PENGARUH PEMBERIAN MADU DAN KAYU MANIS
(Cinnamomun burmanii) TERHADAP KADAR GULA
DARAH TIKUS PUTIH PENDERITA DIABETES
MELLITUS TIPE II
SKRIPSI
SANKIKI RIHAYANTI MALAU
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
RINGKASAN
SANKIKI RIHAYANTI MALAU. D14080174. 2012. Pengaruh Pemberian Madu dan Kayu Manis (Cinnamomun burmanii) terhadap Kadar Gula Darah Tikus Putih Penderita Diabetes Mellitus Tipe II. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. B. N. Polii,SU.
Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, M.S.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi batas normal yang diakibatkan oleh tubuh kekurangan insulin atau mengalami resistensi insulin. Penyakit ini sudah menjadi penyakit yang mendunia yang dapat menyerang semua lapisan masyarakat dan semua umur. Penyakit DM ini menjadi perhatian dunia karena prevalensinya dari tahun ke tahun semakin meningkat dan penyakit DM ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan risiko gangguan kardiovaskular yang dapat meningkatkan mortalitas di dunia saat ini, khususnya di Indonesia.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur pengaruh tingkat pemberian kayu manis, madu dan campuran madu dan kayu manis terhadap kadar gula darah tikus penderita DM tipe II. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Satwa Harapan Blok A, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor untuk pemeliharaan hewan model; Laboratorium Nutrisi Pedaging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutri dan Teknologi Pakan untuk pembuatan ransum kontrol dan uji proksimat. Penelitian ini dilakukan dari bulan November 2011 hingga bulan Maret 2012.
Penelitian ini menggunakan 45 ekor tikus putih galur Sprague dawley yang positif DM II dengan umur satu bulan dan bobot badan 100 g. Tikus tersebut terbagi menjadi lima kelompok perlakuan, masing-masing kelompok perlakuan terbagi menjadi tiga kali pengulangan. Grup pertama (K) yaitu grup yang diberikan ransum kontrol dan air minum, grup kedua (M) yaitu grup yang diberikan ransum kontrol dan madu 1 ml/ekor, grup ketiga (CM) yaitu grup yang diberikan ransum kontrol dan kayu manis 0,004 g/ekor, grup keempat (C1M) yaitu grup yang diberikan ransum kontrol, madu 1 ml dan kayu manis 0,004 g dan grup yang kelima (C2M) yaitu grup yang diberikan ransum kontrol, madu 1 ml dan kayu manis 0,008g dan masing-masing perlakuan terdiri dari sembilan ekor hewan model. Masa perlakuan dilakukan selama dua hari. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah RAL faktorial intime. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah konsumsi karbohidart dan kalori yang masuk kedalam tubuh dan kadar glukosa darah. Hasil pengukuran konsumsi karbohidrat minimal 5,83 – 7,09 g dengan asupan kalori sebesar 32,16 – 38,64 kalori/ekor/hari. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada 30 menit, 60 menit, 24 jam, 26 jam setelah pemberian perlakuan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SAS 9.1.3.
campuran madu dan kayu manis memberikan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah (p<0,05) tetapi waktu yang ditetapkan dalam pengambilan data tidak berpengaruh nyata (p>0,05). Pengaruh penginduksian aloksan dengan dosis 125 cc/Kg BB telah mengakibatkan kerusakan sel pankreas. Perlakuan madu lebih efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Pemberian kayu manis kurang efektif dalam penurunan kadar glukosa darah bila kondisi pankreas rusak total. Waktu yang ditentukan yaitu 30 menit, 60 menit, 24 jam dan 26 jam dalam pengambilan data tidak berpengaruh dalam penurunan kadar glukosa darah.
ABSTRACT
Influence of Honey and Cinnamon Supplementation (Cinnamomun burmanii)
Toward the Blood Sugar Level of Type 2 Diabetic White Mice
Malau, S, R.., B. N. Polii., D. A. Astuti.
Diabetes Mellitus (DM) is a disease characterized by blood glucose levels exceeding normal limits due to lack of insulin in the body. This disease has spread globally and the sufferers are from all walks of life and ages, with increasing numbers from year to year. With the new movement of back to nature, nowadays the alternative herbal medicine of diabetes which able to improve blood glucose leval is highly sought after. One alternative focused for the purpose is cinnamon with the honey addition. Cinnamon contains the chemical compounds called cinnamtannin B1 and its water extract acts directly on insulin receptors subunits by activating pi3-kinase that will stimulate the translocation of glukosa-4 (glut-4 ) carrier. Honey contains a fructose sugar which could be safely digested by diabetics without the insulin release. The aim of this research is to measure the influence of honey with a mixture of powdered cinnamon in lowering blood sugar level on mice that suffer from aloksan-induced diabetes mellitus type 2. Minimal in carbohydrate consumption measurement result 5,83 up to 7,09 with the caloric intake of 32,16 up to 38,64 calorie/tail/day. Effect of alloxan induction doses of 125 cc/Kg BB caused damage of pancreatic ß cells. Treatment of honey was more effective in decreasing of blood glucose levels when compared with other treatments. Giving cinnamon was less effective in reducing blood glucose levels when the conditions of pancreas are totally damaged . Specified time were 30 minutes, 60 minutes, 24 hours and 26 hours in the data retrieval had no effect in the reduction of blood glucose levels.
PENGARUH PEMBERIAN MADU DAN KAYU MANIS
(Cinnamomun burmanii) TERHADAP KADAR GULA
DARAH TIKUS PUTIH PENDERITA DIABETES
MELLITUS TIPE II
SANKIKI RIHAYANTI MALAU D14080174
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
Judul : Pengaruh Pemberian Madu dan Kayu Manis (Cinnamomun burmanii)
terhadap Kadar Gula Darah Tikus Putih Penderita Diabetes Mellitus
Tipe II
Nama : Sankiki Rihayanti Malau
NIM : D14080174
Menyetujui,
Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota,
Ir. B. N. Polii, SU. NIP. 19480402 198003 2 001
Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, M.S. NIP.19611005 1985032 2 001
Mengetahui : Ketua Departemen
Ilmu Pruduksi dan Teknologi Peternakan
(Prof Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc.) NIP. 195912121986031004
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pulau Samosir, Sumatera Utara pada tanggal 01 Oktober
1990. Penulis dalah anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan Bapak Horasman Malau dan Ibu Derita Masdi Silalahi. Penulis mengawali pendidikan di SD Negeri 3 Pangururan tahun 1996-2002, dan melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Pangururan dan lulus tahun 2005. Pendidikan Sekolah Menengah Keatas diselesaikan di SMA Negeri 1 Pangururan pada tahun 2008 Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara. Penulis diterima di IPB melalui jalur USMI pada tahun 2008 di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapakn kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat, kasih dan perlindunganNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Madu dan Kayu Manis (Cinnamomun burmanii) terhadap Kadar Gula Darah Tikus Putih Penderita Diabetes Mellitus Tipe II”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang pengobatan penyakit Diabates mellitus tipe II.
Skripsi ini disusun berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis pada bulan November 2011 – Maret 2012 yang bertempat di Laboratorium Lapang Genetika dan Pemuliaan Ternak atau kandang Blok A Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor, Bogor. Skripsi ini membahas tentang seberapa besar pengaruh dari pemberian madu dengan bubuk kayu manis yang berpotensi dalam memperbaiki kadar glukosa darah pada penderita DM (Diabates Mellitus) Tipe II. Kayu manis yang digunakan mengandung atau yang lebih dikenal dengan proantosianidin jenis A. Aktivitas dari Cinnamtannin B1 yang difokuskan dapat memperbaiki sel pankreas yang mengalami kerusakan akibat penginduksian aloksan.
Masyarakat membutuhkan informasi berupa obat- obat herbal yang dapat menyembuhkan penyakit Diabetes Mellitus khususnya tipe II. Penyakit Diabetes Mellitu Tipe II merupakan jenis penyakit yang sudah menduduki penringkat ke empat di Indonesia dan penyakit ini dapat meyebabkan kematian. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Penulis berharap semoga penelitian ini bermanfaat bagi pembaca dan menjadi salah satu sumber ilmu pengetahuan.
