• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam Perawatan di Ruangan IRNA D RSUD Dumai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam Perawatan di Ruangan IRNA D RSUD Dumai"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PERAWAT YANG DOMINAN DALAM PERAWATAN

DI RUANGAN IRNA D RSUD DUMAI

PROVINSI RIAU

...

SKRIPSI

MELIZA SAHYENTI 111121112

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

(2)
(3)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan segala rahmat dan hidayat bagi penulis sehingga penulis dapat

menyelesaikan penelitian yang berjudul “Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam

Perawatan di Ruangan IRNA D RSUD Dumai”.

Penelitian ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam

menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan. Selama proses pembuatan

penelitian ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai

pihak. Pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Setiawan, S.Kp, MNS, PhD selaku dosen pembimbing skripsi yang

senantiasa menyediakan waktu, masukan, dan saran yang berharga bagi saya

dalam penulisan penelitian ini. Dan selalu memberikan motivasi untuk

menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih atas ilmu-ilmu penelitian kualitatif

selama membimbing saya serta dari seminar dan workshop yang saya ikuti.

4. Ibu Lufthiani S.Kep, NS, M.Kes selaku dosen pembimbing akademik yang

terus menanyakan dan memberikan motivasi serta saran untuk saya

(4)

5. Ibu Diah Arruum, S.Kep, Ns, M.Kep dan Bapak Mula Tarigan, S.Kp, M.Kes

selaku dosen penguji sidang atas saran dan masukan untuk penelitian ini.

6. Bapak dr. Syaiful sebagai direktur Rumah Sakit Umum Derah Dumai dan Ibu

Sriwati Nurlinda, Amd.Keb selaku Kepala Instalasi Diklat Rumah Sakit

Umum Daerah Dumai.

7. Ibu Sartika, Amd.Keb selaku Kepala Instalasi IRNA D RSUD Dumai, Ibu

Gennyta Syafril, S.Kep, Ns selaku Kepala Ruangan IRNA D RSUD Dumai,

Bapak Daniel Siahaan, S.Kep, Ns selaku Clinical Instruction IRNA D RSUD

Dumai, dan perawat-perawat IRNA D RSUD Dumai baik yang bersedia

menjadi partisipan maupun bukan : Kak Meza, Bang Trio, Bang Farid, Kak

Ropianti, Kak Lince, Bang Isnaini, Sandra, Kak Fatmawati, Kak Tijan, Kak

Lisa, Kak Oriza, Bang Syafronie, Kak Fatimah, Kak Maryati, Bang Agus,

dan Endang. Terimakasih atas kerjasama dan kesediaan untuk diwawancari

dan atas keramahan teman-teman sejawat.

8. Kedua orang tua Ibunda Herlina dan Ayahanda Muslim Abdullah, saudara

laki-laki saya Abangda Fadly Sahenda, dan Adinda Rahman Kurnanda yang

terus memberi semangat dan dukungan untuk berjuang menyelesaikan

penelitian ini.

9. Iqbal Syahputra yang terus menemani dan menyemangati. Terimakasih atas

waktu, semangat, perhatian dan terus menanyakan kapan penelitian ini siap.

10.Teman-teman yang selalu membantu dalam memberikan saran selama

(5)

Teman-teman sejawat imel, kak ayu, febri, kak nova, kak retna, rika, nita, dan anoel

yang selalu menjadi teman diskusi tentang penelitian ini.

11.Dan semua orang – orang yang sudah terlibat dalam penyusunan penelitian

ini, namun namanya tidak dapat disebutkan satu persatu, dan akan selalu

tersimpan di hati penulis, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan

mereka, Amin.

Medan, Februari 2013

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

1.2 Pengertian Nilai-nilai Perawat ... 9

1.3 Pembentukan Nilai ... 9

1.4 Nilai dalam Keperawatan Profesional ... 12

1.5 Klarifikasi Nilai ... 16

1.6 Tantangan Nilai dalam Keperawatan ... 17

2. Penelitian Kualitatif ... 19

2.1 Definisi Penelitian Kualitatif ... 19

2.2 Tujuan Penelitian Kualitatif ... 19

2.3 Tipe Desain Penelitian Kualitatif ... 20

2.4 Analisa Data Kualitatif ... 24

2.6 Validitas Data Kualitatif ... 25

Bab III. Metode Penelitian ... 28

(7)

3.3 Partisipan Penelitian ... 28

Bab IV. Hasil dan Pembahasan... 37

1. Hasil Penelitian ... 37

1.1Profil BLUD RSUD Dumai ... 37

1.2Karakteristik Partisipan ... 39

1.3Deskripsi Nilai-nilai Personal dan Profesional Perawat yang Dominan di Ruang IRNA D RSUD Dumai ... 40

1.4Hasil Observasi ... 49

2. Pembahasan Penelitian ... 52

2.1Nilai Personal Perawat yang Dominan di Ruang IRNA D RSUD Dumai ... 52

2.2Nilai Profesional Perawat yang Dominan di Ruang IRNA D RSUD Dumai ... 55

Bab V. Kesimpulan dan Rekomendasi ... 62

1. Kesimpulan ... 62

2. Rekomendasi ... 62

2.1Rekomendasi Penelitian ... 63

2.2Rekomendasi Rumah Sakit ... 63

2.3Pendidikan Keperawatan ... 64

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Karakteristik Partisipan 42

(9)

LAMPIRAN-LAMPIRAN PENELITIAN

1. Inform Consent

2. Kuesioner Data Demografi

3. Panduan Wawancara

4. Lembar Observasi

5. Transkip wawancara partisipan 1-7

6. Surat Izin Penelitian dari Dekan Fakultas Keperawatan USU

7. Surat Izin Penelitian dari Diklat RSUD Dumai

8. Surat Selesai Penelitian dari Diklat RSUD Dumai

(10)

Title : The Dominant Values in Nursing at IRNA D room of Dumai Hospital Province of Riau

Name : Meliza Sahyenti NIM : 111121112 Program : S1 of Nursing Year : 2013

ABSTRACT

Values in nursing is something which is precious and beliefs held by a nurse in accordance with the demands of conscience. It becomes culturally and inherent in nursing. The purposes of this study were to examine, discuss and describe the dominant values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital. This study used Case Studies of Descriptive design by the number of participants were 7 participants that selected by using Purposive Sampling method. The data recorded using a tape recorder. The data analysis was done content analysis and software Weft-QDA. The results are grounped into two themes is the dominant personal values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital: discipline, hardwork, concede, and honestly. The second theme is the professional values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital: communication, keep privacy of patient, not discriminate to patient, mutual help in colleague, responsibility to chore, care to another people, and commend pluralism in colleague. Researcher recommends to the hospital to deliver training and provide opportunities for continuing education for nurses to get better understand on the concept of value in nursing, both personal values and professional values in nursing.

(11)

Judul : Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam Perawatan di Ruangan IRNA D RSUD Dumai Provinsi Riau.

Nama Mahasiswa : Meliza Sahyenti

NIM : 111121112

Program : S1 Keperawatan

Tahun : 2013

ABSTRAK

Nilai keperawatan merupakan sesuatu yang berharga dan keyakinan yang dipegang oleh seorang perawat sesuai dengan tuntutan hati nuraninya yang kemudian menjadi budaya dan melekat pada diri perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji, membahas dan mendeskripsikan nilai-nilai perawat yang dominan di ruangan IRNA D RSUD Dumai. Penelitian ini menggunakan desain

case studies descriptive dengan jumlah partisipan tujuh partisipan yang telah dipilih dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner data demografi, observasi, dan wawancara mendalam serta direkam dengan menggunakan alat perekam. Analisa data dilakukan dengan

content analysis dan software weft-QDA. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi dua tema yaitu nilai personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai dengan subtema kedisiplinan, mengalah, bekerja keras, dan kejujuran. Tema yang kedua nilai profesional perawat yang dominan dalam perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai dengan sub tema komunikasi, menjaga rahasia pasien, tidak membeda-bedakan pasien, saling menolong antar teman sejawat, bertanggung jawab terhadap tugas, memberikan perhatian kepada orang lain, dan menghargai pluralisme antar teman sejawat. Peneliti merekomendasikan kepada rumah sakit untuk memberikan pelatihan-pelatihan dan memberikan kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan agar perawat lebih memahami konsep nilai dalam keperawatan, baik nilai personal maupun nilai profesional perawat.

Kata kunci: case studies descriptive, nilai personal perawat, nilai profesional

(12)

Title : The Dominant Values in Nursing at IRNA D room of Dumai Hospital Province of Riau

Name : Meliza Sahyenti NIM : 111121112 Program : S1 of Nursing Year : 2013

ABSTRACT

Values in nursing is something which is precious and beliefs held by a nurse in accordance with the demands of conscience. It becomes culturally and inherent in nursing. The purposes of this study were to examine, discuss and describe the dominant values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital. This study used Case Studies of Descriptive design by the number of participants were 7 participants that selected by using Purposive Sampling method. The data recorded using a tape recorder. The data analysis was done content analysis and software Weft-QDA. The results are grounped into two themes is the dominant personal values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital: discipline, hardwork, concede, and honestly. The second theme is the professional values in nursing at IRNA D room of Dumai Hospital: communication, keep privacy of patient, not discriminate to patient, mutual help in colleague, responsibility to chore, care to another people, and commend pluralism in colleague. Researcher recommends to the hospital to deliver training and provide opportunities for continuing education for nurses to get better understand on the concept of value in nursing, both personal values and professional values in nursing.

