LITURGI MINGGU Minggu, 19 Juli 2020
TATA IBADAH PEKAN WANITA GKJW
I. PERSIAPAN
1. Jemaat dapat memilih dan menentukan model kebaktian minggu yang hendak dilakukan: MODEL 1: Liturgi dan khotbah melalui media you tube atau video melalui WA yang
telah disiapkan oleh Majelis Jemaat.
MODEL 2: Menggunakan liturgi dan khotbah yang sudah dicetak. Salah satu anggota keluarga dapat berperan sebagai Pemimpin Liturgi (PL:”saat ini petugasnya Perempuan”), satu anggota keluarga yang lain dapat berperan sebagai Pembaca Renungan (PR), dan satu yang lain dapat berperan sebagai Pembaca Alkitab (PA). Dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
2. Bersaat teduh
II. TATA LAKSANA KEBAKTIAN 1. PANGGILAN KEBAKTIAN
PR : Kami undang jemaat untuk bangkit berdiri.
Marilah kita mengawali kebaktian saat ini dengan pengakuan demikian:
“Ibadah pada hari ini kita lakukan dalam nama Allah Bapa, yang menciptakan langit dan bumi, yang tidak pernah meninggalkan pekerjaan tangan-Nya dan yang kekal kasih setia-Nya. Anugerah dan damai sejahtera Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyertai kita. Amin.”
2. TEMA IBADAH (Jemaat duduk)
PR : (Menyampaikan tema ibadah pada Minggu ini sesuai dengan kalender gerejawi GKJW).
Tema Ibadah Pekan Wanita 2020 ini adalah “Allah Turut Bekerja Menolong Para Wanita menjadi Alat-Nya” (Mazmur 3:9)
PL : (Mengajak menyanyi KJ. 254 : 1, 3 “Kristus Penolong Umat yang Percaya”) 3. PERTOBATAN
a. Panggilan Pertobatan
PL : “Yesus Kristus tidak mengundang kita untuk memikirkan diri kita sendiri, namun mengundang kita untuk memiliki kerendahan hati dan sikap menyesali dosa. Apa artinya? Artinya kita mau mengakui dosa dan kesalahan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita dilepaskan, bahkan dibebaskan, agar siap untuk menghidupi saat sekarang dengan penuh kesungguhan, tak pernah berkecil hati karena kita senantiasa diampuni. (Pelayan memimpin doa pengakuan dosa) b. Doa Pengakuan Dosa
4. BERITA ANUGERAH (Jemaat Berdiri)
PL : “Tuhan Allah menciptakan seluruh ciptaan-Nya dalam keadaan baik, tidak memandang laki-laki, perempuan, binatang ataupun tumbuhan-tumbuhan hijau. Maka Ia juga yang menjadikannya kembali baik hanya oleh kasih. Terimalah berita anugerah yang memberi sukacita demikian,
(Mazmur 103 : 8 – 11)
PL : (Mengajak menyanyi KJ 40 : 1, 2 “Ajaib Benar Anugerah”)
5. PELAYANAN FIRMAN TUHAN (Jemaat Duduk) a. Doa untuk pembacaan Alkitab (oleh PR)
b. Pembacaan Alkitab dari Matius 13 : 24 – 30, 36 – 43 (oleh PA)
PR : “Yang berbahagia adalah setiap kita yang membaca Firman Tuhan, menyimpan dan merenungkannya dalam hati dan melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin”
PL : (Mengajak menyanyi KJ 59:1,2 “Bersabdalah Tuhan”) c. Khotbah
d. Saat Teduh
e. Pengakuan Iman Rasuli (Jemaat berdiri)
PL : Bersama dengan gereja di segala abad dan tempat, marilah kita mengucapkan pengakuan iman percaya kita. (Jemaat duduk)
6. DOA SYAFAAT
a. Berdoa mohon kekuatan untuk melakukan ajaran dan kehendak Tuhan
b. Berdoa untuk keluarga-keluarga Kristen GKJW agar tetap setia didalam Tuhan
c. Berdoa mohon pertolongan Tuhan terhadap upaya pencegahan penyebaran virus corona d. Berdoa mohon kebijaksanaan dan perlindungan Tuhan untuk kegiatan-kegiatan GKJW e. Berdoa pokok doa yang lain
Dan diakhiri pujian Kid. Kontekstual. 143 Doa Bapa Kami
7. PERSEMBAHAN (dipimpin oleh seorang petugas perempuan)
PL : Bukan jumlah atau banyak sedikitnya persembahan yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus, melainkan bobot pengorbanan yang mendasari persembahan yang diberikan. Mari kita ingat kisah janda dengan persembahannya dalam Markus 12 : 41 – 44 , demikian, “...”