Bogor, September 2012
DAFTAR ISI
Permasalahan Diabetes Mellitus di Indonesia ... 3
Madu ... 3
Komposisi Madu ... 4
Faktor-faktor Penentu Kualitas Madu ... 5
Peranan Madu pada Penderita Diabetes Mellitus ... 6
Kayu Manis ... 7
Diabaetes Mellitus... 9
Klasifikasi Diabetes Mellitus ... 10
Metabolisme Glukosa pada Kondisi Diabetes Mellitus ... 13
Peubah yang Diamati ... 20
Pengukuran Gula Darah ... 20
Pengukuran Konsumsi BETN, Lemak, Protein, Asupan Kalori . 20
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21
Konsumsi BETN, Lemak dan Protein... 21
Kadar Glukosa Darah ... 22
KESIMPULAN DAN SARAN ... 31
Kesimpulan ... 31
Saran ... 31
UCAPAN TERIMA KASIH ... 32
DAFTAR PUSTAKA ... 33
DAFTAR TABEL
1. Komposisi Kandungan Madu Dalam 100 g ……….. 5
2. Komposisi Kandungan Kayu Manis Dalam 100 g ……….... 9
3. Kualitas Bahan Pakan Tikus Percobaan ...………... 17
4. Komposisi Ransum Tikus……….. 17
5. Hasil Uji Proksimat Nutrien Ransum, Madu dan Kayu Manis ..……... 18
6. Konsumsi BETN, Lemak dan Protein Oleh Tikus Selama Penelitian... 21
7. Konsumsi Total Energi Asal, BETN, Lemak dan Protein... 21
8. Kadar Glukosa Normal Hewan Model pada Kondisi Normal dan setelah Diinduksi Aloksan... 23
9. Kadar Glukosa Darah Hewan Model Setelah Pemberian Perlakuan………... 28
DAFTAR GAMBAR
1. Kayu Manis………... 7
2. Peranan Hormon Insulin……… 12
3. Proses Masuknya Glukosa………. 12 4. Gambaran Kadar Glukosa Darah Pada Waktu yang Berbeda Setelah
Pemberian Perlakuan...………... 25
DAFTAR LAMPIRAN
1. Hasil Uji Anova Kadar Glukosa pada Perlakuan dan Waktu yang Berbeda ...
38 2. Uji Lanjut dengan Menggunakan Uji Duncan dengan Program SAS
9.1.3.…...……….. 38
3. Kondisi Kandang dan Pemeliharaan Tikus ....………... 38
4. Proses Pengambilan Darah…………...………... 39
5. Gambar Aloksan, Madu dan Kayu manis……….. 39
6. Konsumsi Kalori Tikus Diabetes Mellitus Tipe II per Perlakuan ... 40
7. Konsumsi Lemak Tikus Diabetes Mellitus Tipe II per Perlakuan... 40
8. Konsumsi BETN Tikus Diabetes Mellitus Tipe II per Perlakuan... 41
9. Konsumsi Protein Tikus Diabetes Mellitus Tipe II per Perlakuan ... 41
10. Perhitungan Energi Asal BETN…………...……… 41
11. Perhitungan Energi Asal Lemak Kasar...……… 42
12. Perhitungan Energi Asal Protein Kasar ……… 43
13. Kerangka Penelitian………... 42
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit gangguan metabolik dengan karakteristik tingginya kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin dan kinerja insulin. Penderita diabetes mellitus mengalami gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Penyakit diabetes mellitus ini merupakan penyakit yang sudah menjadi perhatian dunia bukan karena prevalensinya meningkat dari tahun ketahun, tetapi juga karena penyakit diabetes mellitus umumnya berhubungan dengan risiko utama gangguan kardiovaskular yang meningkatkan mortalitas di dunia saat ini khusunya di Indonesia.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang penyakit diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Peningkatan jumlah penderita penyakit diabetes mellitus ini mengakibatkan perlunya mencari alternatife cara pencegahan dan penyembuhannya.
Madu merupakan produk alam yang dihasilkan oleh lebah untuk dikonsumsi karena mengandung bahan gizi yang sangat essensial. Madu adalah salah satu sumber karbohidrat yang komponen utamanya adalah gula. Gula yang dikandung
oleh madu sebagian besar berbentuk monosakarida yaitu fruktosa (levulosa) dan glukosa (dektrosa), selebihnya adalah disakarida, polisakarida dan oligosakarida. Madu menjadi sumber karbohidrat yang istimewa bagi penderita diabetes mellitus karena dalam transportasinya bentuk fruktosa yang masuk ke sel-sel tubuh tidak membutuhkan insulin.
Penggunaan tanaman obat mulai mendapatkan perhatian oleh dunia fitofarmaka. Kayu manis (Cinnamomun burmanii) merupakan tanaman obat asli dari Indonesia yang selama ini hanya digunakan untuk bumbu masak oleh ibu rumah tangga. Kayu manis yang memiliki zat aktif yang disebut Cinnamtannin B1 yang dapat mengaktifkan kinerja sel pankreas untuk memproduksi insulin.
dan madu belum banyak dilakukan untuk memperbaiki kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus dengan dosis yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan kayu manis atau madu atau kombinasinya pada hewan model tikus yang menderita diabetes mellitus tipe II.
Tujuan
TINJAUAN PUSTAKA
Permasalahan DM (Diabetes Mellitus) di Indonesia
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang penyakit DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin dan kinerja dari insulin. Hiperglikemia kronik pada DM berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terurtama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah. Komplikasi hiperglikemia merupakan keadaan darurat yang dapat terjadi pada perjalanan penyakit diabetes mellitus. Komplikasi hiperglikemia ini sudah menjadi masalah utama yang meningkatkan angka kematian khususnya di Indonesia (Waspadji, 2004). Semakin meningkatnya jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia mendorong para peneliti atau tim medis untuk mencari tahu obat yang dapat memperbaiki kadar glukosa darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe II.
Madu
Madu merupakan produk alam yang dihasilkan oleh lebah dengan memanfaatkan tanaman bunga untuk dikonsumsi, karena mengandung bahan gizi
Kandungan nutrisi dalam madu terdiri dari beberapa jenis gula sederhana, garam mineral dan bahan lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh manusia (Sihombing, 1994). Penghasil madu adalah lebah dari bahan baku nektar, baik dari bunga maupun bagian lain dari tumbuhan (ekstrafloral). Kadang-kadang madu juga diproduksi dari honeydew, yaitu cairan hasil sekresi serangga yang terdapat dalam jaringan floem. Sekresi tersebut mengandung gula sehingga menarik lebah untuk mengumpulkannya (Gojmerac, 1983).
Madu murni menurut Farmakope Indonesia adalah madu yang diperoleh dari sarang lebah madu Apis mellifera dan spesies lainnya yang telah dimurnikan dengan pemanasan sampai 70°C. Setelah dingin kotoran yang mengapung disaring. Selanjutnya, madu dapat ditambah dengan air secukupnya untuk pengenceran sehingga bobot madu per ml memenuhi persyaratan yang telah dibakukan (Sarwono, 2001).
Komposisi Madu
Komposisi madu sangat beragam walaupun berasal dari pohon yang sama. Hal ini karena pada hakikanya komposisi dominan yang ada pada madu seperti zat gula, zat kimia, enzim, asam, dan vitamin berasal dari zat yang berbeda. Studi chromatographic membuktikan kebenaran bahwa madu lebah terdiri dari berbagai zat gula. Rasa manis yang ada pada madu mencapai 50 % rasa manis yang terdapat pada
gula. Pertambahan jumlah zat gula pada madu secara keseluruhan kadang mencapai 75 – 80 %. Jumlah zat gula inilah yang memberikan keistimewaan rasa pada madu.
Tabel 1. Komposisi Kandungan Madu Dalam 100 g
Komponen Kandungan (%)
Air 17,2
Fruktosa 38,19
Glukosa 31,28
Sukrosa 1,32
Nitrogen 0,041
Mineral 0,2
Protein 0,3
Sumber : Suarez et al., (2010)
Manfaat mengkonsumsi madu sangat baik karena mengandung mineral yang
dibutuhkan oleh tubuh manusia, seperti: Cu, Ma, Si, Cl, Ca, Na, P, Mg, dan Al. Madu juga mengandung vitamin, khususnya dari kelompok B kompleks yaitu B1, B2, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Madu juga mengandung gula yaitu fruktosa, glukosa dan sukrosa yang dalam jumlah kecil dapat meningkatkan energi karena kandungan kalori yang tinggi, sehingga menjadi obat paling efektif untuk kelelahan. Madu dapat mengembalikan glukosa oksigen yang digantikan oleh asam laktat selama kelelahan dan juga menghasilkan rasa hangat ( Aden, 2010).
Faktor-faktor Penentu Kualitas Madu
Glukosa
Gula utama dari nektar adalah sukrosa, selama proses gula akan dihancurkan oleh enzim invertase. Selama proses pematangan, gula nektar akan dipecah oleh aktifitas enzim invertase menjadi bentuk gula sederhana yaitu glukosa dan fruktosa. Secara simultan dengan hancurnya sukrosa, gula baru terbentuk (fruktosa dan glukosa), jenis gula ini tidak terdapat pada nektar.
Kadar Air
madu tinggi. Kandungan air dalam madu dapat diukur dengan suatu alat yang dinamakan hydrometer yang dilengkapi dengan termometer. Selain itu pengukuran air juga dapat menggunakan alat yang dinamakan refractometer. Misalnya kadar air 17,4% refracto indeksnya sebesar 1,493 pada 20 ºC (Sumoprastowo dan Suprapto, 1993).
Keasaman
Kandungan madu terdapat sejumlah asam organik yang memainkan peranan penting dalam proses metabolisme tubuh. Jenis-jenis asam tersebut adalah asam format, asam asetat, asam sitrat, asam laktat, asam butirat, asam oksalat, dan asam suksinat (Al Jamili, 2004).
Warna, Aroma dan Rasa
Madu memiliki bermacam-macam warna yang dipengaruhi oleh jenis tanaman asal dan sifat tanah, tetapi proses pemanasan juga mempengaruhi warna. Pemanasan madu yang lama akan membuat warna madu menjadi lebih gelap. Aroma madu berhubungan dengan warna, semakin gelap warna madu maka aromanya makin keras atau tajam (Sumoprastowo dan Suprapto, 1993). Selain warna dan aroma, rasa madu juga merupakan bagian yang penting dalam pemasaran madu dan dapat rusak selama pengolahan (Sihombing, 1994).