(13)

Judul : Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam Perawatan di Ruangan IRNA D RSUD Dumai Provinsi Riau.

Nama Mahasiswa : Meliza Sahyenti

NIM : 111121112

Program : S1 Keperawatan

Tahun : 2013

ABSTRAK

Nilai keperawatan merupakan sesuatu yang berharga dan keyakinan yang dipegang oleh seorang perawat sesuai dengan tuntutan hati nuraninya yang kemudian menjadi budaya dan melekat pada diri perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji, membahas dan mendeskripsikan nilai-nilai perawat yang dominan di ruangan IRNA D RSUD Dumai. Penelitian ini menggunakan desain

case studies descriptive dengan jumlah partisipan tujuh partisipan yang telah dipilih dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner data demografi, observasi, dan wawancara mendalam serta direkam dengan menggunakan alat perekam. Analisa data dilakukan dengan

content analysis dan software weft-QDA. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi dua tema yaitu nilai personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai dengan subtema kedisiplinan, mengalah, bekerja keras, dan kejujuran. Tema yang kedua nilai profesional perawat yang dominan dalam perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai dengan sub tema komunikasi, menjaga rahasia pasien, tidak membeda-bedakan pasien, saling menolong antar teman sejawat, bertanggung jawab terhadap tugas, memberikan perhatian kepada orang lain, dan menghargai pluralisme antar teman sejawat. Peneliti merekomendasikan kepada rumah sakit untuk memberikan pelatihan-pelatihan dan memberikan kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan agar perawat lebih memahami konsep nilai dalam keperawatan, baik nilai personal maupun nilai profesional perawat.

Kata kunci: case studies descriptive, nilai personal perawat, nilai profesional

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Nilai adalah keyakinan terhadap suatu ide, tingkah laku, kebiasaan atau

objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku (Rokeach,

1973 dalam Potter & Perry, 2005). Nilai menjadi dasar untuk melakukan tindakan

dan kemudian tindakan itu menjadi suatu standar atas tindakan yang selanjutnya,

pengembangan dan mempertahankan sikap terhadap objek-objek, penilaian moral

pada diri sendiri dan orang lain serta menjadi suatu perbandingan diri dengan

orang lain. Maka orang yang telah memiliki nilai tertentu akan dipilih, ditafsirkan,

dibenarkan dan diutamakan lebih tinggi dari yang lain (Potter & Perry, 2005).

Ismani (2001) mengartikan nilai-nilai perawat secara umum yaitu sesuatu

yang berharga dan keyakinan yang dipegang oleh seorang perawat sesuai dengan

tuntutan hati nuraninya yang kemudian menjadi budaya dan melekat pada diri

perawat. Seperti yang dinyatakan oleh Horton, Tschudin, dan Forget (2007) nilai

perawat secara umum dipengaruhi oleh perbedaan budaya, globalisasi dan

majunya teknologi dan obat-obatan. Maka nilai yang dianut perawat tersebut

berasal dari komponen kognitif, selektif, afektif dan tindakannya (Uustal, 1992

dalam Potter & Perry, 2005). Dimana seorang perawat dalam berpikir, memilih,

merasa, dan bertindak berdasarkan kepentingan nilai pribadinya.

Potter dan Perry (2005) membagi nilai-nilai perawat menjadi nilai personal

(15)

sikap-sikap pribadi perawat tentang kebenaran, keindahan, dan penghargaan dari suatu

pemikiran, objek, dan perilaku yang berorientasi pada tindakan, pemberian arah

serta makna pada kehidupannya (Simon, 1973 dalam Ismani, 2001). Nilai

personal bersifat pribadi, berdasarkan pengalaman pribadi akan membentuk dasar

perilaku nyata dan konsisten. Nilai personal perawat tersebut merefleksikan

kebutuhan personal, budaya dan pengaruh sosial, serta hubungan dengan orang

tertentu. Nilai-nilai yang ditanamkan kepada seorang perawat oleh lingkungannya

itu membentuk cara pandang dan sikap hidupnya. Sikap hidup itu tampak secara

nyata dalam perilaku sebagai kebiasaan. Kebiasaan dalam nilai-nilai itu

menumbuhkan tabiat. Tabiat memancarkan tindakan dan perbuatan melalui

kemauan (Tarmizi, 2003).

Fungsi nilai personal seorang perawat yaitu dalam melaksanakan asuhan

keperawatan, selain menggunakan ilmu keperawatan yang mereka miliki, juga

diperkuat oleh nilai yang ada dalam diri mereka. Sehingga perawat dapat

membantu pasien untuk mendapatkan pola tindakan yang didasarkan pada

nilai-nilai yang ada pada mereka (Ismani, 2001). Menurut Cheng (2011) dari

pengakuan staff perawat di China terhadap nilai kerjanya termasuk tinggi. Lama

kerja, usia, dan pembagian kerja perawat mempengaruhi nilai-nilai personal

mereka. Tetapi riwayat pendidikan hanya sedikit mempengaruhi hasil kerja

perawat tersebut.

Pengertian diatas menunjukkan bahwa nilai-nilai individu bersifat personal,

sedangkan kode etik yang berasal dari profesi atau masyarakat maka menetapkan

(16)

mempengaruhi tindakan dan mempertahankan apa yang bermanfaat bagi perawat

dan layanannya, maka profesi perawat memiliki nilai yang sama kuat dengan nilai

yang mendasarinya. Nilai profesional perawat berfungsi sebagai sesuatu yang

dibutuhkan oleh masyarakat atau pasien. Nilai perawat yang paling fundamental

adalah perawatan (pemberian asuhan keperawatan). Perlindungan atau advokasi

klien juga berkembang sebagai nilai keperawatan primer.

Potter dan Perry (2005) menerbitkan hasil kerja yang disusun untuk

mengidentifikasi pengetahuan esensial, keterampilan dan nilai yang dibutuhkan

dalam keperawatan. Projek tersebut menghasilkan konsensus diantara para

profesional keperawatan diseluruh Amerika yang merekomendasikan tujuh nilai

esensial bagi perawat profesional, yang meliputi altruisme, persamaan, estetika,

kebebasan, harga diri manusia, keadilan dan kebenaran. Berdasarkan hasil riset

Shih (2009) bahwa nilai profesional perawat yang paling penting menurut

persepsi perawat di Taiwan telah diidentifikasi nilai-nilai tersebut baik altruisme,

persamaan, estetika, kebebasan, harga diri manusia, keadilan dan kebenaran

bermanfaat untuk masyarakat, diri perawat, antar disiplin ilmu dan praktik klinik.

Kesadaran perawat terhadap nilai mereka dan bagaimana nilai tersebut

mempengaruhi tingkah laku mereka adalah bagian sifat dasar dari humanistik care

perawat. Perawat pendidik membutuhkan pengembangan strategi yang lebih baik

untuk refleksi dan integrasi dari nilai dan filosofi personal dan profesionalnya.

Kota Dumai merupakan sebuah kota kecil yang mana disini terdapat 1

RSUD dan 1 RS Swasta. RSUD Dumai merupakan rumah sakit umum daerah tipe

(17)

ditengah-tengah kota Dumai. Sebagai sebuah rumah sakit umum, maka dalam menjalankan

pelayanannya RSUD Dumai ini mengemban visi dan misi. Adapun visi RSUD

Dumai yaitu menjadi rumah sakit yang terunggul dipantai timur sumatera yang

modren dengan nuansa melayu. Dan adapun misinya yaitu pertama menerapkan

sendi-sendi pelayanan prima, kedua meningkatkan profesionalitas sumber daya

manusia, ketiga meningkatkan dan mengembangkan sarana dan prasarana,

keempat memantapkan fungsi managerial yang akuntabel dan transparan berbasis

teknologi informasi. Berdasarkan hasil wawancara sementara peneliti dengan

salah satu kepala instalasi RSUD Dumai mengenai perkembangan RSUD Dumai

cukup baik dari segi pelayanan dan asuhan keperawatannya.

Ruangan IRNA D RSUD Dumai adalah ruangan rawat inap pasien-pasien

dengan penyakit HIV/AIDS, TBC, DM dan penyakit dalam lainnya.

Sewaktu-waktu ruangan tersebut dijadikan ruangan isolasi seperti flu burung ataupun flu

babi dimana perawat-perawatnya mempunyai keahlian dalam memberikan

perawatan terhadap pasien-pasiennya. Berdasarkan hasil wawancara peneliti

dengan kepala ruangan IRNA D RSUD Dumai bahwa ruang IRNA D memiliki

pasien dengan penyakit-penyakit infeksi dan menular yang memerlukan

perawatan yang lama dan berkelanjutan, maka perawat diruangan IRNA D

memiliki keahlian dalam memberikan perawatan kepada pasien. Seperti keahlian

dalam penangan pasien HIV/AIDS, TBC, DM, Efusi Pleura, Flu burung dan

penyakit infeksi lainnya.

