MAKALAH ETIKA BISNIS FRAUD AUDITING DALA

11  133  Download (3)

Teks penuh

(1)

MAKALAH ETIKA BISNIS

“FRAUD AUDITING DALAM PERUSAHAAN”

DISUSUN OLEH :

HARINA NUNGKI PANDITA

14133200186

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MANAJEMEN

UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

(2)

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

Semua organisasi, apapun jenis, bentuk, skala operasi dan kegiatannya memiliki risiko terjadinya fraud atau kecurangan. “Fraud adalah tindakan curang, yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga menguntungkan diri-sendiri/kelompok ATAU merugikan pihak lain (perorangan, perusahaan atau institusi).”selain memberi keuntungan bagi pihak yang melakukannya, membawa dampak yang cukup fatal, seperti misalnya hancurnya reputasi organisasi, kerugian organsisasi, kerugian keuangan Negara, rusaknya moril karyawan serta dampak-dampak negatif lainnya.

Maraknya berita mengenai investigasi terhadap indikasi penyimpangan (fraud) di dalam perusahaan dan juga pengelolaan negara di surat kabar dan televisi semakin membuat sadar bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk membenahi ketidakberesan tersebut. Walaupun saat ini sorotan utama sering terjadi pada manajemen puncak perusahaan, atau terlebih lagi terhadap pejabat tinggi suatu instansi, namun sebenarnya penyimpangan perilaku tersebut bisa juga terjadi di berbagai lapisan kerja organisasi.

RUMUSAN MASALAH 1. Pengertian fraud ?

2. Motivasi melakukan fraud ?

3. Mendeteksi kecurangan (fraud auditing) ?

4. Pencegahan dan pendeteksian fraud ?

(3)

PEMBAHASAN Pengertian fraud

FRAUD (kecurangan) adalah tindakan ilegal yang dilakukan satu orang atau sekelompok orang secara sengaja atau terencana yang menyebabkan orang atau kelompok mendapat keuntungan, dan merugikan orang atau kelompok lain.FRAUDulent financial

reporting (kecurangan laporan keuangan) adalah salah saji atau pengabaian jumlah dan pengungkapan yang disengaja dengan maksud menipu para pemakai laporan. Kecurangan dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu :

a. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement FRAUD).

Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat financial atau kecurangan non financial.

b. Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation).

Penyalahagunaan aset dapat digolongkan ke dalam ‘Kecurangan Kas’ dan ‘Kecurangan atas Persediaan dan Aset Lainnya’, serta pengeluaran-pengeluaran biaya secara curang

(FRAUDulent disbursement). c. Korupsi (Corruption).

Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE, bukannya pengertian korupsi menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia. Menurut ACFE, korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of interest), suap (bribery), pemberian illegal (illegal gratuity), dan pemerasan (economic extortion).

Motivasi Melakukan Fraud

Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang mendasarinya terjadi secara bersama, yaitu:

1. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud

2. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud.

3. - Kesempatan/Peluang (Opportunity), Pelaku perlu berada pada tempat yang tpat, waktu yang tepat agar mendapatkan keuntungan atas kelemahan khusus dalam system dan juga menghindari deteksi.

(4)

5. - Daya tarik (Attraction), Sasaran dari kecurangan yang dipertimbangkan perlu menarik bagi pelaku.

6. - Keberhasilan (Success), Pelaku perlu menilai peluang berhasil, yang dapat diukur baik menghindari penuntutan atau deteksi.

Mendeteksi Kecurangan (Fraud Auditing) 1. Memahami Gejala Kecurangan

Dengan belajar dari kecurangan yang pernah terjadi,maka kecurangan dapat sedini mungkin ditangani oleh manajemen atau internal auditor.Dalam hal ini manajemen dan internal auditor harus “jeli” melihat tanda-tanda atau kecurangan,yaitu antara lain:

- Terdapat perbedaan angka laporan keuangan yang mencolok dengan tahun-tahun sebelumnya

- Perbedaan antara Buku Besar dengan Buku Tambahannya - Perbedaan yang terungkapkan dari hasil konfirmsi

- Transaksi yang tidak didukung oleh bukti yang memadai

- Transaksi yang tidak dicatat sesuai dengan otorisasi manajemen baik yang khusus maupun yang umum

- Terdapat perbedaan kepentingan (conflict of interest) pada tugas pekerjaan karyawan Tanda awal (Red Flags) terjadinya kecurangan sebagai berikut:

1. Situasi pribadi yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang tidk diharapkan,seperti dililit hutang ,dan menderita sakit berat

2. Keadaan perusahaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang tidak semestinya,seperi kesulitan ekonomi,banyaknya hutang,meningkatnya persaingan dan kredit pinjaman yang terbatas

(5)

Pencegahan dan Pendeteksian Fraud

Dalam mencegah dan mendeteksi serta menangani fraud sebenarnya ada beberapa pihak yang terkait: yaitu akuntan (baik sebagai auditor internal, auditor eksternal, atau auditor forensik) dan manajemen perusahaan. Peran dan tanggung jawab msaing-masing pihak ini dapat digambarkan sebagai suatu siklus yang dinamakan Fraud Deterrence Cycle atau siklus pencegahan fraud.

Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate

governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian wewenang.

Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal, pada dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi yang memadai yang dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.

Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan.

Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. Peran auditor forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan tingkat kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa pelanggaran kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang berbentuk kecurangna dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan aset.

Contoh Modus Fraud Pada Laporan Keuangan:

· Dengan sengaja melakukan pengakuan pendapatan terlalu besar/terlalu kecil

· Dengan sengaja tidak melakukan penutupan buku di akhir periode (untuk melakukan perubahan-perubahan tanpa perlu adjustment)

· Dengan sengaja menaikan nilai penjualan menjelang penutupan buku, untuk kemudian di ajust setelah periode berlalu.

· Dengan sengaja memundurkan tanggal kontrak (PO) penjualan · Mencatat penjualan dan pengiriman barang fiktif

· Memasukan nilai penjualan yang lebih besar dari kenyataannya

· Tidak mencatat dan menghilangkan bukti transaksi penjualan agar laba nampak kecil (untuk penghindaran pajak)

· Dengan sengaja memasukaan jenis penjualan non-operasional ke kelompok pendapatan opersional, atau sebaliknya.

· Memanipulasi angka diskon atau rabat

(6)

· Mengakui pendapatan atas tagihan yang jelas-jelas ditolak oleh pelanggan

· Mengakui pendapatan (revenue) atas contoh produk (sample/mock up/model) yang terkirim, padahal aslinya tidak dibayar, agar pendapatan nampak besar pada Laporan Laba/Rugi.

· Mengakui pengiriman barang konsinyasi sebagai penjualan putus

· Dengan sengaja menghilangkan bukti transaksi biaya/pendapatan untuk menghindari pengakuan biaya/pendapatan.

· Dengan sengaja membuat bukti transaksi biaya/pendapatan untuk menaikan atau menurunkan pendapatan.

· Dengan sengaja tidak mengakui atau menunda kewajiban kontinjensi

· Dengan sengaja menggunakan estimasi persentase pendapatan lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya, dari metode pengakuan pendapatan persentase penyelesaian kontrak · Dengan sengaja mengakui piutang dari pihak yang memiliki hubungan istimewa

· Membuat surat perjanjian tidak sah untuk dijadikan bukti transaksi

· Mengakui pendapatan atas penyelesaian barang yang sesungguhnya tidak akan pernah dikirimkan ke pelanggan.

· Mencatat adanya pengiriman barang lebih awal (entah sebagian atau seluruhnya), padahal sesungguhnya barang belum terkirim.

· Mengakui perolehan aset tetap fiktif.

· Mengakui nilai pembelian aset bersih lebih tinggi dari kesepakatan yang sesungguhnya, dalam proses merger dan akuisisi.

· Mengubah angka nilai wajar aset atas hasil revaluasi

· Mengakapitalisasikan suatu biaya (kedalam aset) yang seharusnya tidak dikapitalisasi. · Mengakui sewa pembiayaan sebagai biaya sewa, untuk menghindari pengakuan kewajiban

sewa.

· Mensekemakan metode penyusutan atau amortisasi sedemikian rupa sehingga menjadi lebih besar atau lebih kecil, untuk maksud menaikan nilai aset atau menaikan pendapatan. · Mengakui goodwill dan aset tak berwujud lainnya dalam nilai yang lebih besar dari yang

seharusnya.

· Mengakui adanya investasi yang sesungguhnya fiktif

· Memanipulasi nilai wajar investasi dari hasil revaluasi yang sah atau dengan sengaja tidak melakukan revaluasi saat harga pasar instrument invetasi mengalami penurunan

(7)

· Menggunakan metode penilain barang persediaan yang tidak sesuai (tidak diijinkan oleh standar).

· Dengan sengaja menggunakan metode penilaian barang persediaan secara tidak konsisten · Mengakui nilai tagihan lebih besar dari yang sesungguhnya.

· Dengan sengaja mengakrualkan biaya yang sesungguhnya telah terjadi dan nilai nominalnya sudah diketahui secara pasti (sudah ada tagihan)

· Mengakui nilai utang yang lebih kecil dari yang seharusnya

· Mensekemakan penentuan provisi, cadangan, termasuk penurunan nilai dan translasi mata uang asing, sedemikian rupa untuk menaikan nilai aset atau menurunkan nilai liabilitas

· Perlakuan atas transaksi inter-company yang tidak sesuai. · Perlakuan penukaran atau penarikan aset yang tidak sesuai

Contoh Modus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme:

· Memberi perlakuan istimewa kepada pelanggan dan/atau vendor guna memperoleh suap— yang biasa disebut dengan “balas jasa” (kickback).

· Berkolusi dengan pihak pelanggan/dan atau vendor.

· Menerima suap dari vendor, setelah memberi perlakuan istimewa (yang menguntungkan vendor).

· Menerima suap atas pemberian kontrak

· Menyetujui pemberian order kepada supplier guna memperoleh suap

· Membayar atau tidak membayar vendor, yang secara langsung-tidak langsung memberi keuntungan komersial atau bentuk manfaat kompetitif lainnya bagi pada vendor lain, dan memperoleh suap darinya.