(Mengajak menyanyi KJ. 393 : 1, 2 “Tuhan Betapa Banyaknya”) (Berdoa dipimpin oleh seorang petugas perempuan) (Jemaat Berdiri)
PL : Kasih-Mu menjadikan kami mampu bersyukur. Meski kami acapkali kurang kaya, kurang pandai, kurang wibawa, kurang sempurna fisik kami, hanya wanita biasa tanpa hak sepatu yang tinggi, hanya berurusan dengan kompor, wajan, sapu namun kami masih bisa menikmati merdunya suara burung berkicau di sela-sela pepohonan. Kasih-Mu memampukan kami bersyukur. Kami bisa memandang kokohnya gunung tinggi dan segarnya udara di pagi hari. Kami dikuatkan di tengah carut marut ketidakpastian dan ketakutan dunia atas wabah Covid-19 saat ini. Sedikitnya berkat, banyaknya materi, beratnya perjuangan, apapun itu kami bersyukur senantiasa. Amin.
8. PENGUTUSAN (Jemaat Berdiri)
PR : Pergilah dan beritakanlah segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan hidup bagi sesamamu perempuan, bagi sesamamu laki-laki, bagi anak-anakmu, bagi saudara-saudarimu.
PL : (Mengajak menyanyi KJ. 369a : 1, 3 “Ya Yesus, Ku Berjanji”) 9. BERKAT
PR : Allah Bapa yang Maha Kuasa memberi keberanian pada saudara-saudara untuk hadir dalam kehidupan, Tuhan Yesus Kristus memampukan saudara-saudara untuk mengasihi sesama, Roh Kudus menguatkan saudara-saudara untuk selalu setia menapaki bagian-bagian hidup yang tidak mudah. Saat ini sampai selama-lamanya. Amin.
BAHAN RENUNGAN KEBAKTIAN MINGGU MINGGU, 19 JULI 2020
Bacaan : Matius 13 : 24 – 30, 36 – 43 Judul : Bijak, Cermat dan Cerdas
Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan, Shopping (berbelanja) adalah salah satu kegiatan rutinitas kita setiap hari, secara khusus bagi kaum wanita. Pada umumnya kaum wanita memiliki label suka shopping. Sebab, kaum wanita paling tidak tahan terhadap godaan barang berharga murah, apalagi mendapat dalam jumlah banyak. Apalagi saat ini dengan adanya pasar bebas, kita dimudahkan dengan berbelanja secara online dengan modal gambar. Namun ternyata terkadang barang yang kita beli antara gambar dan bukti fisiknya tidak mampu kita bedakan keaslianya. Keaslian itu baru kita dapat manakala barang yang kita beli itu datang dan sudah kita gunakan, disanalah baru terlihat hasilnya.
Ketika kita tertipu saat membeli, berbelanja membeli barang, bagaimana perasaan kita? Tentu marah,kecewa bahkan mungkin tidak akan membeli untuk yang kedua kalinya. Memang tidak mudah membedakan barang yang kita lihat itu asli atau tidak apalagi barang palsupun ada tingkatan kepalsuannya atau yang disingkat KW berapa? Untuk mengenali keaslian barang itu dibutuhkan kecermatan, serta pengetahuan yang luas untuk mampu membandingkannya. Sebaik apapun model barang palsu, tetap tidak akan bertahan lama dibanding barang yang asli.
Kesulitan mencermati juga dialami oleh hamba-hamba dari pekerja kebun gandum yang sulit membedakan lalang di antara gandum. Lalang dan gandum dipakai Yesus sebagai perumpamaan untuk menjelaskan tentang manusia yang digambarkan seperti gandum dan iblis yang digambarkan seperti lalang. Dalam kehidupan manusia si iblis akan terus mengikuti dan membuat kita terus melakukan dosa.
