UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELA
(Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP PENURUNAN
KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN
SKRIPSI
Oleh: SURYAWATI
071524075
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELA
(Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP PENURUNAN
KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN
SKRIPSI
Oleh: SURYAWATI
071524075
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan
kasihNYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “ Uji efek
ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap penurunan kadar gula
darah pada tikus putih jantan”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera
Utara.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada bapak Drs. Saiful Bahri, MS. Apt., selaku pembimbing I dan ibu
Dra. Suwarti Aris, MSi., Apt., selaku pembimbing II, yang telah membimbing dengan
tulus dan iklas selama penelitian dan penulisan skripsi ini berlangsung. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepada bapak dekan Fakultas Farmasi Universitas
Sumatera Utara, Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., yang telah memberikan
bantuan dan fasilitas selama masa pendidikan .
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tulus
kepada kedua orang tua, ayahanda Arifin Gultom dan Ibunda Relly br Saragi, serta
saudaraku tercinta Hamonangan Gultom SE, Pisen Nirwan Gultom., Henny Malinton
br Gultom Amd., Bambang Gultom., Syahfitri Gultom., Arilly T Gultom atas segala
dorongan, doa, dan dukungan baik moril maupun materil dalam menyelesaikan
Penulis menyadari atas keterbatasan dan kemampuan dalam penulisan skripsi
ini, untuk itu saran dan kritik sangat diperlukan untuk menyempurnakan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengharapakan semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangan yang
berarti bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu farmasi khususnya.
Medan, Agustus 2010
Penulis,
UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH
PADA TIKUS PUTIH JANTAN
ABSTRAK
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat diubah oleh tubuh. Penyakit diabetes mellitus memerlukan pengobatan jangka panjang dan biaya yang mahal, sehingga perlu dicari obat anti diabetes yang relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat. Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak etanol bunga rosela terhadap penurunan kadar gula darah tikus putih jantan menggunakan uji toleransi glukosa, data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variasi (ANAVA) dilanjutkan dengan uji beda rata-rata Duncan.
Hasil karakteristik makroskopik simplisia berwarna merah, rasa asam, dan mempunyai bau yang khas. Hasil mikroskopik simplisia mempunyai rambut penutup monoseluler, sel epidermis, rambut bercabang berbentuk bintang, kristal kalsium oksalat bentuk prisma dan papilla. Hasil skrining fitokimia simplisia dan ekstrak menunjukkan adanya senyawa flavonoid, glikosida, tanin, triterpenoid/ steroid. Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia bunga rosela diperoleh kadar air 6,62%, kadar sari larut air 19,48%, kadar sari larut etanol 17,53%, kadar abu total 7,51 %, kadar abu tidak larut asam 0,12 %. Hasil pengujian kadar gula darah terhadap tikus putih jantan yang terdiri dari 4 kelompok yaitu sebagai pembanding negatif digunakan suspensi CMC 1% bb, dosis ekstrak yaitu 50 mg/kg bb, 100 mg/kg bb, dan sebagai pembanding positif digunakan glibenklamid dosis 1 mg/kg bb. Pemberian ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb memberikan efek penurunan kadar gula darah dengan potensi yang tidak berbeda signifikan dengan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb.
Effect Of Rosela Flos (Hibiscus sabdariffa L.)
In Ethanol Extract to Decrease Blood Glucose
Content In Male White Rats
ABSTRACT
Diabetes mellitus is a medical disorder which a person’s blood glucose levels are high because the glucose in the blood can not changed by the body. Diabetes mellitus requiring long-term treatment and expensive cost, therefore it is required to search anti-diabetic drugs that are relatively cheap and affordable by the community.It has been conducted research on the effects of ethanol extract of rosela flos to decrease blood sug glucose levels in male white rats using a glucose tolerance test. Then the data were analyzed with analysis of variance (ANAVA), and then continued in the difference mean of Duncan.
Results of macroscopic examination of the characteritics of red symplicia, sour taste, and has a distinctive aroma. The microscopic hair-cap symplicia monocelluler, epidermal cells, star-shaped branched hairs, crystal prisms of calcium oxalic and papila. Phytochemical screening of symplicia and extract results showed the presence of flavonoids, glycosides, tannins, triterpenoids/steroids. Results of characterization of rosela flos symplicia obtained 6.62% water content, water-soluble extract concentration 19,48%, ethanol-soluble extract concentration 17.53%, 7.51% total ash content, ash in soluble in acid 0.12%. Blood glucose test results to male white rats consisting of four groups, used as a negative comparison CMC suspension 1% BW, the dose of extract is 50 mg/Kg BW, 100 mg/Kg BW, and as a positive comparator used glibenclamide dose of 1 mg/Kg BW. Rosela flos ethanol extract dose of 50 mg/Kg BW and 100 mg/Kg BW gives reducing effects of blood glucose level with no significant difference potention compared with glibenclamide dose of 1 mg/Kg BW.
2.1.4 Kandungan Kimia...
BAB III. METODE PENELITIAN ...
3.1.1 Alat-Alat ...
3.2.9 Pereaksi Kloralhidrat...
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...
4.1 Hasil Pengukuran Kadar Gula Darah Setelah Puasa 18 jam...
4.2 Penurunan Kadar Gula darah Tikus pada Menit ke-60...
4.3 Penurunan Kadar Gula darah Tikus pada Menit ke-90...
4.4 Penurunan Kadar Gula darah Tikus pada Menit ke-120...
4.5 Penurunan Kadar Gula darah Tikus pada Menit ke-150...
4.6 Penurunan Kadar Gula darah Tikus pada Menit ke-180...
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...
5.1 Kesimpulan...
5.2 Saran...
DAFTAR PUSTAKA...
LAMPIRAN...
30
31
33
36
39
41
43
47
47
47
48
49
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 Rata-rata Kadar Gula Darah Tikus Setelah Puasa 18 Jam (n=6).
Tabel 4.2 Hasil Perhitungan ANAVA Terhadap KGD Setelah Puasa…….
Tabel 4.3 Pengaruh Pemberian Larutan Glukosa dosis 50 % Terhadap Kadar Gula Darah Tikus (menit ke-30 setelah pemberian larutan glukosa dosis 5 g/kg bb diberikan)...
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan ANAVA Terhadap KGD Setelah Pemberian Larutan Glukosa 50 % dosis 5 g/ kg bb...
Tabel 4.5 Penurunan Kadar Gula Darah Tikus pada Menit Ke-60...
Tabel 4.6 Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD pada Menit ke- 60...
Tabel 4.7 Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD pada menit Ke-60...
Tabel 4.8 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit Ke-90...
Tabel 4.9 Hasil Perhitungan ANAVA terhadap KGD pada Menit ke- 90...
Tabel 4.10 Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD Tikus pada menit Ke-90...
Tabel 4.11 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit Ke-120...
Tabel 4.12 Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD pada menit ke- 120.
Tabel 4.13. Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD tikus pada menit ke-120...
Tabel 4.14. Penurunan kadar gula darah tikus pada menit Ke-150...
Tabel 4.15. Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD pada menit ke- 150
Tabel 4.17 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-180...
Tabel 4.18 Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD pada menit ke- 180
Tabel 4.19. Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD tikus pada menit ke-180...
44
45
45
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1.1 Diagaram kerangka konsep penelitian……….
Gambar 4.1 Grafik Kadar Gula Darah Tikus Setelah...
Gambar 4. 2 Grafik Kenaikan Rata-rata KGD Tikus Setelah 30 Menit Pemberian Larutan Glukosa 50% Dosis 5 g/ kg bb…………..
Gambar 4.3 Grafik penurunan KGD Pada Menit ke………
Gambar 4.4 Grafik Penurunan KGD pada Menit ke-90…………...
Gambar 4.5 Grafik Penurunan KGD pada Menit ke-120...
Gambar 4.6.Grafik Penurunan KGD pada Menit ke-150... 4
31
31
34
37
39
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Hasil Identifikasi Bunga Rosela...
Lampiran 2. Gambar Tumbuhan Rosela Dan Simplisia Bunga Rosela...
