NILAI-NILAI PERAWAT YANG DOMINAN DALAM PERAWATAN
DI RUANGAN IRNA D RSUD DUMAI
PROVINSI RIAU
...
SKRIPSI
MELIZA SAHYENTI 111121112
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan segala rahmat dan hidayat bagi penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan penelitian yang berjudul “Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam
Perawatan di Ruangan IRNA D RSUD Dumai”.
Penelitian ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan. Selama proses pembuatan
penelitian ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak. Pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Setiawan, S.Kp, MNS, PhD selaku dosen pembimbing skripsi yang
senantiasa menyediakan waktu, masukan, dan saran yang berharga bagi saya
dalam penulisan penelitian ini. Dan selalu memberikan motivasi untuk
menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih atas ilmu-ilmu penelitian kualitatif
selama membimbing saya serta dari seminar dan workshop yang saya ikuti.
4. Ibu Lufthiani S.Kep, NS, M.Kes selaku dosen pembimbing akademik yang
terus menanyakan dan memberikan motivasi serta saran untuk saya
5. Ibu Diah Arruum, S.Kep, Ns, M.Kep dan Bapak Mula Tarigan, S.Kp, M.Kes
selaku dosen penguji sidang atas saran dan masukan untuk penelitian ini.
6. Bapak dr. Syaiful sebagai direktur Rumah Sakit Umum Derah Dumai dan Ibu
Sriwati Nurlinda, Amd.Keb selaku Kepala Instalasi Diklat Rumah Sakit
Umum Daerah Dumai.
7. Ibu Sartika, Amd.Keb selaku Kepala Instalasi IRNA D RSUD Dumai, Ibu
Gennyta Syafril, S.Kep, Ns selaku Kepala Ruangan IRNA D RSUD Dumai,
Bapak Daniel Siahaan, S.Kep, Ns selaku Clinical Instruction IRNA D RSUD
Dumai, dan perawat-perawat IRNA D RSUD Dumai baik yang bersedia
menjadi partisipan maupun bukan : Kak Meza, Bang Trio, Bang Farid, Kak
Ropianti, Kak Lince, Bang Isnaini, Sandra, Kak Fatmawati, Kak Tijan, Kak
Lisa, Kak Oriza, Bang Syafronie, Kak Fatimah, Kak Maryati, Bang Agus,
dan Endang. Terimakasih atas kerjasama dan kesediaan untuk diwawancari
dan atas keramahan teman-teman sejawat.
8. Kedua orang tua Ibunda Herlina dan Ayahanda Muslim Abdullah, saudara
laki-laki saya Abangda Fadly Sahenda, dan Adinda Rahman Kurnanda yang
terus memberi semangat dan dukungan untuk berjuang menyelesaikan
penelitian ini.
9. Iqbal Syahputra yang terus menemani dan menyemangati. Terimakasih atas
waktu, semangat, perhatian dan terus menanyakan kapan penelitian ini siap.
10.Teman-teman yang selalu membantu dalam memberikan saran selama
Teman-teman sejawat imel, kak ayu, febri, kak nova, kak retna, rika, nita, dan anoel
yang selalu menjadi teman diskusi tentang penelitian ini.
11.Dan semua orang – orang yang sudah terlibat dalam penyusunan penelitian
ini, namun namanya tidak dapat disebutkan satu persatu, dan akan selalu
tersimpan di hati penulis, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan
mereka, Amin.
Medan, Februari 2013
Penulis
DAFTAR ISI
1.2 Pengertian Nilai-nilai Perawat ... 9
1.3 Pembentukan Nilai ... 9
1.4 Nilai dalam Keperawatan Profesional ... 12
1.5 Klarifikasi Nilai ... 16
1.6 Tantangan Nilai dalam Keperawatan ... 17
2. Penelitian Kualitatif ... 19
2.1 Definisi Penelitian Kualitatif ... 19
2.2 Tujuan Penelitian Kualitatif ... 19
2.3 Tipe Desain Penelitian Kualitatif ... 20
2.4 Analisa Data Kualitatif ... 24
2.6 Validitas Data Kualitatif ... 25
Bab III. Metode Penelitian ... 28
3.3 Partisipan Penelitian ... 28
Bab IV. Hasil dan Pembahasan... 37
1. Hasil Penelitian ... 37
1.1Profil BLUD RSUD Dumai ... 37
1.2Karakteristik Partisipan ... 39
1.3Deskripsi Nilai-nilai Personal dan Profesional Perawat yang Dominan di Ruang IRNA D RSUD Dumai ... 40
1.4Hasil Observasi ... 49
2. Pembahasan Penelitian ... 52
2.1Nilai Personal Perawat yang Dominan di Ruang IRNA D RSUD Dumai ... 52
2.2Nilai Profesional Perawat yang Dominan di Ruang IRNA D RSUD Dumai ... 55
Bab V. Kesimpulan dan Rekomendasi ... 62
1. Kesimpulan ... 62
2. Rekomendasi ... 62
2.1Rekomendasi Penelitian ... 63
2.2Rekomendasi Rumah Sakit ... 63
2.3Pendidikan Keperawatan ... 64
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Karakteristik Partisipan 42
LAMPIRAN-LAMPIRAN PENELITIAN
1. Inform Consent
2. Kuesioner Data Demografi
3. Panduan Wawancara
4. Lembar Observasi
5. Transkip wawancara partisipan 1-7
6. Surat Izin Penelitian dari Dekan Fakultas Keperawatan USU
7. Surat Izin Penelitian dari Diklat RSUD Dumai
8. Surat Selesai Penelitian dari Diklat RSUD Dumai
Title : The Dominant Values in Nursing at IRNA D room of Dumai Hospital Province of Riau
Name : Meliza Sahyenti NIM : 111121112 Program : S1 of Nursing Year : 2013
ABSTRACT
Values in nursing is something which is precious and beliefs held by a nurse in accordance with the demands of conscience. It becomes culturally and inherent in nursing. The purposes of this study were to examine, discuss and describe the dominant values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital. This study used Case Studies of Descriptive design by the number of participants were 7 participants that selected by using Purposive Sampling method. The data recorded using a tape recorder. The data analysis was done content analysis and software Weft-QDA. The results are grounped into two themes is the dominant personal values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital: discipline, hardwork, concede, and honestly. The second theme is the professional values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital: communication, keep privacy of patient, not discriminate to patient, mutual help in colleague, responsibility to chore, care to another people, and commend pluralism in colleague. Researcher recommends to the hospital to deliver training and provide opportunities for continuing education for nurses to get better understand on the concept of value in nursing, both personal values and professional values in nursing.
Judul : Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam Perawatan di Ruangan IRNA D RSUD Dumai Provinsi Riau.
Nama Mahasiswa : Meliza Sahyenti
NIM : 111121112
Program : S1 Keperawatan
Tahun : 2013
ABSTRAK
Nilai keperawatan merupakan sesuatu yang berharga dan keyakinan yang dipegang oleh seorang perawat sesuai dengan tuntutan hati nuraninya yang kemudian menjadi budaya dan melekat pada diri perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji, membahas dan mendeskripsikan nilai-nilai perawat yang dominan di ruangan IRNA D RSUD Dumai. Penelitian ini menggunakan desain
case studies descriptive dengan jumlah partisipan tujuh partisipan yang telah dipilih dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner data demografi, observasi, dan wawancara mendalam serta direkam dengan menggunakan alat perekam. Analisa data dilakukan dengan
content analysis dan software weft-QDA. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi dua tema yaitu nilai personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai dengan subtema kedisiplinan, mengalah, bekerja keras, dan kejujuran. Tema yang kedua nilai profesional perawat yang dominan dalam perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai dengan sub tema komunikasi, menjaga rahasia pasien, tidak membeda-bedakan pasien, saling menolong antar teman sejawat, bertanggung jawab terhadap tugas, memberikan perhatian kepada orang lain, dan menghargai pluralisme antar teman sejawat. Peneliti merekomendasikan kepada rumah sakit untuk memberikan pelatihan-pelatihan dan memberikan kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan agar perawat lebih memahami konsep nilai dalam keperawatan, baik nilai personal maupun nilai profesional perawat.
Kata kunci: case studies descriptive, nilai personal perawat, nilai profesional
Title : The Dominant Values in Nursing at IRNA D room of Dumai Hospital Province of Riau
Name : Meliza Sahyenti NIM : 111121112 Program : S1 of Nursing Year : 2013
ABSTRACT
Values in nursing is something which is precious and beliefs held by a nurse in accordance with the demands of conscience. It becomes culturally and inherent in nursing. The purposes of this study were to examine, discuss and describe the dominant values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital. This study used Case Studies of Descriptive design by the number of participants were 7 participants that selected by using Purposive Sampling method. The data recorded using a tape recorder. The data analysis was done content analysis and software Weft-QDA. The results are grounped into two themes is the dominant personal values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital: discipline, hardwork, concede, and honestly. The second theme is the professional values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital: communication, keep privacy of patient, not discriminate to patient, mutual help in colleague, responsibility to chore, care to another people, and commend pluralism in colleague. Researcher recommends to the hospital to deliver training and provide opportunities for continuing education for nurses to get better understand on the concept of value in nursing, both personal values and professional values in nursing.
