Mengerjakan jurnal dan buku besar.

2) Menyusun neraca percobaan.

3) Melakukan perhitungan bagi hasil.

4) Menyusun laporan keuangan secara periodik.

3. Pengawasan

Meski masyarakat sangat euforia dalam mendirikan Baitul Maal wa Tanwil (BMT) yang badan hukumnya adalah koperasi syariah namun permasalahan pengawasan seringkali dilupakan. Padahal pengawasan dalam produk jasa keuangan adalah merupakan hal yang sangat vital.

(30)

Sebagaimana pada Lembaga Keuangan Syariah lainnya, pengawasan syariah mempunyai urgensi yang penting baik bagi kepentingan internal lembaga, masyarakat maupun perkembangan ekonomi syariah secara umum. Dengan pengawasan syariah yang berjalan optimal, maka secara psikologis akan menumbuhkan kenyamanan beraktifitas dan bertransaksi, baik masyarakat yang akan berhubungan dengan BMT, maupun pihak pengelola dan pengurus yang menjalankan operasional BMT. Bagi perkembangan ekonomi syariah, optimalisasi Pengawasan Syariah di BMT akan meminimalisir kesalahan dan penyimpangan yang selama ini terjadi, dan sedikit banyak akan memperbarui optimisme masyarakat dalam menyambut perkembangan ekonomi syariah.

Secara umum, pengawasan syariah bagi LKS mempunyai nilai urgensi yang tinggi, karena perkembangan jenis transaksi keuangan dan aktifitas perdagangan yang begitu cepat dan beragam, membutuhkan penyikapan yang cepat dan tepat untuk memastikan sisi legalitas syariahnya. Lembaga Pengawasan Syariah tertinggi yang dalam hal ini DSN-MUI bertugas mengeluarkan Fatwa-Fatwa untuk memberikan solusi alternatif akad-akad syariah yang paling memungkinkan dilakukan. Produk-produk pengembangan yang dihasilkan dari Fatwa-fatwa tersebut diharapkan bisa kompetitif bahkan lebih unggul dibanding produk semisal di bank konvensional. Tanpa adanya fatwa-fatwa kontemporer yang dikeluarkan DSN-MUI, maka yang terjadi adalah ekonomi syariah akan dilekatkan dengan citra ketinggalan jaman karena produk-produknya tidak berkembang dan tidak mampu menjawab kebutuhan zaman.

Adapun secara khusus terkait pada BMT/KJKS, maka pengawasan syariah di dalamnya mempunyai beberapa nilai urgensi, diantaranya disebabkan hal sebagai berikut:

(31)

Bank Indonesia yang secara rutin mengawasi, meminta laporan dan mencari-cari celah penyimpangan yang dilakukan pihak Bank atau BPRS. Maka keberadaan DPS pada BMT/KJKS secara tidak langsung menjadi sarana audit internal kelembagaan tersebut, selaian pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah tentunya. Dalam Kepmen no 91 tentang Juklak KJKS, fungsi pengawasan internal DPS ini disebutkan dalam pasal 32 yang berbunyi : Dewan Pengawas Syariah bertugas melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan usaha.

b. Koperasi Jasa Keuangan Syariah / Unit Jasa Keuangan Syariah berdasarkan prinsip-prinsip syariah dan melaporkan hasil pengawasannya kepada Pejabat. Yang dimaksudkan dengan Pejabat ini sebagaimana disebutkan dalam Bab Ketentuan Umum adalah : aparatur pemerintah yang ditetapkan Menteri dan berwenang mengesahkan akta pendirian, perubahan AD dan pembubaran koperasi di pusat, propinsi dan kabupaten/kota. c. Karena tidak terikat dan tidak terkait dengan Peraturan Bank

Indonesia, maka dalam pengembangan dan inovasi produknya, BMT mempunyai ruang gerak yang lebih luas karena cukup dengan mendasarkan dalam perancangan produknya pada fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia. Sampai saat ini DSN MUI telah mengeluarkan 82 Fatwa tentang akad dan transaksi syariah, dimana masih sebagian kecil yang diaplikasikan di BMT. Untuk menterjemahkan dan memperinci Fatwa DSN –MUI dalam bentuk akad produk itulah mutlak keberadaan DPS BMT yang optimal diperlukan. Lebih lanjut tentang inovasi produk dan peran DPS di dalamnya akan dibahas secara terpisah.

