• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMA TEMA KETERAMPILAN DALAM PERMAINAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TEMA TEMA KETERAMPILAN DALAM PERMAINAN"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

TEMA-TEMA KETERAMPILAN DALAM PERMAINAN pendidikan. Pendidikan jasmani adalah satu fase dari proses pendidikan secara menyeluruh yang peduli terhadap perkembangan dan kemampuan gerak individu yang bersifat sukarela serta bermakna, dan berhubungan dengan sikap, mental, emosional, dan sosial. Tujuan Pendidikan Jasmani dalam kurikulum Sekolah Dasar (2004) sebagai berikut: (1) mengembangkan kemampuan gerak dan keterampilan berbagai macam permainan dan olahraga, (2) mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis melalui Penjas, (3) mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani, (4) mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran jasmani dan pola hidup sehat, dan (5) mampu mengisi waktu luang. Artinya pengelolaan pembelajaran Pendidikan Jasmani tidak hanya mengarah kepada kemampuan dan keterampilan saja melainkan lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan bergerak siswa Sekolah Dasar yang lebih bersifat apresiatif dan rekreatif.

Permainan adalah suatu aktivitas jasmani untuk memperoleh kesenangan dan memperkaya keterampilan motorik anak sesuai dengan kebutuhan motorik anak. Dalam bermain anak mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dengan mencoba berbagai cara dengan mengerjakan sesuatu dan memilih dan menentukan cara yang paling tepat. Dalam bermain anak-anak menggunakan bahasa untuk membawakan aktivitasnya, memperluas dan menyaring bahasa mereka dengan berbicara dan mendengar anak lain. Ketika bermain mereka belajar memahami orang lain dengan cara mensepakati komitmen yang mereka buat dari berbagai aturan dan menilai pekerjaan secara bersama-sama. Bermain mematangkan perkembangan anak-anak dalam semua area; intelektual, sosial ekonomi dan fisik. Bermain bagi anak adalah apa yang mereka lakukan sepanjang hari, bermain adalah kehidupan dan kehidupan adalah bermain.

(2)

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang perlu melaksanakan pembangunan disegala bidang, khususnya pada bidang pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu bidang dalam pembangunan yang perlu mendapatkan prioritas sendiri, karena merupakan investasi yang sangat besar nilainya bagi tumbuh kembang suatu bangsa. Pendidikan Jasmani merupakan mata pelajaran yang memiliki kedudukan yang vital dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Keberadaan Pendidikan Jasmani telah diakui oleh pemerintah dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 42 khususnya isi kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang menetapkan pelajaran Pendidikan Jasmani sebagai mata pelajaran yang wajib diberikan di sekolah mulai tingkat SD sampai dengan SLTA. Hal ini menunjukkan bahwa Pendidikan Jasmani telah menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Pernyataan tersebut telah diperkuat oleh para ahli kurikulum Pendidikan Jasmani, antara lain Nixon dan Jewet (l980) bahwa Pendidikan Jasmani adalah satu fase dari proses pendidikan secara menyeluruh yang peduli terhadap perkembangan dan kemampuan gerak individu yang bersifat sukarela serta bermakna dan terhadap reaksi yang langsung berhubungan dengan mental, emosional dan sosial.

(3)

Penjas, (3) mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani, (4) mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran jasmani dan pola hidup sehat, dan (5) mampu mengisi waktu luang. Berdasarkan tujuan Pendidikan Jasmani tersebut, maka guru Pendidikan Jasmani harus terlebih dahulu mampu mengelola pembelajaran Pendidikan Jasmani di SD yang mengarah pada makna tujuan Pendidikan Jasmani. Artinya pengelolaan pembelajaran Pendidikan Jasmani tidak hanya mengarah kepada kemampuan dan keterampilan saja melainkan lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan bergerak siswa Sekolah Dasar yang lebih bersifat apresiatif dan rekreatif.

(4)

siswa melakukan kegiatan dengan senang hati karena sesuai dengan kemampuannya. Pendidikan jasmani yang diberikan kepada siswa sekolah dasar bukanlah mengarah pada teknik secara spesifik hanya sebatas memberikan keterampilan gerak dasar yang dapat dituangkan dalam permainan, dan kebutuhan akan gerak siswa disesuaikan dengan tingkatannya.