Judul : Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam Perawatan di Ruangan IRNA D RSUD Dumai Provinsi Riau.
Nama Mahasiswa : Meliza Sahyenti
NIM : 111121112
Program : S1 Keperawatan
Tahun : 2013
ABSTRAK
Nilai keperawatan merupakan sesuatu yang berharga dan keyakinan yang dipegang oleh seorang perawat sesuai dengan tuntutan hati nuraninya yang kemudian menjadi budaya dan melekat pada diri perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji, membahas dan mendeskripsikan nilai-nilai perawat yang dominan di ruangan IRNA D RSUD Dumai. Penelitian ini menggunakan desain
case studies descriptive dengan jumlah partisipan tujuh partisipan yang telah dipilih dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner data demografi, observasi, dan wawancara mendalam serta direkam dengan menggunakan alat perekam. Analisa data dilakukan dengan
content analysis dan software weft-QDA. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi dua tema yaitu nilai personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai dengan subtema kedisiplinan, mengalah, bekerja keras, dan kejujuran. Tema yang kedua nilai profesional perawat yang dominan dalam perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai dengan sub tema komunikasi, menjaga rahasia pasien, tidak membeda-bedakan pasien, saling menolong antar teman sejawat, bertanggung jawab terhadap tugas, memberikan perhatian kepada orang lain, dan menghargai pluralisme antar teman sejawat. Peneliti merekomendasikan kepada rumah sakit untuk memberikan pelatihan-pelatihan dan memberikan kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan agar perawat lebih memahami konsep nilai dalam keperawatan, baik nilai personal maupun nilai profesional perawat.
Kata kunci: case studies descriptive, nilai personal perawat, nilai profesional
BAB I PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Nilai adalah keyakinan terhadap suatu ide, tingkah laku, kebiasaan atau
objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku (Rokeach,
1973 dalam Potter & Perry, 2005). Nilai menjadi dasar untuk melakukan tindakan
dan kemudian tindakan itu menjadi suatu standar atas tindakan yang selanjutnya,
pengembangan dan mempertahankan sikap terhadap objek-objek, penilaian moral
pada diri sendiri dan orang lain serta menjadi suatu perbandingan diri dengan
orang lain. Maka orang yang telah memiliki nilai tertentu akan dipilih, ditafsirkan,
dibenarkan dan diutamakan lebih tinggi dari yang lain (Potter & Perry, 2005).
Ismani (2001) mengartikan nilai-nilai perawat secara umum yaitu sesuatu
yang berharga dan keyakinan yang dipegang oleh seorang perawat sesuai dengan
tuntutan hati nuraninya yang kemudian menjadi budaya dan melekat pada diri
perawat. Seperti yang dinyatakan oleh Horton, Tschudin, dan Forget (2007) nilai
perawat secara umum dipengaruhi oleh perbedaan budaya, globalisasi dan
majunya teknologi dan obat-obatan. Maka nilai yang dianut perawat tersebut
berasal dari komponen kognitif, selektif, afektif dan tindakannya (Uustal, 1992
dalam Potter & Perry, 2005). Dimana seorang perawat dalam berpikir, memilih,
merasa, dan bertindak berdasarkan kepentingan nilai pribadinya.
Potter dan Perry (2005) membagi nilai-nilai perawat menjadi nilai personal
sikap-sikap pribadi perawat tentang kebenaran, keindahan, dan penghargaan dari suatu
pemikiran, objek, dan perilaku yang berorientasi pada tindakan, pemberian arah
serta makna pada kehidupannya (Simon, 1973 dalam Ismani, 2001). Nilai
personal bersifat pribadi, berdasarkan pengalaman pribadi akan membentuk dasar
perilaku nyata dan konsisten. Nilai personal perawat tersebut merefleksikan
kebutuhan personal, budaya dan pengaruh sosial, serta hubungan dengan orang
tertentu. Nilai-nilai yang ditanamkan kepada seorang perawat oleh lingkungannya
itu membentuk cara pandang dan sikap hidupnya. Sikap hidup itu tampak secara
nyata dalam perilaku sebagai kebiasaan. Kebiasaan dalam nilai-nilai itu
menumbuhkan tabiat. Tabiat memancarkan tindakan dan perbuatan melalui
kemauan (Tarmizi, 2003).
Fungsi nilai personal seorang perawat yaitu dalam melaksanakan asuhan
keperawatan, selain menggunakan ilmu keperawatan yang mereka miliki, juga
diperkuat oleh nilai yang ada dalam diri mereka. Sehingga perawat dapat
membantu pasien untuk mendapatkan pola tindakan yang didasarkan pada
nilai-nilai yang ada pada mereka (Ismani, 2001). Menurut Cheng (2011) dari
pengakuan staff perawat di China terhadap nilai kerjanya termasuk tinggi. Lama
kerja, usia, dan pembagian kerja perawat mempengaruhi nilai-nilai personal
mereka. Tetapi riwayat pendidikan hanya sedikit mempengaruhi hasil kerja
perawat tersebut.
Pengertian diatas menunjukkan bahwa nilai-nilai individu bersifat personal,
sedangkan kode etik yang berasal dari profesi atau masyarakat maka menetapkan
mempengaruhi tindakan dan mempertahankan apa yang bermanfaat bagi perawat
dan layanannya, maka profesi perawat memiliki nilai yang sama kuat dengan nilai
yang mendasarinya. Nilai profesional perawat berfungsi sebagai sesuatu yang
dibutuhkan oleh masyarakat atau pasien. Nilai perawat yang paling fundamental
adalah perawatan (pemberian asuhan keperawatan). Perlindungan atau advokasi
klien juga berkembang sebagai nilai keperawatan primer.
Potter dan Perry (2005) menerbitkan hasil kerja yang disusun untuk
mengidentifikasi pengetahuan esensial, keterampilan dan nilai yang dibutuhkan
dalam keperawatan. Projek tersebut menghasilkan konsensus diantara para
profesional keperawatan diseluruh Amerika yang merekomendasikan tujuh nilai
esensial bagi perawat profesional, yang meliputi altruisme, persamaan, estetika,
kebebasan, harga diri manusia, keadilan dan kebenaran. Berdasarkan hasil riset
Shih (2009) bahwa nilai profesional perawat yang paling penting menurut
persepsi perawat di Taiwan telah diidentifikasi nilai-nilai tersebut baik altruisme,
persamaan, estetika, kebebasan, harga diri manusia, keadilan dan kebenaran
bermanfaat untuk masyarakat, diri perawat, antar disiplin ilmu dan praktik klinik.
Kesadaran perawat terhadap nilai mereka dan bagaimana nilai tersebut
mempengaruhi tingkah laku mereka adalah bagian sifat dasar dari humanistik care
perawat. Perawat pendidik membutuhkan pengembangan strategi yang lebih baik
untuk refleksi dan integrasi dari nilai dan filosofi personal dan profesionalnya.
Kota Dumai merupakan sebuah kota kecil yang mana disini terdapat 1
RSUD dan 1 RS Swasta. RSUD Dumai merupakan rumah sakit umum daerah tipe
ditengah-tengah kota Dumai. Sebagai sebuah rumah sakit umum, maka dalam menjalankan
pelayanannya RSUD Dumai ini mengemban visi dan misi. Adapun visi RSUD
Dumai yaitu menjadi rumah sakit yang terunggul dipantai timur sumatera yang
modren dengan nuansa melayu. Dan adapun misinya yaitu pertama menerapkan
sendi-sendi pelayanan prima, kedua meningkatkan profesionalitas sumber daya
manusia, ketiga meningkatkan dan mengembangkan sarana dan prasarana,
keempat memantapkan fungsi managerial yang akuntabel dan transparan berbasis
teknologi informasi. Berdasarkan hasil wawancara sementara peneliti dengan
salah satu kepala instalasi RSUD Dumai mengenai perkembangan RSUD Dumai
cukup baik dari segi pelayanan dan asuhan keperawatannya.
Ruangan IRNA D RSUD Dumai adalah ruangan rawat inap pasien-pasien
dengan penyakit HIV/AIDS, TBC, DM dan penyakit dalam lainnya.
