• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu pada bulan November 2011- Maret 2012. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Satwa Harapan Blok C Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Materi

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum kontrol, madu, kayu manis dan 45 ekor tikus putih galur Sprague dawley yang positif DM II dengan umur satu bulan dan bobot badan 100 g. Tikus model yang digunakan mengalami DM tipe II akibat peyuntikan aloksan. Bahan lain yang digunakan adalah NaCl, aloksan, alkohol 70 %. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang tikus, tempat pakan dan air minum, alat digital pengukur gula darah (Blood glucose Test Mater GlucoDrTM), penyaring kayu manis, blender natioanal, kapas, masker, spoit 1 ml, sarung tangan, alat tulis, kamera, komputer dan prog SAS.

Prosedur Penyusunan Ransum Tikus

Penyusunan ransum dilakukan di laboratorim Nutrisi Pedaging Departemen INTP, Fakultas Peternakan dan pembuatan pellet pakan dilakukan di industri pakan indofeed, Bogor. Penyusunan pakan ini dilakukan dengan terlebih dahulu menyiapkan segala bahan pakan yang dibutuhkan. Bahan atau formulasi pakan yang digunakan adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Kualitas Bahan Pakan Tikus Percobaan Bahan BK PK LK SK Ca P EM (%) (%) (%) (%) (%) (%) (Kkal/g) Jagung 89,74 8,51 3,59 2,5 0,01 0,28 3,620 Dedak padi 87,7 13 8,64 13,9 0.08 1,39 1,900 Bungkil Kedelai 88,10 46,90 2,66 5,90 0.37 0,71 2,550 Tepung Ikan 91,90 55 7,52 0,7 7,19 2.88 2,750 DCP 90 0 0 0 16 21 0 NaCl 90 0 0 0 0.3 0 0 CaCO3 90 0 0 0 38 0 0

Sumber : Hartadi et al.(1990)

Tabel 4. Komposisi Ransum Tikus

Bahan Jumlah PK LK SK Ca P BETN EM

BK (%) (%) (%) (%) (%) (%) (Kkal/kg) Jagung 45 3,83 1,71 1,13 0 0,13 33,39 1,485 Dedak padi 33 4,29 1,65 3,96 0,02 0,07 20,13 6,27 Bungkil kedelai 12 5,40 0,06 0,36 0,02 0,04 4,86 3,06 Tepung ikan 6 1,80 0,12 0,06 0,39 0,17 3,54 165 DCP 1 0 0 0 0,22 0 0,90 0 Garam 2 0 0 0 0,01 0 1,80 0 CaCO3 1 0 0 0 0,38 0 0,90 0 Total 15,32 3,54 5,51 1,04 0,41 65,52 2,583

Keterangan : BK: Bahan Kering; PK : Protein Kasar; LK: Lemak Kasar SK: Serat Kasar; BETN: Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen; EM: Energi Metabolis.

Analisis Komposisi Nutrien Madu dan Kayu Manis

Madu yang dicampur dengan bubuk kayu manis terlebih dahulu dilakukan penggilingan kayu manis dengan menggunakan mesin penggiling. Masing-masing bahan seperti bubuk kayu manis dan madu kemudian dianalisis jumlah kalorinya dengan Bom Kalorimeter di Laboratorium Industri Pakan Institut Pertanian Bogor.

Tabel 5. Hasil Uji Proksimat Komposisi Nutrien dari, Madu dan KayuManis.

Bahan Bahan Kering

(%) Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Kayu Manis* Madu** 94,17 63,73 7,66 1,16 6,07 0,87 25,53 -

Keterangan : *) Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor

**) Laboratorium Nutrisi dan Biologi Radiasi , PAU, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Persiapan Hewan Model

Tikus sebanyak 45 ekor dipelihara dalam kandang dan terlebih dahulu ditimbang bobot badannya ± 98,6 - 100 g/ekor kemudian diberi pakan sejumlah 10 g/ekor/hari dan memberikan air minum ad libitum. Adaptasi terhadap pakan dan lingkungan atau kandang yang baru dilakukan selama ± 14 hari