Peranan Madu pada Penderita Diabetes Mellitus
Kayu Manis
Tanaman kayu manis (Cinnamomum burmani Bl) adalah salah satu tanaman yang biasanya digunakan masyarakat sebagai campuran makanan dan jamu. Tanaman kayu manis di Indonesia merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan sudah dikenal luas oleh suku-suku bangsanya, sehingga setiap suku memiliki sebutan khusus untuknya antara lain: Keneel (Jawa), Holim (Melayu), modang siak-siak (Batak), Kuli manih (Minang kabau), Kiamis (Sunda), Cingar (Bali), Onte (Sasak), Kaninggu (Sumba), Kesingar (Nusa Tenggara) (Rismunandar dan Paimin, 2001). Gambar kayu manis dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kayu Manis
Sumber : Rismunandar dan Paimin, 2001
Menurut taksonominya, kayu manis diklasifikasikan sebagai berikut (Rismunandar dan Paimin 2001)
Kingdom : Plantae Divisi : Gymnospermae Subdivisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae Sub kelas : Dialypetalae Ordo : Policarpicae Famili : Lauraceae Genus : Cinnamomum
Spesies : Cinnamomum burmannii
HPLC, spektroskopi ultraviolet dan inframerah. Berdasarkan hasil spektroskopi di dapat bahan aktif yang terdapat dalam kayu manis adalah cinnamtannin B1. cinnamtannin B1 merupakan rangkaian flavan-3-ol atau yang lebih dikenal dengan proantosianidin jenis A. Aktivitas dari cinnamtannin B1 pada kultur sel diuji dengan menggunakan metode reproduksi sel, diferensiasi sel, pengaturan glukosa dan penfosforilan reseptor insulin didalam jaringan adiposit. Hasil menunjukkan bahwa cinnamtannin B1 dapat meningkatkan reproduksi sel pankreas sekitar dua kali lipat setelah 48 jam percobaan yang dilakukan. Dosis cinnamtannin B1 dalam meningkatkan reproduksi sel pankreas adalah 100 – 150 g/ml (0,11-017 mM) (Taher, 2005).
Pencampuran 0,11 mM cinnamtannin B1 dengan 150-200 g/ml air dapat menginduksi konversi sel preadiposit ke jaringan adiposit, aktivitas ini mirip dengan cara kerja dari hormon insulin. Penggunaan cinnamtannin B1 pada kultur jaringan adiposit dapat meningkatkan penggunaan atau pengambilan glukosa sebanyak 32%. Campuran cinnamtannin B1 sebanyak 0,1 mM dan 100mM hormon insulin dapat merangsang penyerapan glukosa sebanyak 1,8 dan 1,7 kali lipat dari masing-masing bahan. cinnamtannin B1 dan ekstrak air juga dapat merangsang pemfosforilan subunit reseptor insulin. Pemfosforilan reseptor insulin tidak berlaku pada sel 3T3-L1 preadiposit. Perangsangan penyerapan glukosa dan pemfosforilan cinnamtannin
B1 disekat oleh wortmannin dan cytochalasin B (Taher, 2005).
Kayu manis adalah tanaman herbal tua yang sudah dipilih oleh cina sekitar 4000 tahun yang lalu sebagai obat. Di negara Cina mempelajari bahwa tanaman kayu manis mempunyai kandungan kimia yang difokuskan untuk memperbaiki kadar gula dalam darah dan konsentrasi lemak dalam tubuh penderita penyakit diabetes mellitus tipe 2. Hal ini diketahui dari percobaan ektrak kayu manis yang dilakukan secara in vitro dalam meningkatkan produksi insulin. Kayu manis dapat meningkatkan produksi insulin dalam pankreas dan dapat memperbaiki bagian organ yang rusak bagi penderita diabetes (Shen Yan, et al, 2010).
pembuangan glukosa oleh jaringan adiposit. Kajian yang telah dijalankan menemukan bahwa cinnamtannin B1 berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan untuk mengobati penyakit diabetes tipe 2 (Taher, 2005).
Tabel 2. Komposisi Kandungan Kayu Manis dalam 100 g
Nutrisi (100 g) Unit Jumlah
Air g 9,5
Kalori Kcal 355
Karbohidrat g 79,9
Protein g 3,9
Lemak g 3,2
Serat g 24,4
Abu g 3,6
Kalsium Mg 1228,5
Sumber : Farrel (1990)
Diabetes Melitus
Diabetes mellitus merupakan penyakit endokrin yang paling umum ditemukan. Diabetes mellitus (DM) adalah kelainan metabolisme tubuh dalam proses pemanfaatan karbohidrat kedalam sel yang ditandai dengan kenaikan gula darah karena kurangnya kadar insulin maupun tidak efisiennya kerja insulin di dalam tubuh. Penyakit ini ditandai oleh hiperglikemia dan glikosuria (Budiyanto, 2002). Adnyana et al.,(2004) juga menambahkan bahwa Diabetes mellitus adalah suatu penyakit hiperglikemia yang bercirikan kekurangan insulin secara mutlak atau penurunan kepekaan sel terhadap insulin.
Klasifikasi Diabetes Mellitus
a. Diabetes Mellitus Tipe I (Diabetes Mellitus Tergantung Insulin)
Pada tipe ini terdapat destruksi dari sel pankreas, sehingga tidak memproduksi insulin lagi dengan akibat sel-sel tidak bisa menyerap glukosa dari darah (Tjay dan Rahardja, 2002). Diabetes mellitus Tipe I ini merupakan bentuk parah yang disertai ketosis pada keadaan tidak diobati. Diabetes ini sering timbul pada anak-anak dan remaja, tetapi kadang-kadang pada orang dewasa terutama yang tidak kegemukan. Diabetes ini merupakan jenis diabetes mellitus yang mengalami kelainan katabolik tanpa adanya insulin yang bersirkulasi, glukagon plasma meningkat dan sel pankreas gagal berespon terhadap semua ransangan insulinogenik (Katzung, 1992).
b. Diabetes Melitus tipe II (Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin)
Pada kondisi Diabetes mellitus II, insulin masih cukup untuk mencegah terjadinya benda-benda keton sehingga jarang dijumpai ketosis. Diabetes mellitus tipe II tersebut cenderung terjadi pada individu usia lanjut atau usia diatas 40 tahun dan biasanya lebih banyak terjadi padda orang gemuk atau orang-orang yang biasanya hidup makmur dan kurang gerak badan. Diabetes jenis ini tidak tergantung dengan insulin , tidak cenderung untuk terjadi ketoasidosis dan tidak berhubungan dengan adanya antibodi terhadap sel-sel langerhans. Diabetes mellitus Tipe II ini
lebih sering terjadi dibandingkan dengan diabetes mellitus Tipe I, perkembangannya lebih lambat karena terjadi akibat kekurangan insulin relatif (Tjay dan Rahardja, 2002). Kasus diabetes yang paling sering dijumpai adalah diabetes mellitus tipe II, yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan berupa resistensi insulin. Jenis diabetes mellitus tipe II merupakan sasaran utama dalam penelitian ini.
c. Diabetes Mellitus tipe lain
Diabetes mellitus tipe lain dapat disebabkan oleh efek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi dan sindrom genetika lain yang berkaitan dengan diabetes mellitus (Katzung, 1992).
d. Diabetes Mellitus Gestasional
artinya kondisi diabetes atau intoleransi glukosa yang didapati selama masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua atau ketiga. Diabetes mellitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal (disekitar waktu melahirkan), dan sang ibu memiliki resiko untuk dapat menderita penyakit diabetes mellitus yang lebih besar dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun setelah melahirkan (Woodley dan Wheland, 1995).
Kerja Insulin
Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel glukosa itu dimetabolismekan menjadi tenaga. Bila insulin tidak ada ( DM Tipe 1) atau bila insulin itu kerjanya tidak baik seperti dalam keadaan resistensi insulin (DM Tipe II), maka glukosa tak dapat masuk sel dengan akibat glukosa akan tetap berada didalam pembuluh darah yang artinya kadarnya di dalam darah meningkat. Dalam keadaan seperti ini badan akan jadi lemah karena tidak ada sumber energi di dalam sel ( Suyono, 1992).
Selain pengaruh langsung hiperglikemia dalam meningkatkan ambilan glukosa baik ke hati maupun jaringan perifer, hormon insulin juga mempunyai peranan sentral dalam pengaturan konsentrasi glukosa darah. Hormon ini dihasilkan oleh sel-sel beta pada pulau-pulau Langerhans pankreas sebagai reaksi langsung
Gambar 2. Peranan Hormon Insulin
Sumber Linder, 1992
Gambar 2. Menunjukkan peranan insulin dalam menurunkan kadar glukosa darah. Dalam kondisi normal ketika glukosa atau karbohidrat masuk kedalam tubuh maka glukosa dalam darah meningkat. Peningkatan glukosa akan ditangkap oleh sinyal dari sel pankreas sehingga memproduksi insulin. Insulin akan menghantarkan glukosa untuk masuk ke dalam sel hati, sel otot dan jaringan adiposa. Glukosa yang berada dalam sel akan disimpan atau disintesis menjadi glikogen oleh hormon insulin baik di sel hati, sel otot dan jaringan adiposa. Masuknya glukosa dalam sel selain dipengaruhi oleh hormon insulin terdapat juga peran glukosa transporter dalam memasukkan glukosa ke dalam sel. Mekanisme masuknya glukosa ke dalam sel dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Proses Masuknya Glukosa
Gambar 3 menunjukkan bahwa masuknya glukosa ke dalam sel otot rangka dan ke jaringan adiposa hanya melalui pembawa di membran plasma yang dikenal sebagai glukosa transporter. Glukosa transporter ini adalah glukosa transporter 4 atau yang lebih dikenal dengan istilah GLUT 4. GLUT 4 ini ditemukan pada jaringan adiposa dan otot serang lintang (otot rangka dan jantung). Glukosa akan masuk ke dalam sel akibat proses kerjasama dari hormon insulin dengan GLUT 4. GLUT 4 menjadi pintu pembuka jalannya glukosa untuk masuk ke dalam sel akibat perantaraan hormon insulin. Pengangkut-pengangkut tersebut diinsersikan ke dalam membran plasma sebagai respon terhadap peningkatan sekresi insulin, sehingga terjadi peningkatan pengangkutan glukosa ke dalam sel. Apabila sekresi insulin berkurang, GLUT4 tersebut sebagian ditarik dari membran sel dan dikembalikan ke simpanan intrasel.