Sewaktu-waktu ruangan tersebut dijadikan ruangan isolasi seperti flu burung ataupun flu
babi dimana perawat-perawatnya mempunyai keahlian dalam memberikan
perawatan terhadap pasien-pasiennya. Berdasarkan hasil wawancara peneliti
dengan kepala ruangan IRNA D RSUD Dumai bahwa ruang IRNA D memiliki
pasien dengan penyakit-penyakit infeksi dan menular yang memerlukan
perawatan yang lama dan berkelanjutan, maka perawat diruangan IRNA D
memiliki keahlian dalam memberikan perawatan kepada pasien. Seperti keahlian
dalam penangan pasien HIV/AIDS, TBC, DM, Efusi Pleura, Flu burung dan
penyakit infeksi lainnya.
Jumlah pasien di IRNA D Bulan Juli 2012 yaitu 120 pasien. Dan jumlah
22 tempat tidur. Moto yang dianut perawat Ruang IRNA D RSUD Dumai yaitu
memberantas penyakit TBC dan memberhentikan HIV/AIDS. Dan visi misi
Ruang IRNA D RSUD Dumai yaitu inisiatif dan tanggap dalam tugas, ramah
dalam memberikan pelayanan, nyaman bagi pasien, asuhan keperawatan
ditegakkan, dan disiplin dalam bekerja. Berdasarkan hasil wawancara awal
peneliti dengan Clinical Intruktion (CI) IRNA D RSUD Dumai bahwa kegiatan
rumah sakit dalam sistem penugasan keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan terhadap pasien Ruangan IRNA D RSUD Dumai memakai Model
Praktik Keperawatan Profesional Terpadu (MPKPT) yaitu gabungan metode
primer dan metode tim. Namun berdasarkan hasil observasi sementara peneliti
masih terlihat kurangnya motivasi perawat dalam pelaksanaan metode MPKPT
tersebut. Dimana dalam metode MPKPT tersebut dibutuhkan nilai-nilai
profesional perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Dan didukung
dengan hasil wawancara sementara peneliti dengan pasien mengenai nilai-nilai
perawat di ruanan IRNA D RSUD Dumai terdapat masih kurangnya kesiapan
perawat terhadap kebutuhan pasien dan kurangnya komunikasi antara perawat dan
pasien di ruang IRNA D RSUD Dumai.
Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan diatas maka perlu upaya
peningkatan mutu asuhan keperawatan yang terlihat dari nilai-nilai perawat baik
dari segi nilai personal maupun nilai profesional perawat ruang IRNA D RSUD
Dumai. Dari penjelasan di ataspun peneliti sangat tertarik untuk melakukan
penelitian tentang bagaimanakah nilai-nilai perawat yang dominan dalam
2.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut, “Apakah Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam
Perawatan di Ruang IRNA D RSUD Dumai?”.
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali dan mendeskripsikan nilai-nilai
perawat yang dominan dalam melakukan praktek keperawatan di Ruang IRNA D
RSUD Dumai.
4.Manfaat Hasil Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, diharapkan hasil penelitian bermanfaat untuk
pendidikan keperawatan, pelayanan kesehatan, penelitian keperawatan, dan pihak
rumah sakit
4.1. Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dengan mengetahui nilai-nilai perawat, maka
dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dalam
praktiknya, serta bisa dijadikan referensi untuk menciptakan calon-calon perawat
4.2. Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan masukan dalam
memberikan intervensi keperawatan dalam mempertimbangkan nilai-nilai
personal dan profesional perawat dalam memberikan perawatan.
4.3. Bagi Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi awal pada penelitian
berikutnya yang akan meneliti tentang topik dan ruang lingkup nilai-nilai perawat
yang penting dan dominan dalam perawatan.
4.4. Bagi Pihak Rumah Sakit
Penelitian diharapkan dapat menjadi informasi terkait nilai-nilai perawat
yang dominan dalam perawatan di Ruang IRNA D RSUD Dumai. Dan penelitian
ini dapat dibuat untuk mengetahui nilai-nilai perawat yang dominan dan penting
dalam perawatan berdasarkan nilai-nilai personal dan profesional perawat untuk
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.Nilai-Nilai Perawat
Nilai memberikan hidup dan identitas kepada individu, profesi, dan
masyarakat. Perawat setiap hari akan ditantang dalam hubungan dan bagaimana
mengambil keputusan yang dipengaruhi oleh nilai tersebut. Maka dari itu nilai
menjadi sangat penting bagi seorang perawat, yaitu akan menjadi sumber
kepuasan dan juga menjadi sumber konflik. Perawat dituntut untuk belajar
mengenali dan bekerja dengan kekuatan nilai yang dianutnya ketika memberikan
asuhan keperawatan kepada pasien. Pada bagian ini akan dibahas tentang definisi
nilai, pengertian nilai-nilai perawat, pembentukan nilai, nilai dalam keperawatan
profesional, klarifikasi nilai, dan tantangan nilai dalam keperawatan.
1.1. Definisi Nilai
Nilai menurut Znowski (1974, dalam Ismani, 2001) nilai adalah keyakinan
seseorang tentang susuatu yang berharga, kebenaran, dan keinginan mengenai
ide-ide, objek atau perilaku khusus.
Menurut Potter dan Perry (2005) nilai adalah keyakinan yang mendasari
seseorang melakukan tindakan dan tindakan itu kemudian menjadi menjadi suatu
standar atas tindakan yang selanjutnya, pengembangan dan mempertahankan
sikap terhadap objek-objek, penilaian moral pada diri sendiri dan orang lain serta
1.2. Pengertian Nilai-nilai Perawat
Ismani (2001) mendefinisikan nilai-nilai (value) merupakan hak seseorang
dalam memutuskan dan mengatur perilakunya. Nilai tersebut dimiliki oleh setiap
individu yang berfungsi untuk mengatur langkah-langkah yang seharusnya
dilakukan, karena nilai berasal dari hati nurani dan diperoleh seseorang sejak
kecil. Maka dalam memberikan pelayanan perlunya kesadaran perawat atas nilai
yang dimilikinya dan kebutuhan pasiennya. Nilai tersebut dipengaruhi oleh
lingkungan dan pendidikan perawat.
Nilai profesional dalam keperawatan yang paling fundamental adalah
perawatan (pemberian asuhan keperawatan). Perlindungan atau advokasi terhadap
pasien juga berkembang sebagai nilai keperawatan primer. Dalam dokumen yang
berjudul “Essentials of College and University Education for Professional
Nursing,” American Association of Colleges of Nursing Values (AACN) dalam
Potter dan Perry (2005)menerbitkan tujuh nilai esensial bagi perawat profesional,
yang meliputi altruisme, persamaan, estetika, kebebasan, harga diri manusia,
keadilan dan kebenaran.
1.3Pembentukan Nilai
Nilai dapat dipelajari melalui observasi, pertimbangan, dan pengalaman
(Hamilton, 1992 dalam Potter & Perry, 2005). Seorang individu akan
mengobservasi tingkah laku terhadap lingkungan tertentu dan mencatat respons
yang dihasilkannya. Tingkah laku yang menurutnya berhasil dan produktif akan
nilai dari proses observasi, pemahaman, dan pengalaman. Nilai yang dipegang
oleh suatu kelompok profesional juga terbentuk melalui pemahaman, observasi,
dan pengalaman.
1.3.1 Bentuk Transmisi Nilai
Lima cara tradisional dalam mentransmisikan nilai menurut Potter dan Perry
(2005) yaitu modeling, moralisasi, laissez-faire, pilihan bertanggung jawab, dan
penguatan atau hukuman. Cara tersebut dapat membantu perawat dalam
mengembangkan pemahaman tentang pembentukan nilai dan kemudian
menggunakannya sebagai metode yang efektif.
a.Modeling
Seseorang bertindak untuk menunjukkan cara yang lebih disukai orang lain
dalam bertingkah laku. Dimana seseorang membutuhkan nilai dari berbagai
contoh model.
b.Moralisasi
Orangtua dan guru memegang standar apa yang benar dan salah serta secara
keras membatasi anak untuk mengikuti perangkat nilai mereka.
c.Laissez-faire
Kadang seseorang memperoleh nilai dengan bertingkah laku secara bebas
tanpa batas atau peraturan. Tidak ada suatu sistem nilai yang cocok untuk
semua orang dan kemudian anak membentuk nilai tanpa panduan yang kaku
d.Pilihan bertanggung jawab
Keseimbangan antara kebebasan dan pembatasan memungkinkan anak-anak
untuk memilih nilai yang mengarah pada kepuasan pribadi dan dukungan
orangtua. Pilihan nilai pada anak-anak lebih terbatas dibandingkan dengan
pendekatan laissez-faire.
e.Penguatan dan hukuman
Pemberian penguatan atau hadiah untuk suatu sikap dari nilai tertentu akan
membantu mengendalikan tingkah laku. Ketika seorang anak gagal untuk
melakukan tingkah laku tertentu, orangtua memberikan hukuman.