(32)

menitipkan dana pada BMT sebagian besar karena alasan kedekatan lokasi, kedekatan dengan pengurus, dan tentu saja kenyamanan dari sisi syariahnya. Masyarakat yang menyimpan uang di BMT lebih disebabkan faktor ‘loyalis syariah’ bukan faktor mencari keuntungan dari Return On Investment. Sebagai loyalis syariah, masyarakat menuntut BMT benar-benar berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai syariah, baik dari sisi akad, aplikasi maupun pengelolaannya. Kepercayaan dan kecintaan masyarakat akan terpelihara selama pihak BMT mampu membuktikan berjalannya pengawasan syariah dengan baik dan optimal.

E. Pola Manajemen Koperasi

Koperasi seperti halnya organisasi yang lain membutuhkan pola manajemen yang baik agar tujuan koperasi tercapai dengan efisien. Hal yang membedakan manajemen koperasi dengan manajemen umum adalah terletak pada unsur-unsur manajemen koperasi yaitu rapat anggota, pengurus, dan pengawas. Adapun tugas masing-masing dapat diperinci sebagai berikut:

1. Rapat anggota berfungsi untuk menetapkan anggaran dasar, membuat kebijaksanaan umum, mengangkat/memberhentikan pengurus dan pengawas.

2. Pengurus koperasi bertugas memimpin koperasi dan usaha koperasi. 3. Sedangkan pengawas tugasnya mengawasi jalannya koperasi.

(33)

1. Perencanaan

Perencanaan merupakan suatu proses dasar manajemen. Dalam perencanaan manajer memutuskan apa yang harus dilakukan, kapan harus dilakukan, bagaimana dan siapa yang harus melakukan. Setiap organisasi memerlukan perencanaan. Baik organisasi yang bersifat kecil maupun besar sama saja membutuhkan perencanaan. Hanya dalam pelaksanaannya diperlukan penyesuaian-penyesuaian mengingat bentuk, tujuan dan luas organisasi yang bersangkutan.

Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang fleksibel, sebab perencanaan akan berbeda dalam situasi dan kondisi yang berubah-ubah di waktu yang akan datang. Apabila perlu dalam pelaksanaannya diadakan perencanaan kembali sehingga semakin cepat tujuan organisasi untuk dicapai.

Perencanaan dalam Koperasi yaitu organisasi koperasi sama dengan organisasi yang lain, perlu dikelola dengan baik agar mencapai tujuan akhir yang seefektif mungkin. Fungsi perencanaan merupakan fungsi manajemen yang sangat penting karena merupakan bagian dasar fungsi manajemen yang lain. Agar tujuan akhir koperasi dapat dicapai maka koperasi harus membuat rencana yang baik, dengan melalui beberapa langkah dasar pembuatan rencana yaitu menentukan tujuan organisasi, mengajukan beberapa alternatif cara mencapai tujuan tersebut dan kemudian alternatif-alternatif tersebut harus dikaji satu per satu baik buruknya sebelum memutuskan alternatif mana yang akan dipilih.

Tipe rencana yang dipilih dalam koperasi bermacam-macam tergantung pada jangka waku dan jenjang atau tingkat manajemen.

2. Pengorganisasian dan Struktur Organisasi

(34)

a. Pembagian kerja; b. Departementasi; c. Bagan organisasi;

d. Rantai perintah dan kesatuan perintah; e. Tingkat hierarki manajemen;

f. Saluran komunukasi dan sebagainya.

Adapaun struktur organisasi dalam koperasi yaitu:

a. Rapat Anggota

Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi di tata kehidupan koperasi yang berarti berbagai persoalan mengenai suatu koperasi hanya ditetapkan dalam rapat anggota. Di sini para anggota dapat berbicara, memberikan usul dan pertimbangan, menyetujui suatu usul atau menolaknya, serta memberikan himbauan atau masukan yang berkenaan dengan koperasi. Oleh karena jumlah siswa terlalu banyak, maka dapat melalui perwakilan atau utusan dari kelas-kelas.