Lampiran 3. Mikroskopik Serbuk Simplisia Bunga Rosela...
Lampiran 4. Prosedur Pengolahan Simplisia……….
Lampiran 5. Perhitungan Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia...
Lampiran 6. Hasil Karakterisasi Ekstrak dan Simplisia...
Lampiran 7. Bagan Ekstraksi secara perkolasi pembuatan ekstrak etanol Bunga Rosela...
Lampiran 8. Prosedur Kerja Perlakuan Terhadap Tikus Putih Jantan...
Lampiran 9. Alat Glukometer………...
Lampiran 10. Data Pengukuran Kadar Gula Darah Tikus Putih Jantan...
Lampiran 11. Hasil Orientasi...
Lampiran 12. Data Hasil Pengukuran Kadar Gula Darah Pada Tikus Putih Jantan Setelah Perlakuan...
Lampiran 13. Data Pengukuran Kadar Gula Darah Tikus Putih Jantan...
Lampiran 14. Data Anova...
Lampiran 15. Hasil Uji Duncan...
UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH
PADA TIKUS PUTIH JANTAN
ABSTRAK
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat diubah oleh tubuh. Penyakit diabetes mellitus memerlukan pengobatan jangka panjang dan biaya yang mahal, sehingga perlu dicari obat anti diabetes yang relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat. Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak etanol bunga rosela terhadap penurunan kadar gula darah tikus putih jantan menggunakan uji toleransi glukosa, data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variasi (ANAVA) dilanjutkan dengan uji beda rata-rata Duncan.
Hasil karakteristik makroskopik simplisia berwarna merah, rasa asam, dan mempunyai bau yang khas. Hasil mikroskopik simplisia mempunyai rambut penutup monoseluler, sel epidermis, rambut bercabang berbentuk bintang, kristal kalsium oksalat bentuk prisma dan papilla. Hasil skrining fitokimia simplisia dan ekstrak menunjukkan adanya senyawa flavonoid, glikosida, tanin, triterpenoid/ steroid. Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia bunga rosela diperoleh kadar air 6,62%, kadar sari larut air 19,48%, kadar sari larut etanol 17,53%, kadar abu total 7,51 %, kadar abu tidak larut asam 0,12 %. Hasil pengujian kadar gula darah terhadap tikus putih jantan yang terdiri dari 4 kelompok yaitu sebagai pembanding negatif digunakan suspensi CMC 1% bb, dosis ekstrak yaitu 50 mg/kg bb, 100 mg/kg bb, dan sebagai pembanding positif digunakan glibenklamid dosis 1 mg/kg bb. Pemberian ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb memberikan efek penurunan kadar gula darah dengan potensi yang tidak berbeda signifikan dengan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb.
Effect Of Rosela Flos (Hibiscus sabdariffa L.)
In Ethanol Extract to Decrease Blood Glucose
Content In Male White Rats
ABSTRACT
Diabetes mellitus is a medical disorder which a person’s blood glucose levels are high because the glucose in the blood can not changed by the body. Diabetes mellitus requiring long-term treatment and expensive cost, therefore it is required to search anti-diabetic drugs that are relatively cheap and affordable by the community.It has been conducted research on the effects of ethanol extract of rosela flos to decrease blood sug glucose levels in male white rats using a glucose tolerance test. Then the data were analyzed with analysis of variance (ANAVA), and then continued in the difference mean of Duncan.
Results of macroscopic examination of the characteritics of red symplicia, sour taste, and has a distinctive aroma. The microscopic hair-cap symplicia monocelluler, epidermal cells, star-shaped branched hairs, crystal prisms of calcium oxalic and papila. Phytochemical screening of symplicia and extract results showed the presence of flavonoids, glycosides, tannins, triterpenoids/steroids. Results of characterization of rosela flos symplicia obtained 6.62% water content, water-soluble extract concentration 19,48%, ethanol-soluble extract concentration 17.53%, 7.51% total ash content, ash in soluble in acid 0.12%. Blood glucose test results to male white rats consisting of four groups, used as a negative comparison CMC suspension 1% BW, the dose of extract is 50 mg/Kg BW, 100 mg/Kg BW, and as a positive comparator used glibenclamide dose of 1 mg/Kg BW. Rosela flos ethanol extract dose of 50 mg/Kg BW and 100 mg/Kg BW gives reducing effects of blood glucose level with no significant difference potention compared with glibenclamide dose of 1 mg/Kg BW.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang kaya dengan bahan alam terutama tumbuhan yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan dan dikembangkan secara maksimal. Perubahan sikap kembali ke alam (back to nature ) sekarang ini justru membuat pemanfaatan tanaman obat semakin meningkat (Utami, 2003).
Masyarakat sudah mengenal tanaman rosela sejak dari dahulu, terutama bagi
para kalangan pecinta tanaman obat maupun tanaman hias, rosela merupakan
tanaman yang sudah banyak di budidayakan. Bahkan sekarang ini sudah banyak
dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman seperti permen jeli, selai, saus,
dodol, manisan, sirup. Tanaman rosela terdiri dari beberapa jenis yaitu rosela Sudan/
Afrika mempunyai warna merah pekat kehitaman dengan ujung kelopak menguncup,
rosela Cranberry berwarna merah dengan ujung kelopak berbentuk oval, dan rosela
Taiwan berwarna merah dengan ujung kelopak runcing menguncup (Anonim, 2009).
Bunga rosela mengandung vitamin (A, D, B1, C), flavonoid, gossypetin,
hibisetin, sabdaretin, beta-karoten, kalsium, magnesium, tanin, asam amino essensial
Bunga rosela berkhasiat sebagai antidiabetes, anti bakteri dan anti virus,
menghambat pertumbuhan kanker, asam urat, kolesterol, hipertensi, serta membantu
menurunkan berat badan (Mardiah dan Rahayu, 2009).
Secara tradisional berdasarkan pengalaman masyarakat di kecamatan Bagan
Batu, Provinsi Riau yang menderita diabetes mellitus menggunakan simplisia bunga
rosela Taiwan yang berwarna merah sebagai antidiabetes, dengan cara meminum
seduhan rosela yang telah dikeringkan sebagai pengganti teh. Seduhan teh rosela di
minum 1-2 gelas setiap hari setelah makan. Menurut pernyataanya kadar gula
darahnya normal dan badannya merasa segar.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik melakukan uji efek
penurunan kadar gula darah pada ekstrak bunga rosela Taiwan ini , karena belum ada
pengujian farmakologi yang dilakukan terhadap tumbuhan ini. Selain itu, agar dapat
mengetahui karakteristik yang belum tercantum dalam Materia Medika Indonesia
sebagai acuan standarisasi simplisia Indonesia.
Penelitian ini meliputi karakterisasi simplisia dan ekstrak , skrining fitokimia,
ekstraksi secara perkolasi terhadap serbuk simplisia dengan pelarut etanol dan uji
efek ekstrak bunga rosela terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih
jantan dengan metode uji toleransi glukosa.
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas perumusan masalah penelitian adalah:
a. Apakah dengan melakukan identifikasi tanaman bunga rosela (Hibiscus
b. Apakah ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) mempunyai efek
terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan?
c. Apakah ada perbedaan efek antara ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus
sabdariffa L.) dengan glibenklamid dalam menurunkan kadar gula darah?
1.3Hipotesis
Berdasarkan permasalahan diatas maka dibuat hipotesis sebagai berikut:
a. Karakteristik simplisia dapat diketahui dengan melakukan karakterisasi
tanaman bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.).
b. Ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) mempunyai efek
menurunkan kadar gula darah tikus putih jantan.
c. Efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) berbeda dengan
glibenklamid dalam menurunkan kadar gula darah darah tikus putih jantan.
1.4Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
a. Untuk memperoleh data ilmiah karakterisasi tanaman bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.)
b. Untuk membuktikan efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.)
terhadap penurunan kadar gula darah tikus putih jantan.
c. Untuk mengetahui perbedaan efek penurunan kadar gula darah ekstrak etanol
bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dan glibenklamid dalam menurunkan
Serbuk simplisia
Rosela Penurunan Kadar Gula
Darah mg/dl
Gambar 1.1 Diagram kerangka konsep penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Tumbuhan
Uraian tumbuhan meliputi deskripsi tumbuhan, nama daerah, kandungan kimia dan sistematika tumbuhan.