1.3.2 Pengaruh Sosiokultural
Nilai terbentuk dari lingkungan sosial yang dipengaruhi oleh latar belakang
pendidikan, sosioekonomi, spritual, dan budaya seseorang. Lingkungan budaya
yang lebih besar yang terdapat kelompok masyarakat yang lebih kecil, dan
subbudaya dengan nilai yang cukup khas yang akan membuat kelompok
masyarakat yang lebih kecil berbeda dengan kelompok yang dominan. Maka
mereka akan mengambil nilai-nilai budaya yang dominan ditempat mereka hidup.
Karena setiap orang akan belajar dari apa yang dilihatnya, kebiasaan, tingkah
laku, ritual, dan sikap orang lain. Jika seseorang tidak mengikuti nilai-nilai
dilingkungannya maka seringkali dianggap bodoh, tidak efektif atau bahkan
berbahaya. Hal ini juga berlaku dalam praktik keperawatan.
Untuk memberikan perawatan yang efektif, perawat berupaya untuk
promosi kesehatan, penggunaan pelayanan asuhan kesehatan dan penyesuaian
terhadap penyakit. Sistem nilai yang ada pada perawat harus memahami bahwa
praktik kultural tidak bersifat benar atau salah, namun pengertian perawat lebih
untuk memahami dan menghargai dari nilai-nilai pasiennya. Maksudnya
meskipun perawat merasa nilainya lebih benar dalam memutuskan suatu tindakan,
namun seorang perawat harus dapat menunjukkan kepeduliannya pada nilai-nilai
budaya pasien dengan berusaha untuk memahami makna dan nilai dibalik praktik
kesehatan kultural tertentu sebelum berupaya untuk melakukan modifikasi
(Johnson & Rogers, 1994 dalam Potter & Perry, 2005).
1.4 Nilai dalam Keperawatan Profesional
Profesi keperawatan yang berhubungan dengan pasien dibutuhkan nilai-nilai
profesi yang mendasarinya dalam memberikan pelayanan. Untuk tujuan identitas
dan pendidikan, profesi keperawatan menyatakan nilai-nilai yang mereka percayai
yang akan dibentuk dan dipertahankan. Namun, secara periodik profesi mengkaji
ulang nilai dan tingkah laku dalam keperawatan untuk mengembangkan dan
mengakomodasi kebutuhan baru pada pasien. Nilai perawat yang paling
fundamental yaitu memberikan asuhan keperawatan dan memberikan
perlindungan atau advokasi kepada pasien.
1.4.1 Nilai dan Perilaku Keperawatan Esensial
Profesi keperawatan memiliki nilai sebagai identitas yang dapat
Sebagai profesi yang berhubungan langsung dengan pasien maka diperlukan
nilai-nilai sebagai dasar dalam memutuskan dan memberikan pelayanan pada pasien.
Berdasarkan Potter dan Perry (2005) tentang “American Association of Colleges
of Nursing (AACN)” menetapkan tujuh nilai dan perilaku keperawatan esensial
yaitu alturisme, persamaan, estetika, kebebasan, martabat manusia, keadilan, dan
kebenaran.
a.Alturisme
Alturisme menjelaskan tentang nilai personal yang dimiliki perawat yaitu
sebagai individu yang perhatian, komitmen, kasihan, memiliki kemurahan hati,
dan ketekunan. Dan nilai profesional perawat yaitu memberikan perhatian yang
penuh pada pasien, membantu teman sejawat ketika mereka tidak dapat
melakukannya dalam memberikan perawatan, dan menunjukkan perhatian pada
masalah sosial yang behubungan dengan kesehatan.
b.Persamaan
Seharusnya perawat memiliki nilai dan sikap personal yang mudah menerima,
asertif, tidak sepihak, harga diri yang baik, dan toleransi. Nilai dan perilaku
profesional sebagai perawat yaitu dapat memberikan asuhan keperawatan
berdasarkan kebutuhan individu, tidak melihat dan memilih pasien dari
karakter seseorang, melakukan interaksi dengan perawat yang lain,
mengekspresikan pikiran tentang perkembangan dalam bidang keperawatan
c.Estetika
Sikap dan kualitas personal yang memiliki penghargaan terhadap kinerjanya,
kreativitas, imajinasi, dan sensitivitas. Perilaku profesional perawat yaitu dapat
beradaptasi dengan lingkungan sehingga bisa memuaskan pasien, menciptakan
lingkungan kerja yang menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain,
menempatkan diri dengan cara yang dapat meningkatkan kesan positif dalam
keperawatan.
d.Kebebasan
Memiliki sikap dan nilai personal yang percaya diri, memiliki harapan,
kemerdekaan, keterbukaan, penguasaan diri, dan disiplin. Perilaku sebagai
perawat profesional yaitu bisa menghargai hak pasien untuk menolak
perawatan, mendukung hak teman sejawat untuk memberikan berbagai
alternatif pada rencana perawatan, mendukung diskusi terbuka terhadap isu-isu
yang kontroversi dalam profesi.
e.Martabat Manusia
Perawat memiliki nilai dan sikap personal dalam memberikan pertimbangan,
empati, kemanusiaan, keramahan, bisa menghargai, dan percaya diri. Perilaku
profesonal sebagai perawat dapat melindungi hak pasien terhadap
kebebasannya sendiri, memperlakukan pasien sesuai dengan yang mereka
inginkan, mempertahankan kerahasiaan pasien dan pegawai, merawat pasien
f.Keadilan
Memiliki sikap dan nilai personal yang berani, integritas, moralitas, dan
objektivitas. Perilaku profesional yang dimiliki perawat yaitu bertindak sebagai
advokasi dalam perawatan kesehatan pasien, mealokasikan sumber daya secara
adil, dan melaporkan praktik yang tidak kompeten, tidak etis, dan ilegal secara
objektif dan aktual.
g.Kebenaran
Memiliki sikap dan nilai personal yang akuntabilitas, kebenaran, kejujuran,
keingintahuan, rasionalitas, dan refleksivitas. Perilaku profesional yang
dimiliki seorang perawat yaitu dapat mendokumentasikan keperawatan secara
akurat dan jujur, mendapatkan data yang cukup untuk membuat suatu
keputusan sebelum melaporkan adanya pelanggaran kebijakan organisasi,
berpartisipasi dalam usaha profesional untuk melindungi masyarakat dari
kesalahan informasi mengenai kesehatan.
1.4.2 Nilai Advokasi
Advokasi adalah mendukung, menjunjung, dan mendiskusikan nilai-nilai
yang dianut orang lain. Terbentuknya advokasi terhadap pasien dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik dari perawat maupun pasien itu sendiri. Adapun bentuk
advokasi yang bisa dilakukan perawat pada pasien yaitu memberikan informasi
atau edukasi, penjelasan tentang prosedur tertentu, penjelasan tentang hasil tes
dan mendengarkan secara hati-hati (American Nurse Association (ANA) Code of
Ethics, 1985 dalam Potter & Perry, 2005).
1.5 Klarifikasi Nilai
Menurut Raths, Harmin, dan Simon (1979, dalam Potter & Perry, 2005)
memperkenalkan klarifikasi nilai sebagai suatu pendekatan untuk menghargai
nilai, menggambarkan sebuah metode dalam klarifikasi nilai yang meliputi tiga
langkah yaitu pertama memilih kepercayaan dan perilaku seseorang dengan
memilih beberapa alternatif, memilih dengan bebas, dan mempertimbangkan
setiap konsekuensi. Kedua menghargai kepercayaan dan perilaku seseorang
dengan menghargai dan menyukai pilihan, memberi dan menyukai pilihan, dan
memberi tahu orang lain tentang pilihan yang diambil. Ketiga bertindak sesuai
kepercayaan seseorang dengan membuat keputusan terhadap kepercayaan orang
tersebut dan bertindak dengan pola yang tetap dan berulang-ulang.
1.5.1 Pemilihan
Memulai klarifikasi nilai ketika seseorang memilih, kemudian membuat
prioritas nilai pribadi. Skala nilai hidup memberikan contoh bagaimana seseorang
dapat memulai proses. Hal ini meliputi 10 nilai yang harus diberi prioritas mereka
secara urut. Cara lain untuk menyelesaikan latihan ini adalah dengan membuat
pasien secara bebas menuliskan 10 nilai dan membuat prioritasnya. Ketika
menghargai pilihan akhirnya. Seorang individu juga harus dapat melihat pilihan
mereka dan menilai setiap pilihan yang diwakilkannya.
1.5.2 Menghargai
Menunjukkan kepuasan diri dan publik dengan nilai yang telah dipilih.
Seseorang memiliki nilai dalam rasa percaya diri dengan merasa senang tentang
pilihan tertentu. Seorang perawat membantu pasien menggunakan klarifikasi nilai
sehingga orang tersebut dapat menguatkan nilai pribadi dihadapan orang lain.
