Faktor faktor yang berhubungan dengan status gizi buruk pada balita

15 

Teks penuh

(1)

FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI BURUK PADA BALITA DI DESA KUTE KECAMATAN PUJUT KABUPATEN LOMBOK TENGAH

NUSA TENGGARA BARAT

ARTIKEL ILMIAH

Oleh

KURNIA DANILA YANTI NIM. 060110a017

PROGRAM STUDI GIZI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN

(2)

NUSA TENGGARA BARAT

Kurnia Danila Yanti*, Sugeng Maryanto*, Indri Mulyasari* E-mail: prodigizi.nw@gmail.com

ABSTRAK

Latar belakang: Kejadian gizi buruk merupakan salah satu masalah gizi yang banyak diderita oleh balita. Dampak gizi buruk berakibat terganggunya pertumbuhan dan kesehatan balita. Kejadian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pendapatan keluarga, pendidikan ibu, usia penyapihan dan penyakit infeksi.

Metode: Jenis penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 933 balita dengan sampel sebanyak 100 balita yang diambil menggunakan teknik Proportional Random Sampling. Pengambilan data pendapatan keluarga, pendidikan ibu, usia penyapihan dan penyakit infeksi menggunakan dacin, timbangan injak digital dan lembar kuesioner. Analisis dalam penelitian ini menggunakan uji Fishers’s Exact Test dan Kendal tau ( = 0,05).

Hasil: Pendapatan keluarga menengah ke bawah paling banyak (79,0%), Pendidikan ibu paling banyak berpendidikan dasar sebanyak (63%), usia penyapihan dini sebanyak (66,0%,) Penyakit infeksi sebanyak (22,0%), tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan kejadian gizi buruk (p=0,061), ada hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian gizi buruk (p=0,005), tidak ada hubungan usia penyapihan dengan kejadian gizi buruk (p=0,310), ada hubungan penyakit infeksi dengan kejadian gizi buruk (p=0,004).

Simpulan: Tidak ada hubungan pendapatan keluarga, ada hubungan pendidikan ibu, tidak ada hubungan usia penyapihan, ada hubungan penyakit infeksi dengan status gizi buruk pada balita pada balita di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah.

Kata kunci: Pendapatan keluarga, pendidikan ibu, usia penyapihan dan penyakit infeksi, gizi buruk.

Kepustakaan: 46 (2000 – 2013)

(3)

THE FACTORS ASSOCIATED WITH THE STATUS OF SEVERE MALNUTRITION IN THE UNDER-FIVE CHILDREN AT KUTE VILLAGE PUJUT SUB-DISTRICT CENTRAL LOMBOK REGENCY WEST NUSA TENGGARA

Kurnia Danila Yanti*, Sugeng Maryanto*, Indri Mulyasari* E-mail: prodigizi.nw@gmail.com

ABSTRACT

Background: The status of severe malnutrition is a nutritional problem that affects many children. This incidence is influenced by several factors: family income, mothers’ education, age of weaning and infectious diseases.

Method: This research used correlation type with cross-sectional approach. The population in this study was 933 children and the samples were 100 children taken by using proportional random sampling technique. The data of family income, mothers’ education, age of weaning and infectious diseases were taken by using balance scales, digital scales and questionnaires. The analysis used Fishers Exact and Kendall tau Test ( = 0.05).

Result: For the variable of family income, most of the respondents (79.0%) had lower-middle income, for the variable of maternal education, most of the respondents (63%) had elementary education, for the variable of early weaning, most of the respondents (66.0%) most of the respondents (22,0%) had early age. There was no correlation between family income and the incidence of severe malnutrition (p = 0.061), there was a correlation between mother’s education and the incidences of severe malnutrition (p = 0.005). There was no correlation between weaning age and the incidence of severe malnutrition (p = 0.310), and there was a correlation between infectious diseases and the status of severe malnutrition (p = 0.004).

Conclusion: There was no correlation between family income and age of weaning, and there was a correlation between mothers’ education and infectious disease with the status of severe malnutrition in the under-five children at Kute Village, Pujut Sub-district, Central Lombok Regency.

Keywords : family income, mothers’ education, age of weaning, infectious diseases, severe malnutrition.

Bibliographies : 46 (2000-2013)

(4)

PENDAHULUAN

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM), yang berkualitas yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti impiris menunjukan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik dan status gizi ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Apabila gizi kurang dan gizi buruk dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional (Wirjatmadi, 2012).