Salah satu contohnya manusia terkadang tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebab hati dan pikiran mereka dikuasai oleh keinginan-keinginan. Hal-hal seperti ini yang harus kita cermati dan waspadai. Jangan sampai kita salah menafsirkan bahwa apa yang kita lakukan selalu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Apa yang kita lakukan dari hari ke hari inilah yang akan kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan pada akhir zaman. Seperti lalang yang dikumpulkan dan dimusnahkan, seperti itulah perbuatan jahat kita akan dimusnahkan dan bila kita hidup seperti gandum yang terus berbuat baik maka kita digambarkan akan bersinar di dalam kerajaan sorga.
Kebaikan dan kejahatan akan selalu ada dalam kehidupan kita. Mendengar Firman Tuhan dan melakukannya akan menuntun hidup kita untuk terus waspada. Mari kita terus mengajarkan dan memberikan teladan tentang Firman Tuhan di tengah keluarga kita. Secara khusus bagi kita kaum wanita maupun kita yang telah menjadi seorang ibu. Pada momen pekan wanita GKJW ini kita diingatkan untuk waspada terhadap benih-benih kejahatan ketika kita mendampingi suami, anak, cucu maupun anggota keluarga kita yang lain. Agar dengan mendengar dan melakukan Firman Tuhan yang kita teladan kepada keluarga kita. Hidup kita dan keluarga kita akan selalu dihindarkan dari kejahatan si iblis dan pada akhir
zaman nanti saat tiba waktunya menuai. Tuhan akan mendapati kita dan keluarga kita setia sehingga kita akan bersinar di dalam kerajaan sorga. Amin. (MKW).
LITURGI PERSEKUTUAN DOA
Selasa, 21 Juli 2020I. PERSIAPAN
1. Salah satu anggota keluarga dapat berperan sebagai Pemimpin Liturgi (PL), satu anggota keluarga yang lain dapat berperan sebagai Pembaca Renungan (PR), dan satu yang lain dapat berperan sebagai Pembaca Alkitab (PA). Dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
2. Bersaat teduh
II. TATA LAKSANA KEBAKTIAN 1. Panggilan Kebaktian
PL : Pada malam ini, marilah kita membangun persekutuan doa dengan mengingat Firman Tuhan didalam Matius 18:22 “Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Marilah, kita menghidupi kasih dimanapun dan kapanpun. Karena hidup dalam kasih akan mendatangkan damai sejahtera dalam hati. Dan dalam saat teduh, kita mengaku yang demikian didalam hati kita masing-masing:
“Pertolonganku adalah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, yang tidak pernah meninggalkan pekerjaan tangan-Nya dan kekal kasih setia-Nya. Anugerah dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Yesus Kristus senantiasa menyertai kita”. Amin.
PL : (Mengajak menyanyiKJ 4:1,2 “Hai Mari Sembah”) 2. Doa Pembukaan, doa untuk Firman Tuhan dan doa pengakuan dosa 3. Pembacaan Alkitab dari Yesaya 44 : 1 – 5 (oleh PA)
PR : “Yang berbahagia adalah setiap kita yang membaca firman Tuhan, menyimpan dan merenungkan dalam hati dan melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.