Metabolisme Glukosa pada Kondisi DM
Masuknya glukosa ke dalam darah, meningkatkan kadar glukosa darah, yang menyebabkan tersekresinya insulin dari pankreas dan menurunkan sekresi glukagon. Kondisi ini menyebabkan peningkatan pengambilan glukosa oleh hati, urat-urat daging dan jaringan lemak, juga merangsang sintesis glikogen dalam hati dan urat daging dengan jalan mengurangi cyclic Adenin Monofosfat (cAMP) dan proses fosforilasi atau sintesis glukogen yang aktif. Sintesis dan penyimpanan glikogen
terbatas secara fisik, oleh karena sifat molekul glikogen yang sangat voluminous (terhidrasi) dan diperkirakan bahwa tidak lebih dari 10-15 jam setara energi glukosa dapat disimpan dalam hati (sekitar 100 g). Dalam kondisi pengambilan/konsumsi glukosa maksimal ada kemungkinan lebih banyak lagi glikogen (sekitar 0,5 g) yang diencerkan dalam massa jaringan yang lebih besar, disimpan dalam urat daging (Linder, 1992).
Toleransi Glukosa
dipuasakan semalam. Bentuk kurva yang dihasilkan ditentukan oleh (1) kapasitas tubuh mengekpresikan insulin yang cukup; (2) ketersediaan faktor-faktor lain yang dibutuhkan untuk peningkatan insulin dan kerjanya; (3) tingkat katabolisme insulin; (4) ada atau tidaknya antagonis insulin; (5) adanya/terbebasnya faktor-faktor penghambat regulasi (counterregulator) seperti glukagon, yang akan menghambat penurunan glukosa darah kalau kerja insulin selesai (Linder, 1992).
Tingkat pembebasan insulin dan efeltivitasnya menentukan kecepatan glukosa darah mencapai puncaknya dapat dicapai dengan 160 mg/dl setelah 30-60 menit. Beberapa mekanisme yang sama menentukan waktu yang dibutuhkan untuk menormalkan kembali kadar glukosa darah 70-105 mg/dl selama 1,5-2 jam. Kalau kadar glukosa darah melebihi 180 mg/dl, maka ada glukosa yang akan keluar melalui urin karena tubuli ginjal tidak dapat lagi menyerap kembali glukosa tersebut secara cepat (Linder, 1992).
Hewan Model
Hewan model mempunyai kontribusi yang sangat penting dalam mempelajari penyakit yang akan diaplikasikan pada manusia. Percobaan mengenai diabetes mellitus dengan menggunakan hewan model didasarkan pada patogenesis penyakit tersebut pada manusia (Nugroho, 2006). Terdapat lima macam jenis tikus putih (Albino normal rat, Rattus norvegicus) yang biasa digunakan dalam penelitian yaitu
Long Evans, Osborne Mendel, Sherman, Sprague Dawley, dan Wistar. Tikus
Sprague Dawley betina jarang sekali digunakan sebagai hewan percobaan karena kondisi hormonal yang berfluktuasi pada waktu beranjak dewasa, sehingga dikhawatirkan akan memberi respon yang berbeda dan dapat mempengaruhi hasil penelitian. Tikus Sprague Dawley memiliki ciri-ciri berwarna albino putih, berkepala kecil, dan ekornya lebih panjang daripada badannya dan pertumbuhan dari tikus
Sprague Dawley akan menurun setelah 100 hari.
lebih besar dari tikus mencit dan wistar sehingga mudah untuk digunakan sebagai penelitian (Haris, 2009).
Aloksan Sebagai Bahan Induksi Diabetes Mellitus Tipe II
MATERI DAN METODE
Lokasi dan waktu
Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu pada bulan November 2011- Maret 2012. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Satwa Harapan Blok C Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Materi
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum kontrol, madu, kayu manis dan 45 ekor tikus putih galur Sprague dawley yang positif DM II dengan umur satu bulan dan bobot badan 100 g. Tikus model yang digunakan mengalami DM tipe II akibat peyuntikan aloksan. Bahan lain yang digunakan adalah NaCl, aloksan, alkohol 70 %. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang tikus, tempat pakan dan air minum, alat digital pengukur gula darah (Blood glucose Test Mater GlucoDrTM), penyaring kayu manis, blender natioanal, kapas, masker, spoit 1 ml, sarung tangan, alat tulis, kamera, komputer dan prog SAS.
Prosedur
Penyusunan Ransum Tikus
Penyusunan ransum dilakukan di laboratorim Nutrisi Pedaging Departemen INTP, Fakultas Peternakan dan pembuatan pellet pakan dilakukan di industri pakan indofeed, Bogor. Penyusunan pakan ini dilakukan dengan terlebih dahulu
Tabel 3. Kualitas Bahan Pakan Tikus Percobaan
Bahan BK PK LK SK Ca P EM
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (Kkal/g)
Jagung 89,74 8,51 3,59 2,5 0,01 0,28 3,620
Dedak padi 87,7 13 8,64 13,9 0.08 1,39 1,900 Bungkil
Kedelai 88,10 46,90 2,66 5,90 0.37 0,71 2,550 Tepung Ikan 91,90 55 7,52 0,7 7,19 2.88 2,750
DCP 90 0 0 0 16 21 0
NaCl 90 0 0 0 0.3 0 0
CaCO3 90 0 0 0 38 0 0
Sumber : Hartadi et al.(1990)
Tabel 4. Komposisi Ransum Tikus
Bahan Jumlah PK LK SK Ca P BETN EM
BK (%) (%) (%) (%) (%) (%) (Kkal/kg)
Jagung 45 3,83 1,71 1,13 0 0,13 33,39 1,485
Dedak padi 33 4,29 1,65 3,96 0,02 0,07 20,13 6,27
Bungkil kedelai
12 5,40 0,06 0,36 0,02 0,04 4,86 3,06
Tepung ikan 6 1,80 0,12 0,06 0,39 0,17 3,54 165
DCP 1 0 0 0 0,22 0 0,90 0
Garam 2 0 0 0 0,01 0 1,80 0
CaCO3 1 0 0 0 0,38 0 0,90 0
Total 15,32 3,54 5,51 1,04 0,41 65,52 2,583
Analisis Komposisi Nutrien Madu dan Kayu Manis
Madu yang dicampur dengan bubuk kayu manis terlebih dahulu dilakukan penggilingan kayu manis dengan menggunakan mesin penggiling. Masing-masing bahan seperti bubuk kayu manis dan madu kemudian dianalisis jumlah kalorinya dengan Bom Kalorimeter di Laboratorium Industri Pakan Institut Pertanian Bogor.
Tabel 5. Hasil Uji Proksimat Komposisi Nutrien dari, Madu dan KayuManis.
Bahan Bahan Kering
(%)
Keterangan : *) Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor
**) Laboratorium Nutrisi dan Biologi Radiasi , PAU, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Persiapan Hewan Model
Tikus sebanyak 45 ekor dipelihara dalam kandang dan terlebih dahulu ditimbang bobot badannya ± 98,6 - 100 g/ekor kemudian diberi pakan sejumlah 10 g/ekor/hari dan memberikan air minum ad libitum. Adaptasi terhadap pakan dan lingkungan atau kandang yang baru dilakukan selama ± 14 hari
Penyuntikan Aloksan
mellitus tipe II pada pukul 08.00 WIB. Hari kelima hewan model dipuasakan selama 16 jam lagi dan kemudian dilakukan pengukuran kadar glukosa darah tikus.
Rancangan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL fac torial intime dalam waktu yang sama dengan dua faktor. Faktor pertama terdiri dari lima jenis perlakuan yaitu:
K = Kelompok kontrol yang diberi ransum kontrol dan air minum biasa. M = Kelompok yang diberi ransum kontrol + madu sebanyak 1 ml/ ekor CM = Kelompok yang diberi ransum kontrol + kayu manis sebanyak 0,004
g/ekor
C1M = Kelompok yang diberi ransum kontrol + madu 1 ml/ekor + kayu manis 0,004 g/ekor
C2M = Kelompok yang diberi ransum kontrol + madu 1 ml/ekor + kayu manis 0,008 g/ekor
Faktor kedua adalah waktu pengambilan data (empat titik) yaitu 30 menit, 60 menit, 24 jam, dan 26 jam setelah pemberian perlakuan. Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2006) model matematika yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
Yijk = µ + αi + ij + ωk + jk + αωik +€ijk Keterangan :
Yijk = Nilai pengamatan untuk perlakuan pemberian madu yang dicampur dengan bubuk kayu manis terhadap tikus yang mengalami kadar gula darah tinggi
µ = Rataan kadar gula darah
αi = Pengaruh faktor perlakuan (kontrol, kayu manis 0,004 g, madu 1 ml, kayu manis 0,004 g + 1 ml madu dan kayu manis 0,008 g + 1 ml madu)
ij = Komponen acak perlakuan ωk = Pengaruh waktu Pengamatan jk = Komponen acak waktu pengamatan
αωik = Pengaruh interaksi antara perlakuan dengan waktu
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati yaitu kadar glukosa darah tikus dalam keadaan normal, setelah diinduksi aloksan dan setelah pemberian perlakuan. Sebelumnya dilakukan
pengukuran konsumsi karbohidrat, protein dan lemak dan asupan kalori.