Krisis Pendidikan Jasmani yang terjadi seperti itu, sebenarnya tidak bisa lepas dari belum efektifnya pembelajaran Penjas di sekolah. Pengelolaan Penjas oleh guru saat ini, belum menunjukkan ke arah yang efektif dan efisien. Proses pembelajaran yang diberikan guru Penjas dalam kegiatan pembelajaran bersifat monoton, berpusat pada guru, hanya menggunakan pendekatan drill, dan menekankan penguasaan motorik saja sedang aspek lain terabaikan seperti intelektual, mental dan nilai-nilai keolahragaan lainnya. Akibatnya siswa cenderung acuh tak acuh, kurang motivasi dalam belajar, merasa bosan, dan kurang kreatif, serta perkembangan geraknya tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Seharusnya guru merancang proses pembelajaran Penjas berorientasi pada tujuan dan berusaha menyesuaikan dengan kondisi fisik dan psikis siswa, sehingga siswa dapat melakukan aktivitas belajar sesuai dengan minat, keinginan, bakat yang dimiliki dan kreativitas sesuai dengan kemampuan siswa. Dengan demikian dapat dirumuskan permasalahannya yaitu permainan apa saja yang dapat merangsang kemampuan gerak yang sesuai terhadap kebutuhan geraknya?

Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar

(5)

ke arah tingkah laku yang positif melalui aktivitas jasmani. Aktivitas jasmani inilah bentuk rangsangan yang diciptakan untuk mempengaruhi potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah mulai dari jenjang pendidikan usia dini sampai pendidikan menengah. Melalui aktivitas jasmani ini diharapkan tujuan pendidikan yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat terwujud. Bentuk aktivitas jasmani yang disajikan dalam pembelajaran pendidikan jasmani dapat berbentuk olahraga maupun non olahraga. Olahraga seperti atletik, senam, permainan, beladiri, dan akuatik, sedang non olahraga dalam bentuk bermain, modifikasi cabang olahraga, dan aktivitas jasmani lainnya.

Pendidikan jasmani yang pada dasarnya bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan, berpikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran, dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani dan olahraga (Gabe Markin dan Marshall Hoffman, 1984: 15 dalam Purwati 2011:1). Pendidikan jasmani merupakan usaha pendidikan dengan menggunakan otot-otot besar hingga proses pendidikan yang berlangsung tidak terhambat oleh gangguan kesehatan dan pertumbuhan badan. Pendidikan jasmani merupakan usaha yang bertujuan untuk mengembangkan kawasan organik, neuromaskuler, intelektual, dan sosial (Abdul Kadir, 1992:4 dalam Purwati 2011:1).

(6)

menyebutkan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat 10 mata pelajaran yang salah satunya disebutkan adalah Pendidikan Jasmani dan olahraga. Dilain pihak Pendidikan Jasmani juga menjadi penting dan berharga yang didasarkan oleh suatu sumber hukum yang kuat yang tercantum dalam UU No. 3 tahun 2005 tentang sistem Keolahragaan Nasional. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa pada Pasal 1 kententuan umum berbunyi bahwa "olahraga pendidikan adalah Pendidikan Jasmani dan olahraga yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani".

(7)

pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang (Pusat Kurikulum, 2008:512).

Kurikulum SD terus berubah seiring dengan perubahan kurikulum dan jenjang pendidikan calon guru SD. Hal ini menuntut agar para calon guru SD sejak jauh hari selama proses perkuliahan terutama saat melakukan PPL akrab dengan suasana “lapangan (SD)”. Khusus kurikulum penjas, telah mengalami perubahan nama mata pelajaran dan substansinya, mulai dengan istilah Pendidikan Jasmani, Olahraga Kesehatan, Penjaskes, Penjas, dan terakhir Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pergantian nama kurikulum penjas ini, berkonsekuensi kepada perubahan berbagai infra struktur pembelajaran mulai dari penentuan tujuan, penentuan isi, proses (strategi dan pendekatan) serta evaluasinya.

(8)

menyatakan diri dan bermain secara leluasa untuk mengenal lingkungan dalam situasi yang menggembirakan.