2.1.1 Morfologi tumbuhan
Tumbuhan rosela mempunyai nama ilmiah Hibiscus sabdariffa L. termasuk
suku dari Malvaceae. Tumbuhan ini dapat tumbuh baik di daerah beriklim tropis dan
subtropis secara liar dipinggir-pinggir hutan, perkebunan, dan sawah (Widyanto dan
Nelista, 2009). Tumbuhan bunga rosela Taiwan dapat mencapai ketinggian 0,5- 3 m,
batang bulat, tegak , berkayu berwarna merah. Daun tunggal berbentuk bulat telur,
tepi bergerigi, pertulangan menjari, Panjang daun 6 - 15 cm dan lebarnya 5 - 8 cm,
tangkai daun bulat berwarna hijau dengan panjang 4 - 7 cm. Kelopak bunga yang
terdiri dari lima helai yang menguncup, ujung tumpul, pangkal berlekuk, mempunyai
bulu - bulu halus menempel pada bagian atas permukaan kelopak bunga (Herti. M
dan Kristina, 2008).
2.1.2 Nama lain (Sinonim)
Sinonim tanaman rosela adalah Hibiscus digitatys Cav .
2.1.3 Nama daerah
Nama daerah dari rosela adalah merambos hijau (Jawa Tengah), garnet
Selatan), asam jarot (Padang), asam rejan (Muara Enim), kasturi roriha (Ternate)
(Widyanto dan Nelista, 2009).
2.1.4 Kandungan kimia
Bunga rosela mengandung vitamin (A, D, B1, C), flavonoid, gossypetin,
hibisetin, sabdaretin, kalsium, magnesiaun, beta-karoten, tanin, asam amino essensial
(lisin dan arginin), polisakarida dan omega-3 (Herti. M dan Kristina, 2008).
2.1.5 Khasiat dan penggunaan
Bunga rosela berkhasiat sebagai penurun kadar gula darah, anti bakteri dan anti
virus, menghambat pertumbuhan kanker, asam urat, kolesterol, hipertensi, serta
membantu menurunkan berat badan (Mardiah dan Rahayu, 2009).
2.1.6 Sistematika tumbuhan
Sistematika tumbuhan (Widyanto dan Nelista, 2009).
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Malvales
Suku : Malvaceae
Marga : Hibiscus
Jenis : Hibiscus sabdariffa L.
2.2 Simplisia dan Ekstraksi
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan, dan kecuali dikatakan lain berupa bahan yang telah
Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari
simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan (Ditjen POM, 2000).
2.2.1 Metode Ekstraksi
Ekstraksi dapat dilakukan dengan beberapa cara: (Ditjen POM, 2000)
Pembagian metode ekstraksi menurut Ditjen POM (2000) yaitu :
2.2.1.1 Cara dingin a. Maserasi
Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan perendaman dan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur
ruangan (kamar). Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif yang akan larut, karena adanya perbedaan
kosentrasi larutan zat aktif didalam sel dan diluar sel maka larutan terpekat
didesak keluar. Proses ini berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi
antara larutan didalam dan diluar sel. Cairan penyari yang digunakan dapat
berupa air, etanol, metanol, etanol-air atau pelarut lainnya. Remaserasi berarti
dilakukan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama,
dan seterusnya. Remaserasi berarti dilakukan penambahan pelarut setelah
dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya.
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan
b. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan
mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Proses
perkolasi terdiri dari tahapan pengembang bahan, tahap maserasi antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus menerus sampai
diperoleh ekstrak (perkolat).
2.2.1.2 Cara panas a. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur tititk didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan
adanya pendingin balik.
b. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang pada
umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dan
dan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
c. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum
dilakukan pada temperatur 40-500 C.
d. Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai titik
2.3 Diabetes Mellitus (DM) 2.3.1 Definisi
Diabetes mellitus penyakit gula atau kencing manis adalah suatu gangguan
kronis yang khususnya menyangkut metabolisme glukosa di dalam tubuh. (Tjay dan
Rahardja, 2007). Diabetes merupakan sekelompok sindrom yang ditandai dengan
hiperglikemia, perubahan metabolisme lipid, karbohidrat dan protein dan peningkatan
resiko komplikasi penyakit pembuluh darah (Gilman dan Goodman, 2007).
2.3.2 Klasifikasi diabetes mellitus
Secara umum diabetes mellitus dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
a. Diabetes Tipe I (Diabetes mellitus tergantung insulin, IDDM)
Penyakit ini ditandai dengan defisiensi insulin absolut yang
disebabkan oleh lesi sel beta langerhans, hilangnya fungsi sel beta mungkin
disebabkan oleh invasi virus. Akibat dari kerusakan sel-sel beta, pankreas gagal
berespons terhadap masukan glukosa (Mycek,et al., 2001). Diabetes tipe I ini
merupakan bentuk diabetes parah yang berhubungan dengan terjadinya
ketoacidosis apabila tidak diobati, lazim terjadi pada anak remaja tetapi
kadang-kadang juga terjadi pada orang dewasa. Gangguan katabolisme yang disebabkan
hampir tidak terdapatnya insulin dalam sirkulasi, glukagon plasma meningkat dan
sel-sel beta pankreas gagal merespon semua stimulus insulinogenik (Katzung,
2002).
b. Diabetes Tipe II (Diabetes mellitus tak tergantung insulin, NIDDM)
Diabetes tipe II merupakan suatu kelompok heterogen yang terdiri dari
kadang-kadang juga terjadi pada remaja. Sirkulasi insulin endogen cukup untuk
mencegah terjadinya ketoasidosis tetapi insulin tersebut sering dalam kadar
kurang dari normal atau secara relatif tidak mencukupi karena kurang pekanya
jaringan. Obesitas, yang pada umumnya menyebabkan gangguan pada kerja
insulin, merupakan faktor resiko yang biasa terjadi pada diabetes tipe ini,
sebagian besar pasien dengan diabetes tipe II ini bertubuh gemuk (Katzung,
2002). Pada NIDDM pankreas masih mempunyai beberapa fungsi sel beta yang
menyebabkan kadar insulin bervariasi yang tidak cukup untuk memelihara
homeostasis glukosa. Diabetes tipe II sering dihubungkan dengan resistensi organ
target yang membatasi respon insulin endogen dan eksogen. Pada beberapa kasus
disebabkan oleh penurunan jumlah atau mutasi reseptor insulin (Mycek, et al.,
2001).
c. Diabetes Gestational
Diabetes gestational adalah diabetes terjadi pada saat kehamilan, ada
kemungkinan akan normal kembali namun toleransi glukosa yang terganggu juga
bisa terjadi setelah kehamilan tersebut. DM tipe II atau DM tipe I mungkin terjadi
pada wanita yang tidak menjalani penanganan pada saat diabetes gestational ini
terjadi. Perlu dilakukan pemeriksaan sebelum kehamilan. Data statistik
menunjukkan bahwa pengontrolan gula darah saat kehamilan bagi penderita
diabetes gestational akan menghindarkan ibu dan bayi yang dilahirkan dari cacat
atau kematian. Trisemester kedua merupakan saat terjadinya peningkatan stres
2.3.3 Tanda dan gejala diabetes mellitus
Penyakit diabetes mellitus ditandai oleh polidipsia (banyak minum) dan
polifagia (banyak makan), poliurea (banyak berkemih), walaupun banyak makan
tetapi berat tubuh menurun karena tidak terbentuknya lemak, hiperglikemia,
glikosuria, ketosis dan asidosis (Ganong, 1998). Komplikasi yang mungkin timbul
diantaranya adalah adanya gangguan pembuluh darah besar (makroagiopati) dan
gangguan pembuluh darah kecil (mikroagiopati). Mikroagiopati menyebabkan
kerusakan pada ginjal, mata, syaraf. Adapun makroagiopati mengakibatkan
kerusakan pada jantung, otak, dan kaki (Dalimartha, 1999)
2.3.4 Penyebab Diabetes Mellitus
Penyebab diabetes mellitus adalah kurangnya produksi dan ketersediaan
insulin dan terjadinya kerusakan gangguan sel - sel β pulau lagerhans dalam kelenjar
pankreas yang menghasilkan insulin (Utami, 2003). Ada beberapa faktor yang
menyebabkan diabetes mellitus, yaitu :
a. Faktor turunan
Para ahli menyatakan bahwa faktor turunan adalah salah satu penyebab utama
diabetes mellitus. Pada perbandingan keluarga diabetes mellitus dengan keluarga
sehat, ternyata angka kejangkitan keluarga diabetes mencapai 8,33 % dan 5,33 %
bila diandingkan dengan keluaraga sehat yang memperlihatkan angka hanya
1,96% dan 0,61 % (Ranakusuma, 1992).