Gula Darah
Pengukuran gula darah dilakukan pada keadaan tikus sehat, setelah diinduksi aloksan dan setelah pemberian perlakuan. Pengamatan dilakukan pada menit ke 30, 60, 24 jam dan 26 jam stelah dicekok dengan perlakuan (Adnyana et al. 2004).
Pengukuran glukosa darah dilakukan dengan menggunakan alat Blood glucose Test Mater GlucoDrTM. Darah diambil dari bagian arteri caudalis yang sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70%. Darah yang sudah diambil disentuhkan ke alat glukometer. Kadar glukosa akan terbaca dilayar GlucoDrTM setelah 11 detik pengamatan dalam satuan mg/dl.
Konsumsi Karbohidrat, Lemak, Protein dan Asupan Kalori
Pengukuran konsumsi karbohidrat, lemak kasar dan protein kasar dilakukan
dengan cara perkalian konsumsi bahan kering dan bahan perlakuan dengan jumlah kandungan karbohidrat dari pakan untuk karbohidrat. Begitu juga dengan perhitungan lemak dan protein. Hasil konsumsi bahan kering dan bahan perlakuan dikalikan dengan kandungn protein kasar untuk konsumsi protein. Konsumsi lemak juga dihitung dengan cara perkalian bahan kering pakan dan bahan perlakuan dengan jumah protein kasar. Asupan kalori dihitung dengan cara karbohidrat dikalikan dengan 4,1 satuan kalori/g, untuk lemak dikalikan 9,1 satuan kalori/g, dan protein dikalikan 4 satuan kalori/g.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Nilai Karbohidrat dan Kalori Ransum, Madu dan Kayu Manis
Hasil perhitungan konsumsi karbohidrat, protein, lemak dan sumbangan
kalori dari karbohidrat, protein dan lemak dari ransum, madu, kayu manis dan campuran antara madu dan kayu manis yang diberikan pada hewan model selama satu bulan penelitian, seperti tertera pada Tabel 6 dan Tabel 7.
Tabel 6. Konsumsi BETN, Lemak, dan Protein Tikus Selama Penelitian
Perlakuan Bahan Kering (g) BETN (g) Lemak (g) Protein (g) ransum kontrol + kayu manis 0,008 g + madu 1ml; (Hasil perhitungan, 2012).
Tabel 7. Konsumsi Total Energi asal BETN, Lemak Kasar, dan Protein Kasar
Perlakuan Energi Asal BETN (kal) ransum kontrol + kayu manis 0,008 g + madu 1ml; (Hasil perhitungan, 2012).
terhadap status kalori yang ada di dalam tubuh. Jumlah kalori asal karbohidrat yang dikonsumsi akan sangat berpengaruh terhadap kadar glukosa darah, karena pada penderita diabtes mellitus tipe II mengalami resistensi insulin, sehingga apabila jumlah glukosa banyak masuk kedalam tubuh akan mengakibatkan penumpukan glukosa darah pada darah.
Pembuatan hewan model diabetes tipe II ini dengan cara penyuntikan aloksan dengan dosis 125 mg/ kg BB. Penyuntikan aloksan mengakibatkan kerusakan sel pankreas. Kerusakan sel pankreas ini mengakibatkan hormon insulin tidak diproduksi dengan baik. Resistensi insulin mengakibatkan asupan karbohidrat dan kalori yang masuk ke dalam tubuh tidak bisa diantarkan ke sel, sehingga glukosa menumpuk di darah. Akibatnya kadar glukosa dalam darah meningkat seperti yang terjadi pada penderita diabetes mellitus tipe II. Hal ini lah yang mengakibatkan konsumsi karbohidrat yang diberikan tidak dapat di metabolisme di dalam tubuh tikus untuk menjadi ATP, sehingga glukosa yang berasal dari pakan menumpuk di dalam darah.
Kebutuhan karbohidrat dari pakan bagi seekor tikus dengan berat 98,6 g – 100 g adalah 3,6 – 4,5 g (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988). Jumlah karbohidrat minimal yang dikonsumsi oleh masing-masing tikus selama penelitian sebesar 5,83 – 7,09 g. Jumlah karbohidrat yang masuk kedalam tubuh tikus melebihi dari batas
normal yaitu 3,6 – 4,5 g. Bila dibanding dengan yang disarankan Smith dan Mangkoewidjojo (1988) jumlah karbohidrat yang masuk kedalam tubuh hewan model sudah diatas batasan normal tetapi bukanlah menjadi salah satu penyebab kadar glukosa darah meningkat.
Kadar Glukosa Darah
Hasil pengukuran kadar glukosa darah tikus model pada saat keadaan normal dan setelah diinduksi aloksan dengan dipuasakan terlebih dahulu selama 16 jam, tertera pada Tabel 8.
Tabel 8. Kadar Gukosa Darah Hewan Model pada Kondisi Normal dan setelah Diinduksi Aloksan
Kelompok hewan model
Kadar glukosa darah normal (mg/dl)
Kadar glukosa darah diinduksi aloksan (mg/dl)
K 72,00 ± 1,00 360,67 ± 220,30
M 102,00 ± 44,03 479,33 ± 209,00
CM 103,67 ± 15,31 520,30 ± 106,02
C1M 108,33 ± 53,26 265,33 ± 12,86
C2M 99,33 ± 30,46 365,00 ± 184,58
Rata-rata 92,27 ± 26,89 398,13 ± 169,10
Keterangan : K = ransum kontrol + air biasa; M = ransum kontrol + madu; CM = ransum kontrol + kayu manis 0,004 g; C1M = ransum kontrol + kayu manis 0,004 g + madu 1 ml; C2M = ransum kontrol + kayu manis 0,008 g + madu 1ml; (Hasil perhitungan, 2012).
Kadar glukosa darah hewan model dalam keadaan normal setelah dipuasakan selama 16 jam menunjukkan kadar glukosa yang normal yaitu dengan rata-rata 92,27 ± 26,89 mg/dl. Hasil yang didapatkan sesuai dengan penelitian sebelumnya (Taguchi, 1985) yang mengatakan bahwa kadar glukosa normal pada tikus jantan dengan galur
semua sel yang membutuhkan, sehingga keadaan glukosa dalam darah tetap normal dan mengakibatkan hewan model tetap dalam keadaan sehat.
Metabolisme hewan model akan berubah ketika mengalami gangguan pada sel pankreas. Kadar glukosa darah akan meningkat jika tidak ada hormon insulin yang disekresikan oleh sel pankreas. Sel pankreas yang mengalami kerusakan akibat penyuntikan aloksan akan dapat disembuhkan kembali, namun ada yang mengalami kerusakan total sehingga pankreas tidak dapat menghasilkan hormon insulin. Hal ini disebabkan oleh cara dan dosis penyuntikan aloksan yang kurang tepat. Kadar glukosa darah hewan model ini mengalami peningkatan setelah dilakukan penyuntikan dengan aloksan. Kadar glukosa darah dari semua perlakuan meningkat menjadi lebih dari 105 mg/dl dalam keadaan puasa.
Kadar glukosa darah pada hewan model setelah diinduksi aloksan mengalami peningkatan yang sangat tinggi yaitu rata-rata 398,13 mg/dl atau aloksan dapat meningkatkan kadar glukosa darah hewan model sekitar 432,60 % dibandingkan dengan kadar glukosa darah tikus pada keadaan normal sebelum diinduksi aloksan. Hal ini menunjukkan bahwa efek penginduksian aloksan dengan dosis 125 mg/kgBB berhasil mengakibatkan hewan model menderita diabetes mellitus. Penelitian sebelumnya yang menggunakan hewan model juga mengalami peningkatan kadar glukosa darah pada tikus dengan cara penginduksian aloksan melalui subkutan
(Studiawan dan Santoso, 2010).
Penyuntikan aloksan mengakibatkan kerusakan sel pankreas secara total sehingga produksi insulin semakin sedikit, dan berakibat pada peningkatan kadar glukosa darah yang permanen. Yuriska (2012), mengatakan aloksan juga berpotensi merusak substansi esensial di dalam sel pankreas sehingga menyebabkan berkurangnya granula-granula reseptor insulin. Kerusakan sel pankreas setelah diinduksi oleh aloksan sama kondisinya dengan penderita diabetes mellitus tipe II.
Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini diduga bahwa pemberian kayu manis 0,004 g dan madu 1 ml dengan waktu yang singkat yaitu 30 menit, 60 menit, 24 jam dan 26 jam tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam penurunan kadar glukosa darah pada tikus penderita diabetes mellitus tipe II. Obat herbal adalah jenis obat yang tidak dapat dilihat khasiat atau hasilnya dalam waktu yang singkat. Penelitian sebelumnya dengan menggunakan bahan herbal lainnya dalam menurunkan kadar gula darah dilakukan selama 3 bulan dengan alasan karena respon obat herbal tidak sama dengan respon dari obat kimia yang dapat dilihat hasilnya secara singkat (Gunawan, 2011).
Tabel 9. Kadar Glukosa Darah Hewan Model Setelah Pemberian Perlakuan Jenis
perlakuan
Kadar gula darah tikus putih (mg/dl)
Kadar glukosa diinduksi aloksan
30 menit 60 menit 24 jam 26 jam Rata-rata
K 360,67 ± 220,30 360,67 ± 220,30 360,67 ± 220,30 360,67 ± 220,30 360,67 ± 220,30 360,67 ± 220,30d
M 479,33 ± 209,00 264,33 ± 188,88 252,66 ± 180,28 289,33 ± 242,46 251,00 ± 171,03 264,33 ± 169,29c
CM 520,30 ± 106,02 314,00 ± 170,27 421,00 ± 60,83 311,83 ± 157,03 399,67 ± 250,36 353,67±160,82b
C1M 265,33 ± 12,86 433,50 ± 27,57 331,00 ± 204,27 297,00 ± 158,37 409,00 ± 268,23 361,64 ± 176,26b
C2M 365,00 ± 184,58 476,67 ± 58,59 460,67 ± 73,92 492 ± 53,84 485,33 ± 44,64 458,92 ± 57,96a
Rata-rata 398,13 ± 169,10 309,43 ± 173,09 313,87 ± 172,78 275,07 ± 163,45 329,00 ± 209,58 306,79 ± 177,13
Hasil pengamatan dari 30 menit sampai dengan 26 jam setelah pemberian perlakuan terlihat perbedaan kadar glukosa darah bila dibandingkan dengan kadar glukosa darah setelah diinduksi aloksan yaitu menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah bila dibandingkan dengan kadar glukosa darah setelah diinduksi aloksan. Secara statistik perlakuan yang diberikan berpengaruh menurunkan kadar glukosa darah (P < 0,05).
Kadar glukosa darah pada perlakuan kontrol dengan konsumsi BETN sebanyak 5,83 g setelah diinduksi aloksan yaitu 360,67 ± 220,30 mg/dl. Pada perlakuan kontrol hewan model hanya diberikan air minum saja sebanyak 1 ml dan pengukuran kadar glukosa darah hanya dilakukan pada 30 menit pertama. Pengukuran kadar glukosa darah pada hewan kontrol dilakukan satu kali karena asumsi datanya sama.
Perlakuan madu (1ml/ ekor) dengan konsumsi BETN sebanyak 7,09 g memberikan respon yang lebih efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah bila dibandingkan dengan perlakuan kayu manis dengan dosis bertingkat. Pemberian madu memberikan penurunan kadar glukosa darah sampai 264,33 ± 169,29 mg/dl atau sekitar 33,61 % dibandingkan sesaat setelah diinduksi aloksan, namun masih tinggi bila dibandingkan kadar glukosa normal. Madu yang diberikan dengan tujuan sebagai sumber karbohidrat yaitu dari kandungan fruktosanya dengan mudah dapat
diserap sel tubuh tikus yang menderita Diabetes mellitus tipe II, terlihat pada hasil perlakuan yang hanya diberikan madu mengalami penurunan kadar glukosa darah walaupun tidak mencapai normal. Pengamatan pemberian madu yang dijadikan sebagai sumber karbohidrat yaitu dari kandungan fruktosanya bagi hewan model terlihat sedikit lebih segar walaupun dalam keadaan diabetes dibandingkan dengan yang lain dan pada hewan jenis perlakuan ini yang lebih lama bertahan hidup.
dalam adiposit mengakibatkan konsentrasi asam lemak non-esterified meningkat dan akibatnya dapat menurunkan sensifitas insulin melalui peningkatan kandungan lipida
intramyocelluler dalam sel otot tempat reseptor insulin berada (Ermawati, 2007). Pada perlakuan kayu manis (CM) dengan konsusmi BETN sebanyak 5,83 g menunjukkan kadar glukosa darah yang mengalami penurunan sekitar 11,17 % bila dibandingkan kadar glukosa darah setelah diinduksi aloksan. Senyawa aktif di kayu manis berupa cinnamtannin B1 dengan dosis 0,004 g/ekor masih belum mampu menurunkan kadar glukosa darah. Disamping itu tingkat kerusakan sel pankreas yang lanjut mengakibatkan insulin tidak dapat diproduksi. Kayu manis mengandung zat aktif yang disebut cinnamtannin B1 bertindak secara langsung pada reseptor insulin subunit dengan mengaktifkan PI3-kinase yang akan merangsang translokasi pengangkut glukosa 4 (Taher,2005).
Tikus yang diberi perlakuan kayu manis 0,004 g/ekor dan madu 1 ml/ekor (C1M) dengan konsumsi BETN sebanyak 7,04 g mengalami penurunan kadar glukosa darah sekitar 9,16 % dibandingkan dengan kadar glukosa darah sesaat setelah diinduksi aloksan. Perlakuan kayu manis 0,008 g/ekor dan madu 1 ml/ekor (C2M) dengan konsumsi BETN sebanyak 9,89 memberikan respon yang berbeda yaitu menyebabkan kenaikan kadar glukosa darah sekitar 13,24 % dibandingkan dengan kadar glukosa darah setelah diinduksi aloksan. Perlakuan kayu manis (CM)
glukosa darah sampai pada batas normal yaitu dibawah 105,20 ± 14,2 mg/dl (Taguchi, 1985).
Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi pada perlakuan kayu manis 0,004 g/ekor (CM) dan kayu manis 0,004 g/ekor dan madu 1 ml/ekor (C1M) tidak bermakna secara statisktik karena hasil kadar glukosa darah yang didapatkan memiliki standar deviasi yang tinggi. Standar deviasi yang tinggi ini antara lain diakibatkan respon yang diberikan dari setiap hewan model yang bervariasi terhadap kadar glukosa darah. Kadar glukosa yang berbeda-beda ini juga disebabkan karena penyamarataan waktu pada ke 45 ekor tikus selama percobaan. Seharusnya waktu harus diatur supaya setiap hewan bisa mendapatkan waktu yang sama selama pengamatan. Terjadinya penurunan kadar glukosa darah pada perlakuan kayu manis 0,004 g/ekor (CM) dan kayu manis 0,004 g/ekor dan madu 1 ml/ekor (C1M) dalam jumlah yang sedikit dan peningkatan kadar glukosa darah pada perlakuan kayu manis 0,008 g/ekor dan madu 1ml/ekor (C2M) ini diduga akibat cinnamtannin B1 yang terdapat dalam kayu manis sebenarnya mempunyai dosis optimal dalam menggertak kerja hormon insulin. Dugaan lain yaitu adanya pengaruh dari penyuntikan aloksan yang mengakibatkan kerusakan permanen pada sel pankreas. Kerusakan yang permanen ini mengakibatkan zat aktif yang terdapat dalam kayu manis yaitu cinnamtannin B1 tidak mampu untuk memperbaiki kerusakan sel pankreas.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pengaruh penginduksian aloksan dengan dosis 125 cc/Kg BB telah mengakibatkan kerusakan sel pankreas. Perlakuan madu lebih efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Pemberian kayu manis kurang efektif dalam penurunan kadar glukosa darah bila kondisi pankreas rusak total. Waktu yang ditentukan yaitu 30 menit, 60 menit, 24 jam dan 26 jam dalam pengambilan data tidak berpengaruh dalam penurunan kadar glukosa darah.
Saran
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. B. N. Polii, SU sebagai dosen pembimbing skripsi yang utama. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof.Dr.Ir. Dewi Apri Astuti, MS. Sebagai dosen pembimbing skripsi kedua dan kepada Ir. Andi Murfi, Msi. sebagai dosen pembimbing akademik. Terima kasih kepada Dr.Ir. Salundik, Msi dan Prof. Dr.Ir.I. Komang G. Wiryawan sebagai dosen penguji.
Penulis mengucapakan terima kasih kepada kedua orang tua, Ayah Horasman
Malau dan Ibu Derita Masdi Silalahi yang telah memberikan doa, dukungan moral maupun material sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan kewajiban belajar selama ini. Terima kasih juga penulis ucapkan untuk saudara terkasih Ladistar, Eni, Masrina, Torkis, Duon dan Merrys terima kasih untuk doa dan dukungan dan motivasinya selama menjalankan perkuliahan dan selama pengerjaan tugas akhir berlangsung. Terima kasih juga kepada rekan sepenelitian saya Gigih Y. Perwira, terim kasih untuk dukungan, bantuan dan semangatnya selama penelitian dan pengerjaan tugas akhir ini.