Rapat Anggota Tahunan (RAT) diadakan paling sedikit sekali dalam setahun, ada pula yang mengadakan dua kali dalam satu tahun, yaitu satu kali untuk menyusun rencana kerja tahun yang akan dan yang kedua untuk membahas kebijakan pengurus selama tahun yang lampau. Agar rapat anggota tahunan tidak mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar di sekolah, maka rapat dapat diadakan pada mas liburan tahunan atau liburan semester. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi sekolah, rapat anggota mempunyai wewenang yang cukup besar. Wewenang tersebut misalnya:

(35)

6) Memberhentikan pengurus; dan

7) Mengesahkan pertanggungjawaban pengurus dalam

pelaksanaan tugasnya.

Pada dasarnya, semua anggota koperasi berhak hadir dalam rapat anggota. Namun, bagi mereka yang belum memenuhi syarat keanggotaan, misalnya belum melunasi simpanan pokok tidak dibenarkan hadir dalam rapat anggota. Ada kalanya mereka diperbolehkan hadir dan mungkin juga diberi kesempatan bicara, tetapi tidak diizinkan turut dalam pengambilan keputusan. Keputusan rapat anggota diperoleh berdasarkan musyawarah mufakat. Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara musyawarah, maka pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak di mana setiap anggota koperasi memiliki satu suara. Selain rapat biasa, koperasi sekolah juga dapat menyelenggarakan rapat anggota luar biasa, yaitu apabila keadaan mengharuskan adanya keputusan segera yang wewenangnya ada pada rapat anggota. Rapat anggota luar biasa dapat diadakan ataspermintaan sejumlah anggota koperasi atau atas keputusan pengurus.

Penyelenggara rapat anggota yang dianggap sah adalah jika koperasi yang menghadiri rapat telah melebihi jumlah minimal (kuorum). Kuorum rapat anggota meliputi setengah anggota ditambah satu (lebih dari 50%). Jika tidak, maka keputusan yang diambil dianggap tidak sah dan tidak mengikat. Hal yang dibicarakan rapat anggota tahunan:

1) Penilaian kebijaksanaan pengurus selama tahun buku yang lampau;

2) Neraca tahunan dan perhitungan laba rugi; 3) Penilaian laporan pengawas;

(36)

6) Rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahun selanjutnya;

7) Masalah-masalah yang timbul.

b. Pengurus

Pengurus koperasi dipilih dari kalangan dan oleh anggota dalam suatu rapat anggota. Ada kalanya rapat anggota tersebut tidak berhasil memilih seluruh anggota Pengurus darikalangan anggota sendiri.

Hal demikian umpamanya terjadi jika calon-calon yang berasal dari kalangan-kalangan anggota sendiri tidak memiliki kesanggupan yang diperlukan untuk memimpin koperasi yang bersangkupan, sedangkan ternyata bahwa yang dapat memenuhi syarat-syarat ialah mereka yang bukan anggota atau belum anggota koperasi (mungkin sudah turut dilayani oleh koperasi akan tetapi resminya belum meminta menjadi anggota). Dalam hal dapatlah diterima pengecualian itu dimana yang bukan anggota dapat dipilih menjadi anggota pengurus koperasi.

c. Pengawas

Pengawas dipilh oleh Rapat Anggota untuk mengawasi pelaksanaan keputusan Rapat Anggota Tahunan dan juga idiologi. Tugas pengawas tidak untuk mencari-cari kesalahan tetapi untuk menjaga agar kegiatan yang dilakukan oleh koperasi sesuai dengan idiologi, AD/ART koperasi dan keputusan RA. Tugas, kewajiban dan wewenang pengawas koperasi sebagai berikut.

1) Pengawas koperasi berwenang dan bertugas melakukan

pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan organisasi.