b. Virus dan bakteri
Virus yang menyebabkan diabetes mellitus adalah rubella, mumps dan human
dengan replikasi atau fungsi sel β pankreas dapat menyebabkan predisposisi terjadinya kegagalan sel β setelah infeksi virus. Kemungkinan gen - gen khusus
yang diduga meningkatkan kerentanan terhadap virus diabetogenik atau
dikaitkan dengan gen - gen yang merangsang sistem imun tertentu yang
menyebabkan terjadinya predisposisi pada pasien sehingga terjadi respon
autoimun terhadap sel - sel pulau legerhans sendiri (Katzung, 2002).
c. Nutrisi
Nutrisi yang berlebihan merupakan faktor resiko pertama yang diketahui
menyebabakan diabetes mellitus. Semakain lama dan semakin berat obesitas
akibat nutrisi berlebihan semakin besar kemungkinan terjangkitnya penyakit
diabetes mellitus. Bila masukan makanan lebih banyak dari kebutuhan kalori
sehari, maka makanan ini akan ditimbun dalam bentuk glikogen dan lemak. Apabila sel β kurang sempurna pada saat tak mampu lagi memproduksi insulin
sesuai dengan jumlah makanan masuk, maka akan menyebabkan sel β
dekompensasi yang akhirnya menimbulkan diabetes mellitus (Ranakusuma,
1992).
d. Bahan toksik atau beracun
Beberapa bahan toksik yang dapat merusak sel β secara langsung yaitu
aloksan, pirinuron (rodentisida) dan streptozosin (Utami, 2003).
2.4 Hormon yang berperan untuk mengatur kadar dalam darah
2.4.1 Insulin
Insulin merupakan protein kecil yang terdiri atas dua rantai asam amino, satu
adalah untuk menyebabkan absorpsi bagian terbesar glukosa setelah makan untuk
disimpan hampir segera di dalam hati dalam bentuk glikogen. Segera setelah makan
banyak karbohidrat, glukosa yang diabsorpsi ke dalam darah menyebabkan sekresi
insulin yang cepat. Sebaliknya insulin menyebabkan ambilan, penyimpanan dan
penggunaan glukosa yang cepat oleh hampir semua jaringan tubuh, tetapi terutama
oleh hepar, otot dan jaringan lemak (Guyton, 1990). Insulin juga memiliki efek
penting pada metabolisme lemak dan protein (Sherwood, 2001). Sekali insulin
memasuki sirkulasi, maka insulin diikat oleh reseptor khusus yang terdapat pada
membran sebagian besar jaringan sehingga memudahkan glukosa menembus
membran sel (Katzung, 2002). Glukosa dapat masuk ke dalam sel hanya melalui
pembawa di membran plasma yang dikenal sebagai glucose transporter (pengangkut
glukosa). Sel-sel tergantung insulin memiliki simpanan pengangkut glukosa intrasel,
pengangkut-pengangkut tersebut diinsersikan ke dalam membran plasma sebagai
respon terhadap peningkatan sekresi insulin sehingga terjadi peningkatan
pengangkutan glukosa ke dalam sel (Sherwood, 2001).
2.4.2 Glukagon
Glukagon adalah suatu hormon yang disekresi oleh sel-sel alfa pulau
langerhans, mempunyai beberapa fungsi yang berlawanan dengan insulin. Fungsi
yang terpenting adalah meningkatkan konsentrasi glukosa darah. Penurunan kadar
glukosa darah akan meningkatkan sekresi glukagon, bila kadar glukosa dalam darah
turun sampai 70 mg/100 ml darah maka pankreas akan mensekresikan glukagon
dalam jumlah yang banyak yang cepat memobilisasi glukosa dari hati (Guyton,
glukoneogenesis (Handoko, 1995). Hasil langsung farmakologis infus glukagon
adalah meningkatkan glukosa darah dengan menggunakan simpanan glikogen hati
(Katzung, 2002).
2.5 Resistensi insulin
Resistensi insulin adalah peristiwa pada mana sel-sel menjadi kurang peka
bagi insulin dengan efek berkurangnya penyerapan glukosa dari darah. Akibatnya
kadar glukosa darah naik dan lambat laun terjadilah diabetes tipe 2. Penyebab lain
adalah berkurangnya reseptor insulin atau tidak bekerja dengan semestinya (Tjay dan
Rahardja, 2007).
2.6 Pengaturan kadar glukosa dalam darah
Pengaturan kadar glukosa dalam darah dipengaruhi oleh hati dan pankreas.
Hati dan pankreas ini memegang peranan penting untuk menjaga keseimbangan
glukosa sehingga kadarnya bisa normal dalam darah.
2.6.1 Hati
Hati memegang peranan penting untuk keseimbangan kadar glukosa dalam
darah. Setelah karbohidrat dari makanan dirombak dalam usus menjadi glukosa maka
absorbsi glukosa ke dalam darah terjadi, kemudian glukosa ini dialirkan ke hati.
Sebagian dari glukosa tersebut disimpan sebagai glikogen (Handoko, 1995).
Pada keadaan normal bila kadar glukosa darah tinggi maka insulin akan
disekresikan oleh sel-sel beta untuk membantu penyerapan glukosa kedalam sel-sel
tubuh dan glukosa ini dengan bantuan insulin akan disimpan sebagai sumber energi
cadangan berupa glikogen dalam hati. Sebaliknya jika kadar glukosa darah rendah
pengubahan glikogen menjadi glukosa sehingga kadar gula darah dinormalkan
kembali (Guyton, 1990). Disamping itu juga hati berupaya untuk menormalkan kadar
gula darah yaitu dengan mensintesa glukosa dari molekul-molekul beratom-3C yang
berasal dari perombakan lemak dan protein (proses glukoneogenesis) (Tjay dan
Rahardja, 2007).
2.6.2 Pankreas
Pankreas adalah suatu organ yang bentuknya lonjong kira-kira 15 cm yang
terletak di belakang lambung dan sebagian di belakang hati. Organ ini terdiri dari
98% sel-sel dengan sekresi ekstren yang memproduksi enzim-enzim pencernaan
(pankreatin) yang disalurkan ke duodenum. Sisanya terdiri dari kelompok sel (Pulau
Langehans) dengan sekresi intern yakni hormon-hormon insulin dan glukagon yang
langsung disalurkan ke aliran darah (Tjay dan Rahardja, 2007).
Sel-sel yang berlokasi di pulau Langerhans pada pankreas adalah sel beta yang
mensekresi insulin, sel alfa yang mensekresi glukagon, sel delta yang mensekresi
somatostatin dan sel PP yang mensekresi polipeptida pankreas (Sodeman dan
Sodeman, 1995).
2.7 Obat antidiabetes oral
Berdasarkan cara kerjanya obat antidiabetes oral dapat dibagi dalam dua
kelompok besar yaitu:
a. Sulfonilurea
Generasi pertama dari golongan sulfonilurea mencakup tolbutamid,
asetoheksamid, tolazamida, dan klorpropamida. Generasi kedua mencakup gliburida
efek hipoglikemianya dibandingkan generasi pertama. Sulfonilurea menyebabkan
hipoglikemia dengan cara menstimulasi pelepasan insulin dari sel β pankreas.