· Menyuap petugas/pejabat pemerintah guna memperoleh perlakuan istimewa atau keuntungan tertentu (misal: auditor pajak, bea cukai, imigrasi, dll).

· Menerima suap dari perusahaan terakuisisi, sehubungan dengan akuisi bisnis, setelah memberikan perlakuan istimewa yang menguntungkan bagi perusahaan terakuisisi. (biasanya oleh senior management)

· Menjual property perusahaan di bawah harga pasar, guna memperoleh suap dari pembeli. · Membeli property untuk persusahaan guna memperoleh suap dari penjual atau agennya. · Menjual konsultasi pribadi dengan pihak ketiga yang bergerak di bidang usaha yang sama

atau sejenis.

(8)

· Memberikan advise/alih-pengetahuan/training kepada pihak (perusahaan) pesaing, dalam rangka akan pindah kerja ke sana.

· Mengikutsertakan diri dalam aktivitas anti-trust (menjelek-jelekan) perusahaan

· Mengikutsertakan diri atau berkontribusi (langsung atau langsung) dalam aktivitas politik secara ilegal.

· Mengancam keselamatan pihak (perusahaan) lain guna memperoleh imbal-balik.

· Menjanjikan keselamatan dan perlindungan bagi kesalahan yang dilakukan oleh orang (pihak lain) guna memperoleh imbal-balik.

Contoh Kasus Fraud di Indonesia

Bank Indonesia (BI) mengakui banyaknya kasus fraud atau pembobolan bank akhir-akhir ini disebabkan karena lemahnya pengawasan internal. Bank sentral meminta bank untuk introspeksi serta membenahi pengendalian internal dengan mengoptimalkan manajemen risiko. “Kasus-kasus yang terjadi merupakan kesempatan perbankan Indonesia untuk introspeksi untuk menyempurnakan pengawasan ke arah yang lebih berbasis risiko. Juga fokus pada aspek kepatuhan dan fungsional terutama risiko operasional untuk memitigasi risiko termasuk internal auditor,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah disela diskusi mengenai banking efficiency award 2011 di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (22/6/2011).

Dicontohkan Halim, beberapa kasus besar industri perbankan global misalnya saja di Singapura beberapa waktu lalu juga dikarenakan lemahnya pengawasan internal dan level top manajemen. Kasus di Indonesia, sambung Halim tidak jauh dari hal tersebut dimana terdapat beberapa kelemahan. “Antara lain level top manajemen dalam melakukan review secara berkala terhadap kebijakan sistem prosedur SOP dan pengendalian internal, kemudian pengawasan internal yang kurang optimal serta adanya kelemahan implementasi kebijakan sistem dan prosedur serta SDM yang kurang menjalankan prinsip Know Your Employee,” paparnya.

(9)

menyempurnakan kontrol internal yang efektif, ketersediaan standard operational procedure yang memadai dan mendorong pengawasan aktif dari direksi dan komisaris.

Selain itu, bank sentral juga akan menyempurnakan pengawasan dengan penguatan fungsi Direksi Kepatuhan yang lebih optimal dan satuan kerja audit internal dan manajemen risiko yang dapat beroperasi secara independen. “Semuanya itu antara lain lapisan pertahanan pertama pada bank kalau semuanya dilakukan dapat mengurangi risiko operasional,” ujarnya. Disamping pengguatan GCG di internal bank, menurut Halim, bank sentral juga akan mendorong pengawasan masyarakat dan kantor akuntan publik yang mengaudit bank. “Ini merupakan lapisan kedua sehingga ada jaminan yang baik terhadap perlindungan dana nasabah dan bank itu sendiri sebagai industri,” ujarnya.

Kesimpulan kasus:

(10)

PENUTUP KESIMPULAN

Fraud adalah bentuk kecurangan untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun lembaga/organisasi. Kecurangan yang bersifat lembaga lebih kompleks dibandingkan dengan kecurangan yang dilakukan oleh pribadi. Kecurangan/fraud mengakibatkan kerugian yang besar. Dalam pemerintahan, kerugian yang diterima bukan hanya kehilangan atau kebocoran uang negara, namun juga berakibat pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta menurunnya tingkat investasi. Cara mengatasi fraud terbagi atas 3 tindakan yaitu tindakan preventif, tindakan deteksi dan tindakan investigasi. Tindakan preventif merupakan tanggung jawab bersama antara manajemen puncak dengan stafnya, untuk menciptakan dan mengembangkan budaya kerja yang beretika dan lingkungan kerja yang baik. Tindakan deteksi adalah cara mengidentifikasi kecurangan yang terjadi. Metode yang digunakan dalam deteksi atas fraud dibagi atas metode konvensional dan metode sistem informasi. Metode konvensional adalah dengan cara menemukan indikasi setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terlebih dahulu. Salah satu cara menemukan indikasi

(11)

DAFTAR PUSTAKA

http://lindapraba.blogspot.co.id/2015/01/tugas-3-fraud-dan-contoh-kasus-fraud.html

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...