Mengetahui informasi ini sangat penting dalam upaya mengatasi permasalah gizi buruk di Indonesia. Pada tahun 2013 prevalensi gizi buruk sebesar 5,7% (Riskesdas, 2013). Sementara sebesar 3,4 juta balita di indonesia tergolong kurus dengan berat badan kurang proposional terhadap tinggi badan dan 3,1 juta balita mengalami kegemukan (obesitas), sementara Target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 yaitu 15,5% maka prevalensi gizi buruk dan gizi kurang secara nasional harus diturunkan sebesar 4,1% dalam periode 2013 sampai 2015 (Bappenas, 2012)

Ketidakstabilan ekonomi, politik dan sosial, dapat berakibat pada rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat yang dapat mencerminkan masalah gizi kurang dan gizi buruk di masyarakat. Upaya mengatasi masalah ini bertumpu pada pembangunan ekonomi politik dan sosial yang kondusif sehingga mampu menurunkan tingkat kemiskinan setiap rumah tangga untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi serta memberikan akses kepada pendidikan dan pelayanan kesehatan (Bapenas, 2007).

Gizi kurang dan gizi buruk pada balita berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani

dan kesehatan balita. Secara tidak langsung gizi kurang dan gizi buruk dapat menyebabkan anak balita mengalami defisiensi zat gizi yang dapat berakibat panjang yaitu berkaitan dengan kesehatan anak, pertumbuhan anak, penyakit infeksi dan kecerdasan anak seperti halnya karena serangan penyakit tertentu, dengan demikian jelaslah masalah gizi merupakan masalah bersama dan semua keluarga harus bertindak untuk melakukan perbaikan gizi (Andarwati,2008).

Penyapihan merupakan penghentian sama sekali balita dari menyusui. Proses penyapihan pada anak dipersiapkan secara berangsur-angsur sehingga pada waktunya, anak sudah siap dan sudah terbiasa dengan makanan tambahan selain ASI (Moehji, 2000). Menurut Roesli (2000) salah satu faktor penyebab penyapihan pada anak oleh ibu adalah tidak adanya pusat informasi program ASI dan manajemen laktasi yang benar serta terlalu gencarnya promosi susu formula. Permulaan proses penyapihan merupakan permulaan perubahan besar bagi balita dan ibunya.

Faktor – faktor penyebab tidak langsung yang mempengaruhi status gizi pada balita banyak sekali diantaranya adalah pendapatan atau anggaran belanja keluarga, menurut Sajogya (1994) dalam Andarwati (2007) pendapatan yang rendah menyebabkan orang tidak mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan.

Kemampuan baca tulis penduduk merupakan ukuran dasar untuk menilai tingkat keberhasilan pembangunan pendidikan. (Susenas, 2011), melaporkan bahwa angka buta huruf penduduk usia 10 tahun ke atas di Provinsi NTB mencapai 85,44%. Jika dirinci menurut jenis kelamin terlihat disparitas yang cukup besar. Kemampuan baca tulis perempuan

(5)

usia 10 tahun ke atas di Provinsi NTB menurut Profil Kesehatan Provinsi NTB Tahun 2012 yaitu mencapai 81 % berbading 90 % untuk laki-laki. Dengan kata lain, perempuan yang buta huruf lebih banyak dibandingkan laki-laki, yaitu 19% berbanding 10%.

Dinkes propinsi NTB 2013 melaporkan bahwa balita yang menderita diare dan ISPA dalam waktu yang cukup lama dan sering, maka berat badannya akan turun dan ini akan berpengaruh pada status gizinya. Sebesar 55.6% anak balita dalam tiga bulan terakhir menderita diare. Selain diare, balita pasca perawatan gizi buruk juga rentan dengan penyakit ISPA, jumlah anak yang menderita ISPA sebanyak 59,3%. ISPA yang diderita oleh sebagian besar anak balita ini tergolong kategori ringan yaitu batuk disertai dengan tanda atau gejala seperti pilek, panas atau demam, dan serak.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian korelasi dengan Pendekatan cross sectional yaitu mengukur variabel-variabel penelitian dalam waktu yang sama (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini dilakukan di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita usia 12 – 59 bulan yang ada di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat sebanyak 933 balita. Data balita yang diambil berdasarkan sampel minimal menurut perhitungan Notoatmodjo diperoleh sebanyak 100 balita. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Proportional Random Sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah semua balita berusia 12 – 59 bulan yang ada di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten

Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat, responden yang komunikatif dan bersedia untuk diwawancara. Kriteria eksklusi pada penelitian ini yaitu Pengisian data dan kuesioner yang tidak lengkap, balita yang pindah atau tidak berada di tempat selama penelitian berlangsung.