Pemberian akut sulfonilurea ke pasien DM tipe 2 meningkatkan pelepasan insulin
dari pankreas. Sulfonilurea juga selanjutnya dapat meningkatkan kadar insulin
dengan cara mengurangi bersihannya dihati (Gilman dan Goodman, 2007).
Sulfonilurea menyebabkan kepekaan sel-sel beta bagi kadar glukosa darah diperbesar
melalui pengaruhnya atas protein transpor glukosa. Obat ini hanya efektif pada
penderita DM tipe 2 yang tidak begitu berat yang sel-sel betanya masih bekerja cukup
baik. Ada indikasi bahwa obat-obat ini juga mamperbaiki kepekaan organ tujuan
terhadap insulin (Tjay dan Rahardja, 2007).
b. Binguanida
Metformin merupakan merupakan golongan obat dari binguanida.
Binguanida berbeda dengan sulfonilurea, obat ini tidak menstimulasi penglepasan
insulin dan tidak menurunkan kadar gula darah pada orang sehat. Zat ini menekan
nafsu makan hingga berat tidak meningkat, maka layak diberikan pada penderita yang
kegemukan (Tjay dan Rahardja, 2007). Metformin memiliki kemampuan untuk
mengurangi hiperlipidemia, pasien sering kehilangan berat badan. Metformin bekerja
terutama dengan jalan mengurangi pengeluaran glukosa hati, sebagian besar dengan
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan
desain rancangan acak lengkap (RAL) dan tahap penelitian meliputi identifikasi
tumbuhan, pengumpulan sampel, pemeriksaan karakterisasi simplisia, pembuatan
ekstrak, penyiapan hewan percobaan dan uji efek ekstrak bunga rosela terhadap
penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan. Data hasil penelitian dianalisis
secara ANAVA (analisis variansi) dan dilanjutkan dengan uji rata Duncan
menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1Alat- alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah blender (Tecstar),
penguap vakum putar (Buchi 461), neraca kasar (Ohaus), neraca listrik (Chyo
JP2-600), neraca hewan (Presica Geniweigher, GW-1500), seperangkat alat destilasi,
seperangkat alat penetapan kadar air, mikroskop (Olympus), Glucometer
(Glucotrend®) dan Glucotest strip, freeze dryer, syringe 1 ml (Terumo), syringe 3 ml
(Terumo), oral sonde, aluminium foil, kertas saring, mortir dan stamfer, alat penangas
air (Yenaco), dan alat alat gelas laboratorium.
3.1.2 Bahan-bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia rosela segar
Metil Selulosa (CMC) pro analisis (E Merck), air suling, toluen, asam klorida, asam
asetat anhidrat, natrium hidroksida, kloroform, isopropanaol, kloralhidrat, amil
alkohol, timbal(II) asetat ( p.a), besi (III) klorida, natruim klorida, iodium, serbuk
seng, asam sulfat pekat (p.a), serbuk magnesium, kalium bromat, α-naftol, kalium
iodida.
3.2 Pembuatan Larutan Pereaksi 3.2.1 Pereaksi Mayer
Sebanyak 2,266 g raksa (II) klorida dilarutkan dalam air suling hingga 100 ml.
Pada wadah lain dilarutkan 50 g kalium iodida dilarutkan dalam 100 ml air suling.
Kemudian 60 ml larutan I dicampurkan dengan 10 ml larutan II dan ditambahkan
dengan air suling hingga 100 ml (Ditjen POM, 1989).
3.2.2 Pereaksi Natrium Hidroksida
Sebanyak 8,002 g natrium hidroksida dilarutkan dalam air suling hingga
diperoleh 100 ml larutan (Ditjen POM, 1979).
3.2.3 Pereaksi Bouchardat
Kalium iodida 4 g dilarutkan dalam air suling, ditambahkan dengan iodium
sebanyak 2 g dan dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml (Ditjen POM, 1989).
3.2.4 Pereaksi Dragendorff
Bismut (II) nitrat sebanyak 0,85 g dilarutkan dalam 10 ml asam asetat glasial.
Lalu di tambahkan dengan 40 ml air suling. Pada wadah yang lain 8 g kalium iodida
dilarutkan dalam 20 ml air suling, masing-masing larutan diambil 5 ml dan
ditambahkan 20 ml asam asetat kemudian dicukupkan dengan air suling hingga 100
3.2.5 Pereaksi Besi (III) Klorida 1% (b/v)
Besi (III) klorida sebanyak 1 g dilarutkan dalam air suling sehingga 100 ml
(Ditjen POM, 1989).
3.2.6 Pereaksi Asam Klorida 2N
Asam korida pekat sebanyak 17 ml diencerkan dengan air suling hingga 100
ml (Farmakope Indonesia, 1979).
3.2.7 Pereaksi Timbal (II) Asetat 0,4 M
Timbal asetat sebanyak 15,17 g dilarutkan dalam air suling hingga 100 ml
(Ditjen POM, 1989).
3.2.8 Pereaksi Molish
Alfa naftol sebanyak 3 g dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N secukupnya
hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1989).
3.2.9 Pereaksi Kloralhidrat
Larutkan 50 g kloralhidrat P dalam 20 ml air (Ditjen POM, 1979).
3.3 Penyiapan Sampel 3.3.1 Pengambilan sampel
Sampel yang digunakan adalah bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Taiwan
yang berwarna merah. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa
membandingkannya dengan tumbuhan serupa dari daerah lain, sampel diambil dari
3.2.2 Identifikasi sampel
Identifikasi tumbuhan dilakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Pusat Penelitian Biologi Bogor. Hasil identifikasi tumbuhan yang diteliti adalah
rosela (Hibiscus sabdariffa L.). Hasil identifikasi tumbuhan dapat di lihat pada
lampiran 1 halaman 50.
3.2.3 Pengolahan sampel
Bunga rosela dibersihkan dari kotoran dengan cara dicuci menggunakan air
bersih, kemudian ditiriskan lalu ditimbang berat seluruhnya sebagai berat basah yaitu
17 kg. Kemudian dikeringkan dalam lemari pengering hingga kering, yang ditandai
dengan mudah hancur jika di remas. Setelah kering sampel ditimbang sebagai berat
kering yaitu 1,8 kg, kemudian diserbuk menggunakan blender simplisia 1,75 kg.
Prosedur pengolahan sampel dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 55.
3.3 Karakterisasi sampel
Karakterisasi sampel meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik,
penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol,
penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam
(Ditjen POM, 1989).
3.3.1 Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan cara mengamati warna, bentuk
kelopak bunga, bau. Gambar rosela segar dan simplisia dapat dilihat pada lampiran 2
3.3.2 Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia. Pemeriksaan
terhadap serbuk simplisia dilakukan dengan cara menaburkan serbuk simplisia diatas
kaca objek yang telah ditetesi dengan kloralhidrat dan ditutupi dengan cover glass
(kaca penutup) kemudian dilihat di bawah mikroskop. Gambar mikroskopik serbuk
simplisia dapat dilihat pada lampiran 3 halaman 54.
3.3.3 Penetapan kadar air
Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi toluen).
Cara Kerja:
a. Penjenuhan toluen
Sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan kedalam labu alas
bulat, didestilasi selama 2 jam, kemudian toluen didinginkan selama 30 menit dan
volume air pada tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 (WHO, 1992)
b. Penetapan kadar air
Sebanyak 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama, dimasukkan
kedalam labu alas, labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluen
mendidih, kecepatan tetesan diatur 2 tetes untuk tiap detik sampai sebagian besar air
terdestilasi dinaikkan sampai 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian
dalam pendingin dibilas dengan toluen. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit,
kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan
toluen memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. selisih kedua
volume air dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang
3.3.4 Pemeriksaan kadar sari yang larut air
Sebanyak 5 g serbuk dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml air-kloroform
(2,5 ml kloroform dalam air sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil sesekali
dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam. Disaring,
sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata dan
telah ditara dan sisa dipanaskan pada suhu 105ºC sampai bobot tetap (Ditjen POM,
1989).