Jumlah pasien di IRNA D Bulan Juli 2012 yaitu 120 pasien. Dan jumlah

(18)

22 tempat tidur. Moto yang dianut perawat Ruang IRNA D RSUD Dumai yaitu

memberantas penyakit TBC dan memberhentikan HIV/AIDS. Dan visi misi

Ruang IRNA D RSUD Dumai yaitu inisiatif dan tanggap dalam tugas, ramah

dalam memberikan pelayanan, nyaman bagi pasien, asuhan keperawatan

ditegakkan, dan disiplin dalam bekerja. Berdasarkan hasil wawancara awal

peneliti dengan Clinical Intruktion (CI) IRNA D RSUD Dumai bahwa kegiatan

rumah sakit dalam sistem penugasan keperawatan dalam memberikan asuhan

keperawatan terhadap pasien Ruangan IRNA D RSUD Dumai memakai Model

Praktik Keperawatan Profesional Terpadu (MPKPT) yaitu gabungan metode

primer dan metode tim. Namun berdasarkan hasil observasi sementara peneliti

masih terlihat kurangnya motivasi perawat dalam pelaksanaan metode MPKPT

tersebut. Dimana dalam metode MPKPT tersebut dibutuhkan nilai-nilai

profesional perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Dan didukung

dengan hasil wawancara sementara peneliti dengan pasien mengenai nilai-nilai

perawat di ruanan IRNA D RSUD Dumai terdapat masih kurangnya kesiapan

perawat terhadap kebutuhan pasien dan kurangnya komunikasi antara perawat dan

pasien di ruang IRNA D RSUD Dumai.

Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan diatas maka perlu upaya

peningkatan mutu asuhan keperawatan yang terlihat dari nilai-nilai perawat baik

dari segi nilai personal maupun nilai profesional perawat ruang IRNA D RSUD

Dumai. Dari penjelasan di ataspun peneliti sangat tertarik untuk melakukan

penelitian tentang bagaimanakah nilai-nilai perawat yang dominan dalam

(19)

2.Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya

adalah sebagai berikut, “Apakah Nilai-nilai Perawat yang Dominan dalam

Perawatan di Ruang IRNA D RSUD Dumai?”.

3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali dan mendeskripsikan nilai-nilai

perawat yang dominan dalam melakukan praktek keperawatan di Ruang IRNA D

RSUD Dumai.

4.Manfaat Hasil Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, diharapkan hasil penelitian bermanfaat untuk

pendidikan keperawatan, pelayanan kesehatan, penelitian keperawatan, dan pihak

rumah sakit

4.1. Bagi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dengan mengetahui nilai-nilai perawat, maka

dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dalam

praktiknya, serta bisa dijadikan referensi untuk menciptakan calon-calon perawat

(20)

4.2. Bagi Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan masukan dalam

memberikan intervensi keperawatan dalam mempertimbangkan nilai-nilai

personal dan profesional perawat dalam memberikan perawatan.

4.3. Bagi Penelitian Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi awal pada penelitian

berikutnya yang akan meneliti tentang topik dan ruang lingkup nilai-nilai perawat

yang penting dan dominan dalam perawatan.

4.4. Bagi Pihak Rumah Sakit

Penelitian diharapkan dapat menjadi informasi terkait nilai-nilai perawat

yang dominan dalam perawatan di Ruang IRNA D RSUD Dumai. Dan penelitian

ini dapat dibuat untuk mengetahui nilai-nilai perawat yang dominan dan penting

dalam perawatan berdasarkan nilai-nilai personal dan profesional perawat untuk

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.Nilai-Nilai Perawat

Nilai memberikan hidup dan identitas kepada individu, profesi, dan

masyarakat. Perawat setiap hari akan ditantang dalam hubungan dan bagaimana

mengambil keputusan yang dipengaruhi oleh nilai tersebut. Maka dari itu nilai

menjadi sangat penting bagi seorang perawat, yaitu akan menjadi sumber

kepuasan dan juga menjadi sumber konflik. Perawat dituntut untuk belajar

mengenali dan bekerja dengan kekuatan nilai yang dianutnya ketika memberikan

asuhan keperawatan kepada pasien. Pada bagian ini akan dibahas tentang definisi

nilai, pengertian nilai-nilai perawat, pembentukan nilai, nilai dalam keperawatan

profesional, klarifikasi nilai, dan tantangan nilai dalam keperawatan.

1.1. Definisi Nilai

Nilai menurut Znowski (1974, dalam Ismani, 2001) nilai adalah keyakinan

seseorang tentang susuatu yang berharga, kebenaran, dan keinginan mengenai

ide-ide, objek atau perilaku khusus.

Menurut Potter dan Perry (2005) nilai adalah keyakinan yang mendasari

seseorang melakukan tindakan dan tindakan itu kemudian menjadi menjadi suatu

standar atas tindakan yang selanjutnya, pengembangan dan mempertahankan

sikap terhadap objek-objek, penilaian moral pada diri sendiri dan orang lain serta

(22)

1.2. Pengertian Nilai-nilai Perawat

Ismani (2001) mendefinisikan nilai-nilai (value) merupakan hak seseorang

dalam memutuskan dan mengatur perilakunya. Nilai tersebut dimiliki oleh setiap

individu yang berfungsi untuk mengatur langkah-langkah yang seharusnya

dilakukan, karena nilai berasal dari hati nurani dan diperoleh seseorang sejak

kecil. Maka dalam memberikan pelayanan perlunya kesadaran perawat atas nilai

yang dimilikinya dan kebutuhan pasiennya. Nilai tersebut dipengaruhi oleh

lingkungan dan pendidikan perawat.

Nilai profesional dalam keperawatan yang paling fundamental adalah

perawatan (pemberian asuhan keperawatan). Perlindungan atau advokasi terhadap

pasien juga berkembang sebagai nilai keperawatan primer. Dalam dokumen yang

berjudul “Essentials of College and University Education for Professional

Nursing,” American Association of Colleges of Nursing Values (AACN) dalam

Potter dan Perry (2005)menerbitkan tujuh nilai esensial bagi perawat profesional,

yang meliputi altruisme, persamaan, estetika, kebebasan, harga diri manusia,

keadilan dan kebenaran.

1.3Pembentukan Nilai

Nilai dapat dipelajari melalui observasi, pertimbangan, dan pengalaman

(Hamilton, 1992 dalam Potter & Perry, 2005). Seorang individu akan

mengobservasi tingkah laku terhadap lingkungan tertentu dan mencatat respons

yang dihasilkannya. Tingkah laku yang menurutnya berhasil dan produktif akan

(23)

nilai dari proses observasi, pemahaman, dan pengalaman. Nilai yang dipegang

oleh suatu kelompok profesional juga terbentuk melalui pemahaman, observasi,

dan pengalaman.

1.3.1 Bentuk Transmisi Nilai

Lima cara tradisional dalam mentransmisikan nilai menurut Potter dan Perry

(2005) yaitu modeling, moralisasi, laissez-faire, pilihan bertanggung jawab, dan

penguatan atau hukuman. Cara tersebut dapat membantu perawat dalam

mengembangkan pemahaman tentang pembentukan nilai dan kemudian

menggunakannya sebagai metode yang efektif.

a.Modeling

Seseorang bertindak untuk menunjukkan cara yang lebih disukai orang lain

dalam bertingkah laku. Dimana seseorang membutuhkan nilai dari berbagai

contoh model.

b.Moralisasi

Orangtua dan guru memegang standar apa yang benar dan salah serta secara

keras membatasi anak untuk mengikuti perangkat nilai mereka.

c.Laissez-faire

Kadang seseorang memperoleh nilai dengan bertingkah laku secara bebas

tanpa batas atau peraturan. Tidak ada suatu sistem nilai yang cocok untuk

semua orang dan kemudian anak membentuk nilai tanpa panduan yang kaku

(24)

d.Pilihan bertanggung jawab

Keseimbangan antara kebebasan dan pembatasan memungkinkan anak-anak

untuk memilih nilai yang mengarah pada kepuasan pribadi dan dukungan

orangtua. Pilihan nilai pada anak-anak lebih terbatas dibandingkan dengan

pendekatan laissez-faire.

e.Penguatan dan hukuman

Pemberian penguatan atau hadiah untuk suatu sikap dari nilai tertentu akan

membantu mengendalikan tingkah laku. Ketika seorang anak gagal untuk

melakukan tingkah laku tertentu, orangtua memberikan hukuman.

1.3.2 Pengaruh Sosiokultural

Nilai terbentuk dari lingkungan sosial yang dipengaruhi oleh latar belakang

pendidikan, sosioekonomi, spritual, dan budaya seseorang. Lingkungan budaya

yang lebih besar yang terdapat kelompok masyarakat yang lebih kecil, dan

subbudaya dengan nilai yang cukup khas yang akan membuat kelompok

masyarakat yang lebih kecil berbeda dengan kelompok yang dominan. Maka

mereka akan mengambil nilai-nilai budaya yang dominan ditempat mereka hidup.