1.5.3 Tindakan
Pada suatu nilai yang telah dipilih memperkuat penerimaannya. Tindakan
membutuhkan penerjemahan nilai kedalam perilaku. Raths, Harmin, dan Simon
(1979, dalam Potter & Perry, 2005) mengusulkan bahwa seseorang harus
bertindak secara konsisten dan teratur pada nilai yang telah dipilih.
1.6 Tantangan Nilai dalam Keperawatan
Profesi keperawatan telah berkembang, pergeseran kritis dalam nilai
profesional perawat memperkeruh kontroversi dan menciptakan ide baru. Perawat
secara bersama-sama menghadapi tantangan untuk memperbaharui dan
membentuk nilai profesional dalam perubahan sistem perawatan kesehatan yang
tepat. Maka tantangan nilai muncul sebagai kritik untuk pertumbuhan personal
1.6.1 Tantangan Pribadi
Tindakan perawat untuk mengatasi konflik dan tantangan pribadi dalam
membentuk dan menerima nilai maupun kualitas perilakunya, maka seorang
perawat harus memiliki pengetahuan yang lebih luas dan profesional. Seorang
perawat akan memiliki kesulitan melakukan perannya sebagai seorang profesional
ketika nilai pribadinya tidak jelas dan tidak meyakinkan. Perawat harus
menghadapi tantangan, usaha untuk memahami situasi hidup dan pengalaman
orang lain.
1.6.2 Tantangan Profesional
Priester (1992, dalam Potter & Perry, 2005) mengemukakan enam nilai
yang mendasar sistem perawatan kesehatan di Amerika. Keenam nilai itu meliputi
autonomi profesional, autonomi pasien, perlindungan pasien, kedaulatan
pelanggan, perawatan berkwalitas tinggi dan akses yang universal pada
perawatan. Menurut Aroskar (1993, dalam Potter & Perry, 2005) membuat
rekonfigurasi dari nilai tersebut dan menantang keperawatan untuk memainkan
posisi kunci dalam proses tersebut. Sebuah rangka kerja yang baru akan mengatur
kembali atau menghasilkan definisi yang baru dari nilai yang telah ada dan
menambahkan nilai yang memiliki penekanan lebih besar untuk kepentingan
pasien. Maka perawat perlu memahami nilai-nilai esensial dalam melakaukan
2. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki beberapa ciri pembeda yang mungkin
berlawanan dengan metode kuantitatif. sementara peneliti kuantitatif pada
umumnya hanya melakukan sedikit kontak dengan subjek studi, peneliti kualitatif
sering kali menggunakan diri mereka sebagai instrumen pengumpulan data.
Dalam membuat rencana analisis data peneliti kualitatif merumuskan kesimpulan
berkaitan dengan data yang dikumpulkan. Karena data lebih bersifat kualitatif
bukan kuantitatif (numeris), metode analisis data biasanya tidak tergantung pada
uji statistik. Bagian ini akan dibahas mengenai definisi, tujuan, tipe desain,
analisan data, analisa isi, dan validitas penelitian kualitatif (Potter & Perry, 2005).
2.1. Definisi Penelitian Kualitatif
Riset kualitatif adalah pendekatan induktif untuk menemukan atau
mengembangkan pengetahuan. Riset ini memerlukan keterlibatan peneliti dalam
mengidentifikasi pengertian atau relevansi fenomena tertentu terhadap individu.
Analisa dan interpretasi hasil riset dalam metode ini biasanya tidak tergantung
pada kuantifikasi pengamatan (Brockopp & Tolsma, 1999).
2.2. Tujuan Penelitian Kualitatif
Tujuan penggunaan metodologi riset kualitatif dapat bervariasi. Metode ini
bisa digunakan sewaktu dicurigai terjadi bias dalam pengetahuan atau teori-teori
saat ini, atau pertanyaan riset berhubungan dengan pemahaman dan
Brockopp & Tolsma, 1999). Riset kualitatif mencoba untuk menggali/eksplorasi,
menggambarkan atau mengembangkan pengetahuan bagaimana kenyataan
dialami (Brockopp & Tolsma, 1999).
2.3. Tipe Desain Penelitian Kualitatif
Menurut Brockopp dan Tolsma (1999) penelitian kualitatif dibedakan
menjadi lima jenis yaitu fenomenologi, etnografis, antropologi, dan grounded
theory. Dan menurut Polit dan Hungler (1999) tipe lain dalam desain penelitian
kualitatif ada historis dan studi kasus (case studies).
2.3.1.Fenomenologi
Cabang filosofi yang menekankan subjektivitas pengalaman manusia.
Sewaktu digunakan sebagai dasar filosofi dalam riset, fenomenologi
mengamanatkan bahwa data ilmiah dihasilkan dengan memperlajari informasi
yang diharapkan dari perspektif peserta riset. Menurut Omery (1983, dalam
Brockopp & Tolsma, 1999) peserta mneghasilkan realitas pengalaman tanpa
hipotesa atau “firasat” sebelumnya yang ditetapkan untuk mengarahkan apa yang
harus ditemukan. Peneliti bertindak sebagai papan tulis yang bersih, bersedia
untuk menulis suatu bab baru tentang pengetahuan yang dicari.
2.3.2.Etnografis
Menurut Ragucci (1972, dalam Brockopp & Tolsma, 1999) etnografis
mempelajari individu-individu, benda-benda atau dokumen-dokumen dalam
lingkungan alami. Penelitian ini meliputi desain riset antropologis maupun
historis. Tujuan akhirnya adalah untuk memahami sudut pandang peserta dan
mengetahui bagaimana fenomena sehat dan sakit dipertimbangkan.
2.3.3.Antropologi
Menurut Leininger (1985, dalam Brockopp & Tolsma, 1999) antropologis
studi mengenai manusia dalam kondisi yang alami. Tipe area riset ini berusaha
untuk mengetahui bagaimana fungsi individu atau kelompok berfungsi tingkah
lakunya dengan pengamatan langsung maupun tidak langsung pada individu atau
kelompok atau dengan menemukan bentuk peradaban untuk memperoleh
wawasan yang dalam mengenai bagaimana mereka mempengaruhi
kelompok-kelompok kultural saat ini.
2.3.4.Grounded Theory
Metodologi grounded theory dikembangkan oleh sosiologi Glaser dan
Strauss (1966), adalah suatu cara menarik dalam pengembangan teori dengan
menggambarkan secara mendalam tentang data sosial yang terperinci untuk
mempertajam keyakinan-keyakinan teoritis. Suatu teori yang pada akhirnya
2.3.5.Historis
Menurut Polit dan Hungler (1999) historis adalah suatu metoda yang
digunakan untuk menjawab penelitian tentang penyebab, efek, atau
peristiwa-peristiwa yang lalu yang akan terjadi pada yang akan datang. Bagian penting yang
membedakan tipe historis dengan yang lain yaitu menggunakan hipotesis.
2.3.6.Studi Kasus (case studies)
Penelitian mendalam yang tidak hanya berpusat pada individu, tetapi juga
keluarga, kelompok, institusi dan kelompok sosial lainnya. Tujuan dari case
studies untuk menganalisa dan mengartikan fenomena penting dari riwayat,
perkembangan atau perawatan individu dan masalah individu. Fokus case studies
yaitu menentukan secara dinamis bagaimana seseorang berpikir, berprilaku, dan
berkembang. Bukan hanya melihat status, kemajuan, tindakan, dan pikirannya.
Case studies memberikan kesempatan untuk peneliti mengetahui kondisi, pikiran,
perasaan, tindakan yang lalu dan yang akan datang, perhatian, dan lingkungan
partisipannya. Dalam pengumpulan data case studies jika dilakukan dengan cara
observasi maka titik fokus peneliti menjadi observer. Keuntungannya case studies
dapat membuat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi mengenai tingkah laku
partisipannya untuk yang akan datang dipengaruhi oleh masa lalunya.
Menurut Yin (2003, dalam Boxter dan Jack, 2008) penelitian case studies
dapat dibedakan menjadi beberapa karakteristik yaitu eksplanatoris, eksploratoris,
a.Eskplanatoris
Tipe ini digunakan untuk mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan yang
akan menjelaskan hal-hal diaggap menjadi penyebab tindakan nyata dalam
kehidupan dengan melakukan pencarian atau strategi eksperimen. Dan juga
untuk mencari faktor-faktor dari sebuah pelaksanaan program dan efeknya.
b.Eksploratoris
Tipe ini digunakan untuk menjelaskan situasi intervensi sampai evaluasi yang
tidak jelas, akan menghasilkan data tunggal.
c.Deskriptif
Tipe ini digunakan untuk mendeskripsikan sebuah tindakan atau fenomena
yang terjadi dalam kehidupan yang nyata.