Penyuntikan Aloksan

Hewan model sebanyak 45 ekor yang sudah beradaptasi dengan lingkungan baru dipuasakan selama 16 jam sebelum dilakukan penyuntikan aloksan dengan dosis 125 cc/Kg BB (Yuriska, 2012). Penyuntikan aloksan pada tikus tepatnya di bagian subkutan. Cara penyuntikan subkutan adalah menentukan lokasi penyuntikan yaitu 1/3 atas lengan atas atau 1/3 atas paha atas sekitar pusat atau 1/3 bagian dorsal. Kulit diangkat sedikit dengan cubitan ringan oleh tangan kiri kemudian jarum ditusukkan mengarah ke atas kira-kira sudut suntikan 45o. Setelah penyuntikan aloksan tikus dipuasakan lagi selama satu jam kemudian baru diberikan pakan dan minuman selama lima hari. Pemberian pakan dilakukan satu kali dalam sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB dengan jumlah pakan yang diberikan 10 g/ ekor. Pemberian perlakuan yaitu madu dengan tambahan kayu manis sesuai dengan dosis yang sudah ditentukan diberikan selama dua hari setelah tikus percobaan mengalami Diabetes

mellitus tipe II pada pukul 08.00 WIB. Hari kelima hewan model dipuasakan selama 16 jam lagi dan kemudian dilakukan pengukuran kadar glukosa darah tikus.

Rancangan dan Analisis Data

Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL fac torial intime dalam waktu yang sama dengan dua faktor. Faktor pertama terdiri dari lima jenis perlakuan yaitu:

K = Kelompok kontrol yang diberi ransum kontrol dan air minum biasa. M = Kelompok yang diberi ransum kontrol + madu sebanyak 1 ml/ ekor CM = Kelompok yang diberi ransum kontrol + kayu manis sebanyak 0,004

g/ekor

C1M = Kelompok yang diberi ransum kontrol + madu 1 ml/ekor + kayu manis 0,004 g/ekor

C2M = Kelompok yang diberi ransum kontrol + madu 1 ml/ekor + kayu manis 0,008 g/ekor

Faktor kedua adalah waktu pengambilan data (empat titik) yaitu 30 menit, 60 menit, 24 jam, dan 26 jam setelah pemberian perlakuan. Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2006) model matematika yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

Yijk = µ + αi + ij + ωk + jk + αωik +€ijk Keterangan :

Yijk = Nilai pengamatan untuk perlakuan pemberian madu yang dicampur dengan bubuk kayu manis terhadap tikus yang mengalami kadar gula darah tinggi

µ = Rataan kadar gula darah

αi = Pengaruh faktor perlakuan (kontrol, kayu manis 0,004 g, madu 1 ml, kayu manis 0,004 g + 1 ml madu dan kayu manis 0,008 g + 1 ml madu)

ij = Komponen acak perlakuan ωk = Pengaruh waktu Pengamatan jk = Komponen acak waktu pengamatan

αωik = Pengaruh interaksi antara perlakuan dengan waktu

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati yaitu kadar glukosa darah tikus dalam keadaan normal, setelah diinduksi aloksan dan setelah pemberian perlakuan. Sebelumnya dilakukan pengukuran konsumsi karbohidrat, protein dan lemak dan asupan kalori.

Gula Darah

Pengukuran gula darah dilakukan pada keadaan tikus sehat, setelah diinduksi aloksan dan setelah pemberian perlakuan. Pengamatan dilakukan pada menit ke 30, 60, 24 jam dan 26 jam stelah dicekok dengan perlakuan (Adnyana et al. 2004). Pengukuran glukosa darah dilakukan dengan menggunakan alat Blood glucose Test Mater GlucoDrTM. Darah diambil dari bagian arteri caudalis yang sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70%. Darah yang sudah diambil disentuhkan ke alat glukometer. Kadar glukosa akan terbaca dilayar GlucoDrTM setelah 11 detik pengamatan dalam satuan mg/dl.

Konsumsi Karbohidrat, Lemak, Protein dan Asupan Kalori

  Pengukuran konsumsi karbohidrat, lemak kasar dan protein kasar dilakukan dengan cara perkalian konsumsi bahan kering dan bahan perlakuan dengan jumlah kandungan karbohidrat dari pakan untuk karbohidrat. Begitu juga dengan perhitungan lemak dan protein. Hasil konsumsi bahan kering dan bahan perlakuan dikalikan dengan kandungn protein kasar untuk konsumsi protein. Konsumsi lemak juga dihitung dengan cara perkalian bahan kering pakan dan bahan perlakuan dengan jumah protein kasar. Asupan kalori dihitung dengan cara karbohidrat dikalikan dengan 4,1 satuan kalori/g, untuk lemak dikalikan 9,1 satuan kalori/g, dan protein dikalikan 4 satuan kalori/g.

Dokumen terkait