PL : (Mengajak menyanyi KJ 59:1,2 “Bersabdalah Tuhan”) 4. Renungan
5. Saat Teduh
6. Persembahan dan menyanyikan KJ 87:1 “Gapuramu Lapangkanlah”
7. Doa Syafaat, beberapa pokok doa yang dapat dibagi dengan anggota keluarga,: a. Berdoa untuk keluarga dan pergumulannya
b. Berdoa untuk gereja dan kegiatannya c. Berdoa untuk bangsa dan negara d. Berdoa untuk persembahan
8. Menyanyikan KJ 402 : 1 “Kuperlukan Jurus’lamat” 9. Berkat
“Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa, Yesus Sang Putra dan persekutuan dengan Roh Kudus. Kiranya senantiasa menyertai kita, saat ini sampai dengan selama-lamanya. Amin”
BAHAN RENUNGAN PERSEKUTUAN DOA SELASA, 21 JULI 2020
Bacaan : Yesaya 44:1-5
Judul : Mengampuni Sesama
Tahukah bapak, ibu, saudara dan anak-anak tentang kualitas cinta - kasih seseorang? Baik itu cinta kasih kepada anggota keluarga sendiri maupun kepada sesamanya? Bagaimana mengukurnya dan patokan apa yang digunakan? Jawabannya tentunya lebih dari satu. Umpamanya, diukur dari perhatiannya, dari pemberiannya. Itu semua boleh dan tidak salah. Dan dari sekian banyak patokan itu ada satu patokan yang menurut saya tidak kalah pentingnya bahkan paling menentukan. Apa itu? Yakni “Kesediaan untuk mengampuni atau memaafkan kesalahan.”
Saudara yang dikasihi Tuhan, mengampuni atau memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita merupakan suatu nilai yang terpenting dan mendasar di dalam kehidupan kita sebagai manusia. Sebab saya yakin bahwa tidak ada seorang pun yang luput dari berbuat salah. Saya pasti pernah melakukan kesalahan kepada sesama. Begitu pula sesama pasti pernah melakukan kesalahan kepada saya. Kesalahan yang menyebabkan kemarahan, rasa benci dan sebagainya. Hal-hal tersebut hanya dapat dihapus melalui tindakan maaf atau ampun. Kalau dalam diri seseorang tidak memiliki rasa saling memahami, saling menerima dengan sikap terbuka dan saling memaafkan maka yang terjadi adalah masing-masing pribadi akan saling menyalahkan, saling mengumpat, saling memfitnah, saling membenci sehingga berlakulah hukum rimba: “Siapa yang kuat itulah yang menang”.
Saudara yang dikasihi Tuhan, betapa indahnya hidup ini manakala hidup bersama ini dipenuhi oleh aroma persaudaraan. Hidup semakin indah karena masing-masing orang memiliki keberanian untuk terbuka menerima dan mengakui kesalahan sekaligus mengucapkan kata-kata yang indah didengar, “Let by gones be by gones, forgive and forget” (“Sing uwis yo uwis, apura-ingapura lan ora perlu dieling-eling maneh”). Sebuah rumah tangga atau suatu keluarga akan tampak hidup harmonis bukan karena memiliki banyak harta kekayaan dan kemewahan tetapi karena masing-masing pribadi saling mencintai, memahami, menerima dan mengampuni satu dengan yang lain. Tidak ada satupun yang menuntut paling benar, paling tahu, dan paling-paling yang lain.
Saudara yang dikasihi Tuhan, pengampunan yang sesungguhnya berarti kalau orang tidak memiliki keinginan untuk terus menyimpan kemarahan kepada sesama yang bersalah kepadanya. Tetapi bila orang tetap menyimpan kemarahan maka pengampunan tadi tidak mempunyai arti sama sekali bahkan akan merugikan diri sendiri. Pengampunan merupakan aktifitas dalam diri seseorang yang akan menghasilkan kedamaian dalam hati. Tanpa pengampunan seringkali batin menjadi tidak tenang. Kejiwaan lambat-laun akan terguncang. Konsentrasi pada hal-hal penting akan menurun sebab banyak energi dalam tubuh terkuras untuk memikirkan masalah tertentu.