2) Pengawas wajib membuat laporan tentang hasil

(37)

3) Pengawas koperasi meneliti catatan dan fisik yang ada

dikoperasi dan mendapatkan keterangan yang diperlukan.

d. Manajer

Peranan Manajer Koperasi, kedudukan dan fungsi sebagai pelaksana di bidang usaha dan bertanggung jawab pada pengurus koperasi:

1) Sebagai pelaksana dari kebijakan pengurus.

2) Menetapkan struktur organisasi dan manajemen koperasi serta menjamin kelangsungan usaha.

3) Dapat bekerja terus seiama tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan keputusan rapat anggota, sekalipun ada penggantian pengurus.

4) Mengembangkan kepercayaan atas kekuatan dan kemampuan koperasi sendiri dalam kegiatan-kegiatannya.

5) Pendapatan Sistem Koperasi. Sisa hasil usaha merupakan pendapatan yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya dapat dipertanggungjawabkan, penyusutan, kewajiban lainnya termasuk pajak dan zakat yang harus dibayarkan dalam tahun buku yang bersangkutan.

Masalah di koperasi yang paling sulit adalah masalah yang timbul dari dalam dirinya sendiri, misalnya berupa keterbatasan. Keterbatasan dalam hal pengetahuan paling sering terjadi. Dengan kemampuan yang terbatas, serta tingkat pendidikan yang terbatas pula, pengurus perlu mengangkat karyawan yang bertugas membantunya dalam mengelola koperasi agar pekerjaan di koperasi dapat diselesaikan dengan baik.

(38)

organisasi koperasi harus sesuai dengan dengan macam usaha, volume usaha, maupun luas pasar produk yang dihasilkan. Pada prisnsipnya semua bentuk organisasi yang baik, pasti masing-masing mempunyai kelemahan.

3. Pengarahan

Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang sangat penting. Sebab masing-masing orang yang bekerja di dalam suatu organisasi mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Supaya kepentingan yang berbeda-beda tersebut tidak saling bertabrakan satu sama lain maka pimpinan perusahaan harus dapat mengarahkan untuk mencapai tujuan peruahaan.

Seorang karyawan dapat mempunyai prestasi kerja yang bagus dan baik, apabila mempunyai motivasi. Maka dari itu, tugas pemimpin perusahaan adalah memotivasi karyawannya agar mereka menggunakan seluruh potensi yang ada dalam dirinya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Supaya manajer atau pimpinan perusahaan dapat memberikan pengarahan yang baik, pertama-tama ia harus mempunyai kemampuan untuk memimpin perusahaan dan harus pandai mengadakan komunikasi secara vertikal.

Seorang manajer kepegawaian adalah pembantu pengurus yang diserahi tugas mengurus administrasi kepegawaian, yang mencakup:

1) Mendapatkan pegawai yang mau bekerja dalam koperasi; 2) Meningkatkan kemampuan kerja pegawai;

3) Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang yang baik; 4) Melaksanakan kebijakan yang dibuat pengurus;

5) Memberikan saran-saran atau usulan perbaikan. 4. Pengawasan

(39)

dan apabila hal tersebut diperlukan. Setiap perusahaan mengadakan pengawasan dengan tujuan agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang sudah dietapkan sebelumnya.

Ada bebebrapa alasan yang dapat diberikan mengapa hampir setiap perusahaan menghendaki adanya proses penganwasan yang baik. Alasan-alasan tersebut antara lain:

1) Manajer dapat lebih cepat mengantisipasi perubahan lingkungan; 2) Perusahaan yang besar akan mudah dikndalikan;

3) Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh anggota organisasi dapat dikurangi.

Berdasarkan waktu melakukan pengawasan dikenal ada tiga tipe pengawaasan yaitu, feedforward control, concurrent control, dan feedback control.

Adapun teknik dan metode pengawasan yang dapat dilakukan yaitu dengan dua cara yakni pengawasan kuantitatif dan pengawasan kualitatif. Pengawasan kualitatif dapat dilakukan oleh manajer untuk menjaga

performance organisasi secara keseluruhan, sikap serta performance

karyawan. Sedangkan metode pengawasan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan data, biasanya digunakan untuk mengawasi kuantitas maupun kualitas produk. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk melaksanakan pengawasan kuantitatif antara lain dengan menggunakan anggaran, mengadakan auditing, analisis break even, analisis rasio dan sebagainya.