Ketiga, meskipun arah dari pengajaran, khususnya pendidikan jasmani juga peduli dengan pengembangan keterampilan suatu cabang olahraga, tetapi tekanannya lebih banyak pada pengembangan kemampuan gerak umum dan menyeluruh. Kalaupun kegiatan itu diarahkan bagi pengenalan suatu cabang olahraga, namun tugas gerak, alat dan pelaksanaannya diubah dan disesuaikan dengan kemampuan anak.

Keempat, model pembelajaran lebih banyak ditandai oleh pemberian kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan diri, berinisiatif dan memecahkan persoalan secara kreatif. Namun demikian, guru tetap memiliki peranan penting dalam mengelola proses belajar-mengajar.

(9)

medium pendidikan. Oleh sebab itu, semakin kuat keyakinan dari kalangan pendidik pendidikan jasmani untuk kembali ke konsep dan penerapan pendidikan jasmani yang sebenarnya, maka tujuan pendidikan jasmani Sekolah Dasar akan tercapai sesuai dengan kebutuhan gerak anak.

Tujuan Pendidikan Jasmani

Berdasarkan pemahaman mengenai hakikat pendidikan jasmani maka tujuan pendidikan jasmani sama dengan tujuan pendidikan pada umumnya, karena pendidikan jasmani merupakan bagian yang integral dari pendidikan pada umumnya melalui aktivitas jasmani. Aktivitas jasmani yang meliputi berbagai aktivitas jasmani dan olahraga hanya sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan pendididkan pada umumnya. Secara rinci tujuan pendidikan terdapat dalam UU No. 20 Th. 2003 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif. Mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Permainan

Batasan mengenai bermain sangat luas dan sulit untuk menemukan pengertian bermain secara nyata dan tepat dalam arti satu batasan dapat mencakup seluruh pengertian bermain. Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai batasan bermain walaupun belum satu bahasa tetapi dapat sebagai acuan untuk memberi pengertian bermain dalam pendidikan jasmani pada khususnya.

(10)

dilakukan bersama sekelompok teman, yang penting dan perlu ada di dalam kegiatan bermain adalah rasa senang yang ditandai oleh tertawa.

Soemitro (1991), menyatakan bahwa bermain adalah belajar menyesuikan diri dengan keadaan.

Sukintaka (1998) menyatakan bermain adalah aktivitas jasmani yang dilakukan dengan sukarela dan bersungguh-sungguh untuk memperoleh rasa senang dari melakukan aktivitas tersebut.

Hurlock (1978:320) menyatakan bahwa bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela dan dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban.

Piaget dalam Hurlock (1978) menjelaskan bahwa bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk kesenangan fungsional.

(11)

sebagainya. Sedang agon berarti perjuangan untuk mengalahkan segala tantangan atau kesulitan/hambatan atau permasalahan dalam bermain.

Menurut Rebecca Isbell dalam bukunya The Complete Learning Center Book “Play is Children’s Work and Children Want to Play”, dalam bermain,

anak-anak mengembangkan keahlian memecahkan masalah dengan menggunakan berbagai cara untuk melakukan sesuatu dan menentukan pendekatan terbaik. Dalam bermain anak-anak menggunakan bahasa untuk melakukan kegiatan mereka, memperluas dan memperbaiki bahasa mereka sambil berbicara dengan anak lainnya. Ketika bermain, mereka belajar tentang orang lain selain dirinya dan mereka mencoba berbagai peran dan menyesuaikan diri saat bekerjasama dengan orang lain. Bermain membentuk perkembangan anak pada semua bagian: intelektual, sosial, emosional dan fisik (Isbell dalam Satya, 2006).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, permainan adalah suatu aktivitas jasmani untuk memperoleh kesenangan dan memperkaya keterampilan motorik anak sesuai dengan kebutuhan motorik anak.

(12)

mematangkan perkembangan anak-anak dalam semua area; intelektual, sosial ekonomi dan fisik. Bermain bagi anak adalah apa yang mereka lakukan sepanjang hari, bermain adalah kehidupan dan kehidupan adalah bermain. Anak-anak tidak membedakan antara bermain, belajar dan bekerja. Anak-anak adalah pemain alami, mereka menikmati bermain dan dapat berkonsentrasi dalam waktu yang lama untuk sebuah keterampilan. Bermain merupakan motivasi interinsik bagi anak dan tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dalam bermain anak dapat mengembangkan mental, menumbuhkan kemampuan untuk memecahkan masalah dalam hidupnya (perkembangan sosial) dan meningkatkan kebugaran komponen motoriknya. Tidak ada satu definisi yang dapat menjelaskan arti bermain yang sebenarnya ( Mary Mayesky, 1990; dalam Satya 2006).