Terima kasih penulis sampaikan untuk Astra, Ayu Lestari, Paingat, Amudi, Erti, Ester, Regina, Atik, Nanda, Innesya, IPTP 45 yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama penelitian. Penulis juga mengucapkan terimakasih untuk sahabat Ruth, Handrio dan Immanuel yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis selama perkuliahan dan pelaksanaan tugas akhir ini. Kepada teman- teman Gunawan, Tiur, Ria, Chastro, Fitrina, Hisar, Riko, Cheant, Debora, Eksas, Christine, Verawati, Christini, Puyun, Leo, Liber, Gio, Kopral 45, Felichazqizorhe, teman-teman Pondok Putri YN Weny, Dora, Posma, Viva, Lidia, Dita, Heny, Putri, Melly, Mellysa, Rizky, Wirda, Rara, Ester, Septi, Dian, Satriani, Evi, Febi, Nella, Christina, Gusti, Nikita teman- teman Persekutuan Oikumene Protestan Katolik Fapet dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Terimakasih sudah menjadi sahabat yang selalu memberikan dukungan,
DAFTAR PUSTAKA
Aden, R. 2010. Manfaat dan Khasiat Madu. Hanggar Kreator, Yogyakarta.
Adnyana, K. I., E. Yulinah, Andreanus, E. Soemardji, M. I. Komolosasi, J. I. Iwo, Sigit & Suwendar. 2004. Uji aktivitas antidiabetes ekstrak etanol mengkudu (Morinda citrifolia L.). J. Farma dan Toksik. 29 (2) :2004 -2043.
Al Jamili, S. 2004. Khasiat madu dalam Al-qur’an & Sunnah. Jakarta: Cendikia Sentra Muslim.
American Diabetes Mellitus Association. 2004. Clinical Practice Recomendation. USA : Johnson and Johnson Company.
Azima, F., D. Muchtadi, F. R. Zakaria, & B. P. Priosoeryanto. 2004. Potensi anti hiperkolesterol ekstrak cassia vera (Cinnamomun burmanii Nees ex Blume). J. Teknologi dan Industri Pangan. 15 (2) : 0216-2318.
Budiyanto, M. A. K. 2002. Efek hipolipidemik dan hipoglikemik. Nata de coco sglu pada tikus wistar. Disertasi. Universitas Airlangga, Surabaya.
Ermawati, D. 2007. Pengaruh suplementasi fruktosa terhadap profil glukosa darahdan profil
lipida darah pasien diabetes mellitus tipe II. Skripsi. Fakultas Kedokteran Unibraw, Malang.
Farrel, K.T. 1990. Spice, Condiments and Seasoning. 2nd edition. New York: Nostrand Reinhold.
Gojmerac,W. L. 1983. Bees, Beekeeping, Honey, and Pollination. The AVI Publishing Co. Inc. Westport. USA.
Gunawan, E.S. 2011. Pengaruh pemberian ekstrak kayu manis (Cinnamomun burmanii) terhadap gambaran mikroskopis hepar, kadar SGOT dan SGPT darah mencit BALB/C yang diinduksi paracetamol. Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang.
Haris, R. A. 2009. Efektivitas penggunaan iodin 10%, iodin 70% dan iodin 80% dan NaCL
dalam percepatan penyembuhan luka pada punggung tikus jantan Sprague Dawley. Skripsi. Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiah Surakarta, Surakarta.
Hartadi, H., S. Reksokadiprodjo & A. D. Tillman. 1990. Tabel komposisi pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada. Universitas Press Yogyakarta.
Jung U. J., M. K. Lee, Y. B. Park, S. M. Jeon, & M. S. Choi. 2006. Antihyperglycemic and antioxidant properties of caffeic acid in db/ db mice. J. Pharmacol and Experiment Therapeutics 318:476-483.
Katzung, B. G. 1992. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Mattjik, A. A., & I. M. Sumertajaya. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. Jilid 1. Edisi ke-2. Institut Pertanian Bogor (IPB) Press, Bogor.
Murtidjo, B. A. 1991. Memelihara Lebah Madu. Kanisius, Yogyakarta.
National Research Council. 1995. Nutrient Requirement of Laboratory Animals, Fourt Revised Edition. National Academy Press, Washington D.C.
Nugroho, A. E. 2006. Hewan percobaan diabetes melitus: Patologi dan mekanisme aksi diabetogenik. J. Biodiversitas. 4:378-382.
Purbaya, J. R. 2002. Mengenal dan Memanfaatkan Khasiat Madu Alami.Pionir Jaya, Bandung.
Ramesh, B. & K.V.Pugalendi. 2006. Antihyperglycemic effect of umbelliferone in streptozotocin-diabetic rats. J. Med Food 9 (4) : 562–566.
Rismunadar, F & B. Paimin. 2001. Kayu Manis Budi daya & Pengolahan. Jakarta: Penebar swadaya, Jakarta.
Sarwono, B. 2001. Kiat mengatasi Permasalahan Praktis Lebah Madu. Cetakan Pertama. Jakarta: PT. Agro Media Pustaka.
Shen Yan., M. Fukushima, Y. Ito, E. Muraki, T. Hosono, T. Seiki & T. Ariga. 2010. Verification of the antidiabetic effects of cinnamon (Cinnamomun zeylanicum) using insulin uncotrolled type 1 diabetic rats and cultured adipocytes. J. Biosel 14 (12): 2418-2445.
Sihombing, D.T. H. 1994. Ilmu Ternak Lebah Madu. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Smith, J.B. & M. Soesanto. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Jakarta. Universitas Indonesia Salemba 4 : 37-48.
Studiawan, H. & M. H. Santoso. 2005. Uji aktivitas penurunan kadar glukosa darah ekstrak daun Eugenia polyantha pada mencit yang diinduksi aloksan. Skripsi. Fakultas Farmasi. Unuversitas Airlangga. Surabaya.
Suarez, A., S. Tulipani, S. Romandani, E. Bertoli, & M. Battino. 2010. Contribution of honey in nutrition and human health. J. Nutr Metab 3: 15-23.
Suarsana, I. N., B. P. Priosoeryanto, T. Wrediyanti, & M. Bintang. 2010. Sintesis glikogen hati dan otot pada tikus diabetes yang diberi ekstrak tempe. J. Veteriner ISSN : 1411-8327.
Suranto, A. 2004. Khasiat dan Manfaat Madu Herbal. Agromedia Pustaka, Tangerang.
Suyono, S. 1992. Upaya pencegahan primer diabetes dan sekunder dalam mengantisipasi ledakan penderita diabetes menjelang abad ke 21. Pidato Pengukuhan guru besar FKUI Ed., Mosby, London :523-539.
Sumoprastowo, R. M & R. A. Suprapto. 1993. Beternak Lebah Madu Moderm. Jakarta : Bhratara.
Taguchi, Y. 1985. Experimental Animals. Tokyo: Clea Japan, Inc.
Tjay, T. H & K. Raharja. 2002. Obat- obatan Penting, Khasiat, Penggunan dan Efek-Efek Sampingnya Edisi Kelima. PT Elax Media Komputindo, Jakarta.
Yuriska, A. F. 2012. Efek aloksan terhadap kadar glukosa darah tikus wistar. Skripsi. Fakultas Kedoteran. Universitas Diponegoro Semarang, Semarang. Waspadji, S. 2004. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.
Woodley, M. & A. Whelan. 1995. Pedoman Pengobatan. Edisi 1. Yayasan Essentia Medica. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta.
Lampiran 1. Hasil Uji Anova Kadar Glukosa pada Perlakuan dan Waktu yang Berbeda
Pengamatan DF Type I SS Rata-rata F Value Pr > F
Perlakuan 4 882996,93 220749,23 21,43 <,0001
r(perlakuan) 10 553497,63 55349,76 5,37 0,0004
Jam 3 24762,18 8254,05 0,80 0,5053
r(jam) 6 58079,41 9679,90 0,94 0,4852
perlk*jam 12 68999,47 5749,96 0,56 0,8533
Lampiran 2. Uji Lanjut dengan Menggunakan Uji Duncan dengan Program SAS 9.1.3.
Perlakuan Rata-rata pengulangan Grup duncan
M 458,92 12 A
Kontro 367,63 12 B
CM 353,67 12 B
C1M 264,33 12 C
C2M 100 12 D
Lampiran 3. Kondisi Kandang dan Pemeliharaan Tikus (a) Posisi Punyusunan Kandang, (b) Kandang Perlakuan, (c) Pencampuran Bahan Ransum Kontrol, (d) Proses Pelleting
(a) (b)
(c) (d)
Pencampuran Bahan Ransum Kontrol Proses Pelleting
Lampiran 4. Proses Pengambilan Darah (a) Pengambilan Darah, (b) Pengukuran Glukosa Darah,
(a) (b)
Pengambilan Darah Pengukuran Glukosa Darah
Lampiran 5. Aloksan, Madu dan Kayu Manis (a) Bahan Aloksan, (b) Bahan Madu, (c) Kayu Manis
(a) (b)
(c)
Bahan Kayu Manis
Lampiran 6. Konsumsi Kalori Tikus Diabetes Mellitus Tipe II per Perlakuan
Perlakuan Kalori (Kkal)
Kontrol
M CM C1M C2M
8,9g x 2,58 Kkal/g = 22,96
(1,54g x 3,29 Kkal/g) + 22,96 = 28,02 (0,004g x 4,14 Kkal/g) + 22,96 = 22,97 (0,004g x 4,14 Kkal/g) + (1,54g x 3,29 Kkal/g) + 22,96 = 28,03 (0,008g x 4,14 Kkal/g) + (1,54g x 3,29 Kkal/g) + 22,96 = 28,05
Lampiran 7. Konsumsi Lemak Tikus Diabetes Mellitus Tipe II per Perlakuan
Perlakuan Konsumsi Lemak (g/ekor/hari)
Kontrol M CM C1M C2M
Lampiran 8. Konsumsi BETN Tikus Diabetes Mellitus Tipe II per Perlakuan
Lampiran 9. Konsumsi Protein Tikus Diabetes Mellitus Tipe II per Perlakuan
Bahan Protein Kasar (g)
Lampiran 10. Perhitungan Energi Asal BETN
Bahan Energi Asal BETN (kal)
Kontrol
Lampiran 11. Perhitungan Energi Asal Lemak Kasar
Lampiran 13. Perhitungan Energi Asal Protein Kasar
Bahan Energi Asal PK (kal)
Kontrol M CM C1M C2M
Lampiran 14. Kerangka Penelitian
45 ekekor tikus Dikandangkan dengan 15 kelompok kadang, dengan masing masing kandang 3 ekor dan diberikan ransum standart sebanyak 10 g/ekor dan adabtasi selama 2 minggu Dipuasakan selama 1 jam
dan diberikan makan kembali 10g/ekor
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit gangguan metabolik dengan karakteristik tingginya kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin dan kinerja insulin. Penderita diabetes mellitus mengalami gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Penyakit diabetes mellitus ini merupakan penyakit yang sudah menjadi perhatian dunia bukan karena prevalensinya meningkat dari tahun ketahun, tetapi juga karena penyakit diabetes mellitus umumnya berhubungan dengan risiko utama gangguan kardiovaskular yang meningkatkan mortalitas di dunia saat ini khusunya di Indonesia.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang penyakit diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Peningkatan jumlah penderita penyakit diabetes mellitus ini mengakibatkan perlunya mencari alternatife cara pencegahan dan penyembuhannya.