Analisis data menggunakan program SPSS. Analisis univariat mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Hasilnya disajikan dalam table distribusi frekuensi responden menurut status gizi balita, pendapatan keluarga, pendidikan ibu, usia penyapihan dan penyakit infeksi. Analisis bivariat pada penelitian ini menggunakan teknik uji korelasi dengan menggunakan uji kai kuadrat (Fisher’s Exact Test), dan Kendall tau

dengan = 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pendapatan keluarga

Tabel 1 Distribusi frekuensi berdasarkan pendapatan keluarga

Pendapatan

Keluarga Frekuensi Persentase (%) Menengah ke Bawah Menengah ke Atas 79 21 79,0 21,0 Jumlah 100 100,0

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pendapatan keluarga sebagian besar dalam kategori menengah ke bawah, yaitu sebanyak 79 orang (79,0%) dan menengah ke atas sebanyak 21 orang (21,0%). Hal ini dikarenakan banyak responden yang bekerja sebagai tani, buruh tani, nelayan, pemandu wisata, karyawan hotel dan PNS. Sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian sehingga

(6)

mayoritas mata pencaharian penduduk setempat adalah petani, buruh tani, nelayan, pemandu wisata, karyawan hotel dan PNS dimana pendapatan yang diperoleh tidak tetap sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan yang beranekaragam juga kurang. Hal tersebut menyebabkan rendahnya usaha dalam mempertinggi pendapatan keluarga, sebagian dari orang tua balita seperti ayah memilih menjadi TKI (tenaga kerja Indonesia) untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari – hari. Lapangan pekerjaan di Desa Kute sendiri sudah banyak seperti banyaknya akomodasi perhotelan namun lapangan pekerjaan tersebut tidak bisa di nikmati oleh masyarakat setempat karena banyak dari masyarakat yang berpendidikan hanya tamatan SD, SMP dan SMA sehingga tidak bisa bersaing dengan orang luar yang bukan penduduk asli dari desa kute itu sendiri, sehingga banyak yang memilih menjadi pemandu wisata atau petani dan nelayan.

Pendapatan keluarga yang tinggi adalah orang tua yang bekerja sebagai PNS dan karyawan di hotel bintang 5 yang mempunyai pekerjaan sampingan seperti membuka warung makan atau kafe di sekitar pinggir pantai dan membuka tempat sewa papan serving. Menurut Randy (2007), seseorang yang memiliki atau melakukan suatu pekerjaan maka akan berpengaruh terhadap tingkat penghasilan.

Berdasarkan tabel di bawah, dapat diketahui bahwa sebagian besar memiliki pendidikan dasar, yaitu sebanyak 63 orang (63,0%), pendidikan menengah sejumlah 24 orang (24,0%) dan pendidikan tinggi sejumlah 13 orang (13,0%).

Pendidikan ibu

Tabel 2 Distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan ibu

Pendidikan Ibu Frekuensi Persentase (%) Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah Pendidikan Tinggi 63 24 13 63,0 24,0 13,0 Jumlah 100 100,0

Minat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi di Desa Kute sendiri masih rendah. Anak yang sudah menempuh pendidikan dasar lebih memilih berjualan dan membantu orang tua alasanya ketika mereka bekerja maka mereka akan mendapatkan penghasilan dibandingkan dengan sekolah yang akan menambah pengeluaran. Hal ini juga menjadi penyebab sebagian besar ibu di Desa Kute hanya berpendidikan dasar, ini juga di picu oleh ekonomi keluarga yang rendah dan banyaknya yang memilih menikah di usia muda karena menurut beberapa dari orang tua balita, mereka beranggapan bahwa di saat mereka menikah muda maka beban dari orang tua akan berkurang dan beberapa dari ibu juga beranggapan dengan bisa berbahasa terutama bahasa inggris maka mereka punya modal untuk mencari uang dengan cara berjualan di pinggir pantai dan banyak yang memilih menjadi TKI ke luar negeri setelah tamat dari sekolahnya sehingga berdampak pada pengetahuan cara mengasuh anak setelah menikah.

Menurut Todaro dan Smith (2006) ada dua alasan ekonomi mendasar yang memaksa

(7)

kita percaya bahwa system pendidikan di banyak negara berkembang pada dasarnya tidak memperlihatkan aspek pemerataan, dalam arti anak – anak dari keluarga miskin tidak dibantu sedikitpun untuk meningkatkan kesempatanya yang sangat terbatas itu dalam memperoleh dan menyelesaikan program pendidikan pada segala tingkatan, apalagi jika kesempatan mereka itu dibandingkan dengan kesempatan anak dari keluarga – keluraga kaya. Pertama, biaya – biaya individual untuk menempuh sekolah dasar) terutama bila di pandang dari biaya oportunitas tenaga kerja seorang anak dari keluarga miskin) relatife jauh lebih tinggi bagi anak orang miskin dari pada biaya – biaya yang harus di pikul oleh anak – anak kelurga kaya. Kedua, manfaat yang diharapkan dari pendidikan sekolah dasar bagi anak – anak dari keluarga miskin justru lebih rendah menunjukan “tingkat pengembalian” investasi pendidikan seseorang anak dari keluarga miskin begitu terbatas, sehingga kemungkinan besar ia akan mengalami putus sekolah pada awal tahun pendidikanya (Todaro dan Smith, 2006). Usia penyapihan

Tabel 3 Distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan

Usia penyapihan Frekuensi Persentase (%) Dini Tepat Terlambat 66 27 7 66,0 27,0 7,0 Jumlah 100 100,0

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar dalam kategori usia penyapihan dini, yaitu sebanyak 66 balita (66,0%), usia penyapihan tepat 27 balita (27,0%) dan usia penyapihan terlambat 7 balita