(13)

membedakan, untuk menilai, untuk menganalisis dan mengambil intisari, untuk membayangkan dan merumuskan.

Dengan demikian pada anak usia sekolah dasar untuk pembelajaran pendidikan jasmani, kesehatan dan rekreasi yang diberikan adalah olahraga permainan yang sifatnya multilateral atau belajar gerak secara keseluruhan. Dengan konsep menyeluruh ini, maka dapat disarankan bahwa siswa sekolah dasar tidak perlu untuk menguasai cabang olahraga tertentu sebab pendidikan jasmani sifatnya adalah kesamaan dan keadilan gerak.

Tujuan Bermain dalam Pendidikan Jasmani

Bermain mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia yang dapat dilihat dari aspek psikis, fisik, dan sosial. Beberapa komponen aspek psikis akan berkembang melalui bermain antara lain dalam hal kecerdasan, motivasi, emosi, mental, percaya diri, minat, kemauan, kecemasan, agresivitas, perhatian, konsentrasi, dan sebagainya. Misalkan faktor kecerdasan berkembang melalui bermain disebabkan bahwa melalui bermain anak akan menghadapi berbagai masalah yang timbul dalam permainan tersebut dan harus diselesaikan/diputuskan pada saat itu juga dengan cepat dan tepat, atau faktor motivasi melalui bermain anak akan menampilkan apa saja yang mereka punyai dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat karena dalam bermain itu suasananya menggembirakan dan menyenangkan sehingga bebas beraktivitas dengan penuh semangat sesuai dengan kemampuannya.

(14)

kecemasan dan rasa percaya diri dengan baik. Melalui bermain anak akan mampu mengembangkan, mempertahankan, dan mengendalikan aspek-aspek psikis tersebut. Aspek fisik juga akan berkembang dengan baik melalui aktivitas bermain ini meliputi pertumbuhan dan perkembangan jasmani, kebugaran jasmani, kesehatan jasmani, kemampuan gerak dasar, unsur-unsur fisik yang ada. Faktor pertumbuhan dan perkembangan fisik anak pun akan berkembang melaui aktivitas bermain. Pertumbuhan fisik berkenaan dengan bertambahnya ukuran tubuh secara nyata yang dapat diukur secara pasti, misalnya bertambahnya tinggi badan, berat badan, dan besar atau bertambah secara kuantitatif. Perkembangan fisik adalah semakin berkualitasnya kemampuan tubuh atau sekelompok otot dalam beraktivitas/gerak. Misalnya kemampuan melempar bola kecil semakin jauh dari hasil sebelum melakukan aktivitas bermain walaupun jumlah serabut otot-ototnya relatif sama. Melalui bermain juga memberi kesempatan pada anak untuk melatih kemampuan gerak dasar seperti gerak lokomotor, non lokomotor, dan manipulatif. Kemampuan gerak dasar ini semakin baik dan berkualitas.

(15)

Hal tersebut sependapat dengan Cowel dan Hazelton dalam Sukintaka (1998:9) yang menyatakan bahwa melalui bermain akan terjadi perubahan yang positif dalam hal jasmani, sosial, mental, dan moral. Perubahan yang positif dalam hal jasmani meliputi pertumbuhan dan perkembangan jasmani yaitu terjadinya arah pertumbuhan dan perkembangan jasmani yang baik/proposional, kebugaran jasmani yaitu terjadinya kemampuan anak dalam hal meningkatkan dan mempertahankan kebugaran jasmaninya, sehat jasmani dalam arti melalui bermain anak beraktivitas jasmani yang merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan hidup anak yaitu gerak yang berakibat sehat secara fisik bagi anak, selanjutnya melalui bermain juga memberikan perubahan secara fisik dalam hal peningkatan kemampuan unsur-unsur fisik seperti kecepatan, kekuatan, daya ledak, kelentukan, keseimbangan, kelincahan, daya tahan, ketepatan dan koordinasi.