Karena setiap orang akan belajar dari apa yang dilihatnya, kebiasaan, tingkah

laku, ritual, dan sikap orang lain. Jika seseorang tidak mengikuti nilai-nilai

dilingkungannya maka seringkali dianggap bodoh, tidak efektif atau bahkan

berbahaya. Hal ini juga berlaku dalam praktik keperawatan.

Untuk memberikan perawatan yang efektif, perawat berupaya untuk

(25)

promosi kesehatan, penggunaan pelayanan asuhan kesehatan dan penyesuaian

terhadap penyakit. Sistem nilai yang ada pada perawat harus memahami bahwa

praktik kultural tidak bersifat benar atau salah, namun pengertian perawat lebih

untuk memahami dan menghargai dari nilai-nilai pasiennya. Maksudnya

meskipun perawat merasa nilainya lebih benar dalam memutuskan suatu tindakan,

namun seorang perawat harus dapat menunjukkan kepeduliannya pada nilai-nilai

budaya pasien dengan berusaha untuk memahami makna dan nilai dibalik praktik

kesehatan kultural tertentu sebelum berupaya untuk melakukan modifikasi

(Johnson & Rogers, 1994 dalam Potter & Perry, 2005).

1.4 Nilai dalam Keperawatan Profesional

Profesi keperawatan yang berhubungan dengan pasien dibutuhkan nilai-nilai

profesi yang mendasarinya dalam memberikan pelayanan. Untuk tujuan identitas

dan pendidikan, profesi keperawatan menyatakan nilai-nilai yang mereka percayai

yang akan dibentuk dan dipertahankan. Namun, secara periodik profesi mengkaji

ulang nilai dan tingkah laku dalam keperawatan untuk mengembangkan dan

mengakomodasi kebutuhan baru pada pasien. Nilai perawat yang paling

fundamental yaitu memberikan asuhan keperawatan dan memberikan

perlindungan atau advokasi kepada pasien.

1.4.1 Nilai dan Perilaku Keperawatan Esensial

Profesi keperawatan memiliki nilai sebagai identitas yang dapat

(26)

Sebagai profesi yang berhubungan langsung dengan pasien maka diperlukan

nilai-nilai sebagai dasar dalam memutuskan dan memberikan pelayanan pada pasien.

Berdasarkan Potter dan Perry (2005) tentang “American Association of Colleges

of Nursing (AACN)” menetapkan tujuh nilai dan perilaku keperawatan esensial

yaitu alturisme, persamaan, estetika, kebebasan, martabat manusia, keadilan, dan

kebenaran.

a.Alturisme

Alturisme menjelaskan tentang nilai personal yang dimiliki perawat yaitu

sebagai individu yang perhatian, komitmen, kasihan, memiliki kemurahan hati,

dan ketekunan. Dan nilai profesional perawat yaitu memberikan perhatian yang

penuh pada pasien, membantu teman sejawat ketika mereka tidak dapat

melakukannya dalam memberikan perawatan, dan menunjukkan perhatian pada

masalah sosial yang behubungan dengan kesehatan.

b.Persamaan

Seharusnya perawat memiliki nilai dan sikap personal yang mudah menerima,

asertif, tidak sepihak, harga diri yang baik, dan toleransi. Nilai dan perilaku

profesional sebagai perawat yaitu dapat memberikan asuhan keperawatan

berdasarkan kebutuhan individu, tidak melihat dan memilih pasien dari

karakter seseorang, melakukan interaksi dengan perawat yang lain,

mengekspresikan pikiran tentang perkembangan dalam bidang keperawatan

(27)

c.Estetika

Sikap dan kualitas personal yang memiliki penghargaan terhadap kinerjanya,

kreativitas, imajinasi, dan sensitivitas. Perilaku profesional perawat yaitu dapat

beradaptasi dengan lingkungan sehingga bisa memuaskan pasien, menciptakan

lingkungan kerja yang menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain,

menempatkan diri dengan cara yang dapat meningkatkan kesan positif dalam

keperawatan.

d.Kebebasan

Memiliki sikap dan nilai personal yang percaya diri, memiliki harapan,

kemerdekaan, keterbukaan, penguasaan diri, dan disiplin. Perilaku sebagai

perawat profesional yaitu bisa menghargai hak pasien untuk menolak

perawatan, mendukung hak teman sejawat untuk memberikan berbagai

alternatif pada rencana perawatan, mendukung diskusi terbuka terhadap isu-isu

yang kontroversi dalam profesi.

e.Martabat Manusia

Perawat memiliki nilai dan sikap personal dalam memberikan pertimbangan,

empati, kemanusiaan, keramahan, bisa menghargai, dan percaya diri. Perilaku

profesonal sebagai perawat dapat melindungi hak pasien terhadap

kebebasannya sendiri, memperlakukan pasien sesuai dengan yang mereka

inginkan, mempertahankan kerahasiaan pasien dan pegawai, merawat pasien

(28)

f.Keadilan

Memiliki sikap dan nilai personal yang berani, integritas, moralitas, dan

objektivitas. Perilaku profesional yang dimiliki perawat yaitu bertindak sebagai

advokasi dalam perawatan kesehatan pasien, mealokasikan sumber daya secara

adil, dan melaporkan praktik yang tidak kompeten, tidak etis, dan ilegal secara

objektif dan aktual.

g.Kebenaran

Memiliki sikap dan nilai personal yang akuntabilitas, kebenaran, kejujuran,

keingintahuan, rasionalitas, dan refleksivitas. Perilaku profesional yang

dimiliki seorang perawat yaitu dapat mendokumentasikan keperawatan secara

akurat dan jujur, mendapatkan data yang cukup untuk membuat suatu

keputusan sebelum melaporkan adanya pelanggaran kebijakan organisasi,

berpartisipasi dalam usaha profesional untuk melindungi masyarakat dari

kesalahan informasi mengenai kesehatan.

1.4.2 Nilai Advokasi

Advokasi adalah mendukung, menjunjung, dan mendiskusikan nilai-nilai

yang dianut orang lain. Terbentuknya advokasi terhadap pasien dipengaruhi oleh

berbagai faktor, baik dari perawat maupun pasien itu sendiri. Adapun bentuk

advokasi yang bisa dilakukan perawat pada pasien yaitu memberikan informasi

atau edukasi, penjelasan tentang prosedur tertentu, penjelasan tentang hasil tes

(29)

dan mendengarkan secara hati-hati (American Nurse Association (ANA) Code of

Ethics, 1985 dalam Potter & Perry, 2005).

1.5 Klarifikasi Nilai

Menurut Raths, Harmin, dan Simon (1979, dalam Potter & Perry, 2005)

memperkenalkan klarifikasi nilai sebagai suatu pendekatan untuk menghargai

nilai, menggambarkan sebuah metode dalam klarifikasi nilai yang meliputi tiga

langkah yaitu pertama memilih kepercayaan dan perilaku seseorang dengan

memilih beberapa alternatif, memilih dengan bebas, dan mempertimbangkan

setiap konsekuensi. Kedua menghargai kepercayaan dan perilaku seseorang

dengan menghargai dan menyukai pilihan, memberi dan menyukai pilihan, dan

memberi tahu orang lain tentang pilihan yang diambil. Ketiga bertindak sesuai

kepercayaan seseorang dengan membuat keputusan terhadap kepercayaan orang

tersebut dan bertindak dengan pola yang tetap dan berulang-ulang.

1.5.1 Pemilihan

Memulai klarifikasi nilai ketika seseorang memilih, kemudian membuat

prioritas nilai pribadi. Skala nilai hidup memberikan contoh bagaimana seseorang

dapat memulai proses. Hal ini meliputi 10 nilai yang harus diberi prioritas mereka

secara urut. Cara lain untuk menyelesaikan latihan ini adalah dengan membuat

pasien secara bebas menuliskan 10 nilai dan membuat prioritasnya. Ketika

(30)

menghargai pilihan akhirnya. Seorang individu juga harus dapat melihat pilihan

mereka dan menilai setiap pilihan yang diwakilkannya.

1.5.2 Menghargai

Menunjukkan kepuasan diri dan publik dengan nilai yang telah dipilih.

Seseorang memiliki nilai dalam rasa percaya diri dengan merasa senang tentang

pilihan tertentu. Seorang perawat membantu pasien menggunakan klarifikasi nilai

sehingga orang tersebut dapat menguatkan nilai pribadi dihadapan orang lain.

1.5.3 Tindakan

Pada suatu nilai yang telah dipilih memperkuat penerimaannya. Tindakan

membutuhkan penerjemahan nilai kedalam perilaku. Raths, Harmin, dan Simon

(1979, dalam Potter & Perry, 2005) mengusulkan bahwa seseorang harus

bertindak secara konsisten dan teratur pada nilai yang telah dipilih.