(7,0%). Hasil wawancara dengan responden banyak informasi yang didapatkan bahwa alasan dilakukannya penyapihan dini yaitu orang tua yang bekerja sehingga tidak ada waktu untuk memberikan anaknya ASI Eksklusif dan ada dari beberapa ibu yang berpendapat bahwa susu formula lebih baik dari pada susu ibu. Semakin cepat di sapih maka anak akan semakin cepat besar selain itu beberapa dari pengakuan responden belum mendapatkan informasi mengenai usia yang tepat untuk menyapih anak sehingga sebagian besar responden menyapih anaknya dibawah usia 24 bulan atau dibawah usia 2 tahun. Dalam hal ini pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2003). Menurut Nugroho (2011) kesibukan pada ibu yang sedang menyusui akan lebih cepat melakukan penyapihan lebih dini dengan alasan untuk mempermudah ibu dalam bekerja serta tidak adanya waktu untuk menyusui. Hasil penelitian balita yang memiliki usia penyapihan lebih dari 2 tahun sebanyak 7,0%, hal tersebut berdasarkan hasil wawancara kepada orang tua dari balita, ibu masih memiliki ASI yang masih baik dan ibu yang tidak memiliki kesibukan lain sehingga mengasuh anak juga dilakukan oleh ibunya, termasuk memiliki kesempatan waktu lebih untuk memberikan ASI kepada balitanya.

Penyakit infeksi

Tabel 4 Distribusi frekuensi berdasarkan penyakit infeksi

Penyakit Infeksi Frekuensi Persentase (%) Ya

Tidak 22 78 22,0 78,0

(8)

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar tidak memiliki penyakit infeksi, yaitu sebanyak 78 balita (78,0%) dan yang memiliki penyakit infeksi sebanyak 22 balita (22,0%). Penyakit infeksi yang di alami oleh balita adalah penyakit ISPA, batuk, pilek, demam dan diare dimana penyakit – penyakit ini sebagai manifestasi dari keadaan gizi yang jelek dan berdasarkan wawancara, dari beberapa ibu yang tidak memperhatikan kebersihan rumahnya ini akan berdampak pada tumbuh kembang anak dan status kesehatan anak, ibu bekerja, rumah tidak di urus dengan baik dan anak di asuh oleh kakaknya dan neneknya. Ibu jarang datang ke posyandu sehingga informasi tentang mengasuh anak dengan baik juga tidak ada, hal ini berdampak pada status gizi anak dan kesehatan anaknya. Kejadian gizi buruk dan infeksi saling berkaitan karena akan menyebebkan daya tahan tubuh anak menurun dan akan rentan atau mudah terkena penyakit infeksi. Demikian penyakit yang lama akan menyebebkan gangguan sistematik yang mengakibatkan penurunan nafsu makan berkurang atau menurun, sehingga asupan makanan secara kuantitas maupun kualitas juga berkurang yang akhirnya mengakibatkan gangguan gizi buruk. Penurunan nafsu makan pada anak terjadi akibat rasa tidak nyaman yang dialaminya, sehingga asupan zat gizi berkurang padahal anak memerlukan asupan zat gizi lebih banyak untuk menggantikan jaringan tubuh yang rusak akibat bibit penyakit serta menggantikan cadangan energi dan protein dalam tubuh yang hilang karena penyakit infeksi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fatimah, dkk (2008) menyebutkan bahwa pada balita dengan gizi buruk keseluruhan memiliki riwayat penyakit infeksi kronis yaitu

diare berulang, ISPA berulang dan Tuberklosis. Pada balita yang mengalami diare dapat terjadi gizi buruk karena balita akan mengalami asupan makanan dan banyak zat gizi yang terbuang serta kekurangan cairan. Sedangkan balita dengan ISPA dapat menyebabkan menurunya nafsu makan sehingga asupan zat gizi ke dalam tubuh balita menjadi kurang Status gizi buruk

Tabel 5 Distribusi frekuensi berdasarkan status gizi buruk

Status gizi buruk Frekuensi Persentase (%)

Ya 18 18,0

Tidak 82 82,0

Jumlah 100 100,0

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar tidak mengalami gizi buruk yaitu sejumlah 82 balita (82,0%), sedangkan yang mengalami gizi buruk sejumlah 18 balita (18,0%). Artinya jumlah balita yang gizi buruk lebih sedikit dibandingkan jumlah balita yang tidak gizi buruk. Walaupun demikian hal ini harus diperhatikan, balita gizi buruk jika tidak ditanggulangi dengan cepat maka akan mempengaruhi kualitas pada generasi selanjutnya. Berdasarkan informasi yang didapat dari kader posyandu dan bidan desa balita yang mengalami gizi buruk jarang di bawa ke posyandu sehingga berat badan dan perkembangan balita tidak terpantau oleh kader dan pihak dari puskesmas. Orang tua balita membawa anaknya ke posyandu jika ada bantuan PMT (pemberian makanan tambahan) seperti susu, bubur dan biscuit maka para orang tua serentak membawa balitanya ke posyandu. Balita yang mengalami gizi buruk di pengaruhi karena kondisi kekurangan gizi yang

(9)

berhubungan lama, hal ini akan berakibat semakin berat tingkat kekuranganya, sehingga mengakibatkan terjadinya pemecahan lemak

yang berlangsung secara terus menerus (Adiningsih,2010)

Tabel 1 Hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita di Desa kute kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat.