Selanjutnya melalui bermain juga membawa perubahan positif dalam hal fisik terutama kemampuan gerak dasar anak yang meliputi gerak lokomotor, non lokomotor, dan manipulatif. Perubahan positif dalam ranah sosial melalui aktivitas bermain yaitu terjadinya kesadaran akan bekerjasama, rasa saling mempercayai, saling menghormati, saling tenggang rasa, rasa solider, saling menolong antar anggota untuk berusaha bersama mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Melalui aktivitas bermain anak juga belajar menaati suatu peraturan, disiplin, dan tanggungjawab sehingga anak mampu bermasyarakat secara baik.

(16)

rasa takut, cemas, keberanian, minat, motivasi, rasa lelah, malas atau dari luar dirinya seperti lawan/teman bermain dalam hal teknik, taktik, fisik maupun psikis, penonton, situasi atau keadaan arena permainan yang bervariatif sehingga anak-anak mampu menyesuaikan diri yang berdampak kepada rasa percaya diri yang tinggi. Perubahan secara positif pada faktor moral yaitu bahwa melalui aktivitas bermain anak-anak dituntut untuk selalu bertindak jujur, disiplin, adil, tidak curang, tanggung jawab, fair play, menghargai teman atau lawan main, yang semuanya mengarah kepada perbuatan atau tingkah laku yang baik, sehingga dengan kebiasaan semacam itu dapat diduga anak-anak akan mengalami perubahan tingkah laku yang mengarah kepada perbuatan yang baik berarti anak mengalami perubahan moral secara positif. Selanjutnya Hurlock (1978:323) menyatakan mengenai pengaruh bermain dalam dunia anak bahwa bermain mempunyai pengaruh dalam perkembangan anak, pengaruh tersebut antara lain: dorongan berkomunikasi, penyaluran bagi energi emosional yang terpendam, sumber belajar, perkembangan wawasan diri, belajar bermasyarakat, standard moral.

(17)

menerapkan kognitif, afektif, dan psikomotor yang telah mereka peroleh untuk menjadikan kompeten dan berpengetahuan dalam kehidupan sosial.

Jenis-Jenis Permainan

Isi dari permainan yang diberikan kepada anak sekolah dasar didasarkan pada tema keterampilan manipulatif dikombinasikan dengan traveling, chasing, fleeing, and dodging. Sebelum anak-anak mengikuti permainan pengalaman,

sebaiknya anak-anak diberikan keterampilan dasar. Hal ini bertujuan agar anak tidak mengalami kegagalan dan bertindak atau dalam menjalani suatu keterampilan, karena kegagalan yang terus-menerus dalam melakukan keterampilan akan membuat anak merasa trauma atau enggan untuk mengikuti kegiatan olahraga/permainan. Dalam memberikan permainan kepada siswa, guru harus memilih, mendesain, mengurutkan, dan memodifikasi permainan untuk memaksimalkan pencapaian belajar siswa, peningkatan kebugaran, dan kesenangan siswa.

(18)

keterampilan yang taktis. Menurut Graham, dkk (2010:639), ada 3 jenis games experiences disekolah dasar yaitu: invariant game skill experiences, dynamic

gamelike skill experiences, dan games playing experiences.

Invariant game skill pada dasarnya melibatkan praktek keterampilan dasar

dan keterampilan ini digunakan pada permainan dalam situasi tertutup atau statis. Artinya anak-anak diberikan keterampilan dasar seperti dribbling, kicking, volleying, dan pemberian keterampilan ini hanya pada level prakontrol dan

kontrol. Jika anak telah mampu melakukan keterampilan dasar pada invariant game skill, maka anak akan banyak memiliki pengalaman keterampilan untuk

memudahkan dalam dynamic gameskill. Pengalaman memungkinkan siswa untuk menguasai suatu objek menggunakan pola motorik tertentu (Rink, 2006). Penekanan dalam invariant game yaitu fokus pada penggunaan keterampilan dasar dan pengujian diri atau mampu menyelesaikan tantangan berupa keterampilan dasar. Ketika seorang anak yang tidak mampu melakukan keterampilan dasar secara konsisten (tingkat pra kontrol dan kontrol) atau sering mengalami kegagalan dalam melakukan keterampilan, anak akan menjadi frustasi.

(19)

masanya belum ditempatkan dalam situasi yang kompetitif. Dengan demikian peranan guru sangat menentukan kemampuan keterampilan anak.