Saudara yang dikasihi Tuhan, bacaan kita kali ini, Yesaya 44:1-5, juga berbicara tentang hal yang sama yakni “janji keselamatan yang menguraikan keadaan umat Yahudi yang baru diampuni oleh Tuhan”. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu (Yesaya 43 : 25). Dan bila kita membaca Yesaya 43 : 14 – 44 : 5, Nampak jelas bahwa pokok masalahnya di sini adalah pembebasan umat Yahudi dari pembuangan di Babel. Dan karya
pembebasan tadi merupakan wujud nyata dari penebusan atau pengampunan Tuhan atas dosa pemberontakan mereka, serta membawa umat Yahudi ini ke dalam situasi hidup yang baru. Saudara yang dikasihi Tuhan, umat Yahudi tentu merasa hidup kembali karena mereka tidak akan lagi hidup merana di tanah pengasingan tetapi dilepas ke dalam hidup yang baru di tanah air sendiri yang merupakan pemberian Tuhan bagi mereka. Oleh Tuhan, umat Yahudi ini dipercaya lagi untuk mulai hidup yang baru serta untuk mencoba dan berupaya hidup yang lebih baik dan tidak kembali kepada dosa pemberontakannya. Bagi umat Yahudi, hal ini juga merupakan suatu tantangan untuk tidak berdosa. Oleh karena itu, pengampunan ini bukan merupakan anugerah yang murah karena menantang seseorang yang berdosa guna menuju ke puncak kebaikan yang bisa jadi tidak pernah diimpikannya ”Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai. Yang satu akan berkata : “Aku kepunyaan Tuhan”, yang lain akan menyebut dirinya Yakub dan yang ketiga akan menuliskan pada tangannya kepunyaan Tuhan dan akan menggelari dirinya dengan nama Israel (Yes. 44 : 4-5).
Saudara yang dikasihi Tuhan, pengampunan dari Tuhan ini sungguh dirasakan oleh umat Yahudi sebagai peristiwa yang menghidupkan, yang memberikan semangat dan memberikan harapan baru. Dalam Perjanjian Baru, pengampunan Tuhan dalam Yesus Kristus juga seperti itu. Selalu menghidupkan, memberikan semangat baru dan mengembangkan kepribadian. Hal ini tentu akan memberikan harapan baru untuk hidup lebih maju, karena apa? Karena Tuhan Yesus berkenan mempercayai dan menghargai kita sebagai pribadi yang dapat berkembang dan maju.
Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan Yesus mengajarkan suatu bentuk pengampunan yang tidak terbatas jumlahnya (Mat. 18:22). Artinya mengampuni atau memaafkan itu harus diupayakan sepanjang hidup. Demikian pula rasul Paulus juga mengaharapkan agar kita sebagai pengikut Kristus harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita (2 Kor. 2:5-11) Kasih yang sejati, tentu Nampak dalam pengampunan. Tiada kasih tanpa pengampunan. Ampunilah, maka hidup kita akan menuai hadiah-hadiah terindah, kedamaian hati, kebahagiaan, kebebasan dan keselamatan. Amin.
LITURGI KEBAKTIAN KELUARGA
Kamis, 23 Juli 2020I. PERSIAPAN
1. Salah satu anggota keluarga dapat berperan sebagai Pemimpin Liturgi (PL), satu anggota keluarga yang lain dapat berperan sebagai Pembaca Renungan (PR), dan satu yang lain dapat berperan sebagai Pembaca Alkitab (PA). Dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
2. Bersaat teduh
II. TATA LAKSANA KEBAKTIAN 1. Panggilan Kebaktian
PL : Kebaktian Panca Wisma pada saat ini, kita lakukan di dalam nama Allah Bapa Sang Pencipta, Yesus Kristus Sang Juru Selamat dan Roh Kudus Sang Terang kehidupan. Anugerah dan damai sejahtera dari Tuhan Allah ada pada kita. Amin.
PL : Menyanyi dari KJ 33:1,3 “SuaraMu Kudengar” 2. Doa Pembukaan, doa untuk Firman Tuhan dan doa pengakuan dosa 3. Pembacaan Alkitab dari Ibrani 10:23-24 (oleh PA)
PR : “Yang berbahagia adalah setiap kita yang membaca firman Tuhan, menyimpan dan merenungkan dalam hati dan melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.
PL : (Mengajak menyanyi KJ 52:1-2 “Sabda Tuhan Allah”) 4. Renungan (oleh PR)
5. Saat Teduh
6. Persembahan dan Menyanyi KJ 445:1 “Harap Akan Tuhan” 7. Doa syafaat
Catatan:
a. Sebelum memulai doa syafaat, bisa saling menyepakati beberapa hal: satu keluarga diwakili oleh 1 orang untuk berdoa. Dapat saling bertanya pokok doa dari yang ingin didoakan.
b. Doa dimulai dari pelayan termasuk berdoa untuk persembahan dan kemudian berdoa untuk keluarga yang lain. Saling mendoakan antar keluarga
8. Menyanyi KJ KJ 344:1,2 “Ingat akan Nama Yesus” 9. Berkat (Dipandu oleh PR)
Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa, Yesus Kristus Sang Putra, dan persekutuan Roh Kudus. Kiranya senantiasa menyertai kita, saat ini sampai dengan selama-lamanya. Amin.