1.6 Tantangan Nilai dalam Keperawatan

Profesi keperawatan telah berkembang, pergeseran kritis dalam nilai

profesional perawat memperkeruh kontroversi dan menciptakan ide baru. Perawat

secara bersama-sama menghadapi tantangan untuk memperbaharui dan

membentuk nilai profesional dalam perubahan sistem perawatan kesehatan yang

tepat. Maka tantangan nilai muncul sebagai kritik untuk pertumbuhan personal

(31)

1.6.1 Tantangan Pribadi

Tindakan perawat untuk mengatasi konflik dan tantangan pribadi dalam

membentuk dan menerima nilai maupun kualitas perilakunya, maka seorang

perawat harus memiliki pengetahuan yang lebih luas dan profesional. Seorang

perawat akan memiliki kesulitan melakukan perannya sebagai seorang profesional

ketika nilai pribadinya tidak jelas dan tidak meyakinkan. Perawat harus

menghadapi tantangan, usaha untuk memahami situasi hidup dan pengalaman

orang lain.

1.6.2 Tantangan Profesional

Priester (1992, dalam Potter & Perry, 2005) mengemukakan enam nilai

yang mendasar sistem perawatan kesehatan di Amerika. Keenam nilai itu meliputi

autonomi profesional, autonomi pasien, perlindungan pasien, kedaulatan

pelanggan, perawatan berkwalitas tinggi dan akses yang universal pada

perawatan. Menurut Aroskar (1993, dalam Potter & Perry, 2005) membuat

rekonfigurasi dari nilai tersebut dan menantang keperawatan untuk memainkan

posisi kunci dalam proses tersebut. Sebuah rangka kerja yang baru akan mengatur

kembali atau menghasilkan definisi yang baru dari nilai yang telah ada dan

menambahkan nilai yang memiliki penekanan lebih besar untuk kepentingan

pasien. Maka perawat perlu memahami nilai-nilai esensial dalam melakaukan

(32)

2. Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif memiliki beberapa ciri pembeda yang mungkin

berlawanan dengan metode kuantitatif. sementara peneliti kuantitatif pada

umumnya hanya melakukan sedikit kontak dengan subjek studi, peneliti kualitatif

sering kali menggunakan diri mereka sebagai instrumen pengumpulan data.

Dalam membuat rencana analisis data peneliti kualitatif merumuskan kesimpulan

berkaitan dengan data yang dikumpulkan. Karena data lebih bersifat kualitatif

bukan kuantitatif (numeris), metode analisis data biasanya tidak tergantung pada

uji statistik. Bagian ini akan dibahas mengenai definisi, tujuan, tipe desain,

analisan data, analisa isi, dan validitas penelitian kualitatif (Potter & Perry, 2005).

2.1. Definisi Penelitian Kualitatif

Riset kualitatif adalah pendekatan induktif untuk menemukan atau

mengembangkan pengetahuan. Riset ini memerlukan keterlibatan peneliti dalam

mengidentifikasi pengertian atau relevansi fenomena tertentu terhadap individu.

Analisa dan interpretasi hasil riset dalam metode ini biasanya tidak tergantung

pada kuantifikasi pengamatan (Brockopp & Tolsma, 1999).

2.2. Tujuan Penelitian Kualitatif

Tujuan penggunaan metodologi riset kualitatif dapat bervariasi. Metode ini

bisa digunakan sewaktu dicurigai terjadi bias dalam pengetahuan atau teori-teori

saat ini, atau pertanyaan riset berhubungan dengan pemahaman dan

(33)

Brockopp & Tolsma, 1999). Riset kualitatif mencoba untuk menggali/eksplorasi,

menggambarkan atau mengembangkan pengetahuan bagaimana kenyataan

dialami (Brockopp & Tolsma, 1999).

2.3. Tipe Desain Penelitian Kualitatif

Menurut Brockopp dan Tolsma (1999) penelitian kualitatif dibedakan

menjadi lima jenis yaitu fenomenologi, etnografis, antropologi, dan grounded

theory. Dan menurut Polit dan Hungler (1999) tipe lain dalam desain penelitian

kualitatif ada historis dan studi kasus (case studies).

2.3.1.Fenomenologi

Cabang filosofi yang menekankan subjektivitas pengalaman manusia.

Sewaktu digunakan sebagai dasar filosofi dalam riset, fenomenologi

mengamanatkan bahwa data ilmiah dihasilkan dengan memperlajari informasi

yang diharapkan dari perspektif peserta riset. Menurut Omery (1983, dalam

Brockopp & Tolsma, 1999) peserta mneghasilkan realitas pengalaman tanpa

hipotesa atau “firasat” sebelumnya yang ditetapkan untuk mengarahkan apa yang

harus ditemukan. Peneliti bertindak sebagai papan tulis yang bersih, bersedia

untuk menulis suatu bab baru tentang pengetahuan yang dicari.

2.3.2.Etnografis

Menurut Ragucci (1972, dalam Brockopp & Tolsma, 1999) etnografis

(34)

mempelajari individu-individu, benda-benda atau dokumen-dokumen dalam

lingkungan alami. Penelitian ini meliputi desain riset antropologis maupun

historis. Tujuan akhirnya adalah untuk memahami sudut pandang peserta dan

mengetahui bagaimana fenomena sehat dan sakit dipertimbangkan.

2.3.3.Antropologi

Menurut Leininger (1985, dalam Brockopp & Tolsma, 1999) antropologis

studi mengenai manusia dalam kondisi yang alami. Tipe area riset ini berusaha

untuk mengetahui bagaimana fungsi individu atau kelompok berfungsi tingkah

lakunya dengan pengamatan langsung maupun tidak langsung pada individu atau

kelompok atau dengan menemukan bentuk peradaban untuk memperoleh

wawasan yang dalam mengenai bagaimana mereka mempengaruhi

kelompok-kelompok kultural saat ini.

2.3.4.Grounded Theory

Metodologi grounded theory dikembangkan oleh sosiologi Glaser dan

Strauss (1966), adalah suatu cara menarik dalam pengembangan teori dengan

menggambarkan secara mendalam tentang data sosial yang terperinci untuk

mempertajam keyakinan-keyakinan teoritis. Suatu teori yang pada akhirnya

(35)

2.3.5.Historis

Menurut Polit dan Hungler (1999) historis adalah suatu metoda yang

digunakan untuk menjawab penelitian tentang penyebab, efek, atau

peristiwa-peristiwa yang lalu yang akan terjadi pada yang akan datang. Bagian penting yang

membedakan tipe historis dengan yang lain yaitu menggunakan hipotesis.

2.3.6.Studi Kasus (case studies)

Penelitian mendalam yang tidak hanya berpusat pada individu, tetapi juga

keluarga, kelompok, institusi dan kelompok sosial lainnya. Tujuan dari case

studies untuk menganalisa dan mengartikan fenomena penting dari riwayat,

perkembangan atau perawatan individu dan masalah individu. Fokus case studies

yaitu menentukan secara dinamis bagaimana seseorang berpikir, berprilaku, dan

berkembang. Bukan hanya melihat status, kemajuan, tindakan, dan pikirannya.

Case studies memberikan kesempatan untuk peneliti mengetahui kondisi, pikiran,

perasaan, tindakan yang lalu dan yang akan datang, perhatian, dan lingkungan

partisipannya. Dalam pengumpulan data case studies jika dilakukan dengan cara

observasi maka titik fokus peneliti menjadi observer. Keuntungannya case studies

dapat membuat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi mengenai tingkah laku

partisipannya untuk yang akan datang dipengaruhi oleh masa lalunya.

Menurut Yin (2003, dalam Boxter dan Jack, 2008) penelitian case studies

dapat dibedakan menjadi beberapa karakteristik yaitu eksplanatoris, eksploratoris,

(36)

a.Eskplanatoris

Tipe ini digunakan untuk mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan yang

akan menjelaskan hal-hal diaggap menjadi penyebab tindakan nyata dalam

kehidupan dengan melakukan pencarian atau strategi eksperimen. Dan juga

untuk mencari faktor-faktor dari sebuah pelaksanaan program dan efeknya.

b.Eksploratoris

Tipe ini digunakan untuk menjelaskan situasi intervensi sampai evaluasi yang

tidak jelas, akan menghasilkan data tunggal.

c.Deskriptif

Tipe ini digunakan untuk mendeskripsikan sebuah tindakan atau fenomena

yang terjadi dalam kehidupan yang nyata.

Pengumpulan data pada penelitian case studies menggunakan banyak

sumber data, strategi ini untuk menjaga kredibilitas data ( Patton, 1990; Yin, 2003

dalam Boxter & Jack, 2008). Sumber data yang digunakan didapat dari

dokumentasi, surat-surat lama, wawancara, artefak, observasi langsung, dan

observasi terhadap pertisipan. Perbedaan tipe penelitian ini dengan tipe kualitatif

lainnya dalam pengumpulan data, tipe ini hampir sama seperti mencari data-data

dalam kuantitatif. Kemudian data dilakukan dengan proses analisa, baik manual

maupun menggunakan sistem komputerisasi. Analisa case studies sama seperti

penelitian kualitatif lainnya. Yin (2003, dalam Boxter & Jack, 2008) menjelaskan

yang terpenting dari analisa data case studies yaitu membentuk proporsi (jika

digunakan), jika tidak digunakan maka analisa data yang digunakan sama seperti

(37)

Dalam membuat laporan hasil penelitian ini termasuk sulit karena peneliti

harus dapat menjelaskan fenomena yang terjadi secara lengkap dan dimengerti

pembaca. Tantangan dalam penelitian ini, peneliti menjadikan hasil penelitian nya

dalam bentuk komprehensif dimana pembaca seoleh-olah masuk dalam penelitian

dan merasa menjadi partisipannya serta diaplikasikan dengan situasinya sendiri.