Dynamic gamelike skill yaitu permainan yang melibatkan penggunaan

(20)

Games playing experiences memungkinkan anak-anak untuk fokus pada

perolehan pengetahuan dan antusiasme untuk bermain sesuai dengan tahapan perkembangan serta anak sudah mampu menggunakan banyak variasi dan taktik yang sebelumnya telah dipelajari. Dalam games playing experiences, mengembangkan semangat dan pengetahuan, kenikmatan dan kepuasan bermain menjadi hal utama. Namun, karena waktu yang terbatas hal ini dirasa kurang memberikan kepuasan pada diri anak. Tahap games playing experiences dapat dikatakan memasuki tahap pemanfaatan keterampilan gerak, dimana anak menggunakan keterampilan dasar dan kombinasi keterampilan untuk terlibat dalam situasi permainan yang lebih kompleks, tujuannya membantu anak-anak mengalami kenikmatan, kepuasan, kegembiraan, dan rasa prestasi dalam permainan yang sesuai dengan tahap perkembangannya (Graham, dkk, 2010:643). Dalam proses mengajarkan games plating experiences, guru harus memperhatikan pemenuhan kebutuhan gerak perkembangan anak, sehingga instruksi permainan, peralatan yang digunakan, jumlah pemain, prasarana yang digunakan, serta peraturan yang digunakan harus dimodifikasi dengan tidak menghilangkan nilai sebenarnya pada permainan yang dimodifikasi.

Dalam buku Children Movement karya Graham, dkk (2010), untuk memilih games playing experiences untuk berbagai anak dari tingkat keahlian yaitu predesigned, modified predesigned, teacher-designed, teacher/child-designed, dan child-designed. Predesigned games diajarkan kepada anak-anak

(21)

membutuhkan sedikit persiapan, menjelaskan bagiamana permainannya, setelah anak memahami mengenai permainan tesebut, anak akan langsung memulai permainan sampai pelajaran berakhir. Misalnya permainan melempar bola, namun bola yang diberikan adalah bola kecil. Hal ini tentu akan menyulitkan siswa jika anak sebelumnya tidak diberikan bola besar. Modified predesigned games diberikan kepada anak-anak dengan memodifikasi permainan, modifikasi dapat berupa aturan, peralatan, jumlah pemain, area bermain, bahkan keterampilan yang digunakan.

Tujuan dari modified predesigned games untuk membuat permainan yang lebih tepat untuk suatu kelas tertentu. Setelah permainan yang dimodifikasi perlunya di lakukan evaluasi, apakah permainan modifikasi yang diberikan layak atau tidak untuk siswa. Contoh permainan yang dimodifikasi adalah permainan voli mini, dimana bola, lapangan, dan aturan permainan dimodifikasi sedemikian rupa, agar anak mampu mengembangkan keterampilan modifikasi gerak. Teacher designed games dirancang ketika guru mengalami kesulitan menemukan

(22)

Guru menyajikan tujuan permainan dan batasan permainan, kemudian anak-anak akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk bersama-sama bekerja sama dalam menentukan aturan, penilaian, dan peralatan yang akan digunakan. Guru membantu anak-anak dalam merancang permainan, memberikan saran, dan memantau kerja sama anak-anak. Pada teacher/child designed games memungkinkan menghabiskan jam pembelajaran untuk menciptakan permainan.

Dampak positif dari rancangan permainan ini akan membuat anak mampu berkomunikasi, memiliki sifat kerja sama, dan antusiasme atau semangat yang tinggi. Contoh dari teacher/child designed games yaitu permainan juggling bola, dimana bola modifikasi akan digantungkan pada paralon dan anak-anak dapat melakukan juggling bola. Tujuannya selain untuk memenuhi keterampilan dasar juggling bola, bola yang digantungkan pada paralon akan meminimalisir kegagalan anak dalam melakukan juggling, sehingga akan mengurangi tingkat frustasi kegagalan anak. Child designed games merupakan perancanangan permainan berdasarkan kemampuan masing-masing anak, sehingga akan terbentuk kelompok-kelompok kecil dengan anak yang memiliki kemampuan sama. Tujuannya untuk merancang permainan yang menarik dan menyenangkan bagi anak, memungkinkan anak lebih kooperatif dan kompetitif, dan lebih aktif. Anak-anak akan merancang permainan dengan bantuan guru, permainan yang dirancang adalah permainan yang dikehendaki oleh siswa dalam kelompok.