BAHAN RENUNGAN KEBAKTIAN KELUARGA KAMIS, 23 JULI 2020
Bacaan : Ibrani 10:23-24
Judul : Keluarga dan Pengharapan
Saudara yang dikasihi Tuhan, ada beberapa pertanyaan yang demikian: Apa yang kita harapkan dari keluarga kita?
Masihkan ada pengharapan dalam keluarga?
Saudara yang dikasihi Tuhan, pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu pernah kita dengarkan atau barangkali kita juga pernah mengatakannya. Kalau diperhatikan, bahwa pertanyaan itu muncul karena putus-asa dan kehilangan pengharapan terhadap tantangan keluarga yang begitu berat.
Saudara yang dikasihi Tuhan, ketidakmampuan seringkali membuat kita ingin menyerah untuk menghadapi kenyataan kehidupan termasuk tantangan yang tengah dihadapi. Tidak sedikit keluarga yang satu mengarah “ke selatan” yang satunya mengarah “ke utara”. Maka ketika berkomunikasi, salah paham pun terjadi. Salah paham sedikit saja dapat memicu pertengkaran yang hebat. Oleh karena itu tidak sedikit lantas berpandangan, apa yang bisa kita harapkan lagi? Hal yang demikian itu membuat ketakutan dan keraguan untuk memperbaikinya.
Saudara yang dikasihi Tuhan, sebuah keluarga tentu diawali dengan mengucapkan janji setia untuk hidup dalam suka dan duka. Terkadang, janji setia itu bisa terlupakan. Terlebih, ketika dipandang sulitanya menemukan jalan keluar bahkan sampai membuat putus asa dan muncul keraguan yang memang seringkali menghancurkan keberanian untuk mempertahankan janji setia. Kesadaran ketidakmampuan semestinya membawa kita bersandar pada janji setia Tuhan.
Saudara yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan pada saat ini, membangunkan kita kembali untuk tetap berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita. Pengakuan yang sudah kita ucapkan untuk tetap setia kepada Kristus. Pengakuan itu senantiasa untuk dipegang bukan untuk dilepaskan. Dengan memegang pengakuan tersebut akan menaruh pengharapannya kepada Allah bukan pada kemampuan manusia sendiri. Hati dan pikirannya akan terarah pada janji Tuhan. Sebab Tuhan berjanji untuk setia memperhatikan, menolong, menguatkan umat yang dikasihinya.
Saudara yang dikasihi Tuhan, bagaimana cara memegang pengharapan dan janji kita? Perhatian dan cinta kasih adalah kebutuhan setiap manusia maka hidupilah itu ditengah keluarga kita. Orang percaya hidup bukan untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan juga untuk kepentingan orang lain. Sikap hidup orang percaya haruslah memancarkan kasih Kristus. Kepedulian dan kebaikan haruslah menyentuh sesama.
Saudara yang dikasihi Tuhan, untuk berpegang teguh kepada janji Tuhan dibutuhkan keberanian dan totalitas. Tekad yang kuat akan semakin menumbuhkan semangat untuk terus memperjuangkan semua janji yang diucapkan. Keberanian untuk memulihkan kondisi keluarga senantiasa menjadi tekad yang kuat semua anggota keluarga dalam kebersamaan. Dalam kebersamaan itu keluarga harus saling menguatkan, mendukung, menopang dan menolong pasangan agar dalam semua aspek kehidupan terjadi pertumbuhan. Jikalau didalam keluarga ada sikap-sikap tersebut, maka dalam kebersamaan keluarga terasa nyaman dan ada kerinduan untuk selalu berjumpa dan berkumpul. Dengan demikian, Harapan akan pemulihan keluarga akan bertumbuh subur. Amin.