Pendapatan Keluarga

Status Gizi Buruk

Total r p-value Ya Tidak f % f % f % Menengah ke Bawah Menengah ke Atas 17 1 20,5 4,7 62 20 79,5 95,2 79 21 100 100 0,139 0,061 Jumlah 18 18,0 82 82,0 100 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa pendapatan keluarga menengah ke bawah yang memiliki balita gizi buruk sebanyak 17 responden (20,5%) dan balita yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 62 responden (79,5%), sedangkan pendapatan keluarga menengah ke atas yang memiliki balita dengan status gizi buruk sebanyak 1 responden (4,7%), responden yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 20 responden (95,2%). Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan bahwa nilai p-value sebesar 0,061 > (0,05), hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga dengan status gizi buruk di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat, pendapatan keluarga menengah ke bawah yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 62 balita (79,5%). Berdasarkan wawancara tentang pendapatan keluarga

mungkin tidak menjadi pengaruh langsung terjadinya gizi buruk pada balita di Desa Kute karena mayoritas pekerjaan masyarakat kute adalah petani dan nelayan. Pendapatan masyarakat juga tergantung pada hasil panen jadi untuk menyediakan makanan pokok dalam sehari – hari seperti beras dan sayur tidak susah karena hasil panen sendiri. Sebagian dari ibu – ibu untuk menyediakan seperti sayur bisa memetik dari sawah maupun kebun mereka dan banyak dari ibu – ibu yang tidak mempunyai sawah maupun kebun menanam sayur di halaman rumah mereka namun untuk menyediakan daging dan buah sangat jarang karena harga daging dan buah yang mahal tetapi untuk menyediakan lauk seperti ikan, tahu dan tempe masih bisa terjangkau untuk dibeli, hal ini juga di dukung oleh pengetahuan ibu tentang cara pengolahan makanan yang baik dan mempunyai nilai gizi yang tinggi jadi pendapatan keluarga tidak ada hubunganya dengan gizi buruk. Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Novalin (2007), bahwa pendapatan keluarga

(10)

balita, namun ada faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap status gizi anak balita.

Dari hasil wawancara dengan ibu yang mempunyai pendapatan keluarga menengah keatas yang balitanya tidak mengalami gizi buruk sebanyak 20 balita (95,2%). Berdasarkan wawancara dengan keluarga yang pendapatanya di atas Rp 1. 210.000,00,- tidak merasa kesulitan untuk

menyediakan makanan yang

beranrekaragam yang mempunyai nilai gizi yang tinggi sehingga kecil kemungkinan terjadinya gizi buruk pada balita. Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sarah (2008), menunjukkan bahwa ada pengaruh pendapatan keluarga terhadap status gizi anak balita. Artinya, dengan pendapatan keluarga yang besar maka balita pasti akan mendapatkan gizi yang baik pula. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Soekirman (2009) bahwa hanya keluarga mampu (ekonominya baik) dan berpendidikan yang mampu menyediakan makanan yang baik, baik memasak sendiri atau membeli karena itu umumnya anak-anak mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Sedangkan balita yang mengalami gizi buruk di Desa Kute sebanyak 17 balita (20,5%), berdasarkan wawancara kepada ibu pendapatan mungkin

beranekaragam khususnya dari lauk protein hewani kurang diperhatikan karna selain dari harganya yang mahal. Beberapa dari ibu mengatakan bahwa uang yang akan dipakai untuk membeli daging maupun menyediakan makanan yang beranekaragam dapat digunakan untuk kebutuhan anaknya sekolah, tetapi untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok seperti beras dan sayur masyarakat tidak kesulitan untuk mendapatkanya karena hasil produksi dari sawahnya sendiri mengingat banyak dari mereka yang bekerja jadi petani dan buruh tani maupun nelayan sehingga hasil panen disisakan untuk dikonsumsi sendiri sebelum di jua. Jadi pendapatan keluarga bukan merupakan faktor utama terjadinya gizi buruk pada balita melainkan pengetahuan dan pendidikan ibu yang kurang terhadap pola asuh anaknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ernawati (2003) yang mengatakan tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga. Hal ini terjadi karena masyarakat yang tingkat pendapatan perkapitanya diatas garis kemiskinan tidak membelanjakan hartanya untuk membeli makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi sehingga berpengaruh terhadap mutu pangan serta keanekaragaman makanan yang kurang.

Hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi buruk pada di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat.

Pendidikan Ibu

Status Gizi Buruk

Total r p-value Ya Tidak f % f % f % Dasar Menengah 16 1 25,4 4,2 47 23 74,6 95,8 63 24 100 100 0,230 0,005

(11)

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa ibu dengan pendidikan dasar yang memiliki balita gizi buruk sebanyak 16 responden (25,4%) dan ibu yang memiliki balita yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 15 responden (24,2%) sedangkan ibu dengan pendidikan menengah yang memiliki balita gizi buruk sebanyak 1 responden (4,2%) dan ibu yang memiliki balita yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 23 responden (95,8%) sedangkan ibu dengan pendidikan tinggi yang memiliki balita gizi buruk sebanyak 1 responden (7,7%) dan ibu yang memiliki balita yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 12 responden (92,3%). Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan bahwa nilai p-value sebesar 0,005< (0,05), hal ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan status gizi buruk di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat.

Pendidikan merupakan salah satu ukuran yang digunakan dalam status sosial ekonomi. Pada tingkat pendidikan yang relatif tinggi, pekerja Perempuan lebih mampu memiliki akses terhadap pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik karena proses seleksi yang relative lebih terbuka (Sianturi, 2002). ibu yang berpendidikan dasar yang mempunyai balita tidak mengalami gizi buruk sebanyak 47 balita (74,6%) dan ibu yang berpendidikan menengah yang mempunyai balita tidak mengalami gizi buruk sebanyak 23 balita (95,8%). Dari hasil wawancara dengan ibu balita, balita tidak mengalami gizi buruk karena ibu dapat banyak informasi dengan rutin datang ke acara PKK, pada saat PKK ibu sharing dengan ibu – ibu yang lain tentang perkembangan anaknya dan cara mengasuh anak yang baik. Beberapa hasil wawancara kepada ibu ternyata rasa ingin tahu kenaikan berat badan anaknya yang tinggi sehingga ibu rutin membawa anaknya

ini juga di dukung oleh penelitian Himawan (2006), yang menyatakan bahwa pendidikan ibu sebagian besar masih tergolong rendah, namun status gizi anak cendrung baik. Hal ini dikarenakan faktor kesungguhan ibu dalam peningkatan pendidikan baik yang dilakukan dengan keaktifan dalam kegiatan posyandu maupun dari frekuensi kontak dengan media masa. Hal ini bisa dijadikan landasan menambah pengetahuan tentang gizi dan kesehatan (Himawan, 2006).

Ibu dengan pendidikan dasar yang memiliki balita gizi buruk sebanyak 16 balita (25,4%). Berdasarkan wawancara dengan ibu banyak dari ibu yang bekerja di luar rumah sehingga perhatian terhadap anaknya berkurang dan sebagian dari ibu dengan pendidikan yang rendah kurang mendapat dukungan oleh suaminya untuk membawa anaknya ke posyandu sehingga pengetahuan untuk menyusun menu dan mengolah makanan yang bergizi buat keluarganya sehari – hari juga kurang.

Hal ini juga diperkuat sesuai dengan analisis Kasmita (2000) di mana tingkat pendidikan ibu berpengaruh positif dengan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi sehingga semakin tinggi pendidikan yang diperoleh ibu akan semakin mudah bagi seorang ibu untuk memahami informasi tentang gizi yang baik bila dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan lebih rendah (Kasmita dkk, 2000).

Berdasarkan tabel di bawah, dapat diketahui bahwa balita yang disapih dini yang mengalami gizi buruk sebanyak 10 responden (15,2%) dan balita yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 56 responden (84,8%) sedangkan balita yang disapih tepat yang mengalami gizi buruk sebanyak 6 responden (22,2%) dan balita yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 21 responden (77,8%), sedangkan balita yang disapih terlambat yang mengalami gizi buruk sebanyak 2 balita (28,6%) dan balita

(12)

Tabel 3 Hubungan antara usia penyapihan dengan status gizi buruk pada balita di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat

Usia Penyapihan Ya Status Gizi Buruk Tidak Total r value

p-f % f % f % Dini Tepat Terlambat 10 6 2 15,2 22,2 28,6 56 21 5 84,8 77,8 71,4 66 27 7 100 100 100 -0,106 0,310 Jumlah 18 18,0 82 82,0 100 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan bahwa nilai p-value sebesar 0,310 > (0,05), hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara usia penyapihan dengan status gizi buruk di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara.