Pengumpulan data pada penelitian case studies menggunakan banyak
sumber data, strategi ini untuk menjaga kredibilitas data ( Patton, 1990; Yin, 2003
dalam Boxter & Jack, 2008). Sumber data yang digunakan didapat dari
dokumentasi, surat-surat lama, wawancara, artefak, observasi langsung, dan
observasi terhadap pertisipan. Perbedaan tipe penelitian ini dengan tipe kualitatif
lainnya dalam pengumpulan data, tipe ini hampir sama seperti mencari data-data
dalam kuantitatif. Kemudian data dilakukan dengan proses analisa, baik manual
maupun menggunakan sistem komputerisasi. Analisa case studies sama seperti
penelitian kualitatif lainnya. Yin (2003, dalam Boxter & Jack, 2008) menjelaskan
yang terpenting dari analisa data case studies yaitu membentuk proporsi (jika
digunakan), jika tidak digunakan maka analisa data yang digunakan sama seperti
Dalam membuat laporan hasil penelitian ini termasuk sulit karena peneliti
harus dapat menjelaskan fenomena yang terjadi secara lengkap dan dimengerti
pembaca. Tantangan dalam penelitian ini, peneliti menjadikan hasil penelitian nya
dalam bentuk komprehensif dimana pembaca seoleh-olah masuk dalam penelitian
dan merasa menjadi partisipannya serta diaplikasikan dengan situasinya sendiri.
Melaporkan hasil penelitian case studies peneliti harus memperhatikan
metode-metode yang digunakan yaitu dengan cara linear, komparatif, kronologis,
membangun teori, ketegangan, dan tidak berurutan (Yin, 2003 dalam Boxter &
Jack, 2008).
2.4. Analisa Data Kualitatif
Analisa data kualitatif memerlukan waktu. Hubungan-hubungan seringkali
tak terlihat dan mungkin memerlukan suatu kesadaran intuitif (berdasarkan
intuisi) untuk mengidentifikasikannya. Selain itu, data biasanya sangat besar
jumlahnya dan suatu penelaahan yang cepat jarang dinyatakan kekayaan informasi
yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Menurut Field dan Morse, 1985; Polit
dan Hungler, 1991; Leininger, 1985; Parse, Coyne, dan Smith (1985, dalam
Brockopp & Tolsma, 1999) mengusulkan beberapa langkah yang umum meliputi
identifikasi tema-tema, membuktikan tema-tema yang dipilih melalui gambaran
data tersebut dan pembahasan dengan para peneliti atau ahli-ahli lain dalam
bidang tersebut, mengkategorisasikan tema-tema (menggunakan kategori-kategori
yang ada atau kategori baru), mencatat data yang mendukung
2.4.1.Analisis Isi (Content Analysis)
Content Analysis adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi
yang dapat ditiru (replicabel), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya.
Analisi Isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Dalam
penelitian kualitatif, Analisis Isi ditekankan pada bagaimana peneliti melihat
keajengan isi komunikasi secara kualitatif, pada bagaimana peneliti memaknakan
isi komunikasi, membaca simbol-simbol, memaknakan isi interaksi simbolik yang
terjadi dalam komunikasi (Bungin, 2006). Menurut Hsieh dan Shannon (2005,
dalam Bungin, 2006) Content Analysis merupakan metode interpretasi subjektif
dari isi data teks melalui proses klasifikasi yang sistemik dengan cara pembuatan
kode (koding) dan penentuan tema atau pola.
2.5.Validitas Data Kualitatif
Menurut Lincoln dan Guba (1985, dalam Polit & Hungler, 1999)
mengusulkan pengukuran yang spesifik dalam penelitian kualitatif yaitu dengan
cara kredibilitas (validitas internal), transferabilitas, dependabilitas, dan
confirmabilitas.
2.5.1.Kredibilitas
Suatu langkah dimana peneliti memperbaiki dan mengevaluasi keabsahan
dari kesimpulan datanya, mengacu pada data yang benar. Lincoln dan Guba
pertama dengan pencarian data yang lebih dipercaya dan yang kedua
mendemonstrasikan keabsahan data mengacu pada kejujuran dari teknik
penelitian. Peneliti mampu membuat catatan lengkap mereka sendiri yang terbaru
dalam penelitian dan dengan pola yang benar. Strategi yang digunakan prolonged
engagement (perjanjian panjang), observasi tetap, bertanya dengan teman,
trianggulasi, dan pemeriksaan anggota.
a.Prolonged Engagement
Prolomged engagement dilakukan saat pengumpulan data untuk memahami
tentang kebudayaan, bahasa, melihat kelompok belajar, dan tidak adanya
informasi yang salah. Tahap ini juga membangun kepercayaan antara peneliti
dan partisipan (Polit & Hungler, 1999)
b.Persisten Observation
Persisten observation merupakan observasi yang dilakukan secara
berkelanjutan untuk meminimalisir kesalahan arti dari data yang terkumpul,
maka diarahkan peneliti fokus terhadap karakteristik atau aspek situasi atau
percakapan yang relevan antara fenomena dengan yang akan diteliti (Polit &
Hungler, 1999).
c.Triangulation
Triangulation digunakan untuk mendapatkan kesimpulan dengan apa yang
ingin diteliti. Yang harus diperhatikan yaitu apa yang menjadi tujuan penelitian
dengan melihat waktu, orang dan tempat penelitian. Metodenya dengan
triangulasi ini yaitu peneliti berusaha keras untuk memilih informasi-informasi
yang benar (Polit & Hungler, 1999).
d. Member check
Suatu cara untuk mendapatkan umpan balik dari partisipan mengenai data-data
yang telah dikumpulkan dan peneliti melihat kembali reaksi partisipan.
Tujuannya yaitu untuk menetapkan kebenaran data kualitatif (Polit & Hungler,
1999).
2.5.2.Transferabilitas
Transferabilitas yaitu pengumpulan data deskriptif yang lengkap atau
gambaran lengkap tentang perkembangan yang akan diteliti untuk mendapatkan
data yang pasti. Peneliti perlu mencari kebenaran tentang data yang digunakan.
Maksudnya dalam penentuan sampel dan desain penelitian harus searah (Polit &
Hungler, 1999).
2.5.3.Dependabilitas
Dependabilitas merupakan cara peneliti untuk mengkaji tentang konsep
yang menetapkan aspek-aspek yang menyatakan kebenaran dan keseimbangan
data, dengan melakukan pemeriksaan data agar data relevan dengan
2.5.4.Confirmabilitas
Confirmabilitas adalah metode untuk pengumpulan data yang objektif dan
netral dari dua atau lebih orang yang menyatakan kerelevanan dan makna data
BAB III
METODE PENELITIAN
1.Desain Penelitian
Penelitian ini diarahkan untuk mengkaji, membahas dan mendeskripsikan
tentang nilai-nilai perawat yang dominan dalam perawatan di Ruang IRNA D
RSUD Dumai. Mengacu pada tujuan penelitian, maka desain yang digunakan
pada penelitian ini adalah case studies descriptive dimana peneliti ingin
mendeskripsikan nilai-nilai personal dan profesional perawat yang dominan dalam
perawatan di Ruang IRNA D RSUD Dumai berkaitan kondisi, pikiran, perasaan,
perhatian, tindakan yang akan dilakukan, dan pengalaman masa lalu perawat
terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien.
2.Partisipan Penelitian
Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 7 orang perawat di Ruang
IRNA D RSUD Dumai dengan mempertimbangkan saturasi data selama
pengambilan data. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik purposive
sampling (Polit & Hungler, 1999). Partisipan yang diambil adalah yang memenuhi
kriteria yaitu perawat dengan pengalaman kerja minimal 2 tahun di ruang IRNA D
3.Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Ruang IRNA D RSUD Dumai yang terletak di
jalan Putri Hijau Kecamatan Dumai Timur, yaitu pada bulan Juli - November
2012. Adapun pertimbangan peneliti yaitu Ruang IRNA D termasuk ruang yang
memerlukan perawatan yang lama dan berkelanjutan dengan pasien TBC,
HIV/AIDS, DM dan lainnya. Dan sekali-kali bisa dijadikan ruangan isolasi RSUD
Dumai. Sehingga diperkirakan ruangan IRNA D RSUD Dumai memiliki
nilai-nilai tertentu baik itu nilai-nilai personal dan profesional perawatnya.