3.3.5 Pemeriksaan kadar sari yang larut etanol
Sebanyak 5 g serbuk dimaserasi selama 24 jam dalam etanol 96% dalam labu
bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan
selama 18 jam. Disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol, 20 ml filtrat
diuapkan sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara dan
dipanaskan pada suhu 105ºC sampai bobot tetap. (Ditjen POM, 1989).
3.3.6 Penetapan kadar abu total
Timbang 2 g serbuk yang telah digerus ke dalam sebuah cawan porselen
(atau platina) yang telah diketahui bobotnya, lalu abukan dalam tanur listrik pada
suhu maksimum 550ºC sampai pengabuan sempurna (sekali-kali pintu tanur dibuka
sedikit, agar oksigen bisa masuk). Dinginkan dalam eksikator, lalu timbang sampai
bobot tetap (Departemen Perindustrian, 1992).
3.3.7 Penetapan kadar abu tidak larut asam
Larutkan abu bekas penetapan kadar abu dengan penambahan 25 ml HCl
10%. Didihkan selama 5 menit. Selanjutnya saring larutan dengan kertas saring dan
masukkan ke dalam cawan porselen (platina) yang telah diketahui bobotnya dan
kemudian diabukan. Dinginkan cawan di dalam eksikator hingga suhu kamar, lalu
timbang sampai bobot konstan (Departemen Perindustrian, 1992).
3.4 Penapisan fitokimia serbuk simplisia
Penapisan fitokimia serbuk simplisia meliputi pemeriksaan senyawa golongan
alkaloida, flavonoida, saponin, tanin, glikosida, glikosida antrakuinon, dan
steroid/triterpenoid.
3.4.1 Pemeriksaan alkaloida
Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian ditambahkan 1 ml asam
klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan diatas air selama 2 menit, didinginkan
dan disaring. Filtrat dipakai untuk percobaan berikut:
a. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Mayer, akan
terbentuk endapan menggumpal bewarna putih atau kekuningan.
b. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat,
akan terbantuk endapan bewarna coklat sampai hitam.
c. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Dragendroff,
akan terbentuk endapan jingga atau coklat jingga.
Alkaloida positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari
percobaan diatas (Ditjen POM, 1989).
3.4.2 Pemeriksaan flavonoida
Sebanyak 10 g serbuk simplisia ditambahkan dengan 100 ml air panas, di
didihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas, diambil 5 ml filtrat
magnesium dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan
dibiarkan memisah. Flavonoid positif jika terjadi warna merah, kuning, atau jingga
pada lapisan amil alkohol (Farnsworth, 1996).
3.4.3 Pemeriksaan saponin
Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan kemudian dikocok selama 10 detik, jika
terbantuk busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan
tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N menunjukkan adanya
saponin (Ditjen POM, 1989).
3.4.4 Pemeriksaan tanin
Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia disari dengan 10 ml air suling lalu disaring,
filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak bewarna. Larutan diambil sebanyak 2
ml dan ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%, jika terjadi
warna biru atau hijau menunjukkan adanya tanin (Ditjen POM, 1989).
3.4.5 Pemeriksaan glikosida
Sebanyak 3 g serbuk simplisia disari dengan 30 ml campuran etanol 95% dengan
air suling (7 : 3) dan 10 ml asam sulfat 2 N , di refluks selama 10 menit, didinginkan
dan disaring, diambil 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II)
asetat 0,4 M, dikocok, diamkan 5 menit dan disaring. Filtrat dipartisi dengan 20 ml
campuran isopropanol dan kloroform (3 : 2), dilakukan berulang sebanyak 3 kali.
Lapisan air dikumpulkan, diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50 C sisanya
selanjutnya diuapkan diatas penangas air, pada sisa ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes
larutan pereaksi Molish. Tambahkan hati-hati 2 ml asam sulfat melalui dinding
tabung terbentuk cincin ungu pada batas kedua cairan, menunjukkan adanya gula,
reaksi positif terhadap gula menunjukkan adanya glikosida (Ditjen POM, 1989).
3.4.6 Pemeriksaan glikosida antrakinon
Sebanyak 0,2 g serbuk simplisia ditambah 5 ml asam sulfat 2 N, dipanaskan
sebentar, setelah dingin ditambahkan 10 ml benzen, dikocok dan didiamkan. Lapisan
benzen dipisahkan dan disaring. Kocok lapisan benzen dengan 2 ml NaOH 2 N,
didiamkan, lapisan NaOH bewarna merah dan lapisan benzen tidak bewarna
menunjukkan adanya antrakinon (Ditjen POM, 1989).
3.4.7 Pemeriksaan steroida/ triterpenoida
Sebanyak 1 g serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 ml eter selama 2 jam
disaring, filtrat diuapkan dalam cawan penguap, dan pada sisanya ditambahkan 20
tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi
Lieberman-Borchard). Apabila terbantuk warna ungu atau merah yang berubah menjadi biru
hijau menunjukkan adanya steroida/triterpenoida (Harborne, 1987).
3.5 Pembuatan Ekstrak
Pembuatan ekstrak dilakukan secara perkolasi dengan menggunakan pelarut
etanol 96 %. Prosedur pembuatan ekstrak yaitu sejumlah 1,5 kg simplisia dibasahi
dengan penyari dan dibiarkan selama 3 jam. Kemudian dimasukkan kedalam
perkolator, lalu dituang cairan penyari etanol 96% secukupnya sampai semua
simplisia terendam dan terdapat selapis cairan penyari diatasnya, mulut tabung
kran dibuka dan dibiarkan tetesan ekstrak mengalir. Perkolasi dihentikan setelah 500
mg perkolat terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Selanjutnya ekstrak diuapkan
dengan menggunakan alat penguap vakum putar pada temperatur tidak lebih dari
50ºC dan dikeringkan dengan menggunakan alat freeze dryer sampai diperoleh
ekstrak kental (Ditjen POM, 1979). Prosedur kerja pembuatan ekstrak secara
perkolasi dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 65.
3.6 Penyiapan Hewan
Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus putih jantan dengan
berat badan 150 - 210 g. Sebelum percobaan dimulai terlebih dahulu tikus dipelihara
selama 2 minggu dalam kandang yang terbuat dari besi ukuran diameter 1cm diberi
sekam pada bagian alas bawah, dan dibersihkan setiap satu kali sehari. (Ditjen POM,
1979).
3.7 Pembuatan Larutan dan Suspensi 3.7.1 Pembuatan suspensi CMC 0,5 %
Sebanyak 500 mg CMC ditaburkan dalam lumpang yang berisi 10 ml air
suling panas. Didiamkan 15 menit hingga diperoleh massa yang transparan, setelah
dikembangkan digerus lalu diencerkan dengan sedikit air. Kemudian dimasukkan ke
dalam labu takar 100 ml, volumenya dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml.
3.7.2 Pembuatan suspensi glibenklamid 0,02 % b/v
Sebanyak 500 mg CMC ditaburkan dalam lumpang yang berisi air suling
panas sebanyak 10 ml. Didiamkan 15 menit hingga diperoleh massa yang transparan,
dan digerus hingga terbentuk gel. Sebanyak 20 mg glibenkamid digerus dan
sedikit air. Kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml, volumenya
dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml.
3.7.3 Pembuatan suspensi ekstrak bunga rosela 2% b/v
Sebanyak 500 mg CMC ditaburkan dalam lumpang yang berisi air suling
panas sebanyak 10 ml. Didiamkan 15 menit hingga diperoleh massa yang transparan,
dan digerus hingga terbentuk gel. Kemudian ekstrak etanol bunga rosela (2 g)
digerus, dan ditambahkan gel CMC 0,5 % sedikit demi sedikit dan terus digerus
hingga terbentuk suspensi. Kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml.
Volumenya dicukupkan dengan akuades hingga 100 ml. Hasil Orientasi dapat dilihat
pada lampiran 11 halaman 70.
3.7.4 Pembuatan larutan glukosa 50%
Sebanyak 50 g glukosa dimasukan ke dalam labu takar yang telah dikalibrasi
100 ml lalu diaduk hingga larut.