Melaporkan hasil penelitian case studies peneliti harus memperhatikan

metode-metode yang digunakan yaitu dengan cara linear, komparatif, kronologis,

membangun teori, ketegangan, dan tidak berurutan (Yin, 2003 dalam Boxter &

Jack, 2008).

2.4. Analisa Data Kualitatif

Analisa data kualitatif memerlukan waktu. Hubungan-hubungan seringkali

tak terlihat dan mungkin memerlukan suatu kesadaran intuitif (berdasarkan

intuisi) untuk mengidentifikasikannya. Selain itu, data biasanya sangat besar

jumlahnya dan suatu penelaahan yang cepat jarang dinyatakan kekayaan informasi

yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Menurut Field dan Morse, 1985; Polit

dan Hungler, 1991; Leininger, 1985; Parse, Coyne, dan Smith (1985, dalam

Brockopp & Tolsma, 1999) mengusulkan beberapa langkah yang umum meliputi

identifikasi tema-tema, membuktikan tema-tema yang dipilih melalui gambaran

data tersebut dan pembahasan dengan para peneliti atau ahli-ahli lain dalam

bidang tersebut, mengkategorisasikan tema-tema (menggunakan kategori-kategori

yang ada atau kategori baru), mencatat data yang mendukung

(38)

2.4.1.Analisis Isi (Content Analysis)

Content Analysis adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi

yang dapat ditiru (replicabel), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya.

Analisi Isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Dalam

penelitian kualitatif, Analisis Isi ditekankan pada bagaimana peneliti melihat

keajengan isi komunikasi secara kualitatif, pada bagaimana peneliti memaknakan

isi komunikasi, membaca simbol-simbol, memaknakan isi interaksi simbolik yang

terjadi dalam komunikasi (Bungin, 2006). Menurut Hsieh dan Shannon (2005,

dalam Bungin, 2006) Content Analysis merupakan metode interpretasi subjektif

dari isi data teks melalui proses klasifikasi yang sistemik dengan cara pembuatan

kode (koding) dan penentuan tema atau pola.

2.5.Validitas Data Kualitatif

Menurut Lincoln dan Guba (1985, dalam Polit & Hungler, 1999)

mengusulkan pengukuran yang spesifik dalam penelitian kualitatif yaitu dengan

cara kredibilitas (validitas internal), transferabilitas, dependabilitas, dan

confirmabilitas.

2.5.1.Kredibilitas

Suatu langkah dimana peneliti memperbaiki dan mengevaluasi keabsahan

dari kesimpulan datanya, mengacu pada data yang benar. Lincoln dan Guba

(39)

pertama dengan pencarian data yang lebih dipercaya dan yang kedua

mendemonstrasikan keabsahan data mengacu pada kejujuran dari teknik

penelitian. Peneliti mampu membuat catatan lengkap mereka sendiri yang terbaru

dalam penelitian dan dengan pola yang benar. Strategi yang digunakan prolonged

engagement (perjanjian panjang), observasi tetap, bertanya dengan teman,

trianggulasi, dan pemeriksaan anggota.

a.Prolonged Engagement

Prolomged engagement dilakukan saat pengumpulan data untuk memahami

tentang kebudayaan, bahasa, melihat kelompok belajar, dan tidak adanya

informasi yang salah. Tahap ini juga membangun kepercayaan antara peneliti

dan partisipan (Polit & Hungler, 1999)

b.Persisten Observation

Persisten observation merupakan observasi yang dilakukan secara

berkelanjutan untuk meminimalisir kesalahan arti dari data yang terkumpul,

maka diarahkan peneliti fokus terhadap karakteristik atau aspek situasi atau

percakapan yang relevan antara fenomena dengan yang akan diteliti (Polit &

Hungler, 1999).

c.Triangulation

Triangulation digunakan untuk mendapatkan kesimpulan dengan apa yang

ingin diteliti. Yang harus diperhatikan yaitu apa yang menjadi tujuan penelitian

dengan melihat waktu, orang dan tempat penelitian. Metodenya dengan

(40)

triangulasi ini yaitu peneliti berusaha keras untuk memilih informasi-informasi

yang benar (Polit & Hungler, 1999).

d. Member check

Suatu cara untuk mendapatkan umpan balik dari partisipan mengenai data-data

yang telah dikumpulkan dan peneliti melihat kembali reaksi partisipan.

Tujuannya yaitu untuk menetapkan kebenaran data kualitatif (Polit & Hungler,

1999).

2.5.2.Transferabilitas

Transferabilitas yaitu pengumpulan data deskriptif yang lengkap atau

gambaran lengkap tentang perkembangan yang akan diteliti untuk mendapatkan

data yang pasti. Peneliti perlu mencari kebenaran tentang data yang digunakan.

Maksudnya dalam penentuan sampel dan desain penelitian harus searah (Polit &

Hungler, 1999).

2.5.3.Dependabilitas

Dependabilitas merupakan cara peneliti untuk mengkaji tentang konsep

yang menetapkan aspek-aspek yang menyatakan kebenaran dan keseimbangan

data, dengan melakukan pemeriksaan data agar data relevan dengan

(41)

2.5.4.Confirmabilitas

Confirmabilitas adalah metode untuk pengumpulan data yang objektif dan

netral dari dua atau lebih orang yang menyatakan kerelevanan dan makna data

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

1.Desain Penelitian

Penelitian ini diarahkan untuk mengkaji, membahas dan mendeskripsikan

tentang nilai-nilai perawat yang dominan dalam perawatan di Ruang IRNA D

RSUD Dumai. Mengacu pada tujuan penelitian, maka desain yang digunakan

pada penelitian ini adalah case studies descriptive dimana peneliti ingin

mendeskripsikan nilai-nilai personal dan profesional perawat yang dominan dalam

perawatan di Ruang IRNA D RSUD Dumai berkaitan kondisi, pikiran, perasaan,

perhatian, tindakan yang akan dilakukan, dan pengalaman masa lalu perawat

terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien.

2.Partisipan Penelitian

Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 7 orang perawat di Ruang

IRNA D RSUD Dumai dengan mempertimbangkan saturasi data selama

pengambilan data. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik purposive

sampling (Polit & Hungler, 1999). Partisipan yang diambil adalah yang memenuhi

kriteria yaitu perawat dengan pengalaman kerja minimal 2 tahun di ruang IRNA D

(43)

3.Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Ruang IRNA D RSUD Dumai yang terletak di

jalan Putri Hijau Kecamatan Dumai Timur, yaitu pada bulan Juli - November

2012. Adapun pertimbangan peneliti yaitu Ruang IRNA D termasuk ruang yang

memerlukan perawatan yang lama dan berkelanjutan dengan pasien TBC,

HIV/AIDS, DM dan lainnya. Dan sekali-kali bisa dijadikan ruangan isolasi RSUD

Dumai. Sehingga diperkirakan ruangan IRNA D RSUD Dumai memiliki

nilai-nilai tertentu baik itu nilai-nilai personal dan profesional perawatnya.

4.Pertimbangan Etik

Penelitian dilakukan setelah mendapat rekomendasi atau izin melakukan

penelitian dari bagian pendidikan Fakultas Keperawatan USU, Kepala Diklat

RSUD Dumai dan Kepala Ruangan IRNA D RSUD Dumai. Setelah memperoleh

persetujuan, peneliti memulai penelitian dengan pertimbangan etik yaitu : Peneliti

mulai mencari partisipan yang kriterianya sesuai dengan peneliti harapkan lalu

setelah terbina rasa saling percaya antara peneliti dan partisipan, peneliti

mengakui hak-hak partisipan dalam menyatakan kesediaan atau ketidaksediaan

untuk dijadikan partisipan. Lembar persetujuan (informed consent) yang berisi

tentang permintaan peneliti pada partisipan untuk kesediaannya menjadi subjek

penelitian, kemudian di tanda tangani berdasarkan keiginan partisipan dan

dicantumkan tanggal dan nomor partisipan sebagai tanda persetujuan dari

partisipan. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, disamping itu

(44)

partisipan mempunyai hak untuk mengundurkan diri dari penelitian serta

partisipan tidak dipaksa melainkan dihormati haknya sebagai partisipan. Peneliti

melindungi partisipan dari resiko tekanan fisik dan psikologi akibat penelitian.

Untuk menjaga kerahasiaan, maka identitas partisipan pada lembar

pengumpulan data (kuesioner data demografi) hanya nomor kode yang digunakan

sehingga kerahasiaan identitas semua informasi yang diberikan tetap terjaga.

5.Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen kunci atau alat

penelitian adalah peneliti sendiri. Peneliti kualitatif sebagai human instrument,

berfungsi melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data,

menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya. Dalam

memaksimalkan pengumpulan data yang memperhatikan pertimbangan etik

penelitian, digunakan tiga jenis instrumen penelitian.