Kita dapat melihat dalam program keterkaitan yang dicanangkan sebagai gerakan nasional muncul empat macam pola hubungan kemitraan, yaitu:

1) Pola Dagang

Keterkaitan merupakan hubungan dagang biasa antara produsen atau koperasi dan pemasar atau pengusaha.

(40)

Kerjasama dilakukan untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan yang menjadi bapak angkat.

3) Pola Subkontrak

Kerjasama dilakukan dalam hubungan produk yang dihasilkan oleh koperasi menjadi bagian dalam sistem produksi bapak angkat. 4) Pola Pembinaan

(41)

A. Simpulan

Dari berbagai penjelasan yang telah penulis paparkan di bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan bahwa:

1. Manajemen pola adalah model cara kerja untuk menghasilkan bentuk yang sama dalam proses manajemen. Proses manajemen disini mencakup proses planning, organization, actuating, dan

controling;

2. Lembaga keuangan mikro syariah adalah lembaga keuangan mikro yang menggunakan prinsip-prinsip syariah. Bentuk lembaga keuangan mikro syariah diantaranya yaitu BPRS, BMT, dan Koperasi;

3. Pola manajemen BPRS meliputi pperencanaan, perencanaan organisasi, pengawasan, dan program audit;

4. Pola manajemen BMT meliputi perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan.

5. Pola Manajemen koperasi meliputi perencanaan, pengorganisasian dan struktur organisasi, pengarahan, dan pengawasan.

E. Saran

Sejalan dengan simpulan di atas, penulis merumuskan saran sebagai berikut:

1. Manajemen pola digunakan di dalam kegiatan memanaj organisasi agar dapat mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien. Sehingga sangat disarankan lembaga keuangan berskala mikro yang berbasis syariah menggunakan manajemen yang berpola;

(42)

2. Untuk menghasilkan cara kerja yang sama demi tercapainya tujuan organisasi maka diperlukan kerjasama semua pihak;

(43)

Mulyono, Djoko. (2014). Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah. Yogyakarta: ANDI.

Ridwan, Ahmad Hasan. (2013). Manajemen Baitul Mal wa Tamwil. Bandung: Pustaka Setia.

Referensi

Dokumen terkait

Ada perbedaan yang sangat signifikan pada prestasi belajar fisika antara yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan yang diajar menggunakan

Membandingkan antara jumlah penduduk usia sekolah dasar dengan jumlah sekolah dassar yang ada, menarik unruk diketahui bagaimana sebaran sekolah dasar tersebut,

1) Untuk merancang sistem monitoring kesehatan pasien dengan multisensor, Arduino Uno dapat digunakan sebagai media pemrosesan data yang dikirim oleh sensor detak

“Jumlah kerja sama sudah banyak, cuma masalahnya jangan sebatas MoU, tapi bagaimana implementasi dari MoU atau kerja sama tersebut karena penilaian untuk perguruan tinggi

Data ekonomi China yang dirilis hari ini menunjukkan bahwa inflasi harga konsumen negara pada bulan Maret sebesar 2,3% atau lebih rendah dari perkiraan sebesar 2,14%.. Sementara

Dari batasan masalah tersebut penulis jadikan rumusan masalah penelitian : Bagaimana Proses Perubahan Perilaku Warga Kampoeng Cyber RT 36 Taman, Yogyakarta

Berdasarkan berbagai informasi dari penelitian terdahulu, maka untuk meneliti perilaku pembelian (green purchase behavior) produk organik oleh masyarakat yang

“Pengaruh Kualitas Layanan dan Harga Tiket Terhadap Kepuasan Pelanggan Pengguna Jasa Kereta Api Kaligung Mas Kelas Eksekutif Pada PT.KAI DAOP 4 Semarang”, Diponegoro.. Journal