3.8 Prosedur uji efek penurunan kadar gula garah dari ekstrak etanol bunga rosela dengan toleransi glukosa pada tikus putih jantan
Hewan yang digunakan dalam pengujian adalah tikus yang dibagi atas 4
kelompok yaitu kontrol, bahan uji yang terdiri dari 2 dosis dan bahan pembanding,
masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus.
Prosedur kerjanya yaitu: tikus dipuasakan (tidak makan tapi tetap minum)
selama 18 jam, kemudian berat badan ditimbang dan diukur kadar gula darah puasa
selanjutnya berikan larutan glukosa 50% dosis 5 g/kg bb secara oral. Lalu diukur
kadar gula darah tikus pada menit ke-30. Kemudian masing-masing diberi
a. Kelompok A sebagai kontrol yaitu hanya diberikan Suspensi CMC
0,5% dengan dosis 1 % bb peroral.
b. Kelompok B diberikan suspensi ekstrak bunga rosela dengan dosis 50 mg/kg
bb peroral.
c. Kelompok C diberikan suspensi ekstrak bunga rosela dengan dosis 100 mg/kg bb peroral.
d. Kelompok D diberikan suspensi Glibenklamid dalam CMC 0,5% dengan dosis 1 % bb peroral.
Lalu diukur kadar gula darah tikus pada menit ke-60, 90, 120, 150, 180
dengan menggunakan alat glukometer Glucotrend.. Prosedur kerja penurunan kadar
gula darah terhadap tikus dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 67.
3.9 Prosedur Penggunaan Glukometer
Prosedur penggunaan Glukometer sebagai berikut:
Alat yang digunakan untuk mengukur kadar glukosa darah adalah Glukometer
glucotrend. Glucotrend Check Strip dimasukkan ke Glucotrend Meter. Glucotrend
Meter akan hidup secara otomatis, dicocokkan kode nomor yang muncul pada layar
Glucotrend Meter dengan yang ada pada vial Glucotrend Test Strip, strip dimasukkan
ke Glucotrend Meter maka pada bagian layar akan tertera angka sesuai dengan kode
check strip. Kemudian pada layar monitor glukotes muncul tanda akan siap di
teteskan darah, pada saat menyentuhkan setetes darah ke strip, reaksi dari wadah strip
akan otomatis menyerap darah ke dalam strip melalui aksi kapiler. Ketika wadah
pengukuran diperoleh selama 8 detik. Gambar Alat Glukometer Glucotrend dapat
dilihat pada lampiran 8 halaman 66.
3.10 Analisis data
Data hasil penelitian dianalisis secara analisis variansi (ANAVA) dengan
tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji rata- rata Duncan untuk melihat
perbedaan nyata antar kelompok perlakuan. Analisis statistik ini menggunakan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil identifikasi bahan uji di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pusat
Penelitian Biologi Bogor, menunjukkan identitas tumbuhan adalah Hibiscus
sabdariffa L. suku Malvaceae.
Hasil pemeriksaan makroskopik bunga rosela segar menunjukkan bahwa
bunga rosela terdiri dari lima helai daun kelopak dengan ujung kelopak runcing
menguncup, berwarna merah, terdapat bulu-bulu rambut halus menempel pada bagian
atas permukaan kelopak, mempunyai rasa yang sangat asam, memiliki bau yang khas.
Hasil pemeriksaan mikroskopik menunjukkan adanya rambut bercabang (berbentuk
bintang), rambut penutup monoseluler, sel parenkim, papila, kristal kalsium oksalat
bentuk prisma. Hasil skrining fitokimia simplisia dan ekstrak bunga rosela
menunjukkkan adanya senyawa flavonoid, glikosida, tanin, dan triterpenoid/steroid.
Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia bunga rosela diperoleh kadar air serbuk
simplisia 6,62%, kadar air pada ekstrak 8,50 %, kadar sari larut air 19,48%, kadar sari
larut etanol 17,53%, kadar abu total serbuk simplisia 7,51 %, kadar abu total pada
ekstrak 3,32%, kadar abu tidak larut asam 0,34 % dan kadar abu tidak larut asam
pada ekstrak 0,12 %.
Penggujian efek ekstrak etanol bunga rosela menggunakan tikus putih jantan
kenaikan kadar gula darah dengan penginduksi toleransi glukosa yang diberikan
secara oral.
4.1 Hasil pengukuran kadar gula darah tikus setelah puasa 18 jam
Hasil rata- rata kadar gula darah tikus setelah puasa selama 18 jam dapat
dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini.
Tabel 4.1 Hasil rata- rata kadar gula darah tikus setelah puasa 18 jam (n= 6)
Kelompok Perlakuan Rata-rata
KGD (mg/dl)
A Pemberian suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb 103 ± 9,16
B Pemberian suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb
100,17 ± 3,65
C Pemberian suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100mg/kgbb
102,33 ± 8,64
D Pemberian suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb 103,83 ± 4,07
Keterangan A: Suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb
B: Suspensi ekstrak bunga rosela dosis 50 mg/kg bb C: Suspensi ekstrak bunga rosela dosis 100 mg/kg bb D: Suspensi Glibenklammid dosis 1 mg/kg bb
Gambar 4.1 Grafik Kadar Gula Darah Tikus Setelah Puasa 18 Jam
Tabel 4.2. Hasil Perhitungan ANAVA terhadap KGD setelah puasa
Menit ke-0 Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 44.333 3 14.778 .313 .815
Within Groups 943.000 20 47.150
Total 987.333 23
Berdasarkan analisis statistik diperoleh signifikansi 0,815 > 0,05, berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi
fisiologis tikus yang digunakan tidak berbeda nyata.
Hewan yang telah diukur kadar gula darah puasanya, kemudian diberi larutan
glukosa dosis 5 g/kg bb. 30 menit setelah pemberian larutan glukosa tersebut terjadi
peningkatan kadar gula darah tikus pada masing-masing kelompok. Data perlakuan
kadar gula darah dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Pengaruh pemberian larutan gukosa dosis 50 % terhadap kadar gula darah tikus (menit ke-30 setelah pemberian larutan glukosa dosis 5 g/kg bb diberikan)
Kelompok Perlakuan Rata-rata
KGD (mg/dl)
A Pemberian suspensi CMC dosis 1 mg/kg bb 204,60 ± 12,68
B Pemberian suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb
200,17 ± 13,84
C Pemberian suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100mg/kgbb
205,66 ± 13,77
Keterangan A: Suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb
B: Suspensi ekstrak bunga rosela dosis 50 mg/kg bb C: Suspensi ekstrak bunga rosela dosis 100 mg/kg bb D: Suspensi Glibenklammid dosis 1 mg/kg bb
Gambar 4.2 Grafik kenaikan rata-rata KGD tikus setelah 30 menit pemberian larutan glukosa 50% dosis 5 g/kg bb.
Tabel 4.4. Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD setelah pemberian larutan glukosa 50 % dosis 5 g/ kg bb
Menit ke- 30 Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 1744.333 3 581.444 1.164 .348
Within Groups 9987.000 20 499.350
Total 11731.333 23
Terlihat bahwa pemberian larutan glukosa dosis 5 g/kg bb untuk semua hewan
menghasilkan kadar gula darah yang telah diuji secara analisis statistik diperoleh
signifikansi 0,348 > 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antar
perlakuan.
4.2Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-60
Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC 0,5 %
dosis 1 % bb, suspensi ekstrak etanol bunga rosela 50 mg/kg bb, suspensi ekstrak
etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb
pada menit ke-60 dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Tabel 4.5 Penurunan Kadar Gula Darah Tikus pada Menit Ke-60
No Perlakuan KGD tikus
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb
Suspensi Glibenklamid dosis 1 mg/ kg bb
204,6 197,66
B: Suspensi ekstrak bunga rosela dosis 50 mg/kg bb
C: Suspensi ekstrak bunga rosela dosis 100 mg/kg bb D: Suspensi Glibenklammid dosis 1 mg/kg bb
Gambar 4.3 Grafik Penurunan KGD pada Menit ke-60
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa penurunan KGD pada pemberian
suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb memberikan efek penurunan kadar gula
darah paling besar dibandingkan dengan ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg
bb dan ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb.