Pertama merupakan kuesioner data demografi, yang berisi pernyataan

mengenai data umum partisipan pada lembar pengumpulan data (kuesioner)

berupa usia, jenis kelamin, agama, tempat tinggal, pendidikan terakhir, status

pernikahan dan pekerjaan.

Kemudian yang kedua merupakan lembar observasi yang berdasarkan

Potter dan Perry (2005) tentang “American Association of Colleges of Nursing

(AACN)” yang berisi nilai dan perilaku keperawatan esensial baik nilai personal

(45)

estetika, nilai kebebasan, nilai martabat manusia, nilai keadilan dan nilai

kebenaran.

Dan ketiga merupakan panduan wawancara berisi pertanyaan yang akan

diajukan meliput :

1. Coba saudara jelaskan tentang nilai-nilai yang saudara anut dalam kehidupan

sehari-hari?

2. Coba saudara jelaskan tentang nilai-nilai dan perilaku profesional saudara

sebagai perawat di Ruang IRNA D RSUD Dumai?

3. Coba saudara jelaskan pengalaman saudara yang berkaitan dengan nilai-nilai

saudara sebagai perawat saat melakukan asuhan keperawatan di Ruang IRNA

D RSUD Dumai?

4. Bagaimana pendapat saudara tentang nilai-nilai perawat di Ruang IRNA D

RSUD Dumai?

5. Berapa besar pengaruh nilai-nilai perawat terhadap perkembangan dan

kesembuhan pasien di Ruang IRNA D RSUD Dumai?

6.Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilaksanakan dengan langkah-langkah berikut : setelah

mendapat rekomendasi dari bagian pendidikan Fakultas Keperawata USU,

selanjutnya mengantar surat tersebut ke bagian Diklat RSUD Dumai, dan

menyerahkan surat dari diklat RSUD Dumai ke Kepala Ruangan IRNA D RSUD

Dumai. Dan kemudian peneliti menjelaskan maksud dan tujuan peneliti ke kepala

(46)

Peneliti datang ke ruang IRNA D RSUD Dumai pada pukul 09.00-14.30 dan

sekali-kali mengikuti jadwal dinas sore dan dinas malam partisipan sesuai kontrak

peneliti dengan partisipan. Sebelum memulai wawancara, peneliti mengadakan

pendekatan kepada calon partisipan untuk mendapatkan persetujuannya sebagai

partisipan penelitian dan memperkenalkan diri terlebih dahulu dan menjelaskan

hal-hal yang terkait dengan penelitian seperti mempelajari budaya sehingga

terbina rasa saling percaya antara peneliti dan partisipan yang akhirnya semakin

membantu dalam proses pengumpulan data. Peneliti juga ikut dalam aktivitas

yang dikerjakan calon partisipan, pada waktu luang bebincang-bincang tentang

topik-topik menarik dalam dunia keperawatan maupun topik menarik lainnya.

Setelah terjadi prolonge angagement dan persistent observation lalu peneliti

memulai mengumpulkan data. Pengumpulan data dalam penelitian ini akan

dilakukan dengan cara menggunakan kuesioner data demografi sebagai data dasar,

maka partisipan menjawab pertanyaan yang terdapat dalam lembaran kuesioner

data demografi sesuai dengan petunjuk masing-masing bagian.

Selanjutnya pengumpulan data dilakukan dengan in-depth interview yaitu

wawancara mendalam dengan menggunakan rekaman handphone, bertujuan

untuk menggali data dan informasi dari sampel penelitian sesuai permasalahan

yang diajukan. Peneliti melakukan wawancara mendalam selama 15-30 menit

dalam 1-2 kali pertemuan. Dan pertanyaan penelitian dikembangkan peneliti

(probing) sesuai tujuan penelitian dan jawaban partisipan yang dirasa perlu

(47)

Setelah mewawancara peneliti melakukan observasi, baik berdasarkan

lembar observasi maupun melakukan catatan setiap peneliti terlibat dalam

kegiatan sehari-hari partisipan yang sedang diamati, namun peneliti merahasiakan

bahwa peneliti sedang melakukan observasi. Observasi ini dilakukan untuk data

pendukung dan agar data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai

mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.

Lalu peneliti melakukan interview dengan partisipan dan membaca transkrip

jika ada hal-hal yang kurang jelas akan dilakukan wawancara ulang, pengumpulan

data akan dihentikan jika saturasi data diperoleh dalam hal ini ada tujuh

partisipan.

7.Analisa Data

Strategi analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan

Content Analysis, yaitu selama pengumpulan data paneliti membaca dan membaca

ulang data, melakukan koding atau menelisik data untuk menentukan tema yang

muncul dan mulai memberi kode pada teks yang mewakili tema. Content Analysis

dilakukan setelah melakukan wawancara per partisipan. Adapun tahapan dalam

Content Analysis yaitu membaca keseluruhan transkip dan mengulanginya bila

dirasa perlu, mengidentifikasi Pernyataan Signifikan (PS) dari setiap teks yang

terdapat dalam transkip, menuliskan Pernyataan Signifikan (PS) dalam tabel yang

dilengkapi dengan line, mengidentifikasi kembali Pernyataan Signifikan (PS)

untuk memastikan tidak ada Pernyataan Signifikan (PS) yang terlewatkan,

(48)

Pernyataan Signifikan (PS), mengelompokkan koding yang sama ke dalam suatu

kategori, mengecek kembali kesesuaian penempatan kembali Pernyataan

Signifikan (PS) di bawah suatu kategori, mengelompokkan kategori yang sama,

dan menentukan tema atau subtema (Setiawan, 2011).

Setelah pengumpulan data peneliti menampilkan tema-tema yang muncul,

mengembangkan hipotesis, bertanya dan melakukan verifikasi, dan mengurangi

dari data yang ditampilkan serta mengidentifikasi poin-poin penting. Program

komputer yang digunakan yaitu Weft-Qda untuk membantu dalam analisa data

penelitian ini.

8.Tingkat Kepercayaan Data

Untuk mencapai kebenaran atau keabsahan data yang dikumpulkan dan

mencari kecocokan antara konsep peneliti dengan konsep partisipan maka

dilakukan kedekatan ilmiah berdasarka Lincoln dan Guba (1985, dalam Polit &

Hungler, 1999) dengan pengukuran yang spesifik dalam empat area yaitu

kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan comfirmability.

8.1. Kredibilitas

Peneliti memperbaiki dan mengevaluasi keabsahan dari kesimpulan

datanya, yaitu mengacu pada data yang benar. Peneliti melakukan dua tahap yaitu

pertama dengan pencarian data yang lebih dipercaya dan yang kedua

mendemonstrasikan keabsahan data mengacu pada kejujuran dari teknik

(49)

Strategi yang digunakan prolonged engagement, persisten observation,

triangulation, dan member check.

8.1.1. Prolonged engagement

Peneliti berusaha untuk mencukupi waktu dalam pengumpulan data serta

memahami tentang kebudayaan, bahasa, dan tidak adanya informasi yang salah

dari partisipan. Maka peneliti membangun kepercayaan dengan partisipan

sebelum dilakukan wawancara. Prolonged engagement dilakukan selama dua

minggu, dimana peneliti memperkenalkan nama, ikut serta dalam aktivitas

sehari-hari di ruangan IRNA D RSUD Dumai, dan berbincang-bincang mengenai topik

yang menarik baik itu topik keperawatan maupun topik lainnya. Setelah adanya

keakraban, saling percaya dan partisipan mulai terbuka, maka peneliti

melanjutkan untuk melakukan wawancara.

8.1.2.Persisten Observation

Peneliti fokus terhadap karakteristik atau aspek dari situasi dan percakapan

yang terarah dengan partisipan. Observasi dilakukan dengan diam-diam, dimana

peneliti melibatkan diri dalam aktivitas partisipan namun peneliti merahasiakan

bahwa peneliti sedang melakukan observasi. Tujuan observasi ini yaitu untuk

melengkapi data dan mengetahui tingkat kemaknaan dari setiap perilaku

partisipan.

8.1.3.Triangulation

Peneliti menarik kesimpulan sementara dengan memperhatikan apa yang

menjadi tujuan penelitian dengan melihat waktu, orang dan tempat penelitian.

(50)

partisipan yang tepat untuk djadikan subjek penelitian, mengobservasi area

penelitian dan mencari dokumen-dokumen yang mendukung. Tujuan akhir dari

triangulasi ini peneliti akan berusaha keras untuk memilih informasi-informasi

yang benar.

8.1.4.Member check

Peneliti mendapatkan umpan balik dari partisipan mengenai data-data yang

telah dikumpulkan dan peneliti melihat kembali reaksi partisipan. Member check

dilakukan dengan cara mendengar bersama-sama partisipan untuk mendengar

kembali hasil wawancara serta menunjukkan hasil transkip wawancara dan

pengelompokkan data yang peneliti buat. Tujuannya yaitu untuk menetapkan

kebenaran data yang peneliti dapatkan.