Dari hasil penelitian balita dengan usia penyapihan dini yang tidak gizi buruk sebanyak 56 balita (84,8%), berdasarkan wawancara ada dari beberapa ibu menyapih anaknya secara dini disebabkan karena produksi ASI dari ibu yang kurang sejak bayi lahir sehingga memilih memberikan susu formula sebagai pengganti ASI untuk memenuhi zat gizi yang di butuhkan oleh balitanya ada beberapa ibu memberikan makanan tambahan dengan memperhatikan frekuensi, porsi, dan jenis makanan diberikan sesuai dengan kebutuhan dan usia anak yang disajikan secara hiegienis dengan menggunakan alat serta tangan yang bersih untuk menghindari anak agar tidak terkena penyakit. Hal ini dilakukan karena faktor pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sehingga kurangnya waktu ibu untuk bersama anak termasuk kurangnya waktu luang dalam menyusui anak dan cendrung akan cepat melakukan penyapihan lebih

(2008). Tidak ada hubungan yang signifikan antara usia penyapihan dengan status gizi anak.

Dampak penyapihan dini dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada anak, dimana berpengaruh pada status gizi anak. Pengaruh asupan gizi yang kurang menyebabkan malnutrisi pada anak mudah mengalami reaksi alergi, muntah, ruam dan gatal - gatal karena reaksi dari sistem imun (Judarwanto, 2009). Balita dengan usia penyapihan dini yang mengalami gizi buruk sebanyak 10 balita (15,2%). Berdasarkan hasil wawancara dengan responden alasan kenapa dilakukan penyapihan dini yaitu kesibukan kerja, beberapa dari ibu mengaku tidak tahu usia yang tepat untuk melakukan penyapihan dengan kata lain para responden belum mendapatkan informasi mengenai usia yang tepat untuk menyapih anaknya. Penyapihan merupakan masa-masa yang kritis pada kehidupan anak dan usia optimal ini telah banyak diperdebatkan. Keputusan kapan untuk melakukan penyapihan harus dipertimbangkan dengan risiko bahwa penyapihan yang terlalu dini akan mengganggu sistim pencernaan, ginjal dan sistim imun yang bisa mengakibatkan menurunnya paparan pengaruh protektif

(13)

protektif, dimana ASI melalui antibodi SigA dapat melindungi bayi dari kuman Haemophilus influenzae yang terdapat pada mulut dan hidung, serta menurunkan risiko terkena infeksi (Wright, 2004).

Sedangkan usia penyapihan tepat yang tidak gizi buruk sebanyak 21 balita (22,2%) dan usia penyapihan terlambat yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 5 balita (71,4%), dari hasil wawancara ibu mengerti atau paham cara mengasuh anak dengan baik dengan memperhatikan status gizi anaknya, ibu juga memperhatikan makanan yang tepat buat pertumbuhan balitanya baik dari jumlah maupun jenis makanan. Sedangkan usia penyapihan tepat balita yang mengalami gizi buruk sebanyak 6 balita (22,2%) dan usia penyapihan terlambat yang mengalami gizi buruk sebanyak 2 balita (28,6%). Berdasarkan hasil wawancara

diperoleh bahwa nafsu makan anak yang kurang setelah dilakukan penyapihan sebab di awal penyapihan balita masih menganggap ASI merupakan makanan pokok bagi mereka. Dari segi ilmu gizi, penyapihan lebih baik pada usia anak mencapai 24 bulan (2 tahun), karena zat gizi dan zat antibodi dalam ASI diproduksi sampai usia anak 2 tahun (Nadesul, 2007). Menurut Suhardjo (2003) dalam Dewi (2007). Kurangnya asupan zat gizi karena faktor penyapihan dan pemberian makanan pendamping ASI yang tidak mencukupi kebutuhan balita akan menyebabkan simpanan energi di dalam tubuh terpakai, jika hal ini berlangsung terus – menerus akan menyebabkan keadaan yang gawat pada balita, yaitu kekurangan zat gizi

terutama energy

Tabel 4.11 Hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi buruk pada balita di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat

Penyakit Infeksi Ya Status Gizi Buruk Tidak Total p-value

f % F % F %

Ya

Tidak 9 9 40,9 14,0 13 69 59,1 88,5 22 78 100 100 0,004

Jumlah 18 18,0 82 82 100 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa balita yang terkena penyakit infeksi yang gizi buruk sebanyak 9 responden (40,9%,) dan balita yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 13 responden (59,1%), sedangkan balita yang tidak terkena penyakit infeksi yang mengalami gizi buruk sebanyak 9 responden (14,0%) dan balita yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 69 responden (88,5%). Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Fisher’s exact test didapatkan bahwa nilai p-value sebesar 0,004< (0,05), hal ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara penyakit infeksi dengan

Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat.