4.Pertimbangan Etik
Penelitian dilakukan setelah mendapat rekomendasi atau izin melakukan
penelitian dari bagian pendidikan Fakultas Keperawatan USU, Kepala Diklat
RSUD Dumai dan Kepala Ruangan IRNA D RSUD Dumai. Setelah memperoleh
persetujuan, peneliti memulai penelitian dengan pertimbangan etik yaitu : Peneliti
mulai mencari partisipan yang kriterianya sesuai dengan peneliti harapkan lalu
setelah terbina rasa saling percaya antara peneliti dan partisipan, peneliti
mengakui hak-hak partisipan dalam menyatakan kesediaan atau ketidaksediaan
untuk dijadikan partisipan. Lembar persetujuan (informed consent) yang berisi
tentang permintaan peneliti pada partisipan untuk kesediaannya menjadi subjek
penelitian, kemudian di tanda tangani berdasarkan keiginan partisipan dan
dicantumkan tanggal dan nomor partisipan sebagai tanda persetujuan dari
partisipan. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, disamping itu
partisipan mempunyai hak untuk mengundurkan diri dari penelitian serta
partisipan tidak dipaksa melainkan dihormati haknya sebagai partisipan. Peneliti
melindungi partisipan dari resiko tekanan fisik dan psikologi akibat penelitian.
Untuk menjaga kerahasiaan, maka identitas partisipan pada lembar
pengumpulan data (kuesioner data demografi) hanya nomor kode yang digunakan
sehingga kerahasiaan identitas semua informasi yang diberikan tetap terjaga.
5.Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen kunci atau alat
penelitian adalah peneliti sendiri. Peneliti kualitatif sebagai human instrument,
berfungsi melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data,
menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya. Dalam
memaksimalkan pengumpulan data yang memperhatikan pertimbangan etik
penelitian, digunakan tiga jenis instrumen penelitian.
Pertama merupakan kuesioner data demografi, yang berisi pernyataan
mengenai data umum partisipan pada lembar pengumpulan data (kuesioner)
berupa usia, jenis kelamin, agama, tempat tinggal, pendidikan terakhir, status
pernikahan dan pekerjaan.
Kemudian yang kedua merupakan lembar observasi yang berdasarkan
Potter dan Perry (2005) tentang “American Association of Colleges of Nursing
(AACN)” yang berisi nilai dan perilaku keperawatan esensial baik nilai personal
estetika, nilai kebebasan, nilai martabat manusia, nilai keadilan dan nilai
kebenaran.
Dan ketiga merupakan panduan wawancara berisi pertanyaan yang akan
diajukan meliput :
1. Coba saudara jelaskan tentang nilai-nilai yang saudara anut dalam kehidupan
sehari-hari?
2. Coba saudara jelaskan tentang nilai-nilai dan perilaku profesional saudara
sebagai perawat di Ruang IRNA D RSUD Dumai?
3. Coba saudara jelaskan pengalaman saudara yang berkaitan dengan nilai-nilai
saudara sebagai perawat saat melakukan asuhan keperawatan di Ruang IRNA
D RSUD Dumai?
4. Bagaimana pendapat saudara tentang nilai-nilai perawat di Ruang IRNA D
RSUD Dumai?
5. Berapa besar pengaruh nilai-nilai perawat terhadap perkembangan dan
kesembuhan pasien di Ruang IRNA D RSUD Dumai?
6.Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilaksanakan dengan langkah-langkah berikut : setelah
mendapat rekomendasi dari bagian pendidikan Fakultas Keperawata USU,
selanjutnya mengantar surat tersebut ke bagian Diklat RSUD Dumai, dan
menyerahkan surat dari diklat RSUD Dumai ke Kepala Ruangan IRNA D RSUD
Dumai. Dan kemudian peneliti menjelaskan maksud dan tujuan peneliti ke kepala
Peneliti datang ke ruang IRNA D RSUD Dumai pada pukul 09.00-14.30 dan
sekali-kali mengikuti jadwal dinas sore dan dinas malam partisipan sesuai kontrak
peneliti dengan partisipan. Sebelum memulai wawancara, peneliti mengadakan
pendekatan kepada calon partisipan untuk mendapatkan persetujuannya sebagai
partisipan penelitian dan memperkenalkan diri terlebih dahulu dan menjelaskan
hal-hal yang terkait dengan penelitian seperti mempelajari budaya sehingga
terbina rasa saling percaya antara peneliti dan partisipan yang akhirnya semakin
membantu dalam proses pengumpulan data. Peneliti juga ikut dalam aktivitas
yang dikerjakan calon partisipan, pada waktu luang bebincang-bincang tentang
topik-topik menarik dalam dunia keperawatan maupun topik menarik lainnya.
Setelah terjadi prolonge angagement dan persistent observation lalu peneliti
memulai mengumpulkan data. Pengumpulan data dalam penelitian ini akan
dilakukan dengan cara menggunakan kuesioner data demografi sebagai data dasar,
maka partisipan menjawab pertanyaan yang terdapat dalam lembaran kuesioner
data demografi sesuai dengan petunjuk masing-masing bagian.
Selanjutnya pengumpulan data dilakukan dengan in-depth interview yaitu
wawancara mendalam dengan menggunakan rekaman handphone, bertujuan
untuk menggali data dan informasi dari sampel penelitian sesuai permasalahan
yang diajukan. Peneliti melakukan wawancara mendalam selama 15-30 menit
dalam 1-2 kali pertemuan. Dan pertanyaan penelitian dikembangkan peneliti
(probing) sesuai tujuan penelitian dan jawaban partisipan yang dirasa perlu
Setelah mewawancara peneliti melakukan observasi, baik berdasarkan
lembar observasi maupun melakukan catatan setiap peneliti terlibat dalam
kegiatan sehari-hari partisipan yang sedang diamati, namun peneliti merahasiakan
bahwa peneliti sedang melakukan observasi. Observasi ini dilakukan untuk data
pendukung dan agar data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai
mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.
Lalu peneliti melakukan interview dengan partisipan dan membaca transkrip
jika ada hal-hal yang kurang jelas akan dilakukan wawancara ulang, pengumpulan
data akan dihentikan jika saturasi data diperoleh dalam hal ini ada tujuh
partisipan.
7.Analisa Data
Strategi analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan
Content Analysis, yaitu selama pengumpulan data paneliti membaca dan membaca
ulang data, melakukan koding atau menelisik data untuk menentukan tema yang
muncul dan mulai memberi kode pada teks yang mewakili tema. Content Analysis
dilakukan setelah melakukan wawancara per partisipan. Adapun tahapan dalam
Content Analysis yaitu membaca keseluruhan transkip dan mengulanginya bila
dirasa perlu, mengidentifikasi Pernyataan Signifikan (PS) dari setiap teks yang
terdapat dalam transkip, menuliskan Pernyataan Signifikan (PS) dalam tabel yang
dilengkapi dengan line, mengidentifikasi kembali Pernyataan Signifikan (PS)
untuk memastikan tidak ada Pernyataan Signifikan (PS) yang terlewatkan,
Pernyataan Signifikan (PS), mengelompokkan koding yang sama ke dalam suatu
kategori, mengecek kembali kesesuaian penempatan kembali Pernyataan
Signifikan (PS) di bawah suatu kategori, mengelompokkan kategori yang sama,
dan menentukan tema atau subtema (Setiawan, 2011).
Setelah pengumpulan data peneliti menampilkan tema-tema yang muncul,
mengembangkan hipotesis, bertanya dan melakukan verifikasi, dan mengurangi
dari data yang ditampilkan serta mengidentifikasi poin-poin penting. Program
komputer yang digunakan yaitu Weft-Qda untuk membantu dalam analisa data
penelitian ini.
8.Tingkat Kepercayaan Data
Untuk mencapai kebenaran atau keabsahan data yang dikumpulkan dan
mencari kecocokan antara konsep peneliti dengan konsep partisipan maka
dilakukan kedekatan ilmiah berdasarka Lincoln dan Guba (1985, dalam Polit &
Hungler, 1999) dengan pengukuran yang spesifik dalam empat area yaitu
kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan comfirmability.
8.1. Kredibilitas
Peneliti memperbaiki dan mengevaluasi keabsahan dari kesimpulan
datanya, yaitu mengacu pada data yang benar. Peneliti melakukan dua tahap yaitu
pertama dengan pencarian data yang lebih dipercaya dan yang kedua
mendemonstrasikan keabsahan data mengacu pada kejujuran dari teknik
Strategi yang digunakan prolonged engagement, persisten observation,
triangulation, dan member check.
8.1.1. Prolonged engagement
Peneliti berusaha untuk mencukupi waktu dalam pengumpulan data serta
memahami tentang kebudayaan, bahasa, dan tidak adanya informasi yang salah
dari partisipan. Maka peneliti membangun kepercayaan dengan partisipan
sebelum dilakukan wawancara. Prolonged engagement dilakukan selama dua
minggu, dimana peneliti memperkenalkan nama, ikut serta dalam aktivitas
sehari-hari di ruangan IRNA D RSUD Dumai, dan berbincang-bincang mengenai topik
yang menarik baik itu topik keperawatan maupun topik lainnya. Setelah adanya
keakraban, saling percaya dan partisipan mulai terbuka, maka peneliti
melanjutkan untuk melakukan wawancara.