8.2. Transferabilitas

Peneliti mengumpulkan hasil wawancara dan hasil observasi kemudian

menentukan tema dan subtema. Kemudian mencari kebenaran data yang

digunakan dengan cara tema yang diperoleh di cross check dengan beberapa

partisipan.

8.3. Dependabilitas

Peneliti melakukan pemeriksaan data wawancara agar data relevan dengan

hasil observasi, catatan peneliti, dan hasil pernyataan-pernyataan kepala ruangan

dan kepala instalasi. Data tersebut disimpan sebagai bukti untuk meperkuat

(51)

8.4. Confirmabilitas

Peneliti mendiskusikan dengan dosen pembimbing tentang tema dan

subtema yang akan dijadikan hasil penelitian agar data yang diperoleh dari hasil

(52)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan case studies descriptive yang

bertujuan mengkaji, membahas, dan kemudian mendeskripsikan nilai-nilai

personal dan profesional perawat yang dominan dalam perawatan di ruang IRNA

D RSUD Dumai. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner data demografi,

wawancara mendalam, dan observasi. Ketujuh partisipan merupakan perawat di

ruang IRNA D RSUD Dumai yang telah memenuhi kriteria dalam penelitian ini.

1.1Profil BLUD RSUD Dumai

RSUD Kota Dumai merupakan rumah sakit Tipe C non pendidikan yang

merupakan pelayanan kesehatan yang didirikan oleh pemerintah kota serta

menjadi rujukan dari Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Rokan Hilir.

Visi RSUD Kota Dumai adalah “Menjadi Rumah Sakit Terunggul di Pantai

Timur Sumatera yang Modern dengan Nuansa Melayu”. Dalam mencapai visi ini

RSUD Kota Dumai telah menetapkan misinya yaitu (1) Menerapkan sendi-sendi

pelayanan prima, (2) Meningkatkan profesionalitas sumber daya manusia, (3)

Meningkatkan dan mengembangkan sarana dan prasarana pelayanan, (4)

Memantapkan fungsi manajerial yang akuntabel dan transparan berbasis

(53)

Di RSUD Kota Dumai terdapat lima bagian besar ruang rawat inap yaitu

Instalasi Rawat Inap A (IRNA A), Instalasi Rawat Inap B (IRNA B), Instalasi

Rawat Inap C (IRNA C), Instalasi Rawat Inap D (IRNA D), dan Instalasi Rawat

Inap VIP dan VVIP (IRNA VIP dan VVIP). Instalasi Rawat Inap D (IRNA D)

adalah unit pelayanan yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan

pelayanan rawat inap dengan penyakit dalam dan merupakan ruang isolasi untuk

pasien-pasien menular seperti HIV AIDS, Flu Burung, Flu Babi, Tetanus, dan lain

sebagainya. Metode penugasan yang dilakukan di ruangan IRNA D yaitu Model

Praktik Keperawatan Profesional Terpadu (MPKPT). Dan adapun Motto ruangan

ini adalah berantas penyakit TBC dan stop HIV AIDS, inisiatif dan tanggap dalam

tugas, ramah dalam memberikan pelayanan, nyaman bagi pasien, asuhan

keperawatan di tegakkan, dan disiplin dalam bekerja. Jumlah pasien di IRNA D

bulan Juli 2012 sebanyak 120 orang pasien dengan jumlah perawat 15 orang

perawat, Ners sebanayak 2 orang, S1 sebanyak 1 orang, D3 sebanyak 11 orang,

dan sedang tugas belajar 1 orang.

Ruangan IRNA D RSUD Kota Dumai tetap berusaha dengan semaksimal

mungkin untuk terus menerus berupaya meningkatkan kinerja pelayanan terutama

meningkatkan mutu pelayanan dengan melakukan usaha-usaha dengan

memberikan pelayanan prima yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang

bermutu dan berorientasi kepada pelanggan (customer oriented), meningkatkan

kualitas pelayanan melalui keandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness),

kemampuan (competence), mudah diperoleh (Acess), keramahan (Courtesy),

(54)

saling memahami (understanding), dan terukur (tangibles), serta mengikuti

pelatihan, workshop, seminar, simposium, dan lain sebagainya.

1.2Karakteristik Partisipan

Partisipan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah perawat yang

memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dan bersedia untuk

diwawancarai serta direkam pembicaraannya dengan alat yang peneliti sudah

sediakan. Ketujuh pastisipan adalah perawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) D

RSUD Dumai dengan pengalaman kerja minimal dua tahun yang berlatar

belakang pendidikan, satu partisipan Ners keperawatan, satu partisipan Sarjana

keperawatan dan lima partisipan Diploma keperawatan. Usia ketujuh partisipan

bervariasi, dua orang berusia 25 tahun, satu orang berusia 27 tahun, satu orang

beusia 30 tahun, satu orang berusia 32 tahun, satu orang berusia 34 tahun, dan

satu orang berusia 35 tahun. Empat orang partisipan berjenis kelamin laki-laki dan

tiga orang partisipan berjenis kelamin perempuan. Ketujuh partisipan terdiri atas

agama Islam dan Kristen Protestan. Lima orang partisipan beragama Islam dan

dua orang partisipan beragama Kristen Protestan.

Para partisipan terdiri dari beberapa suku, yaitu satu orang partisipan

bersuku minang, tiga orang partisipan bersuku melayu, dan tiga orang partisipan

bersuku batak. Lama kerja ketujuh partisipan setelah mendapatkan gelar Ners, S1

dan D3 Keperawatan cukup bervariasi, satu orang partisipan telah bekerja dua

tahun, empat orang partisipan telah bekerja tiga tahun, dan dua orang partisipan

(55)

partisipan belum menikah. Ketujuh partisipan menceritakan bagaimana

pengalaman nilai-nilai personal dan profesional mereka yang telah dilaksanakan

dalam memberikan perawatan di ruangan IRNA D RSUD Dumai.

Tabel 1

Lama kerja di IRNA D RSUD Dumai

Mean 4

1.3Deskripsi Nilai-nilai Personal dan Profesional Perawat yang Dominan dalam Perawatan di Ruang IRNA D RSUD Kota Dumai

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi kepada perawat di ruang IRNA

D RSUD Dumai, peneliti mendeskripsikan nilai personal dan profesional perawat,

meliputi (1) nilai-nilai personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruang

IRNA D RSUD Dumai dan (2) nilai-nilai profesional perawat yang dominan

(56)

1.3.1 Nilai-nilai personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruang IRNA D RSUD Dumai

Berdasarkan hasil wawancara ketujuh partisipan mengungkapkan nilai-nilai

personal perawat yang dominan dalam perawatan di ruang IRNA D, yaitu :

disiplin, mengalah, bekerja keras, dan kejujuran.

a. Disiplin

Partisipan mengemukakan bahwa disiplin merupakan nilai personal yang

mereka anut dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pernyataan partisipan

kedisiplinan merupakan kunci untuk melakukan suatu pekerjaan. Dalam

menerapkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari maka perawat dapat

menghargai waktu selama kerja dan dapat meningkatkan kualitas diri

perawat. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan.

“Kalau dalam kehidupan sehari-hari biasanya saya itu orangnya disiplin

terhadap waktu kerja dalam segala hal saya disiplin.”

(Partisipan 4)

“Yang pertama disiplin, Karena disiplin itukan kalau bagi saya, disiplin itu

kunci dalam kita melakukan sesuatu. Kalau kita tidak disiplin kan bagaimana

kita untuk maju untuk berikutnya.”

(Partisipan 5)

b. Mengalah

Partisipan mengemukakan bahwa mengalah merupakan nilai personal yang

Gambar

Tabel 1 Karakteristik partisipan
Tabel 2

Referensi

Dokumen terkait

Mardona (2005) dalam penelitiannya mendapatkan bahwa lebih dari separuh pasien yang dirawat di IRNA B Bedah menyatakan tidak puas terhadap pelayanan yang diberikan perawat,

berdasarkan karakteristik ruangan di ruang rawat inap RSUD Padang Panjang. Membandingkan kinerja perawat pelaksana dalam melaksanakan

Penelitian dilakukan pada perawat yang bekerja di delapan ruangan rawat inap di RSUD Liunkendage Tahuna, peneliti mem- peroleh 69 responden, berdasarkan res- ponden ini, maka

JATUH PASIEN OLEH PERAWAT DI IRNA NON BEDAH PENYAKIT DALAM RSUP. DR.M.DJAMIL PADANG

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan gaya kepemimpinan kepala ruangan terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di ruang inap RSUD

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan gaya kepemimpinan kepala ruangan dengan tingkat stres kerja perawat di ruang rawat inap RSUD Bitung dapat disimpulkan

Didapatkan sebanyak 1 (8%) perawat melakukan dokumentasi keperawatan dengan kurang baik di ruangan Dahlia RSUD Umbu Rara Meha Waingapu Sumba Timur, untuk meningkatkan

Hasil pengujian adanya hubungan antara supervisi kepala ruangan dengan kepuasan perawat pelaksana di ruang rawat inap RSUD Liunkendage Tahuna, menunjukkan adanya kemiripan