Dari hasil penelitian yang dilakukan di Desa Kute balita yang terkena penyakit infeksi yang tidak gizi buruk sebanyak 13 balita (59,1%) berdasarkan wawancara, ibu selalu memeriksakan balitanya ke puskesmas maupun pada saat posyandu, ibu rutin membawa anaknya karena pada saat posyandu anaknya diberi obat oleh bidan desa dan ibu juga memperhatikan asupan makanan yang diberikan kepada anaknya. Penyakit infeksi dan gangguan gizi sering terjadi secara bersamaan dan saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Kaitan penyakit infeksi

(14)

Balita yang tidak terkena penyakit infeksi yang tidak mengalami gizi buruk sebanyak 69 balita (88,5%) berdasarkan hasil dari wawancara, ibu selalu menjaga kebersihan rumah lingkungan sekitar rumah seperti halaman rumah dan alat makanan, baju yang dipakai oleh anaknya, cara pengolahan makanan yang baik memperhatikan makanan yang memenuhi gizi buat anaknya maupun keluarga dan air minum yang bersih karena menurut wawanara ke pada ibu masih ada ibu yang menyediakan air minum tanpa merebus terlebih dahulu. Sedangkan, balita yang tidak terkena penyakit infeksi yang mengalami gizi buruk sebanyak 9 balita (14,0%). Berdasarkan wawancara dengan responden balita yang mengalami gizi buruk terjadi karena nafsu makan anak berkurang dan kurangnya perhatian terhadap anak karena kesibukan orang tuanya bekerja di luar rumah.

Menurut Adiningsih (2010), menyebutkan bahwa penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh keaktifan anak. Pada saat anak sangat aktif, anak sering menolak pemberian makanan ini dikarenakan anak yang terlalu lelah apabila dalam kondisi ini anak disuruh makan maka akan menimbulkan emosi sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi anak. SIMPULAN

Berdasarkan hasil dari penelitian faktor – faktor yang berhubungan dengan status gizi buruk pada balita di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pendapatan keluarga menengah ke bawah

yaitu sebanyak 79 responden (79,0%) dan pendapatan keluarga menengah ke atas

berpendidikan tinggi sebanyak 13 responden (13,0%).

3. Usia penyapihan dalam kategori dini pada balita sebanyak 66 balita (66,0%) dan usia penyapihan dalam kategori tepat sebanyak 27 balita (27,0%) sedangkan usia penyapihan dalam kategori lambat sebanyak 7 balita (7,0%).

4. Balita yang mengalami penyakit infeksi sebanyak 22 balita (22,0%) dan balita yang tidak terkena penyakit infeksi sebanyak 78 balita (78,0%)

5. Balita yang mengalami gizi buruk sebanyak 18 balita (18,0%) dan ballita yang tidak gizi buruk 82 balita (82,0%). 6. Tidak ada hubungan antara pendapatan

keluarga dengan status gizi buruk pada balita di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tengara Barat.

7. Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi buruk pada balita di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tengara Barat. 8. Tidak ada hubungan antara usia

penyapihan dengan status gizi buruk pada balita di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tengara Barat.

9. Ada hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi buruk pada balita di Desa Kute Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tengara Barat. DAFTAR PUSTAKA

Andarwati, D. 2008. Faktor – faktor yang berhubungan dengan status gizi pada balita keluarga petani di desa purwajadi kecamatan kretek kabupaten wonosobo. Fakultas ilmu keolahragaan jurusan ilmu kesehatan

(15)

Himawan AW. 2006. Hubungan Antara Karakteristik Ibu dengan Status Gizi Anak usia 1-3 tahun di kelurahan sekaran kecamatan Gunungpati Semarang. Skripsi. Semarang : Fakultas Ilmu keolahragaan, Universitas Negri Semarang (Online), URL:

http//digilib.unnes.ac.id/gsdl/cpllect/sk ripsi/archives/HAS

H4efb/1844a8c6.dir/doc.pdf. Diakses 24 juni 2014.

Judarwanto, W. 2009. Kesulitan makan

pada anak: penanganan dan

permasalahan.

http://www.pdpersi.co.id./show.detailn

ews&kode.artikel diakses tanggal 26

juni 2014.

Menalu, A. 2008. Pola Makan Dan Penyapihan Serta Hubungannya Dengan Status Gizi Batita Di Desa Palip Kecamatan Silma Pungga-Pungga Kabupaten Dairi. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan Moehji, S. 2000. Pemeliharaan Gizi Bayi

Dan Balita. Jakarta: Bharata Karya Aksara

Nadesul. 2007. Makanan Sehat untuk Bayi. Jakarta : Kawan Pustaka.

Novalina, S. 2007. Hubungan Sosial Ekonomi dengan Status Gizi Anak Balita di Kelurahan Ketang Baru Kecamatan Singkil. FK UNSRAT. Skripsi

Nugroho. 2011. Asi dan Tumor Payudara

Yogyakarta: Nuha Medika

Roesli. 2000. Mengenal Asi Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya

Riskesdas. 2013. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013.

www.dinkes provinsi NTB.go.id

diakses pada tanggal 16 februari 2014.

Sarah. M. 2008. Skripsi. Hubungan

Asuh Dengan Status Gizi Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat. FKM USU. Medan.

Soekirman. 2000. Ilmu gizi dan Aplikasinya. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional. Jakarta.

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilaian status gizi. Jakarta. EGC.

Suharjo. 2003. Perencanaan pangan dan gizi. Jakarta: PT bumi aksara.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Wirjatmadi, B dan Adriani M. 2012. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta : Kencana.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...