Tabel 4.6. Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD pada Menit ke- 60 Menit ke-60 Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 1983.792 3 661.264 2.609 .080
Within Groups 5069.167 20 253.458
Total 7052.958 23
Berdasarkan analisis statistik diperoleh signifikansi 0,080 > 0,05 yang berarti
ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Untuk mengetahui perbedaan yang
bermakna antar perlakuan maka dilakukan uji beda rata-rata duncan. Hasil uji beda
rata-rata duncan terhadap kadar gula darah tikus pada menit ke-60 dapat dilihat pada
Tabel 4.7. Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD pada
Suspensi Glibenklamid dosis 1 % bb 6 172.50 Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50
mg/kg bb
6 184.50 184.50
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb
6 189.17 189.17
Suspensi CMC 0,5 % dosis 1 mg/kg bb 6 197.67
Sig. .100 .190
Hasil analisis uji beda nyata rata-rata Duncan menunjukkan bahwa penurunan
KGD pada tikus pada menit ke-60 dengan pemberian suspensi ekstrak etanol bunga
rosela dengan dosis 50 mg/kg bb, ekstrak etanol bunga rosela dengan dosis 100
mg/kg bb tidak berbeda nyata. Artinya, pada menit ke-60 ekstrak etanol bunga rosela
dengan dosis 50 mg/kg bb , ekstrak etanol bunga rosela dengan dosis 100 mg/kg bb
memiliki potensi yang tidak berbeda dalam menurunkan kadar gula darah pada tikus.
Namun jika dibandingkan dengan pemberian glibenklamid dosis 1 mg/kg bb maka
glibenklamid dosis 1 mg/kg bb memiliki efek yang berbeda nyata. Artinya,
glibenklamid memilki potensi yang lebih besar dalam menurunkan KGD pada tikus
dibandingkan dengan ekstrak etanol bunga rosela dengan dosis 50 mg/kg bb, ekstrak
4.4 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-90
Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC 0,5 %
dosis 1 % bb, suspensi bunga rosela dosis 50 mg/kg bb, suspensi ekstrak etanol bunga
rosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb pada menit
ke-90 dapat dilihat pada Gambar 4. 6.
Tabel 4.8. Penurunan kadar gula darah tikus pada menit Ke-90
No Perlakuan KGD tikus
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb
Suspensi Glibenklamid dosis 1 mg/ kg bb
Keterangan A: Suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb
B: Suspensi ekstrak bunga rosela dosis 50 mg/kg bb C: Suspensi ekstrak bunga rosela dosis 100 mg/kg bb D: Suspensi Glibenklammid dosis 1 mg/kg bb
Gambar 4.4. Grafik penurunan KGD pada menit ke-90
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa penurunan KGD pada suspensi
Glibenklamid 1 mg/kg bb penurunan kadar gula darah paling besar dibandingkan
dengan suspensi ekstrak rosela dosis 50 mg/kg bb dan ekstrak etanol rosela dosis 100
mg/kgbb. Suspensi ekstrak rosela dosis 50 mg/kg bb lebih kecil dibandingkan dosis
suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb .
Tabel 4.9. Hasil Perhitungan ANAVA terhadap KGD pada Menit ke- 90 Menit ke-90 Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 5741.500 3 1913.833 9.103 .001
Within Groups 4205.000 20 210.250
Total 9946.500 23
Menurut analisis statistik diperoleh signifikansi 0,001 < 0,05 yang berarti ada
perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Untuk mengetahui perbedaan yang
bermakna antar perlakuan maka dilakukan uji beda rata-rata duncan. Hasil uji beda
rata-rata duncan terhadap kadar gula darah tikus pada menit ke-90 dapat dilihat pada
Tabel 4.11.
Tabel 4.10. Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD tikus pada menit Ke-90
Duncana
Perlakuan
N
Subset for alpha = 0.05
1 2 3
Suspensi Glibenklamid dosis 1 % bb 6 146.67
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela 100 mg/kg bb 6 164.67
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela 50 mg/kg bb 6 177.50 177.50
Suspensi CMC 0,5 % dosis 1 mg/kg bb 6 188.17
Sig. 1.000 .141 .217
Hasil analisis uji beda nyata rata-rata Duncan menunjukkan bahwa penurunan
KGD pada tikus pada menit ke-90 dengan pemberian ekstrak bunga rosela dengan
dosis 50 mg/kg bb, ekstrak bunga rosela 100 mg/kg bb tidak berbeda nyata. Artinya,
pada menit ke-90 ekstrak bunga rosela dengan dosis 50 mg/kg bb memiliki potensi
yang tidak berbeda dengan ekstrak bunga rosela 100 mg/kg bb dalam menurunkan
kadar gula darah pada tikus. Pada menit ke-90 pemberian ekstrak etanol bunga rosela
dosis 50 mg/kg bb tidak berbeda nyata dengan suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb.
Menurut analisis statistik, pada menit ke-90 ekstrak etanol dengan dosis 100 mg/kg
bb memiliki potensi yang lebih dibandingkan dengan ekstrak etanol rosela dosis 50
mg/ kg bb.
4.5 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-120
Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC 0,5 %
dosis 1 % bb, suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb, suspensi
ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1
Tabel 4.11. Penurunan kadar gula darah tikus pada menit Ke-120
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb
Suspensi Glibenklamid dosis 1 mg/ kg bb
204,6 177,66
B: Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb C: Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb D: Suspensi Glibenklammid dosis 1 mg/kg bb.
Gambar 4.5. Grafik penurunan KGD pada menit ke-120.
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa penurunan KGD pada pemberian
ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb memberikan efek penurunan kadar
gula darah paling besar dibandingkan dengan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg
bb, ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb dan suspensi CMC 0,5 % dosis 1
% bb.
Tabel 4.12. Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD pada menit ke- 120 Menit ke-120 Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 13508.125 3 4502.708 13.207 .000
Within Groups 6818.833 20 340.942
Total 20326.958 23
Menurut analisis statistik diperoleh signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti ada
perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Untuk mengetahui perbedaan yang
bermakna antar perlakuan maka dilakukan uji beda rata-rata duncan. Hasil uji beda
rata-rata duncan terhadap kadar gula darah tikus pada menit ke-120 dapat dilihat pada
Tabel 4.14.
Tabel 4.13. Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD tikus pada menit ke-120
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb 6 124.00 Suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb 6 125.50
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb 6 165.00
Suspensi CMC 0,5% dosis 1 % bb 6 177.67
Sig. .890 .249
Hasil analisis uji beda nyata rata-rata Duncan menunjukkan bahwa penurunan
dosis 100 mg/kg bb, glibenklamid 1 mg/kg bb, tidak berbeda nyata. Namun
pemberian ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb tidak berbeda nyata dengan
suspensi CMC 0,5% dosis 1% bb. Artinya, pada menit ke-120 ekstrak etanol bunga
rosela dengan dosis 100 mg/kg bb, glibenklamid 1 mg/kg bb, memiliki potensi yang
tidak berbeda dalam menurunkan kadar gula darah pada tikus.
4.6 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-150
Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC 0,5 %
dosis 1% bb, suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb, suspensi
ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1
mg/kg bb pada menit ke-150 dapat dilihat pada Gambar 4.8.
Tabel 4.14. Penurunan kadar gula darah tikus pada menit Ke-150
No Perlakuan KGD tikus
Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis100 mg/kg
Suspensi Glibenklamid dosis 1 mg/ kg bb
Keterangan A: Suspensi CMC 0,5 % dosis 1% bb
B: Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb C: Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb D: Suspensi Glibenklammid dosis 1 mg/kg bb
Gambar 4.6. Grafik penurunan KGD pada menit ke-150
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa penurunan KGD pada pemberian ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb memberikan efek penurunan kadar
gula darah paling besar dibandingkan dengan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb
dan suspensi CMC 0,5 % dosis 1%bb.
Tabel 4.15. Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD pada menit ke- 150 Menit ke-150 Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 8449.125 3 2816.375 12.430 .000
Within Groups 4531.500 20 226.575