(23)

rancangan dari siswa perlu dievaluasi oleh guru sebelum siswa tersebut mengujicobakannya. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir bencana dalam artian frustasi akan kegagalan dan gerak, dan faktor keselamatan. Contoh pada child designed games yaitu disesuaikan pada tahapan kemampuan keterampilan gerak

anak, apakah masih dalam tahap prakontrol, kontrol, atau pemanfaatan.

Dalam memodifikasi permainan yang menggunakan alat atau peralatan sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik anak, misalnya pada permainan modifikasi bola basket. Bola yang digunakan lebih lembut, ringan, besar, dan berwarna. Kemudian ring basket ketinggiannya disesuaikan dengan jangkauan shooting bola anak, sehingga anak tidak sering mengalami kegagalan dalam

gerakan. Permainan yang dilakukan oleh siswa akan memberikan peluang siswa lebih kreatif dan terbuka serta memiliki pengalaman baru. Menurut Judy Rink (2006), menunjukkan empat kriteria pengalaman pendidikan jasmani yang dirancang untuk hasil belajar siswa yaitu (1) pengalaman memiliki potensi untuk meningkatkan kemampuan motorik anak, (2) adanya partisipasti maksimum dari semua anak yang terlibat dalam permainan, (3) pengalaman merupakan langkah tepat untuk pengetahuan gerak, (4) ada kemungkinan mengintegrasikan kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan demikian dapat disimpulkan, permainan bagi anak sekolah dasar sengat penting diberikan sesuai dengan kebutuhan gerak anak. Perkembangan Anak dalam Permainan

(24)

minat, dan keterampilan. Situasi permainan memberikan kesmpatan yang menarik bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan penalaran etika ketika dalam situasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Menurut Saputra (2002:14-20), periode perkembangan gerak dasar anak usia sekolah dasar ada 3 fase yaitu (1) fase perkembangan gerak dasar usia 2-7 tahun, (2) fase transisi usia 7-10 tahun, dan (3) Fase spesifikasi usia 10-13 tahun.

Pada fase perkembangan gerak dasar usia 2-7 tahun, anak mulai belajar berjalan, berbicara, melakukan gerakan melempar, menendang, dan lain-lain. Anak usia 207 tahun pada dasarnya sedang mengalami masa pertumbuhan, mengalami bertambahnya pengalaman, bergantung pada instruksi, dan menirukan, sehingga pada masa ini sering dikatakan masa “golden age” dimana perkembangan anak lebih pesat dibandingkan masa setelah umur 7 tahun. Pada fase ini anak sudah siap menerima berbagai informasi dari guru mengenai keterampilan dasar, lokomotor, nonlokomotor, dan manipulatif.

Pada fase transisi usia 7-10 tahun, anak secara individu mulai mengkombinasikan dan menerapkan keterampilan gerak dasar yang telah dipelajarinya. Pengalaman ini akan membawa anak untuk dapat mengatasi masalah ketika anak mengalami kesulitan dalam suatu keterampilan. Keterampilan berolahraga pada fase transisi merupakan penerapan gerak dasar menuju bentuk-bentuk penerapan yang lebih kompleks dan spesifik.

(25)

memiliki koordinasi, dan kelincahan yang lebih baik. Pada fase ini perlunya pengawasan dari orang tua, agar anak dalam pencapaian keterampilan gerak pada kecabangan olahraga dapat menjadikannya sebagai peluang berprestasi. Pada usia di atas 11 tahun, siswa memasuki tingkat yang lebih tinggi pada perkembangan kognitifnya. Siswa mulai membuat strategi, menguatkan mental, dan mampu menghormati keterampilan fisik dan mental orang lain dalam situasi permainan.

Guru memegang peran penting dalam perkembangan gerak anak, bertanggung jawab untuk memberikan instruksi bagi semua siswa, dan membantu semua siswa untuk menjadi terampil dalam permainan. Dalam program pendidikan jasmani sekolah dasar yang sukses, semua anak-anak mampu meningkatkan keterampilan gerak melalui permainan dan merasakan kesenangan atau kegembiraan ketika mengikuti permainan yang diberikan. Peranan permainan dalam pendidikan jasmani sekolah dasar adalah untuk memberikan semua kesempatan pada anak untuk berhasil dalam bermain baik dalam situasi yang dinamis, dan situasi yang tak terduga. Guru bertanggungjawab untuk merancang permainan pengalaman yang dapat memenuhi kebutuhan semua siswa sekolah dasar.