8.1.2.Persisten Observation
Peneliti fokus terhadap karakteristik atau aspek dari situasi dan percakapan
yang terarah dengan partisipan. Observasi dilakukan dengan diam-diam, dimana
peneliti melibatkan diri dalam aktivitas partisipan namun peneliti merahasiakan
bahwa peneliti sedang melakukan observasi. Tujuan observasi ini yaitu untuk
melengkapi data dan mengetahui tingkat kemaknaan dari setiap perilaku
partisipan.
8.1.3.Triangulation
Peneliti menarik kesimpulan sementara dengan memperhatikan apa yang
menjadi tujuan penelitian dengan melihat waktu, orang dan tempat penelitian.
partisipan yang tepat untuk djadikan subjek penelitian, mengobservasi area
penelitian dan mencari dokumen-dokumen yang mendukung. Tujuan akhir dari
triangulasi ini peneliti akan berusaha keras untuk memilih informasi-informasi
yang benar.
8.1.4.Member check
Peneliti mendapatkan umpan balik dari partisipan mengenai data-data yang
telah dikumpulkan dan peneliti melihat kembali reaksi partisipan. Member check
dilakukan dengan cara mendengar bersama-sama partisipan untuk mendengar
kembali hasil wawancara serta menunjukkan hasil transkip wawancara dan
pengelompokkan data yang peneliti buat. Tujuannya yaitu untuk menetapkan
kebenaran data yang peneliti dapatkan.
8.2. Transferabilitas
Peneliti mengumpulkan hasil wawancara dan hasil observasi kemudian
menentukan tema dan subtema. Kemudian mencari kebenaran data yang
digunakan dengan cara tema yang diperoleh di cross check dengan beberapa
partisipan.
8.3. Dependabilitas
Peneliti melakukan pemeriksaan data wawancara agar data relevan dengan
hasil observasi, catatan peneliti, dan hasil pernyataan-pernyataan kepala ruangan
dan kepala instalasi. Data tersebut disimpan sebagai bukti untuk meperkuat
8.4. Confirmabilitas
Peneliti mendiskusikan dengan dosen pembimbing tentang tema dan
subtema yang akan dijadikan hasil penelitian agar data yang diperoleh dari hasil
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan case studies descriptive yang
bertujuan mengkaji, membahas, dan kemudian mendeskripsikan nilai-nilai
personal dan profesional perawat yang dominan dalam perawatan di ruang IRNA
D RSUD Dumai. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner data demografi,
wawancara mendalam, dan observasi. Ketujuh partisipan merupakan perawat di
ruang IRNA D RSUD Dumai yang telah memenuhi kriteria dalam penelitian ini.
1.1Profil BLUD RSUD Dumai
RSUD Kota Dumai merupakan rumah sakit Tipe C non pendidikan yang
merupakan pelayanan kesehatan yang didirikan oleh pemerintah kota serta
menjadi rujukan dari Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Rokan Hilir.
Visi RSUD Kota Dumai adalah “Menjadi Rumah Sakit Terunggul di Pantai
Timur Sumatera yang Modern dengan Nuansa Melayu”. Dalam mencapai visi ini
RSUD Kota Dumai telah menetapkan misinya yaitu (1) Menerapkan sendi-sendi
pelayanan prima, (2) Meningkatkan profesionalitas sumber daya manusia, (3)
Meningkatkan dan mengembangkan sarana dan prasarana pelayanan, (4)
Memantapkan fungsi manajerial yang akuntabel dan transparan berbasis
Di RSUD Kota Dumai terdapat lima bagian besar ruang rawat inap yaitu
Instalasi Rawat Inap A (IRNA A), Instalasi Rawat Inap B (IRNA B), Instalasi
Rawat Inap C (IRNA C), Instalasi Rawat Inap D (IRNA D), dan Instalasi Rawat
Inap VIP dan VVIP (IRNA VIP dan VVIP). Instalasi Rawat Inap D (IRNA D)
adalah unit pelayanan yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan
pelayanan rawat inap dengan penyakit dalam dan merupakan ruang isolasi untuk
pasien-pasien menular seperti HIV AIDS, Flu Burung, Flu Babi, Tetanus, dan lain
sebagainya. Metode penugasan yang dilakukan di ruangan IRNA D yaitu Model
Praktik Keperawatan Profesional Terpadu (MPKPT). Dan adapun Motto ruangan
ini adalah berantas penyakit TBC dan stop HIV AIDS, inisiatif dan tanggap dalam
tugas, ramah dalam memberikan pelayanan, nyaman bagi pasien, asuhan
keperawatan di tegakkan, dan disiplin dalam bekerja. Jumlah pasien di IRNA D
bulan Juli 2012 sebanyak 120 orang pasien dengan jumlah perawat 15 orang
perawat, Ners sebanayak 2 orang, S1 sebanyak 1 orang, D3 sebanyak 11 orang,
dan sedang tugas belajar 1 orang.
Ruangan IRNA D RSUD Kota Dumai tetap berusaha dengan semaksimal
mungkin untuk terus menerus berupaya meningkatkan kinerja pelayanan terutama
meningkatkan mutu pelayanan dengan melakukan usaha-usaha dengan
memberikan pelayanan prima yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang
bermutu dan berorientasi kepada pelanggan (customer oriented), meningkatkan
kualitas pelayanan melalui keandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness),
kemampuan (competence), mudah diperoleh (Acess), keramahan (Courtesy),
saling memahami (understanding), dan terukur (tangibles), serta mengikuti
pelatihan, workshop, seminar, simposium, dan lain sebagainya.
1.2Karakteristik Partisipan
Partisipan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah perawat yang
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dan bersedia untuk
diwawancarai serta direkam pembicaraannya dengan alat yang peneliti sudah
sediakan. Ketujuh pastisipan adalah perawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) D
RSUD Dumai dengan pengalaman kerja minimal dua tahun yang berlatar
belakang pendidikan, satu partisipan Ners keperawatan, satu partisipan Sarjana
keperawatan dan lima partisipan Diploma keperawatan. Usia ketujuh partisipan
bervariasi, dua orang berusia 25 tahun, satu orang berusia 27 tahun, satu orang
beusia 30 tahun, satu orang berusia 32 tahun, satu orang berusia 34 tahun, dan
satu orang berusia 35 tahun. Empat orang partisipan berjenis kelamin laki-laki dan
tiga orang partisipan berjenis kelamin perempuan. Ketujuh partisipan terdiri atas
agama Islam dan Kristen Protestan. Lima orang partisipan beragama Islam dan
dua orang partisipan beragama Kristen Protestan.
Para partisipan terdiri dari beberapa suku, yaitu satu orang partisipan
bersuku minang, tiga orang partisipan bersuku melayu, dan tiga orang partisipan
bersuku batak. Lama kerja ketujuh partisipan setelah mendapatkan gelar Ners, S1
dan D3 Keperawatan cukup bervariasi, satu orang partisipan telah bekerja dua
tahun, empat orang partisipan telah bekerja tiga tahun, dan dua orang partisipan
partisipan belum menikah. Ketujuh partisipan menceritakan bagaimana
pengalaman nilai-nilai personal dan profesional mereka yang telah dilaksanakan
dalam memberikan perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai.
Tabel 1
Lama kerja di IRNA D RSUD Dumai
Mean 4
1.3Deskripsi Nilai-nilai Personal dan Profesional Perawat yang Dominan dalam Perawatan di Ruang IRNA D RSUD Kota Dumai
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi kepada perawat di ruang IRNA
D RSUD Dumai, peneliti mendeskripsikan nilai personal dan profesional perawat,
meliputi (1) nilai-nilai personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruang
IRNA D RSUD Dumai dan (2) nilai-nilai profesional perawat yang dominan
1.3.1 Nilai-nilai personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruang IRNA D RSUD Dumai
Berdasarkan hasil wawancara ketujuh partisipan mengungkapkan nilai-nilai
personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruang IRNA D, yaitu :
disiplin, mengalah, bekerja keras, dan kejujuran.
a. Disiplin
Partisipan mengemukakan bahwa disiplin merupakan nilai personal yang
mereka anut dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pernyataan partisipan
kedisiplinan merupakan kunci untuk melakukan suatu pekerjaan. Dalam
menerapkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari maka perawat dapat
menghargai waktu selama kerja dan dapat meningkatkan kualitas diri
perawat. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan.
“Kalau dalam kehidupan sehari-hari biasanya saya itu orangnya disiplin
terhadap waktu kerja dalam segala hal saya disiplin.”
(Partisipan 4)
“Yang pertama disiplin, Karena disiplin itukan kalau bagi saya, disiplin itu
kunci dalam kita melakukan sesuatu. Kalau kita tidak disiplin kan bagaimana
kita untuk maju untuk berikutnya.”
(Partisipan 5)
b. Mengalah
Partisipan mengemukakan bahwa mengalah merupakan nilai personal yang