Madu merupakan produk alam yang dihasilkan oleh lebah untuk dikonsumsi karena mengandung bahan gizi yang sangat essensial. Madu adalah salah satu sumber karbohidrat yang komponen utamanya adalah gula. Gula yang dikandung
oleh madu sebagian besar berbentuk monosakarida yaitu fruktosa (levulosa) dan glukosa (dektrosa), selebihnya adalah disakarida, polisakarida dan oligosakarida. Madu menjadi sumber karbohidrat yang istimewa bagi penderita diabetes mellitus karena dalam transportasinya bentuk fruktosa yang masuk ke sel-sel tubuh tidak membutuhkan insulin.
Penggunaan tanaman obat mulai mendapatkan perhatian oleh dunia fitofarmaka. Kayu manis (Cinnamomun burmanii) merupakan tanaman obat asli dari Indonesia yang selama ini hanya digunakan untuk bumbu masak oleh ibu rumah tangga. Kayu manis yang memiliki zat aktif yang disebut Cinnamtannin B1 yang dapat mengaktifkan kinerja sel pankreas untuk memproduksi insulin.
dan madu belum banyak dilakukan untuk memperbaiki kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus dengan dosis yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan kayu manis atau madu atau kombinasinya pada hewan model tikus yang menderita diabetes mellitus tipe II.
Tujuan
TINJAUAN PUSTAKA
Permasalahan DM (Diabetes Mellitus) di Indonesia
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang penyakit DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin dan kinerja dari insulin. Hiperglikemia kronik pada DM berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terurtama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah. Komplikasi hiperglikemia merupakan keadaan darurat yang dapat terjadi pada perjalanan penyakit diabetes mellitus. Komplikasi hiperglikemia ini sudah menjadi masalah utama yang meningkatkan angka kematian khususnya di Indonesia (Waspadji, 2004). Semakin meningkatnya jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia mendorong para peneliti atau tim medis untuk mencari tahu obat yang dapat memperbaiki kadar glukosa darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe II.
Madu
Madu merupakan produk alam yang dihasilkan oleh lebah dengan memanfaatkan tanaman bunga untuk dikonsumsi, karena mengandung bahan gizi
Kandungan nutrisi dalam madu terdiri dari beberapa jenis gula sederhana, garam mineral dan bahan lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh manusia (Sihombing, 1994). Penghasil madu adalah lebah dari bahan baku nektar, baik dari bunga maupun bagian lain dari tumbuhan (ekstrafloral). Kadang-kadang madu juga diproduksi dari honeydew, yaitu cairan hasil sekresi serangga yang terdapat dalam jaringan floem. Sekresi tersebut mengandung gula sehingga menarik lebah untuk mengumpulkannya (Gojmerac, 1983).
Madu murni menurut Farmakope Indonesia adalah madu yang diperoleh dari sarang lebah madu Apis mellifera dan spesies lainnya yang telah dimurnikan dengan pemanasan sampai 70°C. Setelah dingin kotoran yang mengapung disaring. Selanjutnya, madu dapat ditambah dengan air secukupnya untuk pengenceran sehingga bobot madu per ml memenuhi persyaratan yang telah dibakukan (Sarwono, 2001).
Komposisi Madu
Komposisi madu sangat beragam walaupun berasal dari pohon yang sama. Hal ini karena pada hakikanya komposisi dominan yang ada pada madu seperti zat gula, zat kimia, enzim, asam, dan vitamin berasal dari zat yang berbeda. Studi chromatographic membuktikan kebenaran bahwa madu lebah terdiri dari berbagai zat gula. Rasa manis yang ada pada madu mencapai 50 % rasa manis yang terdapat pada
gula. Pertambahan jumlah zat gula pada madu secara keseluruhan kadang mencapai 75 – 80 %. Jumlah zat gula inilah yang memberikan keistimewaan rasa pada madu.
Tabel 1. Komposisi Kandungan Madu Dalam 100 g
Komponen Kandungan (%)
Air 17,2
Fruktosa 38,19
Glukosa 31,28
Sukrosa 1,32
Nitrogen 0,041
Mineral 0,2
Protein 0,3
Sumber : Suarez et al., (2010)
Manfaat mengkonsumsi madu sangat baik karena mengandung mineral yang
dibutuhkan oleh tubuh manusia, seperti: Cu, Ma, Si, Cl, Ca, Na, P, Mg, dan Al. Madu juga mengandung vitamin, khususnya dari kelompok B kompleks yaitu B1, B2, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Madu juga mengandung gula yaitu fruktosa, glukosa dan sukrosa yang dalam jumlah kecil dapat meningkatkan energi karena kandungan kalori yang tinggi, sehingga menjadi obat paling efektif untuk kelelahan. Madu dapat mengembalikan glukosa oksigen yang digantikan oleh asam laktat selama kelelahan dan juga menghasilkan rasa hangat ( Aden, 2010).
Faktor-faktor Penentu Kualitas Madu
Glukosa
Gula utama dari nektar adalah sukrosa, selama proses gula akan dihancurkan oleh enzim invertase. Selama proses pematangan, gula nektar akan dipecah oleh aktifitas enzim invertase menjadi bentuk gula sederhana yaitu glukosa dan fruktosa. Secara simultan dengan hancurnya sukrosa, gula baru terbentuk (fruktosa dan glukosa), jenis gula ini tidak terdapat pada nektar.
Kadar Air
madu tinggi. Kandungan air dalam madu dapat diukur dengan suatu alat yang dinamakan hydrometer yang dilengkapi dengan termometer. Selain itu pengukuran air juga dapat menggunakan alat yang dinamakan refractometer. Misalnya kadar air 17,4% refracto indeksnya sebesar 1,493 pada 20 ºC (Sumoprastowo dan Suprapto, 1993).
Keasaman
Kandungan madu terdapat sejumlah asam organik yang memainkan peranan penting dalam proses metabolisme tubuh. Jenis-jenis asam tersebut adalah asam format, asam asetat, asam sitrat, asam laktat, asam butirat, asam oksalat, dan asam suksinat (Al Jamili, 2004).
Warna, Aroma dan Rasa
Madu memiliki bermacam-macam warna yang dipengaruhi oleh jenis tanaman asal dan sifat tanah, tetapi proses pemanasan juga mempengaruhi warna. Pemanasan madu yang lama akan membuat warna madu menjadi lebih gelap. Aroma madu berhubungan dengan warna, semakin gelap warna madu maka aromanya makin keras atau tajam (Sumoprastowo dan Suprapto, 1993). Selain warna dan aroma, rasa madu juga merupakan bagian yang penting dalam pemasaran madu dan dapat rusak selama pengolahan (Sihombing, 1994).
Peranan Madu pada Penderita Diabetes Mellitus
Kayu Manis
Tanaman kayu manis (Cinnamomum burmani Bl) adalah salah satu tanaman yang biasanya digunakan masyarakat sebagai campuran makanan dan jamu. Tanaman kayu manis di Indonesia merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan sudah dikenal luas oleh suku-suku bangsanya, sehingga setiap suku memiliki sebutan khusus untuknya antara lain: Keneel (Jawa), Holim (Melayu), modang siak-siak (Batak), Kuli manih (Minang kabau), Kiamis (Sunda), Cingar (Bali), Onte (Sasak), Kaninggu (Sumba), Kesingar (Nusa Tenggara) (Rismunandar dan Paimin, 2001). Gambar kayu manis dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kayu Manis
Sumber : Rismunandar dan Paimin, 2001
Menurut taksonominya, kayu manis diklasifikasikan sebagai berikut (Rismunandar dan Paimin 2001)
Kingdom : Plantae Divisi : Gymnospermae Subdivisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae Sub kelas : Dialypetalae Ordo : Policarpicae Famili : Lauraceae Genus : Cinnamomum
Spesies : Cinnamomum burmannii