Kesimpulan

(26)
(27)

Daftar Pustaka

Graham, George, dkk. 2010. Children movement: A Reflective Approach To Teaching Physical Education. New York: Mc-Graw-Hill.

Hurlock, Elizabeth H. 1978. Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan. Jakarta: Erlangga.

Jewet, A.E. (l994) Curriculum Theory and Research in Sport Pedagogy, dalam Sport Science Review, Sport Pedagogy, Vol. 3 (1).

Kemenegpora. 2003. Undang-undang No. 3 Tahun 2005 Tentang sistem Keolahragaan Nasional. Jakarta : Kemenegpora.

Kementerian pendidikan nasional.2008. kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp). Jakarta: direktorat tenaga kependidikan direktorat jenderal peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan departemen pendidikan nasional.

Kolhberg, L. , and Mayer. (1972). Development as the aim of education. Harvad Education Review 42 (4): 449-96.

Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2003. standar Kompetensi Mata Peleiaran Pendidikan Jasmani sekolah Dasar dan Madrasah tabidaiyah. Jakarta . Departemen Pendidikan Nasional.

Lutan, Rusli. (1995)/1996). Hakikat dan Karakteristik Penjaskes. Depdikbud. Mayke S. Tedjasaputra. 2001. Bermain, Mainan, dan Permainan untuk

(28)

Muthohir, Cholik, dkk. (l996). Studi Identifikasi Model Pengajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di Sekolah Dasar. Lembaga Penelitian : IKIP Surabaya.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. No. 19 Tahun 2005. Tentang standar nasional pendidikan.

Piaget, J. (1962). Play, dreams, and imitation in childhood. New York: Norton.

Purwati, Novi. (2011). Upaya peningkatan hasil belajar pass bawah bola voli melalui permainan dua bola pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Bawang Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara. Surakarta: Universitas Sebelah Maret. Skripsi dipublikasikan.

Rink, J. (2006). Teaching physical education for learning. 5th ed. St. Louis, MO: Mosby.

Saputra, Yuhda. (2001). Pembelajaran Atletik di Sekolah Dasar: sebuah Pendekatan

Pembinaan Gerak Dasar melalui Permainan. Bandung: FPOK UPI.

Satya, Wira Indra. (2006). Membangun Kebugaran Jasmani dan Kecerdasan Melalui

Bermain, Depdiknas, Dirjen Dikti, Direktorat Ketenagaan.

Soemitro. 1991. Permainan Kecil. Jakarta: Depdikbud.

Sukintaka. 1998. Teori Bermain untuk Pendidkan Jasmani. Yogyakarta: FPOK IKIP.

Referensi

Dokumen terkait

Kemulyaan , memperkuat kualitas sistem rujukan antara puskesmas dengan RSUD Serang melalui SIJARI EMAS dan pembinaan yang dilakukan RSUD Serang kepada fasilitas perujuk

Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Semarang agar tetap meningkatkan kualitas makanan terutama pada aspek porsi makanan, suhu makanan, dan bumbu makanan supaya

Perbedaan penelitian yang telah disebutkan di atas dengan penelitian yang dilakukan penulis, yaitu penelitian ini difokuskan pada pembahasan kasus-kasus dalam bahasa Arab

Begitu juga dengan SA dengan variasi ion logam Ca 2+ dimana hal ini disebabkan karena penambahan ion Ca 2+ dapat menyebabkan larutan SA membentuk gel sehingga dapat

Tujuan utama kajian ini adalah bagi mengenal pasti pola komunikasi yang digunakan, menganalisis sejauh mana pola komunikasi mempunyai hubungan dengan amalan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada bulan Maret Tahun 2014, responden pre operasi yang mengalami kecemasan kategori

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, sesuai dengan ketentuan Pasal 133 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 13 tahun 2006 tentang

Kisaran nilai dari beberapa parameter kualitas air yang diamati selama pemeliharaan dengan teknik pergiliran pakan masih berada pada kisaran yang dapat ditoleransi udang vaname